FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

menggunakan Qur'an untuk urusan mistik

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

menggunakan Qur'an untuk urusan mistik

Post by keroncong on Sun Jul 22, 2012 5:13 am

1. Perbuatan menjadikan ayat-ayat Al-Quran Al-Karim sebagai mantera ‘pengasihan’ merupakan perbuatan yang menghina kitabullah. Karena ‘ilmu pengasihan’ tidak lain adalah sihir yang dikerjakan oleh jin. Allah SWT sama sekali tidak pernah memberikan ilmu seperti itu. Perbuatan ‘memelet’ lawan jenis merupakan perbuatan syirik kepada Allah SWT dan ma’siat. Apalagi dengan memanfaatkan ayat suci Al-Quran Al-Karim, maka dosanya dua kali lipat. Pertama dosa memelet dan kedua dosa menghina Al-Quran Al-Karim.

Kalau kenyataannya ayat itu ketika dibaca bisa berpengaruh, maka itu adalah perbuatan jin yang kerjanya bisa menyihir orang dan melakukan proses ‘pengasihan’ di alam bawah sadar korban. Perbuatan itu jelas-jelas sebuah sihir dengan berkedok ajaran agama.

Sedangkan bila untuk pengobatan yang syar’i, seperti membacakan ayat kursi atau ayat tertentu untuk ruqiyah yang syari’yah, memang ada contoh dari Rasulullah SAW. Tapi yang ini harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan aqidah dan syariah Islam. Tidak asal pakai ayat dan asal komat-kamit saja.

Begitu juga baca ayat untuk mencari barang hilang, praktek seperti ini umumnya dilakukan oleh jin yang bekerja sama dengan dukun. Praktek seperti ini umumnya adalah sihir yang diharamkan. Sedangkan ayat Al-Quran Al-Karim hanyalah asesoris belaka yang digunakan untuk menimbulkan kesan bahwa praktek itu bagian dari agama. Padahal intinya jelas-jelas merupakan penyelewengan ayat Al-Quran Al-Karim.

2. Perbuatan membalik-balik ayat Al-Quran Al-Karim tidak perlu diragukan lagi merupakan penghinaan dan penginjak-injakan kesucian kitabullah. Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkannya, begitu juga para shahabat dan para ulama salafus-shalih. Tidak ada satu pun bagian dari Islam yang mengajarkan orang untuk membolak-balik ayat Al-Quran Al-Karim.

Ajaran itu datang dari para ahli sihir dan jin-jin jahat yang berkolaborasi menyebarkan kekufuran pada manusia.

3. Orang yang melakukan kerja sama dengan jin dan para ahli sihir tidak mungkin disebut orang shalih apa lagi ulama. Ini adalah penyebutan yang salah kaprah sebagaimana menjadikan artis sebagai ustaz atau rujukan ilmu Islam. Hanya karena kebetulan mereka menggunakan atribut ustaz, lalu tiba-tiba menjadi seperti ustaz beneran. Padahal di kepalanya sama sekali tidak ada apa-apanya.

Seserang hanya bisa disebut shalih manakala punya aqidah yang benar, lurus, jauh dari praktek syirik, tidak menggunakan sihir dan tidak berkomplot dengan jin. Selain itu dia harus paham syariah Islam secara mendetail hingga mempraktekkannya secara benar dalam kehidupannya pribadi, keluarga dan lingkungannya. Dia pun harus memiliki akhlaq yang sempurna sebagaimana akhlaq Rasulullah SAW. Tanpa keriteria seperti itu, dari mana dia mendapat predikat ‘sholeh’ ? Siapa yang mengangkatnya menjadi ‘sholeh’ ? Dan sejak kapan dia menyematkan predikat ‘sholeh’ ?

Untuk menyadarkan orang yang seperti itu memang dibutuhkan orang yang alim dan mendalam ilmunya. Sehingga dia tidak memandang enteng lawan bicaranya. Untuk mereka memang dibutuhkan sosok ulama yang terpandang dari segi ketinggian ilmu agamanya dan keluasan wawasannya. Sosok seperti ini akan memberikan masukan dengan penuh wibawa dan disegani.

Sedangkan bila ‘orang awam’ yang mengingatkan, maka bisa jadi belum apa-apa dia akan bertanya,”Siapa kamu dan apa derajatmu sok mengingatkan ?”. Perkataan seperti ini memang terkesan angkuh, tapi kita bisa memahami bahwa setiap orang pasti tidak bisa dengan mudah menerima begitu saja masukan dari yang lebih bawah, paling tidak menurut dia. Tetapi kalau masukan itu datang dari sosok yang lebih atas dan dia hormati, bisa jadi memang akan lebih efektif. Buat seorang da’i, kenyataan seperti ini sebenarnya manusiawi sifatnya dan bisa dimaklumi.

Sebagai ilustrasi, seorang sarjana S1 tentu akan lebih merasa terhormat kalau diarahkan oleh sarjana S2. Dan seorang sarjana S12 tentu akan lebih merasa terhormat kalau diarahkan oleh sarjana S3. Dan sarjana S3 tentu akan lebih merasa terhormat kalau diarahkan oleh guru besar atau profesornya. Dan bila ada seorang profesor diarahkan oleh seorang lulusan SMU, wajarlah kalau dia memandang rendah. Jadi kalau level profesor, minimal oleh para profesor juga. Biar adil dan seimbang.

Maka untuk ‘berdakwah’ di kalangan level seperti itu, dibutuhkan orang yang minimal selevel agar proses dakwah bisa berjalan secara lembut dan klop.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik