FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Syafii Antonio Islam Tionghoa

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Syafii Antonio Islam Tionghoa

Post by keroncong on Sat Nov 12, 2011 5:16 pm

Muhammad Syafii Antonio, Ekonom Syariah Keturunan Tionghoa : Wawancara sekitar beredarnya SMS Provocative
Tabloid Islam Pusat Studi Bahasa dan Budaya Asia-Karibia di Laiden Belan¬da pernah menulis, “Awas Cina perantauan mengancam umat Islam!” ; “Konglomerat Cina mau makar!”; “Siluman Cina ingin jadi presiden” dan “Ekonomi umat Islam dicengkeram Yahudi dan Cina kafir”. Dalam sebuah artikelnya, Tabloid itu juga pernah menulis, bahwa ada konspirasi antara orang Barat, Kristen, Yahudi, zionis dan Cina terhadap orang Islam.

Tulisan itu sama provokatifnya dengan tulisan liar yang beradar dari SMS beberapa hari menjelang Lebaran Idul Fitri lalu di kawasan Kota Bekasi dan sekitarnya. Inti isi SMS itu adalah ancaman terhadap etnis Tionghoa yang dituding sebagai biang keterpurukan bangsa. SMS ancaman tersebut mengatasnamakan umat Islam. “Itu terjadi karena masih ada jurang ekonomi antara etnis Tionghoa dengan pribumi,” ujar ekonom Syariah Syafii Antonio yang juga keturunan Tiongoa.

Kalau dilacak dari sejarahnya, kata Syafii, ada kelanjutan sejarah hubungan buruk antar etnis Tionghoa dengan Muslim, terutama dari kalangan pribumi. Alfi Rahmadi dari FORUM mewancarai Antonio, Direktur Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia ini, Rabu pekan lalu di Jakarta. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut petikan wawancaranya.

Anda penah menerima SMS ancaman menjelang lebaran?

Saya sebarkan lagi ke temen-temen SMS itu. ha..ha...

Kenapa?

Kita harus melihat pada sejarah, bahwa struktur masyakat kita terbagi tiga. Pertama, Barat-Eropa (Belanda); kedua Asia Timur Asing (Jepang dan Cina), dan ketiga adalah inlander (Pri¬bumi). Pengkatagorian ini sudah memposisikan pribumi di bawah. Belanda melakukan positioning seperti itu untuk menjadikan Timur Asia sebagai bempers untuk menjajah Indonesia. Antara Belanda dengan pribumi tidak selalu head to head. Ka¬rena itu Belanda membutuhkan perantara penghubungnya, yaitu etnik Tionghoa, seperti pemungutan pajak. Di satu sisi, si Cina ini merasa diuntungkan karena mendapat angin dari Be¬landa. Di sisi lain, Belanda merasa untung karena tidak langsung mendapat reaksi dari pribumi. Ini bagian dari politik devi¬de et impera. Politik adu domba. Yaitu antara si Cina dengan Pribumi. Warisan kolonial ini masih menganga? Mengapa belum hilang? Karena adanya kesenjangan ekonomi dan sosial. Aksesnya kaum pribumi melihat kaum Cina tidak memiliki nasionilsme yang asli karena mereka dari kalangan perantauan.

Sikapnya seperti bunglon, dan tangan kanan penjajah. Sebaliknya kaum Cina melihat kaum pribumi itu malas dan terbelakang. Namun bagi si orang Cina, yang penting bukan WNI-nya atau identitas kewarganegaraan, melainkan bagaimana dia bisa untung dan survive. Satu hari mereka ditawar menjadi warga negara A, tidak jadi masalah, asalkan menguntungkan. Sudah banyak yang seperti itu.

Pandangan semacam ini apa karena dosa sejarah masa lalu?

Karena kesalahan pemerintah kita juga. Di bawah rezim penguasa Orde Baru, gerak Tionghoa dibatasi. Baik politik militer, maupun sosial. Pendeknya mereka tidak seperti dianggap memiliki negeri sendiri. Namun sebaliknya, rezim ini justru bermain mata, dengan memberikan back up yang luar biasa kepada Chinese, yaitu memanfaatkan konglomerat-konglomerat Tionghoa untuk mendukung penguasa. Hal-hal ini tidak akan beres sampai, Pertama, memberikan sebuah akses partisipasi kepada etnis Cina yang sekarang sudah mulai terlihat, walaupun belum memuaskan. Kedua, harus ada satu program yang memperkecil jurang ekonomi kepada pribumi.

Contohnya adalah dampak kenikan BBM. Saudara-saudara kita yang muslim yang di pelosok desa dan perkotaan yang taraf hidupnya ekonominya rendah, rebutan minta jatah dana kompensasi dari pemerintah 300.000 itu. Tapi pemilik SPBU-nya sebagain besar dari Chinese. Ha..ha....barangkali ini yang menjadi akses adanya ancaman SMS lalu.

Etnis Tionghoa Muslim tentu lebih bersahabat dengan pri¬bumi?

Keunggulan Chinese Muslim dia bisa berbaur dengan pri¬bumi yang mayoritas muslim, yang identitasnya kepada NKRI. Dalam kacamata saya, orang Chinese yang masuk Islam nilai nasionalismenya lebih tinggi. Karena dia sudah berasimilasi dengan lokal. Seperti shalat, puasa, tahlilan yang dilakukan bersama-sama. Asimilasi dengan warga lokal, dia (Tinghoa Muslim) le¬bih menghayati perjalanan bangsa ini yang kemerdekaannya banyak dipelopori oleh pahlawan muslim.

Hubungan Tionghoa muslim dengan keluarga yang non-muslim sendiri?

Masih membina hubungan bagus, walaupun ada juga yang sempat terjadi kerenggangan. Tetapi biasanya setelah 3-4 tahun hubungan itu cair lagi. Tetapi hubungan orang Chinese Muslim dengan Chinese masih lebih akur ketimbang Chinese non muslim dengan pribumi.

Antar Chinese sendiri masih ada konflik antar mereka. Seperti Chinese yang tergolong totok dan peranakan?

Ya memang. Si totok kadang-kadang bilang, si peranakan tidak bisa bahasa Cina. Tapi inikan bagian dari proses masa lalu yang membatasi ruang etnis Tionghoa.

Peran Chinese Muslim untuk memperkecil jurang ekonomi pribumi dengan etnis Tionghoa?

Kita punya organisasi Chinese muslim. Seperti Yayasan Ali Karim Oei, Persatuan Tinghoa Indone¬sia (PITI), Persaudaraan Muslim Tionghoa Indone¬sia (PMTI). Organisasi ini punya forum ekonominya. Saya termasuk membidani forum tersebut di PITI. Sakarang jadi penasehat. Forum itu ada program pemberdayaan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat. Karena permasalahan konflik ini kan masalah ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah harusnya bisa menggandeng pengusaha kecil sebagai mitra secara tulus dan bisnis.

Kalau Muslim Tionghoa relatif bisa melebur dengan pribumi Indonesia yang mayoritas Muslim, kenapa tidak melebur di ormas-ormas Islam yang sudah ada ini?

Orang Chinese yang masuk muslim itu kadang-kadang tidak bisa langsung mempelajari Islam. Mereka butuh proses pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan budayanya. Katakankalah bahasa ibunya sendiri. Kadang-kadang orang Chine¬se itu kan sangat sulit melafadzkan bahasa Arab, karena baha¬sa Cina sendiri sangat aneh, yaitu huruf kanji. Jadi di organisa¬si inilah kita perbuat dulu aspek ketauhidannya.

Anda percaya dengan tesis Huntington (konflik antar peradaban) dimana Islam-Cina akan berhadapan dengan Barat-Eropa?

Itu dari kaca mata dia.

Dari kacamata Anda?

Ada sekitar 6-7 peradaban besar dunia ini. Dunia Kristen-Ba¬rat; Dunia Sahara (negara-negara Afrika); Negara-negara Buddishme, seperti mongol, India; Negara-negara Konghucu Chi¬nese, seperti Jepang, Hongkong, Taiwan; Dunia Muslim-Arab. Dari Dunia ini akan ada 2 konflik. Yaitu Antara Kristen-Barat de¬ngan Konghucu-Chinese, dan antara Barat-Islam. Antara Barat-Cina, ternyata dengan kekuatan ekonomi negeri terbit ini menjadikan Barat ketar-ketir. Tapi itu masih ada hubungan komunikasi dan tidak terlalu parah. Karena hubungan antar Barat-Cina itu kan karena pertentangan ekonomi. Yang parah itu adalah pertentangan ideologi, yaitu Barat-Islam. Ini yang lebih berbahaya.

Mengapa?

Karena Islam tidak mau dijajah Barat secara kultural, filosofis, dan idelogis. Kalau Chinese masih bisa dijajah secara Kul¬tural dan filosofi. Apalagi ada orang yang tidak puas dan tidak sabar yang menimbulkan terorisme dengan gaya jihad. Itu memperuncing lagi, yang tadinya panas tambah panas. Tapi Samuel Huntington melihat dari satu sisi dia sendiri untuk kepentingan Barat. Dia tidak melihat bagaimana hubungan Islam dengan Cordova, Turki yang membawa Islam ke Yugoslavia, dan Eropa yang memecahkan kebuntuan Eropa dengan terbitnya renainsans. Itu kan hubungan peradaban yang pernah ada. Bahkan boleh dibilang, salah satu jalan Eropa bisa terbit dari kegelapan masa lalunya difasilitasi oleh Islam. Jadi Huntington itu menafikan sejarah.

Antara Islam, dengan Chinese sendiri?

Banyak juga negara-negara Asia Timur itu yang muslim. Hanya saja karena komunismenya itu yang menjadi pengekang.

Apa missi Anda untuk membawa komunitas Muslim Tionghoa ini?

Untuk menjadikan hidup mereka menjadi mandiri tanpa membedakan rasial. Ini juga kan memberikan sumbangan postif untuk bangsa agar bersatu. Kalau bangsa ini dibangun, maka otomatis Islam juga akan terangkat. Termasuk menyatukan Chinese yang totok dan peranakan. Ya...Chinese sendiri juga harus bersatulah…

FORUM KEADILAN: No. 31, 4 Desember 2005, hal. 40-41.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik