FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

berkenalan dengan Tuhan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

berkenalan dengan Tuhan

Post by keroncong on Mon Nov 21, 2011 11:56 pm

\"Apakah Anda pernah melihat Tuhan?\" Beliau menjawab, \"Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?\" \"Bagaimana Anda melihat-Nya?\" tanyanya kembali. Imam Ali menjawab, \"Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat, tapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan...\"

Mata hati jauh lebih tajam dan dapat lebih meyakinkan daripada pandangan mata. Bukankah mata sering menipu kita? Kayu yang lurus terlihat bengkok di dalam sungai. bintang yang besar terlihat kecil dari kejauhan.

Dalam kaitan dengan argumen-argumen dan bukti-bukti logika. kita dapat menyatakan bahwa tidak ada satu argumen yang dikemukakan oleh para filosof tentang Wujud dan Keesaan Tuhan yang tidak dikemukakan Al-Quran. Hanya bedanya bahwa kalimat-kalimat yang digunakan Al-Quran sedemikian sederhana dan mudah ditangkap, berbeda dengan para filosof yang seringkali berbelit-belit.

Dahulu dikenal apa yang dinamai bukti ontologi, kosmologi, dan teleologi. Bukti ontologi menggambarkan bahwa kita mempunyai ide tentang Tuhan, dan tidak dapat membayangkan adanya sesuatu yang lebih berkuasa dari-Nya. Bukti kosmologi berdasar pada ide \"sebab dan akibat\" yakni, tidak mungkin terjadi sesuatu tanpa ada penyebabnya, dan penyebab terakhir pastilah Tuhan. Bukti teleologi, berdasar pada keseragaman dan keserasian alam, yang tidak dapat terjadi tanpa ada satu kekuatan yang mengatur keserasian itu.

Kini para filosof memperkenalkan bukti-bukti baru, seperti pengalaman moral. Pengalaman moral merupakan tanda tentang adanya yang real; pengalaman ini tidak akan berarti tanpa adanya susunan moral yang objektif, dan ini pada gilirannya tidak akan berarti tanpa adanya satu Zat Yang Mahatinggi, Tuhan Yang Mahakuasa.

Bukti lain adalah pengalaman keagamaan yang dialami oleh kebanyakan manusia yang tidak diragukan kejujurannya, dan yang intinya mengandung informasi yang sama.

Bukti-bukti yang dipaparkan di atas, dikemukakan oleh Al-Quran dengan berbagai cara. baik tersurat maupun tersirat.

Secara umum kita dapat membagi uraian Al-Quran tentang bukti Keesaan Tuhan dengan tiga bagian pokok. yaitu:

Kenyataan wujud yang tampak.
Rasa yang terdapat dalam jiwa manusia.
Dalil-dalil logika.

+ Kenyataan wujud yang tampak

Dalam konteks ini Al-Quran menggunakan seluruh wujud sebagai bukti, khususnya keberadaan alam raya ini dengan segala isinya. Berkali-kali manusia diperintahkan untuk melakukan nazhar, fikr, serta berjalan di permukaan bumi guna melihat betapa alam raya ini tidak mungkin terwujud tanpa ada yang mewujudkannya.

Tidakkah mereka melihat kepada unta bagaimana diciptakan, dan ke langit bagaimana ia ditinggikan, ke gunung bagaimana ia ditancapkan, serta ke bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS Al-Ghasyiyah [88]: 17-20).

Dalam uraian Al-Quran tentang kenyataan wujud, dikemukakannya keindahan dan keserasian alam raya.

Tidakkah mereka melihat ke langit di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi serta Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. (QS Qaf [50]: 6-7).

Adapun keserasiannya, maka dinyatakannya:

(Allah) yang menciptakan ttguh langit berlapis-lapis. Kamu sama sekali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah sesuatu yang kamu lihat tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu pun yang cacat, dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah (QS Al-Mulk [67]: 3-4).

+ Rasa yang terdapat dalam jiwa manusia

Dalam konteks ini. Al-Quran misalnya mengigatkan manusia,

Katakanlah (hai Muhammad kepada yang mempersekutukan Tuhan), \"Jelaskanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar?\" Tidak ! Tetapi hanya kepada-Nya kamu bermohon, maka Dia menyisihkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (denqan Allah) (QS Al-Anam [6]: 40-41).

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, dan (berlayar) di lautan. Sehingga bila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa para penumpangnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; (kemudian) datanglah angin badai dan apabila gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata \"Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akantermasukorang-orangyang bersyukur \" (QS Yunus [10]: 22).

Demikian Al-Quran menggambarkan hati manusia. Karena itu sungguh tepat pandangan sementara filosof yang menyatakan bahwa manusia dapat dipastikan akan terus mengenal dan berhubungan dengan Tuhan sampai akhir zaman, walau pun ilmu pengetahuan membuktikan lawan dari hal tersebut. Ini selama tabiat kemanusiaan masih sama seperti sediakala, yakni memiliki naluri mengharap, cemas, dan takut, karena kepada siapa lagi jiwanya akan mengarah jika rasa takut atau harapannya tidak lagi dapat dipenuhi oleh makhluk, sedangkan harapan dan rasa takut manusia tidak pernah akan putus.

+ Dalil-dalil logika

Bertebaran ayat-ayat yang menguraikan dalil-dalil aqliah tentang Keesaan Tuhan. Misalnya.

Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal dia tidak mempunyai istri. Dia yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu (QS Al-An\'am [6]: 101).
Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada dua Tuhan, maka pastilah keduanya binasa (QS Al-Anbiya\' [21]: 22).

Maksud ayat ini adalah \"seandainya ada dua pencipta, maka akan kacau ciptaan, karena jika masing-masing Pencipta menghendaki sesuatu yang tidak dikehendaki oleh yang lain, maka kalau keduanya berkuasa, ciptaan pun akan kacau atau tidak akan mewujud; kalau salah satu mengalahkan yang lain, maka yang kalah bukan Tuhan; dan apabila mereka berdua bersepakat, maka itu merupakan bukti kebutuhan dan kelemahan mereka, sehingga keduanya bukan Tuhan, karena Tuhan tidak mungkin membutuhkan sesuatu atau lemah atas sesuatu. \"

Pengalaman ruhani pun disebutkan oleh Al-Quran yaitu pengalaman para Nabi dan Rasul. Misalnya pengalaman Nabi Musa a.s. (Baca QS Thaha [20]: 9-47). Demikian juga pengalaman Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad Saw., serta nabi-nabi yang lain dengan berbagai rinciannya yang berbeda, namun semuanya bermuara pada tauhid atau Keesaan Tuhan.

Di samping mengemukakan dalil-dalil di atas, Al-Quran juga mengajak mereka yang mempersekutukan Tuhan untuk memaparkan hujjah mereka.

Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah, \"Kemukakan bukti kalian!\" (QS Al-Anbiya\' [21]: 24).

Katakanlah, \"Jelaskanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini, atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit. Bawalah kepadaku kitab sebelum (Al-Quran) ini, atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu) jika kamu adalah orang-orang yang benar\" (QS Al-Ahqaf [46]: 4).

+ Macam-macam Keesaan

Berbicara tentang macam-macam keesaan Allah mengantarkan kita untuk memahami paling tidak surat Al-Ikhlas, sedikitnya tentang ayatnya yang pertama,

Katakanlah! Dia Allah Yanq Maha Esa.

Abu As-Su\'ud. salah seorang pakar tafsir dan tasawuf menulis dalam tafsirnya. bahwa Al-Quran menempatkan kata huwa untuk menunjuk kepada Allah. padahal sebelumnya tidak pernah disebut dalam susunan redaksi ayat ini kata yang menunjuk kepada-Nya. lni. menurutnya. untuk memberi kesan bahwa Dia Yang Maha kuasa itu, sedemikian terkenal dan nyata sehingga hadir dalam benak setiap orang dan hanya kepada- Nya selalu tertuju segala isyarat.

Ahad yang diterjemahkan dengan kata Esa terambil dari akar kata wahdat yang berarti \"kesatuan\", seperti juga kata wahid yang berarti \"satu. \" Kata ini sekali berkedudukan sebagal nama, dan sekali sebagai sifat bagi sesuatu. Apabila ia berkedudukan sebagai sifat, maka ia hanya digunakan untuk Allah Swt. semata.

Dalam ayat di atas, kata Ahad berfungsi sebagai sifat Allah Swt. , dalam arti bahwa Allah memiliki sifat -sifat tersendiri yang tidak dimiliki oleh selain-Nya.

Dari segi bahasa, kata Ahad walaupun berakar sama dengan Wahid, tetapi masing-masing memiliki makna dan penggunaan tersendiri. Kata Ahad hanya digunakan untuk sesuatu yang tidak dapat menerima penambahan baik dalam benak apalagi dalam kenyataan, karena itu kata ini-ketika berfungsi sebagai sifat --tidak termasuk dalam rentetan bilangan, berbeda halnya dengan wahid (satu) ; Anda dapat menambahnya sehingga menjadi dua, tiga, dan seterusnya, walaupun penambahan itu hanya dalam benak pengucap atau pendengarnya.

Berbicara tentang angka-dalam kaitannya dengan bahasan tauhid-agaknya menarik untuk dihayati bahwa kata \"Ahad\" terulang di dalam Al-Quran sebanyak 85 kali. namun hanya sekali yang menjadi sifat Tuhan yakni firman-Nya dalam surat Al-Ikhlas, \"Qul huwa allahu ahad\" Seakan-akan Allah bermaksud untuk menekankan keyakinan tauhid, bukan saja dalam maknanya, tetapi juga dalam bilangan pengulangan lafalnya, serta kandungan lafal itu. Ini menggambarkan kemurnian mutlak dalam keesaan. Bukankah kata Wahid yang berarti \" satu\" , dapat berbilang unsumya, berbeda dengan kata Ahad yang mutlak tidak berbilang. walau hanya sekadar unsumya? Benar! Allah terkadang juga disifati dengan kata Wahid seperti antara lain dalam firman-Nya:

Tuhan-Mu adalahTuhan yang Wahid, tiada Tuhan selainDia, Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS Al-Baqarah [2]: 163).

Sementara ularna berpendapat bahwa kata Wahid dalam ayat di atas. menunjuk kepada keesaan Zat-Nya disertai dengan keragaman sifat-sifat-Nya. bukankah Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, Mahakuat, Maha Mengetahui dan sebagainya, sedangkan kata Ahad dalam surat Al- Ikhlas itu, mengacu kepada keesaan Zat-Nya saja, tanpa memperlihatkan keragaman sifat-sifat tersebut.

Terlepas dari setuju atau tidak dengan pembedaan terakhir ini. namun yang jelas bahwa Allah Maha Esa, dan Keesaan-Nya itu mencakup empat macam keesaan.

Keesaan Zat.
Keesaan Sifat.
Keesaan Perbuatan.
Keesaan dalam beribadah kepada-Nya.

1. Keesaan Zat-Nya
Keesaan Zat mengandung pengertian bahwa seseorang harus percaya bahwa Allah Swt. tidak terdiri dari unsur-unsur . atau bagian-bagian. karena bila Zat Yang Maha kuasa itu terdiri dari dua unsur atau lebih -betapapun kecilnya unsur atau bagian itu-maka ini berarti Dia membutuhkan unsur atau bagian itu. Atau dengan kata lain unsur atau bagian itu merupakan syarat bagi wujud-Nya. Ambil sebagai contoh sebuah jam tangan. Anda menemukan jam tersebut terdiri dari beberapa bagian. ada jarum yang menunjuk angka. ada logam. ada karet. dan lain-lain. Bagian-bagian tersebut dibutuhkan oleh sebuah jam tangan. karena tanpa bagian itu. ia tidak dapat menjadi jam tangan. Nah. ketika itu. wa1aupun jam tangan ini hanya satu. tetapi ia tidak esa. karena ia terdiri dari bagian-bagian tersebut. Jika demikian. Zat Tuhan pasti tidak terdiri dari unsur atau bagian-bagian betapapun kecilnya. karena jika demikian. Dia tidak lagi menjadi Tuhan. Benak kita tidak dapat membayangkan Tuhan membutuhkan sesuatu dan Al-Quran pun menegaskan demikian:
Wahai seluruh manusia. kamulah yang butuh kepada Allah dan Allah Mahakaya tidak membutuhkan sesuatu lagi Maha Terpuji (QS Fathir [35]: 15).

Setiap penganut paham tauhid berkeyakinan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu dan Dia sendiri tidak bersumber dari sesuatu pun. Al-Quran menegaskan bahwa.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Al-Syura [42]: 11).

Perhatikan redaksi ayat di atas, \"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya\". Yang serupa dengan-Nya pun tidak ada, apalagi yang seperti Dia, lebih-lebih yang sama dengan-Nya, Karena itu, jangankan secara faktual di dunia nyata ada yang seperti dengan-Nya, yang secara imajinatif pun tidak ada yang serupa dengan-Nya.

Keragaman dan bilangan lebih dari satu adalah substansi setiap makhluk, bukan ciri Khaliq. ltulah sebagian makna Keesaan dalam Zat-Nya.

2. Keesaan Sifat-Nya
Adapun keesaan sifat- Nya, maka itu antara lain berarti bahwa Allah memiliki sifat yang tidak sama dalam substansi dan kapasitasnya dengan sifat makhluk, walaupun dari segi bahasa kata yang digunakan untuk menunjuk sifat tersebut sama, Sebagai contoh, kata Rahim merupakan sifat bagi Allah, tetapi juga digunakan untuk menunjuk rahmat atau kasih sayang makhluk. Namun substansi dan kapasitas rahmat dan kasih sayang Allah berbeda dengan rahmat makhluk -Nya.

Allah Esa dalam sifat-Nya, sehingga tidak ada yang menyamai substansi dan kapasitas sifat tersebut.

Sementara ulama memahami lebih jauh keesaan sifat-Nya itu, dalam arti bahwa Zat-Nya sendiri merupakan sifat-Nya. Demikian mereka memahami keesaan secara amat murni. Mereka menolak adanya \"sifat\" bagi Allah, walaupun mereka tetap yakin dan percaya bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Pengampun, Maha Penyantun, dan lain-lainyang secara umum dikenal ada sembilan puluh sembilan. Mereka yakin tentang hal tersebut, tetapi mereka menolak menamainya sifat-sifat. Lebih jauh penganutpaham ini berpendapat bahwaltsifat-Nya\" merupakan satu kesatuan, sehingga kalau dengan tauhid Zat, dinafikan segala unsur keterbilangan pada Zat-Nya, betapapun kecilnya unsur itu, maka dengan tauhid sifat dinafikan segala macam dan bentuk ketersusunan dan keterbilangan bagi sifat-sifat Allah. Berapa jumlah sifat Allah itu? Yang populer menurut sebuah hadis ada 99 sifat. Tetapi Muhammad Husain Ath-Thabathaba\'i, setelah menelusuri ayat-ayat Al-Quran, menyimpulkan bahwa ada 127 nama atau sifat Allah yang ditemukan dalam Al-Quran, kesemuanya merupakan Al-Asma\' Al-Husna. Rincian sifat/nama-nama itu dikemukakannya dalam Tafsimya Al-Mizan ketika menafsirkan QS Al-A\'raf [7]: 180.

3. Keesaan Perbuatan-Nya
Keesaan ini mengandung arti bahwa segala sesuatu yang berada di alam raya ini, baik sistem kerjanya maupun sebab dan wujud-Nya, kesemuanya adalah basil perbuatan Allah semata. Apa yang dikebendaki-Nya terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, tidak ada daya (untuk memperoleh manfaat), tidak pula kekuatan (untuk menolak madarat), kecuali bersumber dari Allah Swt. , itulah makna:

Tetapi ini bukan berarti bahwa Allah Swt. berlaku sewenang-wenang. atau \"bekerja\" tanpa sistem yang ditetapkan- Nya. Keesaan perbuatan-Nya dikaitkan dengan hukum-hukum atau takdir dan sunnatullah yang ditetapkan-Nya.

Dalam mewujudkan kehendak -Nya Dia tidak membutuhkan apa pun.

Sesungguhnya keadaan-Nya bila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata, \"Jadilah\" Maka jadilah ia (QS ya Sin [36]: 82).

Tetapi ini bukan juga berarti bahwa Allah membutuhkan kata \'Jadilah\"; ayat ini hanya bermaksud menggambarkan bahwa pada hakikatnya dalam mewujudkan sesuatu Dia tidak membutuhkan apa pun. Ayat ini juga tidak berarti bahwa segala sesuatu yang diciptakan-Nya tercipta dalam sekejap, tanpa proses, sesuai dengan kehendak-Nya. Bukankah Isa a.s. dinyatakan-Nya sebagai tercipta dengan kun.

Sesungguhnya keadaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti Adam, diciptakan dan tanah kemudian Dia katakan kepadanya kun (jadilah), maka-jadilah dia (QS Ali \'Imran [3]: 59). Pada ayat lain, Al-Quran menggambarkan proses kejadian Isa, yang dimulai dengan kehadiran malaikat kepada Maryam. kehamilannya, sakit perut menjelang kelahiran, dan akhimya lahir (Baca QS Maryam [19]: 16-26).

Sekali lagi, kata kun bukan berarti bahwa segala sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi serta-merta tanpa suatu proses.

4. Keesaan dalam beribadah kepada-Nya
Kalau ketiga keesaan di atas merupakan hal-hal yang harus diketahui dan diyakini. maka keesaan keempat ini merupakan perwujudan dari ketiga makna keesaan terdahulu.

Ibadah itu beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Salah satu ragamnya yang paling jelas, adalah amalan tertentu yang ditetapkan cara dan atau kadarnya langsung oleh Allah atau melalui Rasul-Nya. dan yang secara populer dikenal dengan istilah ibadah mahdhah. Sedangkan ibadah dalam pengertian- nya yang umum, mencakup segala macam aktivitas yang dilakukan demi karena Allah.

Nah, mengesakan Tuhan dalam beribadah. menuntut manusia untuk melaksanakan segala sesuatu demi karena Allah. baik sesuatu itu dalam bentuk ibadah mahdhah (murni). maupun selainnya. Walhasil. keesaan Allah dalam beribadah kepada-Nya adalah dengan melaksanakan apa yang tergambar dalam firman-Nya.

Katakanlah, \"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, (semuanya) demi karena Allah, Pemelihara seluruh alam (QS Al-An\'fuJ.l [6]: 162).

+ Allah dalam Kehidupan Manusia

Salah satu ayat yang menggambarkan dampak kehadiran Allah dalam jiwa manusia adalah firman-Nya,

Allah membuat perumpamaan, (yaitu) seorang lelaki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat dan saling berselisih (buruk perangai mereka), dengan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang saja. Adakah keduanya (budak-budak itu) sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS Al-Zumar [391: 29).

Ayat ini berrnaksud menggambarkan bagaimana keadaan seseorang yang harus taat kepada sekian banyak orang yang memilikinya, tetapi pemilik-pemiliknya itu saling berselisih dan buruk perangainya. Alangkah bingung ia. Yang ini memerintahkan satu hal, belum lagi selesai datang yang lain mencegah atau memerintahkannya dengan perintah lain, yang ketiga pun demikian. Begitu seterusnya, sehingga pada akhirnya budak itu hidup dalam kompleks kejiwaan yang tidak diketahui bagaimana cara menanggulanginya. Bandingkanlah hal itu dengan seorang budak lain yang hanya menjadi milik penuh seseorang sehingga ia tidak mengalami kebingungan atau kontradiksi dalam kesehariannya.

Menarik dikemukakan alasan Murtadha Muthahhari yang juga memahami-sebagaimana ulama-ulama lain-arti kata rajulan pada ayat di atas dengan \"budak\". Ulama tersebut menulis dalam bukunya Allah dalam Kehidupan Manusia bahwa: Sementara orang ada yang membuat kemungkinan berikut, yakni bahwa manusia berkeinginan untuk hidup bebas (tanpa kendali). Sesungguhnya keinginan ini (walaupun merupakan sesuatu yang mustahil) menjadikan manusia keluar dari kemanusiaannya, karena ini berarti bahwa ketika itu dia tidak mengakui adanya hukum, tujuan, keinginan atau ide-dalam arti dia kosong sama sekali dari keyakinan tertentu, dan keadaan demikian mencabutnya dari hakikat kemanusiaan. Keadaan semacam ini tidak ada wujudnya dalam kehidupan manusia di dunia. Orang-orang yang menghendaki kehidupan sebebas mungkin, serta tidak mengakui adanya sedikit peraturan pun, pasti hidup mereka pun dilandasi oleh keyakinan (ide tertentu) atau berusaha mencari ide/keyakinan tertentu. Usaha ini me- nunjukkan bahwa manusia harus menerima wewenang pengaturan dari keyakinan (ide yang ada dalam benaknya). Jika demikian, tidak heran jika Al-Quran menggunakan istilah -istilah yang mengandung arti budak (seseorang yang dimiliki oleh pihak lain) .

Keadaan yang digambarkan oleh ayat di atas, terbukti kebenarannya dalam kenyataan hidup orang-orang yang lemah imannya, atau memiliki sekian banyak ide atau keyakinan yang saling bertentangan. Sekali dia taat kepada Tuhan, lain kali dia taat kepada setan, sekali dia ke masjid, lain kali ke klub malam. Orang semacam ini dikuasai atau menjadi budak sekian penguasa yang buruk perangainya sehingga pada akhirnya ia mengidap kepribadian ganda (split personality), yang merupakan salah satu bentuk dari sekian banyak bentuk penyakit kejiwaan. Kalau demikian wajar jika Al-Quran menegaskan bahwa.

Orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati meniadi tenteram (QS Al-Ra\'d [13]: 28).

Kalau dalam ayat lain Al-Quran menegaskan bahwa seandainya pada keduanya (langit dan bumi terdapat banyak Tuhan (Pengusa yang mengatur alam) selain Allah, maka pastilah keduanya akan binasa [QS Al-Anbiya\' [21]; 22). maka dalam QS Al-Zumar [39J: 29 di atas. Allah berpesan bahwa seandainya di dalam jiwa seseorang ada banyak tuhan atau penguasa yang mengatur hidupnya. maka pasti pula jiwanya akan rusak binasa.

Kalau uraian di atas membuktikan kebutuhan jiwa manusia kepada akidah tauhid. maka rangkaian pertanyaan berikut dapat menjadi salah satu bukti tentang kebutuhan akalnya terhadap akidah ini. Pertanyaan dimaksud adalah: \"Siapa yang menjamin bila Anda melontar ke depan. maka batu itu tidak mengarah ke belakang? Apa yang menjamin bahwa air selalu mencari tempat yang rendah? Apa yang mengantar ilmuwan untuk memperoleh semacam "\'kepastian"dalam langkah-langkahnya? Kepastian tersebut tidak mungkin dapat diperoleh kecuali melalui keyakinan tentang wujud Tuhan Yang Maha Esa. Karena jika Tuhan berbilang. maka sekali tuhan ini yang mengatur alam dan menetapkan kehendak-Nya dan kali lain tuhan yang itu. Apa yang menjamin kepastian itu, seandainya Tuhan Yang mengatur hukum-hukum dan tata kerja alam raya, juga butuh kepada sesuatu? Sudah dapat dipastikan tidak ada yang dapat menjamin !

Jika demikian. tauhid bukan saja merupakan hakikat kebenaran yang harus diakui karena diperlukan oleh jiwa manusia, tetapi juga merupakan kebutuhan akalnya demi kemajuan dan kesejahteraan umat manusia. Wajar jika perkembangan pemikiran manusia tentang Tuhan. berakhir pada monoteisme murni, setelah pada awalnya menganut keyakinan politeisme (banyak tuhan), kemudian dua tuhan, disusul dengan kepercayaan tentang adanya satu Tuhan. dan berakhir dengan tauhid murni (keesaan mutlak) yang dianut oleh umat Islam.
Apabila seseorang telah menganut akidah tauhid dalam pengertian yang sebenamya. maka akan lahir dari dirinya berbagai aktivitas, yang kesemuanya merupakan ibadah kepada Allah, baik ibadah dalam pengertiannya yang sempit [ibadah murni) maupun pengertiannya yang luas. Ini disebabkan karena akidah tauhid merupakan satu prinsip lengkap yang menembus semua dimensi dan akal manusia. Karena itu,

Allah tidak mengampuni siapa yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, dan dapat mengampuni selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki (QS Al-Nisa\' [4]: 48).

Kalau dalam alam raya ini ada matahari yang menjadi sumber kehidupan makhluk di permukaan bumi ini. dan yang berkeliling padanya planet-planet tata surya yang tidak dapat melepaskan diri darinya. Maka akidah tauhid merupakan matahari kehidupan ruhani dan yang berkeliling di sekitarnya ke- satuan -kesatuan yang tidak dapat pula melepaskan diri atau dilepaskan darinya. Kesatuan dimaksud antara lain adalah kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat. kesatuan natural dan supranatural. kesatuan ilmu. kesatuan agama. kesatuan kemanusiaan, kesatuan umat, kesatuan kepribadian manusia, dan lain-lain.

Prinsip lengkap ini harus terus-menerus dipelihara. diasah. dan diasuh. Memang boleh jadi seorang Muslim mengalami godaan sehingga timbul tanda tanya menyangkut kehadiran Allah Yang Maha Esa itu. Yang demikian adalah wajar-wajar saja. asal ia selalu berupaya untuk mengusir godaan itu. Hal ini dialami juga oleh para sahabat Nabi Saw. Mereka yang mengadukan pengalamannya kepada beliau ditanggapi oleh Nabi Saw. dengan bersabda.

Segala puji bagi Allah yang menangkal tipuannya (setan) menjadi waswasah (bisikan).

Sahabat Nabi. Ibnu Abbas. pernah ditanya oleh Abu Zamil Sammak ibn Al-Walid. \"Apakah yang saya rasakan di dalam dadaku (ini)?\" Apakah itu. tanya Ibnu Abbas. \"Demi Allah saya tidak akan mengatakannya.\" Ibnu Abbas bertanya balik. \"Apakah semacam syak atau keraguan?\" Si penanya mengiyakan. Ibnu Abbas kemudian berkata. \'Tidak seorang pun (dari kami) yang terbebaskan dari yang demikian, sampai turun firman Allah: Apabila kamu dalam keraguan dari apa yang Kami turunkan kepadamu. maka tanyakanlah kepada orang-orang Yang membaca kitab sebelum kamu (QS Yunus [10]: 94).

Apabila engkau mendapatkan hal itu bacalah, Dia yang Awal, Dia Yang Akhir, Dia Yang Zhahir (tampak melalui ciptaan-Nya), Dia juga Yang Batin (tak tampak hakikat Zat-Nya), dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu\".

Demikian Allah Swt. Karena itu wajar kita bermohon:

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi anugerah (QS Ali Imran [3]: 8).
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik