FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Bule Australia masuk islam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Bule Australia masuk islam

Post by darussalam on Sun Jan 01, 2012 3:10 am

Dalam Islam hanya Tuhan
yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor

Saya tidak
diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. Keluarga juga
tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. Hanya saja saya
dianggap “gila”. Tidak apa apa. Nabi Muhammad (s.a.w.) juga dianggap
“gila” oleh kaum Quraisy jadi saya tidak boleh sakit hati karena sebenarnya enak
kalau bisa masuk kategori yang sama dengan Nabi (s.a.w.)

berikut
penuturan beliau :
Nama saya Genne Netto, sejak tahun 1995 saya telah
menetap di Jakarta, Indonesia, dan pada saat saya bertemu dengan orang baru,
mereka selalu penasaran tentang latar belakang saya. Mereka ingin tahu tentang
bagaimana saya bisa belajar bahasa Indonesia dengan baik, pindah ke Indonesia
dan akhirnya masuk Islam. Lewat bab ini, saya ingin menjelaskan latar belakang
diri saya dan bagaimana caranya saya menjadi tertarik pada Islam. :foto

Masa kecil dan mencari tuhan



Saya lahir di kota Nelson, sebuah kota kecil di Pulau Selatan di Selandia
Baru (New Zealand) pada tanggal 28 April, tahun 1970. Bapak dan ibu saya bertemu
di Nelson, menikah dan mendapat tiga anak; saya nomor dua. Bapak berasal dari
Birma (yang sekarang dinamakan Myanmar) dan setelah Perang Dunia II, kakek saya
pindah ke Selandia Baru.

Ibu lahir di Selandia Baru dan leluhurnya
adalah orang Inggris dan Irlandia. Ibu dibesarkan di sebuah perternakan domba
dan sapi di pulau selatan Selandia Baru.

Pada usia kecil saya sudah
merasa kurang betah di Selandia Baru. Keluarga saya beragama Katolik dan Ibu
saya berkulit putih tetapi saya masih merasa berbeda dengan orang lain. Kakak
dan adik saya mendapatkan mata biru dan rambut coklat yang membuat mereka lebih
mirip dengan orang berkulit putih yang lain. Tetapi mata saya berwarna
coklat-hijau dan rambut saya hitam, dan hal itu memberi kesan bahwa saya bukan
orang berkulit putih asli. Jadi, saya orang mana? Orang barat? Atau orang Asia?
Saya sudah mulai merasa tidak betah dan oleh karena itu saya berfikir banyak
tentang dunia dan siapa diri saya.

Saya membesar terus dan berfikir terus
tentang berbagai macam hal, terutama tentang agama, dunia dan alam semesta.
Seringkali saya melihat bintang dan dalam kesunyian larut malanm saya berfikir
tentang luasnya alam semesta dan bagaimana diciptakan. Dari umur 9 tahun saya
mulai membaca buku tentang agama dan topik serius yang lain. Saya ingin tahu
segala-galanya: agama, dunia, budaya, sejarah, alam semesta… semuanya! Seingat
saya, hanya saya yang tertarik pada dinosaurus pada usia itu. Teman-teman saya
yang lain tidak mau tahu tentang dinosaurus karena saat itu film Jurassic Park
belum muncul. Hanya saya yang sering membaca tentang topik serius seperti
pembuatan piramida, agama Buddha dan Hindu, sejarah dunia, luasnya alam semesta
dan sebagainya.

Seperti anak kecil yang lain, saya juga diajarkan agama
oleh orang tua saya, karena mereka sebelumnya juga diajarkan oleh orang tua
mereka. Di dalam ajaran agama Katolik ada banyak hal yang membingungkan saya.
Setiap saya bertanya tentang Tuhan dan agama Kristen, saya seringkali mendapat
penjelasan yang tidak memuaskan. Saya menjadi bingung dengan konsep Trinitas, di
mana ada Tuhan, Yesus, dan Roh Kudus, dan semuanya Tuhan tetapi Tuhan hanya
satu. Tuhan menjadi manusia, dan manusia itu mati, tetapi Tuhan tidak bisa mati,
tetapi manusia itu adalah Tuhan. Saya menjadi bingung dengan pastor yang
mengampuni dosa orang dengan mudah sekali tanpa bicara kepada Tuhan terlebih
dahulu.

Bagaimana kalau pastor salah dan dosa saya belum diampuni?
Apakah saya bisa mendapatkan bukti tertulis dari Tuhan yang menyatakan bahwa
saya sudah bebas dari dosa? Bagaimana kalau saya bertemu dengan Tuhan di hari
akhirat dan Dia menyatakan bahwa dosa saya belum diampuni? Kalau saya berprotes
dan menunjuk pastor yang meyakinkan saya bahwa tidak ada dosa lagi, Tuhan cukup
bertanya “Siapa menyuruh kamu percaya pada omongan dia?” Siapa yang bisa
menyelamatkan aku kalau pastor keliru dan dosa aku tetap ada dan dihitung oleh
Tuhan?

Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mendapatkan
penjelasan tentang semua hal yang membingungkan saya. Akhirnya jalan keluar
menjadi jelas: saya harus bicara empat mata dengan Tuhan! Hanya Tuhan yang bisa
menjawab semua pertanyaan saya.

Pada suatu hari, saya menunggu sampai
larut malam. Saya duduk di tempat tidur dan berdoa kepada Tuhan. Saya menyuruh
Tuhan datang dan menampakkan diri kepada saya supaya saya bisa melihat-Nya
dengan mata sendiri. Saya menyatakan bahwa saya siap percaya dan beriman kepada
Tuhan kalau saya bisa melihatnya sekali saja dan mendapatkan jawaban yang benar
dari semua pertanyaan saya. Kata orang, Tuhan bisa melakukan apa saja! Kalau
benar, berarti Tuhan juga bisa muncul di kamar saya pada saat disuruh muncul.
Saya berdoa dengan sungguh-sungguh dan menatap jendela di kamar, menunggu cahaya
Tuhan masuk dari luar.

Saya menunggu lama sekali. Sepuluh minit. Lima
belas minit. Mana Tuhan? Kata orang, Tuhan Maha Mendengar, berarti sudah pasti
mendengarkan saya. Saya menunggu lagi. Melihat jendela terus. Menunggu lagi.
Kenapa Tuhan belum datang? Barangkali Dia sibuk? Kena macet? Saya melihat
jendela lagi. Setelah menunggu sekian lama dan benar-benar memberi kesempatan
kepada Tuhan untuk muncul. Tetapi Tuhan ternyata sibuk pada malam itu dan Dia
tidak hadir.

Hal itu membuat saya bingung. Bukannya saya sudah berjanji
bahwa saya akan percaya kepada-Nya kalau Dia membuktikan bahwa Diri-Nya
benar-benar ada? Kenapa Dia tidak mau menampakkan Diri kepada saya? Bagaimana
saya bisa percaya kalau saya tidak bisa melihat-Nya? Saya menangis dan tidur.
Besoknya saya berdoa lagi dengan doa yang sama. Hasilnya pun sama: Tuhan tidak
datang dan saya menangis lagi.

Ini merupakan contoh logika seorang anak
kecil. Dalam pengertian seorang anak, apa yang tidak terlihat, tidak ada.
Apalagi sesuatu yang begitu sulit didefinisikan seperti konsep “tuhan”. Pada
saat itu, terjerumus dalam kebingungan, saya memutuskan untuk tidak percaya
kepada Tuhan dan menyatakan diri “ateis” (tidak percaya kepada tuhan mana saja).
Saya memberitahu kepada Tuhan bahwa saya sudah tidak percaya kepada-Nya. Dan
saya memberitahu Tuhan bahwa Dia memang tidak ada dan semua orang yang percaya
kepadanya adalah orang bodoh saja yang hanya membuang waktunya. (Dalam kata
lain, saya ngambek terhadap Tuhan.) Di dalam hati, saya berbicara kepada Tuhan
dengan suara yang keras supaya Dia bisa mendengar dengan jelas pernyataan saya
bahwa Tuhan tidak ada!

Pada hari-hari yang berikut, saya memberi waktu
kepada Tuhan untuk datang dan minta maaf karena tidak sempat datang dan
menampakkan diri pada hari sebelumnya. Saya sudah membuat pernyataan yang jelas.
Tuhan semestinya mendengar pernyataan saya itu dan memberi tanggapan. Tetapi
tidak ada tanggapan dari Tuhan. Akhirnya saya mencapai kesimpulan bahwa Tuhan
itu memang tidak ada. Sudah terbukti. Kalau ada Tuhan, Dia pasti akan mendengar
doa saya dan menampakkan diri. Kenyataan bahwa Tuhan tidak menampakkan diri
membuktikan bahwa Tuhan tidak ada!

Saya bersekolah terus dan sembunyikan
kenyataan bahwa saya tidak percaya kepada Tuhan. Kalau ada yang menanyakan agama
saya maka saya menjawab “Katolik” saja. Selama SD, SMP, dan SMA saya belajar
terus tentang dunia tetapi sudah malas mempelajari agama secara serius, kecuali
untuk mencari kekurangannya, karena saya menanggap agama itu sesuatu yang
membuang waktu saja tanpa membawa hasil. Kebetulan, setelah lulus SMA, orang tua
saya memutuskan untuk berpindah ke Australia. Kebetulan, saya memutuskan untuk
ikut juga daripada tetap di Selandia Baru.

Di Australia, saya berusaha
untuk masuk kuliah Psikologi di Universitas Queensland pada tahun 1990. Saya mau
menjadi seorang psikolog anak. Kebetulan, lamaran saya itu tidak diterima karena
nilai masuk saya kurang tinggi. Sebagai pilihan kedua, saya ditawarkan kuliah
Pelajaran Asia di Universitas Griffith. Di Australia, seorang siswa yang tidak
diterima di fakultas pilihan pertamanya, akan ditawarkan fakultas atau
universitas yang lain. Setelah satu tahun, dia bisa pindah kembali ke pilihan
pertamanya asal nilainya bagus. Kebetulan, saya menerima tawaran untuk masuk
Fakultas Pelajaran Asia dengan niat akan pindah ke Fakultas Psikologi setelah
satu tahun.

Kebetulan, di dalam Fakultas Pelajaran Asia pada tahun
pertama semua siswa wajib mengambil mata kuliah Bahasa Asia. Ada pilihan Bahasa
Jepang, Cina, Korea, dan Indonesia. Kebetulan, saya memilih Bahasa Indonesia
karena sepertinya paling mudah dari yang lain. Saya hanya perlu mengikuti mata
kuliah itu selama satu tahun saja jadi sebaiknya saya mengambil yang termudah.
Kebetulan, dalam waktu enam bulan, nilai saya sangat baik, termasuk yang paling
tinggi.

Tiba-tiba kami diberitahu ada 3 beasiswa bagi siswa untuk kuliah
di Indonesia selama 6 bulan. Saya tidak mengikuti seleksi karena berniat pindah
fakultas pada akhir tahun. Tiga teman dipilih. Kebetulan, salah satunya
tiba-tiba menyatakan ada halangan dan dia tidak bisa pergi ke Indonesia. Proses
seleksi dibuka lagi. Ada seorang dosen yang memanggil saya dan bertanya kenapa
tidak mengikuti seleksi dari pertama kali. Saya jelaskan niat saya untuk pindah
fakultas pada akhir tahun pertama.

Dia menyatakan “Gene, kemampuan kamu
dalam bahasa Indonesia sudah kelihatan. Kenapa kamu tidak teruskan saja
Pelajaran Asia. Dalam waktu 2 tahun kamu sudah selesai. Belum tentu kamu senang
di bidang psikologi, tetapi sudah jelas bahwa kamu ada bakat bahasa. Coba
dipikirkan kembali.”

Akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan pelajaran
saya di Fakultas Pelajaran Asia itu dan mengikuti proses seleksi untuk beasiswa
tersebut. Kebetulan, setelah proses selesai, saya dinyatakan menang dan akan
diberangkatkan ke Indonesia pada tahun depan (1991). Sekarang saya menjadi lebih
serius dalam pelajaran saya karena sekarang ada tujuan yang lebih jelas.

Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau
Pastor



.
Pada suatu hari diadakan acara barbeque (makanan panggang) untuk Klub
Indonesia. Semua orang Indonesia di kampus diundang untuk bergaul dengan orang
Australia yang belajar tentang Indonesia. Pada saat saya sedang makan, ada orang
Indonesia yang datang dan kebetulan dia duduk di samping saya. Dia bertanya
“Kamu Gene, ya?” Ternyata dia pernah dengar tentang saya dari seorang teman.
Apakah kamu pelajari agama Islam, Gene?” Saya jelaskan bahwa memang ada
mata kuliah tentang semua agama di Asia termasuk agama Islam. “Apakah kamu
juga tahu bahwa dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa? Tidak ada
pendeta atau pastor yang boleh mengampuni dosa orang!


Saya begitu
kaget, saya berhenti makan dengan hotdog di tengah mulut. Saya suruh dia
menjelaskan lebih mendalam lagi. Ini bukan sebuah kebetulan! Inilah sebuah
jawaban yang telah saya cari selama 10 tahun. Di dalam Islam hanya Tuhan yang
berhak mengampuni dosa. Apakah mungkin di dalam agama Islam ada logika dan
ajaran yang bisa saya terima? Apakah mungkin ada agama yang benar di dunia ini?
Dari semua kebetulan yang membawa saya ke titik itu, tiba-tiba semuanya terasa
sebagai sesuatu yang terencana, dan sama sekali tidak terjadi secara tidak
sengaja. Yang saya lihat adalah serangkaian kebetulan yang membawa saya ke
kampus itu dan bahasa Indonesia. Tetapi dari pandangan orang yang percaya kepada
Allah, tidak ada kebetulan sama sekali di dunia ini!

Masuk Islam



Dari saat itu saya mulai mempelajari dan menganalisa agama Islam secara
mendalam. Saya mulai membaca buku dan mencari teman dari Indonesia yang beragama
Islam. Secara pelan-pelan saya mempelajari Islam untuk mencaritahu apakah agama
ini benar-benar masuk akal atau tidak.

Pada tahun 1991, saya dan dua
teman kuliah menjalankan beasiswa untuk kuliah di Indonesia. Saya belajar di
Universitas Atma Jaya di Jakarta dan kedua teman yang lain itu dikirim ke
Salatiga dan Sulawesi. Pada saat saya di Atma Jaya (sebuah universitas Katolik),
sebagian besar teman saya adalah orang Islam. Kenapa bisa begitu? Memang ada
orang Islam yang kuliah di Atma Jaya, dan saya merasa sudah paham semua
kekurangan yang ada di dalam agama Kristen, jadi saya tidak tertarik untuk
bergaul dengan orang yang beragama Kristen. Saya lebih tertarik untuk
menyaksikan agama Islam dan pengikutnya dan oleh karena itu saya menjadi lebih
dekat dengan beberapa orang yang beragama Islam. Kalau ada teman yang melakukan
sholat, saya duduk dan menonton orang itu dan memikirkan tentang apa yang dia
lakukan dan kenapa.

Pada saat kembali ke Australia setelah 6 bulan di
Jakarta, saya menjadi salah satu siswa yang bahasa Indonesianya paling lancar di
kampus. Oleh karena itu, saya sering bergaul dengan orang Indonesia. Secara
langsung dan tidak langsung saya pelajari agama Islam terus. Saya membaca buku
dan berbicara dengan orang Indonesia di mana-mana. Setelah selesai kuliah
Bachelor of Arts, saya mengambil kuliah tambahan selama satu tahun di fakultas
pendidikan untuk menjadi guru bahasa. Pada saat yang sama saya mengikuti seleksi
untuk beasiswa kedua, kali ini dari Perkumpulan Wakil Rektor Australia
(Australian Vice Chancellors Committee). Beasiswa ini hanya untuk satu orang per
bagian negara dan, kali ini, saya bebas memilih lokasi kuliah di Indonesia.


Sekali lagi, saya terpilih, dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah satu
tahun di Universitas Indonesia. Setelah selesai kuliah tambahan di Fakultas
Pendidikan, Universitas Griffith, pada tahun 1994 saya berangkat sekali lagi ke
Jakarta untuk belajar di Fakultas Sastra di UI. Selama satu tahun di UI, seperti
waktu saya ada di Atma Jaya, saya bergaul terus dengan orang Islam.

Pada
bulan Februari, tahun 1995, saya duduk sendiri di lantai pada tengah malam dan
menonton shalat Tarawih, tayangan langsung dari Mekah. Saya melihat sekitar 3-4
juta orang melakukan gerakan yang sama, menghadap arah yang sama, mengikuti imam
yang sama, berdoa dengan ucapan yang sama, berdoa kepada Tuhan yang sama. Saya
berfikir: Mana ada hal seperti ini di negara barat? Orang yang berkumpul untuk
pertandingan bola yang paling hebat di dunia cuma beberapa ratus ribu. Tidak
pernah ada orang sebanyak ini berkumpul si suatu tempat untuk menonton bola,
mengikuti suatu pertandingan, atau bahkan mendengarkan Paus bicara. Ini
benar-benar luar biasa! Dan tidak ada tandingnya.

Selama satu tahun itu
saya teruskan pelajaran agama saya. Tidak secara formal atau serius, tetapi
dengan memantau dan mencermati. Kalau ada ceramah agama di TV, dari Kyai
Zainuddin MZ atau Kyai Anwar Sanusi dan sebagainya, maka saya mendengarkannya
dan memikirkan maknanya. Dan secara pelan-pelan saya mendapatkan ilmu agama dari
berbagai macam sumber. Pada akhir tahun 1995 itu saya sudah merasa sulit untuk
menolak agama Islam lagi.

Tidak ada yang bisa saya salahkan dalam ajaran
agama Islam karena memang Islam didasarkan logika. Semua yang ada di dalam Islam
mengandung logika kalau kita mau mencarinya. Apa boleh buat? Saya mengambil
keputusan untuk masuk Islam. Akan tetapi, saya seharusnya kembali ke Australia
dan mengajar di sekolah di sana. Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa
mempelajari agama Islam di sana? Ada masjid di mana? Dari mana saya bisa
mendapatkan makanan yang halal? Dari mana saya bisa mendapatkan guru agama?


Sepertinya saya akan sulit hidup sebagai orang Islam kalau harus hidup
di luar negeri. Kalau saya mau menjadi orang Islam dengan benar maka saya harus
menetap di Indonesia untuk belajar. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk
menetap di Indonesia dan masuk Islam.

Saya kembali ke Australia dan
pamit dengan orang tua. Saya memberitahu mereka bahwa saya mau kerja di
Indonesia untuk beberapa waktu. Ibu berpesan: “Silahkan kembali ke Indonesia,
tapi jangan masuk Islam, ya?


Dari pandangan orang barat, Islam
tidak bagus jadi wajar kalau Ibu menyuruh saya untuk menjahui sesuatu yang
dianggap buruk. Saya lupa kapan saat persisnya saya memberitahu orang tua bahwa
saya sudah masuk Islam. Kalau tidak salah, saya sudah kembali ke Indonesia,
mendapatkan pekerjaan, masuk Islam, dan sudah mulai sholat, sebelum saya
memberitahu mereka. Tentu saja mereka menanggap bahwa saya kehilangan akal.
Tetapi alhamdulillah, mereka masih berbuat baik kepada saya.



Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya.
Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya.
Hanya saja saya dianggap “gila”. Tidak apa apa. Nabi Muhammad (s.a.w.)
juga dianggap “gila” oleh kaum Quraisy jadi saya tidak boleh sakit hati karena
sebenarnya enak kalau bisa masuk kategori yang sama dengan Nabi (s.a.w.)


Sejak tahun 1995, saya telah menetap di Jakarta dan bekerja sebagai
seorang guru bahasa Inggris. Saya belum ada niat untuk kembali hidup di
tengah-tengah orang kafir. Saya berniat untuk menetap di sini terus (selama
belum diusir) dan mempelajari agama Islam dengan sebaik-baiknya. Banyak orang
asing menanggap saya aneh karena mau menetap di negara yang miskin, kotor, penuh
dengan korupsi dan sebagainya. Mereka itu memiliki pandangan yang keliru.
Komentar mereka benar, tetapi saya juga melihat masjid, orang yang sholat,
adzan, Al Qur'an di rumah orang, makanan yang halal, anak-anak yang tidak mau
bezina atau menjadi mabuk, dan banyak hal yang lain yang jauh lebih besar
manfaatnya. Oleh karena itu, semua kekurangan yang disebut-sebut oleh orang
kafir itu menjadi tidak bermakna dan kurang terasa. Keindahan Islam bisa
menutupi semua kekurangan yang diciptakan oleh manusia di negara ini.


Dan alhamdullilah, di sini saya mendapatkan teman-teman yang terbaik di
dunia. Belum pernah saya mendapatkan teman seperti teman yang saya jumpai di
sini. Bagi saya, persahabatan mereka adalah suatu hal yang sangat nikmat,
apalagi saya harus tinggal di sini tanpa keluarga. Karena takut memalukan
mereka, saya tidak akan sebutkan namanya. Semuanya memiliki kedudukan sebagai
saudara di dalam hati saya. Mereka yang membantu saya sehari-hari untuk selalu
ingat kepada Allah dan tidak menyimpang dari jalan yang benar. Mereka yang
menjadi contoh konkret bagi saya tentang kehidupan seorang Muslim. Mereka yang
menggantikan keluarga yang menganggap saya gila, karena teman-teman ini justru
bangga dengan usaha saya untuk menjadi orang yang beriman. Sering ada orang
bertanya “Kenapa kamu tidak pulang ke Australia dan berdakwa di sana?”
Jawabannya adalah: belum tentu di sana ada orang yang mau mendengar kalau saya
bicara, tetapi di sini, justru banyak yang tertarik karena jarang ada orang bule
yang masuk Islam, menetap di sini dan bisa berbahasa Indonesia. (Secara
kebetulan!) Saya juga tidak mau kembali ke sana karena dengan demikian, saya
harus tinggalkan teman-teman saya di sini dan juga guru-guru agama saya. Semoga
semua yang mereka lakukan untuk membantu saya belajar agama dibalas Allah swt.
karena saya sama sekali tidak sangup menjadi orang baik tanpa bantuan terus dari
mereka.

Semoga sisanya dari buku ini adalah sesuatu yang menarik bagi
anda yang membacanya. Semoga lewat tulisan ini, semua yang saya pahami sebagai
seorang Muslim di Indonesia akan menjadi bahan pikiran untuk kita semua.
Perjuangan saya dari luar negeri sampai masuk Islam dan menetap di sini adalah
sebagian dari rencana Allah. Saya belum tahu kenapa Allah membawa saya ke
Indonesia dan memberi saya kelancaran dalam bahasa Indonesia. Apakah semua itu
hanya untuk diri saya sendiri? Atau apakah ada tujuan Allah yang lebih luas yang
belum saya pahami? Apa yang Allah inginkan dari saya? Apa yang bisa saya lakukan
untuk ummat Islam dan Allah sebagi balasan terhadap semua nikmat yang telah
Allah berikan kepada saya?

Barangkali, lewat buku ini, ada beberapa
hamba Allah yang akan mulai memikirkan Islam dengan cara baru. Barangkali akan
ada beberapa orang yang menjadi lebih dekat kepada Allah setelah membaca dan
memahami pikiran saya. Saya bukan seorang ustadt. Saya bukan ahli agama. Yang
bisa saya berikan kepada ummat Islam untuk membantu kita semua menjadi ummat
teladan di dunia hanya sebatas komentar saja. Barangkali Allah memberikan saya
kehidupan sampai sekarang supaya saya bisa bicara kepada anda lewat buku ini.
Insya Allah ada tujuan Allah yang membawa hikmah buat ummat Islam lewat komentar
saya ini. Saya juga mohon Allah mengangkat semua sifat sombong dan takkabur dari
hati saya dan menjadikan saya seorang hamba Allah yang bermanfaat bagi Allah dan
bermanfaat bagi ummat Islam. Amin amin ya robbal alamin. Semoga menjadi rahmat
bagi kita semua (mualaf.com)







Beliau
sekarang ini aktif dalam kegiatan "Pengajian Mualaf Bule di daerah
Kuningan"




yang bersangkutan Mr. Genne Netto tinggal di Jakarta, saat ini telah
menjadi anggota milist mualafindonesia@yahoogroups.com
bergabung dengan yang lainnya dalam membantu mualaf dan calon mualaf … Blogs ybs
http://genenetto.blogspot.com/
avatar
darussalam
Co-Administrator
Co-Administrator

Male
Posts : 411
Kepercayaan : Islam
Location : Brunei Darussalam
Join date : 25.11.11
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bule Australia masuk islam

Post by keroncong on Wed Apr 04, 2012 8:20 pm

Mrs. Cecilia Mahmudah Cannolly (Australia)
Mengapa saya memeluk Islam?

Pertama-tama dan sebelum segala sesuatunya, saya ingin menyatakan bahwa saya memeluk agama Islam, karena ternyata bahwa saya adalah seorang Muslim dalam lubuk jiwa saya tanpa setahu saya.

Sudah sejak masih muda, saya telah kehilangan kepercayaan kepada agama Kristen. Sebabnya banyak, dan yang terpenting ialah kalau saya bertanya kepada orang-orang Kristen, baik tokoh-tokoh Gereja maupun orang-orang Kristen biasa, tentang sesuatu yang tidak jelas bagi saya mengenai ajaran-ajaran Gereja, saya selalu saja mendapat jawaban: "Nona tidak akan bisa menggali ajaran-ajaran Gereja, tapi nona wajib mempercayainya." Waktu itu saya tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengatakan kepada mereka: "Saya tidak bisa mempercayai sesuatu yang saya tidak mengerti." Dan menurut hasil penelitian saya, tidak ada seorangpun di kalangan mereka yang menyebut dirinya orang Kristen yang mempunyai keberanian semacam itu.

Apa yang saya lakukan selanjutnya, ialah keluar dari Gereja Roma Katolik serta ajaran-ajarannya dan memantapkan ke-Imanan saya kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebab beriman kepada-Nya itu lebih mudah dari pada beriman kepada Tuhan Yang Tiga, seperti yang diajarkan oleh Gereja. Dan berlawanan dengan ajaran-ajaran G,ereja yang tidak bisa dimengerti itu, saya mulai menemukan kehidupan yang lebih luas, bebas dari segala dogma. Setiap kali saya menghadapkan muka, saya menemukan bukti-bukti kekuasaan Allah s.w.t. pada makhluknya, dan saya --juga orang lain yang kecerdasannya lebih tinggi dari pada saya-- tidak bisa memahami segala mu'jizat yang terjadi di bawah mata saya. Saya tertegun memikirkan segala kejadian/keajaiban makhluk Allah: pohon-pohon, bunga-bunga, burung-burung dan hewan-hewan sampai anak-anak yang dilahirkan, semua itu saya rasa merupakan mu'jizat yang maha gemilang. Tidak seperti yang diajarkan oleh Gereja. Saya ingat di waktu saya masih kecil, jika saya melihat bayi yang baru lahir yang digambarkan oleh Gereja sebagai "tertutup dengan kehitaman dosa." Sekarang tidak ada anggapan buruk semacam itu lagi mendapat tempat dalam khayalan saya. Sekarang segala sesuatu menjadi indah di muka mata saya.

Pada suatu hari, anak saya perempuan pulang ke rumah membawa sebuah buku tentang Islam. Buku itu telah mempengaruhi jiwa saya untuk memberikan perhatian kepada agama ini, sehingga sesudah selesai membaca buku ini, saya terus membaca buku-buku yang lain lagi tentang Islam, dan segeralah saya mengerti bahwa Islam itu adalah justru akidah yang cocok dengan kepercayaan saya.

Pada waktu saya masih percaya kepada agama Kristen, saya terpengaruh oleh apa yang dimasukkan ke dalam hati saya bahwa Islam itu tidak lebih dari pada sebuah cerita lelucon. Akan tetapi sesudah saya membaca buku-buku tersebut, hilanglah segala sangkaan buruk itu dari hati saya, dan tidak lama kemudian saya menemui beberapa orang Islam untuk menanyakan beberapa masalah yang belum begitu jelas sempurna bagi saya. Ketika itulah tersingkap segala tirai yang menghalangi saya dari Islam. Setiap kali saya kemukakan pertanyaan, setiap itu pula saya mendapat jawaban yang meyakinkan. Berlainan sepenuhnya dengan apa yang dilebih-lebihkan pada waktu saya masih menganut agama Kristen.

Sesudah membaca-baca dan mempelajari, saya dan anak saya perempuan mengambil keputusan untuk memeluk agama Islam dengan nama Rasyidah dan Mahmudah.

Kalau ada orang yang bertanya kepada saya tentang segi yang paling menarik bagi saya dalam Islam, pasti akan saya jawab: Sembahyang. Karena sembahyang dalam agama Kristen, tidak lebih dari pada do'a kepada Allah (dengan perantaraan Yesus Al-Masih) agar Dia menganugerahi kita dengan kebaikan di dunia. Sedangkan dalam Islam, sembahyang itu ialah memanjatkan puji ke hadirat Allah s.w.t. dan bersyukur atas segala ni'mat-Nya. Allah sendirian yang lebih mengetahui apa yang bermanfaat bagi kita dan menganugerahi kita dengan apa yang kita perlukan tanpa memintanya sedikitpun.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik