FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Gaya Spiritualitas Masyarakat Islam Modern

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Gaya Spiritualitas Masyarakat Islam Modern

Post by hamba tuhan on Thu Oct 27, 2011 1:21 pm

Kecepatan arus mo­der­nitas telah melahirkan ma­sya­rakat konsumtif. Ma­syarakat modern, yang dicirikan dengan masya­rakat konsumtif, saat ini tidak lagi mem­per­tim­bangkan fungsi atau kegu­naan ketika membeli suatu produk, melainkan me­ngendepankan prestise yang melekat pada produk tersebut. Saat ini, perilaku konsumtif –yang sarat dengan pen­carian prestise dan citra tersebut–tidak hanya mempengaruhi cara seseorang mengkonsumsi barang dan jasa, tetapi juga sudah mem­pengaruhi cara/gaya seseorang melakukan spiritualitas (beribadah).

Perilaku konsumtif yang melekat pada masyarakat Islam mutakhir ini terbukti tidak hanya mempengaruhi gaya hidup sesorang seperti makan, minum, berlibur dan sebagainya, tetapi juga cara melakukan spiritualitas dalam beragama (berbuka puasa, haji, dan sebaginya).

Perlu ditegaskan di sini bahwa perilaku konsumtif adalah perilaku yang ditujukan untuk mengkon­sumsi secara berlebihan terhadap barang dan jasa yang kurang atau bahkan tidak diperlukan. Perilaku ini lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu untuk memuaskan kesenangan dan lebih mementingkan keinginan dari pada kebutuhan.

Di dalam masyarakat Islam modern sekarang ini, kita melihat masuknya budaya populer, budaya komoditas, gaya hidup konsumerisme dan permainan citra, yang pada tingkat kedalaman tertentu telah menyeret berbagai realitas ritual keagamaan ke dalam ruang-ruang pengaruhnya. Kita menyaksikan masyarakat Islam modern mengang­gap jalan spiritualitas sebagai gaya hidup (durasi, intensitas, kuantitas), penggunaan waktu, ruang, uang, dan barang di dalam kehidupan sosial. Maka, lahirlah apa yang disebut post-spiritualitas atau hiper spiritualitas.

Post-spiritualitas akan melahirkan post-ritualitas, yaitu aktivitas ritual keagamaan yang dilakukan yang menjadikan dirinya sendiri sebagai referensi, bukan mengikuti model, contoh atau rujukan yang ada sebelumnya, khususnya contoh Nabi dan Rasul. Pada akhirnya, ritualitas yang dilakukan masyarakat Islam modern dengant sifat komsumtifnya akan mengacaukan tujuan utama spritualitas itu sendiri, yaitu penyujian jiwa. Inilah yang terjadi pada masyarakat Islam kita saat ini.

Melenceng dari Tujuan Utama
Aktivitas ritual keagamaan pada hakikatnya adalah ruang penyucian jiwa, yaitu pembersihan dan pelebu­ran jiwa dari berbagai kotoran, berupa perbuatan tidak baik dan kemak­siatan. Bentuk penyuciaan tersebut juga mengikuti model yang telah dicontohkan Rasulullah dan dalil-dalil yang telah digariskan (Alqur’an). Pada umumnya, ini dilakukan lewat pengekangan hasrat rendah.

Ketika sesorang melakukan kegiatan ritual keagamaan yang secara hakiki tidak lagi berkaitan dengan model yang telah dicontohkan Nabi dan dalil-dalil yang telah digariskan tersebut, maka dia sedang tidak melakukan ritual, melainkan “hiper-ritualitas”. Hiper ritualitas merupa­kan ritual keagamaan yang telah melampaui hakikat ritual itu sendiri. Akibatnya, yang terjadi adalah budaya materi dan gaya hidup yang menyer­tainya yang justru bertentangan dengan hakikat ritual itu sendiri sebagai ruang penyujian jiwa.

Contoh yang paling sering kita jumpai adalah acara berbuka puasa yang dilakukan di hotel-hotel berbintang dengan mengundanng artis kondang, sehingga ada semacam citra, ilusi-ilusi, gaya hidup dan gengsi tertentu yang dibangun di baliknya. Di dalamnya, orang tidak lagi sekedar berbuka puasa dengan makanan, akan tetapi dengan image, dengan gaya hidup, dengan gengsi, dengan ilusi-ilusi gaya makanan yang disajikan atau suasana tempat yang diciptakan.

Begitu juga dengan haji plus misalnya, yang menawarkan paket haji yang serba “wah” dan serba istimewa dengan berbagai bentuk fasilitas yang menyertainya. Pemili­han hotel berbintang, makanan khusus (enak), penerbangan khusus, apartemen yang mewah, ziarah transportasi lokal dengan bus AC dan kemewahan dan kukhususan lainnya. Di dalamnya, orang tidak sekedar melakukan ibadah haji saja, melainkan mengejar image , gaya hidup, dan gengsi.

Sebenarnya, tanpa itu semua (mengundang artis, tempat yang mewah, penerbangan khusus, dan sebaginya), seseorang sudah bisa melakukan ritualitas (berbuka puasa atau berhaji) secara sederhana. Pada saat itulah ritual keagamaan kehi­langan makna hakikinya.

Perilaku-perilaku spiritualitas seperti ini hanya akan mereduksi ritual ibadah menjadi fenomeno permukaan, penampakan, dan tanda-tanda dan pastinya menjauhkan seseorang dari makna yang menda­lam dan nilai-nilai spiritualnya. Akibatnya, tujuan utamanya (penyu­jian jiwa) menjadi terganggu, kacau dan tidak bisa optimal.

Keikhlasan Beribadah
Kita semua seharusnya tidak membiarkan nilai-nilai spiritualitas kita ternodai hanya karena citra, materi, hasrat, dan gaya hidup. Kita seharusnya mengedepankan tujuan utama spiritualitas itu sendiri, yaitu penyujian jiwa.

Memang, kita tidak bisa memung­kiri bahwa dunia materi, hasrat, konsumsi, citra tidak bisa dileyapkan dari kehidupan manusia. Hasrat tidak bisa dibunuh, materi tidak bisa dihilangkan karena itu merupakan anugerah Tuhan. Jalan spiritualitas yang kita lakukan bukan untuk membunuh hasrat, menentang materi, menghentikan konsumsi atau mele­nyapkan gemerlap citra, melainkan mengendalikan atau meminimalisasi efek, dampak atau ekses-ekses yang merusak dengan cara penyucian jiwa dari berbagai pengaruh dualistik, kontradiksi, ketidakpastian, keka­buran dan ekstiminitas.

Sejarah mengajarkan kita bahwa segala suatu yang bertumbuh ke arah titik ekstrem pada akhirnya hanya akan menyebabkan penghancuran diri kita sendiri. Jalan spiritualitas adalah jalan untuk mencegah kehan­curan yang diakibatkan oleh mesin hasrat yang melampaui spiriitualitas itu sendiri.

Jalan spiritualitas yang kita tempuh diharapkan mampu menjadi mesin pengendali terhadap mesin hasrat kapitalisme dan konsumerisme yang kini sedang dipuja,disanjung,dan digandrungi masyarakat Islam modern. Di sini dibutuhkan keikh­lasan dalam menjalankan ibadah (spiriitualitas). Kita perlu menata niat untuk ikhlas dalam menjalankan spiritualitas. Pelepasan dari segala sesuatu yang bisa menggagalkan proses penyujian jiwa perlu kita lakukan.

Sudah saatnya, kita sebagai manusia beragama, meminimalisasi atau bahkan menghentikan segala bentuk jalan spiritualitas yang diembel-embeli mencari identitas, gengsi, citra dan gaya hidup yang hanya akan merusak hakikat spiri­tualitas itu sendiri.

Ketulusan dan keikhlasan hati dalam menjalankan ibadah sangat diperlukan untuk mencapai tujuan spiritualilitas secara total. Dunia, dengan segala bentuk gemerlapnya hanya akan membawa kita menjadi rusak kalau kita tidak mampu me­ngen­dalikannya. Menapaki jalan spi­ritualitas dengan rasa ikhlas, tulus dan sederhana akan mengantarkan ki­ta pada ke­muliaan dan kebaikan hi­dup, baik di dunia maupun akhirat.


AHMAD UBAIDILLAH

http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6297:gaya-spiritualitas-masyarakat-islam-modern&catid=12:refleksi&Itemid=82
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik