FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Tuhan maha unik dalam segala sifatNya

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Tuhan maha unik dalam segala sifatNya

Post by darussalam on Tue Jan 03, 2012 12:18 am

Tuhan Yang Maha Kuasa benar-benar unik dalam dzat dan sifatnya. Tak ada cara apapun untuk membandingkan-Nya, atau dapat dibandingkan, dengan dzat atau sesuatu yang lain yang kita tahu atau dapat kita bayangkan. Dalam ayat terakhir Surat yang dikutip di bab terdahulu, kita diingat-kan bahwa tidak hanya "Tidak ada yang serupa dengan Dia tetapi tidak ada satu pun dalam keserupaan-Nya yang dapat dibayangkan." Lalu bagaimana kita dapat mengetahui Dia? Kita akan menyadari-Nya melalui sifat-sifat-Nya.

Wahyu Tuhan yang terakhir dan penghabisan --kitab suci Al-Qur'an memberi kita 99 sifat Tuhan dengan nama puncaknya-- ALLAH! Sembilan puluh sembilan sifat atau nama Tuhan yang disebut Asma-ul-husna (Nama-nama yang paling indah) disebut berselang-seling dalam keseluruhan teks Al-Qur'an; seperti sebuah kalung mutiara cantik dengan sebuah liontin cemerlang --Allah.

Berikut ini sebuah contoh bagian. kalung itu:

"Dia-lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang memiliki Segala Keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Al--Hasyr: 23-24).

"Nama-nama Yang Paling Indah"
Dalam kedua ayat yang dikutip di atas, kita menghitung 13 dari 99 sifat yang disebut berselang-seling dalam keseluruhan kitab suci Al-Qur'an. Bahkan penentang Islam yang paling berprasangka dan bermusuhan terpaksa menerima bahwa meski dalam bentuk terjemahan, sifat-sifat dan penyusunan katanya indah dan unik. Dalam bahasa Arab asli kata-kata dan konstruksinya benar-benar tak dapat dibandingkan dan agung.

Bagaimana mungkin seorang ummi; seorang yang tidak dapat membaca dan menulis, di antara sebuah bangsa yang ummi, tak terpelajar, dapat menyusun rapsodi Tuhan seperti itu 14 abad yang lalu? Kita harus ingat bahwa tidak ada ensiklopedi atau risalat dimana Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dapat mencari keterangan di dalamnya walau jika buku-buku tersebut bertebaran di padang pasir Arab. Lalu dari mana Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan ilmu agama yang berharga ini? Dia berkata, "Semua diberikan kepada saya oleh Tuhan melalui wahyu!" Bagaimana lagi kita dapat menilainya?

Merupakan percobaan yang bagus untuk meminta teman-teman kita yang paling pandai agar membangkitkan beberapa sifat Tuhan bagi kita: Saya yakinkan Anda bahwa dengan semua pengetahuan yang mereka miliki, para profesor dan para doktor ilmu agama tersebut tidak akan dapat menghitung kembali meski hanya selusin. Yang paling bijak akan berkata: "Perhatikan, Muhammad adalah seorang yang cerdas, dan bagaimanapun juga seorang yang cerdas lebih unggul 10 kali lebih baik dari kita!" Terhadapnya kita memberi tanggapan: "Benar bahwa seorang yang cerdas dapat melakukan 10 kali lebih baik dari kita. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut telah memberi kita 99 sifat. Tetapi, yang membuat daftar tersebut merupakan mu'jizat dan bersifat ketuhanan adalah satu yang dihilangkan dari daftarnya". Kata "Bapa", itulah Mu'jizat!

Bapa di Surga
Dalam daftar kita yang bersifat manusia, tidak ada penyumbang akan terperosok mengucapkan kata Bapa dalam setengah lusin sifat yang pertama. Mu'jizat daftar Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bukanlah pada "sembilan puluh sembilan sifat" tersebut tetapi pada hal khusus yang dihilangkannya dari Al Qur'an. Kata "Bapa" sebagai sebuah sifat Tuhan membayang-bayangi dihadapannya selama 23 tahun hidup kenabiannya. Dia menghindarinya, dia mengeluarkannya dari perbendaharaan katanya (secara sadar atau tidak sadar) selama 2 dekade lebih dan karenanya berada di luar teologi Islam.

Anda berhak untuk menanyakan saya, "Apa doa Tuhan orang-orang Kristen?" Ya, apa itu? Baca Tuan Deedat! Maka saya membaca:

"Bapa kami yang ada di dalam surga, dimuliakanlah nama-Mu; datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga."

"Apa yang salah dengan itu?" Anda bertanya. "Tidak ada!" Maka mengapa umat Islam begitu alergi terhadapnya?

Saya tidak begitu berprasangka seperti musuh kita. Kita harus mengetahui bahwa doa orang Kristen adalah sebuah doa yang indah tetapi benar-benar terdapat kekurangan di dalamnya. Anda lihat anak saya tidak akan pernah belajar nama Tuhan melalui doa ini. Apakah nama-Nya? Dalam keseluruhan 27 kitab Perjanjian baru nama Tuhan tidak pernah ada walaupun hanya satu! "Bapa" diberikan di sini sebagai sebuah pengganti. Ini bukan nama-Nya! Sebagai sebuah sifat, yang berarti --Raja, Tuhan, Pencipta, Penyedia, saya tak dapat mengecualikannya. "Bapa terkasih di dalam surga. Bapak Surga kami!" dll. Kami umat Islam mengecualikan arti yang baru tersebut, arti tambahan yang diperlukan dari kata Bapa.

Satu-satunya Anak Keturunan, Dan lain-lain
Dalam teologi Kristen, kata "Bapa" yang sederhana dan tak bernoda ini memerlukan sebuah arti baru. Dia; menurut Kristen, orang yang menurunkan Yesus sebagai anaknya. Mereka berkata dalam catechism. "Yesus adalah Tuhan yang sebenarnya dari Tuhan yang sebenarnya, anak keturunan Bapa, anak keturunan yang tidak dibuat. "Jika kata-kata mempunyai arti tertentu, apakah arti kata-kata ini? Tentu saja ini berarti apakah perkataan! Tuhan mempunyai banyak anak berdasarkan kitab suci Injil. Adam, Israel, Ephraim, David, Solomon dan lain-lain ... Tetapi semua ini anak-anak kiasan. Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai pencipta dan pemberi harapan mengkiaskan Bapa setiap mahluk hidup; setiap binatang atau manusia: tetapi Yesus, orang-orang Kristen berkata, tidak seperti ini semua. Dia anak keturunan, bukan "Buatan!" Menurut Islam ini adalah pengucapan yang paling buruk, mensifatkan kepada Tuhan sebuah sifat hewan --fungsi seks hewan yang lebih rendah!

Perubahan Makna
Pada awalnya kata "Bapa" untuk Tuhan tidak membawa asosiasi yang menghina Tuhan, tetapi kata-kata itu berubah artinya sesuai waktu. Saya hanya akan memberi Anda 2 contoh: "Comrade" dan "gay":

"Comrade" asalnya sebuah kata yang indah dan tak bernoda, yang artinya seorang teman, sebuah perkumpulan atau sebuah sekutu yang diambil dari bahasa Perancis Kuno comrade (kawan/saudara/sahabat), teman sekamar atau tentara yang berbagi ruangan yang sama. Tetapi saat ini kata yang sama tersebut berbau busuk dalam lubang hidung orang-orang Amerika sebagai "seorang pengikut Stalin", seorang komunis, seorang anggota partai Marxist-Leninist, aliran radikal apa pun sebagai sebuah subversi atau revolusioner yang harus dihilangkan seperti hama atau parasit. Jika ada salah seorang dari teman bodoh Anda menyebut Anda saat ini dengan "Comrade" di Amerika Serikat, ia dapat membahayakan karir Anda; juga hidup Anda!

"Gay" apa yang salah dengan kata ini? Tidak ada sama sekali! Saya mempelajari kata ini pada masa awal sekolah seperti pameran atau dikarakteristikkan dengan penuh kenyamanan dan kegembiraan bersuka ria; seorang yang telah menikah. Saya diajar untuk menyanyikan:

"Raja yang lemah lembut dan wanita yang bergembira di atas gunung memulai hari."

Saya telah melupakan keseimbangan puisi ini. Disini, saya mengerti arti kata "gay" berarti senang dan riang gembira. Saya tidak mempunyai prasangka sedikit pun bahwa suatu hari kata yang tidak berbahaya yang dipelajari anak-anak di sekolah dalam suatu waktu itu artinya berubah menjadi homoseksual yang tercemar dan kotor: perbuatan sodomi dan catamite dalam pengertian yang paling dasar.

Maka "wanita gay" saat ini berarti wanita lesbian! Dalam cara yang sama kata yang terhormat "Bapa" menjadi terkontaminasi oleh kepercayaan "satu-satunya keturunan Bapa!" dan lain-lain.

Rabb atau Abb?
Tuhan Yang Maha Kuasa melalui Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melindungi Islam dan umatnya dengan mengeluarkan kata "Bapa" (Abb) untuk Tuhan dari perbendaharaan kata agamanya. Adalah merupakan kenyataan yang menakjubkan bahwa meski kitab suci Al-Qur'an mencantumkan 99 sifat Tuhan, termasuk kata Rabb yang berarti Raja, Pemberi harapan, Penopang, Penyusun, Tuhan, tetapi kata yang lebih mudah Abb, berarti "Bapa/ayah" dalam bahasa Arab dan Ibrani, tidak satu kali pun digunakan, sehingga melindungi umat Islam dari fitnah tentang anak keturunan tunggal. Kepada siapa kita harus memberi penghargaan atas perbuatan ini: Allah atau Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam? Nabi Suci Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut menyangkal setiap penghargaan, selalu berkata bahwa semua ini diberikan kepadanya dengan wahyu, kata-kata yang Anda dengar bukanlah miliknya, tetapi firman Tuhan yang didiktekan kepadanya!

Menyelesaikan Perdebatan
Kitab suci Al-Qur'an adalah sebuah mu'jizat yang sangat besar. Sebuah kitab mu'jizat yang dapat dijelaskan dari titik pandang yang tak terkira banyaknya. Saya telah mencoba dari beberapa aspek sederhana untuk berbagi dengan Anda di mana saya, sebagai orang awam terpesona dengannya. Tidak ada akhir untuk penelitian ini. Saya tinggalkan tugas ini kepada saudara saya yang lebih terpelajar, dan sarjana Islam yang terpelajar. Jika saja saya dapat hidup untuk melihat usaha mereka. Izinkan saya mengakhiri ini dengan contoh terakhir saya, untuk publikasi pendek ini.

Panggilan ke Swaziland
Beberapa tahun yang lalu, sebuah perdebatan timbul di Swaziland. Raja Sobuza kehilangan Ratu pilihannya. Gereja-gereja Kristen di negara tersebut mulai ribut pada masalah periode menunggu sebelum seorang pria dapat menikah kembali. Bukanlah sebuah masalah yang serius untuk didiskusikan karena raja masih mempunyai 8 istri lagi. Maka topik diubah menjadi: "Berapa lama seorang istri harus menunggu jika suaminya mati." Sewaktu debat sedang berlangsung sangat hebat dalam kerajaan yang kecil sekali tersebut; raja yang baik itu memerintahkan sebuah muktamar seluruh gereja di negara tersebut untuk membahas persoalan itu.

Mr. Moosa Borman, seorang Swazi yang telah memeluk Islam, meminta izin raja agar "gereja"nya (Islam) juga diwakilkan dalam debat. Dengan restu Raja, saya juga diberi kehormatan menghadiri diskusi tersebut.

Hari Minggu pagi, perwakilan berbagai macam golongan Kristen berkumpul untuk mencapai mufakat dalam masalah periode waktu masa menjanda.

Pembicara bergiliran menyampaikan pidatonya. Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan Billy Graham atau Jimmy Swaggart yang potensial bagi bangsa Afrika dan setiap orang.

Pada akhir setiap khotbah pendengar bertepuk tangan dengan antusias. Pembicara yang berikutnya datang dan menolak pendahulunya dengan ekspresi yang secara tidak langsung menyatakan omong kosong, sampah! Dan, menimbulkan suara tepuk tangan kembali. Dari pagi sampai petang perdebatan berlangsung. Sekitar pukul 5 sore giliran saya tiba. Dengan sebuah kitab suci Al-Qur'an yang Anda lihat di sampul buklet ini, di dalam tangan saya, saya memulai, "Dari pagi sampai malam, kita telah meraba-raba untuk sebuah jawaban, selama berapa lama seorang wanita menunggu sebelum menikah kembali sesudah kematian suaminya: dan kita telah mendengar bahwa apa yang dikatakan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan apa yang dikatakan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, tetapi kita belum mendapatkan jawabannya! Karena penyelesaian masalah kita ada di dalam --"Perjanjian Terakhir".

"Perjanjian Terakhir"
"Perjanjian Terakhir" adalah sebuah bom bagi pendeta-pendeta dan penda'wah Kristen. Mereka belum pernah mendengar ekspresi perjanjian terakhir dalam kehidupan mereka." Mengutip Lama dan Baru, Baru dan Lama tidak akan menolong karena jawabannya berada dalam Perjanjian Terakhir Tuhan untuk manusia!" Saya mengacungkan kitab di atas kepala saya, dan hanya membaca bahasa Inggris dari kitab suci Al-Qur'an, surat kedua ayat 234. Sebuah referensi yang sangat mudah diingat 2: 234, hanya 2234!

"Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat." (QS. Al-Baqarah: 234).

Saya bertanya kepada para pendengar, "Empat bulan sepuluh hari, Anda menghendaki penjelasan lagi?" Mereka semua menjawab secara bersamaan, "Tidak!", Saya menjelaskan kepada mereka hikmah dibalik masa "empat bulan sepuluh hari". Dalam ayat terdahulu, dalam perjanjian Tuhan yang terakhir dan penghabisan ini, kita diberitahu tentang masa menunggu setelah perceraian:

"... wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru ..." (QS. Al-Baqarah: 228).

Hal ini layak melihat pernikahan yang dalam kondisi bubar mungkin menghasilkan isu tersebut. Sementara dalam kasus janda akibat kematian ditentukan sebuah masa tambahan satu bulan sepuluh hari. Sangat masuk akal, setiap orang akan setuju, tetapi apa mu'jizat atas semua ini? Setiap orang arif dapat memperkirakan masa tiga bulan setelah perceraian dan 4 bulan 10 hari setelah kematian suaminya. Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam memperkirakan sebaik setiap orang lain! Ini benar, tetapi bukti bahwa semua ajaran yang sehat dan berguna tersebut bukanlah pekerjaan tangan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ada di dalam ayat setelah ayat tentang masa 4 bulan dan 10 hari:

"Dan, tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan keinginan (mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf. Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis iiddahnya ..." (QS. Al-Baqarah: 235)

Sidik Jari Tuhan
"Jangan memutuskan untuk menikah sampai masa tunggu yang sudah ditetapkan telah berlalu." Ini bukan kecerdasan Muhammad (saw)! Ini kebijaksanaan Tuhan Yang Maha Bijaksana. Pencipta Yang Maha Mengetahui, mengetahui kelemahan ciptaannya. Manusia dalam kerakusan dan nafsu besarnya akan mengambil keuntungan yang tidak adil dari janda yang sangat bingung. Dia baru saja kehilangan tulang punggung dan penopang dalam mencari nafkah. Dia mempunyai sejumlah anak kecil yang harus diberi makan dan ia mungkin juga kehilangan penampilannya dan nilainya dalam pasar perkawinan menjadi berkurang. Dia sepertinya berpegang erat pada jerami. Dalam kondisi emosinya yang tidak stabil ketika pemangsa membuat penawaran. Dalam ketergesa-gesaan dan ketidakamanannya ia mungkin dengan cepat menerima. Psikolog yang terkemuka (bukan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) benar-benar menyadari, semua perangkap yang disimpan oleh para pria. Karena itu ada peringatan --"Tidak ada perjanjian sampai masa yang telah ditentukan dipenuhi!"

'Iddah' sesudah sebuah perceraian adalah 3 bulan. Di sini anda diberikan 40 hari tambahan untuk memulihkan keseimbangan dan ketenangannya. Dalam masa tersebut, jika keinginan menikah datang, ia mempunyai kesempatan mendiskusikan masalah tersebut secara tenang dengan teman atau saudaranya. Dia dapat menghindari perangkap sebuah penerimaan yang tergesa-gesa dengan sebuah per-kembangan panjang yang berlarut-larut dan menyakitkan.

Apakah Muhammad Shallallahu Alalhi wa Sallam berfikir dan memecahkan semua ini di padang pasir 14 abad yang lalu? Anda terlalu memujinya! Berulang kali ia disuruh menyatakan bahwa hikmah Al-Qur'an bukanlah perbuatannya, Tidak lain sebuah wahyu yang diturunkan kepadanya oleh pencipta terbaiknya. Jika Anda masih meragukan kesaksiannya maka terimalah tantangannya. Dia disuruh menyatakan:

"Katakanlah, 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (QS. Bani 'Israel: 88).

Dunia ditantang untuk menghasilkan sebuah kitab seperti kitab suci Al-Qur'an dan dalam 14 abad belum ada satu pun yang berhasil membuatnya. Orang-orang Kristen Arab yang bangga dengan 15 juta populasi saat ini, agar tidak dikalahkan, telah membuat Injil-Injil Kristen dalam gaya Al-Qur'an. Mereka telah melakukan plagiat terhadap kitab suci Al-Qur'an dengan mencuri kata-kata dan rangkaian kata bahkan gaya bahasa, tanpa melupakan Bismillah! Setiap pasal dari ciptaan mereka yang paling modern mulai dengan ayat pertama wahyu Al-Qur'an ini. Anda harus melihatnya untuk mempercayainya. Berikut ini sebuah fotokopi "wahyu" buatan manusia yang baru.

Inilah bukti lain yang membuktikan bahwa Al-Qur' an tak dapat dibandingkan. Cobalah semau Anda. Tantangan masih berlaku. Kitab suci Al-Qur'an adalah Firman Allah yang diwahyukan kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan merupakan mu'jizat dari mu'jizat-mu'jizat!

"Dan ini sungguh-sungguh sebuah mu'jizat!" (Pendeta Bosworth Smith).



avatar
darussalam
Co-Administrator
Co-Administrator

Male
Posts : 411
Kepercayaan : Islam
Location : Brunei Darussalam
Join date : 25.11.11
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik