FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Halaman 6 dari 7 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by isaku on Mon Nov 21, 2016 4:49 pm

First topic message reminder :

Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dari bangsa lain?

Bolehkah meyakini sudra adalah kasta terendah untuk menusia?






Pertanyaan terbuka untuk siapa saja, terbuka untuk semua dalil, kitab suci, aturan, dan undang- undang apapun

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3532
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down


Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by dee-nee on Sat Dec 10, 2016 11:13 am

njlajahweb wrote:q
ga boleh

tanggapan
boleh, kalau Kasta atau penggolongan yang berdasar catur warna

ya elah ... mau berdasarkan catur warna kek ... mau berdasarkan apapun ... tetap tidak boleh karena kasta artinya sudah membentuk status tinggi vs rendah .. antara manusia dengan manusia lainnya

saya ulang

point saya jelas toh ya ... siapapun YANG MERASA atau memandang atau menganggap ... dirinya lebih tinggi / lebih rendah dari orang lain (apapun kondisinya ... apalagi karena faktor SARA)

mentalnya cuma dua ... antara mental sombong atau mental budak

ga ada urusannya dengan rendah hati, baik budi, suka menderma dsb (termasuk catur2an) .... DIA MERASA SAJA (lebih tinggi/lebih rendah) dibanding orang lain ... artinya sudah punya mental yang biru

----------------------------------------------------------

njlajahweb wrote:
q
Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

tanggapn
boleh

18:25 Dari seluruh orang Israel Musa memilih orang-orang cakap dan mengangkat mereka menjadi kepala atas bangsa itu, menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang
---
31:7 Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya.
---
1:2 "Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.


kembali ke TS ... saya ulang

orang israel jaman mana maksud anda ?? jaman PL atau jaman sekarang??

>>>> kalau Israel jaman PL ... kan ada ceritanya gimana mereka bolak balik melanggar perintah Tuhan akibat kesombongan mereka
>>>> kalau Israel jaman sekarang .... kan saya sudah bilang jangan mau jadi pembantunya Gog Magog .... jangan mau asal telen hoax mereka

jadi baiknya anda jawab dulu yang hijau
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by njlajahweb on Sat Dec 10, 2016 12:06 pm

masak semua jenis kasta nggak boleh, ngawur aja
yang nggak boleh itu cuma kasta atau catur warna yang diselewengkan, bukanya pokoknya catur warna nggakboleh pokoknya kasta nggak boleh, model apaan itu, sok tahu

----
Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain
baik israel sekarang tetep boleh
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 5429
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by dee-nee on Sat Dec 10, 2016 2:42 pm

njlajahweb wrote:masak semua jenis kasta nggak boleh, ngawur aja
yang nggak boleh itu cuma kasta atau catur warna yang diselewengkan, bukanya pokoknya catur warna nggakboleh pokoknya kasta nggak boleh, model apaan itu, sok tahu

bold : ya memang ga boleh ... kenapa ?? ... berulang kali sudah saya jelaskan >>> karena :

sikap meng-anggap sesama manusia lebih tinggi / lebih rendah ... itu dibentuk CUMA OLEH DUA sikap batin .... antara sikap batin sombong (merasa dirinya lebih tinggi dibanding orang lain) ... atau sikap batin mental budak (merasa dirinya lebih rendah dibanding orang lain)

dan nyatanya anda tidak bisa membuktikan sikap batin lain .... selain yang dua ini .... kita ulang diskusi kita #101

dee-nee #101 wrote:
njlajahweb wrote:hanya dibatasi mental sombong dan budak, saya tidak percaya itu
karena itu saya tetap percaya bisa dibolehkan selama masih tergolong dalam sikap batin yang benar

merah : coba buktikan ... atas dasar mental apalagi selain yang dua itu ... ketika manusia sudah mulai membuat kasta2 (meninggikan dan merendahkan) antara sesama manusia

biru : silahkan buktikan ... sikap batin yang benar seperti apa ... ketika manusia sudah mulai membuat kasta2 (meninggikan dan merendahkan) antara sesama manusia ??

ungu : itulah saya bilang .... kalimat model2 yang ungu saya anggap sebagai kalimat mencari pembenaran >>> karena yang anda sebut "penyelewengan" disini ... sebetulnya hanya merupakan SEBAB AKIBAT dari dua mental coklat diatas

jadi ga ada yang namanya penyelewengan ... semua itu hanya SEBAB dan AKIBAT ... yang berawal dari mental dan cara berpikir manusia ... berakhir pula pada perilaku manusia itu sendiri

artinya >>> bila awalnya sudah disebabkan oleh mental dan cara berpikir yang salah (yang coklat) .... maka akibat-nya adalah perilaku yang juga salah

>>> apakah ini disebut penyelewengan ?? ... ga ... yang seperti ini bukan penyelewengan ... wong semua itu bagian dari sebab akibat kok

-------------------------------------

njlajahweb wrote:
Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain
baik israel sekarang tetep boleh

ga boleh ... karena sikap2 seperti ini ... basic-nya cuma dari 2 mental diatas (yang coklat)

kecuali anda bisa jawab pertanyaan saya di #101

piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by njlajahweb on Sat Dec 10, 2016 3:06 pm

kalau Tuhan tetap memberi hak sama Israel, memang kamu mau apa
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 5429
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by njlajahweb on Sat Dec 10, 2016 3:07 pm

tidak ada penyelewengan? sok tahunya kumat lagi

https://maretanakbali.blogspot.sg/2014/08/kasta-dan-warna-dalam-agama-hindu.html

KASTA DAN WARNA DALAM AGAMA HINDU
POSTED BY NI WAYAN MARETAYANI ON KAMIS, 28 AGUSTUS 2014
A. Pengertian Warna dan Kasta dalam Agama Hindu
Di dalam kehidupan agama Hindu, kita sering mendengar adanya perbedaan status sosial yang didasarkan atas system kasta. Sepintas lalu orang akan membenarkan kenyataan itu. Menurut bahasa Sansekerta (bahasa yang dipakai dalam kitab suci weda) kata “kasta” berasal dari kayu, jadi bukan berarti pembedaan golongan atau status sosial berdasarkan keturunan seperti pengertian kata “caste” dalam bahasa Portugis (caste=pemisah, tembok atau pembatas).
Istilah kasta dalam Agama Hindu muncul karena adanya proses sosial yang mengaburkan pengertian warna. Pengaburan istilah warna inilah yang menyebabkan lahirnya tradisi kasta yang membagi tingkatan seseorang dalam masyarakat berdasarkan status kelahiran dan status keluarganya. Istilah kasta juga sebenarnya tidak di atur dalam weda. Kasta tidak pernah ada dalam tradisi Hindu melainkan kasta dimulai sejak adanya kedatangan bangsa Arab dan Kristen di India. Istilah kasta mulai dilekatkan dalam agama Hindu sejak adanya Max Muller. Dari sinilah juga muncul istilah berdarah biru ataupun kaum bangsawan. Kasta di Bali dipengaruhi oleh adanya kerajaan-kerajaan pada jaman dahulu.

Jadi, kasta merupakan suatu tingkatan dalam masyarakat yang di dasarkan pada garis keturunan dalam suatu keluarga.
Dalam agama Hindu kita juga mengenal dengan adanya warna yaitu mengenai Catur Warna. Catur Warna berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata Vr yang berarti pilihan. Catur warna berarti empat pilihan bagi setiap orang terhadap profesi yang cocok untuk pribadinya masing-masing. System kemasyaratan agama Hindu Catur Warna dalam sejarah perkembangannya mengalami bintik-bintik hitam. Bintik-bintik hitam itu dapat meracuni tata kemasyarakatan Hindu Catur Warna, tetapi asal usulnya bukanlah dimaksudkan demikian. Hal ini merupakan persoalan yang harus dihadapi oleh masyarakat Hindu secara umum sebagai suatu struktur dalam masyarakat. Dalam kehidupan individu, warna sangat penting karena dapat merangsang hidup manusia untuk berbuat baik atau jahat. Perilaku jahat sebagai akibat tidak langsung dapat ditimbulkan setiap saat. Warna dalam catur warna memiliki manfaat yang sangat strategis dalam upaya meningkatkan profesionalitas umat Hindu.
Disamping itu, kata catur warna dalam ajaran agama Hindu berasal dari bahasa Sansekerta dari kata Catur dan Warna. Catur berarti empat, dan warna berarti tutup, penutup, warna, bagian luar, jenis, watak, bentuk, dan kasta. Catur warna berarti empat pengelompokan masyarakat dalam tata kemasyarakatan agama Hindu yang ditentukan berdasarkan profesinya. Pemahaman tentang catur warna dapat dirumuskan berdasarkan Sastra Drstha.
Catur warna membagi masyarakat hindu menjadi empat kelompok profesi secara pararel horizontal. Warna ditentukan oleh guna dan karma. Guna adalah sifat, bakat, dan pembawaan seseorang sedangkan karma adalah perbuatan atau pekerjaan seseorang. Guna dan karma itulah yang menentukan warna seseorang. Alangkah bahagianya seseorang yang dapat bekerja sesuai dengan sifat, bakat, dan pembawaan. Mengenai rumusan warna dijelaskan dalam Bhagawadgita :
Caturvarnanyam maya srstam
Gunakarma vibhagasah
Tasya kartaram api mam
Viddy akartaram avyayam
Artinya :
Catur warna Aku diciptakan menurut pembagian dari guna dan karma (sifat dan pekerjaan). Meskipun Aku sebagai penciptanya, ketahuilah Aku mengatasi gerak dan perbuatan.
Demikianlah masing-masing warna itu sebagai golongan karya mempunyai tugas dan kewajiban yang berbeda menurut bakat dan sifat yang lahir dari mereka, tetapi bukan di dasarkan atas genealogis secara turun-temurun.
B. Bagian-bagian Warna dan Kasta dalam Agama Hindu
Untuk menjadi manusia yang baik, manusia hendaknya selalu mengadakan kerja sama yang harmonis dengan sesame makhluk cipataan-Nya. Manusia hendaknya selalu merealisasikan ajaran Tat Twan Asi. Sang Hyang widhi bersifat Wiyapi-Wiyapaka Nirwikara yang berarti meresap, mengatasi, berada di segala tempat.
Pengertian warna menurut pembawaan dan fungsinya dibagi menjadi empat berdasarkan kewajiban. Orang dapat mengabdi sebesar mungkin menurut pembawaannya. Pengelompokan masyarakat menjadi empat kelas tidak hanya terdapat pada masyarakat hindu tetapi bersifat universal. Setiap kelas ini mempunyai karakter tertentu. Ini tidak selalu ditentukan oleh garis keturunan. Selama manusia melakukan pekerjaan sesuai dengan alam kelahirannya, itu akan baik dan benar. Apabila mereka hanya mengabdikan diri kepada Tuhan, pekerjaannya adalah menjadi alat penyempurna dari jiwanya.
Catur warna ini adalah suatu konsepsi kemasyarakatan Hindu yang tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup Catur Purusaartha dan tahapan hidup Catur Asrama. Untuk mendapatkan dharma, artha, kama, moksa secara bertahap dalam Catur Asrama membutuhkan keterpaduan antara sifatdan bakat yang dibawa lahir dengan pekerjaan yang didapatkannya didapatkannya sesuai dengan kehidupannya di bumi. Demikian pula landasan etika yang wajib diwujudkan oleh setiap orang dalam melaksanakan profesinya. Jadi, catur warna adalah suatu konsep hidup yang benar-benar serius dan sacral karena diwahyukan oleh Tuhan sebagaimana disebutkan dalam kitab Bhagawadgita IV.13
Tiap-tiap bagian catur warna tersebut adalah sebagai berikut :
1. Brahmana Warna adalah individu atau golongan masyarakat yang berkecimpung dalam bidang kerohanian. Keberadaan golongan tidak berdasarkan atas keturunan, melainkan karena ia mendapatkan kepercayaan dan memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas. Seseorang disebut brahmana karena ia memiliki kelebihan dalam bidang kerohanian.
2. Ksatrya Warna ialah individu atau golongan masyarakat yang memiliki keahlian dalam memimpin bangsa dan Negara. Keberadaan golongan ini tidak berdasarkan atas keturunan, melainkan karena menjalankan tugas. Seseorang disebut Ksatriya karena ia memiliki kelebihan dalam bidang kepemimpinan.
3. Waisya Warna ialah individu atau golongan masyarakat yang memiliki keahlian di bidang pertanian dan perdagangan. Keberadaan golongan ini tidak berdasarkan keturunan, melainkan karena ia mendapatkan kepercayaan dan memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas-tugas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seseorang disebut waisya karena ia memiliki kelebihan dalam bidang pertanian dan perdagangan.
4. Sudra warna ialah individu atau golongan masyarakat yang memiliki keahlian di bidang pelayanan atau membantu. Keberadaan golongan ini tidak berdasarkan atas keturunan, melainkan karena ia memiliki kemampuan tenaga yang kuat dan mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan tugas-tugasnya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Seseorang disebut sudra karena ia memiliki kelebihan dalam bidang pelayanan.
Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa Catur Warna adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan guna dan bakat. Penggolongan masyarakat ini didasarkan atas fungsional karena pembagian golongan ini didasarkan atas tugas, kewajiban, dan fungsinya di dalam masyarakat. Penggolongan ini tidak bersifat turun-temurun. Penggolongan ini merupakan suatu kenyataan dan kebutuhan dalam masyarakat.
System warna tidak sama dengan kasta sebab agama Hindu mengutamakan ajaran Tat Twam Asi dalam memupuk pergaulan dan kerja sama dalam masyarakat. Jadi, semuanya berdasarkan sifat dan sikap saling hormat-menghormati untuk meningkatkan sikap kemanusiaan yang agamis. Siapa saja di antara umat kebanyakan dapat menjadi brahmana, ksatriya, waisya dan sudra apabila kemauan dan kemampuan untuk itu. Tinggi rendahnya kedudukan seseorang di dalam masyarakat tidak ditentukan oleh keturunannya, melainkan oleh kemampuannya untuk menjalankan suatu tugas.

Adapun pembagian wangsa atau kasta sebagai berikut:
1) Kasta brahmana merupakan kasta yang memiliki kedudukan tertinggi, dalam generasi kasta brahmana ini biasanya akan selalu ada yang menjalankan kependetaan. Orang yang memiliki nama depan Ida bagus ataupun Ida Ayu merupakan cirri orang yang berkasta brahmana. Untuk sebutan tempat tinggalnya adalah Griya.
2) Kasta Ksatriya merupakan kasta yang memiliki posisi yang paling penting dalam pemerintahan dan bidang politik. Orang-orang yang berasal dari kasta ini adalah orang-orang keturunan Raja. Beberapa desa di bali masih mempertahankan budaya ini untuk tetap di laksanakan. Dimana pemimpinnya adalah masih tetap keturunan raja tersebut. Contohnya di Puri Ubud. Nama yang digunakan adalah Anak Agung, Dewa Agung, Tjokorda, I Gusti Agung, I Gusti Bagus.
3) Kasta Sudra merupakan kasta yang mayoritas di Bali, namun memiliki kedudukan sosial yang paling rendah dimana masyarakat dalam kasta ini harus berbicara dengan sor singgih bahasa dengan orang yang memiliki kasta yang lebih tinggi atau yang disebut dengan Tri Wangsa (Brahmana, Ksatriya, Waisya yang dianggap Ksatriya). Dari segi nama kasta sudra menggunakan nama Wayan, Made, Nyoman, Ketut.
Jika ditinjau secara psikologis bakat dan sifat seseorang cenderung menurun karena manusia dibentuk sejak masa prenatal dan besar dalam lingkungannya, sehingga anak cucu seseorang brahmana akan cenderung menjadi brahmana, begitu pula pada keluarga ksatriya, waisya mapun sudra. Dari sinilah kemudian timbul istilah brahmana wangsa dengan predikat nama tertentu sebagai identitas keluarganya. Demikian pula bagi ksatriya terdapat ksatriya wangsa, dan pada waisya terdapat waisya wangsa serta sudra wangsa.
Brahmana wangsa lebih dihormati daripada wangsa yang lainnya sebagai akibat dari sifat dan bakat yang melekat pada dirinya, begitu pula terdapat ksatriya wangsa dan waisya wangsa secara berturut-turut memperoleh status gradual.
Walaupun demikian perkembangannya, selama peraturan dan kewajiban bagi masing-masing warna secara ketat dilaksanakan maka pengertian warna itu masih menurut weda. Akan tetapi bila kewajibannya di langgar, sementara mereka mempertahankan status warna itu secara genealogis (wangsa) maka hal ini sangat keliru dan menyimpang dari ajaran weda.
Kitab Manu Smerti I. 157 dan X. 65 menyebutkan:
“Yatha kastamayo hasti
Yatha carmamayo mrigah
Yasca wipro nadiyanas
Trayaste nama dharakah”
“Sudro brahmanatam eti
Brahmana caiwa sudratam
Ksatriya jatam ewantu
Widyad waisyat tatha i waca”
Artinya :
Bagaikan gajah terbuat dari kayu
Bagaikan rusa terbuat dari kulit
Demikianlah seorang brahmana yang tidak terpelajar
Ketiga-tiganya hanya membawa nama saja
Seorang sudra menjadi brahmana
Brahmana menjadi sudra, ketahuilah
Bahwa sama halnya dengan keturunan ksatriya, waisya maupun sudra
Sebagai bukti bahwa seseorang dari keluarga sudra berubah menjadi brahmana atau dari ksatriya menjadi brahmana karena bakat, sifat dan karmanya dapat kita jumpai nama-nama para Rsi/Maharsi terkenal pada zaman dahulu, seperti antara lain:
1) Resi Satya Kama Jabala disebutkan dalam Chandogya Umpanisad, berasal dari anak seseorang buruh miskin
2) Resi Kawasa dan Resi Aitareya adalah pengarang kitab Brahmana dan Upanisa berasal dari ibu sudra
3) Bhagawan Parasara ayah Maharesi Wyasa yang terkenal sebagai penghimpun kitab suci Catur Weda, lahir dari keluarga candela
4) Resi Wasistha sendiri berasal dari anak seorang pelacur
5) Resi Wiswamitra, Dewapi, Sindhudwipa berasal dari keluarga ksatriya

C. Peranan dan Fungsi Catur Warna
Dalam kitab Mahabarata, Rsi Bhisma telah member penjelasan tentang sifat-sifat umum yang harus diikuti oleh setiap warna, yang berarti juga untuk semua orang, yaitu :
1. Akredha atau tidak pernah marah
2. Satyam atau berbicara benar dan jujur
3. Sambibhaga atau adil dan jujur
4. Memperoleh anak dari hasil perkawinan
5. Berbudi bahasa yang baik
6. Menghindari semua macam pertengkaran
7. Srjawam atau berpendirian teguh
8. Membantu semua orang yang tergantung atas dirinya seorang.

Sarascamuscaya sloka 63 juga menguraikan kewajiban-kewajiban umum yang berlaku untuk semua warna. Kewajiban-kewajiban itu adalah sebagai berikut :

Arjavam canrcamsyam ca damaccen driyanigrahah, esasadharano dharmascatur puarnyebravinmanuh. Nyang ulah pasadharanan sang catur varna, arjawa, si duga-duga bener, anrsansya, tan nrsansya, nrcansya ngaraning atmasukapara, tan arimbawa rilaraning len, yawat mamuhara sukha ryawaknya, indriyanigraha, humrta indriya, nahan tang prawtti pat, pasadharanan sang catur varna, ling bhatara manu.

Artinya :
Inilah perilaku keempat golongan yang patut dilaksanakan, arjawa, jujur, dan terus terang. Anrcangsya, artinya tidak nrcangsya. Nrcangsya maksudnya mementingka diri sendiri tidak menghiraukan kesusahan orang lain, hanya mementingkan segala yang menimbulkan kesenangan bagi dirinya. Itulah disebut nrcangsya, tingkah laku yang tidak demikian anrcangsya; doma artinya dapat menasehati diri sendiri ; indriyanigraha mengekang hawa nafsu, keempat prilaku itulah yang harus dibiasakan oleh sang Catur Warna, demikian sabda Bhatara manu.

Jadi kalau disingkat kembali, perilaku bagi sang Catur Warna ada empat, yaitu anrncansya (tidak mementingkan diri sendiri), arjawa (jujur dan berterus terang), dama (dapat menasehati diri sendiri), indriyanigraha (mengendalikan hawa nafsu). Jadi, semua etika umum atau peraturan tingkah laku yang berlaku bagi umat Hindu berarti berlaku pula bagi semua Catur Warna.
a. Brahmana
Brahmana (brh artinya tumbuh), berfungsi untuk menumbuhkan daya cipta rohani umat manusia untuk mencapai katentrama hidup lahir batin. Brahmana juga berate Pendeta, yang merupakan pemimpin agama yang menuntun umat Hindu mencapai ketenangan dan memimpin umat dalam melakukan upacara agamanya. Oleh karena tugasnya itu seorang Brahmana wajib untuk mepelajari dan memelihara Weda, dan tidak melakukan pekerjaan duniawi.
Penjelasan tentang Brahmana ada pada Slokantara sloka I yang berbunyi “…..tidak ada manusia yang melebihi Brahmana, Brahmana arti (tepatnya) ialah orang yang telah menguasai segala ajaran-ajaran Brahmacari ……….. Brahmana ialah beliau yang mempunyai kebijaksanaan yang lebih tinggi melebihi (pengetahuan) manusia umumnya……”
Mahabharata III. CLXXX, 21, 25 dan 26 menguraikan sifat-sifat dan tanda-tanda Brahmana dan hal itu tidak turun menurun. Bunyinya “…….jujur, dermawan, suka mengampuni, bersifat baik, sopan, suka melakukan pantangan agama dan pemurah dialah yang hendaknya dipandang Brahmana…..”. “……bila sifat-sifat ini ada pada Sudra dan tidak ada pada Brahmana, Sudra itu bukan Sudra dan Brahmana itu bukan Brahmana”. “Pada siapa tanda ini terdapat, hai ular, dialah yang harus dipandang Brahmana, pada siapa tanda ini tidak terdapat, hai ular, dia harus dipandang sebagai Sudra”.
Dharmasastra, X, 65 menjelaskan sifat Warna Brahmana itu tidak ditinjau dari keturunan. Sloka tersebut berbunyi “seorang Sudra menjadi Brahmana dan Brahmana menjadi Sudra (Karena sifat dan kewajiban), ketahuilah sama halnya dengan kelahiran Ksatria dan Waisya”.
b. Ksatria
Ksatria dalam bahasa Sansekerta artinya suatu susunan pemerintahan, atau juga berarti pemerintah, prajurit, daerah, keunggulan, kekuasaan dan kekuatan.
Sifat-sifat Ksatria , Bhagavadgita XVIII, 43, menguraikan sebagai berikut “Berani, pekasa, teguh iman , cekatan dan tak mundur dalam peperangan, dermawan dan berbakat memimpin adalah karma (kewajiban) Ksatria”.
Manawa Dharmasastra I, 89, menguraikan tentang kewajiban Ksatria. Bunyinya “ Para Ksatria diperintahkan untuk melindungi rakyat, memberikan hadiah-hadiah, melakukan upacara kurban, mempelajari Weda dan mengekang diri dari ikatan-ikatan pemuas nafsu”. Dalam lontar Brahmokya Widhisastra lembaran 6a, menyebutkan larangan dan sanksi-sanksi Warna Ksatria, bunyinya “…. Apabila ada Ksatria berbuat tidak benar………. Diluar sifat Ksatria…… mereka akan menjadi Sudra……”

c. Waisya
Waisya (vic) dalam bahasa Sansekerta berarti bermukim diatas tanah tertentu. Dari kata tersebut, kemudian berkembang artinya menjadi golongan pekerja atau seseorang yang mengusahakan pertaniaan.
Dalam Bhagavadgita XVIII, 44, menguraikan kewajiban Waisya, bunyinya “…Bercocok tanam, berternak sapi dan berdagang adalah karma (kewajiban) Waisya menurut bakatnya….”.
Manawa Dharmasastra I, 90, disebutkan pula “Para waisya ditugaskan untuk memelihara ternak, memberikan hadiah, melakukan upacara korban, mempelajari Weda, meminjamkan uang dan bertani”. Jadi singkatnya fungsi waisya adalah dalam bidang ekonomi.
d. Sudra
Sudra artinya pengabdi yang utama. Peranan dan fungsi Warna Sudra diuraikan pada Sarasamuccaya, 60,
“…….prilahu Sudra, setia mengabdi kepada Brahmana, Ksatria dan Waisya sebagaimana mestinya, apabila puaslah ketiga golongan yang dilayani olehnya, maka terhapuslah dosanya dan berhasil segalanya”.
Bhagavadgita disebutkan bahwa
“…meladeni (menjual tenaga) adalah kewajiban Sudra menurut bakatnya”.
Warna Sudra bukanlah berarti paling buruk dan jelek.
Bhagavata Purana, VII, XI, 24, menunjukan cirri-ciri Warna Sudra sebagai mahkluk Tuhan yang utama. Bunyinya “… kerendahan hati, kesucian, bhakti kepada atasan dengan tulus, ikhlas beryadnya tanpa mantra, tidak mempunyai kecenderungan untuk mencuri, jujur dan menjaga sapi sang Vipra (brahmana) inilah cirri-ciri yang dimiliki oleh Sudra”.
Keempat Warna itu akan dapat saling isi mengisi antara satu dengan yang lainnya. Pengelompokan masyarakat ke dalam empat warna itu akan menumbuhkan hubungan social yang saling membutuhkan. Keretakan diantara profesi itu akan dapat merugikan semua pihak.

D. Penyimpangan Pengertian Warna dan Kasta dalam Agama Hindu
Dalam ajaran agama Hindu, status seseorang didapat sesuai dengan pekerjaannya. Dalam konsep tersebut diuraikan bahwa meskipun seseorang lahir dalam keluarga Sudra (budak) ataupun Waisya (pedagang), apabila ia menekuni bidang kerohanian sehingga menjadi pendeta, maka ia berhak menyandang status Brahmana (rohaniwan). Jadi, status seseorang tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu.
Dalam tradisi Hindu, jika seseorang ahli dalam bidang kerohanian maka ia menyandang status Brāhmana. Jika seseorang ahli atau menekuni bidang administrasi pemerintahan ataupun menyandang gelar sebagai pegawai atau prajurit negara, maka ia menyandang status Ksatriya. Apabila seseorang ahli dalam perdagangan, pertanian, serta profesi lainnya yang berhubungan dengan niaga, uang dan harta benda, maka ia menyandang status Waisya. Apabila seseorang menekuni profesi sebagai pembantu dari ketiga status tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya), maka ia menyandang gelar sebagai Sudra.
Dalam filsafat Hindu, tanpa adanya golongan Sudra, maka kewajiban ketiga kasta tidak dapat terwujud. Jadi dengan adanya golongan Sudra, maka ketiga kasta dapat melaksanakan kewajibannya secara seimbang dan saling memberikan kontribusi.
Sistem kerja Catur Warna menekankan pada seseorang agar melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Golongan Brahmana diwajibkan untuk memberi pengetahuan rohani kepada golongan Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Golongan Ksatriya diwajibkan agar melindungi golongan Brahmana, Waisya, dan Sudra. Golongan Waisya diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan material golongan Brahmana, Ksatriya, dan Sudra. Sedangkan golongan Sudra diwajibkan untuk membantu golongan Brahmana, Ksatriya, dan Waisya agar kewajiban mereka dapat dipenuhi dengan lebih baik.
Keempat golongan tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya, Sudra) saling membantu dan saling memenuhi jika mereka mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Dalam sistem Catur Warna, ketentuan mengenai hak tidak diuraikan karena hak diperoleh secara otomatis. Hak tidak akan dapat diperoleh apabila keempat golongan tidak dapat bekerja sama. Keempat golongan sangat dianjurkan untuk saling membantu agar mereka dapat memperoleh hak. Dalam sistem Catur Warna terjadi suatu siklus "memberi dan diberi" jika keempat golongan saling memenuhi kewajibannya.
Karena status seseorang tidak didapat semenjak lahir, maka statusnya dapat diubah. Hal tersebut terjadi jika seseorang tidak dapat melaksanakan kewajiban sebagaimana status yang disandangnya. Seseorang yang lahir dalam keluarga Brāhmana dapat menjadi seorang Sudra jika orang tersebut tidak memiliki wawasan rohani yang luas, dan juga tidak layak sebagai seorang pendeta. Begitu pula seseorang yang lahir dalam golongan Sudra dapat menjadi seorang Brāhmana karena memiliki pengetahuan luas di bidang kerohanian dan layak untuk menjadi seorang pendeta.
Penyimpangan
Banyak orang yang menganggap Catur Warna sama dengan Kasta yang memberikan seseorang sebuah status dalam masyarakat semenjak ia lahir. Namun dalam kenyataannya, status dalam sistem Warna didapat setelah seseorang menekuni suatu bidang/profesi tertentu. Sistem Warna juga dianggap membeda-bedakan kedudukan seseorang. Namun dalam ajarannya, sistem Warna menginginkan agar seseorang melaksanakan kewajiban sebaik- baiknya.
Kadangkala seseorang lahir dalam keluarga yang memiliki status sosial yang tinggi dan membuat anaknya lebih bangga dengan status sosial daripada pelaksanaan kewajibannya.
Sistem Warna mengajarkan seseorang agar tidak membanggakan ataupun memikirkan status sosialnya, melainkan diharapkan mereka melakukan kewajiban sesuai dengan status yang disandang karena status tersebut tidak didapat sejak lahir, melainkan berdasarkan keahlian mereka. Jadi, mereka dituntut untuk lebih bertanggung jawab dengan status yang disandang daripada membanggakannya.
Di Indonesia (khususnya di Bali) sendiri pun terjadi kesalahpahaman terhadap sistem Catur Warna. Catur Warna harus secara tegas dipisahkan dari pengertian kasta. Pandangan tersebut dikemukakan oleh Drs. I Gusti Agung Gde Putera, waktu itu Dekan Fakultas Agama dan Kebudayaan Institut Hindu Dharma Denpasar pada rapat Desa Adat se-kabupaten Badung tahun 1974. Gde Putera yang kini Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama mengemukakan :
“ Kasta-kasta dengan segala macam titel-nya yang kita jumpai sekarang di Bali adalah suatu anugerah kehormatan yang diberikan oleh Dalem (Penguasa daerah Bali), oleh karena jasa-jasa dan kedudukannya dalam bidang pemerintahan atau negara maupun di masyarakat. Dan hal ini diwarisi secara turun temurun oleh anak cucunya yang dianggap sebagai hak, walaupun ia tidak lagi memegang jabatan itu. Marilah jangan dicampur-adukkan soal titel ini dengan agama, karena titel ini adalah persoalan masyarakat, persoalan jasa, persoalan jabatan yang dianugerahkan oleh raja pada zaman dahulu. Dalam agama, bukan kasta yang dikenal, melainkan "warna" dimana ada empat warna atau Caturwarna yang membagi manusia atas tugas-tugas (fungsi) yang sesuai dengan bakatnya. Pembagian empat warna ini ada sepanjang zaman. ”
Menurut I Gusti Agung Gede Putera, kebanggaan terhadap sebuah gelar walaupun jabatan tersebut sudah tidak dipegang lagi merupakan kesalahpahaman masyarakat Bali turun-temurun. Menurutnya, agama Hindu tidak pernah mengajarkan sistem kasta melainkan yang dipakai adalah sistem Warna.
Pernikahan dalam Kasta
Dalam urusan pernikahan, kasta sangat sering menimbulkan pro dan kontra bahkan kadang menjadi masalah atau batu sandungan. Sama seperti pernikahan beda agama, di Bali pernikahan beda kasta juga biasanya dihindari. Walaupun jaman sudah semakin terbuka, tapi pernikahan beda kasta yang bermasalah kadang masih terjadi.
Di Bali umumnya pernikahan bersifat patrilineal. Jadi seorang perempuan setelah menikah dan menjadi istri akan bergabung dengan keluarga suaminya. Nah, dalam pernikahan beda kasta, seorang perempuan dari kasta yang lebih rendah sudah biasa dijadikan istri oleh lelaki dari kasta yang lebih tinggi.
Pernikahan beda kasta ini-lah yang sudah sering terjadi di Bali. Pernikahan semacam ini biasanya memberikan kebanggan tersendiri bagi keluarga perempuan, karena putri mereka berhasil mendapatkan pria dari kasta yang lebih tinggi. Dan secara otomatis kasta sang istri juga akan naik mengikuti kasta suami. Tetapi, sang istri harus siap mendapatkan perlakuan yang tidak sejajar oleh keluarga suami. Saat upacara pernikahan, biasanya banten untuk mempelai wanita diletakan terpisah, atau dibawah. Bahkan dibeberapa daerah, sang istri harus rela melayani para ipar dan keluarga suami yang memiliki kasta lebih tinggi. Walaupun jaman sekarang hal tersebut sudah jarang dilakukan, tapi masih ada beberapa orang yang masih kental kasta-nya menegakan prinsip tersebut demi menjaga kedudukan kasta-nya.
Dan jika seorang wanita berkasta tinggi menikah dengan seorang pria berkasta rendah. Ini istilahnya “nyerod” atau turun kasta. Pernikahan seperti sangat dihindari dan kalaupun terjadi biasanya dengan sistem “ngemaling” yaitu menikah dengan sembunyi-sembunyi. Karena pernikahan “nyerod” seperti ini biasanya tidak akan diijinkan oleh keluarga besar pihak perempuan.
Pernikahan beda kasta seperti ini sangat dihindari oleh penduduk Bali. Karena pihak perempuan biasanya tidak akan mengijinkan putri mereka menikah dengan lelaki yang memiliki kasta lebih rendah. Maka dari itu, biasanya pernikahan ini terjadi secara sembunyi-sembunyi atau biasa disebut sebagai "ngemaling" atau kawin lari sebagai alternatifnya. Kemudian, perempuan yang menikahi laki-laki yang berkasta lebih rendah akan mengalami turun kasta mengikuti kasta suaminya, yang disebut ssebagai "nyerod". Menurut kabar, sebagian besar penduduk bali lebih menyukai dan lebih dapat menerima laki-laki yang bukan orang Bali sebagai menantu, dari pada menikah dengan laki-laki berkasta lebih rendah, dan mengalami penurunan kasta.
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 5429
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by dee-nee on Sat Dec 10, 2016 4:36 pm

njlajahweb wrote:kalau Tuhan tetap memberi hak sama Israel, memang kamu mau apa

lah anda sendiri mau apa ??

memang anda pernah dikirimin news letter dari malaikat ... siapa sekarang ini yang dimaksud bangsa israel oleh Tuhan ??

wong anda saja ga dapet kiriman apa2 tentang bangsa israel ... kok bisa2nya bikin stempel sendiri

udah ... mending anda jawab saja pertanyaan saya di #101

dee-nee #101 wrote:
njlajahweb wrote:hanya dibatasi mental sombong dan budak, saya tidak percaya itu
karena itu saya tetap percaya bisa dibolehkan selama masih tergolong dalam sikap batin yang benar

merah : coba buktikan ... atas dasar mental apalagi selain yang dua itu ... ketika manusia sudah mulai membuat kasta2 (meninggikan dan merendahkan) antara sesama manusia

biru : silahkan buktikan ... sikap batin yang benar seperti apa ... ketika manusia sudah mulai membuat kasta2 (meninggikan dan merendahkan) antara sesama manusia ??

piss

-----------------------------------------------

tentang artikel anda selanjutnya ttg catur warna .... ada apa dengan artikel itu ?? ... bener2 saja kan

justru artikel itu nyambung banget dengan apa yang saya uraikan sebelum2nya ...

coba deh anda baca benar2 artikel tersebut ... nyambung dengan TS .. sambung lagi dengan argumen saya tentang dua mental yang saya tulis sebelumnya (antara mental sombong atau mental budak)

mana coba kalimat saya yang ga sesuai dengan artikel tersebut ??

piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by njlajahweb on Sat Dec 10, 2016 7:22 pm

aku tetap membolehkan keduanya

yang jelas teorimu itu sudah gugur

udah tak kasih bukti masih mengelak

mungkin udah kadung saklek dan benci mendarah daging ya gimana lagi

biar pembaca yang menilai
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 5429
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by dee-nee on Sat Dec 10, 2016 8:04 pm

njlajahweb wrote:aku tetap membolehkan keduanya

yang jelas teorimu itu sudah gugur

udah tak kasih bukti masih mengelak

mungkin udah kadung saklek dan benci mendarah daging ya gimana lagi

biar pembaca yang menilai

ceile ... baca artikel tersebut baik2 dong ah ... catur warna TIDAK SAMA dengan kasta

maka ... misalnya nih kita balik ke diskusi #126

dee-nee #126 wrote:
njlajahweb wrote:q
ga boleh

tanggapan
boleh, kalau Kasta atau penggolongan yang berdasar catur warna

ya elah ... mau berdasarkan catur warna kek ... mau berdasarkan apapun ... tetap tidak boleh karena kasta artinya sudah membentuk status tinggi vs rendah .. antara manusia dengan manusia lainnya

saya ulang

point saya jelas toh ya ... siapapun YANG MERASA atau memandang atau menganggap ... dirinya lebih tinggi / lebih rendah dari orang lain (apapun kondisinya ... apalagi karena faktor SARA)

mentalnya cuma dua ... antara mental sombong atau mental budak

ga ada urusannya dengan rendah hati, baik budi, suka menderma dsb (termasuk catur2an) .... DIA MERASA SAJA (lebih tinggi/lebih rendah) dibanding orang lain ... artinya sudah punya mental yang biru

kalau menurut artikel tersebut sih ya ... kalimat ungu anda itu ... justru adalah bagian dari penyimpangan itu sendiri

kasta yang berdasarkan catur warna ... atau catur warna berdasarkan kasta ... sesuai dengan artikel tersebut adalah penyimpangan

karena ... pengelompokan masyarakat menurut kasta TIDAK SAMA dengan pengelompokan masyarakat menurut catur warna

saya ulang ya

coba deh anda baca benar2 artikel tersebut ... nyambung dengan TS .. sambung lagi dengan argumen saya tentang dua mental yang saya tulis sebelumnya (antara mental sombong atau mental budak)

btw ... seperti saya sebut sebelumnya juga ... bila artikel tersebut menyebut kalimat ungu anda sebagai penyimpangan ... buat saya bukan penyimpangan ... tapi bagian dari sebab akibat karena dua mental biru diatas

piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by njlajahweb on Sat Dec 10, 2016 8:08 pm

tapi kan anda sempat melarang catur warna kan

dan anda pernah bilang tidak mungkin ada penyelewengan terhadap kasta kan
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 5429
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by dee-nee on Sat Dec 10, 2016 9:27 pm

njlajahweb wrote:tapi kan anda sempat melarang catur warna kan

dan anda pernah bilang tidak mungkin ada penyelewengan terhadap kasta kan

biru : catur warna berdasarkan kasta ... atau kasta berdasarkan catur warna >>> saya larang (artinya tidak boleh)

coba balik deh ke #126

dee-nee #126 wrote:
njlajahweb wrote:boleh, kalau Kasta atau penggolongan yang berdasar catur warna

ya elah ... mau berdasarkan catur warna kek ... mau berdasarkan apapun ... tetap tidak boleh karena kasta artinya sudah membentuk status tinggi vs rendah .. antara manusia dengan manusia lainnya

a. catur warna adalah pengelompokan masyarakat secara horisontal >>> artinya manusia dipandang setara satu sama lain

b. kasta adalah pengelompokan masyarakat secara vertikal >>> artinya ada manusia yang dipandang lebih tinggi/rendah dibanding yang lain

jadi ... selama anda masih menggunakan kata yang merah ... tetap tidak boleh ... kenapa tidak boleh ?? (balik ke 2 mental sebelumnya - antara mental sombong dan mental budak)

orange : ga ... bukan begitu ... kasta itu ya kasta (coba baca yang pink)

tulisan anda sebelumnya di #126 ... itu mencampur aduk antara kasta dan catur warna ... padahal catur warna tidak sama dengan kasta (lihat point a dan b) >>> dalam artikel ... yang underline ini disebut penyelewengan

buat saya ... yang underline ini bukan penyelewengan ... tapi hanya bagian dari sebab akibat >>> disebabkan oleh mental dan cara berpikir manusia ... berakhir pula pada perilaku manusia itu sendiri

disebabkan oleh mental yang hijau dan cara berpikir yang memperbolehkan system kasta ... akibatnya yang underline

begitu maksudnya

piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by njlajahweb on Mon Dec 12, 2016 4:44 pm

udah jelas-jelas kasta itu telah diselewengkan, jadi kasta yang sebenarnya memang tidak berdasar keturunan, karena kitab Hindu tidak mengajarkan kasta yang berdasar keturunan
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 5429
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by SEGOROWEDI on Mon Dec 12, 2016 5:01 pm

dee-nee wrote:
SEGOROWEDI wrote:
kasta kan hanya status sosial/profesi
○ Brahmana (pendeta)
○ Ksatria (penguasa /ksatria )
○ Wesia (pedagang )
○ Sudra (petani)

kenapa ribet?

karena nyatanya

siapapun bisa jadi pendeta
siapapun bisa jadi penguasa/ksatria
siapapun bisa jadi pedagang
siapapun bisa jadi petani

kenapa sudah ditentukan berdasarkan garis keturunan ??
kenapa harus diurutkan berdasarkan tinggi rendah (kasta tertinggi vs terendah) ????

yang menentukan dirinya sendiri
persepsi tinggi-rendah urusan masing2 yg mempersepsikan

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43908
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by dee-nee on Mon Dec 12, 2016 5:41 pm

njlajahweb wrote:udah jelas-jelas kasta itu telah diselewengkan, jadi kasta yang sebenarnya memang tidak berdasar keturunan, karena kitab Hindu tidak mengajarkan kasta yang berdasar keturunan

baca artikelnya yang bener ah ... mana coba tulisan anda yang merah dalam artikel ??

dari awal juga si penulis sudah bilang ... agama hindu tidak mengenal tradisi kasta - seperti pengertian kata “caste” dalam bahasa Portugis (caste=pemisah, tembok atau pembatas) ... kok ujug2 anda menulis yang biru

jadi menurut artikel ... GA ADA PENYEBUTAN KASTA dalam tradisi sosial masyarakat hindu ... yang ada adalah WARNA

kasta dalam  bahasa Sansekerta itu artinya "kayu" >>> artinya .... dalam agama hindu itu sendiri ... kata "kasta = kayu" ini ga ada hubungannya dengan lingkup sosial masyarakat .... tapi .... kemudian kata ini disambung2 dalam lingkup sosial ... karena tercampur aduk dengan bahasa Portugis diatas

nih ... yang kaya gini nih ... campur aduk ga jelas ... makanya bangsa Israel jaman PL aja bisa sampe ketuker2 dengan bangsa gog magog ... hehehehehe .... (campur aduk meyama2kan yang sama sekali beda ... hanya karena menggunakan "nama" yang sama)

ungu : yah .. kalau ada yang kemudian menyelewengkan kata "kayu" (bahasa sansekerta) = "caste" (bahasa portugis) ... hingga akhirnya pengertian "warna" (hubungan manusia secara horisontal) ... berubah menjadi pengertian "caste" (hubungan manusia secara vertikal)  

ya kan sudah saya jelaskan ... itu bukan penyelewengan ... tapi cuma sebab akibat dari 2 mental yang saya sebut sebelumnya ... ya ga jauh2 toh dari mental ala portugis itu sendiri (caste=pemisah, tembok atau pembatas)

coba kalau dari awal ... si fulan (misalnya) sudah tidak punya mental sombong dan mental budak .... mau bagaimana-pun orang lain mencari2 pembenaran lewat agama (ajaran, tafsir, ideologi, dsb) yang memperbolehkan kasta .... batin si fulan secara otomatis sudah pasti menolak

gitu aja sih logikanya

piss

-----------------------------------

SEGOROWEDI wrote:
dee-nee wrote:
SEGOROWEDI wrote:
kasta kan hanya status sosial/profesi
○ Brahmana (pendeta)
○ Ksatria (penguasa /ksatria )
○ Wesia (pedagang )
○ Sudra (petani)

kenapa ribet?

karena nyatanya

siapapun bisa jadi pendeta
siapapun bisa jadi penguasa/ksatria
siapapun bisa jadi pedagang
siapapun bisa jadi petani

kenapa sudah ditentukan berdasarkan garis keturunan ??
kenapa harus diurutkan berdasarkan tinggi rendah (kasta tertinggi vs terendah) ????

yang menentukan dirinya sendiri
persepsi tinggi-rendah urusan masing2 yg mempersepsikan

yah kalau urusan masing2 ... ya terserah

kan saya cuma bilang "TIDAK BOLEH" sesuai pertanyaan TS ... kenapa tidak boleh ??

karena sikap memandang orang lain lebih rendah/lebih tinggi dibanding yang lainnya ... (mau dari persepsi kek ... mau dari keyakinan kek ... atau apapun itu) ... intinya sikap yang underline ini CUMA BERASAL dari 2 mental ... yaitu mental sombong atau mental budak

piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by isaku on Tue Dec 13, 2016 12:05 pm

dee-nee wrote:
isaku wrote:
mb Dee wrote:dasarnya KARENA ISLAM TIDAK MENGENAL KASTA 
Saya usulkan 49:13 mungkin.

Menurut mb Dee bagaimana kedudukan "la ikraha fiddin" dan "lakum dinukum" terhadap 49:13 tersebut?

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS 49:13)

ada orang bernama agus (AHY) misalnya .... dia islam dan jawa
ada orang juga (misalnya) bernama ahok ... dia kristen dan cina
ada orang lain lagi (misalnya) bernama anies baswedan .... dia islam dan arab

kenali-lah orang-nya ... pelajari-lah program-nya ... pilih yang terbaik ... berpolitik-lah dengan sehat ... supaya hubungan berbangsa2 ini juga menjadi baik

itu kalau kita bicara tentang bangsa yang berbeda2 .... tapi kalau kita bicara tentang agama ... pada prinsipnya :

Tidak ada paksaan dalam memeluk agama ... Untukmu agamamu (seperti yang anda sebutkan) >>> dan kalau ditanya bagaimana kedudukan kalimat biru itu ... pada dasarnya sudah ada jawabannya yang merah dalam QS 49:13 itu sendiri

kenapa saya ambil yang merah ?? .... karena ada ayat selanjutnya juga tentang suku badui yang "ngomong-nya" saja bagian dari orang beriman ... tapi toh nyatanya hanya Allah yang paling tau ... siapa diantara bangsa-bangsa yang berbeda ini yang paling pantas disebut "beriman"

Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(QS 49:14)

dalam hubungan berbangsa2 ini .... siapa yang disebut beriman dan siapa yang disebut belum/tidak beriman ?? .... jelas semua itu bukan menurut standar manusia ... tetapi menurut standar Allah ...

misalnya kita baca di ayat berikutnya

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS 49:15)

sekali lagi .... siapa yang paling tepat disebut "orang-orang yang benar" ?? >>> apakah menurut standar manusia ?? ... ga toh ... semua tetap menurut standar Allah

ayat selanjutnya misalnya

Katakanlah: "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?" Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar" Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS 49:16-18)

yang ungu : kenikmatan BUKAN datang karena ada-nya muslim (orang2 Islam) ... tapi kenikmatan datang karena Allah yang memberi nikmat JIKA orang tersebut memang adalah orang2 yang beriman

yang saya tangkap dari seluruh ayat2 ini ... mau seluruh penduduk dunia ini mengatakan mereka Islam sekalipun ... kenikmatan tidak akan datang bila Allah tidak melihat mereka adalah bagian dari orang2 yang benar (misalnya kasus arab badui diatas) ... semua tetap kembali pada kebijakan dan keadilan Allah.

menurut saya ... seluruh ayat2 dalam Al-Hujurat adalah pesan kepada muslim (umat beragama Islam) ... bahwa sekalipun orang2 tersebut sudah mengakui dirinya Islam ... nikmat Islam BUKAN datang karena ke-islam-an mereka ... bahwa nikmat Islam BUKAN datang dari manusia ... (bahkan) bila 100% seluruh penduduk dunia sekalipun sudah mengakui dirinya Islam

jadi kalau nyambung ke TS (terkait tinggi rendah manusia) .... jangankan dalam sudut pandang bangsa ... dalam sudut pandang agama saja ... seorang muslim juga tidak diperbolehkan meyakini dirinya sudah lebih baik dari non-muslim ... karena toh kenikmatan yang datang di bumi bukan disebabkan oleh ke-islam-an mereka tapi disebabkan karena kehendak Allah

tugas seorang muslim hanya menyampaikan pesan bahwa Islam adalah agama yang sempurna >>> bukan untuk mengatakan bahwa orang Islam sudah lebih sempurna (atau lebih baik atau lebih tinggi derajatnya) dibanding yang belum/tidak Islam

sama saja seperti logika berdiskusi di forum ini ... saya mengatakan apa yang saya yakini benar ..... tapi bukan artinya saya boleh MEMANDANG/MENGANGGAP diri saya yang paling benar ... bukan artinya saya boleh memandang orang lain lebih rendah daripada saya (disebabkan oleh keyakinan saya tersebut)

begitu2lah ...

piss
Berhubung terlalu banyak poinnya dan saya khawatir salah pilih mana inti mana kembang gula, mohon dirangkum mb Dee dengan dua atau tiga kalimat saja.

ATAU agar saya tidak dianggap tidak berusaha, berikut beberapa hal yg mb Dee sampaikan cmiiw:
1. Ketika berbangsa prinsipnya adalah ketidaksamaan hanya karena beda tingkat ketakwaan.
2. Ketika beragama prinsipnya "Tidak ada paksaan dalam memeluk agama ... Untukmu agamamu"
3. Standar kebenaran adalah menurut Allah.


Sehubungan dengan jawaban mb Dee "TIDAK BOLEH" siapapun meyakini kasta dan atau Israel lebih tinggi derajatnya, kenapa terlihat agak bertentangan dengan rangkuman no.2?
piss

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3532
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by dee-nee on Tue Dec 13, 2016 1:48 pm

isaku wrote:
dee-nee wrote:
isaku wrote:
mb Dee wrote:dasarnya KARENA ISLAM TIDAK MENGENAL KASTA 
Saya usulkan 49:13 mungkin.

Menurut mb Dee bagaimana kedudukan "la ikraha fiddin" dan "lakum dinukum" terhadap 49:13 tersebut?

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS 49:13)

ada orang bernama agus (AHY) misalnya .... dia islam dan jawa
ada orang juga (misalnya) bernama ahok ... dia kristen dan cina
ada orang lain lagi (misalnya) bernama anies baswedan .... dia islam dan arab

kenali-lah orang-nya ... pelajari-lah program-nya ... pilih yang terbaik ... berpolitik-lah dengan sehat ... supaya hubungan berbangsa2 ini juga menjadi baik

itu kalau kita bicara tentang bangsa yang berbeda2 .... tapi kalau kita bicara tentang agama ... pada prinsipnya :

Tidak ada paksaan dalam memeluk agama ... Untukmu agamamu (seperti yang anda sebutkan) >>> dan kalau ditanya bagaimana kedudukan kalimat biru itu ... pada dasarnya sudah ada jawabannya yang merah dalam QS 49:13 itu sendiri

kenapa saya ambil yang merah ?? .... karena ada ayat selanjutnya juga tentang suku badui yang "ngomong-nya" saja bagian dari orang beriman ... tapi toh nyatanya hanya Allah yang paling tau ... siapa diantara bangsa-bangsa yang berbeda ini yang paling pantas disebut "beriman"

Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(QS 49:14)

dalam hubungan berbangsa2 ini .... siapa yang disebut beriman dan siapa yang disebut belum/tidak beriman ?? .... jelas semua itu bukan menurut standar manusia ... tetapi menurut standar Allah ...

misalnya kita baca di ayat berikutnya

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS 49:15)

sekali lagi .... siapa yang paling tepat disebut "orang-orang yang benar" ?? >>> apakah menurut standar manusia ?? ... ga toh ... semua tetap menurut standar Allah

ayat selanjutnya misalnya

Katakanlah: "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?" Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar" Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS 49:16-18)

yang ungu : kenikmatan BUKAN datang karena ada-nya muslim (orang2 Islam) ... tapi kenikmatan datang karena Allah yang memberi nikmat JIKA orang tersebut memang adalah orang2 yang beriman

yang saya tangkap dari seluruh ayat2 ini ... mau seluruh penduduk dunia ini mengatakan mereka Islam sekalipun ... kenikmatan tidak akan datang bila Allah tidak melihat mereka adalah bagian dari orang2 yang benar (misalnya kasus arab badui diatas) ... semua tetap kembali pada kebijakan dan keadilan Allah.

menurut saya ... seluruh ayat2 dalam Al-Hujurat adalah pesan kepada muslim (umat beragama Islam) ... bahwa sekalipun orang2 tersebut sudah mengakui dirinya Islam ... nikmat Islam BUKAN datang karena ke-islam-an mereka ... bahwa nikmat Islam BUKAN datang dari manusia ... (bahkan) bila 100% seluruh penduduk dunia sekalipun sudah mengakui dirinya Islam

jadi kalau nyambung ke TS (terkait tinggi rendah manusia) .... jangankan dalam sudut pandang bangsa ... dalam sudut pandang agama saja ... seorang muslim juga tidak diperbolehkan meyakini dirinya sudah lebih baik dari non-muslim ... karena toh kenikmatan yang datang di bumi bukan disebabkan oleh ke-islam-an mereka tapi disebabkan karena kehendak Allah

tugas seorang muslim hanya menyampaikan pesan bahwa Islam adalah agama yang sempurna >>> bukan untuk mengatakan bahwa orang Islam sudah lebih sempurna (atau lebih baik atau lebih tinggi derajatnya) dibanding yang belum/tidak Islam

sama saja seperti logika berdiskusi di forum ini ... saya mengatakan apa yang saya yakini benar ..... tapi bukan artinya saya boleh MEMANDANG/MENGANGGAP diri saya yang paling benar ... bukan artinya saya boleh memandang orang lain lebih rendah daripada saya (disebabkan oleh keyakinan saya tersebut)

begitu2lah ...

piss
Berhubung terlalu banyak poinnya dan saya khawatir salah pilih mana inti mana kembang gula, mohon dirangkum mb Dee dengan dua atau tiga kalimat saja.

ATAU agar saya tidak dianggap tidak berusaha, berikut beberapa hal yg mb Dee sampaikan cmiiw:
1. Ketika berbangsa prinsipnya adalah ketidaksamaan hanya karena beda tingkat ketakwaan.
2. Ketika beragama prinsipnya "Tidak ada paksaan dalam memeluk agama ... Untukmu agamamu"
3. Standar kebenaran adalah menurut Allah.

Sehubungan dengan jawaban mb Dee "TIDAK BOLEH" siapapun meyakini kasta dan atau Israel lebih tinggi derajatnya, kenapa terlihat agak bertentangan dengan rangkuman no.2?
piss

merah : tadi katanya nanya "bagaimana kedudukan "la ikraha fiddin" dan "lakum dinukum" terhadap 49:13 tersebut" >>> sudah dijawab menurut pendapat saya ... kok malah minta dirangkum

>>> itu sudah rangkuman dong ah .... moso pembahasan 3 bab minta dirangkum cuma 3 kalimat ... jadi seperti prinsip bikin contekan dong ... makin pendek makin bagus ... hehehehehe

piss

point no 2 dan 3 betul ... tapi point 1 saya ga ngerti ... maksudnya gimana ya ??

biru : lah agama ku bilang ga boleh kok ... kan saya sudah bilang

saya kan muslim >>> kalau geng lain bilang boleh .. Islam bilang tidak boleh ... ya terserah mau ikut yang mana

mana bertentangan-nya sih ?? ... saya kan juga ga maksa2 orang lain untuk ikut yang mana

tapi kalau ada (misalnya) si fulan yang merendahkan/meninggikan fulana di depan saya ... ya saya tegur  
kalau fulan protes ... ya mari dibahas kenapa saya tegur ... kenapa saya larang

argumen saya jelas loh kenapa tidak boleh >>> bahkan dilihat dari hukum universal itu sendiri tentang mental sombong dan mental budak

jadi ... kalau ada orang yang meyakini bahwa merendahkan/meninggikan orang lain adalah hal yang DIPERBOLEHKAN .... silahkan buktikan pada saya ... aturan dan hukum model apa yang mengatakan bahwa mental sombong dan mental budak adalah hal yang diperbolehkan

yakin deh sama saya ... sikap yang orange itu ... memang basicnya cuma karena yang ungu kok .... berlaku bagi semua manusia

piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by isaku on Tue Dec 13, 2016 5:31 pm

Pendapat Mb Dee sudah jelas sih.

Yang belum jelas itu di posisi bagaimana ayat 2:256 dan Alkafirun:6?
coba dipetakan lagi biar keliatan.
piss

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3532
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by dee-nee on Wed Dec 14, 2016 6:46 pm

isaku wrote:Pendapat Mb Dee sudah jelas sih.

Yang belum jelas itu di posisi bagaimana ayat 2:256 dan Alkafirun:6?
coba dipetakan lagi biar keliatan.
piss

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. Al Baqarah : 256)

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku".(QS. Al Kafirun : 6)

merah : yang bold ini kan juga udah dipetakan diatas ... dibaca lagi dong ah

piss

-----------------------------------------------------

atau coba deh anda baca judul TS : Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah ?

gitu kan ...

ini kan pertanyaan yang sama dengan "Bolehkan meyakini babi adalah makanan halal ?"

anda tanya non-muslim ... jelas mereka bilang boleh
tapi kalau anda tanya muslim ... mana mungkin muslim bilang boleh

makanya ... terkait TS pun sudah saya jawab :

saya kan muslim >>> kalau geng lain bilang boleh .. Islam bilang tidak boleh ... ya terserah mau ikut yang mana

begitu

piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by njlajahweb on Thu Dec 15, 2016 4:44 am

Di dalam kehidupan agama Hindu, kita sering mendengar adanya perbedaan status sosial yang didasarkan atas system kasta. Sepintas lalu orang akan membenarkan kenyataan itu. Menurut bahasa Sansekerta (bahasa yang dipakai dalam kitab suci weda) kata “kasta” berasal dari kayu, jadi bukan berarti pembedaan golongan atau status sosial berdasarkan keturunan

kutipan dari https://maretanakbali.blogspot.sg/2014/08/kasta-dan-warna-dalam-agama-hindu.html
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 5429
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by dee-nee on Thu Dec 15, 2016 2:31 pm

njlajahweb wrote:Di dalam kehidupan agama Hindu, kita sering mendengar adanya perbedaan status sosial yang didasarkan atas system kasta. Sepintas lalu orang akan membenarkan kenyataan itu. Menurut bahasa Sansekerta (bahasa yang dipakai dalam kitab suci weda) kata “kasta” berasal dari kayu, jadi bukan berarti pembedaan golongan atau status sosial berdasarkan keturunan

kutipan dari https://maretanakbali.blogspot.sg/2014/08/kasta-dan-warna-dalam-agama-hindu.html

lah iya ... itu ada terusannya kan

Menurut bahasa Sansekerta (bahasa yang dipakai dalam kitab suci weda) kata “kasta” berasal dari kayu, jadi bukan berarti pembedaan golongan atau status sosial berdasarkan keturunan seperti pengertian kata “caste” dalam bahasa Portugis (caste=pemisah, tembok atau pembatas).

baca dong yang underline >>> anda sih main potong2 ajah

kata kasta dalam bahasa sansekerta BUKAN BERARTI (pembedaan golongan atau status sosial berdasarkan keturunan) SEPERTI PENGERTIAN "CASTE" dalam bahasa portugis

lanjut

Istilah kasta dalam Agama Hindu muncul karena adanya proses sosial yang mengaburkan pengertian warna. Pengaburan istilah warna inilah yang menyebabkan lahirnya tradisi kasta yang membagi tingkatan seseorang dalam masyarakat berdasarkan status kelahiran dan status keluarganya.

terjadi PENGABURAN PENGERTIAN WARNA karena adanya proses sosial >>> jadi kata kasta itu sendiri (yang artinya pembedaan golongan atau status sosial berdasarkan keturunan) BARU LAHIR setelah adanya proses sosial itu sendiri .... bukan dari ajaran Hindu-nya

saya ulang

pengelompokan masyarakat menurut kasta TIDAK SAMA dengan pengelompokan masyarakat menurut catur warna

a. catur warna adalah pengelompokan masyarakat secara horisontal >>> artinya manusia dipandang setara satu sama lain

b. kasta adalah pengelompokan masyarakat secara vertikal >>> artinya ada manusia yang dipandang lebih tinggi/rendah dibanding yang lain

tradisi sosial masyarakat Hindu TIDAK MENGENAL seluruh point b (termasuk namanya) ... yang mereka kenal adalah seluruh point a

>>> kata "kasta" berikut pengertiannya dalam point b ... bukan berasal dari bahasa sansekerta ... tapi dari bahasa portugis

begitu say
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by isaku on Fri Dec 16, 2016 6:19 pm

lanjut dulu
gayatri+ wrote:
Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah
pertanyaan yg cukup bodoh

yah boleh2 saja!!
dan itu bukan rasis...
rasis itu tentunya utk hal yg negatif..mana ada rasis utk yg positif??? wakakakkkk...

MANA ADA ORG  BERBUAT HAL YG POSITIF LALU DITUNTUT MELANGGAR HUKUM??

Di india Sudra memang pembagian bagi kasta terendah
mau pakai nama apa kek....kasta rendah diseluruh dunia pasti ada kan!!

secara materi paling rendah tp belum tentu secara moral.
yg tidak boleh itu membagi2 manusia berdasarkan KASTA baik itu urusan ekonomi/politik/sosial dll
utk tujuan negatif.
OK. Kalau kita tambah pertanyaannya:

Bolehkah seseorang meyakini bahwa orang2 yang menolak beriman sebagai kafir?

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3532
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by isaku on Tue Jan 03, 2017 3:28 pm

lanjut dengan pertanyaan:

Bolehkah seseorang meyakini bahwa berpakaian ala santa ketika natal menyalahi akidahnya?

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3532
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by dee-nee on Tue Jan 03, 2017 4:40 pm

isaku wrote:lanjut dengan pertanyaan:

Bolehkah seseorang meyakini bahwa berpakaian ala santa ketika natal menyalahi akidahnya?

merah : akidah apa dulu dong ?? akidah "muslim atribut" >>> ya silahkan kalau mau seperti itu

maka silahkan ganti juga akronim MUI menjadi MUAI >>> Majelis Ulama Atribut Indonesia ... sehingga muslim di Indonesia diberi (punya) pilihan ... mau jadi "muslim atribut" atau tidak

lagipula hubungannya apa ya ... "atribut natal" dengan judul TS ??

piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by isaku on Tue Jan 03, 2017 4:50 pm

dee-nee wrote:
isaku wrote:lanjut dengan pertanyaan:

Bolehkah seseorang meyakini bahwa berpakaian ala santa ketika natal menyalahi akidahnya?

merah : akidah apa dulu dong ?? akidah "muslim atribut" >>> ya silahkan kalau mau seperti itu

maka silahkan ganti juga akronim MUI menjadi MUAI >>> Majelis Ulama Atribut Indonesia ... sehingga muslim di Indonesia diberi (punya) pilihan ... mau jadi "muslim atribut" atau tidak

lagipula hubungannya apa ya ... "atribut natal" dengan judul TS ??

piss
Bumbu2nya saya singkirkan dulu.

Jadi jawabannya BOLEH ya?






Masih bisa diganti kok sebelum kita segel piss

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3532
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by dee-nee on Tue Jan 03, 2017 4:57 pm

isaku wrote:
dee-nee wrote:
isaku wrote:lanjut dengan pertanyaan:

Bolehkah seseorang meyakini bahwa berpakaian ala santa ketika natal menyalahi akidahnya?

merah : akidah apa dulu dong ?? akidah "muslim atribut" >>> ya silahkan kalau mau seperti itu

maka silahkan ganti juga akronim MUI menjadi MUAI >>> Majelis Ulama Atribut Indonesia ... sehingga muslim di Indonesia diberi (punya) pilihan ... mau jadi "muslim atribut" atau tidak

lagipula hubungannya apa ya ... "atribut natal" dengan judul TS ??

piss
Bumbu2nya saya singkirkan dulu.

Jadi jawabannya BOLEH ya?






Masih bisa diganti kok sebelum kita segel piss

ya memang boleh .... ga ada yang larang kok .... sama tidak ada larangan juga saya mengatakan yang biru

ya kan ....

dan tetap saja >>> trus hubungannya apa ya ... "atribut natal" dengan judul TS ??
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by isaku on Tue Jan 03, 2017 5:09 pm

Sebelum saya jawab.... Saya mau tanya 1 pertanyaan lagi saja, the last one.

Bolehkah seseorang meyakini bahwa ada perintah dari Tuhannya untuk tidak memilih pemimpin yang bukan golongannya?

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3532
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bolehkah meyakini Bangsa Israel lebih tinggi dibanding bangsa lain? Bolehkah meyakini sudra adalah manusia dengan kasta terendah

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 6 dari 7 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik