FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

membina kader dakwah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

membina kader dakwah

Post by keroncong on Sat Nov 19, 2011 2:07 pm



هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (الجمعة:2)
“Dialah yang telah mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.(QS 62:2)
Membangun dan membina merupakan aktivitas positif yang seirama dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Namun kadang kala ada pembinaan yang tidak berbanding lurus dengan perubahan ke arah perbaikan, bahkan kontra produktif. Hal ini bukan berarti ada ketidakselarasan antara pembinaan dan keberhasilan, melainkan karena adanya kesalahan dalam proses yang dijalankan. Pembinaan pada hakikatnya merupakan hal penting. Hanya saja pembinaan seperti apa yang kepentingannya itu dapat dirasakan semua pihak. Di situlah akar permasalahannya.
Berikut ini (sekadar mengingatkan apa yang telah kita ketahui bersama) ada empat ciri pembinaan efektif yang perlu diperhatikan agar kita tidak terjatuh pada kesalahan proses, yaitu pembentukan, kontinuitas, bertahap dan menyeluruh. Yang akan coba di bahas kali ini adalah satu dari empat ciri di atas yakni pembentukan.
Pembentukan merupakan sifat dakwah Rasulullah, sebagaimana firman Allah di awal tulisan ini (surah Al Jumu’ah:2) atau surah Ali Imran:164. Bila kita cermati dalam kedua ayat tersebut akan kita temukan tiga pola utama dakwah Rasul, yakni tablig, ta’lim dan takwin. Bermula dengan proses membacakan ayat-ayat Allah kepada mad’uin sehingga mereka menjadi tahu dan sadar. Selanjutnya menyucikan mereka agar mereka berakhlak baik serta mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah sehingga memiliki wawasan yang luas. Dan pada akhirnya mereka terbentuk menjadi kumpulan manusia idaman, padahal sebelumnya mereka dalam kesesatan yang nyata.
Membentuk adalah menjadikan, mengkader, mencetak atau mengadakan. Bukan hanya sekadar sebuah proses transformasi ilmu. Surah Ali Imran ayat 104 memerintahkan “waltakun minkum…”,“Dan haruslah dibentuk di antara kalian…” Pola akhir pembentukannya adalah umat yakni sekelompok manusia yang siap mengikuti dan memperjuangkan syariat. Tugas umat tersebut adalah mengajak kepada Islam, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.
Pembentukan bukanlah proses sesaat, karena misalnya dibutuhkan waktu lama untuk mengubah kayu menjadi kursi (menggergaji, memahat, mengukir mengamplas, mencat dan sebagainya ). Apalagi manusia, yang tidak begitu saja mau dibentuk. Karena itu dibutuhkan kesabaran (18:28 3:159 3:200) untuk tetap dalam kebenaran. Sabar untuk menjauhi maksiat. Sabar dalam musibah dan kesempitan, serta sabar dalam memperbaiki diri dan membina kader-kader kita.
Dalam proses pembinaan ada 3 cara yang harus dilakukan dan ditekuni. Pertama pelatihan. Tidaklah disebut pelatihan bila hanya pemberian teori atau informasi. Memberikan keteladanan dan melibatkan (mengikutsertakan atau menugaskan) adalah bagian dari pelatihan. Kasus Hasan dan Hussein berdakwah amaliyah ketika melihat seorang kakek tua salah dalam berwudu adalah contoh bentuk pelatihan. Begitu pula berbagai pendekatan yang dilakukan dewasa ini, seperti daurah khutoba’, tahsin Al Qur’an, kursus jurnalistik, tata cara penyelenggaraan jenazah, usbu’ ruhi dan sebagainya. Dan bila kita cermati dalam madrasah ikhwaniyah, ternyata pola pembinaan yang dijalankan juga bersifat amaliyah.
Kedua supervisi. Supervisi merupakan kelanjutan dari pelatihan. Kader-kader yang sudah diberi pengarahan dan diikutsertakan dalam pelatihan (berupa pembiasaan dan penugasan) kemudian diikuti perkembangannya lewat pemantauan dan evaluasi (mutabaah). Ada mutabaah khusus per individu yang dikelola melalui jenjang struktural. Ada pula mutabaah umum yang melibatkan masyarakat dalam mengamati dan menilai kader-kader kita. Supervisi akan sangat bermanfaat untuk tercapainya pembentukan kader yang berkualitas tinggi. Memasuki era jahriyah jamahiriyah kader-harus dibiasakan untuk berinteraksi dengan realitas publik. Mereka akan belajar dari kegagalan dan keberhasilan dalam berinteraksi dengan masyarakat luas yang heterogen. Kader-kader kita harus dibiasakan dengan dinamika kelompok agar mereka lebih dewasa dalam menyikapi berbagai qadhaya (tidak over reaktif = kaget-kagetan). Menjadi tugas para pembinalah untuk memantau sepak terjang mereka. Menegur, meluruskan dan memberi penilaian (kritik, masukan juga penghargaan) atas aktivitas sehari-hari mereka.
Ketiga doa. Betapa harus kita akui bahwa kadang kala proses pembentukan yang kita jalankan tidak membawa hasil yang memuaskan. Sekian lama kita membina sejumlah individu, namun tidak terlihat perkembangan yang cukup berarti pada diri mereka. Pelatihan demi pelatihan disertai supervisi ternyata belum cukup mengubah jati diri mereka. Maka dalam kondisi ini sudah selayaknya kita mengerahkan segenap upaya dengan memperbanyak doa. Harus terus kita sadari bahwa Allah lah yang memberi hidayah, bukan kita. “Sesungguhnya engkau tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang kau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada orang-orang yang dikehendakinya dan Allah lebih mengetahui siapa yang mau menerima hidayah.”(28:56). Maka tetaplah berharap kepada Allah dalam pembentukan kader-kader kita. Mohonlah terus kebaikan dan keistiqamahan bagi mereka. “…dan berdoalah, sesungguhnya doamu bagi mereka akan menenteramkan mereka”(9:103).
Bagi yang dibina (termasuk kita tentu saja) mesti tahu diri bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum bila kaum itu sendiri tidak mau mengubah nasibnya (QS 13:11). Karena itu perlu adanya sifat interaktif, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan dari luar. Siap mengikuti pelatihan dan menjalankan program-program. Bukan hanya ketika ada moment, tetapi interaksi itu sudah membudaya dalam dirinya. Contoh program usbu’ ruhi yang berisi ajakan untuk qiyamul-lail, shaum sunnah dan memperbanyak tilawah. Bagaimana setiap kader/binaan mampu berinteraksi dengan program tersebut. Interaksi yang dituntut bukanlah sekadar ketika ada usbu’ ruhi, namun di luar moment itu kader-kader kita menjadi sudah terbiasa shaum sunnah, tilawah harian Al Qur’an dan qiyamul-lail. Kader-kader interaktif inilah yang nantinya mampu untuk beradaptasi dengan realitas masyarakat dalam berbagai aspek. Untuk dapat mencapai itu semua tentu saja tetap harus melalui proses panjang pembentukan. Kesungguhan dan keikhlasan para pembina, kedisiplinan dan interaktifnya kader, disertai pelatihan, supervisi dan doa insya Allah akan memunculkan kader-kader dakwah yang mumpuni.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (التوبة:105)
“bekerjalah kalian, nanti Allah, Rasul dan orang-orang beriman akan melihat hasil kerja kalian…..”(9:105).
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik