FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

jadilah perintis kebaikan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

jadilah perintis kebaikan

Post by keroncong on Sat Jan 28, 2012 5:06 pm



HADITS



Dari Jarir bin 'Abdillah, ia berkata: Kami bersama Rasulullah pada pagi hari. Lalu datanglah suatu kaum yang telanjang kaki dan tidak memakai baju, berselimutkan wool yang bergaris-garis atau hanya mengenakan abaya (pakaian luar) dengan menyandang pedang. Kebanyakan dari mereka kabilah mudhor, lalu wajah Rasulullah berubah ketika melihat kefaqiran mereka. Beliau masuk, kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat lalu beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah seraya membaca ayat:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [Terjemah Qs An Nisa ayat 1]

Dan membaca Ayat di surat Al Hasyr

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[Terjemah QS Al Hasyr ayat 18]

Hendaklah seseorang bershadaqah dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha' kurmanya, sampai beliau berkata: "Walaupun separuh kurma."

Jarir berkata: Lalu seorang dari anshar membawa satu kantong, hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu.

Jarir berkata: Kemudian berturut-turut orang memberi, sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah bersinar seperti emas.

Lalu Rasulullah bersabda,

__Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan fa lahu ajruhaa wa ajru man ‘amila biha ba’dahu min ghairi’an yan-qushu min ajuurihim syai-un. Wa man sanna fil islaami sunnatan sayyiatan kaana ‘alaihi wazruhaa wa wazru man ‘amala biha min-ba’dihi min ghairi in-yanqusha man auzaarahum syai-un__

Artinya: "Barangsiapa yang membuat contoh yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamlkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang mencontohkan contoh jelek dalam Islam, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkan setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka."

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Ash Shahih (7/103-104 bersama Syarah Nawawi) dan (16/225-226); Ahmad dalam Al Musnad (4/357,359,361,362); An Nasa'i dalam Al Mujtaba' (5/75-76-77); At Tirmidzi dalam Al Jami' (5/42) No. 6275 dengan lafadz من سن سنت خير ... و من سن سنت شر dan Ibnu Majah (1/74) No 203.





PEMAHAMAN YANG SALAH TERHADAP HADITS INI



Hadits ini difahami secara keliru, yakni banyak orang awam berdalil dengan hadits ini dalam membagi pengertian bid’ah, menjadi bid’ah hasanah (bid’ah yang baik, -JJ Ralat) dan bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang tercela). Sebagian ulama juga ikut-ikutan dalam hal ini. Berikut ini akan jelas bagi anda kekeliruan cara berdalil ini.



Dengan memohon bantunan kepada Allah dan bertawakkal kepadaNya kami katakan,

Kebanyakan orang yang berdalil dengan hadits ini dalam membagi bid’ah, bahwasanya orang yang menyampaikan hadits ini kepada anda dalam keadaan terpotong. Dia menampakkan kepada anda sebagian saja dan menyembunyikan yang lainnya, agar mendapatkan legalitas dalam pembagian bid’ah tersebut. Lalu mengklaim adanya bid’ah hasanah. Pada saat yang sama, ia tidak menyebutkan keserasian hadits yang menyebabkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hadits

... man sanna fil Islaami sunnatan hasanatan…



Di atas kami telah menjelaskan, maksud dari sunnah disini adalah sunnah secara bahasa, bukan secara syar’i. Saya minta kepada orang yang menentang kami dalam pendapat ini utuk menjawab pertanyaan, “Apakah dalam sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat sunnah yang jelek? Walaupun Beliau sendiri menyatakan dalam hadits ini ... man sanna fil Islaami sunnatan sayyi-atan… ?!”



Jika kalian menjawab ”Ya, ada”, maka tidak perlu lagi berdiskusi, karena dengan pernyataan jelek ini, tanpa disadari seseorang dapat keluar dari agama. Hal ini sudah menjadi kepastian yang absolut dalam agama ini, yaitu sunnah itu adalah agama.



Jika menjawab “Tidak” maka kita sampaikan kepadanya hadits ini. Di dalamnya termuat pensifatan sunnah dengan sunnah yang jelek, supaya dia mengakui bahwa lafadz sunnah di sini adalah sunnah secara bahasa dan bukan istilah syari’at.



Seandainya meskipun hadits ini tidak mengandung pensifatan sunnah dengan sunnah yang jelek, niscaya sudah cukup dengan lafazh yang menunjukkan pensifatan baik, yaitu ... man sanna fil Islaami sunnatan hasanatan… karena pensifatan sunnah dengan dengan sunnah yang jelek adalah salah dan sangat tidak layak, karena menunjukkan ada sunnah yang tidak baik diantara sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.



Ini adalah dalil yang kuat untuk menunjukkan bahwa lafazh tersebut (yaitu lafazh sunnah dalam hadits, -Red) secara bahasa. Karena, sebagaimana sudah dimaklumi bahwa sunnah itu adalah agama. Jika anda mengatakan “Ini adalah sunnah yang baik”, maka anda sama dengan orang yang membagi sunnah menjadi dua, dan itu sesat terhadap apa yang ingin anda bersihkan [2]



Penulis berkata: Sungguh salah faham terhadap hadits ini membawa akibat buruk dan kerusakan. Kami telah mendengar banyak orang ketika perbuatan mereka diingkari, saat mereka melakukan perkara bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at, mereka berdalil dengan hadits ini dan menyatakan “Ini adalah perkara baik dan tidak ada dosanya dan Nabi saw menyatakan ... man sanna fil Islaami sunnatan sayyiatan (hasanatan? -JJ)…”



Kepada mereka ini kami katakan: “Sesungguhnya sahabat mulia (yang disebutkan dalam hadits ini, -Red) yang melakukan shadaqah (ia) tidak melakukan sesuatu yang baru yang tidak ada dalam syari’at. Dalam Al Qur’an shadaqah disyari’atkan dan dianjurkan oleh Rabb semesta alam, dan juga ada di dalam sunnah yang tidak perlu lagi berdalil untuknya.”



Dalam khutbahnya tersebut, Rsulullah saw menganjurkan para sahabatnya untuk bershadaqah. Namun, ketika mereka semua lambat merespon dan tampak kesedihan pada wajah Rasulullah saw, (maka) seorang anshar dari mereka itu bangkitdan menyerahkan kepada Rasulullah satu kantung shadaqah. Kemudian yang lain berduyun-duyun menyerahkan shadaqahnya. Sehingga perbuatan anshar ini perbuatan yang terpuji. Dia tidak berbuatbid’ah dalam shadaqah, karena shadaqah disyari’atkan. Lalu dari mana mereka dapat mengatakan ada bid’ah hasanah yang bermakna dengan istilah syar’i?!



Kemudian, seandainya makna hadits sesuai dengan yang telah mereka fahami ini, makna sunnah dalam hal ini kontradiktif. Karena Rasulullah saw menganggap seluruh bid’ah sesat. Oleh karenanya tidak benar, kecuali sebagaimana yang kami jelaskan. Dan itulah yang benar.



Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam kmentarnya terhadap Al Ba’its ‘Ala inkar Al Bida’ Wal Hawadits, hlm 87, mengatakan, “Dengan demikian (maksudnya dengan memahami lafazh sunnah itu secara bahasa, -Red), maka keluar dari keumuman sabda Nabi saw “Setiap bid’ah sesat”. Karena arti bid’ah menurut syar’i adalah tambahan atau pengurangan dalam agama tanpa izin syari’at, baik berupa perkataan atau perbuatan, terang-terangan atau isyarat. (Sesungguhnya) setiap amalan yang tidak ada dasarnya dalam syari’at adalah bid’ah yang sesat, meskipun dilakukan oleh orang yang dianggap sebagai pemilik keutamaan, atau orang yang terkenal sebagai syaikh. Karena perbuatan ulama dan ahli ibadah bukanlah hujjah, selama tidak sesuai dengan syari’at”



Kepada orang yang menganggap baik berbagai perbuatan bid’ah dan menjadikannya sebagai ajaran agama secara dusta dan bohong, maka kita sampaikan bahwa sabda Nabi ... man sanna fil Islaami sunnatan sayyiatan (hasanatan? –JJ) … bukan bermakna orang membuat jalan yang tidak ada dalam agama, yaitu dalam hukum, furu’ serta ‘ushulnya. Bukan! Ini merupakan kebodahan. Akan tetapi maksudnya adalah orang yang memberikan cotoh dalam zaman dan naungan Islam, yaitu pada zaman dan keberadaannya. Karena agama ini datang dan memperingatkan dari kerusakan dan keburukan, serta mengajak berbuat kebaikan dan keshalihan. Sehingga dalam naungan agama yang lurus ini, memberikan contoh kepada kejelekan menjadi perkara yang besar, baik kejelekan itu yang baru atau kejelekan yang sudah ada contohnya sebelum Islam [3]



---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(Disalin dari kitab Tash-hihul akhtha wal auham al waqi'ah fi fahmi ahadits, karya Syaikh Raid Bin Shabri halaman 189-200)

[Disalin ulang oleh Jibril Jundurrahman dari Majalah As-Sunnah Edisi 04/ Tahun VIII/ 1425 H/ 2004 M Halaman 07-13 Dengan Perubahan]



[2]: Isyraq Asy Syari’at Fil Hukmi ‘Ala Taqsimi Al bid’ah, hlm 20, Karya Usamah Al Qashash.

[3]: Isyraq Asy Syari’at Fil Hukmi ‘Ala Taqsimi Al bid’ah, hlm 29, Karya Usamah Al Qashash
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik