FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

sistem islam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

sistem islam

Post by keroncong on Fri Nov 18, 2011 12:46 pm

Islam adalah agama yang diturunkan Allah untuk seluruh alam, mengatur hubungan antara manusia dengan Kaholiqnya, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan Kholiqnya mencakup permasalahan-permasalahan aqidah dan ibadah, antara manusia dengan dirinya mencakup akhlaq, masalah pakaian dan makanan, antara manusia dan sesamanya mencakup mu’amalah dan uqubat (sanksi). Demikianlah lengkapnya ajaran Islam, mengatur segala aspek kehidupan manusia, sehingga tidaklah mengherankan bila Islam dijadikan sebagai pandangan hidup ummat manusia.

Islam menjadi pedoman bagi seluruh masalah kehidupan. Islam bukanlah agama kerahiban, yang dapat menimbulkan otokrasi agama. Oleh karena itu dalam Islam tidak ada sekelompok orang yang melulu memikirkan masalah ritualitas keagamaan, sedangkan sekelompok yang lain hanya berkutat dengan permasalahan-permasalahan politik, pemerintahan dan kehidupan duniawi. Semua orang yang telah meilih Islam sebagai agamanya memiliki kedudukan yang sama, tidak ada pembedaan antara tokoh rohani maupun tokoh pemerintahan. Yang mebedakan di antara pemeluk Islam hanyalah sejauh mana ketaqwaannya kepada Allah Swt., bukan warna kulit, kekayaan, jabatan, keturunan ataupun yang lainnya.



Konsep Dasar Nizhom Islam

Aspek ruhiyah adalah keadaan sesuatu sebagai makhluq di ahdapan Allah, Al-Kholiq dan tunduk di bawah aturan-aturan-Nya. Dengan pandangan yang jernih serta mendalam mengeanai Alamsemesta, kehidupan dan manusia, serta apa yang ada di sekitarnya dan keterkaitannya, kita dapat membuktikan bersama-sama bahwa semuanya adalah makhluq Allah yang tunduk di abawah aturan-aturan-Nya. Di samping itu, kenyataan tersebut menmperlihatkan bahwa manusia itu makhluq yang serba berkekurangan, lemah dan selalu memerlukanterhadap yang lain. Oleh karena itu, dalam mengarungi kehidupan dunia ini, manusia membutuhkan suatu sistem (nizhom) untuk mengatur segala kebutuhan fisik maupun nalurinya. Aturan tersebut tentunya tidak layak jika berasal dari manusia itu sendiri, tetapi harus berasal dari yang menciptakannya, karena Dia Maha Tahu terhadap segala sesuatu yang melekat pada setia diri manusia. Dengan demikian, mau atau pun tidak manusia harus tunduk dan menyelaraskan seluruh aktivitasnya dengan sistem dari Al-Kholiq tersebut.

Dalam melaksanakan sistem (nizhom) dari Allah, manusia tentunya harus benar-benar meyakini bahwa sistem tersebut berasal dari-Nya, karena tanpa keyakinan yang kuat bahwa sistem tersebut dari Allah, maka tidak ada aspek ruhiyyah yang mengiringinya dalam melakukan suatu aktivitas. Tidak boleh melakukan aktivitas amal hanya dengan berdasarkan aaspek kemanfaatan belaka. Sebab dalam melaksanakn segal amal perbuatannya, manusia harus senantiasa menyesuaikan dengan perintah dan larangan-Nya, yang terentuk dari pemahamannya terhadap hubungan antara dirinya dengan Allah, sehingga terdapat ruh di dalam aktivitas tersebut.

Ruh adalah pemahaman manusia akan hubungannya dengan Allah[1]. Adapun makna peleburan ruh dan materi adalah adanya pemahaman seseorang akan hubungannya dengan Allah pasaat melakukan aktivitasnya. Aktivitas (perbuatan) merupakan materi, dan pemahaman manusia akan hubungannya dengan Allah meupakan ruhnya.

Dengan mengetahui adanya peleburan antara ruh dan materi tersebut, diharapkan manusia akan senatiasa melakukan aktivitas yang sesuai dengan perintah dan larangan Allah.

Dari uraian tersebut, maka tidak ada ruh maupun peleburan ruh danmateri dalam setiap aktivitas orang-orang non muslim, meskipun sesuai dengan syari’at Islam. Sebab mereka beriman dan juga tidak memahami hubungannya dengan Allah, dan aktivitasnya yang sesuai dengan syari’at Islampun boleh jadi hanya karena kekagumannya dengan kehebatan hukum-hukum Islam. Berbeda dengan seorang muslim yang dalam mengambil dan menerapkan syari’at Islam mendasarkan diri pada pemahamnnya akan hubungannya dengan Allah, dan mempunyai tujuan yang pasti, yakni mengharapkan keridloan Allah.



Konsep Nizhom dalam agama Kristen

Sebagian agama berpendapat bahwa dalam alam semesta ada bentuk inderawi (mahshush) dan abstrak (ghoiru mahshush), dalam diri manusia ada ketinggian ruh dan jasmani, dan dalam kehidupan ada aspek materi dan spirit (ruhiyyah). Mereka berpendapat bahwa hal-hal yang inderawi bertentangan dengan yang abstrak, ketinggian ruh tidak akan pernah bertemu dengan bentuk jasmani, dan materi terpisah dengan ruh. Oleh karena itu, bagi mereka aspek-aspek yang asling bertentangan itu tidak akan saling melebur karena perbedaan yang mendasar sekali. Setiap usaha untuk memperkuat salah satunya akan berakibat lemahnya yang lain. Misalnya, seorang yang ingin mempertinggi derajat ruhnya, mau tidak mau dia harus mengurangi aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan jasmani. Inilah dasar berdirinya dua kekuasaan dalam agama Nashrani, yakni kekuasaan gereja dan kekuasaan pemerintahan. Semboyan yang muncul : “Berikan hak kaisar untuk kaisar, dan hak Allah untuk Allah”.

Kekuasaan gereja berada di tangan para pemuka agama Kristen. Sedangkan kekuasaan pemerintahan adadi tangan para penguasa pemerintahan. Pada masa dahulu, tokoh-tokoh gereja pernah berusaha untuk memegang kekuasaan pemerintahan, agar kedudukan mereka semakin kuat dalam menyebarkan ajaran Kristen dan menentukan kebijakan pemerintahan. Akan tetapi berakibat terjadinya pertentangan yang panas antara para tokoh gereja dan tokoh pemerintahan. Akhirnya kekuasaan tokoh gereja dibatasi hanya di gereja saja, dan mereka tidak diperkenankan turut campur dalam urusan pemerintahan. Dari sinilah munculnya paham kapitalis yang memisahkan urusan agama dari arena kehidupan. Paham tersebut menjadi dasar peradaban Barat, yang kemudian disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia, termasuk kepada kalangan kaum muslimin.

Dengan kapitalisme tersebut, mereka menggoyahkan aqidah kaum muslimin, dan dengan seenaknya mereka menyamaratakan antara Islam dan Kristen. Tidak dapat dibantah lagi, saat ini telah banyak penduduk dunia yang menganut paham tersebut, dan tidak terkecuali sebagian besar ummat Islam, baik sadar maupun tidak sadar bahkan turut serta menyebarkannya.



Koreksi Islam Atas Konsep-Konsep Nizhom Lain

Islam bepandangan bahwa segala sesuatu yang dapat diindera (mahshush) adalah materi, sedangkan aspek ruhiyyahnya adalah kedudukan sesuatu tersebut sebagai ciptaan Sang Kholiq, dan ruhnya adalah pemahaman tentang hubungannya dengan Kholiq. Sehingga dalam Islam tidak ada pemisahan antara ruh dan materi, tidak ada pandanga untuk lebih mementingkan salah satu antara aspek lahiriyyah dan aspek ruhiyyah. Selanjutnya, karena pada manusia terdapat kebutuhan-kebutuhan jasmani (fisik) dan naluri-naluri yang menuntut adanya pemuasan, maka pemenuhannya tidak dapat disebut ruh atau materi, tetapi sebagai penyaluran saja. Bila tersalurhan dengan peraturan yang bukan berasal dari Allah, maka pemenuhannya itu hanya akan mendatangkan kesengsaraan manusia. Misalnya naluri seksual, apabila pemenuhannya melanggar aturan Ilahiyyah, akan mengakibatkan kenistaan pada manusia (penyakit seksual, kehinaan dalam masyarakat, dsb). Tetapi bila pemenuhannya dengan jalan yang benar menurut aturan Ilahiyyah akan mendatangkan ketenteraman, keharmonisan dan kebahagian baik di dunia maupun di akhirat. Contoh yang lain adalah naluri beragama, manusia akan tergelincir pada aktivitas penyembahan yang sia-sia, karena apa yang disembahnya pada hakikatnya tidak akan dapat memberikan manfaat bagi kehidupannya, misalnya penyembahan terhadap matahari, jin, patung, manusia, maupun yang lainnya.

Oleh karena itu, ruh harus selalu ada dalam setiap aktivitas amal perbuatan manusia, sehingga ada kesesuaian antara aktivitas yang kita lakukan dengan aturan-aturan (perintah dan larangan) dari Allah Swt. Jadi, dalam suatu aktivitas amal perbuatan yang ada hanyalah amal perbuatan itu sendiri. Adapun penyebutannya sebagai materi atau berjalan sesuai ruh, bukanlah datang dari amal perbuatan itu, tetapi karena kesesuaian atau ketidaksesuaiannya dengan hukum-hukum Islam. Seorang muslim yang membunuh lawannya dalam perang dinilai telah berjihad dan akan mendapatkan pahala karena kesesuaiannya dengan hukum Islam. Sedangkan seorang muslim yang membunuh orang lain tanpa haq, akan mendapatkan dosa dan memperoleh sanksi karena aktivitas perbuatannya tidak sesuai dengan ajaran (perintah dan larangan) Allah Swt.

Dua kejadian tadi secara lahiriyyah adalah sama, yakni ikhwal pembunuhan yang dilakukan oleh seorang muslim. Pembunuhan tersebut menjadi suatu amal ibadah yang mempunyai ruh dan mendapatkan pahala bila dilakukan sesuai dengan perintah dan larangan Allah, dan akan mendapatkan sanksi bila bertentangan dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah. Dengan demikian, hendaklah ssetiap muslim senantiasa menyertakan ruh dalam setiap aktivitas amal perbuatannya.

Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa perpaduan antara ruh dan materi bukanlah suatu hal yang mungkin atau tidak mungkin, tetapi merupakan suatu keharusan. Tidak ada pemisahan antara keduanya, karena dalam Islam tidak ada istilah Rijal ad-Dien yang mempunyai kekuasaan agama dalam maslah-maslah ritual belaka, dan tidak ada pula Rijaal ad-Dunya yang terpisah dari agama.

Islam adalah agama yang sarat dan lengkap dengan berbagai petunjuk bagi manusia untuk mampu mengarungi kehidupannya di dunia dalam rangka mencapai kemuliaan di akhirat nanti. Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia, mulai dari kehidupan sosial yang terkecil sampai dengan kehidupan politik dalam pemerintahan (negara = daulah) semuanya telah tercakup dalam ajaran Islam. Tidak terkecuali dalam masalah hukum, dalam ajaran Islam terdapat jinayat, had dan ta’zir. Dari sini berarti tidaka ada lagi alasan bagi setiap muslim untuk menolak berhukum dengan hukum Islam yang jelas-jelas berasal dari Sang Kholiq yang mengatur seluruh kehidupan ini.

Firman Allah Swt.

“….. Barang siapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang kafir”. (QS. Al-Maidah : 44)

“….. Barang siapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang zholim”. (QS. Al-Maidah : 45)

“….. Barang siapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang fasiq”. (QS. Al-Maidah : 47)



Wa Allaahu A’lamu bi Ash-Showaab
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik