FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

wala wal bara

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

wala wal bara

Post by keroncong on Thu Nov 08, 2012 12:38 pm

Al-wala' wa al-bara' mempunyai konsekuensi hukum yang sangat banyak. Setiap zaman terkadang muncul berbagai fenomena al-wala' wa al-bara' yang berbeda dengan zaman sebelumnya. Karena itu, hukum harus dijelaskan berdasarkan dalil-dalil syariat Islam. Dalam kaitan ini, kami akan membatasi penjelasan pada beberapa hal saja: hukum bersesuaian dengan orang kafir, hukum melakukan perjalanan ke negeri kafir, hukum bergaul dengan orang kafir, dan perbedaan antara akidah al-wala' wa al-bara' dengan keharusan bermuamalah yang baik.

Hukum Bersesuaian dengan Orang Kafir

Kaitannya dengan orang kafir, kaum muslimin dihadapkan pada tiga kondisi. Pertama, bersesuaian dengan mereka secara lahir dan batin. Ini menyebabkan pelakunya menjadi kafir dan dinyatakan keluar dari Islam secara 'ijma (kesepakatan ulama).

Kedua, bersesuaian dengan mereka secara batin saja. Berdasarkan ijma, yang ini juga menyebabkan pelakunya menjadi kafir. Karena, ia merupakan nifaq besar yang membuatnya keluar dari Islam.

Ketiga, bersesuaian dengan mereka secara lahir saja. Kondisi ini ada dua jenis.


Mereka melakukan itu karena adanya intimidasi fisik yang sampai pada tahap pembunuhan. Dalam kondisi demikian, selama hanya mengucapkan dengan lisan, sedangkan hatinya tetap penuh dengan iman, pelakunya tidak dianggap kafir meskipun ia mengucapkan kata-kata kufur. Allah Taala berfirman yang artinya, "Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah ia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)." (An-Nahl:106).
Mereka melakukannya secara sukarela karena tujuan duniawi, seperti ambisi berkuasa, memperoleh kedudukan, popularitas, dan sebagainya. Hal ini menjadikan pelakunya kafir. Namun, para ulama berbeda pendapat tentang jenis kekufurannya. Mereka ada yang menghukuminya dengan kufur besar yang menyebabkan sang pelaku keluar dari Islam, sebagaimana firman Allah, "Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (An-Nahl: 107). Di sini Allah Taala menyatakan mereka kafir karena mendahulukan kehidupan dunia daripada akhirat. Ada pendapat kedua yang mengategorikan perbuatan ini sebagai kufur kecil, yang tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Dasar pendapat ini adalah perbedaan antara muwalaah dan tawalli. Perbuatan ini termasuk jenis tawalli sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai kufur besar. Namun, menurut Dr. Ibrahim al-Buraikan, yang terkuat adalah pendapat yang pertama berdasarkan ayat yang telah disebutkan.

Sumber: Al-Madkhal li dirasat al-Aqidah al-Islamiyyah 'ala Madzhabi Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah, Dr. Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah al-Buraikan
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by keroncong on Sun Nov 18, 2012 2:43 am

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin (mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagiaa yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim " (QS. Al-Maidah: 51)

Definisi Al-Wala' Wal-Bara'
Kata al-wala' menurut bahasa berarti; mencintai, menolong, mengikuti, mendekat kepada sesuatu. Kata al-wala' menurut terminologi syariat berarti; penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang disukai dan diridhoi Allah berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan, dan oarng. Wilayah al-wala'; apa yang dicintai Allah. Ciri utama wali Allah; mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah, ia condong dan melakukan semua itu dengan penuh komitmen.

Kata al-bara' menurut bahasa berarti; menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri, memusuhi. Kata al-bara' menurut terminologi syariat berarti; penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dibenci dan dimurkai Allah dari perkataan, perbuatan, kepercayaan serta orang. Wilayah al-bara'; apa yang dibenci Allah. Ciri utama al-bara'; membenci apa yang dibenci Allah secara menerus dan penuh komitmen.


Aqidah Al-Wala' Wal-Bara' adalah penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhoi Allah serta apa yang dibenci dan dimurkai Allah dalam perkataan, perbuatan, kepercayaan dan orang.

Kaitan-kaitan Al-Wala' Wal-Bara dibagi menjadi 4

Perkataan; zikir dicintai Allah, mencela dan menuduh dibenci Allah.
Perbuatan; (sholat, puasa, zakat, sedekah, dan berbuat kebajikan) dicintai Allah, (riba, zina, minum khamr) dibenci Allah.
Kepercayaan; (iman, tauhid) dicintai Allah, (kufur, syirik) dibenci Allah.
Orang; orang beriman yang mengesakan Allah dicintai Allah, orang kafir dan musrik dibenci Allah

Kedudukan Aqidah Al-Wala' Wal-Bara' dalam Syariat Islam.

Bagian penting dari makna syahadat
Bgaian dari ikatan iman yang terkuat
Sebab utama hati bisa rasakan manisnya iman
Tali hubungan di atas mana masyarakat Islam dibangun
Meraih pahala yang sangat besar
Perintah syariat untuk dahulukan hubungan ini daripada hubungan lain
Jika konsep ini teraplikasi, akan memperoleh walayatullah (lindungan dan kewalian dari Allah)
Tali penghubung yang kekal di antara manusia hingga hari kiamat
Syarat sahnya ucapan syahadat
Jika konsep ini tidak dijalankan, menjadi kafir.
Penyempurna keimanan

Aqidah Al-Wala' Wal-Bara'

Wajib; 9:24, 2:165, 3:128, 3:141, 5:51
Salah satu konsekuensi dan syarat sahnya syahadat

Pembagian manusia berdasarkan Aqidah Al-Wala' Wal-Bara' ada 3 bagian

Orang yang berhak mendapatkan wala' (loyalitas) mutlak:
Orang mukmin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah dengan ikhlas karena Allah.
Orang yang berhak mendapat wala' di satu sisi dan bara' di sisi lain:
Muslim yang melakukan maksiat, yang melalaikan sebagian kewajiban agama, melakukan sebagian perbuatan yang diharamkan Allah namun tidak menyebabkan ia menjadi kufur dengan tingkatan kufur besar.
Orang yang berhak mendapat bara' mutlak:
Orang musyrik, kafir (Yahudi, Nasrani, Majusi, dll)

Syarat mendapat 'Kewalian' dari Allah

Berakal
Baligh
Kesesuaiannya dengan apa yang dicintai dan dibenci Allah
Mengetahui dasar-dasar agama
Mengetahui masalah-masalah furu' dalam syariat Islam
Mempunyai akhlak terpuji
Takut kepada Allah

Tingkat Wali-Wali Allah (Faatir:32)

As-Sabiquun Fil Khairat
Al-Muqtashid
Az-Zhalimu Linafsihi

Hak-Hak Al-Wala'

Hijrah
Membantu dan menolong kaum muslimin
Terlibat dalam permasalahan kaum muslimin
Mencintai kaum muslimin seperti mencintai diri sendiri
Tidak mengejek, melecehkan, mencari aib dan berghibah serta menyebarkan namimah kepada kaum muslimin
Mencintai dan selalu berusaha berkumpul bersama kaum muslimin
Melakukan apa yang menjadi hak kaum muslimin (menjenguk yang sakit, mengantar jenazah, dll)
Bersikap lembut, mendoakan serta memohon ampun bagi kaum muslimin
Amar ma'ruf nahi munkar serta menasehati kaum muslimin
Tidak cari-cari aib dan kesalahan kaum muslimin serta buka rahasia mereka kepada musuh Islam
Memperbaiki hubungan di antara kaum muslimin
Tidak menyakiti kaum muslimin
Bermusyawarah dengan kaum muslimin
Ihsan dalam perkataan dan perbuatan
Bergabung dalam jamaah kaum muslimin dan tidak berpisah dengan mereka
Tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by keroncong on Mon Nov 19, 2012 1:07 am

Adapun hak-hak al-bara' adalah sebagai berikut. Pertama, membenci syirik, kufur, penganut-penganutnya, dan senantiasa menyimpan rasa permusuhan terhadap mereka, sebagaimana Ibrahim telah menyatakan secara terang-terangan. Firman Allah SWT yang artinya, "Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: 'Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku'." (Az-Zukhruf: 26 -- 27).

"Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu) dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja'." (Al-Mumtahanah: 4).

Kedua, tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dan selalu membenci mereka. Firman Allah SWT, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhku dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena kasing sayang...." (Al-Mumtahanah: 1).

Ketiga, meninggalkan negeri-negeri kafir dan tidak bepergian ke sana, kecuali untuk keperluan darurat dan dengan kesesanggupan memperlihatkan syiar-syiar agama dan tanpa pertentangan. Sabda Rasulullah saw. yang artinya, "Aku melepaskan diri dari tanggung jawab terhadap setiap muslim yang bermukin di antara kaum musyrikin." (HR Abu Daud).

Keempat, tidak menyerupai mereka pada apa yang telah menjadi ciri khas mereka dan masalah dunia (seperti gaya makan dan minum) dan agama (bentuk syiar-syiar agama mereka). Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka." (HR Abu Daud).

"Berbedalah dengan orang-orang musyrik, tipiskanlah kumis kalian dan lebatkanlah janggut kalian." (HR Al-Bukhari).

Kelima, tidak memuji, membantu, dan menolong orang-orang kafir dalam menghadapi kaum muslimin.

Keenam, tidak meminta banuan dan pertolongan dari orang-orang kafir, dan menjadikan mereka sebagai sekutu-sekutu yang dipercaya menjaga rahasia dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan penting. Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." (Ali Imran: 118).

Ketujuh, tidak terlibat dengan mereka dalam hari raya dan kegembiraan mereka, juga tidak memberi ucapan selamat. Sebagian ulama menafsirkan kalimat syahadatuz zuur pada QS Al-Furqan ayat 72 dengan arti menyaksikan hari-hari raya orang kafir. (Dari riwayat Ibnu Abbas, Tafsir al-Qurthubi).

Kedelapan, tidak memohon ampunan bagi mereka dan juga tidak merasa kasihan terhadap mereka. Firman Allah SWT, "Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam." (At-Taubah: 113).

Kesembilan, tidak bersahabat dan meninggalkan majelis mereka. Firman Allah SWT, "Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan...." (Huud: 113).

Kesepuluh, tidak berhukum (tahakum) kepada mereka dalam menyaksikan perkara, tidak setuju dengan putusan mereka serta meninggalkan hukum Allah dan Rasul-Nya. Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah SWT, "Dan barangsiapa yang tidak memutuskan perkara berdasarkan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir." (Al-Maidah: 44).

Kesebelas, tidak berbasa-basi dan bercanda dengan mereka dengan merugikan agama. Firman Allah SWT, "Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." (Al-Qalam: 9).

Kedua belas, tidak menaati arahan dan perintah mereka. Firman Allah SWT, "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi." (Ali Imran: 149).

Ketiga belas, tidak mengagungkan orang kafir dengan perkataan atau perbuatan, sebab bagaimana mungkin orang yang dihinakan Allah, kita hormati, Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah kamu berkata kepada seorang munafik, 'Tuan,' karena seandainya ia benar tuan, sungguh kamu telah membuat Allah Azza wa Jalla murka." (HR Ahmad). Orang kafir dalam kaitan ini tentu lebih utama.

Keempat belas, tidak memulai salam waktu berjumpa dengan mereka. Sabda Rasulullah saw., "Janganlah kamu memulai dengan salam terhadap orang-orang Yahudi atau Nasrani, maka jika kamu melihat salah seorang di antara mereka di jalanan, maka deseklah ia ke tepi yang paling sempit." (HR Muslim). Kecuali, jika ada orang-orang muslim di tengah orang-orang kafir, maka hendaklah ia memberi salam, sebagaimana diriwayatkan muslim dari Usamah bin Zaid bahwa Rasulullah saw. melewati suatu majelis yang di dalamnya bercampur-baur antara Yahudi dan muslim, maka ia pun memberi salam kepada mereka. (HR Bukhari).

Kelima belas, tidak duduk bersama mereka ketika membuat pelecehan terhadap agama. Firman Allah SWT, "Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Alquran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena, sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka." (An-Nisa: 140). (Katib).

Sumber: Al-Madkhal li Dirasat al-Aqidah al-Islamiyyah 'ala Madzhai Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah, Dr. Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah al-Buraikan
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by keroncong on Wed Nov 21, 2012 12:43 am

Konsekuensi dari ikrar dua kalimat syahadah adalah sikap al-wala' wa al-barra'. Al-Wala' berarti loyalitas. Tinjauan etimologi kata ini merujuk kepada rumpun asal kata waw, lam, dan ya, yang mempunyai pengertian 'dekat'. Dari rumpun asal kata tersebut, berkembang menjadi beberapa istilah yang kesemuanya bermuara pada satu benang merah: kedekatan. Ketika muncul dalam bentuk subjek, ia bisa berarti pelindung, penolong, pemimpin, atau kawan setia. Loyalitas menyiratkan makna dekat.

Adapun barra' berarti berlepas diri. At-Taubah: 1, Az-Zukhruf: 26, Mumtahanah: 4, dan Al-Qamar: 43 menyebutkan makna itu.

Wala' dan barra' adalah sikap yang harus diambil oleh setiap muslim setelah ia mengucapkan syahadatain. Ia loyal kepada Islam, yang berarti taat kepada seluruh ajarannya, dan menjadi pelindung dari semua gangguan yang menerpanya. Dan, ia berlepas diri dari semua hal kontra syahadatain, baik berupa wacana ataupun perbuatan nyata.

Syekh Abdurrahman bin Hasan dalam risalahnya menjelaskan bahwa tauhid (pengesaan Allah) tidak akan dapat tercapai kecuali dengan berlepas diri dari kemusyrikan dan memutuskan hubungan dengan orang musyrik, baik lahir maupun batin.

Allah SWT secara tegas memerintahkan hal tersebut kepada para rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, seraya memuji mereka yang melakukan tindakan itu. Ada sekitar 12 ayat merujuk kepadanya, antara lain Al-An'am: 14, 78 -- 79, Az-Zukhruf: 26, Al-Baqarah: 135, An-Nahl: 120, 123.

Pengertian wala' dan barra' mengandung suatu aksioma bahwa sebuah cinta dan benci timbul semata-mata karena agama. Seorang muslim akan mencintai dan melindungi saudaranya yang muslim karena 'keislamannya', bukan kedekatan keluarga atau tempat tinggal. Pun, ketika ia membenci orang kafir atau musyrik. Hal demikian disebabkan kekufuran, kemusyrikan, dan kebencian orang itu terhadap Islam, meski ia termasuk orang tua atau saudaranya. "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka." (Al-Mujadilah: 22).

Maka, jika kemudian seorang muslim membela dan melindungi orang-orang kafir atau musyrik, lalu malah membenci dan memusuhi saudaranya sesama muslim, kita wajib mempertanyakan keislamannya. Demikian halnya ketika ia lebih mempercayai orang-orang kafir/musyrik untuk menjadi penolongnya. Bukankah Allah SWT telah berfirman, "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah)." (Al-Maidah: 55). Malah, perbuatan itu dapat menyebabkan kekukufuran. "Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka." (Al-Maidah: 51).

Adapun menjalin hubungan yang tidak ada kaitannya dengan masalah-masalah agama, tidak termasuk dalam konsekuensi wala' dan barra' yang mesti dipenuhi. Namun, hal itu dapat mengurangi kesempurnaan bertauhid dan bisa jadi mendorong pelakunya kepada situasi yang bertentangan dengan konsekuensi wala' dan barra'.

Pendapat Syekh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab mungkin perlu diperhatikan. Ia mengatakan, "Seorang muslim wajib meyakini bahwa Allah SWT mengharuskannya berkonfrontasi dengan orang-orang musyrik dan tidak menjalin persahabatan dengan mereka. Allah mengabarkan bahwa hal itu sebagai bagian dari syarat-syarat iman. Dan, keimanan akan hilang dari seseorang yang berkasih sayang dengan penentang Allah dan Rasul-Nya, meski ia masih kerabatnya. Ini merupakan realisasi dan konsekuensi dari makna la ilaaha illallaah. Allah tidak menuntut kita untuk berlarut-larut dalam membahasnya. Yang Ia minta hanya agar kita tahu dan yakin bahwa Ia telah memerintahkan hal itu kepada kita, dan kita wajib melaksanakannya. Bila seseorang melaksanakannya, niscaya mendapatkan kebaikan dan akan bertambah kebaikannya."

Insya Allah kita akan melanjutkan serial pembahasan wala' dan barra' pada edisi selanjunya. (Katib).

Sumber: Al-Jahl bi Masailil I'tiqad wa Hukmuhu, Abdur Razzaq bin Thahir bin Ahmad Ma'asy

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by keroncong on Mon Dec 03, 2012 4:52 am

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin (mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagiaa yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim " (QS. Al-Maidah: 51)

Lanjutan...

Hak-Hak Al-Wala'

Membenci syirik dan kufur serta penganut-penganutnya dan menyimpan rasa permusuhan terhadap mereka sampai mereka hanya beriman kepada Allah.
Tidak jadikan orang kafir pemimpin dan selalu membenci mereka.
Meninggalkan negeri kafir dan tidak bepergian ke sana kecuali untuk keperluan darurat dan dengan kesanggupan memperlihatkan syiar-syiar agama dan tanpa pertentangan.
Tidak menyerupai mereka pada apa yang telah menjadi ciri khas mereka dan masalah dunia (seperti gaya makan dan minum) dan agama (seperti bentuk syia-syiar agama mereka).
Tidak memuji, membantu dan menolong orang dalam menghadapi kaum muslimin.
Tidak meminta bantuan dan pertolongan dari orang kafir dan menjadikan mereka sebagai sekutu-sekutu yang dpercaya menjaga rahasia dan melaksanakan pekerjaan penting.
Tidak terlibat dengan mereka dalam hari raya dan kegembiraan mereka, juga tidak memberi ucapan selamat.
Tidak memohon ampunan dan merasa kasihan terhadap mereka.
Tidak bersahabat dan meninggalkan majlis mereka.
Tidak bertahkim kepada mereka dalam menyaksikan perkara, tidak setuju dengan putusan mereka.
Tidak berbasa-basi dan bercanda dengan mereka dengan merugikan agama.
Tidak menta'ati arahan dan perintah mereka.
Tidak mengagungkan orang kafir dengan perkataan atau perbuatan.
Tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin dan hakim baik secara lahir maupun batin.
Tidak memulai salam waktu jumpa dengan mereka.
Tidak duduk bersama mereka ketika membuat pelecehan terhadap agama.

Hukum-hukum al-wala' wal bara'

I. Hukum Penyesuaian dengan orang kafir.

Tiga kondisi yang dihadapi kaum muslimin:
1. Penyesuaian dengan mereka secara lahir dan batin: pelakunya kafir, keluar dari Islam (ijma').
2. Penyesuaian dengan mereka secara batin: pelakunya kafir, keluar dari Islam (nifaq besar) (ijma').
3. Penyesuaian dengan mereka secar lahir, ada 2 jenis:

Karena pemaksaan dengan pukulan, penyiksaan langsung dan ancaman bunuh: pelakunya tidak dianggap kafir selama ia hanya ucapkan kekufuran dengan lisan sedang hatinya penuh dengan iman.
Karena tujuan duniawi seperti ambisi kekuasaan, kedudukan, popularitas dan semacamnya: pelakunya kafir, jenis kekufurannya ada 2 pendapat.
Kufur besar, pelakunya keluar dari Islam, 16 : 107
Kufur kecil, pelakunya tidak keluar dari Islam (merupakan salah satu dosa besar).

II. Hukum safar dan bermukim di negeri kafir.

a. Boleh, yang dibolehkan ada 3 :

Safar dan bermalam dengan tujuan da'wah dan yakin ada jaminan keamanan bagi eksistensi agama.
Safar dengan tujuan perdagangan, yakin akan keamanan imannya.
Wanita, anak-anak dan orang dewasa yang lemah yang tidak sanggup meninggalkan negeri kafir karena kondisi geografis dan politik.

b. Haram, yang diharamkan ada 2 :

Tujuan duniawi.
Dorongan loyalitas dan kagum.

III. Hukum bermuamalah dengan orang kafir

Boleh melakukan transaksi perdagangan dan sewa menyewa selama alat tukar, keuntungan dan barangnya dibolehkan oleh syari'at Islam.
Wakaf mereka selama itu pada hal-hal di mana wakaf terhadap kaum muslimin dibolehkan.
Muslim laki-laki boleh menikahi wanita ahli kitab (Yahudi maupun Nasrani).
Pinjam meminjam walaupun dengan menggadaikan barang.
Orang kafir boleh berdagang di negeri muslim asal dibolehkan secara syar'i dan 10 % keuntungan harus diserahkan sebagai pajai untuk kepentingan umum kaum muslimin.
Jizyah bagi ahli kitab yang dalam perlindungan keamanan kaum muslimin.
Jika tidak sanggup bayar jizyah dibebaskan, jika miskin maka disantuni dari Baitu Maal kaum muslimin.
Haram membolehkan mereka membangun rumah ibadah di negeri muslim, gereja yang sudah tidak boleh dihancurkan namun bagi yang sudah runtuh tidak boleh dibangun kembali.
Hukum yang diberlakukan pada mereka harus dihapus jika dalam agama mereka dibolehkan, tapi haram menyampaikannya secara terang-terangan.
Jika perbuatan itu haram dalam agama mereka lalu mereka melakukannya maka harus dihukum.
Orang Zimmi dan Mu'ahid tidak boleh diganggu selama mereka komit dengan perjanjian.
Hukum qisas atas nyawa dan seterusnya juga berlaku bagi mereka.
Perjanjian damai dengan mereka atas permintaan mereka atau kita selama itu mewujudkan maslahat umum bagi kaum muslimin dan pemimpin kaum muslimin sendiri cenderung ke arah itu. Namun perjanjian damai ini bersifat sementara tidak mutlak.
Darah, harta dan kehormatan kaum Zimmi dan Mu'ahid adalah haram.
Ahlul Harb (harus diperangi), tidak boleh memerangi mereka sebelum diberi peringatan dan mereka boleh dijadikan budak, baik laki-laki atau wanita selama belum ada perjanjian damai.
Orang kafir yang tidak terlibat ( pendapat, perencanaan, diri) dalam memerangi kaum muslimin seperti anak-anak, wanita, rahib dalam rumah ibadahnya, orang tua jompo, orang sakit dan semacamnya tidak boleh diganggu dan diperangi.
Orang yang berlari menghindari perang dengan mereka tidak boleh dibekali dan apa yang ditinggalkan menjadi rampasan perang.
Pemimpin kaum muslimin yang menyatakan sah dan benarnya kepemilikan (tanah) mereka. Namun mereka harus membayar pajak, tanah itu dinyatakan tanah wajib pajak. Jika tidak mau bayar, harus diserahkan kapada kaum muslimin untuk dibangun di atasnya. Ini jika negeri mereka dibebaskan dengan perang, karena statusnya adalah harta rampasan perang.

IV. Perbedaan antara al-bara' dengan keharusan bermuamalah yang baik.

Konsep al-bara' tidak berarti bahwa kita boleh bersekap buruk terhadap mereka dengan perkataan atau perbuatan.
Seseorang muslim bahkan harus berbuat baik kepad kedua orang tuanya yang masih musyrik.
Kebencian terhadap orang kafir tidak boleh menghalangi kita untuk menggauli isteri dari ahli kitab dengan baik, memberikan hak-hak mereka, berbuat baik dengan mereka.
Hukum ini tidak berlaku bagi orang kafir yang berstatus Ahlul Harb, jadi diharamkan mendukung dan menolong orang kafir untuk kekufuran.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by oglikom on Mon Dec 03, 2012 8:34 am

ichreza wrote:"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin (mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagiaa yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim " (QS. Al-Maidah: 51)

Lanjutan...

Hak-Hak Al-Wala'

Membenci syirik dan kufur serta penganut-penganutnya dan menyimpan rasa permusuhan terhadap mereka sampai mereka hanya beriman kepada Allah.
Tidak jadikan orang kafir pemimpin dan selalu membenci mereka.
Meninggalkan negeri kafir dan tidak bepergian ke sana kecuali untuk keperluan darurat dan dengan kesanggupan memperlihatkan syiar-syiar agama dan tanpa pertentangan.
Tidak menyerupai mereka pada apa yang telah menjadi ciri khas mereka dan masalah dunia (seperti gaya makan dan minum) dan agama (seperti bentuk syia-syiar agama mereka).
Tidak memuji, membantu dan menolong orang dalam menghadapi kaum muslimin.
Tidak meminta bantuan dan pertolongan dari orang kafir dan menjadikan mereka sebagai sekutu-sekutu yang dpercaya menjaga rahasia dan melaksanakan pekerjaan penting.
Tidak terlibat dengan mereka dalam hari raya dan kegembiraan mereka, juga tidak memberi ucapan selamat.
Tidak memohon ampunan dan merasa kasihan terhadap mereka.
Tidak bersahabat dan meninggalkan majlis mereka.
Tidak bertahkim kepada mereka dalam menyaksikan perkara, tidak setuju dengan putusan mereka.
Tidak berbasa-basi dan bercanda dengan mereka dengan merugikan agama.
Tidak menta'ati arahan dan perintah mereka.
Tidak mengagungkan orang kafir dengan perkataan atau perbuatan.
Tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin dan hakim baik secara lahir maupun batin.
Tidak memulai salam waktu jumpa dengan mereka.
Tidak duduk bersama mereka ketika membuat pelecehan terhadap agama.

Pertanyaannya sebutan apa yang pantas bagi orang Islam yang masih bekerja, melakukan hubungan dagang dan yang berimigrasi ke negara kafir?

Jadi teringat dengan kiasan ULAR BERKEPALA DUA.

oglikom
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2360
Kepercayaan : Lain-lain
Location : sidoarjo
Join date : 05.10.12
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by oglikom on Mon Dec 03, 2012 12:57 pm

Hoii....ingat jangan pernah minta bantuan sama kapir. awas

oglikom
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2360
Kepercayaan : Lain-lain
Location : sidoarjo
Join date : 05.10.12
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by keroncong on Mon Dec 03, 2012 1:09 pm

memanfaatkan orang kafir & produk kafir boleh2 saja...... tapi jgn sampai memenuhi permintaan bantuannya...... usil
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by oglikom on Mon Dec 03, 2012 2:26 pm

ichreza wrote:memanfaatkan orang kafir & produk kafir boleh2 saja...... tapi jgn sampai memenuhi permintaan bantuannya...... usil
Muslim meminta bantuan dan menerima bantuan dari kafir berarti kagak teung malu... yes
Muslim bekerja pada perusahaan milik orang kafir pantas disebut MUNAFIK.

Al-wara wal bara adalah wajah asli agama 'rahmatan lilalamin'. malu

oglikom
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2360
Kepercayaan : Lain-lain
Location : sidoarjo
Join date : 05.10.12
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by keroncong on Mon Dec 10, 2012 5:21 pm

Seorang mukmin dalam wala' dan barra' harus senantiasa memenuhi hak-hak yang merupakan konsekuensi dari sikap wala' dan barra'nya.

Jika ia berwala', ada hak-hak wala' yang harus ia penuhi. Pertama, hijrah: yaitu hijrah dari negeri kafir ke negeri muslim, kecuali bagi orang yang lemah, atau tidak dapat berhijrah karena kondisi geografis dan poliik kontemporer yang tidak memungkinkan. Allah swt berfirman yang artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?' Mereka menjawab, 'Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).' Para malaikat berkata, 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?' Orang-orang itu tempatnya neraka jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak mereka yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." (An-Nisaa': 97 -- 99).

Kedua, membantu dan menolong kaum muslimin dengan lisan, harta, dan jiwa di semua belahan bumi dan dalam semua kebutuhan, baik dunia maupun agama. Allah SWT berfirman yang artinya, "(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberkan pertolongan kecuali kepada kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka." (Al-Anfaal: 72).

Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya, "Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain bagaikan bangunan yang sebagian menyangga sebagian yang lain." (HR Bukhari Muslim). "Tolonglah saudaramu, dalam keadaan menganiaya atau dianiaya." (HR Bukhari dari Anas dan Muslim dari Jabir). "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menganiaya, tidak meremehkanya, tidak menyia-nyiakannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh)." (HR Muslim dari Salim dari bapaknya).

Ketiga, terlibat dalam harapan-harapan dan kesedihan-kesedihan kaum muslimin. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Perumpamaan kaum muslimin dalam cinta, kekompakan, dan kasih sayang sesama mereka bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga ikut menjaga dan begadang." (HR Bukhari dan Muslim). Termasuk dalam hal ini adalah mengangatkan, memberitakan, dan menyebarkan masalah-masalah yang mereka hadapi kepada segenap kaum muslimin.

Keempat, hendaklah ia mencintai bagi kaum muslimin apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri, baik berupa kebaikan maupun menolak keburukan. Ia wajib menasihati mereka, tidak menyombongkan diri dan atau mendendam terhadap mereka. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri." (HR Bukhari Muslim dari Anas).

Kelima, tidak mengejek, mencaci, dan berghibah serta menyebarkan namimah (berita yang menyebabkan permusuhan) terhadap kaum Muslimin. Allah SWT berfirman yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (Al-Hujurat: 11 -- 12).

Keenam, mencintai kaum muslimin dan berusaha untuk selalu berkumpul bersama mereka. Rasulullah saw. bersabda, "Adalah suatu keniscayaan bagiku mencintai orang-orang yang saling menziarahi." (HR Ahmad dari Abu Muslim al-Khalani). "Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah." (HR Tabhrani dari Ikrimah). Allah SWT berfirman, "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini." (Al-Kahfi: 28).

Ketujuh, melakukan apa yang menjadi hak-hak kaum muslimin seperti menjenguk yang sakit atau mengantar jenazah, tidak curang dalam bergaul dengan mereka, tidak memakan harta mereka dengan cara batil dan lainnya. Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang curang terhadap kami, maka dia bukan dari (golongan) kami." (HR Muslim dari Abi Hurairah). "Hak seorang muslim atas seorang muslim yang lain ada enam: bila kamu melihatnya berilah salam padanya, jika ia sakit jenguklah ia, jika ia mai hantarkanlah jenazahnya." (HR Muslim).

Kedelapan, bersikap lemah-lembut terhadap kaum muslimin dan mendoakan serta memohonkan ampun bagi mereka. Allah SWT berfirman, "Barangsiapa tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi." (HR Bukhari Muslim). "Bukanlah dari (golongan) kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua di antara kami dan tidak menyayangi yang lebih mudan di antara kami." (HR Tirmidzi).

Kesembilan, menyuruh mereka kepada yang makruf dan mencegah mereka dari kemunkaran serta menasihati mereka. Rasulullah saw. bersabda, "Agama itu adalah nasihat." Mereka bertanya, "Untuk siapa ya Rasululla?" Beliau menjawab, "Untuk Allah dan Rasul-Nya dan pemimpin serta masyarakat umum kaum muslimin." (HR Muslim dari Abu Ruqayah). "Barang siapa di antara kamu yang melihat kemunkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak sanggup maka hendaklah dengan lisannya, jika ia tidak sanggup maka hendaklah dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman." (HR Muslim).

Kesepuluh, tidak mencari-cari aib dan kesalahan kaum muslimin serta membeberkan rahasia mereka kepada musuh-musuh mereka. Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu mencari-mencari kesalahan mereka...." (Al-Hujurat: 12).

Kesebelas, memperbaiki hubungan di antara kaum Muslimin. Allah SWT berfirman, "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya." (Al-Hujurat: 9).

Keduabelas, tidak menyakiti mereka. Sabda Rasulullah yang artinya, "Orang muslim itu ialah orang yang kaum muslimin selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya." Maksudnya, dari perkataan dan perbuatannya. (HR Bukhari dari Ibnu Umar dan Muslim dari Ibnu Juraij).

Ketigabelas, bermusyawarah dengan mereka. Firman Allah SWT, "Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (Ali Imran: 159). Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang dimintai musyawarah itu adalah orang yang dipercaya." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Kempat belas, bersifat ihsan dalam perkataan dan perbuatan. Firman Allah SWT, "Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah: 195). Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu." (HR Muslim).

Kelimabelas, bergabung dengan jamaah mereka dan tidak terpisah dari mereka. Firman Allah SWT, "Berpegang teguhlah kamu kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai." (Ali Imran: 103). Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang meninggalkan jamaah sejengkal saja, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah." (HR Bukhari dari Anas dan Muslim dari Ibnu Abbas).

Keenambelas, saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah SWT berfirman, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (Al-Maidah: 2). (Katib)

Sumber: Al-Madkhal Lidiraasat al-Aqidah al-Islamiyyah 'ala Madzhabi Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah, Dr. Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah al-Buraikan
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by oglikom on Sun Dec 16, 2012 11:31 pm

@All Muslim

Kalau kalian tinggal di negara kafir dan bekerja pada Bos kafir, sebutan apa yang pantas untuk kalian?

oglikom
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2360
Kepercayaan : Lain-lain
Location : sidoarjo
Join date : 05.10.12
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by darussalam on Mon Dec 24, 2012 5:02 am

Adapun bentuk-bentuk loyalitas
(wala') terhadap orang-orang yang beriman telah dijelaskan di dalam Al-Qur'an
dan As-Sunnah, yaitu :

Pertama: Berhijrah ke negara kaum
muslimin, dan meninggalkan negara orang-orang kafir

Hijrah artinya pindah dari negara
orang-orang kafir ke negara kaum muslimin untuk menyelamatkan
Ad-Diin.

Dan hijrah dalam artian serta untuk
tujuan ini hukumnya wajib sampai terbitnya matahari dari arah barat ketika Hari
Kiamat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam telah berlepas diri dari setiap muslim yang bermukim di antara
orang-orang musyrikin, maka haram bagi seorang muslim bermukim di negara-negara
kafir, kecuali jika tidak mampu berhijrah dari tempat itu, atau dalam
bermukimnya itu terdapat maslahat Ad-Diin, misalnya berdakwah kepada Allah dan
menyebarkan Islam.

Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang
yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka)
malaikat bertanya : 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini'. Mereka menjawab :'Adalah
kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)'. Para malaikat berkata :
'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu'.
Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk- buruk
tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun
anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk
berhijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha
Pema'af lagi Maha Pengampun". [An-Nisa : 97-99].

Kedua: Membantu dan menolong kaum
muslimin dalam urusan diin dan duniawi baik dengan jiwa, harta, juga dengan
lisan (perkataan).

Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Dan orang-orang yang
beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong
sebagian yang lain". [At-Taubah : 71].

Dan Allah Ta'ala berfirman
:

"Artinya : (Akan tetapi) jika mereka
meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib
memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara
kamu dengan mereka". [Al-Anfal : 72].

Ketiga: Merasa sakit atas penderitaan
kaum muslimin, serta berbahagia dengan kebahagian mereka.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:

"Artinya : Perumpamaan kaum muslimin
dalam cinta kasih, dan lemah lembut serta saling menyayangi antara mereka
seperti satu jasad (tubuh) apabila satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh
jasadnya ikut merasa sakit".

Dan beliau bersabda :

"Artinya : Seorang mukmin dan mukmin
lainnya adalah bagaikan suatu bangunan yang sebagiannya menutup bagian lainnya
(seraya/sambil merapatkan antara jari-jari beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam)".

Keempat: Memberi nasehat serta mencintai
kebaikan kaum muslimin serta tidak menghina dan tidak menipu
mereka.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda :

"Artinya : Tidaklah seorang di antara
kamu beriman sehingga ia mencintai saudaranya seperti cintanya terhadap dirinya
sendiri".

Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda :

"Artinya : Seorang muslim adalah
saudara muslim yang lain ; tidak meremehkannya, dan tidak menghinanya serta
tidak menyerahkannya (kepada musuh), betapa buruknya jika seorang menghina
(meremehkan) saudaranya yang muslim ; segala yang ada pada seorang muslim adalah
haram pada muslim lainnya baik darahnya, hartanya, dan harga
dirinya".

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

"Artinya : Janganlah kalian saling
membenci, saling bermusuhan, saling memata-matai dan janganlah sebagian kamu
menjual (berakad) terhadap (akad) lainnya, jadilah hamba-hamba Allah yang
bersaudara".

Kelima: Menghormati dan memuliakan
kaum muslimin serta tidak mengurangi kehormatan mereka.

Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Hai orang-orang yang
beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh
jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)
dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi
wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang
mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu
panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah
(panggilan) kefasikan sesudah iman dan siapa yang tidak bertaubat, maka mereka
itulah orang-orang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari
prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu
mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing
sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging
saudaranya yang sudah mati ?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang". [Al-Hujurat : 11-12].

Keenam: Senantiasa menyertai kaum
muslimin baik dalam keadaan sulit maupun lapang.

Berbeda dengan orang-orang munafik
yang hanya menyertai orang-orang yang beriman dalam keadaan mudah dan senang
saja dan meninggalkan mereka dalam keadaan susah.

Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : (Yaitu) orang-orang yang
menunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin).
Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata :'Bukankah kami
(turut berperang) beserta kamu?'. Dan jika orang-orang kafir mendapat
keberuntungan (kemenangan) mereka berkata :'Bukankah kami turut memenangkan
kamu, dan membela kamu dari orang-orang yang beriman". [An-Nisa: 41].

Ketujuh: Menziarahi / mengunjungi kaum
muslimin dan senang bertemu dengan mereka serta senantiasa berkumpul bersama
mereka.

Disebutkan dalam hadits
Qudsy:

"Artinya : Kewajiban cintaku bagi
orang-orang yang saling berkunjung kepada-Ku".

Di dalam hadits lain disebutkan
:

"Artinya : Bahwa seorang laki-laki
hendak mengunjungi saudaranya karena Allah Ta'ala, lalu diutuslah oleh Allah
Ta'ala seorang malaikat untuk mengikuti perjalanannya seraya bertanya :'Hendak
kemanakah engkau ?'. Laki-laki itu menjawab :'Aku akan mengunjungi saudaraku
karena Allah Ta'ala'. kemudian malaikat itu bertanya lagi :'Apakah kunjunganmu
disebabkan suatu nikmat yang engkau harapkan dari padanya ?' Laki-laki itu
menjawab:' Tidak, tapi semata-mata dikarenakan aku mencintainya karena Allah
Ta'ala. Malaikat berkata :'Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang diutus
kepadamu untuk menyampaikan kepadamu bahwa Allah Ta'ala mencintaimu sebagaimana
kamu mencintai saudaramu karena-Nya".

Kedelapan: Menghormati hak-hak kaum
muslimin

Dengan tidak menjual (berakad) atas
akad mereka, tidak menawar terhadap tawaran mereka, tidak melamar (wanita)
terhadap lamaran mereka dan tidak menghalangi apa yang telah mereka dapatkan
dari hal-hal yang mubah.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda :

"Artinya : Janganlah seseorang
menjual (berakad) atas akad saudaramu. Dan janganlah melamar atas lamaran
saudaranya".

Dan dalam riwayat lain disebutkan
:

"Artinya : Dan janganlah menawar atas
tawaran saudaranya".

Kesembilan: Bersikap lemah lembut terhadap
orang lemah di antara mereka

sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda :

"Artinya : Bukanlah dari golongan
kami siapa saja yang tidak menghormati yang lebih besar dan menyayangi yang
lebih kecil".

Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

"Artinya : Kalian mendapatkan
pertolongan dan mendapatkan rizki tidak lain karena adanya orang-orang lemah
diantara kalian".

Dan Allah Ta'ala berfirman
:

"Artinya : Dan bersabarlah kamu
bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari
dengan mengharap keridhaan-Nya ; dan janganlah kedua matamu berpaling dari
mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini". [Al-Kahfi :
28].

Kesepuluh: Mendo'akan kaum muslimin
dan memintakan ampun bagi mereka.

Allah berfirman :

"Artinya : Dan mohonlah ampunan bagi
dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu'min, laki-laki dan perempuan". [Muhammad :
19].

Firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala :

“Ya Rabb kami, ampunilah kami dan
saudara-saudara kami yang beriman lebih dahulu dari kami.” (Al-Hasyr :
10).
avatar
darussalam
Co-Administrator
Co-Administrator

Male
Posts : 411
Kepercayaan : Islam
Location : Brunei Darussalam
Join date : 25.11.11
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by darussalam on Mon Dec 24, 2012 5:05 am

Adapun dari bentuk-bentuk loyalitas
terhadap orang kafir yaitu :

Pertama: Menyerupai mereka dalam
berpakaian, ucapan dan lainnya.

Karena yang demikian itu menunjukkan
cinta orang yang menyerupai terhadap yang diserupai. Dalam hal ini Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Siapa yang menyerupai
suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka".

Maka diharamkan menyerupai
orang-orang kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka dalam bidang ;
adat istiadat, ibadah, dan sifat-sifat serta tingkah laku mereka, seperti :
mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berbahasa dengan bahasa mereka, kecuali
jika diperlukan, berpakaian, makan, minum dan lainnya.

Kedua: Bermukim (tinggal) di negara
orang kafir dan tidak pindah (hijrah) dari negara tersebut ke negara kaum
muslimin untuk menyelamatkan Ad-Diin / agama

Sebab berhijrah untuk tujuan tersebut
merupakan kewajiban bagi seorang muslim, dan berdiamnya seorang muslim di negara
kafir menunjukkan loyalitasnya terhadap orang kafir. Maka dari itu Allah Ta'ala
mengharamkan bermukimnya orang muslim diantara orang-orang kafir apabila ia
mampu untuk berhijrah.

Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang
yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka)
malaikat bertanya :'Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?' Mereka menjawab :
'Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekkah)'. Para malaikat
berkata :'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi
itu ?' Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk
tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki atau wanita
ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan
(untuk hijrah), mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah
Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun". [An-Nisa' : 97-99].

Allah Ta'ala tidak menerima alasan
setiap muslim yang bermukim di negara orang kafir kecuali mereka lemah, yang
tidak mampu untuk berhijrah, juga orang-orang yang bermukimnya ada kemaslahatan
ad diin/agama, misalnya berdakwah kepada Allah dan menyebarkan Islam, di negara
mereka.

Ketiga: Bepergian ke negara orang
kafir dengan tujuan wisata dan rekreasi.

Bepergian ke negara orang kafir
diharamkan kecuali dalam keadaan darurat, seperti berobat, berdagang, dan
belajar ilmu-ilmu tertentu yang bermanfaat, yang tidak mungkin didapatkannya
kecuali dengan pergi ke negeri mereka. Hal itu dibolehkan sebatas keperluan, dan
jika keperluannya telah selesai, maka wajib kembali lagi ke negara kaum
muslimin. Diperbolehkannya seseorang untuk bepergian ke negara orang kafir
disyaratkan juga untuk senantiasa memperlihatkan identitas diinnya, serta bangga
dengan ke-Islamannya. Ia harus menjauhi tempat-tempat maksiat dan berhati-hati
dari segala bentuk tipu daya para musuh-musuhnya juga diperbolehkan atau bahkan
wajib bepergian ke negara mereka jika bertujuan untuk berdakwah kepada Allah dan
menyebarkan Islam.

Keempat: Membantu dan menolong orang
kafir untuk mengalahkan kaum muslimin, memuji-muji dan membela
mereka

Hal ini merupakan bagian dari
rusaknya aqidah ke-Islaman, juga penyebab dari kemurtadan. Kita berlindung
kepada Allah dari yang demikian.

Kelima: Meminta bantuan kepada orang
kafir, percaya dan memberikan jabatan-jabatan yang di dalamnya terdapat
rahasia-rahasia kaum muslimin, dan menjadikan mereka sebagai orang kepercayaan
serta teman bertukar fikiran.

Allah berfirman :

"Artinya : Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang
diluar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan)
kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata
kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka lebih
besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu
memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai
kamu dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai
kamu, mereka berkata : 'Kami beriman'; dan apabila mereka menyendiri, mereka
menggigit ujung jari lantaran marah dan bercampur benci terhadap kamu.
Katakanlah (kepada mereka) : 'Matilah kamu karena kemarahanmu itu'. Sesungguhnya
Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka
bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana mereka bergembira karenanya".
[Ali Imran : 118-120].

Ayat-ayat mulia tersebut di atas
menjelaskan isi hati orang-orang kafir serta kebencian yang mereka sembunyikan
terhadap kaum muslimin, dan apa yang mereka rencanakan untuk melawan kaum
muslimin dengan tipu muslihat serta penghianatan. Juga mereka senantiasa
menimpakan mudharat terhadap kaum muslimin dengan senantiasa menggunakan segala
cara (sarana) untuk menyakiti orang-orang yang beriman. Dan sungguh mereka
selalu memanfaatkan kepercayaan kaum muslimin terhadap mereka, lalu mereka
berencana untuk menimpakan bahaya terhadap kaum muslimin.

Imam Ahmad rahimahullah telah
meriwayatkan sebuah atsar dari sahabat Abu Musa Al-'Asyary Radhiyallahu anhu
beliau berkata : Aku pernah berkata kepada Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu :
Aku mempunyai seorang sekretaris seorang Nasrani, Umar bin Khatthab Radhiyallahu
anhu berkata : Apa-apaan kamu ini, celakalah engkau ! Tidaklah engkau pernah
mendengar firman Allah Ta'ala :

"Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi
pemimpin-pemimpin (mu) ; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang
lain". [Al-Maidah : 51]

Apakah tidak mengambil orang muslim
saja? Lalu Abu Musa berkata : "Kukatakan 'Wahai Amirul Mukminin bagiku
tulisannya dan baginya agamanya ! Serentak Umar bin Khatthab berkata : 'Aku
tidak akan menghormati mereka, sebab Allah Ta'ala telah menjadikan mereka hina,
dan aku tidak akan memuliakan mereka sebab Allah telah menjadikan mereka rendah
; dan aku tidak akan mendekati mereka sebab Allah Ta'ala telah menjauhkan mereka
(menjadikan mereka sangat Jauh)".

Imam Ahmad dan Imam Muslim juga
meriwayatkan :

"Artinya : Bahwa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju Badar, lalu seorang laki-laki
musyrikin mengikuti beliau, kemudian bertemulah di suatu tempat (bernama
Hirrah), seraya berkata : "Sesungguhnya aku ingin ikut dan terluka bersamamu",
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berimankah kamu kepada Allah
dan rasul-Nya ? Laki-laki itu berkata : "Tidak" kemudian Nabi Shallallahu alihi
wa sallam bersabda : "Pulanglah kamu, sekali-kali aku tidak minta tolong kepada
orang musyrik".

Dan dari nash-nash tersebut di atas
jelaslah bagi kita haramnya memberikan pekerjaan-perkerjaan kaum muslimin kepada
orang kafir, yang dengan sarana itu memungkinkan orang kafir untuk menyelidiki
keadaan dan rahasia-rahasia kaum muslimin serta mengadakan tipu daya yang
membahayakan mereka.

Diantara contoh yang gamblang yang
terjadi akhir-akhir ini yaitu dengan didatangkannya orang-orang kafir ke negara
kaum muslimin (Negeri dua tanah haram yang suci) lalu mereka dijadikan
pekerja-pekerja, supir-supir, pembantu-pembantu, dan baby sitter-baby sitter di
rumah mereka sehingga mereka berbaur dalam satu rumah tangga kaum muslimin yang
tinggal di negera tersebut.

Keenam: Menggunakan kalender orang kafir
khususnya kalender yang mencatat hari-hari suci dan hari-hari besar
mereka

Seperti kalender masehi yang
menyebutkan peringatan Hari Kelahiran Al-Masih Alaihissalam, yang hari raya itu
adalah bid'ah yang mereka ada-adakan, dan bukanlah dari diin (ajaran) Al-Masih
Alaihissalam. Maka dengan memakai kalender tersebut merupakan keikutsertaan
dalam menghidupkan syi'ar dan hari besar mereka. Untuk menghindari masalah ini
maka para sahabat Radhiyallahu anhum berkeinginan untuk menentukan kalender bagi
kaum muslimin pada masa Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu ; mereka berpaling
dari kalender orang kafir dengan membuat kalender yang permulaannya dihitung
dari hari hijrah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, hal tersebut untuk
menunjukkan wajibnya menyelisihi orang-orang kafir dalam masalah ini dan
masalah-masalah lain yang merupakan kekhususan mereka, hanya Allah lah tempat
mohon pertolongan.

Ketujuh: Keikutsertaan kaum muslimin di
hari-hari besar orang-orang kafir

Membantu mereka dalam
menyelenggarakan dan penyelenggaraannya, memberikan ucapan selamat pada hari itu
atau mendatangi undangan pada hari diselenggarakannnya ucpacara pada hari itu.
Firman Allah Ta'ala yang berbunyi :

"Dan orang-orang yang tidak
memberikan persaksian palsu",

telah ditafsirkan bahwa dari sifat
hamba-hamba adalah sesungguhnya mereka tidak mendatangi hari-hari besar orang
kafir.

Kedelapan: Memuji dan terpesona atas
kemajuan orang kafir serta kagum atas tingkah laku dan kepandaian mereka tanpa
melihat kepada aqidah-aqidah yang bathil dan nama mereka yang
rusak.

Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Dan janganlah kamu tujukan
kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari
mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan
karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal". [Thaha : 131]

Ayat tersebut tidak dapat diartikan
bahwa kaum muslimin dilarang untuk mengetahui rahasia sukses mereka dengan jalan
belajar dibidang-bidang perindustrian (senjata dan lain-lain), dasar-dasar
ekonomi yang tidak dilarang oleh syari'ah serta strategi-strategi kemiliteran,
bahkan semua itu merupakan persoalan yang dituntut oleh Islam.

Allah berfirman.

"Artinya : Dan siapkanlah untuk
menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi". [Al-Anfal :
60]

Pada dasarnya hal-hal yang bermanfaat
diatas dan juga rahasia-rahasia alam ini pada dasarnya diciptakan Allah Ta'ala
untuk kaum muslimin.

Allah berfirman

"Artinya : Katakanlah :'Siapakah yang
mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk
hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik ?'.
Katakanlah : 'Semuanya itu (disediakan) bagi orng-orang yang beriman dalam
kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami
menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui". [Al-A'raf :
32]

Dan Allah berfirman.

"Artinya : Dan Dia menundukkan
untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai
rahmat) daripada-Nya". [Al-Jatsiah : 13].

Allah berfirman.

"Artinya : Dia-lah Allah, yang
menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu". [Al-Baqarah : 29].

Maka merupakan suatu kewajiban bagi
kaum muslimin untuk bersaing dalam menggali manfaat-manfaat dan potensi ini dan
tidak perlu meinta-minta kepada orang kafir untuk mendapatkannya, mereka wajib
memiliki pabrik-pabrik dan teknologi-teknologi canggih.

Kesembilan: Memberi nama dengan nama-nama
orang kafir

Mereka (sebagian kaum muslimin)
memberi nama anak laki-laki dan anak perempuannya dengan nama-nama asing dan
meninggalkan nama-nama bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-kakek, nenek-nenek, serta
nama yang dikenal di masyarakat mereka.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam telah bersabda.

"Artinya : Sebaik-baik nama adalah
Abdullah dan Abdurrahman".

Dan akibat perubahan nama-nama
tersebut, telah didapatkan suatu generasi yang mempunyai nama-nama aneh, hal
tersebut menyebabkan terpisahnya generasi ini dengan generasi-generasi
sebelumnya serta terputusnya hubungan baik antar keluarga yang sudah dikenal
dengan nama-nama khusus mereka.

Kesepuluh: Memintakan ampun dan memintakan
rahmat bagi orang kafir, yang hal itu telah diharamkan oleh Allah
Ta'ala.

Allah berfirman:

"Artinya : Tiadalah sepatutnya bagi
Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi
orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya),
sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni
neraka Jahannam". [At-Taubah : 113].

Karena dalam
permasalahan ini mengandung adanya suatu rasa kecintaan terhadap mereka dan
membenarkan sesuatu yang ada pada mereka.
avatar
darussalam
Co-Administrator
Co-Administrator

Male
Posts : 411
Kepercayaan : Islam
Location : Brunei Darussalam
Join date : 25.11.11
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by keroncong on Fri Dec 28, 2012 4:41 pm

Hal yang perlu diperhatikan

Allah Ta'ala berfirman :
] لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين [
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah : 8).

Pengertiannya adalah, barangsiapa diantara kaum kuffar yang telah menahan diri untuk tidak mengganggu, tidak memerangi dan tidak mengusir kaum muslimin dari kampung halaman mereka, maka dalam menghadapi kaum kuffar yang demikian itu, kaum muslimin harus memberikan suatu balasan yang seimbang, yakni dengan kebaikan dan berlaku adil dalam hubungan yang bersifat duniawi. Meski demikian, hati mereka tetap tidak boleh mencintai orang kafir, karena

Allah Ta'ala berfirman :
] أن تبروهم وتقسطوا إليهم [
“… untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka.” (Al-Mumtahanah : 8).

Dan Allah tidak berfirman : “Untuk berwala’ (setia) dan mencintai mereka.”

Dan sebagai perbandingan dalam masalah ini, Allah berfirman tentang keadaan kedua orang tua yang kafir :
] وإن جاهداك على أن تشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما وصاحبهما في الدنيا معروفا واتبع سبيل من أناب إلي [
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu.” (Luqman :15 ).

Pada suatu ketika ibunda Asma’ yang kafir datang kepada Asma’ dengan maksud meminta agar kekeluargaan itu tetap ada meski dia kafir, lalu Asma’ minta izin kepada Rasulullah r tentang hal itu, maka beliau bersabda :
صلي أمك
“Sambungkanlah hubungan kekeluargaan dengan ibumu.”

Dan Allah telah berfirman :
] لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله ولو كانوا آباءهم أو إخوانهم أو عشيرتهم ... [
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasulnya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara atau pun keluarga mereka.” (Al-Mujadalah : 22).

Maka hubungan silaturrahim dan saling memberikan balasan dalam urusan dunia adalah suatu perkara, sedang suatu sikap rasa cinta dan kasih sayang adalah perkara lain.

Disamping menyambung tali kekeluargaan dan hubungan pergaulan yang baik merupakan pemikat sehingga orang kafir mau masuk Islam. Dengan demikian perkara tersebut merupakan bagian dari sarana dakwah. Berbeda halnya dengan kasih sayang dan kesetiaan yang menunjukkan persetujuan terhadap orang kafir atas sesuatu yang ada padanya, seperti akhlaqnya, akidahnya, ibadahnya dan lain-lain. Yang demikian itu menyebabkan tidak ada keinginan untuk mengajak mereka masuk Islam.

Demikian pula diharamkannya berwala’ terhadap orang kafir, bukan berarti diharamkan bergaul dengan mereka dalam hal hubungan dagang yang mubah, mengimport barang-barang dan industri, atau mengambil manfaat dari pengalaman dan temuan-temuan mereka. Nabi r pernah menyewa Ibnu Uraiqith Al-Laitsi yang kafir agar dia menjadi penunjuk jalan ketika beliau hijrah ke madinah. Juga beliau hutang kepada sebagian orang yahudi.

Sedang kaum muslimin yang senantiasa mengimport barang-barang dan industri dari orang kafir, hal ini termasuk dalam masalah jual beli dengan harga yang pantas, bukan berarti mereka memiliki kelebihan dan keutamaan atas kita, dan hal itu juga bukan salah satu sebab timbulnya rasa cinta dan wala’ kepada mereka. Allah I mewajibkan mencintai kaum muslimin dan berwala’ kepada mereka dan membenci orang-orang kafir serta memusuhi mereka.

Allah Ta'ala berfirman :
] إن الذين آمنوا وهاجروا وجاهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل الله والذين آووا ونصروا أولئك بعضهم أولياء بعض [
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi.” (Al-Anfal : 72).

Tentang firman Allah :
] والذين كفروا بعضهم أولياء بعض إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير [
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain. Jika kalian tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Al-Anfal :73 ).

Al hafidz Ibnu Katsir berkata : “Makna firman Allah : ‘Jika kalian tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar’ adalah jika kalian tidak menjauhi kaum musyrikin dan tidak berwala’kan terhadap kaum mukminin, jika kalian tidak melakukan hal itu niscaya akan terjadi fitnah di tengah manusia berupa pencampuradukan antara perkara kaum mukminin dengan kaum kafir, hingga menyebabkan kerusakan yang luas dan menyebar.”

Ironisnya, kenyataan ini telah terjadi di zaman sekarang ini. Semoga Allah menolong kita.

Pembagian Manusia dalam masalah Al Wala' dan Al Bara'

Manusia dalam permasalahan al-wala’ wal baro’ terbagi atas tiga bagian :
1. Mereka yang dicintai dengan suatu kecintaan yang murni, tidak terdapat permusuhan sama sekali disamping kecintaannya.
Mereka adalah kaum mukminin sejati seperti para Nabi, orang –orang yang jujur, syuhada’ dan shalihin. Dan yang paling mulia dari mereka adalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam, maka wajib pula mencintai beliau lebih besar daripada kecintaan terhadap diri sendiri, anak, orang tua dan manusia secara umum.

Kemudian isteri-isteri beliau yang merupakan ibu kaum mukminin, Ahlul bait (keluarga Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam) dan para sahabatmya yang mulia, khususnya khulafaur rasyidin dan sepuluh sahabat yang lain, kaum Muhajirin dan Anshar, orang yang ikut dalam perang Badar dan orang yang pernah bai’at dengan Nabi di Baitur Ridwan, kemudian para sahabat yang lainnya.

Lalu para tabi’in dan beberapa orang yang hidup pada abad yang diutamakan, ulama-ulama salaf dan para imam yang empat.
Allah Ta'ala berfirman :
] والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم [
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdo’a : Ya Tuhan kami, berilah kami ampunan dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al- Hasyr :10).

Dan tidak boleh bagi orang yang di hatinya masih ada iman membenci shahabat dan para ulama salaf dikalangan umat ini.

Orang-orang yang membenci mereka itu adalah orang yang hatinya cenderung untuk bengkok, kaum munafik dan musuh-musuh Islam seperti golongan rafidah dan khawarij. (Khawarij menganggap orang yang melakukan dosa besar kafir, Murji’ah :selagi iman masih ada, dosa besar tidak masalah. Ahlus sunnah : Mukmin yang berbuat dosa adalah mukmin yang kurang imannya)

2. Orang yang dibenci dan dimusuhi dengan sesungguhnya, serta tidak ada suatu kecintaan sama sekali kepada mereka.
Mereka adalah kaum kafir tulen dari golongan orang kafir, musyrik munafik, kaum murtad dan kaum yang menentang Islam dari berbagai golongan.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala :
] لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله ولو كانوا آباءهم أو إخوانهم أو عشيرتهم ... [
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara atau pun keluarga mereka.” (Al-Mujadalah : 22).

Allah mencela Bani Israel dalam firmannya :
] ترى كثيرا منهم يتولون الذين كفروا لبئس ما قدمت لهم أنفسهم أن سخط الله عليهم وفي العذاب هم خالدون ولو كانوا يؤمنون بالله والنبي وما أنزل إليه ما اتخذوهم أولياء ولكن كثيرا منهم فاسقون [
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadnya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasik.” (Al-Maidah : 80-81).

3. Orang yang dicintai karena suatu hal dan dibenci karena suatu hal yang lain.
Maka dalam dirinya terkumpul adanya suatu kebencian dan permusuhan, mereka itu adalah orang yang berbuat kemaksiatan dari kalangan kaum mukminin. Mereka dicintai karena ada pada mereka keimanan dan dibenci karena ada pada mereka kemaksiatan yang bukan termasuk kakafiran dan kemusyrikan.

Mencintai mereka dengan konsekwensi menasehati mereka dan mengingkari perbuatan maksiat yang mereka lakukan, bahkan harus mengingkarinya, agar mereka disuruh kepada yang baik dan dilarang dari kemungkaran. Dan hendaknya ditegakkan atas mereka hukum-hukum serta ancaman ancaman sehingga mereka jera dari kamaksiatan dan bertaubat dari kejahatan.

Akan tetapi mereka tidaklah dibenci dengan kebencian yang sepenuhnya dan berlepas diri dari mereka, sebagaimana dikatakan khawarij dalam masalah orang yang melakukan dosa besar yang tidak sama dengan perbuatan syirik. Mereka juga tidak dicintai dan diberi kesetiaan sebagaimana yang dikatakan murji’ah, tetapi hendaknya adil dalam melihat urusan mereka, sebagimana yang diketahui dalam mazhab Ahlussunnah wal jama’ah.

Suatu kecintaan yang didasarkan karena Allah, dan kebencian karena Allah adalah tali yang sangat kuat dalam keimanan, dan seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya di hari kiamat. Demikian dijelaskan dalam sebuah hadits. Situasi dan keadaan telah berubah, kini kebanyakan manusia setia dan memusuhi karena urusan dunia. Mereka berwala’ terhadap orang yang memiliki kekuasaan kenikmatan dunia meski orang tersebut adalah musuh Allah, Rasul-Nya dan agama Islam. Sedang orang yang tidak memiliki nasib baik duniawi, mereka memusuhinya, meski orang tersebut adalah wali Allah dan setia terhadap Rasul-Nya, bahkan dikarenakan sebab yang sepele mereka mengucilkannya dan menghinakannya.

Abdullah bin Abbas Radiyallahu 'anhu berkata : “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berwala’ karena Allah dan memusuhi karena Allah, (maka ketahuilah) memang wilayah Allah itu hanya bisa dicapai dengan perbuatan itu. Dan umumnya manusia mengikat tali persaudaraan karena perkara dunia. Yang demikian itu tidaklah mendatangkan suatu manfaat pun bagi pelakunya.”

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah t bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda :
إن الله تعالى قال : من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب.
“Sesunguhnya Allah berfirman : ‘Barangsiapa memusuhi waliKu, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang padanya.” (HR. Al-Bukhari).

Orang yang paling memusuhi Allah adalah orang yang memusuhi sahabat Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam , mencela dan merendahkan martabat mereka, padahal Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam telah bersabda :
ألله ألله في أصحابي لا تتخذوهم غرضا، فمن آذاهم فقد آذاني، فمن آذاني فقد آذى الله، ومن آذى الله يوشك أن يأخذه.
“Demi Allah, demi Allah, dalam perkara sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (cemoohan dan ejekan), barangsiapa menyakiti mereka maka sungguh dia telah menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku maka sungguh ia telah menyakiti Allah, dan barangsiapa menyakiti Allah dikhawatirkan Allah akan menyiksanya.”

Sikap mengejek dan memusuhi sahabat Nabi r kini telah menjadi agama dan akidah bagi sebagian golongan dan kelompok sesat.

Kita berlindung kepada Allah dari kemurkaannya dan pedih siksanya. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah atas Nabi Muhammad, para keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikutinya dengan baik.

(Dinukil dari Kitab Al Wala' dan Al Bara', Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Mufti Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Lembaga Tetap Kajian Ilmiyah dan Fatwa Saudi Arabia)
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: wala wal bara

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik