FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

bisakah kafir yang baik masuk surga?

Halaman 7 dari 8 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by keroncong on Sun Jul 10, 2016 1:32 pm

First topic message reminder :

Ada seorang sahabat bertanya, “aku tidak peduli dengan agama, aku hanya berkomitmen kepada kemanusiaan, aku tak mau menyakiti orang lain, seluruh hidupku kupersembahkan buat orang orang yang membutuhkan pertolonganku, akankah nantinya aku masuk sorga?”. Sangat sulit bagi saya untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Saya tahu, bahwa sahabat saya ini memang seorang kafir, tapi akhlaknya sangat mulia. Sebagai seorang kafir tak mungkin dia masuk sorga, tapi rasanya tak enak juga jika dia ditempatkan di neraka, karena dia berakhlak sangat baik. Kebingungan kita menjawab pertanyaan dilematis diatas, bermula dari adanya doktrin doktrin na’if yang menggunakan standar ganda dalam memandang akidah. Kita membagi manusia menjadi dua bagian, yaitu muslim dan kafir. Muslim berarti kebaikan, kafir bermakna keburukan. Muslim pasti masuk sorga sedangkan kafir pasti masuk neraka. Kalau orang muslim berbuat jahat memang masuk neraka, tapi cuma transit sebentar, setelah itu masuk sorga selama lamanya. Sedangkan orang kafir langsung masuk neraka selama lamanya, tidak peduli apakah merekaitu berakhlak baik atau buruk. Saya sangat tidak nyaman dengan pandangan sederhana seperti diatas. Bahkan Al Qur’an sendiri mengkritik pandangan ini sebagai pandangan orang Yahudi. Hal itu adalah karena mereka (orang orang Yahudi) mengaku, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada adakan. (QS, 3:24). Didalam kenyataan sehari hari, sering kita melihat orang orang kafir yang berbudi pekerti baik sebagaimana kita juga sering melihat banyak juga orang muslim yang berperilaku buruk. Al Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa Islam itu absolut, tapi Al Qur’an juga menjajikan keselamatan buat orang orang non muslim dalam beberapa ayatnya. Sampai sekarang, para ulama masih belum menemukan solusi yang seragam untuk menjawab masalah kontradiktif ini. Jurang perbedaan pendapat diantara mereka masih lebar. Ini adalah PR kita bersama sebagai seorang muslim. Tentu saja saya tidak hendak membicarakan masalah pelik ini disini, apalagi ingin memperdebatkannya. Saya hanya bermaksud untuk menggambarkan dampak negatif dari doktrin doktrin salah kaprah yang selama ini mengitari cara keberagamaan kita. Pandangan na’if diatas menyebabkan kita memiliki standar ganda dalam menyikapi suatu masalah. Kita lebih suka membela penguasa yang dzolim asal dia muslim, daripada memilih pemimpin kafir yang adil. Kita lebih suka memilih pegawai yang seagama walaupun malas, daripada memilih karyawan kafir yang bekerja profesional. Begitu juga dalam memilih sahabat. Bahkan lebih jauh lagi kita selalu mendahulukan orang orang yang berkeyakinan sama dengan kita, betapapun buruk akhlak mereka. Kita menjauhi orang orang kafir, betapapun baik perilaku mereka. Dampak lainnya adalah kita selalu mencari cari pembenaran untuk keburukan akhlak kita. Dilain pihak kita menuduh adanya motif tersembunyi jika melihat kebaikan akhlak orang lain. Kita berprasangka baik jika menyaksikan sesama muslim berbuat jahat. Dilain pihak kita selalu curiga jika melihat orang kafir berbuat baik. Si Muslim memang korupsi, tapi dia juga suka berderma dan sering naik haji. Mudah mudahan amal baiknya menghapus semua dosa dosanya. Si Kafir memang suka menolong, tapi nanti dulu, jangan jangan itu cuma jebakan untuk menjerat kita. Jangan jangan mereka punya misi misi tertentu. Seorang muslim sejati selalu berlaku adil, tidak pernah menggunakan standar ganda. Katakan itu buruk kalau memang itu buruk, walaupun itu dilakukan oleh kerabat kita sendiri. Katakan itu baik kalau memang itu baik, biarpun itu dilakukan oleh musuh musuh kita. “Dia masuk neraka”, sabda Rasulullah SAW ketika melihat orang yang rajin sholat dan berpuasa tapi suka menyakiti tetangga. “Lepaskan dia!, karena Allah menyukai orang orang yang berakhlak mulia”, perintah Nabi SAW kepada para sahabatnya agar membebaskan seorang tawanan kafir yang terkenal berakhlak mulia. Sampai sekarang saya masih bingung memaknai kata kata Rasulullah SAW yang sangat populer ini.


Ada seorang sahabat bertanya, “aku tidak peduli dengan agama, aku hanya berkomitmen kepada kemanusiaan, aku tak mau menyakiti orang lain, seluruh hidupku kupersembahkan buat orang orang yang membutuhkan pertolonganku, akankah nantinya aku masuk sorga?”. Sangat sulit bagi saya untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Saya tahu, bahwa sahabat saya ini memang seorang kafir, tapi akhlaknya sangat mulia. Sebagai seorang kafir tak mungkin dia masuk sorga, tapi rasanya tak enak juga jika dia ditempatkan di neraka, karena dia berakhlak sangat baik. Kebingungan kita menjawab pertanyaan dilematis diatas, bermula dari adanya doktrin doktrin na’if yang menggunakan standar ganda dalam memandang akidah. Kita membagi manusia menjadi dua bagian, yaitu muslim dan kafir. Muslim berarti kebaikan, kafir bermakna keburukan. Muslim pasti masuk sorga sedangkan kafir pasti masuk neraka. Kalau orang muslim berbuat jahat memang masuk neraka, tapi cuma transit sebentar, setelah itu masuk sorga selama lamanya. Sedangkan orang kafir langsung masuk neraka selama lamanya, tidak peduli apakah merekaitu berakhlak baik atau buruk. Saya sangat tidak nyaman dengan pandangan sederhana seperti diatas. Bahkan Al Qur’an sendiri mengkritik pandangan ini sebagai pandangan orang Yahudi. Hal itu adalah karena mereka (orang orang Yahudi) mengaku, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada adakan. (QS, 3:24). Didalam kenyataan sehari hari, sering kita melihat orang orang kafir yang berbudi pekerti baik sebagaimana kita juga sering melihat banyak juga orang muslim yang berperilaku buruk. Al Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa Islam itu absolut, tapi Al Qur’an juga menjajikan keselamatan buat orang orang non muslim dalam beberapa ayatnya. Sampai sekarang, para ulama masih belum menemukan solusi yang seragam untuk menjawab masalah kontradiktif ini. Jurang perbedaan pendapat diantara mereka masih lebar. Ini adalah PR kita bersama sebagai seorang muslim. Tentu saja saya tidak hendak membicarakan masalah pelik ini disini, apalagi ingin memperdebatkannya. Saya hanya bermaksud untuk menggambarkan dampak negatif dari doktrin doktrin salah kaprah yang selama ini mengitari cara keberagamaan kita. Pandangan na’if diatas menyebabkan kita memiliki standar ganda dalam menyikapi suatu masalah. Kita lebih suka membela penguasa yang dzolim asal dia muslim, daripada memilih pemimpin kafir yang adil. Kita lebih suka memilih pegawai yang seagama walaupun malas, daripada memilih karyawan kafir yang bekerja profesional. Begitu juga dalam memilih sahabat. Bahkan lebih jauh lagi kita selalu mendahulukan orang orang yang berkeyakinan sama dengan kita, betapapun buruk akhlak mereka. Kita menjauhi orang orang kafir, betapapun baik perilaku mereka. Dampak lainnya adalah kita selalu mencari cari pembenaran untuk keburukan akhlak kita. Dilain pihak kita menuduh adanya motif tersembunyi jika melihat kebaikan akhlak orang lain. Kita berprasangka baik jika menyaksikan sesama muslim berbuat jahat. Dilain pihak kita selalu curiga jika melihat orang kafir berbuat baik. Si Muslim memang korupsi, tapi dia juga suka berderma dan sering naik haji. Mudah mudahan amal baiknya menghapus semua dosa dosanya. Si Kafir memang suka menolong, tapi nanti dulu, jangan jangan itu cuma jebakan untuk menjerat kita. Jangan jangan mereka punya misi misi tertentu. Seorang muslim sejati selalu berlaku adil, tidak pernah menggunakan standar ganda. Katakan itu buruk kalau memang itu buruk, walaupun itu dilakukan oleh kerabat kita sendiri. Katakan itu baik kalau memang itu baik, biarpun itu dilakukan oleh musuh musuh kita. “Dia masuk neraka”, sabda Rasulullah SAW ketika melihat orang yang rajin sholat dan berpuasa tapi suka menyakiti tetangga. “Lepaskan dia!, karena Allah menyukai orang orang yang berakhlak mulia”, perintah Nabi SAW kepada para sahabatnya agar membebaskan seorang tawanan kafir yang terkenal berakhlak mulia. Sampai sekarang saya masih bingung memaknai kata kata Rasulullah SAW yang sangat populer ini.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/srwln111981/kafir-tapi-berakhlak-mulia-bisa-masuk-sorga_550e096b813311862cbc60d1
Ada seorang sahabat bertanya, “aku tidak peduli dengan agama, aku hanya berkomitmen kepada kemanusiaan, aku tak mau menyakiti orang lain, seluruh hidupku kupersembahkan buat orang orang yang membutuhkan pertolonganku, akankah nantinya aku masuk sorga?”. Sangat sulit bagi saya untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Saya tahu, bahwa sahabat saya ini memang seorang kafir, tapi akhlaknya sangat mulia. Sebagai seorang kafir tak mungkin dia masuk sorga, tapi rasanya tak enak juga jika dia ditempatkan di neraka, karena dia berakhlak sangat baik. Kebingungan kita menjawab pertanyaan dilematis diatas, bermula dari adanya doktrin doktrin na’if yang menggunakan standar ganda dalam memandang akidah. Kita membagi manusia menjadi dua bagian, yaitu muslim dan kafir. Muslim berarti kebaikan, kafir bermakna keburukan. Muslim pasti masuk sorga sedangkan kafir pasti masuk neraka. Kalau orang muslim berbuat jahat memang masuk neraka, tapi cuma transit sebentar, setelah itu masuk sorga selama lamanya. Sedangkan orang kafir langsung masuk neraka selama lamanya, tidak peduli apakah merekaitu berakhlak baik atau buruk. Saya sangat tidak nyaman dengan pandangan sederhana seperti diatas. Bahkan Al Qur’an sendiri mengkritik pandangan ini sebagai pandangan orang Yahudi. Hal itu adalah karena mereka (orang orang Yahudi) mengaku, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada adakan. (QS, 3:24). Didalam kenyataan sehari hari, sering kita melihat orang orang kafir yang berbudi pekerti baik sebagaimana kita juga sering melihat banyak juga orang muslim yang berperilaku buruk. Al Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa Islam itu absolut, tapi Al Qur’an juga menjajikan keselamatan buat orang orang non muslim dalam beberapa ayatnya. Sampai sekarang, para ulama masih belum menemukan solusi yang seragam untuk menjawab masalah kontradiktif ini. Jurang perbedaan pendapat diantara mereka masih lebar. Ini adalah PR kita bersama sebagai seorang muslim. Tentu saja saya tidak hendak membicarakan masalah pelik ini disini, apalagi ingin memperdebatkannya. Saya hanya bermaksud untuk menggambarkan dampak negatif dari doktrin doktrin salah kaprah yang selama ini mengitari cara keberagamaan kita. Pandangan na’if diatas menyebabkan kita memiliki standar ganda dalam menyikapi suatu masalah. Kita lebih suka membela penguasa yang dzolim asal dia muslim, daripada memilih pemimpin kafir yang adil. Kita lebih suka memilih pegawai yang seagama walaupun malas, daripada memilih karyawan kafir yang bekerja profesional. Begitu juga dalam memilih sahabat. Bahkan lebih jauh lagi kita selalu mendahulukan orang orang yang berkeyakinan sama dengan kita, betapapun buruk akhlak mereka. Kita menjauhi orang orang kafir, betapapun baik perilaku mereka. Dampak lainnya adalah kita selalu mencari cari pembenaran untuk keburukan akhlak kita. Dilain pihak kita menuduh adanya motif tersembunyi jika melihat kebaikan akhlak orang lain. Kita berprasangka baik jika menyaksikan sesama muslim berbuat jahat. Dilain pihak kita selalu curiga jika melihat orang kafir berbuat baik. Si Muslim memang korupsi, tapi dia juga suka berderma dan sering naik haji. Mudah mudahan amal baiknya menghapus semua dosa dosanya. Si Kafir memang suka menolong, tapi nanti dulu, jangan jangan itu cuma jebakan untuk menjerat kita. Jangan jangan mereka punya misi misi tertentu. Seorang muslim sejati selalu berlaku adil, tidak pernah menggunakan standar ganda. Katakan itu buruk kalau memang itu buruk, walaupun itu dilakukan oleh kerabat kita sendiri. Katakan itu baik kalau memang itu baik, biarpun itu dilakukan oleh musuh musuh kita. “Dia masuk neraka”, sabda Rasulullah SAW ketika melihat orang yang rajin sholat dan berpuasa tapi suka menyakiti tetangga. “Lepaskan dia!, karena Allah menyukai orang orang yang berakhlak mulia”, perintah Nabi SAW kepada para sahabatnya agar membebaskan seorang tawanan kafir yang terkenal berakhlak mulia. Sampai sekarang saya masih bingung memaknai kata kata Rasulullah SAW yang sangat populer ini.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/srwln111981/kafir-tapi-berakhlak-mulia-bisa-masuk-sorga_550e096b813311862cbc60d1
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down


Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by njlajahweb on Mon Sep 12, 2016 12:01 am

Setuju Say...
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6038
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dharma_senapati on Mon Sep 12, 2016 12:47 am

mahabrahma itu bkn usia bumi skrg, sblmnya pun bumi pernah hancur dan ada bahkan jutaan kali hancur & terbentuk.

usia yg disebutkan adl rata2 kehidupan mahabrahma (tuhan).

jd dgn usia yg demikian panjang maka mahabrahma (tuhan/tuhan samawi) menganggap dirinya kekal/absolute/abadi
avatar
dharma_senapati
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 46
Posts : 279
Kepercayaan : Budha
Location : Serang
Join date : 21.02.16
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by Azed on Mon Sep 12, 2016 1:37 am

@dharma_senapati wrote:jd dgn usia yg demikian panjang maka mahabrahma (tuhan/tuhan samawi) menganggap dirinya kekal/absolute/abadi
Kalau menyamakan mahabrahma = tuhan samawi, bagi saya ini mengindikasikan bhw anda belum cukup paham bagaimana konsep ketuhanan dlm agama samawi.

Mahabrahma menurut hikayat buddhisme kan mengaku bukan sbg pencipta, kedudukannya lebih rendah dari sang buddha (manusia), punya wujud, bisa dijangkau akal dan penglihatan. Bahkan kalau dlm ajaran Islam, kedudukannya masih lebih rendah dari malaikat.

Itu samasekali tdk mencerminkan konsep ketuhanan dlm agama samawi, khususnya Islam & Yudaisme.

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by njlajahweb on Mon Sep 12, 2016 6:11 am

@KangAzed
saya percaya,
walaupun Allah Bapa bisa berwujud(ketika DIA berkehendak), bisa dijangkau akal(walau tidak secara keseluruhan) dan penglihatan(ketika DIA berkehendak), kedudukanNYA tetap diatas segala makhluk, demikian juga Alloh.

Su 7:143  Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

Su 24:35  Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat( nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


*dan aku percaya Alloh tetap ESA
Su 7:156  Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami".

Su 21:81  Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.

---

33:17 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau."
33:18 Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku."
33:19 Tetapi firman-Nya: "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani."
33:20 Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."
33:21 Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu;
33:22 apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat.
33:23 Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan."
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6038
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dee-nee on Mon Sep 12, 2016 1:03 pm

@dharma_senapati wrote:mahabrahma itu bkn usia bumi skrg, sblmnya pun bumi pernah hancur dan ada bahkan jutaan kali hancur & terbentuk.

usia yg disebutkan adl rata2 kehidupan mahabrahma (tuhan).

jd dgn usia yg demikian panjang maka mahabrahma (tuhan/tuhan samawi) menganggap dirinya kekal/absolute/abadi

merah : oh ya ya ... saya yang salah paham baca rentan waktu yang tertulis dalam link ... hehehehehe

piss  piss

tapi tetap saja untuk sisanya >>> misalnya dari link ini

http://dhammatalk777.blogspot.co.id/2013/09/31-alam-kehidupan-menurut-ajaran-agama.html

disebutkan usia Mahabrahma hanya 2 A.K >>> dan usia itu masih lebih muda dibanding sekian yang berusia maha kappa

jadi gimana bisa anda sebut Mahabrahma = Tuhan samawi

sementara Tuhan dalam konsep samawi adalah Alpha Omega >>> yang pertama dan terakhir eksis ... dari apapun yang ada di alam semesta (dengan segala dimensi2-nya)

khususnya yang biru underline

anda menulis mahabrahma menganggap dirinya mutlak >>> sementara Buddha pun tidak pernah bilang mahabrahma mutlak .... bahkan Hindu-pun tidak menganggap mahabrahma mutlak >>> tapi ujug2 anda menyamakan si tidak mutlak ini = Tuhan samawi ??

gimana coba cerita-nya selain karena ada salah kaprah di kepala anda sendiri

makanya dari awal saya sebut ... tidak ada yang salah dengan kalimat Buddha tentang dewa Brahma ... tapi justru kalian (atau at least anda) yang salah dalam memahami kalimat Buddha

karena yang dibicarakan Buddha memang tentang dewa dalam agama Hindu ... Buddha TIDAK BICARA TENTANG YANG MUTLAK

kalimat Buddha yang ini

Udana VIII : 3 wrote:Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

TIDAK ADA HUBUNGANNYA dengan yang ini

Brahmajala Sutta wrote:Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau, setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, ‘bumi ini belum ada’. Ketika itu umumnya mahluk-mahluk hidup di alam dewa Abhassara, di situ mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali. Demikianlah pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu masa yang lama sekali, bumi ini mulai ber-evolusi dalam pembentukan, ketika hal ini terjadi alam Brahma kelihatan dan masih kosong. Ada mahluk dari alam dewa Abhassara yang ‘masa hidupnya’ atau ‘pahala kamma baiknya’ untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma. Di sini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya dan melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Karena terlalu lama ia hidup sendirian disitu, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidakpuasan, juga muncul suatu keinginan, ‘O semoga ada mahluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini!’. Pada saat itu ada mahluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala kamma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.

Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka mahluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua mahluk, asal mula kehidupan, Bapa dari ynag telah ada dan yang akan ada. Semua mahluk ini adalah ciptaanku”.

Mengapa demikian? Baru saja terpikir, semoga mereka datang’, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka mahluk-mahluk ini muncul. Mahluk-mahluk itu pun berpikir,’dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua mahluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Kita semua adalah ciptaannya. mengapa? Sebab, kita muncul sesudahnya.

Para bhikkhu, dalam hal ini mahluk pertama yang berada di situ memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada mahluk-mahluk yang datang sesudahnya.

Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa mahluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi. Setelah berada di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah-tangga dan menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu. Mereka berkata : “Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua mahluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang ada dan yang akan ada. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas.” **

jadi .... kalau menurut anda pada Brahmajala Sutta .... Buddha sedang bicara tentang TUHAN samawi ... atau at least tentang Tuhan-nya Hindu >>> anda salah !!!

NO ... kalimat Buddha dalam Brahmajala Sutta JELAS merujuk pada dewa Brahma atau disebut Mahabrahma ... BUKAN merujuk pada BRAHMAN dalam konsep Hindu

coba baca link ini (khususnya paragraf yang ada diatas Brahmajala Sutta)

http://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/ketuhanan-yang-maha-esa-dalam-agama-buddha/

Selanjutnya ada sebuah pokok uraian dalam ajaran agama Buddha yang telah menyesatkan banyak penulis *, sehingga agama Buddha dianggap oleh mereka sebagai agama non-theis. Pandangan yang salah ini didasarkan pada pernyataan Sang Buddha sendiri dalam Brahmajala Sutta, di mana Sang Buddha menolak Maha Brahma sebagai Tuhan, Pencipta, Maha Kuasa dan seterusnya. Bilamana kita mengkaji secara cermat apa yang dinyatakan oleh Sang Buddha itu, maka kita akan mengerti apa yang dimaksudkan oleh Beliau, sebab Maha Brahma yang dimaksud dalam Brahmajala Sutta adalah dewa brahma yang salah mengerti tentang dirinya sendiri.

bold : see ... bener kan apa saya bilang .... balik ke pink diatas

sementara dalam konsep hindu itu sendiri .... Hindu (khususnya di bali) pun mengakui bahwa Mahabrahma BUKAN TUHAN (yang dalam pemahaman mereka Tuhan disebut Brahman)

link hindu wrote:http://majalahhinduraditya.blogspot.co.id/2012/01/menghitung-umur-dewa-brahma-dan-alam.html

Tata Surya kita berada dalam satu gugus yang dinamakan Galaksi Bima Sakti (Milky Way Galaxy). Sesungguhnya bintang-bintang yang oleh mata nampak teramat kecil itu adalah bola padat berukuran raksasa yang memencarkan energi sangat tinggi seukuran Matahari atau lebih besar. Jadi, bintang-bintang itu adalah matahari yang letaknya amat jauh dari Bumi. Setiap matahari (bintang) di Galaksi Bima Sakti, menjadi titik pusat edar beberapa planet, seperti yang terjadi di sistem Tata Surya kita. Jika satu galaksi memiliki banyak sistem tata surya, lalu berapakah luas alam semesta itu kalau jumlah galaksi mencapai milyaran buah? Dapatkah kita menghitungnya? Pertanyaan-pertanyaan itu tak dapat kita jawab secara meyakinkan. Sekadar menebak pun kita tak mampu.

Menurut kosmologi Hindu, Tuhan tidak langsung menciptakan alam semesta ini. Melainkan Tuhan lebih dulu menciptakan makhluk-mahkluk hebat untuk diberi kuasa “mengurus” sebagian ciptaan-Nya. Makhluk-makhluk hebat itu tiada lain adalah dewa. Untuk Galaksi Bima Sakti, proses penciptaannya diserahkan kepada Dewa Brahma (jangan dikelirukan dengan Brahman. Dewa Brahma dan Brahman memiliki pengertian yang jauh berbeda). Jadi Dewa Brahma itu banyak adanya. Setiap galaksi memili Dewa Brahma masing-masing. Misalnya Dewa Brahma di Galaksi Andromeda berbeda dengan Dewa Brahma junjungan kita. Prinsipnya, masing-masing galaksi memiliki Dewa Brahma berbeda.

coba anda baca yang merah ... bahkan Hindu pun mengatakan bahwa si Brahma ini ADALAH DEWA ... yang DIBERI TUGAS oleh Tuhan untuk memimpin Galaksi Bima Sakti (sajah)

makanya saya pernah bilang ... konsep dewa Brahma ini (dicurigai) lahir dari konsep ajaran Abraham (pada era abraham yang tercatat di PL) .... yang berkembang menjadi konsep dewa2 dst

bahwa si Abraham aka brahma ini adalah "dewa" yang diutus Tuhan untuk memimpin Galaksi Bima Sakti (atau menguasai bumi karena manusia cuma ada di bumi) >>>> dan semua samawi-pun memang mengakui bahwa Abraham adalah founding father-nya konsep ke-Tuhan-an yang benar

kalau setelah itu ajaran Abraham menyimpang kemana2 menjadi konsep dewa dsb ... yah .... pokoknya begitulah

misalnya yang underline hijau .... asal usul umat hindu di India yang begitu memuja sapi pun ... "dicurigai" berasal dari pemahaman yang salah (karena menyembah patung sapi) yang dilakukan oleh bangsa Israel era Musa di gunung Sinai >>> mereka tidak ikut Musa ke tanah Kanaan ... tapi nyari jalan sendiri menuju wilayah2 Selatan .... nyambung ke perkembangan ajaran Hindu itu sendiri

tapi sekali lagi ... tentang Abraham dan Musa .... semua ini masih dicurigai

tapi point saya yang warna orange
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dee-nee on Mon Sep 12, 2016 1:27 pm

@Azed wrote:
@dharma_senapati wrote:jd dgn usia yg demikian panjang maka mahabrahma (tuhan/tuhan samawi) menganggap dirinya kekal/absolute/abadi
Kalau menyamakan mahabrahma = tuhan samawi, bagi saya ini mengindikasikan bhw anda belum cukup paham bagaimana konsep ketuhanan dlm agama samawi.

Mahabrahma menurut hikayat buddhisme kan mengaku bukan sbg pencipta, kedudukannya lebih rendah dari sang buddha (manusia), punya wujud, bisa dijangkau akal dan penglihatan. Bahkan kalau dlm ajaran Islam, kedudukannya masih lebih rendah dari malaikat.

Itu samasekali tdk mencerminkan konsep ketuhanan dlm agama samawi, khususnya Islam & Yudaisme.

setuju dengan kalimat yang merah

2 good  2 good

apalagi kalau memang ternyata benar konsep Brahma disini lahir dari ajaran Abraham/Ibrahim >>> yang artinya Brahma = Abraham

lalu .... (btw uraian saya dibawah ini bukan untuk bung Azed loh ya)

kalau baca statement Buddha tentang YANG MUTLAK

Udana VIII : 3 wrote:Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

dari kalimat yang biru underline saja ... Buddha jelas bilang bahwa ADA SESUATU >>> artinya Yang Tidak Dilahirkan dst ini MEMANG ADA EKSISTENSI-NYA .... dan eksistensi ini BUKAN sekedar kondisi (seperti nibbana atau apapun itu) untuk "mencapai" Tuhan

nibbana itu sendiri (sesuai yang hijau underline) >>> Buddha menjelaskan ... karena TUHAN INI ADA ... maka ada kemungkinan bagi manusia untuk bisa mencapai-Nya ... bebas dari penjelmaan dst dst >>> artinya ada kemungkinan bagi manusia untuk bisa mencapai kondisi nibbana

dan yang saya sebut underline diatas nyambung dengan kondisi Buddha waktu itu >>> ketika Buddha melihat sekian banyak penderitaan dimana manusia (seperti) sulit untuk keluar dari penderitaan tersebut >>>>> dalam konteks kondisi penderitaan yang seperti ini ... Buddha menjelaskan ... "untuk bisa mendapatkan kebebasan dst - kebahagian sejati - cobalah untuk mencapai kondisi nibbana"

tetapi nibbana disini juga BUKAN Tuhan itu sendiri (bandingkan antara biru dan hijau diatas) >>> kondisi nibbana yang dimaksud Buddha adalah ... kondisi dimana manusia sudah begitu dekat dengan Tuhan (Yang Mutlak itu sendiri)
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dharma_senapati on Mon Sep 12, 2016 2:55 pm


Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka mahluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, MahaTahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua mahluk, asal mula kehidupan, Bapa dari ynag telah ada dan yang akanada. Semua mahluk ini adalah ciptaanku”.

kalimat diatas menjelaskan bhw mahabrahma (yg dianggap tuhan) memiliki pandangan keliru ttg tuhan-nonpersonal tapi kl ditinjau dr sisi tuhan-personal (tuhan samawi) memang mirip bahkan sama
avatar
dharma_senapati
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 46
Posts : 279
Kepercayaan : Budha
Location : Serang
Join date : 21.02.16
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by Azed on Mon Sep 12, 2016 7:05 pm

@njlajahweb wrote:@KangAzed
saya percaya,
walaupun Allah Bapa bisa berwujud(ketika DIA berkehendak), bisa dijangkau akal(walau tidak secara keseluruhan) dan penglihatan(ketika DIA berkehendak), kedudukanNYA tetap diatas segala makhluk, demikian juga Alloh.

Su 7:143  Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

......

33:17 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau."
33:18 Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku."
33:19 Tetapi firman-Nya: "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani."
33:20 Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."
33:21 Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu;
33:22 apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat.
33:23 Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan."
Kata “menampakkan diri” di Qs 7:143 itu diterjemahkan dari kata “tajalla”. Tajalla memang bisa berarti menyatakan diri, terang benderang, kelihatan dg jelas dan semacam itu. Tapi di ayat tsb. Allah menampakkan/menyatkan diri kpd gunung (bukit) dan bukit itu tak mampu menanggung keagungan Allah sehingga hancur luluh rata tanah. Apalagi Musa, dia langsung tergeletak pingsan sebelum berhasil melihat Tuhannya (mungkin saking kagetnya mendengar dan melihat bukit meledak).

Artinya, jangankan manusia, sedang gunung yg jauh lebih kokoh saja tak mampu “melihat” Allah, apalagi manusia. Mosok gunung bisa melihat ?. Ya memang tidak, itu kalau cara pandangnya pake logika indera manusia.

++

Masih di bab yg sama (Exodus), bukan hanya Musa yg telah melihat Allah, tetapi juga sebagian pemuka kaumnya.

Exo 24:10  Lalu mereka melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah.

Ayat Exodus (Keluaran) pasal 33:17-20, maknanya identik dg Qs. 7:143, tapi ayat berikutnya ya tentu saja beda dg yg di Qur’an. Cukup banyak ayat lain di Bible yg mengisahkan interaksi face to face antara Tuhan dg manusia, yg sepertinya koq kurang sesuai dg pernyataan ini : "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.", atau ini : ”Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah” (Joh 1:18).

Menurut riwayat, ayat Qs. 7:143 itu memang diturunkan berkaitan dg keyakinan Ahlikitab tentang kisah Musa di gunung Sinai yg dimasa itu juga didengar orang2 Arabic (diantaranya Exo 24:10 dan 33:21-23). Al Qur’an konsisten pada ajaran dan fakta bhw Allah tak dapat dijangkau indera dan angan-angan manusia. Maka, bagi muslim tdk terlalu sulit untuk melihat apa yg tertulis di Bible, mana ajaran yg dari langit dan mana ajaran yg dari bumi.

Begitu bro kalau saya boleh komentar.

Nb :
Bro,  kalau nulis nomor ayat Qur’an, memang bisa misalnya 7:143 atau Qs. 7:143. (Qs itu = Al Qur’an surah/surat), jadi bukan Su 7:143. Kalau mau sedikit jelas, lazimnya ditulis Al A’Raf  7:143

Tapi kalau ngutip ayat Bible, tolong deh plis, disertakan bab kitabnya apa. Misal Exo 33:17.

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by Azed on Mon Sep 12, 2016 7:14 pm

@dharma_senapati wrote:

Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka mahluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, MahaTahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua mahluk, asal mula kehidupan, Bapa dari ynag telah ada dan yang akanada. Semua mahluk ini adalah ciptaanku”.

kalimat diatas menjelaskan bhw mahabrahma (yg dianggap tuhan) memiliki pandangan keliru ttg tuhan-nonpersonal tapi kl ditinjau dr sisi tuhan-personal (tuhan samawi) memang mirip bahkan sama
Wah, lha sebelumnya anda ngepost di hal 4, post #88 di trit yg saya quote dibawah ini :
http://www.laskarislam.com/t9565p75-tuhan-tidak-mungkin-menciptakan-manusia#195965

Namun para dewa dengan gegabah berani memastikan bahwa Maha-Brahma sanggup menjawab pertanyaan itu. Selang beberapa saat kemudian , Maha-Brahma menampakan diri dan Sang Bhikkhu pun mengajukan pertanyaan padanya.

Jawaban yang diperolehnya hanya semata-mata berupa penegasan penuh percaya diri bahwa alam semesta adalah ciptaannya. Setelah tiga kali memberikan jawaban yang sama, Maha-Brahma menarik Bhikkhu tersebut ke satu sisi dan berkata bahwa dia tidak dapat mengecewakan para pengikutnya dengan mengakui kelemahannya bahwa ia tidak tahu jawaban dari pertanyaannya. Maha-Brahma kemudian memberikan saran bahwa pilihan terbaik bagi Bhikkhu tersebut adalah pergi mengunjungi Sang Buddha, yang pasti mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut.

Demikianlah sosok yang diyakini sebagai “Maha-Pencipta”, Maha-Brahma, ini masih lebih rendah tingkatannya apabila dibandingkan dengan Buddha. Sekalipun mempunyai kebanggaan yang berlebihan akan dirinya , namun “Maha-Dewa” ini merupakan sesosok makhluk yang baik hati dan welas asih (ingat empat sifat luhur, Brahmavihara). Ia adalah “Maha-Dewa-Yang-Penuh-Welas Asih “ yang menyangka dirinya sebagai “Maha-Pencipta”, “Bapa-Semua-Makhluk”.

Mahabrahma menurut artikel itu kan bohong, ngaku sebagai begini-begono
Apakah hanya karena pengakuan yg begini-begitu maka dia = tuhan samawi ?

Analoginya, orang yg ngaku presiden tdk bisa disejajarkan dg presiden. Hanya karena dia mampu menyebutkan gimana ciri-ciri serta apa saja kekuasaan presiden.

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by njlajahweb on Mon Sep 12, 2016 7:18 pm

tidak ada yang tahan melihat Wajah-NYA yang dalam KemuliaanNYA, kecuali yang selain WajahNYA
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6038
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by njlajahweb on Mon Sep 12, 2016 7:21 pm

Qs 7:143  Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

gunung itu hancur tapi tidak berpindah tempat
artinya Musa telah melihat DIA walau bukan WajahNYA
walau hanya sebentar saja Musa melihat DIA, lalu Musa jatuh pingsan
akhirnya Musa bertobat dan menjadi orang yang pertama-tama beriman(percaya)

orang boleh berkata TUHAN itu berwujud
tapi seharusnya orang tidak boleh berkata TUHAN pasti berwujud

orang boleh berkata TUHAN itu tidak berwujud
tapi seharusnya orang tidak boleh berkata TUHAN pasti tidak berwujud

karena TUHAN bisa berwujud jika DIA berkehendak


Terakhir diubah oleh njlajahweb tanggal Mon Sep 12, 2016 8:24 pm, total 1 kali diubah
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6038
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dee-nee on Mon Sep 12, 2016 7:35 pm

@dharma_senapati wrote:

Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka mahluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, MahaTahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua mahluk, asal mula kehidupan, Bapa dari ynag telah ada dan yang akanada. Semua mahluk ini adalah ciptaanku”.

kalimat diatas menjelaskan bhw mahabrahma (yg dianggap tuhan) memiliki pandangan keliru ttg tuhan-nonpersonal tapi kl ditinjau dr sisi tuhan-personal (tuhan samawi) memang mirip bahkan sama

1. dalam quote anda diatas ... Buddha tidak bicara apa2 tentang tuhan personal vs tidak personal >>> dalam quote itu ... Buddha hanya bicara tentang dewa brahma YANG MERASA dirinya sebagai SANG MAHA ... sebagai YANG MUTLAK >>> dalam hal ini Buddha justru mengkritik sikap Brahma tersebut ... karena nyatanya brahma MEMANG TIDAK MAHA ... brahma memang TIDAK MUTLAK

2. tentang yang bold merah

Udana VIII : 3 wrote:Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak

coba baca kalimat Buddha diatas ... yang bold pun bisa saja disebut sebagai hal yang personal .... justru saya tidak melihat kalimat diatas bisa diartikan menjadi tuhan non-personal

artinya ... justru karena anda berpendapat bahwa ... Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak dst adalah sebuah kondisi (nibbana) ... makanya anda bilang Tuhan itu non-personal .... padahal .... kembali ke underline biru

pandangan bahwa "Sesuatu Yang Mutlak" adalah sebuah kondisi (nibbana) ... justru yang menjadikan Tuhan personal menjadi non-personal

dan dengan mind-set bahwa Tuhan adalah sesuatu yang non-personal ... maka muncul salah paham dengan menyambung2 uraian Buddha tentang Tuhan (dalam Udana VIII) dikaitkan dengan uraian tentang dewa Brahma (dalam Brahmajala Sutta) ... bahwa yang disebut Tuhan personal dalam konsep samawi itu pastilah para dewa (dewa brahma)

padahal .... kembali ke underline biru

dalam hal ini ... menurut saya apa yang dikatakan Buddha tentang Tuhan (YANG MUTLAK) sudah benar / sama dengan konsep samawi ... bahwa YANG MUTLAK (dalam samawi) tetap adalah suatu hal yang personal ... tapi tidak ada hubungannya dengan dewa2

bahkan Hindu pun tidak pernah mengatakan Mahabrahma sebagai Tuhan (YANG MUTLAK)
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by Azed on Mon Sep 12, 2016 10:31 pm

@njlajahweb wrote:Qs 7:143  Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

gunung itu hancur tapi tidak berpindah tempat
artinya Musa telah melihat DIA walau bukan WajahNYA
walau hanya sebentar saja Musa melihat DIA, lalu Musa jatuh pingsan
akhirnya Musa bertobat dan menjadi orang yang pertama-tama beriman(percaya)
Dlm bahasa aslinya, yg diterjemahkan ditempatnya (sebagai sediakala) adalah : makānahu, agak sulit dicari padanan kata yg pas. Tapi dlm soal ini pengertian gampangnya : “masih utuh seperti semula dan masih tetap diposisinya”.

Jadi bukan seperti pengertian yg anda pahami ; meskipun gunungnya hancur tapi kan tanahnya masih tetap ditempatnya. Kalaupun mau dipahami begitu, yg masih ditempatnya kan tanah yg sudah rata, gunungnya kemana ?. Mosok tanah rata (tanah lapang) = gunung ?

Logikanya begini :
Kalau gunung tidak hancur, maka Musa akan bisa melihat Allah.
Ternyata gunung hancur, artinya Musa tidak akan bisa melihat Allah.
Di ayat itu kan Allah juga berfirman : “Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku”
Bahasa lugasnya : “Kamu mustahil bisa melihat-Ku”

Yg sempat dilihat oleh Musa adalah hancurnya gunung. Selebihnya dia pingsan.
Jika Musa sempat melihat Allah, mestinya akan berterimakasih, bukan malah minta ampun.

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dharma_senapati on Mon Sep 12, 2016 11:47 pm

@dee-nee wrote:
dalam hal ini ... menurut saya apa yang dikatakan Buddha tentang Tuhan (YANG MUTLAK) sudah benar / sama dengan konsep samawi ... bahwa YANG MUTLAK (dalam samawi) tetap adalah suatu hal yang personal ... tapi tidak ada hubungannya dengan dewa2

buddha jelas2 menolak tuhan-personal yg artinya tuhan yg memiliki sifat2 manusia spt
pancunglah
bunuhlah
murka
mengazab
menghukum
marah
penyayang
dll

sifat2 tsb adl kekotoran batin namanya, masa mw disamakan tuhan-personal yg menjadi tuhan-nonpersonal c?
avatar
dharma_senapati
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 46
Posts : 279
Kepercayaan : Budha
Location : Serang
Join date : 21.02.16
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by njlajahweb on Tue Sep 13, 2016 4:55 am

@KangAzed
kalau bukit dalam bahasa Arabnya apa?
kalau gunung dalam bahawa Arabnya apa?
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6038
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by Azed on Tue Sep 13, 2016 9:07 am

@njlajahweb wrote:@KangAzed
kalau bukit dalam bahasa Arabnya apa?
kalau gunung dalam bahawa Arabnya apa?
Bukit = Thuur
Gunung = Jabal

Thuur sina = bukit sinai, tempat nabi Musa menerima wahyu pertama (kadang disebut gunung sinai)
Jabal Nur = gunung cahaya, tempat nabi Muhammad menerima wahyu pertama

Dlm pengertian kita sehari-hari (bukan dlm pengertian bhs ilmiah), kalau gundukannya kecil disebut bukit, kalau besar disebut gunung. Dlm hal kisah Musa di Qs. 7:143, di bahasa aslinya adalah Jabal, bukan Thuur. Penterjemah Indonesia ada yg menulis gunung, ada yg bukit. Yg menulis bukit (diantaranya Prof. DR. Quraish Syihab), mungkin menyesuaikan dg persepsi umum, bhw yg hancur itu “gunung yg kecil”, bagian dari gunung Sinai yg lebih besar.

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dee-nee on Tue Sep 13, 2016 12:30 pm

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
dalam hal ini ... menurut saya apa yang dikatakan Buddha tentang Tuhan (YANG MUTLAK) sudah benar / sama dengan konsep samawi ... bahwa YANG MUTLAK (dalam samawi) tetap adalah suatu hal yang personal ... tapi tidak ada hubungannya dengan dewa2

buddha jelas2 menolak tuhan-personal yg artinya tuhan yg memiliki sifat2 manusia spt

pancunglah
bunuhlah
murka
mengazab
menghukum
marah
penyayang
dll

sifat2 tsb adl kekotoran batin namanya, masa mw disamakan tuhan-personal yg menjadi tuhan-nonpersonal c?

bold : dah dibilang ... semua yang anda sebut sebagai sifat2 manusia itu cuma bahasa manusia-nya saja >>> justru salah kaprah kalau anda berpikir seperti itu  

karena logikanya ... yang bold itu sama dengan anda mengatakan bahwa hukum tabur tuai pun memliki sifat manusia ... hukum universal pun punya kekotoran batin karena memberi kamma buruk bagi manusia

>>> apa bedanya ?? ... wong nyatanya hukum2 itu juga bagian dari Tuhan itu sendiri kok

jadi gimana ?? ... apa menurut anda hukum tabur tuai pun dipenuhi kekotoran batin ... toh nyatanya hukum tersebut juga memberikan kamma buruk bagi manusia

yang saya maksud personal dalam tulisan merah .... bukan personal untuk anda sambung2 seperti sifat mahluk ... tapi personal bahwa YANG MUTLAK ini ADA EKSISTENSI-nya ... bahwa YANG HANYA SATU INI memang benar ada ...

jadi bukan sekedar ide/gagasan diawang2 yang ga jelas eksistensi-nya lalu disambung2 menjadi sebuah kondisi spiritual manusia lah ... manifestasi alam semesta lah ... atau apapun itu

sementara berdasarkan kalimat ini saja

Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

justru saya ga lihat ... disini Buddha mengatakan bahwa YANG MUTLAK dst (biru) adalah kondisi nibbana

jadi ... sebetulnya missed atau kesalah pahaman terletak pada kondisi/situasi karena kalian hidup dalam lingkungan theis (agama samawi) yang selalu bicara tentang keterlibatan Tuhan (Yang Mutlak) dalam kehidupan ..... sementara Buddha memang tidak mengajarkan adanya keterlibatan Yang Mutlak dalam kehidupan

jadi ... kalau dalam theis diajarkan :

1. Tuhan (Yang Mutlak) itu ada ...
2. Tujuan utama manusia adalah Tuhan
3. Kenapa kok Tuhan ?? .... karena siapapun yang dekat dengan Tuhan akan bisa mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, surga dst
4. Bagaimana mendapatkan kebahagian (dekat dengan Tuhan) ?? >>> dengan melakukan semua perintahNya (ajaran agama)

dalam hal ini yang diajarkan dalam Buddha fokus pada yang biru saja (coba anda baca seluruh kalimat biru jadi satu - tapi yang tidak biru jangan dibaca)

jadi bila dalam theist tujuan utama manusia adalah Tuhan ... dalam Buddha tujuan utama manusia adalah mendapat kebahagiaan, kedamaian, dst (yang bila dilakukan sungguh2 maka manusia akan dapat mengenal/mencapai/mengerti Yang Mutlak (point 1) diatas)

sekian banyak ajaran2 Buddha ... semua itu memang hanya fokus pada bagaimana mendapatkan kebahagiaan ini (bersih jiwa, bersih hati dst) .... tanpa melibatkan Tuhan

TAPI ... ketika anda (seorang Buddha) harus hidup di lingkungan theis yang SELALU bicara tentang Tuhan ... apalagi anda juga lihat bagaimana para theis menggunakan bahasa yang seolah2 "me-manusia-kan" Tuhan >>> anda lalu mencari2 dalam tripitaka "mana sih yang disebut Tuhan oleh para theis ini ... kalimat Buddha yang mana yang menceritakan tentang Tuhan para theis ini" >>>> akhirnya anda sampai pada kesimpulan konsep dewa2

kenapa yang ungu ??

1. anda tidak terlalu mengerti konsep Tuhan ... karena fokus ajaran Buddha memang bukan bicara tentang Tuhan (balik ke hijau)

2. berdasarkan ketidak mengertian tentang konsep Tuhan itu sendiri ... ditambah yang pink ... maka semakin anda berpikir Tuhan yang dimaksud theis adalah para dewa
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by njlajahweb on Tue Sep 13, 2016 1:55 pm

KangAzed
Qs 7:143  Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

ayat ini juga menyimpulkan bahwa TUHAN tidak dapat dilihat kecuali DIA berkehendak
dan saya percaya walau gunung itu hancur tapi tak hancur sepenuhnya, sehingga masih bisa dikatakan bahwa gunung itu belum berpindah dari tempatnya
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6038
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dharma_senapati on Wed Sep 14, 2016 9:34 am

@dee-nee wrote:
bold : dah dibilang ... semua yang anda sebut sebagai sifat2 manusia itu cuma bahasa manusia-nya saja >>> justru salah kaprah kalau anda berpikir seperti itu

salah kaprah gmn ? di kitab suci anda jelas2 sifat2 tuhan spt itu, apa mau disangkal ?

coba anda perhatikan lagi yg merah di bawah ini

@dharma_senapati wrote:
buddha jelas2 menolak tuhan-personal yg artinya tuhan yg memiliki sifat2 manusia spt

pancunglah
bunuhlah
murka
mengazab
menghukum
marah
penyayang
dll


sifat2 tsb adl kekotoran batin namanya, masa mw disamakan tuhan-personal yg menjadi tuhan-nonpersonal c?

@dee-nee wrote:
karena logikanya ... yang bold itu sama dengan anda mengatakan bahwa hukum tabur tuai pun memliki sifat manusia ... hukum universal pun punya kekotoran batin karena memberi kamma buruk bagi manusia

>>> apa bedanya ?? ... wong nyatanya hukum2 itu juga bagian dari Tuhan itu sendiri kok

jadi gimana ?? ... apa menurut anda hukum tabur tuai pun dipenuhi kekotoran batin ... toh nyatanya hukum tersebut juga memberikan kamma buruk bagi manusia

oranye :
sifat2 manusia tidak bisa dikatakan sbg hukum tabur tuai sdh beda makna

hijau :
hukum universal tidak bisa dibilang memiliki kekotoran batin, namanya jg hukum, kan bekerja karena adanya karma

selanjutnya :
pikiran anda keliru mengenai hukum tabur tuai/hukum universal/hukum karma dengan karma itu sendiri

hukum2 tsb bekerja karena adanya karma, sedangkan karma itu ada karena niat (dari pikiran, ucapan & perbuatan)

dengan berhentinya niat yg memicu karma maka hukum2 tsb berhenti bekerja.

@dee-nee wrote:
sementara berdasarkan kalimat ini saja


Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

justru saya ga lihat ... disini Buddha mengatakan bahwa YANG MUTLAK dst (biru) adalah kondisi nibbana

pink :
itu dah dijelaskan bhw yg mutlak itu nibbana (tuhan non-personal)

@dee-nee wrote:
TAPI ... ketika anda (seorang Buddha) harus hidup di lingkungan theis yang SELALU bicara tentang Tuhan ... apalagi anda juga lihat bagaimana para theis menggunakan bahasa yang seolah2 "me-manusia-kan" Tuhan >>> anda lalu mencari2 dalam tripitaka "mana sih yang disebut Tuhan oleh para theis ini ... kalimat Buddha yang mana yang menceritakan tentang Tuhan para theis ini" >>>> akhirnya anda sampai pada kesimpulan konsep dewa2

anda salah, bukan seolah2 tp memang kenyataanya demikian bahwa sifat2 tuhan dlm kitab suci anda menggambarkan betapa tuhan samawi itu sifatnya penuh dgn kekotoran batin -> sama dengan mahabrahma yg masih memiliki keinginan

@dee-nee wrote:
1. anda tidak terlalu mengerti konsep Tuhan ... karena fokus ajaran Buddha memang bukan bicara tentang Tuhan (balik ke hijau)

2. berdasarkan ketidak mengertian tentang konsep Tuhan itu sendiri ... ditambah yang pink ... maka semakin anda berpikir Tuhan yang dimaksud theis adalah para dewa

justru anda yg dibutakan oleh sifat2 tuhan itu sendiri, tuhan yg egois yg gak mau disamakan dengan mahabrahma (sifatnya aj sdh sama).

pd kenyataannya pd kitab suci anda sifat2 tuhan samawi sama dengan mahabrahma
avatar
dharma_senapati
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 46
Posts : 279
Kepercayaan : Budha
Location : Serang
Join date : 21.02.16
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dee-nee on Wed Sep 14, 2016 11:12 am

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
bold : dah dibilang ... semua yang anda sebut sebagai sifat2 manusia itu cuma bahasa manusia-nya saja >>> justru salah kaprah kalau anda berpikir seperti itu  

salah kaprah gmn ? di kitab suci anda jelas2 sifat2 tuhan spt itu, apa mau disangkal ?

coba anda perhatikan lagi yg merah di bawah ini

@dharma_senapati wrote:
buddha jelas2 menolak tuhan-personal yg artinya tuhan yg memiliki sifat2 manusia spt

pancunglah
bunuhlah
murka
mengazab
menghukum
marah
penyayang
dll


sifat2 tsb adl kekotoran batin namanya, masa mw disamakan tuhan-personal yg menjadi tuhan-nonpersonal c?

alam semesta pun bisa murka ... gunung meletus, gempa bumi, tsunami, dsb >>> jadi gimana ?? alam semesta juga punya sifat ??

gempa bumi terjadi karena kekotoran batin alam semesta atau ga ??

---------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
karena logikanya ... yang bold itu sama dengan anda mengatakan bahwa hukum tabur tuai pun memliki sifat manusia ... hukum universal pun punya kekotoran batin karena memberi kamma buruk bagi manusia

>>> apa bedanya ?? ... wong nyatanya hukum2 itu juga bagian dari Tuhan itu sendiri kok

jadi gimana ?? ... apa menurut anda hukum tabur tuai pun dipenuhi kekotoran batin ... toh nyatanya hukum tersebut juga memberikan kamma buruk bagi manusia

oranye :
sifat2 manusia tidak bisa dikatakan sbg hukum tabur tuai sdh beda makna

hijau :
hukum universal tidak bisa dibilang memiliki kekotoran batin, namanya jg hukum, kan bekerja karena adanya karma

selanjutnya :
pikiran anda keliru mengenai hukum tabur tuai/hukum universal/hukum karma dengan karma itu sendiri

hukum2 tsb bekerja karena adanya karma, sedangkan karma itu ada karena niat (dari pikiran, ucapan & perbuatan)

dengan berhentinya niat yg memicu karma maka hukum2 tsb berhenti bekerja.

orange underline : sama ah dengan sifat manusia ... ga ada bedanya kok ... wong hasil dari hukum2 tersebut juga ada kemurkaan, kemarahan, bencana, dsb >>> moso dari sekian sifat2 pemarah seperti itu ... hukum tabur tuai disebut tidak memiliki kekotoran batin

yang bold  ... anda bisa bilang saya keliru memahami hukum tabur tuai/hukum universal dsb ... tapi anda menolak disebut keliru memahami Tuhan samawi

btw yang ungu : jadi menurut anda ... hukum universal berasal dari niat manusia ?? .... trus apa kabarnya ketika di bumi belum ada kehidupan (tumbuhan, hewan, manusia) ... pada waktu itu sudah ada hukum universal atau belum ??

----------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
sementara berdasarkan kalimat ini saja


Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

justru saya ga lihat ... disini Buddha mengatakan bahwa YANG MUTLAK dst (biru) adalah kondisi nibbana

pink :
itu dah dijelaskan bhw yg mutlak itu nibbana (tuhan non-personal)

lah ... wong saya ga lihat tulisan pink ada di kalimat Buddha ... kok dipaksakan harus ada (di-ada2kan) >>> dibaca dong yang merah

-----------------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
TAPI ... ketika anda (seorang Buddha) harus hidup di lingkungan theis yang SELALU bicara tentang Tuhan ... apalagi anda juga lihat bagaimana para theis menggunakan bahasa yang seolah2 "me-manusia-kan" Tuhan >>> anda lalu mencari2 dalam tripitaka "mana sih yang disebut Tuhan oleh para theis ini ... kalimat Buddha yang mana yang menceritakan tentang Tuhan para theis ini" >>>> akhirnya anda sampai pada kesimpulan konsep dewa2

anda salah, bukan seolah2 tp memang kenyataanya demikian bahwa sifat2 tuhan dlm kitab suci anda menggambarkan betapa tuhan samawi itu sifatnya penuh dgn kekotoran batin -> sama dengan mahabrahma yg masih memiliki keinginan

ya kalau begitu menurut anda ... maka kembali saya sebutkan >>> yang bold itu sama dengan anda mengatakan bahwa hukum tabur tuai pun memliki sifat manusia ... hukum universal pun punya kekotoran batin karena memberi kamma buruk bagi manusia

see ... lucu kan jadinya ... anda sebagai umat Buddha begitu semangat untuk mencari pencerahan ... tapi toh nyatanya hidup anda sangat tergantung pada hukum universal (tabur tuai) yang punya kekotoran batin

-------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
1. anda tidak terlalu mengerti konsep Tuhan ... karena fokus ajaran Buddha memang bukan bicara tentang Tuhan (balik ke hijau)

2. berdasarkan ketidak mengertian tentang konsep Tuhan itu sendiri ... ditambah yang pink ... maka semakin anda berpikir Tuhan yang dimaksud theis adalah para dewa

justru anda yg dibutakan oleh sifat2 tuhan itu sendiri, tuhan yg egois yg gak mau disamakan dengan mahabrahma (sifatnya aj sdh sama).

pd kenyataannya pd kitab suci anda sifat2 tuhan samawi sama dengan mahabrahma

trus apa masalahnya saya terbutakan oleh sifat2 Tuhan ... wong tujuan hidup saya memang kepada Tuhan kok

kan sama saja dengan anda .... anda juga terbutakan dan sangat tergantung oleh sifat2 hukum universal yang egois dan pemarah-nya persis seperti manusia ...

coba bayangkan segala penderitaan dan kerusakan di dunia ... semua terjadi kan karena kemarahan hukum tabur tuai yang penuh kekotoran batin

merah : pd kenyataannya pd kitab suci anda sifat2 nibbana, hukum universal/tabur tuai dsb ... semua juga sama dengan mahabrahma

------------------------------------------

tapi ... point-nya tuh ini

anda menulis mahabrahma menganggap dirinya mutlak >>> sementara Buddha pun tidak pernah bilang mahabrahma mutlak .... bahkan Hindu-pun tidak menganggap mahabrahma mutlak >>> tapi ujug2 anda menyamakan si tidak mutlak ini = Tuhan samawi ??

gimana coba cerita-nya selain karena ada salah kaprah di kepala anda sendiri

makanya dari awal saya sebut ... tidak ada yang salah dengan kalimat Buddha tentang dewa Brahma ... dan apa yang dikatakan Buddha tentang YANG MUTLAK pun sudah benar / sama dengan konsep Tuhan samawi .>>> mungkin justru kalian (atau at least anda) yang salah dalam memahami kalimat Buddha

piss piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by frontline defender on Wed Sep 14, 2016 11:33 am

punya keinginan mulia itu tentunya lebih bagus daripada tidak punya keinginan, & yang namanya Tuhan itu tentunya yang terbagus!
avatar
frontline defender
MAYOR
MAYOR

Posts : 6448
Kepercayaan : Islam
Join date : 17.11.11
Reputation : 137

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dharma_senapati on Wed Sep 14, 2016 1:40 pm

@dee-nee wrote:
alam semesta pun bisa murka ... gunung meletus, gempa bumi, tsunami, dsb >>> jadi gimana ?? alam semesta juga punya sifat ??

gempa bumi terjadi karena kekotoran batin alam semesta atau ga ??

kamu salah, analogi yg dipaksakan (cocokmologi versi kamu) bencana alam itu diatur oleh dhamma niyama (fenomena alam) salah satu dari hukum panca niyama

hukum sebab akibat itu gak hanya satu saja neng (hukum karma) tapi ada byk faktor lain spt panca niyama dhamma

@dee-nee wrote:
orange underline : sama ah dengan sifat manusia ... ga ada bedanya kok ... wong hasil dari hukum2 tersebut juga ada kemurkaan, kemarahan, bencana, dsb >>> moso dari sekian sifat2 pemarah seperti itu ... hukum tabur tuai disebut tidak memiliki kekotoran batin

jelas2 beda koq

@dee-nee wrote:
yang bold ... anda bisa bilang saya keliru memahami hukum tabur tuai/hukum universal dsb ... tapi anda menolak disebut keliru memahami Tuhan samawi

sudah dijawab di bawah ini sblmnya


hukum2 tsb bekerja karena adanya karma, sedangkan karma itu ada karena niat (dari pikiran, ucapan & perbuatan)

dengan berhentinya niat yg memicu karma maka hukum2 tsb berhenti bekerja.

bagi saya tuhan samawi penuh dgn sifat2 manusia, spt yg tercantum pd kitab suci kamu

@dee-nee wrote:
btw yang ungu : jadi menurut anda ... hukum universal berasal dari niat manusia ?? .... trus apa kabarnya ketika di bumi belum ada kehidupan (tumbuhan, hewan, manusia) ... pada waktu itu sudah ada hukum universal atau belum ??
> yups betul hukum universal bekerja dan ADA dari NIAT makhluk hidup.

> kamu pikir bumi cuman satu aj ? ada banyak bumi2 lainnya di galaksi2 yg jmlnya miliaran yg tentu saja di dlmnya ada kehidupan jg

@dee-nee wrote:
lah ... wong saya ga lihat tulisan pink ada di kalimat Buddha ... kok dipaksakan harus ada (di-ada2kan) >>> dibaca dong yang merah
tentu sj anda tidak bisa melihat kebenaran, krn mata batin serta pikiran kamu tertutup oleh debu2 duniawi yg penuh dgn kekotoran batin

@dee-nee wrote:
ya kalau begitu menurut anda ... maka kembali saya sebutkan >>> yang bold itu sama dengan anda mengatakan bahwa hukum tabur tuai pun memliki sifat manusia ... hukum universal pun punya kekotoran batin karena memberi kamma buruk bagi manusia

see ... lucu kan jadinya ... anda sebagai umat Buddha begitu semangat untuk mencari pencerahan ... tapi toh nyatanya hidup anda sangat tergantung pada hukum universal (tabur tuai) yang punya kekotoran batin
> sudah saya katakan, hukum hanyalah hukum, dia bekerja krn adanya karma

> sbg umat buddha tidak ketergantugan dgn hukum tabur tuai. krn hukum tabur tuai selalu bekerja krn manusia yg masih lahir-mati terus berulang2 itu namanya "keris manjing ing wrangka".
diharapkan agar umat buddha terlepas dari lingkaran lahir-mati -->> "wrangka manjing ing keris"


@dee-nee wrote:
trus apa masalahnya saya terbutakan oleh sifat2 Tuhan ... wong tujuan hidup saya memang kepada Tuhan kok
itu hak anda sbg umat samawi, yg hrs diperhatikan adl apakah tuhan yg seperti itu yg kamu lekati (kebergantungan) ?

@dee-nee wrote:
kan sama saja dengan anda .... anda juga terbutakan dan sangat tergantung oleh sifat2 hukum universal yang egois dan pemarah-nya persis seperti manusia ...
sudah dijawab di atas yg biru

@dee-nee wrote:
merah : pd kenyataannya pd kitab suci anda sifat2 nibbana, hukum universal/tabur tuai dsb ... semua juga sama dengan mahabrahma
coba kamu jelaskan sifat2 nibana yg sama dgn mahabrahma

@dee-nee wrote:
tapi ... point-nya tuh ini

anda menulis mahabrahma menganggap dirinya mutlak >>> sementara Buddha pun tidak pernah bilang mahabrahma mutlak .... bahkan Hindu-pun tidak menganggap mahabrahma mutlak >>> tapi ujug2 anda menyamakan si tidak mutlak ini = Tuhan samawi ??

gimana coba cerita-nya selain karena ada salah kaprah di kepala anda sendiri

makanya dari awal saya sebut ... tidak ada yang salah dengan kalimat Buddha tentang dewa Brahma ... dan apa yang dikatakan Buddha tentang YANG MUTLAK pun sudah benar / sama dengan konsep Tuhan samawi.>>> mungkin justru kalian (atau at least anda) yang salah dalam memahami kalimat Buddha

piss piss
bold :
sifat2nya sama dan gak ada yg salah kaprah di sini

pink :
sama dari mananya ? kualitas nibbana sj beda jauh dgn kualitas tuhan samawi

hijau :
kamu deh sptnya yg belum kenal dgn baik sifat2 tuhan samawi

piss piss
avatar
dharma_senapati
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 46
Posts : 279
Kepercayaan : Budha
Location : Serang
Join date : 21.02.16
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dee-nee on Thu Sep 15, 2016 1:07 am

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
alam semesta pun bisa murka ... gunung meletus, gempa bumi, tsunami, dsb >>> jadi gimana ?? alam semesta juga punya sifat ??

gempa bumi terjadi karena kekotoran batin alam semesta atau ga ??

kamu salah, analogi yg dipaksakan (cocokmologi versi kamu) bencana alam itu diatur oleh dhamma niyama (fenomena alam)  salah satu dari hukum panca niyama

hukum sebab akibat itu gak hanya satu saja neng (hukum karma) tapi ada byk faktor lain spt panca niyama dhamma

gini loh ... kok anda ga ngerti ya maksud saya >>> kan saya sudah tulis dibawah

anda bisa bilang saya keliru memahami hukum tabur tuai/hukum universal dsb ... tapi anda menolak disebut keliru memahami Tuhan samawi

anda bisa bilang saya cocokmologi dalam memahami hukum tabur tuai/hukum universal dsb .... tapi anda menolak disebut cocokmologi dalam memahami Tuhan samawi

saya tuh cuma ngikutin cara anda saja .... karena anda menolak penjelasan tetang Tuhan samawi dan kekeuh dengan pikiran anda sendiri

>>> kalau maunya begini ... saya juga bisa ... misalnya tentang penjelasan anda diatas :

dhamma niyama (fenomena alam) dan hukum panca niyama pun bagian dari alam semesta ... toh buktinya semua ini pun bisa murka >>> persis seperti manusia dengan kekotoran batin-nya

jadi apa salahnya saya bilang alam semesta pun penuh dengan kekotoran batin (seperti manusia) .... karena nyatanya bencana alam memang terjadi dimana2

--------------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
orange underline : sama ah dengan sifat manusia ... ga ada bedanya kok ... wong hasil dari hukum2 tersebut juga ada kemurkaan, kemarahan, bencana, dsb >>> moso dari sekian sifat2 pemarah seperti itu ... hukum tabur tuai disebut tidak memiliki kekotoran batin

jelas2 beda koq

sama ... dibaca lagi dong yang merah

-------------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
yang bold  ... anda bisa bilang saya keliru memahami hukum tabur tuai/hukum universal dsb ... tapi anda menolak disebut keliru memahami Tuhan samawi

sudah dijawab di bawah ini sblmnya

@dharma_senapati wrote:
hukum2 tsb bekerja karena adanya karma, sedangkan karma itu ada karena niat (dari pikiran, ucapan & perbuatan)

dengan berhentinya niat yg memicu karma maka hukum2 tsb berhenti bekerja.

bagi saya tuhan samawi penuh dgn sifat2 manusia, spt yg tercantum pd kitab suci kamu

yang merah di pending dulu ... lanjut ke diskusi dibawah (tanda **) ... sebelum clear tentang kalimat anda bahwa "hukum unversal/tabur tuai berasal dari niat, pikiran, ucapan & perbuatan manusia"  

untuk yang underline : lah bagi saya ... hukum universal/tabur tuai/nibbana juga penuh dgn sifat2 manusia

---------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
btw yang ungu : jadi menurut anda ... hukum universal berasal dari niat manusia ?? .... trus apa kabarnya ketika di bumi belum ada kehidupan (tumbuhan, hewan, manusia) ... pada waktu itu sudah ada hukum universal atau belum ??
> yups betul hukum universal bekerja dan ADA dari NIAT makhluk hidup.

> kamu pikir bumi cuman satu aj ? ada banyak bumi2 lainnya di galaksi2 yg jmlnya miliaran yg tentu saja di dlmnya ada kehidupan jg

(**)

ungu : ... saya ga ngomongin bumi/planet lain .... kita bicara tentang bumi kita ini ajah .... misalnya ini :

http://www.softilmu.com/2014/01/sejarah-terbentuknya-bumi.html

Teori-teori tentang proses terbentuknya bumi :

1. Teori Kabut (Nebula)
2. Teori Planetisimal
3. Teori Pasang Surut Gas(Tidal)
4. Teori Bintang Kembar
5. Teori Big Bang

dst ....

kalau baca satu2 uraian-nya ... katakanlah salah satu teori diatas ada yang benar .... tapi baca deh semuanya

>>>> trus ... menurut anda pada saat peristiwa dalam teori2 diatas terjadi ... sudah ada mahluk hidup atau belum ?? >>> belum toh ya

so ... kalau belum ada mahluk hidup (manusia dan binatang --- karena anda tidak mengakui tumbuhan sebagai mahluk hidup) .... maka pada saat peristiwa2 itu terjadi ... juga belum ada hukum universal dong >>> ya atau tidak ??

satu lagi ... jadi menurut anda .... bencana alam yg terjadi karena faktor alam (seperti gempa bumi, tsunami, dsb) semua juga disebabkan oleh niat, pikiran, ucapan & perbuatan manusia ??

silahkan di confirm dulu ...

-----------------------------------------------------------------------------------------
@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
lah ... wong saya ga lihat tulisan pink ada di kalimat Buddha ... kok dipaksakan harus ada (di-ada2kan) >>> dibaca dong yang merah
tentu sj anda tidak bisa melihat kebenaran, krn mata batin serta pikiran kamu tertutup oleh debu2 duniawi yg penuh dgn kekotoran batin

kok malah ngomongin mata batin .... saya jelas2 baca pada kalimat Buddha >>>> ga ada kalimat bahwa YANG MUTLAK = kondisi nibbana

memang ga ada mau gimana ??

-----------------------------------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
ya kalau begitu menurut anda ... maka kembali saya sebutkan >>> yang bold itu sama dengan anda mengatakan bahwa hukum tabur tuai pun memliki sifat manusia ... hukum universal pun punya kekotoran batin karena memberi kamma buruk bagi manusia

see ... lucu kan jadinya ... anda sebagai umat Buddha begitu semangat untuk mencari pencerahan ... tapi toh nyatanya hidup anda sangat tergantung pada hukum universal (tabur tuai) yang punya kekotoran batin

> sudah saya katakan, hukum hanyalah hukum, dia bekerja krn adanya karma

underline : lah iya ... cara dia bekerja penuh dengan kekotoran batin .... wong bisa memberikan kamma buruk dsb nya kok

---------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:sbg umat buddha tidak ketergantugan dgn hukum tabur tuai. krn hukum tabur tuai selalu bekerja krn manusia yg masih lahir-mati terus berulang2 itu namanya "keris manjing ing wrangka".
diharapkan agar umat buddha terlepas dari lingkaran lahir-mati -->> "wrangka manjing ing keris"

underline : memang semua umat Buddha sudah terlepas ?? >>> kalau belum ... artinya masih tergantung dgn hukum tabur tuai ini (balik ke pink diatas)

-------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:trus apa masalahnya saya terbutakan oleh sifat2 Tuhan ... wong tujuan hidup saya memang kepada Tuhan kok
itu hak anda sbg umat samawi, yg hrs diperhatikan adl apakah tuhan yg seperti itu yg kamu lekati (kebergantungan) ?

kalau bukan Tuhan yang itu ... trus saya harus bergantung pada yang mana ?? bergantung pada hukum tabur tuai yang penuh kekotoran batin (balik lagi ke pink)

------------------------------------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
kan sama saja dengan anda .... anda juga terbutakan dan sangat tergantung oleh sifat2 hukum universal yang egois dan pemarah-nya persis seperti manusia ...

sudah dijawab di atas yg biru

sudah saya jawab juga dibawahnya

-------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
merah : pd kenyataannya pd kitab suci anda sifat2 nibbana, hukum universal/tabur tuai dsb ... semua juga sama dengan mahabrahma
coba kamu jelaskan sifat2 nibana yg sama dgn mahabrahma

katanya nibbana itu sifatnya bahagia dan damai >>> memang-nya mahabrahma ga bisa punya kondisi bahagia dan damai ??

manusia aja bisa mendapat kondisi bahagia dan damai >>> jadi apa bedanya nibbana dengan manusia (mahluk)

--------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
tapi ... point-nya tuh ini

anda menulis mahabrahma menganggap dirinya mutlak >>> sementara Buddha pun tidak pernah bilang mahabrahma mutlak .... bahkan Hindu-pun tidak menganggap mahabrahma mutlak >>> tapi ujug2 anda menyamakan si tidak mutlak ini = Tuhan samawi ??

gimana coba cerita-nya selain karena ada salah kaprah di kepala anda sendiri

makanya dari awal saya sebut ... tidak ada yang salah dengan kalimat Buddha tentang dewa Brahma ... dan apa yang dikatakan Buddha tentang YANG MUTLAK pun sudah benar / sama dengan konsep Tuhan samawi.>>> mungkin justru kalian (atau at least anda) yang salah dalam memahami kalimat Buddha

piss piss

bold :
sifat2nya sama dan gak ada yg salah kaprah di sini

pink :
sama dari mananya ? kualitas nibbana sj beda jauh dgn kualitas tuhan samawi

hijau :
kamu deh sptnya yg belum kenal dgn baik sifat2 tuhan samawi

piss piss

bold underline : kalau anda kekeuh ga salah kaprah ... ya artinya sifat2-Nya sama juga dengan hukum universal/tabur tuai/nibbana ... dst >>>> jadi yg underline ini juga tidak mutlak ya ??

pink underline : dibaca yang bener dong ah ... saya bilang YANG MUTLAK dengan Tuhan Samawi ... bukan nibbana dengan Tuhan Samawi >>> kalau menurut anda kualitas nibbana vs Tuhan samawi beda ya ga papa ... toh Buddha juga ga pernah bilang Yang Mutlak = nibbana

hijau underline : dibaca lagi tulisan saya yang pink diatas >>>> dan YANG MUTLAK itu bukan nibbana >>> ga ada kalimat Buddha yang seperti itu
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dharma_senapati on Thu Sep 15, 2016 10:10 am

@dee-nee wrote:
anda bisa bilang saya cocokmologi dalam memahami hukum tabur tuai/hukum universal dsb .... tapi anda menolak disebut cocokmologi dalam memahami Tuhan samawi

saya tuh cuma ngikutin cara anda saja .... karena anda menolak penjelasan tetang Tuhan samawi dan kekeuh dengan pikiran anda sendiri

>>> kalau maunya begini ... saya juga bisa ... misalnya tentang penjelasan anda diatas :

dhamma niyama (fenomena alam) dan hukum panca niyama pun bagian dari alam semesta ... toh buktinya semua ini pun bisa murka >>> persis seperti manusia dengan kekotoran batin-nya

jadi apa salahnya saya bilang alam semesta pun penuh dengan kekotoran batin (seperti manusia) .... karena nyatanya bencana alam memang terjadi dimana2

Bold :
koq sy dibilang cocokmologi c? memang kenyataannya demikian koq bhw tuhan samawi penuh dgn sifat2 manusia

Merah :
bukan bagian alam tapi hukum alam >> paham ???

Hijau:
hukum alam bekerja (berproses) di 31 alam kehidupan, jika manusia telah terbebas dari lingkaran lahir-mati (katakanlah telah merealisasi nibbana) maka hukum alam berhenti berproses bagi org tsb.

Bencana2 alam yg terjadi bisa jg disebabkan oleh ulah manusia sendiri (menjadi karma kelompok)


DHAMMA NIYAMA ( Fenomena Alam)

Adalah hukum tertib yang mengatur sebab-sebab terjadinya keselarasan /persamaan dari satu gejala yang khas, misalnya : terjadinya keajaiban alam seperti bumi bergetar pada waktu seseorang Bodhisattva hendak mengakhiri hidupnya sebagai seorang calon Buddha, atau pada saat Ia akan terlahir untuk menjadi Buddha. Hukum gaya berat (gravitasi) , daya listrik, gerakan gelombang dan sebagainya, termasuk dalam hukum ini.

Dhamma adalah sesuatu yang menghasilkan sifat dasarnya sendiri (dhareti), yaitu kekerasannya sendiri ketika disentuh, sifat khusus sekaligus sifat universalnya adalah berkembang, melapuk, hancur, dan seterusnya. Dhamma yang dikategorikan dalam hubungan sebab "menghasilkan" fungsi hubungan sebab tersebut, dan yang dikategorikan dalam hubungan akibat "menghasilkan" fungsi akibat atau hasil. Pengertian ini meliputi semua Dhamma yang dibahas dalam Suttanta dan Abhidhamma Pitaka. Ini juga meliputi hal-hal yang disebutkan dalam Vinaya Pitaka dengan nama "tubuh aturan" (silakkhandha).

Di antara sutta-sutta, keseluruhan Mahanidana-Suttanta dan Nidana-samyutta membahas tentang Dhamma-niyama. Dalam salah satu sutta disebutkan:

"Karena kebodohan muncul kamma: sekarang, O para bhikkhu, apakah para Tathagata muncul atau tidak, unsur (dhatu) ini ada, yaitu pembentukan Dhamma sebagai akibat, ketetapan Dhamma sebagai akibat (Dhammatthitata Dhammaniyamata). Karena kamma... (dan seterusnya seperti pada hubungan sebab akibat yang saling bergantungan)"
(Samyutta-Nikaya, ii. 25)

Ia juga disinggung dalam ungkapan:

"Semua hal yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal, penuh dengan penderitaan, dan tanpa aku."

Dalam beberapa teks, niyama ini disebut Dhammata:

"Sesuai dengan Dhammata (hukum), para bhikkhu, bahwa ketika seorang Bodhisatta turun dari surga Tusita, memasuki rahim ibunya, cahaya yang sangat cemerlang muncul di seluruh dunia, termasuk dunia para dewa dan brahma... dan seribu sistem dunia berguncang...."
(Digha-Nikaya, ii. 12)

Sifat Dhamma-niyama dapat diringkas dalam rumusan:

"Ketika itu ada, ini ada.
Dari kemunculan itu maka ini muncul.
Ketika itu tidak ada, ini tidak ada.
Ketika itu berakhir, maka ini berakhir"

atau dalam pernyataan:

"Inilah, para bhikkhu, tiga sifat khas dari hal yang berkondisi: dapat dipahami perkembangannya, dapat dipahami kelapukannya, dapat dipahami perubahannya ketika ia masih bertahan. Inilah, para bhikkhu, tiga sifat khas dari hal yang tidak berkondisi: perkembangannya tidak dapat dipahami, kelapukannya tidak dapat dipahami, perubahan dan durasinya tidak dapat dipahami"
(Anguttara-Nikaya, i 152)

Dhamma-niyama merupakan keseluruhan sistem yang mengatur alam semesta. Empat niyama lainnya merupakan hukum alam yang spesifik yang mengkhususkan pada aspek tertentu dari alam semesta. Jadi, hukum alam apa pun yang tidak termasuk dalam keempat niyama yang pertama dikategorikan sebagai Dhamma-niyama.

Di sini kata Dhamma menunjuk pada semua hal mental maupun materi. Oleh sebab itu, Bija, Kamma, dan Citta merupakan Dhamma, dan ia mengandung semua hal tersebut. Namun dalam klasifikasi niyama, nama-nama individual digunakan untuk keempat hal pertama untuk mengkhususkan dan membedakannya dari hal-hal lain, baik mental maupun materi, yang digolongkan di bawah nama umum "Dhamma". Karena alasan ini Dhamma-niyama tidak digunakan dalam penerapan yang sepenuhnya, tetapi dibatasi pada hal-hal yang tidak termasuk keempat hal pertama. Ketika dibutuhkan untuk menggunakan utu sebagai niyama, seseorang tidak seharusnya menyebutnya Dhamma-niyama walaupun Utu termasuk Dhamma, tetapi harus menggunakan nama individual yang sesuai dan menyebutnya sebagai utu-niyama.

sumber : http://tanhadi.blogspot.co.id/2012/01/panca-niyama-dhamma.html

@dee-nee wrote:
kok malah ngomongin mata batin .... saya jelas2 baca pada kalimat Buddha >>>> ga ada kalimat bahwa YANG MUTLAK = kondisi nibbana

memang ga ada mau gimana ??
kamu gak paham maksud dari kalimat Sutta Pitaka, Udana VIII : 3 yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah “Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang” yang artinya “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.

@dee-nee wrote:
katanya nibbana itu sifatnya bahagia dan damai >>> memang-nya mahabrahma ga bisa punya kondisi bahagia dan damai ??

manusia aja bisa mendapat kondisi bahagia dan damai >>> jadi apa bedanya nibbana dengan manusia (mahluk)
bahagia dan damai manusia dan mahabrahma bersifat sementara (timbul-tenggelam) tidak kekal

@dee-nee wrote:
bold underline : kalau anda kekeuh ga salah kaprah ... ya artinya sifat2-Nya sama juga dengan hukum universal/tabur tuai/nibbana ... dst >>>> jadi yg underline ini juga tidak mutlak ya ??
hukum tabur-tuai/hukum universal/hukum karma ==> prosesnya yg selalu berubah (krn makna proses itu sendiri yg selalu berubah2) ==> tidak mutlak ==> bukan nibbana

@dee-nee wrote:
pink underline : dibaca yang bener dong ah ... saya bilang YANG MUTLAK dengan Tuhan Samawi ... bukan nibbana dengan Tuhan Samawi >>> kalau menurut anda kualitas nibbana vs Tuhan samawi beda ya ga papa ... toh Buddha juga ga pernah bilang Yang Mutlak = nibbana

hijau underline : dibaca lagi tulisan saya yang pink diatas >>>> dan YANG MUTLAK itu bukan nibbana >>> ga ada kalimat Buddha yang seperti itu
lhaaa jika tuhan samawi itu mutlak, maka logis dibandingkan dgn konsep ketuhanan dlm buddhisme yaitu nibbana (yang mutlak) yg tanpa kondisi.

apakah tuhan samawi mutlak? >> tidak, krn masih adanya unsur atta (ke-aku-an) dlm diri tuhan. kadar atta pd tuhan samawi sangat2 tinggi, salah satu contohnya


Dia-lah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, Yang Maha Lahir dan Yang Maha Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs al-Hadid [57]:3)
> yg bold itu menjelaskan memiliki atta, mirip dgn mahabrahma

> yg bold itu yg ngomong siapa yah ?? tuhan ngomong "Dia-lah" apakah ada tuhan lain yg tuhan-samawi sebut??
avatar
dharma_senapati
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 46
Posts : 279
Kepercayaan : Budha
Location : Serang
Join date : 21.02.16
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dee-nee on Thu Sep 15, 2016 5:49 pm

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
anda bisa bilang saya cocokmologi dalam memahami hukum tabur tuai/hukum universal dsb .... tapi anda menolak disebut cocokmologi dalam memahami Tuhan samawi

saya tuh cuma ngikutin cara anda saja .... karena anda menolak penjelasan tetang Tuhan samawi dan kekeuh dengan pikiran anda sendiri

>>> kalau maunya begini ... saya juga bisa ... misalnya tentang penjelasan anda diatas :

dhamma niyama (fenomena alam) dan hukum panca niyama pun bagian dari alam semesta ... toh buktinya semua ini pun bisa murka >>> persis seperti manusia dengan kekotoran batin-nya

jadi apa salahnya saya bilang alam semesta pun penuh dengan kekotoran batin (seperti manusia) .... karena nyatanya bencana alam memang terjadi dimana2

Bold :
koq sy dibilang cocokmologi c? memang kenyataannya demikian koq bhw tuhan samawi penuh dgn sifat2 manusia

trus kenapa saya dibilang cocokmologi juga ?? ... kan memang kenyataannya hukum universal juga dipenuhi sifat2 manusia

@dharma_senapati wrote:Merah :
bukan bagian alam tapi hukum alam >> paham ???

hukum alam kan bagian dari alam >>> dan nyatanya alam itu sendiri juga dipenuhi sifat2 manusia

@dharma_senapati wrote:Hijau:
hukum alam bekerja (berproses) di 31 alam kehidupan, jika manusia telah terbebas dari lingkaran lahir-mati (katakanlah telah merealisasi nibbana) maka hukum alam berhenti berproses bagi org tsb.

Bencana2 alam yg terjadi bisa jg disebabkan oleh ulah manusia sendiri (menjadi karma kelompok)

dari seluruh uraian anda diatas saja ... bisa dilihat bahwa 31 alam kehidupan memang dipenuhi oleh sifat2 manusia itu sendiri .... artinya termasuk kekotoran batin itu sendiri

merah >>> pertanyaan saya :

1. kalau belum ada mahluk hidup (manusia dan binatang --- karena anda tidak mengakui tumbuhan sebagai mahluk hidup) .... maka pada saat peristiwa2 proses pembentukan bumi terjadi ... juga belum ada hukum universal dong >>> ya atau tidak ??

2. jadi menurut anda .... bencana alam yg terjadi karena faktor alam (seperti gempa bumi, tsunami, dsb) semua juga disebabkan oleh niat, pikiran, ucapan & perbuatan manusia ??

yang underline : buktikan bahwa gempa bumi dan tsunami terjadi karena ulah manusia

dua point diatas tidak anda jawab ... artinya sama saja toh .... bahwa hukum universal juga dipenuhi oleh kekotoran batin (sesuai logika anda) karena alam itu sendiri bisa marah, murka, dst TANPA ATAU DENGAN faktor kamma manusia

karena ulah manusia ... bencana alam bisa terjadi (artinya alam semesta bisa marah dan murka ... lalu kemarahannya juga bisa membunuh manusia)

tanpa ulah manusia pun ... bencana alam juga bisa terjadi (artinya tanpa adanya kamma buruk manusia pun ... alam semesta bisa marah dan murka ... lalu kemarahannya juga bisa membunuh manusia)

hukum universal dalam alam semesta pun bisa marah ... bisa murka ... bisa membunuh >>> semua juga penuh dengan kekotoran batin ....

sekali lagi semua yang underline biru ini sudah sama dengan definisi anda tentang apa yang disebut "kekotoran batin"

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:

DHAMMA NIYAMA ( Fenomena Alam)

Adalah hukum tertib yang mengatur sebab-sebab terjadinya keselarasan /persamaan dari satu gejala yang khas, misalnya : terjadinya keajaiban alam seperti bumi bergetar pada waktu seseorang Bodhisattva hendak mengakhiri hidupnya sebagai seorang calon Buddha, atau pada saat Ia akan terlahir untuk menjadi Buddha. Hukum gaya berat (gravitasi) , daya listrik, gerakan gelombang dan sebagainya, termasuk dalam hukum ini.

Dhamma adalah sesuatu yang menghasilkan sifat dasarnya sendiri (dhareti), yaitu kekerasannya sendiri ketika disentuh, sifat khusus sekaligus sifat universalnya adalah berkembang, melapuk, hancur, dan seterusnya. Dhamma yang dikategorikan dalam hubungan sebab "menghasilkan" fungsi hubungan sebab tersebut, dan yang dikategorikan dalam hubungan akibat "menghasilkan" fungsi akibat atau hasil. Pengertian ini meliputi semua Dhamma yang dibahas dalam Suttanta dan Abhidhamma Pitaka. Ini juga meliputi hal-hal yang disebutkan dalam Vinaya Pitaka dengan nama "tubuh aturan" (silakkhandha).

Di antara sutta-sutta, keseluruhan Mahanidana-Suttanta dan Nidana-samyutta membahas tentang  Dhamma-niyama. Dalam salah satu sutta disebutkan:

"Karena kebodohan muncul kamma: sekarang, O para bhikkhu, apakah para Tathagata muncul atau tidak, unsur (dhatu) ini ada, yaitu pembentukan Dhamma sebagai akibat, ketetapan Dhamma sebagai akibat (Dhammatthitata Dhammaniyamata). Karena kamma... (dan seterusnya seperti pada hubungan sebab akibat yang saling bergantungan)"
(Samyutta-Nikaya, ii. 25)

Ia juga disinggung dalam ungkapan:

"Semua hal yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal, penuh dengan penderitaan, dan tanpa aku."

Dalam beberapa teks, niyama ini disebut Dhammata:

"Sesuai dengan Dhammata (hukum), para bhikkhu, bahwa ketika seorang Bodhisatta turun dari surga Tusita, memasuki rahim ibunya, cahaya yang sangat cemerlang muncul di seluruh dunia, termasuk dunia para dewa dan brahma... dan seribu sistem dunia berguncang...."
(Digha-Nikaya, ii. 12)

Sifat Dhamma-niyama dapat diringkas dalam rumusan:

"Ketika itu ada, ini ada.
Dari kemunculan itu maka ini muncul.
Ketika itu tidak ada, ini tidak ada.
Ketika itu berakhir, maka ini berakhir"

atau dalam pernyataan:

"Inilah, para bhikkhu, tiga sifat khas dari hal yang berkondisi: dapat dipahami perkembangannya, dapat dipahami kelapukannya, dapat dipahami perubahannya ketika ia masih bertahan. Inilah, para bhikkhu, tiga sifat khas dari hal yang tidak berkondisi: perkembangannya tidak dapat dipahami, kelapukannya tidak dapat dipahami, perubahan dan durasinya tidak dapat dipahami"
(Anguttara-Nikaya, i 152)

Dhamma-niyama merupakan keseluruhan sistem yang mengatur alam semesta. Empat niyama lainnya merupakan hukum alam yang spesifik yang mengkhususkan pada aspek tertentu dari alam semesta. Jadi, hukum alam apa pun yang tidak termasuk dalam keempat niyama yang pertama dikategorikan sebagai Dhamma-niyama.

Di sini kata Dhamma menunjuk pada semua hal mental maupun materi. Oleh sebab itu, Bija, Kamma, dan Citta merupakan Dhamma, dan ia mengandung semua hal tersebut. Namun dalam klasifikasi niyama, nama-nama individual digunakan untuk keempat hal pertama untuk mengkhususkan dan membedakannya dari hal-hal lain, baik mental maupun materi, yang digolongkan di bawah nama umum "Dhamma". Karena alasan ini Dhamma-niyama tidak digunakan dalam penerapan yang sepenuhnya, tetapi dibatasi pada hal-hal yang tidak termasuk keempat hal pertama. Ketika dibutuhkan untuk menggunakan utu sebagai niyama, seseorang tidak seharusnya menyebutnya Dhamma-niyama walaupun Utu termasuk Dhamma, tetapi harus menggunakan nama individual yang sesuai dan menyebutnya sebagai utu-niyama.

sumber : http://tanhadi.blogspot.co.id/2012/01/panca-niyama-dhamma.html

dari semua yang anda jelaskan ... yang bold kan jelas merujuk pada sebuah materi dengan sifat2nya .... semua itu berkondisi dan Buddha menjelaskan semua yang berkondisi tidak kekal (sama dengan sifat2 manusia yang tidak kekal itu sendiri) ...

maka yang tidak kekal ini termasuk dengan semua yang masih punya sifat2 ... termasuk nibanna juga yang mempunyai sifat bahagia dan damai >>>> artinya nibbana juga ga jauh beda dengan sifat2 manusia itu sendiri

------------------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
kok malah ngomongin mata batin .... saya jelas2 baca pada kalimat Buddha >>>> ga ada kalimat bahwa YANG MUTLAK = kondisi nibbana

memang ga ada mau gimana ??

kamu gak paham maksud dari kalimat Sutta Pitaka, Udana VIII : 3 yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah “Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang” yang artinya “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.

underline (baca yang bold ungu) : dengan adanya Yang Mutlak .... maka manusia dapat mencapai kebebasan >>> apa itu artinya Yang Mutlak = kebebasan (yang dapat dicapai manusia) itu sendiri ??

mana buktinya Buddha pernah bilang yang merah ?? ... wong Buddha cuma bilang yang biru kok

---------------------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
katanya nibbana itu sifatnya bahagia dan damai >>> memang-nya mahabrahma ga bisa punya kondisi bahagia dan damai ??

manusia aja bisa mendapat kondisi bahagia dan damai >>> jadi apa bedanya nibbana dengan manusia (mahluk)
bahagia dan damai manusia dan mahabrahma bersifat sementara (timbul-tenggelam) tidak kekal

wong sifatnya sama ... dari kosa kata-nya juga sama >>> sama2 damai dan bahagia >>> artinya tetap saja nibbana (yang mempunyai sifat ini) = sifat2 dan kondisi-nya manusia (mahabrahma)

cari aja deh di kamus  ... sifat damai dan bahagia juga semua sama artinya

-----------------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
bold underline : kalau anda kekeuh ga salah kaprah ... ya artinya sifat2-Nya sama juga dengan hukum universal/tabur tuai/nibbana ... dst >>>> jadi yg underline ini juga tidak mutlak ya ??
hukum tabur-tuai/hukum universal/hukum karma ==> prosesnya yg selalu berubah (krn makna proses itu sendiri yg selalu berubah2) ==> tidak mutlak ==> bukan nibbana

nibanna juga mempunyai sifat2 seperti yang anda sebut sebagai "tidak mutlak" >>> sifatnya sama ... artinya sama2 tidak mutlak juga

-----------------------------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:
@dee-nee wrote:
pink underline : dibaca yang bener dong ah ... saya bilang YANG MUTLAK dengan Tuhan Samawi ... bukan nibbana dengan Tuhan Samawi >>> kalau menurut anda kualitas nibbana vs Tuhan samawi beda ya ga papa ... toh Buddha juga ga pernah bilang Yang Mutlak = nibbana

hijau underline : dibaca lagi tulisan saya yang pink diatas >>>> dan YANG MUTLAK itu bukan nibbana >>> ga ada kalimat Buddha yang seperti itu

lhaaa jika tuhan samawi itu mutlak, maka logis dibandingkan dgn konsep ketuhanan dlm buddhisme yaitu nibbana (yang mutlak) yg tanpa kondisi.

apakah tuhan samawi mutlak? >> tidak, krn masih adanya unsur atta (ke-aku-an) dlm diri tuhan. kadar atta pd tuhan samawi sangat2 tinggi, salah satu contohnya

underline : masalahnya Buddha GA PERNAH BILANG bahwa Yang Mutlak (Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang) = nibbana

artinya ... nibbana BUKAN Yang Mutlak >>> bahkan sudah sesuai dengan kalimat Buddha sendiri

underline biru : TUHAN itu ..... tidak punya unsur ke-aku-an dalam konsep (pikiran) manusia ... tapi punya unsur KE-AKU-AN dalam konsep Tuhan itu sendiri (yang tidak ada satu mahluk pun tau seperti apa unsur Ke-AKU-An dalam konsep Tuhan)

dilihat dong kalimat Buddha ... "yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun"

yang dimaksud YANG TANPA AKU (anatta) ... kan merujuk pada konsep AKU (bagi manusia / mahluk) ... makanya dijelaskan bahwa Tuhan itu adalah yang merah

--------------------------------------------------------------------------

@dharma_senapati wrote:

Dia-lah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, Yang Maha Lahir dan Yang Maha Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs al-Hadid [57]:3)

> yg bold itu menjelaskan memiliki atta, mirip dgn mahabrahma

> yg bold itu yg ngomong siapa yah ?? tuhan ngomong "Dia-lah" apakah ada tuhan lain yg tuhan-samawi sebut??

> dah dibilang itu bahasa manusia .... DIA disitu artinya kata ganti untuk pihak ke 3 >>> merujuk kepada TUHAN (Allah SWT)

> Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs al-Hadid : 1-3)

ayat2 dalam Al Quran adalah ayat2 yang tidak keluar simsalabim (alias ujug2 ada)  ... tapi lewat perkataan Nabi Muhammad >>> dalam hal ini pun Nabi juga bukan seperti orang yang "kerasukan" - yang mengeluarkan suara (lain) tanpa orang tersebut sadar atau dalam keadaan "blank"

Artinya ... apa yang anda baca dalam Al Quran ... semua adalah PENJELASAN/PENYAMPAIAN Nabi Muhammad (sebagai manusia) tentang Tuhan ... dalam hal ini Nabi menjelaskan/menyebutkan/mengatakan/menyampaikan semua WAHYU yang beliau terima dari Tuhan >>> dan dalam Islam (yang bold) ini berlaku sama kepada nabi2 lainnya dari Adam - Yesus

dan karena Nabi adalah seorang manusia yang bicara kepada manusia ... maka yang digunakan adalah bahasa manusia (contohnya penggunaan kata ganti "dia")


Terakhir diubah oleh dee-nee tanggal Thu Sep 15, 2016 11:07 pm, total 1 kali diubah
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 7 dari 8 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik