FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

DIRGAHAYU HUT RI KE-71

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

DIRGAHAYU HUT RI KE-71

Post by keroncong on Sat Aug 06, 2016 6:04 pm

Menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 ini, kita, rakyat Indonesia, dituntut untuk lebih mengaplisasikan cita-cita kemerdekaan itu dengan sepenuhnya, tulus dengan perngorbanan demi tercapainya kembali sebuah rakyat yang majemuk, berkedaulatan, dan mempunyai kebudayaan yang tinggi.
Namun, apa yang kita lihat kenyataannya negeri ini tak ubahnya telur di atas tanduk, kehilangan dari sebuah nurani yang bersih. Siapa sebenarnya di antara kita ini yang mau dijajah kembali, sementara zaman semakin maju dan canggih? Tentu jawabnya tidak. Siapa pun dia, penduduk bumi ini, jelas-jelas mengutuk penjajahan terhadap dirinya, keluarga, dan masyarakatnya, bukankah kita sudah merdeka? Itu jawaban yang lantang dari mulut kita. Ternyata "bebas" bersyarat. Bukan bebas dalam menentukan kemauan dan kebijakan. Sebuah negara yang merdeka tentunya "mandiri" tanpa ketergantungan nasib kepada negara lain. Kemandirian di sini khususnya menyangkut hal-hal yang general, seperti kemandirian ideologi, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, budaya, dan sebagainya. Kemandirian bukan berarti menutup pintu kerja sama dengan negara-negara lain untuk suatu tujuan kemajuan.

Kemandirian ekonomi berarti negara tidak harus menggantungkan hidup sepenuhnya dengan berharap dana bantuan dan pinjaman dari negara lain. Tapi, menjadikan rakyat sebagai konsumen dan produsen atas produk-produk dalam yang telah dihasilkan. Kemandirian politik berarti sebuah kebebesan dalam bersikap bijaksana dan adil. Tidak ada pemahaman paksaan dan kesewenang-wenangan. Kemandirian hukum pastilah dengan penegakkan hukum yang adil. Negara muslim (berpenduduk mayoritas muslim) baru dikatakan merdeka bila kaum muslimin sudah dapat bebas mengamalkan ajaran dan nilai-nilai syariat Islam yang mencakup segala aspek tatanan kehidupan, termasuk dalam berpolitik dan bernegara, tanpa adanya batasan-batasan yang menyalahi syariat. Tentu bukan memilah-milah bagian yang sifatnya pribadi atau kelompok (harokah). Islam mengharuskan pemeluknya untuk patuh dan tunduk kepada aturan hukum Islam. Dalam masalah-masalah yang pokok, Islam tidak menyerahkan aturan hukum kepada manusia, karena hal itu akan rentan dengan perebutan kepentingan. Oleh karenanya, hal itu diambil alih oleh Allah SWT Yang Maha Mengetahui tentang hal-ihwal yang sesuai dengan kebaikan manusia dan bahaya yang akan mengancamnya. Demikian juga dengan kemandirian budaya, apabila budaya bangsa itu tidak diwarnai apalagi diasumsi oleh budaya asing (Barat), dalam kehidupan remaja, rumah tangga, lingkungan, dll.

Insan yang merdeka dalam kacamata Islam adalah insan yang tidak mengaplikasikan pola pikir kaum penjajah, seperti sekularisme, matrealisme, hedonisme, dan lain-lainya yang berpegang teguh pada ideologinya sendiri. Tapi, haruslah ideologi Islam, sehingga pola pikirnya senantiasa mengacu kepada tuntunan Islam yang termaktub dalam Alquran dan sunah Rasulullah saw. Dalam konsep Islam, kemerdekaan diawali dari keterbebasan akidah dan pola pikir manusia dari mengikuti hawa nafsu, sebab menurut terminologi akidah hanya dikenal dua jalur: (1) jalur yang benar (Allah SWT) dan (2) jalur thagut (setan) dan hawa nafsu. Orang yang tidak mengikuti jalur Allah SWT--sadar atau tidak sadar--sudah pasti akan terkoptasi oleh jalur setan atau hawa nafsu. Maka ke jalur Allah-lah kepastiannya. Sebagaimana dalam firman Allah SWT, "… barang siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah SWT, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus." (Al-Baqarah: 256).

Jalur Allah SWT itu "rambu-rambunya" sudah jelas, baik dalam dimensi politik, ekonomi, hukum, budaya, dan lainnya. Kesemuanya mengacu kepada ketentuan-ketentuan Allah SWT dalam Alquran dan hadis-hadis Nabi saw. Tinggal manusianya saja yang harus sadar dan mengamalkannya. Manusia cenderung mengedepankan rasio daripada harus duduk belajar dengan alim ulama dengan harapan rasional lebih objektif dan subjektif. Sistematis rasio belum final dalam mencari kebenaran dan kebahagiaan. Wajar saja bila terdengar produk-produk pola pemikiran "asing" (Barat) didewakan, padahal semua ini akan menjadi parasit versi "virus" SARS yang lambat laun akan memusnahkan dan mematikan manusia itu sendiri. Akhirnya manusia juga mengakui peringatan Allah SWT nantinya di saat peringatan-peringatan-Nya turun ke dunia. Sebagaimana dalam firmanNya, "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (Thaha: 124).

Sudah saatnya manusia--khususnya umat Islam--sadar dan mereferensi kepada aturan dan tuntunan Allah SWT. Bukankah sejarah perkembangan Islam di masa lalu dapat dijadikan sebagai acuan dan pengalaman. Di mana pada abad ke-7 kelahiran Islam dihadapkan oleh kekuatan-kekuatan raksasa dunia, antara kerajaan Romawi di Barat dan kerajaan Persia di Timur. Kemudian, dunia Islam (yang masih terjajah) dihadapkan lagi pada kekuatan raksasa dunia, yakni dunia Komunis yang dipimpin Uni Soviet dan dunia Kapitalis yang dipimpin Amerika Serikat. Runtuhnya Soviet bukan berarti dunia Islam sudah bebas dari penjajahan. Tapi, semakin dahsyatnya Amerika Serikat menyerang dan ingin menghancurkan Islam dengan berbagai strategi politik kotor dan tak bermoral. Misi estafet ini tak urung habisnya mengecam dunia Islam. Hanya orangnya saja yang berbuah namun visi, misi, dan prinsipnya sama. Berpindah-pindah tangan namun kejahatannya tetap. Inilah kenyataan pahit dari sebuah kemerdekaan yang bersyarat. Konsuekuensinya adalah kita yang harus sejak dini merebut kembali kemerdekaan kita melalui beberapa pendekatan-pendekatan yang kita lakukan demi kebangkitan Islam. Ketergantungan tersebut harus kita hilangkan, sebab kemandirian akan lebih disegani oleh siapa pun. Ingat kemandirian Rasulullah dan para khalifahnya mampu menundukkan kerajaan Romawi dan Persia. Mampukah kita mengembalikan Izzah-harga diri--yang telah hilang? Tepuk dada Tanya selera!

Sebagai penutup, ada satu firman Allah SWT yang dapat kita jadikan renungan di mana kita umat Islam janganlah lemah dan bersedih hati, sebab kita adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kita beriman kepada Allah SWT. "Janganlah kalian bersikap lemah dan janganlah (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali Imran: 139). (Mukhlis Zamzami, Mahasiswa Aligarh Muslim University, Aligarh, India)

Catatan: Dengan perubahan seperlunya.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: DIRGAHAYU HUT RI KE-71

Post by SEGOROWEDI on Sat Aug 06, 2016 6:16 pm

nkri, pancasila, uud 45, bhinneka tunggal ika
HARGA MATI, gak ada sariat2an, arab2an

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43720
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: DIRGAHAYU HUT RI KE-71

Post by frontline defender on Sun Aug 07, 2016 9:53 pm

syariat itu nggak bertentangan & bahkan sejalan dengan Pancasila!
avatar
frontline defender
MAYOR
MAYOR

Posts : 6425
Kepercayaan : Islam
Join date : 17.11.11
Reputation : 130

Kembali Ke Atas Go down

Re: DIRGAHAYU HUT RI KE-71

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik