FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Mirza Ghulam tokoh jelmaan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Mirza Ghulam tokoh jelmaan

Post by keroncong on Sat Apr 14, 2012 6:14 am

Lebih banyak lagi kita mengenal tumpukan pangkat, gelar
maupun ibarat-ibarat yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, maka
kita akan lebih meyakini letak hakiki dari tokoh Ahmadiyah
itu dalam sejarah Islam. Tidak lebih kalau kita mengumpulkan
seluruh pangkat yang ada dalam sejarah kerohanian semua
Agama, maka Mirza Ghulam Ahmad merupakan juara, baik sebagai
kolektor maupun sebagai pemilik dari hasil-hasil koleksinya
itu. Ia berkata tentang dirinya:

"Akulah hajar aswad yang dimiliki bumi ini, aku dicium
ummat manusia guna memperoleh berkahnya."1

Selanjutnya Mirza mengaku sebagai khalifah akhir zaman,2
juga bergelar sebagai Guru Jagat3 yakni guru bagi seluruh
ummat manusia. Karena sifatnya yang meliputi, maka Mirza
Ghulam Ahmad mengambil langkah-langkah baru agar dapat
memperoleh simpati dari ummat Hindu dan Buddha. Untuk ini
Mirza Ghulam berkata:

"Sebagaimana kita ketahui di negeri India, seorang nabi
telah lama pergi beberapa abad yang silam, yakni yang
dikenal dengan nama: Krishna. Ia juga dipanggil,
Ruvaddar Gowpal, si perusak sekaligus juga si
pembangun, nama itu semua juga diberikan padaku. Sejak
waktu itu bangsa Arya menanti-nanti kedatangan kembali
sang Kreshna. Maka ketahuilah, aku inilah Sang Kreshna.
Tuhan telah memberi kabar padaku bahwa Kreshna yang
sedang dinanti-nantikan kedatangannya itu, tidak lain
adalah aku raja bangsa Aryan."4

Mirza Ghulam Ahmad menerangkan bahwa dari gelarnya sebagai
Ruvaddar yakni si perusak tidak lain bahwa ia adalah orang
yang akan membunuh musuh-musuhnya dengan dalih serta
alasan-alasan yang kuat. Dengan pengertian yang demikian
itu, maka Mirza Ghulam Ahmad telah merobah makna asal
daripada kata-kata Ruvaddar atau sang Perusak sebagaimana
yang terdapat dalam agama Hindu.

Kedudukannya sebagai raja bangsa Aryan dan sekaligus sebagai
Kreshna, menurut Ahmadiyah telah dinubuwatkan dalam kitab
suci kaum Hindu, dimana dikatakan bahwa akan datang kelak
seorang Autar yang mempunyai spirit dan martabat seperti
Kreshna, atau sebagai buruz dari padanya, dan sudah
dipastikan, demikian Mirza Ghulam, bahwa aku inilah sang
Kreshna.

Untuk lebih meyakinkan terhadap kedudukannya itu, putera
Mirza, Bashiruddin M.A. pernah mengatakan bahwa Tuhan
sendirilah yang mewahyukan pada Mirza bahwa ia adalah
Kreshna. Antara lain Tuhan menurunkan wahyu:

"Engkau ya Mirza adalah Kreshna, namaku telah
dinyanyikan dalam kitab suci Gita."5

Peristiwa diatas tersebut, yakni turunnya wahyu pada Mirza
sebagai sang Kreshna, mempunyai keistimewaan yang perlu
digarisbawahi. Mula-mula Tuhan sendirilah yang mengabarkan
bahwa dalam kitab suci Gita pujian terhadap Mirza telah
dinyanyikan. Dan yang menarik lagi bahwa wahyu di atas
disampaikan pada Mirza Ghulam oleh Tuhan, dalam bahasa
India. Maka tidak ragu-ragu lagi kalau orang-orang India
akan meyakini kabar tersebut! Dengan kata lain, Mirza Ghulam
Ahmad maupun puteranya dan alirannya ingin menunjukkan sikap
berbaik hati dan bertoleransi bahkan telah beriman pula
terhadap kitab suci kaum Hindu. Bukankah Tuhan Mirza alias
Tuhannya ummat Islam, yang menyebut-nyebut "Gita," kitab
suci orang-orang Hindustan itu? Apakah Ahmadiyah akan
mengatakan bahwa Tuhannya Mirza juga menyebut-nyebut nama
kitab suci golongan Kristen, yakni kitab Beibel untuk
kepentingan Mirza Ghulam?

Mungkin kalau Mirza Ghulam yang berkompromi dengan kaum
Hindu, itu masih bisa diterima, akan tetapi kalau Tuhan yang
berbuat demikian untuk diri Mirza, maka jelas sudah itu
hanya suatu obrolan kosong. Lebih menarik lagi jika Tuhan
sampai-sampai menurunkan wahyu pada Mirza dengan kata-kata:

"Engkau juga adalah Brahman Avatar, dan engkau adalah
seorang yang telah dinubuwatkan semua nabi-nabi."6

Terus-menerus tiada henti-hentinya, Mirza Ghulam menyusun
seluruh pangkat dan gelar-gelarnya. Ia juga seorang yang
digelari Rahmat Mujassam, yakni rahmat untuk keluarga,
rahmat untuk kawan, rahmat untuk musuh, rahmat untuk
tetangga, pembantu-pembantu, peminta-peminta dan untuk ummat
manusia.7 Rahmat (?) yang diberikan pada musuh, tetangga,
dan ummat manusia oleh Mirza, akan merupakan cerita yang
menarik dan sangat mengesankan.

Selanjutnya Mirza Ghulam Ahmad dikenal juga sebagai Sultanul
Kalam, yakni raja di raja penulis yang karya-karyanya tiada
tolok bandingannya.8 Sebagai Sultanul-kalam, Mirza Ghulam
ternyata memiliki mu'jizat bahasa Arab dan untuk ini ia
mengajukan tantangan pada siapa saja yang berani menandingi
keistimewaan bahasa Arabnya. Bashiruddin Mahmud Ahmad
berkata:

"Tuhan telah mengkurniai Mirza Ghulam Ahmad ilmu bahasa
Arab yang luar-biasa, bahkan tidak dapat ditandingi
sekalipun oleh mereka yang empunya bahasa itu sendiri.
Untuk menyebarluaskan permaklumannya itu, ia telah
menulis dan menerbitkan buku-buku dalam bahasa Arab
kemudian menantang musuh-musuhnya, termasuk
penulis-penulis di negeri Arab, Mesir dan Syria,
andaikata mereka ini masih meragukan kedudukan Mirza
Ghulam Ahmad. Tentu saja jawaban atas tantangannya
harus dengan bahasa Arab pula. Namun kalau dilihat pada
karya-karya Mirza, bagaimana keindahan sastranya,
syair-syairnya, dan kehebatan serta kepadatan maknanya,
maka tidak seorangpun yang akan berani muncul sebagai
penantangnya. Buku-buku hasil karyanya itu sampai
sekarang masih ada, dan kami masih membuka front bagi
siapa yang berminat menandinginya."9

Siapa pula yang berani menantang bahasa Arab Mirza Ghulam?
Tidak seorangpun yang menjawab tantangan itu! Bahkan, kata
Ahmadiyah melanjutkan, juga syed Rasyid Ridha yang pernah
mendapat tantangan itu, tidak berani menjawabnya.10 Apa
sebab Mirza Ghulam Ahmad konon menguasai bahasa Arab tak
terkalahkan? Ahmadiyah menjawab:

"Perbendaharaan kata-kata beliau bertambah secara
sangat ajaib, 40.000 kata dasar diperoleh Mirza Ghulam
hanya dalam waktu satu malam saja!"11

Akhirnya Bashiruddin M.A. putera Mirza Ghulam itu, berkata:

"Kemu'jizatan bahasa Arab Mirza Ghulam Ahmad, menyamai
kemu'jizatan Al-Qur'an ul-Karim."12

Jika demikian kedudukan bahasa Arab Mirza Ghulam, maka ia
benar-benar raja di raja pena. Apakah ia juga raja untuk
bahasa Urdu, Parsi dan Inggris? Kita akan tahu kelak
bagaimana contoh dari bahasa Arabnya Mirza Ghulam yang tak
terkalahkan itu.

Dan yang paling menarik dari kehebatan bahasa Arab Mirza
Ghulam Ahmad, ialah sebagaimana yang diceritakan sendiri
olehnya, bahwasanya segala yang diucapkan Mirza Ghulam
adalah ayat-ayaf suci yang diawali dengan
Bismillahir-Rahmanir-Rahim, serta meyakini isi dari
ayat-ayatnya sebagaimana meyakini ayat-ayat Al-Qur'anul
Karim.13 Itulah ciri-ciri khasnya bahasa Arab Mirza.

Masih meneruskan tentang pangkat-pangkatnya, dikatakan oleh
Ahmadiyah maupun oleh Mirza sendiri, bahwa dari sudut tugas
memperbaiki keadaan ummat dan membereskan masalah-masalah
yang dipertikaikannya baik yang menyangkut Sunnah dan
Hadits, beliau Mirza Ghulam Ahmad adalah Imam Mahdi.14
Kemudian dilihat dari sudut tugas menghadapi Dajjal dan
fitnah-fitnahnya yang hebat di akhir zaman ini dan tugas
menghadapi musuh-musuh Islam dengan keterangan-keterangan
yang nyata dan tak terpatahkan, beliau adalah Al-Masih yang
dijanjikan.

Perihal kedudukannya sebagai Al-Masih itu, oleh karena
munculnya di kalangan Islam, maka Mirza Ghulam Ahmad
bergelar Al-Masih Al-Muhammady, sebab Al-Masih yang pertama,
yakni Isa Al-Masih adalah Al-Masih Al-Israeli.15 Mirza
Ghulam Ahmad ternyata masih menggosok-gosokkan lampu
aladinnya, atau ia semacam lipan berkaki seribu, ambisinya
untuk memiliki seluruh pangkat kerohanian, masih disusunnya
lagi. Dan inilah klimax dari cita-citanya. Mula-mula ia
mengaku sebagai Nabi, akan tetapi bukan Nabi yang membawa
syari'at melainkan sebagai Nabi Ummati, yakni nabi dari
ummatnya nabi Muhammad s.a.w. Sebagai nabi ummati, Mirza
Ghulam bisa juga memakai gelar-gelar seperti: nabi ghair
tasy'ri', nabi buruzi, nabi zilli, nabi majazi, nabi
lughowi, yang kesemuanya hanya menunjukkan sebagai bayangan
atau pantulan atau nabi dari ummat nabi Muhammad s.a.w.

Akan tetapi karena Mirza memiliki lampu Aladdin, apa
kehendaknya pasti terkabul. Bahkan ternyata ia bukan saja
sebagai nabi bayangan tetapi sebagai nabi yang membawa
dekrit dari Tuhan yang mungkin disetarakan dengan syari'at.

Last but not least, Mirza Ghulam ternyata mengangkat dirinya
sebagai Rasul Allah dengan sekaligus memperolen sanjungan
s.a.w. (sallallahu alaihi wasallam).16

Apa lagi yang belum menjadi miliknya? Ternyata Mirza masih
mengumpulkan lagi pangkat-pangkat yang luar-biasa. Ia harus
menjadi segala-galanya. Ia berkata dengan bangga:

"Sesungguhnya Allah telah memberiku semua nama-nama
dari para Nabi."17

Yakni bahwa Mirza Ghulam Ahmad boleh dipanggil dengan
panggilan nama-nama semua nabi.. Sesungguhnya, berkata Mirza
Ghulam:

"Bukan saja, aku ini dipanggil dengan nama Isa anak
Maryam, bahkan semua nabi baik nama mereka maupun
martabat mereka telah aku terima dari Allah. Itulah
sebabnya sebagaimana yang dijanjikan Tuhan dalam
Baraheen Ahmadiyya, aku ini adalah Adam, aku Nuh, aku
Ibrahim, aku Ishaq, aku Ya'kub, aku Ismail, aku Musa,
aku Daud, aku Isa, anak Maryam, dan aku Muhammad dalam
arti buruznya."18

Dengan martabat para nabi yang ia miliki itu, maka Mirza
Ghulam Ahmad sanggup menonjolkan beberapa mu'jizat dari para
nabi, maupun mengalami beberapa peristiwa seperti yang
dialami mereka.

Satu nama lagi yang ia terima dari Tuhannya ialah:
Abdulkadir, entah untuk panggilannya itu ia sejajar dengan
sayidina Abdulkadir Jaelani, atau Abdulkadir yang lain,
kurang jelas.19

Demikianlah cerita tentang nama, pangkat gelar dan kedudukan
yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad. Dan sekedar untuk
menyegarkan pikiran, inilah keseluruhannya itu: Mirza Ghulam
Ahmad adalah kibriti ahmar, hajar aswad pelindung telur
Islam, penjaga kebun Allah, bulan purnama, satu Nur, Guru
Jagat, Fadhlan kabiran, Rahmat Mujassam, Sultanul kalam,
Raja Aryan. Mujaddid, Mujaddid Akbar, Khatamul Aulia',
Khatamul Khulafa', Imam Zaman, Imam Mahdi Al-Ma'hud, Hakim
yang adil, Al-Masih Al-Mauud, nabi buruzi, nabi dengan
dekrit Tuhan, Rasul Allah s.a.w., Abdulkadir, Adam, Nuh,
Ibrahim, Musa, Isa, Ya'kub, Ishaq, Daud, Ismail, dan semua
nabi. Aku adalah Kreshna, Brahman Avatar, dan aku adalah
Kodrat Tuhan yang berjasad.20 Perihal akhlak dan perangainya
maka Mirza GhulamAhmad adalah: Seekor singa jantan yang
tampil ke depan, pemaaf, penutup kekurangan orang lain,
pemurah, setia, rendah hati, sabar, syukur, memadakan yang
ada, pemalu, tunduk mata, menjaga diri dari segala
keburukan, rajin, mencukupkan dengan yang dapat, tidak suka
formalitas, sederhana, menyayangi, adab Ilahi, adab Rasul,
dan orang-orang suci Agama, pendamai, tidak suka
berlebih-lebihan, suka melaksanakan kewajiban, suka memenuhi
janji, terampil, bersimpati, suka menyebar agama, mendidik,
indah dalam pergaulan, pengamat harta, berwibawa, kesucian,
periang, penyimpan rahasia, ghairat, ihsan, pemelihara
martabat orang, baik sangka, bersemangat, ulul'azam,
penjaga-diri, tenang berpikir, menahan amarah, menahan
tangan dan lisan dari perbuatan lancang, berkorban, waktunya
selalu penuh, mengatur perkembangan ilmu dan ma'rifat,
pencinta Tuhan dan RasulNya, pengikut Rasul yang sempurna,
mempunyai daya tarik magnitis, satu daya penarik yang ajaib
disegani, berbakat kecintaan, katanya mengesankan, doanya
makbul.21

Itulah Mirza Ghulam Ahmad, tidak ada satu kekurangan lagi
bukan? Itulah keinginannya dan untuk itulah puteranya maupun
pengikut-pengikutnya percaya tanpa reserve. Siapa yang tidak
percaya dan tidak mengakui sebagai Imam Zaman dimana
tercakup kenabian dan kerasulannya, maka matinya mati
jahiliyah of mati kafir.22

Catatan kaki:
1 Analyst, Facts about Ahmadiyya Movement, 1951,
Ahmadiyya Anjuman Isha'at-l-Islam, Lahore, hal. 28: (I
am that Hajar-i-Aswad that has been accepted on this
earth by the people and is touched by them for
blessing).
2 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Khutbat-ul-ilhamiyah, hal. 82.
3 lih. Malik Aziz Ahmad Khan, Jasa Imam Mahdi a.s., hal. 139
4 lih. The Review of Religions, March 1966, Rabwah,
hal.79: (we find that in the country known as India, a
Prophet of God has gone before, in the ages of past,
who bore the name "Kreshna," he was also called
Ruvaddar Gowpal (i.e. destroyer, on one side, sustainer
and developer, on the other). This name too, has
bestowed on me. Since, therefore, the Aryan people,
these days, are awaiting the second advent of the Lord
Krishna, I am that Krishna. I am not making claim
purely on my own behalf; Allah has revealed to me, time
and time again, that the Knshna expected to appear
towards the latter days, was none other than my self -
King of the Aryans.)
5 lih.Basharuddin M.A, Ahmadiyya Movement, hal. 4:
(Brahman av-tar sa mo-kwa-bi-la achha na-heen. Aye
Krishna dar Go-pal teri meh-ma Geeta men hai. (Thou an
the Blessed Krishna, the cherisher of Cows, and thy
praise is chanted in the Gita.)
6 lih. Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal.4
7 lih. Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau'ud a.s., hal. 47
8 lih. Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau'ud a.s. hal. 47
9 Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal. 115:
(..., he made an announcement that God has bestowed
upon him an extraordinary knowledge of and command
over, the Arabic language which could not be matched
even by those whose mother tongue was Arabic. In
persuance of this announcement he wrote and published
several books in Arabic and called upon his opponents,
including the people of Arabia, Egypt, and Syria, if
they doubted his claim, to write books in Arabic, which
should, in point of literary style, purity of diction,
beauty of composition and the excellence and pregnancy
of meaning, match those written by himself, but none
has so far dared to take up the challange. The books
written by him are still extant, and we still claim
that they cannot be matched, and that God's hand would
be raised against any person who presumes to make an
attemp to match (them.)
10 lih. Bashiruddin M.A., Invitation, Rabwah, Ahmadiyya
Muslim Foreign Missions 1961, hal. 97: (Arabs were
included in the challenge, one book being specially
addressed to Syed Rashid Riza of Al-Manar. The Syed did
not accept the challenge.)
11 lih. Bashiruddin M.A., Invitation, hal. 97: (When
the Ulama had done their worst, God granted him special
knowledge of the Arabic language. His vocabulary grew
miraculously to 40.000 root-words in a single night.)
12 lih. Bashiruddin MA., Invitation, hal. 97. (This
miracle of language imitates the miracle of the Holy
Quran. It is a sign of the Promissed Messiah's truth.)
13 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istifta', hal.77: (wa
nu'minu biha kama nu'minu bi kitabillah khaliqil Anaam,
wahii hadzihi: bismillahirRahmanirRahim)
14 lih. Saleh A.Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal.
29, serta hampir semua kitab-kitab Ahmadiyah.
15 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Khutbat-ul-Ilhamiyah,
hal. dzal dan hal. zai. Juga oleh sdr. Drs Bahrum
Rangkuti (sekjen) Departemen Agama pada puisinya yang
berjudul "Silaturahmi (II)" pada halal bihalal di-Bali
Room dari masyarakat Sumut 29/12/'69, menyebut Isa a.s.
sebagai al-Masih al-Israeli.
16 M.G.A., Khutbat-ul-Ilhamiyah, hal. muka, perlunya
seorang Imam zaman, hal. 32, Tuhfah Bagdad, hal. muka
dan lainnya.
17 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-lstifta', hal. 82:
(sammani rabbi ibrahim wa kadzanka sammani bi jama'i
asmail-anbiya min adam ila khatimurusl)
18 lih. The Review of Religions, Mart 1966, hal.10:
(But, in the heavenly records. Isa, the son of Mary, is
not only the name given to me: I have other names as
well, twenty six years ago, which Allah made me put
down in the pages of Baraheen-i-Ahmadiyya. There is no
prophet of God whose name and qualities Allah has not
bestowed on me. Therefore, as God has promised in
Baraheen-i-Ahmadiyya, I am Adam. I am Noah, I am
Abraham, I am Isaac, I am Jacob, I am Ismail, I am
Moses, I am David, I am Isa, the son of Mary; and I am
Muhammad, in a sense and manner I call burzi.)
19 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Thuhfah Bagdad, Rabwah
Matba'ah An-Nadrah, 1377, hal 29: (ya Abdulkadir inni
ma'aka asman wa araa).
20 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-wasiyat-Neraca Trading
Company-Jakarta 1949, hal . 12
21 lih Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mauud a s, hal. 85/86
22 lih. Mirza Ghulam Ahmad, perlunya seorang Imam
Zaman, hal. 10/32.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: Mirza Ghulam tokoh jelmaan

Post by Kedunghalang on Sun May 13, 2012 5:41 pm

Bismillaahirrahmanirrahiim. Assalamu'alaikum wa rahmatullah!

@ Ichreza

Saya menasihatkan kepada anda, jika anda ingin memahami Ahmadiyah dengan benar, maka sebaiknya tanyakanlah kepada orang-orang Jemaat Ahmadiyah yang memahaminya. Jika anda membaca tulisan-tulisan yang berasal dari orang-orang yang bukan Jemaat Ahmadiyah, apalagi dari para penentangnya, maka akan seperti isi artikel yang anda tulis di atas.

Wassalam
Love for All, Hatred for None

Kedunghalang
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Male
Posts : 9081
Kepercayaan : Islam
Location : Bogor
Join date : 12.03.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik