FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

bisakah kafir yang baik masuk surga?

Halaman 8 dari 8 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by keroncong on Sun Jul 10, 2016 1:32 pm

First topic message reminder :

Ada seorang sahabat bertanya, “aku tidak peduli dengan agama, aku hanya berkomitmen kepada kemanusiaan, aku tak mau menyakiti orang lain, seluruh hidupku kupersembahkan buat orang orang yang membutuhkan pertolonganku, akankah nantinya aku masuk sorga?”. Sangat sulit bagi saya untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Saya tahu, bahwa sahabat saya ini memang seorang kafir, tapi akhlaknya sangat mulia. Sebagai seorang kafir tak mungkin dia masuk sorga, tapi rasanya tak enak juga jika dia ditempatkan di neraka, karena dia berakhlak sangat baik. Kebingungan kita menjawab pertanyaan dilematis diatas, bermula dari adanya doktrin doktrin na’if yang menggunakan standar ganda dalam memandang akidah. Kita membagi manusia menjadi dua bagian, yaitu muslim dan kafir. Muslim berarti kebaikan, kafir bermakna keburukan. Muslim pasti masuk sorga sedangkan kafir pasti masuk neraka. Kalau orang muslim berbuat jahat memang masuk neraka, tapi cuma transit sebentar, setelah itu masuk sorga selama lamanya. Sedangkan orang kafir langsung masuk neraka selama lamanya, tidak peduli apakah merekaitu berakhlak baik atau buruk. Saya sangat tidak nyaman dengan pandangan sederhana seperti diatas. Bahkan Al Qur’an sendiri mengkritik pandangan ini sebagai pandangan orang Yahudi. Hal itu adalah karena mereka (orang orang Yahudi) mengaku, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada adakan. (QS, 3:24). Didalam kenyataan sehari hari, sering kita melihat orang orang kafir yang berbudi pekerti baik sebagaimana kita juga sering melihat banyak juga orang muslim yang berperilaku buruk. Al Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa Islam itu absolut, tapi Al Qur’an juga menjajikan keselamatan buat orang orang non muslim dalam beberapa ayatnya. Sampai sekarang, para ulama masih belum menemukan solusi yang seragam untuk menjawab masalah kontradiktif ini. Jurang perbedaan pendapat diantara mereka masih lebar. Ini adalah PR kita bersama sebagai seorang muslim. Tentu saja saya tidak hendak membicarakan masalah pelik ini disini, apalagi ingin memperdebatkannya. Saya hanya bermaksud untuk menggambarkan dampak negatif dari doktrin doktrin salah kaprah yang selama ini mengitari cara keberagamaan kita. Pandangan na’if diatas menyebabkan kita memiliki standar ganda dalam menyikapi suatu masalah. Kita lebih suka membela penguasa yang dzolim asal dia muslim, daripada memilih pemimpin kafir yang adil. Kita lebih suka memilih pegawai yang seagama walaupun malas, daripada memilih karyawan kafir yang bekerja profesional. Begitu juga dalam memilih sahabat. Bahkan lebih jauh lagi kita selalu mendahulukan orang orang yang berkeyakinan sama dengan kita, betapapun buruk akhlak mereka. Kita menjauhi orang orang kafir, betapapun baik perilaku mereka. Dampak lainnya adalah kita selalu mencari cari pembenaran untuk keburukan akhlak kita. Dilain pihak kita menuduh adanya motif tersembunyi jika melihat kebaikan akhlak orang lain. Kita berprasangka baik jika menyaksikan sesama muslim berbuat jahat. Dilain pihak kita selalu curiga jika melihat orang kafir berbuat baik. Si Muslim memang korupsi, tapi dia juga suka berderma dan sering naik haji. Mudah mudahan amal baiknya menghapus semua dosa dosanya. Si Kafir memang suka menolong, tapi nanti dulu, jangan jangan itu cuma jebakan untuk menjerat kita. Jangan jangan mereka punya misi misi tertentu. Seorang muslim sejati selalu berlaku adil, tidak pernah menggunakan standar ganda. Katakan itu buruk kalau memang itu buruk, walaupun itu dilakukan oleh kerabat kita sendiri. Katakan itu baik kalau memang itu baik, biarpun itu dilakukan oleh musuh musuh kita. “Dia masuk neraka”, sabda Rasulullah SAW ketika melihat orang yang rajin sholat dan berpuasa tapi suka menyakiti tetangga. “Lepaskan dia!, karena Allah menyukai orang orang yang berakhlak mulia”, perintah Nabi SAW kepada para sahabatnya agar membebaskan seorang tawanan kafir yang terkenal berakhlak mulia. Sampai sekarang saya masih bingung memaknai kata kata Rasulullah SAW yang sangat populer ini.


Ada seorang sahabat bertanya, “aku tidak peduli dengan agama, aku hanya berkomitmen kepada kemanusiaan, aku tak mau menyakiti orang lain, seluruh hidupku kupersembahkan buat orang orang yang membutuhkan pertolonganku, akankah nantinya aku masuk sorga?”. Sangat sulit bagi saya untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Saya tahu, bahwa sahabat saya ini memang seorang kafir, tapi akhlaknya sangat mulia. Sebagai seorang kafir tak mungkin dia masuk sorga, tapi rasanya tak enak juga jika dia ditempatkan di neraka, karena dia berakhlak sangat baik. Kebingungan kita menjawab pertanyaan dilematis diatas, bermula dari adanya doktrin doktrin na’if yang menggunakan standar ganda dalam memandang akidah. Kita membagi manusia menjadi dua bagian, yaitu muslim dan kafir. Muslim berarti kebaikan, kafir bermakna keburukan. Muslim pasti masuk sorga sedangkan kafir pasti masuk neraka. Kalau orang muslim berbuat jahat memang masuk neraka, tapi cuma transit sebentar, setelah itu masuk sorga selama lamanya. Sedangkan orang kafir langsung masuk neraka selama lamanya, tidak peduli apakah merekaitu berakhlak baik atau buruk. Saya sangat tidak nyaman dengan pandangan sederhana seperti diatas. Bahkan Al Qur’an sendiri mengkritik pandangan ini sebagai pandangan orang Yahudi. Hal itu adalah karena mereka (orang orang Yahudi) mengaku, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada adakan. (QS, 3:24). Didalam kenyataan sehari hari, sering kita melihat orang orang kafir yang berbudi pekerti baik sebagaimana kita juga sering melihat banyak juga orang muslim yang berperilaku buruk. Al Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa Islam itu absolut, tapi Al Qur’an juga menjajikan keselamatan buat orang orang non muslim dalam beberapa ayatnya. Sampai sekarang, para ulama masih belum menemukan solusi yang seragam untuk menjawab masalah kontradiktif ini. Jurang perbedaan pendapat diantara mereka masih lebar. Ini adalah PR kita bersama sebagai seorang muslim. Tentu saja saya tidak hendak membicarakan masalah pelik ini disini, apalagi ingin memperdebatkannya. Saya hanya bermaksud untuk menggambarkan dampak negatif dari doktrin doktrin salah kaprah yang selama ini mengitari cara keberagamaan kita. Pandangan na’if diatas menyebabkan kita memiliki standar ganda dalam menyikapi suatu masalah. Kita lebih suka membela penguasa yang dzolim asal dia muslim, daripada memilih pemimpin kafir yang adil. Kita lebih suka memilih pegawai yang seagama walaupun malas, daripada memilih karyawan kafir yang bekerja profesional. Begitu juga dalam memilih sahabat. Bahkan lebih jauh lagi kita selalu mendahulukan orang orang yang berkeyakinan sama dengan kita, betapapun buruk akhlak mereka. Kita menjauhi orang orang kafir, betapapun baik perilaku mereka. Dampak lainnya adalah kita selalu mencari cari pembenaran untuk keburukan akhlak kita. Dilain pihak kita menuduh adanya motif tersembunyi jika melihat kebaikan akhlak orang lain. Kita berprasangka baik jika menyaksikan sesama muslim berbuat jahat. Dilain pihak kita selalu curiga jika melihat orang kafir berbuat baik. Si Muslim memang korupsi, tapi dia juga suka berderma dan sering naik haji. Mudah mudahan amal baiknya menghapus semua dosa dosanya. Si Kafir memang suka menolong, tapi nanti dulu, jangan jangan itu cuma jebakan untuk menjerat kita. Jangan jangan mereka punya misi misi tertentu. Seorang muslim sejati selalu berlaku adil, tidak pernah menggunakan standar ganda. Katakan itu buruk kalau memang itu buruk, walaupun itu dilakukan oleh kerabat kita sendiri. Katakan itu baik kalau memang itu baik, biarpun itu dilakukan oleh musuh musuh kita. “Dia masuk neraka”, sabda Rasulullah SAW ketika melihat orang yang rajin sholat dan berpuasa tapi suka menyakiti tetangga. “Lepaskan dia!, karena Allah menyukai orang orang yang berakhlak mulia”, perintah Nabi SAW kepada para sahabatnya agar membebaskan seorang tawanan kafir yang terkenal berakhlak mulia. Sampai sekarang saya masih bingung memaknai kata kata Rasulullah SAW yang sangat populer ini.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/srwln111981/kafir-tapi-berakhlak-mulia-bisa-masuk-sorga_550e096b813311862cbc60d1
Ada seorang sahabat bertanya, “aku tidak peduli dengan agama, aku hanya berkomitmen kepada kemanusiaan, aku tak mau menyakiti orang lain, seluruh hidupku kupersembahkan buat orang orang yang membutuhkan pertolonganku, akankah nantinya aku masuk sorga?”. Sangat sulit bagi saya untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Saya tahu, bahwa sahabat saya ini memang seorang kafir, tapi akhlaknya sangat mulia. Sebagai seorang kafir tak mungkin dia masuk sorga, tapi rasanya tak enak juga jika dia ditempatkan di neraka, karena dia berakhlak sangat baik. Kebingungan kita menjawab pertanyaan dilematis diatas, bermula dari adanya doktrin doktrin na’if yang menggunakan standar ganda dalam memandang akidah. Kita membagi manusia menjadi dua bagian, yaitu muslim dan kafir. Muslim berarti kebaikan, kafir bermakna keburukan. Muslim pasti masuk sorga sedangkan kafir pasti masuk neraka. Kalau orang muslim berbuat jahat memang masuk neraka, tapi cuma transit sebentar, setelah itu masuk sorga selama lamanya. Sedangkan orang kafir langsung masuk neraka selama lamanya, tidak peduli apakah merekaitu berakhlak baik atau buruk. Saya sangat tidak nyaman dengan pandangan sederhana seperti diatas. Bahkan Al Qur’an sendiri mengkritik pandangan ini sebagai pandangan orang Yahudi. Hal itu adalah karena mereka (orang orang Yahudi) mengaku, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada adakan. (QS, 3:24). Didalam kenyataan sehari hari, sering kita melihat orang orang kafir yang berbudi pekerti baik sebagaimana kita juga sering melihat banyak juga orang muslim yang berperilaku buruk. Al Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa Islam itu absolut, tapi Al Qur’an juga menjajikan keselamatan buat orang orang non muslim dalam beberapa ayatnya. Sampai sekarang, para ulama masih belum menemukan solusi yang seragam untuk menjawab masalah kontradiktif ini. Jurang perbedaan pendapat diantara mereka masih lebar. Ini adalah PR kita bersama sebagai seorang muslim. Tentu saja saya tidak hendak membicarakan masalah pelik ini disini, apalagi ingin memperdebatkannya. Saya hanya bermaksud untuk menggambarkan dampak negatif dari doktrin doktrin salah kaprah yang selama ini mengitari cara keberagamaan kita. Pandangan na’if diatas menyebabkan kita memiliki standar ganda dalam menyikapi suatu masalah. Kita lebih suka membela penguasa yang dzolim asal dia muslim, daripada memilih pemimpin kafir yang adil. Kita lebih suka memilih pegawai yang seagama walaupun malas, daripada memilih karyawan kafir yang bekerja profesional. Begitu juga dalam memilih sahabat. Bahkan lebih jauh lagi kita selalu mendahulukan orang orang yang berkeyakinan sama dengan kita, betapapun buruk akhlak mereka. Kita menjauhi orang orang kafir, betapapun baik perilaku mereka. Dampak lainnya adalah kita selalu mencari cari pembenaran untuk keburukan akhlak kita. Dilain pihak kita menuduh adanya motif tersembunyi jika melihat kebaikan akhlak orang lain. Kita berprasangka baik jika menyaksikan sesama muslim berbuat jahat. Dilain pihak kita selalu curiga jika melihat orang kafir berbuat baik. Si Muslim memang korupsi, tapi dia juga suka berderma dan sering naik haji. Mudah mudahan amal baiknya menghapus semua dosa dosanya. Si Kafir memang suka menolong, tapi nanti dulu, jangan jangan itu cuma jebakan untuk menjerat kita. Jangan jangan mereka punya misi misi tertentu. Seorang muslim sejati selalu berlaku adil, tidak pernah menggunakan standar ganda. Katakan itu buruk kalau memang itu buruk, walaupun itu dilakukan oleh kerabat kita sendiri. Katakan itu baik kalau memang itu baik, biarpun itu dilakukan oleh musuh musuh kita. “Dia masuk neraka”, sabda Rasulullah SAW ketika melihat orang yang rajin sholat dan berpuasa tapi suka menyakiti tetangga. “Lepaskan dia!, karena Allah menyukai orang orang yang berakhlak mulia”, perintah Nabi SAW kepada para sahabatnya agar membebaskan seorang tawanan kafir yang terkenal berakhlak mulia. Sampai sekarang saya masih bingung memaknai kata kata Rasulullah SAW yang sangat populer ini.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/srwln111981/kafir-tapi-berakhlak-mulia-bisa-masuk-sorga_550e096b813311862cbc60d1
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down


Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by Azed on Thu Sep 15, 2016 11:02 pm

@dharma_senapati wrote:kamu gak paham maksud dari kalimat Sutta Pitaka, Udana VIII : 3 yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah “Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang” yang artinya “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Saya juga gagal paham.
Kalimat mana yg dpt disimpulkan bhw itu menunjuk ke Tuhan YME?

Itu kan tafsiran umatnya (setidaknya penulisnya) dg merefer pernyataan sang Buddha. Apa iya, bhw yg dimaksud oleh sang buddha : “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak” = Tuhan ?.

Saya baca di samaggi-phala, penulisnya -seorang bhikkhu- menulis begini :
Jadi, pengertian Nibbana atau Tuhan dalam Agama Buddha adalah “Yang tidak terlahirkan”, “Yang tidak menjelma”, “Yang tidak bersyarat”, “Yang tidak kondisi”. “Yang tidak terpikirkan”, serta masih banyak kata ‘tidak’ lainnya. Secara singkat, Tuhan atau Nibbana adalah mutlak, tidak ada kondisi apapun juga.

++

Nibbana itu konon kan suatu keadaan yg dialami PADA SESEORANG (individu) ketika semua kemelekatan materi dan immateri tdk ada lagi. Maka nibbana itu boleh dibilang sifatnya sangat personal, hanya pelakunya yg bisa merasakan.

Tuhan, mengambil pengertian umum yg simple saja, adalah; tempat SEGALA MAKHLUK bergantung. Pencipta, pengatur dan pemelihara segala yg ada di semesta alam ini. “Sosok”-nya : Tidak dapat diserupakan dg apapun, Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan, Tidak berawal, Tidak berakhir, Tidak ada yg lain, Tidak ada yg seperti Dia, dsb.

Maka, gimana logikanya bisa disimpulkan bhw Tuhan = nibbana ?

++

Anda bilang Tuhan buddhisme adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Anda pasti tahu apa artinya ESA, HANYA SATU DAN SATU-SATUNYA. Betul ya ?
Bagaimana anda bisa tau kalau Tuhan anda Esa, gak empat, sepuluh atau entah berapa ?
Kan Tuhan anda “bungkam”, tidak “ngomong” apa-apa.

Mohon pencerahannya ya bro.
Tx

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dharma_senapati on Sat Sep 17, 2016 12:12 am

tuhan dlm buddhisme adl sbh konsep yg dipaksakan krn zaman orla agama2 yg ada di indonesia akan dijadikan agama resmi, dgn syarat hrs ada tuhannya siapa, nabinya siapa, kitab sucinya apa? yg ada nantinya agama non-samawi akan dijadikan sbg agama tidak resmi.

ajaran buddha bhw tuhan itu non-personal, sdgkan trio-samawi tuhan itu personal.

artinya begini dlm agama buddha, tuhan itu yg sulit diucapkan dgn kata2 dan sulit dipikirkan dan gak boleh diumpamakan dgn apapun jg.

tuhan yme itu bukan dlm arti jumlah lho yah (esa/satu) melainkan bhw konsep ketuhanan itulah yg esa (satu kesepakatan kesamaan sifat2 tuhan scr universal) tujuannya apa? ini terkait masalah politik dlm negeri kita.

dlm pancasila dasar negara kita pun pd sila pertama adl:
ketuhanan yang maha esa
bkn tuhan yg maha esa

maka dgn begitu umat buddha setuju jika memang konsepnya ketuhanan (sifat tuhan) yg esa dlm artian spy bgs indonesia gak terpecah belah krn keberagaman suku & agama.

sdgkan tuhan sendiri (dlm buddhisme) merujuk kpd nibbana yaitu yang tdk bisa diumpamakan dgn apapun jg, yg artinya suci & terbebas dari atta yg akan memunculkan kemelekatan.

jika makna suci itu sdh disepakati bersama2, maka muncullah KONSEP ketuhanan YME, esa disini satu KESEPAKATAN makna suci bkn jmlnya satu.

kalaupun negara atw mayoritas memaksakan bhw agama hrs punya tuhan, maka agama buddha punya KONSEP KETUHANAN yg merujuk kpd NIBBANA.

nibbana dlm ajaran buddha adl batin seseorg yg telah tebebas dr tumimbal-lahir, atta, kemelekatan dll. dan ini sulit diungkapkan dgn kata2 selain org itu sendiri merasakan sendiri merealisasi nibbana.

jadi nibbana (dlm arti universal adl suci) sama konsepny dgn tuhan (yg suci jg) dan sama jg konsepnya dgn "yg tak terceritakan" tdk dpt diungkapkan dgn kata2 (yg suci jg)

jadiiii semua konsep tsb diatas adalah ESA, sepakat satu bahasa dan makna
avatar
dharma_senapati
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 46
Posts : 279
Kepercayaan : Budha
Location : Serang
Join date : 21.02.16
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dee-nee on Sat Sep 17, 2016 6:40 pm

dharma_senapati wrote:ajaran buddha bhw tuhan itu non-personal, sdgkan trio-samawi tuhan itu personal.

hmmmm ... ya mungkin saya yang salah paham dengan kata "personal" disini

karena terus terang saya sendiri jadi bingung ... sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan "Tuhan personal"

tapi setelah baca di beberapa website ... ternyata ada juga pertanyaan2 sesama muslim ... apakah Allah adalah Tuhan personal ??

belum baca2 detail sih ... masih nyoba2 memahami dari banyak pendapat ... dimana mayoritas (dari yang saya baca) menyatakan bahwa Allah adalah keduanya - baik personal dan non-personal

piss  piss

dari wiki sendiri ... disebutkan bahwa sunni setuju Allah adalah Tuhan personal ... sementara shiah menolak >>> dan ini yang saya belum baca lengkapnya  

apa yang dimaksud "personal" dst ...

mungkin saya bisa minta masukan dulu secara umum (supaya ada kesepakatan) ... apa itu yang disebut "Tuhan personal"

--------------------------------------------------------------------------------

untuk @dharma_senapati

saya ambil kalimat Einstein sebentar

“Sains tanpa agama itu lumpuh, agama tanpa sains itu buta.”

Tapi ... yang dimaksud ‘Agama’ disini ga sama dengan agama bila merujuk pada samawi .... Einstein menyebut bahwa dia adalah seorang "Pantheisme" bukan Theisme yang memercayai Tuhan personal ... berikut kata Einstein :

“Itu tentu saja sebuah kebohongan, apa yang Anda baca tentang keyakinan agama saya, sebuah kebohongan yang diulang-ulang secara sistematis. Saya tidak percaya kepada Tuhan yang berkepribadian (Personal God) dan saya tidak pernah menyangkal ini, tetapi saya telah mengungkapkannya secara jelas. Jika ada sesuatu dalam diri saya yang dapat dikatakan religius maka itu adalah rasa takjub yang tak terbatas akan struktur dunia sejauh yang dapat di ungkapkan ilmu pengetahuan kita.”  - Albert Einstein, letter to an atheist (1954), Albert Einstein, The Human Side, 1954, disunting oleh Helen Dukas dan Banesh Hoffman, Princeton University Press.

underline : so menurut definisi Einstein ... Personal God adalah Tuhan yang berkepribadian

gimana dengan kang dharma ?? >>>> setuju atau tidak setuju dengan kalimat Einstein

oh ya satu lagi ... tentang Patheisme vs Theisme

................... tapi OOT nih .................

kang dharma bikin thread baru dong

piss piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 181

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dharma_senapati on Sat Sep 17, 2016 7:12 pm

@dee-nee
personal disini menurut sy pribadi adl sifat manusiawi (personalities), jd jika sifat tuhan disandingkan dgn sifat manusia sptnya kurang pas.

definisi yg einstein sebutkan ttg personal god sptnya masuk akal sih kl menurut sy.

untuk pantheisme sy akan cari dl referensinya yah
avatar
dharma_senapati
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 46
Posts : 279
Kepercayaan : Budha
Location : Serang
Join date : 21.02.16
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by dee-nee on Sat Sep 17, 2016 7:22 pm

@dharma_senapati wrote:@dee-nee
personal disini menurut sy pribadi adl sifat manusiawi (personalities), jd jika sifat tuhan disandingkan dgn sifat manusia sptnya kurang pas.

definisi yg einstein sebutkan ttg personal god sptnya masuk akal sih kl menurut sy.

untuk pantheisme sy akan cari dl referensinya yah

jangan disini yah ... OOT ... hehehehehe

ini saya buatkan thread-nya

http://www.laskarislam.com/t10262-sistem-sistem-pemikiran-filsafat-tentang-tuhan#196566

monggo kalau mau ditambah2 disana
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 181

Kembali Ke Atas Go down

Re: bisakah kafir yang baik masuk surga?

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 8 dari 8 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik