FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Akhlaq Muslim dalam Pergaulan Sosial

View previous topic View next topic Go down

Akhlaq Muslim dalam Pergaulan Sosial

Post by Admin on Sun Apr 07, 2013 5:57 pm

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK SURAT AL HUJURAT AYAT 11-13 DAN APLIKASINYA

A. Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Surat Al Hujurat ayat 11-13


Pendidikan Islam sangat memperhatikan penataan individual dan social yang membawa umatnya kepada pemelukan dan pengaplikasian ajaran Islam secara komprehensif. Agar umatnya memikul amanat yang dikehendaki Allah, pendidikan Islam harus dimaknai secara rinci, maka sumber rujukan ajaranya harus bersumber dari yang utama, yaitu Al Qur’an dan Hadits.

Surat Al Hujurat ayat 11-13 memiliki makna yang sangat luas dan mendalam, didalamnya dibahas akhlak kepada sesama muslim khususnya. Ayat ini dapat dijadikan pedoman agar terjadi kehidupan yang selaras, harmonis, tentram dan damai. Sebagai mahkluk sosial, manusia tentunya tidak ingin merasa terganggu oleh manusia lainya. Oleh sebab itu, disinilah arti pentingnya bagaimana memahami agar hak (kekuatan diri) tidak terganggu sehingga tercipta kehidupan yang harnonis.

Seperti telah penulis jelaskan bahwa surat Al Hujurat ayat 11-13 ini merupakan antara sekian banyak surat yang membicarakan nilai-nlai pendidikan akhlak, untuk lebih jelasnya akan penulis uraikan sebagai berikut :

1. Pendidikan menjunjung tinggi kehormatan sesama muslim

Ajaran Islam sangat menjunjung tinggi pendidikan budi pekerti, dalam Al qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menuntun manusia ke arah keluhuran budi pekerti. Akhlak dan budi pekerti merupakan ukuran dari kemanusiaan manusiayang membedakannya dari sifat binatang.

Masyarakat Islam adalah masyarakat yang mempunyai tenggang rasa yang tinggi dan tata kesopanan yang luhur, saling menghormati dan menghargai sesamanya. Oleh sebab itu, dalam tatanan masyarakat Islam tidak dibenarkan seorang anggota masyarakat menyinggung, menggunjing ataupun meremehkan serta menghina masyarakat lainnya, sebab hal-hal tersebut dapat melahirkan instabilitas dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam surat Al Hujurat ayat 11 ini dapat kita jumpai bagaimana Rasulullah SAW yang selalu mendapat wahyu dari Allah SWT untuk mendidik dan mengobati penyakit-penyakit moral dengan cara menghidupkan tata karma, hidup sopan, serta berhati dan berbudi luhur, menghilangkan segala macam permusuhan dan kedengkian sehingga umat islam bersih dari segala kerendahan akhlak dan hidup dalam suasana persaudaraan Islam.

Ada beberapa sifat tercela yang diperintah oleh Allah dalam Al Qur’an surat Al Hujurat ini untuk dihindari oleh setiap muslim, berikut uraiannya :

a. Mengolok-olok.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.(QS : Al Hujurat : 11)1

Arti “?????” (buah ejekan/ tertawaan orang)2 meliputi penghinaan, peremehan dan menyebutkan aib dan kekurangan orang lain yang membuat orang tertawa. Hal ini kalau dilakukan oleh seorang mukmin, maka perbuatan tersebut merupakan sebuah dosa.

Ayat tersebut diatas menyebut kata ‘kaum’ secara umum dan kata ‘perempuan’ secara khusus, hal ini menunjukan bahwa kaum wanitalah yang lebih suka mengolok-olok dan mengejek orang lain. Namun menurut M. Quraish Shihab, kata ‘kaum’ dalam ayat itu hanya diperuntukkan untuk orang laki-laki meski suatu kaum biasanya terdiri dari laki-laki dan perempuan. Sebab pada mulanya kata ‘kaum’ dipergunakan untuk menunjukkan orang yang bangkit untuk berperang membela sesuatu, dan biasanya yang maju berperang dulu adalah kaum laki-laki.3

Pendidikan Islam memang tidak berhenti hanya pada menyuruh berbuat baik dan melarang (mencegah) yang mungkar, akan tetapi juga selalu memperhatikan segala segi yang berhubungan dengan masyarakat, yang bertujuan agar masyarakat Islam terhindar dari segala macam penyakit baik jasmani maupun rohani.

Pernyataan dari Allah agar tidak saling mengejek ini sebenarnya mengandung suatu makna yang sangat halus (tersirat), bahwa pada umumnya penilain seseorang manusia pada dirinya sendiri pada umumnya tidak tepat. Orang yang mengolok-olok orang lain biasanya menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, karena itu Allah SWT mengingatkan barangkali orang yang diejek itu lebih baik dari pada orang yang mengejek.

b. Saling mencela

Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri………. (QS. Al Hujurat : 11)4

Penyakit kedua yang disebutkan oleh ayat ini adalah ‘lamaz’ yang berarti mencela atau menikam dengan lidah dan memburuk-burukkan orang lain disaat orang lain itu tidak ada. Ayat ini juga mengandung makna ‘janganlah kalian melakukan sesuatu yang dapat membuat kalian dicela karenanya. Kalau seseorang mencela orang lain secara tidak langsung berarti ia mencela dirinya sendiri. Rasulullah SAW senantiasa mendidik para sahabatnya agar selalu menjauhi sifat-sifat ini, sebab hal ini menyangkut kehormatan orang lain.

c. Memanggil dengan gelar yang buruk

Dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan, seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman…. (QS. Al hujurat : 11)5

Tanabuz adalah larangan yang ketiga dari ayat yang ke- 11 ini. Pada hakekatnya tanabuz adalah suatu panggilan yang tidak layak dan tidak menyenangkan yang membawa kepada suatu bentuk penghinaan dan celaan. Tidak layak seorang manusia berbuat jahat kepada kawannya. Dipanggilnya kawannya itu dengan gelar yang tidak menyenangkan bahkan menjengkelkan. Ini bisa menyebabkan berubahnya hati dan permusuhan sesama kawan serta menghilangkan jiwa kesopanan dan perasaan yang tinggi.

Ayat ke- 11 dari surat Al Hujurat ini memberikan keterangan bahwa sifat-sifat yang terkandung didalamnya adalah sifatnya orang munafik dan orang kafir, sehingga hal ini tidak pantas disandang oleh seorang muslim.

d. Dzon (prasangka)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurat : 12)6

Dzan ‘??‘ dan pecahan kata darinya, diartikan dengan pikiran, pendapat atau buruk sangka, dugaan, perkiraan, dan tuduhan7. Dan menurut istilah, dzan atau prasangka adalah hal yang menunjukkan gejala kurang yakin untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Namun dalam Al Qur’an ada beberapa istilah ‘dzan’ yang mengandung pengertian sebagai berikut :

a) Tahu atau mengetahui

Dan Daud mengetahui bahwa kami mengujinya……… (QS. Shaad : 24)8

b) Sangkaan atau menyangka

Dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. (QS. Al Ahzab : 10)9

Dan arti yang dikehendaki oleh ayat 12 surat Al Hujurat ini adalah dzan yang mengandung makna tuduhan atau sangkaan yang buruk terhadap orang lain. Terhadap orang mukmin, Allah memerintahkan agar menjauhkan diri dari prasangka yang selalu timbul dari perasaan itu. Pergaulan yang aman dan sentosa hanyalah akan terwujud apabila perasaan para anggota masyarakatnya terbebas dari prasangka-prasangka yang tidak baik.

Rasulullah SAW sendiri mendidik para sahabatnya agar menjauhi prasangka, diantaranya sebagai berikut :

Dar Abu Hurairah ra. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :” waspadalah kalian terhadap buruk sangka, sebab prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta 10

Dengan adanya larangan terhadap prasangka ini, Al Qur’an telah menjaga orang-orang mukmin agar jangan sampai perasaan dan pikirannya terlibat dalam prasangka yang mungkin akan menjerumuskan ke dalam lembah dosa. Hal ini juga bermaksud agar jangan sampai mengganggu ketenangan dan ketentraman yang didambakan oleh setiap manusia di muka bumi ini.

e. Tajassus

Tajassus berarti memata-matai, mengintip atau mencari-cari kesalahan orang lain. Hal ini merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Larangan ini diletakkan setelah adanya larangan berburuk sangka, karena biasanya dari prasangka yang timbul itu kemudian akan menyeret orang ke dalam perbuatan tajassus.

Mencari-cari kesalahan orang lain berarti pula membuka aib, dan merupakan sebuah hal yang dilarang dalam ajaran Islam. Dalam suatu tatanan kehidupan masyarakat yang Islami, setiap individu dapat hidup dengan rasa aman terhadap jiwa, rumah tangga, rahasia pribadi dan auratnya. Tidak ada jalan untuk melanggar kehormatan pribadi ini yang merupakan hak asai bagi manusia.

Ajaran Islam telah menentukan pergaulan manusia berdasarkan keadaan lahir setiap insane, tidak ada hak untuk menyelidiki keadaan batin dan rahasia orang lain. Betapa besar perhatian Rasulullah dalam membersihkan lingkungan kehidupan masyarakat Islam dari penyakit tajassus ini. Hasilnya terbukti pada perilaku, budi bahasa, dan adab kesopanan para sahabat beliau. Sebagai contoh, para sahabat tidak akan mengambil sebuah keputusan kecuali terhadap yang dhohir dan ada bukti nyata.11

f. Ghibah

Ghibah berarti menyebut-nyebut suatu keburukan orang lain yang tidak disukainya sedang orang lain tersebut tidak berada ditempat, hal ini baik dilakukan dengan sebutan maupun dengan isyarat. Karena yang demikian itu menyakiti orang yang diumpatnya, dan sebutan yang menyakiti tersebut dapat berupa hal yang mengenai keduniaan, badan, budi pekerti, harta atau anak, dan lain sebagainya.

Menurut K.H. Masruri Abdul Mughni ghibah boleh dilakukan seperti halnya oleh seorang guru yang membicarakan keadaan muridnya di dalam rapat guru, misalnya adalah rapat kenaikan kelas yang membahas masalah tingkah laku murid tersebut, apakah ia berhak untuk naik kelas atau tidak.12

Menurut Hasan bin Ali, ada beberapa bentuk ghibah yang semuanya terdapat dalam Al Qur’an, yaitu :

a) Ghibah yaitu engkau menyebut- nyebut keburukan yang ada pada saudaramu.

b) Ifki yaitu engkau menyebut-nyebut tentang seseorang mengenai berita- berita yang sampai kepadamu.

c) Buhtan, ialah engkau menyebut-nyebut kesalahan saudaramu yang tidak ada pada saudaramu.


Tidak ada perselisihan diantara ulama bahwasanya ghibah termasuk dosa besar, dan diwajibkan kepada para pelakunya untuk segera bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.13

Ghibah tidak diharamkan jika disertai dengan maksud-maksud yang baik, yang tidak bisa tercapai kecuali dengan ghibah tersebut. Diantar ghibah yang diperbolehkan adalah sebagai berikut :

a) Dalam rangka menghilangkan kedholiman, agar supaya dapat dibela oleh orang yang mampu menghilangkan kedholiman itu.

b) Jika dijadikan bahan untuk merubah suatu kemungkaran dengan menyebut-nyebut kejelekan seseorang kepada seorang penguasa yang mampu mengadakan perbaikan.

c) Di dalam persidangan, seseorang yang mengajukan perkara, boleh melaporkan kepada hakim bahwa ia telah dianiaya oleh seorang penguasa yang (sebenarnya) mampu mengadakan tindakan perbaikan.

d) Memberi peringatan kepada kaum muslimin tentang suatu kejahatan atau bahasa yang mungkin akan mengenai seseorang. Misalnya, menuduh saksi-saksi tidak adil, atau mengingatkan kepada calon mempelai bahwa calon pasangannya mempunyai cacat budi pekerti.

e) Bila orang yang diumpat terang-terangan melakukan dosa di depan umum.

f) Mengenal seseorang dengan sebutan yang kurang baik, misalnya ’si buta’, jika memang memungkinkan perkenalan itu hanya dapat dilakukan dengan cara itu.
14

Islam mengajarkan kepada umatnya agar mampu menahan lidahnya dari menggunjing orang lain, apalagi terhadap saudaranya sesama muslim. Sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat 11-12 tersebut di atas harus dihindari guna menciptakan kesejahteraan sosial, kesejahteraan lahir maupun batin.

Hal yang demikian disebabkan sifat-sifat tercela diatas akan menimbulkan rasa takut, tidak aman dan adanya rasa kecemasan di masyarakat, padahal sesame muslim adalah saudara. Hal ini sebagaimana disinyalir dalam hadits Nabi Muhammad SAW :

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam mencintai, saling berbelas kasih dan saling tenggangrasa, maka itu laksana satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya terasa sakit maka seluruh anggota badannya ikut merasakan tidak dapat tidur dan mersa demam panas. (HR. Muslim)15

2. Pendidikan sosial kemasyarakatan.

Pendidikan sosial, pada dasarnya adalah bertujuan untuk menciptakan manusia yang menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial yang diperlukan agar mampu berkomunikasi dengan sesame anggota masyarakat. Disamping itu, hal ini juga bertujuan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat, seperti rasa cinta kepada yang lain, hubungan kekeluargaan yang harmonis, adil terhadap sesamanya, ramah tamah dan lain sebagainya.16

Konsep pendidikan dan pembinaan sosial dalam surat Al Hujurat ayat 13, menurut penulis dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hubungan antara sesama manusia, dan hubungan sesama muslim.

a. Hubungan antara sesama manusia

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat : 13)

Setelah Allah memerintah orang-orang mu’min untuk menghindari sifat-sifat tercela sebagaimana telah penulis uraikan di atas, pada ayat ini yaitu ayat yang ke- 13 dari surat Al Hujurat Allah SWT menyebutkan sesuatu yang mendukung perintah untuk menghindari tersebut yaitu bahwa sesungguhnya manusia itu berasal dari satu ayah dan satu ibu, yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa.

Menurut konsep Ilahiyah, perbedaan warna kulit, suku, dan bangsa adalah bertujuan untuk saling mengenal. Perbedaan itu tidak dimaksudkan untuk pertentangan atau unggul-unggulan satu sama lain, namun justru perbedaan itu dimaksudkan untuk saling tolong-menolong, saling gotong royong di dalam melaksanakan kepentingan bersama.

Perbedaan, apapun bentuknya di hadapan Allah SWT tidak berharga sama sekali. Oleh sebab itu, Allah menilai kehormatan dan kemuliaan seseorang hanya terletak pada siapa saja yang amal perbuatannya baik dan ikhlas karena Allah SWT. Islam adalah universal, oleh sebab itu ajarannya mengikis habis yang namanya fanatic sukuisme, dan realisme yang kesemuanya adalah warisan jahiliyah.

Prinsip saling mengenal ((????? dijadikan sebagai dasar hubungan antar lingkungan sosial, karena dari perkenalan itu akan timbul saling pengertian yang merupakan pangkal kerja sama yang dibutuhkan dalam upaya membina pergaulan yang saling menguntungkan. Hal ini ditujukan agar terciptanya kemaslahatan, hidup damai, adil dan sejahtera.

Perbedaan adalah sifat masyarakat, namun hal ini tidak lantas dijadikan sebuah pertentangan. Sebaliknya perbedaan itu harus mengantarkan kepada kerja sama yang dapat menguntungkan semua pihak.17

b. Hubungan antara sesama muslim

Hubungan sesama muslim yang diwujudkan dalam kerangka ukhuwah, dapat kita temukan pesannya dalam surat Al Hujurat ayat 10 :

Ukhuwah (????) merupakan bentuk kata jadian dari kata ‘akh’ (??). Pada mulanya berarti persamaan dan kesesuaian dalam banyak hal, karenanya persamaan dalam keturunan mengakibatkan persaudaraan, persamaan dalam sifat-sifat juga mengakibatkan persaudaraan.

Dalam kamus-kamus bahasa, ditemukan bahwa kata ‘akh’ juga digunakan dalam arti teman akrab atau sahabat. Dalam Al Qur’an kata ‘akh’ dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali, sebagian dalam arti saudara sekandung, dan sebagian dalam arti saudara sebangsa walaupun berbeda agama, dan sebagian lagi dalam arti saudara yang dijalin dengan ikatan kekeluargaan.

Bentuk jama’ dari kata ‘akh’ dalam Al Qur’an ada 2 macam, pertama ????? yang biasanya digunakan untuk persaudaraan dalam arti tidak sekandung, kedua ???? yang terdapat dalam Al Qur’an sebanyak 7 kali dan keseluruhannya digunakan untuk arti keturunan, kecuali satu ayat, yaitu ayat ke- 10 surta Al Hujurat.

Mengapa Al Qur’an tidak menggunakan kata ‘ikhwan’ dalam persaudaraan sesame Islam, tetapi menggunakan kata ‘ikhwah’ yang mempunyai arti saudara sekandung/ seketurunan. Menurut Al Maraghi, hal ini dimaksudkan bahwa persaudaraan seagama dijadikan seperti persaudaraan sekandung.

Sedangkan menurut M. Quraish Shihab, hal itu bertujuan untuk mempertegas jalinan hubungan sesama muslim. Seakan-akan hubungan tersebut dijalin bukan hanya oleh keimanan mereka, tetapi juga dijalin oleh persaudaraan seketurunan yang ditunjukkan oleh kata ‘ikhwah’ tersebut. Sehingga tidak ada alasan untuk meretakkan hubungan antara mereka.18

1 Loc. Cit, Lajnah Pentashih Mushaf Al Qur’an,
2 Loc. Cit, Ahmad Warson Munawir, hal. 618
3 Loc. Cit, M. Quraish Shihab, hal. 333
4 Loc. Cit, Lajnah Pentashih Mushaf Al Qur’an,
5 Ibid,
6 Ibid,
7 Loc. Cit, Ahmad Warson Munawir, hal. 883
8 Loc. Cit, Lajnah Pentashih Mushaf Al Qur’an,
9 Ibid,
11 Faishal bin Ali Yahya Ahmad, Sistem Kaderisasi Rasulullah, terj. Salim Wahid, (Solo : Pustaka Mantiq, t.t), hal. 149
12 K.H. Masruri Abd. Mughni, Penjelasan dari ayat 12 surat Al Hujurat pada Mata Kuliah Tafsir Pendidikan, (Benda, 18 Juni 2010)
13 Ahmad Musthofa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, (Mesir : Al Halabi, 1946), hal. 39
14 Muhammad Jalaluddin Al Qosimi, Mahasin At Ta’wil, (Mesir : Al Halabi, 1956), hal. 5463
16 Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al Qur’an, (Jakarta : Rineka Cipta, 1990), hal. 150
17 Loc. Cit, M. Quraish Shihab, hal. 333 wawasan al qur’an hal. 125S
18 M. Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an, Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung : Mizan, 1996), hal. 358

Admin
Administrator
Administrator

Total Like dan Thanks: 47
Male
Posts: 1063
Location: Tanah Melayu
Join date: 2011-08-02

http://www.laskarislam.com

Back to top Go down

Re: Akhlaq Muslim dalam Pergaulan Sosial

Post by sungokong on Thu Jun 27, 2013 4:55 am

Cita-cita tertinggi seorang muslim, ialah agar dirinya dicintai Allah, menjadi orang bertakwa yang dapat diperoleh dengan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. diantara tanda-tanda seseorang dicintai Allah, yaitu jika dirinya dicintai olah orang-orang shalih, diterima oleh hati mereka. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril, “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Lalu Jibril mencintainya dan menyeru kepada penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Maka (penduduk langit) mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi.” [Hadits Bukhari dan Muslim,dalam Shahih Jami’ush Shaghir no.283]

Diantara sifat-sifat muslim yang dicintai oleh orang-orang shalih di muka bumi ini, diantaranya ia mencintai mereka karena Allah, berakhlak kepada manusia dengan akhlak yang baik, memberi manfaat, melakukan hal-hal yang disukai manusia dan menghindari dari sikap-sikap yang tidak disukai manusia.

Berikut ini beberapa dalil yang menguatkan keterangan di atas.

Allah berfirman.

“Artinya : Pergauilah mereka (isteri) dengan baik”. [An-Nisaa : ’1]

“Artinya : Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. [Ali-Imran : 134]

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda.

“Artinya : Bertakwalah engkau dimanapun engkau berada, Sertailah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan.Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik” [HR.Tirmidzi, ia berkata :Hadits hasan]

“Artinya : Seutama-utama amal Shalih, ialah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman”.[HR.Ibn Abi Dunya dan dihasankan olah Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ush Shaghir 1096]

URGENSI PEMBAHASAN ETIKA BERGAUL
Adab bergaul dengan manusia merupakan bagian dari akhlakul karimah (akhlak yang mulia). akhlak yang mulia itu sendiri merupakan bagian dari dienul Islam. Walaupun prioritas pertama yang diajarkan olah para Nabi adalah tauhid, namun bersamaan dengan itu, mereka juga mengajarkan akhlak yang baik. Bahkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam diutus untuk menyempurnakan akhlak. beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Allah berfirman.

“Artinya : Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung”.[Al-Qalam 4]

Dan kita diperintahkan untuk mengikuti beliau, taat kepadanya dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya :

“Artinya : Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik” [Al-Ahzab 21]

Dengan mempraktekkan adab-adab dalam bergaul, maka kita akan memperoleh manfaat, yaitu berupa ukhuwah yang kuat diantara umat Islam, ukhuwah yang kokoh, yang dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah. Allah telah berfirman.

“Artinya : Dan berpegang teguhlah kalian denga tali (agama ) Allah bersama-sama , dan janganlah kalian bercerai-berai, Dan ingatlah nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada kalian, ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, lalu Allah lunakkan hati-hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya, kalian menjadi bersaudara, padahal tadinya kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayatnya, agar kalian mendapat petunjuk” [Al-Imran : 103]
.
Oleh karena itu, adab-adab bergaul ini sangat perlu dipelajari untuk kita amalkan. kita harus mengetahui, bagaimana adab terhadap orang tua, adab terhadap saudara kita, adab terhadap istri kita, adab seorang istri terhadap suaminya, adab terhadap teman sekerja atau terhadap atasan dan bawahan. Jika kita seorang da’i atau guru, maka harus mengetahui bagaimana adab bermuamalah dengan da’i atau lainnya dan dengan mad’u (yang didakwahi) atau terhadap muridnya. Demikian juga apabila seorang guru, atau seorang murid atau apapun jabatan dan kedudukannya, maka kita perlu untuk mengetahui etika atau adab-adab dalam bergaul.

Kurang mempraktekkan etika bergaul, menyebabkan dakwah yang haq dijauhi oleh manusia. Manusia menjadi lari dari kebenaran disebabkan ahli haq atau pendukung kebenaran itu sendiri melakukan praktek yang salah dalam bergaul dengan orang lain. Sebenarnya memang tidaklah dibenarkan seseorang lari dari kebenaran, disebabkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.

Jika inti ajaran yang dibawa oleh seseorang itu benar, maka kita harus menerimanya, dengan tidak memperdulikan cara penyampaiannya yang benar atau salah, etikanya baik atau buruk, akan tetapi pada kenyataannya, kebanyakan orang melihat dulu kepada etika orang itu. Oleh karena itu, mengetahui etika ini penting bagi kita, sebagai muslim yang punya kewajiban saling menasehati sesama manusia, agar bisa mempraktekkan cara bergaul yang benar.

MOTIVASI DALAM BERGAUL
Faktor yang mendorong seorang muslim dalam bergaul dengan orang lain ialah semata-mata mencari ridha Allah. ketika seorang muslim tersenyum kepada saudaranya, maka itu semata-mata mencari ridha Allah, karena tersenyum merupakan perbuatan baik. Demikian juga ketika seorang muslim membantu temannya atau ketika mendengarkan kesulitan-kesulitan temannya, ketika menepati janji, tidak berkata-kata yang menyakitkan kepada orang lain, maka perbuatan-perbuatan itu semata-mata untuk mencari ridha Allah, Demikianlah seharusnya. jangan sebaliknya, yaitu, bertujuan bukan dalam rangka mencari ridha Allah. Misalnya : bermuka manis kepada orang lain, menepati janji, berbicara lemah-lembut, semua itu dilakukan karena kepentingan dunia. atau ketika berurusan dalam perdagangan, sikapnya ditunjukkan hanya semata-mata untuk kemaslahatan dunia. tingkah laku seperti ini yang membedakan antara muslim dengan non muslim.

Bisa saja seorang muslim bermuamalah dengan sesamanya karena tujuan dunia semata. Seseorang mau akrab, menjalin persahabatan disebabkan adanya keuntungan yang didapatnya dari orang lain. Manakala keuntungan itu tidak didapatkan lagi, maka ia berubah menjadi tidak mau kenal dan akrab lagi. Atau seseorang senang ketika oramg lain memberi sesuatu kepadanya, akan tetapi ketika sudah tidak diberi, kemudian berubah menjadi benci. Hal seperti itu bisa terjadi pada diri seorang muslim. Sikap seperti itu merupakan perbuatan salah.

Al-Imam Ibn Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad juz ke-4 hal 249 : “Diantara kecintaan terhadap sesama muslim ada yang disebut mahabbatun linaili gharadlin minal mahbud, yaitu suatu kecintaan untuk mencapai tujuan dari yang dicintainya, bisa jadi tujuan yang ingin ia dapatkan dari kedudukan orang tersebut, atau hartanya, atau ingin mendapatkan manfaat berupa ilmu dan bimbingan orang tersebut, atau untuk tujuan tertentu; maka yang demikian itu disebut kecintaan karena tendensi. atau karena ada tujuan yang ingin dicapai, kemudian kecintaan ini akan lenyap pula seiring dengan lenyapnya tujuan tadi. Karena sesungguhnya, siapa saja yang mencintaimu dikarenakan adanya suatu keperluan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”. hal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan kita.

Contohnya :seorang karyawan sangat menghormati dan perhatian kepada atasannya di tempat kerja. tetapi apabila atasannya itu sudah pensiun atau sudah tidak menjabat lagi, karyawan ini tidak pernah memikirkan dan memperhatikannya lagi.

Begitu juga ketika seseorang masih menjadi murid, sangat menghormati gurunya. Namun ketika sudah lulus (tidak menjadi muridnya lagi), bahkan sekolahnya sudah lebih tinggi dari gurunya itu, bertemu di jalan pun enggan untuk menyapa.

Banyak orang yang berteman akrab hanya sebatas ketika ada kepentingannya saja.yakni ketika menguntungkannya, dia akrab, sering mengunjungi, berbincang-bincang dan memperhatikannya.namun ketika sudah tidak ada keuntungan yang bisa didapatnya, kenal pun tidak mau.

Ada juga seseorang yang hanya hormat kepada orang kaya saja. Adapun kepada orang miskin, memandang pun sudah tidak mau. Hal semacam ini bukan berasal aturan-aturan Islam. menilai seseorang hanya dikarenakan hartanya, hanya karena nasabnya, hanya karena ilmunya, yaitu jika kepada orang yang berilmu dia hormat dan menyepelekan kepada orang yang tak berilmu. hal-hal seperti itu merupakan perbuatan yang keliru.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dalam Majmu’Fatawa juz 10, beliau berkata: “Jiwa manusia itu telah diberi naluri untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, namun pada hakekatnya sesungguhnya hal itu sebagai kecintaan kepada kebaikan, bukan kepada orang yang telah berbuat baik.apabila orang yang berbuat baik itu memutuskan kebaikannya atau perbuatan baiknya, maka kecintaannya akan melemah, bahkan bisa berbalik menjadi kebencian. Maka kecintaan demikian bukan karena Allah.

Barangsiapa yang mencintai orang lain dikarenakan dia itu memberi sesuatu kepadanya, maka dia semata-mata cinta kepada pemberian. Dan barang siapa yang mengatakan: “saya cinta kepadanya karena Allah”, maka dia pendusta. Begitu pula, barang siapa yang menolongnya, maka dia semata-mata mencintai pertolongan, bukan cinta kepada yang menolong. Yang demikian itu, semuanya termasuk mengikuti hawa nafsu. Karena pada hakekatnya dia mencintai orang lain untuk mendapatkan manfaat darinya, atau agar tehindar dari bahaya. Demikianlah pada umumnya manusia saling mencintai pada sesamanya, dan yang demikian itu tidak akan diberi pahala di akhirat, dan tidak akan memberi manfaat bagi mereka. Bahkan bisa jadi hal demikian itu mengakibatkan terjerumus pada nifaq dan sifat kemunafikan.

Ucapan Ibn Taimiyah rahimahullah ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Az-Zukhruf 67,artinya: “teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang bertakwa. adapun orang-orang bertakwa, persahabatan mereka akan langgeng sampai di alam akhirat, karena didasari lillah dan fillah. Yaitu cinta karena Allah.

Sebaliknya, bagi orang-orang yang tidak bertakwa, di akhirat nanti mereka akan menjadi musuh satu sama lain. Persahabatan mereka hanya berdasarkan kepentingan dunia. Diantara motto mereka ialah: “Tidak ada teman yang abadi, tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi”.

Dasar persahabatan mereka bukan karena dien, tetapi karena kepentingan duniawi. Berupa ambisi untuk mendapatkan kekuasaan, harta dan sebagainya dengan tidak memperdulikan apakah cara yang mereka lakukan diridhoi Allah, sesuai dengan aturan-aturan Islam ataukah tidak.


[Sumber : Majalah As-Sunnah edisi 03 – 04/ V11/ 1424/ 2003 M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]

sungokong
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Total Like dan Thanks: 3
Male
Posts: 150
Location: gunung hwa kwou
Join date: 2013-05-03

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum