FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

makanan dalam Qur'an

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

makanan dalam Qur'an

Post by keroncong on Wed Aug 01, 2012 9:25 am

"Mengharamkan yang baik dan halal" mengandung arti mengurangi
kebutuhan, sedang "melampaui batas" berarti meebihkan dari
yang wajar. Demikian terlihat Al-Quran dalam uraiannya tentang
makan menekankan perlunya "sikap proporsional" itu. Makna
terakhir ini sejalan dengan ayat yang lain yang petunjuknya
lebih jelas, yaitu:

Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak senang terhadap orang yang
berlebih-lebihan (QS Al-A'raf [7]: 31).

Rasul menjelaskan bahwa:

Termasuk berlebih-lebihan (bila) Anda makan apa yang
Anda tidak ingini.

Dalam hadis lain Rasul Saw. mengingatkan:

Tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari
perut, cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang
dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus (memenuhkan
perut), maka hendaklah sepertiga untuk makanan,
sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernafasan
(HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dan At-Tirmidzi melalui
sahabat Nabi Miqdam bin Ma'di Karib).

c. Aman. Tuntunan perlunya makanan yang aman, antara lain
dipahami dari firman Allah dalam surat Al-Ma-idah (5): 88 yang
menyatakan,

Dan makanlah dan apa yang direzekikan Allah kepada
kamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu percaya
terhadap-Nya.

Dirangkaikannya perintah makan di sini dengan perintah
bertakwa, menuntun dan menuntut agar manusia selalu
memperhatikan sisi takwa yang intinya adalah berusaha
menghindar dari segala yang mengakibatkan siksa dan
terganggunya rasa aman.

Takwa dari segi bahasa berarti "keterhindaran", yakni
keterhindaran dari siksa Tuhan, baik di dunia maupun di
akhirat. Siksa Tuhan di dunia adalah akibat pelanggaran
terhadap hukum-hukum (Tuhan yang berlaku di) alam ini, sedang
siksa-Nya di akhirat adalah akibat pelanggaran terhadap
hukum-hukum syariat. Hukum Tuhan di dunia yang berkaitan
dengan makanan misalnya adalah: siapa yang makan makanan kotor
atau berkuman, maka dia akan menderita sakit. Penyakit
--akibat pelanggaran ini-- adalah siksa Allah di dunia. Jika
demikian, maka perintah bertakwa pada sisi duniawinya dan
dalam konteks makanan, menuntut agar setiap makanan yang
dicerna tidak mengakibatkan penyakit atau dengan kata lain
memberi keamanan bagi pemakannya. Ini tentu di samping harus
memberinya keamanan bagi kehidupan ukhrawinya.

Penggalan surat Al-Nisa' (4): 4 mengingatkan:

Makanlah ia dengan sedap lagi baik akibatnya (QS
Al-Nisa' [4]: 4)

Ayat ini walaupun tidak turun dalam konteks petunjuk tentang
makanan, tetapi penggunaan kata akala yang pada prinsipnya
berarti "makan" dapat dijadikan petunjuk bahwa memakan sesuatu
hendaknya yang sedap serta berakibat baik.

Pada akhirnya kita dapat menyimpulkan pesan Allah tentang
makan dan makanan dengan firman-Nya dalam surat Al-An'am (6):
142 setelah menyebut berbagai jenis makanan nabati dan hewani:

Makanlah apa yang direzekikan Allah dan jangan ikuti
langkah-langkah setan, sesungguhnya dia adalah musuh
kamu yang sangat nyata.

PENGARUH MAKANAN

Tidak dapat disangkal bahwa makanan mempunyai pengaruh yang
sangat besar terhadap pertumbuhan dan kesehatan jasmani
manusia. Persoalan yang akan diketengahkan di sini adalah
pengaruhnya terhadap jiwa manusia.

Al-Harali seorang ulama besar (w. 1232 M) berpendapat bahwa
jenis makanan dan minuman dapat mempengaruhi jiwa dan
sifat-sifat mental pemakannya. Ulama ini menyimpulkan
pendapatnya tersebut dengan menganalisis kata rijs yang
disebutkan Al-puran sebagai alasan untuk mengharamkan makanan
tertentu, seperti keharaman minuman keras (QS Al-Ma-idah [5]:
90) bangkai, darah, dan daging babi (QS Al-An'am [6]: 145).

Kata rijs menurutnya mengandung arti "keburukan budi pekerti
serta kebobrokan moral". Sehingga, apabila Allah menyebut
jenis makanan tertentu dan menilainya sebagai rijs, maka ini
berarti bahwa makanan tersebut dapat menimbulkan keburukan
budi pekerti.

Memang kata ini juga digunakan Al-Quran untuk
perbuatan-perbuatan buruk yang menggambarkan kebejatan mental,
seperti judi dan penyembahan berhala (QS Al-Maidah [5]: 90).
Dengan demikian, pendapat Al-Harali di atas, cukup beralasan
ditinjau dari segi bahasa dan penggunaan Al-Quran.

Sejalan dengan pendapat di atas adalah pendapat yang
dikemukakan oleh seorang ulama kontemporer, Syaikh Taqi
Falsafi, dalam bukunya Child between Heredity and Education.
Dalam buku ini, dia menguatkan pendapatnya dengan mengutip
Alexis Carrel, pemenang hadiah Nobel Kedokteran. Carrel
menulis dalam bukunya Man the Unknown lebih kurang sebagai
berikut:

Pengaruh dari campuran (senyawa) kimiawi yang dikandung
oleh makanan terhadap aktivitas jiwa dan pikiran
manusia belum diketahui secara sempurna, karena belum
lagi diadakan eksperimen secara memadai. Namun tidak
dapat diragukan bahwa perasaan manusia dipengaruhi oleh
kualitas dan kuantitas makanan.

Nah jika demikian, terlihat bahwa makanan memiliki pengaruh
yang besar bukan saja terhadap jasmani manusia tetapi juga
jiwa dan perasaannya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
minuman keras merupakan langkah awal yang mengakibatkan
langkah-langkah berikut dari para penjahat. Hal ini,
disebabkan antara lain oleh pengaruh minuman tersebut dalam
jiwa dan pikirannya.

Dalam konteks agama, tidak dapat diragukan adanya pengaruh
makanan terhadap selain jasmani. Rasulullah Saw. mengaitkan
antara terkabulnya doa dengan makanan halal. Beliau bersabda
sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim:

Wahai seluruh manusia. Sesungguhnya Allah Mahabaik. Dia
tidak menerima (sesuatu) kecuali yang baik. Dia
memerintahkan kaum mukmin sebagaimana memerintahkan
para Rasul dengan firman-Nya, "Wahai Rasul, makanlah
rezeki yang baik yang telah Kami anugerahkan kepadamu".
(Kata perawi) Rasul kemudian menjelaskan seorang
pejalan kaki, kumal, dan kotor, menengadahkan kedua
tangannya ke langit berdoa, "Wahai Tuhan, Wahai Tuhan
... (tetapi) makanannya haram, minumannya haram,
pakaiannya haram, makan dari barang haram, maka
bagaimana mungkin ia dikabulkan?"

Demikian, sebagian dari dampak makanan terhadap manusia.

MENGAPA BINATANG ATAU MAKANAN TERTENTU DIHARAMKAN?

Banyak analisis yang dikemukakan para pakar tentang
sebab-sebab diharamkannya binatang atau makanan tertentu.
Babi, misalnya, dinilai mengidap sekian banyak jenis kuman dan
cacing yang sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia.
Tenasolium adalah salah satu nama cacing yang berkembang biak
dalam pencernaan yang panjangnya dapat mencapai delapan meter.
Pada 1968 ditemukan sejenis kuman yang merupakan penyebab dari
kematian sekian banyak pasien di Belanda dan Denmark. Pada
1918, flu Babi pernah menyerang banyak bagian dari dunia kita
dan menelan korban jutaan orang. Flu ini kembali muncul pada
1977, dan di Amerika Serikat ketika itu dilakukan imunisasi
yang menelan biaya 135 juta dolar. Demikian sekelumit dari
bahaya babi, sebagaimana dikemukakan oleh Faruq Musahil dalam
bukunya Tahrim Al-Khinzir fi Al-Islam.

Lemak babi mengandung complicated fats antara lain
triglycerides, dan dagingnya mengandung kolestrol yang sangat
tinggi, mencapai lima belas kali lipat lebih banyak dari
daging sapi. Dalam Encydopedia Americana dijelaskan
perbandingan antara kadar lemak yang terdapat pada babi,
domba, dan kerbau. Dalam kadar berat yang sama, babi
mengandung 50% lemak, domba 17%, dan kerbau tidak lebih dari
5%. Demikian keterangan Ahmad Syauqi Al-Fanjari dalam bukunya
Ath-Thib Al-Wiqaiy fi Al-Islam.

Banyak lagi analisis dan jawaban yang diberikan menyangkut
sebab-sebab diharamkannya sekian banyak makanan. Bukan di sini
tempatnya, bahkan bukan penulis yang memiliki otoritas untuk
menjelaskannya.

Memang kita boleh saja bertanya, dan atau mencari jawaban
tentang mengapa Allah Swt. mengharamkan makanan tertentu.
Boleh jadi kita puas atau tidak puas dengan jawaban yang
diberikan, tetapi adalah amat bijaksana jika jawaban yang
ditemukan itu --walau sangat memuaskan-- tidak dijadikan
sebagai satu-satunya jawaban.

Imam Al-Ghazali memberikan ilustrasi menyangkut 'illat
(katakanlah "sebab" atau "hikmah") dari larangan-larangan
Ilahi. "Seorang ayah memiliki anak yang tinggal bersama di
satu rumah. Sebelum kematian menjemputnya, sang ayah
mewasiatkan kepada anaknya: 'Jika engkau ingin memugar rumah
ini silakan, tetapi tumbuhan yang terdapat di serambi rumah
jangan ditebang.' Beberapa tahun kemudian sang ayah meninggal,
dan anak pun memperoleh rezeki yang memadai. Rumah dipugarnya
dan ketika sampai di tumbuhan terlarang, ia berpikir, 'Apakah
gerangan sebabnya ayah melarang menebangnya?' Pikirannya,
kemudian sampai kepada kesimpulan bahwa aroma pohon itu harum.
Dan di sisi lain, ia mengetahui bahwa telah ditemukan tumbuhan
lain yang memiliki aroma lebih harum. Maka ia pun memutuskan
menebang tumbuhan itu dan menggantikannya dengan tumbuhan yang
lebih sedap. Tetapi apa yang terjadi? Tidak lama kemudian
muncul seekor ular, yang hampir saja menerkamnya, dan ketika
itu ia sadar bahwa rupanya aroma tumbuhan itu, merupakan
penangkal kehadiran ular. Ia hanya mengetahui sebagian dari
'illat larangan ayahnya' bukan semuanya, bahkan bukan yang
terpenting darinya." Demikian lebih kurang ilustrasi Imam
Al-Ghazali.

Demikian sedikit dari banyak petunjuk Al-Quran tentang
makanan. Kita dapat menyimpulkan bahwa Al-Quran merintahkan
kepada kita untuk makan yang halal dan thayyib, serta yang
lezat tetapi baik akibatnya.[]
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik