FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?

Post by keroncong on Thu Jun 14, 2012 11:03 am

1. Konsep Firman Allah menurut Karl Barth

Dalam membahas di atas ini tentang keilhaman, kita mencatat bahwa pada umumnya para ahli teologia Protestan pada abad kedua puluh ini agak mengabaikan konsep keilhaman. Konsep yang jauh lebih laku ialah konsep Firman Allah. Konsep Firman Allah ini telah dibahas dengan teliti dan panjang-lebar, terutama oleh Karl Barth. Bahkan teologia Karl Barth itu telah disebut sebagai teologia Firman Allah. Kita tak mungkin di sini memberikan suatu uraian yang mendetail (terperinci) tentang perkembangan teologia Karl Barth. Cukuplah, kalau kita mencatat garis-garis-umum teologia yang disebut "Barthian" itu.
a. Firman Allah = Yesus Kristus

Mungkin kaum awam, kalau diminta definisinya tentang arti istilah "Firman Allah," akan menyamakannya dengan istilah "keilhaman" Alkitab. Istilah Firman juga berarti bahwa Alkitab itu berasal dari Allah serta merupakan penyataan kehendakNya, dan karena itu pastilah bebas dari segala macam kesalahan. Sedangkan pendefinisian yang demikian ditolak oleh para ahli teologia. Ahli teologia menekankan bahwa yang dinyatakan Allah dalam proses penyataan, ialah Allah sendiri. Allah menyatakan Diri dalam FirmanNya. Dan Firman Allah ialah Yesus Kristus. Itu berarti bahwa pada prinsipnya, dan terutama, Firman Allah itu bukanlah Alkitab, melainkan Yesus Kristus sendiri. Di dalam Yesuslah (menurut Injil Yohanes) Firman Allah menjadi daging.

Rumusan yang demikian tidak berarti bahwa Yesus Kristus, Firman Allah itu, dapat ditanggapi atau didekati terlepas dari Alkitab. Hubungan antara Yesus dengan Alkitab itu dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep "kesaksian." Alkitab merupakan saksi mutlak yang menyaksikan (memberi kesaksian tentang) Yesus Kristus. Alkitab mengandung kesaksian dari pihak mereka yang merupakan saksi-saksi Yesus. Kesaksian itu tidak membenarkan Alkitab, melainkan membenarkan Dia yang dibicarakan dalam Alkitab itu. Jadi inti penyataan Alkitab adalah bukan Alkitab sendiri, melainkan Oknum dan karya-karya yang diuraikan dalam Alkitab. Itu berarti bahwa Alkitab tidaklah menjadi "kitab berupa penyataan"; karena Allah tidak mewahyukan kitab-kitab, pasal-pasal, kalimat-kalimat dan ayat-ayat, melainkan Allah menyatakan Diri. Jadi adalah termasuk kesalahan, kalau kita mengatakan bahwa Alkitab merupakan penyataan: yang tepatnya, ialah bahwa Alkitab merupakan kesaksian tentang penyataan Allah.
b. Alkitab sebagai laporan historis dan kesaksian-iman

Tetapi walaupun Alkitab merupakan kesaksian yang diberikan oleh manusia-manusia, namun kesaksian yang terkandung di dalam Alkitab itu memanglah mutlak perlu. Kesaksiannya perlu, justru karena cara yang dipakai Allah dalam menyatakan Diri; yaitu Dia tidak menyatakan diri melalui konsep-konsep yang bersifat universal melainkan melalui kejadian-kejadian di atas panggung sejarah. Allah menyatakan Diri melalui suatu rentetan kejadian-kejadian, pada saat dan tempat tertentu dalam proses sejarah. Maka oleh karena itulah, adanya laporan tentang peristiwa-peristiwa tersebut memang mutlak perlu, supaya kita dapat mendekati penyataan tersebut. Bahkan bukan hanya demikian; Alkitab tidak hanya merupakan kesaksian yang mutlak perlu, melainkan juga merupakan kesaksian yang tepat dan cocok. Karena isinya bukanlah kesaksian-historis begitu saja, melainkan suatu reaksi-dalam-iman terhadap penyataan Allah. Dengan perkataan lain, para pengarang Alkitab tidak merupakan saksi-saksi obyektif (begitu saya) tentang kejadian-kejadian yang tidak kena (relevan) kepada mereka pribadi, melainkan mereka termasuk manusia yang percaya bahwa Allah telah berbicara kepada mereka melalui kejadian-kejadian tersebut. Itu berarti bahwa, walaupun Firman Allah itu tidak identik dengan Alkitab, Alkitab tokh merupakan suatu jembatan yang mutlak perlu yang mengantar kita kepada Firman Allah, sedemikian rupa, hingga tak mungkinlah kita mendengar Firman Allah itu kalau tidak dengan perantaraan Alkitab.
c. Firman yang berbentuk tiga

Karena duduknya perkara memanglah demikian, maka tidaklah kurang tepat, kalau Alkitab itu sendiri juga disebut "Firman Allah," walaupun bukan dalam arti-istilah yang primer, melainkan dalam arti sekunder. Satu rumusan yang dipakai Karl Barth tentang hal ini, ialah konsepnya bahwa Firman Allah mempunyai bentuk rangkap-tiga. Bentuk-primer Firman Allah ialah Yesus Kristus sendiri, Sang Firman yang dinyatakan. Bentuk-sekunder Firman Allah adalah skriptura dalam bentuk tertulisnya. Sedangkan bentuk ketiga ialah Firman yang berupa kerygma gereja, firman dalam bentuk khotbah. Ketiga bentuk tersebut adalah berhubungan-erat satu sama lain. Sang Firman, Yesus Kristus, hanya berbicara bilamana Ia disaksikan oleh skriptura dan diberitakan dengan iman oleh gereja. Alkitab merupakan Firman Allah hanya sebagai kesaksian tentang Allah yang menyatakan Diri dalam Yesus Kristus itu. Bahkan Alkitab hanya merupakan Firman Allah, bilamana diterima dengan penuh iman dan diberitakan dalam gereja dan oleh gereja. Di pihak lain, pemberitaan gereja hanyalah merupakan Firman Allah bilamana pemberitaannya itu sungguh-sungguh mengabdi kepada Firman Allah di dalam Yesus Kristus, dan mendasarkan diri pada Alkitab yang menyaksikan (memberi kesaksian tentang) Yesus Kristus itu.
d. Alkitab "menjadi" Firman Allah

Suatu konsep lain yang sering muncul dalam hubungan dengan ide-ide Karl Barth, seperti yang diuraikan di atas ini, ialah konsep bahwa skriptura tidak "merupakan" Firman Allah melainkan "menjadi" Firman Allah. Dengan perkataan lain, Alkitab tidak merupakan suatu eksistensi yang statis, yang identik dengan Firman Allah, melainkan sesuatu yang dapat menjadi dinamis, yang dapat menjadi hidup, dan oleh karena itu menjadi Firman Allah. Rumusan yang demikian memberikan gambaran yang lebih bersifat eksistensialis, yaitu bahwa Alkitab memang bersatu dengan Firrnan Allah, namun tidak identik dengan Firman Allah itu. Senada dengan rumusan yang demikian, seorang teolog Katholik modern4 berbicara tentang hal skriptura itu menjadi Injil:

"Dengan demikian skriptura memperoleh kewibawaan, yaitu kewibawaan Allah sendiri, hanyalah bilamana skriptura itu menjadi Injil. Sehingga muncullah persoalan pokok, bagaimanakah caranya skriptura itu sungguh-sungguh menjadi Injil?"

e. Alkitab bersifat ilahi dan manusiawi

Rumusan yang lain lagi, yang terrnasuk lingkaran ide-ide ini, ialah bahwa Alkitab mempunyai dua aspek, aspek kemanusiaannya dan aspek keilahiannya. Penggambaran kepribadian Kristus menurut Kristologi tradisional, diambil sebagai pola dalam hal ini. Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia; maka sejajar dengan itu Alkitab adalah sungguh-sungguh Firman Allah, dan sungguh-sungguh firman manusia. Dalam rumusan demikian, kedua istilah yang dipakai itu tidaklah menunjuk kepada suatu pembagian bahan-bahan Alkitab atas bagian ilahi dan bagian manusiawi, melainkan merupakan muka dan balik dari satu konsep. (Bandingkan rumusan kristologi, yang tidak mengatakan bahwa bagian-bagian tabiat Kristus mengandung keilahian, sedangkan bagian-bagian lainnya mengandung kemanusiaan). Seluruh Alkitab merupakan firman manusia, sehingga dipengaruhi oleh ketegangan-ketegangan, kelemahankelemahan, dan kesalahan-kesalahan yang selalu melekat pada hasilkarya manusia. Itu berarti bahwa ditinjau dari segi kemanusiaannya, Alkitab tidak berstatus lebih tinggi-dibandingkan dengan buku-buku lain, sehingga patut, bahkan wajib, diselidiki dengan metode seperti yang dikenakan kepada buku-buku lain. Tetapi ditinjau dari segi lain, seluruh Alkitab juga merupakan Firman Allah. Itu berarti bahwa Alkitab mengandung suatu pemberitaan yang tidak timbul dari kebudayaan manusia begitu saja, bahwa pemberitaannya pun tidak imanen dalam kebudayaan manusia, maka oleh karena itu, Alkitab harus diselidiki dengan metode-metode yang peka terhadap kemungkinan mendengarkan Firman Allah itu.
2. Keuntungan-keuntungan dalam memakai istilah Firman Allah

Konsep-konsep, yang kita uraikan di atas ini, yang menggunakan istilah Firrnan Allah, kalau ditinjau secara sepintas lalu, kelihatannya berhasil mengatasi banyak persoalan rumit yang kita hadapi, bila kita memikirkan status Alkitab. Dengan pengistilahan Firman Allah itu, penting-mutlaknya Alkitab mendapat penekanan yang layak, namun bahaya pendewaannya dielakkan. Sifat kemanusiaan dan sifat kehistorisan Alkitab diakui, tanpa mengurangi atau meremehkan fungsi Alkitab sebagai pengantara penyataan. Unsur penyataan dalam Alkitab ditaklukkan kepada unsur yang lebih prinsipal lagi, yaitu karya Allah dalam menyatakan Diri. Namun dipertahankan juga prinsip mutlak-perlunya peranan Alkitab dalam proses penentuan isi penyataan. Dengan demikian, pengistilahan Firman Allah itu nampaknya membuka jalan tengah, yang memberi penekanan yang layak kepada kedua aspek realita itu.
3. Keberatan-keberatan terhadap istilah Firman Allah

Demikianlah kesan yang kita peroleh; namun penggunaan istilah Firman Allah itu dalam prakteknya belum juga memecahkan persoalan-persoalan sekitar hakekat Alkitab yang dihadapi manusia masa kini. Belakangan ini, minat untuk menggunakan pengistilahan itu nampaknya berkurang. Misalnya dalam diskusi tentang status Alkitab yang berlangsung di kalangan Dewan Gereja-gereja sedunia dewasa ini, istilah "Firman Allah" jarang terpakai, baik dalam paper-paper (kertas-kertas-kerja) persiapan maupun dalam laporan yang definitif. Bahkan skema-skema seperti "Firman Allah yang berbentuk rangkap-tiga," atau skema tentang Alkitab sebagai "Firman Allah merangkap firman manusia" hampir tidak mendapat perhatian lagi. Jikalau kita mempersoalkan, mengapa sampai konsep-konsep yang terumus dengan begitu teliti, agaknya kurang kena lagi, mungkin sebab-sebabnya adalah sebagai berikut:
a. Konsep Firman Allah terlalu berbau dogmatis

Konsep-konsep seperti yang di atas ini terlalu berbau teologia sistematis atau teologia-dogmatis, dan kurang berhubungan atau kurang berakar dalam tafsir Alkitab sendiri. Ahli tafsir yang menggali nats-nats Alkitab secara mendetail, sering mengalami kesulitan dalam menempatkan konsep-konsep yang menarik itu dalam konteks tafsir, atau untuk menguraikan penerapannya secara tafsiran. Keterasingan konsep-konsep Barthian dari bidang tafsir adalah merupakan suatu kelemahan besar dalam teologia tersebut. Maka sebagai kontras, diskusi-diskusi oikumenis yang mutakhir menekankan tafsir secara kuat. Bahkan sebagaimana kita catat di atas ini, diskusi oikumenis itu justru bertolak cari suatu penelitian tentang cara-cara-menafsir yang tepat.
b. Kesulitan-kesulitan hermeneutis

Perhatian baru, yang ditujukan kepada hermeneutika, telah memindahkan secara radikal fokus diskusi tentang Alkitab. Letak persoalan-persoalan bagi ahli homiletika bukanlah pada perbedaan antara segi-segi ilahi dan segi-segi manusiawi dalam Alkitab, melainkan pada perbedaan antara dunia kuna dengan dunia modern. Persoalan pokok adalah begini: Alkitab menguraikan kepada kita cara-pemikiran jaman kuno, jaman alkitabiah. Sehingga timbul pertanyaan: bagaimanakah buah pemikiran itu dapat dirumuskan kembali dalam pola-pola pemikiran modern, mengingat bahwa latar belakang dunia modern itu serta persoalan-persoalan yang dihadapinya adalah lain daripada yang berlaku pada jaman kuno? Berhadapan dengan rumusan-soal yang baru ini, skema-skema yang menggunakan konsep "Firman Allah" nampaknya adalah kurang relevan.
c. Keberatan-keberatan teologis

Dari segi teologis pun, skema-skema yang memanfaatkan konsep "Firman Allah" itu harus diragukan. Misalnya, tidak ada alasan-kuat untuk menyejajarkan hubungan antara aspek keilahian dan aspek kemanusiaan di dalam pribadi Kristus, dengan hubungan antara aspek keilahian dan aspek kemanusiaan di dalam Alkitab. Biar kita menerima dengan segala senang hati rumusan Kredo Chalcedon tentang tabiat Kristus, namun tidak ada alasan kuat untuk mengenakan rumusan Chalcedon itu kepada Alkitab. Karena sudah barang tentu rumusan Chalcedon itu tidak dimaksudkan sebagai penjelasan tentang wujud Alkitab. Patutlah diragukan juga cara-berpikir yang mensejajarkan antara tiga eksistensi yang begitu berbeda: yaitu Kristus, Firman tertulis dalam Alkitab, dan proses pengkhotbahan dalam gereja, sehingga dikatakan bahwa ketiga-tiganya bersama-sama merupakan Firman Allah dalam bentuk rangkap-tiga. Saya tidak bermaksud menyangkal bahwa kesejajarannya dapat dirumuskan demikian, tetapi yang saya ragukan ialah apakah rumusan yang demikian memang wajib. Maka jikalau tidak wajib, itu berarti bahwa ada pola-pola lain-lain lagi yang sama-sama sah.
4. Kesimpulan

Jadi hasil bagian ini dapat kita simpulkan sebagai berikut: Usaha untuk menentukan soal "dalam arti manakah Alkitab itu patut disebut Firman Allah?" memanglah merangsang pemikiran kita. Tetapi tidak dapat diharapkan lagi bahwa penjernihan pengertian tentang makna istilah "Firman Allah" itu, akan membantu kita memecahkan persoalan-persoalan yang termodern tentang status Alkitab. Namun demikian, survai (pemeriksaan) yang kita adakan tentang istilah Firman Allah itu adalah berguna, karena hal itu membantu kita mengerti variasi-variasi yang nampak dalam pengertian istilah Firman Allah itu. Bahkan meskipun konsep tersebut ternyata mengandung kelemahan dan kekurangan, namun patut kita sadari juga bahwa pada periode tertentu konsep itu mempunyai pengaruh yang positif sekali. Bahkan sudah barangtentu bahwa masih banyak orang Kristen yang belum berhadapan dengan konsep "Firman Allah," seperti yang diuraikan dalam teologia Karl Barth itu, dan yang pasti akan merasakan manfaatnya, serta mengalami pembebasan melaluinya/ dengannya, kalau mereka sungguh-sungguh menggumulinya. Saya mencatat di atas ini bahwa teologia neo-orthodox, seperti teologia Karl Barth, akhirnya nampak lebih konservatif dari pada dugaan semula. Maka justru karena itu, teologia neo-orthodox telah berhasil membentuk jembatan, yang membantu menyeberang golongan-golongan Kristen yang sangat konservatif, sampai mereka dapat mengejar cara berpikir dan berteologia yang sudah menjadi lazim di gereja Protestan modern.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?

Post by barabasmurtad on Tue Jun 19, 2012 3:18 pm

ichreza wrote:1. Konsep Firman Allah menurut Karl Barth

Dalam membahas di atas ini tentang keilhaman, kita mencatat bahwa pada umumnya para ahli teologia Protestan pada abad kedua puluh ini agak mengabaikan konsep keilhaman. Konsep yang jauh lebih laku ialah konsep Firman Allah. Konsep Firman Allah ini telah dibahas dengan teliti dan panjang-lebar, terutama oleh Karl Barth. Bahkan teologia Karl Barth itu telah disebut sebagai teologia Firman Allah. Kita tak mungkin di sini memberikan suatu uraian yang mendetail (terperinci) tentang perkembangan teologia Karl Barth. Cukuplah, kalau kita mencatat garis-garis-umum teologia yang disebut "Barthian" itu.
a. Firman Allah = Yesus Kristus

Mungkin kaum awam, kalau diminta definisinya tentang arti istilah "Firman Allah," akan menyamakannya dengan istilah "keilhaman" Alkitab. Istilah Firman juga berarti bahwa Alkitab itu berasal dari Allah serta merupakan penyataan kehendakNya, dan karena itu pastilah bebas dari segala macam kesalahan. Sedangkan pendefinisian yang demikian ditolak oleh para ahli teologia. Ahli teologia menekankan bahwa yang dinyatakan Allah dalam proses penyataan, ialah Allah sendiri. Allah menyatakan Diri dalam FirmanNya. Dan Firman Allah ialah Yesus Kristus. Itu berarti bahwa pada prinsipnya, dan terutama, Firman Allah itu bukanlah Alkitab, melainkan Yesus Kristus sendiri. Di dalam Yesuslah (menurut Injil Yohanes) Firman Allah menjadi daging.

Rumusan yang demikian tidak berarti bahwa Yesus Kristus, Firman Allah itu, dapat ditanggapi atau didekati terlepas dari Alkitab. Hubungan antara Yesus dengan Alkitab itu dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep "kesaksian." Alkitab merupakan saksi mutlak yang menyaksikan (memberi kesaksian tentang) Yesus Kristus. Alkitab mengandung kesaksian dari pihak mereka yang merupakan saksi-saksi Yesus. Kesaksian itu tidak membenarkan Alkitab, melainkan membenarkan Dia yang dibicarakan dalam Alkitab itu. Jadi inti penyataan Alkitab adalah bukan Alkitab sendiri, melainkan Oknum dan karya-karya yang diuraikan dalam Alkitab. Itu berarti bahwa Alkitab tidaklah menjadi "kitab berupa penyataan"; karena Allah tidak mewahyukan kitab-kitab, pasal-pasal, kalimat-kalimat dan ayat-ayat, melainkan Allah menyatakan Diri. Jadi adalah termasuk kesalahan, kalau kita mengatakan bahwa Alkitab merupakan penyataan: yang tepatnya, ialah bahwa Alkitab merupakan kesaksian tentang penyataan Allah.
b. Alkitab sebagai laporan historis dan kesaksian-iman

Tetapi walaupun Alkitab merupakan kesaksian yang diberikan oleh manusia-manusia, namun kesaksian yang terkandung di dalam Alkitab itu memanglah mutlak perlu. Kesaksiannya perlu, justru karena cara yang dipakai Allah dalam menyatakan Diri; yaitu Dia tidak menyatakan diri melalui konsep-konsep yang bersifat universal melainkan melalui kejadian-kejadian di atas panggung sejarah. Allah menyatakan Diri melalui suatu rentetan kejadian-kejadian, pada saat dan tempat tertentu dalam proses sejarah. Maka oleh karena itulah, adanya laporan tentang peristiwa-peristiwa tersebut memang mutlak perlu, supaya kita dapat mendekati penyataan tersebut. Bahkan bukan hanya demikian; Alkitab tidak hanya merupakan kesaksian yang mutlak perlu, melainkan juga merupakan kesaksian yang tepat dan cocok. Karena isinya bukanlah kesaksian-historis begitu saja, melainkan suatu reaksi-dalam-iman terhadap penyataan Allah. Dengan perkataan lain, para pengarang Alkitab tidak merupakan saksi-saksi obyektif (begitu saya) tentang kejadian-kejadian yang tidak kena (relevan) kepada mereka pribadi, melainkan mereka termasuk manusia yang percaya bahwa Allah telah berbicara kepada mereka melalui kejadian-kejadian tersebut. Itu berarti bahwa, walaupun Firman Allah itu tidak identik dengan Alkitab, Alkitab tokh merupakan suatu jembatan yang mutlak perlu yang mengantar kita kepada Firman Allah, sedemikian rupa, hingga tak mungkinlah kita mendengar Firman Allah itu kalau tidak dengan perantaraan Alkitab.
c. Firman yang berbentuk tiga

Karena duduknya perkara memanglah demikian, maka tidaklah kurang tepat, kalau Alkitab itu sendiri juga disebut "Firman Allah," walaupun bukan dalam arti-istilah yang primer, melainkan dalam arti sekunder. Satu rumusan yang dipakai Karl Barth tentang hal ini, ialah konsepnya bahwa Firman Allah mempunyai bentuk rangkap-tiga. Bentuk-primer Firman Allah ialah Yesus Kristus sendiri, Sang Firman yang dinyatakan. Bentuk-sekunder Firman Allah adalah skriptura dalam bentuk tertulisnya. Sedangkan bentuk ketiga ialah Firman yang berupa kerygma gereja, firman dalam bentuk khotbah. Ketiga bentuk tersebut adalah berhubungan-erat satu sama lain. Sang Firman, Yesus Kristus, hanya berbicara bilamana Ia disaksikan oleh skriptura dan diberitakan dengan iman oleh gereja. Alkitab merupakan Firman Allah hanya sebagai kesaksian tentang Allah yang menyatakan Diri dalam Yesus Kristus itu. Bahkan Alkitab hanya merupakan Firman Allah, bilamana diterima dengan penuh iman dan diberitakan dalam gereja dan oleh gereja. Di pihak lain, pemberitaan gereja hanyalah merupakan Firman Allah bilamana pemberitaannya itu sungguh-sungguh mengabdi kepada Firman Allah di dalam Yesus Kristus, dan mendasarkan diri pada Alkitab yang menyaksikan (memberi kesaksian tentang) Yesus Kristus itu.
d. Alkitab "menjadi" Firman Allah

Suatu konsep lain yang sering muncul dalam hubungan dengan ide-ide Karl Barth, seperti yang diuraikan di atas ini, ialah konsep bahwa skriptura tidak "merupakan" Firman Allah melainkan "menjadi" Firman Allah. Dengan perkataan lain, Alkitab tidak merupakan suatu eksistensi yang statis, yang identik dengan Firman Allah, melainkan sesuatu yang dapat menjadi dinamis, yang dapat menjadi hidup, dan oleh karena itu menjadi Firman Allah. Rumusan yang demikian memberikan gambaran yang lebih bersifat eksistensialis, yaitu bahwa Alkitab memang bersatu dengan Firrnan Allah, namun tidak identik dengan Firman Allah itu. Senada dengan rumusan yang demikian, seorang teolog Katholik modern4 berbicara tentang hal skriptura itu menjadi Injil:

"Dengan demikian skriptura memperoleh kewibawaan, yaitu kewibawaan Allah sendiri, hanyalah bilamana skriptura itu menjadi Injil. Sehingga muncullah persoalan pokok, bagaimanakah caranya skriptura itu sungguh-sungguh menjadi Injil?"

e. Alkitab bersifat ilahi dan manusiawi

Rumusan yang lain lagi, yang terrnasuk lingkaran ide-ide ini, ialah bahwa Alkitab mempunyai dua aspek, aspek kemanusiaannya dan aspek keilahiannya. Penggambaran kepribadian Kristus menurut Kristologi tradisional, diambil sebagai pola dalam hal ini. Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia; maka sejajar dengan itu Alkitab adalah sungguh-sungguh Firman Allah, dan sungguh-sungguh firman manusia. Dalam rumusan demikian, kedua istilah yang dipakai itu tidaklah menunjuk kepada suatu pembagian bahan-bahan Alkitab atas bagian ilahi dan bagian manusiawi, melainkan merupakan muka dan balik dari satu konsep. (Bandingkan rumusan kristologi, yang tidak mengatakan bahwa bagian-bagian tabiat Kristus mengandung keilahian, sedangkan bagian-bagian lainnya mengandung kemanusiaan). Seluruh Alkitab merupakan firman manusia, sehingga dipengaruhi oleh ketegangan-ketegangan, kelemahankelemahan, dan kesalahan-kesalahan yang selalu melekat pada hasilkarya manusia. Itu berarti bahwa ditinjau dari segi kemanusiaannya, Alkitab tidak berstatus lebih tinggi-dibandingkan dengan buku-buku lain, sehingga patut, bahkan wajib, diselidiki dengan metode seperti yang dikenakan kepada buku-buku lain. Tetapi ditinjau dari segi lain, seluruh Alkitab juga merupakan Firman Allah. Itu berarti bahwa Alkitab mengandung suatu pemberitaan yang tidak timbul dari kebudayaan manusia begitu saja, bahwa pemberitaannya pun tidak imanen dalam kebudayaan manusia, maka oleh karena itu, Alkitab harus diselidiki dengan metode-metode yang peka terhadap kemungkinan mendengarkan Firman Allah itu.
2. Keuntungan-keuntungan dalam memakai istilah Firman Allah

Konsep-konsep, yang kita uraikan di atas ini, yang menggunakan istilah Firrnan Allah, kalau ditinjau secara sepintas lalu, kelihatannya berhasil mengatasi banyak persoalan rumit yang kita hadapi, bila kita memikirkan status Alkitab. Dengan pengistilahan Firman Allah itu, penting-mutlaknya Alkitab mendapat penekanan yang layak, namun bahaya pendewaannya dielakkan. Sifat kemanusiaan dan sifat kehistorisan Alkitab diakui, tanpa mengurangi atau meremehkan fungsi Alkitab sebagai pengantara penyataan. Unsur penyataan dalam Alkitab ditaklukkan kepada unsur yang lebih prinsipal lagi, yaitu karya Allah dalam menyatakan Diri. Namun dipertahankan juga prinsip mutlak-perlunya peranan Alkitab dalam proses penentuan isi penyataan. Dengan demikian, pengistilahan Firman Allah itu nampaknya membuka jalan tengah, yang memberi penekanan yang layak kepada kedua aspek realita itu.
3. Keberatan-keberatan terhadap istilah Firman Allah

Demikianlah kesan yang kita peroleh; namun penggunaan istilah Firman Allah itu dalam prakteknya belum juga memecahkan persoalan-persoalan sekitar hakekat Alkitab yang dihadapi manusia masa kini. Belakangan ini, minat untuk menggunakan pengistilahan itu nampaknya berkurang. Misalnya dalam diskusi tentang status Alkitab yang berlangsung di kalangan Dewan Gereja-gereja sedunia dewasa ini, istilah "Firman Allah" jarang terpakai, baik dalam paper-paper (kertas-kertas-kerja) persiapan maupun dalam laporan yang definitif. Bahkan skema-skema seperti "Firman Allah yang berbentuk rangkap-tiga," atau skema tentang Alkitab sebagai "Firman Allah merangkap firman manusia" hampir tidak mendapat perhatian lagi. Jikalau kita mempersoalkan, mengapa sampai konsep-konsep yang terumus dengan begitu teliti, agaknya kurang kena lagi, mungkin sebab-sebabnya adalah sebagai berikut:
a. Konsep Firman Allah terlalu berbau dogmatis

Konsep-konsep seperti yang di atas ini terlalu berbau teologia sistematis atau teologia-dogmatis, dan kurang berhubungan atau kurang berakar dalam tafsir Alkitab sendiri. Ahli tafsir yang menggali nats-nats Alkitab secara mendetail, sering mengalami kesulitan dalam menempatkan konsep-konsep yang menarik itu dalam konteks tafsir, atau untuk menguraikan penerapannya secara tafsiran. Keterasingan konsep-konsep Barthian dari bidang tafsir adalah merupakan suatu kelemahan besar dalam teologia tersebut. Maka sebagai kontras, diskusi-diskusi oikumenis yang mutakhir menekankan tafsir secara kuat. Bahkan sebagaimana kita catat di atas ini, diskusi oikumenis itu justru bertolak cari suatu penelitian tentang cara-cara-menafsir yang tepat.
b. Kesulitan-kesulitan hermeneutis

Perhatian baru, yang ditujukan kepada hermeneutika, telah memindahkan secara radikal fokus diskusi tentang Alkitab. Letak persoalan-persoalan bagi ahli homiletika bukanlah pada perbedaan antara segi-segi ilahi dan segi-segi manusiawi dalam Alkitab, melainkan pada perbedaan antara dunia kuna dengan dunia modern. Persoalan pokok adalah begini: Alkitab menguraikan kepada kita cara-pemikiran jaman kuno, jaman alkitabiah. Sehingga timbul pertanyaan: bagaimanakah buah pemikiran itu dapat dirumuskan kembali dalam pola-pola pemikiran modern, mengingat bahwa latar belakang dunia modern itu serta persoalan-persoalan yang dihadapinya adalah lain daripada yang berlaku pada jaman kuno? Berhadapan dengan rumusan-soal yang baru ini, skema-skema yang menggunakan konsep "Firman Allah" nampaknya adalah kurang relevan.
c. Keberatan-keberatan teologis

Dari segi teologis pun, skema-skema yang memanfaatkan konsep "Firman Allah" itu harus diragukan. Misalnya, tidak ada alasan-kuat untuk menyejajarkan hubungan antara aspek keilahian dan aspek kemanusiaan di dalam pribadi Kristus, dengan hubungan antara aspek keilahian dan aspek kemanusiaan di dalam Alkitab. Biar kita menerima dengan segala senang hati rumusan Kredo Chalcedon tentang tabiat Kristus, namun tidak ada alasan kuat untuk mengenakan rumusan Chalcedon itu kepada Alkitab. Karena sudah barang tentu rumusan Chalcedon itu tidak dimaksudkan sebagai penjelasan tentang wujud Alkitab. Patutlah diragukan juga cara-berpikir yang mensejajarkan antara tiga eksistensi yang begitu berbeda: yaitu Kristus, Firman tertulis dalam Alkitab, dan proses pengkhotbahan dalam gereja, sehingga dikatakan bahwa ketiga-tiganya bersama-sama merupakan Firman Allah dalam bentuk rangkap-tiga. Saya tidak bermaksud menyangkal bahwa kesejajarannya dapat dirumuskan demikian, tetapi yang saya ragukan ialah apakah rumusan yang demikian memang wajib. Maka jikalau tidak wajib, itu berarti bahwa ada pola-pola lain-lain lagi yang sama-sama sah.
4. Kesimpulan

Jadi hasil bagian ini dapat kita simpulkan sebagai berikut: Usaha untuk menentukan soal "dalam arti manakah Alkitab itu patut disebut Firman Allah?" memanglah merangsang pemikiran kita. Tetapi tidak dapat diharapkan lagi bahwa penjernihan pengertian tentang makna istilah "Firman Allah" itu, akan membantu kita memecahkan persoalan-persoalan yang termodern tentang status Alkitab. Namun demikian, survai (pemeriksaan) yang kita adakan tentang istilah Firman Allah itu adalah berguna, karena hal itu membantu kita mengerti variasi-variasi yang nampak dalam pengertian istilah Firman Allah itu. Bahkan meskipun konsep tersebut ternyata mengandung kelemahan dan kekurangan, namun patut kita sadari juga bahwa pada periode tertentu konsep itu mempunyai pengaruh yang positif sekali. Bahkan sudah barangtentu bahwa masih banyak orang Kristen yang belum berhadapan dengan konsep "Firman Allah," seperti yang diuraikan dalam teologia Karl Barth itu, dan yang pasti akan merasakan manfaatnya, serta mengalami pembebasan melaluinya/ dengannya, kalau mereka sungguh-sungguh menggumulinya. Saya mencatat di atas ini bahwa teologia neo-orthodox, seperti teologia Karl Barth, akhirnya nampak lebih konservatif dari pada dugaan semula. Maka justru karena itu, teologia neo-orthodox telah berhasil membentuk jembatan, yang membantu menyeberang golongan-golongan Kristen yang sangat konservatif, sampai mereka dapat mengejar cara berpikir dan berteologia yang sudah menjadi lazim di gereja Protestan modern.

SAYA KIRA TIDAK TEPAT BILA ANDA MENYATAKAN yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?, APALAGI BILA ANDA MENDASARKAN PEMBAHASAN ANDA DENGAN TEOLOGIA YANG DIAJUKAN OLEH KARL BARTH YANG NOTABENE SEORANG TEOLOG LIBERAL; NAMUN SAYA HANYA INGIN MELIHAT DARI SUDUT PANDANG FIRMAN TUHAN SNDIRI, KARENA PERTANYAAN ANDA YANG MENYANGKUT TENTANG FIRMAN TUHAN AKAN DIJAWAB OLEH FIRMAN TUHAN SENDIRI.

Joh 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Joh 1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Joh 1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Joh 1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Joh 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Joh 1:15 Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku."
Joh 1:16 Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;
Joh 1:17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
Joh 1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.


SILAHKAN ANDA MENGAMBIL KESIMPULAN SENDIRI KARENA FIRMAN TUHAN TELAH SECARA GAMBLANG MENJAWAB PERTANYAAN ANDA!!!!

barabasmurtad
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Age : 73
Posts : 408
Kepercayaan : Protestan
Location : bandung
Join date : 26.11.11
Reputation : 5

Kembali Ke Atas Go down

Re: yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?

Post by mencari petunjuk on Tue Jun 19, 2012 3:31 pm

@barabasmurtad wrote:
ichreza wrote:1. Konsep Firman Allah menurut Karl Barth

Dalam membahas di atas ini tentang keilhaman, kita mencatat bahwa pada umumnya para ahli teologia Protestan pada abad kedua puluh ini agak mengabaikan konsep keilhaman. Konsep yang jauh lebih laku ialah konsep Firman Allah. Konsep Firman Allah ini telah dibahas dengan teliti dan panjang-lebar, terutama oleh Karl Barth. Bahkan teologia Karl Barth itu telah disebut sebagai teologia Firman Allah. Kita tak mungkin di sini memberikan suatu uraian yang mendetail (terperinci) tentang perkembangan teologia Karl Barth. Cukuplah, kalau kita mencatat garis-garis-umum teologia yang disebut "Barthian" itu.
a. Firman Allah = Yesus Kristus

Mungkin kaum awam, kalau diminta definisinya tentang arti istilah "Firman Allah," akan menyamakannya dengan istilah "keilhaman" Alkitab. Istilah Firman juga berarti bahwa Alkitab itu berasal dari Allah serta merupakan penyataan kehendakNya, dan karena itu pastilah bebas dari segala macam kesalahan. Sedangkan pendefinisian yang demikian ditolak oleh para ahli teologia. Ahli teologia menekankan bahwa yang dinyatakan Allah dalam proses penyataan, ialah Allah sendiri. Allah menyatakan Diri dalam FirmanNya. Dan Firman Allah ialah Yesus Kristus. Itu berarti bahwa pada prinsipnya, dan terutama, Firman Allah itu bukanlah Alkitab, melainkan Yesus Kristus sendiri. Di dalam Yesuslah (menurut Injil Yohanes) Firman Allah menjadi daging.

Rumusan yang demikian tidak berarti bahwa Yesus Kristus, Firman Allah itu, dapat ditanggapi atau didekati terlepas dari Alkitab. Hubungan antara Yesus dengan Alkitab itu dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep "kesaksian." Alkitab merupakan saksi mutlak yang menyaksikan (memberi kesaksian tentang) Yesus Kristus. Alkitab mengandung kesaksian dari pihak mereka yang merupakan saksi-saksi Yesus. Kesaksian itu tidak membenarkan Alkitab, melainkan membenarkan Dia yang dibicarakan dalam Alkitab itu. Jadi inti penyataan Alkitab adalah bukan Alkitab sendiri, melainkan Oknum dan karya-karya yang diuraikan dalam Alkitab. Itu berarti bahwa Alkitab tidaklah menjadi "kitab berupa penyataan"; karena Allah tidak mewahyukan kitab-kitab, pasal-pasal, kalimat-kalimat dan ayat-ayat, melainkan Allah menyatakan Diri. Jadi adalah termasuk kesalahan, kalau kita mengatakan bahwa Alkitab merupakan penyataan: yang tepatnya, ialah bahwa Alkitab merupakan kesaksian tentang penyataan Allah.
b. Alkitab sebagai laporan historis dan kesaksian-iman

Tetapi walaupun Alkitab merupakan kesaksian yang diberikan oleh manusia-manusia, namun kesaksian yang terkandung di dalam Alkitab itu memanglah mutlak perlu. Kesaksiannya perlu, justru karena cara yang dipakai Allah dalam menyatakan Diri; yaitu Dia tidak menyatakan diri melalui konsep-konsep yang bersifat universal melainkan melalui kejadian-kejadian di atas panggung sejarah. Allah menyatakan Diri melalui suatu rentetan kejadian-kejadian, pada saat dan tempat tertentu dalam proses sejarah. Maka oleh karena itulah, adanya laporan tentang peristiwa-peristiwa tersebut memang mutlak perlu, supaya kita dapat mendekati penyataan tersebut. Bahkan bukan hanya demikian; Alkitab tidak hanya merupakan kesaksian yang mutlak perlu, melainkan juga merupakan kesaksian yang tepat dan cocok. Karena isinya bukanlah kesaksian-historis begitu saja, melainkan suatu reaksi-dalam-iman terhadap penyataan Allah. Dengan perkataan lain, para pengarang Alkitab tidak merupakan saksi-saksi obyektif (begitu saya) tentang kejadian-kejadian yang tidak kena (relevan) kepada mereka pribadi, melainkan mereka termasuk manusia yang percaya bahwa Allah telah berbicara kepada mereka melalui kejadian-kejadian tersebut. Itu berarti bahwa, walaupun Firman Allah itu tidak identik dengan Alkitab, Alkitab tokh merupakan suatu jembatan yang mutlak perlu yang mengantar kita kepada Firman Allah, sedemikian rupa, hingga tak mungkinlah kita mendengar Firman Allah itu kalau tidak dengan perantaraan Alkitab.
c. Firman yang berbentuk tiga

Karena duduknya perkara memanglah demikian, maka tidaklah kurang tepat, kalau Alkitab itu sendiri juga disebut "Firman Allah," walaupun bukan dalam arti-istilah yang primer, melainkan dalam arti sekunder. Satu rumusan yang dipakai Karl Barth tentang hal ini, ialah konsepnya bahwa Firman Allah mempunyai bentuk rangkap-tiga. Bentuk-primer Firman Allah ialah Yesus Kristus sendiri, Sang Firman yang dinyatakan. Bentuk-sekunder Firman Allah adalah skriptura dalam bentuk tertulisnya. Sedangkan bentuk ketiga ialah Firman yang berupa kerygma gereja, firman dalam bentuk khotbah. Ketiga bentuk tersebut adalah berhubungan-erat satu sama lain. Sang Firman, Yesus Kristus, hanya berbicara bilamana Ia disaksikan oleh skriptura dan diberitakan dengan iman oleh gereja. Alkitab merupakan Firman Allah hanya sebagai kesaksian tentang Allah yang menyatakan Diri dalam Yesus Kristus itu. Bahkan Alkitab hanya merupakan Firman Allah, bilamana diterima dengan penuh iman dan diberitakan dalam gereja dan oleh gereja. Di pihak lain, pemberitaan gereja hanyalah merupakan Firman Allah bilamana pemberitaannya itu sungguh-sungguh mengabdi kepada Firman Allah di dalam Yesus Kristus, dan mendasarkan diri pada Alkitab yang menyaksikan (memberi kesaksian tentang) Yesus Kristus itu.
d. Alkitab "menjadi" Firman Allah

Suatu konsep lain yang sering muncul dalam hubungan dengan ide-ide Karl Barth, seperti yang diuraikan di atas ini, ialah konsep bahwa skriptura tidak "merupakan" Firman Allah melainkan "menjadi" Firman Allah. Dengan perkataan lain, Alkitab tidak merupakan suatu eksistensi yang statis, yang identik dengan Firman Allah, melainkan sesuatu yang dapat menjadi dinamis, yang dapat menjadi hidup, dan oleh karena itu menjadi Firman Allah. Rumusan yang demikian memberikan gambaran yang lebih bersifat eksistensialis, yaitu bahwa Alkitab memang bersatu dengan Firrnan Allah, namun tidak identik dengan Firman Allah itu. Senada dengan rumusan yang demikian, seorang teolog Katholik modern4 berbicara tentang hal skriptura itu menjadi Injil:

"Dengan demikian skriptura memperoleh kewibawaan, yaitu kewibawaan Allah sendiri, hanyalah bilamana skriptura itu menjadi Injil. Sehingga muncullah persoalan pokok, bagaimanakah caranya skriptura itu sungguh-sungguh menjadi Injil?"

e. Alkitab bersifat ilahi dan manusiawi

Rumusan yang lain lagi, yang terrnasuk lingkaran ide-ide ini, ialah bahwa Alkitab mempunyai dua aspek, aspek kemanusiaannya dan aspek keilahiannya. Penggambaran kepribadian Kristus menurut Kristologi tradisional, diambil sebagai pola dalam hal ini. Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia; maka sejajar dengan itu Alkitab adalah sungguh-sungguh Firman Allah, dan sungguh-sungguh firman manusia. Dalam rumusan demikian, kedua istilah yang dipakai itu tidaklah menunjuk kepada suatu pembagian bahan-bahan Alkitab atas bagian ilahi dan bagian manusiawi, melainkan merupakan muka dan balik dari satu konsep. (Bandingkan rumusan kristologi, yang tidak mengatakan bahwa bagian-bagian tabiat Kristus mengandung keilahian, sedangkan bagian-bagian lainnya mengandung kemanusiaan). Seluruh Alkitab merupakan firman manusia, sehingga dipengaruhi oleh ketegangan-ketegangan, kelemahankelemahan, dan kesalahan-kesalahan yang selalu melekat pada hasilkarya manusia. Itu berarti bahwa ditinjau dari segi kemanusiaannya, Alkitab tidak berstatus lebih tinggi-dibandingkan dengan buku-buku lain, sehingga patut, bahkan wajib, diselidiki dengan metode seperti yang dikenakan kepada buku-buku lain. Tetapi ditinjau dari segi lain, seluruh Alkitab juga merupakan Firman Allah. Itu berarti bahwa Alkitab mengandung suatu pemberitaan yang tidak timbul dari kebudayaan manusia begitu saja, bahwa pemberitaannya pun tidak imanen dalam kebudayaan manusia, maka oleh karena itu, Alkitab harus diselidiki dengan metode-metode yang peka terhadap kemungkinan mendengarkan Firman Allah itu.
2. Keuntungan-keuntungan dalam memakai istilah Firman Allah

Konsep-konsep, yang kita uraikan di atas ini, yang menggunakan istilah Firrnan Allah, kalau ditinjau secara sepintas lalu, kelihatannya berhasil mengatasi banyak persoalan rumit yang kita hadapi, bila kita memikirkan status Alkitab. Dengan pengistilahan Firman Allah itu, penting-mutlaknya Alkitab mendapat penekanan yang layak, namun bahaya pendewaannya dielakkan. Sifat kemanusiaan dan sifat kehistorisan Alkitab diakui, tanpa mengurangi atau meremehkan fungsi Alkitab sebagai pengantara penyataan. Unsur penyataan dalam Alkitab ditaklukkan kepada unsur yang lebih prinsipal lagi, yaitu karya Allah dalam menyatakan Diri. Namun dipertahankan juga prinsip mutlak-perlunya peranan Alkitab dalam proses penentuan isi penyataan. Dengan demikian, pengistilahan Firman Allah itu nampaknya membuka jalan tengah, yang memberi penekanan yang layak kepada kedua aspek realita itu.
3. Keberatan-keberatan terhadap istilah Firman Allah

Demikianlah kesan yang kita peroleh; namun penggunaan istilah Firman Allah itu dalam prakteknya belum juga memecahkan persoalan-persoalan sekitar hakekat Alkitab yang dihadapi manusia masa kini. Belakangan ini, minat untuk menggunakan pengistilahan itu nampaknya berkurang. Misalnya dalam diskusi tentang status Alkitab yang berlangsung di kalangan Dewan Gereja-gereja sedunia dewasa ini, istilah "Firman Allah" jarang terpakai, baik dalam paper-paper (kertas-kertas-kerja) persiapan maupun dalam laporan yang definitif. Bahkan skema-skema seperti "Firman Allah yang berbentuk rangkap-tiga," atau skema tentang Alkitab sebagai "Firman Allah merangkap firman manusia" hampir tidak mendapat perhatian lagi. Jikalau kita mempersoalkan, mengapa sampai konsep-konsep yang terumus dengan begitu teliti, agaknya kurang kena lagi, mungkin sebab-sebabnya adalah sebagai berikut:
a. Konsep Firman Allah terlalu berbau dogmatis

Konsep-konsep seperti yang di atas ini terlalu berbau teologia sistematis atau teologia-dogmatis, dan kurang berhubungan atau kurang berakar dalam tafsir Alkitab sendiri. Ahli tafsir yang menggali nats-nats Alkitab secara mendetail, sering mengalami kesulitan dalam menempatkan konsep-konsep yang menarik itu dalam konteks tafsir, atau untuk menguraikan penerapannya secara tafsiran. Keterasingan konsep-konsep Barthian dari bidang tafsir adalah merupakan suatu kelemahan besar dalam teologia tersebut. Maka sebagai kontras, diskusi-diskusi oikumenis yang mutakhir menekankan tafsir secara kuat. Bahkan sebagaimana kita catat di atas ini, diskusi oikumenis itu justru bertolak cari suatu penelitian tentang cara-cara-menafsir yang tepat.
b. Kesulitan-kesulitan hermeneutis

Perhatian baru, yang ditujukan kepada hermeneutika, telah memindahkan secara radikal fokus diskusi tentang Alkitab. Letak persoalan-persoalan bagi ahli homiletika bukanlah pada perbedaan antara segi-segi ilahi dan segi-segi manusiawi dalam Alkitab, melainkan pada perbedaan antara dunia kuna dengan dunia modern. Persoalan pokok adalah begini: Alkitab menguraikan kepada kita cara-pemikiran jaman kuno, jaman alkitabiah. Sehingga timbul pertanyaan: bagaimanakah buah pemikiran itu dapat dirumuskan kembali dalam pola-pola pemikiran modern, mengingat bahwa latar belakang dunia modern itu serta persoalan-persoalan yang dihadapinya adalah lain daripada yang berlaku pada jaman kuno? Berhadapan dengan rumusan-soal yang baru ini, skema-skema yang menggunakan konsep "Firman Allah" nampaknya adalah kurang relevan.
c. Keberatan-keberatan teologis

Dari segi teologis pun, skema-skema yang memanfaatkan konsep "Firman Allah" itu harus diragukan. Misalnya, tidak ada alasan-kuat untuk menyejajarkan hubungan antara aspek keilahian dan aspek kemanusiaan di dalam pribadi Kristus, dengan hubungan antara aspek keilahian dan aspek kemanusiaan di dalam Alkitab. Biar kita menerima dengan segala senang hati rumusan Kredo Chalcedon tentang tabiat Kristus, namun tidak ada alasan kuat untuk mengenakan rumusan Chalcedon itu kepada Alkitab. Karena sudah barang tentu rumusan Chalcedon itu tidak dimaksudkan sebagai penjelasan tentang wujud Alkitab. Patutlah diragukan juga cara-berpikir yang mensejajarkan antara tiga eksistensi yang begitu berbeda: yaitu Kristus, Firman tertulis dalam Alkitab, dan proses pengkhotbahan dalam gereja, sehingga dikatakan bahwa ketiga-tiganya bersama-sama merupakan Firman Allah dalam bentuk rangkap-tiga. Saya tidak bermaksud menyangkal bahwa kesejajarannya dapat dirumuskan demikian, tetapi yang saya ragukan ialah apakah rumusan yang demikian memang wajib. Maka jikalau tidak wajib, itu berarti bahwa ada pola-pola lain-lain lagi yang sama-sama sah.
4. Kesimpulan

Jadi hasil bagian ini dapat kita simpulkan sebagai berikut: Usaha untuk menentukan soal "dalam arti manakah Alkitab itu patut disebut Firman Allah?" memanglah merangsang pemikiran kita. Tetapi tidak dapat diharapkan lagi bahwa penjernihan pengertian tentang makna istilah "Firman Allah" itu, akan membantu kita memecahkan persoalan-persoalan yang termodern tentang status Alkitab. Namun demikian, survai (pemeriksaan) yang kita adakan tentang istilah Firman Allah itu adalah berguna, karena hal itu membantu kita mengerti variasi-variasi yang nampak dalam pengertian istilah Firman Allah itu. Bahkan meskipun konsep tersebut ternyata mengandung kelemahan dan kekurangan, namun patut kita sadari juga bahwa pada periode tertentu konsep itu mempunyai pengaruh yang positif sekali. Bahkan sudah barangtentu bahwa masih banyak orang Kristen yang belum berhadapan dengan konsep "Firman Allah," seperti yang diuraikan dalam teologia Karl Barth itu, dan yang pasti akan merasakan manfaatnya, serta mengalami pembebasan melaluinya/ dengannya, kalau mereka sungguh-sungguh menggumulinya. Saya mencatat di atas ini bahwa teologia neo-orthodox, seperti teologia Karl Barth, akhirnya nampak lebih konservatif dari pada dugaan semula. Maka justru karena itu, teologia neo-orthodox telah berhasil membentuk jembatan, yang membantu menyeberang golongan-golongan Kristen yang sangat konservatif, sampai mereka dapat mengejar cara berpikir dan berteologia yang sudah menjadi lazim di gereja Protestan modern.

SAYA KIRA TIDAK TEPAT BILA ANDA MENYATAKAN yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?, APALAGI BILA ANDA MENDASARKAN PEMBAHASAN ANDA DENGAN TEOLOGIA YANG DIAJUKAN OLEH KARL BARTH YANG NOTABENE SEORANG TEOLOG LIBERAL; NAMUN SAYA HANYA INGIN MELIHAT DARI SUDUT PANDANG FIRMAN TUHAN SNDIRI, KARENA PERTANYAAN ANDA YANG MENYANGKUT TENTANG FIRMAN TUHAN AKAN DIJAWAB OLEH FIRMAN TUHAN SENDIRI.

Joh 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Joh 1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Joh 1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Joh 1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Joh 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Joh 1:15 Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku."
Joh 1:16 Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;
Joh 1:17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
Joh 1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.


SILAHKAN ANDA MENGAMBIL KESIMPULAN SENDIRI KARENA FIRMAN TUHAN TELAH SECARA GAMBLANG MENJAWAB PERTANYAAN ANDA!!!!

kapan Tuhan berfirman sama yohanes???? jgn2 hasil analisa yohanes sendiri atau org lain, bukan sumbernya dr Tuhan

:mon2:


mencari petunjuk
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Posts : 192
Join date : 27.10.11
Reputation : 6

Kembali Ke Atas Go down

Re: yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?

Post by Jagona on Tue Jun 19, 2012 3:56 pm

Menurut tulisan yang aku gak tahu siapa penulisnya, bahwa "firman" bukan bahasa Arab, melainkan bahasa Kitab PL dan PB.
Firman berasal dari dua kata bahasa Belanda yaitu Vier (empat) dan Man (manusia/orang). Firman atau De Vierman adalah mereka "Ke-empat Injil" yaitu rasul Matius, rasul Markus, rasul Lukas, dan rasul Yohanes (PB hal 269).
Jadi menurut tulisan tulisan di atas ..... tentunya Al-Kitab

Gak tau itu "kirata" atau bukan ..... dia menulisnya begitu ....... okeh

nice info nice info

Jagona
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 71
Posts : 4039
Kepercayaan : Islam
Location : Banten
Join date : 08.01.12
Reputation : 18

Kembali Ke Atas Go down

Re: yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?

Post by keroncong on Tue Jun 19, 2012 4:26 pm

@barabasmurtad wrote:
SAYA KIRA TIDAK TEPAT BILA ANDA MENYATAKAN yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?, APALAGI BILA ANDA MENDASARKAN PEMBAHASAN ANDA DENGAN TEOLOGIA YANG DIAJUKAN OLEH KARL BARTH YANG NOTABENE SEORANG TEOLOG LIBERAL; NAMUN SAYA HANYA INGIN MELIHAT DARI SUDUT PANDANG FIRMAN TUHAN SNDIRI, KARENA PERTANYAAN ANDA YANG MENYANGKUT TENTANG FIRMAN TUHAN AKAN DIJAWAB OLEH FIRMAN TUHAN SENDIRI.

Joh 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Joh 1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Joh 1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Joh 1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Joh 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Joh 1:15 Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku."
Joh 1:16 Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;
Joh 1:17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
Joh 1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.


SILAHKAN ANDA MENGAMBIL KESIMPULAN SENDIRI KARENA FIRMAN TUHAN TELAH SECARA GAMBLANG MENJAWAB PERTANYAAN ANDA!!!!

lho....pak barabas bukan kristen liberal yah? bukannya pak barabas itu paling benci ama yg namanya fundamentalis???? ehmm

ok....kita bahas apa kata pak john per ayat....
disana dikatakan bahwasanya
Joh 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
komentar: suerrr...ayat ini banyak kerancuan di dalamnya. mana yg lebih dulu ada, firman atau allah? jika firman bersama2 dgn allah, berarti allah bukanlah firman; tapi pada bunyi ayat selanjutnya si john bilang firman itu adalah allah. yg mana sih yg benar? :jotos:

Joh 1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
datang dari manakah si firman? mana ada cerita pada mulanya firman bersama dg allah? pasti firman itu datang dari tempat khusus.....
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?

Post by keroncong on Thu Dec 06, 2012 2:20 pm

Bagaimana pernyataan bahwa al-Masih adalah sabda yang berwujud manusia ?

Islam menolak tegas pernyataan bahwa Isa al-Masih merupakan perwujudan dari ilahiah baik dalam pengertian lahiriah ataupun dalam bentuk titisan dan inkarnasi laksana cerita pewayangan dimana Batara Guru menjelma kedunia menjadi Semar.

Sungguh, al-Masih ‘Isa anak Maryam adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Roh dari-Nya, Karena itu, berimanlah kamu kepada Allah dan para Rasul-Nya - Qs. 4 An-nisaa’ : 171

‘Isa itu sesungguhnya Roh Allah dan Kalimat-Nya - Hadis riwayat Anas bin Malik

Istilah “Roh dariNya“ pada ayat al-Qur’an maupun Hadis diatas memiliki persamaan dengan firman Allah berikut ini :

Yang memulai penciptaan manusia dari tanah, Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (sperma) Lalu Dia menyempurnakan kedalamnya Roh-Nya, dan Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati Tapi, sedikit sekali jumlah kamu yang bersyukur ! - Qs. 32 As-Sajdah: 7-9

Artinya pemakaian kalimat Roh-Nya yang dimaksud oleh ayat An-Nisaa’ 171 mengenai ‘Isa al-Masih tidak berbeda dengan pemakaian istilah Roh-Nya pada ayat As-Sajdah 9 yang menceritakan proses awal penciptaan seluruh manusia. Tidak mungkin menyangkal bahwa Roh yang menghidupkan diri kita –manusia- adalah Roh-nya Allah atau Roh yang berasal dari Allah. Karena itu pemakaian istilah Roh-Nya pada ayat An-Nisaa’ 171 akan bisa dimengerti dengan baik, ini juga maksud Allah dalam ayat yang lain:

Sesungguhnya perbandingan Isa disisi Allah, adalah seperti Adam - Qs. 3 Ali Imron : 59

Jadi Nabi ‘Isa tidak ada beda dengan Adam, keduanya adalah manusia biasa yang sama sekali tidak ada unsur keilahiannya.
Benar-benar telah kafirlah orang-orang yang berkata : "Allah itu adalah almasih putera Maryam". Renungkanlah: "Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, seandainya Dia hendak membinasakan al-Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan siapa saja diatas bumi ?"

Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Ia menciptakan apa yang Ia kendaki. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. - Qs. 5 al-maidah 17

Isa al-Masih sebagai “Firman Tuhan” merupakan terjemahan dari kata “Kalimatuhu” ataupun “Kalimatu Robbi” yang secara terjemahan harfiahnya adalah “Kalimat-Nya” atau “Kalimat Tuhan”, sebagaimana surah 4 an-nisaa’ ayat 171 berikut :

Innamal masihu ‘isa ibnu maryama rosulullahi kalimatuhu
Sungguh, almasih ‘Isa putera Maryam adalah Rasul Allah dan Kalimat-Nya - Qs. 4 An-nisaa’ : 171

Beberapa pengertian dari istilah “Kalimat Tuhan” sendiri bisa kita lihat pada ayat al-Qur’an berikut :

Kalimatutul ‘azabi ‘alal kafirin
Telah berlakulah Kalimat azab bagi orang-orang yang kafir - Qs. 39 Az-Zumar : 71

Wa izibtala Ibrohima Robbuhu bi kalimati fa atammahunna
Dan ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa Kalimat dan tetap dilaksanakannya - Qs. 2 Al-Baqarah : 124

Dari contoh persamaan ayat tersebut, bisa diperoleh kesimpulan bahwa istilah Kalimat atau firman Tuhan disini berarti Ketetapan Tuhan kepada makhluk-Nya. Sehingga dengan demikian maksud dari ayat 171 An-Nisaa’ yang menyatakan ‘Isa al-Masih merupakan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam adalah Ketetapan atau keputusan Allah atas kelahiran ‘Isa al-Masih dari diri Maryam yang masih perawan, seperti maksud dari ayat berikut ini :

Al-masih putera Maryam itu hanyalah salah seorang Rasul seperti para Rasul sebelumnya - yang pernah ada - dan ibunya adalah orang yang sangat benar - Qs. 5 al-maidah : 75

Para Rasul itu Kami lebihkan setengah mereka dari setengah lainnya Diantaranya ada yang Allah berkenan berbicara langsung dengannya –seperti Musa- Adapula yang Allah tinggikan derajatnya beberapa tingkat. Juga Kami telah memberi kepada ‘Isa putera Maryam beberapa mukjizat (kelebihan) Serta Kami kuatkan dia dengan Ruh yang Suci - Qs. 2 al-Baqarah : 253
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?

Post by Cak Yadi on Thu Feb 07, 2013 12:47 pm

Yesus adalah Firman Tuhan
Alkitab adalah kesaksian akan Firman Tuhan
avatar
Cak Yadi
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 111
Kepercayaan : Katolik
Location : Solo
Join date : 06.02.13
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Re: yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?

Post by Guest on Thu Feb 07, 2013 1:10 pm

Istilah “Roh dariNya“ pada ayat al-Qur’an maupun Hadis diatas memiliki persamaan dengan firman Allah berikut ini :
Roh KAMBING juga “Roh dariNya“
Apa KAMBING juga rohullah ???

usil

Guest
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Re: yesus atau alkitab yang lebih pantas disebut firman?

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik