FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

orang Budha masuk islam

View previous topic View next topic Go down

orang Budha masuk islam

Post by darussalam on Sun Jan 01, 2012 2:49 am

Siapa sangka kalau pada akhirnya jalan Islam juga yang menjadi pilihan hidup
saya, sekian lama batin saya terasa kering dan rindu akan sentuhan rohani,
seperti yang saya dapat dari agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW. ini. Saya
merindukan Islam, agama yang insya Allah akan memberikan kebahagiaan dunia
akhirat kepada saya dan keluarga. Sava lahir di Cirebon, 18 Mei 1950 dengan nama
Oey Kiam Tjeng. Meski terlahir sebagai WNI keturunan Cina, saya bersyukur karena
masih diterima di lingkungan tempat tinggal saya, yang tentu saja didominasi
kaum pribumi.

Mereka, orang-orang Cirebon, sebagian besar, bahkan hampir
seluruhnya, adalah pemeluk agama Islam yang taat. Saya yang ketika itu masih
kanak-kanak, sedikit-banyaknya jadi tahu apa itu Islam, lewat apa yang
dikerjakan oleh teman-teman sepermainan, juga orang-orang Islam dewasa yang
berada di sekeliling saya. Masa kanak-kanak adalah bagian terindah dalam hidup
saya, karena pada masa itu saya tidak pemah merasakan ada perbedaan di antara
manusia.

Saya tidak peduli kalau kulit saya kuning bersih dan bemata
sipit, sementara teman-teman saya yang lain berkulit sawo matang atau
kehitam-hitaman, dengan mata dan bibir yang besar dan juga termasuk soal agama
yang kami anut.

Saya yang saat itu beragama Budha, sesuai agama keluarga
kami, seringkali pula duduk di pengajian, karena teman-teman saya hampir
semuanya ada di sana saat selesai shalat magrib, sampai menjelang isya. Saya
merasa, apa yang saya lakukan saat itu adalah hal yang wajar-wajar saja, sesuai
dengan yang biasa dilakukan oleh teman-teman saya yang lain. Apa yang saya
anggap biasa-biasa itu, temyata tidak demikian di mata orang tua saya. Mama
sempat menegur saya ketika saya dengan polos menirukan gerakan orang shalat,
seperti yang pemah saya lihat saat bermain di rumah teman yang beragama Islam.
Mama bilang saya tidak boleh sembarangan melakukan gerakan itu.

"Itu
gerakan ibadah yang dianggap suci dalam agama Islam. Jangan sembarangan" Teguran
mama saya patuhi. Saya tidak lagi sembarangan meniru gerakan orang shalat,
karena saya mulai tahu kalau itu adalah semacam pelaksanaan ibadah yang suci
dalam agama Islam, yang harus dihormati.

Dianggap Orang Luar



Pada akhirnya, apa yang selama ini saya khatiwatirkan terjadi juga, yang
membuyarkan impian masa kecil saya tentang indahnya arti hidup tanpa ada
perbedaan lahir maupun batin. Saat sekolah di SMU, saya mulai dianggap sebagai
"orang luar", karena saya memang sedikit berbeda dengan mereka, orang-orang
Indonesia ashi. Namun, saya tetap berkeyakinan kalau semua itu cuma berlaku
sebagai ejekan teman-teman belaka. Tekad yang ada dalam hati saya saat itu cuma
satu, meski cuma WNI keturunan Cina, tapi saya juga punya semangat dan rasa
cinta tanah air Indonesia, seperti pribumi lainnya.

Pada masa-masa itu
pula, status keagamaan nyaris tak pernah mendapat perhatian saya. Saya memang
beragama Budha, cuma sebagai syarat agar tidak dicap sebagai orang yang tak
beragama. Hal itu berlangsung terus, sampai saya lulus SMU, kuliah di Akademi
Pelayaran, dan bekerja beberapa tahun lamanya.

Tahun 1979, saya bertemu
seorang gadis cantik yang juga ketutunan Cina, beragama Kristen. Namanya Thio
Loan Kiok. la tipe gadis idaman saya. la cantik, pintar, dan berasal dari
keluarga baik-baik. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1981, kami resmi
menikah sesuai agama calon istri saya, Kristen Katolik. Meski demikian, saya
menolak untuk dibaptis dan diberi nama baru. Saya bilang, "Saya mau menikah
dengan calon istri Katolik, tapi tidak untuk dibaptis." Waktu itu kami menikah
di Cirebon, dan selanjutnya menetap di sana.

Setelah menikah dan punya
anak, seharusnya saya merasa puas. Apalagi usaha yang saya jalani di Cirebon
cukup berhasil dan membuat kehidupan kami cukup, bahkan berlebih. Tapi, tidak
demikian kenyataannya. Kadangkala saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam diri
saya, yakni status keagamaan saya. Entah mengapa, perasaan itu datang dalam hati
dan mengganjal pikiran saya. Tapi saya berusaha untuk tidak terlalu larut dalam
keadaan itu dengan jalan menyibukkan diri pada pekerjaan.

Menerima Islam



Tahun 1985, saat saya memutuskan untuk pindah ke Plered, Jawa Barat. Bisa
dikatakan ini sebagai awal pertemuan saya kembali ke Islam dan itu terjadi lewat
kejadian tidak disengaja dan unik. Ceritanya bermula saat istri saya yang
mengurusi KTP mendapatkan status keagamaannya (tak disengaja) tertulis Islam,
padahal ia beragama Kristen Katolik. Tapi istri saya anehnya tidak merasa
keberatan dengan kesalahan itu. la yang memang sudah tidak terlalu aktif dengan
kegiatan di gereja, yang terletak di kota Cirebon, bahkan terlihat senang-senang
saja dengan ketidak sengajaan petugas kecamatan itu.

Saya pun jadi iri,
hingga saya katakan pada pengurus kecamatan untuk mencantumkan agama Islam dalam
KTP saya. Permintaan saya itu disambut antusias oleh pegawai kecamatan itu,
hingga akhirnya jadilah kami berstatus agama Islam, meski hanva dalam
KTP.

Selanjunya, istri saya jadi semakin tertarik pada agama Islam.
Begitu pun saya. Dari peristiwa KTP itu, saya merasa seolah-olah itu adalah
jalan kami berdua untuk menjadi seorang muslim. Jalan menuju Islam antara saya
dan istri saya memang sedikit beda. Kalau istri saya barangkali lebih
menggunakan perasaan, terutama seperti yang is ceritakan betapa is merasa ingin
sekah mengenakan mukena yang biasa dipakai wanita muslimah saat shalat, maka
saya 'lebih menggunakan rasio atau akal'.

Saya coba mencari tahu apa itu
Islam lewat buku-buku secara diam-diam. Alhamdulillah, setelah beberapa tahun
lamanya mencari-cari, pada 10 November 1991, saya dan isteri resmi menjadi
pasangan muslim, lewat bimbingan Drs. H. Salim Badjri. Proses pengislaman yang
berlangsung di Cirebon itu adalah awal kebahagian yang sava dapati saat ini.
Setelah masuk Islam nama saya berganti menjadi H.M. Andaka Widjaya.

Meski
pada tahun-tahun pertama keluarga dari pihak istri saya, yang kini bernama Hj.
Siti Aisyah Kristanti, kurang bisa menerima hal itu, tapi kami berdua menganggap
itu sebagai bagian dari perjalanan keislaman kami.

Kini, saya dan istri
serta anak-anak, hidup bahagia di Plered, membuka usaha yang bisa dibilang
berhasil. Saya bahkan segera bergabung dengan Yayasan Karim Oey, sebuah lembaga
yang anggotanya adalah orang-orang peranakan Cina yang masuk Islam. Kantor
pusatnya di Jakarta.

Dan, saya dipercaya untuk menjabat sebagai kepala
perwakilan Cirebon. Dan, yang paling membuat sava bahagia adalah bahwa saya dan
istri sudah menunaikan ibadah haji yang kami laksanakan pada tahun 1995. Sungguh
nikmat Allah SWT tiada terkira kepada kami sekeluarga. Dalam hati saya berkata,
inilah jalan hidup terbaik untuk sava. Insya Allah saya tidak akan pernah lagi
lepas dari jalan Islam ini.

Oleh Dian dan Yusuf/Albaz dari Buku "Saya
memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website :
http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL)
http://www.mualaf.com/

darussalam
Co-Administrator
Co-Administrator

Total Like dan Thanks: 10
Male
Posts: 372
Location: Brunei Darussalam
Job/hobbies: dakwah
Join date: 2011-11-25

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum