FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

hadits mengeraskan bacaan shalat

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

hadits mengeraskan bacaan shalat

Post by keroncong on Sat Nov 03, 2012 7:35 pm

Alhamdulillah, apabila seseorang melaksanakan shalat jahr sendiri maka tidak diwajibkan (diharuskan) untuk menjahrkan bacaan, karena kata "harus" semakna dengan "wajib" yang artinya apabila ditinggalkan maka pelakunya berdosa. Akan tetapi disunnahkan hal itu baginya, dalam arti kalau dia melakukannya maka hal itu afdhal karena mendapatkan tambahan pahala dan kalau tidak dilakukan maka tidak mengapa. Karena hadits-hadits tentang permasalahan ini hanyalah berupa perbuatan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan bukan perintah, sementara kaidah ushul fiqih menunjukkan bahwa perbuatan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hanyalah menunjukkan istihbab (sunnah) semata. Meskipun hadits-hadits tersebut berkaitan dengan shalat berjamaah akan tetapi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي
“Shalatlah sebagaimana kalian melihat shalatku.” (HR. Al-Bukhari dari Malik Ibnul Huwairits radiallahu ‘anhu.)
Hadits ini menunjukkan secara umum bahwa sifat shalat yang dilakukan secara berjamaah sama dengan sifat shalat yang dilakukan secara sendirian, kecuali kalau ada dalil yang menunjukkan adanya perbedaan di antara keduanya. Apalagi terdapat hadits yang menunjukkan hal itu, yaitu hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menjahrkan bacaannya ketika beliau shalat malam sendirian di kamarnya (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dihasankan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shifat Shalat An-Nabi, hal. 108). Begitu pula hadits bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mengajari Abu Bakr dan 'Umar radhiallahu’anhuma ketika masing-masing shalat malam, untuk menjahrkan suara mereka dengan tidak terlalu keras (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shifat Shalat An-Nabi, hal. 108-109). Sementara Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam pernah shalat malam berjamaah dengan Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallahu anhu dan beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjahrkan bacaannya (HR. Muslim). Meskipun hadits ini berkaitan dengan shalat sunnah, akan tetapi kita mengatakan bahwa apa yang berlaku pada shalat sunnah juga berlaku pada shalat wajib kecuali ada dalil yang menunjukkan perbedaan di antara keduanya. Itulah sebabnya ketika para shahabat seperti Ibnu 'Umar dan 'Amir bin Rabi'ah radhiallahu’anhum meriwayatkan sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam shalat sunnah ketika sedang safar di atas untanya sesuai arah perjalanannya, meskipun mereka tidak menghadap kiblat. Maka mereka merasa perlu untuk mengatakan: “Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tidak melakukannya pada shalat wajib”, karena kekhawatiran akan dipahami bahwa hal itu juga berlaku pada shalat wajib . Apa yang kami tetapkan adalah madzhab jumhur ulama, dan yang menyelisihi dalam hal ini adalah Abu Hanifah karena dia berpendapat bahwa orang yang shalat sendiri sama saja baginya, baik dia membaca dengan jahr atau sirr. (Lihat Al-Majmu’, 3/355)
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik