FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Pandangan Islam Mengenai Tasawuf

View previous topic View next topic Go down

Pandangan Islam Mengenai Tasawuf

Post by keroncong on Thu Nov 15, 2012 4:50 am

Di zaman para sahabat Nabi saw, kaum Muslimin serta pengikutnya mempelajari tasawuf, agama Islam dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, tanpa kecuali. Tiada satu bagian pun yang tidak dipelajari dan dipraktekkan, baik lahir maupun batin; urusan dunia maupun akhirat; masalah pribadi maupun kemasyarakatan, bahkan masalah yang ada hubungannya dengan penggunaan akal, perkembangan jiwa dan jasmani, mendapat perhatian pula.

Timbulnya perubahan dan adanya kesulitan dalam kehidupan baru yang dihadapinya adalah akibat pengaruh yang ditimbulkan dari dalam dan luar. Dan juga adanya bangsa-bangsa yang berbeda paham dan alirannya dalam masyarakat yang semakin hari kian bertambah besar. Dalam hal ini, terdapat orang-orang yang perhatiannya dibatasi pada bagian akal, yaitu Ahlulkalam, Mu'tazilah. Ada yang perhatiannya dibatasi pada bagian lahirnya (luarnya) atau hukum-hukumnya saja, yaitu ahli fiqih. Ada pula orang-orang yang perhatiannya pada materi dan foya-foya, misalnya orang-orang kaya, dan sebagainya.

Maka, pada saat itu, timbullah orang-orang sufi yang perhatiannya terbatas pada bagian ubudiah saja, terutama pada bagian peningkatan dan penghayatan jiwa untuk mendapatkan keridhaan Allah dan keselamatan dari kemurkaan-Nya. Demi tercapainya tujuan tersebut, maka diharuskan zuhud atau hidup sederhana dan mengurangi hawa nafsu. Ini diambil dari pengertian syariat dan takwa kepada Allah.

Disamping itu, kemudian timbul hal baru, yaitu cinta kepada Allah (mahabatullah). Sebagaimana Siti Rabi'ah Al-Adawiyah, Abu Yazid Al-Basthami, dan Sulaiman Ad-Darani, mereka adalah tokoh-tokoh sufi. Mereka berpendapat sebagai berikut:

"Bahwa ketaatan dan kewajiban bukan karena takut pada neraka, dan bukan keinginan akan surga dan kenikmatannya, tetapi demi cintanya kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya, supaya dekat dengan-Nya."

Dalam syairnya, Rabi'ah Al-Adawiyah telah berkata:

"Semua orang yang menyembah Allah karena takut akan neraka dan ingin menikmati surga. Kalau aku tidak demikian, aku menyembah Allah, karena aku cinta kepada Allah dan ingin ridhaNya."

Kemudian pandangan mereka itu berubah, dari pendidikan akhlak dan latihan jiwa, berubah menjadi paham-paham baru atas Islam yang menyimpang, yaitu filsafat; dan yang paling menonjol ialah Al-Ghaulu bil Hulul wa Wahdatul-Wujud (paham bersatunya hamba dengan Allah).

Paham ini juga yang dianut oleh Al-Hallaj, seorang tokoh sufi, sehingga dihukum mati tahun 309 H. karena ia berkata, "Saya adalah Tuhan."

Paham Hulul berarti Allah bersemayam di dalam makhluk-Nya, sama dengan paham kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih.

Banyak di kalangan para sufi sendiri yang menolak paham Al-Hallaj itu. Dan hal ini juga yang menyebabkan kemarahan para fuqaha khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya.

Filsafat ini sangat berbahaya, karena dapat menghilangkan rasa tanggung jawab dan beranggapan bahwa semua manusia sama, baik yang jahat maupun yang baik; dan yang bertauhid maupun yang tidak, semua makhluk menjadi tempat bagi Tajalli (kasyaf) Al-Haq, yaitu Allah.

Dalam keadaan yang demikian, tentu timbul asumsi yang bermacam-macam, ada yang menilai masalah tasawuf tersebut secara amat fanatik dengan memuji mereka dan menganggap semua ajarannya itu baik sekali. Ada pula yang mencelanya, menganggap semua ajaran mereka tidak benar, dan beranggapan aliran tasawuf itu diambil dari agama Masehi, agama Budha, dan lain-lainnya.

Secara obyektif bahwa tasawuf itu dapat dikatakan sebagai berikut: "Tasawuf ada dalam Islam dan mempunyai dasar yang mendalam. Tidak dapat diingkari dan disembunyikan, dapat dilihat dan dibaca dalam Al-Qur'an, Sunnah Rasul saw. dan para sahabatnya yang mempunyai sifat-sifat zuhud (tidak mau atau menjauhi hubudunya), tidak suka hidup mewah, sebagaimana sikap khalifah Umar r.a, Ali r.a, Abu Darda', Salman Al-Farisi, Abu Dzar r.a. dan lainnya."

Banyak ayat Al-Qur'an yang menganjurkan agar mawas diri dari godaan yang berupa kesenangan atau fitnah dunia.

Tetapi hendaknya selalu bergerak menuju ke jalan yang diridhai oleh Allah swt. dan berlomba-lomba memohon ampunan Allah swt, surga-Nya dan takutlah akan azab neraka. Dalam Al-Qur,an dan hadis Nabi saw. juga telah diterangkan mengenai cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya dan cinta hambaNya kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur,an:

"Adapun orang-orang yang beriman cintanya sangat besar kepada Allah ..." (Q.s. Al-Baqarah: 165).

"... Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya ..." (Q.s. Al-Maidah: 54).

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjihad di jalan Allah dalam barisan yang teratur (tidak tercerai-berai) ..." (Q.s. Ash-Shaff: 4).

Diterangkan pula dalam Al-Qur'an dan hadis mengenai masalah zuhud, tawakal, tobat, syukur, sabar, yakin, takwa, muraqabah (mawas diri), dan lain-lainnya dari maqam-maqam yang suci dalam agama.

Tidak ada golongan lain yang memberi perhatian penuh dalam menafsirkan, membahas dengan teliti dan terinci, serta membagi segi-segi utamanya maqam ini selain para sufi. Merekalah yang paling mahir dan mengetahui akan penyakit jiwa, sifat-sifatnya dan kekurangan yang ada pada manusia, mereka ini ahli dalam ilmu pendidikan yang dinamakan Suluk.

Tetapi, tasawuf tidak berhenti hingga di sini saja dalam peranannya di masa permulaan, yaitu adanya kemauan dalam melaksanakan akhlak yang luhur dan hakikat dari ibadat yang murni semata untuk Allah swt. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi, yaitu: "Ilmu tasawuf itu, kemudian akan meningkat ke bidang makrifat perkenalan, setelah itu ke arah khasab ungkapan dan karunia Allah. Hal ini diperoleh melalui pembersihan hati nurani.

Akhirnya, dengan ditingkatkannya hal-hal ini, timbullah penyimpangan, tanpa dirasakan oleh sebagian ahli sufi." Di antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang-orang sufi adalah sebagai berikut:

   Dijadikannya wijid (perasaan) dan ilham sebagai ukuran untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat dijadikan ukuran untuk membedakan antara yang benar dan salah. Sehingga sebagian ada yang berkata, "Aku diberi tahu oleh hati dari Tuhanku (Allah)."

   Berbeda dengan ungkapan dari ahli sunnah bahwa apabila mereka meriwayatkan ini dari si Fulan, si Fulan sampai kepada Rasulullah saw.

   Dibedakannya antara syariat dan hakikat, antara hukum Islam dan yang bebas dari hukumnya.
   Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat mempengaruhi iman dan akidah mereka, dimana manusia mutlak dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi melawan dan selalu bersikap pasif, tidak aktif.
   Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di dunia dianggapnya sepele, padahal ayat Al-Qur,an telah menyatakan: "... dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu (kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia ..." (Q.s. Al-Qashash: 77).

Pikiran dan teori di atas telah tersebar dan dipraktekkan dimana-mana, dengan dasar dan paham bahwa hal ini bagian dari Islam, ditetapkan oleh Islam, dan ada sebagian, terutama dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya.

Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu, selalu menyuruh jangan sampai menyimpang dari garis syariat dan hukum-hukumnya.

Ibnul Qayyim berkata mengenai keterangan dari tokoh-tokoh sufi, "Tokoh-tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin Muhammad (297 H.), berkata, 'Semua jalan tertutup bagi manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi saw.'"

Al-Junaid pun berkata: "Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur'an dan menulis hadis-hadis Nabi saw. maka tidak boleh dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita (tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur'an dan As-Sunnah."

Abu Khafs berkata: "Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah, serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk golongan kaum tasawuf." Abu Yazid Al-Basthami berkata: "Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya."

Kiranya keterangan yang paling tepat mengenai tasawuf dan para sufi adalah sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam menjawab atas pertanyaan, "Bagaimana pandangan ahli agama mengenai tasawuf?"

Ibnu Taimiyah memberi jawaban sebagai berikut, "Pandangan orang dalam masalah tasawuf ada dua, yaitu: Sebagian termasuk ahli fiqih dan ilmu kalam mencela dan menganggap para sufi itu ahli bid'ah dan di luar Sunnah Nabi saw.

Sebagian lagi terlalu berlebih-lebihan dalam memberikan pujian dan menganggap mereka paling baik dan sempurna di antara manusia setelah Nabi saw. Kedua-duanya tidak benar. Yang benar ialah bahwa mereka ini sedang dalam usaha melakukan pengabdian kepada Allah, sebagaimana usaha orang-orang lain untuk menaati Allah swt. Dalam kondisi yang prima di antara mereka, ada yang cepat sampai dan dekat kepada Allah, orang-orang ini dinamakan Minal muqarrabiin (orang-orang yang terdekat dengan Allah), sesuai dengan ijtihadnya; ada pula yang intensitas ketaatannya sedang-sedang saja. Orang ini termasuk bagian kanan: Min ashhaabilyamiin (orang-orang yang berada di antara kedua sikap tadi)."

Di antara golongan itu ada yang salah, ada yang berdosa, melakukan tobat, ada pula yang tetap tidak bertobat. Yang lebih sesat lagi adalah orang-orang yang melakukan kezaliman dan kemaksiatan, tetapi menganggap dirinya orang-orang sufi.

Masih banyak lagi dari ahli bid'ah dan golongan fasik yang menganggap dirinya golongan tasawuf, yang ditolak dan tidak diakui oleh tokoh-tokoh sufi yang benar dan terkenal. Sebagaimana Al-Junaid dan lain-lainnya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.


Baca juga artikel-artikel berikut :
- Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini
- Ulama Mekkah di Samalanga Bireuen, Aceh
- Pengkhianatan Sejarah terhadap Islam


berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik. yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam (MAZMUR 1:1-2).


keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Total Like dan Thanks: 57
Age: 60
Posts: 4222
Location: di rumah saya
Job/hobbies: posting2
Join date: 2011-11-09

Back to top Go down

Re: Pandangan Islam Mengenai Tasawuf

Post by keroncong on Thu Jan 03, 2013 10:28 pm

Muqoddimah : Allah SWT telah menciptakan manusia dengan sesempurna mungkin. Kemudian Allah SWT turunkan para nabi-Nya untuk membimbing mereka kearah jalan yang benar. Seluruh rangkaian kenabian ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW dilengkapi dengan petunjuk Al Qur`an untuk seluruh ummat manusia dimana nabi-nabi sebelumnya hanya diutus kepada kaumnya yang jumlahnya menurut informasi Nabi SAW berjumlah 124.000 nabi alaihissalaam (HR.Bukhori dalam "Tarikh Kabir", Ahmad dalam "Musnadnya",Ibnu Hibban dalam "Mauridnya" dan Abu Nuaim dalam "Hilyahnya"(Manhajid Anbiya`fiddah wal ilallah,Dr.Rabi` bin Hadi Al-Madkholi,Darul Fath, Syariqoh,cet.I,th 1415-1994 H,hal 43). Rasulullah SAW menanamkan Islam kepada pengikutnya di Makkah dan kemudian menyebar ke Madinah selanjutnya berkembang ke semenanjung jazirah Arab sampai wafatnya beliau. Kemudian kendali pemerintahan Islam dilanjutkan oleh para khulafaurrosyidin sehingga da`wah semakin meluas dan penaklukan kota dan negara semakin luas sehingga banyak bergesekan dengan budaya lokal serta adat istiadat non Islam yang tidak jarang pada masa-masa berikutnya terjadi akulturasi ( perkawinan budaya ). Kalau pada abad pertama pertahanan aqidah dan syariat sangat kuat sehingga pengaruh budaya dan pemikiran dari luar Islam tidak dapat mempengaruhi kehidupan ummat Islam. Tetapi pada abad kedua diketemukan nilai-nilai Islam yang semakin mengendor dan kehidfupan semakin mewah, pada saat itu banyak upaya mengadopsi pemikiran dan budaya luar kedalam budaya dan pemikiran Islam. Diantara pemikiran luar yang masuk kedalam budaya Islam adalah tasawuf. Makanya istilah tasawuf tidak dikenal pada generasi pertama, tidak pula tertera dalam Al Qur`an maupun hadits. Sehingga Ibnu Kholdun, sejarawan muslim terkemuka, mengatakan " Sesungguhnya perkembangan tasawuf terjadi pada abad kedua dimana keadaan manusia bergelimang dunia, maka sejumlah orang meninggalkan kemewahan itu dan melakukan hidup zuhud dan ibadah, maka mereka disebut sufiyah"(Muqoddimah Ibnu Kholdun,hal 467 cet.4.(dari Mudhohir Inhirofat Aqodiyah oleh Idris Muhammad Idris,hal35)). Maka para ulama membuat landasan bahwa Islam telah sempurna dan konsep apapun harus diukur dengan Al Qur`an dan As Sunnah, manakala bersesuaian dengan Islam diambil, manakala bertentangan harus ditolak. Demikian halnya dengan tasawuf, marilah kita lihat sejauh mana jauh dekatnya dengan Islam.

Definisi Tasawuf
Para ulama dan peneliti tidak ada yang sepakat asal usul kata tasawuf, paling tidak ada tujuh perbedaan ;

1. Dari kata yang berarti bersih, seperti kata Mahmud Amin An-Nawawy, Artinya; "Segolongan ahli tasawuf berkata: bahwasanya pemberian nama menjadi sufiyah, karena kesucian rahasianya (hatinya) dan kebersihan kelakuannya."

2. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang bentuk jama`nya berarti shaf atau barisan. Hal ini sesuai dengan keterangan Mahmud Amin An-Nawawy yang mengatakan :" Segolongan (Ulama Tasawuf) berkata; bahwasanya mereka menamakan shufiyah, karena mereka berada pada posisi shaf yang terdepan disisi Allah `Azza Wa Jalla, dengan ketinggian cita-citanya (untuk mengahadap) kepada-Nya dan (keinginan) untuk bertemu dengan-Nya serta hatinya selalu tegak disisi-Nya."

3. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada perkataan yang diberikan kepada orang-orang Shufi dimasa Rasulullah SAW, karena mereka menempati gubuk-gubuk yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW disekitar masjid Madinah. Hal ini sesuai dengan keterangan Abul`Alaa`Afiefy yang mengatakan :"(Istilah) Shufi, berkaitan dengan (perkataan) Ahlush Shuffah; yaitu nama yang dikhususkan kepada beberapa Fakir-Muslim pada masa permulaan Islam. Mereka itu termasuk orang-orang yang tidak memiliki rumah. Maka mereka menempati gubuk yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW diluar Masjid Madinah".

Tetapi Mahmud Amin An-Nawawy mengatakan :"Segolongan (Ulama Tasawuf) berkata: Bahwasanya mereka menamakan dirinya Shufiyah, karena sifat-sifatnya mirip dengan sifat-sifat Ahlus Shuffah yang (hidup) dimasa Rasulullah SAW ".

4. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang artinya bulu atau wol. Karena orang-orang Tasawuf pada umumnya mengkhususkan dirinya dengan memakai pakaian yang berasal dari bulu domba. Hal ini dikatakan oleh Qusyairy :" Adapun orang-orang yang mengatakan bahwa (kata sufi itu) berasal dari kata Shuuf adalah dia berpakaian Shuuf (wol) jika ia memakai baju bulu; sebagaimana dikatakan, dia berpakaian kemeja bila memakai kemeja".

5. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang artinya pilihan (terbaik). Hal ini, dikatakan oleh Yusuf bin Al-Husein :"Setiap umat terdapat orang-orang pilihan (terbaik) ; dan mereka adalah titipan Allah yang tersembunyi dari makhluk-Nya Apabila terdapat orang-orang tersebut pada ummat ini (Islam), maka mereka itulah (yang dimaksudkan) Shufiyah".

6. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada keterangan (sifat) Karena pada umumnya orang-orang tasawuf menonjolkan dirinya dengan menunjukkan sifat-sifatnya yang terpuji. Hal ini, diterangkan oleh Mahmud Amin An-Nawawy :" Pernah Asy Syibly ditanya: Mengapa orang-orang Shufi dinamakan Shufi ? Ia menjawab : Karena padanya terlukis adanya gambaran (hati nurani) dan ketetapan sifat (yang terpuji)?..

7. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kedalam bahasa Yunani; dari kata "Sopos" atau "Sapis", yang dapat diartikan dengan "Ahli Mistik". Hal ini sesuai dengan keterangan Yoseph Founhamer dan Tholuck yang diterjemahkan oleh Abul `Alaa `Afiefy kedalam bahasa Arab, yang artinya :" ?dan sesungguhnya ada dua macam kata bahasa Arab "Shufiyyu" dan "Shaafiyyu" bersumber dari kata asli bahasa Yunani, dari kata "Sopos" dan "Sapis" ".

Banyak penulis lebih cenderung mengambil pendapat Al-Qusyairy sebagai pendapat yang paling kuat dari seluruh pendapat tersebut dimuka. Karena pada umumnya orang-orang memberikan nama panggilan kepada orang lain berdasarkan kebiasaan lahiriah yang paling menonjol padanya; misalnya pakaiannya. Karena ciri khas yang paling menonjol dan gampang diketahui pada orang Tasawuf adalah pakaian wolnya, maka ia dinamakan Shufi (pemakai bulu). (kuliah akhlak tasawuf, Drs. Mayuddin, hal. 49-54 dengan saduran)

Sejarah perkembangan Tasawuf
Sebagaimana telah kami kemukakan didepan bahwa istilah tasawuf tidak dikenal dimasa Nabi SAW dan para sahabatnya. Tetapi yang dikenal adalah zuhud (menjadikan dunia untuk akhirat) dan wara` (menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak akhirat). Istilah sufi pertama kali digunakan yaitu kepada Abu Hasyim Al Kufi (wafat th 150 H) dan ia orang yang pertama kali membangun tempat ibadah khusus bagi sufi (disebut Khoniqoh) di Ramlah, wilayah Syam (Palestina sekarang). Meskipun demikian orang sufi selalu menisbatkan tasawuf kepada Nabi SAW melewati Ali dilanjutkan oleh Hasan Al-Basri dst.

Sederetan nama sahabat yang menjadi rujukan ahli tasawuf ; Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Miqdad bin Al Aswad,dll.

Kemudian pada masa tabiin terkenal nama Hasan Al Basri (w.110 H) dan Sofyan Al-Tsauri (w.161 H). Baru kemudian murid-murid Abdul Wahid bin Yazid pengikut Hasan Al Basri membangun tempat khusus untuk warga sufi disebut duwairah, demikian pendapat Ibnu Taimiyah (Al Fatawa 11/hal 6-7).

Pada abad kedua dikenal nama-nama Ibrahim bin Adham Al Balakhi (w.160/162 H) dan Rabiah Al Adawiyah (w.135 H). Ciri menonjol pada pengikut Hasan Al Basri adalah rasa takut yang berlebih kepada Allah selain zuhud dan banyak ibadah, sementara pada Rabiah Al Adawiyah lebih menonjol rasa muhabbah (cinta) kepada Allah SWT. Sementara para ulama menyebutkan perlunya keseimbangan agar tidak menyimpang, kata mereka "Barang siapa menyembah Allah SWT hanya dengan rasa muhabbah saja dia menjadi zindik, barangsiapa menyembah Allah SWT hanya dengan rasa takut maka dia menjadi khawariij dan barang siapa menyembah Allah SWT dengan harapan (raja') maka dia menjadi murjiah dan barang siapa menyembah Allah SWT dengan cinta, rasa takut dan harapan maka ia mukmin sejati". (Fatawa Ibnu Taimiyah 10/hal 81).

Pada abad ketiga tasawuf semakin solid dan berkembang dengan tokoh sentral Abu Sulaiman Addaaroony (w.215 H), Ahmad Al Hawary (w.230 H), Abul Faidh Zunnun Al Misri (w.245 H), Bisyir Al Hafi (w.227 H), Abu Bakar Al-Syibli (w.234 H) , Al Haris Al Muhasibi (w.247 H), Assirri Assiqthi (w.251 H), Abul Yazid Al Busthami (w.261 H), Al-Junaid (w.297 H) dan Al Hallaj (w.309).

Pada masa ini dan sesudahnya tasawuf berkembang menjadi kelompok-kelompok yang ditokohi oleh seorang syaikh. Seperti diungkap oleh Al Hajwairi (w.465 H) :" Pada masa itu lahirlah tarekat-tarekat sufi berjumlah duabelas dan masing-masing menisbatkan dirinya kepada seorang syaikh dari syaikh-syaikh abad tiga dan empat". (Kasyful Mahjub 1/hal 58)

Pada abad keempat tasawuf lebih berkembang lagi sehingga mereka menyebutkan dirinya sebagai ahli hakekat/ bathin, sementara ulama lain terutama ulama fiqh disebut sebagai ahli dhohir. Pada masa inilah trend sufi ditetapkan mempunyai empat tahapan atau empat ilmu ;

Ilmu syariah
Ilmu Tariqoh
Ilmu Hakekat
Ilmu Ma`rifat

Pada abad kelima dan seterusnya tasawuf sangat dipengaruhi oleh paham syiah dan filsafat.

Ajaran Sufi
Ajaran sufi mengandung usaha mujahadah dan riyadhoh dimana seorang salik (penuntut ilmu sufi) harus melewati maqomat dan ahwaal. Maqomat menurut Assarraj Aththusi dalam kitab Alluma`, yaitu kondisi ketaatan seorang hamba dihadapan Allah .Maka dia menyebut maqom (stasiun) berupa : taubat, wara`(menjaga makanan dari syubhat), zuhud (hatinya tidak bergantung kepada dunia, faqir, sabar, ridho`, tawakkal dll). Kemudian salik akan mendapatkan ahwaal yaitu kondisi hati yang bersih karena banyak berdzikir berupa muroqobah (menyadari diri bahwa dia diperhatikan Allah , merasa dekat, cinta, rasa takut, rasa harap, rindu, rasa senang menyendiri dengan Allah (Al-uns) , tenang, menyaksikan kebesaran Allah ,yakin dll.

Ajaran sufi yang paling banyak ditentang adalah konsep hulul yang dicetuskan oleh Abu Yazid Al Busthami (w.261 H), dimana Allah masuk kedalam diri seorang sufi sehingga dia mengucapkan syatahat yaitu ungkapan-ungkapan irrasional yang tidak bisa dipahami layaknya orang gila. Hal itu ditentang oleh para ulama karena dianggap bertentangan dengan aqidah Islam, dan ajaran seperti itu tidak dikenal dimasa Nabi SAW dan para sahabatnya. Konsep kedua yang ditentang adalah wihdatul wujud (manunggaling ing kawula gusti) menyatu dengan Allah SWT. Konsep ini dicetuskan oleh Al Hallaj (w.309 H) yang ditentang oleh ulama-ulama dimasanya kemudian dia diajukan kepengadilan karena tidak mau bertaubat akhirnya dihukum mati. Dan ajaran ini dikembangkan oleh Mahyuddin Ibnu Arabi dan dia dikafirkan oleh para ulama yang berjumlah lebih dari 37 orang ulama besar termasuk imam Nawawi. Diantara ajaran/ pendapat Ibnu Arabi dan pengikutnya antara lain ;

Wali lebih tinggi dari Nabi (Masra`:22)
Untuk sampai kepada Allah , tidak perlu mengikuti ajaran Nabi (Syara`). (Masra`:20).
Semua ini adalah Allah , tidak ada nabi/Rasul atau malaikat. Allah adalah manusia besar (Fushush-al Hukm:48,Masra`tasawuf:38)
Tidak sah khilafah kecuali insan kamil
Allah membutuhkan pertolongan makhluk ( Fushush-al Hukm:58-59)
Nabi Nuh A.s termasuk orang kafir (Masra`tasawuf:46-47)
Da`wah kepada Allah adalah tipu daya (Fushush-al Hukm:772/Masra`:66)
Al Haq adalah Al Khalq (Masra`:62)
Kesatuan muthlaq adalah agamanya (yang benar).
Hukum alam adalah Allah itu sendiri.(Masra`:70)
Hamba adalah Tuhan (Fushush-al Hukm:92-93,Masra`:75)
Neraka adalah syurga itu sendiri (Fushush-al Hukm:93-94)
Al Qur`an mempunyai dua arti yaitu lahir dan batin
Dalam anggapannya, dia berkumpul dengan para nabi
Perbuatan hamba adalah perbuatan Allah itu sendiri (Fushush-al Hukm:143)
Ad-Dhal (orang yang sesat) adalah al-muhtadi (yang mendapat petunjuk), Al Kafir adalah Al Mukmin.(Masra`108)
Orang-orang kafir tidak akan diazab oleh Allah sama sekali.( Fushush-al Hukm 116,Masra` 109)
Kebenaran berjalan atas unsur-unsur kebendaan/alam.( Fushush-al Hukm:181,Masra`111)
Hawa nafsu adalah Tuhan terbesar
Fir`aun adalah mukmin dan terbebas dari siksa neraka (Fushush-al Hukm 214)
Wanita adalah Tuhan (Fushush-al Hukm 216,Masra` 143)
Hakekat ke-Tuhanan tampak jelas dan utuh, pada Nabi-nabi a.s
Fir`aun adalah Tuhan Musa (Fushush-al Hukm 209, Masra` 122)
dll

Demikianlah pendapat-pendapat Ibnu Arabi dan pengikut-pengikutnya, yang kacau balau, dan jelas bertentangan dengan Al Qur`an dan sunnah, bertebaran dalam kitab-kitab yang mereka tulis. (Tentang Ibnu Arabi dan Syaitan Masuk Surga, Yayasan Al-Qalam, hal. 3-4)


berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik. yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam (MAZMUR 1:1-2).


keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Total Like dan Thanks: 57
Age: 60
Posts: 4222
Location: di rumah saya
Job/hobbies: posting2
Join date: 2011-11-09

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum