FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Penyesatan Misionaris Kristen demi Mengkristenkan Hindu

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Penyesatan Misionaris Kristen demi Mengkristenkan Hindu

Post by Penyaran on Thu Feb 14, 2013 8:05 pm

Hindu sebagai agama tertua memang memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibandingkan dengan agama-agama lainnya, khususnya agama-agama Abrahamik. Jika mereka memiliki tokoh spesial yang mencirikan penerima wahyu dan pendiri agama mereka, maka Hindu memiliki sangat banyak tokoh penting dan penerima wahyu. Jika mereka memiliki satu set kitab suci yang bisa mereka miliki dan bawa dengan mudah, maka Hindu memiliki ratusan set kitab suci yang tidak mungkin dikumpulan dalam satu buah buku suci. Demikian juga dengan hari besar dan cara sembahyang atau beribadah mereka yang umumnya sama, maka di Hindu tidaklah demikian. Secara lahiriah cara sembahyang, berpakaian dan penyebutan nama Tuhan umat Hindu di masing-masing daerah akan berbeda sehingga sering kali terkesan “membingungkan”. Dan yang tidak kalah pentingnya untuk dipahami baik oleh orang non Hindu dan orang Hindu sendiri adalah sistem filsafat yang terkandung dalam Veda. Dalam kumpulan kitab suci Veda terkandung berbagai macam filsafat dimana filsafat satu dengan yang lainnya seolah-olah bertentangan. Kita ambil contoh filsafat Vedanta, Carvaka, Buddha, Jaina, Mayavada dan Tantra yang kesemuanya ini adalah bagian dari kitab suci Veda. Vedanta mengajarkan kita akan aspek personalitas atau perwujudan Tuhan, tetapi Mayavada mengajarkan bahwa Tuhan tidaklah berwujud, yang disebut Brahman. Buddha sendiri menekankan bahwa tidak ada Jiva/Atman dan seolah-olah meniadakan eksistensi Tuhan. Demikian juga dengan Carvaka yang lebih menekankan pada tingkah laku yang baik dan cenderung atheis, sedangkan jaina menekankan pada paham Ahimsa (tidak membunuh) yang sangat ketat. Tantra sendiri memperlihatkan wajahnya yang sangat bertolak belakang dengan filsafat Vedanta dan terkesan ajaran penuh dengan mistik dan kekerasan. Lalu apakah itu artinya ajaran Veda bertentangan dan Tuhan tidak konsisten dalam mewahyukan Veda? Ataukah ajaran Veda sudah tidak murni lagi?

Sebagian besar pandangan keliru terhadap Hindu yang paling merusak muncul akibat ulah para Indologis dalam usahanya mengkristenisasi India pada masa penjajahan Inggris. Max Muller, Alexander Duff, William Carey, James Mill, William Jones, H.H. Wilson dan banyak lagi yang lainnya adalah merupakan kaum Indologis yang paling bertanggung jawab dalam usaha penghancuran terstruktur ajaran Veda. Mereka melakukan penterjemahan kitab suci Veda kedalam bahasa Inggris dan juga menanamkan sistem pemikiran dan pendidikan ala Barat di India. Mereka melakukan pendekatan dan memahami Veda sebagaimana cara mereka memahami Al-Kitab dan dengan pendekatan sains empiris yang sudah barang tentu sangat tidak cocok jika diterapkan untuk mentelaah Veda. Celakanya, terjemahan mereka yang sudah barang tentu ditunggangi motif khusus yang pada akhirnya paling banyak di baca dan di jadikan acuan dalam mempelajari Hindu oleh masyarakat dunia.

Seorang Indologis, Max Muller sudah mengakui kekeliruan dan rekayasa yang di sengaja terhadap terjemahan dan teori-teori yang berkaitan dengan ajaran Veda dalam surat-suratnya kepada istrinya di Oxford tanggal 9 Desember 1867, Max Muller menulis: “….Aku merasa yakin, sekalipun aku tidak akan hidup untuk melihatnya, bahwa edisiku dan terjemahan dari Veda ini akan pada akhirnya menceritakan secara luas tentang nasib India, dan atas pertumbuhan dari jutaan jiwa-jiwa di negeri ini. Ini adalah akar dari agama mereka, dan untuk menunjukkan kepada mereka apa akar itu, aku merasa yakin, bahwa satu-satunya cara untuk mencabut semua yang muncul dari padanya sejak 3000 tahun terakhir.” Dalam suratnya kepada Dean (Dekan) ST Paul’s (Dr Milman), Stanton House, Bournemouth (Inggris) 26 Feb 1867, Max Muller menulis : “Aku memiliki keyakinan yang kuat akan pertumbuhan agama Kristen di India. Tidak ada negeri yang sematang India untuk agama Kristen, namun kesulitannya juga tampak sangat besar.” Sementara itu dalam suratnya kepada Duke of Argyll, Oxford, 16 Desember 1868 Max Muller menulis : “Agama kuno India telah dikutuk untuk hancur, dan bila agama Kristen tidak melangkah masuk, kesalahan siapa ini?” Dan dalam “Physical Religion” ia menulis : “Ada bagian-bagian tertentu dari Bible yang saya percaya kebanyakan orang Kristen tidak akan sedih untuk mengabaikannya. Tapi ini tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kisah-kisah absurd dan menjijikan yang terdapat dalam buku-suku Sanskrit yang disebut suci. Dalam hal ini sungguh benar bahwa tidak ada bandingannya kitab suci kita Perjanjian Baru, dengan Kitab-kitab suci dari Timur”.

Sayangnya, pengkajian Hindu secara ilmiah oleh para akademisi malahan lebih banyak menjadikan terjemahan Veda yang tidak valid ini sebagai acuan utama, sehingga tidaklah mengherankan jika teori-teori yang menyatakan siapa, kapan dan bagaimana Veda diwahyukan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Yang lebih menyedihkannya lagi ternyata lembaga-lembaga pendidikan formal Hindu, terutama sekali di Indonesia juga menjadikan Veda terjemahan Indologis dan teori-teori turunannya sebagai acuan utama dalam menelurkan karya-karya tulis dan menelurkan intelektual-intelektual Hindu. Terjangkitnya para intelektual Hindu oleh virus ciptaan para Indologis yang pada akhirnya juga menular ke masyarakat Hindu lainnya akan menggerogoti dan melemahkan Hindu dari dalam.

Kaum intelektual atheistik juga memberikan sumbangsih dalam pemahaman keliru terhadap Veda. Sekitar abad pertengahan di Eropa, terjadi perhelatan yang sangat sengit antara kaum agama dan kaum intelektual. Para agamawan sering kali juga merupakan pemegang kekuasaan dimana kebijakan-kebijakan yang mereka ambil dianggap sebagai sebuah perintah dari Tuhan. Di satu sisi muncul kaum-kaum intelektual yang mengedepankan logika dari pada dogma agama. Celakanya, hasil-hasil penelusuran logika mereka sering kali bertentangan dengan agama yang mereka anut. Puncak pertentangan kaum agama dan kaum intelektual yang paling terkenal dalam sejarah adalah pada saat gereja menjatuhkan hukuman yang memaksa Galileo Galilei kehilangan nyawanya. Galileo Galilei adalah seorang pencetus teori Heliosentris yang menentang teori Geosentris yang saat itu diyakini sebagai kebenaran mutlak oleh Gereja. Seiring dengan berjalannya waktu dan pembuktian kebenaran teori Heliosentris, yang menyatakan bahwa Bumi ini bulat dan Matahari berotasi pada sumbunya dan berevolusi terhadap Matahari yang disampaikan Galileo dan kekeliruan teori Geosentris yang menyatakan bahwa Bumi adalah pusat tata surya dan Matahari serta semua benda langit mengelilingi Bumi yang diyakini sebagai kebenaran mutlak oleh Gereja membuat mosi ketidakpercayaan masyarakat akan agamanya dan semakin memicu tumbuhnya kaum-kaum Atheis dan Materialis.

Atas dasar mosi tidak percaya kepada Gereja yang berimplikasi pada ketidakpercayaan akan adanya Tuhan menyebabkan lahirnya pola pemikiran baru yang mengedepankan rasionalitas dan mengesampingkan akan adanya Tuhan sebagai sang pencipta. Dasar pemikiran ini juga melahirkan teori-teori baru yang menyatakan bahwa alam semesta dan mahluk hidup tercipta secara kebetulan dan melalui proses evolusi yang sangat panjang sehingga menghasilkan kondisi kehidupan seperti saat ini. Sayangnya, untuk membenarkan teori mereka ini, tidak jarang para oknum ilmuan melakukan filter informasi dengan cara hanya memperhitungkan data penelitian yang mendukung hipotesis awal mereka dan membuang data-data yang bertentangan. Sehingga sering kali objektivitas hasil teori mereka tidak dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan ilmiah.

Tentu saja mosi tidak percaya yang pada awalnya hanya ditujukan pada satu dogma agama dan menghasilkan dogma baru yang berusaha mengesampingkan Tuhan memberikan implikasi tidak langsung terhadap pemahaman ajaran Veda. Para oknum intelektual yang pikirannya telah terkungkung dalam teori evolusi Darwin tidak akan mampu mencerna ajaran Veda yang menyatakan bahwa Veda sudah diwahyukan 155,52 triliun tahun yang lalu karena menurut kerangka pemikiran Darwin, pada masa itu dunia ini masih dalam bentuk primordial soup dan belum ada kehidupan, sedangkan Homo Sapien dan Homo Nederland yang berbudaya dan menurunkan manusia modern saat ini baru muncul 500.000-200.000 tahun yang lalu. Dengan demikian semua informasi yang dijabarkan dalam Veda yang memaparkan sejarah umat manusia yang terjadi diluar mind frame teori mereka ditolak mentah-mentah dan implikasinya Veda hanya dianggap sebagai sebuah cerita mitologi atau dongeng.

Beruntungnya, ajaran Hindu dengan kitab sucinya Veda yang diturunkan secara suksesi dalam garis perguruan (parampara) sama sekali tidak tersentuh oleh para indologis, kaum dakwah dan mereka yang berpikir dengan cara pendekatan empiris murni. Para Acharya atau guru-guru kerohanian dari garis-garis perguruan (parampara) dengan sistem gurukula-nya inilah yang salah satunya menjamin keotentikan ajaran Veda.

http://narayanasmrti.com/2010/03/15/pendistorsian-hindu/

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Re: Penyesatan Misionaris Kristen demi Mengkristenkan Hindu

Post by Penyaran on Fri Feb 15, 2013 5:30 pm

Para misionaris kristen datang ke India mengikuti kolonialisme Portugis dan Inggris. Dengan dukungan pemerintah kolonial, para misionaris memperoleh akses dan dana yang cukup besar untuk mengkonversi rakyat India. Selain mengirim misionaris murni yang bergerak dibidang pelayanan gereja dikirim pula sarjana-sarjana Pseudoilmiah, guna memudahkan jalan bagi penyebaran agama Kristen di India. Diantara sarjana-sarjana pseudioilmiah yang dikirim ke India adalah : Max Muller, William Jones, Herbeith Hope Risley dll.

Federick Maximilian Muller, Sarjana keturunan Jerman, Anggota Gereja Kristen Oxford tahun 1851, menerima bayaran sangat tinggi dari East Indian Company untuk setiap lembar terjemahkkan Weda. Surat Max Muller tertanggal 25 agustus 1856 dan tanggal 16 Desember 1868 mengungkapkan fakta bahwa Max Muller ingin membawa kekristenan di India dan menyingkirkan agama Hindu. (encyclopedia of authentic Hinduism).

Max Muller pernah menulis surat pada istrinya, tanggal 9 Desember 1867 yang dipublikasikan di London dan New York tahun 1902 sebagai berikut : “Penerjemahan Weda selanjutnya akan memberitahu untuk sebagian besar pada nasib India terhadap pertumbuhan jutaan jiwa negeri itu, ini adalah akar dari agama mereka, dan untuk menunjukkan kepada mereka apa akar adalah saya merasa yakin, adalah satu-satunya Cara mencabut semua yang telah bermunculan dari itu selama 3000 tahun terakhir.

Tulisan-tulisan Max Muller didukung rekan-rekannya antara lain William Jones dan Herbeith Hope Risley.

DR. William Jones seorang pemikir politik radikal, menikahi putri tertua DR.Jonathan Shipley, Uskup Landraff dan Uskup St.Asaf. Bekerja sebagai Hakim di Kalkuta, juga merangkap Kepala The Asiatic Society of Bengal, secara diam-diam juga merangkap sebagai misionaris. Dalam suatu rapat besar atas nama pemerintah Inggris, William Jones marah besar kepada para misionaris karena dianggapnya tidak mampu mengkonversi umat Hindu menjadi umat Kristen. William Jones berkata : Kalian para misionaris ini terlalu bodoh, bagaimanapun upaya kalian baik para zending (misionaris) Protestan maupun Katolik tidak akan mampu mengkonversi orang-orang Hindu, sebab mereka sangat kuat keyakinan mereka terhadap kitab-kitab sucinya. Satu-satunya cara agar orang-orang Hindu mau pindah menjadi umat Kristen adalah mengacaukan isi kitab suci mereka. Posisikan kitab mereka lebih rendah dari kitab Injil dan angkat setinggi-tingginya kitab Inji .(The true history and the religion of India, dalam I Ketut Donder. Media Hindu edisi 92, Oktober 2011 halaman 44-45)

Ada dua rencana rahasia yang disusun secara teliti oleh William Jones sebagai wakil kolonialis Inggris di Kalkuta. Rencana pertama : penyesatan pengertian kitab suci Weda termasuk sejarah India, kedua : menerapkan teori rasialis (kasta) dengan maksud agar terjadi perpecahan pada masyarakat India. Kedua rencana tersebut dijalankan secara simultan.

William Jones lah yang pertama kali mengusulkan pembagian rasial (kasta) di India yang melibatkan teori Invasi Arya-nya Max Muller. Usulan pembagian kasta di India didukung oleh Herbeith Hope Risley, administrator Inggris di India.

Pada tahun 1901 Herbeith Hope Risley administrator Inggris di India mengesahkan teori rasialis (kasta) Max Muller dan William Jones menjadi Undang-undang Kolonial yang diberlakukan diseluruh anak benua India.

Thomas Trautman menyebut publikasi-publikasi tulisan Risley yang berjudul Study Etnologi di India (1891) sebagai teori rasial peradaban India. Trautman mengganggap H.H. Risley dan Max Muller sebagai arsitek kastaisme di India.

Hasil upaya dan strategi misionaris Kristen yang berkedok Ilmuwan Indolog tersebut berdampak negatif terhadap Agama Hindu di seluruh dunia sampai kini. Dari publikasi tulisan-tulisan Indolog tersebutlah muncul istilah Kasta yang selalu dikait-kaitkan dengan Agama Hindu.

Dengan dukungan penguasa kolonial dan penguasa pribumi boneka kolonial, Konsep kasta yang dilekatkan kedalam agama Hindu diterapkan secara paksa kepada Rakyat India dengan aturan aturan sesuai selera kolonial. Rakyat India dibagi-bagi dalam berbagai Kasta dengan menggunakan dalil-dalil Weda versi terjemahan Max Muller dkk. Buku-buku Max Muller sampai sekarang laris manis dipakai bahan referensi oleh penulis-penulis pseudoilmiah, terutama buku-buku sekolah, karena membawa misi penyesatan.

http://dharmagupta.blogspot.com/2012/03/sejarah-kasta-di-india-dan-bali.html

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Re: Penyesatan Misionaris Kristen demi Mengkristenkan Hindu

Post by Penyaran on Sat Feb 16, 2013 5:25 pm

Memang, masih menjadi paradigma yang kuat dalam pikiran orang, bahkan orang Hindu sendiri, bahwa Weda dan Purana hanya berisi epos dan mitologi. Ambillah contoh kitab Bhagavadgita. Bhagavad-gita berisi wejangan rohani yang disampaikan oleh Sri Krishna kepada Arjuna menjelang berlangsungnya perang Bharata Yudha, yang konon terjadi sekitar lima ribu tahun yang lalu. Kita semua tahu bahwa Bhagavad-gita sebenarnya adalah bagian dari Bhisma Parwa, salah satu diantara 18 Parwa kitab Mahabharata. Sri Krishna, Arjuna, beserta para Pandawa adalah tokoh-tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Tetapi dalam anggapan sebagian besar masyarakat Hindu sekalipun, Mahabharata tidak lebih daripada sekedar sebuah epos, cerita kepahlawanan yang dikarang oleh Rsi Vyasa. Ketika kita jelaskan bahwa tempat-tempat yang disebutkan dalam kitab Mahabharata saat ini masih bisa kita telusuri lokasinya, orang masih akan menyangkal dan meragukan penjelasan itu. Menurut mereka, Rsi Vyasa terinspirasi oleh nama-nama tempat itu, lantas mengarang cerita fiksi, yang mengambil nama-nama seperti Hastinapura. (sekarang New Delhi), Dwaraka, dan lain-lain sebagai latar atau setting terjadinya kisah dalam Mahabharata.

Apalagi, dalam masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, Krishna dan Arjuna dikenal sekedar sebagai tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan. Bahkan, ada orang Jawa yang akan marah besar, kalau dikatakan bahwa Mahabharata berasal dari India. Mereka meyakini bahwa kisah Mahabharata terjadi di Jawa, dibuktikan dengan adanya nama nama tempat dan gunung di Indonesia yang diberi nama Arjuna, Bima, dan lain-lain. Ajaran-ajaran yang terkandung dalam cerita pewayangan telah menjadi filosofi hidup bagi sebagian besar orang jawa. Karena itu, kalau kita katakan perang Mahabharata betul-betul terjadi dalam sejarah, mereka menyangsikan kebenarannya.

Pengertian Mitologi

Apa sebenarnya arti kata mitos atau mitologi? Kata mitologi, diadaptasi dari bahasa Inggris “myth”. Dalam kamus Webster New World College Dictionary 3rd Edition, kata “myth” diartikan sebagai : “1) any fictitious story; or unscientific account, theory,belief,etc 2) any imaginary persons or thing spoken as though existing”. Artinya : 1) sembarang kisah atau cerita fiksi (tidak nyata/hayalan/dongeng); atau kejadian, teori dan kepercayaan dan lain-lain yang tidak bersifat ilmiah. 2) sembarang orang atau sesuatu yang dianggap seolah-olah benar-benar ada.

Jadi, menurut definisi di atas, kalau orang menyebut Mahabharata, atau Ramayana, sebagai mitologi atau mitos, itu berarti bahwa kedua kisah itu hanyalah sebuah dongeng, sebuah cerita fiksi, yang sebenarnya tidak pernah benar-benar terjadi di alam nyata. Bukankah secara ilmiah, tidak ada bukti-bukti kuat yang mendukung kebenaran kisah-kisah Purana itu? Bukankah itu juga berard uraian tentang dasa awatara (sepuluh awatara Wishnu) dalam Purana-Purana tidak lebih dari dongeng? Lantas, apakah dapat disimpulkan bahwa umat Hindu memuja Tuhan dan para dewa yang hanya ada dalam dongeng?

Dari Mana Asal Sebutan Mitologi itu?

Kalau kita telusuri asal mula mengapa kitab-kitab Purana dijuluki mitologi, kita akan temukan beberapa alasan. Setidaknya, kami melihat ada dua alasan penting. Pertama, kata “Purana” secara harfiah berarti sejarah. Memang, kitab-kitab Purana mengandung banyak sejarah tentang kegiatan atau lila Tuhan, Para dewa, atau penyembah-penyembah mulia Tuhan. Matsya Purana, misalnya, berisi kisah tentang kemunculan Sri Wishnu yang menjelma sebagai seekor ikan raksasa yang menyelamatkan seorang raja saleh bemama Raja Satyavrata. Kisah ini sebenamya sangat mirip dengan kisah Nabi Nuh dalam Islam yang juga diselamatkan dari Banjir Besar. Sayangnya, dalam Mastya Purana tersebut tidak disebutkan kapan persisnya peristiwa tersebut terjadi Padahal, dalam dunia akademik dan ilmiah, adanya angka tahun ini merupakan syarat penting bagi kita untuk percaya bahwa sesuatu peristiwa benar benar terjadi.

Kalaupun kemudian kita berikan penjelasan bahwa Matsya Awatara muncul pada jaman Satya Yuga, ratusan juta tahun yang lalu, orang masih akan mendebat dengan menyatakan bahwa. menurut Teori Evolusi Darwin, adanya jenis kehidupan seperti kera (belum jadi manusia, lho) baru mulai sekitar 100 ribu tahun yang lalu. Manusia jenis homo sapien, yang dikatakan sebagai cikal bakal manusia modern seperti kita baru ada sekitar 5 ribu tahun yang lalu. jadi, bagaimana mungkin telah ada seorang raja bernama Satyavrata jutaan tahun yang lalu?

Begitupun dengan kisah Mahabharata. Menurut Professor K. Srinivasaraghavan, dalam perhitungan ilmu perbintangan Weda (Jyotishastra), perang di Kuruksetra tersebut terjadi pada tanggal 22 November 3067 Sebelum Masehi. Kesimpulan itu didasarkan pada keterangan-keterangan waktu yang terdapat dalam ayat-ayat Mahabharata itu sendiri. Namur, angka tahun itu ditolak oleh sebagian kalangan sejarawan Barat, karena menurut Teori Invasi (Penyerangan) bangsa Arya ke Dravida ciptaan Max Muller, bangsa Arya diperkirakan datang ke India baru pada sekitar tahun 1500 Sebelum Masehi. Menurut teori yang sudah terlanjur dianggap benar itu, Bangsa Arya lah yang merupakan pembawa Rg Weda ke India. jadi, kalau teori ini benar, bahkan Weda dan peradaban Hindu tidak murni lahir dari India, melainkan berasal dari wilayah Indo-jerman, tempat asal bangsa Arya. jadi, tidak adanya kronologi peristiwa yang runtut itulah yang menyebabkan Purana disebut mitologi.

Alasan kedua, julukan mitologi pada Weda tidak dapat kita lepaskan begitu saja dari konteks sejarah penjajahan India oleh Inggris selama ratusan tahun. Kolonial Inggris mulai resmi menjajah India sejak mereka memenangkan pertempuran yang dikenal sebagai Battle of Plassey tahun 1757 (Satsvarupa, 1977). Adalah sebuah fakta bahwa. penjajahan Inggris di India dimanfaatkan oleh Para misionaris Kristen untuk mengalihkan agama penduduk India dari Hindu menjadi Kristen. Mereka mulai membuka sekolah dan perguruan tinggi Kristen. Alexander Duff (1806 – 1878) mendirikan Scots College di Calcutta, yang ia cita-citakan menjadi “headquarters for a great campaign against Hinduism” (Pusat kampanye besar melawan Hindu).

Para misionaris itu tidak segan-segan menyebut kitab-kitab Weda sebagai “absurdities meant for the amusement of children “ yang artinya “serangkaian takhayul yang dimaksudkan untuk hiburan anak anak”.

Dengan tujuan besar seperti di atas, mulailah muncul kalangan intelektual Inggris yang menggangap perlu untuk mendidik orang-orang India dengan ilmu pengetahuan Barat. Upaya itu dimulai dengan lahirnya beberapa, orang Inggris yang mempelajari budaya India dan menguasai bahasa Sanskerta. Terbentuklah sebuah organisasi yang bernama Royal Asiatic Society. Mereka-mereka ini selanjutnya dikenal sebagai indologists, yang kemudian menjadi para penterjemah kitab-100kitab Weda ke dalam bahasa Inggris. Sir William Jones (1746 – 1794), Charles Wilkins (1749 – 1836), dan Thomas Colebrooke (1756 – 1837) dianggap sebagai para pelopor indologist (indology adalah bidang ilmu yang mengkaji budaya dan peradaban India).

Tentu saja, mereka adalah orang-orang Kristen yang sangat taat dan terpelajar, sehingga tujuan mereka menterjemahkan kitab-kitab Weda. ke dalam. bahasa Inggris bukannya tanpa maksud tertentu. Mereka sadar bahwa tidaklah mudah untuk mengubah keyakinan orang India terhadap tradisi turun temurun mereka yang bersumber pada kitab-kitab Weda. Karena itulah, mereka berpendapat bahwa satu-satunya cara adalah menunjukkan kepada orang-orang India bahwa kitab Weda yang mereka yakini tidak lebih dari sekedar takhayul, dongeng, dan mitologi yang tidak masuk akal.

William Jones misalnya, menyebut Bhagavata Purana sebagai “kisah saduran” dan ia berspekulasi bahwa Bhagavata sebenarnya meniru Gospel Kristen yang dibawa ke India, dan bahwa Kesava. (nama lain Krishna) sebenarnya adalah Apollo pahlawan Yunani. Teori ini telah terbukti salah, karena berbagai temuan arkeologi yang berhubungan dengan. legenda Krishna menunjukkan bahwa Krishna telah ada jauh sebelum agama Kristen lahir.

Tokoh Indologist lain yang sangat besar pengaruhnya pada kesan masyarakat dunia terhadap Weda adalah Frederick Max Muller (1823 – 1900). Muller adalah ahli bahasa Sanskerta asal Jerman yang kemudian bekerja pada East India Company, dan dipercaya untuk menterjemahkan kitab Rg Veda ke dalam bahasa Inggris. Muller inilah yang kemudian menciptakan teori “Legenda Arya” dan “Invasi bangsa Arya ke Dravida”. dengan mendasarkan argumentasinya pada ayat-ayat dalam kitab Rg Veda itu sendiri. Bahwa ada sebuah suku bangsa Arya yang telah memiliki peradaban yang tinggi, berasal dari kawasan Iran. Bangsa Arya ini hidup berpindah-pindah, berperang dan menaklukkan suku bangsa lainnya, termasuk suku bangsa Dravida berkulit hitam, yang merupakan suku asli India.

Kebanyakan buku-buku tentang Hindu dan Weda yang bertebaran di perpustakaan dunia saat ini, yang berbahasa Inggris, adalah hasil terjemahan dan tulisan para indologist tersebut dan mengharap orang beralih menjadi Kristen. Karena itulah, tidak mengherankan kalau orang-orang mengenal. kitab Weda sebagai mitologi dan dongeng, karena mereka membaca buku-buku yang memang ditulis untuk misi-misi khusus pada masa itu.

http://vantheyologi.wordpress.com/2012/02/28/mengapa-weda-dan-kitab-hindu-lainnya-dianggap-mitologi/

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Re: Penyesatan Misionaris Kristen demi Mengkristenkan Hindu

Post by hubaya on Sat Jul 13, 2013 2:51 pm

"Intisari pengetahuan" yang terkandung pada kitab BHAGAVAD GITA sangat indah dan sempurna.

Penganut hindu yang menyebut Misionaris Kristen atau pemeluk agama lain sebagai 'sesat' karena 'kristenisasi, islamisasi, budhanisasi, dll' kemungkinan belum memahami lebih mendalam atas intisari kitab2 agama hindu.

hubaya
SERSAN DUA
SERSAN DUA

Male
Posts : 80
Kepercayaan : Lain-lain
Location : Jakarta
Join date : 13.07.13
Reputation : 13

Kembali Ke Atas Go down

Re: Penyesatan Misionaris Kristen demi Mengkristenkan Hindu

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik