FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Dimensi Akhirat

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Dimensi Akhirat

Post by abu hanan on Sat Jan 28, 2012 12:16 pm

Kamis menjelang siang kemarin dulu, disela2 kesibukan persiapan kick of meeting untuk Contract C729823 Steam Rate Measurement Services, saya membuka akun yahoo. Ada rekanan yang mengirim data melalui akun itu karena akun dinas saya sedang down entah kenapa. Nah, di situ ada info Mas Yudha ‘Ajengan Salman’ mengupdate statusnya; dari belum menikah menjadi masih juga belum menikah, hehe.
Cool

Malamnya, Jum’at dini hari sekitar jam 02-an, pelan2 saya kangen lagi ke Mas Yudha. Dan, biarpun pelan2, lama2 berat juga. Maka daripada gimana2, meluncurlah saya ke kamarnya; coretankelambu.wordpress.com. Langsung ngacak2 begitu sampai. Klik sana klik sini sak-karepe dewe, mumpung jagoannya lagi bobo, hehe. Sampai kemudian kepentok artikel “Rasanya Akhirat?” Menyimaklah saya, lumayan lama.

Kesan yang saya tangkap, Mas Yudha tidak mempersoalkan eksistensi akhirat. Dibatas dalil, ia mempercayainya. Sekedar bertanya, bagaimana ia bisa ‘percaya dengan sebenar2nya’ jika belum pernah ke sana? Belum pernah ‘merasakannya’? Lagi pula, mereka yang sudah ke sana tidak ada yang kembali lagi ke alam dunia ini untuk menceritakannya, bukan? Kumaha, tah..?

Sahabat, apa yang dipertanyakan oleh Mas Yudha itu adalah salah satu ‘pertanyaan berat’ yang juga pernah lama melingkup saya. Selain kami berdua, kayak2nya sih tidak sedikit teman2 lain yang juga mempertanyakannya. Betul, tidak? Bayangkan, kita diminta untuk mempercayai akhirat sementara belum pernah ‘jalan2’ ke sana. Sekilas video atau secuil foto pun tidak ada. Adanya sebatas ‘kisah’.

Maka, setelah ngapyak kesana kemari mencari itu ‘di luar diri’ nggak dapet2, saya pun terduduk diam. Sempat menggumpal memang rasa tidak puas karenanya, tapi pelan2 mencair juga oleh waktu. Saya mulai bisa ‘melupakannya’, balik kepada ‘sekedar’ mempercayainya saja. Habis, mau bagaimana lagi?

Sekian lama begitu, sampai kemudian saya mulai ‘diperjalankan’ kembali oleh-Nya. Uniknya, perjalanan yang ini bulat bundar ‘berlawanan arah’ dengan yang lalu. Kalau sebelumnya ngapyak ke luar menderas jargon, “Aku bisa!”, sekarang malah menelusur ke dalam dengan nuansa, “Aku tiada…” Bukan dunia bukan pula akhirat dengan surga dan nerakanya, ‘sekedar’ merindukan-Nya saja.

Maka, inilah sekelumit ‘jejak rasa’ terkait itu yang dapat saya sampaikan atas izin-Nya. Bismillaahi wamin bismillaah…

Pertama; bahwa alam akhirat dan alam dunia adalah ‘lebih baru’ dibandingkan (sejati diri) para manusia. Mereka ‘barang ciptaan’, yang diciptakan oleh-Nya dari ‘bahan dasar’ sejati diri kita. Dalam hal ini, alam akhirat lebih dulu diciptakan dibanding alam dunia. Sebelum tiba di sini, (sejati diri) kita telah ‘melintasi’ akhirat. Maka sesungguhnya masing2 kita sudah ‘punya rasanya’, tersimpan hening di kemurnian diri.

Kedua; bahwa sejatinya kedua alam tersebut tidak terpisah, melainkan ‘menyambung’ sebagai satu kesatuan. Perbedaan hanya pada martabatnya saja, di mana alam akhirat lebih hakiki dibanding alam dunia. Di alam dunia, bagian batiniyah dan bagian dzahiriyah dua2nya eksis. Sementara di akhirat, hanya berlaku untuk bagian batiniyah saja, bagian yang lebih hakiki. Bagian dzahiriyah ‘kembali musnah’ pada martabat ini.

Ketiga; bahwa alam dunia ini serupa try out bagi alam akhirat. Seperti saya dulu ikutan try out UMPTN menjelang UMPTN ‘89 yang diadakan salah satu bimbel di Bandung. Sebagai try out, alam dunia adalah simulasinya alam akhirat. Maka, apa2 yang ada di alam akhirat, ada tapaknya di alam dunia. Itulah makanya di sini dikenal istilah ‘surga dunia’, hehe. ‘Neraka dunia’ pun tersedia. Betul, tidak?

Keempat; benarlah bahwa ‘kematian’ adalah borderline antara alam dunia dengan alam akhirat. Maka, ada ‘dua strategi’ dalam rangka ini. Pertama, tunggulah sampai saat kita mati beneran, hehe. Kedua, tempuh dan terapkan pesan Rasulullah, “Antal mautu qablal mautu.” – matilah sebelum mati. Monggo dipilih sendiri.

Kelima; sekedar mengingatkan bahwa sejatinya akhirat bukanlah tujuan akhir dari perjalanan ‘ulang-alik Colombia’ kita. Kenapa? Ya iyalah, ngapain? Soalnya alam akhirat itu ‘nggak beda jauh’ dengan alam dunia. Beti, beda tipis; seperti UMPTN dengan try out-nya. Namanya pun masih sama2 alam. Nah, kalau misalnya kita ingin menembus segala alam2an, langsung saja bolak-baliknya ke Sang Pemilik dunia – akhirat. Beres, dah. Dapat semuanya, hehe. Betul nggak, Mas Yudha?

Sudah, ah. Lima percik dulu, biar sama dengan jumlah butir Rukun Islam. Kalau berlebihan, salah2 nanti saya dipanggil majelis ulama untuk ‘dianugerahi’ fatwa, hehe. Bercanda, Teman. Jangan terlalu serius, ya..

Salam ‘Colombia’.

sumber ; http://andibombang.com/akhirat/


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik