FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

merasa bernasib sial

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

merasa bernasib sial

Post by keroncong on Sat Mar 17, 2012 9:40 pm

Firman Allah Ta'ala (artinya):

"Ketahuilah sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui." (Al-A'raf: 131)

"Mereka (para rasul) berkata: "Kesialan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib sial?). Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas."." (Yasin: 19)

Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidak ada 'adwa, thiyarah, hamah dan shafar." (HR Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam salah satu riwayat Muslim, disebutkan tambahan: "... dan tidak ada nau' serta ghul."

'Adwa: penjangkitan atau penularan penyakit. Maksud sabda Nabi disini ialah untuk menolak anggapan mereka ketika masih hidup di zaman jahiliyah bahwa penyakit berjangkit atau menular dengan sendirinya, tanpa kehendak dan takdir Allah Ta'ala. Anggapan inilah yang ditolak oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan keberadaan penjangkitan atau penularannya; sebab, dalam riwayat lain, setelah hadits ini, disebutkan: "... dan menjauhlah dari orang yang terkena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa." (HR Al-Bukhari)

Ini menunjukkan bahwa, penjangkitan atau penularan penyakit dengan sendirinya tidak ada, tetapi semuanya atas kehendak dan takdir Ilahi, namun sebagai insan muslim disamping iman kepada takdir tersebut haruslah berusaha melakukan tindakan preventif sebelum terjadi penularan sebagaimana usahanya menjauh dari terkaman singa. Inilah hakekat iman kepada takdir Ilahi.

Thiyarah: merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.

Hamah: burung hantu. Orang-orang jahiliyah merasa bernasib sial dengan melihatnya; apabila ada burung hantu hinggap di atas rumah salah seorang di antara mereka, dia merasa bahwa burung ini membawa berita kematian tentang dirinya sendiri atau salah satu anggota keluarganya. Dan maksud sabda beliau adalah untuk menolak anggapan yang tidak benar ini. Bagi seorang muslim, anggapan seperti ini harus tidak ada, semua adalah dari Allah dan sudah ditentukan oleh-Nya.

Shafar: bulan kedua dalam tahun Hijriyah, yaitu bulan sesudah Muharram. Orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan ini membawa nasib sial atau tidak menguntungkan. Yang demikian dinyatakan tidak ada oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan termasuk dalam anggapan seperti ini: merasa bahwa hari Rabu mendatangkan sial, dll. Hal ini termasuk jenis thiyarah, dilarang dalam Islam.

Nau': bintang; arti asalnya adalah: tenggelam atau terbitnya suatu bintang. Orang-orang jahiliyah menisbatkan hujan turun kepada bintang ini, atau bintang itu. Maka Islam datang mengikis anggapan seperti ini, bahwa tidak ada hujan turun karena suatu bintang tertentu, tetapi semua itu adalah ketentuan dari Allah 'Azza wa Jalla.

Ghul: hantu (genderuwo), salah satu makhluk jenis jin. Mereka beranggapan bahwa hantu ini dengan perubahan bentuk maupun warnanya dapat menyesatkan seseorang dan mencelakakannya. Sedang maksud sabda Nabi disini bukanlah tidak mengakui keberadaan makhluk seperti ini, tetapi menolak anggapan mereka yang tidak baik tersebut yang akibatnya takut kepada selain Allah serta tidak bertawakkal kepada-Nya. Inilah yang ditolak oleh beliau; untuk itu dalam hadits lain beliau bersabda: "Apabila hantu beraksi menakut-nakuti kamu, maka serukanlah adzan", artinya: tolaklah kejahatannya itu dengan berdzikir dan menyebut Allah. Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Anas Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Tidak ada 'adwa dan thiyarah, tetapi fa'l menyenangkan diriku." Para sahabat bertanya: "Apakah fa'l itu?" Beliau menjawab: "Yaitu kalimah thayyibah (kata-kata yang baik)."."

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad shahih dari 'Uqbah bin 'Amir, ia berkata: "Thiyarah disebut-sebut di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau pun bersabda: "Yang paling baik adalah fa'l, dan thiyarah tersebut tidak boleh menggagalkan seorang muslim dari niatnya. Apabila salah seorang diantara kamu melihat sesuatu yang tidak diinginkannya maka supaya berdoa: "Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan selain Engkau; tiada yang dapat menolak keburukan selain Engkau; dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Engkau."."

Abu Dawud meriwayatkan pula hadits marfu' dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu:

"Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik; dan tiada seorang pun dari antara kita kecuali (telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya."

Hadits ini diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dengan dinyatakan shahih dan kalimat terakhir tersebut dijadikannya sebagai ucapan dari Ibnu Mas'ud.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu 'Amr, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa yang mengurungkan hajatnya (kepentingannya) karena thiyarah, maka dia telah berbuat syirik." Para sahabat bertanya: "Lalu apakah sebagai tebusannya?" Beliau menjawab: "Supaya dia mengucapkan: Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau; tiada kesialan kecuali kesialan dari Engkau; dan tiada Sembahan yang hak selain Engkau..."

Imam Ahmad meriwayatkan pula hadits dari Al-Fadhl ibn Al-'Abbas Radhiyallahu 'anhu:

"Sesungguhnya thiyarah itu ialah yang menjadikan kamu terus melangkah atau mengurungkan niat (dari keperluanmu)."

Kandungan tulisan ini:

1. Tafsiran kedua ayat tersebut di atas. Kedua ayat ini menunjukkan bahwa tathayyur termasuk perbuatan jahiliyah dan syirik, karena segala sesuatu termasuk nasib sial merupakan takdir dari Allah; dan menunjukkan bahwa kesialan terjadi karena perbuatan maksiat kepada Allah.

2. Dinyatakan bahwa tidak ada 'adwa.

3. Dinyatakan bahwa tidak ada thiyarah.

4. Dan dinyatakan bahwa tidak ada hamah.

5. Serta dinyatakan bahwa tidak ada shafar.

6. Fa'l tidak termasuk yang ditolak dan dilarang oleh Rasulullah bahkan dianjurkan.

7. Pengertian fa'l.

8. Apabila terjadi thiyarah (tathayyur) dalam hati seseorang, tetapi dia tidak menginginkannya, maka hal itu tidak apa-apa hukumnya, bahkan Allah menghapuskannya dengan tawakkal.

9. Doa yang harus dibaca oleh orang yang menjumpai hal tersebut.

10. Ditegaskan bahwa thiyarah adalah syirik.

11. Pengertian thiyarah yang tercela dan terlarang.

Dikutip dari buku: "Kitab Tauhid" karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da'wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: merasa bernasib sial

Post by voorman on Sun Jun 23, 2013 5:52 am

Termasuk dalam bab kepercayaan dan tradisi ialah masalah bertangkal dan menggantungkan diri pada kubur dan sebagainya, dengan suatu angapan, bahwa tangkal dan kubur ini akan dapat menyembuhkan penyakit atau dapat melindungi diri dari mara-bahaya.

Pada abad ke 20 ini masih banyak orang yang menggantungkan tapal kuda di atas pintu rumahnva. Dan sampai hari ini di berbagai negara masih banyak orang-orang hendak memperbodoh orang bodoh. Mereka menulis tangkal-tangkal membuat beberapa garis azimatdan membacakan azimat-azimatnya itu dengan suatu anggapan, bahwa azimatnya itu dapat melindungi si pembawanya dari gangguan jin, sengatan kalajengking, kejahatan mata, kedengkian orang dan sebagainya.

Untuk menjaga keselamatan diri dan mengobati penyakit, ada cara-caranya sendiri yang sudah dikenal menurut ketetapan syariat Islam. Islam sangat menentang siapa yang mengabaikan cara-cara itu, dan siapa yang menggunakan cara-cara yang dilakukan pendusta-pendusta yang menyesatkan itu.
Rasulullah SAW pernah bersabda sebagai berikut:
"Berobatlah kamu, sesungguhnya Zat yang membuat penyakit, Dia pula yang membuat obatnya."
(HR. Ahmad)

"Kalau ada sesuatu yang lebih baik daripada obat-obatanmu, maka ketiga hal inilah yang lebih baik, yaitu minum madu, atau berbekam atau kei dengan api."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga cara berobat ini jiwanya dan analoginya dapat meliputi macam-macam cara pengobatan yang berlaku zaman kita sekarang. misalnya pengobatan dengan melalui mulut, operasi, kei dan elektronik. Adapun menggantungkan tangkal dan membaca mantera
untuk berobat dan menjaga diri adalah suatu kebodohan dan kesesatan yang bertentangan dengan sunnatullah dan menghilangkan tauhid.

Uqbah bin 'Amir meriwayatkan, bahwa ada sepuluh orang berkendaraan datang ke tempat Rasulullah SAW Yang sembilan bai'at, tetapi yang satu ditahan. Kemudian mereka yang sembilan itu bertanya: mengapa dia ditahan? Rasulullah menjawab: karena di lengannya ada tangkal Kemudian si laki-laki tersebut memotong tangkalnya, maka dibai'atlah dia oleh Rasulullah SAW dan ia bersabda:
"Barangsiapa menggantungkan (tangkal), maka sungguh dia telah menyekutukan Allah."
(HR. Ahmad dan Hakim; dan lafaz Hadis ini adalah lafaz Hakim, dan rawi-rawi Ahmad adalah kepercayaan)

Dalam Hadisnya yang lain ia bersabda:
"Barangsiapa mengantungkan tangkal, maka Allah tidak akan menyempurnakan (imannya), dan barangsiapa menggantungkan azimat, maka Allah tidak akan mempercayakan kepadanya."
(HR. Ahmad, Abu Ya'la dan Hakim dan ia mensahkan)

"Dari lmran bin Hushain; sesungguhnya Rasulullah SAW pernah melihat di lengan seorang laki-laki ada gelang yang saya lihat dari kuningan kemudian Rasulullah bertanya: Celaka kamu, apa ini? Ia menjawab: Ini adalah 'wahinah' (sesuatu yang dapat melemahkan orang lain, sebangsa azimat). Maka jawab Rasulullah: Dia tidak akan menambah kamu, kecuali kelemahan, karena itu buanglah dia, sebab kalau kamu mati sedang wahinah itu masih ada pada kamu, maka kamu tidak akan bahagia selamanya."
(HR. Ahmad, lbnu Hibban; dan lbnu Majah tapi tanpa kata: buanglah .......)

Pendidikan ini sangat berpengaruh pada pribadi-pribadi sahabat Rasulullah SAW, sehingga mereka dapat, menggangkat diri mereka tanpa menerima kesesatan dan mempercayai kebatilan ini.

Isa bin Hamzah berkata: suatu ketika saya pernah masuk rumah Abdullah bin Hakam sedang waktu itu pada diri Abdullah ada tanda merah. Kemudian saya bertanya kepadanya: Apakah kamu memakai tangkal? Jawab Abdullah: A'udzu billahi min dzalik (aku berlindung diri kepada Allah dari yang demikian itu). Dalam satu riwayat Abdullah mengatakan: Lebih baik aku mati daripada bertangkal, sebab Rasulullah SAW telah bersabda:
"Barangsiapa menggantungkan sesuatu (tangkal), maka dia akan dibebaninya."
(HR. Termizi)

Diriwayatkan, bahwa suatu ketika Abdullah bin Mas'ud masuk rumah., sedang di leher isterinya ada kalung (bertangkal), maka ditariknya oleh lbnu Mas'ud dan dipotong-potongnya, kemudian ia berkata: Keluarga Abdullah harus jauh daripada menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan padanya. Kemudian ia berkata:
"Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya tangkal, azimat dan tambul adalah syirik. Para sahabat kemudian bertanya: Ya aba Abdirrahman! Tangkal dan azimat ini kami sudah tahu, tetapi apakah tambul itu? la menjawab: Tambul ialah sesuatu yang diperbuat oleh orang-orang perempuan supaya selalu dapat bercinta dengan suami-suami mereka."
(HR. lbnu Hibban dan Hakim)

Tambul adalah salah satu macam sihir.
Para ulama berkata: Tangkal yang dilarang; yaitu yang bukan bahasa Arab yang tidak dimengerti maksudnya, dan barangkali juga di situ terdapat sihir dan kata-kata kufur. Adapun kalimat yang dapat dimengerti dan di dalamnya terdapat penyebutan Allah, maka kalimat semacam itu justru disunnatkan. Jadi tangkal waktu itu berarti doa dan harapan kepada Allah untuk kesembuhan dan berobat.
Tangkal yang biasa dilakukan' orang-orang jahiliah tercampur dengan sihir, syirik dan azimat yang sama sekali tidak mempunyai makna yang dapat dimengerti.

Diriwayatkan bahwa lbnu Mas'ud pernah melarang isterinya berbuat semacam tangkal jahiliah ini, lantas isteri-nya berkata kepadanya: pada suatu hari saya keluar, kemudian si anu melihat saya maka melelelah airmataku; tetapi apabila saya memakai tangkal ini air mataku tidak meleleh, tetapi kalau kubuang meleleh lagi. Maka berkatalah lbnu Mas'ud kepadanya: Dia itu adalah syaitan yang apabila kamu taat kepadanya, kamu akan ditinggalkannya, tetapi jika kamu durhaka kepadanya, maka ia akan cucuk matamu dengan jarinya. Kalau kamu mau berbuat seperti apa yang dilakukan Nabi, adalah lebih baik dan lebih dapat diharapkan akan kesembuhanmu, yaitu: kamu percikkan air pada kedua matamu, sambil berdoa:
"Hilangkanlah penyakit ini hai Tuhan, sembuhkanlah aku, karena Engkaulah Zat yang dapat menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, suatu kesembuhan yang tidak akan meninggalkan sakit."
(Riwayat lbnu Majah, Abu Daud dan Hakim)




Tathayyur (Merasa Sial)

Merasa sial karena sesuatu, tempat, waktu, seseorang dan sebagainya adalah termasuk mistik yang sangat laku dipasaran, secara berkelompok atau perorangan.

Di zaman dahulu pernah juga terjadi demikian misalnya tentang kaum Nabi Saleh, mereka ini berkata kepadanya:
"Kami merasa sial sebab kamu dan orang-orang yang bersamamu."
(Q. S. An-Naml: 47)

Fir'aun dan kaumnya jika ditimpa musibah, mereka menganggap kesialannya itu karena Musa dan orang-orang yang bersamanya. (Lihat Q. S. Al-A'raf: 131)

Dan banyak pula orang-orang kafir yang sesat itu kalau mendapat bala' dari Allah, mereka kemudian berkata kepada para juru dakwah dan Rasul:
"Kami merasa sial sebab kamu semua."
Q. S. Yasin: 18)

Tetapi para Rasul itu kemudian menjawab:
"Kesialanmu itu sebab kamu sendiri."
(Q. S. Yasin: 19)

Yakni sebab-sebab kesialanmu itu ada pada kamu sendiri, yaitu lantaran kamu kufur, ingkar dan memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Dalam satu susunan, Rasulullah SAW merangkaikan ramalan dan sihir, seperti sabdanya:
"Bukan dari golongan kami siapa yang merasa sial, atau minta diramalkan kesialannya, atau menenung, atau minta ditenungkan, atau mensihir, atau minta disihirkan."
(HR. Thabarani)

"Membuat garis di tanah, menganggap sial karena alamat dan melempar kerikil karena ada suatu kepercyaan, adalah termasuk menyembah selain Allah."
(HR. Abu Daud, Nasa'i dan Ibnu Hibban)

Tathayyur, satu hal yang berdiri tanpa landasan ilmu pengetahuan atau tanpa suatu kenyataan yang benar. Tathayyur, hanya berjalan mengikuti kelemahan dan membenarkan dugaan yang salah (waham).

"Ada tiga perkara yang tidak akan bisa selamat satupun, yaitu: menuduh, tathayyur dan hasud. Oleh karena itu kalau kamu menuduh jangan kamu nyatakan, dan kalau merasa sial jangan tarik (jangan kamu gagalkan pekerjaanmu), dan kalau kamu hasud, jangan lanjutkan."
HR. Thabarani)

Oleh karena ketiga perkara ini hanya semata-mata perasaan yang tidak berpengaruh pada suatu sikap dan perbuatan, maka dimaafkannya oleh Allah.

Dan diriwayatkan pula dari lbnu Mas'ud, Rasullullah SAW bersabda:
"Tathayyur (merasa sial) adalah syirik. "3 kali. Dan ibnu Mas'ud sendiri berkata: "....... tetapi Allah akan menghilangkannya dengan tawakkal."
(HR. Abu Daud dan Termizi)

Apa yang dimaksudkan oleh lbnu Mas'ud itu ialah
setiap orang di antara kita ini ada perasaan-perasaan seperti itu, tetapi perasaan semacam ini akan hilang lenyap dari hati orang yang selalu tawakkal

dan tidak membiarkan perasaannya itu tinggal dalam hati.




Memerangi Tradisi Jahiliah

Sebagaimana Islam memberantas pengikut-pengikutnya yang mengikuti kepercayaan-kepercayaan jahiliah dan mistiknya, karena akan berbahaya pada rasio, pekerti dan tingkah laku, maka begitu juga Islam akan memerangi tradisi-tradisi jahiliah yang selalu menghidup-hidupkan ashabiyah, kecongkakan, kesombongan dan membangga-banggakan golongan.

Tidak ada Ashabiyah (fanatik golongan) dalam Islam

Pertama kali yang diperbuat oleh Islam dalam persoalan ini yaitu: Islam tidak mengakui ashabiyah dengan segala macamnya, dan mengharamkan kaum muslimin menghidup-hidupkan setiap perasaan atau apa saja yang mengajak kepada ashabiyah.
Rasulullah sendiri telah mengumandangkan pernyataan, bahwa orang yang berbuat demikian tidak akan diakui sebagai ummatnya.
SabdaNabi:
"Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada ashabiyah, bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan tidak juga termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah."
(HR. Abu Daud)

Tidak ada keistimewaan khusus karena warna kulit, karena jenis dan karena tanah air. Dan tidak halal seorang muslim merasa fanatik (ta'asshub) karena warna kulitnya melebihi kulit orang lain, karena golongannya melebihi golongan lain dan karena daerahnya melebihi daerah orang lain.

Dan tidak halal pula seorang muslim membela golongannya karena ta'asshub baik dalam kebenaran, kebatilan, keadilan dan kecongkakan. Wailah bin al-Asqa' pernah bertanya kepada Rasulullah: apakah
yang disebut ashabiyah itu? Maka jawab Nabi: yaitu kamu membela golonganmu pada kezaliman

.

Dan Allah telah juga berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan sebagai saksi karena Allah sekalipun terhadap diri-dirimu sendiri, atau terhadap kedua orang tua dan kerabatmu."
(Q. S. An-Nisa': 135)

"Dan jangan sampai karena kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu tidak berlaku adil."
(Q. S. Al-Maidah: 8)

Rasulullah menerjemahkan mafhum kalimat ini yang sudah sangat popular di kalangan orang jahiliah dan diartikan menurut lahiriahnya. Maka sabda beliau:
"Tolonglah saudaramu yang menganiaya ataupun yang dianiaya."

Setelah Rasulullah menyampaikan terjemahan ini kepada para sahabatnya yang sesudah lebih dahulu meresapkan iman ke dalam hati mereka, karena apa yang diucapkan oleh Rasulullah itu ada maksud lain, maka para sahabatnya merasa heran dan tercengang. Justru itu mereka kemudian bertanya:

"Ya, Rasulullah! Kami bisa saja menolong saudara kami yang dizalimi, tetapi bagaimana kami harus menolong saudara kami yang berbuat zalim? Maka jawab Nabi: yaitu kamu tahan dia dari berbuat zalim. Yang demikian itu berarti suatu pertolongan buat dia."
(Riwayat Bukhari)

Dari sini kita dapat mengetahui, bahwa
setiap anjuran di kalangan kaum muslimin kepada fanatik daerah seperti ajakan untuk fanatik chauvinisme atau ajakan untuk fanatik kepada golongan sentris seperti nasionalisme, adalah propaganda jahiliah yang sama sekali tidak diakui oleh Islam, oleh Rasulullah dan oleh Al-Qur'an

.

Islam sama sekali tidak mau mengakui setiap loyalitas yang di luar kepercayaan Islam. Tidak juga mengakui setiap perserikatan (legued) yang bukan ukhuwah Islamiah. Dan tidak pula mengakui setiap ciri yang membedakan manusia, selain ciri iman dan kafir. Oleh karena itu setiap orang kafir yang menentang Islam adalah musuh orang Islam kendati dia bertetangga dan salah seorang dari anggota keluarga, bahkan kendati dia itu saudara kandung sendiri. Sebab Allah telah berfirman:

"Kamu tidak dapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir itu menaruh cinta kepada orang yang ingkar kepada Allah dan RasulNya sekalipun mereka yang ingkar itu ayah-ayah mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka atau keluarga mereka."
(Q. S. Al-Mujadalah: 22)

"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan ayah-ayah kamu dan saudara-saudara kamu sebagai kekasih (ketua), jika mereka itu lebih suka kufurdaripada beriman."
(Q. S. Sat-Taubah: 23)




Tiada Perbedaan Nasab dan Warna Kulit keculi Takwanya

Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa Abu Dzar dan Bilal al-Habasyi saling bercaci-maki sampai memuncak kemarahan-nya. Kemudian Abu Dzar berkata kepada Bilal: Hai anaknya perempuan hitam! Mendengar ucapan itu, Bilal mengadu kepada Nabi. Maka kata Nabi kepada Abu Dzar:
"Hai Abu Dzar, apakah kau caci dia sebab ibunya? Kalau begitu sungguh kamu seorang yang masih diliputi perasaan jahiliah." (HR. Bukhari)

"Dan Abu Dzar, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berkata kepadanya: lihatlah, sesungguhnya engkau tidak lebih baik daripada orang yang berkulit merah dan tidak pula lebih dan orang yang berkulit hitam, melainkan kamu lebihkan dirimu dengan taqwallah."
(HR. Ahmad)

"Semua kamu keturunan Adam, sedang Adam dicipta dari tanah."
(HR. Bazzar)

Dengan demikian, Islam mengharamkan setiap muslim berjalan mengikuti perasaan jahiliah, dalam persoalan menyombongkan diri karena nasab dan keturunan, karena ayah dan datuk. Seperti apa yang biasa dikatakan oleh satu sama lain: saya anak si anu, saya keturunan anu, sedang engkau asal dari keturunan anu. Saya berkulit putih sedang engkau hitam. Saya orang Arab sedang engkau bukan orang Arab. Apa nilai keturunan ini kalau mereka itu semua juga berasal dari satu keturunan? Misalkan nasab itu mempunyai nilai, tetapi apa kelebihan seseorang atau apa pula dosanya kalau dia berasal dari keturunan ayah ini dan ayah itu?
Rasulullah pernah bersabda:

"Sesungguhnya nasab-nasabmu ini bukan menjadi sebab kamu boleh mencaci kepada seseorang; kamu semua adalah anak-cucu Adam........ Tidak ada seorangpun yang melebihi orang lain, melainkan karena agama dan taqwanya."
(HR. Ahmad)

"Manusia seluruhnya berasal dan Adam dan Hawa. Sedang Allah tidak menanyaimu tentang keturunanmu dan nasabmu nanti pada hari ki'amat; sesungguhnya semulia-mulia kamu di hadapan Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu." (HR. lbnu Jarir)

Rasulullah SAW telah menumpahkan kemarahannya kepada orang-orang yang menyombongkan diri lantaran ayah dan datuk-datuknya, dengan ungkapan yang tajam dan menggetarkan hati. Beliau mengatakan:

"Hendaklah orang-orang yang menyombongkan ayah-ayahnya yang sudah mati itu mau berhenti. Mereka yang demikian itu hanyalah bara neraka. Atau mereka itu lebih rendah di hadapan Allah daripada kumbang yang mengguling-gulingkan tahi dengan hidungnya; Allah telah menghapuskan kesombongan jahiliah dan kecongkakannya lantaran ayah. Seseorang ada yang beriman dan bertaqwa, dan ada juga yang durhaka dan celaka; manusia seluruhnya anak-cucu Adam, sedang Adam dibuat dari tanah." (HR. Abu Daud, Termizi dan Baihaqi dengan sanad hasan)

Hadis ini merupakan satu peringatan kepada orang-orang yang menganggap besar lantaran nenek-moyangnya dulu adalah keturunan raja-raja dan kaisar. Mereka yang demikian itu hanyalah bara neraka jahanam, seperti penegasan Rasulullah SAW di atas.
Dalam Haji Wada' yang dihadiri oleh beribu-ribu manusia yang ingin mendengarkan tentang Islam di bulan haram dan di tanah haram, Rasulullah SAW pernah menyampaikan pidatonya yang dikenal dengan Khuthbatul Wada' (khutbah perpisahan). Dalam khutbah itu Rasulullah menegaskan beberapa prinsip, yang bunyinya sebagai berikut:

"Hai ummat manusia! Sesungguhnya Tuhanmu hanya-lah satu. Ingatlah Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang lain Arab; tidak pula ada kelebihan bagi orang lain Arab atas orang Arab; tidak juga ada kelebihan orang yang berkulit merah atas orang kulit hitam; dan tidak pula orang kulit hitam atas orang kulit merah, melainkan lantaran taqwa, sebab sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling bertaqwa kepada Allah."


(HR. Baihaqi)




Meratapi Orang Yang Sudah Mati

Di antara tradisi yang diberantas oleh Islam, yaitu tradisi jahiliah yang berkenaan dengan masalah kematian, misalnya: meratap. teriak-teriak dan berlebih-lebihan dalam melahirkan kesusahan dan kedukaan.
Islam mengajar ummatnya, bahwa mati hanyalah sekedar pindah dari satu tempat ke tempat lain, bukan musnah sama sekali, tidak pula hilang begitu saja. Sedang duka tidak dapat menghidupkan orang yang sudah mati dan tidak dapat menolak takdir Allah. Oleh karena itu setiap mu'min harus menerima kematian ini sebagaimana halnya menerima musibah, yaitu harus sabar dengan mencari keridhaan Allah serta mengambil suatu pelajaran dengan mengharapkan pertemuan abadi di akhirat, sambil mengulang-ulang kalimat inna lillahi wainna ilaihi raji'lin (sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nyalah kami akan kembali). Adapun apa yang diperbuat oleh orang-orang jahiliah, adalah mungkar dan haram yang tidak diakui oleh Rasulullah SAW sebagaimana sabdanya:

"Tidak termasuk golongan kami orang yang menampar pipi dan merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliah." (HR. Bukhari)

Tidak halal seorang muslim memakai tanda khusus untuk berkabung atau tidak berhias atau mengganti pakaian luka dan sedih. Kecuali isteri karena ditinggal mati oleh suaminya, dia harus melakukan berkabung selama empat bulan sepuluh hari guna memenuhi hak suami dan demi ikatan suci yang telah menghubungkan antara keduanya sehingga dia tidak menampakkan perhiasan dan tidak menjadi sasaran mata orang-orang yang hendak meminangnya selama dalam iddah itu. Yang oleh Islam dianggap sebagai melanjutkan beberapa hak suami dalam perkahwinannya yang telah terdahulu dan sebagai anyaman atas perkawinan yang lalu. Tetapi kalau yang mati itu kebetulan bukan suami, misalnya ayah, anak atau saudara, maka tidak halal seorang perempuan berkabung lebih dari tiga hari.
Zainab binti Abu Salamah meriwayatkan dari Ummu Habibah isteri Nabi SAW ketika ayahnya, Abu Sufyan meninggal dunia. Dia juga meriwayatkan dari Zainab binti Jahsy ketika saudaranya yang laki-laki meninggal dunia. Kedua isteri Nabi ini tidak memakai wangi-wangian, kemudian ia berkata: "Demi Allah, saya tidak lagi memerlukan wangi-wangian, namun saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak halal seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkabung karena kematian, lebih dari tiga malam, kecuali atas kematian suami, maka harus berkabung empat bulan sepuluh hari."
(Riwayat: Bukhari)

Berkabungnya isteri karena meninggalnya suami adalah wajib yang samasekali tidak boleh diabaikannya, sebab ada satu riwayat sebagai berikut:

"Telah datang seorang perempuan kepada Nabi SAW kemudian ia berkata: sesungguhnya anak perempuanku ditinggal mati oleh suaminya dan matanya menjadi bengkak (karena menangis), apakah boleh saya suruh dia memakai celak? Maka jawab Rasulullah: Tidak! Dua kali atau tiga kali, tiap kali ditanya selalu menjawab tidak."
(HR. Bukhari dari Ummu Habibah)

Ini menunjukkan, haramnya berhias dalam waktu yang telah ditentukan. Adapun susah tanpa melewati batas dan menangis tanpa
teriak-teriak, termasuk masalah fitrah (pemb'awaan). Oleh karena itu tidaklah berdosa.

Diriwayatkan, bahwa Umar lbnul-khattab pernah mendengar sementara perempuan menangis karena kematian Khalid bin al-Walid, kemudian ada sementara orang laki-laki yang hendak melarangnya, maka kepada si laki-laki tersebut, Umar berkata: "Biarkanlah dia menangis karena kematian Abu Sulaiman ini (Khatid bin Walid), selama tangisnya itu tidak menabur-naburkan debu di atas kepalanya dan tidak teriak-teriak."

Sumber: HALAL DAN HARAM DALAM ISLAM, Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi
avatar
voorman
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 155
Kepercayaan : Islam
Location : voorwagens
Join date : 23.05.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: merasa bernasib sial

Post by sungokong on Thu Jun 27, 2013 5:47 am

Arti Tathayyur

Tathayyur (baca; tatoyur yakni merasa sial ketika melihat jenis burung tertentu atau selainnya), sebagaimana dikatakan al Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berasal dari kata thiyarah atau tiirah akar kata (mashdar) dari kata tathayyara, sebagaimana kata takhayyara mashdarnya khiyarah.

Asal-usul Tathayyur

Asal usul tathayyaur (dalam kehidupan Arab), bahwa pada masa jahiliyah orang orang mengandalkan arah terbangnya burung. Jika salah seorang dari mereka akan keluar rumah untuk suatu urusan maka apabila melihat burung terbang ke arah kanan mereka merasa beruntung dan melanjutkan perjalanan. Jika melihat burung terbang ke arah kiri maka mereka beranggapan sial dan membatalkannya. Terkadang juga mereka sengaja melepaskan burung lalu di lihat ke mana arah terbangnya kemudian dari situ ia menentukan sikap.

Tathayyur dalam Lintasan Sejarah

Sejarah tathayyur sudah ada smenjak dahulu kala, sudah lama orang-orang mempunyai anggapan bahwa kesialan itu dapat disebabkan oleh adanya makhluk tertentu yang menurut mereka membawa sial.
Kaum Tsamud juga telah bertathayyur, mereka merasa sial dengan keberadaan Nabi Shalih di tengah-tengah mereka, sebagaimana firman Allah swt,

Mereka menjawab:"Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu".Shaleh berkata:"Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji". (QS. an-Naml: 47)
Demikian pula dengan Bani Israil, sebagaimana firman Allah dalam surat al A'raf 130-131.

Tathayyur terus berlanjut hingga pada masa Arab Jahiliyah dengan berbagai macam bentuknya. Diantara mereka ada yang beranggapan sial dengan adanya jenis burung tertentu, bagaimana cara terbangnya, atau dengan angin, bintang ataupun dengan suara orang serta binatang tertentu.
Setelah Nabi saw diutus dengan membawa wahyu maka beliau jelaskan bahwa kepercayaan tathayyur tersebut adalah batil. Rasulullah saw bersabda, artinya,

“Tidak ada thiyarah (sial karena burung) dan tidak ada kesialan (karena makhluk tertentu)."
Beliau menjelaskan bahwa kepercayaan semacam ini timbul hanya berdasarkan persangkaan orang-orang (sama sekali tidak mempunyai dasar yang masuk akal,red). Beliau ajarkan bahwa apa yang mereka peroleh atau apa yang menimpa mereka tidak lain karena (takdir) yang telah ditetapkan Allah untuknya.

Tathayyur di Masa Kini

Di masa kini pengaruh- pengaruh tathayyur masih begitu kental dan terasa, terbukti dengan semakin marak dan menjamurnya paranormal alias dajjal yang mengklaim mengetahui perkara ghaib. Diantara mereka ada yang meramal dengan bintang, membaca telapak tangan ataupun dengan cara lainnya yang pada dasarnya merupakan pelecehan terhadap keberadan akal manusia.

Tak ketinggalan negara- negara yang katanya disebut sebagai negara maju, modern atau negara industri, dimana mereka lebih menyandarkan kepada hal-hal yang bersifat materi dan logika (akal) ternyata masyarkatnya banyak yang lari kepada dukun dan tukang ramal, bahkan hal itu telah menjadi keyakinan yang menancap pada kebanyakan masyarakatnya.

Tak terhitung para petinggi dan pejabat pemerintahan yang datang menghadap "orang pinter" dan tukang ramal baik yang pria maupun wanita, baik ke tempat praktek mereka, ataupun dalam event dan acara-acara yang disiarkan oleh berbagai media. Dan terbukti bahwa mereka yang datang rata-rata terpengaruh dan membenarkan apa saja yang diucapkan oleh sang paranormal. Yang demikian ini juga terjadi di negara-negara Amerika dan Eropa.

Dalam hal ini ada sebuah berita yang dikeluarkan oleh sebuah kantor berita di London bahwa mantan presiden AS Ronald Reagen bukanlah merupakan satu-satunya orang yang mengangkat penasehat dari kalangan dukun dalam membantu mengurus negaranya. (Diterbitkan dalam koran al Qabas (Kuwait) edisi 22 Mei 1998, tentang dunia sihir dan paranormal oleh Dr Sulaiman al Asyqar)

Sementara di Perancis telah diadakan sensus bahwa lebih dari sepuluh juta penduduk Perancis mendatangi paranormal dan tukang ramal secara rutin. Fenomena ini menyebar pada seluruh strata dan kelompok masyarakat mulai dari para petinggi negara hingga tukang sampah. Salah satu hal yang menggiring itu adalah banyak perpustakaan yang dipenuhi dengan buku-buku ramalan bintang dalam setiap penghujung tahun, mereka ingin tahu berbagai peristiwa yang bakal terjadi pada tahun berikutnya.

Telah menjadi kebiasaan orang-orang Prancis pada tiap akhir tahun mereka menunggu terbitnya buku-buku yang memuat ramalan-ramalan tukang tenung, terutama seorang peramal wanita yang dikenal dengan Elizabet Teisyih, yang presiden Faranso Mitaran banyak bertanya kepadanya, meminta petunjuk terhadap permasalahan yang dihadapinya.(Koran asy Syarq al Ausath no 8003 Jum'at 30-7-1421 H)

Di beberapa negara maju marak juga model perdukunan yang disebut dengan melihat bola kristal. Dimana sang penyihir komat-kamit mulutnya seraya membaca mantera dihadapan bola itu, lalu mendengarkan apa yang dibisikkan oleh setan, setelah itu memberitahukan bisikan setan itu kepada orang lain (pasiennya).

Salah satu bukti yang menunjukkan mendunianya paranormal, khurafat dan keyakinan batil terutama di negara yang mengaku maju adalah apa yang terdapat dalam uang dolar Amerika bergambar mata, yang dimaksudkan untuk menolak mata yang dengki (ain). (lihat 'Alamus sihri wa asy syu'udzah hal 65, Dr Sulaiman al Asyqar)

Orang-orang barat juga punya keyakinan bahwa angka tertentu merupakan pembawa sial, jika memiliki angka itu maka mereka berasumsi bahwa sial bakal menimpa. Diantara angka "keramat" itu adalah angak tiga belas (13), sehingga salah satu maskapai penerbangan internasional mambuang angka tersebut dari tempat duduk di dalam pesawat.

Demikian juga penduduk New Zealand, mereka juga beranggapan sial dengan angka tiga belas sehingga mereka tidak menulisnya pada apa-apa yang mereka miliki. Dan dengan sebab tidak dipakainya angka tiga belas ini sering terjadi kesalahpahaman di dalam berbagai pelayanan umum sebagaimana diungkapkan oleh para wartawan mereka. (koran New Zealand Hirald edisi 12-10-1420 H/19-1-2000 M, disiarkan juga oleh kantor berita reuters dan diterbitkan dalam koran ar Riyadh Kamis 13/10/1420).

Setelah diperhatikan maka diketahui bahwa angka tiga belas ternyata merupakan angka keramat (angka apes dan sial) bagi paranormal dan tukang ramal, dan ini menunjukkan bahwa tathayyur memiliki kaitan yang sangat erat dengan dunia perdukunan.

Di Eropa, jumlah paranormal dan peramal mancapai jutaan baik yang pria maupun wanita. Di Paris, ibu kota Perancis ada lebih dari dua puluh lima ribu juru nujum pria dan wanita. (Majalah Express, Perancis). Disana juga diadakan kontes paranormal dan juru nujum dengan skala internaisonal, tentunya untuk apa lagi kalau bukan mencari pelanggan.

Dalam kaitan pergantian milenium baru (th 2000) lalu beberapa paranormal kesohor meramalkan bahwa tahun 2000 merupakan tahun kehancuran alam semesta, ada lagi paranormal yang mengatakan bahwa pada tahun itu matahari akan meledak dan itu tersebar melalui beberapa pemberitaan media di dunia. Maka banyak penduduk dunia yang begadang pada malam pertama tahun itu (pergantian tahun) seraya menahan nafas menunggu apa yang bakal terjadi dengan alam ini. Namun apa yang terjadi, semua hanya dusta belaka.

Ramalan semacam ini sebenarnya hanya mengadopsi dari paranormal di masa lalu. Pada tahun 999 terdapat ramalan yang menyebutkan bahwa tahun 1000 akan terjadi peristiwa demikian dan demikian. Maka akibat ramalan itu, penduduk Eropa berbondong-bondong keluar menuju Baitul Maqdis, dengan harapan agar akhir kehidupan mereka berada di tempat yang suci. (at Tanabbu' bil ghaib, Ahmad asy Syantanawi, terbitan Dar al Ma'arif Mesir)

Bentuk-bentuk Tathayyur

Hampir dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari masih kita dapati adanya unsur tathayyur, baik disadari atau tidak.Dan aspek yang terbesar adalah tathayyur dan anggapan sial dalam hal yang berkaitan dengan sakit, kematian serta penghasilan atau rejeki. Dan nyata sekali bahwa antara tathayyur dengan dunia paranormal dan perdukunan memilki kaitan sangat kuat yang saling mendukung satu dengan lainnya.

Ada diantara dukun itu yang meramal nasib dengan membaca telapak tangan. Ada pula bentuk ramalan dengan kartu, demikian juga yang banyak terpampang di halaman berbagai majalah atau koran berupa ramalam bintang (zodiak). Majalah dan koran semacam ini telah memberikan andil dalam penyebaran khurafat. Para artis dan penyayi pun tak ketinggalan sering mengungkapkan masalah masalah semisal, seperti dirinya berada dibawah naungan zodiak ini, sehingga dalam keseharian harus begini, pantangannya adalah ini dan itu.

Ada pula sebagian orang atau pengusaha yang apabila kedatangan tamu dengan ciri fisik tertentu maka dia merasa sial sehingga menutup toko atau kantornya takut rugi dan terkena musibah. Sebagian yang lain merasa sial dengan nomer atau angka tertentu seperti angka 13 atau angka 3 dan ada pula orang yang merasa sial apabila melihat cermin yang pecah.

Ada pula bentuk tathayyur yang merupakan warisan kaum Yahudi, yakni merasa sial apabila melihat wanita yang sedang dalam masa ‘iddah atau haidh. Ada juga sebagian masyarakat yang bertathayyur dengan burung gagak atau burung hantu (dan burung perkutut, red).
Tak ketinggalan orang rafidhah (syi'ah), mereka merasa sial dengan angka sepuluh. Menurut penjelasan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa orang syiah membenci angka sepuluh disebabkan kebencian mereka terhadap shahabat pilihan yaitu sepuluh shahabat yang dijamin masuk surga. (lihat Minhaj as Sunnah an Nabawiyah 1/38-39).

Walhasil masih banyak masyarakat di belahan bumi ini yang meyakini tathayyur, dan ini merupakan peluang emas bagi para dukun dan dajjal yang sering dianggap sebagai “orang pinter” untuk terus dan asyik menjalankan profesinya, “membodohi orang”.
Islam telah mengingkari adanya tathayyur, dan jika dengan sebab tathayyur ini seorang muslim lantas medatangi dukun maka dia berhadapan dengan dua ancaman, tidak diterima shalatnya empat puluh hari atau yang lebih fatal lagi dicap kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad saw. Wallahu a’lam.

Diringkas dan disadur dengan bebas dari kitab “at-Tasya’um wa at-Tathayyur fi hayatin naas, Khalid bin Abdur Rahman asy-Syayi’
avatar
sungokong
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 154
Kepercayaan : Islam
Location : gunung hwa kwou
Join date : 04.05.13
Reputation : 3

Kembali Ke Atas Go down

Re: merasa bernasib sial

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik