FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by frontline defender on Wed Sep 26, 2012 11:58 am

http://sinarilahdunia.wordpress.com/2011/06/09/benarkah-nabi-muhammad-saw-mati-karena-diracun/



Dalam semua Hadits Shahih yang dikemukakan di bawah, hanya menginformasikan, Nabi Muhammad SAW diupayakan diracuni oeh seorang perempuan Yahudi. Ini intinya semua Hadits itu :
Ketika Rasul Allah beristirahat dari pekerjaannya, Zaynab bt. al-Harith, istri dari Sallam b. Mishkam, menyajikan baginya sebuah daging domba bakar. Dia telah bertanya sebelumnya bagian domba manakah yang paling disukai Rasul Allah dan diberitahu bagian kaki depannya. Lalu dia membubuhi bagian itu dengan racun, dan dia juga meracuni bagian lainnya. Setelah itu dia menghidangkan daging itu.
Ketika daging itu disajikan di hadapan Rasul Allah, dia mengambil bagian kaki depannya dan mengunyah sebagian kecil, tapi tidak ditelannya. Di sebelah dia terdapat Bishr b. al-Bara b. Marur yang seperti Rasul Allah juga mengambil bagian daging itu. Akan tetapi Bishr menelan daging itu ketika sang Rasul Allah memuntahkan daging dan berkata, “Tulang ini memberitahu diriku bahwa ia diracuni.” Dia bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan ini?” Wanita itu menjawab, “Bagaimana kau telah memperlakukan masyarakatku sudah nyata di hadapanmu. Jadi aku berkata, “Jika dia memang benar2 nabi, maka dia akan diberitahu; tapi jika dia seorang raja, maka aku akan dapat menyingkirkannya.”". Sang Nabi mengampuninya. Bishr tidak beranjak dari tempat duduknya tapi warna kulitnya berubah jadi “taylsan” (warna kain hijau). Bishr mati karena daging yang dimakannya.

BAGIAN A – PERISTIWA PERACUNAN NABI MUHAMMAD
A1
Hadis Sahih Bukhari 3.786:
Dikisahkan oleh Anas bin Malik:
Seorang wanita Yahudi membawa daging domba (masak) beracun untuk sang Nabi yang lalu memakannya. Wanita itu lalu dihadapkan kepada Muhammad dan Muhammad ditanyai pengikutnya, “Haruskah kita bunuh dia?” Dia berkata,”Tidak” Aku terus mengamati akibat racun itu di mulut Rasul Allah.
A2
Hadis Sahih Bukhari 4, Buku 53, Nomer 394:
Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Ketika Khaibar dikalahkan, sup domba beracun disuguhkan pada sang Nabi (SAW) sebagai hadiah (dari orang2 Yahudi). Sang Nabi memerintah,”Kumpulkan semua orang Yahudi yang ada di sini, berdiri di hadapanku.” Orang2 Yahudi dikumpulkan dan sang Nabi berkata (pada mereka),”Aku akan bertanya pada kalian. Maukah kalian menjawab dengan jujur?” Mereka berkata,”Ya.” Sang Nabi bertanya,”Siapakah ayah kalian?” Mereka menjawab,”Ini dan itu” Dia berkata,”Kalian bohong, ayah kalian bukan ini dan itu.” Mereka berkata,”Kau benar.” Dia berkata,”Maukah kalian menjawab jujur jika aku tanya sesuatu?” Mereka menjawab,”Ya, wahai Abu Al-Qasim, dan jika kami harus berbohong, kau
dapat menyadari kebohongan kami seperti tadi kau telah ketahui tentang ayah kami.” Lalu dia bertanya,”Siapakah yang akan masuk neraka?” Mereka berkata,”Kami akan berada di neraka untuk jangka waktu sebentar, dan setelah itu kau akan mengganti posisi kami.” Sang Nabi berkata,”Kalian dikutuk dan dihina di neraka! Demi Allah, kami tidak akan pernah mengganti posisi kalian di neraka.” Lalu dia bertanya,” Maukah kalian menjawab jujur jika aku tanya sesuatu?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Abu Al-Qasim.” Dia bertanya,”Apakah kau telah meracuni sup domba ini?” Mereka menjawab,”Ya.” Dia bertanya,”Mengapa kau lakukan itu?” Mereka menjawab, “Kami ingin tahu jika kau ini pembohong dan kalau kau memang pembohong, kami akan menyingkirkanmu, dan jika tau memang adalah seorang nabi, maka racun itu tidak akan mempan pada dirimu.”
A3
Daru Ibn Sa’d halaman 249:
Sebenarnya seorang wanita Yahudi menyajikan (daging) kambing beracun kepada Rasul Allah. Dia mengambil sedikit daging, memasukannya ke dalam mulutnya, mengunyahnya dan lalu memuntahkannya. Lalu dia berkata kepada para pengikutnya: “Berhenti! Sungguh, kaki domba ini berkata padaku bahwa dia telah diracuni.” Lalu dia meminta wanita Yahudi itu dipanggil dan dia bertanya padanya, “Apa yang menyebabkanmu melakukan hal itu?” Dia menjawab,”Aku ingin tahu apakah kau ini benar2 nabi; jika memang benar maka Allah tentunya akan memberitahu dirimu,
dan jika kau ternyata berbohong maka aku akan dapat membebaskan masyarakat dari dirimu.”
A4
Dari Ibn Sa’d halaman 249: [dari penyampai kisah yang berbeda] Rasul Allah dan sahabat2nya makan daging itu. Daging (kambing) itu berkata:
“Aku diracuni.” Dia [Muhammad] berkata kepada para sahabatnya, Tahan tanganmu! Karena daging ini telah mengatakan padaku bahwa dirinya diracuni!” Mereka lalu membuang daging2 itu dari tangannya, tapi Bishr Ibn al-Bara mati. Rasul Allah meminta dia (wanita Yahudi) dihadapkan kepadanya dan dia bertanya padanya,”Apa yang membuatmu melakukan hal itu?” Dia menjawab, “Aku ingin tahu apakah kau benar2 seorang nabi, yang jika memang benar maka racun ini tidak akan mengganggumu, dan jika kau ternyata seorang nabi, maka aku akan dapat membebaskan masyarakat dari dirimu. Muhammad mengeluarkan peritah dan dia pun
dihukum mati [Lihat Catatan 1]
A5
Dari Ibn Sa’d halaman 250: [dari penyampai kisah yang berbeda]
Sesungguhnya seorang wanita Yahudi Khaybar menghidangkan (daging) kambing beracun kepada Rasul Allah. Lalu dia menyadari bahwa dagingnya diracuni, sehingga dia meminta agar wanita itu dipanggil dan menanyainya, “Apa yang membuatmu melakukan hal itu?” Dia menjawab, “Kupikir jika kau benar2 seorang nabi, Allah akan memberitahumu, dan jika kau pembohong, maka aku akan dapat membebaskan masyarakat dari dirimu.” Ketika Rasul Allah merasa sakit, dia mengeluarkan darah dari tubuhnya. [Lihat Catatan 2]
A7
Dari Tabari Volume 8, halaman 123, 124:
Ketika Rasul Allah beristirahat dari pekerjaannya, Zaynab bt. al-Harith, istri dari Sallam b. Mishkam, menyajikan baginya sebuah daging domba bakar. Dia telah bertanya sebelumnya bagian domba manakah yang paling disukai Rasul Allah dan diberitahu bagian kaki depannya. Lalu dia membubuhi bagian itu dengan racun, dan dia juga meracuni bagian lainnya. Setelah itu dia menghidangkan daging itu. Ketika daging itu disajikan di hadapan Rasul Allah, dia mengambil bagian kaki depannya dan mengunyah sebagian kecil, tapi tidak ditelannya. Di sebelah dia terdapat Bishr b. al-Bara b. Marur yang seperti Rasul Allah juga mengambil bagian daging itu. Akan tetapi Bishr menelan daging itu ketika sang Rasul Allah memuntahkan daging dan berkata, “Tulang ini memberitahu diriku bahwa ia diracuni.” Dia bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan ini?” Wanita itu menjawab, “Bagaimana kau telah memperlakukan masyarakatku sudah nyata di hadapanmu. Jadi aku berkata, “Jika dia memang benar2 nabi, maka dia akan diberitahu; tapi jika dia seorang raja, maka aku akan dapat menyingkirkannya.”". Sang Nabi mengampuninya. Bishr mati karena daging yang dimakannya.
A8
Dari Tabari Volume 8, halaman 124: [dari penyampai kisah yang berbeda]
Rasul Allah berkata selama sakitnya yang mengakitkan kematiannya – ibu Bishr datang menjenguknya – “Umm Bishr, pada saat ini aku merasa aorta (urat nadi) ku dirobek akibat makanan yang kumakan bersama putramu di Khaybar. [Lihat Catatan 3]
Catatan 1: Terjadi ketidaksetujuan apakah Muhammad memerintahkan wanita yang meracuninya untuk dibunuh. Singkatnya, Muhammad memerintahkan wanita itu dibunuh atas kematian Muslim lainnya, yakni Bishr, yang tewas seketika akibat racun. Lihat tulisan Ibn Sa’d, halaman 250.
Catatan 2:
Muhammad menganggap mengeluarkan sejumlah kecil darah dari tubuh merupakan “cara pengobatan terbaik”.
Catatan 3: Kutipan pernyataan di bagian A8 yang berbunyi “urat nadi robek” tidak berarti harafiah, tapi istilah untuk menggambarkan rasa sakit yang hebat.

1. Mengenai perang di Khaibar :

Dari Anas bin Malik ra., katanya : Rasulullah s.a.w. memasuki Khaibar pagi hari. Waktu itu mereka keluar kelapangan. Setelah mereka melihat beliau mereka berkata :”Muhammad dan tentara”. Lalu mereka segera menempati benteng mereka. Nabi s.a.w mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa :
“Allahu Akbar”! Hancurlah Khaibar! Bila kami duduki lapangan suatu kaum, maka amat buruk pagi hari orang yang diberi peringatan (tetapi) tidak menurut.
(HR. Bukhari 1550)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya : Setelah Khaibar diduduki, ada orang yang menghadiahkan daging kambing yang beracun kepada Nabi saw. Lalu beliau bersabda : “ Saya hendak bertanya kepadamu tentang satu hal ! Adakah kamu mau memberikan keterangan yang sebenarnya kepada saya!”. Mereka menjawab : “Ya” Nabi SAW bertanya kepada mereka :”Siapa ayahmu?” mereka itu menjawab :”Si Anu !” Lalu beliau bersabda :” kamu dusta, akan tetapi ayah kamu si “Anu”. Mereka itu berkata :” Benar Tuan!” Beliau bertanya :” Adakah kamu mau menjawab dengan benar kepada saya tentang sesuatu yang saya tanyakan ?” Ya, hai Abu Qasim! Sekiranya kami berdusta, tuan ketahui dusta kami sebagaimana tuan ketahui tentang ayah kami”. Beliau menanyakan kepada mereka : “Siapa ahli neraka”?” Mereka itu menjawab : “Kami berada didalamnya dalam masa yang singkat, kemudian kamu gantikan kami didalamnya”. Nabi saw lalu bersabda :”Kamu akan tetap disika dalam neraka itu, demi Allah! Kami tidak akan pernah menggantikan kamu didalam neraka itu”.
Kemudian beliau bersabda lagi : “ Adakah kamu mau menjawab dengan benar kepada saya tentang sesuatu yang saya tanyakan?” Jawab mereka : “Ya, hai Abu Qasim!” Beliau bertanya : “Adakah kamu isikan racun dalam daging kambing ini?” Jawab mereka :”Ya”. Tanya beliau : “ Apakah yang mendorong kamu berbuat demikian?” Jawab mereka :” Maksud kami ialah, kalau sekiranya tuan seorang pendusta, kami akan senang. Dan kalau sekiranya tuan seorang Nabi, racun itu tidak akan membahayakan tuan.” (HR. Bukhari 1412)

2. Pembuktian bahwa nabi Muhammad selamat dari racun yang diberikan oleh wanita Yahudi adl :

1. Perang Khaibar terjadi pada tahun 628 M (tahun ke 7 H) dan pada bulan February 629 M - Zul Qa’dah 7 H) Nabi dan kaum Muslimin melaksanakan Umratul Qadha’.
2. Setelah perang Khaibar dapat ditaklukkan, Rasulullah menikah dengan Shafiyah binti Huyaiybin Akhtab. Pada tahun yang sama.
3. Bulan January 630 M (Ramadhan 8 H) Nabi Muhammad pun masih SEHAT WAL ‘AFIAT. Beliau membuka kota Makkah dan menghancurkan semua berhala-behrhala yang ada disekitar Ka’bah. Peristiwa ini dikenal dengan “FATHUL MAKKAH”.
4. 4 (Empat tahun) dari peristiwa Khaibar Rasulullah masih HIDUP!! Dan pada bulan maret 632
M, atau tepatnya Dzulhijjah 10 H) Rasulullah melaksanakan Haji Wada’ bersama-sama dengan kira-kira 114.000,- orang kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji.
5. Pada bulan Mei 632M, atau bulan safar 11 H, Rasulullah menyiapakan Tentara Usamah untuk pergi ke Negri Syam.
6. Pada tgl 7 Juni 632 M atau pada hari senin12 Rabi’ul awal (bertepatan dengan hari kelahiran beliau) Nabi Muhammad wafat.

3. nabi Muhammad wafat karena sakit biasa dan bukan karena racun: :

Sebelum beliau wafat, Rasulullah tetap melaksanakan Dak’wah :
Dari Aisyah ra., katanya :” Ketika sakit Nabi bertambah berat, beliau meminta kepada semua istri beliau, supaya ia diizinkan selama sakit ia dirawat dirumahku, dan mereka semua mengizinkannya. Lalu Nabi pergi ke rumah Aisyah dipapah oleh dua orang laki-laki, sedangkan kedua belah kaki beliau tercecah menggaris tanah dinatara kedua orang laki-laki itu, yaitu Abbas dan seorang lagi.”
Kata Ubaidillah, “Cerita Aisyah itu kuceritakan kepada Abbas, lalu dia menanyakan kepadaku, tahukah engkau siapa laki-laki yang seorang lagi itu?”
Jawabku, “Tidak!”
Katanya, “Dia adalah Ali”.
Selanjutnya Aisyah menceritakan juga, bahwa setelah nabi saw. berada dirumahnya, sedangkan sakit nabi bertambah keras juga, maka beliau bersabda, “Siramkanlah kepadaku tujuh girbag air yang masih utuh, mudah-mudahan aku segera dapat melaksanakan da’wah kembali kepada orang banyak.”
Lalu Nabi didudukkan kedalam sebuah bak mandi terbuat dari kuningan, kepunyaan hafshah, istri nabi saw, kemudian beliau kami sirami dengan air yang disuruhkan Nabi, sampai beliau memberi isyarat kepada kami, ‘Sudah cukup.”
Sesudah itu beliau pergi ke Mesjid menemui jamaah”
(HR Bukhari 135)
avatar
frontline defender
MAYOR
MAYOR

Posts : 6448
Kepercayaan : Islam
Join date : 17.11.11
Reputation : 137

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by Kecoa Ngepot on Wed Sep 26, 2012 12:01 pm

nice info
avatar
Kecoa Ngepot
KOPRAL
KOPRAL

Male
Posts : 44
Location : Planet Bumi
Join date : 19.09.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by keroncong on Fri Oct 26, 2012 12:32 am

Pada malam pertama Muhammad merasa sakit ia tak dapat tidur,
lama sekali tak dapat tidur. Dalam hatinya ia berkata, bahwa
ia akan keluar pada malam musim itu, musim panas yang
disertai hembusan angin di sekitar kota Medinah. Ketika
itulah ia keluar, hanya ditemani oleh pembantunya, Abu
Muwayhiba. Tahukah ke mana ia pergi? Ia pergi ke
Baqi'l-Gharqad, pekuburan Muslim di dekat Medinah.
Sesampainya di pekuburan itu ia berbicara kepada penghuni
kubur, katanya, "Salam sejahtera bagimu, wahai penghuni
kubur! Semoga kamu selamat akan apa yang terjadi atas
dirimu, seperti atas diri orang lain. Fitnah telah datang
seperti malam gelap-gulita, yang kemudian menyusul yang
pertama, dan yang kemudian lebih jahat dari yang pertama."

Abu Muwayhiba ini juga bercerita, bahwa ketika pertama kali
sampai di Baqi'l-Gharqad Nabi berkata kepadanya:

"Aku mendapat perintah memintakan ampun untuk penghuni Baqi,
ini. Baiklah engkau berangkat bersama aku!"

Setelah memintakan ampun dan tiba saatnya akan kembali, ia
menghampiri Abu Muwayhiba seraya katanya:

"Abu Muwayhiba, aku telah diberi anak kunci isi dunia ini
serta kekekalan hidup di dalamnya, sesudah itu surga. Aku
disuruh memilih ini atau bertemu dengan Tuhan dan surga."

Kata Abu Muwayhiba:

"Demi ayah bundaku! Ambil sajalah kunci isi dunia ini dan
hidup kekal di dalamnya, kemudian surga."

"Tidak, Abu Muwayhiba," kata Muhammad. "Aku memilih kembali
menghadap Tuhan dan surga."

Abu Muwayhiba bercerita apa yang telah dilihat dan apa yang
telah didengarnya; sebab Nabi mulai menderita sakit ialah
keesokan harinya setelah malam itu ia pergi ke Baqi'. Orang
jadi makin cemas, dan pasukan tidak jadi bergerak. Memang
benar, bahwa Hadis yang dibawa melalui Abu Muwayhiba ini
oleh beberapa ahli sejarah diterima dengan agak sangsi.
Disebutkan bahwa bukan karena sakit Muhammad itu saja yang
membuat pasukan tidak jadi bergerak ke Palestina, tetapi
karena banyaknya orang yang menggerutu, yang disebabkan oleh
penunjukan Usama dalam usia semuda itu sebagai pemimpin
pasukan yang terdiri dari orang-orang penting dalam kalangan
Anshar dan Muhajirin yang mula-mula. Itulah yang lebih
banyak mempengaruhi tidak berangkatnya pasukan itu daripada
sakitnya Muhammad. Dalam memberikan pendapatnya ahli-ahli
sejarah itu berpegang pada peristiwa-peristiwa yang sudah
pembaca ikuti dalam bagian (bab) ini. Kalau kita tidak akan
mendebat mereka yang berpendapat seperti apa yang
diceritakan oleh Abu Muwayhiba secara terperinci itu, kita
pun mendapat alasan akan menolak dasar kejadian-kejadian
itu, dan menolak kepergian Nabi ke Baqi'l-Gharqad serta
memintakan ampunan buat penghuni kubur, juga adanya perasaan
yang kuat akan dekatnya waktu, yaitu waktu menghadap Tuhan.
Ilmu pengetahuan masa kita sekarang ini pun tidak menolak
adanya spiritisma sebagai salah satu gejala psychis.
Perasaan yang kuat akan dekatnya ajal itu sudah banyak
dialami orang, sehingga siapa saja tidak sedikit orang yang
dapat menceritakan apa yang diketahuinya tentang
peristiwa-peristiwa itu. Juga adanya hubungan antara yang
hidup dengan yang mati, antara kesatuan masa lampau dengan
masa datang, kesatuan yang tidak terbatas oleh ruang dan
waktu, dewasa ini sudah pula dapat ditentukan, meskipun -
menurut kodrat bentuk kita -masih terbatas sekali kita akan
dapat mengungkapkan keadaan sebenarnya.

Kalau sudah itu yang dapat kita lihat sekarang dan sudah
diakui oleh ilmu pengetahuan, tidak ada alasan kita akan
menolak dasar peristiwa seperti apa yang diceritakan oleh
Abu Muwayhiba itu, juga tak ada alasan kita dapat menolak
adanya apa yang sudah dapat dipastikan mengenai komunikasi
Muhammad dalam arti rohani dan spiritual dengan alam semesta
ini demikian rupa, sehingga ia dapat menangkap persoalan itu
sekian kali lipat daripada yang biasa ditangkap oleh para
ahli dalam bidang ini.

Keesokan harinya bila tiba waktunya ia ke tempat Aisyah,
dilihatnya Aisyah sedang mengeluh karena sakit kepala: "Aduh
kepalaku!" Tetapi ia berkata - sedang dia sudah mulai merasa
sakit: "Tetapi akulah, Aisyah, yang merasa sakit kepala."

Tetapi sakitnya belum begitu keras dalam arti ia harus
berbaring di tempat tidur atau akan merintanginya pergi
kepada keluarga dan isteri-isterinya untuk sekedar mencumbu
dan bergurau. Setiap didengarnya ia mengeluh Aisyah juga
mengulangi lagi mengeluh sakit kepala.

Lalu kata Nabi, "Apa salahnya kalau engkau yang mati lebih
dulu sebelum aku. Aku yang akan mengurusmu, mengafanimu,
menyembahyangkan kau dan menguburkan kau!"

Karena senda-gurau itu cemburu kewanitaannya timbul dalam
hati Aisyah yang masih muda itu, sekaligus cintanya akan
gairah hidup ini, lalu katanya:

"Dengan begitu yang lain mendapat nasib baik. Demi Allah,
dengan apa yang sudah kaulakukan itu seolah engkau menyuruh
aku pulang ke rumah dan dalam pada itu kau akan berpengantin
baru dengan isteri-isterimu."

Nabi tersenyum, meskipun rasa sakitnya tidak mengijinkan ia
terus bergurau.

Setelah rasa sakitnya terasa agak berkurang, ia mengunjungi
isteri-isterinya seperti biasa. Tetapi kemudian sakitnya
terasa kambuh lagi, dan terasa lebih keras lagi. Ketika ia
sedang berada di rumah Maimunah ia sudah tidak dapat lagi
mengatasinya. Ia merasa perlu mendapat perawatan. Ketika itu
dipanggilnya isteri-isterinya ke rumah Maimunah. Dimintanya
ijin kepada mereka, setelah melihat keadaannya begitu, bahwa
ia akan dirawat di rumah Aisyah. Isteri-isterinya
mengijinkan ia pindah.

Dengan berikat kepala, ia keluar sambil bertopang dalam
jalannya itu kepada Ali b. Abi Talib dan kepada 'Abbas
pamannya. Ia sampai di rumah Aisyah dengan kaki yang sudah
terasa lemah sekali.

Pada hari-hari pertama ia jatuh sakit, demamnya sudah terasa
makin keras, sehingga ia merasa seolah seperti dibakar.
Sungguh pun begitu, ketika demamnya menurun ia pergi
berjalan ke mesjid untuk memimpin sembahyang. Hal ini
dilakukannya selama berhari-hari. Tapi tidak lebih dari
sembahyang saja. Ia sudah tidak kuat duduk bercakap-cakap
dengan sahabat-sahabatnya. Namun begitu apa yang dibisikkan
orang bahwa dia menunjuk anak yang masih muda belia di atas
kaum Muhajirin dan Anshar yang terkemuka untuk menyerang
Rumawi, terdengar juga oleh Nabi. Meskipun dari hari ke hari
sakitnya bertambah juga, tapi dengan adanya bisik-bisik
demikian itu rasanya perlu ia bicara dan berpesan kepada
mereka. Dalam hal ini ia berkata kepada isteri-isteri dan
keluarganya:

"Tuangkan kepadaku tujuh kirbat air dari pelbagai sumur,
supaya aku dapat menemui mereka dan berpesan4 kepada
mereka."

Lalu dibawakan air dari beberapa sumur, dan setelah oleh
isteri-isterinya ia didudukkan di dalam pasu kepunyaan
Hafsha, ketujuh kirbat air itu disiramkan kepadanya.
Kemudian katanya: Cukup. Cukup.

Lalu ia mengenakan pakaian kembali, dan dengan berikat
kepala ia pergi ke mesjid. Setelah duduk di atas mimbar, ia
mengucapkan puji dan syukur kepada Allah, kemudian mendoakan
dan memintakan ampunan buat sahabat-sahabatnya yang telah
gugur di Uhud. Banyak sekali ia mendoakan mereka itu.
Kemudian katanya :

"Saudara-saudara. Laksanakanlah keberangkatan Usama itu.
Demi hidupku. Kalau kamu telah banyak bicara tentang
kepemirnpinnya, tentang kepemimpinan ayahnya dulu pun juga
kamu banyak bicara. Dia sudah pantas memegang pimpinan,
seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan."

Muhammad diam sebentar. Sementara itu orang-orang juga diam,
tiada yang bicara. Kemudian ia meneruskan berkata lagi:

"Seorang hamba Allah oleh Tuhan telah disuruh memilih antara
dunia dan akhirat dengan apa yang ada padaNya, maka ia
memilih yang ada pada Tuhan."

Muhammad diam lagi, dan orang-orang juga diam tidak
bergerak. Tetapi Abu Bakr segera mengerti, bahwa yang
dimaksud oleh Nabi dengan kata-kata terakhir itu adalah
dirinya. Dengan perasaannya yang sangat lembut dan besarnya
persahabatannya dengan Nabi, ia tak dapat menahan air mata
dan menangis sambil berkata:

"Tidak. Bahkan tuan akan kami tebus dengan jiwa kami dan
anak-anak kami."

Kuatir rasa terharu Abu Bakr ini akan menular kepada yang
lain, Muhammad memberi isyarat kepadanya:

"Sabarlah, Abu Bakr."

Kemudian dimintanya supaya semua pintu yang menuju ke mesjid
ditutup, kecuali pintu yang ke tempat Abu Bakr. Setelah
semua pintu ditutup, katanya lagi:

"Aku belum tahu ada orang yang lebih bermurah hati dalam
bersahabat dengan aku seperti dia. Kalau ada dari hamba
Allah yang akan kuambil sebagai khalil (teman kesayangan)
maka Abu Bakrlah khalilku. Tetapi persahabatan dan
persaudaraan ialah dalam iman, sampai tiba saatnya Tuhan
mempertemukan kita."

Bilamana Muhammad turun dari mimbar, sedianya akan kembali
pulang ke rumah Aisyah, tapi ia lalu menoleh kepada orang
banyak itu dan kemudian katanya:

"Saudara-saudara Muhajirin, jagalah kaum Anshar itu
baik-baik; sebab selama orang bertambah banyak, orang-orang
Anshar akan seperti itu juga keadaannya, tidak bertambah.
Mereka itu orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan
yang telah memberi perlindungan kepadaku. Hendaklah kamu
berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan maafkanlah5
kesalahan mereka."

Ia kembali ke rumah Aisyah. Tetapi energi yang digunakannya
selama ia dalam keadaan sakit itu, telah membuat sakitnya
terasa lebih berat lagi. Sungguh suatu pekerjaan berat,
terutama buat orang yang sedang menderita demam, ia keluar
juga setelah disirami tujuh kirbat air; ia keluar dengan
membawa beban pikiran yang sangat berat: Pasukan Usama,
nasib Anshar kemudian hari, nasib orang-orang Arab yang kini
telah dipersatukan oleh agama baru itu dengan persatuan yang
sangat kuat. Itu pula sebabnya, tatkala keesokan harinya ia
berusaha hendak bangun memimpin sembahyang seperti biasanya,
ternyata ia sudah tidak kuat lagi. Ketika itulah ia berkata:

"Suruh Abu Bakr memimpin orang-orang sembahyang."

Aisyah ingin sekali Nabi sendiri yang melaksanakan salat
mengingat bahwa tampaknya sudah berangsur sembuh.

"Tapi Abu Bakr orang yang lembut hati, suaranya lemah dan
suka menangis kalau sedang membaca Qur'an," kata Aisyah.

Aisyah pun mengulangi kata-katanya itu. Tetapi dengan suara
lebih keras Muhammad berkata lagi, dengan sakit yang masih
dirasakannya:

"Sebenarnya kamu ini seperti perempuan-perempuan Yusuf.
Suruhlah dia memimpin orang-orang bersembahyang!"

Kemudian Abu Bakr datang memimpin sembahyang seperti
diperintahkan oleh Nabi.

Pada suatu hari karena Abu Bakr tidak ada di tempat ketika
oleh Bilal dipanggil hendak bersembahyang, maka Umarlah yang
dipanggil untuk memimpin orang-orang bersembahyang sebagai
pengganti Abu Bakr. Oleh karena Umar orang yang punya suara
lantang, maka ketika mengucapkan takbir di mesjid, suaranya
terdengar oleh Muhammad dari rumah Aisyah.

"Mana Abu Bakr?" tanyanya. "Allah dan kaum Muslimin tidak
menghendaki yang demikian."

Dengan demikian orang dapat menduga, bahwa Nabi menghendaki
Abu Bakr sebagai penggantinya kemudian, karena memimpin
orang-orang bersembahyang sudah merupakan tanda pertama
untuk menggantikan kedudukan Rasulullah.

Tatkala sakitnya sudah makin keras, panas demamnya makin
memuncak, isteri-isteri dan tamu-tamu yang datang
menjenguknya, bila meletakkan tangan di atas selimut yang
dipakainya, terasa sekali panas demam yang sangat meletihkan
itu. Dan Fatimah puterinya, setiap hari datang menengok. Ia
sangat mencintai puterinya itu, cinta seorang ayah kepada
anak yang hanya tinggal satu-satunya sebagai keturunan.
Apabila ia datang menemui Nabi, ia menyambutnya dan
menciumnya, lalu didudukkannya di tempat ia duduk. Tetapi
setelah sakitnya demikian payah, puterinya itu datang
menemuinya dan mencium ayahnya.

"Selamat datang, puteriku," katanya. Lalu didudukkannya ia
disampingnya. Ada kata-kata yang dibisikkannya ketika itu,
Fatimah lalu menangis. Kemudian dibisikkannya kata-kata lain
Fatimah pun jadi tertawa. Bila hal itu oleh Aisyah
ditanyakan, ia menjawab:

"Sebenarnya saya tidak akan membuka rahasia Rasulullah
s.a.w."
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by keroncong on Fri Oct 26, 2012 12:34 am

Tetapi setelah Rasul wafat, ia mengatakan, bahwa ayahnya
membisikkan kepadanya, bahwa ia akan meninggal oleh sakitnya
sekali ini. Itu sebabnya Fatimah menangis. Kemudian
dibisikkannya lagi, bahwa puterinya itulah dari keluarganya
yang pertama kali akan menyusul. Itu sebabnya ia tertawa.

Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air
dingin diletakkan disampingnya. Sekali-sekali ia meletakkan
tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka. Begitu
tingginya suhu panas demam itu, kadang ia sampai tak
sadarkan diri. Kemudian ia sadar kembali dengan keadaan yang
sudah sangat payah sekali. Karena perasaan sedih yang
menyayat hati, pada suatu hari Fatimah berkata mengenai
penderitaan ayahnya itu:

"Alangkah beratnya penderitaan ayah!"

"Tidak. Takkan ada lagi penderitaan ayahmu sesudah hari
ini," jawabnya.

Maksudnya ia akan meninggalkan dunia ini, dunia duka dan
penderitaan.

Suatu hari sahabat-sahabatnya berusaha hendak meringankan
penderitaannya itu dengan mengingatkan kepada
nasehat-nasehatnya, bahwa orang yang menderita sakit jangan
mengeluh. Ia menjawab, bahwa apa yang dialaminya dalam hal
ini lebih dari yang harus dipikul oleh dua orang. Dalam
keadaan sakit keras serupa itu dan di dalam rumah banyak
orang, ia berkata:

"Bawakan dawat dan lembaran, akan ku (minta) tuliskan surat
buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak lagi akan pernah
sesat."

Dari orang-orang yang hadir ada yang berkata, bahwa sakit
Rasulullah s.a.w. sudah sangat gawat; pada kita sudah ada
Qur'an, maka sudah cukuplah dengan Kitabullah itu. Ada yang
menyebutkan, bahwa Umarlah yang mengatakan itu. Di kalangan
yang hadir itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan:
Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita tidak sesat. Ada
pula yang keberatan karena sudah cukup dengan Kitabullah.

Setelah melihat pertengkaran itu, Muhammad berkata:

"Pergilah kamu sekalian! Tidak patut kamu berselisih di
hadapan Nabi."

Tetapi Ibn 'Abbas masih berpendapat, bahwa mereka membuang
waktu karena tidak segera menuliskan apa yang hendak
dikatakan oleh Nabi. Sebaliknya Umar masih tetap dengan
pendapatnya, bahwa dalam Kitab Suci Tuhan berfirman:

"Tiada sesuatu yang Kami abaikan dalam Kitab itu." (Qur'an,
6:38)

Berita sakitnya Nabi yang bertambah keras itu telah tersiar
dari mulut ke mulut, sehingga akhirnya Usama dan anak
buahnya yang ada di Jurf itu turun pulang ke Medinah. Bila
Usama kemudian masuk menemui Nabi di rumah Aisyah, Nabi
sudah tidak dapat berbicara. Tetapi setelah dilihatnya
Usama, ia mengangkat tangan ke atas kemudian meletakkannya
kepada Usama sebagai tanda mendoakan.

Melihat keadaannya yang demikian keluarganya berpendapat
hendak membantunya dengan pengobatan. Asma' - salah seorang
kerabat Maimunah - telah menyediakan semacam minuman, yang
pernah dipelajari cara pembuatannya selama ia tinggal di
Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan pingsan karena
demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman
itu ke mulutnya. Bila ia sadar kembali ia bertanya:

"Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?"

"Kami kuatir Rasulullah menderita sakit radang selaput
dada," kata 'Abbas pamannya.

"Allah tidak akan menimpakan penyakit yang demikian itu
kepadaku."

Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam rumah - supaya
meminum obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang
berpuasa.

Muhammad memiliki harta tujuh dinar ketika penyakitnya mulai
terasa berat. Kuatir bila ia meninggal harta masih di
tangan, maka dimintanya supaya uangnya itu disedekahkan.
Tetapi karena kesibukan mereka merawat dan mengurus selama
sakitnya dan penyakit yang masih terus memberat, mereka lupa
melaksanakan perintahnya itu. Setelah hari Minggunya sebelum
hari wafatnya ia sadar kembali dari pingsannya, ia bertanya
kepada mereka: Apa yang kamu lakukan dengan (dinar) itu?
Aisyah menjawab, bahwa itu masih ada di tangannya. Kemudian
dimintanya supaya dibawakan. Bilamana uang itu sudah
diletakkan di tangan Nabi, ia berkata:

"Bagaimanakah jawab Muhammad kepada Tuhan, sekiranya ia
menghadap Allah, sedang ini masih di tangannya."

Kemudian semua uang dinar itu disedekahkan kepada
fakir-miskin di kalangan Muslimin.

Malam itu Muhammad dalam keadaan tenang. Panas demamnya
sudah mulai turun, sehingga seolah karena obat yang
diberikan keluarganya itulah yang sudah mulai bekerja dan
dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu ia dapat
pula di waktu subuh keluar rumah pergi ke mesjid dengan
berikat kepala dan bertopang kepada Ali b. Abi Talib dan
Fadzl bin'l-'Abbas. Abu Bakr waktu itu sedang mengimami
orang-orang bersembahyang. Setelah kaum Muslimin yang sedang
melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa gembira
yang luarbiasa, hampir-hampir mereka terpengaruh dalam
sembahyang itu. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka
meneruskan salatnya. Bukan main Muhammad merasa gembira
melihat semua itu.

Abu Bakr merasa apa yang telah dilakukan mereka itu, dan
yakinlah dia bahwa mereka tidak akan berlaku demikian kalau
tidak karena Rasulullah. Ia surut dari tempat sembahyangnya
untuk memberikan tempat kepada Muhammad. Tetapi Muhammad
mendorongnya dari belakang seraya katanya Pimpin terus orang
bersembahyang. Dia sendiri kemudian duduk di samping Abu
Bakr dan sembahyang sambil duduk di sebelah kanannya

Selesai sembahyang ia menghadap kepada orang banyak, dan
kemudian berkata dengan suara agak keras sehingga terdengar
sampai ke luar mesjid:

"Saudara-saudara. Api (neraka) sudah bertiup. Fitnah pun
datang seperti malam gelap gulita. Demi Allah, janganlah
kiranya kamu berlindung kepadaku tentang apa pun. Demi
Allah, aku tidak akan menghalalkan sesuatu, kecuali yang
dihalalkan oleh Qur'an, juga aku tidak akan mengharamkan
sesuatu, kecuali yang diharamkan oleh Qur'an. Laknat Tuhan
kepada golongan yang mempergunakan pekuburan mereka sebagai
mesjid."

Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi yang bertambah maju,
bukan main gembiranya kaum Muslimin, sampai-sampai Usama b.
Zaid datang menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa
pasukan ke Syam, dan Abu Bakrpun datang pula menghadap
dengan mengatakan:

"Rasulullah!6 Saya lihat tuan sekarang dengan karunia dan
nikmat Tuhan sudah sehat kembali. Hari ini adalah bagian
Bint Kharija. Bolehkah saya mengunjunginya?"

Nabi pun mengijinkan. Abu Bakr segera berangkat pergi ke
Sunh di luar kota Medinah - tempat tinggal isterinya. Umar
dan Ali juga lalu pergi dengan urusannya masing-masing. Kaum
Muslimin sudah mulai terpencar-pencar lagi. Mereka semua
dalam suasana suka-cita dan gembira sekali, - sebab sebelum
itu mereka semua dalam kesedihan, berwajah suram setelah
mendapat berita bahwa Nabi dalam keadaan sakit, demamnya
semakin keras sampai ia pingsan.

Sekarang ia kembali pulang ke rumah Aisyah. Senang sekali
hatinya melihat kaum Muslimin sudah memenuhi mesjid dengan
hati bersemarak, meskipun ia masih merasakan badannya sangat
lemah sekali.

Dipandangnya laki-laki itu oleh Aisyah, dengan kalbu yang
penuh pemujaan akan kebesaran orang itu, dan sekarang penuh
rasa iba hati karena ia lemah, ia sakit. Ia ingin sekiranya
ia dapat mencurahkan segala yang ada dalam dirinya untuk
mengembalikan tenaga orang itu, mengembalikan hidupnya.

Akan tetapi, kiranya perginya Nabi ke mesjid itu adalah
suatu kesadaran batin, yang akan disusul oleh kematian.
Setelah memasuki rumah, tiap sebentar tenaganya bertambah
lemah juga. Ia melihat maut sudah makin mendekat. Tidak
sangsi ia bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa saat saja
lagi. Ya, kiranya apakah yang diperhatikannya pada
detik-detik yang masih ada sebelum ia berpisah dengan dunia
ini? Adakah ia mengenangkan hidupnya sejak diutus Tuhan
sebagai pembimbing dan sebagai nabi, mengenangkan segala
yang pernah dialaminya selama itu, kenikmatan yang diberikan
Tuhan kepadanya sampai selesai, kemudian hati merasa lega
karena kalbu orang-orang Arab itu sudah terbuka menerima
agama yang hak? Ataukah selama itu ia tinggal hanya membaca
istighfar - meminta pengampunan Tuhan dan dengan seluruh
jiwa ia menghadapkan diri seperti yang biasanya dilakukan
selama dalam hidupnya? Ataukah juga dalam saat-saat terakhir
itu ia harus menahan penderitaan sakratulmaut sehingga tidak
lagi punya tenaga akan mengingat?

Dalam hal ini beberapa sumber masih sangat berlain-lainan
sekali keterangannya. Sebagian besar menyebutkan bahwa pada
hari musim panas yang terjadi di seluruh semenanjung itu - 8
Juni 632 - ia minta disediakan sebuah bejana berisi air
dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana itu ia
mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki
dari keluarga Abu Bakr datang ke tempat Aisyah dengan
sebatang siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian
rupa, yang menunjukkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah
benda yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah
dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya kepada Nabi.
Kemudian dengan itu ia menggosok dan membersihkan giginya.
Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri
kepada Allah sambil berdoa, "Allahumma ya Allah! Tolonglah
aku dalam sakratulmaut ini."

Aisyah berkata - yang pada waktu itu kepala Nabi berada di
pangkuannya, "Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat
di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata
pandangannya menatap ke atas seraya berkata, "Ya Handai
Tertinggi7 dari surga."

"Kataku, 'Engkau telah dipilih maka engkau pun telah
memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.' Maka
Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada8 dan
leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang
lain. Dalam kurangnya pengalamanku9 dan usiaku yang masih
muda, Rasulullah s.a.w. berpulang ketika ia di pangkuanku.
Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, aku berdiri
dan bersama-sama wanita-wanita lain aku memukul-mukul
mukaku."

Benarkah Muhammad sudah meninggal? Itulah yang masih menjadi
perselisihan orang ketika itu, sehingga hampir-hampir timbul
fitnah di kalangan mereka dengan segala akibat yang akan
menjurus kepada perang saudara, kalau tidak karena Tuhan
Yang menghendaki kebaikan juga untuk mereka dan agama yang
sebenarnya ini.

Catatan kaki:

1 yaitu Mu'adh b. Jabal (A)
2 Siwak, batang kayu kecil dengan dilunakkan ujungnya
dipakai menggosok dan membersihkan gigi (A)
3 Bandingkan: Al-Kasysyaf oleh Zamakhsyari (jilid 2 p. 117)
dalam menafsirkan Surah Hud ayat 112 (11 : 112) dan Mufradat
Raghib, sub verbo "dzall" (A).
4 Ahida ila, berarti 'berwasiat' (N), atau 'berpesan' (A).
5 Tayawaza 'an yakni 'afa 'an (N), 'memaafkan' (A).
6 Aslinya "Ya Nabiullah' (A)
7 Ar-Rafiq'-A'la pada umumnya ahli-ahli filologi mengartikan
kata rafiq ini, dengan 'handai taulan;' 'yang lemah-lembut;'
'teman seperjalanan;' 'kawan hidup, suami atau isteri' (LA).
Dalam istilah Hadis: rafiq berarti 'para nabi yang menempati
tempat tertinggi,' untuk jamak dan tunggal (N); kata rafiq
dalam Qur'an (4: 691 berarti 'teman seperjalanan' (N) dan
rafiq dalam doa di atas ada yang mengartikan 'Tuhan' yakni
'Yang lemah-lembut kepada hambaNya' (N). Berarti 'teman'
dalam surga, (Qur'an, 4:69) demõkian sebagian besar
ahli-ahli tafsir Qur'an. Dalam terjemahan ini dengan
kira-kira dipergunakan kata 'Handai Tertinggi' (A).
8 Sahr 'berarti paru-paru, yakni ia meninggal sedang
bersandar di dadanya yang menjurus ke paru-paru' {N) (A).
9 Safah, harfiah: kebodohan (A).
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by SEGOROWEDI on Fri Oct 26, 2012 12:49 am



yang bilang aortanya serasa putus akibat racun di khaybar
keknya muhammad sendiri
ehmm

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by aliumar on Fri Oct 26, 2012 11:59 am

yang bilang aortanya serasa putus akibat racun di khaybar
keknya muhammad sendiri
ya betul...
dan muslim pasti akan berlagak pilon terhadap hadist ini:

Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 713:
Dikisahkan oleh Aisha: Pada waktu sakitnya sebelum dia mati, sang Nabi sering mengatakan, “Wahai Aisha! Aku masih merasa kesakitan karena daging yang kumakan di Khaybar, dan sekarang aku merasa urat nadiku dipotong oleh racun itu.”

aliumar
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2663
Kepercayaan : Katolik
Location : Padang
Join date : 20.06.12
Reputation : 29

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by frontline defender on Fri Oct 26, 2012 2:07 pm

bukannya dah dimuat? ada tu di artikel!
Dari Tabari Volume 8, halaman 124: [dari penyampai kisah yang berbeda]
Rasul Allah berkata selama sakitnya yang mengakitkan kematiannya – ibu Bishr datang menjenguknya – “Umm Bishr, pada saat ini aku merasa aorta (urat nadi) ku dirobek akibat makanan yang kumakan bersama putramu di Khaybar.

ngece
avatar
frontline defender
MAYOR
MAYOR

Posts : 6448
Kepercayaan : Islam
Join date : 17.11.11
Reputation : 137

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by SEGOROWEDI on Fri Oct 26, 2012 3:09 pm



dua sumber menguatkan
bahwa muhammad mati akibat makanan bercampur racun ketika di khaybar

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by putramentari on Sat Nov 03, 2012 7:18 pm

@SEGOROWEDI wrote:

dua sumber menguatkan
bahwa muhammad mati akibat makanan bercampur racun ketika di khaybar

emang elu tau kapan terjadinya perang di kaybar, sehingga berani bilang Nabi Muhammad meninggal diracun pada saat perang tersebut
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 36
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by SEGOROWEDI on Sun Nov 04, 2012 1:28 pm

@putramentari wrote:
emang elu tau kapan terjadinya perang di kaybar, sehingga berani bilang Nabi Muhammad meninggal diracun pada saat perang tersebut

yang tahu dan yang bilang muhammad sendiri..
Dari Tabari Volume 8, halaman 124: [dari penyampai kisah yang berbeda]
Rasul Allah berkata selama sakitnya yang mengakitkan kematiannya – ibu Bishr datang menjenguknya – “Umm Bishr, pada saat ini aku merasa aorta (urat nadi) ku dirobek akibat makanan yang kumakan bersama putramu di Khaybar.


berani sekali kamu meragukannya..
ehmm

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by putramentari on Tue Nov 06, 2012 9:55 pm

@SEGOROWEDI wrote:
@putramentari wrote:
emang elu tau kapan terjadinya perang di kaybar, sehingga berani bilang Nabi Muhammad meninggal diracun pada saat perang tersebut

yang tahu dan yang bilang muhammad sendiri..
Dari Tabari Volume 8, halaman 124: [dari penyampai kisah yang berbeda]
Rasul Allah berkata selama sakitnya yang mengakitkan kematiannya – ibu Bishr datang menjenguknya – “Umm Bishr, pada saat ini aku merasa aorta (urat nadi) ku dirobek akibat makanan yang kumakan bersama putramu di Khaybar.


berani sekali kamu meragukannya..

yang saya tanya, kapan perang khaybar terjadi, ditanya apa dijawab apa
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 36
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by Guest on Tue Nov 06, 2012 10:11 pm

Perang Khaibar terjadi pas Muhammad makan kambing beracun lah

usil

Guest
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by putramentari on Wed Nov 07, 2012 11:34 pm

duren swt wrote:Perang Khaibar terjadi pas Muhammad makan kambing beracun lah


bantar gebang banged, silahkan netter lain yang agak bermutu tuk jawab
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 36
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by SEGOROWEDI on Sat Nov 17, 2012 2:36 pm

SENSORED BY 13,



Mohon tidak mengulangi argumen yang sama biar diskusi ini berjalan dengan Lancar

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by putramentari on Tue Dec 04, 2012 12:08 am

@putramentari wrote:
@SEGOROWEDI wrote:
@putramentari wrote:
emang elu tau kapan terjadinya perang di kaybar, sehingga berani bilang Nabi Muhammad meninggal diracun pada saat perang tersebut

yang tahu dan yang bilang muhammad sendiri..
Dari Tabari Volume 8, halaman 124: [dari penyampai kisah yang berbeda]
Rasul Allah berkata selama sakitnya yang mengakitkan kematiannya – ibu Bishr datang menjenguknya – “Umm Bishr, pada saat ini aku merasa aorta (urat nadi) ku dirobek akibat makanan yang kumakan bersama putramu di Khaybar.


berani sekali kamu meragukannya..

yang saya tanya, kapan perang khaybar terjadi, ditanya apa dijawab apa
udah tau belom kapan perang khaibar
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 36
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by SEGOROWEDI on Tue Dec 04, 2012 12:26 am



kan sudah dijawab oleh bang dur kapan perangnya..
yaitu saat muhammad makan daging kambing beracun

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by putramentari on Tue Dec 04, 2012 12:27 am

@SEGOROWEDI wrote:

kan sudah dijawab oleh bang dur kapan perangnya..
yaitu saat muhammad makan daging kambing beracun

kalo gak tau, gak usah sok komen
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 36
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: Nabi Muhammad SAW bukan wafat karena racun

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik