FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

rekomendasi dan pigura

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

rekomendasi dan pigura

Post by keroncong on Thu Apr 12, 2012 12:46 am

Dalam perang kemerdekaan tahun 1857, Mirza Ghulam Ahmad
sudah menjadi seorang pemuda yang tampan; usianya sekitar 22
tahun. Dengan demikian ia sudah dapat menjadi saksi yang
baik atas karier para sesepuh-sesepuhnya, dalam pergolakan
tahun 1857 dan tahun-tahun sesudahnya.

Sejarah Islam telah menggarisbawahi peristiwa-peristiwa
kekejaman Inggris dan pasukan-pasukan sewaannya terhadap
kaum Muslimin dalam perang kemerdekaan itu. Kehadiran
Inggris bagi Muslimin India merupakan musibah besar yang
kedua, sesudah musibah besar yang pertama yang dibuat kaum
Sikh masih berlangsung terus. Mengulangi kembali peristiwa
kebiadaban Inggris dan pion-pionnya terhadap kaum Muslimin
akan memudahkan pendekatan yang akrab pada keluarga Mirza
Ghulam Ahmad.

Adapun peristiwa-peristiwa yang tersebut di bawah ini
hanyalah gambaran kecil dari penderitaan yang dialami kaum
muslimin India; Penyair Urdu yang mashur, Asadullah Khan
Ghalib yang menjadi saksi atas kebuasan Inggris menulis:

"Delhi, aku saksikan menjadi lautan darah, hanya
Tuhanlah yang mengetahui apa yang masih ada padaku. Aku
kehilangan saudaraku, kehilangan sahabat-sahabatku
terdekat, kehilangan saudara-saudara seagama. Ribuan
ummat Muhammad telah binasa di atas tiang gantungan,
maupun berserakan di segala penjuru Delhi. Siapa lagi
yang akan kuingat, aku tidak punya apa-apa.
Segala-galanya telah sirna, siapa pula yang akan
menangisi kematianku. Orang-orang kulit putih itu masuk
dan menembak mati siapa saja yang mereka jumpai. Tidak
memilih anak-anak maupun wanita-wanita."

Zahir Dehlvi menulis dalam Dastani Gadar:

"Tentara Inggris menembak siapa saja yang mereka
jumpai.Seorang penulis kenamaan, Mian Muhammad Amin
Panjakush, seorang Ulama, Moulvi Imam Buksh Sabhin
bersama-sama dua puteranya dan Miar Niaz Ali bersama
1400 orang penduduk Kucha Cholan telah ditembak mati
semua. Mayat-mayat mereka dilemparkan ke dalam sungai
Jamuna."

Griffiths, seorang peninjau Inggris ketika melihat Delhi
binasa, menulis:

"Suatu bencana yang mengerikan telah terjadi; sungguh
sulit untuk dibayangkan, sungguh sulit untuk dilupakan
kota yang semula penuh sesak oleh manusia, kini hening
sunyi-sepi. Tidak terdengar suara kecuali suara riuh
burung di angkasa berputar kemudian turun di atas
tumpukan mayat-mayat itu. Setiap orang yang lewat, akan
terasa sesak dada nafas tersumbat"

Beatrice Pitney Lamb menulis peristiwa berdarah 1857 itu
sebagai berikut:

"Tentara Inggris berbuat apa saja demi kepuasan
nafsu,iblisnya. Ribuan kaum Muslimin mati digantung
tanpa diadili, tanpa alasan apapun. Yang paling
mengerikan ialah ketika mulut-mulut meriam didekatkan
pada tubuh-tubuh mereka kemudian meledakkannya."

Thompson dan Garrat menceritakan ketika tentara jenderal
Wilson dan tentara berkuda jenderal Hudson menguasai Delhi,
pasukan Inggris ini telah:

"Melakukan penghinaan yang keji dan pembunuhan yang
ngeri. Mereka telah menyemir tubuh kaum muslimin dengan
lemak babi, kemudian menutupi tubuh mereka dengan kulit
babi. Kaum Hindu yang ikut menyaksikan atraksi-atraksi
tersebut mendapat kesempatan leluasa untuk mencemarkan
tubuh kaum muslimin dengan kotoran-kotoran najis.
Akhirnya tubuh-tubuh yang tidak berdaya itu dibakar
hidup-hidup sampai mati."

Demikian contoh kehancuran Delhi, kehancuran Muslimin di
kota itu, merupakan gambaran dari kehancuran di seluruh
negeri. Sisa dari kaum muslimin berada dalam penjara hidup
yang menyedihkan. Inggris telah memutuskan untuk
menghancurkan seluruh struktur kehidupan kaum Muslimin
sampai ke akar-akarnya. Bangsa Inggris itu mendapat bantuan
dari pasukan-pasukan sewaannya. Kaum Sikh yang dikalahkan
Inggris pada tahun 1848 itu, pada perang kemerdekaan tahun
1857, telah berjasa besar pada tuannya. Mereka bertempur
mati-matian di sisi Inggris menghancurkan kaum Muslimin.

Bagaimana dengan keluarga Mirza Ghulam Ahmad, dimanakah
mereka berada tatkala jihad Akbar 1857 itu sedang
berkecamuk? Sejarah Islam tidak sulit untuk menemukan mereka
di arena perjuangan yang dahsyat itu. Mereka, keluarga Mirza
Ghulam Ahmad ini diketemukan di tengah-tengah perjuangan
yang hebat itu sebagai anggauta pasukan sewaan Inggris yang
berani mati. Dengan perasaan bangga Ahmadiyah menceritakan
keberanian mereka itu. Putera Mirza Ghulam Ahmad,
Bashiruddin Mahmud Ahmad berkata:

"Pada waktu pengepungan Delhi, Imanuddin, salah seorang
dari keluarga Mirza Ghulam Ahmad, menjadi kepala
pasukan dalam tentara berkuda jenderal Hudson,1 dan
bapaknya yang bernama Ghulam Muhyiddin menjabat
Wedana."

Demikian tubuh yang mengalir darah, didalamnya terdapat noda
yang kekal. Keluarga Mirza Ghulam Ahmad memiliki noda yang
kekal itu. Mereka telah berbakti pada kaum musyrikin Sikh,
dan kini mereka pindah berbakti pada musyrikinInggris,
bahu-membahu dengan sesama bangsa dari golongan Sikh
membinasakan kaun Muslimin yang diakui sebagai sesama
saudaranya.

Bashiruddin Mahmud Ahmad menceritakan bahwa dalam
pemberontakan tahun 1857 itu, keluarga ini menjalankan
pekerjaan yang patut dipuji pula. Ghulam Murtaza memasukkan
banyak orang dalam tentara, dan anaknya yang bernama Ghulam
Kadir ikut dalam tentara General Nicholson di Trimughat
waktu melawan pemberontakan dari 46 Native infantry yang
melarikan diri dari Sialkot.2

Jenderal Nicholson telah memberikan satu surat kepada Ghulam
Kadir yang menyatakan bahwa dalam tahun 1857, keluarganya di
Qadian distrik Gurdaspur betul-betul telah membantu dan
setia kepada pemerintah lebih dari keluarga-keluarga lain
dalam daerah itu.3

Selanjutnya Bashiruddin bercerita, bahwa Ghulam Kadir putra
dari Ghulam Murtaza, saudara Mirza Ghulam Ahmad, mempunyai
banyak surat-surat pujian dari pemerintah.4 Sesudah
memperoleh surat-surat dan pigura-pigura penghargaan dari
majikannya, keluarga Mirza Ghulam ini mendapat
perangsang-perangsang yang lumayan. Gulam Murtaza dan
saudara-saudaranya memperoleh hak pensiun sebesar 700 rupe,
dan hak milik atas Qadian dan beberapa kampung sekitar
Qadian kemudian memperoleh hak menarik pajak sebesar 5% atas
daerah-daerah itu.5

Demikian kisah pengabdian yang mengharukan dari keluarga
Mirza Ghulam Ahmad, diceritakan sendiri oleh puteranya
Bashiruddin Mahmud Ahmad. Satu kali lagi pengkhianatan
terhadap saudara-saudaranya kaum Muslimin, pengkhianatan
terhadap Islam, pengkhianatan terhadap ALLAH dan RASUL-NYA.
Mungkinkah dari keluarga yang berkhianat itu, muncul seorang
Al-Mahdi, Al-Masih yang dijanjikan seorang Nabi atau Rasuli!

Catatan kaki:
1 Bashiruddin Mahmud Ahmad, Riwayat Hazrat Ahmad a.s.,
hal. 10.
2 idem, hal. 9.
3 idem, hal. 9.
4 idem, hal. 10
5 idem, hal. 12.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik