FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Halaman 2 dari 6 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by isaku on Wed Oct 12, 2016 12:18 pm

First topic message reminder :

Biar tidak tumpang tindih dengan Ryo dan Gayatri

Karena explisit, sudah ada MUI segala, dan sangat umum tafsiran bahwa memang muslim dilarang memilih pemimpin muslim, maka untuk sementara saya tidak perlu bawa apa2 piss

Berhubung yang lainnya juga sepakat bahwa tidak betul seperti itu, mohon kerelaan hati untuk membantu dan meluangkan waktu menurunkan dalil2 atau pendapat ulama yang dirujuk untuk melampaui ke-eksplisitan bunyi ayat tsb.

@Dee-nee wrote:sedikit curhat .... kan ceritanya saya gemes nih dengan berita di media tentang kasus ini .... lalu secara ga sengaja saya "terjebak" adu debat dengan anggota ormas tertentu di medsos ... kafir, munafik, JIL, dsb ... semua kena ke saya >>> alhamdulillah ada yang setuju dengan saya (walaupun ga banyak) .. dan alhamdulillah juga setelah itu saya di banned tidak boleh meneruskan argumen saya >>> mungkin saya dianggap sedang "meracuni" dengan ide2 JIL, syiah atau apalah (padahal apa yang saya bawa juga penjelasan ulama - yang memang punya pendapat beda2)

@Azed wrote:Maka tafsir yg sesuai ya lihat saja konteks masalahnya, bukan cumak ayat 51, tapi juga sebelumnya.
----
Ada ayat lain yg dipahami serupa dan biasa dimunculkan melengkapi Al Maidah 51 untuk kasus yg sama, misal QS. 3:28, QS. 5:57, QS. 9:23. Saya pribadi lebih konsen pada konsekuensi atas penafsiran yg diyakini mayoritas muslim seperti itu, karena ayat tsb merupakan perintah yg hukumnya wajib.

piss


Yang mau gabung silahkan asal bawa bekal

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3520
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down


Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by dee-nee on Wed Oct 19, 2016 4:31 pm

@RHCP wrote:
dini wrote:
yang biru aja deh >>> kalau ternyata yang anda pilih malah kedepannya tergolong sebagai mereka yang TERANG2an dan TERUS2an "menggangu" aqidah dan millah ISLAM gimana ?? (misalnya mereka melakukan korupsi, kemiskinan, pembodohan, dsb) ... walaupun yang anda pilih dalam KTP-nya tertulis Islam

bukannya sama saja ?? .... anda akan digolongkan oleh Allah sebagai zalim karena memilih orang yang "menggangu" aqidah dan millah ISLAM

apa bedanya ??
Btw al Maidah:51 ini HANYA ditujukan Allah utk orang2 BERIMAN agar jangan masuk kegolongan ZALIM yg tidak akan diberi PETUNJUK, akibat ber-friends and allies dgn orang yg menzalimi secara aqidah/millah. Urusan kezaliman spt (korupsi dll) bukanlah kezaliman thd aqidah/millah islam. Tapi sebaliknya, KEKAFIRAN adalah KORUPSI IMAN. Kalo imannya aja udah corrupted, apa yang BISA diharapkan??

Maka akan jauh BEDANYA....
Seorang pemimpin muslim yang zalim sekalipun, DIA tidak akan MENGGANGGU aqidah dan millah sesama MUSLIM. Pemimpin muslim yang zalim masih LEBIH BAIK daripada pemimpin kafir yang zalim. Se-zalim2nya Suharto, Saddam, Qadafi, SBY, Jokowi, muslim tidak diganggu aqidah dan millahnya.

merah : teori darimana anda bilang korupsi bukan kezaliman aqidah Islam ?? >>> memang sejak kapan ada aqidah Islam yang TIDAK MELARANG korupsi ??

ketika seorang muslim melakukan korupsi ... itu artinya dia sudah MELANGGAR akidah Islam .. wong perintah-Nya jelas kok

Dan janganlah sebagian dari kamu memakan harta sebagian yang yang lain secara batil, dan jangan pula membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, sedangkan kamu mengetahui. (QS: Al-Baqarah : 188)

balik ke uraian saya diatas

----------------------------------------------

@RHCP wrote:Tapi Muslim BURMA, THAILAND, FILIPINA atw di INDIA sering diganggu aqidah dan millahnya. Bahkan MAYORITAS muslim JAKARTA 2 tahun terakhir ini sering di acak2 aqidah dan millahnya.

yang merah saja >>> ya mari kita lihat saja hasil pilkada DKI nanti ...
KALAU Ahok ternyata menang ... artinya TIDAK ADA BUKTI mayoritas muslim Jakarta "merasa"  di acak2 aqidah dan millahnya

seperti saya urai pada bung isaku sebelumnya

@dee-nee wrote:
@isaku wrote:Positifnya bukan tidak ada, kalau Ahok kalah, akan menghilangkan kekhawatiran beberapa kalangan muslim umumnya terhadap hal2 yang mereka waswas dan ragu2 jika dipimpin nonmuslim. Jika Ahok menang bisa disebut warga jakarta khususnya muslim cukup percaya diri, percaya pada sistem, dan percaya pada Ahok itu sendiri bahwa tidak ada rasa khawatir berlebih sehingga nonmuslim tidak bisa dipilih.

mohon maaf untuk kalimat yang ungu >>> semua itu akan dengan mudah dijawab oleh mereka yang pro Ahok dengan kalimat "anda saja yang parno karena sentimen agama ... berujung pada curiga, takut dan ragu pada sesuatu yang tidak ada esensinya, dasar-nya, bahkan bukti-nya (terkait Ahok) .... bukan soal percaya diri dsb ... tapi karena mayoritas rakyat jakarta memang baik2 saja dan tidak ada masalah dengan kepeminpinan Ahok"

percaya sama saya ... mereka semua akan bicara yang underline ini

piss  piss

------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:Jadi MENGHINDARI memilih non-muslim sebagai "friends and allies" dalam urusan aqidah dan millah, (SELAMA masih ada pilihan pada SESAMA MUSLIM) adalah SAFETY FIRST. Tapi kalo udah MENTOK, ya gw GOLPUT aja.... ULTIMATE SAFETY. huehehe....

dini wrote:balik pertanyaan ungu saya tanya ke anda :

Tapi bagaimana cara kita MEMASTIKAN bahwa "seseorang itu" tidak terbukti "menggangu" aqidah dan millah ISLAM?? APAKAH ukurannya :

1. Putusan pengadilan ?? wkwkwk..
2. Hukum Allah (syariat islam) ?? zzzz...
3. Fatwa MUI ?? xixixixi..
4. Track record ?? hahaha..
5. KTP dan symbol2 Islam ?? cape deh ..

piss piss

---------------------------------

biru : ya ... dan akhirnya karena anda mentok ... anda juga tidak memberikan kontribusi apapun toh pada lingkungan anda ... padahal SEBETULNYA anda diberi hak (bahkan kewajiban) untuk memberi kontribusi pada lingkungan (minimal kota anda)

kalau semua orang golput seperti anda .... kemudian demokrasi tidak berjalan .... lalu apa bedanya dengan jaman orba ... yaitu membiarkan penguasa (yang bukan pilihan rakyat) membuat kerusakan, korupsi dimana2 ... atas kesadaran mereka bahwa rakyat pun juga sudah golput alias pasrah dari awal

so ... mending golput .... ngapain peduli dengan orang lain ... yang penting "iman" saya terjaga sempurna tanpa saya peduli apakah pemimpin saya adalah manusia korup atau tidak >>> begitu ya ??

anda yakin .... sikap anda yang golput terkait siapapun yang jadi pemimpin anda (padahal anda diberi hak untuk memilih) ... akan ditimbang Allah sebagai ULTIMATE SAFETY ?? ... akan tercatat sebagai suatu tindakan yang tidak melanggar aqidah dan milah Islam ??

yaa ... saya sendiri juga ga bisa jawab sih ... karena semua itu kan tetap pertimbangan Allah

walaupun kedepannya memang ada lagi eyel2an terkait prinsip demokrasi dalam perspektif Islam ... antara yang pro dan kontra (dan ... yang ini kepanjangan)

---------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:Untuk MENYAKINKAN diri bahwa "seseorang itu" tidak terbukti "menggangu" aqidah dan millah ISLAM.
Maka sebagai orang islam TOLAK UKUR gw pastinya based on :

1. Putusan pengadilan ?? not necessarily >>> corrupted
2. Hukum Allah (syariat islam)
3. Fatwa MUI
4. Track record
5. KTP dan symbol2 Islam (yang sholatnya pas pemilu doang) wkwkwkwk....
6. Opini masyarakat 50:50 - pro>
Nah kalo ada seseorang yang track recordnya :
1. Sering coba2 "test the water" thd muslim.
2. Secara verbal sering "menggangu" aqidah/millah/tata cara ibadah muslim.
3. Suka gusur2/bongkar2 Mesjid dan musholla.
4. Hobby menzalimi muslim miskin pinggir kali, tapi memfasilitasi cukong kaya yg pengen nguruk pinggiran laut?? wkwkwkwk...
Apakah orang semacam itu TIDAK termasuk yang DILARANG utk dijadikan "friends and allies"??
usil

sebetulnya point seluruh uraian anda diatas itu yang biru

jadi semua itu memang menurut pandangan anda yang mungkin tidak sama dengan pandangan muslim lain

makanya saya sebut sebelumnya >>> ya kita lihat saja hasil pilkada DKI nanti ...

2 good

oh ya ... btw yang merah >>> ya ga cuma urusan sholat ajah dong ah ... memang Islam itu isinya cuma sholat
justru perihal sholat sebetulnya bukan urusan manusia dengan manusia >>> jadi ga usah dinilai2 seperti apa sholat mereka

----------------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:oh ya tambahin sedikit dari kalimat anda

@RHCP wrote:safety first

ya mungkin disini bedanya .... masalahnya saya tidak melihat KTP dan symbol sebagai suatu hal yang "safety"

kan dah banyak contohnya

piss  piss

SEGITU ISLAM KTP-NYA JOKOWI...
Waktu jadi gubernur, dia NGGA PERNAH rese' dan ganggu2 umat islam.
Bandingin, saat DKI dipimpin oleh "si HEBAT nan pemberani" ??. wkwkwkwkwk....
MUSLIM DIACAK-ACAK..!? zzzzzz....

Kalo mw yang ultimate safety, GOLPUT aja.... Aman Khan, NGGA DOSA!?
usil

kan sudah dijelaskan yang ungu ...

tentang Jokowi atau Ahok, atau Bu Puji, atau Haji Lulung, atau FPI, atau MUI dsb >>> seperti kata anda ... opini masyarakat memang jatuhnya 50:50 sesuai dengan pro - kontra nya masing2

biru : kata siapa ga dosa ?? yakin ??

coba liat ini

http://www.voaindonesia.com/a/mui-keluarkan-fatwa-haram-golput-partisipasi-pemilih-meningkat/1876637.html

tuh ... fatwa MUI aja bilang golput haram ... moso haram ga dosa

lihat tulisan anda yang hijau diatas

>>> jadi gimana ?? .... atau mau pilih2 lagi ?? kadang nurut MUI kadang ga nurut MUI
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by njlajahweb on Wed Oct 19, 2016 4:40 pm

deleted
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6099
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by RHCP on Thu Oct 20, 2016 12:25 am

dini wrote:merah : teori darimana anda bilang korupsi bukan kezaliman aqidah Islam ?? >>> memang sejak kapan ada aqidah Islam yang TIDAK MELARANG korupsi ??

ketika seorang muslim melakukan korupsi ... itu artinya dia sudah MELANGGAR akidah Islam .. wong perintah-Nya jelas kok

Dan janganlah sebagian dari kamu memakan harta sebagian yang yang lain secara batil, dan jangan pula membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, sedangkan kamu mengetahui. (QS: Al-Baqarah : 188)

balik ke uraian saya diatas
KORUPSI atw memakan yang bukan haknya, JELAS MELANGGAR hukum islam. dan PASTINYA tidak ada toleransi utk KORUPSI. Jika track record seseorang sdh "TERINDIKASI korupsi" dan sdh jelas2 "korupsi iman", apakah MASIH PANTAS dia dipilih jd PEMIMPIN?? hehe...
usil

Korupsi adalah PELANGGARAN hukum islam yg ada konsekuensinya dihadapan Allah. Meskipun thd umat ada juga beban secara MORAL, tapi itu BUKAN secara aqidah kpd umat. Makanya gw berpendapat, meskipun ada BEBAN MORAL, tapi KORUPSINYA sendiri tidak "MENGANGGU" aqidah dan millah umat islam secara keseluruhan.

Jadi kalo bicara al maidah:51, maka yang harus dihindari adalah "friends and allies" yang BERPOTENSI "MENGGANGGU" aqidah/millah/ibadah muslim spt MISALNYA; bongkar2 mesjid, hina ulama, hina ayat Al Quran, hina qurban, larang takbir keliling, larang jilbab, legalkan miras dlsb.

@RHCP wrote:Bahkan MAYORITAS muslim JAKARTA 2 tahun terakhir ini sering di acak2 aqidah dan millahnya.

dini wrote:yang merah saja >>> ya mari kita lihat saja hasil pilkada DKI nanti ...
KALAU Ahok ternyata menang ... artinya TIDAK ADA BUKTI mayoritas muslim Jakarta "merasa" di acak2 aqidah dan millahnya
Kok kaya' hukum rimba: yang menang itu yg BENAR...?? hahaha..

Kalo menurut kak dini, demo ratusan ribu orang tempo hari dan maraknya demo diberbagai daerah itu, termasuk BUKTI ngga??
piss
dini wrote:biru : ya ... dan akhirnya karena anda mentok ... anda juga tidak memberikan kontribusi apapun toh pada lingkungan anda ... padahal SEBETULNYA anda diberi hak (bahkan kewajiban) untuk memberi kontribusi pada lingkungan (minimal kota anda)

kalau semua orang golput seperti anda .... kemudian demokrasi tidak berjalan .... lalu apa bedanya dengan jaman orba ... yaitu membiarkan penguasa (yang bukan pilihan rakyat) membuat kerusakan, korupsi dimana2 ... atas kesadaran mereka bahwa rakyat pun juga sudah golput alias pasrah dari awal

so ... mending golput .... ngapain peduli dengan orang lain ... yang penting "iman" saya terjaga sempurna tanpa saya peduli apakah pemimpin saya adalah manusia korup atau tidak >>> begitu ya ??

anda yakin .... sikap anda yang golput terkait siapapun yang jadi pemimpin anda (padahal anda diberi hak untuk memilih) ... akan ditimbang Allah sebagai ULTIMATE SAFETY ?? ... akan tercatat sebagai suatu tindakan yang tidak melanggar aqidah dan milah Islam ??

yaa ... saya sendiri juga ga bisa jawab sih ... karena semua itu kan tetap pertimbangan Allah

walaupun kedepannya memang ada lagi eyel2an terkait prinsip demokrasi dalam perspektif Islam ... antara yang pro dan kontra (dan ... yang ini kepanjangan)
Seumur2 yg gw tahu cuma HAK MEMILIH deh kak, bukan WAJIB MEMILIH.

Lha kalo gw bilang, mending sekalian kaya' jaman pak harto, selama 32 tahun muslim relatif masih terlindungi aqidah dan millahnya. hehehe....

Kalo ada PEMIMPIN (pilihan/bukan) yg korupsi, muslim wajib MENEGUR dgn lisan/tulisan atw selemah2nya dengan HATI, agar tidak ikut kecipratan DOSA. Itulah bentuk kontribusi kita.

Tapi kalo kontribusi kepada negara HARUS mengorbankan IMAN, APA HARUS DIPAKSAKAN?? Padahal seseorang TETAP BISA berbakti thd NEGARA dgn TETAP MENJAGA IMAN. Karena bagi seorang muslim, hal MENJAGA IMAN ISLAM adalah yang utama. Karena nanti di pengadilan Allah, yang bicara bukan lagi lidah kita, tapi AMAL perbuatan kita yg dilandasi iman. (curcol wkwkwk...)
dini wrote:oh ya ... btw yang merah >>> ya ga cuma urusan sholat ajah dong ah ... memang Islam itu isinya cuma sholat
justru perihal sholat sebetulnya bukan urusan manusia dengan manusia >>> jadi ga usah dinilai2 seperti apa sholat mereka
Waduh.... Kak dini jangan lupa juga dong..!?

فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Ath-Thabarani)

Meskipun islam "bukan cuma sholat", TAPI baik/buruknya sholat itu INDIKATOR atas baik/buruknya amal dan akhlak seseorang. Jadi menurut gw, boleh2 aja kita menilai amal dan akhlak seseorang berbasis sholatnya. Why not??

Lagian mana bisa kita menilai baik/buruknya seseorang pake NIATAN HATI?? APALAGI ujung2nya "TIDAK ADA NIAT KORUPSI" wkwkwkwk...
piss
dini wrote:biru : kata siapa ga dosa ?? yakin ??

coba liat ini

http://www.voaindonesia.com/a/mui-keluarkan-fatwa-haram-golput-partisipasi-pemilih-meningkat/1876637.html

tuh ... fatwa MUI aja bilang golput haram ... moso haram ga dosa

lihat tulisan anda yang hijau diatas

>>> jadi gimana ?? .... atau mau pilih2 lagi ?? kadang nurut MUI kadang ga nurut MUI
Oiya ya... Tapi rasa2nya ada yang sedikit janggal deh.
"Dalam musyawarah ijtima’ fatwa Majelis Ulama Indonesia di Padangpanjang, Sumatera Barat yang berakhir Senin kemarin, MUI akhirnya memfatwakan haramnya golput. Umat Islam diwajibkan memilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2009"
Kok sptnya Fatwa MUI itu terbatas hanya utk PEMILU 2009 ya?? Wkwkwk...

Ada kutipan menarik dari Salim Umar :
"Haram hukumnya tidak memilih, kalau memang di antara calon-calon itu memenuhi syarat"
dengan kata lain :
GOLPUT TIDAK haram, jika TIDAK ADA calon yang memenuhi syarat
artinya:
Kalo calonnya mentok, maka GOLPUT HALAL.
Sayangnya di link yang kak dini kasih, ngga disebut2 dalil al Quran/hadits atas HARAMNYA GOLPUT. Makanya gw tetap YAKIN kalo GOLPUT itu TIDAK HARAM dan TIDAK DOSA.
(disclaimer: bukan promosi golput)

Kalo gitu ralat dikit ahh, hehehe...
1. Hukum Allah (syariat islam)
2. Fatwa MUI (Yang ada dalil al Quran/hadits-nya) xixixixi....
3. Track record
4. Opini masyarakat 50:50 - pro x kontra
piss
avatar
RHCP
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2942
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 06.12.13
Reputation : 65

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by dee-nee on Thu Oct 20, 2016 11:13 am

@RHCP wrote:
dini wrote:merah : teori darimana anda bilang korupsi bukan kezaliman aqidah Islam ?? >>> memang sejak kapan ada aqidah Islam yang TIDAK MELARANG korupsi ??

ketika seorang muslim melakukan korupsi ... itu artinya dia sudah MELANGGAR akidah Islam .. wong perintah-Nya jelas kok

Dan janganlah sebagian dari kamu memakan harta sebagian yang yang lain secara batil, dan jangan pula membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, sedangkan kamu mengetahui. (QS: Al-Baqarah : 188)

balik ke uraian saya diatas
KORUPSI atw memakan yang bukan haknya, JELAS MELANGGAR hukum islam. dan PASTINYA tidak ada toleransi utk KORUPSI. Jika track record seseorang sdh "TERINDIKASI korupsi" dan sdh jelas2 "korupsi iman", apakah MASIH PANTAS dia dipilih jd PEMIMPIN?? hehe...
usil

hehehehehe ... kata terindikasi itu kan tergantung masing2 kepala toh ya >>> kalau sudah curiga terus ... melakukan apapun pasti judulnya terindikasi yang buruk2 terus ... ya toh ya

jadi in the end .... urusannya lagi2 cuma berujung di merah

dan agak repot memang kalau sudah mempermasalahkan "iman" ... ada yang begitu peduli dengan iman orang lain ... tapi ada juga yang menyerahkan urusan iman orang lain hanya kepada Allah (artinya dia hanya mau ngurusin imannya sendiri ... dan tidak mau ikut campur dengan iman orang lain)

kalau buat saya dalam urusan pilkada ini (atau pemilu secara umum) ... tujuan-nya adalah untuk melihat siapa yang terbaik membangun daerah ... bukan untuk melihat siapa yang paling beriman (yang manusia saja ga punya pengetahuan untuk ngitung2 iman orang lain)

jadi ya dibikin simple saja .... kita lihat saja hasil pilkada nanti ... siapa yang dianggap terbaik bagi kepentingan pembangunan jakarta >>> sudah ...

sampai di underline ini saja tujuan pilkada itu sebenar-nya (karena toh negara ini juga bukan hutan yang tidak punya sistem beserta perangkat UU-nya)

piss  piss

--------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:Korupsi adalah PELANGGARAN hukum islam yg ada konsekuensinya dihadapan Allah. Meskipun thd umat ada juga beban secara MORAL, tapi itu BUKAN secara aqidah kpd umat. Makanya gw berpendapat, meskipun ada BEBAN MORAL, tapi KORUPSINYA sendiri tidak "MENGANGGU" aqidah dan millah umat islam secara keseluruhan.  

ya ... terserah anda sih .... kalau menurut anda yang terpenting dalam memilih pemimpin adalah pada syahadat nya (artinya iman seseorang adalah point penting bagi anda dalam memilih pemimpin) ... sementara moral atau perilaku-nya pada masyarakat anda anggap sebagai urusan Allah (walaupun punya dampak langsung bagi orang banyak) >>> ya artinya cara pandang kita beda

mungkin saya justru kebalikan dari anda ... bagi saya justru masalah iman itu urusan Allah ... sementara yang saya pilih dari seorang kepala daerah (pemerintahan) adalah bagaimana dia memeberikan kebaikan bagi warganya

coba lihat merah dan biru antara saya dengan anda .... ya mau sampai gimana juga ga akan ketemu kan ya

jadi ... memang baiknya ... kita lihat saja hasil di pilkada nanti ... hehehehehe

2 good  2 good

------------------------------------------------------

@RHCP wrote:Jadi kalo bicara al maidah:51, maka yang harus dihindari adalah "friends and allies" yang BERPOTENSI "MENGGANGGU" aqidah/millah/ibadah muslim spt MISALNYA; bongkar2 mesjid, hina ulama, hina ayat Al Quran, hina qurban, larang takbir keliling, larang jilbab, legalkan miras dlsb.

sudah saya sebut sebelumnya .... yang merah itu tergantung isi kepala masing2 orang ... mau sejuta kali anda bilang orang tertentu berpotensi bla bla bla bla .... kalau ga ada yang percaya dengan anda gimana ?? ... wong nyatanya mereka juga lihat bahwa yang anda katakan itu tidak ada bukti dan dalil-nya

jadi ... memang baiknya ... kita lihat saja hasil di pilkada nanti ... mungkin anda benar ... mungkin saya yang benar

Allahu A'lam

2 good

------------------------------------------------------------------- 

@RHCP wrote:
@RHCP wrote:Bahkan MAYORITAS muslim JAKARTA 2 tahun terakhir ini sering di acak2 aqidah dan millahnya.

dini wrote:yang merah saja >>> ya mari kita lihat saja hasil pilkada DKI nanti ...
KALAU Ahok ternyata menang ... artinya TIDAK ADA BUKTI mayoritas muslim Jakarta "merasa"  di acak2 aqidah dan millahnya

Kok kaya' hukum rimba: yang menang itu yg BENAR...?? hahaha..

lah ... kemenangan itu kan hasil dari suara mayoritas >>> kan anda juga yang dari awal bawa kata "mayoritas" (lihat yang merah) ... makanya saya jawab yang biru

kalau mayoritas tidak merasa seperti yang anda sebut .... kenapa dipaksakan mereka harus merasakan seperti anda ??
bukannya yang maksa2 itu justru lebih hukum rimba lagi

piss  piss

---------------------------------------------------

@RHCP wrote:Kalo menurut kak dini, demo ratusan ribu orang tempo hari dan maraknya demo diberbagai daerah itu, termasuk BUKTI ngga??
piss

bukti apa ya ?? bukti bahwa potensi2 yang anda sebut sebelumnya lebih benar ??

merah : Ga ... siapa yang mau percaya ... bahwa demo artinya mewakili mayoritas

>>> ada yang disebut teori "silent majority" .... mereka diam2 saja ... tidak teriak2 ... tidak demo ... tapi isi kepala-nya nanti yang akan menentukan siapa pemimpin mereka

dan yang namanya majority ... ya yang seperti ini justru si mayoritas itu sendiri

point saya : pilihan mayoritas itu ... tidak ditentukan dari jumlah peserta demo

---------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:biru : ya ... dan akhirnya karena anda mentok ... anda juga tidak memberikan kontribusi apapun toh pada lingkungan anda ... padahal SEBETULNYA anda diberi hak (bahkan kewajiban) untuk memberi kontribusi pada lingkungan (minimal kota anda)

kalau semua orang golput seperti anda .... kemudian demokrasi tidak berjalan .... lalu apa bedanya dengan jaman orba ... yaitu membiarkan penguasa (yang bukan pilihan rakyat) membuat kerusakan, korupsi dimana2 ... atas kesadaran mereka bahwa rakyat pun juga sudah golput alias pasrah dari awal

so ... mending golput .... ngapain peduli dengan orang lain ... yang penting "iman" saya terjaga sempurna tanpa saya peduli apakah pemimpin saya adalah manusia korup atau tidak >>> begitu ya ??

anda yakin .... sikap anda yang golput terkait siapapun yang jadi pemimpin anda (padahal anda diberi hak untuk memilih) ... akan ditimbang Allah sebagai ULTIMATE SAFETY ?? ... akan tercatat sebagai suatu tindakan yang tidak melanggar aqidah dan milah Islam ??

yaa ... saya sendiri juga ga bisa jawab sih ... karena semua itu kan tetap pertimbangan Allah

walaupun kedepannya memang ada lagi eyel2an terkait prinsip demokrasi dalam perspektif Islam ... antara yang pro dan kontra (dan ... yang ini kepanjangan)

Seumur2 yg gw tahu cuma HAK MEMILIH deh kak, bukan WAJIB MEMILIH.

dengan memilih ... anda memberi kontribusi untuk daerah anda >>> kenapa saya sebut wajib ... karena yang seperti ini sifatnya komunal (keseluruhan dalam suatu komunitas) .... artinya adalah kewajiban (tanggung jawab) suatu masyarakat untuk menentukan pemimpin-nya sendiri

>>> logika simple-nya ... ketua rt pun ditentukan oleh warga di rt yang sama ... bukan ditentukan oleh warga dari rt lain .... atau ... yang wajib menentukan presiden pun rakyat di negara itu sendiri ... bukan negara lain

dengan kewajiban seperti ini .... kemudian anda diberi hak untuk memilih salah satu dari kandidat yang terbaik menurut anda ... tapi prinsipnya ... anda tetap punya kewajiban menentukan apa yang anda mau ... bukan cuek, masa bodoh, lalu diserahkan pada orang lain (dalam konteks menjadi golput misalnya)

kalau anda memilih golput (karena tidak ada kandidat yang sesuai dengan kriteria anda) ... yang disebut benar2 golput itu bukan tidak ikut pemiilu ... karena anda tetap harus melakukan kewajiban anda ... dengan cara menggunakan suara anda ... datang ke tps ... lalu tulis "saya golput"

>>> suara anda tidak dihitung juga ga apa2 ... yang penting anda tidak "memberikan" suara anda ... yang kemungkinan bisa dipakai orang lain (artinya orang lain yang menentukan suara anda)


begitu maksud saya

piss  piss

----------------------------------------------------

@RHCP wrote:Lha kalo gw bilang, mending sekalian kaya' jaman pak harto, selama 32 tahun muslim relatif masih terlindungi aqidah dan millahnya. hehehe....  

Kalo ada PEMIMPIN (pilihan/bukan) yg korupsi, muslim wajib MENEGUR dgn lisan/tulisan atw selemah2nya dengan HATI, agar tidak ikut kecipratan DOSA. Itulah bentuk kontribusi kita.

Tapi kalo kontribusi kepada negara HARUS mengorbankan IMAN, APA HARUS DIPAKSAKAN?? Padahal seseorang TETAP BISA berbakti thd NEGARA dgn TETAP MENJAGA IMAN. Karena bagi seorang muslim, hal MENJAGA IMAN ISLAM adalah yang utama. Karena nanti di pengadilan Allah, yang bicara bukan lagi lidah kita, tapi AMAL perbuatan kita yg dilandasi iman. (curcol wkwkwk...)

biru : moso seh ... bukannya jaman Suharto malah susah banget pake hijab ?? ... itu yang demo kemarin malah ada yang teriak "apakah kejadian Tanjung Priok akan terulang lagi"

>>> padahal kalau dipikir2 ... demo itu tujuannya kepada ahok .... sementara tragedi tanjung priok ga ada hubungannya dengan ahok ... malah justru orang2 seperti ahok juga jadi bagian dari tragedi2 lain pada era yang sama

merah : terus terang saya ga ngerti maksud anda dengan "mengorbankan iman Islam" .. "menjaga iman Islam" dalam kaitan pilkada DKI atau pemilu ??

apakah menurut anda .. muslim yang memilih non-muslim dalam kaitan pemilu sudah tidak dianggap Islam lagi ?? >>> kalau memang begitu ... ya sudah ... berarti ga perlu juga dong membela perjuangan Hamas atas nama ukuwah ... ngapain coba bela2in yang sudah tidak dianggap Islam ??

sekian banyak negara mayoritas muslim yang nyatanya memilih non-muslim sebagai pemimpin (bahkan termasuk Turki sekalipun) ... apakah mereka disebut sudah mengorbankan iman Islam mereka ?? ... mereka sudah tidak Islam lagi ?? >>>> kok ... sounds like fundamentalist wahabi ya jadinya

hehehehehehehehe

piss  piss

---------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:oh ya ... btw yang merah >>> ya ga cuma urusan sholat ajah dong ah ... memang Islam itu isinya cuma sholat
justru perihal sholat sebetulnya bukan urusan manusia dengan manusia >>> jadi ga usah dinilai2 seperti apa sholat mereka
Waduh.... Kak dini jangan lupa juga dong..!?

فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Ath-Thabarani)

Meskipun islam "bukan cuma sholat", TAPI baik/buruknya sholat itu INDIKATOR atas baik/buruknya amal dan akhlak seseorang. Jadi menurut gw, boleh2 aja kita menilai amal dan akhlak seseorang berbasis sholatnya. Why not??

Lagian mana bisa kita menilai baik/buruknya seseorang pake NIATAN HATI?? APALAGI ujung2nya "TIDAK ADA NIAT KORUPSI" wkwkwkwk...
piss  

biru : dan .. apakah dengan anda menentukan baik/buruknya sholat orang lain menurut pengetahuan anda ... membuat anda jadi lebih tau baik/buruknya amal dan akhlak seseorang ??

pokoknya ... tidak peduli apa yang sudah dilakukan orang tersebut (bahkan bila hasilnya jelas2 positif sekalipun) ... selama saya nilai sholatnya ga bagus artinya amal dan akhlak nya juga ga bagus

sebaliknya .... kalau ternyata hasil yang dia lakukan negatif (terbukti korupsi misalnya) ... ya pokoknya apapun itu .... selama saya lihat rajin sholat (tidak peduli tujuan dan niat sholat-nya) .... sudah bisa dipastikan amal dan akhlak orang tersebut juga bagus

hmmmm .... saya kok ga setuju ya ... tapi terserah anda sih

terkait hadist Ath-Thabarani >>> menurut saya hadist itu adalah untuk menilai diri kita sendiri ... bukan untuk menilai orang lain

artinya ... kalau kita "menilai" ada org yang sholat-nya ga bagus ... cukup kasih saja hadist diatas ... selanjutnya terserah org tersebut

>>>> ITUPUN kalau saya cukup pede (atau sudah punya status sebagai ulama besar misalnya) ... karena kalau cuma sekelas saya yang ngasih hadist itu ke seseorang .... bisa saja org tsbt justru tersinggung dan bilang "Apa coba maksud-nya ngasih2 beginian ... jadi menurut anda sholat saya ga bagus ... memang sholat anda sudah lebih bagus ... anda baca saja sendiri hadist-nya ... ga usah ngurusin sholat orang lain"

misalnya .. bisa saja kan begitu .... hehehehehehehehe

------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:biru : kata siapa ga dosa ?? yakin ??

coba liat ini

http://www.voaindonesia.com/a/mui-keluarkan-fatwa-haram-golput-partisipasi-pemilih-meningkat/1876637.html

tuh ... fatwa MUI aja bilang golput haram ... moso haram ga dosa

lihat tulisan anda yang hijau diatas

>>> jadi gimana ?? .... atau mau pilih2 lagi ?? kadang nurut MUI kadang ga nurut MUI

Oiya ya... Tapi rasa2nya ada yang sedikit janggal deh.

"Dalam musyawarah ijtima’ fatwa Majelis Ulama Indonesia di Padangpanjang, Sumatera Barat yang berakhir Senin kemarin, MUI akhirnya memfatwakan haramnya golput. Umat Islam diwajibkan memilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2009"

Kok sptnya Fatwa MUI itu terbatas hanya utk PEMILU 2009 ya?? Wkwkwk...

wakakakakaka .... tambah ga jelas lagi dong fatwa2 ala MUI ini ...
apa coba bedanya pemilu 2009 dengan lainnya ??
atau mungkin buat MUI ... karena pemilu 2009 adalah tanda2 mau kiamat ....  

hahahahahahahaha

piss  piss

------------------------------------------------

@RHCP wrote:Ada kutipan menarik dari Salim Umar :

"Haram hukumnya tidak memilih, kalau memang di antara calon-calon itu memenuhi syarat"
dengan kata lain :
GOLPUT TIDAK haram, jika TIDAK ADA calon yang memenuhi syarat
artinya:
Kalo calonnya mentok, maka GOLPUT HALAL.

Sayangnya di link yang kak dini kasih, ngga disebut2 dalil al Quran/hadits atas HARAMNYA GOLPUT. Makanya gw tetap YAKIN kalo GOLPUT itu TIDAK HARAM dan TIDAK DOSA.  
(disclaimer: bukan promosi golput)

Kalo gitu ralat dikit ahh, hehehe...

1. Hukum Allah (syariat islam)
2. Fatwa MUI (Yang ada dalil al Quran/hadits-nya) xixixixi....
3. Track record
4. Opini masyarakat 50:50 - pro x kontra
piss  

tentang golput dulu deh ... coba baca tulisan ungu saya >>> jadi menurut saya yang haram itu adalah ketidak pedulian kita terhadap lingkungan, masyarakat, dst .... dan golput itupun sebetulnya adalah bagian dari pilihan itu sendiri

jadi harusnya ... pilihan dalam surat suara adalah .... no dan nama setiap calon ... plus bagian untuk warga memilih golput (jadi tetap ada kolom dalam surat suara untuk memilih golput) ... hihihihihi

ya tapi pokoknya gitu lah ... prinsipnya kita tetap harus memilih (walaupun memilih golput) - jangan tidak peduli, masa bodoh, dsb

merah : jiaaahh ... yang namanya fatwa ulama ... ya pasti ada dalil Al Quran/hadist-nya lah ... at least kalimat dalam Al Quran/hadist pasti dibawa2

diluar apakah dalil Al Quran/hadist-nya nyambung atau tidak ... benar atau salah ... dengan fatwa tersebut ... ya kalau mau disambung2 mah bisa aja ... mau membenar2kan sebuah ayat yang multi tafsir pun bisa

kalau saya sih ... lebih suka lihat apa tujuan, esensi, dan maksud MUI memberikan fatwa tersebut >>> kalau setuju dengan tujuan, esensi, dan maksud-nya .... ya fatwa itu saya terima ... kalau ga setuju ya ga saya terima

sementara untuk fatwa MUI kemarin ... kalau yang itu jelas kan ya ... tujuan, esensi, dan maksud-nya adalah untuk kepentingan politik tertentu >>> makanya ga saya terima

hahahahahahahahha

piss piss


Terakhir diubah oleh dee-nee tanggal Fri Jan 27, 2017 2:40 am, total 1 kali diubah
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by RHCP on Thu Oct 20, 2016 5:57 pm

dini wrote:hehehehehe ... kata terindikasi itu kan tergantung masing2 kepala toh ya >>> kalau sudah curiga terus ... melakukan apapun pasti judulnya terindikasi yang buruk2 terus ... ya toh ya

jadi in the end .... urusannya lagi2 cuma berujung di merah
Kalo yang mengatakan seseorang itu "terindikasi korupsi" adalah sebuah badan negara yg legitimate, GIMANA kak dee??  hehehe...
dini wrote:dan agak repot memang kalau sudah mempermasalahkan "iman" ... ada yang begitu peduli dengan iman orang lain ... tapi ada juga yang menyerahkan urusan iman orang lain hanya kepada Allah (artinya dia hanya mau ngurusin imannya sendiri ... dan tidak mau ikut campur dengan iman orang lain)

kalau buat saya dalam urusan pilkada ini (atau pemilu secara umum) ... tujuan-nya adalah untuk melihat siapa yang terbaik membangun daerah ... bukan untuk melihat siapa yang paling beriman (yang manusia saja ga punya pengetahuan untuk ngitung2 iman orang lain)

jadi ya dibikin simple saja .... kita lihat saja hasil pilkada nanti ... siapa yang dianggap terbaik bagi kepentingan pembangunan jakarta >>> sudah ...

sampai di underline ini saja tujuan pilkada itu sebenar-nya (karena toh negara ini juga bukan hutan yang tidak punya sistem beserta perangkat UU-nya).
Kenapa repot?? Memilih pemimpin adalah bagian dari memilih friends/allies. Maka al maidah:51 adalah urusan memilih friends/allies bagi orang2 BERIMAN "yaa ayyuhalladzina aamanu".

Pemimpin yang BAIK belum tentu BENAR, tapi pemimpin yang BENAR biasanya BAIK. MAKA pilih pemimpin yang BAIK dan BENAR. Dengan begitu pembangunannya bukan hanya FISIK, karena pembangunan FISIKNYA pasti akan diimbangi dengan pembangunan IMAN, MAKA pondasi pasti KUAT.

dini wrote:lah ... kemenangan itu kan hasil dari suara mayoritas >>> kan anda juga yang dari awal bawa kata "mayoritas" (lihat yang merah) ... makanya saya jawab yang biru

kalau mayoritas tidak merasa seperti yang anda sebut .... kenapa dipaksakan mereka harus merasakan seperti anda ??
bukannya yang maksa2 itu justru lebih hukum rimba lagi
Pemilu demokrasi adalah pertarungan MODAL, yg modalnya GEDE itu yang MENANG. Jadi ini bukan masalah mayoritas-minoritas, kak dee.

Seandainya pendukung NAMRUDZ mengalahkan Ibrahim atw pendukung FIRAUN MENANG melawan MUSA atw pendukung ABU JAHAL MENANG melawan MUHAMMAD saaw.

APAKAH ITU BERARTI Namrudz/Fira'un/Abu Jahal itu ada dipihak yang BENAR?? wkwkwk...
Kalo menang-kalah pemilu dijadikan INDIKATOR dan ajang pembuktian KEBENARAN, itu namanya Hukum RIMBA. Lagian kalo ternyata yg mayoritas itu GOLPUT, gimana?? GOLPUT dong yang BENAR??wkwkwk....
dini wrote:bukti apa ya ?? bukti bahwa potensi2 yang anda sebut sebelumnya lebih benar ??

merah : Ga ... siapa yang mau percaya ... bahwa demo artinya mewakili mayoritas

>>> ada yang disebut teori "silent majority" .... mereka diam2 saja ... tidak teriak2 ... tidak demo ... tapi isi kepala-nya nanti yang akan menentukan siapa pemimpin mereka

dan yang namanya majority ... ya yang seperti ini justru si mayoritas itu sendiri

point saya : pilihan mayoritas itu ... tidak ditentukan dari jumlah peserta demo
Itu adalah BUKTI bahwa orang islam, sebagian non-islam bahkan yg se-etnis pun sudah MUAK dengan "si HEBAT nan PEMBERANI" itu. wkwkwk...

Isi kepala atw isi kantong yang akan BICARA, itu semua sekedar teori. Kalo bicara FAKTA, maka pada pemilu 2004 GOLPUT adalah silent majority.
dini wrote:merah : terus terang saya ga ngerti maksud anda dengan "mengorbankan iman Islam" .. "menjaga iman Islam" dalam kaitan pilkada DKI atau pemilu ??
"menjaga iman Islam" >> MEMILIH yg muslim, dan menginggalkan yg non-muslim (First), atw golput (ultimate). Ibaratnya : Mendingan gw miskin tapi sehat daripada kaya tapi sakit2an.

"mengorbankan iman Islam" >> NEKAT memilih yg non-muslim PADAHAL masih ada calon MUSLIM (Melanggar larangan/DOSA). Ibaratnya : BIARIN dah gw sakit2an, yang PENTING gw KAYA.

SILAKAN PILIH. Semua ada konsekuensinya.
usil
dini wrote:apakah menurut anda .. muslim yang memilih non-muslim dalam kaitan pemilu sudah tidak dianggap Islam lagi ?? >>> kalau memang begitu ... ya sudah ... berarti ga perlu juga dong membela perjuangan Hamas atas nama ukuwah ... ngapain coba bela2in yang sudah tidak dianggap Islam ??
Kalo yg ikut pemilu dianggap murtad/kafir, menurut gw itu terlalu berlebihan.
dini wrote:biru : dan .. apakah dengan anda menentukan baik/buruknya sholat orang lain menurut pengetahuan anda ... membuat anda jadi lebih tau baik/buruknya amal dan akhlak seseorang ??

pokoknya ... tidak peduli apa yang sudah dilakukan orang tersebut (bahkan bila hasilnya jelas2 positif sekalipun) ... selama saya nilai sholatnya ga bagus artinya amal dan akhlak nya juga ga bagus

sebaliknya .... kalau ternyata hasil yang dia lakukan negatif (terbukti korupsi misalnya) ... ya pokoknya apapun itu .... selama saya lihat rajin sholat (tidak peduli tujuan dan niat sholat-nya) .... sudah bisa dipastikan amal dan akhlak orang tersebut juga bagus

hmmmm .... saya kok ga setuju ya ... tapi terserah anda sih
Gini lho kak dee...
Kalo seseorang sholatnya cuma pas musim PEMILU doang (misalnya), sementara kesehariannya kaga, ITU berarti orang semacam itu JELAS2 BURUK AMALNYA.

Kalo kak dee milih utk NGGA SETUJU dan ngga percaya dengan hadist nabi, ya terserah juga sih hehehe...
piss
dini wrote:merah : jiaaahh ... yang namanya fatwa ulama ... ya pasti ada dalil Al Quran/hadist-nya lah ... at least kalimat dalam Al Quran/hadist pasti dibawa2
Tapi udah gw cari2 dalil fatwa HARAMNYA GOLPUT tetap ngga ada TUH?? Bisa bantu ngga, kak..??

dini wrote:kalau saya sih ... lebih suka lihat apa tujuan, esensi, dan maksud MUI memberikan fatwa tersebut >>> kalau setuju dengan tujuan, esensi, dan maksud-nya .... ya fatwa itu saya terima ... kalau ga setuju ya ga saya terima

sementara untuk fatwa MUI kemarin ... kalau yang itu jelas kan ya ... tujuan, esensi, dan maksud-nya adalah untuk kepentingan politik tertentu >>> makanya ga saya terima
Kalo GOLPUT itu HARAM, MUI harusnya sudah mengeluarkan fatwa itu dari dulu. Kenapa baru 2009?? Itu berarti selama ini MUI sudah menyembunyikan kebenaran. Bisa jadi Fatwa GOLPUT HARAM tahun 2009, (JIKA benar2 ngga ada dasar al Quran/hadits), maka fatwa itu BATIL.

Maaf kalo ada yg skip/kepotong, karena ada yg senada dan takutnya kepanjangan...
piss piss
avatar
RHCP
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2942
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 06.12.13
Reputation : 65

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by dee-nee on Thu Oct 20, 2016 11:46 pm

@RHCP wrote:
dini wrote:hehehehehe ... kata terindikasi itu kan tergantung masing2 kepala toh ya >>> kalau sudah curiga terus ... melakukan apapun pasti judulnya terindikasi yang buruk2 terus ... ya toh ya

jadi in the end .... urusannya lagi2 cuma berujung di merah
Kalo yang mengatakan seseorang itu "terindikasi korupsi" adalah sebuah badan negara yg legitimate, GIMANA kak dee??  hehehe...

ya tergantung badan negara yg legitimate ini bidang-nya apa ... korupsi itu masuk ke ranah hukum ... maka badan negara yg legitimate dalam bidang hukum lah yang lebih tepat menentukan kasus2 korupsi

-----------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:dan agak repot memang kalau sudah mempermasalahkan "iman" ... ada yang begitu peduli dengan iman orang lain ... tapi ada juga yang menyerahkan urusan iman orang lain hanya kepada Allah (artinya dia hanya mau ngurusin imannya sendiri ... dan tidak mau ikut campur dengan iman orang lain)

kalau buat saya dalam urusan pilkada ini (atau pemilu secara umum) ... tujuan-nya adalah untuk melihat siapa yang terbaik membangun daerah ... bukan untuk melihat siapa yang paling beriman (yang manusia saja ga punya pengetahuan untuk ngitung2 iman orang lain)

jadi ya dibikin simple saja .... kita lihat saja hasil pilkada nanti ... siapa yang dianggap terbaik bagi kepentingan pembangunan jakarta >>> sudah ...

sampai di underline ini saja tujuan pilkada itu sebenar-nya (karena toh negara ini juga bukan hutan yang tidak punya sistem beserta perangkat UU-nya)
Kenapa repot?? Memilih pemimpin adalah bagian dari memilih friends/allies. Maka al maidah:51 adalah urusan memilih friends/allies bagi orang2 BERIMAN "yaa ayyuhalladzina aamanu".

Pemimpin yang BAIK belum tentu BENAR, tapi pemimpin yang BENAR biasanya BAIK. MAKA pilih pemimpin yang BAIK dan BENAR. Dengan begitu pembangunannya bukan hanya FISIK, karena pembangunan FISIKNYA pasti akan diimbangi dengan pembangunan IMAN, MAKA pondasi pasti KUAT.

merah : maksud saya ... bahkan seorang yang sudah bersyahadat pun .. belum tentu disebut BERIMAN di akhirat nanti >>> lalu bagaimana anda bisa memilih2 orang hanya karena syahadat-nya saja ... lagipula ada kisah2 Rasulullah yang faktanya beliau mau berteman dengan non-muslim ...

dalam kondisi sudah terikat perjanjian damai ... Rasulullah tidak memilih teman hanya berdasarkan iman ... tapi juga berdasarkan trust

biru : masalahnya ... diantara 3 calon pilkada DKI ... bagi sebagian muslim ... tidak ada satu muslim dari calon2 tersebut yang dianggap BAIK dan BENAR dalam memimpin Jakarta >>> justru mereka melihat ahok lebih BAIK dan BENAR dalam hal memimpin Jakarta

underline biru : lah ... sekian banyak pemimpin muslim di Jakarta saja ga ada yang sanggup membangun IMAN warga jakarta >>> kok ujug2 anda bicara underline cuma karena ahok tidak seiman

itu sama saja .... ibarat anda menuntut seekor sapi untuk membimbing anak burung terbang ... sementara sebelumnya anda cuek2 saja dengan orang tua si anak burung yang juga ga pernah ngurusin anak mereka

btw ... sudah pernah dengar lagu "manusia setengah dewa" nya Iwan Fals belum ?? ... kan ada tuh liriknya

Iwan Fals wrote:Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau

Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa

walaupun lagu ini konteksnya pilpres 2014 kmrn ... tapi bayangkan aja kalau komunitas OI dengar lagu ini dan harus milih dalam pilkada DKI ... siapa coba yang mereka pilih ??

piss  piss

-------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:lah ... kemenangan itu kan hasil dari suara mayoritas >>> kan anda juga yang dari awal bawa kata "mayoritas" (lihat yang merah) ... makanya saya jawab yang biru

kalau mayoritas tidak merasa seperti yang anda sebut .... kenapa dipaksakan mereka harus merasakan seperti anda ??
bukannya yang maksa2 itu justru lebih hukum rimba lagi
Pemilu demokrasi adalah pertarungan MODAL, yg modalnya GEDE itu yang MENANG. Jadi ini bukan masalah mayoritas-minoritas, kak dee.

dan semua calon juga modal-nya gede ... mana ada calon yang kere ???

kenapa ?? anda mau bawa2 asing dan aseng ?? ... sama ajah .... tiga2nya juga didukung kalau ga sama asing ... sama aseng ... atau sama si aswan (anggap aja ini nama Arab ... wakakakakaka)

jadi ujung2nya tetap yang dilihat adalah suara mayoritas vs minoritas (karena jumlah suara itu yang akan dihitung oleh KPU)

piss

-----------------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
Seandainya pendukung NAMRUDZ mengalahkan Ibrahim atw pendukung FIRAUN MENANG melawan MUSA atw pendukung ABU JAHAL MENANG melawan MUHAMMAD saaw.

APAKAH ITU BERARTI Namrudz/Fira'un/Abu Jahal itu ada dipihak yang BENAR?? wkwkwk...

Kalo menang-kalah pemilu dijadikan INDIKATOR dan ajang pembuktian KEBENARAN, itu namanya Hukum RIMBA. Lagian kalo ternyata yg mayoritas itu GOLPUT, gimana?? GOLPUT dong yang BENAR??wkwkwk....

anda lebay ... logika darimana pilkada DKI anda samakan dengan perang2 yang anda sebut diatas ....
kalaupun mau anda samakan .... silahkan anda aja yang main perang2an sendiri ... ga usah ngajak2 orang dong ah

hehehehehehe

merah : ga juga ... toh nyatanya dalam pilkada DKI 2012 kemarin saja (jaman Foke vs Jokowi) ... yang golput juga cuma 32% ... dibawah yang tidak golput

----------------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:bukti apa ya ?? bukti bahwa potensi2 yang anda sebut sebelumnya lebih benar ??

merah : Ga ... siapa yang mau percaya ... bahwa demo artinya mewakili mayoritas

>>> ada yang disebut teori "silent majority" .... mereka diam2 saja ... tidak teriak2 ... tidak demo ... tapi isi kepala-nya nanti yang akan menentukan siapa pemimpin mereka

dan yang namanya majority ... ya yang seperti ini justru si mayoritas itu sendiri

point saya : pilihan mayoritas itu ... tidak ditentukan dari jumlah peserta demo
Itu adalah BUKTI bahwa orang islam, sebagian non-islam bahkan yg se-etnis pun sudah MUAK dengan "si HEBAT nan PEMBERANI" itu. wkwkwk...

Isi kepala atw isi kantong yang akan BICARA, itu semua sekedar teori. Kalo bicara FAKTA, maka pada pemilu 2004 GOLPUT adalah silent majority.

merah : kalimat yang benar adalah >>> itu bukti bahwa ada minoritas dari mereka2 ini yang .... dst dst

mereka jelas bukan silent majority dong ah ... namanya aja udah silent ... moso silent teriak2

underline : ga ah ... angka golput pilpres 2004 sekitar 25% >>> moso angka segini disebut majority ??

walaupun memang tambah naik di pilpres 2009 (29%) ... dan pilpres 2014 (30%) >>> tapi angka golput tetap bukan mayoritas

kan sudah ada "fatwa MUI" >>> hehehehehehe

--------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:merah : terus terang saya ga ngerti maksud anda dengan "mengorbankan iman Islam" .. "menjaga iman Islam" dalam kaitan pilkada DKI atau pemilu ??

"menjaga iman Islam" >> MEMILIH yg muslim, dan menginggalkan yg non-muslim (First), atw golput (ultimate). Ibaratnya : Mendingan gw miskin tapi sehat daripada kaya tapi sakit2an.

"mengorbankan iman Islam" >> NEKAT memilih yg non-muslim PADAHAL masih ada calon MUSLIM (Melanggar larangan/DOSA). Ibaratnya : BIARIN dah gw sakit2an, yang PENTING gw KAYA.

SILAKAN PILIH. Semua ada konsekuensinya.
usil

yang underline : ya itu pendapat anda kan ya ... ga bisa disamakan dengan pendapat muslim lain toh .... makanya saya ceritakan apa yang saya tulis ke bung isaku sebelumnya

@dee-nee wrote:
@isaku wrote:Positifnya bukan tidak ada, kalau Ahok kalah, akan menghilangkan kekhawatiran beberapa kalangan muslim umumnya terhadap hal2 yang mereka waswas dan ragu2 jika dipimpin nonmuslim. Jika Ahok menang bisa disebut warga jakarta khususnya muslim cukup percaya diri, percaya pada sistem, dan percaya pada Ahok itu sendiri bahwa tidak ada rasa khawatir berlebih sehingga nonmuslim tidak bisa dipilih.

mohon maaf untuk kalimat yang ungu >>> semua itu akan dengan mudah dijawab oleh mereka yang pro Ahok dengan kalimat "anda saja yang parno karena sentimen agama ... berujung pada curiga, takut dan ragu pada sesuatu yang tidak ada esensinya, dasar-nya, bahkan bukti-nya (terkait Ahok) .... bukan soal percaya diri dsb ... tapi karena mayoritas rakyat jakarta memang baik2 saja dan tidak ada masalah dengan kepeminpinan Ahok"

percaya sama saya ... mereka semua akan bicara yang underline ini

begitu loh maksud saya ... yah mungkin saja karena banyak muslim (khusus di jakarta misalnya) ... yang tidak hidup dalam paranoia terkait perang antara Muhammad vs Abu Jahal

kan masih banyak sunnah2 Rasulullah lainnya yang tidak hanya uplek ngurusin perang

piss  piss

-------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:apakah menurut anda .. muslim yang memilih non-muslim dalam kaitan pemilu sudah tidak dianggap Islam lagi ?? >>> kalau memang begitu ... ya sudah ... berarti ga perlu juga dong membela perjuangan Hamas atas nama ukuwah ... ngapain coba bela2in yang sudah tidak dianggap Islam ??

Kalo yg ikut pemilu dianggap murtad/kafir, menurut gw itu terlalu berlebihan.

pertanyaan saya yang bold underline >>> mereka2 ini anda sebut "mengorbankan iman Islam" ga ?? ... menurut anda Hamas sudah "mengorbankan iman Islam" mereka atau tidak ??

padahal dalam kasus Hamas ... kondisi-nya jauh lebih jelas lagi ... yaitu mereka (palestina) memang sedang dalam kondisi perang ... yang benar2 perang dan bukan sekedar kondisi perang di angan2  ... toh nyatanya mereka (Hamas) masih bisa memilih mana non-muslim yang bisa dipercaya dan tidak bisa dipercaya

--------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:biru : dan .. apakah dengan anda menentukan baik/buruknya sholat orang lain menurut pengetahuan anda ... membuat anda jadi lebih tau baik/buruknya amal dan akhlak seseorang ??

pokoknya ... tidak peduli apa yang sudah dilakukan orang tersebut (bahkan bila hasilnya jelas2 positif sekalipun) ... selama saya nilai sholatnya ga bagus artinya amal dan akhlak nya juga ga bagus

sebaliknya .... kalau ternyata hasil yang dia lakukan negatif (terbukti korupsi misalnya) ... ya pokoknya apapun itu .... selama saya lihat rajin sholat (tidak peduli tujuan dan niat sholat-nya) .... sudah bisa dipastikan amal dan akhlak orang tersebut juga bagus

hmmmm .... saya kok ga setuju ya ... tapi terserah anda sih

Gini lho kak dee...

Kalo seseorang sholatnya cuma pas musim PEMILU doang (misalnya), sementara kesehariannya kaga, ITU berarti orang semacam itu JELAS2 BURUK AMALNYA.

Kalo kak dee milih utk NGGA SETUJU dan ngga percaya dengan hadist nabi, ya terserah juga sih hehehe...
piss

gini loh maksud saya ... coba dibaca yang merah ... nyambung tulisan anda yang biru >>> pertanyaan saya adalah "yang biru ini anda tau darimana ?? ... anda punya bukti yang bisa dipertanggung jawabkan atau tidak ??"

kalau anda saja tidak diberi pengetahuan apa2 tentang sholat seseorang ... bagaimana mungkin anda bisa memberi "judgement" terhadap seseorang berdasarkan sholat mereka

ungu : hehehehehehe .... bukan tidak percaya ... justru sangat percaya ... tapi yang saya maksud adalah "gunakan hadist itu untuk menilai diri kita sendiri ... bukan untuk menilai orang lain"

begitu ....

piss  piss

--------------------------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:merah : jiaaahh ... yang namanya fatwa ulama ... ya pasti ada dalil Al Quran/hadist-nya lah ... at least kalimat dalam Al Quran/hadist pasti dibawa2
Tapi udah gw cari2 dalil fatwa HARAMNYA GOLPUT tetap ngga ada TUH?? Bisa bantu ngga, kak..??

saya ambil dari link ini saja deh : https://www.nahimunkar.com/teks-fatwa-mui-soal-golput-dan-pidato-para-penentangnya/

Menggunakan Hak Pilih dalam Pemilihan Umum

1. Pemilihan Umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.

2. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama.

3. Imamah dan Imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat.

4. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.

5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Rekomendasi

a. Umat Islam dianjurkan untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar makruf nahi munkar.

b. Pemerintah dan penyelenggara pemilu perlu meningkatkan sosialisasi penyelenggaraan pemilu agar partisipasi masyarakat dapat meningkat, sehingga hak masyarakat terpenuhi.

Fatwa tentang wajib memilih dalam Pemilu itu ditetapkan di Padang Panjang, Sumatera Barat, 26 Januari 2009, silam. Karenanya, MUI pun kembali mengingatkan agar umat Islam di Indonesia agar tidak Golput.

ada lagi sih tulisan2 selanjutnya ... tapi panjang jadi saya males copas nya ...

Dalam konteks diatas ... yang menjadi fokus untuk tidak golput adalah yang biru >>> bahwa yang dimaksud MUI adalah tetap menggunakan hak pilih (tidak masa bodoh dst) ... didasari oleh point 2

bila ternyata tidak ada yang sesuai kriteria point 4 ... maka (menurut saya) ... gunakan hak suara-nya dengan menulis "saya golput" dalam surat suara

gitu ....

piss  piss

----------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
dini wrote:kalau saya sih ... lebih suka lihat apa tujuan, esensi, dan maksud MUI memberikan fatwa tersebut >>> kalau setuju dengan tujuan, esensi, dan maksud-nya .... ya fatwa itu saya terima ... kalau ga setuju ya ga saya terima

sementara untuk fatwa MUI kemarin ... kalau yang itu jelas kan ya ... tujuan, esensi, dan maksud-nya adalah untuk kepentingan politik tertentu >>> makanya ga saya terima

Kalo GOLPUT itu HARAM, MUI harusnya sudah mengeluarkan fatwa itu dari dulu. Kenapa baru 2009?? Itu berarti selama ini MUI sudah menyembunyikan kebenaran. Bisa jadi Fatwa GOLPUT HARAM tahun 2009, (JIKA benar2 ngga ada dasar al Quran/hadits), maka fatwa itu BATIL.

Maaf kalo ada yg skip/kepotong, karena ada yg senada dan takutnya kepanjangan...
piss piss

bold : jika ternyata yg underline ada ... batil ga ??

memilih pemimpin hukumnya wajib loh ....  katanya HTI sih

https://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/06/kewajiban-memilih-pemimpin/

piss  piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by RHCP on Fri Oct 21, 2016 5:25 pm

@dee-nee wrote:
ya tergantung badan negara yg legitimate ini bidang-nya apa ... korupsi itu masuk ke ranah hukum ... maka badan negara yg legitimate dalam bidang hukum lah yang lebih tepat menentukan kasus2 korupsi
Ya, tapi badan tsb. juga punya rujukan dari badan lain yang sama2 kompeten dalam hal audit dan pemeriksaan. Caranya pun bukan dengan mengatakan "karena tidak ada niat korupsi" atw "katakan tidak, padaHAL korupsi" hehehe....
@dee-nee wrote:merah : maksud saya ... bahkan seorang yang sudah bersyahadat pun .. belum tentu disebut BERIMAN di akhirat nanti >>> lalu bagaimana anda bisa memilih2 orang hanya karena syahadat-nya saja ... lagipula ada kisah2 Rasulullah yang faktanya beliau mau berteman dengan non-muslim ...

dalam kondisi sudah terikat perjanjian damai ... Rasulullah tidak memilih teman hanya berdasarkan iman ... tapi juga berdasarkan trust

biru : masalahnya ... diantara 3 calon pilkada DKI ... bagi sebagian muslim ... tidak ada satu muslim dari calon2 tersebut yang dianggap BAIK dan BENAR dalam memimpin Jakarta >>> justru mereka melihat ahok lebih BAIK dan BENAR dalam hal memimpin Jakarta

underline biru : lah ... sekian banyak pemimpin muslim di Jakarta saja ga ada yang sanggup membangun IMAN warga jakarta >>> kok ujug2 anda bicara underline cuma karena ahok tidak seiman

itu sama saja .... ibarat anda menuntut seekor sapi untuk membimbing anak burung terbang ... sementara sebelumnya anda cuek2 saja dengan orang tua si anak burung yang juga ga pernah ngurusin anak mereka

btw ... sudah pernah dengar lagu "manusia setengah dewa" nya Iwan Fals belum ?? ... kan ada tuh liriknya

Iwan Fals wrote:Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau

Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa

walaupun lagu ini konteksnya pilpres 2014 kmrn ... tapi bayangkan aja kalau komunitas OI dengar lagu ini dan harus milih dalam pilkada DKI ... siapa coba yang mereka pilih ??

piss  piss
Dengan syahadat "at least" dia mengakui TUHAN dan nabi yang sama. Maka "at least" dia ngga akan KETERLALUAN, thd sesama muslim. Rasulullah saaw. secara hablu minan naas, OK dengan non-muslim. Tapi beliau tidak pernah BERSEKUTU dalam hal aqidah/millah, apalagi sampai mengangkat non-muslim sbg pemimpin bagi muslim.

Al maidah:51 itu konteksnya adalah LARANGAN bagi orang2 BERIMAN ber-friends and allies dgn yg orang2 yang akan merusak aqidah dan millah. Ini adalah UJIAN KEIMANAN bagi MUSLIM sehubungan pilkada. Maka dalam menjaga IMAN, ada yg pilih SAFETY FIRST, ada juga yang pilih GOLPUT (berlepas diri).

Ada juga yang menganggap seolah2 kondisi saat ini sudah "DARURAT", sehingga pilih non-muslim yang "HEBAT dan BERANI" (padahal sdh jelas2 memusuhi islam) demi menyelamatkan NEGARA. dll.

Hidup itu memang masalah pilihan. hehehe...
@dee-nee wrote:dan semua calon juga modal-nya gede ... mana ada calon yang kere ???

kenapa ?? anda mau bawa2 asing dan aseng ?? ... sama ajah .... tiga2nya juga didukung kalau ga sama asing ... sama aseng ... atau sama si aswan (anggap aja ini nama Arab ... wakakakakaka)

jadi ujung2nya tetap yang dilihat adalah suara mayoritas vs minoritas (karena jumlah suara itu yang akan dihitung oleh KPU)

piss
Nah berarti betul dong, HUKUM RIMBA..!? Karena SIAPAPUN "mereka", Yang PALING KUAT/GEDE MODALNYA, maka DIA MENANG dan DAPET "JATAH" paling banyak...!? Artinya, pemilu demokrasi itu tujuan adalah KEKUASAAN (bagi) PEMODAL, bukan utk kedaulatan rakyat/kemaslahatan umat!? wkwkwk...

Makanya banyak yg terpaksa pake "teori MENDINGAN". Mendingan gw miskin tapi beriman, daripada gw kaya tapi kafir.
@dee-nee wrote:anda lebay ... logika darimana pilkada DKI anda samakan dengan perang2 yang anda sebut diatas ....
kalaupun mau anda samakan .... silahkan anda aja yang main perang2an sendiri ... ga usah ngajak2 orang dong ah

hehehehehehe

merah : ga juga ... toh nyatanya dalam pilkada DKI 2012 kemarin saja (jaman Foke vs Jokowi) ... yang golput juga cuma 32% ... dibawah yang tidak golput
Lha buktinya pendukung nabi Muhammad yang MINORITAS, justru dipihak yang BENAR. Kalo HASIL "dukungan" pilkada dijadikan INDIKATOR KEBENARAN bagi "si hebat/pemberani" khan LUCU. Emangnya hasil PILKADA itu MURNI?? Kalo yang didukung oleh Pemodal yang PALING KUAT KALAH, BISA DIBIKIN MENANG. Mana mw PEMODAL PALING KUAT KALAH?? wkwkwkwk.....
piss
PERANG itu selalu ada kok. Kalo jadul itu perang FISIK, sekarang ini perang IDE (ghazwul fikri). Masa' sama kata2 "perang" aja takut sih...??
usil
Golput mungkin bukan majority, tapi jumlahnya signifikan dan bersaing, khan?? hehehe...
@dee-nee wrote:
merah : kalimat yang benar adalah >>> itu bukti bahwa ada minoritas dari mereka2 ini yang .... dst dst

mereka jelas bukan silent majority dong ah ... namanya aja udah silent ... moso silent teriak2

underline : ga ah ... angka golput pilpres 2004 sekitar 25% >>> moso angka segini disebut majority ??

walaupun memang tambah naik di pilpres 2009 (29%) ... dan pilpres 2014 (30%) >>> tapi angka golput tetap bukan mayoritas

kan sudah ada "fatwa MUI" >>> hehehehehehe
Boleh jadi yg 150 ribu orang itu JUSTRU mewakili mayoritas muslim Jakarta. Yang DIAM juga bukan berarti tidak mendukung DEMO, khan!? Emang apa BUKTINYA yang NGGA ikut demo/silent itu MENDUKUNG "si hebat/pemberani"?? Kok yakin bgt??
Setahu gw, pendungkung "si hebat/pemberani" cuma satu juta (itupun berbentuk KTP). Yang udah cape2 dikumpulin, TAPI ngga dipake karena takut KETAHUAN bodongnya kalo diverifikasi. wkwkwk...
piss  piss
Okelah GOLPUT bukan majority tapi jumlahnya signifikan/bersaing dgn partai besar. Bahkan pada pilleg 2004, yg GOLPUT > GOLKAR (sbg pemenangnya). Iya ya... Gara2 "fatwa MUI edisi khusus 2009" suara GOLPUT jd turun. wkwkwk...
usil
@dee-nee wrote:yang underline : ya itu pendapat anda kan ya ... ga bisa disamakan dengan pendapat muslim lain toh .... makanya saya ceritakan apa yang saya tulis ke bung isaku sebelumnya

@dee-nee wrote:
@isaku wrote:Positifnya bukan tidak ada, kalau Ahok kalah, akan menghilangkan kekhawatiran beberapa kalangan muslim umumnya terhadap hal2 yang mereka waswas dan ragu2 jika dipimpin nonmuslim. Jika Ahok menang bisa disebut warga jakarta khususnya muslim cukup percaya diri, percaya pada sistem, dan percaya pada Ahok itu sendiri bahwa tidak ada rasa khawatir berlebih sehingga nonmuslim tidak bisa dipilih.

mohon maaf untuk kalimat yang ungu >>> semua itu akan dengan mudah dijawab oleh mereka yang pro Ahok dengan kalimat "anda saja yang parno karena sentimen agama ... berujung pada curiga, takut dan ragu pada sesuatu yang tidak ada esensinya, dasar-nya, bahkan bukti-nya (terkait Ahok) .... bukan soal percaya diri dsb ... tapi karena mayoritas rakyat jakarta memang baik2 saja dan tidak ada masalah dengan kepeminpinan Ahok"

percaya sama saya ... mereka semua akan bicara yang underline ini

begitu loh maksud saya ... yah mungkin saja karena banyak muslim (khusus di jakarta misalnya) ... yang tidak hidup dalam paranoia terkait perang antara Muhammad vs Abu Jahal

kan masih banyak sunnah2 Rasulullah lainnya yang tidak hanya uplek ngurusin perang

piss  piss
Allah sdh turunkan al maidah:51, tapi pada NGEYEL dan sekarang kebukti saat "si cadangan" mimpin, DIA terang2an GANGGU islam. Mw bukti apalagi?? Yang ngeyel ngga akan dikasih PETUNJUK oleh Allah. wkwkwkwk...

Perang jaman sekarang bukan perang FISIK lagi. Ghazwul fikri itu perang IDE, kerja/dagang juga PERANG (thd kefakiran), belajar-mengajar juga PERANG (thd kebodohan), dakwah juga PERANG (thd kekafiran). dll.
“Pokok urusan adalah Islam, tiangnya itu shalat, sedangkan PUNCAKNYA adalah jihad.” (HR. Al-Tirmidzi)
piss  piss
@dee-nee wrote:pertanyaan saya yang bold underline >>> mereka2 ini anda sebut "mengorbankan iman Islam" ga ?? ... menurut anda Hamas sudah "mengorbankan iman Islam" mereka atau tidak ??

padahal dalam kasus Hamas ... kondisi-nya jauh lebih jelas lagi ... yaitu mereka (palestina) memang sedang dalam kondisi perang ... yang benar2 perang dan bukan sekedar kondisi perang di angan2  ... toh nyatanya mereka (Hamas) masih bisa memilih mana non-muslim yang bisa dipercaya dan tidak bisa dipercaya
Al Maidah:51 itu sifatnya LARANGAN, artinya BERDOSA kalo dikerjakan. Mudah2an yang dilakukan oleh HAMAS bersifat "darurah" kondisi perang (sehingga Allah memaafkan). Sejauh pengetahun gw, Allah tidak MENGKAFIRKAN mereka2 yang memilih non-muslim sebagai pemimpinnya. Tapi Allah "hanya" MELARANG.
(CMIIW)
@dee-nee wrote:gini loh maksud saya ... coba dibaca yang merah ... nyambung tulisan anda yang biru >>> pertanyaan saya adalah "yang biru ini anda tau darimana ?? ... anda punya bukti yang bisa dipertanggung jawabkan atau tidak ??"

kalau anda saja tidak diberi pengetahuan apa2 tentang sholat seseorang ... bagaimana mungkin anda bisa memberi "judgement" terhadap seseorang berdasarkan sholat mereka

ungu : hehehehehehe .... bukan tidak percaya ... justru sangat percaya ... tapi yang saya maksud adalah "gunakan hadist itu untuk menilai diri kita sendiri ... bukan untuk menilai orang lain"

begitu ....

piss  piss
Kalo gw nyebut NAMA misalnya, baru deh harus kroscek dan memastikan, agar tidak jadi fitnah. Yang sholatnya musiman khan udah banyak contohnya.

Btw, hadist itu bisa kita gunakan utk menilai diri sendiri, juga bisa digunakan utk orang2 terdekat. Bahkan bisa untuk menilai guru/pemimpin. Kalo ngga salah hadits itu salah satu rujukan bagi salafus shalih jaman dulu untuk berguru/berbaiat dll.
@dee-nee wrote:saya ambil dari link ini saja deh : https://www.nahimunkar.com/teks-fatwa-mui-soal-golput-dan-pidato-para-penentangnya/

Menggunakan Hak Pilih dalam Pemilihan Umum

1. Pemilihan Umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.

2. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama.

3. Imamah dan Imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat.

4. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.

5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Rekomendasi

a. Umat Islam dianjurkan untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar makruf nahi munkar.

b. Pemerintah dan penyelenggara pemilu perlu meningkatkan sosialisasi penyelenggaraan pemilu agar partisipasi masyarakat dapat meningkat, sehingga hak masyarakat terpenuhi.

Fatwa tentang wajib memilih dalam Pemilu itu ditetapkan di Padang Panjang, Sumatera Barat, 26 Januari 2009, silam. Karenanya, MUI pun kembali mengingatkan agar umat Islam di Indonesia agar tidak Golput.

ada lagi sih tulisan2 selanjutnya ... tapi panjang jadi saya males copas nya ...

Dalam konteks diatas ... yang menjadi fokus untuk tidak golput adalah yang biru >>> bahwa yang dimaksud MUI adalah tetap menggunakan hak pilih (tidak masa bodoh dst) ... didasari oleh point 2

bila ternyata tidak ada yang sesuai kriteria point 4 ... maka (menurut saya) ... gunakan hak suara-nya dengan menulis "saya golput" dalam surat suara

gitu ....

piss  piss
Berarti fatwa ini ijtihad ulama, karena ngga ada dasar al Quran/hadits atw (katakanlah) minim/lemah dalil. Tapi dengan muatan politik yang overload. Wkwkwk...
@dee-nee wrote:bold : jika ternyata yg underline ada ... batil ga ??

memilih pemimpin hukumnya wajib loh ....  katanya HTI sih

https://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/06/kewajiban-memilih-pemimpin/

piss  piss
Lho, fatwa 2009 itu adalah hasil IJTIHAD, karena NGGA ada dasar al Quran/hadits-nya.

Lha iya, tapinya pemimpin APA yang BAGAIMANA dulu, kak dee...?? wkwkwk...
Yang WAJIB DITAATI lebih dulu adalah Allah dan rasulNya. Pemimpin MUSLIM memang belum tentu taat 100%, tapi "at least" dia sdh mengakui Allah dan rasul.

TAPI apakah mungkin orang KAFIR bisa TAAT kpd Allah dan Rasul yg tidak diimaninya??

Btw, menurut kak dee, apa pemahaman dari ayat dibawah ini...!?
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta para pemimpin di antara kalian (QS an-Nisa’:59).
piss  
Lebih kurangnnya mohon maaf.
Sorry juga kalo ada yg skip/kepotong, takutnya kepanjangan... :)
avatar
RHCP
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2942
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 06.12.13
Reputation : 65

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by dee-nee on Sat Oct 22, 2016 5:54 pm

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:
ya tergantung badan negara yg legitimate ini bidang-nya apa ... korupsi itu masuk ke ranah hukum ... maka badan negara yg legitimate dalam bidang hukum lah yang lebih tepat menentukan kasus2 korupsi
Ya, tapi badan tsb. juga punya rujukan dari badan lain yang sama2 kompeten dalam hal audit dan pemeriksaan. Caranya pun bukan dengan mengatakan "karena tidak ada niat korupsi" atw "katakan tidak, padaHAL korupsi" hehehe....

merah : anda maksudnya mau bicara tentang kasus apa ya ?? >>> sumber waras terkait statament BPK ??

kasus ini sudah pernah saya bahas dengan bung isaku ... dan sudah saja jelaskan juga kenapa ahok tidak bisa disebut terindikasi korupsi dalam kasus sumber waras ...

mau percaya atau tidak dengan penjelasan saya ... ya kembali ke masing2 orang ... toh nyatanya argumen KPK (yang membebaskan ahok) juga ga jauh beda dengan penjelasan saya ... hehehehehehehe

piss  piss

-----------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : maksud saya ... bahkan seorang yang sudah bersyahadat pun .. belum tentu disebut BERIMAN di akhirat nanti >>> lalu bagaimana anda bisa memilih2 orang hanya karena syahadat-nya saja ... lagipula ada kisah2 Rasulullah yang faktanya beliau mau berteman dengan non-muslim ...

dalam kondisi sudah terikat perjanjian damai ... Rasulullah tidak memilih teman hanya berdasarkan iman ... tapi juga berdasarkan trust

biru : masalahnya ... diantara 3 calon pilkada DKI ... bagi sebagian muslim ... tidak ada satu muslim dari calon2 tersebut yang dianggap BAIK dan BENAR dalam memimpin Jakarta >>> justru mereka melihat ahok lebih BAIK dan BENAR dalam hal memimpin Jakarta

underline biru : lah ... sekian banyak pemimpin muslim di Jakarta saja ga ada yang sanggup membangun IMAN warga jakarta >>> kok ujug2 anda bicara underline cuma karena ahok tidak seiman

itu sama saja .... ibarat anda menuntut seekor sapi untuk membimbing anak burung terbang ... sementara sebelumnya anda cuek2 saja dengan orang tua si anak burung yang juga ga pernah ngurusin anak mereka

btw ... sudah pernah dengar lagu "manusia setengah dewa" nya Iwan Fals belum ?? ... kan ada tuh liriknya

Iwan Fals wrote:Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau

Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa

walaupun lagu ini konteksnya pilpres 2014 kmrn ... tapi bayangkan aja kalau komunitas OI dengar lagu ini dan harus milih dalam pilkada DKI ... siapa coba yang mereka pilih ??

piss  piss

Dengan syahadat "at least" dia mengakui TUHAN dan nabi yang sama. Maka "at least" dia ngga akan KETERLALUAN, thd sesama muslim. Rasulullah saaw. secara hablu minan naas, OK dengan non-muslim. Tapi beliau tidak pernah BERSEKUTU dalam hal aqidah/millah, apalagi sampai mengangkat non-muslim sbg pemimpin bagi muslim.

biru : penduduk muslim jakarta juga tidak bersekutu dalam hal aqidah/millah dengan ahok ... konteksnya tetap lakum dinukum waliyadin seperti apa yang diajarkan Nabi.... dan (terkait yang biru) dalam konteks hubungan antara manusia-pun (hablum minannas) .... nyatanya Nabi tetap berteman dengan non-muslim berdasarkan trust >>> justru aneh kalau anda sepertinya susah sekali memahami apa yang disebut hablum minannas

merah : dalam urusan memilih pemimpin pun ... beliau juga ga pernah memilih orang2 yang dianggap tidak amanah (tidak dipercayai) oleh Nabi ... walaupun statusnya orang2 itu sudah muslim >>>> dan yang seperti ini logis ... ga punya trust kok dipilih

lagipula Al Quran juga tidak pernah melarang muslim untuk memilih non-muslim sebagai teman/allies ... selama mereka tidak melakukan kerusakan dst

-----------------------------------------------------------

@RHCP wrote:Al maidah:51 itu konteksnya adalah LARANGAN bagi orang2 BERIMAN ber-friends and allies dgn yg orang2 yang akan merusak aqidah dan millah. Ini adalah UJIAN KEIMANAN bagi MUSLIM sehubungan pilkada. Maka dalam menjaga IMAN, ada yg pilih SAFETY FIRST, ada juga yang pilih GOLPUT (berlepas diri)

merah : kenapa anda tidak berpikir ... bahwa nanti di akhirat mungkin anda juga akan ditanya "apakah begitu lemah iman Islam-mu hingga begitu mudah kamu berpikir negatif terhadap seseorang ... berburuk sangka dan memusuhi suatu kaum terkait suatu hal yang tidak 100% kamu ketahui kebenarannya ??"

karena terus terang saya ga ngerti gitu logika anda ... anda tuh hanya fokus pada ahok ... seolah2 ahok adalah SATU-SATU nya non-muslim yang ada di Indonesia .... ntah kalimat kebencian model apa yang "merasuki" kepala anda terkait ahok ... sampai urusan pilkada saja .. anda sambung2 ke urusan menjaga iman

>>> hellooooowwww ... sekarang ini anda sedang hidup di planet bumi dimana sudah banyak JUTAAN MUSLIM BERTEMAN (ber-allies, dan bersekutu) DENGAN NON-MUSLIM (tanpa harus nyambung ke urusan akidah atau keimanan) ....

please deh ... anda bukan sedang tinggal di planet antah barantah .... dengan halusinasi seolah2 hubungan manusia tidak punya koneksi (ikatan) satu sama lain (dalam hal perdagangan, ekonomi, kesehatan, dsb) .... seolah2 muslim dan non-muslim adalah dua spesies berbeda ala singa yang ga bisa hidup dengan ikan paus ....

ungu : golput itu bukan melepas diri dong ah .... golput itu cuma sesimple kalimat "saya bingung dan ga punya pilihan dalam pilkada" ... sudah ... cuma ini saja batasan yang diketahui manusia ... artinya ga usah harus dipanjang2in sampai harus menilai iman seseorang

karena anda golput pun ... juga tidak membuat anda menjadi lebih beriman dibanding mereka yang ga golput >>> lah itu semua partai islam juga ga ada yang golput ... apa artinya iman anda lebih baik dari mereka ??

-------------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:Ada juga yang menganggap seolah2 kondisi saat ini sudah "DARURAT", sehingga pilih non-muslim yang "HEBAT dan BERANI" (padahal sdh jelas2 memusuhi islam) demi menyelamatkan NEGARA. dll.

Hidup itu memang masalah pilihan. hehehe...

justru orang2 seperti anda yang saya lihat sedang "ketakutan" luar biasa bila ahok terpilih jadi gubernur ... seolah2 negara sedang dalam keadaan darurat ... ntah darurat model apa

merah : ya ... dan anda memilih untuk jadi orang yang paranoid ... anda menjadi seorang kristenphobia atau cinaphobia (saya ga tau) ... tapi yang pasti secara mental dan psikologis .... anda sebelas dua belas dengan mereka2 yang kena islamphobia di eropa sana

kenapa saya sebut begini ?? >>> karena faktanya ada banyak JUTAAN MUSLIM BERTEMAN (ber-allies, dan bersekutu) DENGAN NON-MUSLIM (tanpa harus nyambung ke urusan akidah atau keimanan)

jadi gimana ?? atau anda mau bilang bahwa urusan memilih pemimpin berhubungan dengan akidah ??

>>> gini ya ... ahok syahadat atau tidak syahadat ... apa yang dia lakukan, kebijakan dan program2nya juga akan sama saja pada warga jakarta ..... ahok syahadat sekalipun ..... juga ga akan merubah dia langsung jadi manusia paling suci seluruh dunia ... atau untuk kemudian gabung dengan FPI ... atau masuk partai Islam

please deh ...

--------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:dan semua calon juga modal-nya gede ... mana ada calon yang kere ???

kenapa ?? anda mau bawa2 asing dan aseng ?? ... sama ajah .... tiga2nya juga didukung kalau ga sama asing ... sama aseng ... atau sama si aswan (anggap aja ini nama Arab ... wakakakakaka)

jadi ujung2nya tetap yang dilihat adalah suara mayoritas vs minoritas (karena jumlah suara itu yang akan dihitung oleh KPU)

piss

Nah berarti betul dong, HUKUM RIMBA..!? Karena SIAPAPUN "mereka", Yang PALING KUAT/GEDE MODALNYA, maka DIA MENANG dan DAPET "JATAH" paling banyak...!? Artinya, pemilu demokrasi itu tujuan adalah KEKUASAAN (bagi) PEMODAL, bukan utk kedaulatan rakyat/kemaslahatan umat!? wkwkwk...

Makanya banyak yg terpaksa pake "teori MENDINGAN". Mendingan gw miskin tapi beriman, daripada gw kaya tapi kafir.

ungu : jiaaahhh ... banyak kali orang kaya dan beriman ... memang yang disebut beriman cuma orang miskin ajah ??

bold : kan saya sudah tulis yang merah diatas ... semua calon itu modalnya sama gede ... jadi sangat sulit untuk dicari2 mana yang paling kuat atau paling gede (selain akhirnya cuma berujung jadi gosip ala infotainment)

biru : yeeeee ... memang pembangunan dengan tujuan untuk rakyat/kemaslahatan umat itu tidak butuh modal ?? ... rumah ibadah, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dsb itu dapat darimana uangnya kalau ga karena ada yang kasih modal ... turun dari langit ??

apakah demokrasi bertujuan untuk kekuasaan atau untuk kemaslahatan umat ... tergantung masing2 pemerintahnya ... tapi pada dasarnya semua tetap butuh modal (tetap butuh uang) >>> makanya anda baca tentang demokrasi pancasila deh .... supaya ngerti apa dan bagaimana isi kepala para ulama2 Islam era kemerdekaan yang dulu ikut merumuskan pancasila

kalau anda cuma belajar dari ulama arab ... di kepala mereka yang disebut demokrasi memang larinya cuma ke Eropa atau Amerika terus >>> FAKTANYA ... sudah semakin banyak ulama2 di dunia yang sedang belajar demokrasi pancasila

ada sekian banyak cendikiawan Islam Indonesia yang begitu dipuji diluar sana ketika mereka menjelaskan moral dan syariat Islam dalam pancasila ... tapi disini anda malah belajar pada mereka2 yang sebetulnya sedang merubah cara pandang mereka sendiri .... dan juga sedang belajar dengan ulama Indonesia terkait pancasila

-----------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:anda lebay ... logika darimana pilkada DKI anda samakan dengan perang2 yang anda sebut diatas ....
kalaupun mau anda samakan .... silahkan anda aja yang main perang2an sendiri ... ga usah ngajak2 orang dong ah

hehehehehehe

merah : ga juga ... toh nyatanya dalam pilkada DKI 2012 kemarin saja (jaman Foke vs Jokowi) ... yang golput juga cuma 32% ... dibawah yang tidak golput

Lha buktinya pendukung nabi Muhammad yang MINORITAS, justru dipihak yang BENAR. Kalo HASIL "dukungan" pilkada dijadikan INDIKATOR KEBENARAN bagi "si hebat/pemberani" khan LUCU. Emangnya hasil PILKADA itu MURNI?? Kalo yang didukung oleh Pemodal yang PALING KUAT KALAH, BISA DIBIKIN MENANG. Mana mw PEMODAL PALING KUAT KALAH?? wkwkwkwk.....
piss

PERANG itu selalu ada kok. Kalo jadul itu perang FISIK, sekarang ini perang IDE (ghazwul fikri). Masa' sama kata2 "perang" aja takut sih...??
usil

Golput mungkin bukan majority, tapi jumlahnya signifikan dan bersaing, khan?? hehehe...

merah : swear ... terus terang saya ga ngerti anda ngomong apa .... buat saya ga ada korelasi (hubungannya) antara pendukung nabi Muhammad yang MINORITAS vs INDIKATOR KEBENARAN vs Pemodal yang PALING KUAT KALAH, BISA DIBIKIN MENANG

>>> karena buat saya ... semua ini cuma keluar dari rumusan2 cocokmologi ala isi kepala anda saja

biru : maksud anda perang ide itu mungkin perang proxy kali ya ... atau perang kepentingan antara mereka2 yang terjebak dengan omongan-nya si asing, aseng, atau aswan >>> dan anda mungkin memang sudah masuk (termakan) dalam perang proxy seperti ini

ungu : golput 30% ... itu artinya yang tidak golput 70% >>> jumlah 70% ini sudah termasuk tinggi loh di dunia ... makanya Tunisia dan Myanmar juga sedang belajar bagaimana menjalankan sistem pemilu di Indonesia

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : kalimat yang benar adalah >>> itu bukti bahwa ada minoritas dari mereka2 ini yang .... dst dst

mereka jelas bukan silent majority dong ah ... namanya aja udah silent ... moso silent teriak2

underline : ga ah ... angka golput pilpres 2004 sekitar 25% >>> moso angka segini disebut majority ??

walaupun memang tambah naik di pilpres 2009 (29%) ... dan pilpres 2014 (30%) >>> tapi angka golput tetap bukan mayoritas

kan sudah ada "fatwa MUI" >>> hehehehehehe

Boleh jadi yg 150 ribu orang itu JUSTRU mewakili mayoritas muslim Jakarta. Yang DIAM juga bukan berarti tidak mendukung DEMO, khan!? Emang apa BUKTINYA yang NGGA ikut demo/silent itu MENDUKUNG "si hebat/pemberani"?? Kok yakin bgt??
Setahu gw, pendungkung "si hebat/pemberani" cuma satu juta (itupun berbentuk KTP). Yang udah cape2 dikumpulin, TAPI ngga dipake karena takut KETAHUAN bodongnya kalo diverifikasi. wkwkwk...
piss  piss

Okelah GOLPUT bukan majority tapi jumlahnya signifikan/bersaing dgn partai besar. Bahkan pada pilleg 2004, yg GOLPUT > GOLKAR (sbg pemenangnya). Iya ya... Gara2 "fatwa MUI edisi khusus 2009" suara GOLPUT jd turun. wkwkwk...
usil

merah : malah ... kalau dilihat2 ... justru jumlah golput naik setelah ada fatwa MUI (walaupun cuma sekitar 1 - 2% sih) ... hehehehehehehehe

yang atas : ya sudah lah ya kalau ga percaya dengan saya .... hehehehehehehe >>> saya bicara begitu cuma sekedar lihat dari hitung2an politik, dari pendapat2 positif warga jakarta itu sendiri, dari "repot-nya" lawan politik ahok mencari pesaing dsb >>> tolak ukur-nya justru bukan dari demo kemarin

karena buat saya demo kemarin ... tidak ada pengaruh-nya bagi mereka yang pro vs kontra ahok (bagi warga jakarta loh ya) >>> yang pro ya segitu2 ajah ... yang kontra ya segitu2 juga >>> ga menambah atau mengurangi masing2 jumlah mereka

tapi kita lihat saja nanti hasil pilkada >>> kan saya juga sudah bilang ... mungkin anda benar ... mungkin saya yang benar

Allahu A'lam

2 good  2 good

-------------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:yang underline : ya itu pendapat anda kan ya ... ga bisa disamakan dengan pendapat muslim lain toh .... makanya saya ceritakan apa yang saya tulis ke bung isaku sebelumnya

@dee-nee wrote:
@isaku wrote:Positifnya bukan tidak ada, kalau Ahok kalah, akan menghilangkan kekhawatiran beberapa kalangan muslim umumnya terhadap hal2 yang mereka waswas dan ragu2 jika dipimpin nonmuslim. Jika Ahok menang bisa disebut warga jakarta khususnya muslim cukup percaya diri, percaya pada sistem, dan percaya pada Ahok itu sendiri bahwa tidak ada rasa khawatir berlebih sehingga nonmuslim tidak bisa dipilih.

mohon maaf untuk kalimat yang ungu >>> semua itu akan dengan mudah dijawab oleh mereka yang pro Ahok dengan kalimat "anda saja yang parno karena sentimen agama ... berujung pada curiga, takut dan ragu pada sesuatu yang tidak ada esensinya, dasar-nya, bahkan bukti-nya (terkait Ahok) .... bukan soal percaya diri dsb ... tapi karena mayoritas rakyat jakarta memang baik2 saja dan tidak ada masalah dengan kepeminpinan Ahok"

percaya sama saya ... mereka semua akan bicara yang underline ini

begitu loh maksud saya ... yah mungkin saja karena banyak muslim (khusus di jakarta misalnya) ... yang tidak hidup dalam paranoia terkait perang antara Muhammad vs Abu Jahal

kan masih banyak sunnah2 Rasulullah lainnya yang tidak hanya uplek ngurusin perang

piss  piss

Allah sdh turunkan al maidah:51, tapi pada NGEYEL dan sekarang kebukti saat "si cadangan" mimpin, DIA terang2an GANGGU islam. Mw bukti apalagi?? Yang ngeyel ngga akan dikasih PETUNJUK oleh Allah. wkwkwkwk...

Perang jaman sekarang bukan perang FISIK lagi. Ghazwul fikri itu perang IDE, kerja/dagang juga PERANG (thd kefakiran), belajar-mengajar juga PERANG (thd kebodohan), dakwah juga PERANG (thd kekafiran). dll.

merah : wong ayat-nya juga masih multi tafsir sih ... kok yang ga sependapat dengan anda malah disebut ngeyel ... hanya supaya tafsir anda terlihat lebih "sahih"

sisanya : ulang ya ... kalau anda mau realistis ... perang jaman sekarang itu namanya perang proxy ... atau perang kepentingan antara mereka2 yang terjebak dengan omongan-nya si asing, aseng, atau aswan >>> dan anda mungkin memang sudah masuk (termakan) dalam perang proxy seperti ini

perang proxy itu biasanya diisi oleh berita2 ga nyambung ntah dari mana2 tanpa check dan re-check ... penuh dengan propaganda berbalut tuduhan, hatred, fitnah dsb

---------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
“Pokok urusan adalah Islam, tiangnya itu shalat, sedangkan PUNCAKNYA adalah jihad.” (HR. Al-Tirmidzi)
piss  piss
@dee-nee wrote:pertanyaan saya yang bold underline >>> mereka2 ini anda sebut "mengorbankan iman Islam" ga ?? ... menurut anda Hamas sudah "mengorbankan iman Islam" mereka atau tidak ??

padahal dalam kasus Hamas ... kondisi-nya jauh lebih jelas lagi ... yaitu mereka (palestina) memang sedang dalam kondisi perang ... yang benar2 perang dan bukan sekedar kondisi perang di angan2  ... toh nyatanya mereka (Hamas) masih bisa memilih mana non-muslim yang bisa dipercaya dan tidak bisa dipercaya
Al Maidah:51 itu sifatnya LARANGAN, artinya BERDOSA kalo dikerjakan. Mudah2an yang dilakukan oleh HAMAS bersifat "darurah" kondisi perang (sehingga Allah memaafkan). Sejauh pengetahun gw, Allah tidak MENGKAFIRKAN mereka2 yang memilih non-muslim sebagai pemimpinnya. Tapi Allah "hanya" MELARANG.(CMIIW)

merah : padahal Rasulullah juga tidak melarang berteman dengan non-muslim yang sudah terikat perjanjian damai ... bahkan seorang muslim wajib melindungi mereka >>> jadi menurut anda Rasulullah berdosa dong ya ?? ... Rasulullah melanggar Al Maidah 51 dong

--------------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:gini loh maksud saya ... coba dibaca yang merah ... nyambung tulisan anda yang biru >>> pertanyaan saya adalah "yang biru ini anda tau darimana ?? ... anda punya bukti yang bisa dipertanggung jawabkan atau tidak ??"

kalau anda saja tidak diberi pengetahuan apa2 tentang sholat seseorang ... bagaimana mungkin anda bisa memberi "judgement" terhadap seseorang berdasarkan sholat mereka

ungu : hehehehehehe .... bukan tidak percaya ... justru sangat percaya ... tapi yang saya maksud adalah "gunakan hadist itu untuk menilai diri kita sendiri ... bukan untuk menilai orang lain"

begitu ....

piss  piss

Kalo gw nyebut NAMA misalnya, baru deh harus kroscek dan memastikan, agar tidak jadi fitnah. Yang sholatnya musiman khan udah banyak contohnya.

Btw, hadist itu bisa kita gunakan utk menilai diri sendiri, juga bisa digunakan utk orang2 terdekat. Bahkan bisa untuk menilai guru/pemimpin. Kalo ngga salah hadits itu salah satu rujukan bagi salafus shalih jaman dulu untuk berguru/berbaiat dll.

maksud saya ... apapun itu (mau banyak atau sedikit contohnya) ... anda tidak bisa menilai akhlak dan keimanan seseorang HANYA dari sholat-nya saja .... untuk sholat kita sendiri saja ... kita tidak pernah tau apakah diterima atau tidak oleh Allah .... apalagi sholat orang lain

merah : yah terserah sih ... kalau anda merasa sudah bisa menilai iman, akhlak, bahkan (mungkin) surga neraka-nya orang lain hanya dari sholatnya saja ... ya terserah anda >>> tapi kalau buat saya ... semua itu tetap urusan Allah

underline : ya mungkin itu bedanya .... anggap saja saya sudah menjadi muslim yang HANYA mau berguru/berbaiat pada Nabi Muhammad SAW ... bukan pada selain beliau ... kalaupun mau merujuk pada Khulafaur Rasyidin masih oke lah ... karena mereka pun adalah murid (sahabat) langsung dari sang guru itu sendiri

jadi untuk jaman sekarang .... siapapun yang disebut guru bisa saya dapat darimana saja ... tidak hanya pada satu guru dan tidak perlu menggunakan hadist tersebut untuk menilai orang lain ... hadist itu hanya dipakai untuk menilai diri saya sendiri saja

begitu ...

piss

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:saya ambil dari link ini saja deh : https://www.nahimunkar.com/teks-fatwa-mui-soal-golput-dan-pidato-para-penentangnya/

Menggunakan Hak Pilih dalam Pemilihan Umum

1. Pemilihan Umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.

2. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama.

3. Imamah dan Imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat.

4. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.

5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Rekomendasi

a. Umat Islam dianjurkan untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar makruf nahi munkar.

b. Pemerintah dan penyelenggara pemilu perlu meningkatkan sosialisasi penyelenggaraan pemilu agar partisipasi masyarakat dapat meningkat, sehingga hak masyarakat terpenuhi.

Fatwa tentang wajib memilih dalam Pemilu itu ditetapkan di Padang Panjang, Sumatera Barat, 26 Januari 2009, silam. Karenanya, MUI pun kembali mengingatkan agar umat Islam di Indonesia agar tidak Golput.

ada lagi sih tulisan2 selanjutnya ... tapi panjang jadi saya males copas nya ...

Dalam konteks diatas ... yang menjadi fokus untuk tidak golput adalah yang biru >>> bahwa yang dimaksud MUI adalah tetap menggunakan hak pilih (tidak masa bodoh dst) ... didasari oleh point 2

bila ternyata tidak ada yang sesuai kriteria point 4 ... maka (menurut saya) ... gunakan hak suara-nya dengan menulis "saya golput" dalam surat suara

gitu ....

piss  piss
Berarti fatwa ini ijtihad ulama, karena ngga ada dasar al Quran/hadits atw (katakanlah) minim/lemah dalil. Tapi dengan muatan politik yang overload. Wkwkwk...

merah : ya apa bedanya dengan fatwa MUI yang dalilnya pake ayat multi tafsir (cuma di Indonesia pula ... yang pake terjemahan awliya = pemimpin) ... bukannya sama juga >>> fatwa kemarin juga minim/lemah dalil. Tapi dengan muatan politik yang overload

hehehehehehe

------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:bold : jika ternyata yg underline ada ... batil ga ??

memilih pemimpin hukumnya wajib loh ....  katanya HTI sih

https://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/06/kewajiban-memilih-pemimpin/

piss  piss

Lho, fatwa 2009 itu adalah hasil IJTIHAD, karena NGGA ada dasar al Quran/hadits-nya.

Lha iya, tapinya pemimpin APA yang BAGAIMANA dulu, kak dee...?? wkwkwk...
Yang WAJIB DITAATI lebih dulu adalah Allah dan rasulNya. Pemimpin MUSLIM memang belum tentu taat 100%, tapi "at least" dia sdh mengakui Allah dan rasul.

TAPI apakah mungkin orang KAFIR bisa TAAT kpd Allah dan Rasul yg tidak diimaninya??

merah : ya silahkan anda gunakan kata "at least" itu di akhirat nanti ... ketika ditanya kenapa anda tetap memilih seorang muslim yang anda sudah tau berpotensi korup >>> mudah2an argumen "at least" anda bisa diterima

biru : lah ... yang bikin UU di Indonesia bisa taat kpd Allah dan Rasul ga ??

mungkin anda belum baca uraian saya yang ini ya

http://www.laskarislam.com/t10271-video-ahok-anda-dibohongi-alquran-surat-al-maidah-51-viral-di-medsos

#17

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:Btw, menurut kak dee, apa pemahaman dari ayat dibawah ini...!?

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta para pemimpin di antara kalian (QS an-Nisa’:59).

piss  
Lebih kurangnnya mohon maaf.
Sorry juga kalo ada yg skip/kepotong, takutnya kepanjangan... :)

ayat itu artinya ... taat pada hukum Allah, Rasul, dan para pemimpin yang diplih dengan cara yang baik dan benar

Allah tidak pernah melarang muslim untuk memilih non-muslim sebagai teman/allies SELAMA non-muslim itu tidak melakukan kerusakan, kezaliman, dan pelanggaran hukum Allah (sesuai dengan Al Maidah 51)

Rasulullah juga tidak pernah melarang bila non-muslim dijadikan sebagai teman/allies SELAMA sudah ada perjanjian damai dan ada trust diantara muslim vs non-muslim (sesuai dengan hadist)

Pemimpin di Indonesia dipilih secara demokratis ... dimana pilihan mayoritas yang kemudian terpilih sebagai pemimpin .. akan diberi waktu untuk memimpin selama waktu tertentu (artinya bukan selamanya) ... untuk menunjukkan apakah dia berhasil atau gagal ... sementara dia juga TERIKAT oleh hukum2 yang berlaku (sesuai dengan UU, sesuai dengan kesepakatan (musyawarah dalam parlemen) dan disetujui oleh seluruh ulama di Indonesia - ijma ulama)

dimana salahnya ??

terus terang saya bener2 ga ngerti gimana cara berpikir mereka2 yang kayanya "heboh" banget gitu dengan kepemimpinan Ahok ... seolah2 kita hidup di hutan dimana negara ini seperti tidak punya aturan dan hukum yang jelas ... seolah2 hukum di Indonesia adalah hukum rimba ... padahal mungkin mereka sendiri yang berperilaku ala hukum rimba

menyamakan ahok dengan firaun lah ... dengan abu jahal lah ... padahal jelas sistem kenegaraan pada masa Firaun dan Abu Jahal juga beda banget dengan sistem kenegaraan di Indonesia

-------------------------

akhir kata (hihihihihihi) ... saya mohon maaf kalau ada kata2 saya yang tidak enak dibaca ... hanya sekedar diskusi dan kembalinya adalah pada pendapat masing2 ... kan yang paling tahu tentang kebenaran hanya Allah

piss piss


Terakhir diubah oleh dee-nee tanggal Sat Oct 22, 2016 7:42 pm, total 1 kali diubah
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by njlajahweb on Sat Oct 22, 2016 7:07 pm

avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6099
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by Azed on Sun Oct 23, 2016 12:46 am

@isaku wrote:
@Azed wrote:
@isaku wrote:Dan contoh yang dibawa Dr. Shihab tentang dokter dan pilot kurang tepat.
Jika anda tidak dlm posisi bisa memilih, ya bukan itu yg dimaksud dlm ilustrasi pak Quraish.

Pak Quraish memberi ilustrasi, jika orang dihadapkan pada pilihan : mana yg akan dipilih antara pilot atau dokter yg belum berpengalaman tapi muslim atau yg matang pengalaman tapi kafir.

Saya nangkepnya begini ; jika orang dihadapkan pada pilihan yg sama-sama beresiko, maka normalnya orang akan memilih resiko yg lebih kecil. Tidak lagi terpikir apa agamanya, karena kita tdk berkepentingan soal itu dg dokter atau pilot.

Esensi yg disampaikan pak Quraish itu adalah bahwa larangan di Al Maidah 51 itu situasional.
Artinya ada alasan2-nya, tdk semua dipukul rata.
Ok, ya dan tidak.
Ya betul ada situasional, itu logis dan bisa diterima.
Tidaknya dalam arti situasional itu tidak membuat kaedahnya berubah atau merubah arti ayat, tidak membuat pilihan menjadi fifty fifty.
Lah, perintah di Al Maidah 51 itu bagi muslim kan wajib hukumnya, gk boleh dong fifty fifty.
Kalau anda memahami sesuai terjemahan Depag dan tafsir MUI, ya baguslah ... tinggal laksanakan.
Itu maknanya ya haram untuk memilih atau menempatkan diri dibawah kepemimpinan non muslim yg manapun.

@isaku wrote:Tetap sama "Dilarang memilih nonmuslim".......... kecuali "hanya jika", "apabila" maka diijinkan memilih nonmuslim.

Arti ayat tidak berubah menjadi "Tidak dilarang memilih nonmuslim"
Setau saya, Al Maidah 51 tdk ada kaitannya samasekali dg soal pilih memilih pemimpin.
Saya sudah googling koq belum ketemu, bahkan tafsir versi DR. Quraish Shihab => teman setia(mu)

Bro, ayatnya ya ndak berubah-lah, yg berubah itu kan tergantung siapa dan apa kepentingan yg menafsirkannya.

++

Kalau secara tekstual, dlm terjemahan versi Depagpun tdk ada kata “memilih”, tapi "mengambil".
Tattakhidu itu makna yg umum adalah menjadikan atau mengambil, memberi tempat, memposisikan dan semacam itu.

Redaksi ayat aslinya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْض ٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّه ُُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

yā 'ayyuhā al-ladhīna 'āmanū lā tattakhidhū al-yahūda wa an-naşārá 'awliyā'a ba`đuhum 'awliyā'u ba`đin wa man yatawallahum minkum fa'innahu minhum 'inna allāha lā yahdī al-qawmaaž-žālimīna

Terjemahan versi Depag :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu) ; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (5:51)

Sepertinya hanya terjemahan versi Depag (yg lama) bhw auliya diterjemahkan ‘pemimpin’ (dlm pengertian leader atau head of). Konon versi cetak terbaru sudah diganti menjadi “teman setia” (yg hari ini rame diributin netizen dg tuduhan ‘dipalsukan').

Terjemahan Inggris menurut kamus Qur’an versi Inggris => bersekutu
Terjemahan Inggris versi Pickthal, Shakir => friends
Terjemahan dan tafsir Inggris versi Jalalayn dan Ibn Katsir => friends
Terjemahan Inggris versi Yusuf Ali => friends and protectors

++

Ada tiga suku kata kunci dlm ayat tsb, yg perlu dipahami :
- Tattakhidu = mengambil, menjadikan, memberi tempat.
- Yatawalla = mengambil, tolong menolong, melindungi, menjadikan, berpaling
- Wali (versi KBBI) = teman, penolong, pemimpin, pelindung, sekutu, pemuka agama, dsb.

Menurut Quran dictionary, arti awliyāa yg spesifik untuk Al Maidah 5:51:8. => (are) allies => bersekutu (dg).
Tapi kalau menurut KBBI, auliya itu artinya = orang suci

Secara trasliterasi (terjemahan per kata), redaksi terjemahan ayat itu kurang lebih :
Hai  orang yg beriman, jangan tattakhidhū Yahudi dan Nasrani 'awliyā'a, sebagian mereka 'awliyā'a sebagian yg lain, dan barangsiapa yatawallahum maka sama dengan mereka, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kaum yg zalim.

Dlm bhs kita, mungkin pengertiannya begini :
Hai orang yg beriman, jangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sekutumu, sebagian mereka sekutu terhadap sebagian yg lain, dan barangsiapa berpaling kepadanya, maka sama dengan mereka, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kaum yg zalim.

Dlm pengertian umum, sekutu dipahami sebagai teman yg bekerja sama dlm melakukan sesuatu. Tapi kalau kerjasama itu dlm hal negatip, maka kata yg biasa dipakai dlm bhs Indonesia adalah : bersekongkol. Sehingga pengertian saya atas Al Maidah 51 menjadi begini :

Hai orang yg beriman, janganlah kamu bersekongkol dg Yahudi dan Nasrani, mereka satu sama lain saling bersekongkal, dan barangsiapa bergabung dengan mereka, maka dia menjadi bagian dari persekongkolan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kaum yg zalim.

Mungkin ada yg protes, dari kamus mana auliya = bersekongkol ?

Harap diketahui, nabi pernah menjalin persekutuan dlm bidang keamanan, sosial dan ekonomi dg seluruh elemen suku bangsa yg ada di Madinah (termasuk Yahudi dan Nasrani) yg dlm sejarah Islam dikenal sebagai Piagam Madinah . Tapi persekutuan itu akhirnya pecah karena ada pihak yg melanggar perjanjian. Artinya, selama mereka (bahkan siapapun) bersikap positip thd kita, maka tdk ada alasan untuk menjauhinya.

Silahkan googling sendiri ya, apa isi piagam Madinah dan peristiwa yg mengiringinya.
Kalau diceritakan disini bisa panjang banget.

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by RHCP on Sun Oct 23, 2016 8:04 am

@dee-nee wrote:
merah : anda maksudnya mau bicara tentang kasus apa ya ?? >>> sumber waras terkait statament BPK ??

kasus ini sudah pernah saya bahas dengan bung isaku ... dan sudah saja jelaskan juga kenapa ahok tidak bisa disebut terindikasi korupsi dalam kasus sumber waras ...

mau percaya atau tidak dengan penjelasan saya ... ya kembali ke masing2 orang ... toh nyatanya argumen KPK (yang membebaskan ahok) juga ga jauh beda dengan penjelasan saya ... hehehehehehehe

piss  piss
Oiya, argumen KPK atas audit BPK (indikasi korupsi sumber waras) itu "Tidak ada NIAT JAHAT" khan ya...
Hebat juga KPK, bisa ngelihat NIATAN dalam HATI?? wkwkwk...
usil
@dee-nee wrote:biru : penduduk muslim jakarta juga tidak bersekutu dalam hal aqidah/millah dengan ahok ... konteksnya tetap lakum dinukum waliyadin seperti apa yang diajarkan Nabi.... dan (terkait yang biru) dalam konteks hubungan antara manusia-pun (hablum minannas) .... nyatanya Nabi tetap berteman dengan non-muslim berdasarkan trust >>> justru aneh kalau anda sepertinya susah sekali memahami apa yang disebut hablum minannas

merah : dalam urusan memilih pemimpin pun ... beliau juga ga pernah memilih orang2 yang dianggap tidak amanah (tidak dipercayai) oleh Nabi ... walaupun statusnya orang2 itu sudah muslim >>>> dan yang seperti ini logis ... ga punya trust kok dipilih

lagipula Al Quran juga tidak pernah melarang muslim untuk memilih non-muslim sebagai teman/allies ... selama mereka tidak melakukan kerusakan dst
Rasulullah PERCAYA dan bekerjasama dengan non-muslim dalam hal APA?? Apakah termasuk dalam menghina ayat al Quran/ibadah qurban/ulama?? Kalo ada muslim yang SETUJU/MENDIAMKAN/MEMBELA "si hebat pemberani" dalam "menggangu" aqidah/millah/tata cara ibadah muslim, itu artinya dia BERSEKUTU dalam hal tsb. Dan orang2 tsb tergolong sbg orang zalim yang tidak diberi petunjuk oleh Allah.

Kenapa "si hebat pemberani" itu BERANI "mengganggu"? Karena dia MERASA DIDUKUNG oleh orang2 semacam ini :
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.
Apakah gusur rumah muslim dgn cara zalim dan nguruk pinggiran laut, NGGA menimbulkan KERUSAKAN??
piss
@dee-nee wrote:merah : kenapa anda tidak berpikir ... bahwa nanti di akhirat mungkin anda juga akan ditanya "apakah begitu lemah iman Islam-mu hingga begitu mudah kamu berpikir negatif terhadap seseorang ... berburuk sangka dan memusuhi suatu kaum terkait suatu hal yang tidak 100% kamu ketahui kebenarannya ??"

karena terus terang saya ga ngerti gitu logika anda ... anda tuh hanya fokus pada ahok ... seolah2 ahok adalah SATU-SATU nya non-muslim yang ada di Indonesia .... ntah kalimat kebencian model apa yang "merasuki" kepala anda terkait ahok ... sampai urusan pilkada saja .. anda sambung2 ke urusan menjaga iman

>>> hellooooowwww ... sekarang ini anda sedang hidup di planet bumi dimana sudah banyak JUTAAN MUSLIM BERTEMAN (ber-allies, dan bersekutu) DENGAN NON-MUSLIM (tanpa harus nyambung ke urusan akidah atau keimanan) ....

please deh ... anda bukan sedang tinggal di planet antah barantah .... dengan halusinasi seolah2 hubungan manusia tidak punya koneksi (ikatan) satu sama lain (dalam hal perdagangan, ekonomi, kesehatan, dsb) .... seolah2 muslim dan non-muslim adalah dua spesies berbeda ala singa yang ga bisa hidup dengan ikan paus ....

ungu : golput itu bukan melepas diri dong ah .... golput itu cuma sesimple kalimat "saya bingung dan ga punya pilihan dalam pilkada" ... sudah ... cuma ini saja batasan yang diketahui manusia ... artinya ga usah harus dipanjang2in sampai harus menilai iman seseorang

karena anda golput pun ... juga tidak membuat anda menjadi lebih beriman dibanding mereka yang ga golput >>> lah itu semua partai islam juga ga ada yang golput ... apa artinya iman anda lebih baik dari mereka ??
Lha UDAH JELAS "si cadangan yang hebat dan pemberani" itu terang-terangan dan berkali2 "menganggu" ketenangan umat islam (minimal) di Jakarta. Apalagi dengan statusnya sbg pejabat publik (walopun jack-pot).

Kalo dia ngga USIL ngurusin aqidah/millah/ibadah/ayat al-quran/ulama dll. muslim juga adem ayem?? Gw justru heran sama muslim yang ngebelain orang yang "mengganggu" aqidah/millah/ibadah/ayat al-quran/ulama dll.??

Buruk sangka?? Lha dia sendiri ngaku salah dan minta maaf. Hellloo....
piss
Kata yang golput (karena gw ngga golput): GOLPUT itu bukan bingung/pasrah. GOLPUT itu wara' atw berhati2. Maka mendingan berlepas diri dari memilih agar terhindar dari tanggung jawab kepada Allah.
(Maaf kalo salah, CMIIW)
@dee-nee wrote:justru orang2 seperti anda yang saya lihat sedang "ketakutan" luar biasa bila ahok terpilih jadi gubernur ... seolah2 negara sedang dalam keadaan darurat ... ntah darurat model apa

merah : ya ... dan anda memilih untuk jadi orang yang paranoid ... anda menjadi seorang kristenphobia atau cinaphobia (saya ga tau) ... tapi yang pasti secara mental dan psikologis .... anda sebelas dua belas dengan mereka2 yang kena islamphobia di eropa sana

kenapa saya sebut begini ?? >>> karena faktanya ada banyak JUTAAN MUSLIM BERTEMAN (ber-allies, dan bersekutu) DENGAN NON-MUSLIM (tanpa harus nyambung ke urusan akidah atau keimanan)

jadi gimana ?? atau anda mau bilang bahwa urusan memilih pemimpin berhubungan dengan akidah ??

>>> gini ya ... ahok syahadat atau tidak syahadat ... apa yang dia lakukan, kebijakan dan program2nya juga akan sama saja pada warga jakarta ..... ahok syahadat sekalipun ..... juga ga akan merubah dia langsung jadi manusia paling suci seluruh dunia ... atau untuk kemudian gabung dengan FPI ... atau masuk partai Islam

please deh ...
Orang2 Seperti gw?? Parno?? Bukannya "si hebat pemberani" itu yang kabur ketakutan krn dikejar2 warga?? wkwkwk...
Lha emangnya selama 2 tahun ini dia "bukan gubernur" gitu?? Ada2 aja deh... hehehe..
Ngga ada urusannya dia itu cina/kristen..!? Yang penting dia baik2 dan ngga utak-atik aqidah/millah/ibadah/ayat al-quran/ulama dll. Kalo dia emang ntar kepilih lagi, (walopun TERPAKSA) ya silakan.

Secara pribadi atw kelompok; berteman, kerjasama, tolong menolong dan hal lain, itu MUBAH. Tapi jika tidak ada "DARURAH"-NYA. Maka (bagi gw) MENYERAHKAN/MEMPERCAYAKAN SEMUA URUSAN (sbg warga negara) kepada yang TIDAK beriman KEPADA ALLAH, WAJIB ditinggalkan.

Lagian siapa juga yg pengen banget dia masuk islam?? Please deh....
Kalo mw ADEM, cukup dia JAGA UCAPAN dan jangan "sok tahu" thdp urusan agama islam. Selesai.
usil
@dee-nee wrote:ungu : jiaaahhh ... banyak kali orang kaya dan beriman ... memang yang disebut beriman cuma orang miskin ajah ??

bold : kan saya sudah tulis yang merah diatas ... semua calon itu modalnya sama gede ... jadi sangat sulit untuk dicari2 mana yang paling kuat atau paling gede (selain akhirnya cuma berujung jadi gosip ala infotainment)

biru : yeeeee ... memang pembangunan dengan tujuan untuk rakyat/kemaslahatan umat itu tidak butuh modal ?? ... rumah ibadah, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dsb itu dapat darimana uangnya kalau ga karena ada yang kasih modal ... turun dari langit ??

apakah demokrasi bertujuan untuk kekuasaan atau untuk kemaslahatan umat ... tergantung masing2 pemerintahnya ... tapi pada dasarnya semua tetap butuh modal (tetap butuh uang) >>> makanya anda baca tentang demokrasi pancasila deh .... supaya ngerti apa dan bagaimana isi kepala para ulama2 Islam era kemerdekaan yang dulu ikut merumuskan pancasila

kalau anda cuma belajar dari ulama arab ... di kepala mereka yang disebut demokrasi memang larinya cuma ke Eropa atau Amerika terus >>> FAKTANYA ... sudah semakin banyak ulama2 di dunia yang sedang belajar demokrasi pancasila

ada sekian banyak cendikiawan Islam Indonesia yang begitu dipuji diluar sana ketika mereka menjelaskan moral dan syariat Islam dalam pancasila ... tapi disini anda malah belajar pada mereka2 yang sebetulnya sedang merubah cara pandang mereka sendiri .... dan juga sedang belajar dengan ulama Indonesia terkait pancasila
Lha namanya aja "teori MENDINGAN". Pilihannya cuma yg "mendingan" diantara yang buruk lah... wkwkwk....

Demokrasi di Indonesia sekarang bukan lagi demokrasi pancasila tapi demokrasi LIBERAL, dimana "profit kekuasaan" hampir SEMUA balik ke CUKONG POLITIK, rakyat cuma kebagian ampasnya, itu khan JOMPLANG??. Kalo CUKONG2 demokrasi pancasila masih mendingan, misalnya; "profit kekuasaan" = seekor sapi, rakyat masih kebagian susu dan sedikit dagingnya. Ngga cuma dikasih tulang sama kulitnya doang spt CUKONG2 demokrasi liberal sekarang. wkwkwkwk...

Lha ngapain sih, jauh2 ke arab segala?? wkwkwkwk...
Jangan suka gitu ahh.. Lagian gw bukan andem (anti demokrasi) kak dee. Gw juga masih oke dengan pancasila. Kenapa?? Karena pancasila sila pertama = KETUHANAN YANG MAHA ESA, dan sisanya masih nyangkut dengan ajaran nabi Muhammad saaw.

Bagi gw, terserah mw belajar dari ulama manapun. Yang penting bukan ulama su'.
piss
@dee-nee wrote:merah : swear ... terus terang saya ga ngerti anda ngomong apa .... buat saya ga ada korelasi (hubungannya) antara pendukung nabi Muhammad yang MINORITAS vs INDIKATOR KEBENARAN vs Pemodal yang PALING KUAT KALAH, BISA DIBIKIN MENANG

>>> karena buat saya ... semua ini cuma keluar dari rumusan2 cocokmologi ala isi kepala anda saja

biru : maksud anda perang ide itu mungkin perang proxy kali ya ... atau perang kepentingan antara mereka2 yang terjebak dengan omongan-nya si asing, aseng, atau aswan >>> dan anda mungkin memang sudah masuk (termakan) dalam perang proxy seperti ini

ungu : golput 30% ... itu artinya yang tidak golput 70% >>> jumlah 70% ini sudah termasuk tinggi loh di dunia ... makanya Tunisia dan Myanmar juga sedang belajar bagaimana menjalankan sistem pemilu di Indonesia
Kak dee bilang
@dee-nee wrote:KALAU Ahok ternyata menang ... artinya TIDAK ADA BUKTI mayoritas muslim Jakarta "merasa"  di acak2 aqidah dan millahnya
Karena menurut kak dee, Demo 150rb orang di DKI dan demo2 lainnya tidak bisa jadi tolak ukur. Maka untuk membuktikan bahwa "si hebat pemberani" itu TIDAK TERBUKTI sbg "pengganggu" aqidah/millah umat islam (khususnya DKI), TUNGGU hasil pilkada. Kalo "si hebat pemberani" MENANG PILKADA, maka mayoritas orang DKI TIDAK menganggapnya sbg pengganggu. Artinya "si hebat pemberani" ada dipihak yang BENAR.

Itulah sebabnya gw bilang spt hukum RIMBA. Padahal belum tentu yang KUAT/BANYAK itu yang BENAR. Makanya gw coba membandingkan ke jaman dulu Muhammad saaw (dukungan minor)  vs abu jahal (dukungan major). Gitulah kira2.
@dee-nee wrote:merah : malah ... kalau dilihat2 ... justru jumlah golput naik setelah ada fatwa MUI (walaupun cuma sekitar 1 - 2% sih) ... hehehehehehehehe

yang atas : ya sudah lah ya kalau ga percaya dengan saya .... hehehehehehehe >>> saya bicara begitu cuma sekedar lihat dari hitung2an politik, dari pendapat2 positif warga jakarta itu sendiri, dari "repot-nya" lawan politik ahok mencari pesaing dsb >>> tolak ukur-nya justru bukan dari demo kemarin

karena buat saya demo kemarin ... tidak ada pengaruh-nya bagi mereka yang pro vs kontra ahok (bagi warga jakarta loh ya) >>> yang pro ya segitu2 ajah ... yang kontra ya segitu2 juga >>> ga menambah atau mengurangi masing2 jumlah mereka

tapi kita lihat saja nanti hasil pilkada >>> kan saya juga sudah bilang ... mungkin anda benar ... mungkin saya yang benar

Allahu A'lam

2 good  2 good
Kalo dilihat dari sisi pemanasan PILKADA, dan maraknya demo thd petahana (yang bukan cuma di DKI). Bisa jadi akan mengubah mindset masyarakat DKI yang tadinya mendukung, lalu balik badan karena blunder pada titik yang sensitif, dan disitulah titik lemah sang petahana.

Tapi sebaliknya strategi petahana dgn playing victim, bisa saja berhasil. Sangat mungkin prediksi kak dee yang benar.
@dee-nee wrote:merah : wong ayat-nya juga masih multi tafsir sih ... kok yang ga sependapat dengan anda malah disebut ngeyel ... hanya supaya tafsir anda terlihat lebih "sahih"

sisanya : ulang ya ... kalau anda mau realistis ... perang jaman sekarang itu namanya perang proxy ... atau perang kepentingan antara mereka2 yang terjebak dengan omongan-nya si asing, aseng, atau aswan >>> dan anda mungkin memang sudah masuk (termakan) dalam perang proxy seperti ini

perang proxy itu biasanya diisi oleh berita2 ga nyambung ntah dari mana2 tanpa check dan re-check ... penuh dengan propaganda berbalut tuduhan, hatred, fitnah dsb
Ayat itu muhkamat/tersurat, maknanya JELAS, ngga perlu tafsir berat2. LARANGAN utk BER-awliyaa/wali/sekutu/friends-allies dgn KRISTEN/YAHUDI. Dimana mereka "ba'duhum awliyau ba'dh". Kalo ada pertanyaan: Mana mungkin yahudi dan nasrani bersekutu?? Mereka bersekutu, namun tetap menjaga persaingan dalam pengaruh (Judeo-Christian). Itulah sebabnya Allah dalam al Quran hampir selalu menyandingkan kata2 "Yahudi-Kristen" dan kadang2 dengan "orang munafik" agar orang2 beriman WASPADA.

Perang proxy (boneka/wayang/puppet) itu umumnya terbatas utk PILKADA/PEMILU/PILPRES (dan urusan bagi2 kekuasaan lainnya). Termasuk bagian dari ghazwul fikri. Karena (menurut gw) yang sekarang terjadi di Indonesia adalah demokrasi liberal bukan lagi demokrasi pancasila.

Kalo ghazwul fikri lebih luas dan global, yaitu perang pemikiran yang dilancarkan oleh musuh2 islam, untuk menghancurkan/melemahkan IMAN ISLAM dengan berbagai cara (misalnya: menggunakan orang islam/mengaku islam/ulama/kyai/ustad yang corrupted), agar muslim menjadi tidak kaffah, takut dibilang kolot, militan, garis keras dlsb. Sehingga pemikiran orang islam perlahan-lahan bergeser menjadi spt orang2 yg difirmankan Allah pada ayat al Maidah:52.

Ini bukan negatif thinking. Ini adalah peringatan dari Allah :
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al Baqarah:120).
ehmm
@dee-nee wrote:maksud saya ... apapun itu (mau banyak atau sedikit contohnya) ... anda tidak bisa menilai akhlak dan keimanan seseorang HANYA dari sholat-nya saja .... untuk sholat kita sendiri saja ... kita tidak pernah tau apakah diterima atau tidak oleh Allah .... apalagi sholat orang lain

merah : yah terserah sih ... kalau anda merasa sudah bisa menilai iman, akhlak, bahkan (mungkin) surga neraka-nya orang lain hanya dari sholatnya saja ... ya terserah anda >>> tapi kalau buat saya ... semua itu tetap urusan Allah

underline : ya mungkin itu bedanya .... anggap saja saya sudah menjadi muslim yang HANYA mau berguru/berbaiat pada Nabi Muhammad SAW ... bukan pada selain beliau ... kalaupun mau merujuk pada Khulafaur Rasyidin masih oke lah ... karena mereka pun adalah murid (sahabat) langsung dari sang guru itu sendiri

jadi untuk jaman sekarang .... siapapun yang disebut guru bisa saya dapat darimana saja ... tidak hanya pada satu guru dan tidak perlu menggunakan hadist tersebut untuk menilai orang lain ... hadist itu hanya dipakai untuk menilai diri saya sendiri saja

begitu ...

piss
Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab. Kalo urusan nilainya A/B/C/D, memang urusan Allah. Tapi khan manusia udah dikasih tahu indikatornya :
Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar (Al-Ankabut:45)
Yang sholat aja bisa keji dan munkar apalagi yang ngga kenal sholat..!?

Ya ngga gitu juga, kak dee. Gw juga masih zhaliman li nafsih. Sholat ngga tepat waktu, subuh sering telat, males jamaah ke masjid dll. Masih jauh. Tapi minimal gw masih dan akan terus berusaha kearah yang lebih baik. (curcol) wkwkwk...
piss
@dee-nee wrote:merah : ya apa bedanya dengan fatwa MUI yang dalilnya pake ayat multi tafsir (cuma di Indonesia pula ... yang pake terjemahan awliya = pemimpin) ... bukannya sama juga >>> fatwa kemarin juga minim/lemah dalil. Tapi dengan muatan politik yang overload

hehehehehehe
Beda dong.
Karena (mungkin) situasi dan kondisi saat itu dan karena ngga ada ayat al Qur'an/hadits larangan GOLPUT, maka ulama ber-IJTIHAD dan mengeluarkan Fatwa 2009 itu.  

Kalo fatwa sekarang kuat DALILNYA (al Maidah:51). Maknanya TERSURAT, bukan tersirat. Yaitu mengenai LARANGAN menjadikan yahudi/kristen sebagai WALI/SEKUTU/ALLIES.
@dee-nee wrote:merah : ya silahkan anda gunakan kata "at least" itu di akhirat nanti ... ketika ditanya kenapa anda tetap memilih seorang muslim yang anda sudah tau berpotensi korup >>> mudah2an argumen "at least" anda bisa diterima

biru : lah ... yang bikin UU di Indonesia bisa taat kpd Allah dan Rasul ga ??

mungkin anda belum baca uraian saya yang ini ya

http://www.laskarislam.com/t10271-video-ahok-anda-dibohongi-alquran-surat-al-maidah-51-viral-di-medsos

#17
Khan udah dibahas sebelumnya,
Korupsinya itu tanggung jawab oknum sendiri kpd Allah, dan "at least" gw sudah "MENEGUR" melalui lisan/tulisan atw minimal dalam hati.

Sekarang sebaliknya, kalo giliran kak dee yg ditanya, KENAPA pilih KRISTEN (yg terang2an menghina agama Allah) sbg WALI, padahal udah ada LARANGAN via al maidah:51?? Apakah kira2 JAWABAN, (misalnya: demi kemajuan negara/daerah) bisa diterima?? Karena kemungkinan akan ditanya lagi. Teori dari mana kalo, manusia itu beribadah demi NEGARA/DAERAH?? hehehe...
usil

Misalnya UU legalisasi miras disahkan. Itu artinya para legislatif muslim tsb. TIDAK amanah thd pemilihnya yg muslim dimana itu ada konsekuensinya thd Allah. Kalo tidak ada yang berusaha MENEGUR MEREKA (spt yang sering dilakukan oleh FPI misalnya) maka pemilih muslim ikut BERDOSA karena tidak menjalankan fardhu kifayah.(CMIIW)
piss
@dee-nee wrote:ayat itu artinya ... taat pada hukum Allah, Rasul, dan para pemimpin yang diplih dengan cara yang baik dan benar

Allah tidak pernah melarang muslim untuk memilih non-muslim sebagai teman/allies SELAMA non-muslim itu tidak melakukan kerusakan, kezaliman, dan pelanggaran hukum Allah (sesuai dengan Al Maidah 51)

Rasulullah juga tidak pernah melarang bila non-muslim dijadikan sebagai teman/allies SELAMA sudah ada perjanjian damai dan ada trust diantara muslim vs non-muslim (sesuai dengan hadist)

Pemimpin di Indonesia dipilih secara demokratis ... dimana pilihan mayoritas yang kemudian terpilih sebagai pemimpin .. akan diberi waktu untuk memimpin selama waktu tertentu (artinya bukan selamanya) ... untuk menunjukkan apakah dia berhasil atau gagal ... sementara dia juga TERIKAT oleh hukum2 yang berlaku (sesuai dengan UU, sesuai dengan kesepakatan (musyawarah dalam parlemen) dan disetujui oleh seluruh ulama di Indonesia - ijma ulama)

dimana salahnya ??

terus terang saya bener2 ga ngerti gimana cara berpikir mereka2 yang kayanya "heboh" banget gitu dengan kepemimpinan Ahok ... seolah2 kita hidup di hutan dimana negara ini seperti tidak punya aturan dan hukum yang jelas ... seolah2 hukum di Indonesia adalah hukum rimba ... padahal mungkin mereka sendiri yang berperilaku ala hukum rimba

menyamakan ahok dengan firaun lah ... dengan abu jahal lah ... padahal jelas sistem kenegaraan pada masa Firaun dan Abu Jahal juga beda banget dengan sistem kenegaraan di Indonesia
Lho kok "pemimpin yang dipilih dengan cara yang baik dan benar"?? wkwkwk....
Wahai orang-orang yang BERIMAN, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta para pemimpin DIANTARA KALIAN (QS an-Nisa’:59).
Pemimpin diantara ORANG2 BERIMAN, pastinya SESAMA orang BERIMAN. Karena TIDAK SEPANTASNYA orang2 beriman dipimpin oleh orang yg TIDAK BERIMAN. Jika suatu saat sang pemimpin adalah orang yg tidak beriman (karena TERPAKSA), maka dia tidak WAJIB ditaati. Terutama jika dia terang2an menyerukan utk TIDAK MENTAATI ALLAH dan RASULNYA.

TRUST itu tidak berlaku untuk non-muslim yg sdh JELAS dan terang2an "mengganggu" aqidah/millah umat islam. Jika saat ini seorang pemimpin non-muslim BERANI mengacak-acak aqidah/millah umat islam "baru" lewat ucapan. Maka suatu saat dia akan BERANI mengacak-acak aqidah/millah umat islam dengan TANGANNYA. Peringatan dari al Quran mulai terlihat buktinya.

Gw juga bingung, kenapa sih harus MAKSA "si hebat dan pemberani" itu jadi gubernur DKI?? Dimana sih letak "hebat dan pemberani" dia?? Emangnya muslim yang baik/hebat/pemberani melebihi dia, ngga ada?? Apakah begitu lemah imanmu kak dee, hingga begitu mudah negatif thinking thd sesama MUSLIM?? hehehe...

Mungkin karena gaya kepemimpinannya yang bossy dan sok galak. Pemimpin bukan soal HEBAT/BERANI/GALAK doang. Pemimpin juga harus bijaksana dalam berbuat dan berbicara. Kalo ngga paham, lebih baik DIAM (jangan sok tahu) atw tanya kpd yang PAHAM.
piss
@dee-nee wrote:akhir kata (hihihihihihi) ... saya mohon maaf kalau ada kata2 saya yang tidak enak dibaca ... hanya sekedar diskusi dan kembalinya adalah pada pendapat masing2 ... kan yang paling tahu tentang kebenaran hanya Allah
piss piss
Yang tebal biru itu pernyataan yang kurang tepat.
Allah MEMANG Maha BENAR dan Maha Mengetahui. DENGAN PETUNJUK dari ALLAH, manusia juga bisa mengetahui akan kebenaran. ALLAH hanya memberi hidayah/petunjuk mana yang BENAR dan mana yg SALAH, KEPADA orang beriman dan bertaqwa. ALLAH TIDAK akan memberi hidayah/petunjuk bagi orang2 yang zhalim.
piss

Maaf kalo ada yg kepotong/kelewat...
piss
avatar
RHCP
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2942
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 06.12.13
Reputation : 65

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by ryo on Sun Oct 23, 2016 3:10 pm

a text without a context is a pretext


ryo
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Age : 36
Posts : 166
Kepercayaan : Islam
Location : Surabaya
Join date : 09.10.16
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by ryo on Sun Oct 23, 2016 4:03 pm

Ijin berpendapat saja, mas isaku...

Jika yang dipermasalahkan ialah soal terjemahan dari kata "auliya" antara:
1. Tafsir: kata "auliya" dapat diterjemahkan sbg pemimpin

versus

2. Tafsir: kata "auliya" tidak dapat diterjemahkan sbg pemimpin.


Maka burden of proof dipihak nomor 2.


--------------------------------------------------------------------------------

Jika yang dipermasalahkan ialah soal hermeneutika dari ayat Al Maidah 51 berdasarkan konteks antara:
1. Tafsir: larangan bagi umat muslim untuk memilih seorang non-muslim menjabat kedudukan seperti bupati/walikota/gubernur di negara Indonesia scr tanpa bersyarat (larangan bagi muslim tuk memilih non muslim menjabat kedudukan bupati/walikota/gubernur di RI hanya dikarenakan masalah latar belakang beda agama, tanpa melihat faktor lainnya - yg mana konsekwensi dari tafsiran tsb adalah seolah2 Quran mempromosikan RASISME)
Dgn kata lain: Al Maidah 51 sifatnya mutlak, bukan situasional.

versus

2. Tafsir: bukan larangan bagi umat muslim untuk memilih seorang non-muslim menjabat kedudukan seperti bupati/walikota/gubernur di negara seperti Indonesia scr tanpa bersyarat (bukan larangan bagi muslim tuk memilih non muslim menjabat kedudukan bupati/walikota/gubernur di RI  hanya dikarenakan masalah latar belakang beda agama, tanpa melihat faktor lainnya - yg mana konsekwensi dari tafsiran tsb adalah bukan seolah2 Quran mempromosikan RASISME)
Dgn kata lain: Al Maidah 51 sifatnya situasional, bukan mutlak.

Maka burden of proof ada dipihak masing2

nb: kata "RASISME" dlm kalimat "mempromosikan RASISME" dlm pengertian agama, bukan dlm pengertian ras..
dgn kata lain, deskripsinya yg saya maksud pada kalimat tsb adalah sebagai berikut:
kata "RASISME" dlm kalimat "mempromosikan RASISME" dlm pengertian: a product of the complex interaction in a given society of a race-based religion-based worldview with prejudice, stereotyping, and discrimination.
Saya menggunakan kata "RASISME" sebab tidak tahu istilah yg tepat.. demikian agar jelas.

Demikian pendapat saya, selanjutnya saya ikut nyimak saja krn saya tidak punya kapabilitas dlm hal ini.. hanya ingin tahu ajaran Islam yg sebenarnya ttg hal ini


ryo
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Age : 36
Posts : 166
Kepercayaan : Islam
Location : Surabaya
Join date : 09.10.16
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by njlajahweb on Sun Oct 23, 2016 7:53 pm

sekilas info...

kutipan dari http://www.kompasiana.com/lovelydarsem/membaca-nalar-ahok-terkait-al-maidah-51_580c9bf1da93730c1cfd67a7

Setelah mengumpulkan keterangan beberapa saksi, pihak kepolisian rencananya minggu depan akan mendatangkan ahli agama dan ahli bahasa untuk menindak lanjuti laporan dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Selain juga pembuktian keaslian rekaman pidato Gubernur DKI tersebut yang membawa-bawa surat Al-Maidah sewaktu memberikan sambutan di Kepulauan Seribu.

Dari tayangan video terucap kalimat "Bapak ibu nggak bisa pilih saya, karena dibohongin pake surat almaidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan ga bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gapapa. Karena ini kan hak pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja. Jadi bapak ibu ga usah merasa ga enak. Dalam nuraninya ga bisa pilih Ahok"

Setelah transkip kalimat tersebut diedit oleh Buni Yani yang diduga adalah pendukung calon pasangan Anies-Sandiaga dengan menghilangkan kata "pakai", masyarakat pun bereaksi keras dan bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa Ahok telah menista agama hingga memicu unjuk rasa dibeberapa kota. Tuduhan penistaan agama telah melekat pada sang petahana dan ditudingkan oleh para pendemo. Namun ada beberapa pihak menganggap rekomendasi MUI sarat kepentingan politik melihat keputusan yang diambil kemungkinan berdasarkan desakan atau masukan ormas yang selama ini berseberangan dengan Ahok, juga ketuanya, KH. Maruf Amin, dikenal latar belakangnya sebagai ulama dan politisi.

Jabatan politik yang pernah dipegang Maruf Amin tercatat pernah menjadi Ketua Fraksi PPP DPRD DKI Jakarta dan Pimpinan Komisi A DPRD DKI Jakarta. Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (periode pertama), Anggota MPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ketua Komisi VI DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ketika SBY menjabat presiden, ketua MUI tersebut pernah diangkat menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Kehidupan Beragama (2007-2009) dan Hubungan Antar Agama (2010-2014). Saat pasangan Agus-Sylvi berkunjung kepada beliau, secara tersirat adanya pemberian dukungan pada putra sulung mantan presiden ke 6 tersebut. Parpol yang pernah menjadi tempat beliau meniti karir, saat ini adalah juga pengusung sang putra mahkota Cikeas.

Bila mencermati kalimat yang diucapkan Ahok dan dipahami secara netral, tidak perlu ahli bahasa untuk menerangkannya, masyarakat awam bisa menilai tidak ada maksud menghina atau menista agama. Pengertian kalimat dibohongi pakai Al Maidah jelas artinya sangat berbeda bila kata "pakai" dihilangkan. Makan pakai sendok tidak sama artinya dengan makan sendok. Alasan Ahok mengucapkan hal tersebut, juga bukan atas penafsirannya sendiri sebagai non muslim. Di kalangan umat islam  surat Al Maidah masih menjadi polemik karena dianggap multi tafsir. Dari sebutan awliya yang ditafsirkan bukan hanya pemimpin, hingga boleh tidaknya umat islam memilih pemimpin dari kalangan non muslim. Mereka yang berpolemik memiliki argumen masing-masing.

Jadi Ahok tidak menafsirkan sendiri isi Al Maidah 51, namun mengambil tafsiran dari kalangan muslim yang menganggap makna awliya bukan pemimpin dan juga tidak ada larangan memilih pemimpin dari kaum non muslim. Dari pemahaman nalar Ahok inilah maka muncul kata "dibohongi", karena merujuk dari tafsiran tersebut. Pengertian yang masih multi tafsir tapi diklaim sepihak bahwa umat muslim tidak boleh memilih pemimpin non muslim dianggap Ahok sebagai suatu pembohongan. Bukan Al Quran nya yang berbohong tapi orang-orang yang mengklaim inilah yang dimaksud oleh Ahok telah membohongi. Selanjutnya Ahok pun telah meminta maaf pada umat islam khususnya yang merasa tersinggung oleh ucapannya.

Sebagai seorang Gubernur, alasan Ahok lebih condong mengamini tafsiran ini karena sesuai dengan jabatan yang dipegangnya untuk menegakkan dan menjunjung tinggi konstitusi diatas segala hukum. Sesuai dengan konteks NKRI yang beridiologi Pancasila. Menjamin hak setiap warganegara, tidak memandang latar belakang SARA dan memiliki hak sama untuk dipilih serta memilih pemimpin.

Selanjutnya terkait ucapan "karena saya takut masuk ke neraka" dan "dibodohi". Dalam penalaran Ahok, apabila seseorang telah salah memilih pemimpin, tidak serta merta lalu langsung dimasukkan ke neraka. Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang serta Maha Pengampun, pastinya tidak akan sekejam itu. Pertimbangan amal dan ibadah tentu juga akan diperhitungkan untuk mengampuni "kesalahan" yang diperbuatnya. Jadi tidak ujug-ujug Tuhan akan menempatkan didalam neraka. Salah memilih pemimpin inipun juga belum jelas kebenarannya, apakah  larangan memilih kaum non muslim menjadi pemimpin sudah menjadi kepastian yang akan membawa ke neraka. Dari pemahaman tersebut maka keluar dari mulut Ahok kata "dibodohi" tersebut.


Sebenarnya penulis tidak ingin membahas hal terkait Al Maidah ini karena menganggap pembaca cukup cerdas memaknainya bila tidak ada tendensi kebencian, namun karena desakan beberapa teman ingin mengetahui pandangan penulis, maka muncul artikel ini  yang hanya sekedar mencoba membaca cara berpikir Ahok dan penalarannya terkait Al Maidah 51. Seperti yang dikatakannya, tidak ada maksud sama sekali menista umat islam apalagi Al Quran. Perkataannya hanya ditujukan pada orang-orang tertentu yang selalu menggunakan ayat tersebut untuk propaganda melarang memilih pemimpin dari non muslim. Ahok pun kemungkinan besar tidak akan menyinggung ayat tersebut bila tidak ada orang yang memulai menyuarakannya dalam ranah politik negara berazas demokrasi berlandaskan Pancasila dan konstitusi yang tidak menghalangi hak tiap warganegaranya menjadi pemimpin.

Walaupun penulis bukan berlatar belakang ahli bahasa apalagi ahli agama, namun hanya seorang penggembira di Kompasiana, tapi apabila pihak kepolisian akan menjadikan artikel ini sebagai rujukan minggu depan melanjutkan proses aduan dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, maka dengan suka rela penulis akan menghibahkannya. Wassalam..
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6099
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by njlajahweb on Sun Oct 23, 2016 8:35 pm

avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6099
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by njlajahweb on Sun Oct 23, 2016 8:37 pm

avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 6099
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by dee-nee on Tue Oct 25, 2016 12:51 pm

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:
merah : anda maksudnya mau bicara tentang kasus apa ya ?? >>> sumber waras terkait statament BPK ??

kasus ini sudah pernah saya bahas dengan bung isaku ... dan sudah saja jelaskan juga kenapa ahok tidak bisa disebut terindikasi korupsi dalam kasus sumber waras ...

mau percaya atau tidak dengan penjelasan saya ... ya kembali ke masing2 orang ... toh nyatanya argumen KPK (yang membebaskan ahok) juga ga jauh beda dengan penjelasan saya ... hehehehehehehe

piss  piss
Oiya, argumen KPK atas audit BPK (indikasi korupsi sumber waras) itu "Tidak ada NIAT JAHAT" khan ya...
Hebat juga KPK, bisa ngelihat NIATAN dalam HATI?? wkwkwk...
usil

"Tidak ada NIAT JAHAT" itu konteksnya bahasa hukum dong ah .... KPK kan juga ga pernah bicara tentang "dalam hati seseorang"

maksud KPK "Tidak ada NIAT JAHAT" artinya .... orang tersebut tidak terindikasi merusak, mengambil keuntungan atau merugikan negara ... tidak terindikasi melakukan korupsi >>> sesuai penyelidikan yang sdh dilakukan KPK

begitu ... hehehehe

-----------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:biru : penduduk muslim jakarta juga tidak bersekutu dalam hal aqidah/millah dengan ahok ... konteksnya tetap lakum dinukum waliyadin seperti apa yang diajarkan Nabi.... dan (terkait yang biru) dalam konteks hubungan antara manusia-pun (hablum minannas) .... nyatanya Nabi tetap berteman dengan non-muslim berdasarkan trust >>> justru aneh kalau anda sepertinya susah sekali memahami apa yang disebut hablum minannas

merah : dalam urusan memilih pemimpin pun ... beliau juga ga pernah memilih orang2 yang dianggap tidak amanah (tidak dipercayai) oleh Nabi ... walaupun statusnya orang2 itu sudah muslim >>>> dan yang seperti ini logis ... ga punya trust kok dipilih

lagipula Al Quran juga tidak pernah melarang muslim untuk memilih non-muslim sebagai teman/allies ... selama mereka tidak melakukan kerusakan dst
Rasulullah PERCAYA dan bekerjasama dengan non-muslim dalam hal APA?? Apakah termasuk dalam menghina ayat al Quran/ibadah qurban/ulama?? Kalo ada muslim yang SETUJU/MENDIAMKAN/MEMBELA "si hebat pemberani" dalam "menggangu" aqidah/millah/tata cara ibadah muslim, itu artinya dia BERSEKUTU dalam hal tsb. Dan orang2 tsb tergolong sbg orang zalim yang tidak diberi petunjuk oleh Allah.

merah : yang pasti Rasulullah juga tidak akan langsung percaya pada berita2 yang tidak ada bukti dan faktanya >>>> justru beliau tidak suka dengan mereka2 yang terlalu "berlebihan" dalam hal agama .... apalagi bila sikap "berlebihan" itu lebih didasari oleh kebencian/ketidak sukaan pada orang2 tertentu >>> betul atau tidak ??

sisanya : point saya adalah .... tidak ada bukti Ahok menggangu aqidah/millah/tata cara ibadah muslim (khususnya di Jakarta) >>> mau dipaksa2kan seperti apapun juga ... dengan berita setengah2 seperti gimanapun juga .... nyatanya tetap yang biru >>> mau gimana lagi ??

------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:Kenapa "si hebat pemberani" itu BERANI "mengganggu"? Karena dia MERASA DIDUKUNG oleh orang2 semacam ini :

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.
Apakah gusur rumah muslim dgn cara zalim dan nguruk pinggiran laut, NGGA menimbulkan KERUSAKAN??
piss

merah : loh bukannya terbalik ?? ... ahok didukung justru karena dia berani melawan orang2 yang selalu menggangu dia (apalagi "mengganggu" nya pake bawa2 agama)

biru : gimana kalau kita lihat saja nanti ... siapa yang sebetulnya didatangkan kemenangan oleh Allah ...

muslim2 yang mendoakan ahok supaya diberi kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi sekian banyak fitnah ... atau ormas2 Islam (tertentu) yang mendoakan ahok supaya dipenjara atau bahkan ada yang berharap agar ahok dibunuh ??

apakah saya sebut muslim atau ormas Islam (yang ungu) ... semua juga syahadat ... semua juga KTP-nya Islam .... dan toh semua juga kembali-nya pada keadilan Allah kan .... hanya Allah yang bisa menilai ... siapa dari mereka2 yang bersyahadat ini ... yang lebih tepat disebut munafik

point-nya sih yang coklat ... hehehehehehehe

2 good

---------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : kenapa anda tidak berpikir ... bahwa nanti di akhirat mungkin anda juga akan ditanya "apakah begitu lemah iman Islam-mu hingga begitu mudah kamu berpikir negatif terhadap seseorang ... berburuk sangka dan memusuhi suatu kaum terkait suatu hal yang tidak 100% kamu ketahui kebenarannya ??"

karena terus terang saya ga ngerti gitu logika anda ... anda tuh hanya fokus pada ahok ... seolah2 ahok adalah SATU-SATU nya non-muslim yang ada di Indonesia .... ntah kalimat kebencian model apa yang "merasuki" kepala anda terkait ahok ... sampai urusan pilkada saja .. anda sambung2 ke urusan menjaga iman

>>> hellooooowwww ... sekarang ini anda sedang hidup di planet bumi dimana sudah banyak JUTAAN MUSLIM BERTEMAN (ber-allies, dan bersekutu) DENGAN NON-MUSLIM (tanpa harus nyambung ke urusan akidah atau keimanan) ....

please deh ... anda bukan sedang tinggal di planet antah barantah .... dengan halusinasi seolah2 hubungan manusia tidak punya koneksi (ikatan) satu sama lain (dalam hal perdagangan, ekonomi, kesehatan, dsb) .... seolah2 muslim dan non-muslim adalah dua spesies berbeda ala singa yang ga bisa hidup dengan ikan paus ....

ungu : golput itu bukan melepas diri dong ah .... golput itu cuma sesimple kalimat "saya bingung dan ga punya pilihan dalam pilkada" ... sudah ... cuma ini saja batasan yang diketahui manusia ... artinya ga usah harus dipanjang2in sampai harus menilai iman seseorang

karena anda golput pun ... juga tidak membuat anda menjadi lebih beriman dibanding mereka yang ga golput >>> lah itu semua partai islam juga ga ada yang golput ... apa artinya iman anda lebih baik dari mereka ??

Lha UDAH JELAS "si cadangan yang hebat dan pemberani" itu terang-terangan dan berkali2 "menganggu" ketenangan umat islam (minimal) di Jakarta. Apalagi dengan statusnya sbg pejabat publik (walopun jack-pot).

Kalo dia ngga USIL ngurusin aqidah/millah/ibadah/ayat al-quran/ulama dll. muslim juga adem ayem?? Gw justru heran sama muslim yang ngebelain orang yang "mengganggu" aqidah/millah/ibadah/ayat al-quran/ulama dll.??

Buruk sangka?? Lha dia sendiri ngaku salah dan minta maaf. Hellloo....
piss
Kata yang golput (karena gw ngga golput): GOLPUT itu bukan bingung/pasrah. GOLPUT itu wara' atw berhati2. Maka mendingan berlepas diri dari memilih agar terhindar dari tanggung jawab kepada Allah.
(Maaf kalo salah, CMIIW)

merah : sudah jelas gimana ya ?? sudah jelas bahwa dia diserang oleh banyak fitnah dan kebencian ??? >>> kan tetap saja semua memang harus dilihat dulu apakah berdasarkan bukti dan fakta atau tidak

biru : kalau yang anda maksud USIL disini ... adalah sekian banyak bantuan dan manfaat yang diberikan ahok pada muslim di Jakarta ... ya mau gimana ?? itu kan bagian dari tugas gubernur ... moso gubernur tidak memberi bantuan, manfaat dan dukungan pada warga-nya (seperti yang dilakukan gubernur2 ber KTP Islam lainnya) ??

ungu : lah ... ahok minta maaf kan maksudnya memang untuk "mengalah" pada manusia2 (suci) ... yang suka bikin gaduh sambil bawa2 agama ... ahok tidak minta maaf karena dia salah ngomong

minta maaf ahok itu seharus-nya dijadikan cermin bagi manusia2 (suci) tersebut ... supaya mereka tidak lagi membuat gaduh (apalagi dengan ancaman) sambil bawa2 agama

minta maaf ahok sebaiknya bukan malah dikeplok2 lalu bilang "Yes ... lihat dong betapa sucinya KTP kita ... karena bisa memaksakan (dengan kegaduhan dan ancaman) hingga akhirnya ahok minta maaf "

sisanya tentang GOLPUT >>> ya ga apa2 kalau begitu pendapat anda ... tapi maksud saya sebelumnya ... apakah seseorang mau golput atau tidak golput .. semua itu tidak menjadi tolak ukur iman seseorang >>> betul atau tidak ??

karena kalau ternyata apa yang dipilih memang benar dan sudah sesuai dengan tujuan ... ya malah lebih bagus lagi toh

2 good

---------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:justru orang2 seperti anda yang saya lihat sedang "ketakutan" luar biasa bila ahok terpilih jadi gubernur ... seolah2 negara sedang dalam keadaan darurat ... ntah darurat model apa

merah : ya ... dan anda memilih untuk jadi orang yang paranoid ... anda menjadi seorang kristenphobia atau cinaphobia (saya ga tau) ... tapi yang pasti secara mental dan psikologis .... anda sebelas dua belas dengan mereka2 yang kena islamphobia di eropa sana

kenapa saya sebut begini ?? >>> karena faktanya ada banyak JUTAAN MUSLIM BERTEMAN (ber-allies, dan bersekutu) DENGAN NON-MUSLIM (tanpa harus nyambung ke urusan akidah atau keimanan)

jadi gimana ?? atau anda mau bilang bahwa urusan memilih pemimpin berhubungan dengan akidah ??

>>> gini ya ... ahok syahadat atau tidak syahadat ... apa yang dia lakukan, kebijakan dan program2nya juga akan sama saja pada warga jakarta ..... ahok syahadat sekalipun ..... juga ga akan merubah dia langsung jadi manusia paling suci seluruh dunia ... atau untuk kemudian gabung dengan FPI ... atau masuk partai Islam

please deh ...

Orang2 Seperti gw?? Parno?? Bukannya "si hebat pemberani" itu yang kabur ketakutan krn dikejar2 warga?? wkwkwk...
Lha emangnya selama 2 tahun ini dia "bukan gubernur" gitu?? Ada2 aja deh... hehehe..
Ngga ada urusannya dia itu cina/kristen..!? Yang penting dia baik2 dan ngga utak-atik aqidah/millah/ibadah/ayat al-quran/ulama dll. Kalo dia emang ntar kepilih lagi, (walopun TERPAKSA) ya silakan.

merah : sip ... jadi eyel2an tentang Al Maidah 51 juga tidak perlu dijadikan dalil dalam pilkada kan ya ??

setuju

2 good  2 good

@RHCP wrote:Secara pribadi atw kelompok; berteman, kerjasama, tolong menolong dan hal lain, itu MUBAH. Tapi jika tidak ada "DARURAH"-NYA. Maka (bagi gw) MENYERAHKAN/MEMPERCAYAKAN SEMUA URUSAN (sbg warga negara) kepada yang TIDAK beriman KEPADA ALLAH, WAJIB ditinggalkan.

Lagian siapa juga yg pengen banget dia masuk islam?? Please deh....
Kalo mw ADEM, cukup dia JAGA UCAPAN dan jangan "sok tahu" thdp urusan agama islam. Selesai.
usil

biru : bagi anda kan ya ... artinya bukan bagi penduduk di Ramallah (kasus-nya sudah saya sampaikan) .... bukan juga bagi muslim2 di negara mayoritas non-muslim ... atau bahkan bukan juga bagi muslim di negara mayoritas muslim sekalipun (karena nyatanya ada banyak kasus dimana non-muslim boleh2 saja dipilih sebagai pemimpin di negara/wilayah yang mayoritas muslim)

sisanya : moso seh "sok tau" ?? .... bukannya perilaku mereka yang suka jualan ayat memang sudah jadi berita dimana2 ?? ... sudah masuk banyak media masa dibilang sok tau ....

justru .... sebaiknya umat di agama tersebut yang "bercermin" dan melakukan perbaikan ... bukan malah "ingkar (atau menutup2i) fakta" dan bersikap anti-kritik

kan bersikap lapang dada dengan menerima "keburukan" diri sendiri sambil terus melakukan perbaikan ... itu jauh lebih baik ... daripada bersikap anti-kritik seperti yang dilakukan kelompok2 tertentu (hanya karena mereka sudah dapet KTP sebagai manusia suci) .... lalu membuat kegaduhan dengan caci maki dan ancaman (yang justru sangat jauh dari ADEM)

piss  piss

-----------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:ungu : jiaaahhh ... banyak kali orang kaya dan beriman ... memang yang disebut beriman cuma orang miskin ajah ??

bold : kan saya sudah tulis yang merah diatas ... semua calon itu modalnya sama gede ... jadi sangat sulit untuk dicari2 mana yang paling kuat atau paling gede (selain akhirnya cuma berujung jadi gosip ala infotainment)

biru : yeeeee ... memang pembangunan dengan tujuan untuk rakyat/kemaslahatan umat itu tidak butuh modal ?? ... rumah ibadah, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dsb itu dapat darimana uangnya kalau ga karena ada yang kasih modal ... turun dari langit ??

apakah demokrasi bertujuan untuk kekuasaan atau untuk kemaslahatan umat ... tergantung masing2 pemerintahnya ... tapi pada dasarnya semua tetap butuh modal (tetap butuh uang) >>> makanya anda baca tentang demokrasi pancasila deh .... supaya ngerti apa dan bagaimana isi kepala para ulama2 Islam era kemerdekaan yang dulu ikut merumuskan pancasila

kalau anda cuma belajar dari ulama arab ... di kepala mereka yang disebut demokrasi memang larinya cuma ke Eropa atau Amerika terus >>> FAKTANYA ... sudah semakin banyak ulama2 di dunia yang sedang belajar demokrasi pancasila

ada sekian banyak cendikiawan Islam Indonesia yang begitu dipuji diluar sana ketika mereka menjelaskan moral dan syariat Islam dalam pancasila ... tapi disini anda malah belajar pada mereka2 yang sebetulnya sedang merubah cara pandang mereka sendiri .... dan juga sedang belajar dengan ulama Indonesia terkait pancasila
Lha namanya aja "teori MENDINGAN". Pilihannya cuma yg "mendingan" diantara yang buruk lah... wkwkwk....

Demokrasi di Indonesia sekarang bukan lagi demokrasi pancasila tapi demokrasi LIBERAL, dimana "profit kekuasaan" hampir SEMUA balik ke CUKONG POLITIK, rakyat cuma kebagian ampasnya, itu khan JOMPLANG??. Kalo CUKONG2 demokrasi pancasila masih mendingan, misalnya; "profit kekuasaan" = seekor sapi, rakyat masih kebagian susu dan sedikit dagingnya. Ngga cuma dikasih tulang sama kulitnya doang spt CUKONG2 demokrasi liberal sekarang. wkwkwkwk...

Lha ngapain sih, jauh2 ke arab segala?? wkwkwkwk...

Jangan suka gitu ahh.. Lagian gw bukan andem (anti demokrasi) kak dee. Gw juga masih oke dengan pancasila. Kenapa?? Karena pancasila sila pertama = KETUHANAN YANG MAHA ESA, dan sisanya masih nyangkut dengan ajaran nabi Muhammad saaw

Bagi gw, terserah mw belajar dari ulama manapun. Yang penting bukan ulama su'.
piss

merah : kalaupun anda bilang seperti itu ... yang begini tidak hanya terjadi dalam 2 tahun kepemimpinan ahok >>> tapi sudah sejak jaman orba yang dipimpin oleh manusia2 seukuwah anda juga >>> toh sebelumnya kelompok2 Islam itu juga diam saja ... ntah mereka yang memang jadi bagian dari demokrasi liberal itu sendiri atau gimana .... atau mungkin karena mereka berpikir yang penting KTP-nya sudah Islam

jadi .... ngapain coba repot dengan demokrasi LIBERAL yang sudah melenceng dari pancasila ?? >>> kan buat kelompok2 Islam ini apapun bentuk kerusakan yang ditimbulkan oleh si pemimpin ... yang penting KTP si pemimpin sudah Islam ... jadi sudah pasti masuk surga

biru : kan sebelumnya anda bicara tentang perang IDE (ghazwul fikri)

saya cuma bilang ... jaman sekarang ga ada yang namanya perang IDE (ghazwul fikri) ... yang ada cuma perang proxy atau perang kepentingan antara mereka2 yang terjebak dengan omongan-nya si asing, aseng, atau aswan

hijau : ga lah ... saya ga pernah bilang anda anti pancasila kok ... saya cuma menjelaskan saja ... kan diawal anda bilang bahwa demokrasi tujuannya untuk kekuasaan (bagi) pemodal .... saya hanya jawab : tergantung pemerintah-nya ... dan sebetulnya demokrasi pancasila tidak begitu

----------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : swear ... terus terang saya ga ngerti anda ngomong apa .... buat saya ga ada korelasi (hubungannya) antara pendukung nabi Muhammad yang MINORITAS vs INDIKATOR KEBENARAN vs Pemodal yang PALING KUAT KALAH, BISA DIBIKIN MENANG

>>> karena buat saya ... semua ini cuma keluar dari rumusan2 cocokmologi ala isi kepala anda saja

biru : maksud anda perang ide itu mungkin perang proxy kali ya ... atau perang kepentingan antara mereka2 yang terjebak dengan omongan-nya si asing, aseng, atau aswan >>> dan anda mungkin memang sudah masuk (termakan) dalam perang proxy seperti ini

ungu : golput 30% ... itu artinya yang tidak golput 70% >>> jumlah 70% ini sudah termasuk tinggi loh di dunia ... makanya Tunisia dan Myanmar juga sedang belajar bagaimana menjalankan sistem pemilu di Indonesia

Kak dee bilang
@dee-nee wrote:KALAU Ahok ternyata menang ... artinya TIDAK ADA BUKTI mayoritas muslim Jakarta "merasa"  di acak2 aqidah dan millahnya
Karena menurut kak dee, Demo 150rb orang di DKI dan demo2 lainnya tidak bisa jadi tolak ukur. Maka untuk membuktikan bahwa "si hebat pemberani" itu TIDAK TERBUKTI sbg "pengganggu" aqidah/millah umat islam (khususnya DKI), TUNGGU hasil pilkada. Kalo "si hebat pemberani" MENANG PILKADA, maka mayoritas orang DKI TIDAK menganggapnya sbg pengganggu. Artinya "si hebat pemberani" ada dipihak yang BENAR.

Itulah sebabnya gw bilang spt hukum RIMBA. Padahal belum tentu yang KUAT/BANYAK itu yang BENAR. Makanya gw coba membandingkan ke jaman dulu Muhammad saaw (dukungan minor)  vs abu jahal (dukungan major). Gitulah kira2.

merah : oke ... jadi begitu ya pendapat anda .... maka BILA ternyata Ahok kalah (artinya banyak warga DKI sependapat dengan yang 150 ribu) >>> hasil ini-pun TIDAK MENJADI TOLOK UKUR bahwa yang 150 rb tersebut benar ... ya kan ??

karena seperti anda bilang .... belum tentu yang KUAT/BANYAK itu yang BENAR

biru : ya ... masalahnya untuk jaman sekarang ... siapa coba yang bisa menilai mana yang disebut pendukung Muhammad SAW vs pendukung Abu Jahal ?? (apalagi bila kedua kelompok sudah sama2 muslim) >>> apakah hanya karena jumlah-nya minoritas lalu sudah bisa dipastikan mereka adalah pendukung Muhammad SAW ?? (begitu juga sebaliknya)

maka balik ke ungu

jadi ... maksud saya tentang menang vs kalah dalam pilkada >>> kalau Ahok menang ... artinya TIDAK ADA BUKTI mayoritas muslim Jakarta "merasa"  di acak2 aqidah dan millahnya >>> sudah ini saja

saya hanya bicara tentang "merasa" ... bahwa tidak ada bukti mereka merasa seperti yang anda sebutkan >>> saya tidak bicara siapa yang benar atau salah antara yang menang vs kalah ini

apalagi bila harus nyambung tentang banar vs salah ... hitam vs putih berkaitan dengan Muhammad SAW vs Abu Jahal

------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : malah ... kalau dilihat2 ... justru jumlah golput naik setelah ada fatwa MUI (walaupun cuma sekitar 1 - 2% sih) ... hehehehehehehehe

yang atas : ya sudah lah ya kalau ga percaya dengan saya .... hehehehehehehe >>> saya bicara begitu cuma sekedar lihat dari hitung2an politik, dari pendapat2 positif warga jakarta itu sendiri, dari "repot-nya" lawan politik ahok mencari pesaing dsb >>> tolak ukur-nya justru bukan dari demo kemarin

karena buat saya demo kemarin ... tidak ada pengaruh-nya bagi mereka yang pro vs kontra ahok (bagi warga jakarta loh ya) >>> yang pro ya segitu2 ajah ... yang kontra ya segitu2 juga >>> ga menambah atau mengurangi masing2 jumlah mereka

tapi kita lihat saja nanti hasil pilkada >>> kan saya juga sudah bilang ... mungkin anda benar ... mungkin saya yang benar

Allahu A'lam

2 good  2 good

Kalo dilihat dari sisi pemanasan PILKADA, dan maraknya demo thd petahana (yang bukan cuma di DKI). Bisa jadi akan mengubah mindset masyarakat DKI yang tadinya mendukung, lalu balik badan karena blunder pada titik yang sensitif, dan disitulah titik lemah sang petahana.

Tapi sebaliknya strategi petahana dgn playing victim, bisa saja berhasil. Sangat mungkin prediksi kak dee yang benar.

merah : ya bisa saja seperti itu ... tapi kalau menurut saya tidak >>> kenapa ?? .... karena yang disebut "menetapkan untuk memilih ahok atau tidak memilih ahok" ... itu sudah jadi mindset yang mereka bawa terus menerus (mungkin sejak jaman Jokowi nyagub)

misalnya : mereka2 yang sudah menetapkan untuk mendukung ahok SEJAK AWAL  ... mindset mereka justru sudah TIDAK MAU bicara soal SARA terkait pilkada ... itulah kenapa sejak awal mereka sudah pilih ahok ... apalagi bila kemudian mereka memandang positif kinerja ahok selama 2 tahun (diluar benar atau salah pandangan mereka ini loh ya)

sebaliknya : mereka2 yang sudah menetapkan untuk TIDAK mendukung ahok SEJAK AWAL .... mindset mereka (mungkin) memang melihat issue SARA sebagai hal yang penting dalam pilkada ... walaupun memang bukan hanya masalah SARA ... tapi bisa saja mereka tidak suka dengan karakter kepemimpinan atau cara bicara ahok dsb ...

jadi maksud saya ... issue Al Maidah 51 ini ... pada dasarnya tidak ada bedanya dengan issue "sara" lain terkait ahok .... ada atau tidak ada kasus Al Maidah  ... tidak merubah mindset si pemilih apakah mereka akan memilih atau tidak memilih ahok >>> kalaupun ada perubahan .... menurut saya kecil sekali (balik ke ungu)  

jadi .... ya kita lihat saja hasil pilkada nanti ...  karena masih banyak juga suara swing voters yang ntah masih ragu2 untuk milih ... atau memang sudah kekeuh untuk menjadi golput

2 good

-------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : wong ayat-nya juga masih multi tafsir sih ... kok yang ga sependapat dengan anda malah disebut ngeyel ... hanya supaya tafsir anda terlihat lebih "sahih"

sisanya : ulang ya ... kalau anda mau realistis ... perang jaman sekarang itu namanya perang proxy ... atau perang kepentingan antara mereka2 yang terjebak dengan omongan-nya si asing, aseng, atau aswan >>> dan anda mungkin memang sudah masuk (termakan) dalam perang proxy seperti ini

perang proxy itu biasanya diisi oleh berita2 ga nyambung ntah dari mana2 tanpa check dan re-check ... penuh dengan propaganda berbalut tuduhan, hatred, fitnah dsb

Ayat itu muhkamat/tersurat, maknanya JELAS, ngga perlu tafsir berat2. LARANGAN utk BER-awliyaa/wali/sekutu/friends-allies dgn KRISTEN/YAHUDI. Dimana mereka "ba'duhum awliyau ba'dh". Kalo ada pertanyaan: Mana mungkin yahudi dan nasrani bersekutu?? Mereka bersekutu, namun tetap menjaga persaingan dalam pengaruh (Judeo-Christian). Itulah sebabnya Allah dalam al Quran hampir selalu menyandingkan kata2 "Yahudi-Kristen" dan kadang2 dengan "orang munafik" agar orang2 beriman WASPADA.

Perang proxy (boneka/wayang/puppet) itu umumnya terbatas utk PILKADA/PEMILU/PILPRES (dan urusan bagi2 kekuasaan lainnya). Termasuk bagian dari ghazwul fikri. Karena (menurut gw) yang sekarang terjadi di Indonesia adalah demokrasi liberal bukan lagi demokrasi pancasila.

Kalo ghazwul fikri lebih luas dan global, yaitu perang pemikiran yang dilancarkan oleh musuh2 islam, untuk menghancurkan/melemahkan IMAN ISLAM dengan berbagai cara (misalnya: menggunakan orang islam/mengaku islam/ulama/kyai/ustad yang corrupted), agar muslim menjadi tidak kaffah, takut dibilang kolot, militan, garis keras dlsb. Sehingga pemikiran orang islam perlahan-lahan bergeser menjadi spt orang2 yg difirmankan Allah pada ayat al Maidah:52.

Ini bukan negatif thinking. Ini adalah peringatan dari Allah :

merah : muslim di Indonesia sudah membuat kesepakatan dengan non-muslim dalam 4 pilar ... bahwa kedudukan muslim dan non-muslim setara antara hak dan kewajiban dalam konteks berbangsa dan bernegara

“Kecuali orang-orang musyirikin yang kamu mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu. maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa” [at-Taubah/9]

dalam konteks ini ... kalau ada kelompok2 tertentu yang tidak mau taat pada kesepakatan 4 pilar ... ya sudah ... silahkan mereka yang mengundurkan diri ... karena mayoritas muslim tetap taat pada kesepakatan yang sudah ditetapkan (baca yang pink) ... kan perintah dalam QS 9:4 juga sudah jelas (size 18)

sisanya : perang proxy kok cuma urusan pemilu .... ya ga lah ... perang proxy mah sudah masuk kemana2 ... Abu Sayaff yang nyulik2 orang pun ga ada hubungannya dengan pemilu di filipina ... islamphobia terjadi juga bukan hanya waktu pemilu .... toh nyatanya keberadaan mereka (Abu Sayaff dan islamphobia) adalah bagian dari perang proxy itu sendiri

biru : atau misalnya .... menggunakan orang islam/mengaku islam/ulama/kyai/ustad yang corrupted, agar muslim menjadi tidak kaffah, takut disebut munafik bila bersikap toleran, damai, membela keadilan, tidak dipenuhi hatred dan permusuhan dlsb. Sehingga pemikiran orang islam perlahan-lahan bergeser menjadi orang2 radikal seperti ISIS (yang tidak toleran, tidak damai, tidak mengenal keadilan, dan dipenuhi hatred serta permusuhan)

apa bedanya ?? ... perang proxy juga bukan ini namanya

hijau : apa yang saya lakukan dan katakan terkait ahok ... (menurut saya) juga sudah sesuai dengan perintah Allah

kenapa ?? >>> karena saya haqul yakin ... Allah tidak pernah memerintahkan umat-Nya untuk negative thinking pada suatu hal yang tidak ada buktinya (misalnya terkait ahok) ... walaupun anda bilang "Allah memerintahkan kita untuk berhati2"

berhati2 itu bukan artinya kita harus habis2an mencurigai orang tertentu (tanpa dalil dan bukti) ... apalagi dengan cara pukul rata atas nama SARA mereka yang justru berakhir dengan fitnah atau buruk sangka .... karena semua itu tetap harus dicari bukti dan faktanya

--------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al Baqarah:120).
ehmm
@dee-nee wrote:maksud saya ... apapun itu (mau banyak atau sedikit contohnya) ... anda tidak bisa menilai akhlak dan keimanan seseorang HANYA dari sholat-nya saja .... untuk sholat kita sendiri saja ... kita tidak pernah tau apakah diterima atau tidak oleh Allah .... apalagi sholat orang lain

merah : yah terserah sih ... kalau anda merasa sudah bisa menilai iman, akhlak, bahkan (mungkin) surga neraka-nya orang lain hanya dari sholatnya saja ... ya terserah anda >>> tapi kalau buat saya ... semua itu tetap urusan Allah

underline : ya mungkin itu bedanya .... anggap saja saya sudah menjadi muslim yang HANYA mau berguru/berbaiat pada Nabi Muhammad SAW ... bukan pada selain beliau ... kalaupun mau merujuk pada Khulafaur Rasyidin masih oke lah ... karena mereka pun adalah murid (sahabat) langsung dari sang guru itu sendiri

jadi untuk jaman sekarang .... siapapun yang disebut guru bisa saya dapat darimana saja ... tidak hanya pada satu guru dan tidak perlu menggunakan hadist tersebut untuk menilai orang lain ... hadist itu hanya dipakai untuk menilai diri saya sendiri saja

begitu ...

piss

Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab. Kalo urusan nilainya A/B/C/D, memang urusan Allah. Tapi khan manusia udah dikasih tahu indikatornya :

Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar (Al-Ankabut:45)

Yang sholat aja bisa keji dan munkar apalagi yang ngga kenal sholat..!?

merah : makanya ... jadi karena yang sudah sholat saja bisa keji dan munkar (yg underline) ... gimana kalau kita ga usah ngurusin orang lain ... tapi pikirkan saja diri kita sendiri (yang sholat ini) apakah masih keji dan munkar atau tidak ??

siapa tau sikap2 kita pada orang lain (buruk sangka, penuh praduga, sombong, merasa paling benar, dsb) ... justru disebabkan karena kemungkaran kita sendiri (walaupun kita sudah sholat)


@RHCP wrote:Ya ngga gitu juga, kak dee. Gw juga masih zhaliman li nafsih. Sholat ngga tepat waktu, subuh sering telat, males jamaah ke masjid dll. Masih jauh. Tapi minimal gw masih dan akan terus berusaha kearah yang lebih baik. (curcol) wkwkwk...
piss

justru karena saya masih termasuk golongan “zhalimun linafsih” makanya saya tulis yang ungu diatas

piss  piss

---------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : ya apa bedanya dengan fatwa MUI yang dalilnya pake ayat multi tafsir (cuma di Indonesia pula ... yang pake terjemahan awliya = pemimpin) ... bukannya sama juga >>> fatwa kemarin juga minim/lemah dalil. Tapi dengan muatan politik yang overload

hehehehehehe
Beda dong.
Karena (mungkin) situasi dan kondisi saat itu dan karena ngga ada ayat al Qur'an/hadits larangan GOLPUT, maka ulama ber-IJTIHAD dan mengeluarkan Fatwa 2009 itu.  

Kalo fatwa sekarang kuat DALILNYA (al Maidah:51). Maknanya TERSURAT, bukan tersirat. Yaitu mengenai LARANGAN menjadikan yahudi/kristen sebagai WALI/SEKUTU/ALLIES.

merah : lah katanya (HTI) muslim wajib hukum-nya memilih pemimpin ... golput kan artinya tidak melaksanakan kewajiban itu >>> fatwa 2009 itu kan artinya larangan bagi muslim untuk TIDAK memilih pemimpin ... kenapa ?? ... karena yang ungu

biru : nyatanya Rasulullah menjalin hubungan kerja sama (sebagai teman/sekutu/allies) dengan yahudi dan nasrani tuh .... selama ada perjanjian damai dan trust diantara dua pihak >>>> makanya saya tanya ... apakah menurut anda Rasulullah melanggar Al Maidah 51 ??

misalnya khusus untuk Ahok ... nyatanya tertulis juga dalam Al Quran

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. (QS. Al-Maidah : 82)

------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : ya silahkan anda gunakan kata "at least" itu di akhirat nanti ... ketika ditanya kenapa anda tetap memilih seorang muslim yang anda sudah tau berpotensi korup >>> mudah2an argumen "at least" anda bisa diterima

biru : lah ... yang bikin UU di Indonesia bisa taat kpd Allah dan Rasul ga ??

mungkin anda belum baca uraian saya yang ini ya

http://www.laskarislam.com/t10271-video-ahok-anda-dibohongi-alquran-surat-al-maidah-51-viral-di-medsos

#17
Khan udah dibahas sebelumnya,
Korupsinya itu tanggung jawab oknum sendiri kpd Allah, dan "at least" gw sudah "MENEGUR" melalui lisan/tulisan atw minimal dalam hati.

Sekarang sebaliknya, kalo giliran kak dee yg ditanya, KENAPA pilih KRISTEN (yg terang2an menghina agama Allah) sbg WALI, padahal udah ada LARANGAN via al maidah:51?? Apakah kira2 JAWABAN, (misalnya: demi kemajuan negara/daerah) bisa diterima?? Karena kemungkinan akan ditanya lagi. Teori dari mana kalo, manusia itu beribadah demi NEGARA/DAERAH?? hehehe...
usil

merah : kalau begitu logikanya ... maka beriman atau tidak beriman seseorang juga tanggung jawab oknum itu sendiri kpd Allah

biru : siapa yang milih kristen ... wong saya pilih ahok .... kalau yg kristen itu Trump ya ga saya pilih ... sama kalau yang Islam itu Habib Rizieq (misalnya) ya ga saya pilih juga ... tapi kalau yang Islam itu Jokowi saya pilih

biru underline : justru saya lihat banyak ormas tertentu yang terang2an menghina agama Allah yang rahmatan lil 'alamin dengan segala caci maki dan hinaan (sambil membawa2 nama agama Allah)

sisanya : gimana2 ??

--------------------------------------------------------

@RHCP wrote:Misalnya UU legalisasi miras disahkan. Itu artinya para legislatif muslim tsb. TIDAK amanah thd pemilihnya yg muslim dimana itu ada konsekuensinya thd Allah. Kalo tidak ada yang berusaha MENEGUR MEREKA (spt yang sering dilakukan oleh FPI misalnya) maka pemilih muslim ikut BERDOSA karena tidak menjalankan fardhu kifayah.(CMIIW)
piss

merah : sejak kapan FPI negur DPR (legislatif) ?? ... mau sampai hujan salju di Indonesia juga ga pernah ada ceritanya FPI punya nyali negur DPR

wong yang mereka kerjakan juga cuma sweeping sana sini ala preman begitu kok .... padahal jelas kasusnya .... miras itu ada karena produk hukum yang dibuat legislatif2 muslim itu sendiri

pernah ga FPI demo teriak2 "bunuh koruptor atau hukum mati DPR yang mensahkan miras" ??

--------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:ayat itu artinya ... taat pada hukum Allah, Rasul, dan para pemimpin yang diplih dengan cara yang baik dan benar

Allah tidak pernah melarang muslim untuk memilih non-muslim sebagai teman/allies SELAMA non-muslim itu tidak melakukan kerusakan, kezaliman, dan pelanggaran hukum Allah (sesuai dengan Al Maidah 51)

Rasulullah juga tidak pernah melarang bila non-muslim dijadikan sebagai teman/allies SELAMA sudah ada perjanjian damai dan ada trust diantara muslim vs non-muslim (sesuai dengan hadist)

Pemimpin di Indonesia dipilih secara demokratis ... dimana pilihan mayoritas yang kemudian terpilih sebagai pemimpin .. akan diberi waktu untuk memimpin selama waktu tertentu (artinya bukan selamanya) ... untuk menunjukkan apakah dia berhasil atau gagal ... sementara dia juga TERIKAT oleh hukum2 yang berlaku (sesuai dengan UU, sesuai dengan kesepakatan (musyawarah dalam parlemen) dan disetujui oleh seluruh ulama di Indonesia - ijma ulama)

dimana salahnya ??

terus terang saya bener2 ga ngerti gimana cara berpikir mereka2 yang kayanya "heboh" banget gitu dengan kepemimpinan Ahok ... seolah2 kita hidup di hutan dimana negara ini seperti tidak punya aturan dan hukum yang jelas ... seolah2 hukum di Indonesia adalah hukum rimba ... padahal mungkin mereka sendiri yang berperilaku ala hukum rimba

menyamakan ahok dengan firaun lah ... dengan abu jahal lah ... padahal jelas sistem kenegaraan pada masa Firaun dan Abu Jahal juga beda banget dengan sistem kenegaraan di Indonesia

Lho kok "pemimpin yang dipilih dengan cara yang baik dan benar"?? wkwkwk....

cara yang baik dan benar itu maksudnya sesuai dengan aturan2 yang sudah ditetapkan (baca yang merah) ... taat hukum ... dan bukan dengan paksaan atau ancaman ... main hakim sendiri, bergaya hukum rimba atau malah bikin rusuh dimana2 (misalnya begitu)

--------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
Wahai orang-orang yang BERIMAN, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta para pemimpin DIANTARA KALIAN (QS an-Nisa’:59).

Pemimpin diantara ORANG2 BERIMAN, pastinya SESAMA orang BERIMAN
. Karena TIDAK SEPANTASNYA orang2 beriman dipimpin oleh orang yg TIDAK BERIMAN. Jika suatu saat sang pemimpin adalah orang yg tidak beriman (karena TERPAKSA), maka dia tidak WAJIB ditaati. Terutama jika dia terang2an menyerukan utk TIDAK MENTAATI ALLAH dan RASULNYA.

jangan dipotong2 dong ayat-nya ...

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS an-Nisa’:59)

merah : wong ayat itu tentang kepada siapa kita harus taat ... anda malah nyasar bicara tentang memilih pemimpin (padahal saya juga sudah jelaskan tentang sistem tata negara di Indonesia ... dimana pemimpin (eksekutif) bukan penguasa tunggal ... dan mereka wajib taat pada UU)

-------------------------------------------

@RHCP wrote:TRUST itu tidak berlaku untuk non-muslim yg sdh JELAS dan terang2an "mengganggu" aqidah/millah umat islam. Jika saat ini seorang pemimpin non-muslim BERANI mengacak-acak aqidah/millah umat islam "baru" lewat ucapan. Maka suatu saat dia akan BERANI mengacak-acak aqidah/millah umat islam dengan TANGANNYA. Peringatan dari al Quran mulai terlihat buktinya.

berjuta kali anda menulis yang biru >>> kalau ga ada yang percaya anda karena tidak ada bukti dan dalil ... trus maunya gimana ?? ... moso mau anda paksa2

----------------------------------------------

@RHCP wrote:Gw juga bingung, kenapa sih harus MAKSA "si hebat dan pemberani" itu jadi gubernur DKI?? Dimana sih letak "hebat dan pemberani" dia?? Emangnya muslim yang baik/hebat/pemberani melebihi dia, ngga ada?? Apakah begitu lemah imanmu kak dee, hingga begitu mudah negatif thinking thd sesama MUSLIM?? hehehe...

Mungkin karena gaya kepemimpinannya yang bossy dan sok galak. Pemimpin bukan soal HEBAT/BERANI/GALAK doang. Pemimpin juga harus bijaksana dalam berbuat dan berbicara. Kalo ngga paham, lebih baik DIAM (jangan sok tahu) atw tanya kpd yang PAHAM
piss

biru : bawa sini buktinya ada orang yang dipaksa2 milih ahok >>> bukannya justru terbalik ... malah banyak yang dikafir2kan kalau ada muslim yang tetap milih ahok (bahkan diancam pake neraka pun ada) ... bebas memilih kok diancem pake neraka (kaya abad pertengahan ajah)

sisanya : hehehehehe ... saya anggap anda sedang curcol ya disini ...  

piss

-----------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:akhir kata (hihihihihihi) ... saya mohon maaf kalau ada kata2 saya yang tidak enak dibaca ... hanya sekedar diskusi dan kembalinya adalah pada pendapat masing2 ... kan yang paling tahu tentang kebenaran hanya Allah
piss piss

Yang tebal biru itu pernyataan yang kurang tepat.

Allah MEMANG Maha BENAR dan Maha Mengetahui. DENGAN PETUNJUK dari ALLAH, manusia juga bisa mengetahui akan kebenaran. ALLAH hanya memberi hidayah/petunjuk mana yang BENAR dan mana yg SALAH, KEPADA orang beriman dan bertaqwa. ALLAH TIDAK akan memberi hidayah/petunjuk bagi orang2 yang zhalim.
piss

Maaf kalo ada yg kepotong/kelewat...
piss

merah : oh ya ... trus anda tau darimana siapa2 saja yang disebut mendapat hidayah/petunjuk dari Allah ?? ... atau siapa2 saja yang disebut beriman dan bertaqwa ?? >>>> anda pernah dapat laporan bulanan-nya dari malaikat ??

piss piss


Terakhir diubah oleh dee-nee tanggal Tue Oct 25, 2016 8:25 pm, total 1 kali diubah
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by isaku on Tue Oct 25, 2016 7:56 pm

@ryo wrote:Ijin berpendapat saja, mas isaku...

Jika yang dipermasalahkan ialah soal terjemahan dari kata "auliya" antara:
1. Tafsir: kata "auliya" dapat diterjemahkan sbg pemimpin

versus

2. Tafsir: kata "auliya" tidak dapat diterjemahkan sbg pemimpin.


Maka burden of proof dipihak nomor 2.
yup setuju. Aulia dapat diterjemahkan sebagai pemimpin

@ryo wrote:Jika yang dipermasalahkan ialah soal hermeneutika dari ayat Al Maidah 51 berdasarkan konteks antara:
1. Tafsir: larangan bagi umat muslim untuk memilih seorang non-muslim menjabat kedudukan seperti bupati/walikota/gubernur di negara Indonesia scr tanpa bersyarat (larangan bagi muslim tuk memilih non muslim menjabat kedudukan bupati/walikota/gubernur di RI hanya dikarenakan masalah latar belakang beda agama, tanpa melihat faktor lainnya - yg mana konsekwensi dari tafsiran tsb adalah seolah2 Quran mempromosikan RASISME)
Dgn kata lain: Al Maidah 51 sifatnya mutlak, bukan situasional.

versus

2. Tafsir: bukan larangan bagi umat muslim untuk memilih seorang non-muslim menjabat kedudukan seperti bupati/walikota/gubernur di negara seperti Indonesia scr tanpa bersyarat (bukan larangan bagi muslim tuk memilih non muslim menjabat kedudukan bupati/walikota/gubernur di RI  hanya dikarenakan masalah latar belakang beda agama, tanpa melihat faktor lainnya - yg mana konsekwensi dari tafsiran tsb adalah bukan seolah2 Quran mempromosikan RASISME)
Dgn kata lain: Al Maidah 51 sifatnya situasional, bukan mutlak.

Maka burden of proof ada dipihak masing2

nb: kata "RASISME" dlm kalimat "mempromosikan RASISME" dlm pengertian agama, bukan dlm pengertian ras..
dgn kata lain, deskripsinya yg saya maksud pada kalimat tsb adalah sebagai berikut:
kata "RASISME" dlm kalimat "mempromosikan RASISME" dlm pengertian: a product of the complex interaction in a given society of a race-based religion-based worldview with prejudice, stereotyping, and discrimination.
Saya menggunakan kata "RASISME" sebab tidak tahu istilah yg tepat.. demikian agar jelas.

Demikian pendapat saya, selanjutnya saya ikut nyimak saja krn saya tidak punya kapabilitas dlm hal ini.. hanya ingin tahu ajaran Islam yg sebenarnya ttg hal ini
Ok. sebetulnya keduanya situasional, tapi sifat situasionalnya yang berbeda. Muslim diijinkan memilih nonmuslim andai calonnya memang tidak ada yang muslim. Atau ada calon yang muslim tapi punya sejarah khianat sedangkan calon nonmuslim saat itu diyakini tidak akan melemahkan Islam. Diluar kedua kondisi tersebut maka pilihlah pemimpin muslim. Tinggal pilih diantara calon muslim yang mana diyakini lebih adil, tidakmengikuti hawa nafsu, punya ilmu, sabar dst.

Kalau salah satu calon menggunakan perbedaan daerah, bahasa, budaya, agama, warna kulit ketika kampanye maka betul itu adalah mempromosikan RASISME karena si calon sedang berada di ranah umum. Tapi kementrian imigrasi melakukan perbedaan perlakuan antara warga negara berbeda tidak dapat disebut mempromosikan rasis. Orang tua minang menganjurkan anak laki2nya menikah wanita minang tidak dapat disebut mempromosikan rasisme. Demikian pula ulama, ustadz, penceramah menjelaskan AlMaidah 51 kepada muslim sebagai konsumsi rumahtangga muslim tidak dapat disebut mempromosikan Rasisme. Nasehat2 dalam masing2 kitabsuci untuk pilihan mendahulukan golongan sendiri, kebanggaan daerah masing2 yang menganjurkan kesamaan daerah sebagai kriteria memilih bukanlah promosi rasisme. Justru tuduhan "orang batak tidak menghargai suku lain" karena kental sekali persatuan bataknya adalah tuduhan yang ngawur dan penghinaan terhadap setiap orang Batak.

Itulah makanya Ahok didemo tidak hanya oleh muslim DKI, tapi muslim2 lainnya di daerah.
Semoga dipahami
piss




isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3520
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by ryo on Tue Oct 25, 2016 9:14 pm

@isaku wrote:
@ryo wrote:Jika yang dipermasalahkan ialah soal hermeneutika dari ayat Al Maidah 51 berdasarkan konteks antara:
1. Tafsir: larangan bagi umat muslim untuk memilih seorang non-muslim menjabat kedudukan seperti bupati/walikota/gubernur di negara Indonesia scr tanpa bersyarat (larangan bagi muslim tuk memilih non muslim menjabat kedudukan bupati/walikota/gubernur di RI hanya dikarenakan masalah latar belakang beda agama, tanpa melihat faktor lainnya - yg mana konsekwensi dari tafsiran tsb adalah seolah2 Quran mempromosikan RASISME)
Dgn kata lain: Al Maidah 51 sifatnya mutlak, bukan situasional.

versus

2. Tafsir: bukan larangan bagi umat muslim untuk memilih seorang non-muslim menjabat kedudukan seperti bupati/walikota/gubernur di negara seperti Indonesia scr tanpa bersyarat (bukan larangan bagi muslim tuk memilih non muslim menjabat kedudukan bupati/walikota/gubernur di RI  hanya dikarenakan masalah latar belakang beda agama, tanpa melihat faktor lainnya - yg mana konsekwensi dari tafsiran tsb adalah bukan seolah2 Quran mempromosikan RASISME)
Dgn kata lain: Al Maidah 51 sifatnya situasional, bukan mutlak.

Maka burden of proof ada dipihak masing2

...
Ok. sebetulnya keduanya situasional, tapi sifat situasionalnya yang berbeda. Muslim diijinkan memilih nonmuslim andai calonnya memang tidak ada yang muslim. Atau ada calon yang muslim tapi punya sejarah khianat sedangkan calon nonmuslim saat itu diyakini tidak akan melemahkan Islam. Diluar kedua kondisi tersebut maka pilihlah pemimpin muslim. Tinggal pilih diantara calon muslim yang mana diyakini lebih adil, tidakmengikuti hawa nafsu, punya ilmu, sabar dst.
Yg menentukan tafsir ayat Al Maidah 51 ttg larangan bagi umat muslim memilih non muslim menjabat kedudukan sbg bupati/walikota/gubernur di negara RI dan negara2 lainnya sbg tafsir yg bersifat  mutlak/situasional itu siapa ?
Parameternya itu apa ?
Bukankah ayatnya cuman 1, dan dibaca bunyinya juga sama ? di ayat tsb juga tidak ada tertulis kata "hanya jika..." kok lantas mas isaku sendiri jadi inkonsisten ?


@isaku wrote:
Kalau salah satu calon menggunakan perbedaan daerah, bahasa, budaya, agama, warna kulit ketika kampanye maka betul itu adalah mempromosikan RASISME karena si calon sedang berada di ranah umum. Tapi kementrian imigrasi melakukan perbedaan perlakuan  antara warga negara berbeda tidak dapat disebut mempromosikan rasis.
mas isaku berpendapat:
kalo pas kampanye gunain sara, baru itu dapat dikatakan mempromosikan rasisme....
kalo ga pas kampanye, ada orang mengatakan sesuatu yg jelas2 mengandung unsur SARA, hal tsb tidak dapat dikatakan mempromosikan rasisme.
Gitu ya ?

Maka.. lagi, tolak ukur yg dpt diterima akal budi untuk menentukan SARA/TIDAK itu apa ? kalo pendapat diatas itu namanya, semau gue.. sebab ga ada patokan yg jelas.



@isaku wrote:
Orang tua minang menganjurkan anak laki2nya menikah wanita minang tidak dapat disebut mempromosikan rasisme.
1. memilih menikahi salah satu diantara beberapa pilihan wanita tidak sama konteksnya dgn memilih bupati/walikota/gubernur di negara RI
2. menganjurkan tidak sama pengertiannya dgn melarang.
Jika orang tua minang itu melarang anak laki2nya menikahi wanita non-minang hanya dikarenakan perbedaan ras atau suku, maka orang tua minang itu rasis, prejudice, diskriminatif.. krn ortu tsb menolak tuk membuka matanya melihat si calon sebagaimana adanya si calon yg sesama manusia; kelebihan kekurangannya, kapabilitasnya, kinerjanya... melainkan melulu hanya melihat latar belakang ras dan sukunya saja
Demikian halnya jika ada orang tua cina/tionghoa melarang anak laki2nya menikahi wanita non-cina hanya dikarenakan perbedaan ras atau suku, maka orang tua cina itu rasis, prejudice, diskriminatif..krn ortu tsb menolak tuk membuka matanya melihat si calon sebagaimana adanya si calon yg sesama manusia; kelebihan kekurangannya, kapabilitasnya, kinerjanya... melainkan melulu hanya melihat latar belakang rasnya saja.


@isaku wrote:
Demikian pula ulama, ustadz, penceramah menjelaskan AlMaidah 51 kepada muslim sebagai konsumsi rumahtangga muslim tidak dapat disebut mempromosikan Rasisme. Nasehat2 dalam masing2 kitabsuci untuk pilihan mendahulukan golongan sendiri, kebanggaan daerah masing2 yang menganjurkan kesamaan daerah sebagai kriteria memilih bukanlah promosi rasisme. Justru tuduhan "orang batak tidak menghargai suku lain" karena kental sekali persatuan bataknya adalah tuduhan yang ngawur dan penghinaan terhadap setiap orang Batak.

Itulah makanya Ahok didemo tidak hanya oleh muslim DKI, tapi muslim2 lainnya di daerah.
Semoga dipahami
piss
Nah, tentang frasa merah; mesti dibuktikan dulu bhw Al Maidah 51 isinya meliputi larangan bagi umat muslim memilih non muslim menjabat kedudukan sbg bupati/wakil, walikota/wakil, gubernur/wakil di negara RI... yg mana jika telah terbukti demikian, maka implikasinya justru mencoreng agama Islam sendiri krn dgn bukti tsb, dapat disimpulkan bhw Al Maidah 51 adalah ayat yg mempromosikan SARA dan para ulama, ustadz, penceramah sekedar mengajarkan ayat SARA!

Tapi kalo saya melihat dan meyakini, Al Maidah 51 itu bukan ayat SARA.. sebab menurut saya, agama Islam itu mengajarkan umatnya tuk berfikir logis, rasional, adil.

ryo
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Age : 36
Posts : 166
Kepercayaan : Islam
Location : Surabaya
Join date : 09.10.16
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by RHCP on Wed Oct 26, 2016 8:58 am

@dee-nee wrote:
"Tidak ada NIAT JAHAT" itu konteksnya bahasa hukum dong ah .... KPK kan juga ga pernah bicara tentang "dalam hati seseorang"

maksud KPK "Tidak ada NIAT JAHAT" artinya .... orang tersebut tidak terindikasi merusak, mengambil keuntungan atau merugikan negara ... tidak terindikasi melakukan korupsi >>> sesuai penyelidikan yang sdh dilakukan KPK

begitu ... hehehehe
Sampe kapan pun, yang namanya NIAT itu asalnya selalu dari dalam HATI. Emangnya BISA, seseorang yang kepergok mencuri, tapi ngeles "NGGA ADA NIAT MENCURI"?? Terus dilepas dan dianggap TIDAK BERSALAH?? wkwkwk....
usil
Tapi mw gimana lagi. Bagi sebagian orang Hoax itu bagaikan air yang suci dan mensucikan. xixixixi...
@dee-nee wrote:merah : yang pasti Rasulullah juga tidak akan langsung percaya pada berita2 yang tidak ada bukti dan faktanya >>>> justru beliau tidak suka dengan mereka2 yang terlalu "berlebihan" dalam hal agama .... apalagi bila sikap "berlebihan" itu lebih didasari oleh kebencian/ketidak sukaan pada orang2 tertentu >>> betul atau tidak ??

sisanya : point saya adalah .... tidak ada bukti Ahok menggangu aqidah/millah/tata cara ibadah muslim (khususnya di Jakarta) >>> mau dipaksa2kan seperti apapun juga ... dengan berita setengah2 seperti gimanapun juga .... nyatanya tetap yang biru >>> mau gimana lagi ??
Kalo berita itu sesuai FAKTA, gimana?? Lagian apa buktinya kalo berita2 itu BOHONG?? Kalo berita2 ttg "kehebatan" si hoax, kak dee bisa percaya, kok berita kejelekan si hoax NGGA PERCAYA?? two sides to every story dong..!? Emangnya terlalu BERLEBIHAN dalam "mencintai" si hoax itu, BOLEH?? Hati2... ntar kecewa. wkwkwk

Lha yang maksa siapa?? gw bicara FAKTA. Emangnya (selain HASIL PILKADA 2017) apa sih BUKTINYA kalo si hoax TIDAK menggangu aqidah/millah/tata cara ibadah muslim/agama /ulama/qur'an??
@dee-nee wrote:merah : loh bukannya terbalik ?? ... ahok didukung justru karena dia berani melawan orang2 yang selalu menggangu dia (apalagi "mengganggu" nya pake bawa2 agama)

biru : gimana kalau kita lihat saja nanti ... siapa yang sebetulnya didatangkan kemenangan oleh Allah ...

muslim2 yang mendoakan ahok supaya diberi kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi sekian banyak fitnah ... atau ormas2 Islam (tertentu) yang mendoakan ahok supaya dipenjara atau bahkan ada yang berharap agar ahok dibunuh ??

apakah saya sebut muslim atau ormas Islam (yang ungu) ... semua juga syahadat ... semua juga KTP-nya Islam .... dan toh semua juga kembali-nya pada keadilan Allah kan .... hanya Allah yang bisa menilai ... siapa dari mereka2 yang bersyahadat ini ... yang lebih tepat disebut munafik

point-nya sih yang coklat ... hehehehehehehe

2 good
Ngiaahahaha... Kalo giliran si hoax diprotes akibat mulut usilnya thd islam, itu berarti si hoax = pahlawan yang sedang dizalimi oleh orang2 islam yg munafik. Tapi kalo "islam yang diganggu" si hoax = islam harus introspeksi dan tutup mulut, karena kalo protes nanti dianggap fitnah/dengki/rasis/radikal/garis keras?? what a beautiful world... wkwkwk

Kalo hanya Allah yg bisa menilai seseorang itu munafik/TIDAK, Lalu bwt apa Allah menurunkan surah Al Munafiqun?? wkwkwk...
@dee-nee wrote:merah : sudah jelas gimana ya ?? sudah jelas bahwa dia diserang oleh banyak fitnah dan kebencian ??? >>> kan tetap saja semua memang harus dilihat dulu apakah berdasarkan bukti dan fakta atau tidak

biru : kalau yang anda maksud USIL disini ... adalah sekian banyak bantuan dan manfaat yang diberikan ahok pada muslim di Jakarta ... ya mau gimana ?? itu kan bagian dari tugas gubernur ... moso gubernur tidak memberi bantuan, manfaat dan dukungan pada warga-nya (seperti yang dilakukan gubernur2 ber KTP Islam lainnya) ??

ungu : lah ... ahok minta maaf kan maksudnya memang untuk "mengalah" pada manusia2 (suci) ... yang suka bikin gaduh sambil bawa2 agama ... ahok tidak minta maaf karena dia salah ngomong

minta maaf ahok itu seharus-nya dijadikan cermin bagi manusia2 (suci) tersebut ... supaya mereka tidak lagi membuat gaduh (apalagi dengan ancaman) sambil bawa2 agama ... minta maaf ahok sebaiknya bukan malah dikeplok2 lalu bilang "Yes ... lihat dong betapa sucinya KTP kita ... karena bisa memaksakan (dengan kegaduhan dan ancaman) hingga akhirnya ahok minta maaf "

sisanya tentang GOLPUT >>> ya ga apa2 kalau begitu pendapat anda ... tapi maksud saya sebelumnya ... apakah seseorang mau golput atau tidak golput .. semua itu tidak menjadi tolak ukur iman seseorang >>> betul atau tidak ??

karena kalau ternyata apa yang dipilih memang benar dan sudah sesuai dengan tujuan ... ya malah lebih bagus lagi toh

2 good
Kalo berita tentang "kehebatan hoax" langsung dipercaya, tapi kalo berita KEJELEKAN hoax, dianggap FITNAH?? wkwkwkwwk..... Jadi inget si nduss gw. Cinta itu buta, jendral..!!

Cieee... ciee.. mengalah?? Katanya PEMBERANI?? Tuhan sekalipun kalo NGACO, akan diLAWAN..!!? Mana buktinya?? Baru ngadepin "manusia2 sok suci" yang NGACO aja, dia udah MINTA MAAF?? Berarti GEDE mulutnya doang...!?? wkwkwk..

@dee-nee wrote:merah : sip ... jadi eyel2an tentang Al Maidah 51 juga tidak perlu dijadikan dalil dalam pilkada kan ya ??

setuju

2 good  2 good
Bagi yang mw PAKE sbg dalil silakan. Bagi yang NGGA mw juga silakan.. BEBAS, ngga ada PAKSAAN. Yang jelas DOSA ditanggung masing2 khan. hehehe... Setuju...?? wkwkwkwk...
usil

@dee-nee wrote:biru : bagi anda kan ya ... artinya bukan bagi penduduk di Ramallah (kasus-nya sudah saya sampaikan) .... bukan juga bagi muslim2 di negara mayoritas non-muslim ... atau bahkan bukan juga bagi muslim di negara mayoritas muslim sekalipun (karena nyatanya ada banyak kasus dimana non-muslim boleh2 saja dipilih sebagai pemimpin di negara/wilayah yang mayoritas muslim)

sisanya : moso seh "sok tau" ?? .... bukannya perilaku mereka yang suka jualan ayat memang sudah jadi berita dimana2 ?? ... sudah masuk banyak media masa dibilang sok tau ....

justru .... sebaiknya umat di agama tersebut yang "bercermin" dan melakukan perbaikan ... bukan malah "ingkar (atau menutup2i) fakta" dan bersikap anti-kritik

kan bersikap lapang dada dengan menerima "keburukan" diri sendiri sambil terus melakukan perbaikan ... itu jauh lebih baik ... daripada bersikap anti-kritik seperti yang dilakukan kelompok2 tertentu (hanya karena mereka sudah dapet KTP sebagai manusia suci) .... lalu membuat kegaduhan dengan caci maki dan ancaman (yang justru sangat jauh dari ADEM)

piss  piss
Ya iyalah... Tepatnya bagi gw yang "kebetulan" ada di Jakarta/Indonesia yang relatif cukup gw pahami kondisinya. Bukan bagi orang2 yang "kebetulan" ada di daerah konflik/perang kaya' di Ramallah sono atw didaerah antah berantah lainnya.

Kalo berita ttg "kejelekan hoax" dianggap fitnah, tapi giliran berita ormas "jualan ayat" dianggap FAKTA...?? Sesama muslim difitnah "jualan ayat", Tapi ngga terima kalo "si hoax" dibilang menghina ayat al Quran dll?? Bisa berburuk sangka thd sesama muslim, tapi die hard membela non-muslim?? Apa2an sih ini?? ckckckck.....

Sebaiknya "si hoax" dan umat2 pemujanya itu "bercermin" dan berbaik sangka. Bukan malah "ingkar (atau menutup2i) fakta" dan bersikap anti-kritik. Janganlah selalu beranggapan si hoax NGGA pernah salah, dan membelanya membabi buta. Jangan selalu menganggap yang MENGKRITIKNYA itu berarti membenci.

"si hoax" selayaknya bersikap lapang dada dengan mengakui "kesalahan", minta maaf dan introspeksi terutama dalam UCAPANNYA. Jangan mengeluarkan statement "sok tahu" yang akan menimbulkan kegaduhan. Si hoax, juga jangan sombong (hanya karena ada kalangan yang menganggapnya sebagai "utusan tuhan" utk menyelamatkan Indonesia). wkwkwk....
usil
@dee-nee wrote:merah : kalaupun anda bilang seperti itu ... yang begini tidak terjadi dalam 2 tahun kepemimpinan ahok >>> tapi sudah sejak jaman orba yang dipimpin oleh manusia2 seukuwah anda juga >>> toh sebelumnya kelompok2 Islam itu juga diam saja ... ntah mereka yang memang jadi bagian dari demokrasi liberal itu sendiri atau gimana .... atau mungkin karena mereka berpikir yang penting KTP-nya sudah Islam

jadi .... ngapain coba repot dengan demokrasi LIBERAL yang sudah melenceng dari pancasila ?? >>> kan buat kelompok2 Islam ini apapun bentuk kerusakan yang ditimbulkan oleh si pemimpin ... yang penting KTP si pemimpin sudah Islam ... jadi sudah pasti masuk surga

biru : kan sebelumnya anda bicara tentang perang IDE (ghazwul fikri)

saya cuma bilang ... jaman sekarang ga ada yang namanya perang IDE (ghazwul fikri) ... yang ada cuma perang proxy atau perang kepentingan antara mereka2 yang terjebak dengan omongan-nya si asing, aseng, atau aswan

hijau : ga lah ... saya ga pernah bilang anda anti pancasila kok ... saya cuma menjelaskan saja ... kan diawal anda bilang bahwa demokrasi tujuannya untuk kekuasaan (bagi) pemodal .... saya hanya jawab : tergantung pemerintah-nya ... dan sebetulnya demokrasi pancasila tidak begitu
Makanya gw pake "teori MENDINGAN". Karena pilihannya cuma yg "mendingan" diantara yang buruk (dem-pancasila vs dem-liberal) maka gw lebih memilih dem-pancasila yang agak mendingan karena ada sila pertama dst. Kalo liberal sila pertamanya apa??

Negara mw maju spt apapun kalo ngga berkah, bwt apaan?? Buktinya Negara2 dem-liberal yang katanya MAJU2, BOBROK semua moralnya karena mengesampingkan nilai2 agama.

Kok jadi lucu gini sih?? wkwkwk....
@dee-nee wrote:kan buat kelompok2 Islam ini apapun bentuk kerusakan yang ditimbulkan oleh si pemimpin ... yang penting KTP si pemimpin sudah Islam ... jadi sudah pasti masuk surga
Pemimpin muslimnya zhalim ya diingatkan dong. Masa' didiamkan?? Lebih mudah mengingatkan pemimpin muslim dari pada mengingatkan pemimpin non-muslim??

Btw, bukannya yg ngaku2 paling ngerti masalah IMAN dan pasti masuk surga itu "si hoax" ??? Apa perlu gw kasih link videonya, nih?? wkwkwk...
piss

@dee-nee wrote:merah : oke ... jadi begitu ya pendapat anda .... maka BILA ternyata Ahok kalah (artinya banyak warga DKI sependapat dengan yang 150 ribu) >>> hasil ini-pun TIDAK MENJADI TOLOK UKUR bahwa yang 150 rb tersebut benar ... ya kan ??

karena seperti anda bilang .... belum tentu yang KUAT/BANYAK itu yang BENAR
Yup. Kebenaran itu letaknya bukan di MENANG-KALAH PILKADA dll. Kebenaran itu PATOKANNYA adalah FIRMAN yang ALLAH turunkan sebagai pedoman bagi manusia.

@dee-nee wrote:biru : ya ... masalahnya untuk jaman sekarang ... siapa coba yang bisa menilai mana yang disebut pendukung Muhammad SAW vs pendukung Abu Jahal ?? (apalagi bila kedua kelompok sudah sama2 muslim) >>> apakah hanya karena jumlah-nya minoritas lalu sudah bisa dipastikan mereka adalah pendukung Muhammad SAW ?? (begitu juga sebaliknya)
Lho masa' sih kak dee ngga bisa membedakan?? Baca aja al munafiqun. Lihat ciri2 orang munafiq itu seperti apa??
@dee-nee wrote:maka balik ke ungu

jadi ... maksud saya tentang menang vs kalah dalam pilkada >>> kalau Ahok menang ... artinya TIDAK ADA BUKTI mayoritas muslim Jakarta "merasa"  di acak2 aqidah dan millahnya >>> sudah ini saja

saya hanya bicara tentang "merasa" ... bahwa tidak ada bukti mereka merasa seperti yang anda sebutkan >>> saya tidak bicara siapa yang benar atau salah antara yang menang vs kalah ini

apalagi bila harus nyambung tentang banar vs salah ... hitam vs putih berkaitan dengan Muhammad SAW vs Abu Jahal
Demo 150rb orang di jakarta dan ribuan didaerah lain adalah bentuk "unjuk rasa", bahwa muslim "merasa" islam telah "diacak2" oleh hoax. Jika mengaku muslim tidak merasa terwakili oleh "unjuk rasa" itu, maka orang tsb. patut mempertanyakan hal keimanannya, pada dirinya sendiri.
@dee-nee wrote:merah : ya bisa saja seperti itu ... tapi kalau menurut saya tidak >>> kenapa ?? .... karena yang disebut "menetapkan untuk memilih ahok atau tidak memilih ahok" ... itu sudah jadi mindset yang mereka bawa terus menerus (mungkin sejak jaman Jokowi nyagub)

misalnya : mereka2 yang sudah menetapkan untuk mendukung ahok SEJAK AWAL  ... mindset mereka justru sudah TIDAK MAU bicara soal SARA terkait pilkada ... itulah kenapa sejak awal mereka sudah pilih ahok ... apalagi bila kemudian mereka memandang positif kinerja ahok selama 2 tahun (diluar benar atau salah pandangan mereka ini loh ya)

sebaliknya : mereka2 yang sudah menetapkan untuk TIDAK mendukung ahok SEJAK AWAL .... mindset mereka (mungkin) memang melihat issue SARA sebagai hal yang penting dalam pilkada ... walaupun memang bukan hanya masalah SARA ... tapi bisa saja mereka tidak suka dengan karakter kepemimpinan atau cara bicara ahok dsb ...
Gw rada SETUJU dgn analisa kak dee yg ungu...
2 good
@dee-nee wrote:jadi maksud saya ... issue Al Maidah 51 ini ... pada dasarnya tidak ada bedanya dengan issue "sara" lain terkait ahok .... ada atau tidak ada kasus Al Maidah  ... tidak merubah mindset si pemilih apakah mereka akan memilih atau tidak memilih ahok >>> kalaupun ada perubahan .... menurut saya kecil sekali (balik ke ungu)  

jadi .... ya kita lihat saja hasil pilkada nanti ...  karena masih banyak juga suara swing voters yang ntah masih ragu2 untuk milih ... atau memang sudah kekeuh untuk menjadi golput

2 good
Menurut gw issue al maidah ini sebenarnya ngga ada hubungan scr langsung dgn pilkadal. Isuue ini muncul karena si hoax sendiri yang bawa2 ayat suci agama yg tidak dianutnya, dalam urusan dinas resmi. Pun seandainya dia mw curi start kampanye, khan ngga perlu dia bawa2 al maidah 51??
@dee-nee wrote:merah : muslim di Indonesia sudah membuat kesepakatan dengan non-muslim dalam 4 pilar ... bahwa kedudukan muslim dan non-muslim setara antara hak dan kewajiban dalam konteks berbangsa dan bernegara

“Kecuali orang-orang musyirikin yang kamu mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu. maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa” [at-Taubah/9]

dalam konteks ini ... kalau ada kelompok2 tertentu yang tidak mau taat pada kesepakatan 4 pilar ... ya sudah ... silahkan mereka yang mengundurkan diri ... karena mayoritas muslim tetap taat pada kesepakatan yang sudah ditetapkan (baca yang pink) ... kan perintah dalam QS 9:4 juga sudah jelas (size 18)
Syarat unutk memenuhi perjanjian adalah :
"tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu".
Yang mana aturan2 dibuat berdasarkan hukum Allah dan pimpinan dipegang oleh rasulullah sendiri, tidak diserahkan kepada non-muslim.

Jiahahaha.... Apa2an tuh 4 pilar?? Apa itu usaha utk mendegradasi nilai PANCASILA?? Dari awal PANCASILA adalah DASAR NEGARA bukan PILAR NEGARA.!! Dimana sila pertama dari DASAR NEGARA Indonesia adalah KETUHANAN Yang Maha Esa. Yang harus MUNDUR justru yang mencoba2 mendegradasi nilai pancasila terutama sila pertama "KETUHANAN Yang Maha Esa".
@dee-nee wrote:sisanya : perang proxy kok cuma urusan pemilu .... ya ga lah ... perang proxy mah sudah masuk kemana2 ... Abu Sayaff yang nyulik2 orang pun ga ada hubungannya dengan pemilu di filipina ... islamphobia terjadi juga bukan hanya waktu pemilu .... toh nyatanya keberadaan mereka (Abu Sayaff dan islamphobia) adalah bagian dari perang proxy itu sendiri

biru : atau misalnya .... menggunakan orang islam/mengaku islam/ulama/kyai/ustad yang corrupted, agar muslim menjadi tidak kaffah, takut disebut munafik bila bersikap toleran, damai, membela keadilan, tidak dipenuhi hatred dan permusuhan dlsb. Sehingga pemikiran orang islam perlahan-lahan bergeser menjadi orang2 radikal seperti ISIS (yang tidak toleran, tidak damai, tidak mengenal keadilan, dan dipenuhi hatred serta permusuhan)

apa bedanya ?? ... perang proxy juga bukan ini namanya

hijau : apa yang saya lakukan dan katakan terkait ahok ... (menurut saya) juga sudah sesuai dengan perintah Allah

kenapa ?? >>> karena saya haqul yakin ... Allah tidak pernah memerintahkan umat-Nya untuk negative thinking pada suatu hal yang tidak ada buktinya (misalnya terkait ahok) ... walaupun anda bilang "Allah memerintahkan kita untuk berhati2"

berhati2 itu bukan artinya kita harus habis2an mencurigai orang tertentu (tanpa dalil dan bukti) ... apalagi dengan cara pukul rata atas nama SARA mereka yang justru berakhir dengan fitnah atau buruk sangka .... karena semua itu tetap harus dicari bukti dan faktanya
Perang proxy itu urusan KEKUASAAN disuatu daerah/negara tertentu. Kalo di negara2 dgn "sistem demokrasi", maka urusannya PEMILU.

Ghazwul fikri itu upaya musuh2 islam utk menghancurkan dan memecah belah umat islam lewat sistem DEMOKRASI (liberal), budaya, pemikiran "ala barat" dgn slogan-slogan indah menawan, seperti kebebasan berpikir, toleransi, HAM dll. Dgn tujuan mendangkalkan aqidah serta mengaburkan yang haq dan bathil, dengan bantuan orang2 munafiq. Mungkin Termasuk juga penyebaran fitnah thd islam mengenai islam radikal/garis keras/ISIS dll.

Kak dee sendiri sadar/ngga sadar, sdh berburuk sangka kepada sesama muslim. Bahkan lebih memilih utk berbaik sangka dan berpihak kepada non-muslim. Why??
@dee-nee wrote:merah : makanya ... jadi karena yang sudah sholat saja bisa keji dan munkar (yg underline) ... gimana kalau kita ga usah ngurusin orang lain ... tapi pikirkan saja diri kita sendiri (yang sholat ini) apakah masih keji dan munkar atau tidak ??

siapa tau sikap2 kita pada orang lain (buruk sangka, penuh praduga, sombong, merasa paling benar, dsb) ... justru disebabkan karena kemungkaran kita sendiri (walaupun kita sudah sholat)
Kalo utk mencari figur pemimpin islam yang baik (misalnya), gimana?? Kenapa ngga boleh menilai dari sholatnya?? Maksud dan tujuannya-pun ngga JELEK, apa salahnya??

Kalo mengaku muslim tapi memelihara "negative thinking" kepada sesama muslim, itu khan aneh?? LEBIH ANEH lagi, malah lebih memilih berbaik sangka kpd non-muslim (yg modelnya spt hoax)??
@dee-nee wrote:merah : lah katanya (HTI) muslim wajib hukum-nya memilih pemimpin ... golput kan artinya tidak melaksanakan kewajiban itu >>> fatwa 2009 itu kan artinya larangan bagi muslim untuk TIDAK memilih pemimpin ... kenapa ?? ... karena yang ungu
Kak dee paham khan yang dimaksud "pemimpin" oleh HTI itu spt apa?? Kalo masih penasaran, ya silakan tanya sama orang HTI yang golput. wkwkw..
piss
@dee-nee wrote:biru : nyatanya Rasulullah menjalin hubungan kerja sama (sebagai teman/sekutu/allies) dengan yahudi dan nasrani tuh .... selama ada perjanjian damai dan trust diantara dua pihak >>>> makanya saya tanya ... apakah menurut anda Rasulullah melanggar Al Maidah 51 ?
Perjanjian dalam hal APA?? Yang buat UU/peraturannya adalah rasulullah sendiri yg BERDASARKAN hukum Allah. Pucuk pimpinan dipegang oleh rasulullah sendiri, tidak pernah diserahkan kepada non-muslim.

Kemudian setelah terjadi pengkhiatan. Maka TRUST itu ngga berlaku lagi bagi yang melanggar perjanjian. Apa hikmahnya?? Waspada thd yahudi dan nasrani (termasuk orang2 munafik yg bersekutu dgn mereka). Karena mereka tidak akan pernah RIDHO dgn islam, sampai kita ikut millah mereka.
@dee-nee wrote:misalnya khusus untuk Ahok ... nyatanya tertulis juga dalam Al Quran

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. (QS. Al-Maidah : 82)
Ngiahaha.... hampir aja gw salah paham, gw kirain ahok ada di al Quran. Paling dekat dgn nasrani itu dalam hal PERSAHABATAN, BUKAN PERSEKUTUAN atw mengangkat mereka sebagai WALI.

Lagian si hoax itu termasuk rahib/pendeta nasrani apa bukan?? si hoax yang pernah ngomong "yakin masuk surga dan paling tahu soal iman" itu termasuk menyombongkan diri/NGGA?? hoax itu suka menghina millah islam apa ngga?? (yg terakhir ini pasti jwbannya NGGA, wkwkwkwk...)
piss
@dee-nee wrote:merah : kalau begitu logikanya ... maka beriman atau tidak beriman seseorang juga tanggung jawab oknum itu sendiri kpd Allah
Tanggung jawab yang milih gimana?? Udah jelas IMANNYA BEDA jurusan. Kalo semua urusan diWALIkan kepada yang BEDA IMAN, mana mw dia peduli/tanggung jawab thd Tuhan yang ngga diyakininya??
@dee-nee wrote:biru : siapa yang milih kristen ... wong saya pilih ahok .... kalau yg kristen itu Trump ya ga saya pilih ... sama kalau yang Islam itu Habib Rizieq (misalnya) ya ga saya pilih juga ... tapi kalau yang Islam itu Jokowi saya pilih
xixixixixi.....
Kenapa menjadikan hoax yg kristen dengan meninggalkan orang2 beriman?? khan ada juga perintahnya utk jangan mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang2 beriman (QS. Al Imran: 28).
@dee-nee wrote:biru underline : justru saya lihat banyak ormas tertentu yang terang2an menghina agama Allah yang rahmatan lil 'alamin dengan segala caci maki dan hinaan (sambil membawa2 nama agama Allah)
Misalnya?? Contohnya?? Yakin bukan buruk sangka?? Udah pernah dibuktikan FAKTANYA?? hehe..
@dee-nee wrote:merah : sejak kapan FPI negur DPR (legislatif) ?? ... mau sampai hujan salju di Indonesia juga ga pernah ada ceritanya FPI punya nyali negur DPR

wong yang mereka kerjakan juga cuma sweeping sana sini ala preman begitu kok .... padahal jelas kasusnya .... miras itu ada karena produk hukum yang dibuat legislatif2 muslim itu sendiri

pernah ga FPI demo teriak2 "bunuh koruptor atau hukum mati DPR yang mensahkan miras" ??

Ooh... jadi kak dee mikirnya FPI itu isinya premandan orang bloon semua ya...?? Gw sendiri malu hati kalo lihat sepak terjang FPI yang FAKTA sebenarnya selalu ditutupin oleh media mainstream.
ehmm
@dee-nee wrote:
jangan dipotong2 dong ayat-nya ...

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS an-Nisa’:59)

merah : wong ayat itu tentang kepada siapa kita harus taat ... anda malah nyasar bicara tentang memilih pemimpin (padahal saya juga sudah jelaskan tentang sistem tata negara di Indonesia ... dimana pemimpin (eksekutif) bukan penguasa tunggal ... dan mereka wajib taat pada UU)
Lha... bukannya kak dee yang bawa2 "pemimpin yang dipilih dgn cara yang baik dan benar"?? wkwkwk

Sebenarnya gw ngga bicarain milih pemimpinnya kak dee, justru masalah KETAATAN thd pemimpin. Apabila terjadi perselisihan/tidak sepaham. Maka WAJIB kembali pada hukum Allah dan rasulnya.

Islam tidak mewajibkan utk taat kpd uu buatan manusia. Tapi sbg warga negara, selama uu itu tidak bertentangan dgn hukum Allah dan rasulnya, no reason to disobey.
@dee-nee wrote:berjuta kali anda menulis yang biru >>> kalau ga ada yang percaya anda karena tidak ada bukti dan dalil ... trus maunya gimana ?? ... moso mau anda paksa2
Ya silakan, kalo ngga percaya juga ngga masalah. Kewajiban gw cuma sebatas mengingatkan, terutama bagi diri gw sendiri.
@dee-nee wrote:biru : bawa sini buktinya ada orang yang dipaksa2 milih ahok >>> bukannya justru terbalik ... malah banyak yang dikafir2kan kalau ada muslim yang tetap milih ahok (bahkan diancam pake neraka pun ada) ... bebas memilih kok diancem pake neraka (kaya abad pertengahan ajah)

sisanya : hehehehehe ... saya anggap anda sedang curcol ya disini ...  

piss
Maksud gw bukan DIPAKSA MILIH, tapi MAKSAIN diri MILIH hoax. Dengan meninggalkan orang2 beriman. Khan msh banyak muslim yg baik, tidak korupsi, santun dan amanah.

Ahh masa sih.... milih yang non-muslim itu memang DILARANG ALLAH, tapi bukan otomatis jadi murtad atw KAFIR. Menurut gw berlebihan kalo mengkafir2kan.

hehehe iya.... Itu emang sekedar pendapat pribadi gw, karena sering lihat video2 "kehebatan2" si hoax. Terutama kalo liat video "BERANI lawan Tuhan kalo ngaco" atw "paling ngerti iman dan pasti masuk surga" apalagi kalo lihat video epic "drpd ninggalin TA, mendingan ngga jadi gubernur". hehehe...
@dee-nee wrote:merah : oh ya ... trus anda tau darimana siapa2 saja yang disebut mendapat hidayah/petunjuk dari Allah ?? ... atau siapa2 saja yang disebut beriman dan bertaqwa ?? >>>> anda pernah dapat laporan bulanan-nya dari malaikat ??

piss piss
Kak dee merasakan KEYAKINAN bahwa islam itu satu2nya AGAMA yang benar dan diridhoi ALLAH dari mana??
Karena merasakan/mendapatkan HIDAYAH/PETUNJUK, atw sekedar IKUT2AN doang??
Atw karena rutin dapet laporan dari malaikat setiap bulan?? wkwkwkwk....
usil usil

Silakan dibaca kak dee (maaf, bukan sok ngajarin)
http://www.jadipintar.com/2014/10/ciri-ciri-orang-bertaqwa-sifat-dan-amalannya-menurut-alquran.html

Mohon dimaafkan kalo ada yg ngga berkenan...
piss piss
avatar
RHCP
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2942
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 06.12.13
Reputation : 65

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by isaku on Wed Oct 26, 2016 12:06 pm

@ryo wrote:
@isaku wrote:
@ryo wrote:Jika yang dipermasalahkan ialah soal hermeneutika dari ayat Al Maidah 51 berdasarkan konteks antara:
1. Tafsir: larangan bagi umat muslim untuk memilih seorang non-muslim menjabat kedudukan seperti bupati/walikota/gubernur di negara Indonesia scr tanpa bersyarat (larangan bagi muslim tuk memilih non muslim menjabat kedudukan bupati/walikota/gubernur di RI hanya dikarenakan masalah latar belakang beda agama, tanpa melihat faktor lainnya - yg mana konsekwensi dari tafsiran tsb adalah seolah2 Quran mempromosikan RASISME)
Dgn kata lain: Al Maidah 51 sifatnya mutlak, bukan situasional.

versus

2. Tafsir: bukan larangan bagi umat muslim untuk memilih seorang non-muslim menjabat kedudukan seperti bupati/walikota/gubernur di negara seperti Indonesia scr tanpa bersyarat (bukan larangan bagi muslim tuk memilih non muslim menjabat kedudukan bupati/walikota/gubernur di RI  hanya dikarenakan masalah latar belakang beda agama, tanpa melihat faktor lainnya - yg mana konsekwensi dari tafsiran tsb adalah bukan seolah2 Quran mempromosikan RASISME)
Dgn kata lain: Al Maidah 51 sifatnya situasional, bukan mutlak.

Maka burden of proof ada dipihak masing2

...
Ok. sebetulnya keduanya situasional, tapi sifat situasionalnya yang berbeda. Muslim diijinkan memilih nonmuslim andai calonnya memang tidak ada yang muslim. Atau ada calon yang muslim tapi punya sejarah khianat sedangkan calon nonmuslim saat itu diyakini tidak akan melemahkan Islam. Diluar kedua kondisi tersebut maka pilihlah pemimpin muslim. Tinggal pilih diantara calon muslim yang mana diyakini lebih adil, tidakmengikuti hawa nafsu, punya ilmu, sabar dst.
Yg menentukan tafsir ayat Al Maidah 51 ttg larangan bagi umat muslim memilih non muslim menjabat kedudukan sbg bupati/walikota/gubernur di negara RI dan negara2 lainnya sbg tafsir yg bersifat  mutlak/situasional itu siapa ?
Parameternya itu apa ?
Bukankah ayatnya cuman 1, dan dibaca bunyinya juga sama ? di ayat tsb juga tidak ada tertulis kata "hanya jika..." kok lantas mas isaku sendiri jadi inkonsisten ?
Tidak bermaksud inkonsisten, tapi ada kaidah dalam Islam Adh-Dharurat Tubihu Al-Mahzhurat, artinya "dalam kondisi darurat, hal-hal yang terlarang dibolehkan". ada dalilnya: misal 6:119 Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan.
Lebih lengkapnya di https://muslim.or.id/19369-dalam-kondisi-darurat-hal-yang-terlarang-dibolehkan.html
Saya sudah jelaskan juga di trit berbeda bahwa Islam tidaklah kaku http://www.laskarislam.com/t10308-islam-itu-fleksibel-dalam-ketegasan-dan-tegas-dalam-kefleksibelan
Dalam hal tidak ada calon muslim, semua calon adalah nonmuslim, bagaimana milihnya??? Ini termasuk dalam kategori darurat atau terpaksa.

@ryo wrote:
@isaku wrote:
Kalau salah satu calon menggunakan perbedaan daerah, bahasa, budaya, agama, warna kulit ketika kampanye maka betul itu adalah mempromosikan RASISME karena si calon sedang berada di ranah umum. Tapi kementrian imigrasi melakukan perbedaan perlakuan  antara warga negara berbeda tidak dapat disebut mempromosikan rasis.
mas isaku berpendapat:
kalo pas kampanye gunain sara, baru itu dapat dikatakan mempromosikan rasisme....
kalo ga pas kampanye, ada orang mengatakan sesuatu yg jelas2 mengandung unsur SARA, hal tsb tidak dapat dikatakan mempromosikan rasisme.
Gitu ya ?

Maka.. lagi, tolak ukur yg dpt diterima akal budi untuk menentukan SARA/TIDAK itu apa ? kalo pendapat diatas itu namanya, semau gue.. sebab ga ada patokan yg jelas.
@isaku wrote:
Orang tua minang menganjurkan anak laki2nya menikah wanita minang tidak dapat disebut mempromosikan rasisme.
1. memilih menikahi salah satu diantara beberapa pilihan wanita tidak sama konteksnya dgn memilih bupati/walikota/gubernur di negara RI
2. menganjurkan tidak sama pengertiannya dgn melarang.
Jika orang tua minang itu melarang anak laki2nya menikahi wanita non-minang hanya dikarenakan perbedaan ras atau suku, maka orang tua minang itu rasis, prejudice, diskriminatif.. krn ortu tsb menolak tuk membuka matanya melihat si calon sebagaimana adanya si calon yg sesama manusia; kelebihan kekurangannya, kapabilitasnya, kinerjanya... melainkan melulu hanya melihat latar belakang ras dan sukunya saja
Demikian halnya jika ada orang tua cina/tionghoa melarang anak laki2nya menikahi wanita non-cina hanya dikarenakan perbedaan ras atau suku, maka orang tua cina itu rasis, prejudice, diskriminatif..krn ortu tsb menolak tuk membuka matanya melihat si calon sebagaimana adanya si calon yg sesama manusia; kelebihan kekurangannya, kapabilitasnya, kinerjanya... melainkan melulu hanya melihat latar belakang rasnya saja.


@isaku wrote:
Demikian pula ulama, ustadz, penceramah menjelaskan AlMaidah 51 kepada muslim sebagai konsumsi rumahtangga muslim tidak dapat disebut mempromosikan Rasisme. Nasehat2 dalam masing2 kitabsuci untuk pilihan mendahulukan golongan sendiri, kebanggaan daerah masing2 yang menganjurkan kesamaan daerah sebagai kriteria memilih bukanlah promosi rasisme. Justru tuduhan "orang batak tidak menghargai suku lain" karena kental sekali persatuan bataknya adalah tuduhan yang ngawur dan penghinaan terhadap setiap orang Batak.

Itulah makanya Ahok didemo tidak hanya oleh muslim DKI, tapi muslim2 lainnya di daerah.
Semoga dipahami
piss
Nah, tentang frasa merah; mesti dibuktikan dulu bhw Al Maidah 51 isinya meliputi larangan bagi umat muslim memilih non muslim menjabat kedudukan sbg bupati/wakil, walikota/wakil, gubernur/wakil di negara RI... yg mana jika telah terbukti demikian, maka implikasinya justru mencoreng agama Islam sendiri krn dgn bukti tsb, dapat disimpulkan bhw Al Maidah 51 adalah ayat yg mempromosikan SARA dan para ulama, ustadz, penceramah sekedar mengajarkan ayat SARA!

Tapi kalo saya melihat dan meyakini, Al Maidah 51 itu bukan ayat SARA.. sebab menurut saya, agama Islam itu mengajarkan umatnya tuk berfikir logis, rasional, adil.
Kalau perlakuan berbeda antara wni wna oleh imigrasi atau siapapun mau dianggap SARA, ya sudah, saya g bisa maksa. Misal anda bertamu ke samsung, di saat yang sama ada expatriat juga bertamu, anda diterima di lobby doang, si ex suruh masuk. Mau dibilang itu SARA atau bukan, silahkan saja suka2 yang nilai.
Ahok mau ngegosipin AlMaidah 51 ya silahkan, kalau cuma ke istrinya doang mah, Ahok juga bodo amat kalau dianggap SARA, ya g?
Beda urusannya kalau Si Bapak ngegosip di ranah umum.

Nih ya misal, "Nabi Muhammad adalah Nabi palsu, Islam agama pagan dst", ya SARA kalau Jokowi menyampaikan dalam pidatonya, tapi dalam diskusi terbatas yang memang membahas debat antar agama, membela agama yang satu dan menyalahkan agama lainnya, memang itu bahasannya. Diskusi dengan masing2 bawa argumen. Kalaupun mau dibilang SARA, ya sudah, emang SARA juga sih, mau gimana lagi.
Kelas teologi membahas perbandingan agama, selain menjelaskan landasan dari masing2 agama, juga mengapa agama lain ini tidak benar. SARA? ya kali, murid, dosen sama yayasan juga bodo amat.
Ada direktur Batak mau pilih Hutapea atau Anggraini sebagai karyawan baru, dua2nya kapabel, g ada masalah mau pilih mana aja. Direktur pikir "gw nambahin Batak aja deh". SARA? iya emang, lha terus kenapa?
Mama bilang anaknya: "dek main sama Gege aja ya, jangan sama Jeje", terus di pertemuan orang tua murid si Mama bilang ke mama mama lain, anak saya g saya kasih ijin main sama si ini, ini dan ini, soalnya...blabla.
Presiden HARUS warga negara Indonesia, bupati harus asli putra daerah, macam2 aturan, SARA? iya SARA tapi suka2 yang punya lah, kabupaten punyanya dia, yang mutusin harus putra daerah wakil2 rakyatnya dia juga bukan orang luar.

Jadi patokannya apa? dalam ruang apa pembicaraan begitu, audiencenya siapa, dalam rangka apa, dst dst.
Tetap itu SARA, ya sudah, mau gimana lagi.

Tapi dalam pandangan saya, selama aturan itu adalah privasi rumah tangga, dibicarakan di rumah sendiri, maka itu bukan SARA.
Masing2 kelompok, grup, suku, agama, negara, punya aturan privasi mereka sendiri2 yang mempercayai kebenaran dengan cara berbeda. Selama aturan privat itu tidak memaksa orang lain diluar grupnya dan dibicarakan di rumah masing2, ya gpp.


Satu lagi mengapa aturan2 privasi dalam Islam di Indonesia terkadang lompat keluar? mungkin, ini cuma mungkin, karena muslimnya mayoritas, jadi si A bicara diluar rumahpun karena menganggap yang lain juga masih grup dia2 juga, padahal ada 1 2 orang yang bukan, yang kemudian menjadi bumerang karena itu adalah SARA.
Tapi yang jelas Pak Gubernur kampanye SARA dengan mengatakan bohong dan mengutip aturan yang bukan punya dia, ngomong di ranah publik pula.
Semoga dipahami. piss

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3520
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by ryo on Thu Oct 27, 2016 1:57 pm

@isaku wrote:
@ryo wrote:
Yg menentukan tafsir ayat Al Maidah 51 ttg larangan bagi umat muslim memilih non muslim menjabat kedudukan sbg bupati/walikota/gubernur di negara RI dan negara2 lainnya sbg tafsir yg bersifat  mutlak/situasional itu siapa ?
Parameternya itu apa ?
Bukankah ayatnya cuman 1, dan dibaca bunyinya juga sama ? di ayat tsb juga tidak ada tertulis kata "hanya jika..." kok lantas mas isaku sendiri jadi inkonsisten ?
Tidak bermaksud inkonsisten, tapi ada kaidah dalam Islam Adh-Dharurat Tubihu Al-Mahzhurat, artinya "dalam kondisi darurat, hal-hal yang terlarang dibolehkan". ada dalilnya: misal 6:119 Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan.
Lebih lengkapnya di https://muslim.or.id/19369-dalam-kondisi-darurat-hal-yang-terlarang-dibolehkan.html
Saya sudah jelaskan juga di trit berbeda bahwa Islam tidaklah kaku http://www.laskarislam.com/t10308-islam-itu-fleksibel-dalam-ketegasan-dan-tegas-dalam-kefleksibelan
Dalam hal tidak ada calon muslim, semua calon adalah nonmuslim, bagaimana milihnya??? Ini termasuk dalam kategori darurat atau terpaksa.
Afaik: kaidah Adh-Dharurat Tubihu Al-Mahzhurat itu ada ketentuan dan syaratnya antara lain:
1. Darurat tersebut benar-benar terjadi atau diprediksi kuat akan terjadi, tidak semata-mata praduga atau asumsi belaka.
2. Tidak ada pilihan lain yang bisa menghilangkan mudarat tersebut.
3. Kondisi darurat tersebut benar-benar memaksa untuk melakukan hal tersebut karena dikhawatirkan kehilangan nyawa atau anggota badannya.
4. Keharaman yang ia lakukan tersebut tidaklah menzalimi orang lain.
5. Tidak melakukannya dengan melewati batas. Cukup sekadar yang ia perlukan untuk menghilangkan mudarat

Sedangkan di negara RI dan di negara2 lain yg menganut sistem demokrasi; memilih bupati/wakil, walikota/wakil, gubernur/wakil merupakan HAK wni yg mana, tidak ada dan tidak akan ada faktor2 yg membuat kaidah Adh-Dharurat Tubihu Al-Mahzhurat dapat diterapkan ke al maidah 51 dalam konteks pilkada di negara RI.
Dgn kata lain, rumusannya begini:
- IF kaidah Adh-Dharurat Tubihu Al-Mahzhurat terpenuhi dlm konteks pilkada di negara RI, THEN al maidah 51 bersifat situasional teraplikasi.
- IF kaidah Adh-Dharurat Tubihu Al-Mahzhurat tidak dan tidak akan terpenuhi dlm konteks pilkada di negara RI, THEN al maidah 51 bersifat mutlak teraplikasi.

Makanya saya bingung ttg dasar pemikiran mas isaku dlm menanggapi pertanyaan2 saya sebelumnya dgn menerapkan kaidah Adh-Dharurat Tubihu Al-Mahzhurat ke al maidah 51 dalam konteks pilkada di negara RI sbg justifikasi bhw  Al Maidah 51 bersifat situasional

ryo
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Age : 36
Posts : 166
Kepercayaan : Islam
Location : Surabaya
Join date : 09.10.16
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by ryo on Thu Oct 27, 2016 2:40 pm

@isaku wrote:
@ryo wrote:
@isaku wrote:
Kalau salah satu calon menggunakan perbedaan daerah, bahasa, budaya, agama, warna kulit ketika kampanye maka betul itu adalah mempromosikan RASISME karena si calon sedang berada di ranah umum. Tapi kementrian imigrasi melakukan perbedaan perlakuan  antara warga negara berbeda tidak dapat disebut mempromosikan rasis.
mas isaku berpendapat:
kalo pas kampanye gunain sara, baru itu dapat dikatakan mempromosikan rasisme....
kalo ga pas kampanye, ada orang mengatakan sesuatu yg jelas2 mengandung unsur SARA, hal tsb tidak dapat dikatakan mempromosikan rasisme.
Gitu ya ?

Maka.. lagi, tolak ukur yg dpt diterima akal budi untuk menentukan SARA/TIDAK itu apa ? kalo pendapat diatas itu namanya, semau gue.. sebab ga ada patokan yg jelas.


@isaku wrote:
Demikian pula ulama, ustadz, penceramah menjelaskan AlMaidah 51 kepada muslim sebagai konsumsi rumahtangga muslim tidak dapat disebut mempromosikan Rasisme. Nasehat2 dalam masing2 kitabsuci untuk pilihan mendahulukan golongan sendiri, kebanggaan daerah masing2 yang menganjurkan kesamaan daerah sebagai kriteria memilih bukanlah promosi rasisme. Justru tuduhan "orang batak tidak menghargai suku lain" karena kental sekali persatuan bataknya adalah tuduhan yang ngawur dan penghinaan terhadap setiap orang Batak.

Itulah makanya Ahok didemo tidak hanya oleh muslim DKI, tapi muslim2 lainnya di daerah.
Nah, tentang frasa merah; mesti dibuktikan dulu bhw Al Maidah 51 isinya meliputi larangan bagi umat muslim memilih non muslim menjabat kedudukan sbg bupati/wakil, walikota/wakil, gubernur/wakil di negara RI... yg mana jika telah terbukti demikian, maka implikasinya justru mencoreng agama Islam sendiri krn dgn bukti tsb, dapat disimpulkan bhw Al Maidah 51 adalah ayat yg mempromosikan SARA dan para ulama, ustadz, penceramah sekedar mengajarkan ayat SARA!

Tapi kalo saya melihat dan meyakini, Al Maidah 51 itu bukan ayat SARA.. sebab menurut saya, agama Islam itu mengajarkan umatnya tuk berfikir logis, rasional, adil.
Kalau perlakuan berbeda antara wni wna oleh imigrasi atau siapapun mau dianggap SARA, ya sudah, saya g bisa maksa. Misal anda bertamu ke samsung, di saat yang sama ada expatriat juga bertamu, anda diterima di lobby doang, si ex suruh masuk. Mau dibilang itu SARA atau bukan, silahkan saja suka2 yang nilai.
Ahok mau ngegosipin AlMaidah 51 ya silahkan, kalau cuma ke istrinya doang mah, Ahok juga bodo amat kalau dianggap SARA, ya g?
Beda urusannya kalau Si Bapak ngegosip di ranah umum.

Nih ya misal, "Nabi Muhammad adalah Nabi palsu, Islam agama pagan dst", ya SARA kalau Jokowi menyampaikan dalam pidatonya, tapi dalam diskusi terbatas yang memang membahas debat antar agama, membela agama yang satu dan menyalahkan agama lainnya, memang itu bahasannya. Diskusi dengan masing2 bawa argumen. Kalaupun mau dibilang SARA, ya sudah, emang SARA juga sih, mau gimana lagi.
Kelas teologi membahas perbandingan agama, selain menjelaskan landasan dari masing2 agama, juga mengapa agama lain ini tidak benar. SARA? ya kali, murid, dosen sama yayasan juga bodo amat.
Ada direktur Batak mau pilih Hutapea atau Anggraini sebagai karyawan baru, dua2nya kapabel, g ada masalah mau pilih mana aja. Direktur pikir "gw nambahin Batak aja deh". SARA? iya emang, lha terus kenapa?
Mama bilang anaknya: "dek main sama Gege aja ya, jangan sama Jeje", terus di pertemuan orang tua murid si Mama bilang ke mama mama lain, anak saya g saya kasih ijin main sama si ini, ini dan ini, soalnya...blabla.
Presiden HARUS warga negara Indonesia, bupati harus asli putra daerah, macam2 aturan, SARA? iya SARA tapi suka2 yang punya lah, kabupaten punyanya dia, yang mutusin harus putra daerah wakil2 rakyatnya dia juga bukan orang luar.

Jadi patokannya apa? dalam ruang apa pembicaraan begitu, audiencenya siapa, dalam rangka apa, dst dst.
Tetap itu SARA, ya sudah, mau gimana lagi.

Tapi dalam pandangan saya, selama aturan itu adalah privasi rumah tangga, dibicarakan di rumah sendiri, maka itu bukan SARA.
Masing2 kelompok, grup, suku, agama, negara, punya aturan privasi mereka sendiri2 yang mempercayai kebenaran dengan cara berbeda. Selama aturan privat itu tidak memaksa orang lain diluar grupnya dan dibicarakan di rumah masing2, ya gpp.
...
Summary dari pendapat mas isaku (cmiiw):
a. kalo pas kampanye gunain sara, baru itu dapat dikatakan mempromosikan rasisme....
b. kalo ga pas kampanye, ada orang mengatakan sesuatu yg jelas2 mengandung unsur SARA, hal tsb tidak dapat dikatakan mempromosikan rasisme.

Patokan yg menjadi tolak ukur mas isaku untuk menentukan dua poin diatas ialah "dalam ruang apa pembicaraan begitu, audiencenya siapa, dalam rangka apa, dst dst.":

Sedangkan bagi saya:
a. kalo pas kampanye gunain isu sara, hal itu dapat dikatakan sbg "mempromosikan rasisme"....
b. kalo ga pas kampanye, ada orang mengatakan sesuatu yg jelas2 mengandung unsur SARA, hal tsb juga dapat dikatakan sbg "mempromosikan rasisme."
Patokannya yg menjadi tolak ukur saya untuk menentukan dua poin diatas ialah: isi pembicaraannya itu sendiri...
Jadi bagi saya pribadi "kalo ga pas kampanye, ada orang mengatakan sesuatu yg jelas2 mengandung unsur SARA, hal tsb tidak dapat dikatakan mempromosikan rasisme" --> merupakan tindakan mengaburkan fakta.

Namun walau patokan versi mas isaku untuk menentukan sbg "mempromosikan SARA/TIDAK" kurang dapat saya terima dgn akal budi, tapi saya menghargai pendapat mas isaku.. terima kasih atas tanggapannya.


@isaku wrote:
@ryo wrote:
@isaku wrote:
Demikian pula ulama, ustadz, penceramah menjelaskan AlMaidah 51 kepada muslim sebagai konsumsi rumahtangga muslim tidak dapat disebut mempromosikan Rasisme. Nasehat2 dalam masing2 kitabsuci untuk pilihan mendahulukan golongan sendiri, kebanggaan daerah masing2 yang menganjurkan kesamaan daerah sebagai kriteria memilih bukanlah promosi rasisme. Justru tuduhan "orang batak tidak menghargai suku lain" karena kental sekali persatuan bataknya adalah tuduhan yang ngawur dan penghinaan terhadap setiap orang Batak.

Itulah makanya Ahok didemo tidak hanya oleh muslim DKI, tapi muslim2 lainnya di daerah.
Nah, tentang frasa merah; mesti dibuktikan dulu bhw Al Maidah 51 isinya meliputi larangan bagi umat muslim memilih non muslim menjabat kedudukan sbg bupati/wakil, walikota/wakil, gubernur/wakil di negara RI... yg mana jika telah terbukti demikian, maka implikasinya justru mencoreng agama Islam sendiri krn dgn bukti tsb, dapat disimpulkan bhw Al Maidah 51 adalah ayat yg mempromosikan SARA dan para ulama, ustadz, penceramah sekedar mengajarkan ayat SARA!

Tapi kalo saya melihat dan meyakini, Al Maidah 51 itu bukan ayat SARA.. sebab menurut saya, agama Islam itu mengajarkan umatnya tuk berfikir logis, rasional, adil.
Tapi dalam pandangan saya, selama aturan itu adalah privasi rumah tangga, dibicarakan di rumah sendiri, maka itu bukan SARA.
Masing2 kelompok, grup, suku, agama, negara, punya aturan privasi mereka sendiri2 yang mempercayai kebenaran dengan cara berbeda. Selama aturan privat itu tidak memaksa orang lain diluar grupnya dan dibicarakan di rumah masing2, ya gpp.

Satu lagi mengapa aturan2 privasi dalam Islam di Indonesia terkadang lompat keluar? mungkin, ini cuma mungkin, karena muslimnya mayoritas, jadi si A bicara diluar rumahpun karena menganggap yang lain juga masih grup dia2 juga, padahal ada 1 2 orang yang bukan, yang kemudian menjadi bumerang karena itu adalah SARA.
Tapi yang jelas Pak Gubernur kampanye SARA dengan mengatakan bohong dan mengutip aturan yang bukan punya dia, ngomong di ranah publik pula.
Semoga dipahami. piss
Maaf mas isaku, pada bagian ini saya mempertanyakan kevalidan dari yg mas sebut sbg "aturan2 privasi dalam Islam di Indonesia" itu sendiri, mas.

Pendapat mas isaku: "Demikian pula ulama, ustadz, penceramah menjelaskan AlMaidah 51 kepada muslim sebagai konsumsi rumahtangga muslim tidak dapat disebut mempromosikan Rasisme."

Rumusannya begini:
1.
a. IF al maidah 51 isinya meliputi larangan bagi umat muslim memilih non muslim menjabat kedudukan sbg bupati/wakil, walikota/wakil, gubernur/wakil di negara RI.
b. THEN al maidah 51 itu sendiri merupakan ayat yg mempromosikan sara,
c. HENCE para ulama, ustadz, penceramah sekedar menyampaikan ayat SARA!
* titik beratnya: masalah utamanya ada pada al maidah 51 hanya jika poin a itu benar.

2.
a. IF al maidah 51 isinya BUKAN meliputi larangan bagi umat muslim memilih non muslim menjabat kedudukan sbg bupati/wakil, walikota/wakil, gubernur/wakil di negara RI.
b. THEN al maidah 51 itu sendiri BUKAN merupakan ayat yg mempromosikan sara,
c. HENCE para ulama, ustadz, penceramah itu sendiri yg mempromosikan SARA!
* titik beratnya: masalah utamanya ada pada para ulama, ustadz, penceramah itu sendiri hanya jika poin a itu benar.

Dgn formula diatas maka dapat ditarik kesimpulan: para ulama, ustadz, penceramah dlm nomor 1 & 2 diatas, sama2 dapat dikatakan sbg mempromosikan sara.. hanya perbedaannya terletak pada 'masalah utamanya' dari masing2 nomor diatas.

ryo
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Age : 36
Posts : 166
Kepercayaan : Islam
Location : Surabaya
Join date : 09.10.16
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by dee-nee on Thu Oct 27, 2016 6:21 pm

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:
"Tidak ada NIAT JAHAT" itu konteksnya bahasa hukum dong ah .... KPK kan juga ga pernah bicara tentang "dalam hati seseorang"

maksud KPK "Tidak ada NIAT JAHAT" artinya .... orang tersebut tidak terindikasi merusak, mengambil keuntungan atau merugikan negara ... tidak terindikasi melakukan korupsi >>> sesuai penyelidikan yang sdh dilakukan KPK

begitu ... hehehehe
Sampe kapan pun, yang namanya NIAT itu asalnya selalu dari dalam HATI. Emangnya BISA, seseorang yang kepergok mencuri, tapi ngeles "NGGA ADA NIAT MENCURI"?? Terus dilepas dan dianggap TIDAK BERSALAH?? wkwkwk....

usil

Tapi mw gimana lagi. Bagi sebagian orang Hoax itu bagaikan air yang suci dan mensucikan. xixixixi...

ceile .... mau disebut hoax atau bukan hoax ... akan salah kaprah dan ngawur kemana2 (alias jaka sembung) kalau BAHASA HUKUM disangkut pautkan dan dicampur aduk dengan bahasa dalam kitab suci

bahasa hukum is bahasa hukum ... bahwa BILA TIDAK ADA BUKTI DAN INDIKASI melakukan tindak pidana ... artinya DALAM BAHASA HUKUM disebut "Tidak ada NIAT JAHAT" >>> tidak ada bukti itu artinya tidak ada bukti ... mau pakai bahasa hukum model apapun juga ... tetap saja tidak ada bukti

begitu ....

-----------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : yang pasti Rasulullah juga tidak akan langsung percaya pada berita2 yang tidak ada bukti dan faktanya >>>> justru beliau tidak suka dengan mereka2 yang terlalu "berlebihan" dalam hal agama .... apalagi bila sikap "berlebihan" itu lebih didasari oleh kebencian/ketidak sukaan pada orang2 tertentu >>> betul atau tidak ??

sisanya : point saya adalah .... tidak ada bukti Ahok menggangu aqidah/millah/tata cara ibadah muslim (khususnya di Jakarta) >>> mau dipaksa2kan seperti apapun juga ... dengan berita setengah2 seperti gimanapun juga .... nyatanya tetap yang biru >>> mau gimana lagi ??

Kalo berita itu sesuai FAKTA, gimana?? Lagian apa buktinya kalo berita2 itu BOHONG?? Kalo berita2 ttg "kehebatan" si hoax, kak dee bisa percaya, kok berita kejelekan si hoax NGGA PERCAYA?? two sides to every story dong..!? Emangnya terlalu BERLEBIHAN dalam "mencintai" si hoax itu, BOLEH?? Hati2... ntar kecewa. wkwkwk

Lha yang maksa siapa?? gw bicara FAKTA. Emangnya (selain HASIL PILKADA 2017) apa sih BUKTINYA kalo si hoax TIDAK menggangu aqidah/millah/tata cara ibadah muslim/agama /ulama/qur'an??


biru : gini aja ... gimana kalau anda buka thread baru ... silahkan anda buktikan pada saya ... apa yang anda maksud dengan fakta bahwa ahok sudah menggangu aqidah/millah/tata cara ibadah muslim/agama/qur'an (sekalian bisa dibaca juga sama pembaca yang lain)

dengan catatan : anda harus taat pada hukum yang berlaku (tidak boleh hanya berdasarkan isi kepala, perasaan dan asumsi anda saja ... seolah2 anda hidup ala hukum rimba) >>> karena kalau anda hanya mengandalkan yang underline .... maka kembali ke ungu diatas

merah : dan saya tidak berlebihan terkait ahok loh ... (silahkan cari kalimat saya di forum ini ... ada ga kalimat saya yang memuja2 kinerja ahok)

>>> apa yang saya lakukan ... justru melawan argumen2 yang terlalu BERLEBIHAN dalam membenci ahok (apalagi sampai bawa2 agama) >>> saya menolak mereka2 yang menggunakan dalil agama sebagai "senjata" untuk menghalalkan kebencian mereka

>>> dimana salah saya melakukan yang bold ini ??

oh ya ... untuk kata ulama yang saya strike >>> mohon maaf ... saya bukan muslim yang suka mengkultuskan ulama >>> ya masa saya musti ikut2 reza yang menganggap gatot sebagai ulama ... atau ikut2 marwah yang percaya pada apa yang dikatakan dimas kanjeng

lagian ulama itu apa sih artinya ?? >>> orang2 yang berilmu kan ... orang2 yang menggunakan akal dan nurani-nya untuk mendapatkan ilmu >>> dalam konteks agama ... kata ulama dipersempit menjadi orang2 yang berilmu agama (religious scholars) ... bahkan di Indonesia kadang maknanya menjadi lebih sempit lagi (saya bilang kadang loh) ... menjadi orang2 yang berilmu agama secara text-book (yaitu dengan hafalan seperti bagaimana pendidikan ala Orba yang menuntut setiap murid agar ... "yang penting hafal aja dulu - urusan paham dan mengerti itu belakangan")

jadi ... ulama mana yang anda maksud disini ??

-----------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : loh bukannya terbalik ?? ... ahok didukung justru karena dia berani melawan orang2 yang selalu menggangu dia (apalagi "mengganggu" nya pake bawa2 agama)

biru : gimana kalau kita lihat saja nanti ... siapa yang sebetulnya didatangkan kemenangan oleh Allah ...

muslim2 yang mendoakan ahok supaya diberi kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi sekian banyak fitnah ... atau ormas2 Islam (tertentu) yang mendoakan ahok supaya dipenjara atau bahkan ada yang berharap agar ahok dibunuh ??

apakah saya sebut muslim atau ormas Islam (yang ungu) ... semua juga syahadat ... semua juga KTP-nya Islam .... dan toh semua juga kembali-nya pada keadilan Allah kan .... hanya Allah yang bisa menilai ... siapa dari mereka2 yang bersyahadat ini ... yang lebih tepat disebut munafik

point-nya sih yang coklat ... hehehehehehehe

2 good
Ngiaahahaha... Kalo giliran si hoax diprotes akibat mulut usilnya thd islam, itu berarti si hoax = pahlawan yang sedang dizalimi oleh orang2 islam yg munafik. Tapi kalo "islam yang diganggu" si hoax = islam harus introspeksi dan tutup mulut, karena kalo protes nanti dianggap fitnah/dengki/rasis/radikal/garis keras?? what a beautiful world... wkwkwk

Kalo hanya Allah yg bisa menilai seseorang itu munafik/TIDAK, Lalu bwt apa Allah menurunkan surah Al Munafiqun?? wkwkwk...

ungu : lah ... tadi katanya bawa Al Maidah 52

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. (QS : Al Maidah 52)

ini kan anda2 juga yang bawa ayat-nya .... dan saya hanya mengutip kalimat biru ... silahkan dibaca seterusnya .... PUN saya juga sudah bilang point-nya adalah yang coklat (dibaca dong tulisan bold saya)

>>> tentang kata munafik ... lah di ayat itu kan memang ada tulisannya tentang orang2 munafik

merah : mungkin sebagai "batu ujian" apakah manusia sanggup memahami seluruh ayat2 Al Quran atau tidak (toh nyatanya pemahaman terkait AL Maidah 51 juga beda2) >>> karena .... kalau manusia hanya membawa satu ayat yang toh nyatanya multi tafsir >>> untuk apa Allah menurunkan Al Quran (dengan seluruh ayat2 lainnya) ??

piss  piss

-------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : sudah jelas gimana ya ?? sudah jelas bahwa dia diserang oleh banyak fitnah dan kebencian ??? >>> kan tetap saja semua memang harus dilihat dulu apakah berdasarkan bukti dan fakta atau tidak

biru : kalau yang anda maksud USIL disini ... adalah sekian banyak bantuan dan manfaat yang diberikan ahok pada muslim di Jakarta ... ya mau gimana ?? itu kan bagian dari tugas gubernur ... moso gubernur tidak memberi bantuan, manfaat dan dukungan pada warga-nya (seperti yang dilakukan gubernur2 ber KTP Islam lainnya) ??

ungu : lah ... ahok minta maaf kan maksudnya memang untuk "mengalah" pada manusia2 (suci) ... yang suka bikin gaduh sambil bawa2 agama ... ahok tidak minta maaf karena dia salah ngomong

minta maaf ahok itu seharus-nya dijadikan cermin bagi manusia2 (suci) tersebut ... supaya mereka tidak lagi membuat gaduh (apalagi dengan ancaman) sambil bawa2 agama ... minta maaf ahok sebaiknya bukan malah dikeplok2 lalu bilang "Yes ... lihat dong betapa sucinya KTP kita ... karena bisa memaksakan (dengan kegaduhan dan ancaman) hingga akhirnya ahok minta maaf "

sisanya tentang GOLPUT >>> ya ga apa2 kalau begitu pendapat anda ... tapi maksud saya sebelumnya ... apakah seseorang mau golput atau tidak golput .. semua itu tidak menjadi tolak ukur iman seseorang >>> betul atau tidak ??

karena kalau ternyata apa yang dipilih memang benar dan sudah sesuai dengan tujuan ... ya malah lebih bagus lagi toh

2 good
Kalo berita tentang "kehebatan hoax" langsung dipercaya, tapi kalo berita KEJELEKAN hoax, dianggap FITNAH?? wkwkwkwwk..... Jadi inget si nduss gw. Cinta itu buta, jendral..!!

Cieee... ciee.. mengalah?? Katanya PEMBERANI?? Tuhan sekalipun kalo NGACO, akan diLAWAN..!!? Mana buktinya?? Baru ngadepin "manusia2 sok suci" yang NGACO aja, dia udah MINTA MAAF?? Berarti GEDE mulutnya doang...!?? wkwkwk..

ya makanya ... seperti saya sebut diatas : gimana kalau anda buka thread baru ... silahkan anda buktikan pada saya ... apa yang anda maksud dengan fakta bahwa ahok sudah menggangu aqidah/millah/tata cara ibadah muslim/agama/qur'an (sekalian bisa dibaca juga sama pembaca yang lain)

kalau bicara sana sini tanpa bukti dan fakta ... hanya berdasarkan isi kepala ... ya apa gunanya ??

ya ga sih ??

---------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : sip ... jadi eyel2an tentang Al Maidah 51 juga tidak perlu dijadikan dalil dalam pilkada kan ya ??

setuju

2 good  2 good

Bagi yang mw PAKE sbg dalil silakan. Bagi yang NGGA mw juga silakan.. BEBAS, ngga ada PAKSAAN. Yang jelas DOSA ditanggung masing2 khan. hehehe... Setuju...?? wkwkwkwk...
usil  

underline : bagi yang mau pake dalil Al Maidah 51 >>> bahwa ayat itu BUKAN LARANGAN bagi muslim untuk memilih non-muslim sebagai pemimpin ... selama non-muslim tersebut tidak melakukan kerusakan dsb

silahkan juga ga ??

merah : kalau bebas ga ada paksaan ... artinya ga boleh dong ya ngancem2 pake neraka segala ... atau pakai sebutan kafir dsb .... ga boleh bohongin umat pake Al Maidah 51 kan ya ??

---------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:biru : bagi anda kan ya ... artinya bukan bagi penduduk di Ramallah (kasus-nya sudah saya sampaikan) .... bukan juga bagi muslim2 di negara mayoritas non-muslim ... atau bahkan bukan juga bagi muslim di negara mayoritas muslim sekalipun (karena nyatanya ada banyak kasus dimana non-muslim boleh2 saja dipilih sebagai pemimpin di negara/wilayah yang mayoritas muslim)

sisanya : moso seh "sok tau" ?? .... bukannya perilaku mereka yang suka jualan ayat memang sudah jadi berita dimana2 ?? ... sudah masuk banyak media masa dibilang sok tau ....

justru .... sebaiknya umat di agama tersebut yang "bercermin" dan melakukan perbaikan ... bukan malah "ingkar (atau menutup2i) fakta" dan bersikap anti-kritik

kan bersikap lapang dada dengan menerima "keburukan" diri sendiri sambil terus melakukan perbaikan ... itu jauh lebih baik ... daripada bersikap anti-kritik seperti yang dilakukan kelompok2 tertentu (hanya karena mereka sudah dapet KTP sebagai manusia suci) .... lalu membuat kegaduhan dengan caci maki dan ancaman (yang justru sangat jauh dari ADEM)

piss  piss

Ya iyalah... Tepatnya bagi gw yang "kebetulan" ada di Jakarta/Indonesia yang relatif cukup gw pahami kondisinya. Bukan bagi orang2 yang "kebetulan" ada di daerah konflik/perang kaya' di Ramallah sono atw didaerah antah berantah lainnya.

Kalo berita ttg "kejelekan hoax" dianggap fitnah, tapi giliran berita ormas "jualan ayat" dianggap FAKTA...?? Sesama muslim difitnah "jualan ayat", Tapi ngga terima kalo "si hoax" dibilang menghina ayat al Quran dll?? Bisa berburuk sangka thd sesama muslim, tapi die hard membela non-muslim?? Apa2an sih ini?? ckckckck.....

Sebaiknya "si hoax" dan umat2 pemujanya itu "bercermin" dan berbaik sangka. Bukan malah "ingkar (atau menutup2i) fakta" dan bersikap anti-kritik. Janganlah selalu beranggapan si hoax NGGA pernah salah, dan membelanya membabi buta. Jangan selalu menganggap yang MENGKRITIKNYA itu berarti membenci.

"si hoax" selayaknya bersikap lapang dada dengan mengakui "kesalahan", minta maaf dan introspeksi terutama dalam UCAPANNYA. Jangan mengeluarkan statement "sok tahu" yang akan menimbulkan kegaduhan. Si hoax, juga jangan sombong (hanya karena ada kalangan yang menganggapnya sebagai "utusan tuhan" utk menyelamatkan Indonesia). wkwkwk....
usil

biru : padahal Al Maidah 51 juga ga turun hanya untuk orang jakarta  ... moso muslim jakarta bisa beda sendiri gitu memahami Al Maidah 51 dengan muslim2 seluruh dunia ?? (bagi penduduk di Ramallah (kasus-nya sudah saya sampaikan) .... bagi muslim2 di negara mayoritas non-muslim ... atau bahkan bagi muslim di negara mayoritas muslim sekalipun (karena nyatanya ada banyak kasus dimana non-muslim boleh2 saja dipilih sebagai pemimpin di negara/wilayah yang mayoritas muslim)

berarti ... memang ada yang salah dengan tafsir sebagian muslim di jakarta ... yang bilang bahwa Al Maidah 51 adalah larangan memilih non-muslim sebagai pemimpin (tanpa syarat)

----------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : kalaupun anda bilang seperti itu ... yang begini tidak terjadi dalam 2 tahun kepemimpinan ahok >>> tapi sudah sejak jaman orba yang dipimpin oleh manusia2 seukuwah anda juga >>> toh sebelumnya kelompok2 Islam itu juga diam saja ... ntah mereka yang memang jadi bagian dari demokrasi liberal itu sendiri atau gimana .... atau mungkin karena mereka berpikir yang penting KTP-nya sudah Islam

jadi .... ngapain coba repot dengan demokrasi LIBERAL yang sudah melenceng dari pancasila ?? >>> kan buat kelompok2 Islam ini apapun bentuk kerusakan yang ditimbulkan oleh si pemimpin ... yang penting KTP si pemimpin sudah Islam ... jadi sudah pasti masuk surga

biru : kan sebelumnya anda bicara tentang perang IDE (ghazwul fikri)

saya cuma bilang ... jaman sekarang ga ada yang namanya perang IDE (ghazwul fikri) ... yang ada cuma perang proxy atau perang kepentingan antara mereka2 yang terjebak dengan omongan-nya si asing, aseng, atau aswan

hijau : ga lah ... saya ga pernah bilang anda anti pancasila kok ... saya cuma menjelaskan saja ... kan diawal anda bilang bahwa demokrasi tujuannya untuk kekuasaan (bagi) pemodal .... saya hanya jawab : tergantung pemerintah-nya ... dan sebetulnya demokrasi pancasila tidak begitu

Makanya gw pake "teori MENDINGAN". Karena pilihannya cuma yg "mendingan" diantara yang buruk (dem-pancasila vs dem-liberal) maka gw lebih memilih dem-pancasila yang agak mendingan karena ada sila pertama dst. Kalo liberal sila pertamanya apa??

Negara mw maju spt apapun kalo ngga berkah, bwt apaan?? Buktinya Negara2 dem-liberal yang katanya MAJU2, BOBROK semua moralnya karena mengesampingkan nilai2 agama.

Kok jadi lucu gini sih?? wkwkwk....

lah trus kalau menurut anda dari dulu negara ini sudah berdemokrasi liberal ... KENAPA CUMA PROTES SAMA AHOK ??? ... kenapa baru sibuk sekarang trus langsung disematkan ke ahok ... kemaren2 kemana ajah ??

>> kenapa ga sekalian anda bilang juga Anies dan Agus itu bagian dari asing, aseng, dan aswan ?? .... kenapa ga sekalian anda bilang semua pemimpin2 muslim dari era Sukarno juga bagian dari asing, aseng, dan aswan ?? ... memangnya semua orang ini pakai sistem pemilu model apa ?? tinggal di negara berdasarkan apa ??

>> negara ini dari dulu sampai sekarang sistem-nya sama aja ... model-nya begitu2 juga ... kok yang ditolak cuma ahok
>> ga konsisten ih

--------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:kan buat kelompok2 Islam ini apapun bentuk kerusakan yang ditimbulkan oleh si pemimpin ... yang penting KTP si pemimpin sudah Islam ... jadi sudah pasti masuk surga

Pemimpin muslimnya zhalim ya diingatkan dong. Masa' didiamkan?? Lebih mudah mengingatkan pemimpin muslim dari pada mengingatkan pemimpin non-muslim??

Btw, bukannya yg ngaku2 paling ngerti masalah IMAN dan pasti masuk surga itu "si hoax" ??? Apa perlu gw kasih link videonya, nih?? wkwkwk...
piss

merah : Indonesia pernah jadi negara paling korup di dunia ... mana peringatannya ?? >>> mana buktinya yang merah underline

sisanya : udah deh ... mending urus iman kita sendiri aja dulu ... daripada ngurusin iman orang lain >>> Lakum Dinukum Waliyadin

--------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : oke ... jadi begitu ya pendapat anda .... maka BILA ternyata Ahok kalah (artinya banyak warga DKI sependapat dengan yang 150 ribu) >>> hasil ini-pun TIDAK MENJADI TOLOK UKUR bahwa yang 150 rb tersebut benar ... ya kan ??

karena seperti anda bilang .... belum tentu yang KUAT/BANYAK itu yang BENAR

Yup. Kebenaran itu letaknya bukan di MENANG-KALAH PILKADA dll. Kebenaran itu PATOKANNYA adalah FIRMAN yang ALLAH turunkan sebagai pedoman bagi manusia.

merah : dan menurut saya firman Allah tentang Al Maidah 51 BUKAN untuk melarang muslim memilih non-muslim sebagai teman/sahabat/allies (selama non-muslim tidak melakukan kezaliman dst)

trus gimana ?? .... jadi siapa yang benar antara 150 ribu diatas vs yang bukan 150 ribu ??

-----------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:biru : ya ... masalahnya untuk jaman sekarang ... siapa coba yang bisa menilai mana yang disebut pendukung Muhammad SAW vs pendukung Abu Jahal ?? (apalagi bila kedua kelompok sudah sama2 muslim) >>> apakah hanya karena jumlah-nya minoritas lalu sudah bisa dipastikan mereka adalah pendukung Muhammad SAW ?? (begitu juga sebaliknya)

Lho masa' sih kak dee ngga bisa membedakan?? Baca aja al munafiqun. Lihat ciri2 orang munafiq itu seperti apa??

underline : kalau saya bilang seperti FPI gimana ??

----------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:maka balik ke ungu

jadi ... maksud saya tentang menang vs kalah dalam pilkada >>> kalau Ahok menang ... artinya TIDAK ADA BUKTI mayoritas muslim Jakarta "merasa"  di acak2 aqidah dan millahnya >>> sudah ini saja

saya hanya bicara tentang "merasa" ... bahwa tidak ada bukti mereka merasa seperti yang anda sebutkan >>> saya tidak bicara siapa yang benar atau salah antara yang menang vs kalah ini

apalagi bila harus nyambung tentang banar vs salah ... hitam vs putih berkaitan dengan Muhammad SAW vs Abu Jahal

Demo 150rb orang di jakarta dan ribuan didaerah lain adalah bentuk "unjuk rasa", bahwa muslim "merasa" islam telah "diacak2" oleh hoax. Jika mengaku muslim tidak merasa terwakili oleh "unjuk rasa" itu, maka orang tsb. patut mempertanyakan hal keimanannya, pada dirinya sendiri.

ceileee .... Kasus ahok dan Al Maidah 51 tidak ada hubungannya dengan penistaan agama ... justru ribuan umat Islam itu yang DIBOHONGI oleh berita hoax ala plintiran Buni Yani, FPI dan semua geng2nya

logika darimana anda bisa berpikir umat Islam merasa terwakili oleh berita provokator ??

---------------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : ya bisa saja seperti itu ... tapi kalau menurut saya tidak >>> kenapa ?? .... karena yang disebut "menetapkan untuk memilih ahok atau tidak memilih ahok" ... itu sudah jadi mindset yang mereka bawa terus menerus (mungkin sejak jaman Jokowi nyagub)

misalnya : mereka2 yang sudah menetapkan untuk mendukung ahok SEJAK AWAL  ... mindset mereka justru sudah TIDAK MAU bicara soal SARA terkait pilkada ... itulah kenapa sejak awal mereka sudah pilih ahok ... apalagi bila kemudian mereka memandang positif kinerja ahok selama 2 tahun (diluar benar atau salah pandangan mereka ini loh ya)

sebaliknya : mereka2 yang sudah menetapkan untuk TIDAK mendukung ahok SEJAK AWAL .... mindset mereka (mungkin) memang melihat issue SARA sebagai hal yang penting dalam pilkada ... walaupun memang bukan hanya masalah SARA ... tapi bisa saja mereka tidak suka dengan karakter kepemimpinan atau cara bicara ahok dsb ...

Gw rada SETUJU dgn analisa kak dee yg ungu...
2 good

Jadi ... kasus Al Maidah 51 ini ... ditambah dengan demo se-grambreng dsb ... semua itu tidak mempengaruhi apa2 di suara pilkada nanti (kalaupun ada pengaruh-nya juga kecil)

@dee-nee wrote:jadi maksud saya ... issue Al Maidah 51 ini ... pada dasarnya tidak ada bedanya dengan issue "sara" lain terkait ahok .... ada atau tidak ada kasus Al Maidah  ... tidak merubah mindset si pemilih apakah mereka akan memilih atau tidak memilih ahok >>> kalaupun ada perubahan .... menurut saya kecil sekali (balik ke ungu)  

jadi .... ya kita lihat saja hasil pilkada nanti ...  karena masih banyak juga suara swing voters yang ntah masih ragu2 untuk milih ... atau memang sudah kekeuh untuk menjadi golput

2 good

------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:Menurut gw issue al maidah ini sebenarnya ngga ada hubungan scr langsung dgn pilkadal. Isuue ini muncul karena si hoax sendiri yang bawa2 ayat suci agama yg tidak dianutnya, dalam urusan dinas resmi. Pun seandainya dia mw curi start kampanye, khan ngga perlu dia bawa2 al maidah 51??

Ahok sudah pidato dari bulan September ... kalian baru heboh setelah nonton video Buni Yani bulan Oktober >>> logika darimana anda bisa nyalah2in Ahok ??

yang dengerin pidato aja nyantai2 ... mereka juga muslim sama dengan anda ...
lah ini kok heboh-nya delay ... lewat video karbitan model2 Buni Yani pula ...

dan faktanya ... memang ada orang2 yang membohongi umat pake Al Maidah 51 (artinya apa yang dikatakan ahok juga tidak salah)

--------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : muslim di Indonesia sudah membuat kesepakatan dengan non-muslim dalam 4 pilar ... bahwa kedudukan muslim dan non-muslim setara antara hak dan kewajiban dalam konteks berbangsa dan bernegara

“Kecuali orang-orang musyirikin yang kamu mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu. maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa” [at-Taubah/9]

dalam konteks ini ... kalau ada kelompok2 tertentu yang tidak mau taat pada kesepakatan 4 pilar ... ya sudah ... silahkan mereka yang mengundurkan diri ... karena mayoritas muslim tetap taat pada kesepakatan yang sudah ditetapkan (baca yang pink) ... kan perintah dalam QS 9:4 juga sudah jelas (size 18)

Syarat unutk memenuhi perjanjian adalah :

"tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu".

dan bila sudah terbukti tidak ada sesuatupun yang dikurangi (dari isi perjanjian) dan tidak pula ada seseorang yang memusuhi kamu >>> maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya

@RHCP wrote:Yang mana aturan2 dibuat berdasarkan hukum Allah dan pimpinan dipegang oleh rasulullah sendiri, tidak diserahkan kepada non-muslim.

Jiahahaha.... Apa2an tuh 4 pilar?? Apa itu usaha utk mendegradasi nilai PANCASILA?? Dari awal PANCASILA adalah DASAR NEGARA bukan PILAR NEGARA.!! Dimana sila pertama dari DASAR NEGARA Indonesia adalah KETUHANAN Yang Maha Esa. Yang harus MUNDUR justru yang mencoba2 mendegradasi nilai pancasila terutama sila pertama "KETUHANAN Yang Maha Esa".

biru : dalam sistem TATA NEGARA DI INDONESIA >>> UU dipegang dan disahkan oleh DPR ... apa yang dilakukan pemimpin HANYA MELAKUKAN UU tersebut .... kalau anda bilang UU negara tidak sesuai dengan hukum Allah ya protes sama DPR-nya sana

>>> lagipula pada era Nabi .... hukum Allah ya dipegang Allah sendiri lah ... Rasulullah juga hanya menjalankan apa yang menjadi hukum Allah ... Rasulullah hanya menjalankan apa yang diamanatkan oleh Allah ... dan dalam konteks jaman Nabi-pun ... Allah memang hanya menyerahkan pada Rasulullah (bukan pada siapapun itu ... apakah muslim atau non-muslim) >>> jadi ga ada hubungannya dengan kalimat anda yang underline (karena Allah memang tidak menyerahkan pada siapapun selain Nabi Muhammad SAW)

merah : ceile ... cuma eyel2an masalah tata bahasa di MK aja anda ribut ... mau disebut dasar kek ... fondasi kek ... pilar kek ... atap kek ... tembok kek ... tetep aja judulnya ada 4 >>> yaitu UUD 45, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika

dan yang 4 ini adalah kesepakatan antara muslim dan non-muslim .... dimana muslim wajib memenuhi perjanjian tersebut

dan dalam perjanjian tersebut sangat jelas tertulis bahwa HAK DAN KEWAJIBAN MUSLIM DAN NON MUSLIM ADALAH SETARA DALAM BERBANGSA DAN BERTANAH AIR

>>> diluar apakah (menurut anda) perjanjian ini sesuai dengan hukum Allah atau tidak ... silahkan anda berdebat dengan seluruh muslim di Indonesia ... (bahkan termasuk MUI itu sendiri .... karena mereka juga sudah mengeluarkan fatwa WAJIB HUKUMNYA bagi muslim untuk taat pada kesepakatan yang 4 ini)

jadi ... kalau ada kelompok2 tertentu yang tidak mau patuh pada kesepakatan >>>> JANGAN TINGGAL DI NEGARA INI

kalau ada kelompok2 tertentu yang merasa kesepakatan 4 pilar tidak berdasarkan hukum Allah >>> silahkan cari negara lain yang menurut mereka sudah sesuai dengan Hukum Allah

beres kan ??

----------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:sisanya : perang proxy kok cuma urusan pemilu .... ya ga lah ... perang proxy mah sudah masuk kemana2 ... Abu Sayaff yang nyulik2 orang pun ga ada hubungannya dengan pemilu di filipina ... islamphobia terjadi juga bukan hanya waktu pemilu .... toh nyatanya keberadaan mereka (Abu Sayaff dan islamphobia) adalah bagian dari perang proxy itu sendiri

biru : atau misalnya .... menggunakan orang islam/mengaku islam/ulama/kyai/ustad yang corrupted, agar muslim menjadi tidak kaffah, takut disebut munafik bila bersikap toleran, damai, membela keadilan, tidak dipenuhi hatred dan permusuhan dlsb. Sehingga pemikiran orang islam perlahan-lahan bergeser menjadi orang2 radikal seperti ISIS (yang tidak toleran, tidak damai, tidak mengenal keadilan, dan dipenuhi hatred serta permusuhan)

apa bedanya ?? ... perang proxy juga bukan ini namanya

hijau : apa yang saya lakukan dan katakan terkait ahok ... (menurut saya) juga sudah sesuai dengan perintah Allah

kenapa ?? >>> karena saya haqul yakin ... Allah tidak pernah memerintahkan umat-Nya untuk negative thinking pada suatu hal yang tidak ada buktinya (misalnya terkait ahok) ... walaupun anda bilang "Allah memerintahkan kita untuk berhati2"

berhati2 itu bukan artinya kita harus habis2an mencurigai orang tertentu (tanpa dalil dan bukti) ... apalagi dengan cara pukul rata atas nama SARA mereka yang justru berakhir dengan fitnah atau buruk sangka .... karena semua itu tetap harus dicari bukti dan faktanya

Perang proxy itu urusan KEKUASAAN disuatu daerah/negara tertentu. Kalo di negara2 dgn "sistem demokrasi", maka urusannya PEMILU.

selain pemilu dan kekuasaan ... dalam hal apapun juga banyak dipengaruhi oleh perang proxy ... kepentingan2 untuk si aseng, asing, atau aswan

kan saya sudah kasih contoh ... Abu Sayaff, islamphobia, dsb ... semua itu perang proxy >>> ga harus ada pemilu

-----------------------------------------------------------

@RHCP wrote:Ghazwul fikri itu upaya musuh2 islam utk menghancurkan dan memecah belah umat islam lewat sistem DEMOKRASI (liberal), budaya, pemikiran "ala barat" dgn slogan-slogan indah menawan, seperti kebebasan berpikir, toleransi, HAM dll. Dgn tujuan mendangkalkan aqidah serta mengaburkan yang haq dan bathil, dengan bantuan orang2 munafiq. Mungkin Termasuk juga penyebaran fitnah thd islam mengenai islam radikal/garis keras/ISIS dll.

Kak dee sendiri sadar/ngga sadar, sdh berburuk sangka kepada sesama muslim. Bahkan lebih memilih utk berbaik sangka dan berpihak kepada non-muslim. Why??

merah : lah ISIS itu jelas radikal ... dan mereka bagian dari perang proxy itu sendiri ... apanya yang fitnah tentang ISIS ?? >>> moso anda mau bilang ISIS = Islam sih ??

ungu : sama saja ... sekarang ini juga ada usaha2 utk menghancurkan dan memecah belah umat islam lewat sikap2 radikal dan intolerensi atas nama "syariat Islam" palsu ... karena sudah sangat jelas tidak ada pemahaman radikal sedikitpun dalam syariat Islam >>> coba baca yang underline ungu .... teori darimana anda bilang Islam tidak mengenal demokrasi, toleransi, dan HAM ??

aturan perang dalam Islam saja jelas sudah sangat sesuai dengan HAM >>> HAM itu bicara tentang kemanusiaan, toleransi itu hubungannya dengan hablum minannas ... demokrasi itu hubungannya dengan konsensus (seperti yang dilakukan Khulafaur Rasyidin dalam memilih pemimpin)

apa menurut anda Islam tidak mengajarkan kemanusiaan, hablum minannas, dan konsensus ??

biru : kok malah dibilang berburuk sangka .... dari awal saya bilang : TIDAK ADA ITU YANG NAMANYA Ghazwul Fikri ... yang ada sekarang ini adalah PERANG PROXY ... yaitu perang kepentingan antara yg termakan oleh omongan asing, aseng, atau aswan >>> DAN INI BUKAN BURUK SANGKA ... tapi FAKTA

justru saya mengatakan pada anda ... hati2 kena paham radikal ,,, yang sebetulnya adalah bagian dari perang proxy itu sendiri >>> walaupun pake istilah Ghazwul Fikri bla bla bla dsb ... ujung2nya tetap saja perang proxy

kalau anda ga percaya ... ya sudah

---------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : makanya ... jadi karena yang sudah sholat saja bisa keji dan munkar (yg underline) ... gimana kalau kita ga usah ngurusin orang lain ... tapi pikirkan saja diri kita sendiri (yang sholat ini) apakah masih keji dan munkar atau tidak ??

siapa tau sikap2 kita pada orang lain (buruk sangka, penuh praduga, sombong, merasa paling benar, dsb) ... justru disebabkan karena kemungkaran kita sendiri (walaupun kita sudah sholat)

Kalo utk mencari figur pemimpin islam yang baik (misalnya), gimana?? Kenapa ngga boleh menilai dari sholatnya?? Maksud dan tujuannya-pun ngga JELEK, apa salahnya??

Kalo mengaku muslim tapi memelihara "negative thinking" kepada sesama muslim, itu khan aneh?? LEBIH ANEH lagi, malah lebih memilih berbaik sangka kpd non-muslim (yg modelnya spt hoax)??

begini loh maksud saya >>> saya pernah kerja di Bappenas ... setiap sholat jumat ... banyak yang rame2 pergi ke mesjid (Mesjid Sunda Kelapa kan di daerah situ) .... tapi seperti bagaimana shaf2 shalat diatur pada umumnya ... pejabat selalu dapat shaf paling depan ...

saya perhatikan niat para karyawan ini beda2 untuk sholat Jumat ... ada yang buru2 wudhu dan berangkat ke mesjid paling awal supaya dapat posisi dekat dengan boss (ini fakta dia sendiri yang bilang "harus sholat deket pak anu karena dia mau me-lobby sesuatu - setelah sholat) ... ada yang sholat-nya rajin korupsi-nya juga rajin ... tapi banyak juga yang sholat-nya rajin orangnya juga bersih

tapi point saya >> manusia itu macam2 jenis nya .... dan saya hanya bilang >>> jangan menilai keimanan seseorang HANYA DARI SHOLAT-NYA ... karena inti dari ajaran Islam itu bukan hanya perintah untuk sholat

gitu loh

biru : kalau saya bilang muslim2 model FPI itu adalah muslim radikal >>> dimana negative thinkingnya ??? >>> semua orang juga tau bahwa FPI adalah ormas yang selalu mengandalkan kekerasan dan sering tidak taat pada hukum

underline biru : karena semua tuduhan yang diberikan kepada ahok MEMANG TIDAK ADA BUKTINYA >>> bukan berbaik sangka ... tapi memang tuduhan2 tersebut TIDAK ADA BUKTINYA

-------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : lah katanya (HTI) muslim wajib hukum-nya memilih pemimpin ... golput kan artinya tidak melaksanakan kewajiban itu >>> fatwa 2009 itu kan artinya larangan bagi muslim untuk TIDAK memilih pemimpin ... kenapa ?? ... karena yang ungu

Kak dee paham khan yang dimaksud "pemimpin" oleh HTI itu spt apa?? Kalo masih penasaran, ya silakan tanya sama orang HTI yang golput. wkwkw..
piss

ini gimana toh ...

tadi katanya nanya DALIL AL QURAN dan HADIST tentang kewajiban muslim memilih pemimpin >>> anda ga mau ikut fatwa MUI karena anda bilang TIDAK ADA DALIL AL QURAN DAN HADIST NYA bahwa seorang muslim wajib memilih pemimpin

>>> kan anda sendiri yang bilang "yang ada juga hak memilih ... bukan wajib memilih" >>> gitu kan ??

makanya saya kasih dalil HTI >>> tapi anda malah balik nanya yang merah >>> ya mau apapun dalil HTI tentang yang disebut pemimpin ... FAKTANYA tetap ada dalil AL QURAN dan HADIST nya tentang kewajiban muslim memilih pemimpin >>> gitu loh

jadi gimana ?? ... anda masih mau bilang bahwa fatwa MUI tentang kewajiban memilih pemimpin tidak ada dalil al quran dan hadist nya ??

anda masih mau bilang bahwa "fatwa golput haram" tidak berdasarkan Al Quran dan Hadist ??

oh ya ... MUI sudah klarifikasi loh .... tentang Al Maidah 51 dsb yang kemarin ini >>>> apa yang diumumkan kemarin itu bukan fatwa MUI  ... tapi "sikap keagamaan" MUI >>> artinya sikap mereka pribadi ... ga nurut juga ga apa2

hihihihihihihihihi

---------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:biru : nyatanya Rasulullah menjalin hubungan kerja sama (sebagai teman/sekutu/allies) dengan yahudi dan nasrani tuh .... selama ada perjanjian damai dan trust diantara dua pihak >>>> makanya saya tanya ... apakah menurut anda Rasulullah melanggar Al Maidah 51 ?
Perjanjian dalam hal APA?? Yang buat UU/peraturannya adalah rasulullah sendiri yg BERDASARKAN hukum Allah. Pucuk pimpinan dipegang oleh rasulullah sendiri, tidak pernah diserahkan kepada non-muslim.

Kemudian setelah terjadi pengkhiatan. Maka TRUST itu ngga berlaku lagi bagi yang melanggar perjanjian. Apa hikmahnya?? Waspada thd yahudi dan nasrani (termasuk orang2 munafik yg bersekutu dgn mereka). Karena mereka tidak akan pernah RIDHO dgn islam, sampai kita ikut millah mereka

biru : dan berdasarkan hukum Allah juga ... Rasulullah membuat kesepakatan dalam Piagam Madinah dengan non-muslim ... dimana muslim WAJIB TAAT DAN MENEPATI SELURUH ISI perjanjian tersebut

merah : memang sejak kapan Rasulullah menyerahkan pucuk pimpinan pada siapapun (bahkan muslim sekalipun) ?? >>> Khulafaur Rasyidin pun tidak pernah ditunjuk oleh Rasulullah ... wong mereka dipilih juga secara konsensus kok >>> so tetap dipilih oleh rakyat toh ... Rasulullah pun ditunjuk sebagai pemimpin oleh mayoritas penduduk di Madinah / Yathrib (artinya tetap menggunakan sistem dimana pemimpin ditunjuk oleh rakyat)

ungu : gini ya ... kalau urusan khianat mengkhianati ... ga usah yahudi dan nasrani pada jaman Rasulullah ... pada waktu itu pun ada juga sahabat Rasulullah yang berkhianat pada beliau >>> jadi ... urusan trust itu bukan dilihat dari agamanya .... tapi dari masing2 individu nya

berteman dengan nasrani dan yahudi yang berhianat... atau berteman dengan muslim yang berhianat ... semua itu juga termasuk apa yang anda tulis ungu underline >>> trus gimana ?? anda sudah waspada belum pada muslim2 yang kemungkinan besar melakukan khianat (misalnya menyebarkan berita palsu (tanpa bukti dan fakta) ... tidak amanah, melanggar hukum, dsb) ??

toh nyatanya juga ... Rasulullah tetap bisa menjalin kerja sama tuh (friends/allies/sekutu) dengan yahudi dan nasrani SELAMA ADA TRUST diantara kedua belah pihak

-------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:misalnya khusus untuk Ahok ... nyatanya tertulis juga dalam Al Quran

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. (QS. Al-Maidah : 82)

Ngiahaha.... hampir aja gw salah paham, gw kirain ahok ada di al Quran. Paling dekat dgn nasrani itu dalam hal PERSAHABATAN, BUKAN PERSEKUTUAN atw mengangkat mereka sebagai WALI.

Lagian si hoax itu termasuk rahib/pendeta nasrani apa bukan?? si hoax yang pernah ngomong "yakin masuk surga dan paling tahu soal iman" itu termasuk menyombongkan diri/NGGA??hoax itu suka menghina millah islam apa ngga?? (yg terakhir ini pasti jwbannya NGGA, wkwkwkwk...)
piss

biru : lah ... awliya kan juga artinya sahabat/sekutu/teman >>> gimana toh anda ini

hijau : ya ... meneketehe ... tanya aja sama yang kristen ... yang kaya gitu sombong ga namanya ??

ungu : ga ada bukti ahok menghina milah Islam ... anda bolak balik bikin gosip mulu apa ga bosen ??

orange : yang dimaksud ayat itu .... bukan hanya pendeta2 dan rahib saja yang disebut "paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman" ... tapi juga termasuk umat Nasrani secara umum

>>> kan jelas ada kalimat yang bold dalam ayat itu ... artinya umat nasrani paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ... disebabkan karena ada pendeta2 dan rahib2

------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : kalau begitu logikanya ... maka beriman atau tidak beriman seseorang juga tanggung jawab oknum itu sendiri kpd Allah

Tanggung jawab yang milih gimana?? Udah jelas IMANNYA BEDA jurusan. Kalo semua urusan diWALIkan kepada yang BEDA IMAN, mana mw dia peduli/tanggung jawab thd Tuhan yang ngga diyakininya??

dah dibilang .. pilkada itu milih pemimpin >>> MEMILIH SIAPA YANG PALING BISA DIPERCAYA MEMBANGUN JAKARTA ... BUKAN MEMILIH SIAPA YANG PALING BERIMAN (apalagi kalau sebutan beriman hanya sebatas karena syahadat)

merah : dia bertanggung jawab untuk melaksanan UU yang berlaku ... tanggung jawab dia pada tuhannya adalah tanggung jawab dia sendiri >>> tapi tanggung jawab dia pada masyarakat adalah menjalankan UU dan taat hukum

susah ya paham kalimat saya ini ??

----------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:biru : siapa yang milih kristen ... wong saya pilih ahok .... kalau yg kristen itu Trump ya ga saya pilih ... sama kalau yang Islam itu Habib Rizieq (misalnya) ya ga saya pilih juga ... tapi kalau yang Islam itu Jokowi saya pilih

xixixixixi.....
Kenapa menjadikan hoax yg kristen dengan meninggalkan orang2 beriman?? khan ada juga perintahnya utk jangan mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang2 beriman (QS. Al Imran: 28).

lah ... kalau ga percaya sama yang muslim ... moso mau dipaksa ??

merah : yang bener itu ... "meninggalkan orang-orang mukmin" kali ... bukan "meninggalkan orang2 beriman"

trus menurut anda Anies dan Agus disebut muslim atau mukmin ?? >>> yang dimaksud mukmin itu apa sih ??

mana buktinya kalau saya pilih ahok artinya saya meninggalkan orang-orang mukmin ?? >>> memang anda yakin Anies dan Agus sudah disebut mukmin bagi Allah ??

-----------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:biru underline : justru saya lihat banyak ormas tertentu yang terang2an menghina agama Allah yang rahmatan lil 'alamin dengan segala caci maki dan hinaan (sambil membawa2 nama agama Allah)
Misalnya?? Contohnya?? Yakin bukan buruk sangka?? Udah pernah dibuktikan FAKTANYA?? hehe..

ya FPI lah .... jeileh masih ditanya pula buktinya

mending confirm dulu deh ... mereka2 yang suka melakukan caci maki dan hinaan (pada siapapun) sambil membawa2 nama agama Allah >>>> yang seperti ini bisa disebut menghina agama Allah ga ??

-------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : sejak kapan FPI negur DPR (legislatif) ?? ... mau sampai hujan salju di Indonesia juga ga pernah ada ceritanya FPI punya nyali negur DPR

wong yang mereka kerjakan juga cuma sweeping sana sini ala preman begitu kok .... padahal jelas kasusnya .... miras itu ada karena produk hukum yang dibuat legislatif2 muslim itu sendiri

pernah ga FPI demo teriak2 "bunuh koruptor atau hukum mati DPR yang mensahkan miras" ??

Ooh... jadi kak dee mikirnya FPI itu isinya premandan orang bloon semua ya...?? Gw sendiri malu hati kalo lihat sepak terjang FPI yang FAKTA sebenarnya selalu ditutupin oleh media mainstream.
ehmm

oh iya ya ... Keppres No 3\/1997 udah batal karena FPI ya .... tapi muncul lagi tuh keppres miras berikutnya dari SBY

http://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/14/01/02/mys4qe-sby-terbitkan-perpres-miras-baru

mana FPI nya setelah itu ?? ... hilang dan raib dari peredaran karena udah dapet "jatah" mungkin ya

hadeehhhh ... FPI memang basi

-----------------------------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:
jangan dipotong2 dong ayat-nya ...

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS an-Nisa’:59)

merah : wong ayat itu tentang kepada siapa kita harus taat ... anda malah nyasar bicara tentang memilih pemimpin (padahal saya juga sudah jelaskan tentang sistem tata negara di Indonesia ... dimana pemimpin (eksekutif) bukan penguasa tunggal ... dan mereka wajib taat pada UU)

Lha... bukannya kak dee yang bawa2 "pemimpin yang dipilih dgn cara yang baik dan benar"?? wkwkwk

Sebenarnya gw ngga bicarain milih pemimpinnya kak dee, justru masalah KETAATAN thd pemimpin. Apabila terjadi perselisihan/tidak sepaham. Maka WAJIB kembali pada hukum Allah dan rasulnya.

Islam tidak mewajibkan utk taat kpd uu buatan manusia. Tapi sbg warga negara, selama uu itu tidak bertentangan dgn hukum Allah dan rasulnya, no reason to disobey.

merah : lah iya ... saya juga sudah bilang >>> cara yang baik dan benar itu maksudnya sesuai dengan aturan2 yang sudah ditetapkan ... taat hukum ... dan bukan dengan paksaan atau ancaman ... main hakim sendiri, bergaya hukum rimba atau malah bikin rusuh dimana2 (misalnya begitu)

biru : lah ya udah ... kan saya juga sudah jawab sebelumnya

ayat itu artinya ... taat pada hukum Allah, Rasul, dan para pemimpin yang diplih dengan cara yang baik dan benar

Allah tidak pernah melarang muslim untuk memilih non-muslim sebagai teman/allies SELAMA non-muslim itu tidak melakukan kerusakan, kezaliman, dan pelanggaran hukum Allah (sesuai dengan Al Maidah 51)

Rasulullah juga tidak pernah melarang bila non-muslim dijadikan sebagai teman/allies SELAMA sudah ada perjanjian damai dan ada trust diantara muslim vs non-muslim (sesuai dengan hadist)

Pemimpin di Indonesia dipilih secara demokratis ... dimana pilihan mayoritas yang kemudian terpilih sebagai pemimpin .. akan diberi waktu untuk memimpin selama waktu tertentu (artinya bukan selamanya) ... untuk menunjukkan apakah dia berhasil atau gagal ... sementara dia juga TERIKAT oleh hukum2 yang berlaku (sesuai dengan UU, sesuai dengan kesepakatan (musyawarah dalam parlemen) dan disetujui oleh seluruh ulama di Indonesia - ijma ulama)

trus apa lagi masalahnya ??

------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:berjuta kali anda menulis yang biru >>> kalau ga ada yang percaya anda karena tidak ada bukti dan dalil ... trus maunya gimana ?? ... moso mau anda paksa2
Ya silakan, kalo ngga percaya juga ngga masalah. Kewajiban gw cuma sebatas mengingatkan, terutama bagi diri gw sendiri.

sip ... jadi kalau ga percaya ga masalah toh ya .... ga boleh "dimarah2in" dibilang kafir, munafik, sesat, dsb dong ya

2 good

------------------------------------------------------------

@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:biru : bawa sini buktinya ada orang yang dipaksa2 milih ahok >>> bukannya justru terbalik ... malah banyak yang dikafir2kan kalau ada muslim yang tetap milih ahok (bahkan diancam pake neraka pun ada) ... bebas memilih kok diancem pake neraka (kaya abad pertengahan ajah)

sisanya : hehehehehe ... saya anggap anda sedang curcol ya disini ...  

piss

Maksud gw bukan DIPAKSA MILIH, tapi MAKSAIN diri MILIH hoax. Dengan meninggalkan orang2 beriman. Khan msh banyak muslim yg baik, tidak korupsi, santun dan amanah.

Ahh masa sih.... milih yang non-muslim itu memang DILARANG ALLAH, tapi bukan otomatis jadi murtad atw KAFIR. Menurut gw berlebihan kalo mengkafir2kan.

hehehe iya.... Itu emang sekedar pendapat pribadi gw, karena sering lihat video2 "kehebatan2" si hoax. Terutama kalo liat video "BERANI lawan Tuhan kalo ngaco" atw "paling ngerti iman dan pasti masuk surga" apalagi kalo lihat video epic "drpd ninggalin TA, mendingan ngga jadi gubernur". hehehe.

merah : kalau mereka percaya dengan ahok trus mau gimana ?? ... mereka percaya bahwa ahok bisa membangun jakarta lebih baik ... dan mereka juga ga masalah liat ahok marah2 ke DPR ... karena mereka tau kenapa dan kepada siapa ahok marah2 ... mereka juga ga masalah ahok menggusur (dengan paksaan) orang2 yang mereka anggap ga mau diatur ... karena mereka lihat  orang2 yang tinggal di bantaran sungai memang harus digusur ... dipindahkan ke tempat yang lebih layak >>> kalau mereka mikir gini mau gimana ??

biru : masalahnya mereka ga percaya bahwa yang dua calon ini amanah dan tidak korupsi

-----------------------------------------------------------
..
@RHCP wrote:
@dee-nee wrote:merah : oh ya ... trus anda tau darimana siapa2 saja yang disebut mendapat hidayah/petunjuk dari Allah ?? ... atau siapa2 saja yang disebut beriman dan bertaqwa ?? >>>> anda pernah dapat laporan bulanan-nya dari malaikat ??

piss piss
Kak dee merasakan KEYAKINAN bahwa islam itu satu2nya AGAMA yang benar dan diridhoi ALLAH dari mana??
Karena merasakan/mendapatkan HIDAYAH/PETUNJUK, atw sekedar IKUT2AN doang??
Atw karena rutin dapet laporan dari malaikat setiap bulan?? wkwkwkwk....

usil usil

Silakan dibaca kak dee (maaf, bukan sok ngajarin)
http://www.jadipintar.com/2014/10/ciri-ciri-orang-bertaqwa-sifat-dan-amalannya-menurut-alquran.html

Mohon dimaafkan kalo ada yg ngga berkenan...
piss piss

merah : jiah ... anda kok jaka sembung lagi toh ya ....

saya cuma bilang ... ANTARA SAYA DAN ANDA ... siapa yang paling benar tetap tergantung masing2 orang >>> tapi tetap saja yang paling tahu tentang kebenaran hanya Allah

apa hubungannya dengan iman saya terhadap Islam ?? >>> apakah saya dan anda dua2nya BERIMAN >>> tetap saja YANG PALING TAHU TENTANG KEBENARAN HANYA ALLAH

tentang HIDAYAH/PETUNJUK >>> sampai kiamat ... saya dan anda bisa terus berdebat tentang siapa DARI KITA BERDUA yang mendapat HIDAYAH/PETUNJUK >>> dan karena saya ga mau berdebat tentang yang underline ini ... saya menulis yang ungu  

gitu loh

btw thanks link-nya

2 good 2 good

biru : sama2 saya juga minta maaf

piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by Azed on Thu Oct 27, 2016 10:58 pm

@RHCP wrote:Menurut gw issue al maidah ini sebenarnya ngga ada hubungan scr langsung dgn pilkadal. Isuue ini muncul karena si hoax sendiri yang bawa2 ayat suci agama yg tidak dianutnya, dalam urusan dinas resmi. Pun seandainya dia mw curi start kampanye, khan ngga perlu dia bawa2 al maidah 51??
Isue Al Maidah 51 itu hampir selalu berhubungan dg masa pilkada dan pilpres, tdk dimunculkan dlm persoalan selain itu.

Ayat ini dipolitisir setidaknya mulai pilpres 2009, jauh sebelum nama Ahok muncul. Kemudian th 2012 waktu pilkada DKI, Lalu di pilpress 2014, dg sasaran Jkw yg difitnah sbg Kristen (yg dituduh menyamar jadi muslim).

Ketika Ahok menggantikan Jkw jadi Gubernur, isue ini juga muncul. Tapi kurang hot krn secara konstitusi, jabatan Gubernur yg berhenti memang menjadi jatah wakilnya.

Setelah Ahok menyatakan akan maju di pilkada DKI 2017, ayat tsb. "dimainkan" lebih intensip.

Azed
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 160
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 02.09.12
Reputation : 25

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 2 dari 6 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik