FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

keutamaan kesabaran keluarga si sakit

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

keutamaan kesabaran keluarga si sakit

Post by keroncong on Sat Apr 14, 2012 6:10 am

Keluarga si sakit wajib bersabar terhadap si sakit, jangan
merasa sesak dada karenanya atau merasa bosan, lebih-lebih
bila penyakitnya itu lama. Karena akan terasa lebih pedih dan
lebih sakit dari penyakit itu sendiri jika si sakit merasa
menjadi beban bagi keluarganya, lebih-lebih jika keluarga itu
mengharapkan dia segera dipanggil ke rahmat Allah. Hal ini
dapat dilihat dari raut wajah mereka, dari cahaya pandangan
mereka, dan dari gaya bicara mereka.

Apabila kesabaran si sakit atas penyakit yang dideritanya akan
mendapatkan pahala yang sangat besar --sebagaimana diterangkan
dalam beberapa hadits sahih-- maka kesabaran keluarga dan
kerabatnya dalam merawat dan mengusahakan kesembuhannya tidak
kalah besar pahalanya. Bahkan kadang-kadang melebihinya,
karena kesabaran si sakit menyerupai kesabaran yang terpaksa,
sedangkan kesabaran keluarganya merupakan kesabaran yang
diikhtiarkan (diusahakan). Maksudnya, kesabaran si sakit
merupakan kesabaran karena ditimpa cobaan, sedangkan kesabaran
keluarganya merupakan kesabaran untuk berbuat baik.

Diantara orang yang paling wajib bersabar apabila keluarganya
ditimpa sakit ialah suami atas istrinya, atau istri atas
suaminya. Karena pada hakikatnya kehidupan adalah bunga dan
duri, hembusan angin sepoi dan angin panas, kelezatan dan
penderitaan, sehat dan sakit, perputaran dari satu kondisi ke
kondisi lain. Oleh sebab itu, janganlah orang yang beragama
dan berakhlak hanya mau menikmati istrinya ketika ia sehat
tetapi merasa jenuh ketika ia menderita sakit. Ia hanya mau
memakan dagingnya untuk membuang tulangnya, menghisap sarinya
ketika masih muda lalu membuang kulitnya ketika lemah dan
layu. Sikap seperti ini bukan sikap setia tidak termasuk
mempergauli istri dengan baik, bukan akhlak lelaki yang
bertanggung jawab, dan bukan perangai orang beriman.

Demikian juga wanita, ia tidak boleh hanya mau hidup
bersenang-senang bersama suaminya ketika masih muda dan
perkasa, sehat dan kuat, tetapi merasa sempit dadanya ketika
suami jatuh sakit dan lemah. Ia melupakan bahwa kehidupan
rumah tangga yang utama ialah yang ditegakkan di atas sikap
tolong-menolong dan bantu-membantu pada waktu manis dan ketika
pahit, pada waktu selamat sejahtera dan ketika ditimpa cobaan.

Seorang penyair Arab masa dulu pernah mengeluhkan sikap
istrinya "Sulaima" ketika merasa bosan terhadapnya karena ia
sakit, dan ketika si istri ditanya tentang keadaan suaminya
dia menjawab, "Ia tidak hidup sehingga dapat diharapkan dan
tidak pula mati sehingga patut dilupakan." Sementara ibu sang
penyair sangat sayang kepadanya, berusaha untuk kesembuhannya,
dan sangat mengharapkan kehidupannya. Lalu sang penyair itu
bersenandung duka:

"Kulihat Ummu Amr tidak bosan dan tidak sempit dada
Sedang Sulaima jenuh kepada tempat tidurku dan tempat tinggalku
Siapakah gerangan yang dapat menandingi bunda nan pengasih
Maka tiada kehidupan kecuali dalam kekecewaan dan kehinaan
Demi usiaku, kuingatkan kepada orang yang tidur
Dan kuperdengarkan kepada orang yang punya telinga."

Yang lebih wajib lagi daripada kesabaran suami-istri ketika
teman hidupnya sakit ialah kesabaran anak laki-laki terhadap
penyakit kedua orang tuanya. Sebab hak mereka adalah sesudah
hak Allah Ta'ala, dan berbuat kebajikan atau berbakti kepada
mereka termasuk pokok keutamaan yang diajarkan oleh seluruh
risalah Ilahi. Karena itu Allah menyifati Nabi Yahya a.s.
dengan firman-Nya:

"Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan
bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka." (Maryam:
14)

Allah menjadikannya --yang masih bayi dalam buaian itu--
berkata menyifati dirinya:

"Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku
seorang yang sombong lagi celaka." (Maryam: 32)

Demikian juga dengan anak perempuan, bahkan dia lebih berhak
memelihara dan merawat kedua orang tuanya, dan lebih mampu
melaksanakannya karena Allah telah mengaruniainya rasa kasih
dan sayang yang melimpah, yang tidak dapat ditandingi oleh
anak laki-laki.

Al-Qur'an sendiri menjadikan kewajiban berbuat baik kepada
kedua orang tua ini dalam urutan setelah mentauhidkan Allah
Ta'ala, sebagaimana difirmankan-Nya:

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua
orang ibu bapak..." (an-Nisa': 36)

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik
kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya ..." (al-lsra':
23)

Dalam ayat yang mulia ini Al-Qur'an mengingatkan tentang
kondisi khusus atau pencapaian usia tertentu yang mengharuskan
bakti dan perbuatan baik seorang anak kepada orang tuanya
semakin kokoh. Yaitu, ketika keduanya telah lanjut usia, dan
pada saat-saat seusia itu mereka amat sensitif terhadap setiap
perkataan yang keluar dari anak-anak mereka, yang sering
rasakan sebagai bentakan atau hardikan terhadap keberadaan
mereka. Kata-kata yang mempunyai konotasi buruk inilah yang
dilarang dengan tegas oleh Al-Qur~an:

"... Jika salah seorang diantara keduanya atau
kedua-duanya sampai ke umur lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku,
kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua
telah mendidik aku waktu kecil.'" (al-Isra': 23-24)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa beliau
berkata, "Kalau Allah melihat ada kedurhakaan yang lebih
rendah daripada perkataan 'uff (ah), niscaya diharamkan-Nya."

Ungkapan Al-Qur'an "sampai ke usia lanjut dalam
pemeliharaanmu" menunjukkan bahwa si anak bertanggung jawab
atas kedua orang tuanya, dan mereka telah menjadi
tanggungannya. Sedangkan bersabar terhadap keduanya --ketika
kondisi mereka telah lemah atau tua-- merupakan pintu yang
paling luas yang mengantarkannya ke surga dan ampunan; dan
orang yang mengabaikan kesempatan ini berarti telah
mengabaikan keuntungan yang besar dan merugi dengan kerugian
yang nyata.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda:

"Merugi, merugi, dan merugi orang yang mendapat kedua
orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau
kedua-duanya, lantas ia tidak masuk surga."57 (HR Ahmad
dan Muslim)58

Juga diriwayatkan dalam hadits lain dari Ka'ab bin Ujrah dan
lainnya bahwa Malaikat Jibril pembawa wahyu mendoakan buruk
untuk orang yang menyia-nyiakan kesempatan ini, dan doa Jibril
ini diaminkan oleh Nabi saw.59

Sedangkan yang sama kondisinya dengan usia lanjut ialah
kondisi-kondisi sakit yang menjadikan manusia dalam keadaan
lemah dan memerlukan perawatan orang lain, serta tidak mampu
bertindak sendiri untuk menyelenggarakan keperluannya.

Jika demikian sikap umum terhadap kedua orang tua, maka secara
khusus ibu lebih berhak untuk dijaga dan dipelihara
berdasarkan penegasan Al-Qur'an dan pesan Sunnah Rasul.

Allah berfirman:

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik
kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya mengandungnya
dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah
(pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga
puluh bulan ..." (al-Ahqaf: 15)

"Dan Kami perintahkan manusia (berbuat baik) kepada dua
orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua
orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."
(Luqman: 14)

Imam Thabrani meriwayatkan dalam al-Mu'jamush-Shaghir dari
Buraidah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw., lalu
ia berkata:

"Wahai Rasululah, saya telah menggendong ibu saya di
pundak saya sejauh dua farsakh melewati padang pasir
yang amat panas, yang seandainya sepotong daging
dilemparkan ke situ pasti masak maka apakah saya telah
menunaikan syukur kepadanya?" Nabi menjawab, "Barangkali
itu hanya seperti talak satu."60

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Umar bin
Khattab, "Ibuku sangat lemah dan tua renta sehingga tidak
dapat memenuhi keperluannya kecuali punggungku ini telah
menjadi hamparan tunggangannya --dia berbuat untuk ibunya
seperti ibunya berbuat untuk dia dahulu-- maka apakah saya
telah melunasi utang saya kepadanya?" Umar menjawab,
"Sesungguhnya engkau berbuat begitu terhadap ibumu, tetapi
engkau menantikan kematiannya esok atau esok lusa; sedangkan
ibumu berbuat begitu terhadapmu justru mengharapkan engkau
berusia panjang."

Selain itu, tanggung jawab keluarga terhadap si sakit
bertambah berat apabila ia tidak punya atau kehilangan
kelayakan untuk berbuat sesuatu, misalnya anak kecil --apalagi
belum sampai mumayiz-- atau seperti orang gila, yang
masing-masing membutuhkan perawatan ekstra dan penanganan yang
serius. Karena orang yang mumayiz dan berpikiran normal dapat
meminta apa saja yang ia inginkan dapat menjelaskan apa yang
ia butuhkan, dapat minta disegerakan kebutuhannya bila
terlambat, dan dapat memuaskan orang yang mengobati atau
merawatnya.

Sedangkan anak kecil, orang gila, dan yang sejenisnya, maka
tidak mungkin dapat melakukan hal demikian. Karena itu
berlipatgandalah beban keluarganya. Dengan demikian, mereka
harus benar-benar menyadari kondisi kesehatannya dan
mengusahakan pengobatannya, sehingga terkadang harus
membawanya ke dokter, memasukkannya ke rumah sakit, atau
hal-hal lain yang tidak dapat dibatasi.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik