FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini551

Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

View previous topic View next topic Go down

Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Penyaran on Sat Mar 02, 2013 6:59 pm


Petrus Zamannya Benny Moerdani Hidup Lagi, Korbannya Aktivis Islam

Jakarta (voa-islam.com) Sungguh sangat mengerikan pembantaian yang dilakukan oleh Jenderal Benny Moerdani (Katolik) terhadap mereka yang diduga sebagai penjahat, kala itu. Mereka dihabisi dengan cara yang mengenaskan, dibunuh ditembak, dan mayatnya dikarungi, dan ada yang dibuang di tempat keramaian.

Sekarang, seakan Jenderal Leonardus Benyamin Moerdani hidup lagi, melakukan "petrus" (penembakan misterius), tetapi sekarang pelakunya Densus 88, dan yang dibunuhi para aktivis Islam, dan hanya di beri stempel sebagai teroris.

Aktivis-aktivis Islam yang berjuang dengan serius, dan ingin menegakkan hukum Allah (syariah Islam), diberi lebel teroris, dan kemudian dibunuhi, tanpa dapat dipertanggungjawabkan baik secara kemanusiaan maupun hukum.

Dulu, waktu zamannya rezim Orde Baru di bawah Jenderal Soeharto, ratusan bahkan diyakini ribuan orang menjadi korban operasi pemberantasan kejahatan atau yang dikenal operasi penembakan misterius (PETRUS) periode 1983-1985. Namun sampai sekarang belum ada pengakuan secara resmi dari pemerintah, termasuk Komnas HAM bahwa kasus ini merupakan pelanggaran HAM berat.

Menurut Edwin, dari hasil penelitian Kontras memang target Petrus adalah para bromocorah alias penjahat atau residivis. Namun, banyak juga para korban merupakan pemuda dan aktivis yang selama ini menentang kebijakan rezim Soeharto. Jumlah korbannya sangat besar, ada sekitar 700an lebih. Mungkin lebih dari itu.

Dari data yang diterima, petrus berawal dari operasi penanggulangan kejahatan di Jakarta. Pada tahun 1982, Soeharto memberikan penghargaan kepada Kapolda Metro Jaya Mayjen Pol Anton Soedjarwo atas keberhasilan membongkar perampokan yang meresahkan masyarakat.

Pada Maret di tahun yang sama, di hadapan Rapim ABRI (sekarang TNI), Soeharto meminta polisi dan ABRI mengambil langkah pemberantasan yang efektif menekan angka kriminalitas. Hal yang sama diulangi Soeharto dalam pidatonya tanggal 16 Agustus 1982.

Permintaannya ini disambut oleh Pangkopkamtib Laksamana Soedomo dalam rapat koordinasi dengan Pangdam Jaya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakarta di Markas Kodak Metro Jaya tanggal 19 Januari 1983. Dalam rapat itu diputuskan untuk melakukan Operasi Clurit di Jakarta, langkah ini kemudian diikuti oleh kepolisian dan ABRI di masing-masing kota dan provinsi lainnya.

Operasi Clurit yang notabene dengan Petrus ini memang signifikan, untuk tahun 1983 saja tercatat 532 orang tewas, 367 orang diantaranya tewas akibat luka tembakan.

Tahun 1984 ada 107 orang tewas, diantaranya 15 orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 diantaranya tewas ditembak.

Para korban petrus sendiri saat ditemukan masyarakat dalam kondisi tangan dan lehernya terikat. Kebanyakan korban juga dimasukan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan dan kebun.

Pola pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat keamanan. Tercatat ada 11 provinsi yang menerapkan petrus, seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Bali, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Sementara itu, salah satu korban petrus yang selamat, Bathi Mulyono (60),
Berkata : "Saya tidak akan memaafkan Soeharto, karena kejahatannya paling tinggi dan paling jahat dibanding kejahatan finansialnya, karena sudah menghilangkan nyawa orang" dan mempertanyakan Komnas HAM terkait perkembangan penuntasan kasus itu.

Dirinya meminta agar Komnas HAM berani mengungkap kasus yang disinyalir menelan korban ribuan orang.

Bathi juga mengaku tidak akan memberikan maaf kepada Soeharto atas kasus kejahatan yang dinilai paling jahat dibandingkan kasus korupsi, KKN mantan penguasa Orde Baru tersebut.

Siapa dalang Petrus sesungguhnya? Mantan Presiden Soeharto banyak dituduh menjadi pemberi perintah. Tapi Soeharto pernah menyampaikan Jenderal Benny Moerdani lah dalang petrus sesungguhnya.

"Saya pernah tanya pada Pak Harto. Bapak dituduh melanggar HAM soal petrus, yang sebenarnya bagaimana Pak? Pak Harto bilang Itu kan Benny," ujar mantan ajudan Soeharto, Mayjen Purn Issantoso saat diskusi bedah buku 'Pak Harto the untold stories' di Gramedia, Matraman. Jakarta Timur. Sabtu, (19/11/2011).

Tetapi, sejatinya Jenderal Soeharto dan Jenderal Benny Moerdani itu, keduanya penjahat yang sangat biadab, bukan hanya membunuhi para preman, tetapi juga membunuh umat Islam, seperti peristiwa yang terjadi di Lampung, Tanjung Priok, Haur Koneng, dan sejumlah wilayah lainnya. Kedua tokoh militer itu, berkomplot membunuhi umat Islam dengan cara-cara yang keji.

Sekarang di era reformasi di bawah kekuasaan Presiden SBY, berulang kembali era yang sangat kelam, dan penuh dengan kebiadaban, yaitu pembantaian secara keji terhadap umat Islam, terutama para aktivis Islam.

Pelakunya sekarang polisi, Densus 88. Para aktivis Islam hanya diberi lebel teroris, sudah dapat ditembak atau dibunuh. Tidak pernah diklarifikasi. Apakah benar mereka ini teroris, dan membahayakan keamanan negara.

Entah sudah berapa ribu yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara, dan entah berapa banyak yang sudah tewas. Kemarin, dalam hanya dua kali dalam 24 jam, 11 orang yang terduga teroris tewas ditembak oleh Densus 88.

Sejatinya, mereka yang dituduh teroris itu, hanya korban stigma, dan kemudian mendapatkan covered (peliputan) media yang luas, terutama media-media kristen dan sekuler yang memang, mereka ini menjadi bagian dari operasi yang dijalankan Densus 88.

Semuanya tujuan hanya satu, mengeleminir, aktivis Islam, yang ingin menegakkan nilai-nilai dan prinsip Islam. Begitu mudah para aktivis Islam itu dibunuh dan dihilangkan nyawanya. Sungguh ini sebuah kejahatan yang luar biasa di era reformasi.

Anehnya, semua bungkam, tak ada yang merasa keberatan terhadap aktivitas Densus 88, yang sudah membuat korban begitu banyak. Mereka ditangkap disiksa, dipenjarakan, dan sebagian dibunuh dengan cara yang sangat keji.

Tindakan Soeharto dan Benny Moerdani yang era Orde Baru dikutuk, dan menjadi pemicu terjadinya perubahan politik, dan penggulingan terhadap rezim Soeharto, sekarang ini diulangi lagi.

Sebuah tindakan yang sangat keji penghilangan nyawa manusia, apapun dasar alasannya. Apalagi mereka yang ditembak itu, baru diduga teroris, dan belum dibuktikan secara hukum. af/h

http://www.voa-islam.com/counter/intelligent/2013/01/07/22650/petrus-zamannya-benny-moerdani-hidup-lagi-korbannya-aktivis-islam/

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2559
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Penyaran on Sat Mar 02, 2013 7:01 pm

Mendoktrin Anak Membenci Agama Lain

Ada tuduhan, bahwa keluarga Muslim selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama lain, khususnya di dalam hal ini Kristen. Hal ini terlihat dari begitu banyaknya individu-individu Muslim yang membenci agama Kristen, dan juga terlihat dari munculnya pengakuan-pengakuan beberapa Muslim mengenai hal tersebut.

Namun di balik itu, juga terdapat tuduhan bahwa keluarga Kristen selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama dan umat Islam. Gereja bahkan mempunyai peran yang amat signifkan di dalam hal ini. Terdapat begitu banyak page di internet khususnya yang mengekspresikan kegelisahan seorang manusia Kristen yang teramat membenci Islam karena sejak kecil manusia ini selalu diarahkan oleh keluarganya yang Kristen taat untuk membenci agama Islam tersebut.

Jika suatu saat Suatu hal disebut tuduhan, maka saat berikutnya harus ada pembuktian untuk mengukuhan tuduhan tersebut. Jadi, benarkah bahwa keluarga Muslim selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama Kristen, dan benarkah bahwa keluarga Kristen plus Gereja selalu mendoktrin para yunior mereka untuk membenci agama Islam sedemikian rupa? Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah fair bila suatu keluarga atau suatu institusi berbasis keagaman menanamkan kebencian kepada agama lain atas anggota-anggota mereka yang yunior?
Kita harus melihat dengan teliti bahwa ‘buah’ dari indoktrinisasi kebencian terhadap para yunior tersebut adalah kandasnya semangat tolerasi antar umat beragama di tengah masyarakat dan kehidupan berbangsa. Kita, siapa pun kita, harus mencegah kandasnya toleransi tersebut, atau setidaknya berjuang supaya semangat toleransi tetap semarak di tanah air ini.

Melihat Kenyataan.
Pertama. Kasus Tanjung Priok.
Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI beragama Katholik, Sersan Satu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang ikhwan yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.

Rabu. 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”. Mubaligh lain, Ustdaz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah ! Kami siap menolong agama Allah !” Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita !”

.

Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … astaghfirullah! Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.

.

Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhirung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.

.

Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelum tragedi, suasana Tanjung Priok memang terasa panas. Tokoh-tokoh Islam menduga keras bahwa suasana panas itu memang sengaja direkayasa oleh oknum-oknum tertentu dipemerintahan yang memusuhi Islam. Terlebih lagi bila melihat yang menjadi Panglima ABRI saat itu, Jenderal Leonardus Benny Moerdani, adalah seorang Katholik yang sudah dikenal permusuhannya terhadap Islam. Suasana rekayasa ini terutama sekali dirasakan oleh ulama-ulama di luar tanjung Priok. Sebab, di kawasan lain kota Jakarta sensor bagi para mubaligh sangat ketat. Namun entah kenapa, di Tanjung Priok yang merupakan basis Islam itu para mubaligh dapat bebas berbicara bahkan mengkritik pemerintah, sampai menolak azas tunggal Pancasila. Adanya rekayasa dan provokasi untuk memancing ummat Islam dapat diketahui dari beberapa peristiwa lain sebelum itu, misalnya dari pembangunan bioskop Tugu yang banyak memutar film maksiat diseberang Masjid Al-Hidayah. Tokoh senior seperti M. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara sebenarnya telah melarang ulama untuk datang ke Tanjung Priok agar tidak masuk ke dalam perangkap. Namun seruan ini rupanya tidak sampai kepada para mubaligh Priok. Dari cerita Syarifin Maloko, ketua SONTAK dan mubaligh yang terlibat langsung peristiwa 12 September, ia baru mendengar adanya larangan tersebut setelah berada di dalam penjara. Rekayasa dan pancingan ini tujuannya tak lain untuk memojokkan Islam dan ummatnya di Indonesia.

Access from,

http://gambang.wordpress.com/2008/02/28/tragedi-tanjung-priok-jakarta-1984/
Access date 14:29 27/01/2012

.

Kedua. Kasus Ambon.
Tragedi berdarah di Ambon dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebelum peristiwa Iedul Fithri 1419H berdarah, tercatat beberapa peristiwa penting yang dianggap sebagai pra-kondisi, bahkan jauh ke belakang pada tahun 1995. Beberapa peristiwa itu (sebagian) adalah sebagai berikut

15 Juni 1995: Desa berpenduduk Islam, Kelang Asaude (Pulau Manipa), diserang warga Kristen Desa Tomalahu Timur, pada waktu Shubuh. Penyerangan dikoordinasikan oleh empat orang yang nama-namanya dicatat oleh MUI.
21 Pebruari 1996 (Hari Raya Iedul Fithri) : Desa Kelang Asaude diserang lagi. Serangan dilakukan oleh warga Tomahalu Timur dengan menggunakan batu dan panah. Tiga hari sebelumnya, serombongan orang yang dipimpin oleh sersan (namanya tercatat) datang ke Desa Asaude, menangkap raja (kepala desa) berikut istri dan anak-anaknya. Mereka menggeledah isi rumah dan menginjak-injak peralatan keagamaan.
Dst.

Baca lebih lanjut di,

http://islamthis.wordpress.com/2012/01/27/kronologi-tragedi-ambon-maluku-berdarah/

.

Ketiga. Kasus Poso.
1. Penyebab / akar dari konflik sosial yang terjadi di Poso
Wapres menjelaskan bahwa kasus Poso terjadi bukan karena masalah agama namun adanya rasa ketidak adilan. Awal mula terjadinya konflik karena adanya demokrasi yang secara tiba-tiba terbuka dan membuat siapapun pemenangnya akan ambil semua kekuasaan. Padahal, pada masa sebelumnya melalui Muspida setempat selalu diusahakan adanya keseimbangan. Contohnya, jika Bupatinya berasal dari kalangan Kristen maka Wakilnya akan dicarikan dari Islam. Begitu pula sebaliknya. Dengan demikian terjadi harmonisasi, namun dengan demokrasi tiba-tiba the winner take it all,” kata Wapres. Karena pemenang mengambil alih semua kekuasaan, tambah Wapres, maka pihak yang kalah merasa telah terjadi ketidak-adilan.
.

Keluar dari pendapat Wapres, konflik sosial yang terjadi di Poso adalah bagian dari konflik individu yang dalam masyarakat yang secara dinamis tidak dapat dipisahkan dan bertalian satu sama lain. Pendapat mengenai akar dari masalah yang bertumpu pada subsistem budaya dalam hal ini menyangkut soal suku dan agama.
.

Argumen yang mengemuka bahwa adanya unsur suku dan agama yang mendasari konflik sosial itu adalah sesuai dengan fakta yaitu bahwa asal mula kerusuhan Poso I berawal dari :

Pembacokan Ahmad Yahya oleh Roy Tuntuh Bisalembah di dalam Masjid Pesantren Darusalam pada bulan Ramadhan.
Pemusnahan dan pengusiran terhadap suku–suku pendatang seperti Bugis, Jawa, dan Gorontalo, serta Kaili pada kerusuhan ke III.
Pemaksaan agama Kristen kepada masyarakat Muslim di daerah pedalaman kabupaten terutama di daerah Tentena dusun III Salena, Sangira, Toinase, Boe, dan Meko yang memperkuat dugaan bahwa kerusuhan ini merupakan gerakan Kristenisasi secara paksa yang mengindikasikan keterlibatan Sinode GKSD Tentena.
Peneyerangan kelompok Merah dengan bersandikan simbol-simbol perjuangan keagamaan Kristiani pada kerusuhan ke III.
Pembakaran rumah-rumah penduduk Muslim oleh kelompok Merah pada kerusuhan III. Pada kerusuhan ke I dan II terjadi aksi saling bakar rumah penduduk antara pihak Kristen dan Islam.
Terjadi pembakaran rumah ibadah Gereja dan Masjid, sarana pendidikan kedua belah pihak, pembakaran rumah penduduk asli Poso di Lombogia, Sayo, Kasintuvu.
Adanya pengerahAn anggota pasukan Merah yang berasal dari suku Flores, Toraja dan Manado.
Adanya pelatihan militer Kristen di desa Kelei yang berlangsung 1 tahun 6 bulan sebelum meledak kerusuhan III.

Terlepas dari setuju atau tidak terhadap pendapat mengenai akar masalah dari konflik Poso, secara sibernetik hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Bahwa pada intinya budaya pada masyarakat Poso mempunyai fungsi untuk mempertahankan pola atas nilai-nilai Sintuvu Maroso yang selama ini menjadi anutan masyrakat Poso itu sendiri. Adanya Pembacokan Ahmad Yahya oleh Roy Tuntuh Bisalembah di dalam Masjid Pesantren Darusalam pada bulan Ramadhan merupakan bentuk pelanggaran terhadap nilai nilai yang selama ini menjadi landasan hidup bersama. Pada satu sisi Muslim terusik ketentramannya dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, kemudian menimbulkan reaksi balik untuk melakukan tindakan pembalasan terhadap pelaku pelanggaran nilai-nilai tersebut. Di sisi lain bagi masyarakat Kristiani hal ini menimbulkan masalah baru mengingat aksi massa tidak ditujukan terhadap pelaku melainkan pada pengrusakan hotel dan sarana maksiat serta operasi miras, yang di anggap telah menggangu kehidmatan masyrakat Kristiani merayakan Natal, karena harapan mereka operasi-opresi tersebut di laksanakan setelah hari Natal.

.

Pandangan kedua terhadap akar masalah konflik sosial yang terjadi di Poso adalah dalam hal ini adanya perkelahian antar pemuda yang di akibatkan oleh minuman keras. Tidak diterapkan hukum secara adil maka ada kelompok yang merasa tidak mendapat keadilan misalnya adanya keterpihakan, menginjak hak asasi manusia dan lain-lain.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa akar dari konflik sosial yang terjadi di Poso terletak pada masalah politik. Bermula dari suksesi bupati, jabatan sekretaris wilayah daerah kabupaten dan terutama menyangkut soal keseimbangan jabatan-jabatan dalam pemerintahan.

.

Pendapat keempat mengatakan bahwa akar masalah dari kerusuhan Poso adalah justru terletak karena adanya kesenjangan sosial dan kesenjangan pendapatan antara panduduk asli Poso dan kaum pendatang seperti Bugis, Jawa, Gorontalo, dan Kaili. Kecemburuan sosial penduduk asli cukup beralasan di mana pendapatan mereka sebagai masyarakat asli malah tertinggal dari kaum pendatang.

.

2. Dampak dari konflik sosial yang terjadi di Poso
Kerusuhan yang terjadi di Poso menimbulkan dampak sosial yang cukup besar jika di lihat dari kerugian yang diakibatkan konflik tersebut. Selain kehilangan nyawa dan harta benda, secara psikologis berdampak besar bagi mereka yang mengalami kerusuhan itu. Dampak psikologis tidak akan hilang dalam waktu singkat. Jika dilihat dari keseluruhan, kerusuhan Poso bukan suatu kerusuhan biasa, melainkan merupakan suatu tragedi kemanusiaan sebagai buah perang sipil. Satu kerusuhan yang dilancarkan secara sepihak oleh kelompok Merah, terhadap penduduk Muslim kota Poso dan minoritas penduduk Muslim di pedalaman kabupaten Poso yang tidak mengerti sama sekali dengan permasalahan yang muncul di kota Poso.
.

Dampak kerusuhan Poso dapat di bedakan dalam beberapa segi :
1. Budaya; dampak sosial yang terjadi adalah :

dianut kembali budaya “pengayau” dari masyarakat pedalaman (suku Pamona dan suku Mori).
Dilanggarnya ajaran agama dari kedua kelompok yang bertikai dalam mencapai tujuan politiknya.
Runtuhnya nilai-nilai kesepakatan bersama Sintuwu Maroso yang menjadi bingkai dalam hubungan sosial masyarakat Poso yang pluralis.

2. Hukum; dampak sosial yang terjadi adalah :

Terjadinya disintegrasi dalam masyarakat Poso ke dalam dua kelompok yaitu kelompok Merah dan kelompok Putih.
Tidak dapat di pertahankan nilai-nilai kemanusiaan akibat terjadi kejahatan terhadap manusia seperti pembunuhan, pemerkosaan dan penganiayaan terhadap anak serta orang tua dan pelecehan seksual.
Runtuhnya stabilitas keamanan, ketertiban, dan kewibawaan hukum di masyarakat kabupaten Poso.
Munculnya perasaan dendam dari korban-korban kerusuhan terhadap pelaku.

Baca lebih lanjut di,
http://konflikposo.blogspot.com/2009/03/konflik-poso.html

(cuplikan ini sendiri diakses tanggal 30 Januari 2012).

.

Keempat. Kasus Perda Manokwari Kota Injili.
Perda Injil rugikan Gereja
Pada sesi lain, Binsar A. Hutabarat, MCS (peneliti pada Reformed for Religion and Society) menyoroti perda Injil di Manokwari, Papua. Menurut Binsar, perda Injil ini dimunculkan sebagai reaksi atas rencana pembangunan mesjid raya di Manokwari, yang selama ini dikenal sebagai “pintu gerbang” masuknya Injil ke Papua. Tokoh-tokoh Kristen di Papua umumnya sepakat bahwa kehadiran masjid raya di Manokwari telah melukai perasaan umat Kristen, dan menimbulkan perasaan terdiskriminasi.

.

Binsar berpendapat, kehadiran Perda Manokwari Kota Injil ternyata memosisikan gereja ketika menjadi mayoritas jadi cenderung mendiskriminasikan agama lain. Hal ini terbukti dari pasal-pasal diskriminatif dalam Perda Injil, semisal melarang agama lain melakukan kegiatan publik pada hari Minggu, pelarangan jilbab, azan, dan keharusan memasang simbol-simbol Kristen di gedung-gedung pemerintah.
Menurut Binsar, apabila perda Manokwari Kota Injil dianggap sebagai strategi gereja membendung serbuan perda-perda syariah, maka strategi tersebut justru merugikan gereja sendiri. Sebab gereja terjebak dalam politisasi agama dan agamaisasi politik demi menuntut kekhususannya sebagai kelompok mayoritas. ? Hans P. Tan

Access from,

http://reformata.com/news/view/5959/antara-kepalsuan-dan-politisasi-agama
Access date, 30 Januari 2012.

.

Kelima. Arswendo Atmowiloyo,
Arswendo Atmowiloto (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 November 1948; umur 63 tahun) adalah penulis dan wartawan Indonesia yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar seperti Hai dan KOMPAS. Mempunyai nama asli Sarwendo. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan ngepop. Lalu di belakang namanya itu ditambahkannyalah nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang.
.

Access from,

http://id.wikipedia.org/wiki/Arswendo_Atmowiloto

Access date, 30 Januari 2012.

.

Keenam. Sudomo, Penggerak Kerusuhan Priok Yang Membantai umat Muslim.
Awal mula Sudomo berpindah agama pada tahun 1961, yakni ketika menikahi seorang wanita bernama Fransisca Play yang beragama Kristen. Perkenalan dengan Fransisca sendiri terjadi tiga bulan sebelumnya. Kala itu, kedua orang tua Sudomo sempat tidak menyetujui keputusannya. Namun, pada akhirnya mereka setuju karena keinginan Sudomo yang sangat kuat. Terlebih lagi, saat itu pernikahan beda agama masih memungkinkan terjadi di Indonesia. “Dulu belum ada UU No 1 tahun 1974 tentang pernikahan beda agama,” kenang Sudomo.
.

Alhasil, Sudomo pun melangsungkan pernikahan dengan Fransisca di sebuah Gereja di Jakarta. “Saya berpikir waktu itu kalau suami-istri agamanya sama maka akan lebih mudah menjalani kehidupan rumah tangganya,” ujar pria yang memiliki hobi diving ini. Sebelumnya, Sudomo pernah mengajak sang istri untuk berpindah keyakinan, tapi menolak. Tak ayal, Sudomo mengalah dan memutuskan dialah yang berpindah agama meski tanpa melalui pemikiran yang matang. Pernikahannya dengan Fransisca telah membuahkan empat anak, yakni Biakto Trikora Putra (46), Prihatina Dwikora Putri (42), Martini Yuanita Ampera Putri (41), dan Meidyawati Banjarina Pelita Putri (37). Kesemua anaknya menganut agama Kristen seperti halnya Sudomo kala itu.
.

Pernikahan pertamanya ternyata harus kandas di tengah jalan. Ia bercerai pada tahun 1980. “Saya sudah terbiasa memimpin di pemerintahan, itu saya bawa ke rumah tapi malah tidak berhasil pernikahannya,” tutur Sudomo.
.

Selang 10 tahun kemudian, Sudomo bertemu dengan seorang wanita kristiani yang berprofesi sebagai aktris film, bernama Fransiska Diah Widhowaty. Awal perkenalannya sendiri diakui Sudomo atas hasil perkenalan dari salah seorang temannya. Lagi-lagi, Sudomo tertarik hanya karena kecantikan dari perempuan tersebut. “Saya tidak memikirkan cocok atau tidak, yang saya lihat hanya kecantikannya saja,” aku Sudomo. Akibatnya, pernikahan kedua tersebut hanya bertahan selama 4 tahun saja. Tepat pada tahun 1994, keduanya memutuskan untuk bercerai. Berbeda halnya dengan pernikahan pertama yang menghadirkan empat buah hati, pada pernikahan keduanya Sudomo justru tidak mendapatkan anak.
.

Access from,

http://fajar-aryanto.blogspot.com/2009/03/laksamana-tni-purn-sudomo-mantan-ketua.html

Access date, 30 Januari 2012.

.

Ketujuh. Kasus Pelecehan Agama Antonius Bawengan.
TEMPO Interaktif, Temanggung – Antonius Richmond Bawengan, terdakwa penistaan agama disidangkan di Pengadilan Negeri Temanggung karena menyebarkan sejumlah selebaran dan buku yang dianggap melecehkan keyakinan agama tertentu. Akibat perbuatannya itu, Pengadilan Negeri Temanggung pun kemarin telah memvonis pria asal Manado ini lima tahun penjara.

.

Menurut Kepala Hubungan Masyarakat PN Temanggung Agus Setiawan, Bawengan saat itu menyebarkan tiga selebaran dan dua buku.

.

Tiga selebaran itu berukuran kertas folio dan dibagi tiga kolom. Masing-masing berjudul “Bencana Malapetaka Kecelakaan (Selamatkan Diri Dari Dajjal), “Tiga Sponsor-Tiga Agenda-Tiga Hasil” dan “Putusan Hakim Bebas”.

.

Isi ketiga selebaran itu pada dasarnya merupakan kritik pada kondisi masyarakat saat ini. Tak hanya mengkritik ajaran Islam, dalam ketiga selebaran itu juga mengkritik agama Nasrani.

.

Dalam halaman muka selebaran berjudul “Tiga Sponsor-Tiga Agenda-Tiga Hasil” misalnya, terdapat tiga gambar tiga agama. Gambar bintang segi enam yang dikenal sebagai simbol agama Yahudi, gambar Yesus sebagai simbol Nasrani dan gambar bulan sabit dengan bintang di tengahnya sebagai simbol Islam.

.

Selebaran yang lain, berjudul “Bencana Malapetaka Kecelakaan (Selamatkan Diri Dari Dajjal), di halaman depannya tertulis malapetakan saat ini diantaranya adalah bencana tsunami, gempa, banjir dan lain sebagaianya. “Tiga selebaran itu satu set,” kata Agus Setiawan, Rabu (9/2) sore.

.

Adapun dua buku yang disebarkan terdakwa, masing-masing berjudul “Ya Tuhanku, Tertipu Aku!” yang terdiri dari 60 halaman dan “Saudaraku Perlukah Sponsor” yang terdiri dari 35 halaman. Keduanya merupakan buku saku dengan isi yang tak jauh berbeda dengan tiga selebaran sebelumnya.
.

Baik pada selebaran dan buku, banyak dikutip ayat-ayat al-Quran dan Injil, untuk menguatkan kritik terhadap agama-agama tertentu.

.

Terdakwa Antonius, merupakan warga Jakarta Timur asal Manado yang mampir ke rumah seorang rekannya di Desa Kranggan Kecamatan Kranggan Temanggung. Buku dan selebaran itu disebarkan terdakwa pada Oktober lalu di Temanggung. Ulahnya itu lantas memicu warga menangkap dan menyerahkannya ke kepolisian.

.

Selasa (8/2) kemarin, sebelum terjadi amuk massa di Temanggung, kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Temanggung. Dengan agenda sidang pembacaan tuntutan, pada hari itu juga terdakwa langsung divonis 5 tahun penjara karena dianggap melanggar pasal 156 KUHP tentang penistaan agama. Vonis itu merupakan vonis maksimal sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum.

.

Ketua PN Temanggung Dwi Dayanto mengatakan proses putusan itu telah sesuai dengan prosedur persidangan. Vonis dijatuhkan bersamaan dalam sidang pembacaan tuntutan. “Jadi tidak buru-buru, memang seperti itu,” kata dia.
.

Access from,

http://nusaantara.wordpress.com/2011/02/10/ini-isi-tiga-selebaran-dan-buku-antonius-richmond-bawengan/

Access date 3 Pebruari 2012.

.

Kedelapan. Faith Freedom International.
Faith Freedom International adalah gerakan untuk mengkritisi dan mendebat pemikiran-pemikiran mapan dalam Islam. Gerakan ini dipelopori oleh Ali Sina. Kebanyakan artikel dan diskusi di dalamnya berisi bantahan-bantahan terhadap Islam, yang diklaim berasal dari mantan penganutnya. Situs ini juga berisi ajakan untuk meninggalkan Islam.

.

Situs resmi organisasi ini, "Situs Anti Islam".org, bisa tertukar dengan gerakan yang justru menentang keberadaan Faith Freedom International, "Situs Anti Islam".com.
.

Tantangan 100 ribu dollar.
Ali Sina mengajukan tantangan 100 ribu dollar untuk siapa saja yang bisa secara objektif mematahkan pandangan-pandangannya mengenai Kesalahan terjemah Alquran dan bukan aturan-aturan yang berlaku di dalam Alquran semata, dengan syarat menghilangkan subjektivitas yang memandang Muhammad sebagai orang yang dimuliakan Tuhan. Hadiah yang sama juga diberikan kepada orang yang bisa mencarikan lawan debatnya dalam masalah ini. Ia juga menjanjikan menutup website FFI jika pandangannya tersebut terbukti salah.
.

Access from,

http://id.wikipedia.org/wiki/Faith_Freedom_International

Access date 3 Peb 2012.

.

Islamthis.
Di atas kita mempunyai beberapa artikel yang melukiskan kekerasan dan kekejian yang dilakukan oleh kelompok manusia Kristen yang membenci islam. Dan mengapa kisah kekerasan itu bisa begitu saja terjadi menimpa kaum muslim dari kalangan mereka yang menamakan diri mereka dengan umat Kristen?
.

Jawabannya adalah mudah: karena semua manusia Kristen itu telah kenyang di-INDOKTRINISASI oleh institusi keagamaan mereka untuk membenci islam. Maka resultnya mudah dilihat: begitu banyak artikel yang menggambarkan betapa kekerasan anti islam marak di mana-mana, yang mana kekerasan anti islam itu digerakan atau dicetuskan oleh manusia-manusia Kristen.
.

Kembali ke tuduhan awal. Benarkah bahwa keluarga-keluarga muslim selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama Kristen dan umat Kristen?
.

Kalaulah memang benar bahwa keluarga muslim selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama Kristen, maka mengapa aksi-aksi kebrutalan anti islam marak di mana-mana??? Baiklah kita katakan bahwa keluarga muslim selalu salah karena selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci Kristen. Tapi satu hal harus terbukti di sini, bahwa ……….

SEKERAS APA PUN keluarga muslim mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci Kristen, maka mengapa yang terjadi justru aksi kekerasan anti islam marak di mana-mana??
Mungkin sekali keluarga Kristen tidak pernah mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci islam. Namun mengapa kekerasan dan kebrutalan anti islam marak di mana-mana?? Tidak usahlah keluarga mau pun gereja Kristen mendoktrin generasi muda mereka untuk membenci islam. Toh tanpa didoktrin pun, manusia Kristen sudah mempunyai bakat untuk membenci agama dan umat islam. Artikel dan fakta nyata sudah menjadi bukti yang tidak terbantahkan.

Sudomo, sebagai bukti kecil di sini. Dia murtad. Artinya pada awalnya dia adalah muslim. Namun ketika ia menjadi Kristen, SONTAK ia menjadi begitu benci islam sehingga ia terlibat pada kasus Priok yang amat memilukan tersebut. Arswendo, ia adalah manusia Kristen. Namun mengapa ia begitu teganya membuat angket yang resultnya merendahkan derajat nabi islam??
.

Semua manusia Kristen di portal "Situs Anti Islam". Tidak dapat disangkal lagi bahwa MAYORITAS netter yang meramaikan portal tersebut adalah manusia-manusia Kristen. Kalaulah manusia Kristen tidak mempunyai bakat alamiah untuk membenci islam, maka seharusnya "Situs Anti Islam" itu sepi. Namun karena faktanya manusia Kristen mempunyai bakat alamiah untuk membenci islam, maka fakta berikutnya adalah bahwa hanya manusia Kristen lah yang paling banyak meramaikan "Situs Anti Islam".
.

Pada masa LB Moerdani menjadi petinggi ABRI, SONTAK Negara menjadi memusuhi islam. Mengapa bisa begitu??
.

Penutup.
Tidak usahlah manusia-manusia beragama menuduh umat agama lain telah mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama lain. Namun di luar itu, Sekuat apa pun kaum Kristen menuduh kaum Muslim telah mendoktrin anak-anak Muslim mereka untuk membenci umat Kristen, toh faktanya justru berbanding terbalik dengan tuduhan tersebut. Fakta itu teramat menyayat perasaan manusia mana pun: kaum Kristen menjadi kaum pembenci kaum Muslim, baik kalau ada kesempatan, maupun kalau tidak ada kesempatan sama sekali.

Tapi perlu lah bagi kita untuk membahas, agama mana yang mempunyai kekuatan untuk menumbuhkan bakat alamiah kepada pengikutnya untuk membenci agama Islam. Jawaban untuk itu tersedia dengan mudah.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. QS. al-Baqarah, 2:120.

Wallahu alam bishawab!

http://islamthis.wordpress.com/2012/02/08/mendoktrin-anak-membenci-agama-lain/

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2559
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Penyaran on Sat Mar 02, 2013 7:05 pm

Upaya-upaya penghancuran Islam tak pernah henti hingga Orde Baru tumbang pada 1998. Cara yang dilakukan umumnya sama, merangkul umat Islam dan dikemudian mediskeditkannya dengan berbagai rekayasa. Tokoh-tokoh yang terlibat pun semakin banyak, yang semuanya merupakan orang-orang Orde Baru yang mungkin saja termasuk 'orang-orang binaan' Pater Beek. Satu di antaranya yang sangat terkenal adalah LB Moerdani.

Tentang tokoh yang satu ini, George J. Aditjondro dalam artikel berjudul “CSIS, Pater Beek SJ, Ali Moertopo dan L.B. Moerdani” memberikan uraian sebagai berikut;

“Selama Ali masih menjadi orang penting di sekitar Soeharto, salah seorang kadernya disimpan di Korea Selatan sebagai Konjen. Itu lah L.B. Moerdani. Sudah sejak di Kostrad pada zaman konfrontasi dengan Malaysia, para senior di Kostrad kabarnya sudah melihat tanda-tanda adanya rivalitas diam-diam antara Ali dan Moerdani. Banyak yang menduga perbedaan mereka pada gaya. Ali suka pamer kekuasaan, sedang Moerdani pada kerahasiaan dan misteri. Persamaan mereka adalah semua haus kekuasaan. Tapi dalam ingin berkuasa ini juga ada perbedaan. Ali ingin menjadi orang yang berkuasa, sementara Moerdani hanya ingin menjadi orang yang mengendalikan orang yang berkuasa”.

Meski permusuhan antara Ali Moertopo dan LB Moerdani membuat karir Moerdani terhambat, namun akhirnya Moerdani kemudian muncul juga ke permukaan.

Karir Moerdani meroket setelah peristiwa Malari pada 1974. Apalagi karena setelah itu Soeharto membubarkan Aspri (Asisten Presiden), lembaga yang dikuasai penuh oleh Ali Moertopo. Tentang hal ini George J. Aditjondro mengungkapkan begini;

“Tapi setelah terjadi Malari, Ali Moertopo tidak bisa lagi menghalangi Moerdani untuk tampil ke depan. Sejak ini lah bintang Moerdani mulai menanjak. Moerdani boleh berbeda style dengan Ali, tapi karena sama-sama ingin berkuasa, keduanya perlu tanki pemikir. Maka CSIS yang mulai cemas karena merosotnya posisi dan peran Ali Moertopo pada masa pasca Malari, Berjaya lagi oleh naiknya Moerdani”.

L.B. Moerdani beragama Katolik dan sangat membenci Islam. Ini lah yang membuat dia mudah diterima CSIS. Bahkan masuknya Moerdani ke lembaga yang dibentuk Pater Beek itu ibarat ikan menemukan air. Tentang hala ini, George J. Aditjondtro berkata begini;

“Moerdani adalah orang Katolik yang kebetulan secara pribadi sangat benci kepada Islam. Karena itu lancar saja kerjasama Moerdani dengan CSIS. Sebagai orang Katolik ekstrim kanan, Moerdani di CSIS merasa di rumah sendiri. Itu lah sebabnya mengapa Moerdani sekarang tenang bisa berkantor di CSIS (menggunakan bekas kantor Ali Moertopo)”.

Dalam memilih kader, cara Moerdani dan Ali Moertopo relatif tak berbeda. Jika Moertopo ‘memukul’ Islam dengan menggunakan orang Islam juga, Moerdani pun begitu. Cara ini terbukti efektif karena selama Moerdani ‘merajalela’, Islam di Indonesia benar-benar berada dalam suasana suram karena terdiskreditkan dan terpojokan.

Salah satu peristiwa yang dicurigai melibatkan Moerdani adalah kasus ‘Jamaah Imran’ yang berlanjut pada pembajakan pesawat Garuda bernomor penerbangan GA 206 tujuan Medan pada 28 Maret 1981 yang kemudian dikenal dengan kasus Pembajakan Wolya. Kecurigaan ini muncul karena seperti kasus meletusnya G-30 S/PKI yang menguntungkan Soeharto, kasus Jamaah Imran dan Pembajakan Woyla juga menguntungkan Moerdani.

Dalam biografi LB Moerdani yang ditulis Julius Pour terdapat kronologis awal kasus itu yang bunyinya sebagai berikut;

“Sabtu 28 Maret 1981, pesawat terbang Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 206 tujuan Medan, tinggal landas dari Bandar Udara Talangbetutu, Palembang …. Mendadak, terdangar keributan kecil dari arah kabin penumpang. Co-Pilot Hedhy Juwantoro juga mendengar suara ribut yang masuk ke ruang kokpit. Ia baru saja akan memalingkan kepalanya ketika tiba-tiba seorang lelaki bertubuh kekar menyerbu ke dalam kokpit sambil berteriak; “Jangan bergerak, pesawat kami bajak ….””

Pembajakan itu dilakukan oleh lima laki-laki. Pemerintahan Orde Baru menyebut, para pembajak ini merupakan bagian dari Jamaah Imran, sebuah jamaah radikal yang didirikan di Bandung, Jawa Barat, dan dipimpin oleh Imran.

Dalam buku ‘Pater Beek, Freemason dan CIA’. Sembodo menjelaskan bahwa Jamaah Imran adalah kelompok yang dibentuk setelah Komando Jihad ‘dilumpuhkan’ Ali Moertopo.

Tiga bulan setelah jamaah ini terbentuk, seorang anggota intelijen dari kesatuan TNI Yon Armed Cimahi, yang menurut Umar Abduh bernama Najamuddin, menyusup dan memprovokasi agar kelompok ini melakukan gerakan radikal untuk melawan pemerintahan Soeharto secara terbuka. Anggota intel ini bahkan menunjukkan senjata jenis apa saja yang cocok untuk dipakai setiap anggota Jamaah Imran, dan meminta setiap anggota Jamaah itu difoto sambil memegang senjata yang ia perlihatkan. Bodoh, anggota jamaah itu mau saja tanpa menelaah dulu apa maksud dan tujuan si penyusup. Tentang hal ini, diuraikan Umar Abduh sebagai berikut;

“Gerakan pemuda Islam Bandung pimpinan Imran terpedaya, terjebak dalam isu provokasi intelijen tersebut, apalagi setelah Najamuddin menjanjikan akan memberikan suplai berbagai jenis senjata organic ABRI, seraya menunjukkan contoh konkret senjata mana yang yang diperlukan dan pantas untuk masing-masing orang. Bodohnya, ketika beberapa anggota kelompok ini diminta agar masing-masing difoto seraya memegang senjata hasil pemberian yang dijanjikan dan berlangsung hanya sesaat oleh Najamuddin itu, tidak seorang pun dari anggota gerakan Imran keluar sikap kritisnya”.

Setelah menunjukkan senjata-senjata yang layak dipakai Jamaah Imran, Najamuddin kemudian memprovokasi jamaah itu agar segera melakukan gerakan terbuka melawan pemerintahan Soeharto. Cara pertama yang disarankan adalah menyerang kantor polisi-kantor polisi dan merebut senjatanya agar dengan demikian jamaah itu memiliki senjata sendiri sebagai bekal melawan pemerintah. Bodohnya lagi, provokasi itu termakan pimpinan dan anggota jamaah, dan Polsek Cicendo, Bandung, diserang.

Soal penyerangan ini, Umar Abduh menjelaskan sebagai berikut; “Dengan bermodalkan sebuah Garrand tua itulah kelompok ini terjebak dalam skenario premature melalui provokasi penyerangan Polsek Cicendo, Bandung. Melalui modus operasi penyerangan pos polisi yang dilengkapi dengan seragam militer sebagai akibat, entah sengaja atau kebetulan, telah menahan sebuah kendaraan bermotor roda dua bernomor polisi sementara (profit) milik anggota jamaah. Momentum ini dimanfaatkan Najamuddin untuk merealisir terjadinya aksi kekerasan bersenjata, antara lain menyiapkan magazine dan amunisi senapan Garrand hasil curian, satu hari menjelang penyerangan pos polisi tersebut. Penyerangan akhirnya berlangsung brutal, dengan bermodalkan satu pucuk senjata Garrand hasil curian (pemberian Najamuddin), Salman dan kawan-kawan berhasil menembak mati 3 polisi serta melukai satu orang di Polsek tersebut, dan merampas senjata genggam sebanyak 3 buah”.

http://sangpemburuberita.blogspot.com/2011/11/tokoh-di-balik-kerusakan-indonesia-21.html#.UTHqitmMEvo

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2559
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by aco.setang on Sun Mar 03, 2013 4:02 am

Penyaran wrote:Mendoktrin Anak Membenci Agama Lain

Ada tuduhan, bahwa keluarga Muslim selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama lain, khususnya di dalam hal ini Kristen. Hal ini terlihat dari begitu banyaknya individu-individu Muslim yang membenci agama Kristen, dan juga terlihat dari munculnya pengakuan-pengakuan beberapa Muslim mengenai hal tersebut.
.........
Jika suatu saat Suatu hal disebut tuduhan, maka saat berikutnya harus ada pembuktian untuk mengukuhan tuduhan tersebut. Jadi, benarkah bahwa keluarga Muslim selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama Kristen, dan benarkah bahwa keluarga Kristen plus Gereja selalu mendoktrin para yunior mereka untuk membenci agama Islam sedemikian rupa? Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah fair bila suatu keluarga atau suatu institusi berbasis keagaman menanamkan kebencian kepada agama lain atas anggota-anggota mereka yang yunior?
Kita harus melihat dengan teliti bahwa ‘buah’ dari indoktrinisasi kebencian terhadap para yunior tersebut adalah kandasnya semangat tolerasi antar umat beragama di tengah masyarakat dan kehidupan berbangsa. Kita, siapa pun kita, harus mencegah kandasnya toleransi tersebut, atau setidaknya berjuang supaya semangat toleransi tetap semarak di tanah air ini.

Melihat Kenyataan.
Pertama. Kasus Tanjung Priok.
Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI beragama Katholik, Sersan Satu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang ikhwan yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.

Rabu. 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”. Mubaligh lain, Ustdaz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah ! Kami siap menolong agama Allah !” Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita !”
xixixixixi....
jadi kenyataanya, Katolik / Kristen nih yang masang pamflet berbau SARA di musholla,..?
Abdul Qodir Djaelani itu Katolik yang berencana MAKAR terhadap Pancasila ya..?

Penyaran wrote:
.....
Tapi perlu lah bagi kita untuk membahas, agama mana yang mempunyai kekuatan untuk menumbuhkan bakat alamiah kepada pengikutnya untuk membenci agama Islam. Jawaban untuk itu tersedia dengan mudah.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. QS. al-Baqarah, 2:120.

Wallahu alam bishawab!

http://islamthis.wordpress.com/2012/02/08/mendoktrin-anak-membenci-agama-lain/
Emang tidak perlu dibahas..
Jawabannya tersedia dengan jelas di kitab suci katolik Surah al-Baqarah, 2:120 yang menghasut umatnya untuk melemparkan tuduhan tanpa bukti.....

2 good

aco.setang
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Total Like dan Thanks: 1
Male
Posts: 189
Location: Indonesia
Join date: 2013-02-17

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Penyaran on Sun Mar 03, 2013 12:56 pm

LB MORDANI, KADER JESUIT YANG MEMUSUHI ISLAM

(SALAM-ONLINE.COM): Benny Moerdani dikenal sangat memusuhi umat Islam. Benny diduga berada di balik tragedi berdarah Tanjung Priok, 1984. Pada masanya, militer Indonesia pernah dilatih di Israel. Raut wajahnya keras dan kaku. Terkesan angker dan tak bersahabat. Itulah Leonardus Benjamin “Benny” Moerdani, sosok jenderal militer pada masa Orde Baru yang dikenal sangat benci Islam dan kaum Muslimin.

Benny Moerdani adalah orang kepercayaan Ali Moertopo. Benny sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh Moertopo untuk menggantikannya dalam menjalankan tugas mengawasi bahaya “ekstrem kanan”, yang tak lain adalah gerakan Islam.

Benny Moerdani lahir di Cepu, 2 Oktober 1932. Di kalangan Katolik, jenderal yang dikenal ahli intelijen ini sangat dibangga-banggakan. Benny bisa dibilang sebagai representasi kelompok Katolik yang mempunyai posisi penting dalam lingkaran militer dan kekuasaan Orde Baru pada masa lalu.

Sebagai kader Moertopo, Benny pernah diangkat menjadi wakilnya ketika terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia.

Ia juga termasuk sosok yang terlibat dalam pembentukan Centre for International Studies (CSIS), sebuah lembaga think-tank yang sangat dekat dengan Orde Baru, didukung oleh para birokrat Kejawen dan pengusaha etnik Cina yang saat itu membangun gurita dalam lingkar elit kekuasaan Orde Baru.

Di kalangan tentara Muslim, Benny Moerdani dikenal sangat tidak aspiratif terhadap kelompok Islam. Almarhum mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Ka-BAKIN), Letjend TNI Z.A Maulani pernah mengatakan, pada masa Benny Moerdani menjadi panglima ABRI, sangat sulit mendapatkan masjid atau mushalla di komplek dan barak-barak militer.

Keberadaan tempat ibadah umat Islam tersebut dikontrol begitu ketat. Bahkan, pada masa itu banyak tentara Muslim yang tidak berani mengucapkan “Asssalamu’alaikum” ketika berada di lingkungan militer.

Benny pernah melontarkan pernyataan kontroversial yang melarang umat Islam mengucapkan salam. Dalam sebuah rapat kabinet bidang Polkam, Jaksa Agung Ali Said pernah dibentak oleh Benny karena mengucapkan “salam” dalam rapat tersebut. “Indonesia bukan negara Islam, tak perlu ucapkan salam,” bentaknya saat itu.

Peristiwa pembajakan pesawat yang disebut-sebut sebagai bagian dari operasi kelompok jihad, juga digagalkan atas peran Moerdani. Ia terlibat dalam aksi pembebasan para sandera dan penangkapan orang-orang yang dianggap sebagai “teroris” atau “ekstrem kanan” ketika itu.

Pasca Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari) yang diduga kuat melibatkan operasi intelijen Ali Moertopo, Presiden Soeharto memanggil Moerdani yang ketika itu sedang bertugas sebagai konsulat di KBRI Korea Selatan untuk datang menghadap.

Belakangan diketahui, pemanggilan Moerdani ke Jakarta oleh Presiden Soeharto adalah hasil lobi-lobi Ali Moertopo untuk menempatkan kader pentingnya di lingkaran presiden.

Dengan diantar oleh Moertopo, Moerdani kemudian bertemu Pak Harto. Setelah pertemuan, Moerdani kemudian diangkat oleh Soeharto sebagai Ketua G-1 Intelijen Hankam yang bertugas mengendalikan seluruh intelijen di Angkatan Darat dan kepolisian. Selain itu Moerdani juga diperbantukan untuk BAKIN.

Karir militer Benny Moerdani terus melesat, meskipun ketika itu umat Islam mulai mencurigai sepak terjangnya yang sangat antipati terhadap aspirasi Islam.

Benny Moerdani dilibatkan dalam menangani intelijen Kopkambtib dan diangkat menjadi Ketua Satuan Tugas Intelijen, sebuah lembaga yang dikenal sangat angker dan ditakuti pada masa Orde Baru.

Para ulama, khatib, mubaligh dan aktivis Islam pernah merasakan bagaimana bengisnya lembaga ini dalam memosisikan Islam sebagai ancaman dan lawan. Moerdani bahkan diduga berada di balik perpecahan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sehingga terbentuklah dua HMI: HMI Dipo dan HMI MPO.

Tahun 1983, ketika Benny Moerdani diangkat sebagai Panglima ABRI menggantikan Jenderal M. Yusuf, umat Islam makin khawatir dengan sepak terjangnya.

Moerdani kemudian melakukan berbagai upaya restrukturisasi secara drastis, dengan menempatkan tentara-tentara yang Nasrani dalam jajaran penting di militer.

Benny Moerdani juga dicurigai dalam menjegal karir para perwira ABRI Muslim. Tak heran, jika ada yang menyebut telah terjadi kristenisasi di tubuh ABRI di bawah kepemimpinan Benny Moerdani.

Dalam persepsi Benny Moerdani, semua gerakan Islam adalah ancaman, sebagaimana DI/TII pada masa lalu yang kemudian ditumpas.

Benny Moerdani yang pernah terlibat dalam operasi menumpas DI/TII dan PRRI/Permesta tidak bisa membuang persepsi negatif terhadap gerakan Islam, sehingga menjadikan Islam sebagai ancaman yang membahayakan keutuhan NKRI.

Berbeda dengan Ali Moertopo yang kerap pamer kekuasaan, Benny justru dikenal sebagai sosok yang misterius dan penuh rahasia. Meski sama-sama haus kekuasaan, Bennyi bermain “cantik” untuk menjalankan obesesinya tersebut.

Sebagai orang yang malang melintang di dunia intelijen, segala tindakan ia perhitungkan dengan matang dan sangat tertutup. Bahkan ihwal tentara yang sering kali di latih di Israel pun, pada masa Benny Moerdani tidak terungkap, tertutup rapat.

Di kalangan tentara Muslim, isu tentang militer yang dilatih di Israel pada masa Benny Moerdani sudah santer terdengar.

Benny menyadari posisinya sebagai bagian dari kelompok minoritas di Indonesia. Itu membuatnya sulit untuk menggapai puncak kekuasaan di republik ini.

Karena itu, dengan kelihaiannya ia berperan sebagai king maker, orang yang mempengaruhi pihak yang berkuasa. Kepada perwira kopassus di akhir tahun 1980-an Benny pernah berseloroh, “Buat apa jadi orang yang berkuasa, jika bisa dengan tanpa risiko kita mengontrol orang yang berkuasa.”

Karena itu, Benny membuat strategi agar orang yang berkuasa nanti, meskipun berasal dari kalangan Islam, namun bisa dengan leluasa ia atur.

Itulah yang menyebabkan ia menjegal habis-habisan langkah Soedharmono untuk menjadi wakil presiden, karena Sudharmono bukan sosok yang bisa ia atur, di samping, menurutnya, Soedharmono dekat dengan kalangan santri. Benny kemudian menjadikan Naro sebagai calon wakil presiden yang ia gadang.

Benny juga dikenal lihai dalam mendekati kelompok Islam yang pernah memendam kekecewaan dengan Masyumi. Ia melakukan politik belah bambu dengan mendekati kiai dari kelompok Nahdlatul Ulama (NU), dan menginjak kelompok lain yang berseberangan dengan NU.

Pertentangan antara NU sebagai kelompok tradisionalis Islam dengan kelompok Masyumi sebagai santri modernis ia pertajam. Karenanya, Benny kerap bersafari dari pesantren ke pesantren NU dengan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur untuk melakukan politik pecah belah tersebut.

Safari bersama dilakukan Benny dan Gus Dur di tengah kecaman umat Islam yang menuntut Benny bertanggung jawab dalam tragedy pembantaian umat Islam Tanjung Priok, di Jakarta pada 12 September 1984.

Saat peristiwa Priok, Benny sedang berada di Jakarta. Bahkan pada tengah malam usai tragedi pembantantaian, Benny sudah berada di lokasi kejadian.

Pada dini harinya ia langsung meluncur ke rumah sakit dan sempat menghitung jumlah mayat yang tergeletak di rumah sakit. Anehnya, sampai akhir hayatnya, Benny Moerdani sama sekali tidak tersentuh hukum dalam tragedi berdarah ini.


Benny & Try Sutrisno pasca Peristiwa Priok

Leonardus Benny Moerdani meninggal di Jakarta, pada 29 Agustus 2004 dalam usia 72 tahun, karena menderita stroke. Kepergiannya mendapatkan penghormatan yang luar biasa di kalangan militer.

Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Bendera setengah tiang selama tujuh hari dikibarkan di lingkungan militer.

http://salam-online.com/2012/12/mengenal-sosok-intelijen-anti-islam-3.html

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2559
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Andi Cactusa on Sun Mar 03, 2013 1:45 pm

...Wah. Kelihatannya sudah ada pengganti bung Ichreza dan saingan berat bagi bung FD aka CP.
...Selamat, bung Penyaran! Silahkan penuhi forum LI ini dengan copasan, yang tidak ada dasarnya di Alkitab.

Andi Cactusa
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Total Like dan Thanks: 30
Male
Posts: 787
Location: Jakarta
Job/hobbies: Retired/Chess
Join date: 2012-10-08

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by aco.setang on Sun Mar 03, 2013 2:00 pm

Andi Cactusa wrote:...Wah. Kelihatannya sudah ada pengganti bung Ichreza dan saingan berat bagi bung FD aka CP.
...Selamat, bung Penyaran! Silahkan penuhi forum LI ini dengan copasan, yang tidak ada dasarnya di Alkitab.
lha mo gimana lagi...
kalo nalar tak mampu, cuma bisa lemapar batu sembunyi diri...

Walaupun isi copasan rada2 nampar umat sendiri..
yang penting ada tulisan Kristen/katolik.
Hajar KABEH!!!

aco.setang
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Total Like dan Thanks: 1
Male
Posts: 189
Location: Indonesia
Join date: 2013-02-17

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Revolt on Sun Mar 03, 2013 2:16 pm

santai sajalah.....kita sudah sama-sama tahu kan kalau muslim yang satu ini akalnya ada dimana gitu......


kan sesuai jadinya dengan tread yang di buat bung Andi....agama yang membuat umatnya tidak waras....


Revolt
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Total Like dan Thanks: 4
Male
Posts: 949
Location: Di depan komputer
Join date: 2013-01-31

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Penyaran on Sun Mar 03, 2013 3:01 pm

CSIS, Pater Beek SJ, Ali Moertopo & L.B. Moerdani

oleh : Dr. George J. Aditjondro

Tulisan ini pernah disiarkan oleh Aditjondro melalui jaringan internet. Karena isinya aktual berkenaan dengan krisis moneter, walaupun tidak semua isinya disetujui redaksi, tetapi ada perlunya masyarakat mengetahui yang ditulis Aditjondro ini.

Pada salah satu seminar membicarakan pemilu di kantor CSIS di Tanah Abang, Jakarta, tanggal 3 September 1996, Panda Nababan, seorang wartawan senior Jakarta, tiba-tiba angkat bicara. Dengan tenang Panda Nababan menuduh CSIS sebagai pusat tempat dirumuskannya banyak keputusan Politik Indonesia masa lalu yang merepotkan kita semua sekarang ini. Dr. Sudjati Djiwandono, seorang pembicara dalam acara itu juga sulit menyembunyikan amarahnya kepada Panda Nababan.

Tapi Harry Chan Silalahi yang menjadi moderator pada saat itu, meski bisa menahan diri untuk menangkis tuduhan Panda Nababan, tapi ia tetap tenang, dan seperti biasanya penuh senyum, meski kabarnya terlihat gugup. Beberapa hari kemudian, dengan bantuan harian Kompas (tgl. 7 September 1996), Harry Chan Silalahi memberikan wawancara khusus yang membantah semua tuduhan Panda Nababan. Disana dengan gaya orang rendah hati Harry Chan membeberkan betapa salahnya orang yang menganggap CSIS itu memainkan peranan penting pada belasan tahun pertama Orde Baru. Yang ada sebenarnya hanya kedekatan antar individu, bukan CSIS dengan pemerintah, kata Harry Chan.

Para pendiri CSIS itu dekat dengan pemerintah, katanya. Ia menyebutkan dirinya sebagai tokoh KUP Gestapu (Front Pancasila), Liem Bian Kie (Yusuf Wanandi) sebagai tokoh Golkar, demikian juga dengan Sudjati Djiwandono. Dan tentu saja SudjonoHumardani dan Ali Murtopo yang memang Aspri Suharto.

Kepada harian Kompas, Harry Chan menjelaskan: “Pada prinsipnya CSIS membatasi diri untuk tidak terlibat dalam soal taktis politik. Meskipun demikian CSIS kerapkali diisukan telah melakukan hal itu. Padahal pembahasan masalah dalam negeri yang dilakukan CSIS bersifat strategis konsepsional” .

CSIS terbentuk, menurut Harry, pada tahun 1971 ketika Hadi Susastro dan beberapa kawan-kawannya pulang belajar dari Eropa. Merekalah yang mengusulkan dibentuknya sebuah lembaga think tank. Tidak dijelaskan oleh Harry bahwa sebelumnya bergiat dalam CSIS, para kader Beek itu sudah berkiprah dalam operasi khusus (Opsus) pimpinan Ali Murtopo.

Masih belum yakin dengan bantahannya lewat harian Kompas, sebulan kemudian, lewat harian Nusa Tenggara (terbit di Denpasar) edisi 13 Oktober 1996, Harry Chan muncul lagi dalam sebuah wawancara yang menggunakan hampir satu halaman surat kabar. Di sini sekali lagi Harry Chan melakukan cuci tangan terhadap semua tingkah laku politik CSIS di masa jaya Ali Murtopo hingga masa akhir berkuasanya L.B. Murdani. Penjelasan panjang lebar Harry Chan dalam koran terbitan pulau Bali itu sepintas lalu sangat persuasif serta menyakinkan, terutama bagi generasi muda yang tidak mengalami pergolakan politik awal Orde Baru. Tapi bagi orang seperti saya, semua cerita Harry Chan itu sebenarnya adalah isapan jempol belaka.

Perhatikan bahwa dalam semua penjelasan Harry Chan sama sekali tidak pernah menyebut Opsus dan keterlibatan kaum katolik ekstrem kanan di sana. Mereka yang tergolong generasi 66 di Jakarta masih ingat kantor mereka (Opsus) di Jalan Raden Saleh Jakarta Pusat. Juga penjelasan Harry Chan sama sekali tidak terdengar nama Pater Beek SJ, pastor kelahiran Belanda yang memainkan peranan besar di balik lahirnya CSIS tersebut.

Beek adalah pastor ordo Jesuit yang sudah aktiv lama di Indonesia melakukan kaderisasi para pemuda dan mahasiswa katolik. Ia melakukan kegiatan kaderisasinya di asrama Realino Yogyakarta, di samping melakukan kaderisasi di Klender, Jakarta. Di Klender kegiatan itu disebut Kasebul (Kaderisasi sebulan). Dalam kegiatan Kasebul itu bukan cuma indoktrisasi yang dilakukan, bahkan latihan pisik yang mendekati latihan militer juga diberikan. Di sana para kader dilatih menghadapi situasi jika diinterograsi oleh lawan. Bagaimana meloloskan diri dari tahanan, bagaimana survive dan sebagainya.

Latihan seperti ini ditujukan untuk mempersiapkan showdown dengan komunis waktu itu. Kegiatan ini kemudian diketahui oleh Subandrio yang memimpin BPI (Badan Pusat Intelejen). Akibat kejaran BPI Pater Beek terpaksa melarikan diri ke luar negeri dekat sebelum Gestapu 1965. Beek kembali ke Indonesia setelah Subandrio ditangkap dan BPI dibubarkan.

Sebagian dari lulusan terbaik Kasebul ini dikirim untuk latihan lebih jauh lagi di luar negeri. Salah seorang yang berhasil dikirim keluar negeri sebelum Gestapu adalah yang kemudian menjadi wakil komandan Laskar Ampera, Louis Wangge almarhum. Wangge dikirim oleh Beek ke Universitas Santo Thomas, Filipina. Begitu yang diketahui orang. Tapi kemudian Wangge sendiri mengaku bahwa sebenarnya ia dikirim ke sebuah pusat latihan intelejen di sebuah pangkalan Amerika di Filipina.

Cerita tentang ini semua dikisahkan Wangge setelah ia dikucilkan oleh CSIS karena sikap Wangge yang menolak kebijakan SCIS yang anti Islam. Dalam keadaan tegang antara Wangge dan CSIS di pertengahan tahun tujuh puluhan, misalnya, Wangge pernah menyundut rokok menyala ke baju yang melekat di tubuh Sofyan Wanandi dikamar kecil bioskop Menteng (bioskop itu sudah digusur sekarang).

Saya sendiri juga pernah menjadi kader Pater Beek dan dilatih melawan komunis. Tapi seperti juga Wangge, ketika CSIS sudah menjadikan Islam sasarannya, dan karena CSIS menjadi tanki pemikir Rezim Suharto, juga karena ikut berdarahnya tangan CSIS di Timor Timur, saya tidak bisa lagi tetap berada dalam jajaran pengikut Pater Beek. Terutama setelahdemi ambisi kekuasaan dan kontrol orang-orang CSIS (Liem Bian Kie dan Sudradjat Djiwandono) Partai Katolik pun mereka gilas. Begitu yakinnya mereka akan pentingnya mengontrol Indonesia lewat Golkar, mereka tega menindas Uskup Atambua (mempertahankan Partai Katolik), orang yang sebenarnya berjasa dalam proses integrasi Timor-Timur.

Sebagai wartawan Tempo yang sudah mengunjungi Timor Timur sebelum invasi operasi intel pimpinan Murdani, dan mengikuti perkembangan wilayah itu hingga kini, saya tahu bagaimana permainan Murdani bersama orang-orang CSIS dalam mengeruk uang dari Timor-Timur, setelah sebelumnya membantai secara kejam banyak penduduk bekas jajahan Portugis tersebut. Dengan uangyang terus mengalir (monopoli kopi yang dikelola oleh Robby Ketek dari Solo) itulah mereka, antara lain, bisa membiayai operasi-operasi politik Murdani bersama CSIS.

Tapi siapa sebenarnya Beek? Menurut cerita dari sejumlah pastor yang mengenalnya lebih lama, Beek adalah pastor radikal anti komunis yang bekerja sama dengan seorang pastor dan pengamat Cina bernama pater Ladania di Hongkong (sudah meninggal beberapa tahun silam di Hongkong). Pos china watcher (pengamat Cina) pada umumnya dibiayai CIA. Maka tidak sulit untuk dimengerti jika Beek mempunyai kontak yang amat bagus dengan CIA. Sebagian pastor mencurigai Beek sebagai agen Black Pope di Indonesia. Black Pope adalah seorang kardinal yang mengepalai operasi politik katolik di seluruh dunia.

Tentang Black Pope ini tidak banyak diketahui orang, juga pastor katolik yang tidak tahu mengenai kedudukan, peran, dan operasi Black Pope yang sangat penuh rahasia itu. Tapi ketika almarhum Dr. Sudjatmoko menjadi Rektor Universitas PBB di Tokyo, ia pernah berkunjung ke Tahta suci di Vatikan. Selain berjumpa Paus, Sudjatmoko juga jumpa seorang Kardinal yang mengajaknya berbicara banyak mengenai keadaan di Indonesia. Sudjatmoko merasa surprise bahwa Kardinal itu tahu banyak tentang politik di Indonesia. Tidak lama setelah pulang ke Indonesia sebagai pensiunan rektor Universitas PBB, pimpinan harian Kompas mengirimkan orang kepada Sudjatmoko untuk meyakinkannya agar tidak usah cemas masalah finansial. Kalalu ada apa-apa Kompas bersedia membantu. Dari tawaran simpatik Kompas itulah Sudjatmoko yakin adanya kontrol Black Pope terhadap kegiatan katolik di Indonesia.

Kembali kepada Beek, yang makin memperkukuh posisi kader Beek di mata tentara adalah sikap mereka yang didasarkan oleh kebijakan yang digariskan oleh Beek.

Kebijakan itu dikenal sebagai Lesser evil theory (teori setan kecil).

Setelah komunis dihancurkan olehtentara, Beek melihat ada dua ancaman (setan) yang dihadapi kaum Katolik di Indonesia. Kedua ancaman sama-sama berwarna hijau. Islam dan tentara. Tapi Beek yakin, tentara adalah ancaman yang lebih kecil (Lesser evil) dibanding Islam yang dilihatnya sebagai setan besar. Berdasarkan pikiran itulah maka
perintah Beek kepada kader-kadernya adalah rangkul tentara dan gunakan mereka untuk menindas Islam.

Kebetulan sekali setelah Gestapu, pihak Islam (terutama mantan Masyumi) dianggap meminta terlalu banyak imbalan jasa dari partisipasinya dalam penumpasan Gestapu. Padahal Suharto dan pimpinan ABRI lainnya sudah berkeputusan untuk mengelola sendiri negara dan tidak akan berbagi kekuasaan dengan siapa pun, apalagi dengan kekuatan Islam. Ketegangan Islam lawan tentara inilah yang melicinkan dipraktekkannya doktrin Lesser evil Pater Beek tersebut.

Kebetulan lain adalah adanya Ali Murtopo dan Sudjono Humardani. Kedua orang ini mempunyai sejumlah persamaan meski ada perbedaan mendasarnya. Sudjono dan Ali sama-sama ingin mengabdi kepada Suharto. Tapi Ali Murtopo punya rencana jangka panjang untuk berkuasa (I will be the next president, kata Murtopo kepada wartawan Tempo, Tuty Kakiailatu, pada masa kampanye Pemilu 1971) sedang Humardani adalah orang Solo yang sudah bahagia jika bisa menjadi abdi dalam yang baik. Ambisi Ali Murtopo inilah yang dimanfaatkan oleh kader-kader Pater Beek tersebut.

Banyak orang yang tidak percaya kalau Ali Murtopo (keluarga santri dari pesisir Jawa dan bekas hisbullah di jaman revolusi) bisa menjadi orang yang sangat anti Islam dan berjasa besar dalam menindas orang Islam di awal Orde Baru. Yang orang cenderung lupa adalah bahwa Ali Murtopo punya rencana berkuasa, oleh karena itu semua yang merintanginya untuk mencpai tujuannya haruslah ditebas habis. Musuhnya bukan cuma Islam, tapi juga Perwira-perwira ABRI yang dianggapnya sebagai perintang, seperti H.R. Dharsono, Kemal Idris, Sarwo EdhiWibowo dan Soemitro (Pangkopkamtib) . Almarhum Dharsono (Pak Ton) difitnahnya berkonspirasi dengan orang-orang PSI untuk menciptakan sistem politik baru untuk menyingkirkan Suharto. Kemal Idris dituduhnya berambisi jadi Presiden. Sedang Sarwo Edhy difitnahnya merencanakan usaha menajibkan (menendang ke atas) Suharto.

Kader-kader Beek yang kemudian mendirikan CSIS dan waktu itu masih berkumpul dalam Opsus tahu betul mengenai ini, dan mereka ikut membantu Ali Murtopo mencapai ambisi berkuasanya.

Pada tahun 1974 terjadi Malari di Jakarta. Orang-orang Opsus yang berada dibalik kerusuhan dan pembakaran-pembakaran merasa dengan itu bisa menghabisi lawan mereka yang dipimpin Soemitro. Kemudian terbukti memang Soemitro yang kurang canggih berpolitik itu berakhir karir militernya dengan cara yang sangat mengenaskan. Namun yang menang juga bukan Ali Murtopo. Suharto ternyata jauh lebih pintar dari Ali dan Soemitro. Kedua Jenderal yang berambisiitu dalam waktu singkat habis peranan politiknya.

Selama Ali masih menjadi orang penting di sekitar Suharto, salah seorang kadernya disimpannya di Korea Selatan sebagai Konjen. Itulah LB. Murdani. Sudah sejak di Kostrad pada jaman konfrontasi dengan Malaysia, para senior di Kostrad kabarnya sudah melihat tanda-tanda adanya rivalitas diam-diam antara Ali dan Murdani. Banyak yang menduga perbedaan mereka pada gaya. Ali suka pamer kekuasaan, sedang Murdani penuh kerahasiaan dan misteri. Persamaan mereka adalah semua haus kekuasaan. Tapi dalam ingin berkuasa ini juga ada perbedaan. Ali ingin
menjadi orang yang berkuasa, sementara Murdani hanya ingin menjadi orang yang mengendalikan orang yang berkuasa.

Tapi setelah terjadi Malari. Ali Murtopo tidak bisa lagi menghalangi Murdani untuk tampil ke depan. Sejak itulah bintang Murdani mulai menanjak. Murdani boleh berbeda style dengan Ali, tapi karena sama-sama ingin berkuasa, keduanya perlu tanki pemikir. Maka CSIS yang mulai cemas karena merosotnya posisi dan peran Ali Murtopo pada masa paska Malari, berjaya lagi oleh naiknya Murdani.

Berlainan dengan Ali Murtopo yang ditakutkan bisa merupakan ancaman bagi CSIS kelak ketika berkuasa (ingat Suharto yang kini berbalik kepada Islam setelah menindasnya dahulu?) Murdani adalah orang katolik yang kebetulan secara pribadi sangat benci kepada Islam. Karena itu lancar saja kerjasama Murdani dengan CSIS. Sebagai orang katolik ekstrem kanan Murdani di CSIS merasa di rumah sendiri. Itulah sebabnya mengapa Moerdani sekarang dengan tenang bisa berkantor di CSIS (menggunakan bekas kantor Ali Murtopo).

Dipanggil pulang dan diberi bintang dan kuasa oleh Suharto setelah hampir terlupakan di Korea Selatan dan (sebelumnya) Kuala Lumpur, Murdani sangat berterima kasih kepada Suharto. Merasa telah mengutangi budi k epada Murdani, Suharto merasa dengan aman bisa menyuruh Murdani berbuat apa saja tanpa harus takut dikhianati. Memang Murdani menjadi “herder” Suharto yang menggigit siapa saja yang dianggap Murdani membahayakan Suharto. Maka Suharto makin percayalah kepada Murdani.

Kepercayaan yang besar itulah kemudian yang menjadi modal bagi ambisi lama Murdani untuk menjadi King Maker. Kepada seorang perwira Kopassus di akhir tahun 1980-an Murdani katanya pernah berseloroh: “Buat apa jadi orang berkuasa jika bisa dengan tanpa resiko kita mengontrol orang yang berkuasa”. Memang itulah yang digeluti Murdani di belakang Suharto. Keberhasilan Murdani dan Sudomo membesar-besarkan bahaya Petisi 50 (AH. Nasution hampir ditangkapMurdani, tapi dicegah oleh TB. Simatupang) berhasil mengecoh Suharto untuk mengeluarkan sebuah surat
pamungkas yang memberi kuasa lebih besar lagi kepada Murdani. Dengan kekuasaan amat besar dari Suharto itulah ia dengan gampang dan cepat bisa membangun kerajaan dan operasi intelnya (BAIS).

Menurut Wismoyo Arismunandar (mantan Kasad), orang yang mula-mula dan dari awal punya firasat buruk terhadap Murdani adalah Ibu Tien Suharto. Tapi karena Suharto sangat koppeg dan merasa paling tahu sendiri, baru pada tahun 1988 Murdani berhasil disingkirkan. Tapi sebelum meninggalkantahta kekuasaannya, Murdani sudah berhasil menciptakan beberapa calon raja yang menurut rencana akan dikontrolnya kelak. Salah seorang di antaranya adalah Try Sutrisno. Begitu patuh Try Sutrisno kepada Murdani sehingga sebagai kepala BAIS, Try Sutrisno di Mabes ABRI adalah staf yang dulu diangkat, dipercaya, dan pernah dipakai oleh Murdani sebagai Pangab.

Dalam soal memilih kader, Ali Murtopo dan Murdani sama. Keduanya amat berbeda dengan Pater Beek. Beek memilih pemuda dan mahasiswa Katolik terbaik. Tujuannya adalah agar kader-kader tersebut dengan kecerdasan dan kelihaiannya sanggup mengendalikan orang lain untuk mencapai tujuan yang diamanatkan Beek. Pater Beek SJ tahu betul bahwa Indonesia ini penduduknya adalah mayoritas Islam, oleh karena itu orang Katolik jangan bermimpi untuk tampil berkuasa. (Murdani sadar akan hal ini, karena itu ia hanya ingin jadi King Maker). Tapi mereka harus mengusahakan agar yang berkuasa adalah orang Islam yang mereka bisa atur. Inilah penjelasan mengapa Try Sutrisno dijagokan oleh Murdani dan untuk itu dipakai orang Islam lain yang bisa diaturnya, yaitu Harsudiono Hartas.

Ali Murtopo dan Murdani memilih bukan orang terbagus yang ada untuk jadi kader, tapi orang-orang yang punya cacat atau kekurangan, (orang yang ketahuan korup, punya skandal, bekas pemberontak, mereka yang ingin kuasa, ingin jabatan, ingin kaya cepat, dan sebagainya). Orang-orang demikian mudah diatur. Perbedaan inilah justru yang menyebabkan Ali Murtopo dan Murdani mudah bekerjasama dengan kader-kader Pater Beek SJ. Lewat tangan Ali Murtopo dan Murdani cita-cita dan rencana Beek SJ pernah berhasil dijalankan dengan saksama. Meski tragis, tapi inilah yang penjelasannya mengapa yang melaksanakan kebijakan anti Islam (lewat tangan Ali Murtopo dan Murdani) kebanyakan adalah orang-orang Islam yang tidak sadar diperalat oleh Ali Murtopo dan Murdani untuk ambisi mereka masing-masing.

http://pormadi.wordpress.com/2008/11/25/csis-pater-beek-sj-ali-moertopo-lb-moerdani/

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2559
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Penyaran on Sat Mar 09, 2013 7:03 am

Andi Cactusa wrote:...Wah. Kelihatannya sudah ada pengganti bung Ichreza dan saingan berat bagi bung FD aka CP.
...Selamat, bung Penyaran! Silahkan penuhi forum LI ini dengan copasan, yang tidak ada dasarnya di Alkitab.

... Lha trus harusnya gimana.
... ngasih pesan singkat2an (kek SEGOROWEDI), ngeles2an (kek duren), atau bergaya penulisan topik Tahukah Anda... usil

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2559
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Andi Cactusa on Sat Mar 09, 2013 11:23 am

@Bung Penyaran,

...Untuk melihat “buah” dari kebencian antara muslim dengan nasrani, sekalian menguji kesyahihan copasanmu, bandingkan saja jumlah gereja versus mesjid yang dirusak, dihancurkan atau dibakar. Tetapi jangan anda masukkan mesjid Ahmadiyah dan Syiah yang dirusak atau dibakar, karena itu termasuk “prestasi” muslim sendiri.
...Saya ingin lihat apakah anda bukan peniru Muhammad yang pencuri dan perampok (yang biasanya bukan orang jujur).


Last edited by Andi Cactusa on Sat Mar 09, 2013 12:16 pm; edited 1 time in total

Andi Cactusa
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Total Like dan Thanks: 30
Male
Posts: 787
Location: Jakarta
Job/hobbies: Retired/Chess
Join date: 2012-10-08

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Penyaran on Fri Mar 15, 2013 3:02 pm

Andi Cactusa wrote:@Bung Penyaran,

...Untuk melihat “buah” dari kebencian antara muslim dengan nasrani, sekalian menguji kesyahihan copasanmu, bandingkan saja jumlah gereja versus mesjid yang dirusak, dihancurkan atau dibakar. Tetapi jangan anda masukkan mesjid Ahmadiyah dan Syiah yang dirusak atau dibakar, karena itu termasuk “prestasi” muslim sendiri.
...Saya ingin lihat apakah anda bukan peniru Muhammad yang pencuri dan perampok (yang biasanya bukan orang jujur).

...wkwkwkwk, bandinginnya pake kata "saja". keliatan banget mau ngumpetin sesuatu. Anda sendiri bilang "Tetapi" berarti memang itu ada ketidak-jelasan dibalik semua itu donk. usil
....kalo bandingannya yang lebih jelas & nyata liat aja nih:
- umur penjajahan di Indonesia:
bangsa Kristen Eropa=365 tahun
bangsa Muslim=0 tahun
dari situ aja keliatan faktanya tuh usil

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2559
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Andi Cactusa on Fri Mar 15, 2013 5:54 pm

Penyaran wrote:
Andi Cactusa wrote:@Bung Penyaran,

...Untuk melihat “buah” dari kebencian antara muslim dengan nasrani, sekalian menguji kesyahihan copasanmu, bandingkan saja jumlah gereja versus mesjid yang dirusak, dihancurkan atau dibakar. Tetapi jangan anda masukkan mesjid Ahmadiyah dan Syiah yang dirusak atau dibakar, karena itu termasuk “prestasi” muslim sendiri.
...Saya ingin lihat apakah anda bukan peniru Muhammad yang pencuri dan perampok (yang biasanya bukan orang jujur).

...wkwkwkwk, bandinginnya pake kata "saja". keliatan banget mau ngumpetin sesuatu. Anda sendiri bilang "Tetapi" berarti memang itu ada ketidak-jelasan dibalik semua itu donk. usil
....kalo bandingannya yang lebih jelas & nyata liat aja nih:
- umur penjajahan di Indonesia:
bangsa Kristen Eropa=365 tahun
bangsa Muslim=0 tahun
dari situ aja keliatan faktanya tuh usil
...Anda yang menulis panjang lebar tentang kebencian nasrani terhadap muslim. Padahal ajaran Islam sendiri yang menanamkan kebencian ke sanubari muslim terhadap semua kafir. Untuk melihat pengejawantahan kebencian itu, apalagi yang lebih pas dibanding perusakan, penghancuran atau pembakaran gereja versus mesjid?
...Anda merasa malu ya membandingkannya!? Karena anda sudah tahu bahwa "prestasi" muslim merusak gereja jauh mengalahkan "prestasi" nasrani merusak mesjid!
...Tentu saja perusakan mesjid Ahmadiyah dan Syiah bukan termasuk "prestasi" nasrani, tetapi termasuk ke dalam "prestasi" muslim Sunni kita. Terhadap kelompok yang mengaku Islam saja kalian muslim Sunni begitu benci, bagaimana lagi terhadap kelompok non-muslim?
...Kalau memilih indikator, ya mbok mikir dikit kenapa! VOC datang ke Indonesia bukan didorong kebencian dan bukan untuk menjajah, tetapi untuk bisnis. Akhirnya pemerintahnya ikut dan menjadi penjajah untuk mengamankan bisnis mereka. Semuanya mereka lakukan bukan atas perintah agamanya. Berbeda jauh dengan muslim yang menjajah Mesir atau Spanyol yang jelas berdasarkan perintah agama Islam.
...Seandainya Belanda ingin meng-kristenkan semua penduduk Indonesia, apa susahnya dalam kurun waktu tiga setengah abad? Justru sangat saya sayangkan Islam dibiarkan merajalela, sehingga sampai sekarang mayoritas penduduk Indonesia (muslim) pada dodol-dodol dan menjadi budak Arab yang barbar.

Andi Cactusa
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Total Like dan Thanks: 30
Male
Posts: 787
Location: Jakarta
Job/hobbies: Retired/Chess
Join date: 2012-10-08

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Penyaran on Fri Mar 15, 2013 6:18 pm

Andi Cactusa wrote:
Penyaran wrote:
Andi Cactusa wrote:@Bung Penyaran,

...Untuk melihat “buah” dari kebencian antara muslim dengan nasrani, sekalian menguji kesyahihan copasanmu, bandingkan saja jumlah gereja versus mesjid yang dirusak, dihancurkan atau dibakar. Tetapi jangan anda masukkan mesjid Ahmadiyah dan Syiah yang dirusak atau dibakar, karena itu termasuk “prestasi” muslim sendiri.
...Saya ingin lihat apakah anda bukan peniru Muhammad yang pencuri dan perampok (yang biasanya bukan orang jujur).

...wkwkwkwk, bandinginnya pake kata "saja". keliatan banget mau ngumpetin sesuatu. Anda sendiri bilang "Tetapi" berarti memang itu ada ketidak-jelasan dibalik semua itu donk. usil
....kalo bandingannya yang lebih jelas & nyata liat aja nih:
- umur penjajahan di Indonesia:
bangsa Kristen Eropa=365 tahun
bangsa Muslim=0 tahun
dari situ aja keliatan faktanya tuh usil
...Anda yang menulis panjang lebar tentang kebencian nasrani terhadap muslim. Padahal ajaran Islam sendiri yang menanamkan kebencian ke sanubari muslim terhadap semua kafir. Untuk melihat pengejawantahan kebencian itu, apalagi yang lebih pas dibanding perusakan, penghancuran atau pembakaran gereja versus mesjid?
...Anda merasa malu ya membandingkannya!? Karena anda sudah tahu bahwa "prestasi" muslim merusak gereja jauh mengalahkan "prestasi" nasrani merusak mesjid!
...Tentu saja perusakan mesjid Ahmadiyah dan Syiah bukan termasuk "prestasi" nasrani, tetapi termasuk ke dalam "prestasi" muslim Sunni kita.
...Kalau memilih indikator, ya mbok mikir dikit kenapa! VOC datang ke Indonesia bukan didorong kebencian dan bukan untuk menjajah, tetapi untuk bisnis. Akhirnya pemerintahnya ikut dan menjadi penjajah untuk mengamankan bisnis mereka. Semuanya mereka lakukan bukan atas perintah agamanya. Berbeda jauh dengan muslim yang menjajah Mesir atau Spanyol yang jelas berdasarkan perintah agama Islam.
...Seandainya Belanda ingin meng-kristenkan semua penduduk Indonesia, apa susahnya dalam kurun waktu tiga setengah abad? Justru sangat saya sayangkan Islam dibiarkan merajalela, sehingga sampai sekarang mayoritas penduduk Indonesia (muslim) pada dodol-dodol dan menjadi budak Arab yang barbar.
...apanya yang malu, lagipula perbandingannya kagak ada. itupun kalo ada juga ada alasan yang diberikan kok. Liat aja sendiri selama tidak ada pikiran kotor terhadap Muslim.
...maka dari itu saya kasih perbandingan mengenai penjajahan karena coba bandingkan saja umur penindasan penjajah kristen yang sampai ratusan tahun yang amat kelam dengan peristiwa yang mengkambing-hitamkan kaum Muslim yang baru berumur puluhan bahkan satuan tahun.
...VOC cuman bisnis, yang benar saja. saya kasih penjelasan: http://www.kaskus.co.id/show_post/000000000000000757192082/38/

tujuan Belanda ke Indonesia di abad sebelum filsafat Jerman membunuh Tuhan adalah pada mulanya pelayaran, kita tahu Eropa menganut sistem Merkantilisme dimana masyarakat Eropa percaya tingkat surplus ekonomi hanya dicapai bila kas negara semakin tinggi, nilai yang menjamin kekuatan kas adalah cadangan emas... dan kita tahu masa-masa autokrasi Gereja itu zaman kelamnya spiritual Barat yang mana masyarakat diperbudak Tuhan, Tuhan diperbudak agama, dan agama diperbudak politik.... jadi, Kristenisasi amat penting untuk membentuk karakter budak yang penurut pada Pemerintah di masa itu....

...lalu kenapa kristen tidak menyebar luas pada kaum Islam: http://www.kaskus.co.id/show_post/000000000000000757257267/43/

tanpa bermaksud mendiskreditkan masyarakat Timur Indonesia, jarang terjadi pergolakan politik di daerah-daerah Kristen seperti Toraja, NTT, sebaliknya pergolakan sering terjadi di daerah yang lebih terpusat secara politik-ekonomi misal Batavia, Minangkabau, dll yang notabene adalah wilayah Muslim... ini sudah satu bukti bahwa Kekristenan di tanah air membentuk karakter budak di zaman pra-sekuler...

Belanda memang menyuburkan Kristenisasi, tapi kenapa gak berpengaruh di daerah mayoritas Muslim? menurut saya, Kristenisasi mengalami hambatan dan kegagalan di daerah yang secara demografi mayoritas Muslim dengan berbagai sebab-sebab politik, terutama ummat Muslim sendiri sudah didoktrin bahwa Kristen akan selalu menindas ummat Muslim, akibatnya jelas daerah-daerah mayoritas Muslim saat itu sangat militan melawan segala kebijakan Hindia-Belanda atas dasar doktrin Kekristenan adalah ajaran kekafiran yang selalu membenci Islam... jika saya missionaris, saya pun akan menyerah untuk menyebarkan agama Kristen di daerah mayoritas Muslim, lebih enak jadi pemungut upeti daripada jadi missionaris...

...jadi jelas bahwa peng-Kristenan adalah sama dengan memperbudak. sekarang pun juga sama dengan diperbudak oleh pendeta dan pastor untuk menyetor duit bernama perpuluhan bahkan yang lebih parah di Eropa sana adalah pajak gereja.
...menjadi Muslim justru membuat sebuah kekuatan tersendiri untuk melawan penjajah. Anda harusnya malu karena telah mengolok Muslim itu sendiri.

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2559
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Andi Cactusa on Fri Mar 15, 2013 8:27 pm

@Bung Penyaran,

...Sorry, malas melayani anda berdebat, karena anda suka menyimpang dari pokok pembicaraan. Teruskan saja beronani sendiri!

Andi Cactusa
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Total Like dan Thanks: 30
Male
Posts: 787
Location: Jakarta
Job/hobbies: Retired/Chess
Join date: 2012-10-08

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by Penyaran on Fri Mar 15, 2013 8:37 pm

Andi Cactusa wrote:@Bung Penyaran,

...Sorry, malas melayani anda berdebat, karena anda suka menyimpang dari pokok pembicaraan. Teruskan saja beronani sendiri!

...sama, saya juga lagi malas melayani debat kok. anda sendiri malahan yang duluan ngalihin topik trit ke bahasan Alkitab ama pengrusakan tempat ibadah. usil

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2559
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by roswan on Thu Feb 27, 2014 3:18 am

yes benar, baru-baru ini ada pendeta yang mendirikan panti asuhan Samuel cuma untuk menarik dana sumbangan untuk memperkaya diri sendiri, memperbudak anak-anak.


roswan
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Total Like dan Thanks: 5
Male
Posts: 493
Location: jakarta
Join date: 2014-01-19

Back to top Go down

Re: Ketika Katolik Menjadi Diktator Kejam di Negeri Ini

Post by cain on Sun Mar 23, 2014 8:15 pm

TUh orang2 sedang ngejalanin apa ngelanggar ajarannya??

Otak kok pada jongkok sih??  basi 

cain
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Total Like dan Thanks: 10
Male
Posts: 1410
Location: Indonesia
Join date: 2013-10-13

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum