FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Halaman 4 dari 25 Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 14 ... 25  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by mang odoy on Sun Jun 03, 2012 2:54 am

First topic message reminder :

Mari kita simak An-Nisa ayat 157 yang menjadi KONTROVERSI dari jaman baheula sampe sekarang..


وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً

waqawlihim innaa qatalnaa almasiiha 'iisaa ibna maryama rasuula allaahi wamaa qataluuhu wamaa shalabuuhu walaakin syubbiha lahum wa-inna alladziina ikhtalafuu fiihi lafii syakkin minhu maa lahum bihi min 'ilmin illaa ittibaa'a alzhzhanni wamaa qataluuhu yaqiinaan

Terjemahan Depag RI:
4.157. dan karena ucapan mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, 'Isa putra Maryam, Rasul Allah ", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) 'Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa.


Dengan nawaytu ingin 'berbagi ilmu'...mari kita telaah kembali ayat ini...

Wasalam,


Terakhir diubah oleh mang odoy tanggal Mon Jun 04, 2012 4:15 am, total 1 kali diubah

mang odoy
KAPTEN
KAPTEN

Posts : 4233
Kepercayaan : Islam
Join date : 11.10.11
Reputation : 83

Kembali Ke Atas Go down


Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 5:11 am

[quote="hamba tuhan"]
@mang odoy wrote:@atas

posting kok kagak jelas.....nyengir plus ngacungin jempol aja bisanya..

Satu hal lagi...dalam An-Nisa 157....YAHUDI yahudi pada jaman Nabi Muhammad tersebut cuman MENGKLAIM bahwa mereka SUDAH MEMBUNUH NABI ISA...

Sedangkan....kalimat WA MA SHALABUU HU adalah pernyataan dari Allah SWT....dan bukan ucapan para Yahudi yahudi di jaman Nabi Muhammad..??

Clear....atow Emeron...??

wah... semakin menarik neh!!!

MO : Satu hal lagi...dalam An-Nisa 157....YAHUDI yahudi pada jaman Nabi Muhammad tersebut cuman MENGKLAIM bahwa mereka SUDAH MEMBUNUH NABI ISA...
HT : coba copas kesini asbabul nuzul an-nisa 157 biar kita tau bahwa YAHUDI yahudi pada jaman Nabi Muhammad tersebut cuman MENGKLAIM bahwa mereka SUDAH MEMBUNUH NABI ISA jgn asal ngomong aja gada buktinya.... monggo...

nice info [/quote

pekanbaru udah masuk wkt subuh amangku sayang... izin pamit dl ya??? besok2 kita bermain2 lg ya amangku sayang....

Assalamu'alaikum wrwb..... :surban: :study:
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by Yishmael Avrahami on Thu Jun 14, 2012 6:22 am

@mang odoy wrote:@YA

yang dibicarakan pada An Nisaa 157 adalah mengenai diselamatkannya nabi Isa dari upaya pembunuhan dan penyaliban....bukannya cerita mengenai terjadinya pembunuhan dan penyaliban nabi Isa....

WA MA SHALABUU HU...mereka tidak MENYALIBNYA (tidak/gagal mengeluarkan sumsum/wadak dari tulang Nabi Isa).... ini SINGKRON dengan pernyataan Yohanes 19:33..dengan pernyataan..."MEREKA TIDAK MEMATAHKAN KAKI YESUS"....

Karena PEMATAHAN KAKI ini adalah MOMENT yang MENENTUKAN hidup matinya Yesus/Nabi Isa...dan ini yang sebenernya MENOHOK KEIMANAN KRISTEN...karena keimanan mereka tergantung pada hal ini...Yesus MATI atow HIDUP...

Jadi .....TIDAK MENYALIBNYA (wa ma shalabuu hu) dalam An-Nisa 157...bukan berarti Nabi Isa TIDAK DIPASANG DI TIANG JEMURAN.......
Sudah saya buktikan bahwa kata MENYALIB dalam Kitab Kanonik, dalam bahasa aslinya yaitu STAUROO/ESTAUROSAN..artinya hanya MEMANTEK yaitu : memasang si terhukum dengan dirapatkan di KAYU LURUS, karena kata kerja "stauroo" sendiri diambil dari kata benda "stauros" yang artinya "kayu lurus"....


Ada bantahan..???
kan ketahuan alur pemikirannya....anda menjadikan yohanes sebagai rujukan....

kalo stauroo adalah tafsir yunani dari terjemahan indon mengenai "kayu salib", bagaimana tafsir yunani mengenai "hanged on a tree" untuk yesus jeki cen?????

silahkan, ditunggu dimari....
http://www.laskarislam.com/t2641p70-seputar-fenomena-penyaliban-siapa-yang-disalib-dan-kenaikan-isa-as#22599

kalo di topik ini kan mang odoy sendiri yg ngajakin pembahasan secara Qur'ani untuk mengupas tuntas An Nisaa 157.....tapi kok mang odoy jg yg malah membawa yohanes 19 : 33....

silahkan bagi penganut paham ahmadiyah yg ada di forum ini untuk urun rembug bahas an Nisaa 157, itung-itung bantu mang odoy dalam menafsir kayu salib (hanged on a tree) ala yunani....segorowedi jg boleh nyenggol-nyenggol barang saupil dimari bantuin mang odoy mempertahan kan yohanes 19 : 33 nya....
avatar
Yishmael Avrahami
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 272
Kepercayaan : Islam
Location : Neturei Karta
Join date : 10.10.11
Reputation : 4

http://www.nkusa.org/

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by abu hanan on Thu Jun 14, 2012 10:43 am

@Yishmael Avrahami wrote:
@abu hanan wrote:
@Yishmael Avrahami wrote:
Yah begitulah bro kalo saya melihatnya di Qur'an....akar kata syin-ba-ha ini maknanya dapat diketahui dari ayat-ayat lain yg ada di Qur'an yg tentunya akar katanya pun sama....

mengenai ayat 2/70 : menceritakan keserupaan sapi dengan sapi
pada ayat 2/118 : hati dan hati
dan pada ayat 3/7 : keserupaan ayat dengan ayat yg ada di Al Qur'an

nih ada yg menarik dari hadits riwayat Imam Ahmad yg memakai kata syubbiha lahum :

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَبُو هَارُونَ الْغَنَوِيُّ عَنْ مُطَرِّفٍ قَالَ
قَالَ لِي عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ أَيْ مُطَرِّفُ وَاللَّهِ إِنْ كُنْتُ لَأَرَى أَنِّي لَوْ شِئْتُ حَدَّثْتُ عَنْ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ لَا أُعِيدُ حَدِيثًا ثُمَّ لَقَدْ زَادَنِي بُطْئًا عَنْ ذَلِكَ وَكَرَاهِيَةً لَهُ أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مِنْ بَعْضِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهِدْتُ كَمَا شَهِدُوا وَسَمِعْتُ كَمَا سَمِعُوا يُحَدِّثُونَ أَحَادِيثَ مَا هِيَ كَمَا يَقُولُونَ وَلَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّهُمْ لَا يَأْلُونَ عَنْ الْخَيْرِ فَأَخَافُ أَنْ يُشَبَّهَ لِي كَمَا شُبِّهَ لَهُمْ فَكَانَ أَحْيَانًا يَقُولُ لَوْ حَدَّثْتُكُمْ أَنِّي سَمِعْتُ مِنْ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا رَأَيْتُ أَنِّي قَدْ صَدَقْتُ وَأَحْيَانًا يَعْزِمُ فَيَقُولُ سَمِعْتُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَذَا وَكَذَا
قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ حَدَّثَنِي نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ أَبِي هَارُونَ الْغَنَوِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي هَانِئٌ الْأَعْوَرُ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ عِمْرَانَ هُوَ ابْنُ حُصَيْنٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ هَذَا الْحَدِيثِ فَحَدَّثْتُ بِهِ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ فَاسْتَحْسَنَهُ وَقَالَ زَادَ فِيهِ رَجُلًا

Telah menceritakan kepada kami Isma'il, telah menceritakan kepada kami Abu Harun Al Ghanawi dari Mutharrif dia berkata; 'Imran bin Hushain pernah berkata kepadaku; "Wahai Mutharrif, kalau aku mau, aku bisa saja menyampaikan hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam dua hari berturut-turut dan aku tidak mengulangi satu haditspun. Namun yang membuatku lambat dan tidak senang untuk melakukan itu bahwa orang-orang dari sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mereka menyaksikan apa yang aku saksikan dan mereka mendengar apa yang aku dengar, Mereka mengungkapkan hadits-hadits sebagaimana mereka katakan, Dan aku telah mengetahui sesungguhnya mereka tidak pernah lambat dari kebaikan. Aku takut ditiru sebagaimana mereka ditiru. Dia kadang mengatakan kalau seandainya aku mengatakan kepada kalian bahwa aku telah mendengar dari Nabiyullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti ini dan itu, aku menganggap bahwa aku telah jujur. Kadang juga dia bersungguh-sungguh lalu berkata; aku telah mendengar dari Nabiyullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti ini dan itu."
Abu Abdurrahman berkata; telah menceritakan kepadaku Nashr bin Ali, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadhal dari Abi Harun Al Ghanawi dia berkata; telah menceritakan kepadaku Hani Al A'war dari Mutharrif dari 'Imran bin Hushain dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti hadits ini, lalu aku ceritakan kepada ayahku-mudah-mudahan Allah merahmatinya-, lalu dia menganggap hadits itu hasan dan berkata; "Dia menambahkan seseorang."

http://125.164.221.44/hadisonline/hadis9/cari_hadist.php?imam=ahmad&keyNo=19047&x=0&y=0

http://www.sonnaonline.com/DisplayResults.aspx?HadithID=479088


demikianlah makna syubbiha itu dan gak ada peluang jeki chen seperti yg diklaim mang odoy...
informasi yang berharga nice info

sayah tidak mengabaikan hadits diatas tetapi sebelum شُبِّهَ لَهُمْ ada frasa
فَأَخَافُ أَنْ يُشَبَّهَ لِي كَمَا

aku takut ditiru SEBAGAIMANA mereka ditiru.

ada unsur SALING menyerupai antara AKU (subjek yg bakal ditiru) dengan MEREKA (objek yg jadi percontohan).dan konteks hadits adalah perbuatan yg ditiru sehingga tidak menutup kemungkinan perbuatan ditiru dengan perbuatan sebagaimana peristiwa ditiru dengan peristiwa.

bagi sayah,hadits ini justru menguatkan bahwa syyubbiha lahum yang terjadi pada nabi isa tidak memberi kesempatan pada peniru.karena emang gak ada unsur SALING menyerupai yg di dalam al quran contoh ada di ayat ara ra'ad 16.
sehingga memang tidak ada yg ditiru dari prosesi yg dijalani nabi isa.dan mengartikan MENIRU pada syubbiha lahum an nisa 157 tidaklah tepat dan mengenai sasaran.karena makna ayat tersebut memang DISAMARKAN.disamarkan dari pengamat.

demikianlah pemahaman sayah ttg syubbiha lahum yg akhirnya BISA menyerupai/meniru pihak lain jika ada kata yg mendukung.
al quran ada di ar ra'ad 16 dan hadits sebagaimana yg anda hadirkan diatas.

penggunaan syin-ba-ha dalam Qur'an dan hadits saya melihatnya malah adanya penyerupaan/peniruan antara A dan B, bukannya A harus mengalami B....

yang dibicarakan pada An Nisaa 157 adalah mengenai diselamatkannya nabi Isa dari upaya pembunuhan dan penyaliban....bukannya cerita mengenai terjadinya pembunuhan dan penyaliban nabi Isa....
شُبِّهَ لَهُمْ ada frasa
فَأَخَافُ أَنْ يُشَبَّهَ لِي كَمَا
dari kata yg ada di hadits bukankah kalimat tersebut ada 2 yg terkait?
ada شُبِّهَ لَهُمْ dan يُشَبَّهَ لِي yg berarti ada objek yg meniru dan ada yg meniru...

kalow emang ada stuntment di an nisa 157 kok yg ditayangin cuman [color=blue]شُبِّهَ لَهُمْ pasif aja?
dia (nabi isa) diserupakan ????
diserupakan menjadi siapa?
dan siapa yg menggantinyah?
gak ada satupun ayat al quran yg menjelaskan SIAPA kecuali pake hadits.

kalow anda bandingkan dengan hadits diatas mah uda jelas SIAPA yg meniru dan SIAPA yg ditiru.uda terbaca dari penggunaan kata [color=blue]شُبِّهَ لَهُمْ dan يُشَبَّهَ لِي.

baiklah..syin ba ha adalah ditiru dan meniru..bagaimana dengan al imran yg sayah sebut diatas?
sayah berpegang pada syin ba ha dalam bentuk asal.
kita akan mencoba tiap makna dengan mengembalikan ke وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ;
1.namun demikian,dia (isa) menjadi seperti? ....
2.namun demikian,dia (isa) diserupakan menjadi ?.....
atow
namun demikian,dia (isa) diserupai oleh? ...........
3.namun demikian,dia (isa) ditiru oleh? .........
4.namun demikian,dia (isa) disamarkan????.......
disamarkan DARI apa atow disamarkan menjadi apa?

silahkan anda isi TITIK2 dan semoga dapat mengambil kesimpulan..

an nisa 157 adalah MELURUSKAN/MEMBANTAH keyakinan kafirin yahudi bahwa mereka sukses mengeksekusi nabi isa hingga mati,bukan kronologi prosesi maupun alat eksekusi.





untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by abu hanan on Thu Jun 14, 2012 10:50 am

@hamba tuhan wrote:
@abu hanan wrote:
@hamba tuhan wrote:
@abu hanan wrote:
@hamba tuhan wrote:
maaf kang mas abu... saya belum setuju dgn penjelasan kang mas, krn tdk didasarkan oleh kaidah2 yg mendukung pendapat kang mas tsb.... dikit gambaran dr saya tentang jawab qasam, mudah2an dapat bermanfaat....

Jawab qasam ada 3.......
1. Jawab qasam jumlah ismiyah
Pada jawab qasam jumlah ismiyah, haruslah jawab itu ditaukidkan dgan huruf أنّ & اللام atau dengan إنّ saja
2. Jawab qasam jumlah fi`liyah
- Jika fi`il tersebut fi`il madhi mutsbat, maka jawabnya harus ditaukidkan dengan قد & الام atau dengan قد saja
- Jika fi`il tersebut fi`il mudhari mutsbat, maka jawabnya harus ditaukidkan dengan لام القسم & نون التوكود,
3. Jawab qasam yang didahului huruf nafi
Huruf nafi bekerja sebagai menafikan suatu perkara, ia masuk kedalam jumlah fi`liyah dan ismiyah. Antara lain hurufnya adalah ما & لا. Perbedaan jawab pada jumlah huruf nafii dengan jumlah lain adalah ia tidak perlu di ta`kidkan.....

kayaknya menurut saya gada kaidah yg mendukung bal & lakin sebagai jawab qasam kang mas abu.....

lebih lanjut coba kita teliti dl bal dan lakin menurut ilmu ma'ani dalam hal menggunakan adat qashar....
Kata bal dalam qashr bermakna idhrab (mencabut hukum dari yang pertama dan menetapkan kepada yang kedua)....posisi maqshur alaihnya terletak setelah kata bal... adapun syarat2nya ada 2 : 1. ma ’thuf bersifat mufrad, bkn jumlah... 2. didahului oleh ungkapan ijab, amar atau nida.....
Kata lakinna menjadi adat qashar berfungsi sebagai istidrak.... lakinna sama fungsinya dengan bal yaitu IJAZ, ITHNAB, DAN MUSAWAH.... Ijaz secara leksikal bermakna ‘meringkas’..... Secara istilah dalam balaghah: mengumpulkan makna yang banyak dengan menggunakan lafal yang sedikit , efisiensi kalimat ijaz ada 2 cara: 1. qashar = meringkas 2.hadzaf = membuang (bisa huruf, kata, frase, atau beberapa kalimat)
Ithnab secara leksikal bermakna ‘melebih-lebihkan’....secara istilah menambah lafal atas maknanya atau mendatangkan makna dengan perkataan yang melebihi apa yang telah dikenal oleh banyak orang.....
5 bentuk ithnab:
- Menyebutkan yang khusus setelah yang umum
- Menyebutkan yang umum setelah yang khusus
- Menjelaskan sesuatu yg umum
- Pengulangan kata atau kalimat
- Memasukkan sisipan
Musawah secara leksikal bermakna ‘sama’ atau ‘sebanding’....secara terminologi adalah pengungkapan suatu makna melalui lafal yang sepadan, tidak menambahkan dan tidak mengurangkan....

wallahu a'lam,,,


:surban: :study:
syukron atas koreksinyah.
setelah sayah pelajari ulang info dari akang memang وَلَٰكِنْ harus diabaikan sebagai jawaban qasam.
dan ternyata memang ada yg terlewat dalam belajarnyah sayah yaitu
وَإِنَّ الَّذِينَ dan itulah jawab qasam.

mengenai BAL...
بَلْ عَجِبُوا أَن جَاءهُمْ 50/2 yg mengikuti qasam pada وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ

sayah persilahkeun akang untuk mengkoreksi atas ulasan sayah yg cuma setetes dari selaut.

saya pribadi msh hrs byk belajar dr akhi2 disini terutama sm kang mas abu.... mengenai qasam disurat qaaf tsb kalo menurut saya jawab qasamnya bukan bal kang mas abu... tp قَدْ عَلِمْنَا diayat ke 4 kang mas abu, karna sesuai dgn kaidah jawabul qasam... sama seperti jawab qasam disurat Asy Syams : وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا jawabul qasamnya ada diayat 9 yaitu قَدْ أَفْلَحَ

inilah indahnya dan begitu agungnya ayat2 alquran ya kang mas abu.... padahal hanya mslah 1 wawu diawal ayat yg kita kupas udah bajibun bgni ya kang mas abu.... :surban:
semangkin banyak belajar ternyata semangkin banyak gak tau....kasian banget sayah :mon2:

emang seh QAF -OOT- jawab qasam kalow menurut kaidah bahasa ya ada di ayat 4,tetapi menurutnyah sayah jawaban ya ada di BAL (ayat 2).
termasuk qasam yg dijawab BAL pada 4/158,kalo kang ht berpendapat bahwa sayah keluar dari kaidah maka justru melihat bahwa sayah ada di BATAS luar kaidah tapi belum keluar.kamsutnyah sayah,meskipun sayah mengajukan opsi (setelah koreksi) yaitu ;
1.وَإِنَّ الَّذِينَ
2.BAL pada 4/158

adalah semata-mata demi bahan belajar yg khususnyah buat sayah.meski begitu,sayah dari awal pembahasan lebih bersikap jawabul qasam uda dihilangkan karena sudah ditunjukkan oleh firman sesudahnya (dan uda dikoreksi oleh akang ttg BAL sbg jawaban qasam)...

dan anda pun telah mengetahui andai WAW tidak dibaca sbg qasam pun TIDAK merubah konteks/makna ayat tetapi pembahasan WAW sbg qasam adalah karena sayah membacanyah sbg qasam dan jawab qasam ada di 158,BAL.yg sesuai kaidah adalah seperti yg telah diungkap akang diatas..
mengapa sayah berpendirian demikian?karena BA dipergunakan untuk hal2 yg bersifat abstrak tapi nyata ada/nyata terjadi.kematian adalah sesuatu yg abstrak (gak bisa diraba dg panca indra tetapi bisa dirasa).

sehingga waw qasam (yg sementara ini kita baca sbg SUMPAH) dirasakan membutuhkan jawaban.
dan sayah uda sampaikan di atas bahwa waw qasam yg sayah pahami adalah sbg PENGUAT/PENEGAS/meluruskan berita bahwa kekafiran dan kedustaan itu SANGAT besar jadi perlu dibantah dengan lafal yg jelas.
bahwa nabi isa mati ala hukuman terkutuk juga merupakan dusta yg gak bisa dianggap remeh sehingga butuh aqsam utk menarik perhatian dan menyatakan bantahan.
bahkan diserupakan dengan org lain pun uda dijelaskan dari BAL/158.

apabila nabi isa bin maryam DIANGKAT secara fisik dan ruhani maka BAL tidak perlu digunakan karena BAL hanya diterapkan bagi hal2 yg bersifat abstrak tapi nyata ada/nyata terjadi.
FISIK yg terangkat berarti ada keadaan yg tidak terpenuhi oleh BAL,kamsutnyah sayah,objek (nabi isa) dapat merasakan secara indera bahwa beliow neh lagi diangkat.
sehingga dalam hal ini -menurut makhluk yg hina ini- allah akan menggunakan FA/TSUMMA ataow WAW lagi.

apabila nabi isa bin maryam DIANGKAT secara ruhani inilah kesimpulan akhir sayah ttg SYUBBIHA bahwa beliow meninggal/wafat.petunjuk yg sayah gunakan adalah BAL/158.
akhirnya sampailah sayah di WAW qasam pada 156-157 sebenarnyah tidak membutuhkan jawaban yg spesifik karena kebutuhan jawaban qasam/penguat sudah di وَإِنَّ الَّذِينَ yg berujung pada KENYATAAN yg sebenarnyah/yg menggantikan keadaan pertama menjadi keadaan kedua (158).

apabila BAL pada 4/158 dipilih maka itu merubah jawabul qasam di وَإِنَّ الَّذِينَ dari jawaban menjadi penguat lagi/ada waw qasam lagi.dan itu juga tidak bertentangan dg kaidah bahasa yg membolehkan ada banyak qasam di kalimat berita.

demikian setetes dari selaut yg dilimpahkan allah kepada seekor makhluk melata...


kang mas abu... yg kita permasalahkan adalah wawu dipermulaan ayat annisa 157 tsb menurut abu wawu qasam, makanya perlu kehati2an dlm menempatkan wawu tsb sebagai qasam,,,, kesalahan fatal bakal terjadi kalo menurut saya, kenapa??? dalam penggalan kalimat awal ayat annisa 159 tsb ada jawabul qasam yaitu inna qatalnaa, ini permasalahannya kang mas abu.... kita gak bisa sesuka hati memindahkan jawabul qasam kang mas abu dgn menabrak kaidah2 yg sudah berlaku... itu menurut saya hamba tuhan yg bodoh ini loh kang mas abu....

:) :)
kang....kalow kita terpaku HARUS menggunakan INNA sebagai jawaban qasam maka akan buntu menghadapi kasus.
allah bersumpah demi perkataan mereka......
apakah jawaban sumpah ada di kalimat "sesungguhnya kami telah membunuh dst" ?hanya karena ada wajib INNA ?

bukankah "sesungguhnya kami telah membunuh dst" ? itu adalah perkataan mereka.kata benda abstrak.sayah gak menabrak kaidah karena uda sayah sampaikan bahwa qasam di an nisa 157 TIDAK ada jawabulnyah.dan tanpa jaqabul qasam juga tidak menyalahi kaidah...al fajr 1-9 adalah bukti bahwa sayah tidak menyalahi kaidah.

demikian darinyah sayah...seekor makhluk melata...


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 12:13 pm

@abu hanan wrote:
@hamba tuhan wrote:
@abu hanan wrote:
@hamba tuhan wrote:
@abu hanan wrote:syukron atas koreksinyah.
setelah sayah pelajari ulang info dari akang memang وَلَٰكِنْ harus diabaikan sebagai jawaban qasam.
dan ternyata memang ada yg terlewat dalam belajarnyah sayah yaitu
وَإِنَّ الَّذِينَ dan itulah jawab qasam.

mengenai BAL...
بَلْ عَجِبُوا أَن جَاءهُمْ 50/2 yg mengikuti qasam pada وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ

sayah persilahkeun akang untuk mengkoreksi atas ulasan sayah yg cuma setetes dari selaut.

saya pribadi msh hrs byk belajar dr akhi2 disini terutama sm kang mas abu.... mengenai qasam disurat qaaf tsb kalo menurut saya jawab qasamnya bukan bal kang mas abu... tp قَدْ عَلِمْنَا diayat ke 4 kang mas abu, karna sesuai dgn kaidah jawabul qasam... sama seperti jawab qasam disurat Asy Syams : وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا jawabul qasamnya ada diayat 9 yaitu قَدْ أَفْلَحَ

inilah indahnya dan begitu agungnya ayat2 alquran ya kang mas abu.... padahal hanya mslah 1 wawu diawal ayat yg kita kupas udah bajibun bgni ya kang mas abu.... :surban:
semangkin banyak belajar ternyata semangkin banyak gak tau....kasian banget sayah :mon2:

emang seh QAF -OOT- jawab qasam kalow menurut kaidah bahasa ya ada di ayat 4,tetapi menurutnyah sayah jawaban ya ada di BAL (ayat 2).
termasuk qasam yg dijawab BAL pada 4/158,kalo kang ht berpendapat bahwa sayah keluar dari kaidah maka justru melihat bahwa sayah ada di BATAS luar kaidah tapi belum keluar.kamsutnyah sayah,meskipun sayah mengajukan opsi (setelah koreksi) yaitu ;
1.وَإِنَّ الَّذِينَ
2.BAL pada 4/158

adalah semata-mata demi bahan belajar yg khususnyah buat sayah.meski begitu,sayah dari awal pembahasan lebih bersikap jawabul qasam uda dihilangkan karena sudah ditunjukkan oleh firman sesudahnya (dan uda dikoreksi oleh akang ttg BAL sbg jawaban qasam)...

dan anda pun telah mengetahui andai WAW tidak dibaca sbg qasam pun TIDAK merubah konteks/makna ayat tetapi pembahasan WAW sbg qasam adalah karena sayah membacanyah sbg qasam dan jawab qasam ada di 158,BAL.yg sesuai kaidah adalah seperti yg telah diungkap akang diatas..
mengapa sayah berpendirian demikian?karena BA dipergunakan untuk hal2 yg bersifat abstrak tapi nyata ada/nyata terjadi.kematian adalah sesuatu yg abstrak (gak bisa diraba dg panca indra tetapi bisa dirasa).

sehingga waw qasam (yg sementara ini kita baca sbg SUMPAH) dirasakan membutuhkan jawaban.
dan sayah uda sampaikan di atas bahwa waw qasam yg sayah pahami adalah sbg PENGUAT/PENEGAS/meluruskan berita bahwa kekafiran dan kedustaan itu SANGAT besar jadi perlu dibantah dengan lafal yg jelas.
bahwa nabi isa mati ala hukuman terkutuk juga merupakan dusta yg gak bisa dianggap remeh sehingga butuh aqsam utk menarik perhatian dan menyatakan bantahan.
bahkan diserupakan dengan org lain pun uda dijelaskan dari BAL/158.

apabila nabi isa bin maryam DIANGKAT secara fisik dan ruhani maka BAL tidak perlu digunakan karena BAL hanya diterapkan bagi hal2 yg bersifat abstrak tapi nyata ada/nyata terjadi.
FISIK yg terangkat berarti ada keadaan yg tidak terpenuhi oleh BAL,kamsutnyah sayah,objek (nabi isa) dapat merasakan secara indera bahwa beliow neh lagi diangkat.
sehingga dalam hal ini -menurut makhluk yg hina ini- allah akan menggunakan FA/TSUMMA ataow WAW lagi.

apabila nabi isa bin maryam DIANGKAT secara ruhani inilah kesimpulan akhir sayah ttg SYUBBIHA bahwa beliow meninggal/wafat.petunjuk yg sayah gunakan adalah BAL/158.
akhirnya sampailah sayah di WAW qasam pada 156-157 sebenarnyah tidak membutuhkan jawaban yg spesifik karena kebutuhan jawaban qasam/penguat sudah di وَإِنَّ الَّذِينَ yg berujung pada KENYATAAN yg sebenarnyah/yg menggantikan keadaan pertama menjadi keadaan kedua (158).

apabila BAL pada 4/158 dipilih maka itu merubah jawabul qasam di وَإِنَّ الَّذِينَ dari jawaban menjadi penguat lagi/ada waw qasam lagi.dan itu juga tidak bertentangan dg kaidah bahasa yg membolehkan ada banyak qasam di kalimat berita.

demikian setetes dari selaut yg dilimpahkan allah kepada seekor makhluk melata...


kang mas abu... yg kita permasalahkan adalah wawu dipermulaan ayat annisa 157 tsb menurut abu wawu qasam, makanya perlu kehati2an dlm menempatkan wawu tsb sebagai qasam,,,, kesalahan fatal bakal terjadi kalo menurut saya, kenapa??? dalam penggalan kalimat awal ayat annisa 159 tsb ada jawabul qasam yaitu inna qatalnaa, ini permasalahannya kang mas abu.... kita gak bisa sesuka hati memindahkan jawabul qasam kang mas abu dgn menabrak kaidah2 yg sudah berlaku... itu menurut saya hamba tuhan yg bodoh ini loh kang mas abu....

:) :)
kang....kalow kita terpaku HARUS menggunakan INNA sebagai jawaban qasam maka akan buntu menghadapi kasus.
allah bersumpah demi perkataan mereka......
apakah jawaban sumpah ada di kalimat "sesungguhnya kami telah membunuh dst" ?hanya karena ada wajib INNA ?

bukankah "sesungguhnya kami telah membunuh dst" ? itu adalah perkataan mereka.kata benda abstrak.sayah gak menabrak kaidah karena uda sayah sampaikan bahwa qasam di an nisa 157 TIDAK ada jawabulnyah.dan tanpa jaqabul qasam juga tidak menyalahi kaidah...al fajr 1-9 adalah bukti bahwa sayah tidak menyalahi kaidah.

demikian darinyah sayah...seekor makhluk melata...

nah... makanya ga cocok dan gak sesuai kalo menurut saya yg bodoh ini wawu diawal ayat an-nisa 157 tsb adalah wawu qasam.....

AH : bukankah "sesungguhnya kami telah membunuh dst" ? itu adalah perkataan mereka.kata benda abstrak
HT :bener kang mas abu... makanya kaidahnya yg ini kang mas abu :
Jawab qasam jumlah ismiyah
Pada jawab qasam jumlah ismiyah, haruslah jawab itu ditaukidkan dgan huruf أنّ & اللام atau dengan إنّ saja

AH : tanpa jaqabul qasam juga tidak menyalahi kaidah...al fajr 1-9 adalah bukti bahwa sayah tidak menyalahi kaidah.
HT : Kalo menurut saya di al fajr 1-9 ada jawabul qasam, cumen gak disebutkan alias dihilangkan kang mas abu.... jawab qasam gak disebutkan yaitu sungguh kalian hai orang-orang kafir mekah akan diazab'.... makanya beda kang mas abu...kecuali kang mas abu bisa nyebutin jawabul qasam yg gak disebutkan dlm annisa 157....

demikian menurut saya hamba tuhan yg bodoh ini........
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by abu hanan on Thu Jun 14, 2012 12:52 pm

@hamba tuhan wrote:
@abu hanan wrote:
@hamba tuhan wrote:

kang mas abu... yg kita permasalahkan adalah wawu dipermulaan ayat annisa 157 tsb menurut abu wawu qasam, makanya perlu kehati2an dlm menempatkan wawu tsb sebagai qasam,,,, kesalahan fatal bakal terjadi kalo menurut saya, kenapa??? dalam penggalan kalimat awal ayat annisa 159 tsb ada jawabul qasam yaitu inna qatalnaa, ini permasalahannya kang mas abu.... kita gak bisa sesuka hati memindahkan jawabul qasam kang mas abu dgn menabrak kaidah2 yg sudah berlaku... itu menurut saya hamba tuhan yg bodoh ini loh kang mas abu....

:) :)
kang....kalow kita terpaku HARUS menggunakan INNA sebagai jawaban qasam maka akan buntu menghadapi kasus.
allah bersumpah demi perkataan mereka......
apakah jawaban sumpah ada di kalimat "sesungguhnya kami telah membunuh dst" ?hanya karena ada wajib INNA ?

bukankah "sesungguhnya kami telah membunuh dst" ? itu adalah perkataan mereka.kata benda abstrak.sayah gak menabrak kaidah karena uda sayah sampaikan bahwa qasam di an nisa 157 TIDAK ada jawabulnyah.dan tanpa jaqabul qasam juga tidak menyalahi kaidah...al fajr 1-9 adalah bukti bahwa sayah tidak menyalahi kaidah.

demikian darinyah sayah...seekor makhluk melata...

nah... makanya ga cocok dan gak sesuai kalo menurut saya yg bodoh ini wawu diawal ayat an-nisa 157 tsb adalah wawu qasam.....

AH : bukankah "sesungguhnya kami telah membunuh dst" ? itu adalah perkataan mereka.kata benda abstrak
HT :bener kang mas abu... makanya kaidahnya yg ini kang mas abu :
Jawab qasam jumlah ismiyah
Pada jawab qasam jumlah ismiyah, haruslah jawab itu ditaukidkan dgan huruf أنّ & اللام atau dengan إنّ saja

AH : tanpa jaqabul qasam juga tidak menyalahi kaidah...al fajr 1-9 adalah bukti bahwa sayah tidak menyalahi kaidah.
HT : Kalo menurut saya di al fajr 1-9 ada jawabul qasam, cumen gak disebutkan alias dihilangkan kang mas abu.... jawab qasam gak disebutkan yaitu sungguh kalian hai orang-orang kafir mekah akan diazab'.... makanya beda kang mas abu...kecuali kang mas abu bisa nyebutin jawabul qasam yg gak disebutkan dlm annisa 157....

demikian menurut saya hamba tuhan yg bodoh ini........
itulah kang...sayah sediakan opsi bagi jawabul qasam...dan uda sayah paparkan diatas..
mengapa sayah tetap berpendapat bahwa qasam di an nisa 156-157 tidak membutuhkan jawaban?
3 ayat (156-157-158) adalah berita/kabar jelas dan terang benderang.yg akan menjadi rumit bila tiap ayat dibaca terpisah..suatu kabar yg dahulunya sangat simpang siur dan dalam pandangan allah adalah kabar yg gak jelas juntrungnyah.oleh karenanyah sayah memandang qasam untuk kabar 156-157 adalah mutlak diperlukan.158 adalah kesimpulan akhir ttg nasib nabi isa.
ada takdir yg dihilangkan yaitu ; isa terbunuh dengan cara dipatahkan tulangnya dan isa adalah orang yg hina bangets.

mangkah dari itu,jika akang perhatikan al qiyamah maka uraian saya pun sejalan.

akang perhatikan deh BAL yg 158...dan sayah ulangi lagi bahwa BAL lebih sering diaplikasikan untuk kondisi abstrak/non materi..
apa yg disebut sbg MENGANGKAT (isa) kepadaNya adalah wafatnyah beliow.bukan mengangkat secara fisik maupun fisik wal ruhani seperti yg dimuat di banyak hadits.

sedangkan yg dihilangkan pada al fajr 1- 5 sungguh kalian hai orang-orang kafir mekah akan diazab adalah sebuah DUGAAN dari sebagian ulama.sedangkan sayah tidak menganggap takdir yg dihilangkan itu DIPERLUKAN.karena al fajr 1-5 karena yg menjadi objek sumpah adalah kata benda abstrak..begitu pula adh dhuha..

demikian olehnyah sayah,makhluk melata yg hidup di lembah kuburan


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 12:59 pm

@abu hanan wrote:
@hamba tuhan wrote:
@abu hanan wrote:
@hamba tuhan wrote:

kang mas abu... yg kita permasalahkan adalah wawu dipermulaan ayat annisa 157 tsb menurut abu wawu qasam, makanya perlu kehati2an dlm menempatkan wawu tsb sebagai qasam,,,, kesalahan fatal bakal terjadi kalo menurut saya, kenapa??? dalam penggalan kalimat awal ayat annisa 159 tsb ada jawabul qasam yaitu inna qatalnaa, ini permasalahannya kang mas abu.... kita gak bisa sesuka hati memindahkan jawabul qasam kang mas abu dgn menabrak kaidah2 yg sudah berlaku... itu menurut saya hamba tuhan yg bodoh ini loh kang mas abu....

:) :)
kang....kalow kita terpaku HARUS menggunakan INNA sebagai jawaban qasam maka akan buntu menghadapi kasus.
allah bersumpah demi perkataan mereka......
apakah jawaban sumpah ada di kalimat "sesungguhnya kami telah membunuh dst" ?hanya karena ada wajib INNA ?

bukankah "sesungguhnya kami telah membunuh dst" ? itu adalah perkataan mereka.kata benda abstrak.sayah gak menabrak kaidah karena uda sayah sampaikan bahwa qasam di an nisa 157 TIDAK ada jawabulnyah.dan tanpa jaqabul qasam juga tidak menyalahi kaidah...al fajr 1-9 adalah bukti bahwa sayah tidak menyalahi kaidah.

demikian darinyah sayah...seekor makhluk melata...

nah... makanya ga cocok dan gak sesuai kalo menurut saya yg bodoh ini wawu diawal ayat an-nisa 157 tsb adalah wawu qasam.....

AH : bukankah "sesungguhnya kami telah membunuh dst" ? itu adalah perkataan mereka.kata benda abstrak
HT :bener kang mas abu... makanya kaidahnya yg ini kang mas abu :
Jawab qasam jumlah ismiyah
Pada jawab qasam jumlah ismiyah, haruslah jawab itu ditaukidkan dgan huruf أنّ & اللام atau dengan إنّ saja

AH : tanpa jaqabul qasam juga tidak menyalahi kaidah...al fajr 1-9 adalah bukti bahwa sayah tidak menyalahi kaidah.
HT : Kalo menurut saya di al fajr 1-9 ada jawabul qasam, cumen gak disebutkan alias dihilangkan kang mas abu.... jawab qasam gak disebutkan yaitu sungguh kalian hai orang-orang kafir mekah akan diazab'.... makanya beda kang mas abu...kecuali kang mas abu bisa nyebutin jawabul qasam yg gak disebutkan dlm annisa 157....

demikian menurut saya hamba tuhan yg bodoh ini........
itulah kang...sayah sediakan opsi bagi jawabul qasam...dan uda sayah paparkan diatas..
mengapa sayah tetap berpendapat bahwa qasam di an nisa 156-157 tidak membutuhkan jawaban?
3 ayat (156-157-158) adalah berita/kabar jelas dan terang benderang.yg akan menjadi rumit bila tiap ayat dibaca terpisah..suatu kabar yg dahulunya sangat simpang siur dan dalam pandangan allah adalah kabar yg gak jelas juntrungnyah.oleh karenanyah sayah memandang qasam untuk kabar 156-157 adalah mutlak diperlukan.158 adalah kesimpulan akhir ttg nasib nabi isa.
ada takdir yg dihilangkan yaitu ; isa terbunuh dengan cara dipatahkan tulangnya dan isa adalah orang yg hina bangets.

mangkah dari itu,jika akang perhatikan al qiyamah maka uraian saya pun sejalan.

akang perhatikan deh BAL yg 158...dan sayah ulangi lagi bahwa BAL lebih sering diaplikasikan untuk kondisi abstrak/non materi..
apa yg disebut sbg MENGANGKAT (isa) kepadaNya adalah wafatnyah beliow.bukan mengangkat secara fisik maupun fisik wal ruhani seperti yg dimuat di banyak hadits.

sedangkan yg dihilangkan pada al fajr 1- 5 sungguh kalian hai orang-orang kafir mekah akan diazab adalah sebuah DUGAAN dari sebagian ulama.sedangkan sayah tidak menganggap takdir yg dihilangkan itu DIPERLUKAN.karena al fajr 1-5 karena yg menjadi objek sumpah adalah kata benda abstrak..begitu pula adh dhuha..

demikian olehnyah sayah,makhluk melata yg hidup di lembah kuburan

kang mas abu....
1. berkali2 saya blg... kalo menurut saya wawu diawal ayat annisa 157 tsb ga cocok dijadikan wawu qasam.... bagaimanapun kalo kita paksakan inna qatalnaa tetap jawabul qasam, gak bs kita main2 sembarngan loh kang mas abu menurut saya......

2. AH : itulah kang...sayah sediakan opsi bagi jawabul qasam...dan uda sayah paparkan diatas..
mengapa sayah tetap berpendapat bahwa qasam di an nisa 156-157 tidak membutuhkan jawaban?
3 ayat (156-157-158) adalah berita/kabar jelas dan terang benderang.yg akan menjadi rumit bila tiap ayat dibaca terpisah..suatu kabar yg dahulunya sangat simpang siur dan dalam pandangan allah adalah kabar yg gak jelas juntrungnyah.oleh karenanyah sayah memandang qasam untuk kabar 156-157 adalah mutlak diperlukan.158 adalah kesimpulan akhir ttg nasib nabi isa.

AH : begitulah kang....karena saya tidak melihat adanya kata sebelum waw kecuali rangkaian dari 156.
menurut saya,156 terpisah dari 157.kalow 156 adalah satu kalimat panjang maka waw dapat berarti DAN.namun itu tidak terlihat oleh sayah.156 adalah kalimat tersendiri dan terpisah dari 157 kalow diliat dari struktur bahasanyah.

maaf kang mas abu... kok saya jd bingung ya......
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 1:07 pm

@abu hanan wrote:
@Yishmael Avrahami wrote:
@abu hanan wrote:
@Yishmael Avrahami wrote:
Yah begitulah bro kalo saya melihatnya di Qur'an....akar kata syin-ba-ha ini maknanya dapat diketahui dari ayat-ayat lain yg ada di Qur'an yg tentunya akar katanya pun sama....

mengenai ayat 2/70 : menceritakan keserupaan sapi dengan sapi
pada ayat 2/118 : hati dan hati
dan pada ayat 3/7 : keserupaan ayat dengan ayat yg ada di Al Qur'an

nih ada yg menarik dari hadits riwayat Imam Ahmad yg memakai kata syubbiha lahum :

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَبُو هَارُونَ الْغَنَوِيُّ عَنْ مُطَرِّفٍ قَالَ
قَالَ لِي عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ أَيْ مُطَرِّفُ وَاللَّهِ إِنْ كُنْتُ لَأَرَى أَنِّي لَوْ شِئْتُ حَدَّثْتُ عَنْ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ لَا أُعِيدُ حَدِيثًا ثُمَّ لَقَدْ زَادَنِي بُطْئًا عَنْ ذَلِكَ وَكَرَاهِيَةً لَهُ أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مِنْ بَعْضِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهِدْتُ كَمَا شَهِدُوا وَسَمِعْتُ كَمَا سَمِعُوا يُحَدِّثُونَ أَحَادِيثَ مَا هِيَ كَمَا يَقُولُونَ وَلَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّهُمْ لَا يَأْلُونَ عَنْ الْخَيْرِ فَأَخَافُ أَنْ يُشَبَّهَ لِي كَمَا شُبِّهَ لَهُمْ فَكَانَ أَحْيَانًا يَقُولُ لَوْ حَدَّثْتُكُمْ أَنِّي سَمِعْتُ مِنْ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا رَأَيْتُ أَنِّي قَدْ صَدَقْتُ وَأَحْيَانًا يَعْزِمُ فَيَقُولُ سَمِعْتُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَذَا وَكَذَا
قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ حَدَّثَنِي نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ أَبِي هَارُونَ الْغَنَوِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي هَانِئٌ الْأَعْوَرُ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ عِمْرَانَ هُوَ ابْنُ حُصَيْنٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ هَذَا الْحَدِيثِ فَحَدَّثْتُ بِهِ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ فَاسْتَحْسَنَهُ وَقَالَ زَادَ فِيهِ رَجُلًا

Telah menceritakan kepada kami Isma'il, telah menceritakan kepada kami Abu Harun Al Ghanawi dari Mutharrif dia berkata; 'Imran bin Hushain pernah berkata kepadaku; "Wahai Mutharrif, kalau aku mau, aku bisa saja menyampaikan hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam dua hari berturut-turut dan aku tidak mengulangi satu haditspun. Namun yang membuatku lambat dan tidak senang untuk melakukan itu bahwa orang-orang dari sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mereka menyaksikan apa yang aku saksikan dan mereka mendengar apa yang aku dengar, Mereka mengungkapkan hadits-hadits sebagaimana mereka katakan, Dan aku telah mengetahui sesungguhnya mereka tidak pernah lambat dari kebaikan. Aku takut ditiru sebagaimana mereka ditiru. Dia kadang mengatakan kalau seandainya aku mengatakan kepada kalian bahwa aku telah mendengar dari Nabiyullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti ini dan itu, aku menganggap bahwa aku telah jujur. Kadang juga dia bersungguh-sungguh lalu berkata; aku telah mendengar dari Nabiyullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti ini dan itu."
Abu Abdurrahman berkata; telah menceritakan kepadaku Nashr bin Ali, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadhal dari Abi Harun Al Ghanawi dia berkata; telah menceritakan kepadaku Hani Al A'war dari Mutharrif dari 'Imran bin Hushain dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti hadits ini, lalu aku ceritakan kepada ayahku-mudah-mudahan Allah merahmatinya-, lalu dia menganggap hadits itu hasan dan berkata; "Dia menambahkan seseorang."

http://125.164.221.44/hadisonline/hadis9/cari_hadist.php?imam=ahmad&keyNo=19047&x=0&y=0

http://www.sonnaonline.com/DisplayResults.aspx?HadithID=479088


demikianlah makna syubbiha itu dan gak ada peluang jeki chen seperti yg diklaim mang odoy...
informasi yang berharga nice info

sayah tidak mengabaikan hadits diatas tetapi sebelum شُبِّهَ لَهُمْ ada frasa
فَأَخَافُ أَنْ يُشَبَّهَ لِي كَمَا

aku takut ditiru SEBAGAIMANA mereka ditiru.

ada unsur SALING menyerupai antara AKU (subjek yg bakal ditiru) dengan MEREKA (objek yg jadi percontohan).dan konteks hadits adalah perbuatan yg ditiru sehingga tidak menutup kemungkinan perbuatan ditiru dengan perbuatan sebagaimana peristiwa ditiru dengan peristiwa.

bagi sayah,hadits ini justru menguatkan bahwa syyubbiha lahum yang terjadi pada nabi isa tidak memberi kesempatan pada peniru.karena emang gak ada unsur SALING menyerupai yg di dalam al quran contoh ada di ayat ara ra'ad 16.
sehingga memang tidak ada yg ditiru dari prosesi yg dijalani nabi isa.dan mengartikan MENIRU pada syubbiha lahum an nisa 157 tidaklah tepat dan mengenai sasaran.karena makna ayat tersebut memang DISAMARKAN.disamarkan dari pengamat.

demikianlah pemahaman sayah ttg syubbiha lahum yg akhirnya BISA menyerupai/meniru pihak lain jika ada kata yg mendukung.
al quran ada di ar ra'ad 16 dan hadits sebagaimana yg anda hadirkan diatas.

penggunaan syin-ba-ha dalam Qur'an dan hadits saya melihatnya malah adanya penyerupaan/peniruan antara A dan B, bukannya A harus mengalami B....

yang dibicarakan pada An Nisaa 157 adalah mengenai diselamatkannya nabi Isa dari upaya pembunuhan dan penyaliban....bukannya cerita mengenai terjadinya pembunuhan dan penyaliban nabi Isa....
شُبِّهَ لَهُمْ ada frasa
فَأَخَافُ أَنْ يُشَبَّهَ لِي كَمَا
dari kata yg ada di hadits bukankah kalimat tersebut ada 2 yg terkait?
ada شُبِّهَ لَهُمْ dan يُشَبَّهَ لِي yg berarti ada objek yg meniru dan ada yg meniru...

kalow emang ada stuntment di an nisa 157 kok yg ditayangin cuman [color=blue]شُبِّهَ لَهُمْ pasif aja?
dia (nabi isa) diserupakan ????
diserupakan menjadi siapa?
dan siapa yg menggantinyah?
gak ada satupun ayat al quran yg menjelaskan SIAPA kecuali pake hadits.

kalow anda bandingkan dengan hadits diatas mah uda jelas SIAPA yg meniru dan SIAPA yg ditiru.uda terbaca dari penggunaan kata [color=blue]شُبِّهَ لَهُمْ dan يُشَبَّهَ لِي.

baiklah..syin ba ha adalah ditiru dan meniru..bagaimana dengan al imran yg sayah sebut diatas?
sayah berpegang pada syin ba ha dalam bentuk asal.
kita akan mencoba tiap makna dengan mengembalikan ke وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ;
1.namun demikian,dia (isa) menjadi seperti? ....
2.namun demikian,dia (isa) diserupakan menjadi ?.....
atow
namun demikian,dia (isa) diserupai oleh? ...........
3.namun demikian,dia (isa) ditiru oleh? .........
4.namun demikian,dia (isa) disamarkan????.......
disamarkan DARI apa atow disamarkan menjadi apa?

silahkan anda isi TITIK2 dan semoga dapat mengambil kesimpulan..

an nisa 157 adalah MELURUSKAN/MEMBANTAH keyakinan kafirin yahudi bahwa mereka sukses mengeksekusi nabi isa hingga mati,bukan kronologi prosesi maupun alat eksekusi.



sumbang dikit ah.....

Kita ambil contoh dari istilah Wathi’ Syubhat dalam ilmu Ushul Fiqh..... prakteknya adalah, jika seorang suami menyetubuhi wanita lain yang disangka istrinya, bukan Wathi’nya/persetubuhannya yang di serupakan, tapi wanita lain itulah yang diserupakan bagi si suami. Tidak ada penyamaran disini, persetubuhan itu berjalan lancar dan sangat jelas......

bingung
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by abu hanan on Thu Jun 14, 2012 1:13 pm

akang sayang....
anda uda berkali2 bilang GAK COCOK karena kita terpaku pada INNA yg selalu dianggap TERPISAH.padahal INNA adalah PERKATAAN MEREKA. dan perkataan mereka (qawlihim) inilah yg menjadi OBJEK SUMPAH...

hidungtrasinyah eh ilustrasinyah ;
sayah bersumpah demi kopi hitam (misal)...dan didalam kopi hitam itu ada gula,air dan kopi bubuk....
yg menurut kaidah seharusnyah gula itulah jawabul qasam padahal gula itu bagian dari kopi hitam yg sayah kamsutkan sebagai objek sumpah.erat dan terkait.

owh bugini....
awalnyah kan kita bahas 157..yg sayah baca sbg waw qasam..kemudian agar lebih jelas maka sayah tarik 156 wal 158.
karena secara KABAR,maka 3 ayat itu adalah satu rangkaian.
secara struktural 3 ayat tersebut adalah terpisah yg PASTI menyulitkan jika bergerak menuju tafsir.

demikian dari penghuni makam,seekor makhluk melata.

HT wrote:sumbang dikit ah.....

Kita ambil contoh dari istilah Wathi’ Syubhat dalam ilmu Ushul Fiqh..... prakteknya adalah, jika seorang suami menyetubuhi wanita lain yang disangka istrinya, bukan Wathi’nya/persetubuhannya yang di serupakan, tapi wanita lain itulah yang diserupakan bagi si suami. Tidak ada penyamaran disini, persetubuhan itu berjalan lancar dan sangat jelas......
lha kan ada persetubuhan tapi OBJEKnyah yg berubah...sedangkan kafirin yahudi MENYANGKA pembunuhan adalah menghasilkan kematian isa.jadi proses tetap dijalankan..objeknyah tetap.


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 1:41 pm

@abu hanan wrote:akang sayang....
anda uda berkali2 bilang GAK COCOK karena kita terpaku pada INNA yg selalu dianggap TERPISAH.padahal INNA adalah PERKATAAN MEREKA. dan perkataan mereka (qawlihim) inilah yg menjadi OBJEK SUMPAH...

hidungtrasinyah eh ilustrasinyah ;
sayah bersumpah demi kopi hitam (misal)...dan didalam kopi hitam itu ada gula,air dan kopi bubuk....
yg menurut kaidah seharusnyah gula itulah jawabul qasam padahal gula itu bagian dari kopi hitam yg sayah kamsutkan sebagai objek sumpah.erat dan terkait.

owh bugini....
awalnyah kan kita bahas 157..yg sayah baca sbg waw qasam..kemudian agar lebih jelas maka sayah tarik 156 wal 158.
karena secara KABAR,maka 3 ayat itu adalah satu rangkaian.
secara struktural 3 ayat tersebut adalah terpisah yg PASTI menyulitkan jika bergerak menuju tafsir.

demikian dari penghuni makam,seekor makhluk melata.

HT wrote:sumbang dikit ah.....

Kita ambil contoh dari istilah Wathi’ Syubhat dalam ilmu Ushul Fiqh..... prakteknya adalah, jika seorang suami menyetubuhi wanita lain yang disangka istrinya, bukan Wathi’nya/persetubuhannya yang di serupakan, tapi wanita lain itulah yang diserupakan bagi si suami. Tidak ada penyamaran disini, persetubuhan itu berjalan lancar dan sangat jelas......
lha kan ada persetubuhan tapi OBJEKnyah yg berubah...sedangkan kafirin yahudi MENYANGKA pembunuhan adalah menghasilkan kematian isa.jadi proses tetap dijalankan..objeknyah tetap.

AH : akang sayang....
anda uda berkali2 bilang GAK COCOK karena kita terpaku pada INNA yg selalu dianggap TERPISAH.padahal INNA adalah PERKATAAN MEREKA. dan perkataan mereka (qawlihim) inilah yg menjadi OBJEK SUMPAH...

hidungtrasinyah eh ilustrasinyah ;
sayah bersumpah demi kopi hitam (misal)...dan didalam kopi hitam itu ada gula,air dan kopi bubuk....
yg menurut kaidah seharusnyah gula itulah jawabul qasam padahal gula itu bagian dari kopi hitam yg sayah kamsutkan sebagai objek sumpah.erat dan terkait.

HT : nah... gtu dong kang mas abu.... drpd pusing2 kita jadiin wawu qasam diawal ayat annisa 157 tsb, maka wawu tsb kita jadiin sebagai wawu athaf aja deh.......

owh bugini....
awalnyah kan kita bahas 157..yg sayah baca sbg waw qasam..kemudian agar lebih jelas maka sayah tarik 156 wal 158.
karena secara KABAR,maka 3 ayat itu adalah satu rangkaian.
secara struktural 3 ayat tersebut adalah terpisah yg PASTI menyulitkan jika bergerak menuju tafsir.

demikian dari penghuni makam,seekor makhluk melata.

HT : ini dia kang mas abuku sayang... cocok banget wawu diawal ayat annisa 157 tsb adalah wawu athaf, mantap kang mas.......


HT wrote:sumbang dikit ah.....

Kita ambil contoh dari istilah Wathi’ Syubhat dalam ilmu Ushul Fiqh..... prakteknya adalah, jika seorang suami menyetubuhi wanita lain yang disangka istrinya, bukan Wathi’nya/persetubuhannya yang di serupakan, tapi wanita lain itulah yang diserupakan bagi si suami. Tidak ada penyamaran disini, persetubuhan itu berjalan lancar dan sangat jelas......

AH : lha kan ada persetubuhan tapi OBJEKnyah yg berubah...sedangkan kafirin yahudi MENYANGKA pembunuhan adalah menghasilkan kematian isa.jadi proses tetap dijalankan..objeknyah tetap.

HT: Bukannya sisuami menyangka bahwa yg disetubuhiinya tsb adalah istrinya..... begitulah kira2 kasus dgn si yahudi tsb.... hmmmmm


Terakhir diubah oleh hamba tuhan tanggal Thu Jun 14, 2012 1:50 pm, total 1 kali diubah
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 1:46 pm

nambah dikit lg sumbangannya deh.... moga bermanfaat...

وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم
Dalam bagian ayat ini terdapat perkataan "lakin" yang artinya "tetapi". Selamanya perkataan "lakin" dipergunakan untuk untuk menghilangkan sesuatu kesamaran atau keraguan yang timbul dalam kalimat sebelumnya. Dalam "Muslim Isubut" (semacam buku Pelajaran Bahasa Arab) diterangkan tentang perkataan "lakin" begini: "Lakin khafifatan wastaqilatan lil istidraki. Wahuwa raf'ut tawahhummi nasyi-u'anissabiqi. Wasyartuhul ihktilafu kaifan wa ma'nan"......("Lakin" itu baik ia khafifah atau staqilah, adalah gunanya untuk istidrak, yaitu menghilangkan keraguan yang terjadi dalam kalimat yang sebelumnya. Dan syaratnya adalah berlawanan dalam segi kaifiat dan makna).

Dalam kitab "Syarah Jami" (juga buku Pelajaran Bahasa Arab) diterangkan sebagai berikut: "Wa lakin lil istidraki. Wama'nal istidraku raf'u tawahhamu yatalladu minal kalamil mutaqaddamu tawassatu baina kalamaini mutaghayyaraini nfyan wa isbatan ma'nan ai taghayyuran ma'nawiyayan. Waddaruriyyu huwa lima'nawiyyin".....("Lakin" itu gunanya untuk istidrak. Yang dikatakan istidrak ialah menghilangkan keraguan yang timbul atau terjadi pada kalimat yang sebelumnya. Ia terletak di antara dua buah kalimat yang berlainan dalam hal mengiyakan dan menidakkan menurut arti dan makna dan yang terpenting dalam segi makna).

Dalam kitab "Tahzibut Taudih" juz pertama, halaman 79 ada tertulis:
"Lakin wahia lil istidraki. wahuwa ta'qibul kalam binnafyi ma yatawahhamu tsbutuhu au bi itsbati ma yatawahhamu nafyuhu. Famitsalul awwali: 'Aliyyun syuja'un lakinnahu bakhilun. Rufi'at bilakin tawahhamu annahu karimun limulazimatil karamusysyuja'ah.Wamitsasustsani qauluka: Ibrahimu juubbanun, lakinnahu karimun. Atsbata bihal karamul lazi yatawahhamu nafyuhu min itsbatil jubnu"......("Lakin" itu gunanya untuk istidrak. Ia mengiringi kalimat dengan nafi apa yang diragukan oleh tsubutnya. Atau meisbatkan (menetapkan) apa yang diragukan oleh nafinya (tidaknya).
Misal yang pertama seperti: 'Si Ali berani, tetapi ia kikir. Dengan perkataan "lakin" maka hilanglah sangka-sangka yang mengganggap ia seorang pemurah, karena yang menurut yang biasa, apabila ada sifat keberanian , sudah barang tentu mesti ada sifat pemurah. Misal kedua: Ibrahim seorang pengecut, tetapi ia pemurah . Dengan perkataan "lakin" maka hilanglah keraguan buruk yang terdapat pada perkataan pengecut. Dan sekarang ia menjadi orang yang terhormat.
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by abu hanan on Thu Jun 14, 2012 3:01 pm

HT wrote:
AH wrote:akang sayang....
anda uda berkali2 bilang GAK COCOK karena kita terpaku pada INNA yg selalu dianggap TERPISAH.padahal INNA adalah PERKATAAN MEREKA. dan perkataan mereka (qawlihim) inilah yg menjadi OBJEK SUMPAH...

hidungtrasinyah eh ilustrasinyah ;
sayah bersumpah demi kopi hitam (misal)...dan didalam kopi hitam itu ada gula,air dan kopi bubuk....
yg menurut kaidah seharusnyah gula itulah jawabul qasam padahal gula itu bagian dari kopi hitam yg sayah kamsutkan sebagai objek sumpah.erat dan terkait.

HT : nah... gtu dong kang mas abu.... drpd pusing2 kita jadiin wawu qasam diawal ayat annisa 157 tsb, maka wawu tsb kita jadiin sebagai wawu athaf aja deh.......

AH wrote:owh bugini....
awalnyah kan kita bahas 157..yg sayah baca sbg waw qasam..kemudian agar lebih jelas maka sayah tarik 156 wal 158.
karena secara KABAR,maka 3 ayat itu adalah satu rangkaian.
secara struktural 3 ayat tersebut adalah terpisah yg PASTI menyulitkan jika bergerak menuju tafsir.

demikian dari penghuni makam,seekor makhluk melata

HT : ini dia kang mas abuku sayang... cocok banget wawu diawal ayat annisa 157 tsb adalah wawu athaf, mantap kang mas.......


HT wrote:sumbang dikit ah.....

Kita ambil contoh dari istilah Wathi’ Syubhat dalam ilmu Ushul Fiqh..... prakteknya adalah, jika seorang suami menyetubuhi wanita lain yang disangka istrinya, bukan Wathi’nya/persetubuhannya yang di serupakan, tapi wanita lain itulah yang diserupakan bagi si suami. Tidak ada penyamaran disini, persetubuhan itu berjalan lancar dan sangat jelas......

AH wrote:AH : lha kan ada persetubuhan tapi OBJEKnyah yg berubah...sedangkan kafirin yahudi MENYANGKA pembunuhan adalah menghasilkan kematian isa.jadi proses tetap dijalankan..objeknyah tetap.

HT: Bukannya sisuami menyangka bahwa yg disetubuhiinya tsb adalah istrinya..... begitulah kira2 kasus dgn si yahudi tsb.... hmmmmm
sebwetulnyah kang tidak perlu memaksa diri dengan waw qasam agar sesuai kaidah karena gak semua waw qasam membutuhkan jawaban.
apabila tiap ayat (156 wal 157) dibaca sbg waw qasam pun tidak merubah arti bahwa ada jawabul qasamnyah.إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ TETAPI 156 dilarang dibaca sbg WAW qasam kalo cuman berhenti disitu,mesti dilanjut ke 157.

Lha si swami MENYANGKA objeknyah tetap padahal BERUBAH.sedangkan an nisa 157 karena syubbiha yg pasif dan tidak menunjukkan indikasi ada pergantian maka OBJEK tetap.
si swami melakukan pekerjaan dan objek berubah ->sesuai yg anda sertakan.
si swami melakukan pekerjaan dan objek tidak berubah TETAPI swami mengira dia uda kelar padahal belum...kamsutnyah sayah,apakah sitri uda mencapai klimaks?

mengapa terjadi PERSANGKAAN bahwa wanita itu adalah sitrinyah padahal bukan?


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 4:18 pm

@abu hanan wrote:
HT wrote:
AH wrote:akang sayang....
anda uda berkali2 bilang GAK COCOK karena kita terpaku pada INNA yg selalu dianggap TERPISAH.padahal INNA adalah PERKATAAN MEREKA. dan perkataan mereka (qawlihim) inilah yg menjadi OBJEK SUMPAH...

hidungtrasinyah eh ilustrasinyah ;
sayah bersumpah demi kopi hitam (misal)...dan didalam kopi hitam itu ada gula,air dan kopi bubuk....
yg menurut kaidah seharusnyah gula itulah jawabul qasam padahal gula itu bagian dari kopi hitam yg sayah kamsutkan sebagai objek sumpah.erat dan terkait.

HT : nah... gtu dong kang mas abu.... drpd pusing2 kita jadiin wawu qasam diawal ayat annisa 157 tsb, maka wawu tsb kita jadiin sebagai wawu athaf aja deh.......

AH wrote:owh bugini....
awalnyah kan kita bahas 157..yg sayah baca sbg waw qasam..kemudian agar lebih jelas maka sayah tarik 156 wal 158.
karena secara KABAR,maka 3 ayat itu adalah satu rangkaian.
secara struktural 3 ayat tersebut adalah terpisah yg PASTI menyulitkan jika bergerak menuju tafsir.

demikian dari penghuni makam,seekor makhluk melata

HT : ini dia kang mas abuku sayang... cocok banget wawu diawal ayat annisa 157 tsb adalah wawu athaf, mantap kang mas.......


HT wrote:sumbang dikit ah.....

Kita ambil contoh dari istilah Wathi’ Syubhat dalam ilmu Ushul Fiqh..... prakteknya adalah, jika seorang suami menyetubuhi wanita lain yang disangka istrinya, bukan Wathi’nya/persetubuhannya yang di serupakan, tapi wanita lain itulah yang diserupakan bagi si suami. Tidak ada penyamaran disini, persetubuhan itu berjalan lancar dan sangat jelas......

AH wrote:AH : lha kan ada persetubuhan tapi OBJEKnyah yg berubah...sedangkan kafirin yahudi MENYANGKA pembunuhan adalah menghasilkan kematian isa.jadi proses tetap dijalankan..objeknyah tetap.

HT: Bukannya sisuami menyangka bahwa yg disetubuhiinya tsb adalah istrinya..... begitulah kira2 kasus dgn si yahudi tsb.... hmmmmm
sebwetulnyah kang tidak perlu memaksa diri dengan waw qasam agar sesuai kaidah karena gak semua waw qasam membutuhkan jawaban.
apabila tiap ayat (156 wal 157) dibaca sbg waw qasam pun tidak merubah arti bahwa ada jawabul qasamnyah.إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ TETAPI 156 dilarang dibaca sbg WAW qasam kalo cuman berhenti disitu,mesti dilanjut ke 157.

Lha si swami MENYANGKA objeknyah tetap padahal BERUBAH.sedangkan an nisa 157 karena syubbiha yg pasif dan tidak menunjukkan indikasi ada pergantian maka OBJEK tetap.
si swami melakukan pekerjaan dan objek berubah ->sesuai yg anda sertakan.
si swami melakukan pekerjaan dan objek tidak berubah TETAPI swami mengira dia uda kelar padahal belum...kamsutnyah sayah,apakah sitri uda mencapai klimaks?

mengapa terjadi PERSANGKAAN bahwa wanita itu adalah sitrinyah padahal bukan?

waduh kang mas abu... kok jd ribet bgni ya??? heheee....

AH : sebwetulnyah kang tidak perlu memaksa diri dengan waw qasam agar sesuai kaidah karena gak semua waw qasam membutuhkan jawaban.
apabila tiap ayat (156 wal 157) dibaca sbg waw qasam pun tidak merubah arti bahwa ada jawabul qasamnyah.إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ TETAPI 156 dilarang dibaca sbg WAW qasam kalo cuman berhenti disitu,mesti dilanjut ke 157.

HT : saya gak memaksakan kang mas abu... cumen mslahnya kalo kita jadikan wawu diawal ayat annisa 157 tsb qasam, jawaban qasamnya ada diayat tsb.... bener seperti kang mas bilang bahwa gak semua waw qasam membutuhkan jawaban... karna jawab qasam dihilangkan/dibuang dgn alasan sbb:
1. di dalam muqsam bih nya sudah terkandung makna muqsam ‘alaih.
2. qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat.....
2 alasan tsb emang bener2 gada jawab qasamnya yg zhahir dlm ayat tsb... persoalan di annisa 157 ada jawab qasamnya secara zhahir.. maka gak berlaku 2 alasan tsb kang mas abu....


AH : Lha si swami MENYANGKA objeknyah tetap padahal BERUBAH.sedangkan an nisa 157 karena syubbiha yg pasif dan tidak menunjukkan indikasi ada pergantian maka OBJEK tetap.
si swami melakukan pekerjaan dan objek berubah ->sesuai yg anda sertakan.
si swami melakukan pekerjaan dan objek tidak berubah TETAPI swami mengira dia uda kelar padahal belum...kamsutnyah sayah,apakah sitri uda mencapai klimaks?

mengapa terjadi PERSANGKAAN bahwa wanita itu adalah sitrinyah padahal bukan?

HT : bener syubbiha itu kalimat pasif alias fi’il majhul, nah... fi’il majhul adalah fi’il yang tidak disebutkan pelakunya, alias pelakunya tidak nampak(pelakunya ghaib/ tdk keliatan)... fi’il majhul tdk membicarakan objek tetap atau berubah...

وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka

kalimat pasif : Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

:surban: :study:
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by abu hanan on Thu Jun 14, 2012 4:34 pm

@hamba tuhan wrote:
@abu hanan wrote:
HT wrote:
AH wrote:akang sayang....
anda uda berkali2 bilang GAK COCOK karena kita terpaku pada INNA yg selalu dianggap TERPISAH.padahal INNA adalah PERKATAAN MEREKA. dan perkataan mereka (qawlihim) inilah yg menjadi OBJEK SUMPAH...

hidungtrasinyah eh ilustrasinyah ;
sayah bersumpah demi kopi hitam (misal)...dan didalam kopi hitam itu ada gula,air dan kopi bubuk....
yg menurut kaidah seharusnyah gula itulah jawabul qasam padahal gula itu bagian dari kopi hitam yg sayah kamsutkan sebagai objek sumpah.erat dan terkait.

HT : nah... gtu dong kang mas abu.... drpd pusing2 kita jadiin wawu qasam diawal ayat annisa 157 tsb, maka wawu tsb kita jadiin sebagai wawu athaf aja deh.......

AH wrote:owh bugini....
awalnyah kan kita bahas 157..yg sayah baca sbg waw qasam..kemudian agar lebih jelas maka sayah tarik 156 wal 158.
karena secara KABAR,maka 3 ayat itu adalah satu rangkaian.
secara struktural 3 ayat tersebut adalah terpisah yg PASTI menyulitkan jika bergerak menuju tafsir.

demikian dari penghuni makam,seekor makhluk melata

HT : ini dia kang mas abuku sayang... cocok banget wawu diawal ayat annisa 157 tsb adalah wawu athaf, mantap kang mas.......


HT wrote:sumbang dikit ah.....

Kita ambil contoh dari istilah Wathi’ Syubhat dalam ilmu Ushul Fiqh..... prakteknya adalah, jika seorang suami menyetubuhi wanita lain yang disangka istrinya, bukan Wathi’nya/persetubuhannya yang di serupakan, tapi wanita lain itulah yang diserupakan bagi si suami. Tidak ada penyamaran disini, persetubuhan itu berjalan lancar dan sangat jelas......

AH wrote:AH : lha kan ada persetubuhan tapi OBJEKnyah yg berubah...sedangkan kafirin yahudi MENYANGKA pembunuhan adalah menghasilkan kematian isa.jadi proses tetap dijalankan..objeknyah tetap.

HT: Bukannya sisuami menyangka bahwa yg disetubuhiinya tsb adalah istrinya..... begitulah kira2 kasus dgn si yahudi tsb.... hmmmmm
sebwetulnyah kang tidak perlu memaksa diri dengan waw qasam agar sesuai kaidah karena gak semua waw qasam membutuhkan jawaban.
apabila tiap ayat (156 wal 157) dibaca sbg waw qasam pun tidak merubah arti bahwa ada jawabul qasamnyah.إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ TETAPI 156 dilarang dibaca sbg WAW qasam kalo cuman berhenti disitu,mesti dilanjut ke 157.

Lha si swami MENYANGKA objeknyah tetap padahal BERUBAH.sedangkan an nisa 157 karena syubbiha yg pasif dan tidak menunjukkan indikasi ada pergantian maka OBJEK tetap.
si swami melakukan pekerjaan dan objek berubah ->sesuai yg anda sertakan.
si swami melakukan pekerjaan dan objek tidak berubah TETAPI swami mengira dia uda kelar padahal belum...kamsutnyah sayah,apakah sitri uda mencapai klimaks?

mengapa terjadi PERSANGKAAN bahwa wanita itu adalah sitrinyah padahal bukan?

waduh kang mas abu... kok jd ribet bgni ya??? heheee....

AH : sebwetulnyah kang tidak perlu memaksa diri dengan waw qasam agar sesuai kaidah karena gak semua waw qasam membutuhkan jawaban.
apabila tiap ayat (156 wal 157) dibaca sbg waw qasam pun tidak merubah arti bahwa ada jawabul qasamnyah.إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ TETAPI 156 dilarang dibaca sbg WAW qasam kalo cuman berhenti disitu,mesti dilanjut ke 157.

HT : saya gak memaksakan kang mas abu... cumen mslahnya kalo kita jadikan wawu diawal ayat annisa 157 tsb qasam, jawaban qasamnya ada diayat tsb.... bener seperti kang mas bilang bahwa gak semua waw qasam membutuhkan jawaban... karna jawab qasam dihilangkan/dibuang dgn alasan sbb:
1. di dalam muqsam bih nya sudah terkandung makna muqsam ‘alaih.
2. qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat.....
2 alasan tsb emang bener2 gada jawab qasamnya yg zhahir dlm ayat tsb... persoalan di annisa 157 ada jawab qasamnya secara zhahir.. maka gak berlaku 2 alasan tsb kang mas abu....


AH : Lha si swami MENYANGKA objeknyah tetap padahal BERUBAH.sedangkan an nisa 157 karena syubbiha yg pasif dan tidak menunjukkan indikasi ada pergantian maka OBJEK tetap.
si swami melakukan pekerjaan dan objek berubah ->sesuai yg anda sertakan.
si swami melakukan pekerjaan dan objek tidak berubah TETAPI swami mengira dia uda kelar padahal belum...kamsutnyah sayah,apakah sitri uda mencapai klimaks?

mengapa terjadi PERSANGKAAN bahwa wanita itu adalah sitrinyah padahal bukan?

HT : bener syubbiha itu kalimat pasif alias fi’il majhul, nah... fi’il majhul adalah fi’il yang tidak disebutkan pelakunya, alias pelakunya tidak nampak(pelakunya ghaib/ tdk keliatan)... fi’il majhul tdk membicarakan objek tetap atau berubah...

وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

:surban: :study:
lha biarin aja jadi ribet lha kaidah yg kita pake sama tapi beda penerapan aja.itupun kalow waw qasam,lha kalow sayah balik ke waw 'athaf apa jadi masyalah?gak bakal deh hahahaha....
2. qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat..... kan sayah uda bilang gitu toh...karena bagi sayah emang uda jelas dan terang makanyah sayah anggap waw an nisa 157 adalah qasam..

yg jadi ribet dan muter2 tak lain adalah media belajarnyah bagi semua yg baca obrolan kita...
ehmm piss

fi’il majhul adalah fi’il yang tidak disebutkan pelakunya, alias pelakunya tidak nampak(pelakunya ghaib/ tdk keliatan)..???
mungkin kamsut akang adalah pelaku DISEMBUNYIKAN oleh allah?
apakah pelaku yg akang kamsut adalah pengganti nabi isa?

**untuk sesi WAW qasam,apakah hadirin ada pertanyaan?jika tidak maka sesi belajarnyah waw qasam dihentikan.anda bisa meneruskan di lapak basa arab di mall sebelah di kompleks jannatul laskar islam**


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 4:37 pm

@abu hanan wrote:
@hamba tuhan wrote:
@abu hanan wrote:
HT wrote:
AH wrote:akang sayang....
anda uda berkali2 bilang GAK COCOK karena kita terpaku pada INNA yg selalu dianggap TERPISAH.padahal INNA adalah PERKATAAN MEREKA. dan perkataan mereka (qawlihim) inilah yg menjadi OBJEK SUMPAH...

hidungtrasinyah eh ilustrasinyah ;
sayah bersumpah demi kopi hitam (misal)...dan didalam kopi hitam itu ada gula,air dan kopi bubuk....
yg menurut kaidah seharusnyah gula itulah jawabul qasam padahal gula itu bagian dari kopi hitam yg sayah kamsutkan sebagai objek sumpah.erat dan terkait.

HT : nah... gtu dong kang mas abu.... drpd pusing2 kita jadiin wawu qasam diawal ayat annisa 157 tsb, maka wawu tsb kita jadiin sebagai wawu athaf aja deh.......

AH wrote:owh bugini....
awalnyah kan kita bahas 157..yg sayah baca sbg waw qasam..kemudian agar lebih jelas maka sayah tarik 156 wal 158.
karena secara KABAR,maka 3 ayat itu adalah satu rangkaian.
secara struktural 3 ayat tersebut adalah terpisah yg PASTI menyulitkan jika bergerak menuju tafsir.

demikian dari penghuni makam,seekor makhluk melata

HT : ini dia kang mas abuku sayang... cocok banget wawu diawal ayat annisa 157 tsb adalah wawu athaf, mantap kang mas.......


HT wrote:sumbang dikit ah.....

Kita ambil contoh dari istilah Wathi’ Syubhat dalam ilmu Ushul Fiqh..... prakteknya adalah, jika seorang suami menyetubuhi wanita lain yang disangka istrinya, bukan Wathi’nya/persetubuhannya yang di serupakan, tapi wanita lain itulah yang diserupakan bagi si suami. Tidak ada penyamaran disini, persetubuhan itu berjalan lancar dan sangat jelas......

AH wrote:AH : lha kan ada persetubuhan tapi OBJEKnyah yg berubah...sedangkan kafirin yahudi MENYANGKA pembunuhan adalah menghasilkan kematian isa.jadi proses tetap dijalankan..objeknyah tetap.

HT: Bukannya sisuami menyangka bahwa yg disetubuhiinya tsb adalah istrinya..... begitulah kira2 kasus dgn si yahudi tsb.... hmmmmm
sebwetulnyah kang tidak perlu memaksa diri dengan waw qasam agar sesuai kaidah karena gak semua waw qasam membutuhkan jawaban.
apabila tiap ayat (156 wal 157) dibaca sbg waw qasam pun tidak merubah arti bahwa ada jawabul qasamnyah.إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ TETAPI 156 dilarang dibaca sbg WAW qasam kalo cuman berhenti disitu,mesti dilanjut ke 157.

Lha si swami MENYANGKA objeknyah tetap padahal BERUBAH.sedangkan an nisa 157 karena syubbiha yg pasif dan tidak menunjukkan indikasi ada pergantian maka OBJEK tetap.
si swami melakukan pekerjaan dan objek berubah ->sesuai yg anda sertakan.
si swami melakukan pekerjaan dan objek tidak berubah TETAPI swami mengira dia uda kelar padahal belum...kamsutnyah sayah,apakah sitri uda mencapai klimaks?

mengapa terjadi PERSANGKAAN bahwa wanita itu adalah sitrinyah padahal bukan?

waduh kang mas abu... kok jd ribet bgni ya??? heheee....

AH : sebwetulnyah kang tidak perlu memaksa diri dengan waw qasam agar sesuai kaidah karena gak semua waw qasam membutuhkan jawaban.
apabila tiap ayat (156 wal 157) dibaca sbg waw qasam pun tidak merubah arti bahwa ada jawabul qasamnyah.إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ TETAPI 156 dilarang dibaca sbg WAW qasam kalo cuman berhenti disitu,mesti dilanjut ke 157.

HT : saya gak memaksakan kang mas abu... cumen mslahnya kalo kita jadikan wawu diawal ayat annisa 157 tsb qasam, jawaban qasamnya ada diayat tsb.... bener seperti kang mas bilang bahwa gak semua waw qasam membutuhkan jawaban... karna jawab qasam dihilangkan/dibuang dgn alasan sbb:
1. di dalam muqsam bih nya sudah terkandung makna muqsam ‘alaih.
2. qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat.....
2 alasan tsb emang bener2 gada jawab qasamnya yg zhahir dlm ayat tsb... persoalan di annisa 157 ada jawab qasamnya secara zhahir.. maka gak berlaku 2 alasan tsb kang mas abu....


AH : Lha si swami MENYANGKA objeknyah tetap padahal BERUBAH.sedangkan an nisa 157 karena syubbiha yg pasif dan tidak menunjukkan indikasi ada pergantian maka OBJEK tetap.
si swami melakukan pekerjaan dan objek berubah ->sesuai yg anda sertakan.
si swami melakukan pekerjaan dan objek tidak berubah TETAPI swami mengira dia uda kelar padahal belum...kamsutnyah sayah,apakah sitri uda mencapai klimaks?

mengapa terjadi PERSANGKAAN bahwa wanita itu adalah sitrinyah padahal bukan?

HT : bener syubbiha itu kalimat pasif alias fi’il majhul, nah... fi’il majhul adalah fi’il yang tidak disebutkan pelakunya, alias pelakunya tidak nampak(pelakunya ghaib/ tdk keliatan)... fi’il majhul tdk membicarakan objek tetap atau berubah...

وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

:surban: :study:
lha biarin aja jadi ribet lha kaidah yg kita pake sama tapi beda penerapan aja.itupun kalow waw qasam,lha kalow sayah balik ke waw 'athaf apa jadi masyalah?gak bakal deh hahahaha....
2. qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat..... kan sayah uda bilang gitu toh...karena bagi sayah emang uda jelas dan terang makanyah sayah anggap waw an nisa 157 adalah qasam..

yg jadi ribet dan muter2 tak lain adalah media belajarnyah bagi semua yg baca obrolan kita...
ehmm piss

fi’il majhul adalah fi’il yang tidak disebutkan pelakunya, alias pelakunya tidak nampak(pelakunya ghaib/ tdk keliatan)..???
mungkin kamsut akang adalah pelaku DISEMBUNYIKAN oleh allah?
apakah pelaku yg akang kamsut adalah pengganti nabi isa?

**untuk sesi WAW qasam,apakah hadirin ada pertanyaan?jika ada maka sesi belajarnyah waw qasam dihentikan.anda bisa meneruskan di lapak basa arab di mall sebelah di kompleks jannatul laskar islam**

kang mas... ntar2 aja saya tanggapin lg ya.... heheeeee... ngejar asharan dl neh!!!! mudah2an rekan2 yg lain gak pusing aja kang mas.... heheee
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by abu hanan on Thu Jun 14, 2012 4:39 pm

kalimat pasif : Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

http://www.laskarislam.com/t2322p35-isra-mi-rajal-aqsha-di-palestina#21658

supaya gak ngotorin lapak...


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 5:02 pm

@abu hanan wrote:kalimat pasif : Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

http://www.laskarislam.com/t2322p35-isra-mi-rajal-aqsha-di-palestina#21658

supaya gak ngotorin lapak...

alhamdulillah kang mas... Allah msh memberikan kpd saya sehat badan dan pikiran sehingga bs melaksanakan shalat ashar, baiklah kang mas kita lanjut lg ya dgn catatan pembahasan wawu qasam dah closed dithread ini....

:lkj:

maaf kang mas, bukan maksud hamba mau ngotori thread ini cumen sbgai perbandingan aja antara kalimat pasif dgn kalimat aktif

kalimat pasif : walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka

kalimat aktif : Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

mohon maaf kalo salah kang mas.....
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 5:05 pm

@abu hanan wrote:
@hamba tuhan wrote:
@abu hanan wrote:
HT wrote:
AH wrote:akang sayang....
anda uda berkali2 bilang GAK COCOK karena kita terpaku pada INNA yg selalu dianggap TERPISAH.padahal INNA adalah PERKATAAN MEREKA. dan perkataan mereka (qawlihim) inilah yg menjadi OBJEK SUMPAH...

hidungtrasinyah eh ilustrasinyah ;
sayah bersumpah demi kopi hitam (misal)...dan didalam kopi hitam itu ada gula,air dan kopi bubuk....
yg menurut kaidah seharusnyah gula itulah jawabul qasam padahal gula itu bagian dari kopi hitam yg sayah kamsutkan sebagai objek sumpah.erat dan terkait.

HT : nah... gtu dong kang mas abu.... drpd pusing2 kita jadiin wawu qasam diawal ayat annisa 157 tsb, maka wawu tsb kita jadiin sebagai wawu athaf aja deh.......

AH wrote:owh bugini....
awalnyah kan kita bahas 157..yg sayah baca sbg waw qasam..kemudian agar lebih jelas maka sayah tarik 156 wal 158.
karena secara KABAR,maka 3 ayat itu adalah satu rangkaian.
secara struktural 3 ayat tersebut adalah terpisah yg PASTI menyulitkan jika bergerak menuju tafsir.

demikian dari penghuni makam,seekor makhluk melata

HT : ini dia kang mas abuku sayang... cocok banget wawu diawal ayat annisa 157 tsb adalah wawu athaf, mantap kang mas.......


HT wrote:sumbang dikit ah.....

Kita ambil contoh dari istilah Wathi’ Syubhat dalam ilmu Ushul Fiqh..... prakteknya adalah, jika seorang suami menyetubuhi wanita lain yang disangka istrinya, bukan Wathi’nya/persetubuhannya yang di serupakan, tapi wanita lain itulah yang diserupakan bagi si suami. Tidak ada penyamaran disini, persetubuhan itu berjalan lancar dan sangat jelas......

AH wrote:AH : lha kan ada persetubuhan tapi OBJEKnyah yg berubah...sedangkan kafirin yahudi MENYANGKA pembunuhan adalah menghasilkan kematian isa.jadi proses tetap dijalankan..objeknyah tetap.

HT: Bukannya sisuami menyangka bahwa yg disetubuhiinya tsb adalah istrinya..... begitulah kira2 kasus dgn si yahudi tsb.... hmmmmm
sebwetulnyah kang tidak perlu memaksa diri dengan waw qasam agar sesuai kaidah karena gak semua waw qasam membutuhkan jawaban.
apabila tiap ayat (156 wal 157) dibaca sbg waw qasam pun tidak merubah arti bahwa ada jawabul qasamnyah.إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ TETAPI 156 dilarang dibaca sbg WAW qasam kalo cuman berhenti disitu,mesti dilanjut ke 157.

Lha si swami MENYANGKA objeknyah tetap padahal BERUBAH.sedangkan an nisa 157 karena syubbiha yg pasif dan tidak menunjukkan indikasi ada pergantian maka OBJEK tetap.
si swami melakukan pekerjaan dan objek berubah ->sesuai yg anda sertakan.
si swami melakukan pekerjaan dan objek tidak berubah TETAPI swami mengira dia uda kelar padahal belum...kamsutnyah sayah,apakah sitri uda mencapai klimaks?

mengapa terjadi PERSANGKAAN bahwa wanita itu adalah sitrinyah padahal bukan?

waduh kang mas abu... kok jd ribet bgni ya??? heheee....

AH : sebwetulnyah kang tidak perlu memaksa diri dengan waw qasam agar sesuai kaidah karena gak semua waw qasam membutuhkan jawaban.
apabila tiap ayat (156 wal 157) dibaca sbg waw qasam pun tidak merubah arti bahwa ada jawabul qasamnyah.إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ TETAPI 156 dilarang dibaca sbg WAW qasam kalo cuman berhenti disitu,mesti dilanjut ke 157.

HT : saya gak memaksakan kang mas abu... cumen mslahnya kalo kita jadikan wawu diawal ayat annisa 157 tsb qasam, jawaban qasamnya ada diayat tsb.... bener seperti kang mas bilang bahwa gak semua waw qasam membutuhkan jawaban... karna jawab qasam dihilangkan/dibuang dgn alasan sbb:
1. di dalam muqsam bih nya sudah terkandung makna muqsam ‘alaih.
2. qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat.....
2 alasan tsb emang bener2 gada jawab qasamnya yg zhahir dlm ayat tsb... persoalan di annisa 157 ada jawab qasamnya secara zhahir.. maka gak berlaku 2 alasan tsb kang mas abu....


AH : Lha si swami MENYANGKA objeknyah tetap padahal BERUBAH.sedangkan an nisa 157 karena syubbiha yg pasif dan tidak menunjukkan indikasi ada pergantian maka OBJEK tetap.
si swami melakukan pekerjaan dan objek berubah ->sesuai yg anda sertakan.
si swami melakukan pekerjaan dan objek tidak berubah TETAPI swami mengira dia uda kelar padahal belum...kamsutnyah sayah,apakah sitri uda mencapai klimaks?

mengapa terjadi PERSANGKAAN bahwa wanita itu adalah sitrinyah padahal bukan?

HT : bener syubbiha itu kalimat pasif alias fi’il majhul, nah... fi’il majhul adalah fi’il yang tidak disebutkan pelakunya, alias pelakunya tidak nampak(pelakunya ghaib/ tdk keliatan)... fi’il majhul tdk membicarakan objek tetap atau berubah...

وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

:surban: :study:
lha biarin aja jadi ribet lha kaidah yg kita pake sama tapi beda penerapan aja.itupun kalow waw qasam,lha kalow sayah balik ke waw 'athaf apa jadi masyalah?gak bakal deh hahahaha....
2. qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat..... kan sayah uda bilang gitu toh...karena bagi sayah emang uda jelas dan terang makanyah sayah anggap waw an nisa 157 adalah qasam..

yg jadi ribet dan muter2 tak lain adalah media belajarnyah bagi semua yg baca obrolan kita...
ehmm piss

fi’il majhul adalah fi’il yang tidak disebutkan pelakunya, alias pelakunya tidak nampak(pelakunya ghaib/ tdk keliatan)..???
mungkin kamsut akang adalah pelaku DISEMBUNYIKAN oleh allah?
apakah pelaku yg akang kamsut adalah pengganti nabi isa?

**untuk sesi WAW qasam,apakah hadirin ada pertanyaan?jika tidak maka sesi belajarnyah waw qasam dihentikan.anda bisa meneruskan di lapak basa arab di mall sebelah di kompleks jannatul laskar islam**

kalimat pasif : walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka
kalimat aktif : Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

nah... disini kita mencari siapa seh subjek/ pelaku tsb??? kalo menurut saya adalah ALLAH SWT.....

jadi : وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by Jagona on Thu Jun 14, 2012 5:11 pm

@mang odoy wrote:@YA

yang dibicarakan pada An Nisaa 157 adalah mengenai diselamatkannya nabi Isa dari upaya pembunuhan dan penyaliban....bukannya cerita mengenai terjadinya pembunuhan dan penyaliban nabi Isa....

WA MA SHALABUU HU...mereka tidak MENYALIBNYA (tidak/gagal mengeluarkan sumsum/wadak dari tulang Nabi Isa).... ini SINGKRON dengan pernyataan Yohanes 19:33..dengan pernyataan..."MEREKA TIDAK MEMATAHKAN KAKI YESUS"....

Karena PEMATAHAN KAKI ini adalah MOMENT yang MENENTUKAN hidup matinya Yesus/Nabi Isa...dan ini yang sebenernya MENOHOK KEIMANAN KRISTEN...karena keimanan mereka tergantung pada hal ini...Yesus MATI atow HIDUP...

Jadi .....TIDAK MENYALIBNYA (wa ma shalabuu hu) dalam An-Nisa 157...bukan berarti Nabi Isa TIDAK DIPASANG DI TIANG JEMURAN.......
Sudah saya buktikan bahwa kata MENYALIB dalam Kitab Kanonik, dalam bahasa aslinya yaitu STAUROO/ESTAUROSAN..artinya hanya MEMANTEK yaitu : memasang si terhukum dengan dirapatkan di KAYU LURUS, karena kata kerja "stauroo" sendiri diambil dari kata benda "stauros" yang artinya "kayu lurus"....


Ada bantahan..???

mang ..... yang dipasang di tiangf jemjuran itu siapa ? mang yakin itu nabi Isa ? .... lantas yang ngomong " .......... tetapi disamarkan untuk mereka" itu siapa ? bukankah DIA ... ALLAH, mang odoy gak yakin akan hal ini ?
mang cobalah teliti secara keseluruhan ...... jangan hanya soal pantek memantek aja.

Jagona
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 71
Posts : 4039
Kepercayaan : Islam
Location : Banten
Join date : 08.01.12
Reputation : 18

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 5:26 pm

@hamba tuhan wrote:
@abu hanan wrote:
@hamba tuhan wrote:
@abu hanan wrote:
HT wrote:

HT : nah... gtu dong kang mas abu.... drpd pusing2 kita jadiin wawu qasam diawal ayat annisa 157 tsb, maka wawu tsb kita jadiin sebagai wawu athaf aja deh.......



HT : ini dia kang mas abuku sayang... cocok banget wawu diawal ayat annisa 157 tsb adalah wawu athaf, mantap kang mas.......


HT wrote:sumbang dikit ah.....

Kita ambil contoh dari istilah Wathi’ Syubhat dalam ilmu Ushul Fiqh..... prakteknya adalah, jika seorang suami menyetubuhi wanita lain yang disangka istrinya, bukan Wathi’nya/persetubuhannya yang di serupakan, tapi wanita lain itulah yang diserupakan bagi si suami. Tidak ada penyamaran disini, persetubuhan itu berjalan lancar dan sangat jelas......



HT: Bukannya sisuami menyangka bahwa yg disetubuhiinya tsb adalah istrinya..... begitulah kira2 kasus dgn si yahudi tsb.... hmmmmm
sebwetulnyah kang tidak perlu memaksa diri dengan waw qasam agar sesuai kaidah karena gak semua waw qasam membutuhkan jawaban.
apabila tiap ayat (156 wal 157) dibaca sbg waw qasam pun tidak merubah arti bahwa ada jawabul qasamnyah.إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ TETAPI 156 dilarang dibaca sbg WAW qasam kalo cuman berhenti disitu,mesti dilanjut ke 157.

Lha si swami MENYANGKA objeknyah tetap padahal BERUBAH.sedangkan an nisa 157 karena syubbiha yg pasif dan tidak menunjukkan indikasi ada pergantian maka OBJEK tetap.
si swami melakukan pekerjaan dan objek berubah ->sesuai yg anda sertakan.
si swami melakukan pekerjaan dan objek tidak berubah TETAPI swami mengira dia uda kelar padahal belum...kamsutnyah sayah,apakah sitri uda mencapai klimaks?

mengapa terjadi PERSANGKAAN bahwa wanita itu adalah sitrinyah padahal bukan?

waduh kang mas abu... kok jd ribet bgni ya??? heheee....

AH : sebwetulnyah kang tidak perlu memaksa diri dengan waw qasam agar sesuai kaidah karena gak semua waw qasam membutuhkan jawaban.
apabila tiap ayat (156 wal 157) dibaca sbg waw qasam pun tidak merubah arti bahwa ada jawabul qasamnyah.إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ TETAPI 156 dilarang dibaca sbg WAW qasam kalo cuman berhenti disitu,mesti dilanjut ke 157.

HT : saya gak memaksakan kang mas abu... cumen mslahnya kalo kita jadikan wawu diawal ayat annisa 157 tsb qasam, jawaban qasamnya ada diayat tsb.... bener seperti kang mas bilang bahwa gak semua waw qasam membutuhkan jawaban... karna jawab qasam dihilangkan/dibuang dgn alasan sbb:
1. di dalam muqsam bih nya sudah terkandung makna muqsam ‘alaih.
2. qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat.....
2 alasan tsb emang bener2 gada jawab qasamnya yg zhahir dlm ayat tsb... persoalan di annisa 157 ada jawab qasamnya secara zhahir.. maka gak berlaku 2 alasan tsb kang mas abu....


AH : Lha si swami MENYANGKA objeknyah tetap padahal BERUBAH.sedangkan an nisa 157 karena syubbiha yg pasif dan tidak menunjukkan indikasi ada pergantian maka OBJEK tetap.
si swami melakukan pekerjaan dan objek berubah ->sesuai yg anda sertakan.
si swami melakukan pekerjaan dan objek tidak berubah TETAPI swami mengira dia uda kelar padahal belum...kamsutnyah sayah,apakah sitri uda mencapai klimaks?

mengapa terjadi PERSANGKAAN bahwa wanita itu adalah sitrinyah padahal bukan?

HT : bener syubbiha itu kalimat pasif alias fi’il majhul, nah... fi’il majhul adalah fi’il yang tidak disebutkan pelakunya, alias pelakunya tidak nampak(pelakunya ghaib/ tdk keliatan)... fi’il majhul tdk membicarakan objek tetap atau berubah...

وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

:surban: :study:
lha biarin aja jadi ribet lha kaidah yg kita pake sama tapi beda penerapan aja.itupun kalow waw qasam,lha kalow sayah balik ke waw 'athaf apa jadi masyalah?gak bakal deh hahahaha....
2. qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat..... kan sayah uda bilang gitu toh...karena bagi sayah emang uda jelas dan terang makanyah sayah anggap waw an nisa 157 adalah qasam..

yg jadi ribet dan muter2 tak lain adalah media belajarnyah bagi semua yg baca obrolan kita...
ehmm piss

fi’il majhul adalah fi’il yang tidak disebutkan pelakunya, alias pelakunya tidak nampak(pelakunya ghaib/ tdk keliatan)..???
mungkin kamsut akang adalah pelaku DISEMBUNYIKAN oleh allah?
apakah pelaku yg akang kamsut adalah pengganti nabi isa?

**untuk sesi WAW qasam,apakah hadirin ada pertanyaan?jika tidak maka sesi belajarnyah waw qasam dihentikan.anda bisa meneruskan di lapak basa arab di mall sebelah di kompleks jannatul laskar islam**

kalimat pasif : walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka
kalimat aktif : Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

nah... disini kita mencari siapa seh subjek/ pelaku tsb??? kalo menurut saya adalah ALLAH SWT.....

jadi : وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka

kang mas abu blum respon... baiklah lanjut aja dikit... dikarenakan udah ketemu subyek/ pelaku/ fa'il nya... skrg kita cari tau maf'ul bih nya....

akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka
maka akan timbul pertanyaan Allah telah menyerupakan apa????

1. peristiwa pembunuhankah?
2. peristiwa penyalibankah?
3. Nabi Isa kah?
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by abu hanan on Thu Jun 14, 2012 5:31 pm

@hamba tuhan wrote:
kalimat pasif : walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka
kalimat aktif : Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

nah... disini kita mencari siapa seh subjek/ pelaku tsb??? kalo menurut saya adalah ALLAH SWT.....

jadi : وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka
sayah menangkap bahwa akang mengajak untuk membaca kalimat pasif menjadi kalimat aktip?wokeh...

وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم
terdapat perbedaan antar syubbiha ketika diartikan sebagai DISERUPAKAN dan ketika diartikan sebagai DISAMARKAN.

jadi : وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi Allah telah menyamarkan(nya...) bagi mereka

jadi : وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka

mengapa berbeda?
kata SERUPA/MENIRU membutuhkan objek utk ditiru.sehingga memiliki makna MENJADI SEPERTI...

kata SAMAR/MENYAMARKAN tidak membutuhkan objek utk ditiru.
AH wrote:
شُبِّهَ لَهُمْ apakah mengandung unsur pengganti?
bahwa isa bin maryam digantikan oleh orang lain yg sebagian prang berpendapat adalah yudas iskariot,sebagian lain berpendapat org tersebut adalah yohanes pembaptis/yahya biz zakaria....

secara sederhana frase وَمَا صَلَبُوهُ telah menujukkan tiada pengganti di dalam peristiwa tersebut.kamsutnyah sayah,isa bin maryam BENAR2 menjalani hukuman dan disiksa..mengapa?
frase وَمَا صَلَبُوهُ membawa arti bahwa sang pengganti juga gak dimutilasi dan lolos dari kematian.lha terus yg mati siyapa?yah gak ada...kamsutnyah sayah teori subtitusi/stuntment menghasilkan sesuatu yg gak diduga ;
1.isa bin maryam rahimahullah alaihi DIGANTI org lain
2.sang pengganti GAK MATI juga karena teknis operasionalnyah juga gagal dilaksanakan pada penggantinyah.
3.sang pengganti GAK MATI juga karena allah telah kasi informasi وَمَا قَتَلُوهُ

lha kalow yg DIGANTI dan si PENGGANTI samah2 gak mati lha terus bugimana dunk?ya uda...kita menuju ke شُبِّهَ لَهُمْ adalah serupa pada keadaan.seolah2 mati padahal nggak.seolah2 sekarat padahal nggak.karena sekarat BIYASANYAH 99% berkaibat kematian.
pingsan?gak.tapi emang gak berdaya samah sekali.sakit setengah hidup sampe gak bisa berbuat apapun dalam keadaan sadar.

شُبِّهَ adalah kata kerja pasif yang berakar dari ش ب ه yg apabila dikembalikan ke pola kata akan memiliki makna ;
1.menjadi seperti
2.diserupai
3.ditiru
4.disamarkan

kita akan mencoba tiap makna dengan mengembalikan ke وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ;
1.namun demikian,dia (isa) menjadi seperti....
2.namun demikian,dia (isa) diserupakan menjadi.....
atow
namun demikian,dia (isa) diserupai oleh...........
3.namun demikian,dia (isa) ditiru oleh.........

dengan menggunakan kaidah i'rab/merubah pasif menjadi aktif,maka ;
1.namun demikian,(seseorang) menjadi seperti isa
2.namun demikian,(seseorang) diserupakan menjadi isa
3.namun demikian,(seseorang) meniru seperti isa

opsi ketiga adalah TIDAK MUNGKIN.meniru adalah kesengajaan yg dapat diketahui oleh manusia.
HT wrote:kang mas abu blum respon... baiklah lanjut aja dikit...

akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka
maka akan timbul pertanyaan Allah telah menyerupakan apa????

1. peristiwa pembunuhankah?
2. peristiwa penyalibankah?
3. Nabi Isa kah?

tuh uda sayah bawa yg quote di atas..

demikian darinyah sayah,makhluk melata penghuni makam


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 5:36 pm

@abu hanan wrote:
@hamba tuhan wrote:
kalimat pasif : walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka
kalimat aktif : Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (nya.....)

nah... disini kita mencari siapa seh subjek/ pelaku tsb??? kalo menurut saya adalah ALLAH SWT.....

jadi : وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka
sayah menangkap bahwa akang mengajak untuk membaca kalimat pasif menjadi kalimat aktip?wokeh...

وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم
terdapat perbedaan antar syubbiha ketika diartikan sebagai DISERUPAKAN dan ketika diartikan sebagai DISAMARKAN.

jadi : وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi Allah telah menyamarkan(nya...) bagi mereka

jadi : وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka

mengapa berbeda?
kata SERUPA/MENIRU membutuhkan objek utk ditiru.sehingga memiliki makna MENJADI SEPERTI...

kata SAMAR/MENYAMARKAN tidak membutuhkan objek utk ditiru.
AH wrote:
شُبِّهَ لَهُمْ apakah mengandung unsur pengganti?
bahwa isa bin maryam digantikan oleh orang lain yg sebagian prang berpendapat adalah yudas iskariot,sebagian lain berpendapat org tersebut adalah yohanes pembaptis/yahya biz zakaria....

secara sederhana frase وَمَا صَلَبُوهُ telah menujukkan tiada pengganti di dalam peristiwa tersebut.kamsutnyah sayah,isa bin maryam BENAR2 menjalani hukuman dan disiksa..mengapa?
frase وَمَا صَلَبُوهُ membawa arti bahwa sang pengganti juga gak dimutilasi dan lolos dari kematian.lha terus yg mati siyapa?yah gak ada...kamsutnyah sayah teori subtitusi/stuntment menghasilkan sesuatu yg gak diduga ;
1.isa bin maryam rahimahullah alaihi DIGANTI org lain
2.sang pengganti GAK MATI juga karena teknis operasionalnyah juga gagal dilaksanakan pada penggantinyah.
3.sang pengganti GAK MATI juga karena allah telah kasi informasi وَمَا قَتَلُوهُ

lha kalow yg DIGANTI dan si PENGGANTI samah2 gak mati lha terus bugimana dunk?ya uda...kita menuju ke شُبِّهَ لَهُمْ adalah serupa pada keadaan.seolah2 mati padahal nggak.seolah2 sekarat padahal nggak.karena sekarat BIYASANYAH 99% berkaibat kematian.
pingsan?gak.tapi emang gak berdaya samah sekali.sakit setengah hidup sampe gak bisa berbuat apapun dalam keadaan sadar.

شُبِّهَ adalah kata kerja pasif yang berakar dari ش ب ه yg apabila dikembalikan ke pola kata akan memiliki makna ;
1.menjadi seperti
2.diserupai
3.ditiru
4.disamarkan

kita akan mencoba tiap makna dengan mengembalikan ke وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ;
1.namun demikian,dia (isa) menjadi seperti....
2.namun demikian,dia (isa) diserupakan menjadi.....
atow
namun demikian,dia (isa) diserupai oleh...........
3.namun demikian,dia (isa) ditiru oleh.........

dengan menggunakan kaidah i'rab/merubah pasif menjadi aktif,maka ;
1.namun demikian,(seseorang) menjadi seperti isa
2.namun demikian,(seseorang) diserupakan menjadi isa
3.namun demikian,(seseorang) meniru seperti isa

opsi ketiga adalah TIDAK MUNGKIN.meniru adalah kesengajaan yg dapat diketahui oleh manusia.
HT wrote:kang mas abu blum respon... baiklah lanjut aja dikit...

akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka
maka akan timbul pertanyaan Allah telah menyerupakan apa????

1. peristiwa pembunuhankah?
2. peristiwa penyalibankah?
3. Nabi Isa kah?

tuh uda sayah bawa yg quote di atas..

demikian darinyah sayah,makhluk melata penghuni makam

maaf kang mas abu... disini kita bersebrangan lg deh kayaknya... heheee... saya kurang setuju dgn uraian kang mas dan choice nya kang mas....

AH : dengan menggunakan kaidah i'rab/merubah pasif menjadi aktif,maka ;
1.namun demikian,(seseorang) menjadi seperti isa
2.namun demikian,(seseorang) diserupakan menjadi isa
3.namun demikian,(seseorang) meniru seperti isa

boleh saya tau kaidah i'rab/ merubah dalam fi'il majhul kang mas abu????


makanya kalo saya lbh pas seperti yg dibawah ini :
kang mas abu blum respon... baiklah lanjut aja dikit... dikarenakan udah ketemu subyek/ pelaku/ fa'il nya... skrg kita cari tau maf'ul bih nya....

akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka
maka akan timbul pertanyaan Allah telah menyerupakan apa????

1. peristiwa pembunuhankah?
2. peristiwa penyalibankah?
3. Nabi Isa kah?


Terakhir diubah oleh hamba tuhan tanggal Thu Jun 14, 2012 5:44 pm, total 1 kali diubah
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 5:41 pm

saya sumbangkan sedikit lg utk thread ini...

Kaidah Dhamir dalam Al-Qur'an

Bahasa Arab, sebagaimana bahasa-bahasa lain, dalam mengungkapkan kata-kata tertentu seringkali menggunakan kata ganti (dhamir). Dhamir tersebut berfungsi untuk menghindari pemborosan kata-kata (lil-ikhtisar). Mempersingkat perkataan; ia berfungsi untuk menggantikan penyebutan kata-kata yang banyak dan menempati kata-kata itu secara sempurna, tanpa merubah makna yang dimaksud dan tanpa pengulangan. Sebagai contoh, dhamir " هم " (hum) pada ayat :

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Ayat tersebut di atas (tepatnya pada lafadz dhamir لَهُمْ “lahum”) telah menggantikan dua puluh kata sebelumnya, jika kata-kata yang ada sebelum dhamir lahum ini diungkapkan bukan dalam bentuk dhamir (kata ganti), maka hal itu akan membuat ayat tersebut menjadi lebih panjang yang mengakibatkan pemborosan kata kata, adapun kata-kata yang terdapat dalam permulaan ayat (sebelum lafadz lahum) tersebut antara lain:


إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
Pada ayat diatas, dhamir لَهُمْ mewakili dua puluh kata sebelumnya, yakni dari lafadaz الْمُسْلِمِينَ sampai lafadaz وَالذَّاكِرَاتِ jika kata kata ini tidak di singkat dengan menggunakan dhamir (kata ganti)-dalam hal ini dhamir “hum”- maka kita akan membaca ulang lagi lafadz-lafadz ayat yang berada sebelum dhamir “hum”. Tetapi, jika kita menyingkat lafadz yang dua puluh itu dengan dhamir (sesuai kaidahnya) maka ayat tersebut akan kelihatan lebih interes, enak dibaca dan tetap natural, karna penyingkatan lafadz itu dengan dhamir tidak akan merubah makana atau kemurnian ayat itu.

Adapun dhamir memiliki kaidah kebahasaan tersendiri yang disimpulkan oleh para ahli bahasa dari Al-Qur’an al-Karim, sumber sumber asli bahasa arab, hadits nabawi dan dari perkataan orang arab yang bisa dijadikan hujjah, bak itu berupa puisi (nazam), atau prosa (nasar). Salah satu ulama’ yang menaruh perhatian besar dalam hal ini adalah abu bahar muhammad bin hasyim al anbari (w.328 H) yang telah menyusun kitab 12 jilid yang spesifikasi membahas tentang damir damir yang ada dalam al qur’an.

Dhamir mempunyai kata yang digantikan yang disebut isim zhahir (yang jelas) marji’ (tempat kembali) nya. Secara garis besar damir dibagi menjadi tiga antara lain:
1. Orang pertama, menggunakan dhamir mutakallim.
2. Orang kedua, menggunakan dhamir mukhatab.
3. Orang ketiga, menggunakan dhamir ghaib.

Marji’ (tempat kembali) untuk dhamir mutakallim dan mukhatab sudah jelas diketahui maksudnya melalui keadaan yang melingkupinya. Sedangkan dhamir ghaib memerlukan ketentuan tersendiri untuk mengidentifikasikannya yang biasa disebut sebelumnya. Ibn malik dalam kitabnya at tashil mengatakan: “kaidah menetapkan, marji’ (tempat kembali) bagi dhamir ghaib harus didahulukan. Marji’ adalah lafadz yang terdekat dengannya kecuali bila ada dalil yang menunjukkan lain”.

a. Marji`
Dalam kaidah dhamir, dikenal istilah marji’ yakni tempat kembalinya dhamir yang di gunakan untuk menggantikan kata kata sebelumnya maupun sesudahnya. Ada beberapa tempat disebutnya marji’ dhamir dalam Al Qur’an antara lain:

1) Kadang marji’ damir disebutkan sesudah dhamir.
فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَى
Maka Musa merasa takut dalam hatinya. (QS. Thaha:67)
Marji’ damir yakni lafadaz musa disebutkan sesudah damir (kata gantinya) yakni “hi” pada lafadz “nafsihi”.

2) Marji’ dari damir terkadang tidak dijelaskan secara eksplisit (jelas), tapi difahami dari konteks kalimat.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
* Semua yang ada di bumi itu akan binasa. * Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.(QS. Al-Rahman:26-27)
Dalam contoh ayat diatas marji’ dari dhamir ha’ pada lafadz alaiha tidak di sebutkan dengan jelas, tetapi bisa kita melihat dari konteks ayat tersebut. Maksud lafadz عَلَيْهَا adalah على الارض, jadi dhamir ha marji’nya ardhi.

3) Marji’ kadang kembali pada makna bukan pada lafal

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari air mani, Kemudian dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (QS. Fathir: 11)

Damir ha dalam ayat tersebut tidak kembali kepada muammar sebelumnya, tetapi pada kata muammar yang lain.

4) Kadang menggunakan damir jama’ padahal damirnya mutsanna

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ
Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan Keputusan mengenai tanaman, Karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. dan adalah kami menyaksikan Keputusan yang diberikan oleh mereka itu, (QS. Al-Anbiya`: 78)

Dari ayat di atas, dapat dilihat bahwa Marji’ damir hum pada ayat tersebut kembali kepada daud dan sulaiman, menggunakan dhamir jama’ (hum) tapi marji’nya mutsanna (daud dan sulaiman)

Kaidah umum dalam hal ini tetaplah berlaku yakni marji’ suatu dhamir biasanya terletak sebelum dhamir tersebut. Contohnya dalam surat hud ayat 42:

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ
42. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

Marji’ dhamir hu pada lafadz ibnahu dalam ayat diatas sudah jelas yaitu nuh yang terletak sebelumnya.

semoga postingan kaidah dhamir dalam Al-Qur'an... bisa bermanfaat dan jadi pelajaran buat kita semuanya
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by abu hanan on Thu Jun 14, 2012 5:45 pm

lha itu kan pelajaran dasar toh kang;
kalimat :kucinga makan tikusu.
mau diubah menjadi =
kucinga tikusu makan
tikusu makan kucinga
tikusu kucinga maka

sayah malah pikir gak ada masalah...malah dengan pola yg sama kang mengajukan
kalimat pasif : walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka

MENJADI

وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka

kedua pola (pasif-aktip) yg akan ajukan kan sama dengan opsi yg sayah tawarkan dan contoh kucinga makan tikusu.

hehehehe.....

HT wrote:akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka
maka akan timbul pertanyaan Allah telah menyerupakan apa????

1. peristiwa pembunuhankah?
2. peristiwa penyalibankah?
3. Nabi Isa kah?
maaf kang...opsi sayah ada di SAMAR bukan SERUPA.dasarnyah sayah;
SERUPA butuh objek.

allah menyamarkan apa?menyamarkan KEMATIAN.karena kematian nabi isa adalah tujuan akhir kafirin yahudi.

demikianlah darinyah sayah,penghuni makam


Terakhir diubah oleh abu hanan tanggal Thu Jun 14, 2012 5:52 pm, total 1 kali diubah


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by hamba tuhan on Thu Jun 14, 2012 5:47 pm

@abu hanan wrote:lha itu kan pelajaran dasar toh kang;
kalimat :kucinga makan tikusu.
mau diubah menjadi =
kucinga tikusu makan
tikusu makan kucinga
tikusu kucinga maka

sayah malah pikir gak ada masalah...malah dengan pola yg sama kang mengajukan
kalimat pasif : walaakin syubbiha lahum = akan tetapi telah diserupakannya (nya ...........) bagi mereka

MENJADI

وَلٰكِن شُبِّهَ لَهُم - walaakin syubbiha lahum = akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka

kedua pola (pasif-aktip) yg akan ajukan kan sama dengan opsi yg sayah tawarkan dan contoh kucinga makan tikusu.

hehehehe.....

{quote="HT"]akan tetapi Allah telah menyerupakannya(nya...) bagi mereka
maka akan timbul pertanyaan Allah telah menyerupakan apa????

1. peristiwa pembunuhankah?
2. peristiwa penyalibankah?
3. Nabi Isa kah?
maaf kang...opsi sayah ada di SAMAR bukan SERUPA.dasarnyah sayah;
SERUPA butuh objek.

allah menyamarkan apa?menyamarkan KEMATIAN.karena kematian nabi isa adalah tujuan akhir kafirin yahudi.

demikianlah darinyah sayah,penghuni makam[/quote]

mau menyamarkan, menampakkan, menyerupai dll... gada mslah buat saya dl kang mas....

maaf kang mas abu.. yg jd mslah sesudah saya teliti dgn seksama, kayaknya gada deh kalimat atau kata kematian dalam annisa 157... coba kang mas periksa kembali dgn hati2 dan telliti.... maaf ya kang mas abu
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: KUPAS TUNTAS "AN-NISA : 156-157-158" dari TATA BAHASA

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 4 dari 25 Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 14 ... 25  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik