FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

dakwah bil hikmah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

dakwah bil hikmah

Post by keroncong on Sat Feb 25, 2012 3:38 pm

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah!
Allah SWT telah berfirman yang artinya "Serulah kepada jalan Rabbmu dengan cara hikmah, mau'idzah hasanah (peringatan yang baik) dan debatlah mereka dengan cara yang baik." (An-Nahl:125)
Islam adalah satu-satunya agama yang diridlai Allah SWT. Ajarannya sarat dengan kemaslahatan bagi seluruh makhluq. Ajaran Islam juga tak memberatkan bagi pemeluknya, selagi ia sadar akan perintah Allah dan tidak mencari-cari alasan untuk menjadikan dirinya berat dalam menjalankan perintah Allah.

Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. merupakan rahmatan lil 'aalamiin . Meskipun Islam diturunkan pertama kali di bumi Arab, namun seluruh umat manusia di muka bumi ini berhak untuk merasakan rahmat din Islam. Bagi orang-orang yang memahami Islam dengan baik juga dituntut untuk mendakwahkannya kepada orang lain baik itu muslim maupun non muslim.

Kita tidak memungkiri bahwa Islam sampai kepada kita melalui dakwah para dai. Dalam salah satu firman-Nya, Allah menegaskan bahwa dakwah merupakan salah satu syarat agar umat Islam meraih keberuntungan. Allah SWT berfirman yang artinya, "Hendaklah di antara kalian ada sebagian umat yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Ali Imron: 104)

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Dakwah adalah salah satu bentuk ibadah untuk mengajak umat agar kembali kepada ajaran Allah. Allah menyatakan bahwa dakwah adalah merupakan sebaik-baik perkataan, karenanya dakwah mempunyai arti yang sangat penting dalam penyebaran Islam. Tentunya, para pengusung dakwah ini juga termasuk dalam sebaik-baik manusia.

Namun dakwah yang seharusnya mendatangkan perbaikan dan kekuatan Islam, pada gilirannya sering tidak mencapai sasaran. Banyak terjadi penyelewengan dalam proses dakwah. Materi yang membingungkan dan tidak terarah, unsur syubhat yang kadang masih melekat dalam dakwah atau sifat dai yang tidak bisa diteladani merupakan masalah yang harus segera diperbaiki, sehingga pada akhirnya dakwah yang benar ini bisa mendatangkan kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin.

Allah SWT berfirman yang artinya, "Serulah kepada jalan Rabbmu dengan cara hikmah, mau'idzah hasanah (peringatan yang baik) dan debatlah mereka dengan cara yang baik." (An-Nahl:125).
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab kecuali dengan cara yang lebih baik, kecuali orang yang zalim di antara mereka." (Al-Ankabut: 46)

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Kedua ayat diatas menjelaskan bahwa metode dakwah yang baik dan benar berdasarkan kondisi orang yang akan didakwahi adalah sebagai berikut:
1. Dengan hikmah.
2. Dengan mau'idzah hasanah (peringatan yang baik).
3. Dengan jidal bil ahsan (debat atau diskusi dengan cara yang baik).
Menggunakan kekuatan.

Bagi umat yang bersedia menerima kebenaran, tidak menolak dan membangkang, maka metode yang harus digunakan adalah menyampaikan kepadanya kebenaran, sehingga ia mengetahui dan mengamalkannya. Bagi orang yang mau menerima kebenaran namun terkadang lalai dan bermalas-malasan dalam melaksanakannya, maka metode yang sesuai adalah dengan mau'idzah hasanah .

Adapun bagi orang yang menentang dan membangkang, maka harus didebat dengan cara yang baik. Sedang bagi golongan yang ke empat, yaitu orang yang menentang sembari berbuat zalim, maka tidak ada cara yang lebih tepat dari pada menggunakan kekuatan. Inilah arti hikmah yang benar, yaitu menempatkan sesuatu pada posisinya yang layak.

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Arti kata berdakwah dengan cara hikmah seabagaimana disebutkan di muka, memiliki beberapa pendapat sebagaimana dikatakan oleh para ulama, yaitu:
a. Sebagian ulama mengartikannya dengan menjelaskan dengan cara yang mudah diterima, mudah dipahami, serta dengan cara yang bijaksana.
Syaikh Muhammad Ali as-Shabuni dalam Shafwatut Tafaasir mengatakan, "Ajaklah mereka untuk memeluk din Allah dan menjalankan syariat yang suci dengan bahasa dan perkataan yang bijaksana dan lemah lembut agar membekas dalam diri mereka, berguna bagi mereka dan mereka terima. Janganlah menyeru mereka dengan suara yang keras, bentakan dan kekerasan. Jika mereka mendebat, maka debatlah mereka dengan cara yang lebih baik, serta bersahabatlah dan dan tampilkan hujah dan burhan yang baik." (Shafwatut Tafasir: 7/47)
b. Hikmah yaitu Alquran dan sunah. Imam Ibnu Jarir mengomentari bahwa hikmah adalah wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya berupa Alquran dan sunah. Sedangkan makna mau'idzah hasanah adalah mendakwahkan isi alquran dan sunah meskipun menyinggung kenyataan yang dilakukan manusia dan mengingatkan mereka akan siksaan Allah. (Tafsir Ibnu Katsir: 2/591)
c. Dengan cara menunjukkan ke jalan yang benar sampai ia faham dan mengingatkannya masalah dunia dan akherat.
d. Yaitu perkataan-perkataan yang mengandung hikmah yang benar atau hujjah yang qath'i serta argumentasi yang memberikan suatu keyakinan. (Fathul Qadiir 3/251)
e. Yaitu perkataan yang tegas dan benar. Allah memrintahkan hamba-Nya yang beriman untuk berdakwah dan beribadah kepada-Nya di setiap tempat dengan mengatakan perkataan yang sadid , yaitu yang lurus tanpa kebengkokan. Imam Jamaludin Al-Qashimi berkata," Sadid dalam ucapan artinya jujur dan benar. Itulah pelajaran setiap kebahagiaan dan dasar setiap kesempurnaan, karena ia merupakan bagian dari sifat hati yang membutuhkan atau mendatangkan semua kesempurnaan."(Mahaasinut Ta'wiil: 3/32)
f. Sebagian ulama mengartikan kata hikmah dengan mendudukkan segala permasalahan pada tempatnya dengan rapi dan tepat. Taklim, tarbiyah dan mau'idzah hasanah , debat, cercaan, kekuatan kekerasan, dan pedang semua harus diletakkan pada tempatnya. Dakwah dengan lemah lembut pun bila tidak tepat, tidak termasuk hikmah.
g. Ada beberapa pendapat lain, di antaranya adalah: benar dalam perkataan dan perbuatan, mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, ilmu yang bermanfaaat dan amal yang shalih, takut kepada Allah, sunah, dan menjawab dengan cepat sekaligus benar. (Al-Hikmatu fi dakwah ilallah hal.26)

Sekalipun para ulama banyak sekali menyatakan arti kata al-hikmah dalam ayat ini, namun pada dasarnya pendapat-pendapat mereka tidak bertentangan. Pendapat para ulama tadi bisa diringkas menjadi berlaku benar dalam ucapan dan perbuatan serta menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang layak. (Al-Hikmatu fi dakwah ilallah hal.27)

Semua pendapat tadi terangkum dalam kalimat ini dikarenakan berlaku benar dalam segala urusan itu berdiri di atas pemahaman dan pengetahuan tentang kandungan Alquran dan sunah. Orang yang mengetahui dan memahami kandungan kedua sumber ajaran Islam ini akan menjadi orang yang benar perbuatan dan perkataannya, takut kepada Allah SWT dan bersikap wara' dan mengamalkan ilmunya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah!
Dari penjelasan ini bisa dipahami bahwa berdakwah dengan cara hikmah itu tidak terbatas pada berbicara dengan lemah lembut saja, menyebutkan keutamaan amal dan dan pahalanya saja, memaafkan, toleransi, sabar dan ramah saja, tapi bila segala sesuatu ditempatkan pada posisinya yang tepat itu adalah hikmah.

Artinya, segala sesuatu harus kita kerjakan dengan tepat dengan landasan yang benar pula. Mengajar diletakkan pada tempatnya yang proporsional, demikian pula dengan pendidikan, tabligh, mau'idzah hasanah dan debat denagn cara yang baik.

Peringatan dengan keras, penggunaan kekerasan juga harus dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat. Semua ini harus dilakukan dengan penuh kecermatan, ketekunan dan kebijaksanaan dengan memperhatikan kondisi, tempat dan waktu orang yang didakwahi. Bila semua ini telah dilaksanakan, berarti kita telah berdakwah dengan cara yang hikmah.

Dalam hal ini, Rasulullah saw. para sahabat dan generasi umat Islam terdahulu telah memberikan contoh nyata. Rasulullah saw. menyatukan antara dakwah dengan lemah lembut di Makkah dengan dakwah membentuk negara Islam yang berdaulat di Madinah dan menyebarkan dakwah islam ke seluruh jazirah Arab dengan kawalan kekuatan.

Begitu juga dengan dakwah para sahabat. Tak seorang pun yang memungkiri bahwa sahabat Abu Bakar adalah seorang sahabat yang sangat lembut hatinya dan penyabar. Beliau amat santun terhadap fakir miskin dan kaum muslimin yang lemah. Namun tak seorang pun yang memungkiri bahwa beliaulah yang menggerakkan tentara kaum muslimin untuk menumpas para nabi palsu dan orang-orang yang murtad pada awal masa kekhalifahan beliau.

Semua ini terjadi karena beliau mampu berbuat hikmah dalam dakwah, menggunakan metode dakwah yang tepat dalam setiap kasus. Jika orang-orang yang murtad tidak ditindak keras, tentulah keutuhan kaum muslimin akan retak dan hukum Islam diinjak-injak.

Karena itu patut disayangkan bahwa banyak umat Islam saat ini tidak berani menampakkan dan melaksanakan ajaran Islam dengan alasan persatuan, persaudaraan, toleransi dan alasan-alasan lainnya.

Ketika musuh-musuh Islam menuduh mereka menyebarkan dakwah Islam dengan kekerasan, mereka buru-buru menolak dengan membuat alasan yang sangat jauh dari kebenaran. Mereka menyatakan,"Islam adalah agama damai, dalam Islam tidak ada jihad ofensif, tidak ada paksaan dalam beragama, Islam memerintahkan umatnya untuk bersatu dengan umat yang lainnya dalam satu ikatan persaudaraan internasional dan kemanusiaan."

Hanya disebabakan oleh tuduhan palsu musuh-musuh Islam, sebagian kaum muslimin secara tidak sadar mengingkari berbagai ajaran islam yang telah tegas disebutkan oleh Alquran dan sunah. Jawaban-jawaban kaum muslimin ini masih jauh dari hikmah dalam berdakwah. Terkadang dakwah Islam baru bisa terlaksana dengan penggunaan kekuatan. Namun kapan itu terjadi? Ketika dakwah yang diserukan kepada non muslim mengalami hambatan dan penolakan oleh kekuatan musuh Islam.

Islam mengajarkan untuk dakwah dengan cara yang baik, namun musuh-musuh Islam selalu membuat manusia lari menjauh dari Islam. Mereka menjelek-jelekkan Islam, mengaburkan pemahaman Islam yang lurus sehingga dakwah Islam tidak sampai kepada mereka dengan benar.

Kekuatan penghalang dakwah seperti ini tidak mungkin ditundukkan kecuali dengan kekuatan. Setelah para penghalang ini ditundukkan, barulah manusia bisa menentukan pilihan dengan merdeka; apakah akan masuk Islam atau tidak. Itulah makna "tidak ada paksaan dalam masalah agama."

Islam membolehkan penggunaan kekuatan bila dilakukan dengan hikmah, saat kondisi memang menuntut. Islam tidak menyerang musuh kecuali setelah memberi dakwah kepada mereka. islam juga tidak melampaui batas dalam peperangannya. Kaum muslimin tidak pernah membunuh anak-anak, orang tua, wanita dan orang-orang yang tidak terlibat perang.

Namun apakah yang dilakukan musuh-musuh Islam setiap kali menyerang umat Islam? Anak-anak dan orang tua mereka bantai, kehormatan wanita-wanita mereka nodai, harta benda mereka musnahkan dan sebagainya.

Inilah dakwah Islam yang penuh hikmah. Dalam kelembutannya tersimpan hikmah, sebagaimana dalam ketegasan sikapnya juga terkandung hikmah yang agung. Dakwah islam adalah dakwah yang mandatangkan rahmat bagi seluruh pengikutnya. Wallaahu a'lam bis-Shaawab (Disadur dari Risalah An-Nuur, volume 11 th. 1421H)

avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik