FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

generasi al Muzzamil

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

generasi al Muzzamil

Post by keroncong on Sat Nov 19, 2011 12:17 pm


Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Ummul Mukmin Aisyah ra bahwa Allah telah mewajibkan qiyamullail kepada Rasulullah Saw. di awal surat ini. Beliau dan para sahabat telah menegakkannya di sebagian malam sehingga kaki-kaki mereka bengkak. Setelah genap dua belas bulan, Allah memberikan keringanan dengan diturunkannya ayat kedua puluh dari surat ini pula. Maka berubahlah hukum qiyamu lail yang tadinya wajib menjadi satu ibadah yang sunnah.

Surat Al Muzammil turun pada marhalah bina’. Marhalah penggemblengan ruh. Para sahabat merupakan calon dai dan mujahid digembleng dengan gemblengan yang berat. Selama satu tahun mereka harus bangun di tiap tengah malam untuk berdiri shalat berjam-jam. Mereka dituntut untuk taat, tunduk, patuh dan berpegang teguh pada perintah Allah dan Rasul-Nya.

Kewajiban qiyamullail bukanlah sekadar berdiri sholat berjam-jam. Tetapi ia merupakan tarbiyah imaniyah. Tarbiyah untuk selalu berhubungan dengan Yang Maha Pencipta, untuk bermunajat ke pada-Nya. Ia merupakan wasilah untuk mendekatkan diri, berdzikir dan bertawakkal kepada-Nya.

“Sebutlah nama Rabb-mu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketaatan, (Dialah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada Illah melainkan Dia. Maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al Muzammil: 8-9)

Sungguh!! Berdzikir kepada Allah taat, tunduk dan patuh kepada-Nya, bertawakkal dan beribadah hanya kepada-Nya, merupakan senjata yang ampuh di medan dakwah yang penuh dengan rintangan dan cobaan. Semuanya akan menjadikan para calon du’at dan mujahid terbiasa untuk bersabar atas cobaan yang datang secara beruntun. Mereka akan terbiasa menanggung derita dan konsisten dalam mempertahankan haq. Ini semua merupakan satu satunya senjata pada marhalah bina’. Marhalah yang belum diizinkan untuk menghadapi kaum kafir secara langsung.

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik:. (QS. Al Muzammil : 10).

Sungguh seorang da’i atau mujahid yang diatas pundaknya terbebankan panji-panji dakwah, pasti akan mendapati cobaan, siksaan dan intimidasi, dan tentu sangat membutuhkan senjata untuk mengukuhkan mereka. Senjata yang meneguhkan hati dan jiwa mereka. Mereka hanya akan mendapatkannya jika dalam marhalah bina’ mereka telah digembleng dengan gemblengan Al Muzammil. Dan harokah islamiyah jika tidak menggembleng generasinya dengan gemblengan Al Muzammil, mereka akan berjatuhan di tengah jalan ketika mereka dihadapkan pada cobaan dan intimidasi.

Generasi Al Muzammil harus dibina dibawah konsep Qur’ani. Dan tidaklah cukup jikalau Al Qur’an hanya dijadikan sebagai pusat dan sumber intelektualitas belaka. Tetapi Al Qur’an harus dihafal. Khusus bagi mereka yang masih berumur muda.

Perlu diingat makna qiyamul lail tidak akan pernah terealisir selama calon da’I atau mujahid tidak hafal ayat-ayat Al Qur’an kecuali beberapa ayat saja. Bagaimana ia akan merasakan nikmatnya bermunajat, sedangkan ia hanya hafal beberapa ayat dari Al Qur’an dan diulangnya tiap rokaat sholatnya? Bagaimana ia akan merasa khusyu’? Sungguh !! betapa nikmat, tatkala kaki berdiri tegak untuk memulai munajat, hati tergerak disinari ayat-ayat Ilahi, yang kemudian dibiaskan ke dalam penglihatan, pendengaran, jiwa dan kehidupan.

Untuk menghasilkan generasi Al Muzammil yang tangguh, harokah islamiyah harus mengonsep, pada umur 20 tahun seorang anggota harus sudah hafal sebagian besar ayat-ayat Al Qur’an. Inilah yang akan menjadi bekal mereka. Dengan bekal ini, mereka akan bisa mereguk nikmatnya bermunajat, qiyamul lail dan bertaqorrub kepada-Nya.

Potret generasi Al Muzammil adalah seorang pemuda yang telah melewati pubertas nya dengan kecintaan pada ibadah, ketaatan , dan taqorrub kepada-Nyaa. Pemuda yang selalu bertilawah dengan tartil, yang setiap malam air mata mengucur deras dari pelupuk matanya. Mentadabburi ayat-ayat-Nya. Pemuda yang Al Qur’an terukir di hati dan pikirannya.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: generasi al Muzzamil

Post by keroncong on Tue Nov 22, 2011 12:55 pm

Generasi Muslimin perdana (para sahabat Rasulullah s.a.w. semoga meridlai mereka) dinilai Rasulullah s.a.w. sebagai "khairu-qurun" (generasi terbaik). Bahkan Allah SWT memberinya predikat "khairu ummah" (ummat terbaik) dengan firman-Nya: "Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada ALlah" (Q.S. Ali Imran 110) Khitob (cicerone) ayat ini adalah Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya. Predikat ini selanjutnya diberikan kepada umat yang memiliki karakteristik sifat-sifat seperti yang dimiliki generasi pertama itu. Penilaian Allah atas khoiru ummah tidak didasarkan pada nilai-nilai material atau keberhasilan-keberhasilan duniawi, seperti penaklukan- penaklukan kota musuh atau pengumpulan ghonimah yang melimpah ruah.
Mengapa demikian? Karena keberhasilan-keberhasilan material itu tak lain merupakan natijah (hasil) kondisi mental sepirititual mereka yang unik hasil tempaan murobbi teladan, yaitu Rasulullah s.a.w. Asy-syahid Sayyid Quthub dalam "Ma'alim Fith-Thoriq" menjuluki generasi Muslimin itu sebagai "Al-Jiilul-Qur'any Al-Fariid" (generasi Qur'ani yang unik). Julukan aatersebut sangat tepat karena kehidupan individu (fardy), keluarga (usrah) dan masyarakat (mujtama'). Atas dasar ini tidaklah tepat menilai "hanif" tidaknya sebuah gerakan da'wah berdasarkan keberhasilan atau kegagalan material. Lembaran sejarah para sahabat r.a. memperlihatkan bahwa tidak ada satu ayat Al-Qur'an pun yang tidak ter-realisir dalam kehidupan mereka. Seluruh isi Al-Qur'an telah menjadi sibghah (celupan) bagi generasi tersebut secara umum. Ketinggian umat terletak pada keimanannya kepada Allah SWT dan kitab-Nya secara utuh tanpa ada pemilahan. "Dan janganlah kalian merasa hina (rendah) dan jangan (pula) kalian merasa bersedih. Kalian adalah umat yang paling tinggi, jika kalian (benar-benar) beriman." (QS Ali Imran 139) Pemilahan terhadap syari'at Allah dalam bentuk mengimani sebagiannya dan menolak sebagian lagi, mengakibatkan kejatuhan ummat tersebut ke lembah kenistaan di dunia dan akhirat. Mereka tak layak lagi menyandang predikat "Al-A'laun" atau "khairu ummah". "Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitab dan kufur kepada sebagian lagi. Maka tiada balasan bagi orang yang berbuat demikian selain kehinaan di dunia dan pada hari akhirat akan dicampakkan ke dalam siksaan yang berat." (QS Al Baqarah 85) Ada beberapa karakteristik generasi sahabat, yang merupakan tonggak- tonggak "khairu ummah". Diantaranya: 1. Jujur dan setia akan janji kepada Allah ----------------------------------------- - "Diantara orang-orang Mu'min itu ada orang-orang yang menepati janji-janji- nya kepada ALlah; maka di antara mereka ada yang gugur; dan diantara mereka ada yang menunggu. Dan mereka tidak merubah janjinya sedikitpun." (QS Al Ahzab 23) Ayat ini turun sehubungan dengan sahabat yang bernama Anas bin Nadlir. Anas bin Malik menuturkan: "Pamanku, Anas bin Nadlir tidak turut serta dalam perang Badar. Oleh karena itu dia merasa sangat menyesal dan berkata: 'Aku tidak turut serta dalam pertempuran pertama yang diikuti Rasulullah saw Kalau ALlah menakdirkan aku mengikuti pertempuran bersama Rasulullah s.a.w. di kemudian hari, niscaya ALlah akan menyaksikan apa yang akan aku perbuat!' Maka tibalah hari perang Uhud. Sa'ad bin Mu'adz menghampirinya, lalu berkata: 'Wahai Abu Amer (Anas bin Nadlir) hendak kemana engkau?' Ia menjawab: 'Alangkah nikmatnya bau harum angin sorga. Aku menciumnya ada di balik bukit Uhud!' Lalu ia bertempur sampai syahid. Pada tubuhnya diketemukan lebih dari delapan puluh luka bacokan, tusukan tombak atau panah. Lalu turunlah ayat tersebut" (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ar-Tirmidzi dan lain-lain. Lihat tafsir Fathul-Qodir). Pada riwayat lain diceritakan juga ketika Rasulullah memeriksa para syuhada perang Uhud, beliau melewati tubuh Mush'ab bin Umair yang tergolek tak bernyawa. Lalu Rasulullah saw. membacakan ayat tersebut. Mush'ab bin Umair sendiri menemui syahidnya setelah berjuang habis- habisan sebagai tameng Islam dan tameng Rasulullah saw. sampai kedua tangan- nya putus ditebas lawan. Demikianlah beberapa contoh sikap para sahabat dalam menepati janji- janjinya kepada ALlah SWT. Mereka sadar, sejak mereka mulai mengayunkan langkah pertama memasuki pintu gerbang Islam, mereka sudah "teken" kontrak dengan Allah SWT. Ikrar syahadatain -- mereka yakini sebagai ikrar kesetiaan. Setia terhadap ALlah dengan cara membela dan menegakkan syari'atNya, sehingga pengabdian diarahkan kepada-Nya semata. Setia terhadap utusan-Nya dengan membela Rasulullah dan melindungi risalah yang dibawanya, sebagaimana mereka membela diri dan keluarga sendiri. Shidq (kejujuran, kesetiaan) terhadap janji - terutama dengan Allah SWT merupakan akhlak asasi bagi seorang Mu'min dan mujahid. Tanpa sifat ini tidak mungkin umat Islam dapat mencapai kejayaan. 2. Tegar dan tak gampang menyerah --------------------------------- Karakteristik lain adalah ketegaran mereka dalam memegang prinsip, dan tidak gampang menyerah terhadap rintangan, godaan dan ujian, betapapun beratnya. "Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang shaleh. Mereka tidak lemah dalam menghadapi apa yang menimpa mereka di jalan ALlah, tidak lesu dan tidak gampang menyerah. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (QS Ali Imran 146) Tidak sulit mencari contoh keteguhan generasi sahabat. Karena seluruh kehidupan mereka sarat dengan kisah-kisah perjuangan yang diwarnai dengan keberanian, pengorbanan dan ketegaran. Sahabat Abdullah bin Mas'ud umpamanya. Seorang sahabat yang berpawakan kerempeng, kurus kering dan pendek. Suatu hari dia naik sebatang pohon sampai terlihat betisnya yang kecil, sehingga beberapa sahabat yang melihat mentertawakannya. Namun Rasulullah SAW mengatakan: "Kalian mentertawakannya karena dia kurus. Demi ALlah, kalau kedua betisnya itu ditimbang, niscaya akan lebih berat dari gunung Uhud". Orang yang kurus kering, kerempeng dan pendek itu pernah mendatangi orang-orang kafir Quraisy yang sedang berkumpul di sekitar Ka'bah. Tanpa rasa takut ia membacakan ayat-ayat Al-Qur'an -- Surat Ar-Rahman -- dengan suara lantang. Hal itu membangikitkan keberangan orang-orang kafir Quraisy. Tanpa membuang kesempatan mereka bangkit dan menghadiahkan "bogem mentah" sepuas- puasnya. Abdullah bin Mas'ud kembali kepada pada sahabatnya dalam keadaan babak belur. Tubuhnya berlumuran darah. "Inilah yang aku khawatirkan terjadi atas dirimu!" sambut salah seorang sahabat. Ibnu Mas'ud menjawab: "Demi ALlah, kalau kalian masih menginginkan aku melakukannya sekali lagi, niscaya akan aku lakukan!". 3. Tidak tergiur kesenangan dunia --------------------------------- Allah SWT menerangkan sifat orang-orang yang mengisi rumah-Nya, yaitu para sahabat sebagai orang-orang yang tidak pernah dilalaikan oleh utusan-utusan dunia. Aktifitas bisnis mereka tidak membuat mereka lupa dzikrullah, mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat. Firman ALlah: "(Yaitu) orang-orang yang bisnis dan perdagangan (mereka) tidak membuat mereka lalai dari dzikrullah, mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat". (QS An-Nur 37) Namun bukan berarti mereka tidak menggarap bidang kehidupan yang berkaitan dengan "hasanah" di dunia. Bahkan ayat di atas mengisyaratkan bahwa mereka pun melancarkan Aktifitas duniawi. Namun mereka tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, melainkan sebagai wasilah (sarana atau alat) untuk mencapai tujuan. Mereka sadar, untuk kemajuan Islam mereka harus dapat mendaya-gunakan seluruh potensi yang ada di dunia ini. Hal itu tergambar pada do'a sahabat Umar bin Khattab: "Ya Allah, tempatkanlah dunia dalam genggaman tangan kami dan jangan kau tempatkan dia di lubuk hati kami." Dari sinilah tergambar kadar keterkaitan hati mereka dengan dunia. Oleh karena itu Utsman bin 'Affan tidak merasa berat menyedekahkan kepada ummat Islam barang dagangannya yang oleh para pedagang telah ditawar dengan menjanjikan keuntungan 500%. 5. Hubbut-Tathohhur (cinta pembersihan diri) -------------------------------------------- Segala sifat istimewa yang ada pada mereka tidak membuat mereka merasa "suci diri". Bahkan sifat-sifat itu membuat mereka semakin takut kepada Allah SWT dan adzabNya. Oleh karena itu mereka senantiasa melakukan proses "tathohhur" (pensucian diri), karena sebagai manusia mereka kerap melakukan kekhilafan dan kekeliruan. Allah sungguh sangat mencintai orang yang senantiasa ber-"tathohhur". Pada dasarnya tidak ada manusia yang "thohir" (suci) yang tidak pernah mela- kukan dosa kecuali para "ma'shuum". Firman ALlah tentang sifat ini pada mereka: "Di dalam (masjid ALlah) itu ada orang-orang yang cinta membersihkan diri. Dan Allah mencintai orang-orang yang membersihkan diri." (QS At-Taubah 108) Mudah-mudahan kita bisa meneladani generasi para sahabat agar kita layak menyandang predikat "khairu ummah" dan menjadi ummat yang "Al-A'laun".
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik