FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Pendeta Afrika masuk islam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Pendeta Afrika masuk islam

Post by darussalam on Sun Jan 01, 2012 3:06 am

Swaramuslim.net For Izzatul Islam Wal Muslimin wal Mu'minat









"Ya Tuhanku... Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku... sungguh telah tertutup
semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu... Janganlah Engkau halangi aku
mengetahui kebenaran... manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku...
jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan... tunjukkan kepadaku jalan yang hak
dan bimbing aku ke jalan yang benar...


Mungkin kisah ini terasa
sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung
melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam
cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang
diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan
tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui
kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk
bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara
Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor
Rabithah al-'Alam al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, di sebuah negara
yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi
hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji
akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang
tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai
hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang
misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya
Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor
Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa
seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara
penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang
bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota
sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang
petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di
kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh
pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan
berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, "Saudara Sily bolehkah kami
mendengar kisah keislamanmu?" ia tersenyum dan berkata, "Ya, tentu saja boleh."


Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan
kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Sily berkata,
"Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja
dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang
aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar
maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka
subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan
program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku
melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang
terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam
bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku
yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana
tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah,
mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.


Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli
beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!

Di pasar itu
aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah.
Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan
ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini
aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di
Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan
sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi
kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya,
sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan
orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu
bertanya kepadaku, "Bukankah anda seorang pendeta?" Aku jawab, "Benar." Lantas
ia bertanya kepadaku, "Siapa Tuhanmu?" Aku katakan, "Al-Masih." Ia kembali
berkata, "Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang
menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, 'Aku adalah Allah atau aku anak Allah.
Maka sembahlah aku'." Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar
kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha
membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan
kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan
lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang
men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah.
Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah
bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini
tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan
wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus
berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku
tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan
meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada
pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku
dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, "Kamu telah ditipu orang
Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang
Arab." Aku katakan, "Kalau begitu, coba beri jawabannya!" Mereka membantah
pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.


Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja.
Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak
sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di
hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam
gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan
bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk
dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku
ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa
kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, "Ya
Tuhanku... Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku... sungguh telah tertutup semua
pintu di hadapanku kecuali pintuMu... Janganlah Engkau halangi aku mengetahui
kebenaran... manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku... jangan
Engkau biarkan aku dalam kebimbangan... tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan
bimbing aku ke jalan yang benar...
" lantas akupun tertidur.

Di dalam
tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas.
Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan
tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena
kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin
bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat
kepadaku dan memanggil, "Wahai Ibrahim!" Aku menoleh ingin mengetahui siapa
Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata,
"Kamu Ibrahim... kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon
petunjuk kepada Allah?" Aku jawab, "Benar." Ia berkata, "Lihat ke sebelah
kananmu!" Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang
yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan
bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!" Lanjut
lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah
kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika
muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku
itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari
sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku.
Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti
kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di
beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan
sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku
menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga
akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Di sana aku mendatangi kantor
penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada
pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku
seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, "Bukan ini yang
aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong
tunjukkan masjid yang terdekat." Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut
ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di
depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang
aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang
tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata,
"Selamat datang ya Ibrahim!" Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku
sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, "Aku melihatmu
di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari
kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu
Islam." Aku katakan, "Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan
oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang
berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang
aku lihat dalam mimpiku itu?" Ia menjawab, "Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi
agama Islam yang benar, Rasulullah SAW." Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang
terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan
kepadanya, "Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku
agama yang benar?" Ia berkata, "Benar."

Ia lalu menyambut kedatanganku
dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran.
Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling
belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang
lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang
dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam
hati, "Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai
kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada
Allah." Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang
aku lihat. Aku berucap dalam hati, "Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah
menunjukkan kepadaku agama yang benar." Seorang muslim memanggilku agar aku
mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku
menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.


Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi
bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka
mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat
gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa,
kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang
muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi
seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah,
sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan
kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang
mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka
mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat.
Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga
dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, "Sungguh kamu telah tersesat dan
tertipu dengan agama orang Arab." Aku katakan, "Tidak ada seorang pun yang telah
menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku
dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam.
Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian
kepada jalan yang benar dan memeluk Islam." Mereka semua terdiam.


Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan
harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, "Sesungguhnya Vatikan me-mintamu
untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar
pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat
tertinggi di gereja."

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan
kepada mereka, "Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku
hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal
leherku." Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama
Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.


Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua
derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku
ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua
harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily
mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan
sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor
Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan
Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang
pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku
laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia
pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk
melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu
Syar'i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika
Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang
telah disiapkan untuk kami di Ma'had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku
langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, "Apa yang kamu
lakukan disini wahai Ibrahim.?" Ia menjawab, "Aku sedang mengunjungi
tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin
mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan
yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam."


Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya
sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami
menuju suatu daerah... medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan
Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia
tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku
merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan
ini seakan-akan berbicara kepadaku, "Kalian manusia yang mempermainkan dakwah,
ti-dakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!"

Benar wahai
sudaraku. Kami telah tertinggal... kami berjalan lamban... kami telah tertipu
dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily,
Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa'id berkorban, berjihad dan bertempur demi
menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami. (alsofwah)

(SUMBER:
SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya
dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah
al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ,
TELP.021-4701616
)



avatar
darussalam
Co-Administrator
Co-Administrator

Male
Posts : 411
Kepercayaan : Islam
Location : Brunei Darussalam
Join date : 25.11.11
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik