FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Halaman 1 dari 6 1, 2, 3, 4, 5, 6  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by isaku on Wed Oct 12, 2016 12:18 pm

Biar tidak tumpang tindih dengan Ryo dan Gayatri

Karena explisit, sudah ada MUI segala, dan sangat umum tafsiran bahwa memang muslim dilarang memilih pemimpin muslim, maka untuk sementara saya tidak perlu bawa apa2 piss

Berhubung yang lainnya juga sepakat bahwa tidak betul seperti itu, mohon kerelaan hati untuk membantu dan meluangkan waktu menurunkan dalil2 atau pendapat ulama yang dirujuk untuk melampaui ke-eksplisitan bunyi ayat tsb.

@Dee-nee wrote:sedikit curhat .... kan ceritanya saya gemes nih dengan berita di media tentang kasus ini .... lalu secara ga sengaja saya "terjebak" adu debat dengan anggota ormas tertentu di medsos ... kafir, munafik, JIL, dsb ... semua kena ke saya >>> alhamdulillah ada yang setuju dengan saya (walaupun ga banyak) .. dan alhamdulillah juga setelah itu saya di banned tidak boleh meneruskan argumen saya >>> mungkin saya dianggap sedang "meracuni" dengan ide2 JIL, syiah atau apalah (padahal apa yang saya bawa juga penjelasan ulama - yang memang punya pendapat beda2)

@Azed wrote:Maka tafsir yg sesuai ya lihat saja konteks masalahnya, bukan cumak ayat 51, tapi juga sebelumnya.
----
Ada ayat lain yg dipahami serupa dan biasa dimunculkan melengkapi Al Maidah 51 untuk kasus yg sama, misal QS. 3:28, QS. 5:57, QS. 9:23. Saya pribadi lebih konsen pada konsekuensi atas penafsiran yg diyakini mayoritas muslim seperti itu, karena ayat tsb merupakan perintah yg hukumnya wajib.

piss


Yang mau gabung silahkan asal bawa bekal

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3520
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by frontline defender on Wed Oct 12, 2016 2:09 pm

definisi eksplisit menurut anda itu gimana? QS. 5:49-50 itu menurut anda eksplisit atau tidak? kalau eksplisit, QS. 5:49-50 itu menurut anda masih satu rangkaian dengan QS. 5:51 atau tidak?
avatar
frontline defender
MAYOR
MAYOR

Posts : 6448
Kepercayaan : Islam
Join date : 17.11.11
Reputation : 137

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by dee-nee on Wed Oct 12, 2016 5:23 pm

saya ga ikutan ah ... saya ikut uraian Quraish Shihab plus NU cs ajah

btw ... uraian Quraish Shihab ini sejalan dengan uraian bung FD

piss piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by Azed on Wed Oct 12, 2016 6:02 pm

Saya copaskan pendapat Ahli Tafsir Indonesia sbg referensi :

https://islamindonesia.id/berita/sorotan-apakah-tafsir-al-maidah-51-yang-dikutip-ahok.htm

IslamIndonesia.id – SOROTAN – Apakah Tafsir Al-Maidah 51 yang Dikutip Ahok?

Usai sidang di Mahkamah Konstitusi, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja (Ahok) tiba-tiba saja diteriaki ‘gila’ oleh Habib Novel Bamukmin alias Habib Novel. Habib Novel bereaksi keras, karena tak terima Ahok yang dianggap telah mempermainkan ayat suci Al-Qur’an. Sebelumnya, setelah menyapa warga di Kepulauan Seribu, Ahok sempat menyebut kalau warga dibohongi dengan menggunakan ayat Al-Maidah untuk tidak memilih dirinya.

Seperti diketahui, ayat dari Surah Al-Maidah yang kerap disebut sebagai dalil menolak ‘pemimpin kafir’ itu ialah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi ‘awliya’; sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)

Benarkan ayat di atas menyerukan penolakan “pemimpin kafir”? Menurut pakar tafsir Al-Qur’an Prof. Quraish Shihab, ayat di atas tidaklah berdiri sendiri namun memiliki kaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Hanya memenggal satu ayat dan melepaskan ayat lain berimplikasi pada kesimpulan akhir. Padahal, Al-Maidah ayat 51 merupakan kelanjutan atau konsekuensi dari petunjuk-petunjuk sebelumnya.
“Konsekuensi dari sikap orang yang memusuhi Al-Qur’an, enggan mengikuti tuntunannya…”

Pada ayat sebelumnya, Al-Qur’an diturunkan untuk meluruskan apa yang keliru dari kitab Taurat dan Injil akibat ulah kaum-kaum sebelumnya. Jika mereka – Yahudi dan Nasrani, enggan mengikuti tuntunan Al-Qur’an, maka mereka berarti memberi  ‘peluang’ pada Allah untuk menjatuhkan siksa terhadap mereka karena dosa-dosa yang mereka lakukan.

“Jadi, mereka dinilai enggan mengikuti tuntunan Tuhan tapi senang mengikuti tuntunan jahiliah,” katanya dalam pengajian Tafsir Al-Qur’an di salah satu stasiun TV swasta.

Lalu, dilanjutkan oleh ayat 51 surat Al-Maidah. Kalau memang seperti itu sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani – mengubah kitab suci mereka, enggan mengikuti Al-Qur’an, keinginannya mengikuti jahiliyah, – “Maka wahai orang-orang beriman janganlah engkau menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya.”

Bagi Quraish Shihab, hubungan ayat ini dan ayat sebelumnya sangat ketat. “Kalau begitu sifat-sifatnya, jangan jadikan mereka awliya. Nah, awliya itu apa?,” tanyanya memantik diskusi sebelum mengkaji lebih dalam.

‘Awliya’ ialah jamak atau bentuk plural dari ‘wali’. Di Indonesia, kata ini populer sehingga ada kata wali-kota, wali-nikah dst. Wali ialah, kata penulis Tafsir Al Misbah ini, pada mulanya berarti “yang dekat”.  Karena itu, waliyullah juga bisa diartikan orang yang dekat dengan Allah.
“Wali kota itu berarti yang mestinya paling dekat dengan masyarakat. Orang yang paling cepat membantu Anda, ialah orang yang paling dekat dengan Anda. Nah, dari sini lantas dikatakan bahwa wali itu pemimpin atau penolong.”

Adapun wali dalam pernikahan – apalagi terhadap anak gadis – sebenarnya fungsinya melindungi anak gadis itu dari pria yang hanya ingin ‘iseng’ padanya. Seseorang yang dekat pada yang lain, berarti ia senang padanya. Karena itu, iblis jauh  dari kebaikan karena ia tidak senang.
“Dari sini, kata ‘wali’ yang jamaknya ‘awliya’ memiliki makna bermacam-macam.”

Yang jelas, kata jebolan Al Azhar Mesir ini, kalau ia dalam konteks hubungan antar manusia, berarti persahabatan yang begitu kental. Sedemikan hingga tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Demikian pula hubungan suami-istri yang dileburkan oleh cinta.

“Dalam ayat ini, jangan angkat mereka –Yahudi dan Nasrani- yang sifatnya seperti dikemukakan pada ayat sebelumnya menjadi wali atau orang dekatmu. Sehingga engkau membocorkan rahasia kepada mereka.”

Dengan demikian, ‘awliya’ bukan sebatas bermakna pemimpin, kata Quraish Shihab. “Itu pun, sekali lagi, jika mereka enggan mengikuti tuntunan Allah dan hanya mau mengikuti tuntunan Jahiliyah seperti ayat yang lain.”

Contohnya, jika mereka juga menginginkan kemaslahatan untuk kita, boleh tidak kita bersahabat? Quraish Shihab kembali bertanya, jika ada pilihan antara pilot pesawat yang pandai namun kafir dan pilot kurang pandai yang Muslim, “pilih mana?” sontak jamaah yang hadir pun tertawa.

Atau, pilihan antara dokter kafir yang kaya pengalaman dan dokter Muslim tapi minim pengalaman. Dalam konteks seperti ini, bagi Quraish Shihab, tidak dilarang. Yang terlarang ialah melebur sehingga tidak ada lagi perbedaan termasuk dalam kepribadian dan keyakinan. Karena tidak ada lagi batas, kita menyampaikan hal-hal yang berupa rahasia pada mereka. “Itu yang terlarang.”

Namun kalau pergaulan sehari-hari, dagang, membeli barang dari tokonya dsb, tidaklah dilarang. Selanjutnya ayat ini berbicara tentang sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Artinya, sebagian orang Yahudi bekerjasama dengan orang Nasrani yang walaupun keduanya beda agama namun kepentingannya sama, yaitu mencederai kalian. Oleh sebab itu, Al-Qur’an berpesan, “Siapa yang menjadikan mereka itu orang yang dekat, yaitu meleburkan kepribadiannya sebagai Muslim sehingga sama keadaannya (sifat-sifatnya) dengan mereka, oleh ayat ini diaggap sama dengan mereka.”

Terakhir, Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang zalim. Menurut Quraish Shihab, petunjuk ada dua macam; umum dan khusus. Petunjuk khusus itu, memberi tahu dan mengantar. Allah memberi tahu kepada semua manusia bahwa ini baik dan itu buruk tapi tidak semua diantar oleh-Nya. Di sisi lain, ada orang yang tidak sekedar diberitahu jalan baik, namun juga diantar jika orang itu menginginkan. Meski demikian, Allah tidak memberi petunjuk khusus kepada mereka yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by Azed on Wed Oct 12, 2016 6:11 pm

Permasalahannya bisa dirunut mulai dari ayat ini :

Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) diantara orang-orang yahudi. (Orang-orang yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepadamu maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah". Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan didunia dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS. 5:41)

Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta keputusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS. 5:42)

Dan bagaimana mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang didalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusan mu) dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman. (QS. 5:43)

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. 5:44)

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. 5:45)

Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu : Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertaqwa. (QS. 5:46)

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. 5:47)

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS. 5:48)

dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. 5:49)

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. 5:50)


Rangkaian cerita diatas menjelaskan berkenaan dg perkara-perkara kaum Yahudi dan Nasrani yg sebagian (tdk seluruhnya) mempunyai karakter:
- Suka mendengar berita bohong,
- Suka merobah perkataan-perkataan (Alkitab) dari tempat-tempatnya,
- Banyak memakan yang haram,
- Mengingkari atau berpaling dari hukum-hukum Allah.

Menurut riwayat, ada lagi satu sifat yg sepesifik. Ketika Yahudi menghadapi masalah besar, yg jika mengacu kpd hukum Taurat sanksinya sangat berat, mereka sering membawa perkaranya kpd nabi untuk meminta keputusan dg harapan mendapat keringanan (berhukum dg syariat Islam). Tetapi, jika keputusannya dianggap ringan, mereka melaksanakan. Jika menurut mereka cukup berat, mereka mengabaikannya. Maka kelak kemudian nabi diperintahkan menghakimi mereka dg hukum agama mereka.

Sehingga, dg semua 'kelakuan' yg semacam itu, Allah memperingatkan : “ berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu”.

Nah, konon diantara orang2 beriman (muslim) yg sering berinteraksi dg kaum Yahudi & Nasrani jenis ini (karena hubungan dagang, hubungan pekerjaan, dsb), mudah terhasut dan berlaku serupa. Maka Allah memperingatkan :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi awliyā'a (mu); sebagian mereka adalah awliyā'a bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5:51)

+++

Saya mengikut tafsir Quraish Shihab, bhw auliya dlm Al Maidah 51 tidak ada sangkut pautnya samasekali dg soal kepemimpinan. Logikanya saja, tanpa melihat rangkaian ayat yg lain, Yahudi dan Nasrani dimasa itu saling bersaing berebut pengaruh, saling mengklaim yg paling benar, bagaimana mungkin kemudian dikatakan satu sama lain saling memimpin. Memimpin dlm hal apa ?

Selain itu, umat Islam dimasa itu hanya punya satu pimpinan tertinggi, nabi Muhammad dan pejabat-pejabatnya yg juga muslim. Tidak mungkin mereka akan menjadikan Yahudi dan Nasrani (yg sama-sama dibawah pemerintahan Islam) sebagai pemimpin mereka. Pemimpin dlm hal apa ?

Maka cukup jelas, bhw dlm hal ini mestinya Al Maidah 51 dipahami : jangan kamu mengikuti atau menjadikan sifat-sifat mereka sebagai “panutan” (atau meniru). Karena jika setiap orang yg mengaku beriman tapi masih :
- Suka mendengar berita bohong,
- Suka merobah perkataan-perkataan (Alkitab) dari tempat-tempatnya,
- Banyak memakan yang haram,
- Mengingkari atau berpaling dari hukum-hukum Allah.

Maka dia sama saja dg mereka.
Apakah ada orang Islam yg begitu ?
Oh, sangat banyak, dan boleh jadi satu diantaranya kita sendiri .....


Terakhir diubah oleh Azed tanggal Fri Oct 14, 2016 12:30 am, total 1 kali diubah

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by isaku on Thu Oct 13, 2016 11:08 am

@frontline defender wrote:definisi eksplisit menurut anda itu gimana? QS. 5:49-50 itu menurut anda eksplisit atau tidak? kalau eksplisit, QS. 5:49-50 itu menurut anda masih satu rangkaian dengan QS. 5:51 atau tidak?
eksplisit/eks·pli·sit/ /éksplisit/ a gamblang, tegas, terus terang, tidak berbelit-belit (sehingga orang dapat menangkap maksudnya dengan mudah dan tidak mempunyai gambaran yang kabur atau salah mengenai berita, keputusan, pidato, dan sebagainya); tersurat.

Semua ayat sebetulnya satu rangkaian, tapi para ahli Quran sudah sepakat dengan pembagian juz dan hizb. Kebetulan untuk Almaidah di ayat 50 adalah akhir hizb, dan ayt 51 awal hizb yang baru. Biasanya ditandai dengan huruf 'ain atau ۞.
Sepanjang yang saya tahu, pembagian hizb berdasar ada kaitan atau tidak ayat yang 1 dengan yang lainnya, atau perubahan tema atau paragraf baru. CMIIW

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3520
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by isaku on Thu Oct 13, 2016 11:13 am

@dee-nee wrote:saya ga ikutan ah ... saya ikut uraian Quraish Shihab plus NU cs ajah

btw ... uraian Quraish Shihab ini sejalan dengan uraian bung FD

piss piss
Padahal saya g akan kata2in Mb Dee JIL, munafik segala macam, apalagi ngebanned segala lho piss

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3520
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by frontline defender on Thu Oct 13, 2016 1:34 pm

@Azed wrote:Selain itu, umat Islam dimasa itu hanya punya satu pimpinan tertinggi, nabi Muhammad dan pejabat-pejabatnya yg juga muslim. Tidak mungkin mereka akan menjadikan Yahudi dan Nasrani (yg sama-sama dibawah pemerintahan Islam) sebagai pemimpin mereka. Pemimpin dlm hal apa ?
tergantung bagaimana anda mengartikan pemimpin, kalau anda mengartikannya secara luas, yaitu orang yang diikuti/dituruti, maka muslim sudah menjadikan Yahudi sebagai pemimpin ketika muslim mengikuti/menuruti hawa nafsu nya Yahudi!

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
avatar
frontline defender
MAYOR
MAYOR

Posts : 6448
Kepercayaan : Islam
Join date : 17.11.11
Reputation : 137

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by frontline defender on Thu Oct 13, 2016 1:52 pm

@isaku wrote:para ahli Quran sudah sepakat dengan pembagian juz dan hizb. Kebetulan untuk Almaidah di ayat 50 adalah akhir hizb, dan ayt 51 awal hizb yang baru. Biasanya ditandai dengan huruf 'ain atau ۞.
Sepanjang yang saya tahu, pembagian hizb berdasar ada kaitan atau tidak ayat yang 1 dengan yang lainnya, atau perubahan tema atau paragraf baru
lha kenyataannya, tema/ceritanya emang masih nyambung/terkait kan?
avatar
frontline defender
MAYOR
MAYOR

Posts : 6448
Kepercayaan : Islam
Join date : 17.11.11
Reputation : 137

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by isaku on Mon Oct 17, 2016 3:41 pm

Dr. Quraish Shihab mengatakan ada keterkaitan ayat 51 dengan sebelumnya. Ok kita terima saja itu (walaupun ayat 50 dan 51 dipisahkan oleh hizb/ruku'), saya memahami para ulama lainnya yang berbeda pendapat dengan berpatokan pada kata2 di ayat 49 "Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka".

Ini adalah perkara kehati2an, bukan menggeneralisasi seluruh yahudi nasrani seperti pada konteks diturunkan ayat, namun kehati2an, preventif.

Dan contoh yang dibawa Dr. Shihab tentang dokter dan pilot kurang tepat.
1. Setiap dr atau pilot yang sudah mendapat sertifikasi kelayakan untuk mengeksekusi sebuah tindakan pasti sudah punya pengalaman yang cukup untuk melakukan itu karena pasti sebelumnya mereka sudah punya jam terbang cukup apakah sebagai asisten dokter atau pendamping dr spesialis atau dokter muda, kopilot, pilot muda dst.
2. Contoh yg dipilih adalah profesi khusus yang tidak memungkinkan terjadi hal2 "mengikuti hawa nafsu" seperti terdapat di ayat2 sebelum 51.
3. Walaupun pasien bisa dan boleh memilih siapa dokternya tapi pasien tidak dengan mudah mendapat info tentang masing2 dokter. Dan bukan pasien dan penumpang yang bisa menyatakan si A lebih baik dari si B sebelum mereka menerima jasa dari keduanya. Kalaupun pasien sudah mencoba dr.A dan dr.B dan bisa membandingkan, namun satu kali pertemuan tidak cukup valid menyatakan A lebih baik dari B dan boleh jadi pasien2 lain punya pendapat yang berlawanan.

@Azed wrote:Nah, konon diantara orang2 beriman (muslim) yg sering berinteraksi dg kaum Yahudi & Nasrani jenis ini (karena hubungan dagang, hubungan pekerjaan, dsb), mudah terhasut dan berlaku serupa. Maka Allah memperingatkan :
Bukan konon lagi, emang begitu, pengaruh lingkungan punya kontribusi cukup besar dalam membangun karakter, ideologi, habit, hobby, keyakinan, pendapat, penilaian dst.

@Azed wrote:Logikanya saja, tanpa melihat rangkaian ayat yg lain, Yahudi dan Nasrani dimasa itu saling bersaing berebut pengaruh, saling mengklaim yg paling benar, bagaimana mungkin kemudian dikatakan satu sama lain saling memimpin. Memimpin dlm hal apa ?
Saya khawatir salah paham dengan kalimat ini, makanya saya lama nanggapi, tapi berkali2 baca tetap saja ragu2.
Banyak maaf, ada kesan dalam kalimat itu (walau saya yakin bukan itu maksudnya) , penulis seolah2 mengkritisi ayat yang menyatakan sebagian mereka adalah awliyā'a bagi sebagian yang lain dan mengatakan itu bukanlah sebuah fakta.

piss

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3520
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by Azed on Tue Oct 18, 2016 10:17 am

@isaku wrote:Dan contoh yang dibawa Dr. Shihab tentang dokter dan pilot kurang tepat.
Jika anda tidak dlm posisi bisa memilih, ya bukan itu yg dimaksud dlm ilustrasi pak Quraish.

Pak Quraish memberi ilustrasi, jika orang dihadapkan pada pilihan : mana yg akan dipilih antara pilot atau dokter yg belum berpengalaman tapi muslim atau yg matang pengalaman tapi kafir.

Saya nangkepnya begini ; jika orang dihadapkan pada pilihan yg sama-sama beresiko, maka normalnya orang akan memilih resiko yg lebih kecil. Tidak lagi terpikir apa agamanya, karena kita tdk berkepentingan soal itu dg dokter atau pilot.

Esensi yg disampaikan pak Quraish itu adalah bahwa larangan di Al Maidah 51 itu situasional.
Artinya ada alasan2-nya, tdk semua dipukul rata.

@isaku wrote:Bukan konon lagi, emang begitu, pengaruh lingkungan punya kontribusi cukup besar dalam membangun karakter, ideologi, habit, hobby, keyakinan, pendapat, penilaian dst.
Baguslah kalau anda bisa memastikan.

@isaku wrote:Saya khawatir salah paham dengan kalimat ini, makanya saya lama nanggapi, tapi berkali2 baca tetap saja ragu2.
Banyak maaf, ada kesan dalam kalimat itu (walau saya yakin bukan itu maksudnya) , penulis seolah2 mengkritisi ayat yang menyatakan sebagian mereka adalah awliyā'a bagi sebagian yang lain dan mengatakan itu bukanlah sebuah fakta.
Yg saya kritisi adalah yg menterjemahkan auliya = pemimpin, leader.


Terakhir diubah oleh Azed tanggal Tue Oct 18, 2016 10:51 am, total 1 kali diubah

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by Azed on Tue Oct 18, 2016 10:38 am

@frontline defender wrote:
@Azed wrote:Selain itu, umat Islam dimasa itu hanya punya satu pimpinan tertinggi, nabi Muhammad dan pejabat-pejabatnya yg juga muslim. Tidak mungkin mereka akan menjadikan Yahudi dan Nasrani (yg sama-sama dibawah pemerintahan Islam) sebagai pemimpin mereka. Pemimpin dlm hal apa ?
tergantung bagaimana anda mengartikan pemimpin, kalau anda mengartikannya secara luas, yaitu orang yang diikuti/dituruti, maka muslim sudah menjadikan Yahudi sebagai pemimpin ketika muslim mengikuti/menuruti hawa nafsu nya Yahudi!
Ya, saya sependapat kalau maksudnya begitu. Sehingga ayat itu bisa dipahami begini :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti/menuruti hawa nafsu yahudi dan Nasrani, sebagian mereka mengikuti/menuruti hawa nafsu sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengikuti/menuruti hawa nafsu mereka, maka sesungguhnya kamu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Itu akan jauh beda artinya jika dipahami begini :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan yahudi dan Nasrani sebagai kepala kantor-RT-Lurah-Camat-Walikota-Gubernur-Presiden , sebagian mereka menjadi  kepala kantor-RT-Lurah-Camat-Walikota-Gubernur-Presiden bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai kepala kantor-RT-Lurah-Camat-Walikota-Gubernur-Presiden, maka sesungguhnya kamu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by RHCP on Tue Oct 18, 2016 11:49 am

Ikutan ahh...
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi awliyā'a (mu); sebagian mereka adalah awliyā'a bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5:51)
IMHO: awliyā'a means "friends and allies" (teman dan sekutu). Makna ini sebenarnya jauh lebih luas dari sekedar "pemimpin", DAN menurut gw memilih pemimpin itu MASUK dalam kategori memilih friends/allies. Karena memilih pemimpin hakikatnya adalah mempercayakan SUARA kita kepada teman/sekutu.

Tapi apakah yang dimaksud semua Kristen dan semua Yahudi?? TIDAK. Maksudnya adalah kristen dan yahudi yang BA'DUHUM AWLIYA'U BA'DH (saling BEKERJA SAMA). TAPI sejak dulu MANA PERNAH Yahudi dan kristen bersatu dan bekerjasama?? Bukankah SEJAK AWAL mereka sudah saling membenci??

Sepertinya Al Maidah:51 adalah nubuat mengenai aliansi yahudi-kristen dan TERPENUHI sejak dikenalnya istilah JUDEO-CHRISTIAN dan terbentuknya gerakan ZIONISME. "MEREKA" itulah yang DILARANG utk dijadikan sebagai FRIENDS and ALLIES, termasuk diambil sebagai PEMIMPIN.

Secara sederhana;
Jika ada seseorang/segolongan non-muslim terus-menerus "berusaha mengganggu" islam dan umatnya. Maka bisa dipastikan seseorang/segolongan non-muslim tsb. adalah bagian dari aliansi JUDEO-CHRISTIAN yang BA'DUHUM AWLIYA'U BA'DH untuk menghancurkan ISLAM.

Jadi, memilih "MEREKA" sebagai "friends and allies" akan menjadikan seseorang termasuk golongan orang2 zalim yang tidak akan mendapat petunjuk dari Allah.

Just my 2 cents...
avatar
RHCP
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2942
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 06.12.13
Reputation : 65

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by dee-nee on Tue Oct 18, 2016 12:31 pm

@RHCP wrote:Ikutan ahh...
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi awliyā'a (mu); sebagian mereka adalah awliyā'a bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5:51)
IMHO: awliyā'a means "friends and allies" (teman dan sekutu). Makna ini sebenarnya jauh lebih luas dari sekedar "pemimpin", DAN menurut gw memilih pemimpin itu MASUK dalam kategori memilih friends/allies. Karena memilih pemimpin hakikatnya adalah mempercayakan SUARA kita kepada teman/sekutu.

Tapi apakah yang dimaksud semua Kristen dan semua Yahudi?? TIDAK. Maksudnya adalah kristen dan yahudi yang BA'DUHUM AWLIYA'U BA'DH (saling BEKERJA SAMA). TAPI sejak dulu MANA PERNAH Yahudi dan kristen bersatu dan bekerjasama?? Bukankah SEJAK AWAL mereka sudah saling membenci??

Sepertinya Al Maidah:51 adalah nubuat mengenai aliansi yahudi-kristen dan TERPENUHI sejak dikenalnya istilah JUDEO-CHRISTIAN dan terbentuknya gerakan ZIONISME. "MEREKA" itulah yang DILARANG utk dijadikan sebagai FRIENDS and ALLIES, termasuk diambil sebagai PEMIMPIN.

Secara sederhana;
Jika ada seseorang/segolongan non-muslim terus-menerus "berusaha mengganggu" islam dan umatnya. Maka bisa dipastikan seseorang/segolongan non-muslim tsb. adalah bagian dari aliansi JUDEO-CHRISTIAN yang BA'DUHUM AWLIYA'U BA'DH untuk menghancurkan ISLAM.

Jadi, memilih "MEREKA" sebagai "friends and allies" akan menjadikan seseorang termasuk golongan orang2 zalim yang tidak akan mendapat petunjuk dari Allah.

Just my 2 cents...

jadi artinya ... berteman saja tidak boleh .... walaupun sudah ada perjanjian damai diantara muslim dengan yahudi dan nasrani >>> melanggar sunnah nabi dong

sejak kapan ada larangan berteman dengan yahudi dan nasrani bila sudah ada perjanjian damai dengan muslim ??

coba lihat disini http://www.laskarislam.com/t10279p100-bu-mega-bangka-harus-berkorban-sementara#197559

#102

Walikota pertama di Ramallah adalah seorang perempuan dan katolik (namanya Janet Mikhail) dan sekarang sudah pensiun >>> dia bisa menjadi walikota karena didukung oleh Hamas (bukan Fatah loh) ... dan menangnya baik2 lagi ... demokratis dan memang dia walikota yang baik (diakui oleh warga Ramallah) .... plus pada waktu itupun Ramallah sudah mayoritas muslim (thn 2005 kalau ga salah)

ini yang zionistnya sudah di depan mata saja (ga pake lewat internet) ... ibarat-nya tinggal nengok orang2 di Ramallah sudah langsung hadap2an dengan zionist ... Hamas masih bisa mendukung pemimpin katolik

Sekali lagi Hamas loh ... bukan Fatah ... kalau Fatah masih oke-lah karena mereka kan memang moderat ... lah ini Hamas ....
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by njlajahweb on Tue Oct 18, 2016 2:31 pm

http://dunia.news.viva.co.id/news/read/833837-negara-negara-muslim-yang-pernah-dipimpin-non-muslim

Dipimpin Non-Muslim
Dari Mesir sampai Turki, pernah memiliki pemimpin non-muslim
Kamis, 13 Oktober 2016 | 05:04 WIBOleh : Lazuardhi Utama
Negara-negara Muslim yang Pernah Dipimpin Non-Muslim
Wakil Wali kota Mardin, Februniye Akyol, saat 'blusukan'. (Twitter Februniye Akyol)
Tweet


VIVA.co.id – Terpilihnya Shadiq Khan menjadi Wali kota London menggantikan Boris Johnson, tentu menjadi pro dan kontra. London yang mayoritas penduduknya beragama Kristen seperti 'kikuk' dipimpin oleh seorang Muslim.
Inilah sejarah bagi pemerintahan Inggris. Khan adalah imigran Pakistan yang pindah ke negeri Ratu Elizabeth II.
Meski ia seorang Muslim, namun Khan menegaskan kalau dirinya 'milik' semua warga ibu kota Inggris itu.


Lantas, bagaimana dengan seorang Kristen memimpin negara mayoritas Muslim?
Melansir situs Stylewhack, Rabu, 12 Oktober 2016, merilis negara-negara yang memilih non-Muslim sebagai pemimpin.
1. Masih ingat Boutros Boutros-Ghali? Ia adalah mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa 1992-1997.
Ia ternyata seorang penganut Kristen Koptik dan menjadi Menteri Luar Negeri Mesir selama 14 tahun. Mesir merupakan negara yang 90 persennya Muslim.
Ghali juga salah satu tokoh sentral di balik perdamaian singkat Israel-Palestina di Camp David pada 1995.

2. Michel Sulaiman. Ia mantan Presiden Lebanon Periode 2008-2014.
Sulaiman juga mantan komandan Angkatan Darat Lebanon di negara berpenduduk 54 persennya Arab Muslim. Ia adalah pengikut setia Kristen Maronite yang merupakan kelompok Kristen utama di Lebanon.

3. Kamran Michael. Ia saat ini menjabat sebagai Menteri Perhubungan Pakistan Periode 2013-2016. Ia seorang Kristen taat di negara berpenduduk 96,4 persen Muslim.
Sebelumnya, Michael anggota Senat Pakistan dan anggota Komite Perubahan Iklim, Industri Tekstil dan Makanan dan Kesehatan Nasional Pakistan.
Mantan Sekjen PBB, Boutros-boutros Ghali.
Boutros-Boutros Ghali – tengah berkacamata – (Reuters.com).

4. Februniye Akyol. Namanya tiba-tiba menjadi terkenal setelah menjabat sebagai Wakil Wali kota Mardin, Turki, sejak 2014.
Ia penganut Kristen Ortodoks sekaligus wakil Wali kota non-Muslim perempuan pertama. Turki merupakan negara dengan populasi 96,5 persen Muslim.

5. Kota Ramallah, Palestina pernah dipimpin Janet Mikhail. Ia salah satu tokoh berpengaruh di Palestina.
Sebab, Janet merupakan mantan Wali kota Ramallah, yang sebelumnya adalah seorang guru sekolah selama 20 tahun.
Ia penganut Kristen Katholik, dan hingga kini masih menjabat sebagai anggota Dewan Rakyat Ramallah.

6. Alees Thomas Samaan. Ia menjadi seorang Kristen wanita pertama mengisi kursi Majelis Tinggi Parlemen Bahrain.
Sebelumnya, Samaan menjabat Penasehat dan Wakil Ketua Komite Jasa Bahrain, serta Dewan Syura Bahrain pada 2005. Bahrain adalah negeri berpopulasi 70,3 persen Muslim.
Mantan Wali kota Ramallah, Janet Mikhail.
Mantan Wali kota Ramallah, Janet Mikhail (Carbonated.TV).

7. Leopold Sédar Senghor. Ia adalah Presiden Senegal beragama Kristen Katholik, yang memerintah negeri berpenduduk 95,4 persen Muslim selama 20 tahun (1960-1980).
Ia juga dijuluki sebagai "Presdien Penyair". Senghor merupakan pelopor demokrasi yang warisannya terus hidup hingga kini.
Selain sebagai politisi ulung, Presiden Shenghor juga seorang sastrawan dan teoretikus budaya yang andal.
Karena jasa-jasa positifnya, ia mendapat “ganjaran” sejumlah penghargaan bergengsi seperti Jawaharal Nehru Award for International Understanding, dan Peace Prize of the German Book Trade.
Ia meninggal dunia pada 2001 di usianya ke-95 tahun.
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6099
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by RHCP on Tue Oct 18, 2016 3:28 pm

dini wrote:jadi artinya ... berteman saja tidak boleh .... walaupun sudah ada perjanjian damai diantara muslim dengan yahudi dan nasrani >>> melanggar sunnah nabi dong

sejak kapan ada larangan berteman dengan yahudi dan nasrani bila sudah ada perjanjian damai dengan muslim ??

coba lihat disini http://www.laskarislam.com/t10279p100-bu-mega-bangka-harus-berkorban-sementara#197559

#102
Kak Dini...
LARANGAN ber-"friends and allies" disini bukan dalam pengertian hablu minannaas pada umumnya, TAPI "pertemanan dan persekutuan" yang berkaitan dengan aqidah dan millah islam.

Apakah seorang BERIMAN akan membiarkan dirinya berteman dan bersekutu (langsung/tidak langsung) dengan orang yang secara aqidah dan millah akan menjerumuskannya kedalam murka Allah??

Apakah seorang yg mengaku BERIMAN akan mendukung orang (langsung/tidak langsung) yang secara aqidah dan millah akan membuatnya menjadi segolongan dengan orang2 zalim dan yang tidak mendapat petunjuk??

Allah akan menggolongkan orang yang NEKAT ber-"friends and allies" dengan orang yang TERANG2an dan TERUS2an "mengganggu" aqidah dan millah islam serta meresahkan, kedalam golongan orang2 zalim serta tidak akan memberi mereka PETUNJUK.

dini wrote:
Walikota pertama di Ramallah adalah seorang perempuan dan katolik (namanya Janet Mikhail) dan sekarang sudah pensiun >>> dia bisa menjadi walikota karena didukung oleh Hamas (bukan Fatah loh) ... dan menangnya baik2 lagi ... demokratis dan memang dia walikota yang baik (diakui oleh warga Ramallah) .... plus pada waktu itupun Ramallah sudah mayoritas muslim (thn 2005 kalau ga salah)

ini yang zionistnya sudah di depan mata saja (ga pake lewat internet) ... ibarat-nya tinggal nengok orang2 di Ramallah sudah langsung hadap2an dengan zionist ... Hamas masih bisa mendukung pemimpin katolik

Sekali lagi Hamas loh ... bukan Fatah ... kalau Fatah masih oke-lah karena mereka kan memang moderat ... lah ini Hamas ....
Jalan2 ke Ramallah...
Apakah si katholik Janet Mikhail itu termasuk dalam aliansi judeo-christian yg dilarang dijadikan friends and allies?? HAMAS pasti aware.

Apakah si katholik itu adalah orang yang secara aqidah dan millah akan menjerumuskan penduduk kota Ramallah pada golongan orang2 zalim?? HAMAS pasti aware.

Balik lagi ke Indonesia....
Jika ada seorang non-muslim yang sudah TERANG2an dan TERUS2an "mengganggu" aqidah dan millah islam serta meresahkan umatnya...... APAKAH orang semacam itu TETAP akan dijadikan TEMAN dan SEKUTU?? Sementara kita AWARE bahwa Allah telah MELARANGNYA???

The choice is yours....
avatar
RHCP
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2942
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 06.12.13
Reputation : 65

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by dee-nee on Tue Oct 18, 2016 4:15 pm

@RHCP wrote:
dini wrote:jadi artinya ... berteman saja tidak boleh .... walaupun sudah ada perjanjian damai diantara muslim dengan yahudi dan nasrani >>> melanggar sunnah nabi dong

sejak kapan ada larangan berteman dengan yahudi dan nasrani bila sudah ada perjanjian damai dengan muslim ??

coba lihat disini http://www.laskarislam.com/t10279p100-bu-mega-bangka-harus-berkorban-sementara#197559

#102
Kak Dini...
LARANGAN ber-"friends and allies" disini bukan dalam pengertian hablu minannaas pada umumnya, TAPI "pertemanan dan persekutuan" yang berkaitan dengan aqidah dan millah islam.

Apakah seorang BERIMAN akan membiarkan dirinya berteman dan bersekutu (langsung/tidak langsung) dengan orang yang secara aqidah dan millah akan menjerumuskannya kedalam murka Allah??

Apakah seorang yg mengaku BERIMAN akan mendukung orang (langsung/tidak langsung) yang secara aqidah dan millah akan membuatnya menjadi segolongan dengan orang2 zalim dan yang tidak mendapat petunjuk??

Allah akan menggolongkan orang yang NEKAT ber-"friends and allies" dengan orang yang TERANG2an dan TERUS2an "mengganggu" aqidah dan millah islam serta meresahkan, kedalam golongan orang2 zalim serta tidak akan memberi mereka PETUNJUK.

ya betul .... muslim memang dilarang berteman dengan yahudi dan nasrani yang jelas2 sudah melakukan kerusakan alias zalim >>> sejuta persen saya setuju

sebetulnya ... logika ini pun berlaku tidak hanya pada yahudi dan nasrani ... karena pada dasarnya seorang muslim juga diharapkan untuk berteman dengan siapapun yang membawa kebaikan ... dan menghindar (tidak berteman) dengan siapapun yang zalim

oke ... lanjut dulu

@RHCP wrote:
dini wrote:
Walikota pertama di Ramallah adalah seorang perempuan dan katolik (namanya Janet Mikhail) dan sekarang sudah pensiun >>> dia bisa menjadi walikota karena didukung oleh Hamas (bukan Fatah loh) ... dan menangnya baik2 lagi ... demokratis dan memang dia walikota yang baik (diakui oleh warga Ramallah) .... plus pada waktu itupun Ramallah sudah mayoritas muslim (thn 2005 kalau ga salah)

ini yang zionistnya sudah di depan mata saja (ga pake lewat internet) ... ibarat-nya tinggal nengok orang2 di Ramallah sudah langsung hadap2an dengan zionist ... Hamas masih bisa mendukung pemimpin katolik

Sekali lagi Hamas loh ... bukan Fatah ... kalau Fatah masih oke-lah karena mereka kan memang moderat ... lah ini Hamas ....

Jalan2 ke Ramallah...
Apakah si katholik Janet Mikhail itu termasuk dalam aliansi judeo-christian yg dilarang dijadikan friends and allies?? HAMAS pasti aware.

Apakah si katholik itu adalah orang yang secara aqidah dan millah akan menjerumuskan penduduk kota Ramallah pada golongan orang2 zalim?? HAMAS pasti aware.

Balik lagi ke Indonesia....
Jika ada seorang non-muslim yang sudah TERANG2an dan TERUS2an "mengganggu" aqidah dan millah islam serta meresahkan umatnya...... APAKAH orang semacam itu TETAP akan dijadikan TEMAN dan SEKUTU?? Sementara kita AWARE bahwa Allah telah MELARANGNYA???

The choice is yours....

biru : oke ... jadi jika ada seorang non-muslim yang TIDAK TERBUKTI "mengganggu" aqidah dan millah islam serta meresahkan umatnya >>> maka tidak apa2 dong ya untuk dipilih sebagai pemimpin

kalau begini ... saya setuju sejuta persen ... artinya tetap ada pertimbangan dari masing2 muslim-nya (tergantung bagaimana pandangan si muslim itu sendiri) ... tidak bisa langsung pukul rata kepada semua non-muslim

2 good 2 good

--------------------------------------------

maaf banget yang ini terlewat

@isaku wrote:
@dee-nee wrote:saya ga ikutan ah ... saya ikut uraian Quraish Shihab plus NU cs ajah

btw ... uraian Quraish Shihab ini sejalan dengan uraian bung FD

piss piss

Padahal saya g akan kata2in Mb Dee JIL, munafik segala macam, apalagi ngebanned segala lho piss

wakakakaka ... ga lah .... saya juga sudah sangat yakin ... tidak akan ada takfiri di forum ini .... makanya saya seneng ngobrol disini

2 good 2 good
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by RHCP on Tue Oct 18, 2016 5:22 pm

dini wrote:biru : oke ... jadi jika ada seorang non-muslim yang TIDAK TERBUKTI "mengganggu" aqidah dan millah islam serta meresahkan umatnya >>> maka tidak apa2 dong ya untuk dipilih sebagai pemimpin
Tapi bagaimana cara kita MEMASTIKAN bahwa "seseorang itu" tidak terbukti "menggangu" aqidah dan millah ISLAM?? APAKAH ukurannya :
1. Putusan pengadilan ?? wkwkwk..
2. Hukum Allah (syariat islam) ?? zzzz...
3. Fatwa MUI ?? xixixixi..
4. Track record ?? hahaha..
usil

Karena gw ngga mw digolongkan oleh Allah sebagai zalim serta tidak akan memberi mereka PETUNJUK. Karena NEKAT ber-"friends and allies" dengan orang yang TERANG2an dan TERUS2an "mengganggu" aqidah dan millah islam serta meresahkan umat......

DAN berhubung gw adalah orang yg menjunjung tinggi "IMAN safety first"....

Maka gw secara pribadi tetap MENGHINDARI memilih non-muslim sebagai "friends and allies" dalam urusan aqidah dan millah, SELAMA masih ada pilihan pada SESAMA MUSLIM.
piss piss
avatar
RHCP
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2942
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 06.12.13
Reputation : 65

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by isaku on Tue Oct 18, 2016 5:26 pm

@Azed wrote:
@isaku wrote:Dan contoh yang dibawa Dr. Shihab tentang dokter dan pilot kurang tepat.
Jika anda tidak dlm posisi bisa memilih, ya bukan itu yg dimaksud dlm ilustrasi pak Quraish.

Pak Quraish memberi ilustrasi, jika orang dihadapkan pada pilihan : mana yg akan dipilih antara pilot atau dokter yg belum berpengalaman tapi muslim atau yg matang pengalaman tapi kafir.

Saya nangkepnya begini ; jika orang dihadapkan pada pilihan yg sama-sama beresiko, maka normalnya orang akan memilih resiko yg lebih kecil. Tidak lagi terpikir apa agamanya, karena kita tdk berkepentingan soal itu dg dokter atau pilot.

Esensi yg disampaikan pak Quraish itu adalah bahwa larangan di Al Maidah 51 itu situasional.
Artinya ada alasan2-nya, tdk semua dipukul rata.
Ok, ya dan tidak.
Ya betul ada situasional, itu logis dan bisa diterima.
Tidaknya dalam arti situasional itu tidak membuat kaedahnya berubah atau merubah arti ayat, tidak membuat pilihan menjadi fifty fifty.

Tetap sama "Dilarang memilih nonmuslim".......... kecuali "hanya jika", "apabila" maka diijinkan memilih nonmuslim.

Arti ayat tidak berubah menjadi "Tidak dilarang memilih nonmuslim"

@isaku wrote:Bukan konon lagi, emang begitu, pengaruh lingkungan punya kontribusi cukup besar dalam membangun karakter, ideologi, habit, hobby, keyakinan, pendapat, penilaian dst.
Baguslah kalau anda bisa memastikan.
Maka dari itu logis orang tua memberi larangan tertentu untuk anaknya terkait lingkungan.

@isaku wrote:Saya khawatir salah paham dengan kalimat ini, makanya saya lama nanggapi, tapi berkali2 baca tetap saja ragu2.
Banyak maaf, ada kesan dalam kalimat itu (walau saya yakin bukan itu maksudnya) , penulis seolah2 mengkritisi ayat yang menyatakan sebagian mereka adalah awliyā'a bagi sebagian yang lain dan mengatakan itu bukanlah sebuah fakta.
Yg saya kritisi adalah yg menterjemahkan auliya = pemimpin, leader.
Ok, jadi kalimat yang itu diabaikan?


========


@RHCP wrote:safety first
2 good

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3520
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by dee-nee on Tue Oct 18, 2016 7:29 pm

@RHCP wrote:
dini wrote:biru : oke ... jadi jika ada seorang non-muslim yang TIDAK TERBUKTI "mengganggu" aqidah dan millah islam serta meresahkan umatnya >>> maka tidak apa2 dong ya untuk dipilih sebagai pemimpin

Tapi bagaimana cara kita MEMASTIKAN bahwa "seseorang itu" tidak terbukti "menggangu" aqidah dan millah ISLAM?? APAKAH ukurannya :

1. Putusan pengadilan ?? wkwkwk..
2. Hukum Allah (syariat islam) ?? zzzz...
3. Fatwa MUI ?? xixixixi..
4. Track record ?? hahaha..
usil

Karena gw ngga mw digolongkan oleh Allah sebagai zalim serta tidak akan memberi mereka PETUNJUK. Karena NEKAT ber-"friends and allies" dengan orang yang TERANG2an dan TERUS2an "mengganggu" aqidah dan millah islam serta meresahkan umat......

DAN berhubung gw adalah orang yg menjunjung tinggi "IMAN safety first"....

Maka gw secara pribadi tetap MENGHINDARI memilih non-muslim sebagai "friends and allies" dalam urusan aqidah dan millah, SELAMA masih ada pilihan pada SESAMA MUSLIM.
piss piss

yang biru aja deh >>> kalau ternyata yang anda pilih malah kedepannya tergolong sebagai mereka yang TERANG2an dan TERUS2an "menggangu" aqidah dan millah ISLAM gimana ?? (misalnya mereka melakukan korupsi, kemiskinan, pembodohan, dsb) ... walaupun yang anda pilih dalam KTP-nya tertulis Islam

bukannya sama saja ?? .... anda akan digolongkan oleh Allah sebagai zalim karena memilih orang yang "menggangu" aqidah dan millah ISLAM

apa bedanya ??

balik pertanyaan ungu saya tanya ke anda :

Tapi bagaimana cara kita MEMASTIKAN bahwa "seseorang itu" tidak terbukti "menggangu" aqidah dan millah ISLAM?? APAKAH ukurannya :

1. Putusan pengadilan ?? wkwkwk..
2. Hukum Allah (syariat islam) ?? zzzz...
3. Fatwa MUI ?? xixixixi..
4. Track record ?? hahaha..
5. KTP dan symbol2 Islam ?? cape deh ..

piss piss

---------------------------------

oh ya tambahin sedikit dari kalimat anda

@RHCP wrote:safety first

ya mungkin disini bedanya .... masalahnya saya tidak melihat KTP dan symbol sebagai suatu hal yang "safety"

kan dah banyak contohnya

piss  piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by RHCP on Wed Oct 19, 2016 9:23 am

dini wrote:
yang biru aja deh >>> kalau ternyata yang anda pilih malah kedepannya tergolong sebagai mereka yang TERANG2an dan TERUS2an "menggangu" aqidah dan millah ISLAM gimana ?? (misalnya mereka melakukan korupsi, kemiskinan, pembodohan, dsb) ... walaupun yang anda pilih dalam KTP-nya tertulis Islam

bukannya sama saja ?? .... anda akan digolongkan oleh Allah sebagai zalim karena memilih orang yang "menggangu" aqidah dan millah ISLAM

apa bedanya ??
Btw al Maidah:51 ini HANYA ditujukan Allah utk orang2 BERIMAN agar jangan masuk kegolongan ZALIM yg tidak akan diberi PETUNJUK, akibat ber-friends and allies dgn orang yg menzalimi secara aqidah/millah. Urusan kezaliman spt (korupsi dll) bukanlah kezaliman thd aqidah/millah islam. Tapi sebaliknya, KEKAFIRAN adalah KORUPSI IMAN. Kalo imannya aja udah corrupted, apa yang BISA diharapkan??

Maka akan jauh BEDANYA....
Seorang pemimpin muslim yang zalim sekalipun, DIA tidak akan MENGGANGGU aqidah dan millah sesama MUSLIM. Pemimpin muslim yang zalim masih LEBIH BAIK daripada pemimpin kafir yang zalim. Se-zalim2nya Suharto, Saddam, Qadafi, SBY, Jokowi, muslim tidak diganggu aqidah dan millahnya.

Tapi Muslim BURMA, THAILAND, FILIPINA atw di INDIA sering diganggu aqidah dan millahnya. Bahkan MAYORITAS muslim JAKARTA 2 tahun terakhir ini sering di acak2 aqidah dan millahnya.

Jadi MENGHINDARI memilih non-muslim sebagai "friends and allies" dalam urusan aqidah dan millah, (SELAMA masih ada pilihan pada SESAMA MUSLIM) adalah SAFETY FIRST. Tapi kalo udah MENTOK, ya gw GOLPUT aja.... ULTIMATE SAFETY. huehehe....
dini wrote:balik pertanyaan ungu saya tanya ke anda :

Tapi bagaimana cara kita MEMASTIKAN bahwa "seseorang itu" tidak terbukti "menggangu" aqidah dan millah ISLAM?? APAKAH ukurannya :

1. Putusan pengadilan ?? wkwkwk..
2. Hukum Allah (syariat islam) ?? zzzz...
3. Fatwa MUI ?? xixixixi..
4. Track record ?? hahaha..
5. KTP dan symbol2 Islam ?? cape deh ..

piss piss

---------------------------------
Untuk MENYAKINKAN diri bahwa "seseorang itu" tidak terbukti "menggangu" aqidah dan millah ISLAM.
Maka sebagai orang islam TOLAK UKUR gw pastinya based on :
1. Putusan pengadilan ?? not necessarily >>> corrupted
2. Hukum Allah (syariat islam)
3. Fatwa MUI
4. Track record
5. KTP dan symbol2 Islam (yang sholatnya pas pemilu doang) wkwkwkwk....
6. Opini masyarakat 50:50 - pro>
Nah kalo ada seseorang yang track recordnya :
1. Sering coba2 "test the water" thd muslim.
2. Secara verbal sering "menggangu" aqidah/millah/tata cara ibadah muslim.
3. Suka gusur2/bongkar2 Mesjid dan musholla.
4. Hobby menzalimi muslim miskin pinggir kali, tapi memfasilitasi cukong kaya yg pengen nguruk pinggiran laut?? wkwkwkwk...
Apakah orang semacam itu TIDAK termasuk yang DILARANG utk dijadikan "friends and allies"??
usil

dini wrote:oh ya tambahin sedikit dari kalimat anda

@RHCP wrote:safety first

ya mungkin disini bedanya .... masalahnya saya tidak melihat KTP dan symbol sebagai suatu hal yang "safety"

kan dah banyak contohnya

piss  piss
SEGITU ISLAM KTP-NYA JOKOWI...
Waktu jadi gubernur, dia NGGA PERNAH rese' dan ganggu2 umat islam.
Bandingin, saat DKI dipimpin oleh "si HEBAT nan pemberani" ??. wkwkwkwkwk....
MUSLIM DIACAK-ACAK..!? zzzzzz....

Kalo mw yang ultimate safety, GOLPUT aja.... Aman Khan, NGGA DOSA!?
usil
avatar
RHCP
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2942
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 06.12.13
Reputation : 65

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by njlajahweb on Wed Oct 19, 2016 9:47 am

sekilas info...
http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2011/11/01/54210/majelis-mujahidin-luncurkan-koreksi-terjemah-al-quran-versi-depag.html
Majelis Mujahidin Luncurkan Koreksi Terjemah al-Qur’an Versi Depag
Selasa, 1 November 2011 - 04:36 WIB
MMI menyimpulkan kesalahan terjemah oleh Depag berhubungan dengan aksi radikalisme

Terkait
Orang Kafir Mengolok-Olok Al-Qur’an [2]
Orang Kafir Mengolok-Olok Al-Qur’an [1]
Tarjih Berlapis-lapis dalam Madzhab
Mengenal Hujjah Madzhab Asy Syafi’i
Hidayatullah.com–Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menerbitkan terjamah tafsiriyah al-Qur`an sebagai koreksi atas terjemah harfiyah al-Qur`an versi Kementerian Agama RI. Acara berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, Senin (31/10/2011).

Terjemah Tafsiriyah tersebut disusun oleh Amir MMI, Ustadz Muhammad Thalib, setelah melakukan penelitian selama sepuluh tahun. Dalam sambutannya, Thalib mengatakan, setidaknya ada 3229 kesalahan terjemah harfiyah Depag. Dan, jumlah itu bertambah menjadi 3400 ayat pada edisi revisi tahun 2010.

Kata Thalib, kesalahan-kesalahan itu mencakup bidang aqidah, syariah, sosial, dan ekonomi.


“Misalnya, terjemah harfiyah versi Depag pada Surat an-Nisa ayat 20; seolah-olah al-Qur`an menganjurkan tukar-menukar istri. Pada surat al-Ahzab ayat 51 malah menyatakan tidak berdosa menggauli perempuan yang sudah dicerai,” kata Thalib.


Kitab terjemah tafsiriyah ini diterbitkan oleh Ma’had An-Nabawy, Yogyakarta, November 2011.

Irfan S. Awwas, mewakili penerbit mengatakan, walau tanpa proses tashih Lajnah Tashih al-Qur`an Kemenag RI, pihaknya tetap akan menerbitkan kitab tersebut ke masyarakat.

Namun, katanya, pihaknya masih mencetaknya secara terbatas sebelum dicetak masal karena kemungkinan adanya koreksi-koreksi. “Sekitar 5000 eksemplar,” kata Irfan kepada para wartawan.*
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6099
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by njlajahweb on Wed Oct 19, 2016 9:52 am

sekilas info...
http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2011/11/01/16541/ditemukan-3229-kesalahan-tarjamah-alquran-versi-kemenag-ri/;
Ditemukan 3.229 Kesalahan Tarjamah Al-Quran Versi Kemenag RI
Jakarta (voa-islam) – Buku berjudul Koreksi Kesalahan Terjemah Harfiyah Al-Qur’an Kemenag RI” yang ditulis oleh Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Muhammad Thalib, memuat sebagian kecil dari 3.229 jumlah kesalahan terjemah yang terdapat dalam Tarjamah Harfiyah Al-Quran versi Depag. Sementara kesalahan pada edisi revisi tahun 2010 bertambah menjadi 3.400 ayat.

Seperti diketahui, penelaahan selama bertahun-tahun terhadap Al-Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitan Departemen Agama RI sejak 1965, kemudin mengalami revisi secara bertahap mulai 1989, 1998, 2002, hingga 2010, telah menyentak kesadaran iman kita, betapa selama ini ajaran kitab suci Al-Qur’an ternodai akibat adanya salah terjemah yang jumlahnya sangat banyak.

“Maka, kami tidak hanya sebatas koreksi, tapi juga menerbitkan Tarjamah Tafsiriyah Al-Qur’an lengkap 30 juz, sebagai tanggungjawab meluruskan terjemah harfiyah yang salah dari Al-Qur’an dan Terjemahnya versi Kemenag RI. Adapun Buku Koreksi Kesalahan Terjemah Harfiyah Al-Qur’an Kemenag RI ini hanya memuat 170 ayat saja. Karena sangat prinsip yang harus segera diketahui kaum muslim. Sebab tidak mungkin membukukan kesalahan terjemah 3.229 ayat sekaligus dalam waktu dekat ini,” kata Ustadz Thalib.

Dijelaskan Amir Majelis Mujahidin, ayat salah terjemah itu berkaitan dengan masalah akidah, syariah, dan mu’amalah. Khususnya menyangkut problem terorisme, liberalism, dekadensi moral, aliran sesat dan hubungan antar umat beragama.

Dalam Simposium Nasional bertema: “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme” di Jakarta, Rabu 28 Juli 2010, Dirjen Bimas Islam Kemenag dan sekarang menjadi Wamenag, Prof. Dr. Nasaruddin Umar dengan gamblang menyatakan: sejumlah ayat berpotensi untuk mengajak orang beraliran Islam keras, karena itu dalam terjemahan Al-Qur’an versi baru pemerintah menyusun kata yang lebih moderat, namun memiliki makna yang sama.

Selain meluncurkan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an versi baru, Kemenag juga melakukan upaya deradikalisasi lain, yaitu pembinaan pengurus masjid oleh 95 ribu penyuluh agama hingga ke pedesaan.

Ayat Salah Terjemah

Diantara ayat Al-Qur’an yang dituding berpotensi radikal adalah: QS. Al-Baqarah (2):191. Terjemah Harfiyah Depag: “dan bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah)…”

Kalimat ‘bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka’, seolah oleh ayat ini membenarkan untuk membunuh musuh di luar zona perang. Hal ini, tentu sangat berbahaya bagi ketentraman dan keselamatan kehidupan masyarakat. Karena pembunuhan terhadap musuh diluar zona perang sudah pasti menciptakan anarkisme dan teror, suatu keadaan yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam.

Maka Tarjamah Tafsiriyahnya adalah: “Wahai kaum mukmin, perangilah musuh-musuh kalian di manapun kalian temui mereka di medan peran dan dalam masa perang…”

Ayat Al-Qur’an lain yang dituding berpotensi radikal adalah: QS. Al-Ahzab (33): 61. Adapun Tarjamah Harfiah Depag/Kemenag: “Dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya.”

Dijelaskan, kalimat dibunuh dengan sehebat-hebatnya dalam tarjamah Depag versi lama, dan dibunuh tanpa ampun dalam tarjemah Kemenag versi baru, keduanya merupakan tarjamah harfiah dari kata quttilu taqtiila, artinya bukan dibunuh, tetapi dibunuh sebagian besar. Kemudia kata sehebat-hebatnya, atau ‘tanpa ampun’ sebagai tarjemah kata taqtiilaa tidak benar. Karena kata taqtiilaa hanya berfungsi sebagai penegasan, bukan berfungsi menyatakan sifat atau cara membunuh yang tersebut pada ayat ini.

Dijelaskan, Tarjamah Depag maupun Kemenag diatas berpotensi membenarkan tindakan kejam terhadap non-muslim. Padahal Islam secara mutlak melawan tindakan kejam terhadap musuh. Islam sebaliknya memerintahkan kepada kaum muslim berlaku kasih sayang dan adil kepada seluruh uma manusia, sebagai wujud dari misi rahmatan lil-‘alamin.

Tarjamah Tafsiriyah: “Orang-orang yang menciptakan keresahan di Madinah itu akan dilaknat. Wahai kaum mukmin, jika mereka tetap menciptakan keresahan di Madinah, tawanlah mereka dan sebagian besar dari mereka benar-benar boleh dibunuh dimana pun mereka berada”.

Dengan dua contoh terjemah ini, membuktikan bahwa tindakan radikal maupun teror yang banyak terjadi akhir-akhir ini, mendapat dukungan dan pembenaran, bukan dari ayat Al-Qur’an, melainkan terjemah harfiyah terhadap ayat di atas, dan hal itu bertentangan dengan jiwa Al-Qur’an yang tidak menghendaki tindakan anarkis. Dan para pelakunya telah menjadi korbanterjemah yang salah ini.

Ketika Rasulullah Saw dan kaum Muslimin di Madinah, beliau hidup berdampingan dengan kaum Yahudi, Nasrani, Musyrik dan kaum yang tidak beragama, sepanjang mereka tidak menganggu Islam. Apa yang akan terjadi sekiranya Rasulullah memerintahkan pengamalan ayat tersebut sebagaimana terjemahan Al-Qur’an dan Terjemahnya itu.

Kontroversi terjemah Al-Qur’an versi Kemenag RI, terutama disebabkan oleh kesalahan memilh metode terjemah. Metode terjemah Al-Qur’an yang dikenal selama ini ada dua macam, yaitu terjemah harfiyah dan terjemah tafsiriyah, dan Depag memilih metode harfiyah/tekstual. (Desastian)
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6099
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by njlajahweb on Wed Oct 19, 2016 9:57 am

sekilas info...
http://www.kompasiana.com/reo/ahok-dan-surah-al-maidah-51_5516fff8813311ab64bc6358
Ahok dan Surah Al-Maidah 51

Saya percaya anda sudah banyak mendengar dan membaca tentang perlakuan sebagian dari anak bangsa kepada Ahok. Sebuah perlakuan yang tentu menyakitkan. Hanya karena Ahok lahir sebagai keluarga Tionghoa dan beragama Kristen, maka dianggap sah dan wajib menyakiti belaiau dengan perlakuan SARA.

Salah satu yang sering di kutip untuk menyakiti Ahok adalah sebuah ayat di Al Quran surah Al Maidah 51.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Mari kita telaah ayat ini. Kata dalam kurung yang saya bold adalah sebuah kata tambahan dari departemen agama yang tidak tercantum dalam Al Quran yang asli. sedangkan kata أولياء sesungguhnya mempunyai 2 arti. Yaitu pemimpin dan Teman atau sekutu.

Lalu apa arti sebenarnya dari kata أولياء di Al Maidah 51 ini? mari kita lihat asbabub nuzulnya.

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Maa-idah 51
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51)
Ibnu Ishak, Ibnu Jarir, Ibnu Abu Hatim dan Imam Baihaqi mengetengahkan sebuah hadis dari Ubadah bin Shamit yang bercerita, "Tatkala aku memerangi Bani Qainuqa tiba-tiba Abdullah bin Ubay bin Salul cenderung memihak mereka dan berdiri pada pihak mereka." Setelah itu Ubadah bin Shamit menuju kepada Rasulullah saw. untuk menyatakan penyucian dirinya kepada Allah dan Rasul-Nya dari fakta yang telah dibuatnya bersama orang-orang Bani Qainuqa. Ia adalah salah satu di antara orang-orang Bani Auf bin Khazraj. Ia telah mengadakan fakta bersama mereka, sama dengan apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap mereka (orang-orang Bani Qainuqa). Akhirnya Abdullah bin Ubay mengajak mereka untuk mengadakan perjanjian fakta dengan orang-orang kafir dan tidak memihak mereka. Selanjutnya Ibnu Ishak mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay, yaitu firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali(mu)..." (Q.S. Al-Maidah 51).

kita lihat asbabun nuzulnya adalah cerita tentang adanya muslim yang mengadakan aliansi atau perjanjian sekutu dengan orang yang dianggap kafir dan meninggalkan orang orang muslim. ini yang dilarang. dan tidak ada dalam asbabun nuzul ini cerita mengenai adanya muslim yang mangambil orang yahudi dan nasrani sebagai pemimpin. Maka dapat disimpulkan bahwa surah Al Maidah 51 ini bicara tentang sekutu atau teman. Bukan Wali yang artinya pemimpin.

Mau bukti lagi, kita lihat terjemahan Quran dalam bahasa inggris di www.quran.com. ini kutipannya.


Sahih International

O you who have believed, do not take the Jews and the Christians as allies. They are [in fact] allies of one another. And whoever is an ally to them among you - then indeed, he is [one] of them. Indeed, Allah guides not the wrongdoing people.


Muhsin Khan

O you who believe! Take not the Jews and the Christians as Auliya' (friends, protectors, helpers, etc.), they are but Auliya' to one another. And if any amongst you takes them as Auliya', then surely he is one of them. Verily, Allah guides not those people who are the Zalimun (polytheists and wrong-doers and unjust).


Pickthall

O ye who believe! Take not the Jews and the Christians for friends. They are friends one to another. He among you who taketh them for friends is (one) of them. Lo! Allah guideth not wrongdoing folk.


Yusuf Ali

O ye who believe! take not the Jews and the Christians for your friends and protectors: They are but friends and protectors to each other. And he amongst you that turns to them (for friendship) is of them. Verily Allah guideth not a people unjust.


Shakir

O you who believe! do not take the Jews and the Christians for friends; they are friends of each other; and whoever amongst you takes them for a friend, then surely he is one of them; surely Allah does not guide the unjust people.


Dr. Ghali

O you who have believed, do not take to yourselves the Jews and the Nasara (Christians) as patrons; some of them are patrons to some (others). And whoever of you patronizes them, then surely he is one of them. Surely Allah does not guide the unjust people.

kita lihat diatas. Hampir semua menerjemahkan sebagai friends. dan ada 1 yang menerjemahkan sebagai patrons atau pelindung. Bukan pemimpin. Tetapi kalau melihat terjemahan dari asbabun nuzul, maka yang benar adalah teman atau sekutu dan bukan patron atau pelindung, apalagi pemimpin. Saya berasumsi kalau Departemen Agama menerjemahkan sebagai pemimpin adalah karena merasa tidak enak hati kalau di terjemahkan sebagai teman atau sekutu. Mungkin dianggap akan membahayakan persatuan. Tetapi kalau artinya adalah menjadi teman Yahudi dan Nasrani yang malah meninggalkan atau mengkianati sesama muslim, saya kira ayat ini tidak masalah memakai terjemahan yang benar.

Jadi saya berharap kita hati hati memakai ayat. Kalau salah, bukannya malah fitnah jadinya? bukan artinya pemimpin tetapi orang orang memakai ayat yang salah terjemahan ini sebagai senjata menyakiti sesama anak bangsa. Sebagai bahan pertimbangan saya akan berikan link dari sumber Islam yang menyatakan ada ribuan kesalahan terjemahan dari Al Quran terjemahan departemen Agama ini.

http://www.hidayatullah.com/read/19584/01/11/2011/majelis-mujahidin-luncurkan-koreksi-terjemah-al-qur'an-versi-depag.html

http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/11/01/16541/ditemukan-3229-kesalahan-tarjamah-alquran-versi-kemenag-ri/

Apakah kesalahan ini termasuk Almaidah 51? saya yakin iya. Melihat dari asbabun nuzul dan terjemahan Al Quran dalam bahasa inggris. Saya akan kutip ayat ayat lain yang dipakai menyerang Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, Thionghoa Kristen ini, bila sempat.
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6099
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by njlajahweb on Wed Oct 19, 2016 2:07 pm

avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6099
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 1 dari 6 1, 2, 3, 4, 5, 6  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik