FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

tafsir QS Al-Ashr versi orang bodoh

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

tafsir QS Al-Ashr versi orang bodoh

Post by pies on Thu Apr 12, 2012 5:06 am

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." [Al-'Ashr : l-3]
dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas, ditegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang orang yang beriman, dan mengerjakan amal shaleh. Dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran, serta nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran. Saya yakin ayat ini ditujukan untuk semua makhluk yang namanya manusia, tanpa kecuali. Orang awam, orang berilmu, orang miskin, pejabat dan ulama, akan berada dalam kerugian apabila mereka tidak beriman, beramal shaleh, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran serta nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran.
( untuk yang lainnya sudah ada pada tafsiran sarudara saya terdahulu....)
lalu…., apa makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas menurut orang-orang pinter…..?
dan…., apa makna fiman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas menurut orang-orang bodoh…..,?
kalau menurut orang pinter, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas pastilah mempunyai makna yang sangat mendalam. Dengan kandungan arti yang akan susah dimengeri oleh seorang bodoh seperti penulis. Tapi kalau menurut orang bodoh, itu adalah sebuah suruhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk beribadah, beramal shaleh, dan nasehat-menasehati. Kalau tidak, maka manusia berada dalam kerugian. Kalau sudah rugi pasti nggak untung. Kalau manusia nggak untung, apa kiranya yang akan kita bawa kelak kemudian hari saat menghadap kepada pemilik alam ini….! Sama halnya ketika seorang suami habis berdagang di pasar. Seandainya dia rugi, apa kira-kira yang bisa dibawa ke rumah….., dan apa kira-kira penerimaan orang rumah….???
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“ hendaklah ada dari antara kamu, segolongan yang mengajak orang-orang kepada bakti, dan menyuruh orang berbuat kebaikan. Dan melarang orang berbuat kejahatan : itulah mereka yang mendapat kemenangan.” ( Al-Imran : 104 )
Sampai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kedua ini maka semakin jelas, bahwa manusia yang menasehati yang lainnya agar menjalankan perintah_Nya dan menasehati yang lainnya agar menjauhi larangan_Nya adalah termasuk orang-orang yang menang. Sedangkan manusia yang tidak nasehat-menasehati dalam menjalankan kebenaran dan menetapi kesabaran adalah termasuk orang yang rugi.
Namun demikian, ada dua poin penting yang dapat orang bodoh ini petik dari kedua firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas. Yang pertama, “hendaklah ada diantara kamu” maka kalimat itu orang bodoh artikan, keharusan itu tidak untuk semua orang, atau dengan kata lain, selama ada yang mau berbuat. Dan yang kedua, belum adanya ancaman seperti halnya hadist dibawah ini. ( nggak tahu kalau memang nggak mengerti atau memang diambil enaknya saja…!)
Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
“apabila manusia melihat perkara yang munkar, tetapi tidak diubahnya, ditakuti bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengumumkan adzab_Nya atas mereka (semua)”. ( H.S.R. Ahmad )
Dan bacalah yang ini….!
Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.” ( H.S.R.Muslim )
Dan menurut orang bodoh, justru hadist inilah yang memberatkan kita semua. Dalam hal menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Apa sebab….?
Yang pertama, dikatakan dalam hadist tadi di atas bahwa, “ siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar” dan ini berarti setiap orang. Dan setiap orang ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." [Al-'Ashr : l-3]
Karena memang ayat-ayat di atas juga berlaku untuk kita semua.
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“ hendaklah ada dari antara kamu, segolongan yang mengajak orang-orang kepada bakti, dan menyuruh orang berbuat kebaikan. Dan melarang orang berbuat kejahatan : itulah mereka yang mendapat kemenangan.” ( Al-Imran : 104 )
Meskipun dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan : “ hendaklah ada dari antara kamu” yang mempunyai arti asal ada ataupun tidak harus semua, tapi pada akhir ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan : “itulah mereka yang mendapatkan kemenangan”. Dan harus kita pahami, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu hanya membuat dua kemungkinan, yaitu menang atau kalah ( tidak ada seri ). Dan…, hanya ada dua tujuan, yaitu surga dan neraka. Kalau yang menang masuk surga, dan yang kalah masuk neraka. Oleh karena itu, kalau kita ingin masuk surga, maka jadilah pemenang. Dan kalau kepengen jadi pemenang, ajaklah orang-orang kepada bakti, suruh orang berbuat kebaikan, dan laranglah orang berbuat kejahatan. Setiap orang, tanpa kecuali.
Mungkin diantara pembaca ada yang berargument seperti ini. “ kenapa juga Allah Subhanahu wa Ta’ala harus mengatakan “ dari antara kamu “ seandainya itu berlaku untuk semua orang….?
Itu mah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala kali…..! Tapi yang pasti, bagi seorang bodoh ( bahkan mungkin kebanyakan umat islam di negara ini ), bukanlah hal yang mudah untuk mengetahui dan menyelami setiap ayat yang terkandung dalam Al-Qur`an (meskipun orang bodoh ini tidak bisa mengelak dari pada keharusan dalam mempelajari dan memahaminya). Tapi ada satu prinsip yang selalu tertanam dalam hati orang bodoh ini, lebih baik melaksanakan sesuatu yang kita anggap paling baik meski belum tentu benar, daripada kita melaksanakan sesuatu yang kita anggap benar ( belum tentu benar ) tetapi bukan yang terbaik. Kecuali kalau kita sudah mempunyai cukup ilmu. Maka mudah-mudahan kita akan mengetahui mana yang benar dan mana yang baik.
Contoh :
Apabila kita menganggap “mencegah kemunkaran itu bukanlah kewajiban setiap manusia”, maka itu adalah bukan pilihan yang terbaik menurut orang bodoh ( meskipun belum tentu salah). Karena, dengan dipilihnya “ mencegah kemunkaran itu bukanlah kewajiban setiap manusia” hanya akan membuahkan resiko yang terlalu mahal harganya. Karena akan menempatkan kita sebagai orang-orang yang rugi seandainya “ mencegah kemunkaran itu adaah kewajiban setiap manusia”. Dan akan menempatkan kita sebagai orang-orang yang kalah seandainya “ mencegah kemunkaran itu adalah kewajiban setiap manusia”.
Bandingkan dengan apabila kita menganggap “ mencegah kemunkaran itu adalah kewajiban setiap manusia”. Maka kita akan jadi pemenang kalau memang “mencegah kemunkaran itu bukan kewajiban setiap manusia”, dan tetep jadi pemenang seandainya “mencegah kemunkaran itu kewajiban setiap manusia”
Dan selain itu, kalau memang “ hendaklah ada diantara kamu” itu mempunyai arti sebagian, maka saya yakin pemimpin akan termasuk ke dalam sebagian tadi. dan itu akan terlihat dari uraian yang kedua di bawah ini, dimana arti sebagian itu benar adanya. Tapi yang musti diingat…., apakah kita termasuk kepada sebagian yang harus beramar ma’ruf nahi munkar ataukah kita termasuk kepada sebagian yang tidak….!!!
Yang kedua, dengan adanya kata-kata “kuasa” maka selayaknyalah setiap orang pasti berkuasa. Hanya tingkatan kuasanyalah yang mungkin berbeda.
Coba kita perhatikan lagi,
“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.” ( H.S.R.Muslim )
Kalau saya perhatikan kebiasaan di masyarakat kita, ada sesuatu yang aneh kalau menurut orang bodoh. Aneh mengenai pilihan yang kita pilih ( bukan orang lain…., kita). Seandainya disuatu daerah ada kemunkaran, maka setiap orang didaerah itu akan memilih opsi selemah-lemahnya iman. Hal itu terjadi untuk semua kalangan. Dari pemuka agama, orang pemerintahan, petugas keamanan dan lain sebagainya. Kita semua dengan senang hati memilih opsi selemah-lemahnya iman yang bukan pilihan terbaik meski belum tentu salah. Mengapa saya katakan itu bukanlah pilihan terbaik…..?
Pertama, seperti yang telah saya utarakan tadi, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menyediakan dua opsi untuk makhluknya. Benar dan salah, kuat dan lemah, surga dan neraka, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, seandainya kita dengan memilih opsi selemah-lemahnya iman berharap masuk surga, lalu…., mau dikemanain yang imannya kuat….? Ke neraka…..?
Kedua, yang namanya kuasa menurut orang bodoh ini bersifat relatif. Kuasa orang yang satu dengan yang lainnya berbeda. Hari ini dia kuasa, besok belum tentu. Kita kuasa terhadap sesuatu, tetapi belum tentu pada sesuatu yang lainnya.
Contoh :
Ketika kita pada keadaan orang kaya bukan, pejabat bukan, orang yang tenaganya kuat juga nggak, orang berilmu apalagi, pokoknya ketika segala kekurangan yang nampak secara manusiawi ada pada kita, maka bolehlah kita mempergunakan opsi selemah-lemahnya iman. Dan sebaliknya, ketika kita pegang senjata, pakai seragam petugas keamanan, pangkat lumayan, ilmu ada, dan kita membiarkan seseorang melakukan kemunkaran dengan alasan opsi selemah-lemahnya iman….., pantaskah…..? kecuali kalau pangkat kita letnan, yang melakukan kemunkarannya jenderal…., barulah opsi selemah-lemahnya iman berlaku…..!! Tapi ingat, kalau kita tahu bahwa sekuat-kuatnya iman itu lebih baik dari selemah-lemahnaya iman, kenapa kita lebih memilih selemah-lemahanya iman….? Hanya orang bodohlah yang memilih sesuatu yang buruk padahal ada yang bagus.
Mungkin para pembaca bertanya, adakah kiranya seorang pembantu yang berani menasehati majikan perempuannya yang tanpa kerudung…? Adakah kiranya seorang bawahan yang berani memberi nasehat atas kemunkaran atasannya….?
Dan jawaban si bodoh seperti ini,
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan bumi dan seisinya dengan seadil-adilnya. Dengan keseimbangan yang nyata antara satu dengan yang lainnya. Setiap manusia akan mendapatkan pahala dan siksa sesuai dengan kadar keadilan dan keseimbangan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala buat. Tidak akan ada satu manusiapun yang dirugikan dalam hal ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya. Dia mendapat ( pahala ) dari ( kebajikan ) yang dikerjakannya dan dia mendapat ( siksa ) dari ( kejahatan ) yang diperbuatnya. ( mereka berdo’a ) “ ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” ( Al-Baqarah : 49 )
Telah saya sebutkan tadi di atas, bahwa kadar kesanggupan seseorang akan berbeda dengan yang lainnya. Hal itu akan sangat bergantung kepada waktu, tempat, watak, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kadar kesanggupan seseorang tidak akan dapat dihitung secara pasti layaknya matematika. Dan yang harus diingat, kadar kesanggupan seseorang hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu.
Coba kita perhatikan lagi hadist di bawah ini,
“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.”
Ketika seorang pembantu tidak berani menasehati majikan perempuannya dalam hal memakai kerudung, memang dia telah mengambil opsi selemah-lenahnya iman. Tapi diambilnya opsi selemah-lemahnya iman oleh pembantu tadi, tidak akan berdampak dosa kepada si pemilih opsi ( pembantu ). Karena memang “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya” dan untuk menjaga terperosoknya pembantu tadi pada opsi selemah-lemahnya iman ( meskipun memang dia sudah memilihnya ) maka dia dapat mengahapuskan opsi itu dengan berdo’a : “ ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” Maka dengan do’a ini, mudah-mudahan si pembantu tadi digolongkan kepada orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Semoga….!
Dan teori ini akan jadi tidak berlaku, dikala kita berhadapan degan orang-orang yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala amanatkan kepada kita, ataupun kekuasaan dan kemampuan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala amanatkan kepada kita sebagai manusia. Dan inilah orang-orang yang akan berdosa jika mereka memilih opsi selemah-lemahnya iman.
Model orang yang pertama adalah, orang-orang yang telah diberi Allah Subhanahu wa Ta’ala seseorang yang berada di bawah kekuasaannya. ( kasat mata duniawi ). Dan ini biasa kita sebut dengan tanggung jawab.
Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
hadist riwayat Ibnu Umar ra, Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam Subhanahu wa Ta’ala saw bersabda “ ketahulilah ! masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpin, seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang isteri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya. Dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.
Inilah beberapa hal penting yang dapat orang bodoh dari pemaparan hadist di atas,
• Setiap individu adalah pemimpin. Setiap individu mempunyai tanggung jawab atas dirinya masing-masing, untuk membawa dirinya sampai pada tujuan hidup sebenarnya. Yaitu mencapai ridho_Nya sang pencipta. Atau dengan bahasa orang bodoh seperti ini : setiap individu harus membingbing dirinya supaya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala larangan_Nya.
Mengapa setiap individu bertanggung jawab atas dirinya…?
Karena memang setiap individu mempunyai kekuasaan atas dirinya masing-masing.
• Seorang raja adalah pemimpin. Dan seorang raja mempunyai tanggung jawab untuk membawa rakyat yang dia pimpin supaya menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala larangan_Nya.
Mengapa seorang raja bertanggung jawab atas rakyatnya….?
Karena memang seorang raja mempunyai kekuasaan atas rakyatnya.
• Seorang suami adalah pemimpin. Dan seorang suami mempunyai tanggung jawab untuk membawa isteri dan anak-anak nya guna menjalankan semua yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala larangan_Nya.
Mengapa seorang suami bertanggung jawab atas isteri dan anak-anaknya…..?
Karena memang seorang suami mempunyai kekuasaan atas isterinya.
• seorang isteri adalah pemimpin. Seorang isteri mempunayai tanggung jawab untuk membawa anak suaminya supaya menjalankan semua yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan_Nya. Dan menjaga dengan baik rumah tangganya supaya sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala swt.
Mengapa seorang isteri bertanggung jawab atas rumah tangga dan anak suaminya…?
Karena memang seorang isteri berkuasa atas rumah tangga dan anak suaminya.
• Seorang budak adalah pemimpin. Seorang budak mempunyai tanggung jawab untuk menjaga harta tuannya. ( pengertiannya berbeda )
Mengapa seorang budak di katakan pemimpin…?
Karena memang seorang budak mempunyai kekuasaan atas harta tuannya. ( meskipun ini masih memerlukan penjelasan yang lebih rinci )
Catatan : arti berkuasa disana adalah kuasa yang mempunyai arti kenyataan dan keseharian kita sekarang. Seperti siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah. Siapa yang diturut dan siapa yang menurut. ( untuk hal-hal baik )
Contoh :
Ketika seorang isteri yang kasat mata dia dihidupi oleh suaminya, sedangkan suaminya itu bukanlah orang baik-baik, maka teori pembantu dalam menghadapi majikannya seperti yang telah saya ceritakan di depan tadi, masih bisa menolong dia dalam hal mempertanggung jawabkan keharusan nasehat-menasehati antar manusia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak. Tapi itu tidak akan berlaku apabila seorang suami menghadapi isterinya yang tidak baik. Tanggung jawab, itulah yang membedakan keduanya. Karena dengan tanggung jawab, menjadikan seseorang yang berkuasa atas seseorang yang lainnya, mempunyai kewajiban ( dosa bila tidak ) untuk menasehati seseorang yang berada di bawah kekuasaannya itu. Karena memang seorang isteri haruslah dibawah kesanggupan seorang suami untuk menasehatinya. Kalau tidak jangan jadi suami….!
Model orang yang kedua adalah, orang yang mempunyai kelebihan atas pemberian ataupun kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak di punyai orang lain. Misalkan, tubuh yang kuat, harta yang banyak, dihormati orang dan lain sebagainya. Yang dengan kesemuanya itu, menjadikan seseorang itu mempunyai kekuasaan atas yang lainnya.
Contoh :
Ketika kita diberi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebuah anugerah berupa dihormati atau bahkan dikagumi orang, maka secara otomatis kita mempunyai kuasa atas mereka yang menghormati dan mengagumi kita. Kita tidak dapat mengambil opsi selemah-lemahnya iman kepada mereka yang menghormati dan mengagumi kita. Menasehati mereka haruslah menjadi kuasa kita, seandainya kita mau digolongkan menjadi orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Begitupun dengan kadar kesanggupan. Jangan sampai kita meletakan kadar kesanggupan kita di bawah kadar kesanggupan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan. Karena kalau sudah begitu ( meletakan kadar kesanggupan di bawah kadar kesanggupan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan ), semua orang akan dengan mudahnya mengatakan tidak sanggup. Guna menjaga diri dan kepentingannya.


pies
KOPRAL
KOPRAL

Male
Age : 43
Posts : 33
Kepercayaan : Islam
Location : sumedang
Join date : 10.12.11
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik