FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

setelah Islam & Buddha, kini giliran Hindu jadi target Kristenisasi

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

setelah Islam & Buddha, kini giliran Hindu jadi target Kristenisasi

Post by Penyaran on Fri Jan 11, 2013 10:27 pm

Di sini saya ingin meminta kepada umat Hindu sekalian untuk menceritakan pengalamannya mengenai kristenisasi. Di beberapa tempat, ada teman-teman Hindu menceritakan pengalamannya yang pahit saat keluarganya yang masuk kristen tidak sudi memasuki rumah keluarganya yang masih beragama Hindu. Mari, ceritakanlah pengalaman-pengalaman itu untuk kita telaah bersama. Agar kedepannya kita lebih paham mengenai kristenisasi agar umat Hindu tidak mudah terpengaruh. Umat Hindu mudah terpengaruh bukan hanya karena kurang mengenal agama Hindu dan Kristen. Tetapi juga karena memegang konsep “Semua Agama Sama”. Semua Agama tidak sama. Ada agama praktis dan juga ada agama merepotkan. Saya memeluk sebuah agama yang merepotkan yang disebut Hindu. Merepotkan di sini adalah korban sucinya yang disebut Yajna. Tapi sebenarnya, saya pribadi malah senang, itu adalah ajaran yang membuat saya dan kita tahu berterima kasih pada Tuhan. Demikian Tuhan menciptakan kita, bagaimana cara kita berterima kasih? Tiada lain dengan Yajna. Hanya Hindu yang mengajarkan berterima kasih dengan cara Yajna. Serepot apapun rupanya, itulah ajaran tahu berterima kasih. Banggalah menjadi Hindu. Jangan tinggalkan Yajna. No Yajna, Yes Bencana. Yes Yajna, No Bencana. Pilih yang mana?

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

10 Cara untuk Mengkonversi Hindu

Post by Penyaran on Fri Jan 11, 2013 10:40 pm

Tulisan dibawah ini bukanlah hal serius atau mungkin juga pekerjaan iseng seseorang. Namun isinya yang cukup rapih dan sistematis, cukup baik untuk disimak. Cukup berbeda dengan umumnya warga Hindu yang masih berkutat pada ‘perang internal’ masalah cara beribadah, sarana beribadah hingga debat kusir akan bisnis diarea peribadahan, pihak luar Hindu justru telah memikirkan hal yang jauh kedepan. Mungkin karena itu pula, Hindu Nusantara lenyap dan hanya meninggalkan titik-titik kecil seperti Kaharingan, Tengger dan Bali. Bukan bermaksud mendahului bahwa titik-titik itu akan segera lenyap oleh minimnya pengetahuan Hindu dalam sebuah keluarga, menyimak isi tulisan dibawah kemudian tersenyum seraya membekali diri dan keluarga dengan pemahaman Hindu yang baik merupakan hal yang lebih bijak dari yang lain.

Sepuluh cara untuk mengkonversi Hindu: Shocking wawasan untuk misionaris Kristen agenda 4 Juni 2007

Melalui persahabatan Penginjilan biasanya mudah untuk memulai dengan Hindu. Sebagian besar agama Hindu pada umumnya harga dan bebas dan terbuka untuk berbicara tentang hal itu. Sebuah tulus, tidak menghakimi bunga dalam segala aspek kehidupan India akan memberikan dasar yang baik untuk persahabatan. Interaksi pribadi dengan orang-orang Hindu akan mengakibatkan tertentu yang lebih memahami esensi Hindu daripada membaca banyak buku. Sebuah secara konsisten seperti Kristus hidup adalah faktor paling penting dalam berbagi Injil dengan Hindu. Saran-saran berikut akan membantu untuk mendobrak kesalahpahaman dan membantu untuk membangun saksi positif bagi Kristus. Tapi belajar dan menerapkan titik-titik ini tidak pernah bisa menggantikan kehidupan yang transparan damai dan sukacita murid-kapal kepada Yesus Kristus.

1. Jangan mengkritik atau mengutuk agama Hindu. Ada banyak hal yang baik dan banyak yang buruk dalam praktek baik Kristen dan Hindu. Menunjukkan aspek yang terburuk Hindu hampir tidak cara untuk mendapatkan teman atau menunjukkan cinta. Mengkritik Hindu dapat membuat kita merasa kita telah memenangkan sebuah argumen; ia tidak akan memenangkan Hindu kepada Yesus Kristus.

2. Hindari segala sesuatu yang tanda-tanda kemenangan dan kebanggaan. Kami tidak terbesar terbesar orang-orang dengan agama, tetapi beberapa orang Hindu yang mengajarkan bahwa kita berpikir tentang diri kita sendiri dengan cara ini. Kita tidak memiliki semua pengetahuan tentang segala kebenaran, bahkan kita mengetahui sedikit untuk menjadi “Kristen.” (Pikirkan apa yang berarti Hindu-india seperti Amerika atau Eropa!) Tapi kita ingin semua India untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan dan benar spiritualitas.

3. Jangan pernah membiarkan sebuah saran bahwa pemisahan dari keluarga dan / atau budaya diperlukan untuk menjadi seorang murid Kristus. Untuk bersikeras atau bahkan secara halus mendorong seorang Hindu untuk meninggalkan rumahnya dan cara hidup untuk bergabung dengan “Kristen” cara hidup dalam hal makanan dan budaya, dll, merupakan penyangkalan terhadap ajaran Alkitab.

4. Jangan berbicara dengan cepat di neraka, atau pada fakta bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan untuk keselamatan. Hindu mendengar hal-hal ini sebagai kemenangan dan tidak perlu tersinggung. Berbicara tentang neraka hanya dengan air mata belas kasihan. Point kepada Yesus sehingga jelas Dia adalah satu-satunya cara, tapi tinggalkan Hindu untuk melihat sendiri, daripada berusaha memaksa itu kepadanya.

5. Pernah terburu-buru. Setiap mendorong untuk sebuah keputusan atau konversi akan sangat merugikan. Allah harus bekerja, dan Roh Kudus harus diberikan kebebasan untuk bergerak pada kecepatan sendiri. Bahkan setelah profesi Kristus dibuat, jangan memaksakan perubahan cepat gambar-gambar tentang dewa-dewa, daya tarik, dll Bersabarlah dan membiarkan orang datang ke pemahaman dan keyakinan penuh dalam pikirannya sendiri sebelum mengambil tindakan.

6. Kerja tradisional Hindu (dan Alkitab) nilai-nilai ke dalam hidup Anda, seperti kesederhanaan, penolakan, spiritualitas dan kerendahan hati, terhadap yang tidak ada hukum. Sebuah kehidupan yang mencerminkan realitas “diam dan tenang jiwa” (Mazmur 131) akan tidak akan dibenci oleh umat Hindu.

7. Tahu Hindu, dan masing-masing individu Hindu. Ini akan mengambil beberapa studi untuk mendapatkan pemahaman luas Hinduisme dan sabar mendengarkan akan diperlukan untuk memahami di mana dalam spektrum setiap Hindu berdiri. Baik filosofis dan pemujaan Hindu harus dipelajari dengan tujuan untuk memahami apa yang menarik bagi jantung Hindu. Mereka yang bergerak serius dalam bekerja di antara orang-orang Hindu perlu menjadi lebih pengetahuan- cakap dalam Hindu daripada orang Hindu sendiri. Beberapa studi tentang bahasa Sansekerta akan terbukti sangat berharga. Ingat pola dari
Alkitab Kisah 17 dari kebenaran memperkenalkan Hindu dari tradisi sendiri, dan hanya sekunder dari Alkitab. Sebagai contoh, ajaran Alkitab tentang dosa adalah menjijikkan bagi banyak orang Hindu modern, tetapi Kitab Suci mereka sendiri memberikan kesaksian yang sama berlimpah. Jembatan dari Kitab Suci Hindu dengan Alkitab dan Kristus.

8. Cepat untuk mengakui kegagalan. Membela praktek-praktek yang salah di dalam gereja dan Kekristenan Barat hanya menunjukkan kita lebih peduli untuk agama kita daripada kita kebenaran.

9.Berbagi kesaksian, menggambarkan pengalaman pribadi Anda hilang dan karunia Allah pengampunan dan perdamaian. Tidak mengklaim untuk mengenal Allah dalam keagungan-Nya dan kepenuhan, tapi berbagi apa yang Anda ketahui dalam hidup Anda dan pengalaman. Ini adalah pendekatan tertinggi dalam menghadirkan Kristus kepada Hindu, tapi harus berhati-hati bahwa kita berbagi adalah tepat. Berteriak di sudut jalan, atau berbagi di setiap kesempatan tampaknya menyinggung. Apa yang Tuhan lakukan dalam hidup kita adalah kudus dan pribadi, hanya untuk dibagikan dalam keintiman kepada mereka yang akan menghormati hal-hal dari Allah dan karyanya dalam hidup kita.

10.Center pada Kristus. Dia saja yang dapat memenangkan hati mereka ‘total kesetiaan kepada-Nya. Dalam hidup Anda dan pidato pusat sehingga kepadanya bahwa semua lihat dalam kehidupan Anda bahwa Allah sendiri adalah untuk hidup layak. Hindu sering disebut “Tuhan-mabuk,” dan Hindu yang tinggal di semua dalam kerangka berpikir ini adalah menunda-nunda oleh Christian penekanan pada begitu banyak detail untuk mengabaikan “satu hal yang dibutuhkan” (Luk. 10:42 ). Seorang Hindu yang mengaku iman di dalam Kristus harus dibantu sejauh mungkin untuk bekerja di luar makna bahwa komitmen dalam konteks budaya sendiri.
Sering kali pengikut baru Kristus siap untuk mengambil setiap dan setiap praktek orang Kristen Barat, dan perlu diajarkan apa yang esensial dan apa yang sekunder dalam kehidupan Kristen dan ibadah. Sebagai contoh, dapat ditunjukkan bahwa praktek Timur melepas sepatu di tempat ibadah memiliki Alkitab yang kuat didahulukan meskipun sepatu yang dipakai di gereja-gereja Barat. Seorang mukmin baru harus memperingatkan terhadap membuat pengumuman mendadak keluarganya, karena itu menimbulkan rasa sakit yang hebat dan pasti menghasilkan kesalahpahaman yang mendalam. Idealnya, seorang Hindu akan berbagi setiap langkah dari ziarah kepada Kristus dengan keluarganya, sehingga tidak ada kejutan di akhir. Tahap awal komunikasi, untuk menegaskan kembali terus-menerus, akan menjadi penghargaan jujur India / Hindu tradisi pada umumnya bahwa murid Kristus dapat dan tidak mempertahankan.

Mendekati Hindu pada baris ini tidak menghasilkan konversi dan mengesankan cepat statistik. Tapi sidang akan diperoleh dari beberapa orang yang telah menolak untuk mendengarkan pendekatan Kristen tradisional. Dan Murid-murid Kristus baru dapat diajarkan untuk menangani lebih sensitif dengan konteks mereka, yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan saksi yang berkelanjutan untuk keluarga dan masyarakat. Sebagai ragi Injil diperbolehkan untuk bekerja di pikiran Hindu dan masyarakat, yang panen pasti akan mengikuti waktu Allah sendiri.

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Kristenisasi Pulau Bali…???

Post by Penyaran on Sat Jan 12, 2013 11:53 pm

Topik ini saya ambil dari porum diskusi di facebook, yang kebanyakan pesertanya adalah golongan remaja, pembahasannya juga bersifat remaja, sendagurau dll..

Pemerintah Belanda melindungi Bali dari serbuan para penginjil, masa pemerintah sendiri membiarkan Bali menjadi korban kristenisasi. Jika di Bali dipenuhi oleh pohon2 natal dari menghiruk pikuknya suasana damai, apa bedanya dengan daerah2 lainnya,.? apa yang dicari ke Bali,?.ini berarti budaya Bali sudah lenyap, yang rugi juga masyarakat Bali secara keseluruhan, apapun agamanya

Kristenisasi, dimanapun motivasinya sama saja, yaitu membuka lahan baru, sama seperti pengembangan bisisnis lainnya. Untuk menjalankan bisinis dibidang agama ini juga memelukan promosi, dan teknik2 pemasaran yang jitu.

Orang2 Bali yang berada dirantau, jauh lebih mudah ditangkap dari mereka yang ada di Bali, karena dalam perantauan mereka tidak bisa melakukan ibadah sebagaimana mestinya, disamping basic pemahaman agamanya masih kurang..

Di Bali mereka bisa mengambil orang2 yang lepas dari ikatan kelompok adatnya, sehingga tidak mengakar dalam adat Bali, bisa juga melalui perkawinan antar agama., karena perempuan Bali jauh lebih ringan mengikuti agama kristen, dari pada agama Hindu.

Untuk mengurangi tekanan Kristenisasi di Bali, desa2 adat di Bali jangan mengucilkan orang2 yang dianggap melanggar adat, dan berusaha memberi jalan bagi mereka yang kurang aktif dalam desa adat, dengan demikian kekuatan solidaritas umat semakin kuat.

Soal pemahaman agama memang masih sulit diharapak dari masyarakat awam, karena ajaran Hindu sangat luas dan mendalam, tidak seperti agama2 lain yang memiliki satu kitab suci, tujuannya dan motivasi beragama jelas.

Agama Hindu memiliki 4 jalan resmi, yang disebut Catur-Marga, ada juga yang mengambil jalan lain selain itu sesuai tingkat pemahaman spiritualnya, misalnya masuk dunia kebathian, dunia pedukunan, masuk aliran ini dan itu, semuanya itu tidak sesat, tetapi ada pada tempatnya dalam ajaran agama yang multy complek itu..

Dalam Begawan Gita dikatakan Pohon Aswatama itu berakar diatas , cabang2 dan daun2nya berada dibawah, berupa kitab2 suci/weda2. Orang yang mengerti ini, berarti mengerti weda2.. Seluruh ajaran agama termasukdalam weda2, seperti dikatakan sulinggih di Bali sbb: Seluruh ajaran agama masuk kedalam ajaran Hindu, tetapi agama Hindu idak bisa masuk kedalam satu agama apapun.

Kalau saya menulis ajaran Islam, Kristen, Budha dll perasaan saya sama seperti menulis ajaran Hindu karena semua inti spiritualnya terkandung dalam ajaran Hindu.. Kalau seorang ibu, mengaturan canang di tempat2 yang dianggapnya suci, seperti di pohon2, patung2, di mesjid, di gereja dll menandakan bathin ibu itu adalah seorang Hindu.

Kalau bapak dan mamak saya masuk gereja, dia menganggap yang disembah itu adalah orang suci/Yesus, dia tidak merasa sebagai orang Kristen. Di Bali memang ada ajaran resi yadnya, yaitu menghormati para resi, yaitu para perintis kehidupan begama.

Jika umat di Bali membuat patung Yesus, kemudian menghormatinya sebagai seorang resi dengan melakukan upacara adat, itupun masuk dalam ajaran Hindu, umat yang menyungsung patung itu tidak termasuk orang Kristen, demikian pula orang Kristen yang ikut upacara itu tidak termasuk orang Hindu.

Sama seperti orang Kristen masuk Gereja pakai pakaian adat Bali, pakai gambelan Bali, pakai persemabahan ala Bali, tidak termasuk umat Hindu, tetapi orang Bali-Kristen. Dalam hal ini intelektual Hindu jangan menentang mereka dgn mengatakan mengambil alih budaya Bali, karena mereka memang orang Bali.

Saya mengharap para budayawan Bali dapat menata masyarakat bali menjadi masyarakat yang menghormati dan menjaga kelestarian budaya lokal, apapun agama mereka, seharusnya ikut budaya Bali, tanpa harus masuk agama Hindu, karena budaya bali termasuk ladang bagi masyarakat Bali pada umumnya, apapun agama mereka.

Para pendatang, janganlah mencoba menghancurkan budaya lokal dgn membawa budaya asing melalui jalur agama, seperti kristenisasi, sebab akibatnya juga akan menghancurkan kehidupan umat anda sendiri, karena mata pencaharian meraka juga dari pariwisata.

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Konversi Agama

Post by Penyaran on Sat Feb 16, 2013 5:05 pm

“Penyakit Kronis” di Bali Manfaatkan Kelemahan Pemahaman Agama dan Pelaksanaan Adat

Oleh : Surpi Aryadharma

Konversi agama sebagai penyakit kronis

Kasus konversi agama seperti sebuah penyakit kronis tetapi tidak banyak pihak yang menyadarinya. Bali yang dijadikan ladang misi sejak tahun 1630, mengalami panen besar sejak adanya pembabtisan bersejarah dan menggemparkan di Tukad Yeh Poh, Untal-Untal Dalung 11 Nopember 1931. Sejak saat itu, Kekristenan terus merambah Bali hingga konversi mencapai sekurangnya 27.500 jiwa. Angka ini baru yang berhasil dipanen oleh misi protestan, sementara Katolik diperkirakan mendapatkan pengikut yang setara. Konversi agama ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dengan upaya yang terstruktur, sistematis dan dinaungi oleh badan misi dunia.

Sejumlah sumber mengungkapkan, konversi agama di Bali terbagi atas tiga periode. Periode pertama tahun 1597- 1928, periode kedua tahun 1929-1936 berdasarkan efektifitas usaha penginjilan yang dilakukan. Kemudian periode terakhir 1937-1949 sebagai masa persiapan kelahiran Gereja Kristen Protestan Bali.

Periode pertama lebih banyak merupakan periode persiapan, di mana sejumlah badan misi dunia, para zendeling (misi Kristen) maupun misionaris (misi Katolik) mempelajari dan datang ke Bali. Sejumlah pendeta datang ke Bali dengan menyamar sebagai turis seperti Dr. H.W. Medhurst dan Dr. W.R. Baron Van Hoevall. Selain itu sejumlah peneliti dikirim sebagai tahap persiapan seperti Van Der Tuuk. Ia dikirim oleh Perhimpunan Missi Utrecht (U.Z.W.) yang bekerja sama dengan Lembaga Alkitab Belanda (N.B.G.). Van Der Tuuk bekerja di Bali tahun 1870–1873, di samping menerjemahkan injil juga membuat kamus bahasa Bali.

Sejumlah ahli yang sesungguhnya merupakan misionaris ini mempelajari dan mengkaji berbagai lontar kuno di Bali. Ternyata di balik kokohnya sistem adat, dilaporkan oleh para pekerja Kristen di Bali seperti Van Hoevall, sejak tahun 1846, sudah banyak masyarakat Bali yang tidak puas dengan system adat dan agama. Ditulis Hoeval banyak orang Bali merasakan sistem kasta yang ada dalam agama Hindu Bali tidak adil dan banyaknya upacara dan kewajiban sehubungan dengan penyelenggaraan upacara dan persembahyangan menyebabkan mereka jadi miskin. Inilah yang dipandang oleh Hoeval sebagai celah masuk untuk menyebarkan kekristenan di Bali.

Orang Bali pertama yang menjadi Kristen.

Namun walau zending terus bergulir di Bali dengan dikirimnya sejumlah penginjil, upaya pada tahap awal gagal. Tiga Pekabar Injil Belanda yang dikirim, yaitu van Eck, de Vroom, van der Jogt setelah 13 tahun usaha mereka, tahun 1873 hanya berhasil membabtis satu orang Bali yakni I Goesti Wajan Karangasem dari Bali Timur, Jagaraga
Singaraja.

I Goesti Wajan Karangasem ini yang diberi nama baptis Nicedemus. Namun karena tidak kuat menanggung beban pengucilan dari keluarga dan banjarnya, ia diduga membunuh De Room tahun 1881. Sejak kejadian berdarah yang menggemparkan itu, Belanda menutup aktivitas penginjilan dan Bali tertutup untuk waktu sekitar 50 tahun. Selain itu melalui perdebatan panjang, Belanda juga menerapkan kebijakan kebudayaan dan pendidikan yang dikenal dengan Baliseering (Balinisasi) yang dimulai tahun 1920-an yang menyulitkan para penginjil mendapatkan surat ijin untuk masuk ke Bali.

Walau demikian badan misi tidak menyerah. Di tengah tertutupnya aktivitas penginjilan, penginjil pribumi Salam Watias yang berasal dari Kediri, bekerja untuk Gereja Kristen Jawi Wetan (G.K.J.W) datang ke Bali untuk menjual buku-buku Kristen. Watias menggunakan pendekatan cultural dan mendekati orang-orang Bali karena sesama “Wong Majapahit.” Ia menjual buku-buku tersebut hingga ke pelosok-pelosok desa khususnya di Bali utara.

Karena orang Bali mempunyai kesenangan membaca pelajaran-pelajaran agama, maka ribuan buku terjual. Buku yang paling digemari adalah Injil Lukas yang ditulis dalam bahasa Bali. Tidak tertutup kemungkinan para pendukung Surya Kanta yang tidak puas dengan kondisi riil adat dan agama Bali menjadi pembeli dari buku Salam Watias.

Sekitar 80 orang Bali akhirnya minta dibabtis oleh Watiyas. Namun pekerjaan yang dinilai sangat berhasil dilakukan oleh Dr. R.A. Jaffray, Ketua C.M.A., dengan mempekerjakan Penginjil Cina yang bernama Tsang Kam Fuk, yang kemudian menyebut dirinya Tsang To Hang. Tsang To Hang berhasil masuk ke Bali tahun 1931 setelah CMA berhasil mendapatkan surat ijin khusus untuk menginjil orang-orang Tionghoa di Bali. Mereka telah menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan surat ijin masuk ke Bali, tetapi karena ijin itu tidak kunjung didapatkan, mereka menyiasati dengan meminta ijin untuk penginjilan terbatas pada orang-orang Tionghoa dan Belanda akhirnya mengabulkan permohonan itu.

Pan Loting.

Setelah satu setengah tahun upaya mereka di Denpasar hanya mampu membawa empat orang Tionghoa masuk Kristen, To Hang secara sadar melanggar surat ijin yang diberikan dan mulai menginjili orang-orang Bali.

Melalui seorang wanita Bali, istri seorang Tionghoa, ia berkenalan dengan beberapa orang Bali yang ingin keluar dari tradisi Hindu-Bali. Panen besar pun diperoleh dengan pembatisan yang menggemparkan Tanggal 11 November 931, Dr. Jaffray membabtis 12 orang Bali yang dipimpin oleh Pan Loting, di Sungai Yeh Poh.

Pan Loting adalah dukun sakti dan tokoh leak dari Buduk, yang oleh To Hang disebut sebagai tukang sihir. Pan Loting yang bernama asli I Made Gepek memiliki pengaruh yang luas karena ia dianggap orang sakti balian yang bisa membuat maupun menyembuhkan penyakit. Awalnya ia beradu ilmu dengan Tsang To Hang, tetapi kalah dan berikutnya debat teologis yang berakhir pada kekalahan sang tokoh leak.

Sampai To Hang diusir Belanda tahun 1933 ia telah berhasil membaptiskan sekitar 260 orang Bali. Setelah itu, Bali semakin terbuka dengan penginjilan dan puluhan badan misi terus bekerja di Bali untuk menambah pengikut dan jumlah gereja.

Dewasa ini, penginjilan bukan saja dilakukan dengan upaya propaganda, tetapi juga melalui badan-badan dan kegiatan besar yang dikemas menarik seperti Bali Gospel Festival yang digelar di GOR Ngurah Rai Denpasar. Kegiatan ini berupa penyembuhan masal dengan menggunakan doa-doa yang diisi dengan lagu-lagu pujian, ceramah dan persekutuan Kristen dari berbagai daerah di Bali.

Sejarah Kelam Kekristenan diBali

Agama Kristen menyadari adanya sejarah kelam kekristenan di Bali, di mana Kristen bukan saja lambat diterima di Pulau Dewata, tetapi dengan penolakan keras.

Ketua Sinode GKPB Bali saat ini Pdt. Drs. I Wayan Sudira Husada.MM mengatakan Kristen tengah berupaya memperbaiki sejarah kelam kekristenan di Bali, yakni kekristenan masuk dengan cara kasar dan menolak secara total sistem adat, sehingga mendapat pertentangan keras oleh orang Bali yang setia dengan adat. Dr. Jaffray dan Tsang To Hang meminta pemeluk kristen baru untuk membongkar sanggah karena dianggap pemujaan berhala yang sia-sia, tempat setan dan iblis dan melarang mengambil bagian pada kegiatan adat. Hal ini tentu saja menimbulkan ketersinggungan orang Bali yang pada akhirnya menjadi konflik berkepanjangan.

Penghancuran merajan/sanggah ini oleh Bishop Sudira merupakan kekeliruan dan kekristenan lebih bisa diterima jika dilakukan dengan cara-cara yang lebih lembut dan santun. Sehingga tidak heran di Gereja Abianbase, Mengwi, setiap sebulan sekali jemaat datang ke gereja mengenakan pakaian adat Bali, kebaktian dilakukan dengan bahasa Bali. Demikian pula dengan jemaat di gereja di Buduk dan Dalung.

Selain itu mereka juga turut melestarikan budaya Bali seperti gamelan dan tari Bali. Upaya ini sebagai jalan untuk meluruskan sejarah kelam kekristenan, di mana pada tahap awal Kristen identik dengan Eropa dan menganggap kehidupan orang Bali sarat dengan pemujaan berhala yang sia-sia, kabut gelap sehingga harus ditolak.

Faktor Utama Penyebab Konversi Agama di Bali

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, sekurangnya terdapat delapan factor utama penyebab orang Bali melakukan konversi, yakni :

Pertama. Ketidakpuasan atas system adat dan agama.
Sejak dulu sebagian kecil masyarakat Bali menunjukkan ketidakpuasan terhadap sistem adat dan agama. Selain itu, kelompok - kelompok yang ada di masyarakat memperlihatkan kepekaan yang berbeda terhadap doktrin keagamaan tertentu. Kerumitan banten yang dikaitkan dengan ekspresi keimanan, aturan adat yang kaku serta tidak adanya kelonggaran bagi anggota masyarakat untuk menjalankan ajaran agama menjadi keluhan yang belum terjawab. Hal ini menimbulkan goncangan sosial yang pada akhirnya menimbulkan anomi. Para penderita deprivasi ekstrim dan anomi memperlihatkan daya tanggap yang besar terhadap agama yang mengkhotbahkan pesan keselamatan.

Kedua. Krisis individu.
Manusia kerap mengalami krisis yang disebabkan oleh banyak hal seperti kondisi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidup, keretakan keluarga, perceraian, korban kekerasan atau perasaan berdosa karena merasa telah melakukan perbuatan tercela. Orang yang mengalami krisis cenderung mencari nilai baru, guna mendapatkan pemecahan dari persoalan yang dihadapi. Agama Kristen termasuk agama yang menawarkan pesan keselamatan yang membawa seseorang pada rasa damai sejahtera. Perpindahan agama diharapkan mampu membawa perubahan dalam hidupnya.

Ketiga. Ekonomi dan lingkungan sosial.
Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab seseorang pindah agama. Meletusnya Gunung Agung tahun 1963 diiringi dengan gelombang wabah dan kegagalan panen menimbulkan paceklik hampir di seluruh Bali. Hal itu dimanfaatkan oleh badan misi Kristen untuk memberikan bantuan seperti gandum dan alat-alat dapur maupun memberikan keahlian dengan tujuan imbalan masuk Kristen. Selain itu, banyak orang Bali karena belitan kemiskinan bersedia masuk Kristen dengan harapan mendapatkan bantuan dan terjadi peningkatan ekonomi. Kristen memiliki lembaga ekonomi yang mapan yakni Maha Bhoga Marga (MBM) yang memberikan kredit ringan bahkan bantuan Cuma Cuma untuk peningkatan ekonomi masyarakat kecil. MBM berdiri sejak 15 Januari 1963 yang pendanaannya berasal dari diakonia (dana yang terhimpun dari umat Kristen). Selain itu masih banyak lembaga sosial yang memiliki misi serupa, selain badan penyiaran seperti radio Kristen.

Keempat. Pengaruh ilmu kebatinan, Kehausan rohani dan janji keselamatan.
Ilmu kebatinan yang diajarkan Raden Atmaja Kusuma di Singaraja menjadi loncatan awal bagi kekristenan di Bali. Ajaran mistik ini sepintas mirip dengan ajaran Kristen di mana pencapaian spiritual dapat dicapai dengan pencerahan rohani, bukan dengan upacara yang besar. Umat Hindu yang mengalami kehausan rohani dulunya memang sulit mendapatkan jawaban, karena sedikitnya tokoh yang bisa memberikan pelayanan rohani.

Kelima. Keretakan keluarga dan urbanisasi.
Keluarga yang tidak harmonis mendorong terjadinya konversi. Anggota keluarga yang merasa terlempar dari ikatan keluarga dan merasa sebatang kara tanpa ada yang memperhatian cenderung akan mencari komunitas baru yang dapat dijadikan tempat untuk berbagi dalam kehidupannya.

Keenam. Perkawinan dan urutan kelahiran dalam keluarga.
Perkawinan seringkali menimbulkan terjadinya konversi agama. Wanita Bali yang kawin dengan pria Kristen sebagian besar akan mengikuti agama suami karena sistem patrialistik dari masyarakat Bali. Namun tidak sedikit justru pria Hindu yang mengikuti agama calon istrinya. Selain itu, urutan kelahiran dalam keluarga sangat berpengaruh. Di mana anak laki-laki yang bukan merupakan pewaris keluarga lebih mudah untuk beralih agama karena tidak terikat tanggung jawab dalam keluarganya. Juga mereka bukan penanggung jawab utama baik dalam melakukan pengabenan bagi orang tuanya maupun mengurus sanggah dan warisan keluarga.

Ketujuh. Kegiatan penginjilan yang agresif.
Kristen memang merupakan agama missioner. Tugas penginjilan bukan hanya dilakukan oleh penginjil profesional, tetapi juga oleh seluruh gereja dan jemaat. Banyak warga yang masuk Kristen karena kegiatan penginjilan yang mempropagandakan kehidupan yang lebih baik.

Kedelapan. Lemahnya pemahaman teologi (Brahmavidya).
Masyarakat Hindu di Bali yang menjalani agama cenderung dengan berbagai upacara menyebabkan teologi tidak mendapatkan tempat yang layak dalam pelajaran agamanya. Ketidaktahuan ini tentu saja merugikan dialog antar pemeluk agama maupun dengan penginjil yang memang mapan dalam berdebat. Delapan factor utama diatas sesungguhnya berpangkal pada lemahnya pemahaman atas ajaran Hindu, sehingga para converts dengan mudah meninggalkan Hindu.

Dialog yang intensif.
Delapan faktor utama itu ternyata tidak berdiri sendiri, melainkan konversi terjadi karena akumulasi banyak faktor. Dari penelitian yang dilakukan, salah satu konversi bisa terjadi karena perkawinan, ditambah dengan adanya dialog yang intensif dan pembelajaran serta lemahnya pemahaman atas agama Hindu.

Atau dengan terjadinya krisis individu yang tidak mendapatkan jawaban dalam pandangan hidup lama, ditambah dengan lemahnya pemahaman teologi dan kuatnya daya tarik komunitas Kristen yang tidak mengenal sanksi baik moral maupun material seperti dalam sistem adat Bali. Namun sebagian besar converts mengakui tidak pernah belajar Hindu secara baik dan tidak memahami teologi Hindu.

Hampir tidak ada konversi yang terjadi tanpa didahului dialog dengan mempertanyakan agama lama dan keunggulan agama Kristen. Dalam dialog dengan pemahaman yang minim, penganut Hindu memang sering kewalahan dengan umat Kristen yang dengan jelas mampu memaparkan keimanan, ibadah maupun teologi kekristenan. Olehnya sudah selayaknya para pemuka Hindu, majelis Hindu maupun tokoh-tokoh Hindu memikirkan penanaman teologi dan pentingnya dialog dalam pergaulan di era global yang tidak dapat dihindari ini.

Tulisan ini dipetik dari tesis: Konversi Agama Masyarakat Bali (Studi Kasus Konversi agama Hindu ke Kristen Protestan di Kelurahan Abianbase Kecamatan Mengwi Badung), Ni Kadek Surpi, IHDN Denpasar 2009

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Bali! Target Konversi Terakhir!

Post by Penyaran on Sat Feb 16, 2013 5:08 pm

Teringat dulu saya ditanya begini sama seorang sahabat, bakungan kamu tahu bedanya wedus dengan domba?
Saya tercenung lama opo ya bedanya? Wong saya lihat sama2 kambing kok… Ternyata ada bedanya, domba itu taat pada pengembalanya dan wedus tidak taat dengan gembalanya.
Nah… Domba2 ini sajalah yang akan terselamatkan dari setan dan iblis, sedangkan wedus tidak akan selamat.
Kembali ke judul, sekarang di bali sedang ada lomba pengembala, banyak sekali pengembala yang buka stand, ada yang promosi kesaksian, ada yang promosi kesaktian dengan pengobatan, ada yang promosi buku bertulisan wahyu, luar biasa hiruk pikuknya pengembala mencari domba yang tersesat.
Pengembala-pengembala ini begitu semangat, sampai stand-nya di dekorasi mirip pura! Gubrak!!!
Ketika ditanya kenapa stand gembalamu di mirip-miripkan dengan pura? Katanya agar budaya bali tidak punah.
Tidak heran ada acara syukuran stand gembala yang menggunakan upacara mlaspas gaya hindu bali.
Saya teringat dengan teknik kamuflase pertempuran, agar tidak termonitor musuh, buatlah diri semirip mungkin dengan lingkungan.
Agar wedus-wedus tidak merasa asing dengan lingkungan sekitar, setelah lama dan nyaman barulah! Hap…! Kau kutangkap!
Wedus akan menjadi domba yang patuh!
Ketika semua wedus nanti berubah jadi domba… Selamat tinggal budaya bali!
Selamat tinggal wisatawan mancanegara…
Selamat datang domba-domba yang tersesat.
Pura-pura yang indah akan berubah nama menjadi nama-nama indah sang pengembala, dengan dongeng-dongeng surganya…
Saat itu bali akan menjadi pulau domba…
Hidup bali! The last paradise… Karena sorganya sudah diturunkan ke tanah bali oleh para pengembala…
Dan saya akan mengingat budaya hindu bali dari kepingan DVD bahwa dulu bali pernah di penuhi orang-orang Hindu…

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Konversi agama : pertarungan modal di balik ideologi

Post by Penyaran on Sat Feb 16, 2013 5:11 pm

Pesatnya perkembangan Bali menjadi daerah industri pariwisata, membuat Bali menjadi sebuah perkampungan global yang bisa disinggahi dan ditempati oleh siapapun dari berbagai belahan dunia. Pada kantong-kantong indstri pariwisata, utamanya seperti di Ubud, Sanur dan Kuta, kita bisa menyaksikan heterogonitas kultural yang bercampur baur menjadi satu. Heterogonitas ini boleh jadi warna yang memberi corak tersendiri bagi kultur masyarakat Bali yang berbasiskan spirit dan nilai-nilai agama Hindu. Hal ini seakan membenarkan paradigma yang selama ini melekat pada orang Bali, bahwasanya orang Bali adalah orang yang sangat terbuka, toleran, dan ramah terhadap keberadaan suku, bangsa ataupun agama lain. Namun demikian, kontak-kontak dengan masyarakat pendatang tentu saja akan memberikan suatu pengaruh baik secara disengaja ataupun tidak disengaja, bagi kedua belah pihak yang melakukan kontak atau interaksi tersebut.

Salah satu dampak dari interaksi masyarakat Bali dengan para pendatang adalah terjadinya konversi agama[1] yang bisa kita lihat pada beberapa wilayah di Bali, seperti di kabupaten Badung (desa Tuka) dan di Kabupaten Jembrana. Konversi agama dari Hindu ke Kristen ini sebenarnya sudah terjadi dalam beberapa fase, dilakukan oleh para missi zending yang datang ke Bali sebagai wisatawan ataupun peneliti yang mengkaji kebudayaan Bali.[2] Penyebaran misi agama ini, sesuai dengan perintah yang tersurat dalam ayat Injil Markus 28:28;16;15.[3] Ayat injil Markus ini, kemudian diterjemahkan melalui upaya-upaya penyebaran misi agama Kristen yang dilakukan secara intensif pasca abad pencerahan, sejalan dengan upaya kolonialisasi dan merkantilisme dari Barat ke Timur.

Melihat bagaimana perkembangan konversi agama yang terjadi pada masyarakat Bali dari Hindu ke Kristen, tentu saja mengundang pertanyaan banyak pihak. Masyarakat Bali selama ini terkenal sebagai penjaga benteng kebudayaan asli Nusantara yang terdesak oleh islamisasi, para pemikir orientalis Barat pada era 1930an pun terkagum dengan kebudayaan masyarakat Bali yang cenderung stagnan dan melabeli Bali sebagai museum hidup. Perkembangan konversi agama ini pun juga telah menimbulkan kecemasan bagi masyarakat Bali, para peneliti pun mulai tertarik untuk fenomena ini dan mencari faktor-faktor internal dan eksternal yang menyebabkan terjadinya konversi agama ini. Hal ini dilakukan atas dasar spirit untuk memberikan solusi dan wacana yang mampu memberikan kritik desdruktif bagi masyarakat Bali dalam hal menyikapi fenomena konversi agama, sebagai suatu konsekuensi logis dari adanya hubungan dengan masyarakat agama lain.

Mengkaji fenomena konversi agama ini, saya ingin menggunakan perspektif teori Teori Praktik Generatif.[4] Dalam teorinya ini Bourdieu menjelaskan bahwasanya untuk mendapatkan kekuasaan (pengaruh), pihak penguasa haruslah memiliki sejumlah akumulasi modal yang terdiri dari beberapa modal yakni, modal budaya, modal ekonomi, modal politik atau modal simbolik, ditambah dengan domain ranah (wilayah atau tempat). Dikaitkan dengan teori ini, kita bisa melihat adanya sejumlah akumulasi modal-modal yang berperanan besar dalam konversi agama khususnya di Bali.

Agama Kristen, dikenal sebagai suatu “agama aksi”, yakni agama yang menekankan pembangunan pada aspek-aspek kehidupan yang krusial dan penting bagi pemeluknya. Ini berarti agama ini mengutamakan pula pemenuhan aspek duniawi, Sejumlah gereja diketahui memiliki fasilitas-fasilitas seperti rumah sakit, sekolah, dan perpustakaan. Penyediaan akses-akses kesehatan dan pendidikan ini tentu saja didukung oleh basis ekonomi yang kuat. Agama Kristen adalah agama yang terorganisasi dengan baik, berbagai organisasi Agama Kristen dengan mudah bisa kita temui di berbagai belahan dunia, yang terhubung dengan baik sehingga mampu memobilisasi dukungan atau sokongan, karena memiliki kesatuan-kesatuan atau komuni-komuni yang solid. Selain adanya modal ekonomi, penting juga dicermati bahwa Agama Kristen mempunyai suatu konsep budaya (yang bisa dikategorikan sebagai modal budaya), yakni inkulturasi suatu konsep penerapan budaya lokal, dimana agama Kristen dipraktekkan tanpa memusnahkan budaya lokal tetapi justru merangkulnya, sehingga Agama Kristen bisa diterima oleh siapapun dari etnis, suku atau bangsa apapun, tanpa merasa harus kehilangan entitas budayanya jika melakukan konversi agama ke Kristen. Secara politis, agama Ktisten juga punya pengaruh yang cukup kuat, karena Agama Kristen dianut oleh mayoritas negara-negara adikuasa, yang punya kekuatan yang tangguh dalam percaturan politik internasional.

Lebih lanjut dalam teorinya ini Bourdieu menjelaskan, bahwa akumulasi modal ini sangat relatif porsinya karena disesuaikan dengan ranah dan habitus, yang mana ranah merupakan tempat, sedangkan habitus adalah suatu struktur kognitif, yang bisa kita makani sebagai suatu perilaku atau kebiasaan yang dipengaruhi oleh suatu cara atau pola-pola berpikir tertentu. Dalam hal ini kita mengkaitkan dengan pola atau tradisi masyarakat Bali, khususnya dalam hal beragama yang sangat kental dengan praktek-praktek ritual yang tidak tidak hanya membutuhkan perhatian, waktu tetapi juga dana, sehingga bagi sebagian masyarakat yang berpikir taktis, hal ini cenderung menjadi beban. Struktur konigtif inilah yang mampu dilihat oleh para misi zending dalam menyebarkan agama Kristen, sehingga demikian konversi ke Kristen juga merupakan salah satu alternatif penyederhanaan beragama yang sarat dengan kompleksitas ritual yang begitu rumit. Jika kita pahami berdasarkan Teori Generatif Praktik ini, bahwasanya dalam memperoleh pengikut, upaya –upaya perluasan

Selain sejumlah akumulasi modal yang menyokong proses konversi agama, tentunya secara internal, di kalangan masyarakat Bali juga terdapat faktor-faktor internal yang mendorong terjadinya konversi agama, seperti lemahnya pemahaman akan spirit dan nilai-nilai Ajaran agama Hindu, serta benturan-benturan sistem sosial, seperti adat istiadat yang diterapkan secara arogan oleh sekelompok masyarakat tertentu, tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan zaman yang senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan.

[1] Pengertian konversi agama secara etimologis berasal dari kata “conversio” yang berarti berbalik, tobat, pindah, berubah (agama), masuk ke dalam (agama). Lihat di D. Hendropuspito, OC, “Sosiologi Agama”, (Yogyakarta :Kanisius, 1983), p. 78

[2] Sejumlah sumber mengungkapkan konversi agama di Bali terdiri atas tiga periode. Periode pertama tahun 1597-1928, periode kedua tahun 1929-1936 dimana efektifitas usaha penginjilan dilakukan, periode ketiga adalah 1937-1949, masa persiapan kelahiran Gereja Protestan Bali. Sejumlah pendeta yang datang ke Bali diantaranya, Dr. H.W. Medhurst dan Dr. W.R.Baron Van Hoevall.

[3] Dalam ayat ini disebutkan bahwa Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk menyebarkan ajaran-Nya hingga ke ujung bumi.

[4] Teori Generatif dicetuskan oleh Bourdieu untuk memperkuat pendapatnya tentang modal yang dimiliki oleh setiap masyarakat. Istilah modal digunakan oleh Pierre Bourdieu (1984) untuk menjelaskan suatu praktik kekuasaan sosial berkaitan dengan teori Marx tentang kelas-kelas sosial di masyarakat. Bourdieu memperkenalkan sebuah postulat atau rumusan; ( Habitusx Modal) + Ranah = Praktik. Habitus adalah struktur kognitif yang memperantarai individu dengan realitas sosial, modal adalah suatu konsentrasi kekuatan, ranah adalah jaringan terelasi yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisi-posisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakat, praktik adalah suatu produk dari relasi habitus, modal, dan ranah. Disampaikan dalam makalah “Pendekatan Teori Sosial dalam Studi Keagamaan” dalam Matrikulasi Program Pasca Sarjana IHDN 2010.

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Missionaries Di Bali

Post by Penyaran on Wed Feb 27, 2013 6:24 pm

JANJI PERBAIKAN EKONOMI

Sepanjang abad yang lalu, seluruh upaya untuk meng-kristen-kan orang Bali telah gagal, orang Bali yang pertama menjadi Kristen sudah sangat di kenal. Karena gagal mendapat pengikut baru, dianggap mati dan diusir oleh masyarakatnya, ia lalu membunuh tuannya, membuang agamanya yang baru dan menyerahkan diri kepada desanya untuk di hukum menurut adat Bali. Skandal ini menyebabkan Belanda tidak mengijinkan kegiatan missionaris di Bali.

Tetapi ini tidak menghentikan para missionaris, ijin diberikan lagi kepada mereka pada tahun 1891, 1920 dan 1924, ketika Katolik Roma meminta konsesi khusus. Tetapi gelombang penolakan dari orang-orang Bali menggagalkan upaya ini. Pertemuan-pertemuan dilakukan oleh para pemimpin Bali untuk "menghentikan bencana besar ini" dan karena itu ijin itu dibatalkan.
Tetapi pada akhir 1930 para missionaris Amerika berhasil mendapat ijin masuk, dengan alasan hanya untuk memelihara jiwa-jiwa yang sudah diselamatkan dan bukan mencari pemeluk baru. Tetapi secara diam-diam dan tidak menarik perhatian mereka mulai bekerja di antara kelas-kelas terbawah masyarakat Bali. Para misionaris awal yang lebih tulus berupaya mencari pengikut baru berdasarkan keyakinan dan akibatnya mereka gagal. Tapi para misionaris yang datang belakangan menginginkan hasil yang lebih cepat dan menggunakan cara-cara yang lebih efektif. Mengambil keuntungan dari krisis ekonomi yang sudah terasa di Bali, mereka menjanjikan sasarannya yang miskin bahwa perubahan ke agama Kristen akan membuat mereka bebas dari masalah keuangan. Satu-satunya yang mereka harus lakukan hanya mengucapkan formula - "Saja pertjaja Jesoes Kristoes"

Bila orang yang terbujuk mengucapkan kalimat magic ini adalah kepala keluarga, misionaris itu mengklaim setiap anggota keluarga itu sebagai Kristen dan segera mereka menyombong telah mendapat 300 konvert.

MERASA DITIPU

Tetapi segera para pengikut Kristen baru itu menemukan bahwa mereka telah ditipu, mereka harus membayar pajak sama seperti sebelumnya, tidak disukai oleh masyarakat desanya dan dikucilkan. Di Mengwi, di mana para misionaris memperoleh suksesnya yang terbesar, para penguasa menolak membebaskan mereka dari kewajiban-kewajiban mereka, menyebabkan konflik tanpa akhir dengan banjar dan subak. Tuntutan hukum diajukan dan kekacauan dimulai. Di banyak desa dibuatkan awig-awig (aturan tertulis) yang menentukn orang-orang yang tidak setia denga agama Bali/Hindu, dinyatakan "mati". Sangkep-sangkep (rapat-rapat) diadakan untuk membicarakan kemungkinan menghukum mereka dengan membuang mereka ke tempat jauh seperti Jemberana bersama dengan para "kriminal" lainnya.

Orang-orang Kristen mulai prihatin ketika mereka menemukan mereka tidak dapat menguburkan keluarga mereka yang meninggal, karena dilarang menguburkan mereka di kuburan desa, atau tempat lainnya, termasuk tanah milik mereka sendiri.

Ketegangan semakin terasa dan kerusuhan hampir terjadi. Para kepala desa mulai bicara dengan mereka dan berhasil mengembalikan beberapa kepala keluarga kepada agamanya semula.

Yang khas adlah Pan Luting ( Loting dalam tulisan Surpi ), seorang kepala desa, pengikut baru yang membantu misionaris untuk meningkatkan jumlah pengikutnya. Dia menyesal, menyatakan bahwa dia telah ditipu, dan sebagai penari topeng terkenal, dia sekarang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengejek, membuat lelucon mengenai para misionaris dan mengekspresikan kebahagiannya karena tidak lagi menadi Kristen. Seorang pemuda membelot dari seorang misionaris ketika dia mendapati penyakit spilis yang dideritanya tidak kunjung sembuh setelah mengucapkan formula magic " Saja pertjaja Jesoes Kristoes" sebagaimana yang diharapkan ( atau yang dijanjikan kepadanya ).

Lagi, seorang konvert yang merasa segera akan mati cepat-cepat membuang agama barunya ketika balian desa menolak mengobatinya, dengan mengatakan mantranya tidak akan bisa menyembuhkan orang Kristen. Dia sembuh dan tidak perlu dikatakan lagi, dia membuat upacara besar dan pesta ucapan terimakasih.

KISAH KETOET

Kisah-kisah semacam itu mengalir tiada akhir di Bali. Tetapi ilustrasi terbaik mengenai kedangkalan keyakinan pemeluk Kristen baru ini adalah percakapan antara seorang konvert muda dengan seorang pejabat yang tercerahkan :

* " Kenapa Ketoet boeang agama Bali?"
* " Sebab saja pertjaja".
* " Pertjaja apa?".
* " Saja pertjaja Toean Jesoes Kristoes".
* " Siapa Dia?".
* " Itoe Toean jang pake badjoe itam jang sering datang dariLombok".

Akhirnya ganguan-ganguan demikian kentara dan missionaris Amerika itu harus angkat kaki dari Bali. Sampai saat itu missionaris Belanda menahan diri dari kegiatan di Bali. Tetapi ketika datang berita bahwa missionaris saingannya berhasil mendapat beberapa konvert, mereka bersemangat kembali dan berupaya agar undang-undang yang melarang kegiatan missionaris di Bali dirubah. Kontroversi pahit merebak di surat kabar-surat kabar di Belanda dan di Jawa bahwa para missionaris itu mengklaim tentang orang-orang Bali pada akhirnya sudah matang untuk dikonversi karena perasaan keagamaan mereka telah mantap. Seorang yang bernama Dr.Kraemer , kepala missionaris satu sekte Protestan, pergi ke Bali untuk menyelidiki dan setelah tinggal di pulau Bali selama lebih dari sebulan, menulis satu laporan tebal yang mana ia ingin membuktikan kegagalan agama Bali dan ide bahwa orang-orang Bali sejatinya ingin menjadi Kristen, tetapi dihalang-halangi oleh para intelektual Eropa yang tinggal di Bali. Argumen ini dengan cepat dijawab oleh Tjokorde Gede Rake Soekawati, wakil Bali di Volks-raad, " Istana Rakyat " di Batavia. "Penemuan" Dr.Kraemer yang penuh prasangka seluruhnya disikat oleh jawaban-jawaban dan analisis-analisis dan argumen-argumen dari para murid sejati Bali, orang-orang seperti Bosch, Goris, Korn, Lekkerkerker, De Bryun Kops dan Damste.

Dr. Goris menunjukkan bahwa pandangan dari para missionaris didasarkan atas prinsip bahwa semua manusia pada hakikatnya "buruk" dan dalam "konflik bathin" yang tidak punya harapan yang hanya dapat disembuhkan oleh satu merek agama khusus yang dikotbahkan oleh para missionaris.

Hanya menemukan bukti kecil dari "konflik bathin" di dalam orang-orang Bali, kaum missionaris ini menggosok-gosok permusuhan alamiah kelas-kelas lebih rendah melawan kelas warna lebih tinggi dan dengan memainkan kemiskinan mereka, dan dengan demikian mendorong pertentangan kelas dari pada menghapuskannya, sebagaimana kalim mereka. Cukup menarik perhatian, kaum missionaris yang sama, yang menuduh kedangkalan agama orang Bali, menyetujui konvert baru berdasarkan alasan kepura-puraan atau alasan-alasan palsu yang tidak mengerti apapun mengenai agama Kristen, kecuali beberapa istilah Melayu stempel karet.

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Mengapa Orang Bali Gampang Pindah Agama?

Post by Penyaran on Sun Mar 03, 2013 3:07 pm

Diskusi tentang "Muhammad Kadek Rihardika bin Ketut Pandika" sekalipun terlihat main-main saja, sebenarnya mengandung dua pertanyaan yang cukup menarik. Mengapa orang Bali relative mudah pindah agama? Dan apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya? Sudah ada penelitian tentang orang-orang Bali yang pindah ke Kristen di Bali, dilakukan oleh Drs Nyoman Wijaya, dosen sejarah di Faksas Unud, untuk thesis S2. Penelitian ini dan hasilnya diterbitkan berupa sebuah buku tebal, dibiayai oleh sebuah Yayasan Kristen di Bali. Saya belum membaca buku tersebut. Menurut Pak Made Titib ada 7 atau 9 hal yang menyebabkan orang-orang Bali pindah ke agama Kristen. Sebab yang utama adalah masalah kemiskinan, masalah ekonomi. Sebab-sebab yang lain, adalah adat, kasta, agama (ini tidak menunjukkan urutannya) dll

Karena buku ini berdasarkan penelitian, wawancara dengan orang-orang Bali yang sudah menjadi Kristen, apa yang disampaikan di dalamnya dapat diterima kebenarannya. Jadi benar bahwa soal pindah agama, dalam ini ke agama Kristen lebih banyak didorong oleh masalah perut. Tetapi bagimana kita menjelaskan orang-orang Bali yang berpendidikan baik, berkedudukan baik, berasal dari keluaga puri, dari griya, bahkan putra pedanda, putra pendiri Dwijendra, PGA Hindu pindah agama karena ikut istri?

Di bawah ini saya coba mengemukakan beberapa sebab, berdasarkan pengamatan saja, karena saya tidak melakukan penelitian, misalnya wawancara dengan mereka yang pindah agama.

Pertama, melaksanakan tanpa memikirkan.

Orang Bali lebih banyak melaksanakan agamanya dari pada memikirkannya. Ini juga dikatakan oleh Miguel Covarrubias di dalam bukunya "Island of Bali". Ini tidak sekedar berarti orang Bali melaksanakan berbagai ritual saja, tetapi juga di dalam tingkah laku etiknya. Be good! Do good! Dua hal inilah sebetulnya inti agama Hindu. Itulah yang dilaksanakan oleh orang Bali. Dan ini saja sebetulnya sudah cukup, asalkan kita hidup di dalam masyarakat yang homogen (Hindu). Atau di dalam masyarakat majemuk dari agama-agama Timur. Tetapi ini saja sama sekali tidak cukup bila kita hidup di dalam masyarakat heterogin, yang terdiri dari agama-agama Kristen. Kenapa? Karena kedua agama ini merupakan agama missi yang agresif.

Kedua, hegemoni makna keagamaan.

Konsep dan makna keagamaan dewasa ini ditentukan oleh agama Kristen. Ini adalah hasil dari keaktifan mereka di dalam wacana keagamaan. Mereka dapat mendiktekan definisi dan menentukan mana agama yang benar dan mana yang salah. Misalnya soal paham ketuhanan monotheisme, agama bumi vs agama langit, tentang nabi dll. Orang-orang Bali (Hindu) karena tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang agamanya, apalagi tentang agama lain, tidak mampu berpartisipasi di dalam wacana ini. Akibatnya mereka hanya mengikuti saja apa yang didiktekan oleh agama Kristen. Hal paling maksimal yang dapat dilakukan oleh orang Bali, adalah mematut-matut diri di depan cermin yang dipasang oleh agama lain (Kristen). ini berarti, secara sadar atau tidak, kita mengakui bahwa agama mereka lebih tinggi,lebih bermutu dari agama kita. Kita menerima saja konsep yang didiktekan oleh Kristen, tanpa daya kritis sama sekali. Kita mengikuti strategi "saya juga" (me too). Agama saya juga monoteis, agama saya juga punya nabi, agama saya juga agama langit.

Tetapi konsep yang kita terima secara formal tidak menemukan pijakan di dalam realitas. Misalnya soal monoteisme, di dalam praktek kita masih bicara tentang "Betara Pura Rawamangun" "Betara Pura Bekasi". Betara Pura Rawamangun "lunga" ke Pura Bekasi, waktu piodalan di Bekasi. Betara pura Bekasi bersama para Ida Betara di seluruh Jabotabek "ngiring" Ida Betara Gunung Salak melasti ke Cilicing. Kemudian soal nabi. Kita sibuk mencari-cari siapa nabi Hindu.

Seharusnya kita mengkaji apa monoteisme itu? Bagaimana perbandingannya dengan paham ketuhanan yang lain seperti politeisme, panteisme. Betulkah monoteisme lebih unggul dari paham ketuhanan yang lain? Apa nabi itu? Bagaimana kehidupan para nabi itu, khususnya kehidupan moralnya, bila dibandingkan dengan para maharesi Hindu atau para pendiri agama-agama Timur seperti Mahavira, Buddha, Guru Nanak, Kong Hu Cu, atau dengan para maharesi baru Hindu seperti Vivekananda, Ramana, Gandhi misalnya.

Demikian juga tentang agama langit dan agama bumi. Kita seharusnya mempelajari apa isi dari agama-agama ini, apa keunggulan agama-agama ini? Apakah ia mengajarkan nilai-nilai yang cocok dengan kemanusiaan dewasa ini? Bagaimana dengan ajaran tentang kebencian dan kekerasan yang demikian banyak terdapat di dalam kitab suci mereka, dan juga di dalam praktek kehidupan nyata? Kita tidak mampu melakukan purwa paksa (kritik atas ajaran agama lain) karena kita tidak memiliki pengetahuan untuk itu. Dan tidak punya kemauan pula.

Di dalam sebuah wilayah jajahan, si terjajah, secara terang-terangan atau tersembunyi mengagumi bahkan memuja si penjajah. Fakta bahwa si pejajah dapat menjajah merupakan bukti bahwa si penjajah lebih hebat dari si terjajah. Si terjajah, secara diam-diam atau terang-terang ingin meniru si pejajah. Hal yang di bawah ini contohnya.

Ketiga, semua agama sama saja.

Pendapat ini biasanya berkembang di kalangan para penekun "spritiualitas" - tidak semuanya - yang kemudian diikuti oleh sebagian umat Hindu awam. Saya tidak asal menolak pandangan ini. Saya ingin ditunjukkan bukti atau argumenasi dimana samanya? Apakah ada kesamaan di antara ajaran-ajaran, doktrin-doktrin, dogma-dogma utama yang merupakan pilar dari agama-agama itu? Jawaban ini tidak pernah muncul. Jawab yang diberikan biasanya merujuk kepada "pengalaman". Yang dimaksud disini adalah pengalaman mistis. Jawaban ini sama sekali tidak meyakinkan saya. Pengalaman ini bersifat sangat personal. Berapa banyak orang Hindu yang mau memiliki pengalaman ini? Dari yang mau berapa banyak yang mampu memperolehnya? Dari yang mengaku memperolehnya bagaimana ia dapat di verifikasi atau difalsifikasi? Dan apakah orang-orang dari agama lain juga mencari pengalaman semacam itu? Saya pikir tidak. Tugas utama dari agama-agama tersebut adalah mewujudkan perintah kitab suci atau pendirinya untuk membuat agamanya sebagai satu-satunya agama di dunia. Kita dapat menyebut ini adalah agenda imperialisme agama. Paham triumpalis ini yang menjadi daya dorong (driving force) yang melahirkan semangat dan gairah missi dan dakwah dari kedua agama tersebut. Mereka pergi ke seluruh pelosok dunia untuk mejalankan perintah agung (great commission) ini.

Sementara pengalaman itu pasti berharga bagi yang menginginkan dan mendapatkannya, mengatakan bahwa dengan pengalaman itu saja semua permasalahan dunia dapat diselesaikan, adalah pernyataan yang naïve dan menyesatkan. Urusan agama apalagi urusan dunia sama sekali bukan hanya soal pengalaman ini. Kita tidak dapat menyelesaikan suatu tantangan dengan sekedar lari ke dalam.

Dampak dari kesamenisme banyak dan serius. Di antaranya adalah, pertama tentu saja, ini mendorong atau tidak menghalangi orang Bali (Hindu) untuk pindah agama. Bila kita konsekuen dengan dalil bahwa semua agama sama, seharusnya kita tidak mempermasalahkan dan tidak perlu melakukan apapun. Kedua, pandangan ini tidak mendorong orang-orang Bali untuk mempelajari agama-agama lain. Digabung dengan yang pertama, hal ini menyebabkan kita semakin tidak mampu terlibat dalam wacana agama, tidak mampu merespon tantangan yang disampaikan oleh agama-agama yang lain, terutama yang berkaitan dengan upaya konversi mereka.

Sikap ini, menurut Dr Frank Gaetano Morales, membuat agama Hindu seperti cermin atau panggung kosong. Siapa saja dapat bermain di panggung itu, dengan lakonnya sendiri, dengan pemainnya sendiri, di depan para penonton Hindu atas biaya agama Hindu. Peran Hindu baru dibutuhkan, jika rombongan asing itu memerlukan satu tokoh antagonis. Tentu tidak aneh bila para penonton (yang adalah orang-orang Hindu) akan mengagumi dan memilih para pemain asing itu dari pada pemain Hindu yang hanya berperan sebagai tokoh buruk.

Siapakah yang akan memilih agama, yang justru mengagungkan agama-agama lain di atas dirinya sendiri? Tanya Dr Morales.

Di samping soal prinsip di atas, dari aspek citra, pernyataan bahwa semua agama sama saja, yang disampaikan oleh orang Hindu dalam kedudukan sebagai minoritas, dalam pandangan saya, mirip upaya orang miskin yang ingin sekali diakui saudara oleh orang kaya, yang justru terus-menerus menolak dan menghinanya. Siapakah yang ingin mengikuti suatu agama yang menumbuhkan mental terjajah?

Keempat, kemalasan intelektual.

Ketiga hal tersebut di atas menyebabkan kita terbuai dalam suasana aman dan nyaman. Kita bukan saja tidak mampu, tetapi juga tidak mau merespon wacana dari agama lain. Kita tidak ingin mengganggu rasa aman dan nyaman kita. Sekalipun jika rasa aman dan nyaman itu adalah palsu. Kita telah menjadi malas secara intelektual.

Ketika Media Hindu menerbitkan buku "Hindu Agama Terbesar di Dunia" tahun 2004, yang diselenggarakan oleh KMHDI Jakarta, yang bereaksi keras justru orang-orang Hindu (Bali) sendiri. Orang-orang dari agama lain, diam-diam saja. Ini tampak ketika acara bedah buku ini di Pura Bekasi pada awal terbitnya buku ini yang diselenggarakan oleh PHDI Bekasi dengan KMHDI Jakarta. Reaksi dari peserta demikian keras. Ada yang mempertanyakan apakah buku tidak akan menimbulkan reaksi dari pihak lain? Mengapa melakukan perbandingan semacam itu? Bahkan ada yang mengatakan saya (sebagai editor) berpandangan sempit. Mengapa tidak menulis buku yang memuat kebaikan-kebaikan semua agama?

Semula saya marah mendengar penyataan-pernyataan ini, bukan karena saya tidak suka dikritik, tetapi karena saya melihat semuanya itu muncul dari ketakutan. Apa yang membuat kita begitu ketakutan? Tetapi kemudian saya senang, karena saya berhasil membangunkan orang-orang Bali ini yang, terlalu lama terkantuk-kantuk dalam lamunan tentang dunia yang damai dan indah di dalam angan-angannya. Mereka memang bangun secara terkaget-kaget, seperti orang yang pantatnya tersundut bara keloping. Bukankah suasana semacam itu juga sering muncul di HDNet ini? Kita belum bisa membedakan purwa paksa dengan kebencian dan menjelek-jelekkan agama. Dan kita tidak mau belajar.

Demikianlah jawaban saya terhadap pertanyaan : mengapa orang Bali (relative) mudah pindah agama? Secara singkat dapat dikatakan penyebabnya adalah "kompleks rendah diri agama" (religious inferiority complex). Lalu pertanyaan kedua, bagaimana mencegah perpindahan agama yang begitu gampang itu? Masalah-masalah yang telah disebutkan oleh Nyoman Wijaya harus diselesaikan. Dan yang lebih penting kompleks rendah diri agama ini juga harus diselesaikan. Jika masalah kedua ini tidak dapat diselesaikan, penyelesaian masalah-masalah pertama tadi tidak akan ada gunanya. Banyak upaya diperlukan. Seluruh komponen masyarakat Hindu yang sadar harus mengambil tanggung jawab. Tugas Media Hindu bersama buku-buku yang diterbitkannya adalah untuk menghancurkan religious inferiority complex yang sudah kronis dan melumpuhkan ini!

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Jangan Jadi Burung Unta

Post by Penyaran on Sun Mar 03, 2013 7:09 pm

Ketua banjar Serang, Banten, seorang polisi yang telah hampir 23 tahun bertugas di daerah Banten, mengatakan andaikata ada sepuluh orang Bali merantau keluar Bali, kemungkinan besar hanya lima orang yang masih beragama Hindu.

Seorang pejabat Departemen Kelautan, yang pernah bertugas di Sulawesi Selatan dan pernah menjadi pengurus PHDI di Sulsel, dalam suatu dharma tula di Kerawang, mengatakan hal yang sama Banyak polisi atau tentara dari Bali yang bertugas di Sulsel, terutama di kecamatan atau desa, kawin dengan gadis setempat dan mengikuti agama istrinya.
Kedua pernyataan di atas memang hanya opini berdasarkan apa yang ditemui di lapangan. Tetapi sudah ada penelitian tentang orang-orang Bali yang pindah ke Kristen di Bali, dilakukan oleh Nyoman Wijaya, seorang dosen sejarah di Faksas Unud, untuk thesis S2. Penelitian ini dan hasilnya diterbitkan berupa sebuah buku tebal, dibiayai oleh sebuah Yayasan Kristen di Bali. Buku itu sekarang menjadi semacam alat propaganda bagi penyebaran Kristen di Bali. Tetapi juga dapat menjadi dasar bagi orang Bali, tidak sekedar interospeksi, tetapi untuk mencegahnya.

Kadek Surpi Aryadharma, juga meneliti hal ini untuk tesis S2 di IHDN Denpasar. Kadek Supri mencatat 8 penyebab orang-orang Bali pindah ke agama Kristen. Sekarang tercatat 27.000 orang Bali yang telah menjadi Kristen Protestan. Sedangkan yang menjadi Katolik sejak 1937 – 1986 13.565 orang. Yang menjadi Islam tidak diketahui. Ini baru di Bali saja. Belum yang di luar Bali.

Dari laporan utama kali ini, kita tahu betapa gigihnya para missionaris itu untuk mengkonversi orang Bali. Di pihak lain perlawanan orang Bali, para terpelajar maupun rakyat biasa untuk melawan “bencana besar” itu, juga tidak kurang gigihnya. Maka tidak benar pernyataan pastor Shadeg bahwa orang Bali menerima para missionaries dengan tangan terbuka. Undangan raja Klungkung untuk para missionaris Portugis di Malaka untuk menyebarkan agama Kristen di Bali, bila surat itu benar ada, mendapat reaksi sebaliknya dari rakyat Bali. Pertanyaannya sekarang, apa yang harus dilakukan oleh masyarakat Hindu, khususnya orang Bali atau Parisada?

Sepanjang pengetahuan saya, Parisada tidak pernah membahas hal ini secara terbuka, baik dalam Mahasabha, Pesamuhan Agung, atau seminar dan dialog khusus. Pada waktu perkenalan anggota Panitia Mahasabha IX di satu restoran di Jakarta Pusat, sekitar bulan April 2006, sebagai ketua SC, saya mengajukan pertanyaan, apakah dalam mahasabha ini kita “berani” membahas masalah konversi? Seorang perwira menengah, yang sekarang sudah menjadi perwira tinggi, merespon, “mengapa tidak?’ Apa yang ditakuti? Bukankah tujuan Parisada adalah untuk mencegah umat Hindu pindah ke agama lain?

Di dalam pemandangan umum dari Mahasabha IX, hanya Parisada Provinsi Kalsel yang mengangkat soal konversi ini. Tetapi laporan ini tidak ditanggapi, baik oleh peserta maupun pimpinan sidang. Ketika itu para peserta Mahasabha sedang sibuk menyelesaikan konflik internalnya. Komisi C akhirnya memang membuat rekomendasi tentang program untuk menghadapi konversi ini.

Tapi seorang ketua Pengurus Harian mengatakan bahwa rekomendasi ini tidak ada tindak lanjutnya. Karena itu Parisada seperti tidak siap menghadapi aktivitas missi. Ini terbukti dari kasus “Pura Gereja” di Desa Les, Singaraja yang cukup lambat direspon oleh Parisada. Semestinya Parisada memiliki strategi bahkan protap yang jelas untuk menghadapi hal-hal semacam ini.

Berbeda dengan sikap D.G Oka ketika menjadi Bupati Badung. Begitu mendapat laporan bahwa ada sekelompok orang Bali yang baru pindah menjadi Kristen membangun kuburan dengan bentuk Padmasana, Bupati segera memanggil orang-orang itu dan memerintahkan agar kuburan yang menghina agama Hindu itu dibongkar paling lambat dalam waktu tiga hari. Bila tidak, Pemda akan membongkarnya dengan buldozer.

Sikap tegas Bupati diikuti. Besoknya padmasana kuburan itu sudah dibongkar. Sikap tegas justru diperlukan, untuk menjaga toleransi. Tidak boleh satu pihak bermain-main atas keyakinan pihak lain. Parisada tidak dapat berlindung di pernyataan bahwa pindah agama adalah hak azasi. Tugas Parisada adalah untuk membela dan mempertahankan umatnya. Burung onta, ketika menghadapi bahaya, menanam kepalanya di pasir. Janganlah hendaknya kita menjadi burung onta!

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Para Leak pun Ikut Mengusir Missionaris

Post by Penyaran on Mon Mar 18, 2013 8:22 pm

Konversi agama sudah menjadi kecemasan orang-orang Bali sejak dulu. Pergulatan pemikiran mengenai bagaimana strategi membendung pengaruh missi dan zending (Penyebar agama Katolik dan Protestan) pun sudah dilakukan oleh kaum terpelajar Bali (Hindu) sejak lama. Mereka, meskipun masih berada di bawah kekuasaan Kolonial Belanda bukan berarti tidak hirau dengan apa yang menimpa komunitas mereka (Hindu-Bali). Meskipun demikian lama usia pergulatan pemikiran untuk menemukan format kokoh untuk membangun sradha (keyakinan) umat Hindu, namun toh sampai kini pun berbagai kelompok memiliki penilaian dan pendekatan berbeda di dalam menyusun langkah menangkal konversi agama. Sampai tahun 2012 ini pun, terdapat berbagai golongan yang berbeda pendapat di dalam menyikapi hal ini. Satu pihak mengajukan pendekatan ekonomi dengan menggenjot pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di kalangan umat Hindu untuk meredam meluasnya aksi-aksi konversi agama yang dialami umat Hindu di Bali. Sedangkan kelompok lain berpendapat, ritual yang rumit adalah biang kerok banyaknya umat Hindu beralih agama.

Di dalam buku Nyoman Wijaya yang berjudul “Merayap di Akar Rumput” dipaparkan dengan detail bagaimana pergulatan konversi agama yang terjadi di Bali. Studi sejarah yang ditempuhnya di dalam menyusun buku ini menghasilkan suatu rekam data yang sangat mengagumkan. Pendekatan sejarah mikro yang dilakukannya memungkinkan ia memungut data kecil-kecil secara rajin, sehingga terkumpul fakta sejarah yang komplit dan skupnya luas. Misalnya pada halaman 65-67 ia menuliskan, bahwa pada bulan September 1927 muncul kekhawatiran akan meluasnya pengaruh agama Kristen di Bali. Perasaan itu dipengaruhi oleh perkembngan organisasi Al-India Hindu Mahasabha di India.

Organisasi ini bertujuan untuk mencegah meluasnya pengaruh agama Kristen dengan melakukan berbagai kegiatan kemanusiaan, misalnya mengumpulkan dana untuk menolong kehidupan orang-orang yang kelakuannya diteladani oleh orang banyak. Perkumpulan ini ingin mengadakan perubahan dalam pergaulan hidup dan agama bangsa India, karena banyak orang yang berkasta tinggi kecewa melihat lingkungan keluarganya yang masih terbelakang dalam kecerdasan dan terkukung oleh adat istiadat kuno, lalu ingkar dengan agamanya, masuk ke agama Nasrani. Namun dalam perkembangan selanjutnya, jumlah orang berkasta tinggi yang pindah agama semakin berkurang. Karena itu para penyebar agama Nasrani berupaya menarik orang dari golongan rendah, yakni mereka yang dalam pergaulan hidup dan agama selalu tidak beruntung, untuk beralih agama.

Di Bali kiranya sudah perlu dibangun bendungan dan pematang seperti itu, karena selain umurnya lebih muda dari yang di India, agama Hindu berada di pulau kecil yang letaknya di tengah-tengah lautan Nasrani. Tujuannya tentu supaya lautan tidak sampai menghancurkan pulau yang kecil itu. Salah satu cara untuk membuat benteng pertahanan itu adalah dengan mempertipis perbedaan dalam aturan pergaulan hidup, misalnya dengan menggantikan hukuman selong selama enam tahun dengan denda sebasar 1.50 Gulden bagi seorang jaba yang menikahi seorang wanita dari kasta brahmana. Dengan cara seperti itu, wong Bali dapat dengan satu hati mengemudikan kapalnya untuk bersatu dengan Kapal Jawa menuju pelabuhan Indonesia Zelfbestuur.

Masuknya aspek penyederhanaan kasta dan persoalan politik (gerakan Indonesia merdeka), mengakibatkan persoalan utama yakni upaya mencegah meluasnya pengaruh agama Katolik Roma di Bali kelur dari rel perbincangan. Kelompok konservatif yang diwakili oleh Redaktur Bali Adnjana, I Goesti Tjakratanaja, menanggapi usulan pendirian organisasi ala Al-India Hindu Mahasabha itu. Dia menyatakan tidak perlu tergesa-gesa mengikuti suara yang sebenarnya belum patut didengar itu sebab dalam hal pendengaran dan perasaan, sebagian besar bangsa Bali belum setara dengan bangsa India maupun Jawa. Artinya, calon pemimpin bangsa Bali jika dibandingkan dengan India maupun Jawa bagaikan bumi dan langit. Di Bali para calon pemimpinnya hanya lulusan sekolah menengah, paling tinggi OSVIA atau HKS, sehingga belum mampu menjadi pemimpin bangsa, baik menurut cara lama maupun cara baru. Apalagi tingkat perekonomian mereka pun masih rendah.

Dengan posisi seperti itu, menurut Tjakratanaja, kaum terpelajar di Bali hendaknya tidak menyombongkan diri hanya karena sudah bergelar diploma lalu ikut-ikutan merebut bola yang sedang diperebutkan oleh orang-orang di Jawa yang sudah bergelar Mr, Dr.,dan Ir.. kesombongan itu akan mengakibatkan rakyat Bali menderita misalnya ditangkap lalu dibuang ke Boven Digul. Buktinya, sekarang ini para tawanan di Boven Digul kebanyakan adalah para pemuda lulusan sekolah menengah, sementara yang sudah bergelar Mr., Dr.,dan Ir., dengan mudah bisa menghindar dari jeratan hukuman.

Para Leak Mencoba Membunuh Missionaris

Tahun 1931 datang seorang pengajar Injil bernama Tsang To Hang tiba di Denpasar bermaksud untuk menyebarkan Injil. Di dalam usahanya mengkonversi orang-orang Bali menjadi Katolik, Tsang To Hang menempuh cara-cara kasar. Menganjurkan orang-orang membongkar sanggah, sehingga membuat orang-orang tersinggung. (halaman 102). Selain itu ia juga berkata-kata sangat menyakitkan hati orang Bali dengan ucapan, “Better to give all these offerings to the dogs than to bring them to the temple,” lebih baik berikan semua persembahan itu kepada anjing-anjing, daripada membawanya ke pura.

Cara kerja Tsang To Hang seperti ini menjadi pergunjingan di Denpasar. Namun orang-orang tak berani membunuhnya secara langsung, karena takut hukuman Belanda. Namun, sejumlah praktik black magic (Pengleakan) pernah berusaha untuk melenyapkannya. Pada suatu malam Tsang To Hang diserang segerombolan suara menyeramkan, mirip pesawat terbang. Kejadian saat ia menjelang tidur itu membuatnya menggigil ketakutan. Dengan nafas terengah-engah ia melompat dari tempat tidur untuk meminta pertolongan Tuhan. Dengan dada berdebar-debar dan tubuhnya dipenuhi keringat dingin, ia berusaha melakukan perlawanan dengan meminta pertolongan Tuhan. Serangan ini berlangsung selama tujuh malam.(Halaman 103).

Walaupun serangan leak ini gagal mengambil nyawanya, namun Tsang To Hang gagal dalam misinya. Tak satu pun orang Denpasar berhasil ia kristenkan, salah satu penyebabnya adalah berkembangnya Denpasar secara ekonomi dengan dibukanya pelabuhan Benoa. Selain itu pembrantasan buta huruf yang dilaksanakan pemerintah Kolonial membuat orang-orang bertambah wawasannya tentang bahaya-bahaya konversi yang melanda agama Hindu.

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Re: setelah Islam & Buddha, kini giliran Hindu jadi target Kristenisasi

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik