FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

studi terbaru: pemalsuan ayat trinitas

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

studi terbaru: pemalsuan ayat trinitas

Post by keroncong on Sun Dec 18, 2016 11:45 pm

AYAT-AYAT TRINITAS:

HASIL PEMALSUAN DARI ABAD-ABAD BELAKANGAN

oleh Rav Menachem Eli (Al ustadz Muhammad Ali)

Akhir-akhir ini perdebatan akademik mengenai status keaslian ayat-ayat Trinitas dalam Alkitab semakin menggema di kalangan ahli teologia dan ahli kitab suci. Perdebatan akademik itu memang secara internal dipicu oleh semakin maraknya studi kritik teks (textual criticism) terhadap manuskrip-manuskrip asli Perjanjian Baru yang mulai banyak diteliti oleh para akademisi Kristen yang pakar dalam bidang filologis. Berbagai hasil riset filologis terhadap manuskrip-manuskrip asli Perjanjian Baru itu pun justru sangat menggelisahkan para teolog Kristen yang bermazhab Trinitarian, yakni penganut paham Allah Tritunggal. Sementara itu, para pakar teolog Kristen yang bermazhab Unitarian – yang menolak paham Allah Tritunggal – justru semakin bersemangat dan mendukung secara moril atas upaya penelitian filologis terhadap manuskrip-manuskrip kuno Alkitab yang dilakukan oleh para pakar Biblikal tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ribuan manuskrip yang dilakukan oleh para cendekiawan Biblikal untuk menetapkan naskah Alkitab yang terbaik, asli dan terkuno sebagaimana teks asli yang pernah ditulis oleh para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru, ternyata mereka akhirnya dapat menyimpulkan bahwa ayat-ayat Trinitas yang termaktub di dalam Perjanjian Baru itu sebenarnya ayat-ayat rekayasa yang merupakan hasil pemalsuan dari naskah-naskah Yunani yang baru muncul pada abad-abad belakangan. Ayat-ayat rekayasa itu memang sengaja disisipkan oleh orang-orang Kristen yang bermazhab Trinitarian dalam manuskrip-manuskrip berbahasa Yunani pasca-abad XVI melalui tangan para penyalin ahli bahasa Yunani. Jadi berdasarkan kajian kritik teks terhadap naskah-naskah Yunani yang lebih kuno, terutama manuskrip-manuskrip Yunani pra-abad XVI, para ahli Biblikal dapat menyimpulkan bahwa ayat-ayat Trinitas itu memang tidak pernah ditemukan. Ayat-ayat Trinitas yang dianggap palsu oleh para akademisi Bibilikal itu mencakup dua kasus; (i) I Yohanes 5:7 yang dikenal sebagai comma Johanneum, (ii) Matius 28:19 yang dikenal sebagai comma Matthaion.

Part I: Comma Johanneum

I Yohanes 5:7

Salah satu terbitan Alkitab versi Katolik yang sangat terkenal dengan sebutan Holy Bible: The New American Bible, The New Catholic Translation (1991) ternyata tidak memuat comma Johanneum, yakni ‘ayat Trinitas’ sebagai bagian dari teks asli tulisan St. Yohanes. Alkitab The New American Bible (NAB) terbitan versi Katolik, The Bible: Revised Standard Version (RSV) dan The Holy Bible: New International Version (NIV) yang keduanya merupakan terbitan versi Protestan yang memuat teks I Yohanes 5:6-8, ternyata redaksional teksnya amat berbeda secara substansial dengan teks I Yohanes 5:6-8 menurut versi The Holy Bible: King James Version (KJV) yang memuat tambahan ‘ayat Trinitas’ (comma Johanneum). Bandingkan bunyi redaksional teks I Yohanes 5:6-8 menurut versi Alkitab KJV (1970) dengan bunyi redaksional teks I Yohanes 5:6-8 menurut ketiga versi terbitan Alkitab yang lain, yakni versi Alkitab NAB (1991), versi Alkitab RSV (1946) dan versi Alkitab NIV (1984).

(6) This is he that came by water and blood, even Jesus Christ; not by water and blood, but by water and blood. And it is the Spirit that beareth witness, because the Spirit is truth. (7) For there are three that bear record in heaven, the Father, the Word and the Holy Ghost; and these three are the one. (8) and there are three that bear witness in the earth; the Spirit, and the water and the blood; and these are agree in one.[1]

(6) This is the one who came through water and blood, Jesus Christ, not by water alone, but by water and blood. The Spirit is the one that testifies and the Spirit is truth. (7) So there are three that testify, (8) the Spirit, the water, and the blood and the three are of one accord.[2]

(6) This is he came by water and blood, Jesus Christ, not with the water only but with the water and the blood. (7) And the Spirit is the witness, because the Spirit is the truth. (8) There are three witnesses, the Spirit, the water and the blood; and these three agree.[3]

(6) This is the one who came by water and blood – Jesus Christ. He did not come by water only, but by water and blood. And it is the Spirit who testifies, because the Spirit is the truth. (7) For there are three that testify: (8) the Spirit, the water and the blood; and the three are in agreement.[4]

Tatkala para ahli Biblikal mengomentari I Yohanes 5:7-8 pada catatan kaki (footnote) versi Alkitab NIV (1984), mereka menyatakan: “Late manuscripts of the Vulgate (7) testify in heaven: the Father, the Word and the Holy Spirit, and these three are one. (8) And there are three that testify on earth: the (not found in any Greek manuscripts before the sixteenth century).” [5] Penjelasan para ahli Biblikal pada catatan kaki tersebut membuktikan dua hal penting. Pertama, ayat Trinitas dalam I Yohanes 5:7 itu termuat pada terjemahan Alkitab versi bahasa Latin, yang dikenal oleh para ahli sebagai Alkitab Vulgata. Jadi, Alkitab Vulgata statusnya hanyalah sebagai teks terjemahan yang direkomendasi bapa-bapa Gereja Latin, dan bukan karya asli dalam bahasa Yunani yang ditulis secara langsung oleh St. Yohanes sendiri. Kedua, kutipan ayat Trinitas dalam teks I Yohanes 5:7 itu tidak ada dalam manuskrip-manuskrip kuno berbahasa Yunani yang ditulis sebelum abad XVI, tetapi kutipan ayat Trinitas itu baru muncul dan dimuat pada manuskrip-manuskrip berbahasa Yunani yang ditulis pada abad-abad belakangan, yakni setelah abad XVI. Hal ini semakin membuktikan bahwa kutipan ayat Trinitas dalam I Yohanes 5:7 tersebut merupakan ‘ayat kreasi’ para penafsir Yunani pasca-abad XVI, karena pada awalnya ayat ini tidak pernah ditulis oleh St. Yohanes sendiri, bahkan tidak pernah dikutip oleh para penyalin teks manuskrip Yunani sebelum abad XVI. Ayat Trinitas ini juga merupakan ‘ayat tambahan’ yang ditambahkan pada manuskrip-manuskrip Yunani yang ditulis setelah abad XVI oleh para penyalin ahli yang berperan sebagai penafsir teologi Trinitarian. Dengan demikian, berdasarkan studi kritik teks yang dilakukan oleh para ahli Biblikal terhadap manuskrip-manuskrip berbahasa Yunani yang lebih kuno justru semakin membuktikan bahwa ayat Trinitas yang termaktub dalam I Yohanes 5:7 itu adalah ayat tambahan tulisan para bapa Gereja Yunani dan Gereja Latin, dan bukan sebagai ayat suci atau ayat asli tulisan St. Yohanes, murid Yesus Kristus. Para ahli Biblikal yang menggarap terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris versi the Revised Standard Version (RSV) ternyata juga tidak memuat ayat Trinitas dalam redaksional teks I Yohanes 5:7 tersebut. Penghapusan ayat Trinitas dalam redaksional teks I Yohanes 5:7 versi RSV itu merupakan teks revisi dari versi teks I Yohanes 5:7 yang termaktub dalam Alkitab versi KJV. Sebelumnya, penghapusan ayat Trinitas dalam redaksional teks I Yohanes 5:7 Alkitab versi KJV sudah dilakukan oleh para ahli Biblikal dengan diterbitkannya Alkitab versi the American Standard Version (ASV) pada tahun 1901. Fakta penghapusan ayat Trinitas dalam redaksional teks I Yohanes 5:7 Alkitab versi ASV dapat dicermati pada teks berikut ini.

(6) This is he that came by water and blood, even Jesus Christ; not with the water only, but with the water and with the blood. (7) And it is the Spirit that beareth witness, because the Spirit is the truth. (8) For there are three who bear witness, the Spirit, and the water, and the blood: and the three agree in one.[6]

Menurut para ahli Biblikal yang menggarap terjemahan Alkitab versi the Revised Standard Version (RSV), mereka menyatakan bahwa Alkitab versi King James Version (JKV) mengandung banyak kesalahan fatal yang bersumber dari salinan-salinan berbagai manuskrip Yunani yang redaksional teksnya tidak akurat akibat tradisi penyalinan dari abad-abad belakangan. Oleh karena itulah, mereka merevisi teks terjemahannya tersebut berdasarkan manuskrip-manuskrip Yunani yang lebih terpercaya. Pada halaman ‘kata pengantar’ (preface) Alkitab versi RSV itu, mereka mengatakan:

“The Revised Standard Version of the Bible is an authorized revision of the American Standard Version, published in 1901, which was a revision of the King James Version, published in 1611. The first English version of the Scriptures made by direct translation from the original Hebrew and Greek, and the first to be printed, was the work of William Tyndale. He met bitter opposition. He was accused of willfully perverting the meaning of the Scriptures, and his New Testaments were ordered to be burned as ‘untrue translations.’ He was finally betrayed into the hands of his enemies, and in October 1536, was publicly executed and burned at the stake….. The King James Version of the New Testament was based upon a Greek text was marred by mistakes, containing the accumulated errors of fourteen centuries of manuscript copying. It was essentially the Greek text of the New Testament as edited in 1589, who closely followed that published by Erasmus, 1516 – 1539, which was based upon a few medieval manuscripts. The earliest and best of the eight manuscripts which Erasmus consulted was from the tenth century, and he made the least use of it because it differed most from the commonly received text; Beza had access to two manuscripts of great value, dating from the fifth and sixth centuries, but he made very little use of them because they differed from the text published by Erasmus. We now possess many more ancient manuscripts of the New Testament, and are far better equipped to seek to recover the original wording of the Greek text. The evidence for the text of the books of the New Testament is better than for any other ancient book, both in the number of extant manuscripts and in the nearness of the date of some of these manuscripts to the date when the book was originally written.”[7]

Dr. Bart D. Ehrman yang mengepalai Fakultas Kajian Agama di Universitas Carolina di Chapel Hill, Amerika Serikat, ia juga mengatakan bahwa semua edisi susulan teks Perjanjian Baru bahasa Yunani termasuk edisi Stephanus Robert Estienes – pada akhirnya merujuk pada editio princeps milik Desiderius Erasmus, yang didasarkan atas manuskrip-manuskrip bahasa Yunani yang sudah jauh dari aslinya, dan tidak begitu bisa diandalkan – yang kebetulan ia temukan di Basel dan yang ia pinjam dari Reuchlin, temannya. Desiderius Erasmus memang telah membuat sekaligus menerbitkan sebuah edisi teks Perjanjian Baru bahasa Yunani, sehingga menerima hak kehormatan untuk menyunting apa yang disebut sebagai editio princeps (edisi yang pertama kali diterbitkan). Menurut Bart D. Ehrman, tidak ada alasan untuk menduga bahwa manuskrip-manuskrip Yunani yang dijadikan landasan edisi teks oleh Desiderius Erasmus itu amat bermutu tinggi. Berdasarkan studi kritik teks, manuskrip-manuskrip salinan itu secara filologis tidak bermutu tinggi karena alasan yang sangat fundamental, yakni waktu penulisan/ penyalinan teksnya saja sudah berbeda sekitar seribu tahun lebih muda dari teks aslinya yang juga ditulis dalam bahasa Yunani. Misalnya, manuskrip utama yang digunakan D. Erasmus untuk Injil-injil berisi kisah wanita yang berzina dalam Injil Yohanes (Yohanes 7:52 – 8:11) dan kedua belas ayat terakhir dari Injil Markus (Markus 16:9-20), merupakan bagian-bagian teks yang sebenarnya tidak ada dalam Injil yang asli. Namun faktanya, Erasmus memasukkannya ke dalam edisi teks Perjanjian Baru yang diterbitkannya dalam bahasa Yunani pada tahun 1515/ 1516 M. karena pertimbangan manuskrip-manuskrip Yunani yang ditulis pada abad XII yang memuat teks Yohanes 7:52 – 8:11 dan Markus 16:9-20. Meskipun begitu, ada satu bagian yang tidak ditemukan di dalam manuskrip-manuskrip sumber milik Erasmus tersebut. Hal itu adalah catatan dalam I Yohanes 5:7 yang oleh para cendekiawan Biblikal dinamai comma Johanneum (‘sisipan dalam surat Yohanes’) yang hanya ada dalam manuskrip-manuskrip Latin Vulgata, tetapi tidak ada di dalam sebagian besar manuskrip bahasa Yunani – termasuk manuskrip-manuskrip Yunani yang ditulis pada abad XII yang merupakan manuskrip sumber milik Erasmus. Fakta ini bisa disimpulkan bahwa D. Erasmus tidak menemukan ayat Tritunggal sebagai bagian dari redaksional teks I Yohanes 5:7-8 di dalam manuskrip-manuskrip Yunani yang dimilikinya. Jadi, ayat Tritunggal (Trinitas) itu sama sekali tidak ada dalam manuskrip utama milik D. Erasmus, sehingga wajarlah bila ia tidak memasukkannya ke dalam edisi pertama naskah Yunani karyanya itu. Atas desakan kaum Trinitarian, D. Erasmus akhirnya kemudian merevisi dan menerbitkan edisi kedua teks Yunaninya dengan memasukkan ayat Trinitas yang dikenal sebagai comma Johanneum itu dengan merujuk pada naskah-naskah Perjanjian Baru yang dibuat oleh para penyalin ahli pada abad XVI. Namun, tindakan D. Erasmus merevisi hasil suntingan teks Yunani itu sebenarnya menyalahi prinsip-prinsip studi kritik teks karena dua alasan. Pertama, suntingan teks yang benar harus berdasarkan pada keabsahan manuskrip-manuskrip yang paling awal (tertua) yang kebanyakan dibuat sebelum abad XVI, dan bukan didasarkan pada keabsahan manuskrip-manuskrip yang paling muda yang ternyata ditulis pada abad-abad belakangan, yakni abad XVI. Dalam studi kritik teks, teks yang termaktub dalam naskah-naskah tertua justru merupakan garansi keabsahan teksnya karena dianggap lebih mendekati teks aslinya. Teks asli inilah yang kemudian dikenal di kalangan filolog sebagai teks otograf. Kedua, ayat Trinitas dalam I Yohanes 5:7-8 itu hanya muncul pada manuskrip-manuskrip Alkitab bahasa Latin Vulgata dan Alkitab bahasa Yunani yang dibuat setelah abad XVI, dan ayat Trinitas yang dikenal sebagai comma Johanneum itu tidak pernah muncul pada keseluruhan manuskrip Yunani yang dibuat sebelum abad XVI. Beragam edisi bahasa Yunani dari abad XVI dan XVII isinya sangat mirip satu sama lain sehingga para pencetak bisa mengklaim bahwa edisi-edisi itu telah diterima secara universal oleh semua cendekiawan dan pembaca Perjanjian Baru bahasa Yunani. Manuskrip-manuskrip Yunani yang dibuat setelah abad XVI inilah yang akhirnya oleh para ahli Biblikal dikenal sebagai textus receptus – teks yang diterima (recepted text). Dalam tradisi Latin, istilah textus receptus ini merujuk pada kumpulan naskah yang diterima oleh semua. Jadi, istilah ini digunakan para ahli pengkritik naskah yang artinya adalah suatu bentuk naskah bahasa Yunani yang didasarkan, bukan pada manuskrip tertua yang terunggul, melainkan pada bentuk naskah yang pada awalnya diterbitkan oleh D. Erasmus dan yang terus dicetak selama lebih dari 300 tahun, sampai para cendekiawan Biblikal mulai mengajukan metode kritikal bahwa Perjanjian Baru bahasa Yunani seharusnya dibuat melalui prinsip-prinsip ilmiah yang didasarkan pada manuskrip-manuskrip tertua dan terbaik, bukan Cuma dicetak menurut kebiasaan. Bentuk naskah berkualitas rendah dari textus receptus itulah yang melandasi terjemahan-terjemahan Alkitab bahasa Inggris yang paling awal, termasuk Alkitab King James Version (KJV) dan edisi-edisi lain hingga menjelang akhir abad XIX.[8]

Meskipun para ahli Biblikal dalam tradisi Latin menyebutnya sebagai textus receptus, tetapi hal ini bukan berarti bahwa istilah textus receptus itu mengindikasikan kebenaran teksnya, sebab bila istilah tersebut merujuk pada makna keaslian teks, lalu bagaimana mungkin para ahli Biblikal menyebut ‘ayat Trinitas’ dalam redaksional teks I Yohanes 5:7-8 sebagai comma Johanneum? Bukankah istilah comma Johanneum itu bermakna teks yang disisipkan dalam tulisan Yohanes? Bukankah makna ‘sisipan’ menunjukkan ketidakaslian teks yang memang terindikasi menyimpang dari teks aslinya? Dengan demikian, adanya redaksional ayat Trinitas yang termuat pada manuskrip-manuskrip Yunani yang dibuat setelah abad XVI itu justru semakin membuktikan bahwa bagian ayat teologis yang amat misterius tersebut merupakan hasil terjemahan karya penyalin profesional yang diadopsi dari naskah Latin Vulgata yang tidak ada hubungannya dengan keberadaan naskah-naskah Yunani sebelum abad XVI. Dalam konteks ini, Bart D. Ehrman mengatakan bahwa comma Johanneum merupakan suatu bagian yang sudah lama dielu-elukan oleh para teolog Kristen penganut paham Trinitarian, karena hanya di bagian itulah ajaran Allah Tritunggal Maha Kudus disebut, bahwa ada tiga pribadi ilahi dan ketiganya membentuk satu Allah. Bagian ini tentu saja amat misterius, tetapi jelas-jelas mendukung ajaran Trinitarian. Tanpa ayat ini, doktrin Allah Tritunggal Maha Kudus harus dikarang-karang dengan cara mencomot ayat dari sana-sini yang kemudian dikombinasikan sedemikian rupa untuk memperlihatkan bahwa Kristus adalah Allah, demikian juga Bapa dan Roh, sekalipun demikian, hanya ada satu Allah. Sebaliknya, dengan adanya ayat Trinitas dalam redaksional teks I Yohanes 5:7-8 itu, doktrin Allah Tritunggal Maha Kudus bisa dinyatakan secara gamblang dan lugas. Bart D. Ehrman juga membuktikan bahwa karya revisi suntingan teks D. Erasmus yang diterbitkan dalam bahasa Yunani yang memuat comma Johanneum itu akhirnya menjadi dasar bagi edisi-edisi teks Perjanjian Baru yang kemudian diproduksi kembali berulang kali oleh orang-orang seperti Stephanus, Beza, dan Elzevir. Edisi-edisi itu menyediakan bentuk naskah yang belakangan digunakan oleh para penerjemah Alkitab King James Version (KJV) yang diterbitkan pada tahun 1611. Menariknya, redaksional teks I Yohanes 5:7-8 dalam Alkitab versi KJV itu juga memuat ayat Trinitas tersebut.[9] Dr. Philip Wesley Comfort, seorang pakar Biblikal di Universitas Coastal Carolina yang telah menulis buku-buku tentang kritik teks Perjanjian Baru dan karya-karya buku referensi terkait berbagai versi terjemahan Alkitab berbahasa Inggris, dalam artikelnya yang berjudul History of the English Bible, ia juga mengatakan:

“The English Revised Version and the American Standard Version had gained a reputation of being accurate study texts but very wooden in their construction. The translators who worked on the Revised Versions attempted to translate words consistently from the original language regardless of their context and sometimes even followed the word order of the Greek. This created a very idiomatic version. This called for a new revision. The demand for revision was strengthened by the fact that several important biblical manuscripts had been discovered in the 1930s and 1940s – namely the Dead Sea Scrolls for the Old Testament and the Chester Beatty Papyri for the New Testament. It was felt that the fresh evidence displayed in these documents should be reflected in a revision. The revision showed some textual changes in the book of Isaiah due to the Isaiah scroll and several changes in the Pauline Epistles due to the Chester Beatty Papyri P46. There were other significant revisions. The story of the woman caught in adultery (John 7:52 – 8:11) was not included in the text, but in the margin because none of the early manuscripts contain this story, and the ending to Mark (16:9-20) was not included in the text because it is not found in the two earliest manuscripts, Codex Vaticanus and Codex Sinaiticus….. This revision was well received by many Protestant churches and soon became their standard text. The Revised Standard Version was later published with the Apocrypha of the Old Testament (1957), in a Catholic edition (1965), and in what is called the Common Bible which includes the Old Testament, the New Testament, the Apocrypha, and the Deuterocanonical books which international endorsements by Protestants, Greek Orthodox, and Roman Catholics.”[10]

Selain Alkitab versi NIV dan RSV yang tidak memuat comma Johanneum, Alkitab The New American Bible (NAB) juga tidak memuatnya. Alkitab NAB versi Katolik ini penggarapannya diawasi dan ditangani secara langsung oleh para ahli Biblikal Katolik, dan telah dibaca serta disahkan oleh para ahli kitab suci yang kompeten, di antaranya yang berperan sebagai nihil obstat adalah Stephen J. Hartdegen, O.F.M., S.S.L., Christian P. Ceroke, O. Carm., S.T.D., Nicholas Tranter, S.T.L., dan Lionel Swain, S.T.L., L.S.S., sedangkan yang berperan sebagai imprimatur adalah Most Reverend Daniel E. Pilarczyk, seorang presiden National Conference of Catholic Bishops, Patrick Cardinal O’Boyle, D.D., dan James Cardinal Hickey, S.T.D., J.C.D., keduanya sebagai Archbishop dari Washington (USA), John Cardinal Heenan, seorang Archbishop dari Westminster dan Jaime L. Cardinal Sin, seorang Archiepiscopus Manilensis (Manila, Philippine). Berdasarkan ketiadaan ‘ayat Trinitas’ dalam redaksi teks I Yoh 5:6-8 versi The New American Bible (NAB) tersebut justru membuktikan bahwa para akademisi Biblikal yang berasal dari kalangan Katolik juga sepakat bahwa comma Johanneum, yakni ‘ayat sisipan’ dalam surat St. Yohanes itu sebenarnya bukan tulisan asli dari St. Yohanes sendiri. Dengan kata lain, mereka tidak mengakui comma Johanneum yang teks internalnya berisi ayat Trinitas sebagai teks suci karena comma Johanneum itu sendiri bukan merupakan bagian dari teks asli tulisan St. Yohanes. Hal ini berarti bahwa ayat Trinitas yang termaktub dalam I Yohanes 5:7 tersebut itu bukanlah ‘ayat suci’ Alkitab, tetapi ‘ayat interpretasi’ kreatifitas sang penafsir ahli yang merupakan hasil penafsiran bapa-bapa Gereja Latin zaman itu. Ayat interpretasi yang tentu saja bukan ayat suci tersebut ternyata memang disisipkan secara sengaja oleh para bapa Gereja yang menganut mazhab Trinitarian yang bertujuan untuk memperjelas konsep teologi Trinitas dalam Alkitab Perjanjian Baru. Dengan demikian, penyisipan ayat Trinitas dalam I Yohanes 5:7 sebagai ayat interpretasi, tentu dimaksudkan sebagai ayat penjelas, terutama terhadap teks-teks leksionari yang hendak dikhotbahkan. Awalnya, sisipan ayat Trinitas ini bisa diidentifikasi sebagai scholia (margin/ catatan pinggir) yang berperan sebagai teks tafsiran, tetapi para penyalin Alkitab masa belakangan justru memasukkannya sebagai bagian dari teks asli tulisan St. Yohanes. Bahkan teks scholia itu kemudian dinisbatkan sebagai buah pemikiran St. Yohanes. Pengadopsian teks scholia ke dalam redaksional teks I Yohanes 5:7-8 yang termuat pada manuskrip-manuskrip Latin dan Yunani setelah abad XVI itu, pasti dilakukan oleh para penyalin profesional atau penyalin ahli yang menganut paham teologia Trinitarian yang sangat pakar dalam bahasa Latin atau pun Yunani. Menurut saya, ‘ayat Trinitas’ yang awalnya berfungsi sebagai catatan pinggir (margin) yang dalam tradisi Latin dikenal sebagai scholia itu, tidak mungkin dikomentari, ditulis, atau pun disalin oleh para penyalin awam yang sebagian besar mereka berstatus sebagai budak belian, yang tentu saja mereka itu tidak begitu akrab atau mahir dengan perdebatan filosofis dalam dunia teologia Trinitarian. Begitu juga ‘ayat Trinitas’ yang awalnya berfungsi sebagai catatan pinggir (margin) itu tidak mungkin disisipkan oleh para penyalin awam ke dalam redaksional teks I Yohanes 5:7-8 – yang kemudian dalam tradisi Latin disebut comma Johanneum. Penyisipan ‘ayat Trinitas’ itu pasti ditulis atau pun disalin oleh para penyalin ahli (penyalin profesional) yang menganut paham teologia Trinitarian yang sangat pakar dalam bahasa Latin atau pun Yunani. Jadi, tidak mungkin pengadopsian ‘ayat Trinitas’ ke dalam redaksional teks I Yohanes 5:7-8 itu akibat kesalahan penyalin yang dilakukan secara tidak sengaja oleh para penyalin awam dengan alasan waktu itu belum ada studi kritis tentang Kitab Suci. Saat ini memang ada sebuah pledoi pembenaran dari kalangan Evangelikal Kristen yang berpaham Trinitarian atas terjadinya kasus penyisipan ‘ayat Trinitas’ sebagai comma Johanneum dalam redaksional teks I Yohanes 5:7-8. Jadi, mereka secara elegan mengakui bahwa ‘ayat Trinitas’ dalam redaksional teks I Yohanes 5:7-8 itu merupakan ‘teks sisipan’ karya tafsiran bapa Gereja, bukan ‘teks suci’ tulisan asli St. Yohanes. Namun, mereka menyatakan bahwa ketiadaan metode kritik teks pada zaman itu menyebabkan para penyalin awam menyangka bahwa ‘ayat Trinitas’ itu sebagai bagian dari ayat-ayat Alkitab. Seiring dengan munculnya metode-metode kritis Kitab Suci, khususnya yang terkait dengan ilmu kritik salinan, maka ‘ayat Trinitas’ dalam redaksional teks I Yohanes 5:7-8 ini lalu dibedakan dari teks asli oleh para ahli Biblikal. Menurut saya, pledoi pembenaran ini tentu saja sangat lemah dan tidak ilmiah. Dalam konteks ini, mereka seakan-akan berdalih bahwa munculnya ‘ayat Trinitas’ dalam redaksional teks I Yohanes 5:7-8 itu karena ketiadaan metode kritik teks yang baru muncul pada abad modern. Menurutnya, saat itu para penyalin awam yang menggarap penyalinan manuskrip-manuskrip Alkitab tidak mengenal metode lain kecuali menerapkan ‘metode penyisipan’ (method of insertion), yakni sebuah metode klasik dengan cara memasukkan ‘ayat Trinitas’ ke dalam teks asli sebagai tafsirannya. Namun, dalih yang lemah ini sangat tidak rasional sebab bila penyisipan ‘ayat Trinitas’ itu disebabkan oleh kesalahan para penyalin awam akibat ketiadaan metode-metode kritik teks kitab suci yang baru muncul pada abad modern, maka tidak mungkin redaksional teks ‘ayat Trinitas’ yang termaktub dalam naskah-naskah Yunani setelah abad XVI itu susunan gramatika bahasa Yunani-nya sesuai dengan kaidah sintaksis yang tepat dan benar. Kaidah gramatika Yunani yang tepat dan benar tidak mungkin ditorehkan oleh seorang penyalin awam, tetapi justru hal itu mengindikasikan bahwa sang penyalin teks pasti seorang penyalin profesional yang sangat cerdas dan terpelajar. Bahkan, ia pasti mengenal seluk-beluk paham Trinitarian yang menjadi landasan pemikirannya. Dengan demikian, saya bisa memastikan bahwa penyisipan ‘ayat Trinitas’ dalam redaksional teks I Yohanes 5:7-8 itu bukanlah sebuah bentuk keteledoran, ketidaksengajaan atau pun akibat kesalahan penyalinan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengerti metode kritik teks kitab suci, tetapi penyisipan ‘ayat Trinitas’ itu merupakan sebuah bentuk rekayasa yang dilakukan secara sengaja, hasil pemalsuan para teolog Kristen yang berpaham Trinitarian yang juga berperan sebagai para penyalin profesional yang menyalin manuskrip-manuskrip Yunani setelah abad XVI. Upaya rekayasa yang dilakukan secara sengaja itu juga dinyatakan oleh Bart D. Ehrman. Begitu juga Rev. Jerry Falwell, seorang tokoh Kristen radikal yang terkemuka di US, dia menyatakan: “the rest of verse 7 and first nine words of verse 8 are not original, and are not to be considered as a part of the words of God” (kalimat terakhir pada ayat ke-7 dan 9 kata pertama dalam ayat ke-8 adalah tidak asli, dan tidak bisa dianggap sebagai bagian dari wahyu Tuhan).[11] Secara historis, tatkala Desiderius Erasmus menerbitkan edisi perdana Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, ia tidak memasukkan ‘ayat Trinitas’ itu sebagai bagian dari teks pewahyuan dalam redaksional teks I Yohanes 5:7-8, sebab manuskrip-manuskrip Yunani yang menjadi dasar suntingan teksnya, yang merupakan naskah-naskah Yunani yang paling tua memang tidak memuat ‘ayat Trinitas’ tersebut. Bahkan, dalam naskah-naskah terjemahan kuno yang paling baik dari naskah Vulgata Latin juga tidak memuat ayat sisipan Trinitas tersebut. Bagian ayat Trinitas dalam teks I Yohanes 5:7-8 aslinya merupakan catatan di pinggir halaman salah satu naskah terjemahan Latin yang kemudian disisipkan ke dalam naskah-naskah oleh penyalin dan akhirnya disispkan juga ke dalam naskah-naskah Yunani. Oleh karena itulah Mgr. Donatus Jagom SVD, Uskup Agung Ende – Flores menyatakan secara tegas bahwa ayat Trinitas dalam I Yohanes 5:7-8 merupakan ayat yang tidak asli tulisan St. Yohanes.[12] Dengan demikian, Lembaga Biblika Indonesia (LBI) di Jakarta sebagai lembaga penerbitan resmi dari kalangan Katolik telah menegaskan ketidakaslian ayat Trinitas dalam teks I Yohanes 5:7-8, sebagaimana Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) di Jakarta sebagai lembaga penerbitan resmi dari kalangan Protestan juga telah menyatakan hal yang sama dalam menilai ketidakaslian ayat Trinitas dalam teks I Yohanes 5:7-8. Terjemahan Lama/ TL versi LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) tahun 1974 dan Terjemahan Baru/ TB versi LAI edisi revisi tahun 1998 sudah jelas membedakan antara ayat Trinitas dalam nas I Yohanes 5:7-8 sebagai teks sisipan (palsu) dengan teks asli tulisan St. Yohanes sendiri. Caranya dengan menempatkan ‘ayat sisipan’ sebagai ‘tafsiran’ I Yohanes 5:7 itu di antara tanda kurung dengan simbol […..] sehingga berbunyi sebagai berikut:

(7) Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu (8) Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.

Part II: Rumusan Trinitarian dalam Matius 28:19

Pakar teologia dan sejarah pemikiran Kristen yang bernama Paul Tillich dalam bukunya yang berjudul A History of Christian Thought (1968) menyatakan: “Baptism was the sacrament of entrance into the Church then he was baptized in the name of the Christ. Later, on the name of God the Father and the Spirit were added.”[13] Pernyataan Paul Tillich ini secara jelas membuktikan bahwa formula pembaptisan yang asli hanya menyebutkan nama Yesus, tanpa tambahan penyebutan atas nama Bapa dan Roh Kudus. Hal ini diperkuat dengan beberapa alasan. Pertama, formula baptisan yang diajarkan Yesus dan formula baptisan yang diajarkan murid-murid Yesus pasti sama dengan formula baptisan Yohanes kepada Yesus dan formula baptisan Yohanes kepada orang-orang dari Yerusalem, dari Yudea, dan dari daerah sekitar Yordan (Matius 3:5-6; Matius 3:13; Markus 1:4-5; Markus 1:9; Lukas 3:21; Yohanes 3:22-26; Yohanes 4:1-3). Apakah mungkin Yohanes Pembaptis membaptis Yesus dengan formula baptisan trinitas, yakni atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus? Apakah mungkin Yohanes Pembaptis membaptis orang-orang Yahudi dari Yerusalem, dari Yudea dan dari sekitar Yordan dengan formula baptisan trinitas, yakni atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus? Bukankah murid-murid Yohanes Pembaptis tidak tahu formula baptisan trinitas tersebut? Bukankah murid-murid Yesus juga tidak mengenal formula baptisan trinitas? Bukankah formula baptisan yang dikenal oleh murid-murid Yesus itu sama dengan formula baptisan Yohanes? Bukankah orang-orang Yahudi tidak mengenal baptisan trinitas itu? Bukankah murid-murid Yohanes Pembaptis juga tidak mengenal formula baptisan trinitas tersebut? Alkitab menyatakan bahwa murid-murid Yohanes tidak mengenal baptisan trinitas. Ini membuktikan bahwa formula baptisan trinitas tidak dikenal oleh murid-murid Yohanes maupun murid-murid Yesus.

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertaubat, dan ia berkata kepada banyak orang bahwa mereka harus percaya kepada dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Yesus.” (Kisah Para Rasul 19:1-5).

Kedua, Paul Tillich sebagai pakar kitab suci dan sejarah pemikiran Kristen tidak mengakui adanya formula baptisan trinitas, yakni atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Menurutnya, formula baptisan trinitas baru muncul masa belakangan, dan bukan pada naskah asli. Dia menyatakan bahwa ….. baptized in the name of the Christ. Later, on the name of God the Father and the Spirit were added (….. dibaptis dalam nama Kristus. Baptisan dalam nama Allah Bapa dan Roh Kudus baru ditambahkan pada masa belakangan). Pernyataan Paul Tillich ini semakin menegaskan bahwa formula baptisan trinitas dalam Injil Matius 28:19 merupakan rekayasa bahkan manipulasi dari karya asli St. Matius yang diubah oleh orang-orang Kristen pada masa belakangan. Dengan kata lain, formula baptisan yang asli menurut versi St. Matius pasti hanya menyebutkan atas nama Putra, yakni Yesus; dan bukan atas nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. Formula trinitas yang termaktub dalam Injil Matius pasti bukanlah versi Matius yang asli. Hal ini bisa dilacak melalui dua cara: (i) Matius 28:19 versi teks asli bahasa Yunani disebutkan kata onoma (satu nama), bukan kata onomata (nama-nama) karena teks asli itu memang sebenarnya hanya merujuk pada Putra (Yesus). Konstruksi penggunaan kata onoma (satu nama) dengan diikuti penjelasan ketiga subyek sasaran (Bapa, Putra dan Roh Kudus) merupakan hal yang tidak lazim, bahkan penyimpangan dari tradisi gramatika bahasa Yunani. Ini sangat aneh dan tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa Yunani yang benar. Bila yang dimaksud dalam ayat tersebut merujuk kepada ketiga subyek sasaran, maka St. Matius pasti menggunakan kata onomata, bukan kata onoma, (ii) Matius 28:19 menyebutkan: poreuthentes oun matheteusate panta ta ethne, baptizontes autous eis to onoma tou Patros kai tou Huiou kai tou Hagiou Pneumatos (karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus). Berdasarkan analisis kebahasaan Yunani, kata onoma (noun, accusative, neuter, singular), kata patros (noun, genitive, masculine, singular), kata huiou (noun, genitive, masculine, singular), dan pneumatos (noun, genitive, feminine, singular). Istilah pneumatos itu pasti feminine, tidak mungkin neuter, apalagi masculine. Jadi, tidak mungkin kata onoma (neuter) dipasangkan dengan pneumatos (feminine). Namun, kedua kata patros dan huiou dapat dipasangkan dengan kata onoma karena genre masculine dapat dirujukkan dengan neuter. Maka, seharusnya dalam konstruksi kebahasaan, kata pneumatos itu harus masculine, sebab patros dan huiou itu juga masculine. Tapi faktanya, kata pneumatos itu tidak ada yang ber-genre masculine, sebab kata pneumatos dalam gramatika bahasa Yunani itu selalu feminine. Ini semakin menegaskan bahwa kata pneumatos itu baru ditambahkan/ disisipkan dalam teks Injil Matius oleh orang-orang Kristen bermazhab Trinitarian pada masa belakangan, alias bukan asli tulisan St. Matius. Apalagi dengan tambahan kata patros justru semakin meneguhkan bahwa kata patros ini juga merupakan sisipan yang dimanipulasi oleh orang-orang Kristen masa belakangan, sebab kalau kata patros ini asli tulisan St. Matius maka tidak mungkin St. Matius dalam Injil-nya menggunakan kata onoma dan bukan onomata. Jadi, sebagaimana pernyataan Paul Tillich, beberapa teolog sepakat bahwa frase “….. baptislah mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus pada Matius 28:19 tersebut adalah ayat tambahan atau sisipan sebagai ekspresi pemalsuan ayat dalam teks Injil Matius yang dimasukkan pada naskah Alkitab tahun 300 – 400 M. Naskah yang lebih tua dan terpercaya tertulis: ‘baptislah mereka dalam namaku.’ Maksudnya, membaptis dalam nama Yesus (bukan dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus) jelas lebih Alkitabiah sebagaimana dilakukan oleh murid-murid Yesus, taat pada Yesus, mereka tidak membaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, melainkan dalam nama Yesus saja sebagai proklamasi pengakuan iman mereka sebagai pengikut ajaran Yesus (Kisah 2:38; 10:48; 19:5). Matius 28:19, Alkitab RSTNE (Restoration Scriptures True Name Edition) menuliskan: “Go therefore, and make disciples of all nations, doing baptism upon them in my name.”[14] Aspek pembuktian studi grammatika Yunani terhadap teks Matius 28:19 tersebut bagaimana pun juga semakin memperkuat ketidakakuratan nas Trinitas yang dinisbatkan sebagai teks asli Injil Matius, apalagi bila ditinjau dari aspek kritik historis/ kritik sejarah. Bila Paul Tillich meragukan keakuratan nas Matius 28:19 berdasarkan studi kritik sejarah asal-usul dan perkembangan pemikiran teologi Bapa-bapa Gereja generasi awal dan keterkaitannya dengan teks-teks lain menurut catatan St. Lukas dalam bukunya ‘Kisah Para Rasul’ (the Acts of the Apostles), maka Prof. Dr. Hugh J. Schonfield dalam bukunya the Original New Testament menyatakan: ‘this (Matthew 28:15) would appear to be the end of the Gospel. What follows (Matthew 28:16-20) from the nature of what is said, would then be a later addition’ [ayat ini (Matius 28:15) nampak sebagai akhir dari Injil Matius. Ayat-ayat selanjutnya (Matius 28:16-20) dari kandungan pernyataannya, baru ditambahkan kemudian].[15] Selanjutnya, Robert W. Funk, Roy W. Hooever dan 74 pakar biblikal lainnya dalam karya mereka yang berjudul the Five Gospels (1993) menjelaskan bahwa ‘Amanat Agung’ (Matius 28:18-20) adalah ciptaan Bapa-bapa Gereja dari mazhab Trinitarian yang dinisbatkan sebagai bagian dari tulisan St. Matius. Mereka menyatakan: “the great commission in Matthew 28:18-20 have been created by the individual evangelist reflect the evangelist idea of launching a world mission of the Church. Jesus probably had no idea of launching a world mission and certainly was not the institution builder. It is not reflect direct instruction from Jesus” (perintah utama dalam Injil Matius 28:18-20 diciptakan oleh para penginjil yang menyiratkan ide penginjilan (evangelisasi) untuk menyebarkan ajaran Kristen ke seluruh dunia. Yesus sangat mungkin tidak memiliki ide untuk mengajarkan ajarannya ke seluruh dunia dan ia sudah pasti bukan pendiri agama Kristen. Ayat ini tidak dijadikan justifikasi sebagai perintah langsung yang dapat dinisbatkan sebagai ucapan Yesus).[16] Dengan demikian, ayat-ayat Trinitas yang termaktub sebagai bagian nas dalam Injil Matius 28:16-20 dan I Yohanes 5:7-8, ternyata tak terbukti validitasnya sebagai sumber kebenaran doktrin Trinitas dalam ajaran Kristiani.

[1] The Holy Bible: Old and New Testament in the King James Version (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1970), pp. 218-219

[2] Catholic Biblical Association, Holy Bible: The New American Bible, The New Catholic Translation (Nashville: Catholic Bible Press, 1991), p. 1417

[3] The Bible Societies, The Holy Bible: Revised Standard Version (New York: William Collins Sons and Co. Ltd., 1946), p. 224

[4] The Committee on Bible Translation, Holy Bible: New International Version (Colorado Springs: International Bible Society, 1984), p. 1210

[5] Ibid.

[6] The Japan Bible Society, New Testament: American Standard Version, Colloquial Japanese Version (Tokyo: the Gideons International, 1976), p. 730

[7] The Bible Societies, The Holy Bible: Revised Standard Version (New York: William Collins Sons and Co. Ltd., 1946), pp. iii, v.

[8] Bart D. Ehrman, Misquoting Jesus: Kesalahan Penyalinan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Kisaah di Balik Siapa yang Mengubah Alkitab dan Apa Alasannya, terj. Tome Beka (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), pp. 81-84; cf. Bart D. Ehrman, Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why (Fransisco: Harper Collins Publishers, 2005).

[9] Ibid, p. 83

[10] Philip Wesley Comfort, “History of the English Bible” in Philip W. Comfort (ed.), The Origin of the Bible (Illinois: Tyndale House Publishers, Inc., 2003), pp. 289 – 290

[11] Jerry Falwell, Liberty Bible Commentary (Nasville, New York: Thomas Nelson Publishers, 1983), p. 2638

[12] Mgr. Donatus Jagom SVD, Kitab Suci Perjanjian Baru dengan Pengantar dan Catatan (Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia, 1976/1977), p. 563

[13] Paul Tillich, A History of Christian Thought (New York: Simon & Schuster Inc., 1968).

[14] Frans Donald, Menjawab Doktrin Tritunggal: Ke-allah-an Yesus, 5th edition (Semarang: Borobudur Indonesia Publishing, 2008), p. 28

[15] Hugh J. Schonfield, The Original New Testament (Ringwood: Element Books, 1998), p. 124

[16] Robert W. Funk , Roy W. Hoover dan the Jesus Seminar, The Five Gospels: the Search for the Authentic Words of Jesus (New York: Macmillan Publishing Company, 1993), p. 127
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4517
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik