FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

khusyuk dalam shalat 5 5 1

khusyuk dalam shalat

View previous topic View next topic Go down

khusyuk dalam shalat

Post by keroncong on Wed Dec 05, 2012 5:58 pm

Secara Lughah (Etimologi), khusyu' berarti rendah diri atau mendekati rendah diri. Menurut pengertian ini, khusyu' itu terdapat pada suara, penglihatan, ketenangan dan kerendahdirian. Sedangkan pengertian khusyu' menurut syara' (terminologi) adalah rendah diri. Rendah diri ini kadang-kadang berada dalam hati dan kadang-kadang berasal dari anggota tubuh seperti diam.

Adapun dalil yang menguatkan bahwa khusyu' itu pekerjaan hati adalah hadis Ali ra, "Khusyu' itu berada dalam hati" (HR. al-Hakim), hadis: "Sekiranya sanubari hati orang ini khusyu, niscaya anggota tubuhnya menjadi khusyu", dan hadis do'a mohon perlindungan: "....dan aku mohon perlindungan kepada-Mu dari sanubari hati yang tidak khusyu."

Apakah khusyu' dalam salat itu wajib?
Dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat. Menurut al-Ghozali khusyu' itu wajib. Beliau menguraikan argumentasinya secara panjang lebar -untuk menguatkan pendapatnya- dalam kitab 'Ihyaa' Ulumuddin'. Akan tetapi, menurut Jumhur Ulama', khusyu' itu tidak wajib. Bahkan, Imam an-Nawawi mengklaim adanya Ijma' yang tidak mewajibkan khusyu'.

Hadis-Hadis yang Menganjurkan Seseorang agar Berlaku Khusyu' dalam Salatnya

Dari Abu Hurairah ra berkata, "Rasulullah saw melarang seseorang meletakkan tangannya pada lambungnya" (HR. al-Bukhari dan Muslim, sedangkan redaksi (lafal) hadis berasal dari Imam Muslim (wallafdzu li Muslimin).

Maksud dari larangan hadis tersebut adalah hendaknya seseorang tidak meletakkan tangan, baik yang kiri maupun yang kanan, pada lambungnya ketika dia sedang melakukan salat, sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani terhadap hadis tersebut.

Kemudian, apa hikmah dari larangan itu? Maka dalam hal ini Rasulullah saw menjelaskannya dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah ra, "Bahwa hal itu adalah pekerjaan orang Yahudi dalam salat mereka" (HR. al-Bukhari). Sebab, umat Islam itu dilarang keras untuk menyerupai orang-orang Yahudi dalam semua gerak-gerik mereka.

Dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Apabila hidangan makan malam telah disiapkan, maka mulailah menyantap makanan itu sebelum anda salat Maghrib" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menurut Jumhur Ulama' menunjukkan sunnahnya mendahulukan makan malam atas salat. Karena, hal itu akan bisa mengarahkan seseorang berkonsentrasi dalam salatnya. Bahkan, menurut ulama yang lain, agar sanubari hati itu tidak tergoda dengan makanan yang sudah tersediakan tersebut.

Di samping itu, ada beberapa atsar sahabat yang menjelaskan tentang ta'lil (sebab-musabab) dilarangnya mendahulukan salat ketika makanan sudah dihidangkan. Di antaranya adalah atsar yang dikeluarkan oleh Ibnu Abu Syaibah dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, "Bahwa keduanya pernah sedang makan, sementara didapur api (kompor)nya masih terdapat daging yang sedang dibakar, lalu sahabat yang melakukan adzan tersebut ingin melakukan iqamah untuk salat, tiba-tiba Ibnu Abbas berkata kepadanya: 'Jangan terburu-buru', kita tidak melakukan salat selama dalam hati kita masih ingat sesuatu (makanan)." Dalam riwayat yang lain disebutkan: "Supaya (makanan itu) tidak memalingkan perhatian kita dalam salat." Disebutkan pula dari Hasan bin Ali as bahwa dia berkata, "Makan malam sebelum salat itu bisa menghilangkan (meredam) jiwa yang suka mencela (an-Nafs al-Lawwaamah)." (HR. Ibnu Abu Syaibah)

Jika waktu salat tinggal sedikit, apakah disunnahkan pula mendahulukan makan atas salat?

Kesunnahan seperti itu dilakukan apabila waktu salat masing panjang. Namun, jika waktu salat tinggal sedikit, maka menurut Jumhur Ulama', dia mendahulukan salat atas makan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga waktu salat agar tidak lewat.

Kandungan Hadis

Dari hadis no. 2 di atas, bisa ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Hadirnya makanan seperti itu bisa menjadi uzur untuk meninggalkan salat jama'ah. Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa apabila hidangan makan malamnya telah disiapkan dan dia mendengar bacaan Imam dalam salat, maka dia tidak berdiri (untuk melakukan salat) sampai dia selesai makan.
b. Hal-hal selain makanan bisa dianalogikan (diqiyaskan) dengan makanan selama mempunyai ilat (sebab) yang sama yaitu apabila dia mengakhirkan melakukan sesuatu itu, hatinya menjadi terganggu ketika salat. Maka, sebaiknya melakukan sesuatu itu sebelum salat.
Dan di sini yang perlu diperhatikan betul adalah bahwa sesuatu itu telah diperbolehkan secara tegas bahkan dianjurkan oleh Syara' (Allah dan Rasul-Nya). Akan tetapi, apabila sesuatu itu tidak dianjurkan oleh Syara', maka mendahulukan salat lebih baik daripada melakukan atau melanjutkan sesuatu itu. Contohnya adalah menonton sinetron, berbincang-bincang dengan kawan atau kerabatnya. Karena itu, mendahulukan salat lebih baik daripada menonton sinetron atau mengobrol lebih dahulu dengan kawan atau kerabatnya, baik waktu salat tinggal sedikit atau masih panjang.

Dari Aisyah ra berkata, "saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang menoleh dalam salat?" Kemudian Rasul saw menjawab: "Menoleh itu adalah suatu keteledoran seseorang akibat ulah syetan dalam salat seorang hamba" (HR. al-Bukhari)
Menurut riwayat at-Tirmidzi dan menshahihkannya: "Janganlah anda menoleh dalam salat, karena itu adalah kebinasaan (dalam agama). Apabila anda harus melakukannya, maka lakukanlah dalam salat sunnah"

Seseorang yang sedang melakukan salat, dimakruhkan menoleh ke kanan dan ke kiri. Karena pada dasarnya, dia sedang menghadap Tuhannya. Sementara itu, syetan selalu mengintip dan mencari-cari kelengahan orang itu. Jika seseorang dalam salatnya menoleh ke kiri dan ke kanan, berarti dia telah masuk perangkap syetan.

Menurut Jumhur Ulama', menoleh itu dimakruhkan, karena bisa mengurangi khusyu' salat. Namun, apabila menolehnya itu sampai memalingkan dadanya atau seluruh lehernya dari kiblat, maka hal itu bukan lagi makruh, melainkan bisa membatalkan salat. Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Dzar, "Allah SWT selalu menghadap kepada seorang hamba dalam salatnya, selama dia tidak menoleh, apabila dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun 'pergi' ." (HR. Abu Dawud dan an-Nasa'i)

Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan'ani

keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Total Like dan Thanks: 57
Male
Age: 60
Posts: 4187
Location: di rumah saya
Job/hobbies: posting2
Join date: 2011-11-09

Back to top Go down

Re: khusyuk dalam shalat

Post by keroncong on Thu Dec 06, 2012 4:36 pm

"Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan Kepada-Nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami." (Al-Anbiya: 90).

alam Al-Qur'an kata khusyu' disebutkan sebanyak 17 kali dalam bentuk kata yang berbeda. Meskipun mayoritas tunjukannya kepada manusia namun ada juga sebahagian ayat yang menyatakan bahwa khusyu' berlaku juga untuk benda-benda yang lain seperti gunung dan bumi.

Dengan adanya tunjukan kepada selain manusia ini paling tidak dapat dijadikan sebagai 'ramuan' untuk membakukan arti khusyu' yang sebenarnya.

Berdasarkan informasi Al-Qur'an inilah akan dapat dijawab seperangkat pertanyaan yang berkaitan dengan masalah khusyu' yaitu bagaimana yang dikatakan khusyu', apa syarat-syarat untuk mendapatkan khusyu' bagaimana cara menambah ke khusyukan serta imbalan apa yang diperoleh ketika seseorang sudah berada dalam keadaan khusyu?

Pengertian Khusyu'

Berdasarkan informasi ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan khusyu' maka didapati pengertian bermacam-macam yang intinya tetap mengacu kepada 'merendahkan diri'.

Bervariasinya pengertian khusyu' dalam Al-Qur'an ini menunjukkan bahwa sifat khusyu' tidak hanya berlaku dalam satu koneks ibadah saja seperti shalat akan tetapi bisa meluas kepada berbagai aspek baik yang berhubungan dengan ibadah maupun yang non ibadah.

Dengan demikian, sifat khusyu' adalah sifat yang melekat pada diri seseorang kapan dan dimana saja dan tidak hanya tertentu dalam konteks ibadah saja.

Dalam Q.S Thaha ayat 108 misalnya disebutkan bahwa khusyu' ialah merendahkan suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Namun pada Q.S. Fushshilat: 39 diartikan dengan tandus, yaitu bumi yang kering tandus dan bilamana disiramkan air ke atasnya jadilah bumi itu bergerak dan subur.

Berlainan dari pengertian kedua ayat di atas maka dalam Q.S Al-Syura: 45 dijelaskan bahwa arti khusyu' ialah tunduk karena merasa hina. Dalam ayat ini ditegaskan bahwa orang-orang kafir yang digiring ke dalam neraka akan tertunduk karena merasa terhina sementara pandangan mereka penuh dengan kelesuan.

Khusyu' dalam arti tunduk karena merasa terhina dapat dijumpai pada ayat-ayat yang lain. Selain tunduk karena merasa malu maka terdapat juga dalam ayat yang lain yaitu tunduknya hati lantaran mengingat Tuhan dan kebenaran yang diturunkan-Nya seperti dalam Q.S Al-Hadid ayat 16, begitu juga tunduk disebabkan takut kepada Allah sebagaimana dalam Q.S Al-Hasyar: 21.

Berdasarkan informasi ayat-ayat di atas tentang makna khusyu' maka dapat ditarik suatu kesipulan bahwa makna khusyu' terbagi kepada dua yaitu yang bersifat lahiriyah dan bathiniyah.

Dalam konteks lahiriyah dapat dilihat melalui pandangan mata seperti gersangnya bumi dan lesunya wajah orang-orang kafir, sementara yang bersifat bathiniyah yaitu tidak dapat dijangkau melalui inderawi karena arti khusyu' dalam konteks ini berhubungan dengan masalah hati yang tunduk ketika mengingat Tuhan.

Dengan demikian pengertian khusyu' ialah rendahnya hati kepada Tuhan dan baiknya tindakan dan prilaku kepada sesama makhluk.

Syarat-syarat Untuk Khusyu'
Adapun syarat untuk berlaku khusyu' sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 45 dan 46 ialah adanya suatu keyakinan akan menemui Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.

Adanya keyakinan akan berjumpa dengan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan seseorang untuk berlaku khusyu' karena yang terjalin di benaknya ialah adanya kekhawatiran ketika menghadap Zat Yang Mahakuasa ini.

Dengan demikian segala aktifitasnya di dunia selalu dilandasi atas keridhaan Tuhan dan dalam situasi yang seperti inilah berlaku kekhusyukan baginya. Selain berjumpa dengan Tuhan yang meyakini bahwa suatu suatu saat pasti akan kembali kepada-Nya.

Sedangkan dalam Q.S. Ali Imran: 199 dijelaskan bahwa syarat untuk menggapai tingkat khusyu' ialah tidak memperjualbelikan ayat-ayat Tuhan dengan harga yang murah.

Maksudnya, tidak memanifulasi ayat-ayat Tuhan gara-gara ingin merebut kedudukan dan kegemerlapan duniawi karena dunia ini sedikitpun tidak ada harganya pada sisi Tuhan. Penegasan ayat ini menunjukkan bahwa khusyu' baru dapat digapai dengan syarat bilamana ayat-ayat Tuhan tidak pernah digelintir unuk kepentingan duniawi.

Selanjutnya syarat untuk menggapai predikat khusyu' ialah bersegera mengerjakan kebaikan sebagaimana diinformasikan melalui Q.S. Al-Anbiya' ayat 90. Artinya dalam hal kebaikan tidak pernah menunda-nunda waktu dan senantiasa merasa terpanggil untuk melakukannya baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah.

Perlakuan dan sikap yang seperti ini dijadikan sebagai syarat untuk mendaki puncak khusyu' karena perbuatan baik adalah symbol dari sifat-sifat Tuhan.

Berdasarkan informasi ini dapat diketahui bahwa untuk mendapatkan nilai khusyu' maka seseorang harus memenuhi kriteria-kriteria sebagaimana yang digambarkan oleh ayat-ayat di atas.

Oleh karena itu khusyu' tidak akan datang dengan sendirinya kecuali setelah seseorang dapat memenuhi persyaratan dengan baik sebagaimana yang telah diungkapkan dan sangat tipis harapan bila prediket khusyu' akan didapat bila hanya sekadar berbekal do'a.

Cara Meningkakan Khusyu' dan Imbalannya
Setelah seseorang menempuh persyaratan untuk mendapatkan nilai khusyu' maka langkah berikutnya ialah meningkatkan kualitas khusyu' yang sudah diperoleh.

Dengan demikian nilai khusyu' yang didapatkan oleh berfluktuasi adakalanya menurun dan adakalanya bisa naik dan bahkan bisa pupus sama sekali. Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk menambah nilai kekhusyukan ini tetap saja mengacu kepada informasi Al-Qur'an.

Dalam Q.S. Al-Isra': 107-110 digambarkan upaya-upaya yang harus ditempuh oleh seseorang guna meningkatkan kualitas khusyu' yang sudah diperolehnya.

Termasuk ke dalam upaya meningkatkan kualitas khusyu' ini ialah beriman kepada Al-Qur'an dan membacanya sambil menyungkur dan bersujud serta memuji Tuhan dengan penuh linangan air mata dan meminta kepada-Nya melalui nama-nama-Nya yang baik (asma' al-husna).

Redaksi ini tidak bisa dipahami secara letterlick yang semua orang bisa saja melakukan hal yang seperti ini, akan tetapi berat dugaan bahwa yang dimaksud dengannya ialah menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dan petunjuk dalam segala lini kehidupan.

Bagi orang-orang yang sudah mampu meraih kekhusyukan khususnya dalam sahalat dapat dipastikan akan meraih kemenangan sebagaimana yang disebutkan dalam Q.S. Al-Mukminun: 1-2.

Kemenangan ini tidak hanya sebatas urusan ukhrawi saja akan tetapi berlaku bagi segala bentuk kemenangan di dunia karena orang-orang yang khusyu' senantiasa bersikap rendah diri. Sikap rendah diri inilah yang mengantarkannya untuk disenangi oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.

Selanjutnya ditegaskan pula bahwa orang-orang yang khusyu' akan mendapat imbalan dari Tuhan berupa ampunan dan pahala yang besar sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al-Ahzab: 35.

Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa orang-orang yang khusyu' akan mendapat tempat yang mulai baik di dunia maupun di akhirat.

Justru itu tidak ada pilihan lain guna meningkatkan harkat dan martabat kita kecuali menghiasi diri kita dengan sifat khusyu' meskipun kita termasuk orang yang paling pintar, kaya, gagah dan sebagainya.

Berdasarkan informasi ayat-ayat Al-Qur'an di atas maka dapat dipahami bahwa khusyu' adalah anugerah Tuhan yang didapati perjuangan panjang dengan menempuh seperangkat persyaratan-persyaratan sebagaimana yang telah digambarkan oleh Al-Qur'an dan sama sekali tidak akan datang dengan sendirinya kecuali setelah manusia berupaya untuk menggapainya.

Oleh: Drs. Achyar Zein, M.Ag, Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN SU

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Total Like dan Thanks: 57
Male
Age: 60
Posts: 4187
Location: di rumah saya
Job/hobbies: posting2
Join date: 2011-11-09

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum