FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

konsepsi islam tentang manusia

View previous topic View next topic Go down

konsepsi islam tentang manusia

Post by keroncong on Fri Nov 18, 2011 12:44 pm

Pengkajian masalah manusia selalu menarik perhatian. Sebab sebagaimana kita ketahui, manusia adalah makhluq yang unik dan istimewa dibandingkan yang lainnya. Manusia adalah makhluq yang dikaruniai akal, dan akal itulah yang menentukannya sebagai makhluq yang tertinggi dan membedakannya dari makhluq yang lain. Firman Allah ta’ala :

“Sungguh telah Kami ciptakan manusia itu dalam sebaik-baik bentuk”. (QS. At-Tiin : 4)

Sejak zaman dahulu hingga sekarang, orang sudah sering berpikir tentang manusia. Sejingga bermacam teori muncul, yang semuanya mencoba membahas tentang hakikat manusia. Siapakah manusia itu ? Unsur atau potensi apa saja yang mempengaruhi aktivitas atau perbuatannya, baik ataupun buruk ? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang lain yang dapat diajukan. Semuanya menuntut jawaban yang memuaskan akal, menenteramkan jiwa dan sesuai dengan fitrah manusia. Dengan demikian diharapkan manusia terbimbing hidupnya. Sebab setelah ia menyadari potensi yang terdapat di dalam dirinya, ia akan mampu mengendalikan kecenderungan-kecenderungan yang lahir dari naluri-naluri yang memang secara inheren ada pada dirinya sesuai dengan syari’at yang diturunkan oleh Allah kepada manusia.


Siapakah Manusia itu ?

lslam secara pasti telah menjelaskan bahwa manusia adalah makhluq ciptaan Allah. Adam adalah sebagai manusia pertama yang diciptakan-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an,

“…Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya : “Jadilah “ (seorang manusia), maka jadilah ia.” (QS. Ali Imran : 59)

Demikian pula firman-Nya,

“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. Al-Hijr : 26)

Untuk selanjutnya, keturunan Adam diciptakan dari nutfah (mani) yang bersatu. Sebagaimana firman-Nya,

“Dia telah menciptakan manusia dari nutfah, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (QS. An-Nahl : 4)

Dari uraian tersebut, yang perlu diingat oleh manusia adalah bahwa manusia diciptakan oleh Allah, bukan melulu terjadi karena proses biologis. Penjelasan asal-usul manusia sebagai proses biologis tanpa menyertakan peran Allah sebagai sang Kholiq haruslah dihindari dan sangat tercela. Karena penjelasan tersebut hanya akan melucuti aqidah Islamiyyah seorang muslim dan menghilangkan aspek ruhaniyyah pada segala ciptaan Allah Swt.

Adalah Lamarck, seorang biolog perancis (1744-1829) dan Charles Darwin (1809-1882) biolog asal Inggris, yang mencoba menjelaskan asal-usul manusia. Atas nama ilmiah mereka mngutarakan teori evolusi ke dalam benak ummat manusia. Banyak yang terpengaruh dengan teori tersebut, tidak terkecuali ummat Islam yang imannya kurang begitu mendalam. Sampai saati ini teori-teori tersebut masih juga dijadikan sebagai bagian dari mata pelajaran di lembaga pengajaran/pendidikan di negeri-negeri muslim. Teori ini oleh Barat disebarluaskan dengan maksud untuk mendangkalkan aqidah kaum muslimin terhadap proses penciptaan manusia. Tercatalah buku-buku Darwin dan Lamarck, antara lain “The Origin of The Species by Mean of Natural Selection” (tahun 1851).

Bagi kita, melalui ayat-ayat Al-Qur’an yang Agung, telah jelas dari apa dan bagaimana manusia diciptakan. Misalnya, dalam ayat-ayat Al-Qur’an dijelaskan segumpal darah (QS. Al-Alaq : 2), air mani yang terpancar (Ath-Thaariq : 6), dan lain-lain.

Itulah manusia, makhluq yang memiliki kemuliaan. Allah Swt sendiri telah membedakan manusia dari makhluq lainnya dengan memberinya kemampuan berpikir, di mana berpikir merupakan sumber dari kesempurnaan , serta puncak dari segala kemuliaan dan ketinggian di atas makhluq-makhluq yang lain.
Manusia dan segenap potensinya

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah, segumpal darah, air mani, dan lain-lain. Dan dari bahan yang demikian hina tersebut, ternyata manusia memiliki sesuatu yang disebut potensi kehidupan (ath-thoqotu al-hayawiyyah), yang selalu mendorongnya untuk melakukan aktivitas dan menuntut pemuasan. Potensi tersebut ada dua, yaitu :

1. Kebutuhan-kebutuhan fisik (al-hajatu al-‘udlwiyyah) yang menuntut pemuasan yang cepat, dan apabila tidak terpenuhi, manusia akan mati. Misalnya, tidur, makan, minum, dan sebagainya,

2. Naluri (al-ghoriizah), yang juga menuntut pemuasan, akan tetapi apabila tidak terpenuhi tidak mengakibatkan kematian. Hanya saja akan menimbulkan kegelisahan dan ketidaktenangan sampai akhirnya terpenuhi. Ada tiga jenis ghorizah yang ada pada manusia, yaitu : naluri terhadap lawan jenis (al-ghorizatu an-nau’), naluri mempertahankan diri (al-ghorizatu al-baqa’), dan naluri beragama (al-ghorizatu at-tadayyun).

Dilihat dari cara pemenuhannya, dorongan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisik berasal dari dalam (internal = dahiliyy). Misalnya, sesorang yang ingin makan, sesuatu yang menyebabkannya adalah rasa lapar yang ada pada dirinya sendiri. Jadi, meskipun ada makanan yang lezat-lezat, kalai tidak ada rasa lapar, maka seseorang itu tidak akan memakan makanan tersebut.

Sedangkan pada ghoroiz (j. ghorizah, edt.), dorongannya berasal dari luar (eksternal = kharijiyy), berupa pemikiran-pemikiran, sesuatu yang dapat diindra, dan sesuatu yang dapat membangkitkan perasaan. Misalnya, seorang akan bangkit naluri terhadap lawan jenisnya manakala ia melihat wanita cantik, melamunkan kekasihnya, atau hal-hal yang lain yang berkaitan dengan itu.

Penampakan dari al-ghorizatu an-nau’ antara lain dengan adanya kecenderungan kepad lawan jenis, rasa sayang, rasa cinta, dan sejenisnya. Hal ini dapt dibuktikan dengan adanya kebutuhan manusia akan perkawinan, keinginan berketurunan, dan adanya rasa kasing sayang antar sesama manusia.

Namun demikian, dalam memenuhi nalurinya ini, manusia membutuhkan aturan yang haq, bersumber dari penciptanya. Karena itu syari’at Islam datang dengan membawa An-Nizhomu Al-Ijtima’iyyah (sistem kemasyarakatan) untuk mengatur hal tersebut.

Sedangkan dengan al-ghorizatu al-baqa’ yang menyebabkan kecenderungan untuk mempertahankan diri, manusia mempunyai rasa takut, rasa ingin dipuji, serakah, ingin berkuasa, dan sebagainya. Bukti bahwa manusia memiliki al-ghorizatu al-baqa’ dapat dilihat dengan adanya kebutuhan manusia untuk bekerja, menjaga diri, memiliki kekayaan, khawatir tergeser jabatannya, dan lain-lain.

Adanya al-ghorizatu al-baqa’ ini juga membutuhkan suatu pengaturan tertentu. Oleh karena itu, syari’at Islam juga menetapkan An-Nizhomu Al-Iqtishodiyyah (Sistem Ekonomi), An-Nizhomu As-Siyasah (Sistem Politik), dan lain sebagainya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah al-ghorizatu at-tadayyun. Dengan adanya naluri ini, manusia mempunyai rasa kagum (ta’jub) apabila melihat sesuatu yang luar biasa dan mengagumkan. Rasa ta’jub ini merupakan penampakan naluri beragama yang paling sederhana, yang bila dibiarkan dan diteruskan akan menimbulkan ketundukan dan rasa ingin menyembah sesuatu yang menakjubkan tersebut. Sehingga tidak mengherankan bila pada zaman dahulu banmyak di antara ummat manusia yang menyembah matahari, api, pohon, manusia, dan lain-lain. Atau pada masa sekarang, banyak manusia yang menghambakan dirinya pada kekuasaan, ideologim teknologi, uang, dan sebagainya. Semuanya bermula dari rasa kagum dan adanya dorongan untuk memuaskan al-ghorizatu at-tadayyun-nya.
Hajat Manusia akan Agama

Naluri beragama adalah sesuatu yang pasti ada pada setiap manusia, apabila dihambat pelaksanaannya, pastilah akan berontak. Masih adanya jutaan kaum muslimin dinegeri atheis saat ini merupakan bukti kuatnya naluri tersebut. Meskipun senantiasa ditindas dan dilarang, karena kuatnya dorongan yang ada, bagaimanapun juga syari’at tetap dijalankan.

Adapun orang-orang yang mengatakan tidak mau beragama atau menganggap Tuhan itu tidak ada, bukanlah berarti naluri beragama mereka lenyap. Yang sebenarnya, mereka masih meiliki naluri tersebut, akan tetapi mereka meindahkan penyembahannya pada sesuatu selain Allah, baik disadari ataupun tidak. Sebenarnya apabila ditunjukkan kepada mereka kebenaran Islam dan eksistensi Allah sebagai pencipta dan pengatur alam ini, disertai dengan bukti-bukti yang meyakinkan, serta mereka mau mempergunakan akalnya untuk mempelajari dan memahaminya, maka dengan mudah mereka akan menerimanya. Sebab Islam adalah agama yang masuk akal, dan apa yang ada dalam ajaran-ajarannya, semuanya dapat diterima oleh akal.

Rasulullah Saw. bersabda :

“Agama adalah akal. Dan tidak ada agama bagi orang tidak berakal.”

Yang jelas menjadi kafir itu lebih sulit dari apada beriman. Sebab untuk menjadi kafir, manusia harus berusaha keras menentang dan melawan tuntutan naluri beragamanya.


berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik. yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam (MAZMUR 1:1-2).


keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Total Like dan Thanks: 57
Age: 60
Posts: 4218
Location: di rumah saya
Job/hobbies: posting2
Join date: 2011-11-09

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum