FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

sistem ekonomi dan bias gender ivan illich

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

sistem ekonomi dan bias gender ivan illich

Post by keroncong on Tue Oct 23, 2012 4:56 pm

Fenomena menarik yang terjadi di kalangan intelektual akademis tentang diskusi baru mengenai gender dan ekonomi sangat perlu dicermati. Perhatian yang begitu besar terhadap bias gender dan pengaruhnya pada ekonomi memunculkan banyak teori yang berkaitan dengan hal itu.

Salah satu tokoh intelektual tersebut adalah Ivan Illich. Ia seorang tokoh dari kalangan laki-laki (yang membahas gender) kelahiran Austria pada tahun 1926. Dia pernah belajar ilmu-ilmu alam, pernah diwisuda berkali-kali akibat lulus kuliah sejarah, filosofi dan teologi, pernah tinggal di banyak kawasan di dunia (inilah nantinya yang mendasari konsep-konsepnya tentang Gender Kedaerahan [Vernacular]). Dia juga banyak menerbitkan karya-karya yang terkenal seperti: “ABC: The Alphabetizion of the Popular Mind”, ”Celebration of Awareness”, “Deschooling Society”, “H2O and the Water of Forgetfulness”, “Medical Nemesis and Toward a History of Needs”. Dua bukunya: “Deschooling Society” dan “Medical Nemesis” sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sekitar pertengahan tahun 1980-an dan akhir 1990-an dengan judul “Bebas dari Sekolah” (Jakarta, Sinar Harapan dan YOI) dan “Batas-Batas Pengobatan” (Jakarta, YOI).

Kajian Ivan Illich mengenai Gender, menurut penulis, terlewat canggih, sehingga bisa membingungkan bagi pembaca yang tidak memiliki dasar teori Gender maupun teori-teori ekonomi. Hal ini disebabkan pada pemikiran beliau terjadi pembalikan teori terutama pada teori ekonomi. Untuk itulah perlu adanya pengkajian secara kritis terhadap karyanya yaitu “Matinya Gender”.

Untuk memudahkan kajian di sini, penulis membuat hierarki (sistematika penulisan) sebagaimana di bawah ini.

Pertama, akan dibahas teori-teori feminisme yang ada di dunia.

Kedua, pembahasan beralih pada karakteristik-karakteristik pertumbuhan ekonomi (teori ekonomi modern).

Dua hal tersebut nantinya akan menjadi pisau analisis terhadap pernyataan Ivan Illich bahwa pertumbuhan ekonomi negatif akan mengurangi diskriminasi kelamin; kemudian analisa gender terhadap ketidakadilan gender.

Teori Feminisme Melihat Persoalan Kaum Perempuan

Sebelum kita mengkaji pendapat Ivan Illich pada bukunya tersebut, terlebih dahulu di sini diuraikan analisis kaum feminis terhadap posisi kaum perempuan secara umum. Yang dimaksud feminisme di sini adalah suatu gerakan dan kesadaran yang berangkat dari asumsi bahwa kaum perempuan mengalami diskriminasi dan usaha-usaha untuk menghentikan diskriminasi tersebut [1]. Kalau pengertiannya seperti itu, sesungguhnya kaum feminis tidak harus perempuan (Ivan Illich misalnya).

Persoalan muncul ketika mereka berusaha menjawab pertanyaan “mengapa” kaum perempuan dimarginalkan atau diperlakukan tidak adil ? Jawaban pertanyaan tersebut membedakan mereka ke dalam 4 (empat) golongan, sebagai berikut [2] :

1. Golongan Feminis Liberal. Bagi mereka mengapa kaum perempuan terbelakang adalah “salah mereka sendiri”, karena tidak bisa bersaing dengan kaum laki-laki. Asumsi dasar mereka adalah kebebasan dan equalitas berakar pada rasionalitas. Oleh karena itu dasar perjuangan mereka adalah menuntut kesempatan dan hak yang sama individu -- termasuk perempuan -- karena “perempuan adalah makhluk rasional” juga. Mereka tidak mempersoalkan struktur penindasan dari ideologi patriarki dan struktur politik ekonomi yang didominasi oleh laki-laki.

Golongan pertama tersebut, saat ini sangat dominan dan menjadi dasar teori modernisasi dan pembangunan. Bagi mereka, perbedaan antara tradisional dan modern adalah pusat masalah. Dalam perspektif feminis liberal, kaum perempuan dianggap sebagai masalah ekonomi modern atau partisipasi politik. Keterbelakangan perempuan adalah akibat dari kebodohan dan irasional, serta teguh pada nilai-nilai tradisional. Industrialisasi dan modernisasi adalah jalan untuk meningkatkan status perempuan karena akan mengurangi akibat dari ketidaksamaan kekuatan biologis antara laki-laki dan perempuan ([3]).

2. Golongan / kaum feminis radikal. Meskipun banyak meminjam jargon Marxisme, namun mereka tidak menggunakannya secara sungguh-sungguh. Bagi mereka, dasar penindasan perempuan sejak awal adalah dominasi laki-laki. Penguasaan fisik perempuan oleh laki-laki dianggap sebagai bentuk dasar penindasan. Dalam patriarki, yakni ideologi yang kelelakian, yang menganggap laki-laki memiliki kekuasaan superior dan priviledge ekonomi adalah akar masalah perempuan.

3. Golongan / kaum Feminis Marxis. Mereka menolak gagasan kaum radikal yang menyatakan bahwa “biologi” sebagai dasar pembedaan. Bagi mereka, penindasan perempuan adalah bagian dari eksploitasi kelas dalam “Relasi Produksi”. Isu perempuan selalu diletakkan dalam kerangka kritik terhadap kapitalisme. Karya Engels The Originm of the Family: Private Property and the State, mengupas awal jatuhnya status perempuan, yakni dimulai sejak perubahan organisasi kekayaan, yaitu sejak munculnya era hewan piaraan dan petani menetap yang menjadi awal kondisi penciptaan surplus yang menjadi dasar private property. Surplus kemudian menjadi dasar perdagangan dan produksi untuk exchange mendominasi produksi for use. Karena laki-laki mengontrol produk untuk exchange, maka mereka mendominasi hubungan sosial dan politik masyarakat. Akhirnya perempuan direduksi menjadi bagian dari properti. Maka sejak saat itu dominasi laki-laki terhadap perempuan dimulai.

Dalam era kapitalisme modern, penindasan terhadap perempuan diperlukan karena menguntungkan kapitalisme. Bentuk dari penindasan ini bermacam-macam.

1. Apa yang dikenal dengan “Eksploitasi pulang ke rumah”. Dalam analisa ini perempuan diletakkan dalam eksploitasi laki-laki sebagai buruh di rumah tangga. Eksploitasi ini akan membuat laki-laki lebih produktif bekerja di pabrik. Hal ini tentu menguntungkan kapitalisme.

2. Masuknya perempuan sebagai buruh, dengan upah lebih rendah, menciptakan “buruh cadangan”. Melimpahnya buruh cadangan ini memperkuat posisi tawar-menawar kaum kapitalis dan mengancam solidaritas kaum buruh.

Oleh karena itu penganut feminisme marxisme beranggapan bahwa penyebab penindasan perempuan bersifat struktural (akumulasi kapital dan divisi kerja internasional), maka revolusi atau memutuskan hubungan dengan sistem kapitalis internasional adalah solusinya. Setelah revolusi, jaminan persamaan saja tidak cukup, karena perempuan tetap dirugikan oleh tanggung jawab domestik mereka. Oleh karena itu, emansipasi perempuan terjadi hanya jika perempuan terlibat dalam produksi dan berhenti mengurus rumah tangga. Bagi teori Marxis klasik, perubahan status perempuan akan terjadi melalui revolusi sosialis dan menghapuskan pekerjaan domestik melalui industrialisasi.

Akhirnya kaum feminis sosialis merupakan sintesa antara teori kelas marxisme dan the personalis political dari feminis. Bagi mereka, penindasan perempuan ada di kelas manapun. Mereka menolak marxist klasik dan tidak menganggap eksploitasi ekonomi sebagai lebih esensial dari pada penindasan gender. Oleh karena itu, analisa patriarki perlu ditambahkan dalam analisa made of production. Mereka mengkritik asumsi umum, bahwa ada hubungan antara partisipasi perempuan dalam produksi dan status perempuan. Partisipasi perempuan dalam ekonomi memang perlu, tetapi tidak selalu menaikkan status perempuan. Memang ada korelasi antara tingkat partisipasi dengan status perempuan, namun keterlibatan perempuan justru menjaderumuskan, karena mereka dijadikan budak (virtual slaves). Bagi mereka, meningkatnya partisipasi perempuan dalam ekonomi lebih membawa pada antagonisme seksual daripada menaikkan status mereka. Kegagalan mentransformasikan posisi kaum perempuan di eks Uni Soviet, Cina dan Cuba membuktikan bahwa revolusi tidak serta merta membebaskan kaum perempuan [4].

Demikian jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, yang ternyata menjadi teori-teori dalam dunia pembahasan gender. Dari teori tersebut, ada beberapa teori yang perlu dikonfrontasikan dengan teori Ivan Illich yang akan dibahas pada topik berikutnya.

Standarisasi Pertumbuhan Ekonomi Modern

Sebelum mengadakan studi kritis terjadap tesis yang dikemukakan oleh Ivan Illich, yaitu bahwa agar seksisme berkurang, pertumbuhan ekonomi harus negatif. Maka di sini akan dipaparkan terlebih dahulu tentang standar pertumbuhan ekonomi modern. Karena dengan demikian akan diketahui secara jelas tesis Ivan Illich tersebut.

Di dalam analisanya mengenai pertumbuhan ekonomi modern, Prof. Kuznets telah memisahkan 6 (enam) karakteristik (standar) mengenai gambaran atau bentuk proses pertumbuhan yang dialami oleh negara-negara maju dewasa ini, yaitu [5] :

¨ Dua variabel ekonomi yang bersamaan

1. Laju pertumbuhan output per kapita yang tinggi dan pertumbuhan penduduk

2. Tingkat kenaikan yang tinggi pada total produktivitas faktor, terutama produktivitas tenaga kerja

¨ Dua variable transformasi struktural

1. Tingkat transformasi struktural ekonomi yang tinggi

2. Tingkat transformasi sosial dan ideologi yang tinggi

¨ Dua faktor yang berpengaruh pada pengobaran pertumbuhan secara internasional

1. Kecenderungan negara-negara yang perekono-miannya telah maju untuk menggapai bagian dunia lainnya untuk pemasaran dan sumber bahan mentah

2. Terbatasnya penyebaran pertumbuhan ekonomi yang hanya meliputi 1/3 bagian penduduk dunia

Dari enam karakteristik di atas, yang paling korelatif dengan pemikiran Ivan Illich untuk dijelaskan di sini adalah dua variable ekonomi yang bersamaan, yaitu :

a. Laju pertumbuhan output per kapita yang tinggi dan pertambahan penduduk

Dalam kasus output per kapita dan pertambahan penduduk, semua negara yang dewasa ini telah maju memiliki pengalaman dalam melipatgandakan tingkat output selama sejarah pertumbuhan ekonomi modernnya, yaitu sejak 1700 hingga sekarang.

Bagi negara-negara maju yang bukan komunis, laju pertumbuhan tahunan ini selama lebih dari 200 tahun rata-rata untuk output per kapita hampir 2%, penduduk 1% dan karena itu total outputnya 3% (yaitu GNP riil). Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan masa-masa sebelum dimulainya revolusi industri pada akhir abad ke-18. Misalnya, output per kapita selama 2 abad yang lalu telah diperkirakan hampir mencapai 10 kali lipat jika dibandingkan dengan masa sebelum modernisasi. Penduduk telah bertambah 4 sampai 5 kali lipat dari periode awal dan karenanya akselerasi di dalam laju pertumbuhan total output atau GNP diperkirakan sekitar 40 atau 50 kali lebih besar dari masa sebelum abad ke-19.

b. Tingkat kenaikan produktivitas yang tinggi

Karakteristik kedua dari pertumbuhan ekonomi modern adalah laju kenaikan yang relatif tinggi di dalam produktivitas faktor keseluruhan (yaitu output per unit semua input).

Pada kasus faktor yang produktivitasnya besar (tenaga manusia) angka kenaikan produktivitas juga telah berlipat ganda jika dibandingkan dengan masa sebelum modernisasi. Misalnya telah diperkirakan bahwa kenaikan tingkat produktivitas menyebabkan pertumbuhan output per kapita dari 50% sampai 75% selama perjalanan sejarah di negara-negara maju. Atau dengan kata lain, kemajuan teknologi termasuk peningkatan mutu sumber daya fisik yang ada maupun sumber daya manusia menyebabkan kenaikan GNP perkapita selama perjalanan sejarah.



Pertumbuhan Ekonomi Negatif Bisa Mengurangi Seksisme?

Dari teori-teori feminisme di atas dan standarisasi pertumbuhan ekonomi modern, penulis akan menggunakannya sebagai pisau analisis untuk menyoroti dan mengkritisi pemikiran Ivan Illich, terutama pada persoalan Ekonomi Informal dan Bias Gender.

Sebelum mengkajinya lebih jauh, penulis akan memaparkan beberapa pemikiran Ivan Illich terutama yang berkaitan dengan tesis beliau, yaitu pertumbuhan ekonomi negatif bisa mengurangi seksisme, sebagai berikut :

1. Ivan Illich melihat pada persepsi yang sama dengan beberapa teori feminisme modern di atas tentang diskriminasi terhadap wanita, yakni ketika kemajuan industrialisasi ternyata semakin memperparah adanya diskriminasi itu. Hal senada bisa dilihat pada teori liberal dan teori radikal. Pendapat Ivan Illich sama dengan teori-teori di atas dan bisa dilihat dari tulisannya (hal. 10), yaitu :

“... bahwa pertumbuhan ekonomi pada dasarnya memuat sifat menghancurkan gender ...”

Namun pada pemikiran selanjutnya, justru ia membalikkan teori-teori di atas dengan asumsinya, bahwa seksisme hanya bisa dikurangi dengan “harga” menciutkan ekonomi. Dia memberikan beberapa argumen tentang itu, sekaligus menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan menciutkan ekonomi adalah dengan mengurangi produksi komoditas dan mengurangi ketergantungan pada komoditas. Lebih jelas beliau berkata,

“Cita-cita kesadaran ekonomis uniseks kini sekarat, hampir sama dengan cita-cita pertumbuhan yang membawa kita ke ketimpangan GNP antara wilayah bagian utara khatulistiwa dengan kawasan sebelah selatannya.

Namun kini dimungkinkan untuk mengubah masalah itu. Bukannya berpegang pada impian terhadap pertumbuhan anti diskriminatif, tampaknya lebih bernalar bila kita mengejar penciutan ekonomis sebagai kebijakan yang akan mewujudkan suatu masyarakat non-seksis atau setidak-tidaknya masyarakat yang tidak telalu seksis.

Sesudah merenung, saya kini melihat bahwa ekonomi industrial tanpa hirarki seksis adalah kondisi ideal yang hampir takkan tergapai, sama seperti cita-cita masyarakat pra-industri tanpa gender; atau tanpa pembagian yang jelas antara apa yang dilakukan, dikatakan dan dilihat oleh laki-laki dan oleh perempuan. Keduanya sama-sama impian penuh khayalan, tidak peduli jenis kelamin sang pemimpi.

Namun pengurangan nexus uang, yakni mengurangi produksi komoditas dan ketergantungan padanya, bukanlah sebuah khayalan. Meski begitu, pemotongan semacam itu berarti pembalikan harapan-harapan dan kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang sekarang dianggap ‘alamiah bagi manusia’.

Banyak orang, termasuk yang tahu bahwa langkah mundur memang perlu diambil lantaran alternatif orang-orang yang berpengalaman, bersama sejumlah pakar (sebagian karena memang yakin, sebagian lagi cuma menyambar kesempatan), sepakat bahwa pemotongan merupakan pilihan yang bijak. Subsistensi yang didasari pencerabutan dari nexus uang secara bertahap makin kencang (progresif) tampaknya menjadi syarat pertahanan hidup. Tanpa pertumbuhan negatif, akan mustahil tercapai keseimbangan ekologis, keadilan antar kawasan, atau maraknya perdamaian.

Kebijakan itu harus, tentunya, dijalankan di negara-negara kaya secara lebih kencang dibanding negara-negara miskin. Barangkali harapan maksimum yang dapat diangankan orang secara rasional adalah tersedianya akses setara ke sumber daya-sumber daya dunia yang langka di tingkat yang sekarang khas bangsa-bangsa termiskin di dunia.

Terjemahan dalil semacam itu menjadi aksi spesifik akan memerlukan persekutuan berwajah banyak antara berbagai macam kelompok serta kepentingan yang mengejar pemulihan kepada commons, yang saya namakan gender ke dalam aliansi ini. Saya akan menyatakan di sini ada keterkaitan antara pergeseran dari produksi ke subsistensi dengan pengurangan seksisme”.

2. Ia menganggap bahwa diskriminasi perempuan terjadi pada tiga area ekonomi. Yaitu ekonomi yang terpantau, ekonomi yang tak terpantau (area/sektor informal) dan kerja bayangan (sektor informal).

Dari intisari pemikiran Ivan Illich ini ada beberapa hal yang perlu dikomentari berhubunngan dengan hal-hal sebagai berikut :

a. Sebenarnya teori Ivan Illich berkaitan dengan feminisme yang lebih mengarah pada teori feminisme liberal. Penulis melihat bahwa menurutnya seksisme di bidang ekonomi, terutama pada sektor informal, tidak dipengaruhi oleh kondisi kemajuan pertumbuhan ekonomi, tetapi lebih karena dipengaruhi oleh proses berfikir wanita (rasionalitas) yang kadang tidak terlalu tanggap terhadap perkembangan ekonomi dan lebih mau dibodohi oleh konsidi jaman yang terkena bias gender.

Hal itu diperkuat dengan contoh bagaimana seorang istri doktor di kota Meksiko dengan segala kemewahannya dan dia bisa mereaktualisasikan kreativitasnya dengan tidak disibukkan oleh kepentingan domestik. Namun pengalamannya, sepenuhnya melampaui pengalaman sepupu jauhnya yang hidup dengan seorang dukun pencabut gigi di pelosok dusun. Tiap Rabu, perempuan ini berjalan di belakang suaminya dan menjajakan tomat, selagi sang suami menggelar praktek cabut gigi dan mengiklankan jamu. Perempuan ini lebih baik daripada perempuan yang di Meksiko, meskipun yang di dusun tersebut tunduk pada suami, namun secara ekonomis dia tidak tergantung pada suami (lihat hal. 39).

b. Oleh karena itu untuk memberdayakan wanita, kesempatan pendidikan harus diberikan sama dengan laki-laki (lihat hal. 38).

c. Jadi pada dasarnya Ivan Illich tidak mengharapkan penurunan pertumbuhan ekonomi ke arah negatif karena hal itu bisa menghancurkan sendi-sendi perekonomian lainnya, meskipun yang dimaksud beliau dengan penurunan tersebut adalah pengurangan produksi komoditas dan keinginan mengkonsumsinya. Karena apabila hal tersebut terjadi (penurunan ekonomi negatif) justru akan berpengaruh terhadap kelangkaan komoditas. Dan lebih lanjut justru akan menyebabkan inflasi tinggi. Tentu hal ini akan berpengaruh juga pada sektor informal, terutama pada pekerjaan domestik perempuan.

Sebagaimana dijelaskan pada poin (a) di atas maka poin ini penting bukan terletak pada pertumbukan negatif untuk menghilangkan / mengurangi seksisme di bidang ekonomi, tetapi lebih mengarah pada pembangunan kesadaran perempuan untuk menggunakan rasionalitasnya dalam menghadapi perkembangan ekonomi dengan tidak terikat pada pemikiran tradisionalitas budaya gender (gender kedaerahan).



Ekonomi Islam yang Tanpa Bias Gender (Sebuah Kesimpulan)

Perkembangan jaman mengakibatkan munculnya wacana baru tentang wanita, terutama yang berkaitan dengan persoalan gender. Persoalan bias gender itu terjadi dalam pandangan penulis dikarenakan dua hal :

a. Interpretasi terhadap nash-nash suci yang terkontaminasi oleh bias gender. Hal ini terjadi justru karena banyak nash suci yang secara teks (manthiq) menekankan pada diskriminasi perempuan.

b. Kondisi sosio-tradisional, juga turut mempengaruhi bias gender. Hal inilah yang dikomentari oleh Ivan Illich dengan memberdayakan/mencerahkan rasionalitas perempuan agar tidak terkungkung oleh sosio-tradisional tersebut yang justru menjerumuskan wanita pada perbudakan dan diskriminasi.

Dari dua hal tersebut, Islam telah memberikan solusi bahwa secara esensial, Islam tidak pernah membedakan secara seksis pada seluruh kehidupan manusia itu. Sedangkan dua kondisi di atas bisa diatasi dengan reorientasi dan rekonstruksi terhadap interpretasi nash-nash suci yang terdahulu. Dengan demikian akan mempengaruhi cara berpikir manusia terhadap sosio-culture-nya, sebagaimana dikatakan di atas, bahwa Islam secara esensial tidak mengandung unsur bias gender pada ajaran dalam segala bidang kehidupan. Demikian juga pada bidang ekonomi.

Ruh ekonomi Islam tidak melihat seksisme padanya tetapi yang diharuskan adalah [6] :

1. Keadilan

2. Kejujuran

3. Tidak ada unsur riba

4. Tidak ada unsur ghoror

5. Tidak ada unsur penimbunan yang merusak pasar

6. Tidak ada unsur penindasan

Dengan demikian, jika unsur-unsur di atas dalam ekonomi Islam serta adanya reinterpretasi pada nash-nash suci maka akan memunculkan nilai-nilai ekonomi yang bersifat religius tanpa adanya penindasan baik pada perempuan atau laki-laki, baik pada sektor riil maupun pada sektor ekonomi informal.

Jadi perjuangan kesetaraan yang banyak dituntut oleh kalangan feminis itu memang mitos karangan masyarakat industrial yang seksis. Sebagaimana dikatakan oleh Ivan Illich sebagai berikut :

“Dalam esei ini saya tidak mencoba menjelaskan mengapa masyarakat menempatkan lelaki di puncak dan menjadikan perempuan sebagai pihak yang tercacatkan. Saya telah mengembalikan rasa ingin tahu saya, agar bisa mendengarkan secara lebih bebas dan lebih penuh perhatian, laporan-laporan mereka yang kalah, bukan untuk belajar tentang mereka, melainkan untuk mempelajari medan-tempurnya; yakni ekonomi.

Masyarakat industrial menciptakan dua mitos – yang pertama tentang leluhur seksualnya dan yang kedua tentang gerakan ke arah kesetaraan yang lebih besar ...” (Lihat hal 131)

Namun demikian, kalau kita melihat kesetaraan sebagai sesuatu yang proporsional yaitu sesuai dengan hak dan kewajiban, maka menurut Islam perjuangan kesetaraan itu tidak termasuk mitos, bahkan sesuatu yang realistik untuk diwujudkan.

Islam memandang kesetaraan manusia adalah dilihat dari unsur syara’; artinya dalam kaitan dengan pelaksanaan hukum-hukum syara’. Islam menganggap bahwa tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan.

Adapun yang dimaksud dengan pelaksanaan hukum syara’ adalah seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, baik wanita ataupun pria, adalah dianggap baik kalau syara’ menganggap baik dan akan mendapat ganjarannya. Demikian pula kalau manusia, baik wanita ataupun pria, melakukan aktivitas buruk dan syara’ menganggapnya buruk, maka manusia itu akan mendapatkan balasan yang setimpal dan adil antara keduanya.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah akan menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Q.S. Al-Ahzab : 35

Dari ruh Al-Qur’an tersebut, bisa dipahami bahwa kesetaraan yang berkaitan dengan hak dan kewajiban pada laki-laki dan wanita di hadapan Allah adalah suatu keharusan empirik, bukan mitos. Dan yang mungkin masuk kategori mitos jika kesetaraan itu (emansipasi) perempuan dengan laki-laki di segala aspek termasuk kodrati. Karena hal itu tidak mungkin terjadi. Oleh karena itulah kesetaraan yang proporsional harus diwujudkan dalam segala bidang kehidupan. Dan jika hal itu bisa -– minimal -– mempengaruhi opini masyarakat industri, maka penindasan dan marginalisasi perempuan tidak akan terjadi baik di bidang atau sektor formal perekonomian maupun informal.

Di samping itu, penanaman aqidah atau keyakinan yang religius akan bisa mempercepat untuk mencapai ke arah kesetaraan masyarakat industrial. Karena dengan faktor utama itu akan melahirkan masyarakat industrial yang religius yang mampu menghambat kemunculan penindasan atau bias gender di bidang ekonomi, terutama sektor informal.

Wa Allahu A’lamu.

* Kumpulan nasyroh dakwah dan makalah karya Ustadz Drs. Junaidi Sahal (Materi Halaqah Sughra UAKI Unibraw)

[1] Mansour Faqih, Membincang Feminisme, Diskusi Gender Perspektif Islam, Surabaya, Risalah Gusti, hal. 38

[2] ibid., hal. 38

[3] Lihat FX Sutton, “The Pattern Variable” dalam buku Harry Eckstein dan David Apter, (Eds), Comparative Politics: A Reader, New York, Free Press, 1963

[4] Mansour Faqih, op. cit., hal. 42

[5] Michael P. Todaro, Ilmu Ekonomi Bagi Negara Sedang Berkembang, Jakarta, Akademika Pressindo, 1984, hal. 236

[6] Dr. Ahmad Muhammad Al ‘Assal, Sistem Ekonomi Islam, Surabaya, Bina Ilmu, 1990, hal. 85-97
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik