FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Hadzihi sabili

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Hadzihi sabili

Post by keroncong on Sun Nov 20, 2011 10:31 pm


قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (يوسف:108)
Artinya: Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.

Seruan ini terdapat dalam surah Yusuf ayat 108, termasuk dalam golongan surah Makkiyah. Pesan ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad saw yang merasa berada dalam kesendirian karena ditinggalkan oleh du bemper da’wahnya yaitu Abu Thalib pamannya dan Khaijah, isterinya.
Allah swt menerangkan dengan jelas perjalanan Nabi Yusuf dalam berda’wah di tengah keterasingan keluarga dan sanak saudara yang membuangnya, nabi Yusuf as tiada henti melakukan manuver-manuver da’wah di setiap ruang dan waktu, sejak difitnah oleh isteri pejabat, masuk ke dalam penjara, dan kedudukan penting yang dijabatnya. Kesemuanya memberikan alur da’wah yang istiqamah dalam satu manhaj rabbani yang tidak pernah bergeser sejengkalpun.
Setelah pemaparan itu Allah swt menjelaskan dengan tegas jalur da’wah yang harus dilalui oleh setiap pembawa dan penerus jejak risalah.
Kalimat pembuka ayat dinyatakan dengan Qul (katakanlah). Kalimat ini dengan tagas menjelaskan bahwa tugas da’wah adalah tugas dari Allah. Para da’i adalah orang yang telah menempatkan dirinya dalam jajaran pesuruh Allah. Konsep kerja yang dilakukan adalah konsep kerja yang datangnya dari Allah. Inovasi seorang da’i dalam aktifitas da’wahnya tidak boleh keluar dari frame yang telah Allah buat.
Hazihi Sabili (Inilah Jalanku) inilah kata pemisah yang sangat tegas dan jelas. Jalan yang ditempuh Rasulullah dalam berda’wah sebagai garis batas antara iman dan kufur, jalan pemisah antara Tauhid dan Syirk, jalur pemisah antara Islam dan jahiliyah, dan ketetapan hukum yang membedakan antara Al Haq dan Al Bathil.
Inilah posisi seorang da’i yang harus jelas dalam bersikap. Tampil beda dengan keyakinan tinggi, terpisah dari komunitas yang berbeda dengan dirinya. Seorang dai tidak cukup hanya menyerukan kebaikan, sementara kehidupannya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan komunitas jahiliyah yang dia tentang. Konfrontasi dengan jahiliyah sejak subuh hari da’wah dikumandangkan telah terjadi dan akan terus berlangsung sampai akhir zaman. Karena antara Islam dan jahiliyah adalah dua kutub magnet yang selamanya tidak akan pernah bertemu. Ketidak jelasan sikap seorang dai terhadap nilai-nilai dan sistem yang ada di luar Islam akan sangat mengganngu orsinalitas risalah yang disampaikan dalam berda’wah.
Keyakinan dan keteguhan inilah yang akan membentuk sikap seorang dai sebagai penyeru kepada Dinullah. Ad’u ilallah (Aku Menyeru kepada Allah).
Kata “da’wah” dan sejenisnya dalam Al Qur’an selalu dikaitkan dengan Allah. Ada tiga hal penting dalam redaksi ini, yaitu :
Pertama, untuk mempertegas bahwa aktifitas da’wah adalah mengajak dan mengantarkan umat manusia mengenal dan mematuhi Allah, bukan untuk mengenal dan mematuhi da’inya.
Kedua, yang harus ditinggikan, dibesarkan dan dilindungi dalam da’wah adalah Dinullah (agama Allah), bukan kepentingan dai dan sejenisnya.
Ketiga,untuk menunjukkan bahwa jalan da’wah yang dilalui oleh para dai adalah jalan hidup yang datangnya dari Allah, bukan buatan manusia.
Jalan Allah yang ditempuh para dai itu adalah Ash Shirat al Mustaqim (jalan lurus) yang mengantarkan manusia kepada subulas-salam (jalan kebahagiaan) hakiki di dunia dan di akhirat.
Dengan penegasan ini da’wah adalah tawaran obyektif dari para dai kepada umat manusia. Tidak ada kepentingan pribadi da’i di dalamnya. Penerimaan dan penolakan obyek da’wah bergantung kepada seberapa besar kesadaran obyek da’wah itu dalam menyerap kebenaran Dinullah. Dengan demikian keberhasilan dalam da’wah tidak membuat dai merasa bangga diri, dan kegagalan dalam da’wah tidak membuat dao menjadi frustasi.
Jalan panjang seperti yang diserukan pada ayat di atas difahami oleh Asysyahid Hasan Al Bana sebagai jalan yang sangat panjang dan berliku, serta tidak pilihan lain selain jalan ini, yang dapat ditempuh untuk membangun kejayaan umat. Perhatikanlah perjalanan da’wah Nabi Nuh as, ia berda’wah siang dan malam tanpa pernah bosan, meskipun kaumnya tetap sombong dan memusuhinya. Nabi Ibrahim dalam berda’wah harus berkonfrontasi dengan ayah dan kaumnya. Liku-liku da’wahnya terasa sangat melelahkan dengan berbagai dinamika yang memerlukan daya tahan prima. Tetapi nabi Ibrahim as menyadari bahwa tidak ada jalan lain kecuali sabilullah (jalan Allah) maka Ibrahim tetap istiqomah di jalan da’wah itu meskipun tantangan kuat menghadang. Rasulullah saw dalam da’wahnya selama di Makkah membuktikan dengan jelas bahwa rute perjalanan da’wah adalah rute perjalanan yang telah Allah gariskan. Tawaran-tawaran yang diajukan kaum kafir Quraisy untuk mencoba mengalihkan da’wah Nabi Muhammad tidak dapat sedikitpun mempengaruhi jalan da’wahnya. Rasulullah menyadari betul bahwa yang berhak menentukan arah perjalan da’wah hanyalah Allah swt, bukan dirinya atau permintaan kaum yang terus menerus menentangnya.
Dakwah menuju jalan Allah ini merupakan tugas para rasul dan seluruh pengikutnya, ana wa manittaba’ani ( aku dan orang-orang yang mengikutiku) dengan tujuan untuk mengeluarkan umat manusia dari zhulumat (kegelapan kufur) menuju kepada nur (cahaya Islam). Karakter dasar orang beriman adalah da’i, penyeru kebaikan untuk diri sendiri dan orang-orang yang berada dalam otoritasnya. Tidak ada satupun dari umat Islam ini yang dapat berlepas diri dari tugas dan tanggung jawab da’wah. Firman Allah:

Artinya: Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. QS. 3:110

Sabda Nabi :
Artinya: Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin di ruamh suaminya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang khadim (pelayan) adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Hadits Muttafaq alaih.

Seorang da’i dalam aktifitas da’wahnya selalu berdasar kepada pengetuhan dan keyakinan yang benar, ‘ala bashirah. Da’wah Islam adalah da’wah ilmiyah, selalu berlandaskan kepada hujjah yang nyata tidak cukup dengan zhan (asumsi) atau dugaa-dugaan pragmatis. Al Qur’an menantang orang-orang yang memiliki pemahaman yang tidak sesuai dengan kebenaran atau kenyataan dengan mengatakan:

Artinya: Katakan : Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar. QS. 2: 111
Tradisi da’wah Islam adalah tradisi ilmiah, bukan tradisi taqlid (mengekor). Al Qur’an sering mengidentikkan budaya taqlid dengan sikap kaum kafir yang jauh dari hidayah dan kebenran. Firman Allah:

Artinya: Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah” mereka menjawab:”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. “(Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk. QS. 2: 170

Dari itulah diperlukan kesiapan ilmiah yang cukup bagi setiap dai dalam aktifitas da’wahnya. Dengan demikian maka da’wah Islam akan mencerahkan kehidupan umat dengan ilmu pengatahuan. Da’wah Islam akan mengangkat peradaban umat umat menjadi umat madani dengan karakter ilmiah, membaca, mengkaji dan memahami persoalan dengan berlandaskan kepada sumber-sumber ilmiyah yang kuat dan valid.
Orang-orang yang menjadi pengikut da’wah ini akan merasakan kekaguman karena menemukan izzah (kehormatan) diri. Kekaguman itu mereka nyatakan dalam ungkapan subhanallah (maha suci Allah). Sisi lain yang tertangkap dari kalimat ini adalah nuansa kesadaran penuh, terjauh dari kelalaian. Hal ini terlihat dari penggunaan kalimat tasbih ini untuk mengingatkan orang lain yang dianggap lupa atau salah.
Kesadaran diri dengan izzah Islam ini membentuk pribadi kuat yang mampu menyatakan jati dirinya di tengah komunitas lain yang melingkupinya. Aqidah yang benar mendorongnya untuk berseru wama ana minal musyrikin ( dan aku tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik). Pernyataan seperti ini tidak akan pernah keluar dari seorang pengecut. Menyatakan identitas diri di tengah komunitas yang berbeda hanya bisa dilakukan oleh orang yang bernyali kuat.
Demikianlah da’wah Islam memproduksi orang-orang berkepribadian tangguh yang memiliki identitas jelas, berpengetahuan luas, bertanggung jawab dan produktif dalam menebarkan kebaikan di tengah-tengah umatnya.
Mustafa Masyhur menjelaskan bahwa “ jalan da’wah adalah jalan yang satu. Di atas jalan inilah Rasulullah saw dan para sahabatnya berjalan. Demikian juga kita, para pendukung da’wah berjalan dengan taufiq (pertolongan) Allah swt. Kita dan mereka berjalan berbekal iman, amal, mahabbah (kasih sayang), dan ukhuwah (persaudaraan).
Aktifitas da’wah adalah aktifitas terorganisir untuk mencapai tujuan mulia. Ayat di atas menggambarkan bentuk organisasi primer dalam da’wah ini. Organisasi da’wah akan efektif jika memiliki tiga kaki pijakan ini, yaitu :
1. Pemimpin yang ikhlas
Rasulullah saw menyeru mereka kepada iman dan amal, kemudian menyatu-padukankan hati mereka di atas dasar cinta dan ukhuwah. Berpadulah kekuatan iman dan kekuatan aqidah dengan persatuan. Maka jadilah jamaah Nabi ini menjadi jamaah contoh teladan. Seruannya satu yaitu : seruan tauhid “La ilaha Illallah, Muhammad rasulullah”.
Rasulullah saw menyadari betul perlunya pemimpin yang berkualitas untuk memimpin jamaah kaum muslimin. Hal ini dapat kita lihat dari usaha Nabi mengkader sahabat-sahabat tertentu untuk menjadi calon pengganti dirinya di kemudian hari. Kedekatan hubungan yang Rasulullah bangun dengan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, tidak hanya hubungan persahabatan, atau kekeluargaan semata. Tetapi lebih jauh dari itu, Rasulullah sering memberikan kesempatan kepada mereka untuk berlatih dan mempersiapkan diri memimpin umat, jika suatu saat Rasulullah kembali ke hadirat Allah. Pendelegasian dan sariyah (ekspedisi pasukan) menjadi salah satu bukti perhatian Rasulullah pada masalah kaderisasi pemimpin umat ini.
Kepemimpinan dalam organisasi adalah syarat mutlak yang tidak dapat ditawar lagi. Kualitas pemimpin dalam sebuah jamaah akan sangat mempengaruhi perjalanan sebuag jamaah. Di sisi lain munculnya seorang pemimpin dalam sebuah jamaah adalah representasi kualitas jamaah itu sendiri. Ali bin Abi Thalib ketika menjadi khlaifah pernah ditanya oleh salah seorang rakyatnya. Mengapa di zaman Abu Bakar menjadi khalifah, dalam waktu singkat ia mampu menyelesaikan permasalahan negara yang sedang sangat terancam, dan di masa tuan permasalahan yang jauh lebih kecil dari masalah Abu Bakar, menjadi berlarut-larut tidak terselesaikan? Ali menjawab: “ Abu Bakar dapat dengan cepat menyelesaikan problem yang sangat besar karena rakyatnya seperti aku, dan aku tidak bisa dengan cepat menyelesaikan problem yang tidak begitu besar karena rakyatnya seperti kamu”.
2. Pendukung yang beriman/jama’ah ( wamanittaba’ani)
Perjalanan sebuah jamaah dalam melintasi sejarah sangat ditentukan oleh kualitas pendukung yang menjadi pembelanya, penegak perannya, menjaga ashalahnya (keasliannya) dan pelindungnya dari pengaruh-pengaruh lainnya. Organisasi yang kuat selalu didukung oleh para pengikut yang berkualitas, loyal, solid dan bertanggung jawab penuh.
Allah swt mendorong umat ini untuk bersatu dan mengorgnaisir diri di bawah bendera Allah. Firman Allah:
Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama0 Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…. QS. 3;1-3
Al Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah ibnul Yaman, berkata: Orang-bertanya kepada Rasulullah tentang kebajikan, dan saya menanyakannya tentang keburukan karena khawatir jika kami menemuinya…lalu saya bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Jawab Nabi: Kamu tetap dalam Jama’ah kaum Muslimin dan imamnya.
At Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tangan Allah bersama dengan jama’ah”.
Umar bin Khaththab berkata:
“Sesungguhnya Islam tidak akan tegak tanpa jama’ah, dan tidak ada jama’ah tanpa imarah (pemimpin) dan tidak ada kepemimpinan tanpa taat (loyalitas)”.

Nabi Isa as pernah menguji loyalitas pengikutnya dengan mengatakan :
“Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah). QS:3:52-53
.
Dari ayat di atas dapat ditarik ciri-ciri pendukung da’wah yang baik adalah :
a. Beriman kepada Allah
b. Berserah diri kepada Allah
c. Beriman kepada kitab Allah
d. Beriman kepada rasulullah
e. Telah menunjukkan jati dirinya
f. Pernyataan kesediaan untuk menjadi pendukung da’wah.

3. Manhaj yang benar. (‘ala bashirah)
Manhaj yang benar akan menjadi pemandu da’i dalam aktifitas da’wahnya mencapai cita-cita da’wah yang agung. Hal hal penting yang harus diketahui oleh setiap da’i dalam memahami manhaj ini adalah:
1. Memahami ghoyah (tujuan utama) da’wah ini, yaitu menjadikan Allah swt sebagai puncak semua tujuan aktifitas da’wah. Sehingga produk dari proses da’wah adalah masyarakat Rabbani yang selalu berorientasi kepada Allah.
2. Memahami amaliah (proses) berda’wah dalam mengantarkan umat manusia agar keluar dari zhulumat jahiliyah menuju kepada cahaya Islam. Mulai dari pencerahan ilmiah, pembentukan kesadaran, hingga menjadi aktifitas muslim yang berangkat dari pemahaman yang benar dan kesadaran penuh. Proses ini dilakukan terus menerus tanpa pernah berhenti madal-hayah (sepanjang hidup).
3. Memahami marhalah (fase) da’wah. Ada tiga marhalah penting dalam da’wah, yaitu: a). marhalah pembentukan opini dan pencerahan publik, dengan menyebarkan pemikiran-pemikiran yang mencerahkan kepada seluruh lapisan masyarakat, b). marhalah kaderisasi dan pemilihan bibit-bibit berkualitas untuk dipersiapkan menjadi junud (prajurit) da’wah, c). marhalah tanfidz (aksi), yaitu amal produktif dari pemikiran yang telah difahami.
4. Memahami materi da’wah. Materi terpenting dalam da’wah adalah: a). penanaman iman yang kuat/dalam, b). pembentukan kepribadian yang utuh dan detail.

Dengan demikian ashalah da’wah dan produktifitas da’wah akan dapat diharapkan berbuah dengan baik dan sempurna. Wallahu a’lam
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik