FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

View previous topic View next topic Go down

Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by Penyaran on Thu May 02, 2013 10:40 am

ROMA KATOLIK I

SEJARAH SINGKAT dan PERBEDAAN DASAR


Pendahuluan:

Sebetulnya ini bukanlah pelajaran tentang perbandingan agama, tetapi lebih tepat disebut sebagai perbandingan aliran, karena Roma Katolik sebetulnya termasuk dalam ruang lingkup Kristen.

Ada 2 sikap extrim / salah menghadapi agama / aliran lain:

1) Sikap menyerang:

a) Penyerangan itu bisa ditujukan kepada orang yang beragama lain itu, dimana kita membenci atau memusuhi orang itu.

Ini salah karena sekalipun kita harus menentang ajaran yang salah / sesat, tetapi kita harus mengasihi orangnya, dan berusaha mengarahkan dia pada jalan yang benar.

b) Penyerangan itu bisa ditujukan kepada agama orang itu.

Pada umumnya ini juga salah, karena pada umumnya orang yang dise-rang agamanya akan menjadi marah, sehingga ia akan membuat 'ben-teng' pada waktu kita memberitakan Injil kepadanya.

Karena itu harap diperhatikan bahwa buku ini tujuannya bukan untuk dibagikan kepada orang Roma Katolik, tetapi hanya untuk kalangan Kristen sendiri.

2) Menganggap semua agama sama dan semua agama itu baik.

Ini juga merupakan sikap yang salah karena:

a) Setiap agama bukan saja berbeda dengan agama yang lain, tetapi bah-kan juga bertentangan.

Misalnya:

Kristen (dan Katolik) mengakui Yesus sebagai Tuhan / Allah sendiri, tetapi agama-agama yang lain tidak.
Kristen mengakui Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat dan satu-satunya jalan keselamatan, tetapi agama-agama lain tidak.
Kristen menekankan keselamatan hanya melalui iman kepada Yesus, bukan karena perbuatan baik, tetapi agama-agama lain (termasuk Katolik) menekankan perbuatan baik.
Jelas bahwa orang yang menganggap semua agama sama, jelas tidak mengerti apa-apa soal agama-agama yang ia anggap sama itu!

b) Sekalipun mungkin semua agama mengajarkan umatnya untuk berbuat baik, tetapi:

konsep tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik berbeda antara agama yang satu dan agama yang lain.
bagaimana kalau umat beragama itu gagal melakukan apa yang baik? Dengan kata lain, bagaimana kalau mereka berbuat dosa? Hanya dalam Kristen ada penebusan dosa melalui pengorbanan Yesus Kristus, Allah yang telah menjadi manusia, dan mati di salib untuk menebus dosa umat manusia! Tidak ada agama lain yang mem-punyai penebus dosa / pembayar hutang dosa!
Tujuan belajar perbandingan agama / aliran:

1. Bukan supaya kita menjadi sombong, atau supaya kita bisa mengejek atau menghina orang yang beragama / beraliran lain, atau supaya kita menang kalau berdebat dengan mereka!

2. Untuk menguatkan iman kita sendiri.

Dalam belajar tentang agama / aliran lain, kita harus mempelajari kesalahan mereka dan mempelajari bagaimana ajaran yang benar. Kalau kita hanya mengerti kesalahan mereka tetapi tidak mengerti bagaimana ajaran yang seharusnya / yang benar, maka ini tidak akan terlalu membawa manfaat bagi iman kita. Tetapi kalau kita juga mempelajari bagaimana ajaran yang benar / seharusnya, maka ini akan menguatkan iman kita.

3. Untuk membawa mereka kepada Kristus.

Selama kita masih beranggapan bahwa semua agama adalah sama / semua agama itu baik, atau selama kita tidak mengetahui kesalahan dari orang yang beragama lain itu, maka kita tidak akan memberitakan Injil kepada mereka. Tetapi kalau kita sudah tahu perbedaan dan kesalahannya, maka kita akan mempunyai motivasi untuk memberitakan Injil kepada mereka.

Khususnya dalam persoalan Roma Katolik, ada banyak orang kristen beranggapan bahwa Roma Katolik itu sama dengan Kristen, dan karena itu tidak perlu diinjili.

Jadi, kalau saudara sudah mempelajari buku ini dan mengerti kesalahan ajaran Roma Katolik, dan saudara tidak berusaha menginjili orang Roma Katolik, maka ada sesuatu yang tidak beres dalam kerohanian saudara! Mungkin saudarapun adalah orang yang belum diselamatkan!

I) Istilah Roma Katolik:

1) Istilah 'Katolik' sebetulnya bukan monopoli golongan Roma Katolik, kare-na istilah 'Katolik' sebetulnya berarti 'universal' atau 'umum / am' [ban-dingkan dengan kalimat dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli yang berbunyi 'Gereja yang kudus dan am', yang dalam terjemahan bahasa Inggrisnya berbunyi 'The Holy Catholic Church' (= Gereja Katolik yang kudus)].

2) Sebetulnya istilah 'Roma Katolik' merupakan suatu kontradiksi, karena kata 'Roma' menunjukkan tempat tertentu / lokal, sedangkan kata 'Kato- lik' berarti universal / umum / sedunia.

II) Sejarah singkat:

Ini perlu diketahui, karena banyak orang kristen yang mengira bahwa Roma Katolik ada lebih dulu dan kristen merupakan agama baru yang memberon-tak terhadap Roma Katolik. Karena itu, kalau orang kristen diserang oleh orang Katolik dengan cara ini, mereka tidak bisa menjawab.

1) Sejak jaman Perjanjian Baru orang-orang yang percaya kepada Kristus dan menggunakan Kitab Suci sebagai dasar hidup / kepercayaan, disebut Kristen (Kis 11:26).

Perhatikan bahwa Kristen sudah ada pada abad pertama, jauh sebelum Roma Katolik ada!

2) Mulai abad I orang-orang kristen dianiaya oleh orang-orang Yahudi yang menganggap Kristen sebagai suatu sekte yang sesat. Orang-orang kris-ten juga dianiaya oleh pihak pemerintah Romawi karena orang-orang kristen itu tidak mau menyembah kaisar.

Tetapi banyaknya penganiayaan ini justru menyebabkan kekristenan itu menjadi murni (tidak ada atau jarang ada orang kristen KTP), dan orang-orang kristen mempunyai iman yang kuat.

3) Pada awal abad ke 4, Constantine mulai tertarik pada kekristenan dan pada tahun 324 M, setelah ia menjadi kaisar atas seluruh wilayah ke-kaisaran Romawi, ia menjadikan kristen sebagai agama yang sah di seluruh wilayah kekaisaran Romawi.

4) Karena kristen dijadikan agama yang sah di seluruh kekaisaran Romawi, maka akibatnya banyak orang terpaksa masuk kristen, padahal hati mereka tidak kristen / tidak percaya kepada Yesus maupun Kitab Suci. Mereka ini lalu mulai membawa kekafiran mereka ke dalam gereja dan gereja yang kurang ketat dalam menjaga ajarannya, makin lama makin menyeleweng.

Contoh-contoh penyelewengan:

1. Doa untuk orang mati dan membuat tanda salib 300 M

2. Pemujaan terhadap malaikat dan orang suci 375 M

3. Penggunaan patung-patung 375 M

4. Permulaan pemuliaan Maria (istilah 'bunda Allah') 431 M

5. Doktrin tentang api pencucian 593 M

6. Penggunaan bahasa Latin dalam doa / kebaktian 600 M

7. Doa ditujukan kepada Maria, malaikat dan orang-orang suci 600 M

8. Gelar 'Paus' 607 M

9. Mencium kaki Paus 709 M

10. Penyembahan terhadap salib, patung dan relics 786 M

11. Penyembahan terhadap Santo Yusuf 890 M

12. Kanonisasi orang-orang suci yang mati 995 M

13. Hamba Tuhan tidak boleh menikah 1079 M

14. Doa Rosario 1090 M

15. Transubstantiation (doktrin tentang perjamuan kudus) 1215 M

16. Alkitab dilarang untuk orang awam 1229 M

17. Cawan Perjamuan Kudus dilarang untuk orang awam 1414 M

18. Api Pencucian ditetapkan sebagai dogma 1439 M

19. Doktrin tentang 7 sakramen diteguhkan 1439 M

20. Salam Maria 1508 M

21. Tradisi disetingkatkan dengan Alkitab 1545 M

22. Apocrypha dimasukkan ke dalam Kitab Suci 1546 M

23. Doktrin bahwa Maria lahir / dikandung dan hidup tanpa dosa 1854 M

24. Paus tidak bisa salah kata-katanya 1870 M

25. Kenaikan Maria ke surga 1950 M

26. Maria dinyatakan sebagai ibu gereja 1965 M

Catatan:

Ini hanya sekitar 60 % dari penyelewengan-penyelewengan yang ditulis-kan oleh Loraine Boettner dalam bukunya 'Roman Catholicism', pp 7-9.

5) Karena kota Roma adalah ibukota kekaisaran Romawi, maka bishop (= uskup) Roma makin lama makin kuat kedudukannya, dan pada tahun 445 M, Kaisar Valentinian memutuskan bahwa semua bishop harus tun-duk pada bishop Roma. Ini mengarah pada timbulnya Paus dan muncul-nya Roma sebagai pusat Roma Katolik.

6) Penyelewengan yang menjadi-jadi pada abad 16, akhirnya menimbulkan Reformasi oleh Martin Luther (1517) dan lalu disusul oleh Zwingli, John Calvin, dan John Knox.

Reformasi ini bertujuan untuk memanggil orang-orang untuk 'kembali pada Alkitab' (back to the bible).

Dari istilah / semboyan 'kembali pada Alkitab' ini sebetulnya sudah jelas bahwa orang kristen yang mempunyai jiwa reformasi, harus menganggap Roma Katolik sebagai kristen yang sudah menyimpang. Kalau tidak menyimpang, mengapa harus kembali pada Alkitab?

Kesimpulan:

Kristen Protestan bukanlah agama / ajaran baru yang memberontak dari Roma Katolik, tetapi ajaran yang kembali kepada kekristenan yang lama / mula-mula, yang sudah ada sejak abad pertama!

Seperti yang dikatakan oleh Loraine Boettner:

"Roman Catholics often attempts to represent Protestantism as something comparatively new, as having originated with Martin Luther and John Calvin in the sixteenth century. ... Protestantism as it emerged in the 16th century was not the beginning of something new, but a return to Bible Christianity and to the simplicity of the Apostolic church from which the Roman Church had long since departed" (= Orang Roma Katolik sering mencoba untuk menunjukkan / meng-gambarkan Protestanisme sebagai sesuatu yang baru, yang berasalmula dengan Martin Luther dan John Calvin di abad ke 16. ... Protestanisme yang muncul di abad ke 16 bukanlah permulaan dari sesuatu yang baru, tetapi pengembalian pada kekristenan Alkitab dan pada kesederhanaan gereja rasuli dari mana gereja Roma sudah sejak lama menyimpang) - 'Roman Catholicism', hal 1.

Ia melanjutkan lagi:

"Protestantism, therefore, was not a new religion, but a return to the faith of the early church. It was Christianity cleaned up, with all the rubbish that had collected during the Middle Age thrown out" (= Karena itu, protestanisme bukanlah suatu agama baru, tetapi suatu pengembalian pada iman dari gereja mula-mula. Itu adalah kekristenan yang dibersihkan, dengan semua sampah / kotoran yang terkumpul selama abad pertengahan dibuang) - 'Roman Catholicism', hal 12.

Untuk lebih jelasnya, lihatlah gambar di bawah ini (hal 5).

Kristen Protestan

Reformasi

1517

penyimpangan2 sehingga

menimbulkan Roma Katolik

Kristen mula2

III) Perbedaan dasar Katolik - Kristen Protestan:

Sebelum kita membahas perbedaan Roma Katolik dan Kristen Protestan, ada satu hal yang perlu diketahui. Loraine Boettener berkata bahwa ajaran dan praktek Roma Katolik di negara-negara dimana Katolik adalah golongan minoritas berbeda dengan Roma Katolik aslinya, atau dengan Roma Katolik di negara-negara dimana Roma Katolik merupakan golongan mayoritas, karena di negara-negara dimana mereka merupakan golongan minoritas mereka mengadakan kompromi-kompromi untuk menyesuaikan diri. Kalau kita mau melihat Roma Katolik yang sesungguhnya, kita harus melihatnya pada abad pertengahan, atau melihatnya sekarang di negara-negara seperti Spanyol, Portugal, Italia, Perancis, Irlandia Selatan dan Amerika Latin, dima-na mereka berkuasa dalam politik maupun gereja - 'Roman Catholicism', p 3.

Dengan mengingat satu hal itu, sekarang mari kita melihat perbedaan dasar antara Roma Katolik dengan Kristen Protestan.

A) Pandangan tentang Kitab Suci:

Secara teoritis, baik Roma Katolik maupun Kristen Protestan, memper-cayai bahwa Alkitab adalah Firman Allah, tetapi:

1) Dalam Kristen Protestan:

a) Alkitab adalah untuk semua orang. Orang kristen harus memiliki dan membaca Alkitab dengan rajin dan tekun!

b) Hanya Alkitab yang merupakan dasar hidup, iman dan gereja.

2) Dalam Roma Katolik:

a) Alkitab bukan untuk orang awam (ini bertentangan dengan Maz 1:1-2 Kis 17:11).

Bahwa dalam Roma Katolik orang awam memang dilarang untuk membaca, bahkan untuk memiliki Alkitab terlihat dari:

Keputusan Council of Valencia pada tahun 1229, yang berbunyi sebagai berikut:
"We prohibit also the permitting of the laity to have the books of the Old and New Testament, unless any one should wish, from a feeling of devotion, to have a psalter or breviary for divine service, or the hours of the blessed Mary. But we strictly forbid them to have the above-mentioned books in the vulgar tongue" (= Kami melarang juga pemberian ijin kepada orang awam untuk memiliki buku-buku Perjanjian Lama dan Baru, kecuali seseorang ingin, dari suatu perasaan untuk berbakti, untuk mempu-nyai kitab Mazmur atau buku doa Roma Katolik untuk kebaktian / pelayanan ilahi, atau saat-saat Maria yang terpuji. Tetapi kami dengan keras melarang mereka untuk memiliki buku-buku tersebut di atas dalam bahasa kasar) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 97.

Dari kata-kata ini jelas bahwa orang awam dilarang memiliki Alkitab. Yang boleh dimiliki hanyalah kitab Mazmur dan buku doa Roma Katolik, dan itupun tidak boleh dalam 'vulgar tongue / bahasa kasar', maksudnya buku-buku itu harus ada dalam bahasa Latin, yang jelas ada di luar jangkauan orang awam.

Penegasan larangan itu oleh Council of Trent dengan memberi-kan keputusan sebagai berikut:
"In as much as it is manifest, from experience, that if the Holy Bible, translated into the vulgar tongue, be indis-criminately allowed to everyone, the temerity of men will cause more evil than good to arise from it; it is, on this point, reffered to the judgment of the bishops, or inquisitors, who may, by the advice of the priest or confessor, permit the reading of the Bible translated into the vulgar tongue by Catholic authors, to those persons whose faith and piety, they apprehend, will be augmented, and not injured by it; and this permission they must have in writing" [= Karena jelas / nyata, dari pengalaman, bahwa kalau Alkitab Kudus, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa kasar (bahasa biasa yang non Latin) diijinkan secara sembarangan kepada semua orang, kesembronoan manusia akan menyebab-kan lebih banyak kejahatan dari pada kebaikan yang muncul dari padanya; maka pada titik ini diserahkan pada penghakiman dari uskup, atau pejabat Roma Katolik yang meneliti penyesatan, yang oleh nasehat dari imam / pastor atau confessor (= pastor yang diberi otoritas untuk menerima pengakuan dosa), boleh mengijinkan pembacaan Alkitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa kasar / biasa oleh pengarang Katolik, ke-pada orang-orang yang iman dan kesalehannya, menu-rut mereka, akan bertambah, dan bukannya dirusak oleh pembacaan itu; dan ijin itu harus mereka miliki secara tertulis] - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 97.

Kata-kata Liguori sebagai berikut:
"The Scriptures and books of Controversy may not be permitted in the vulgar tongue, as also they cannot be read without permission" (= Kitab Suci dan buku-buku Pertentangan / Perdebatan tidak boleh diijinkan dalam bahasa kasar / biasa, sebagaimana mereka juga tidak boleh dibaca tanpa ijin) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 98.

Kata-kata Paus Clement XI (tahun 1713) dalam Bull Unigenitus, yang berbunyi:
"We strictly forbid them (the laity) to have the books of the Old and New Testament in the vulgar tongue" [= Kami dengan keras melarang mereka (orang awam) untuk mempunyai buku-buku Perjanjian Lama dan Baru dalam bahasa kasar / biasa] - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 98.

Karena itu, kalau sekarang ada gereja Katolik / pastor yang menganjurkan jemaat biasa membaca Alkitab, sebetulnya itu adalah suatu penyimpangan dari ajaran Roma Katolik yang sesungguhnya!

Kalau ada orang yang berpendapat bahwa itu bukanlah suatu penyimpangan dari Roma Katolik, tetapi memang Roma Kato-liknya sudah diperbaiki / berubah, maka perlu diingat bahwa dalam Roma Katolik, tradisi (termasuk keputusan Council dan Paus) disetingkatkan dengan Firman Tuhan, sehingga tidak bisa berubah / diperbaiki!

Sebetulnya mengapa Roma Katolik melarang jemaatnya memiliki / membaca Alkitab? Loraine Boettner menjawab sebagai berikut:

"Rome simply does not like Bible study either for her priests or for her people, for they find too many things there that are not in accord with their church" [= Roma tidak menyenangi pemahaman Alkitab baik untuk imam / pastor maupun untuk jemaat, karena mereka men-dapatkan terlalu banyak hal di sana (dalam Alkitab) yang tidak cocok / sesuai dengan gereja mereka] - 'Roman Catholicism', hal 67-68.

b) Alkitab ditambahi dengan 'tradisi' (ini bertentangan dengan Ul 4:2 Wah 22:18-19).

1. Yang disebut 'tradisi' dalam ajaran Roma Katolik:

a. 12 kitab-kitab Apocrypha.

Ada 15 kitab Apocrypha yang ditambahkan kepada Alkitab oleh orang Roma Katolik, yaitu:

Kitab Esdras yang pertama.
Kitab Esdras yang kedua.
Tobit.
Yudit.
Tambahan-tambahan pada kitab Ester.
Kebijaksanaan Salomo.
Yesus bin Sirakh.
Barukh.
Surat dari nabi Yeremia.
Doa Azarya dan Lagu pujian ketiga pemuda.
Susana.
Bel dan naga.
Doa Manasye.
Kitab Makabe yang pertama.
Kitab Makabe yang kedua.
Catatan: Dalam Kitab Suci Roma Katolik bahasa Indonesia, no 10,11,12 dijadikan satu kitab, yaitu 'Tambahan-tambahan pada kitab Daniel'.

Tetapi 3 dari kitab-kitab Apocrypha ini akhirnya ditolak oleh Council of Trent, yaitu no 1, no 2 dan no 13, dan karena itu akhirnya hanya 12 kitab Apocrypha yang dimasukkan ke dalam Alkitab mereka.

Loraine Boettner mengatakan bahwa:

Kitab Esdras yang kedua ditolak karena di dalamnya ada penolakan terhadap doa untuk orang mati (2Esdras 7:105) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 80.
Sebetulnya ada lebih banyak lagi kitab-kitab Apocrypha yang lain, tetapi semua ini tidak pernah dimasukkan ke dalam Kitab Suci Roma Katolik. Mengapa? Loraine Boettner menjawab:
"The Council of Trent evidently selected only books that would help them in their controversy with the Reformers, and none of these gave promise of doing that" (= Council of Trent dengan jelas menyeleksi hanya buku-buku yang akan membantu mereka dalam pertentangan dengan para Reformator, dan tidak ada satupun dari buku-buku itu menjanjikan mereka untuk melakukan hal itu) - 'Roman Catholicism', hal 87.

Ke 12 kitab-kitab Apocrypha ini tebalnya lebih kurang dua per tiga Perjanjian Baru. Ini juga disebut dengan istilah Deutrokanonika (= kanon yang kedua).

Kristen Protestan menolak kitab-kitab Apocrypha ini dengan alasan:

Dalam Perjanjian Baru, ada kira-kira 260 kutipan lang-sung dari Perjanjian Lama, dan juga ada kira-kira 370 penggunaan bagian-bagian Perjanjian Lama yang tidak merupakan kutipan langsung. Ini menunjukkan bahwa baik Yesus maupun rasul-rasul mengakui otoritas Per-janjian Lama sebagai Firman Allah, dan mengguna-kannya sebagai dasar hidup, iman dan ajaran mereka. Tetapi baik Yesus maupun rasul-rasul tidak pernah me-ngutip dari kitab-kitab Apocrypha sebagai dasar ajaran mereka, padahal kitab-kitab Apocrypha itu sudah ada / beredar pada jaman Tuhan Yesus hidup di dunia ini. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui kitab-kitab Apocrypha itu sebagai Firman Allah!
Penulis kitab-kitab Apocrypha itu sendiri tidak menunjuk-kan dirinya sebagai penulis Firman Tuhan yang diberi-kan Allah kepada manusia.
Untuk itu bandingkan Wah 22:18-19 yang terletak pada akhir Kitab Suci / Perjanjian Baru dengan 2Makabe 15:37b-38 yang terletak pada akhir dari kitab-kitab Deu-trokanonika:

Wah 22:18-19 berbunyi:

"Aku bersaksi kepada setiap orang yang mende-ngar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: Jika seorang menambahkan sesuatu kepada per-kataan-perkataan ini, maka Allah akan menam-bahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perka-taan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus seperti yang tertulis di dalam kitab ini".

Dari Wah 22:18-19 ini terlihat dengan jelas otoritas dari tulisan rasul Yohanes ini sebagai Firman Tuhan yang tidak boleh ditambahi ataupun dikurangi.

Sekarang bandingkan dengan 2Makabe 15:37b-38 yang berbunyi:

"Maka aku sendiripun mau mengakhiri kisah ini. Jika susunannya baik lagi tepat, maka itulah yang ku-kehendaki. Tetapi jika susunannya hanya sedang-sedang dan setengah-setengah saja, maka hanya itulah yang mungkin bagiku".

Ini sama sekali tidak menunjukkan orang yang menu-liskan Firman Tuhan di bawah pengilhaman Roh Kudus! Perhatikan kata-kata 'kukehendaki' dan 'bagiku'. Bagai-mana kita bisa mempercayai otoritas tulisan seperti ini, sedangkan penulisnya sendiripun tidak yakin akan ke-benaran tulisannya!

Hal yang mirip dengan itu terdapat dalam Kata Pengan-tar dari 'Yesus bin Sirakh' yang mengandung kalimat sebagai berikut:

"Maka para pembaca dipersilakan mengadakan pembacaan karangan ini dengan rela hati dan penuh minat, lagi pula menaruh kemurahan hati, andaikata kami sendiri, meskipun sedapat-dapat-nya mengusahakan terjemahannya, kurang teliti menyalin beberapa kalimat".

Dalam kitab-kitab Apocrypha itu ada kesalahan-kesa-lahan, seperti:
Yudit 1:1,7 menyebut Nebukadnezar sebagai raja Asyur di Niniwe, sedangkan kita tahu bahwa sebetul-nya Nebukadnezar adalah raja Babilonia (Daniel 4:4-6,30).
Tobit 5:13 menceritakan tentang seorang malaikat yang bernama Rafael, yang berdusta dengan mem-perkenalkan dirinya sebagai 'Azarya bin Ananias', atau 'Azarya anak laki-laki dari Ananias'.
Bagaimana mungkin kitab-kitab yang mengandung kesalahan seperti itu bisa disetingkatkan dengan Kitab Suci / Firman Tuhan?

Dalam kitab-kitab Apocrypha ada doktrin sesat 'salvation by works' (= keselamatan karena perbuatan baik), se-perti:
Tobit 12:9 berbunyi: "Memang sedekah melepas-kan dari maut dan menghapus setiap dosa".
Tobit 4:10 berbunyi: "Memang sedekah melepas-kan dari maut dan tidak membiarkan orang ma-suk ke dalam kegelapan".
Tobit 14:10-11a berbunyi: "Nak, ingatlah kepada apa yang telah diperbuat Nadab kepada bapa pengasuhnya, yaitu Ahikar. Bukankah Ahikar hidup-hidup diturunkan ke bagian bawah bumi? Tetapi Allah telah membalas kelaliman Nadab ke atas kepalanya sendiri. Ahikar keluar menuju cahaya, sedangkan Nadab turun ke kegelapan kekal, oleh karena ia telah berusaha membunuh Ahikar. Karena melakukan kebajikan maka Ahikar luput dari jerat maut yang dipasang ba-ginya oleh Nadab. Sedangkan Nadab jatuh ke dalam jerat maut yang juga membinasakan-nya. Makanya anak-anakku, camkanlah apa yang dihasilkan oleh sedekah dan apa yang dihasilkan oleh kelaliman".
Sirakh 3:3a berbunyi: "Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa".
Doktrin sesat ini jelas bertentangan dengan Gal 2:16,21 dan Ef 2:8-9.

b. Tulisan bapa-bapa gereja.

Padahal tulisan-tulisan bapa-bapa gereja ini sering bertentangan satu sama lain, dan bahkan sering terjadi bahwa seorang bapa gereja berubah pandangan sehingga ia lalu menuliskan sesuatu yang bertentangan dengan tulisannya yang sebelumnya.

c. Keputusan sidang-sidang gereja (council).

d. Keputusan-keputusan Paus.

Lucunya, ada Paus-paus yang menentang kitab-kitab Apo-crypha, dan dengan demikian mereka bertentangan dengan Council of Trent yang memasukkan kitab-kitab itu ke dalam Alkitab. Loraine Boettner mengutip kata-kata Dr. Harris yang dalam bukunya yang berjudul 'Fundamental Protestant Doctrines', I, hal 4, berkata:

"Pope Gregory the Great declared that First Maccabees, an Apocryphal book, is not canonical. Cardinal Zomenes, in his polygot Bible just before the Council of Trent, excluded the Apocrypha and his work was approved by pope Leo X. Could these popes have been mistaken or not? If they were correct, the decision of the Council of Trent was wrong. If they were wrong where is a pope's infallibility as a teacher of doctrine?" (= Paus Gregory yang Agung menyatakan bahwa kitab Makabe yang pertama, suatu kitab Apocrypha, tidak termasuk kanon. Kardinal Zomenes, dalam Alkitab polygotnya persis sebelum Council of Trent, mengeluarkan / membuang Apocrypha dan pekerjaannya disetujui oleh Paus Leo X. Apakah Paus-paus ini bisa salah atau tidak? Jika mereka benar, keputusan Council of Trent salah. Jika mereka salah, dimana ketidakbersalahan Paus sebagai seorang pengajar doktrin?) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 83.

2. Sikap Roma Katolik terhadap tradisi-tradisi mereka:

a. Pada tahun 1545, sidang gereja di Trent menyatakan bahwa tradisi mempunyai otoritas yang sama dengan Kitab Suci, tapi harus ditafsirkan oleh gereja.

Ini menyebabkan ajaran mereka tidak bisa berubah. Jadi, kalaupun suatu waktu mereka menyadari bahwa ada kepu-tusan sidang gereja atau keputusan Paus yang ternyata salah, mereka tidak bisa mengubahnya. Bagaimana mung-kin menyatakan sesuatu, yang setingkat otoritasnya dengan Kitab Suci, sebagai sesuatu yang salah dan harus diralat?

b. Pada tahun 1546, sidang gereja di Trent memasukkan 12 kitab-kitab Apocrypha itu ke dalam Kitab Suci (karena itu maka disebut Deutrokanonika (= kanon yang kedua).

c. Tradisi ini digunakan untuk mempertahankan ajaran-ajaran mereka yang tidak punya dasar Kitab Suci (misalnya: api pencucian, keperawanan yang abadi dari Maria, kesucian Maria, kenaikan Maria ke sorga dengan tubuh jasmaninya, dsb).

Dan 'tradisi' ini justru jauh lebih berperan sebagai dasar dari ajaran-ajaran Roma Katolik, bahkan sebagian besar ajaran / dogma Roma Katolik tidak didasarkan pada Kitab Suci, tetapi pada tradisi!

Ini menyebabkan sekalipun Roma Katolik dan Kristen Pro-testan sama-sama menggunakan Kitab Suci, tetapi ajaran-nya bisa sangat berbeda / bertentangan.

3. Apa kata Tuhan Yesus / Kitab Suci tentang tradisi?

a. Dalam Mat 15:3,6,9 Tuhan Yesus menyerang tradisi yang diutamakan lebih dari Firman Allah.

Catatan:

Kata-kata 'adat istiadat nenek moyangmu' (ay 3,6) oleh NASB/NIV diterjemahkan: your tradition (= tradisimu).

b. Dalam Mat 5:21-48 Tuhan Yesus menyerang dan membetul-kan penafsiran ahli-ahli Taurat (yang sudah menjadi tradisi) tentang perjanjian Lama.

c. Dalam Kol 2:8 Paulus memperingatkan untuk tidak menuruti 'ajaran turun-temurun' [NASB: the tradition of men (= tradisi manusia); NIV: human tradition (= tradisi manusia)] yang tidak sesuai dengan Kristus.

4. Orang Kristen Protestan dan tradisi:

Orang Kristen Protestan juga mempunyai dan menggunakan tradisi, seperti:

a. Cerita tentang kematian Petrus.

Cerita ini tidak ada dalam Kitab Suci maupun sejarah, dan hanya diceritakan turun temurun dari mulut ke mulut.

Dikatakan bahwa suatu kali ada penganiayaan dan pem-bunuhan besar-besaran terhadap orang kristen di Yerusa-lem. Petrus lalu lari meninggalkan Yerusalem, tetapi di-tengah perjalanan Yesus menampakkan diri kepadanya dan bertanya: 'Mau kemana Petrus?'. Petrus menjawab: 'Tuhan, semua orang kristen dibunuhi. Kalau aku tidak lari, aku juga akan dibunuh dan gereja akan kehilangan pemimpin'. Yesus lalu berkata: 'Baiklah Petrus, larilah terus. Biarlah Aku yang pergi ke Yerusalem untuk disalibkan untuk keduakalinya'. Mendengar kata-kata Yesus ini Petrus menangis dan ber-kata: 'Tidak Tuhan, sudah cukup Engkau disalibkan satu kali untuk aku, biarlah sekarang aku yang disalibkan untuk engkau!'. Dan ia lari kembali ke Yerusalem, sehingga akhirnya ia ditangkap. Pada waktu ia mau disalibkan, ia berkata: 'Aku tidak layak mati seperti Tuhanku. Salibkan aku dengan kepala di bawah'. Dan akhirnya Petruspun mati syahid dengan disalibkan secara terbalik.

b. 12 Pengakuan Rasuli, Pengakuan Iman Nicea.

Tetapi dalam Kristen Protestan, tradisi-tradisi itu diletakkan di bawah Kitab Suci dan tradisi-tradisi itu tidak dianggap mutlak benar.

B) Pandangan tentang keselamatan:

Kristen Protestan:

Kita selamat hanya karena iman (SOLA FIDE / Only Faith (= hanya iman). Perbuatan baik sedikitpun tidak berperan dalam keselamatan kita!

Roma Katolik:

Seseorang selamat karena iman + perbuatan baik + gereja Roma Katolik.

Mereka memang menekankan perlunya iman. Tetapi bukan hanya iman, karena 'perbuatan baik' dan 'gereja Roma Katolik' punya andil dalam keselamatan seseorang.

Ini terlihat dari:

1) Ajaran Roma Katolik tentang dosa.

Roma Katolik mempercayai adanya venial sin (= dosa ringan) dan mortal sin (= dosa besar / mematikan).

Yang pertama mereka anggap sebagai dosa kecil / remeh, yang tidak diakuipun tidak apa-apa. Yang kedua mereka anggap sebagai dosa yang hebat, yang bisa menjatuhkan seseorang dari kasih karunia Allah / keselamatan.

Dengan demikian, kalau seseorang mau selamat ia harus menghin- dari mortal sin ini, dan ini menunjukkan bahwa usaha / ketaatan / per-buatan baik manusia berperan dalam keselamatan seseorang.

Catatan:

Berdasarkan ayat-ayat seperti Yoh 19:11 Luk 12:47-48 Ibr 10:28-29 maka terlihat dengan jelas akan adanya tingkat dosa. Tetapi Kitab Suci tidak pernah mengajarkan adanya:

Dosa yang begitu remeh sehingga tidak perlu diakui. Semua dosa upahnya adalah maut (Ro 6:23)!
Dosa yang begitu besar / hebat sehingga menghancurkan kese-lamatan kita! Bdk. Yes 1:18 1Yoh 1:9 1Yoh 2:1-2.
Ingat bahwa dalam Kristen Protestan, kita diselamatkan karena iman kepada Yesus, bukan karena perbuatan baik kita (Ef 2:8-9). Kalau kita jatuh ke dalam dosa, maka kita perlu ingat bahwa darah Kristus yang dicurahkan di atas kayu salib itu mempunyai kuasa lebih dari cukup untuk mengampuni dosa yang bagaimanapun besarnya!

2) Ajaran Roma Katolik tentang baptisan.

Roma Katolik beranggapan bahwa baptisan betul-betul melahirbaru-kan dan menyelamatkan seseorang, tetapi baptisan itu harus dilakukan di gereja Roma Katolik (ajaran Roma Katolik yang asli tidak mengakui gereja lain sebagai gereja yang benar!).

Ini menunjukkan bahwa usaha manusia (untuk dibaptis) dan juga gereja Katoliknya sendiri (dimana baptisan itu harus dilakukan), mem-punyai andil yang sangat vital / besar dalam keselamatan seseorang.

Untuk mengetahui yang mana yang benar, mari kita melihat pada Kitab Suci yang menunjukkan bahwa:

Penjahat yang bertobat / beriman pada saat terakhir hidupnya, tetap masuk surga sekalipun tidak pernah pergi ke gereja ataupun di baptis, dan bahkan hampir bisa dikatakan tidak pernah berbuat baik dalam sepanjang hidupnya (Luk 23:43).
Ef 2:8,9 Gal 2:16 Ro 3:24,27-28 menunjukkan bahwa kita selamat / dibenarkan hanya karena iman.
Gal 3:2,14 menunjukkan bahwa kita menerima Roh Kudus karena iman.
Kis 15:1-21 menunjukkan bahwa kita bisa selamat karena iman saja, bukan karena sunat atau ketaatan pada hukum-hukum Musa.
Dalam Yoh 19:30 Yesus berkata 'sudah selesai'. Ini menunjukkan bahwa keselamatan kita sudah Ia selesaikan, sehingga kita tak perlu berusaha apa-apa lagi! Kita hanya menerima keselamatan itu dengan iman!
KESIMPULAN:

Kita selamat hanya karena iman kepada Yesus Kristus. Perbuatan baik hanya merupakan bukti iman, dan kalau perbuatan baik itu tidak ada maka iman itu sebetulnya mati / tidak ada (Yak 2:17,26), tetapi bagaima-napun juga, perbuatan baik itu sama sekali tidak punya andil dalam keselamatan kita.

Illustrasi:

Orang sakit obat sembuh bisa berolah raga.

Orang berdosa iman selamat berbuat baik.

Keterangan:

Orang sakit bisa sembuh karena obat, bukan karena olah raga. Tetapi bukti bahwa ia sudah sembuh adalah bahwa ia bisa berolah raga kem-bali. Kalau seseorang mengaku sudah minum obat dan sudah sembuh tetapi tetap tidak bisa berolahraga, maka itu menunjukkan bahwa pe-ngakuannya dusta. Jadi sebetulnya ia belum sembuh, dan juga belum minum obat.

Analoginya: orang berdosa bisa selamat karena iman kepada Yesus Kristus, bukan karena berbuat baik. Tetapi bukti bahwa ia sudah selamat adalah bahwa ia lalu berbuat baik. Kalau seseorang mengaku sudah beriman kepada Yesus dan sudah selamat tetapi ia sama sekali tidak mempunyai perbuatan baik / ketaatan kepada Tuhan, maka itu me-nunjukkan bahwa pengakuannya itu dusta. Jadi sebetulnya ia belum selamat dan belum percaya dengan sungguh-sungguh.

http://www.golgothaministry.org/katolik/katolik_01.htm

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2560
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by Penyaran on Thu May 02, 2013 10:42 am

ROMA KATOLIK II

PAUS


I) Perkembangan ke-Paus-an:

a) Cyprian (pertengahan abad ke 3) berkata bahwa Bishops (= uskup- uskup) adalah pengganti rasul-rasul dan mempunyai otoritas yang sama dengan rasul-rasul.

b) Innocent I, bishop Roma (402-417 M), untuk pertama kalinya mengclaim bahwa bishop Roma lebih tinggi tingkatnya dari para bishop yang lain dan semua kontroversi / pertentangan harus diputuskan dengan restu / persetujuan bishop Roma.

c) Leo I, Bishop Roma (440-461 M), mengclaim bahwa dalam Mat 16:18, Petrus adalah batu karang di atas mana gereja didirikan; dan pengganti Petrus (bishop Roma) adalah ahli waris Petrus dan lebih tinggi tingkatnya dari bishops yang lain.

d) Kaisar Valentinian (445 M) mengeluarkan keputusan bahwa semua orang harus mengakui keulungan bishop Roma atas Gereja.

e) Gregory I yang juga disebut Gregory the Great (590-604 M) menjadi bia-rawan pertama yang menjadi bishop Roma.

f) Pada tahun 604 M, Kaisar Phocas memberi gelar 'Paus' kepada Gregory I, tetapi ditolak oleh Gregory I.

g) Pada tahun 607 M, Boniface III, pengganti kedua dari Gregory I, mene-rima gelar 'Paus' itu.

h) Paus Nicholas I (858-867 M) mendesak supaya Paus diberi otoritas atas Gereja dan pemerintah.

I) Pada tahun 1870 M, Vatican Council menyatakan bahwa Paus tidak bisa salah (infallible) kalau:

ia berbicara dari kursinya (EX CATHEDRA).
ia berbicara tentang iman dan moral.
Ia berbicara kepada gereja.
j) Pada tahun 1885, Paus Leo XIII menyatakan bahwa Paus adalah pengganti Allah Yang Maha Kuasa di bumi ini.

II) Hal-hal yang perlu dibahas tentang Paus:

A) Paus sebagai kepala gereja dan segala sesuatu:

Perhatikan kepercayaan Roma Katolik tentang Paus dalam New York Catechism di bawah ini:

"The pope takes place of Jesus Christ on earth ... By divine right the pope has supreme and full power in faith and morals over each and every pastor and his flock. He is the true vicar of Christ. He is the infallible ruler, the founder of dogmas, the author of and the judge of councils; the universal ruler of truth, the arbiter of the world, the supreme judge of heaven and earth, the judge of all, being judged by no one, God himself on earth" (= Paus menggantikan Yesus Kristus di bumi ... Dengan / oleh hak ilahi Paus mempunyai kuasa tertinggi dan penuh dalam iman dan moral atas setiap gembala dan domba gembalaannya. Ia adalah wakil yang benar / sejati dari Kristus. Ia adalah pemerintah / pemimpin yang tidak bisa salah, pendiri dari dogma-dogma, pengarang / sumber dan hakim dari sidang-sidang gereja, pemimpin kebenaran di seluruh dunia, penengah / wasit dunia ini, hakim tertinggi dari surga dan bumi, hakim dari semua, tidak dihakimi oleh siapapun, Allah sendiri di bumi ini) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 127.

Loraine Boettner lalu menambahkan:

"Thus the Roman Catholics holds that the pope, as the vicar of Christ on earth, is the ruler of the world, supreme not only over the Roman Church itself but over all kings, presidents, and civil rulers, indeed over all peoples and nations" [= Jadi orang Roma Katolik beranggapan bahwa Paus, sebagai wakil Kristus di bumi, adalah pemerintah dunia, mempunyai kedudukan / otoritas terting-gi bukan hanya atas gereja Roma (Katolik) sendiri tetapi atas semua raja, presiden, dan pemerintah sipil, bahkan atas semua orang dan bangsa ) - 'Roman Catholicism', hal 127-128.

Sanggahan kristen:

1) Satu-satunya kepala gereja adalah Tuhan Yesus sendiri (Ef 4:15) dan Ia tidak pernah memberikan jabatan itu kepada orang lain.

2) Kitab Suci tidak pernah mengatakan adanya hamba Tuhan atau bah-kan rasul yang superior / lebih tinggi dari yang lain.

Contoh:

Petrus pernah ditegur di depan umum dengan keras oleh Paulus (Gal 2:11-14). Padahal Roma Katolik mengakui Petrus sebagai bishop Roma / Paus yang pertama!
Paulus menyejajarkan dirinya dengan banyak orang:
dalam Fil 1:1 ia menyejajarkan dirinya dengan Timotius dengan menyebut dirinya dan Timotius sebagai 'hamba-hamba Kristus Yesus'.
dalam Fil 2:25 ia menyejajarkan dirinya dengan Epaphroditus dengan menyebutnya sebagai 'saudaraku', 'teman sekerjaku' dan 'teman seperjuanganku'.
dalam Fil 4:3 ia menyejajarkan dirinya dengan Sunsugos, Eudia dan Sintikhe, Klemens dll, dengan menyebut mereka sebagai 'temanku yang setia', dan 'kawan-kawanku sekerja'.
dalam Kol 1:7 ia menyejajarkan dirinya dengan Epafras dengan menyebutnya sebagai 'kawan pelayan'.
Sidang Yerusalem dalam Kis 15 menunjukkan bahwa tidak ada rasul yang superior / lebih tinggi dari yang lain, karena keputusan tidak didapatkan dari keputusan satu orang saja, tetapi didapatkan melalui perundingan / pertukaran pikiran para rasul dan penatua (Kis 15:6,7).
3) Kitab Suci mengajarkan adanya jabatan tua-tua / penatua / penilik jemaat dan diaken (1Tim 3:1-13 Tit 1:5-9), tetapi tidak pernah meng-ajarkan adanya jabatan Paus.

B) Petrus adalah bishop I dari Roma / Paus I:

Roma Katolik menafsirkan Mat 16:13-19, sebagai berikut:

'Batu karang' menunjuk kepada Petrus.
'Alam maut' menunjuk pada kuasa jahat.
'kunci' merupakan simbol otoritas. Jadi Petrus mempunyai hak / kuasa untuk menerima seseorang untuk masuk ke dalam surga / gereja dan / atau menolak seseorang untuk masuk ke dalam surga / gereja.
Mat 16:13-19 menunjukkan bahwa Petrus diangkat oleh Yesus menja-di Paus I.
Sanggahan kristen:

1) Exegesis / penafsiran dari Mat 16:13-19:

a) Kata 'Petrus' dalam bahasa Yunaninya adalah PETROS, yang ada dalam bentuk masculine (= laki-laki), dan artinya adalah 'batu kecil'.

Kata 'batu karang' dalam bahasa Yunaninya adalah PETRA, yang ada dalam bentuk feminine (= perempuan), dan artinya adalah batu besar (rock).

Tuhan Yesus tidak berkata bahwa Ia mendirikan gereja / jemaatnya di atas PETROS tetapi di atas PETRA. Yang dimaksud dengan PETRA adalah pengakuan Petrus pada Mat 16:16, yaitu pengaku-an bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.

b) 'Alam maut tidak akan menguasainya' (Mat 16:18b).

Roma Katolik menafsirkan bahwa:

'alam maut' menunjuk pada kuasa jahat.
kata 'nya' menunjuk kepada Petrus.
Jadi Roma Katolik mengatakan bahwa kalimat ini merupakan jaminan Tuhan Yesus bahwa kuasa jahat tidak akan menguasai Petrus.

Tetapi tafsiran ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat di bawah ini yang menunjukkan Petrus dikuasai (bukan dirasuk!) oleh kuasa jahat / setan:

Mat 16:22-23 dimana Petrus menghalangi Yesus pergi ke Yerusalem sehingga disebut oleh Yesus sebagai 'Iblis'.
Catatan: saya ragu-ragu apakah dalam Mat 16:22-23 ini Petrus memang dikuasai oleh setan. Alasannya: setan ingin mem-bunuh Yesus, sehingga agak aneh kalau ia menghalangi Yesus pergi ke Yerusalem.

Mat 26:69-75 dimana Petrus menyangkal Yesus sebanyak 3x.
Gal 2:11-14 dimana Petrus bersikap munafik.
Tafsiran yang benar:

Kata 'nya' menunjuk kepada Gereja. Jadi kalimat itu berarti bahwa Gereja tidak akan bisa hancur.

Catatan:

Ingat bahwa dalam theologia, kata 'Gereja' (dengan G huruf besar) menunjuk pada semua orang percaya di seluruh dunia, sedangkan kata 'gereja' (dengan g huruf kecil) menunjuk pada gereja lokal. Satu gereja lokal bisa saja hancur / tersesat, tetapi Gereja secara keseluruhan tidak mungkin bisa hancur / tersesat.

c) 'Kuasa mengikat dan melepaskan' (Mat 16:19).

Ingat bahwa kalimat ini tidak hanya dikatakan kepada Petrus saja tetapi juga kepada murid-murid lainnya (Mat 18:18).

Jadi jelas bahwa kuasa ini bukan berarti kuasa / hak untuk me-masukkan / menolak orang ke / dari surga. Hak seperti itu hanya ada pada Allah / Yesus Kristus (Wah 1:18 3:7).

Kalau demikian, apa arti kuasa yang diberikan kepada murid-murid Yesus itu? Itu adalah kuasa untuk menyatakan saja! Dalam memberitakan Injil, mereka menyatakan syarat-syarat untuk masuk surga berdasarkan Firman Allah, dan kalau ada orang yang menolak syarat-syarat itu maka mereka berhak menyatakan bahwa orang itu tidak akan diampuni dan tidak akan masuk surga. Seba-liknya kalau ada orang yang menerima syarat-syarat itu maka mereka berhak menyatakan bahwa orang itu sudah diampuni dan pasti akan masuk surga.

Kuasa seperti ini jelas juga ada pada orang kristen jaman ini.

2) Bagian-bagian lain dari Kitab Suci yang bertentangan dengan ajaran Roma Katolik dalam hal ini:

a) Ajaran Tuhan Yesus sendiri.

Yesus tidak pernah mengajar bahwa Petrus lebih besar dari rasul-rasul yang lain. Dalam Mark 9:33-35 dan Mark 10:35-44, pada waktu para murid meributkan siapa yang terbesar di antara mereka atau menginginkan menjadi yang terbesar (Mark 9:33-34 Mark 10:35-37), maka Yesus tidak mengatakan bahwa Petruslah yang terbesar, tetapi Ia berkata bahwa orang yang mau merendahkan dirinya dan menjadi pelayan / hamba bagi semua, dialah yang terbesar (Mark 9:35 Mark 10:43-45).

b) Ajaran Petrus sendiri.

Sekalipun Petrus menyebut dirinya sendiri sebagai rasul (1Pet 1:1), tetapi:

Dalam 1Pet 5:1 Petrus menyebut dirinya sebagai fellow elder (= teman / sesama penatua). Ini jelas merupakan sebutan yang menyejajarkan dirinya dengan para penatua yang lain.
Dalam 1Pet 5:2-3 Petrus melarang untuk memaksa / memerin-tah. Ini tentu berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para Paus dalam gereja Roma Katolik!
Dalam Kis 10:25-26, Petrus menolak penyembahan. Ini lagi- lagi berbeda dengan sikap para Paus yang menerima saja pada waktu jemaat Katolik mencium kakinya (tradisi penciuman kaki Paus dimulai oleh Paus Constantine pada tahun 709 Masehi).
c) Sikap Paulus terhadap Petrus:

pada waktu ia dipanggil untuk menjadi rasul / pemberita Injil, Paulus tidak bertanya atau meminta persetujuan Petrus (Gal 1:15-17).
Paulus menyejajarkan dirinya dengan Petrus, hanya saja tugas mereka berbeda, karena Petrus adalah rasul untuk orang ber-sunat / Yahudi sedangkan Paulus adalah rasul untuk orang tak bersunat / non Yahudi (Gal 2:7-10).
Paulus menyebut Yakobus lebih dulu dari Petrus (Gal 2:9).
dalam Gal 2:11-14, Paulus menegur Petrus di depan umum.
Semua ini jelas tidak menunjukkan bahwa Paulus menganggap Petrus sebagai Paus I yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan rasul-rasul yang lain.

d) Sikap rasul-rasul lain terhadap Petrus:

rasul-rasul mengutus Petrus (Kis 8:14). Ini sesuatu yang tidak mungkin terjadi kalau Petrus memang adalah Paus I yang mem-punyai derajat tertinggi dari semua rasul yang lain! Bagaimana mungkin orang yang memegang otoritas tertinggi bisa diutus oleh bawahannya?
dalam sidang di Yerusalem, Petrus berbicara setelah ada dis-kusi, dan yang menyampaikan hasil keputusan bukannya Pe-trus tetapi Yakobus (Kis 15).
Semua ini tidak menunjukkan Petrus sebagai Paus I, yang lebih tinggi kedudukannya daripada rasul-rasul yang lain.

3) Sejarah Kitab Suci menunjukkan bahwa Petrus tidak pernah pergi ke Roma.

Tradisi Katolik berkata bahwa Petrus menjabat sebagai bishop I Roma mulai 42-67 M dan mati syahid di Roma pada tahun 67 M.

Anehnya Kitab Suci tidak pernah menyinggung hal itu sedikitpun. Dalam Kitab Suci kata 'Roma' digunakan 9 x tetapi tidak pernah dihu-bungkan dengan Petrus:

Dalam surat Petrus juga tidak disebut apa-apa tentang hal itu.
Dalam Gal 2:7-8, dikatakan bahwa Petrus adalah rasul untuk orang Yahudi, ini tidak memungkinkan dia untuk menjadi bishop di Roma!
Surat Roma ditulis oleh Paulus kira-kira pada tahun 58 M (berarti termasuk diantara 'masa jabatan' Petrus, yang menurut gereja Roma Katolik berlangsung tahun 42-67 M), tetapi dalam Ro 1:7, Paulus hanya menujukan suratnya kepada 'kamu sekalian' dan ti-dak menyebut nama Petrus, juga dalam Ro 1:11-13, ia tidak minta ijin 'bishop Roma' itu untuk mengunjungi jemaatnya. Juga, apa gunanya Paulus pergi ke Roma kalau Petrus sudah di sana?
Paulus dipenjarakan di Roma selama 2 tahun (mulai 61 M; bdk. Kis 28:30) dan selama itu ia menulis beberapa suratnya, seperti: Efesus, Filipi, Kolose, Filemon. Dalam surat-surat itu ia menyebut nama banyak orang-orang yang bekerja dengan dia, tetapi tidak menyebut nama Petrus. Ini adalah sesuatu yang aneh, kalau Petrus menjadi bishop di Roma pada saat itu.
Surat 2Timotius ditulis oleh Paulus pada saat pemenjaraannya yang ke dua sesaat sebelum ia mati pada tahun 67 M (bdk. 2Tim 4:6-8). Dalam 2Tim 4:10-11, Paulus berkata bahwa semua meninggalkan dia kecuali Lukas. Dimana Petrus pada saat itu? Kalau ia sudah mati, mengapa Paulus tidak menyebut-nyebut kematian 'bishop I Roma' itu? Kalau pada saat itu Petrus masih hidup, bagaimana mungkin ia tidak mengunjungi / menyertai Paulus, sehingga Paulus berkata bahwa semua telah meninggal-kannya, kecuali Lukas?
Kesimpulan:

Petrus tidak pernah pergi ke Roma, apalagi menjadi bishop I di Roma!

C) Infallibility of the Pope:

Pada tahun 1870, sidang Vatican di Roma menyatakan bahwa Paus itu infallible (= tidak bisa salah) kalau ia berbicara:

1) EX CATHEDRA (= from the chair / dari kursinya), sebagai kepala gereja.

2) Ditujukan kepada seluruh gereja.

3) Tentang iman dan moral.

Karena kata-katanya itu infallible (= tidak bisa salah), maka kata-katanya itu irreformable (= tidak bisa diperbaiki / dibetulkan).

Jadi memang Roma Katolik sebetulnya tidak beranggapan bahwa semua kata-kata Paus itu infallible (= tidak bisa salah). Jadi misalnya Paus berbicara kepada pembantunya tentang hal makanan, maka itu tidak dianggap infallible.

Tetapi persoalannya adalah:

a) Pada waktu Paus berbicara, pada umumnya ia tidak mengatakan apakah kata-katanya termasuk EX CATHEDRA atau tidak.

b) Iman dan moral itu sangat luas, sehingga akhirnya hampir setiap per-nyataan Paus dianggap pasti benar.

Bantahan / serangan dari pihak kristen:

1) Kitab Suci tidak pernah mengatakan adanya orang yang infallible (= tidak bisa salah). Hanya Tuhan Yesus / Allah / Kitab Suci / Firman Tuhan sajalah yang infallible.

Petrus sendiri, yang dianggap orang Roma Katolik sebagai Paus I, sering berbicara secara salah, misalnya pada waktu ia menghalangi Yesus pergi ke Yerusalem (Mat 16:21-23), atau pada waktu ia menyombongkan dirinya dan menganggap dirinya pasti tidak akan menyangkal Yesus (Mat 26:31-35), atau pada waktu ia menyangkal Yesus sampai 3 x sambil mengutuk dan bersumpah (Mat 26:69-75 Mark 14:66-72).

2) Doktrin ini baru muncul hampir 18 abad setelah Kitab Suci selesai ditulis, dan ini menunjukkan bahwa memang doktrin ini tidak ada da-sar Kitab Sucinya. Kalau memang ada dalam Kitab Suci, mengapa membutuhkan hampir 18 abad untuk menemukan doktrin ini?

3) Pada tahun 1415 Council (= sidang gereja) of Constance memecat Paus John XXIII, dan pada tahun 1432 Council of Basle menyatakan bahwa 'Paus sekalipun harus tunduk kepada councils' (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 241). Hal-hal ini jelas bertentangan dengan doktrin yang menyatakan bahwa Paus itu infallible (= tidak bisa salah). Yang mana yang benar? Padahal pada tahun 1545 Council of Trent menyatakan bahwa tradisi (yang mencakup keputus-an council) mempunyai otoritas yang setingkat dengan Kitab Suci / Firman Tuhan.

4) Mulai tahun 1378 ada 2 Paus, yaitu:

Paus Urban VI (1378-1389).
Paus Clement VII (1378-1394).
Perpecahan yang ditandai oleh adanya 2 Paus itu terus berlangsung (masing-masing Paus punya penggantinya sendiri-sendiri) sampai pada tahun 1409 dimana Council di Pisa memecat kedua Paus yang ada saat itu dan mengangkat Paus yang baru yaitu Paus Alexander V (1409-1410). Tetapi ternyata kedua Paus lama yang sudah dipecat itu tidak mau turun tahta sehingga lalu ada 3 Paus. Keadaan ini terus berlangsung sampai tahun 1417 dimana Council of Constance me-mecat ketiga Paus yang ada dan mengangkat Paus baru, yaitu Paus Martin V (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 241-242).

Bagaimana mungkin peristiwa ini bisa cocok dengan doktrin infallibility of the Pope (= ketidakbersalahan Paus)?

Bandingkan juga sikap para Paus-paus yang begitu gila jabatan itu dengan Mark 10:35-45!

5) Sebelum tahun 1870 (tahun dimana doktrin tentang infallibility of the Pope ini muncul), ada suatu Catechism / Katekisasi yang disebut Keenan's A Doctrinal Catechism. Dalam catechism itu ada tanya jawab sebagai berikut:

Question / pertanyaan: Haruskah orang Katolik percaya bahwa Paus itu infallible?

Answer / jawab: Ini adalah penemuan Protestan, bukan ajaran Roma Katolik. Ajaran Paus, kecuali kalau itu diterima oleh semua bishops, tidak mengikat.

Tetapi pada tahun 1870, ketika doktrin doktrin infallibility of the Pope (= ketidakbersalahan Paus) itu keluar, bagian ini dihapus dari cate-chism itu secara diam-diam, tanpa penjelasan! - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 243.

6) Adalah suatu fakta bahwa para Paus sering bertentangan satu dengan yang lain.

Contoh:

a) Gregory I (590-604) menolak gelar 'Paus' dari kaisar Phocas, dan ia mengatakan bahwa orang-orang yang menggunakan gelar 'Uni-versal Bishop' adalah anti Kristus. Tetapi pada tahun 607, Boniface III menggunakan gelar 'Paus' itu, dan demikian juga Paus-paus sesudahnya (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 125,249).

b) Paus Hadrian II (867-872) menyatakan bahwa pernikahan sipil adalah sah, tetapi Paus Pius VII (1800-1823) menyatakan bahwa pernikahan sipil itu tidak sah (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 249).

c) Pada tahun 1590 Paus Sixtus V mengeluarkan edisi Latin Vulgate (Kitab Suci bahasa Latin), yang dinyatakannya sebagai edisi yang terakhir, dan ia melarang dengan ancaman kutukan bagi siapapun untuk mengeluarkan edisi yang baru, kecuali persis sama dengan edisi yang ia keluarkan. Tetapi ia lalu mati, dan para ahli theologia menemukan banyak kesalahan pada edisi Latin Vulgate yang ia keluarkan itu. Dua tahun setelah itu Paus Clement VIII menge-luarkan edisi Latin Vulgate yang baru, dan edisi inilah yang dipakai sampai sekarang (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 88).

d) Pada tahun 1773 Paus Clement XIV memberi pernyataan yang menekan golongan Jesuit, tetapi pada tahun 1814 Paus Pius VII memberi pernyataan yang memulihkan / mengangkat golongan Jesuit (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 250).

e) Paus Eugene IV (1431-1447) menghukum Joan of Arc dengan jalan dibakar hidup-hidup sebagai tukang sihir / dukun, tetapi pada tahun 1919 Paus Benedict XV menyatakan Joan of Arc sebagai orang suci (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 250).

f) Paus Sixtus V (1585-1590) menganjurkan pembacaan Kitab Suci, tetapi Paus Pius VII (1800-1823) dan banyak Paus yang lain me-ngutuk tindakan itu (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 250).

Catatan: ini jelas kutukan yang bertentangan dengan Kitab Suci, karena Kitab Suci justru menyuruh orang membaca dan mere-nungkan Kitab Suci (Bdk. Maz 1:1-2). Bagaimana mungkin kutukan yang tidak alkitabiah ini bisa infallible / tidak bisa salah?].

7) Paus-paus sering mengubah pandangannya.

Contoh:

a) Zozimus (417-418) mula-mula menyatakan Pelagius (ini orang sesat!) sebagai guru yang orthodox, tetapi Zozimus lalu mengubah pernyataannya atas desakan Agustinus (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 248).

b) Vigilinus (538-555) mula-mula tidak mau mengutuk guru-guru sesat pada waktu terjadi pertentangan tentang ajaran Monophysite (= ajaran yang mengatakan bahwa Yesus Kristus hanya mempu-nyai 1 hakekat, yang bersifat campuran ilahi - manusia) dan ia memboikot Council of Constantinopel (tahun 553). Tetapi setelah Council itu mengancam untuk mengucilkan dan mengutuknya, Vigilinus lalu tunduk kepada Council itu dan mengakui bahwa ia telah menjadi alat setan (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 248).

c) Bahkan Petrus yang diakui oleh orang Katolik sebagai Paus I, juga pernah berubah pandangan, seperti dalam Kis 10:34-35 (kalau mau jelas, bacalah seluruh Kis 10).

Kalau Paus memang infallible (= tidak bisa salah), maka tentu mereka juga tidak bisa berubah pandangan! Bahwa mereka bisa berubah pandangan, menunjukkan secara jelas bahwa mereka bisa salah dan sering salah!

8) Para Paus sering mempunyai kepercayaan / mengajarkan ajaran yang salah, bahkan sesat, karena tidak ada dalam Kitab Suci, atau bahkan bertentangan dengan Kitab Suci.

Contoh:

a) Callistus (221-227) adalah seorang Unitarian (= orang yang meng-anut kepercayaan bahwa Allah itu tunggal secara mutlak) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 248.

Ini tentu bertentangan dengan semua orang kristen yang alkitabiah yang termasuk Trinitarian (= orang yang percaya kepada Allah Tri-tunggal).

b) Liberius (358) menganut ajaran Arianism, padahal ajaran Arianism ini adalah ajaran sesat yang:

menganggap bahwa Yesus dan Roh Kudus adalah ciptaan, bukan Allah!
menjadi dasar dari ajaran Saksi Yehovah jaman sekarang.
Disamping itu Liberius ini juga menentang dan mengutuk Atha-nasius (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 248), padahal Athanasius sampai saat ini diakui oleh gereja yang alkitabiah sebagai orang yang mati-matian mempertahankan doktrin Allah Tritunggal yang benar.

c) Paus Honorius (625-638) mengajarkan ajaran Monothelitism (= ajaran sesat yang mengatakan bahwa Kristus hanya mempunyai satu kehendak yang bersifat ilahi - manusia). Paus ini akhirnya dikutuk dan dikucilkan (excommunication by name) oleh Council of Constantinople pada tahun 680 (Loraine Boettner, 'Roman Catholi-cism', hal 248-249.

d) Pada tahun 593, Gregory I mengajarkan doktrin tentang api pen-cucian, padahal doktrin ini sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci

e) Pada tahun 1079, Paus Gregory VII mengajarkan bahwa hamba Tuhan harus hidup celibat (tidak menikah). Ini jelas bertentangan Kitab Suci yang mengijinkan imam untuk menikah (Im 21:1-15). Bahkan Kitab Suci menyatakan bahwa Petrus ('sang Paus I') dan rasul-rasul juga mempunyai istri (Mark 1:30 1Kor 9:5).

f) Pada tahun 1854, Paus Pius IX mengajarkan doktrin Immaculate Conception (doktrin yang mengatakan bahwa Maria dikandung, lahir dan hidup tanpa dosa sedikitpun).

g) Pada tahun 1950, Paus Pius XII mengajarkan kenaikan Maria ke surga.

h) Pada tahun 1965, Paus Paulus VI mengajarkan bahwa Maria ada-lah Ibu / Bunda gereja.

9) Paus mengajarkan hal yang bertentangan dengan fakta.

Paus Paulus V (1605-1621) dan Paus Urban VII (1623-1644) menge-cam Galileo karena teori Galileo yang mengatakan bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi tetapi bumilah yang mengelilingi ma-tahari. Galileo dipenjara dan disiksa karena teorinya dianggap berten-tangan dengan Firman Tuhan, padahal sekarang teori Galileo ini terbukti benar! - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 250.

10) Banyak Paus hidup tidak bermoral.

Contoh:

a) Paus Sergius III mempunyai anak haram dari Marioza dan anak itu akhirnya menjadi Paus John XI (931-936).

b) Paus John XII (956-964) melakukan pembunuhan, sumpah palsu, pelanggaran terhadap hal-hal yang dianggap keramat, perzinahan, dan incest (= perzinahan dalam keluarga). Ia akhirnya dipecat oleh Kaisar Otto.

c) Paus John XXIII (1410-1415) menjual pengampunan gereja dan melakukan percabulan sehingga akhirnya dipecat oleh Council of Constance.

d) Paus Alexander VI (1492-1503) mempunyai 6 anak haram, 2 orang di antaranya lahir setelah ia menjadi Paus!

(Semua ini saya ambil dari buku Loraine Boettner, 'Roman Catholi-cism', hal 250-251).

Sekalipun Roma Katolik tidak pernah mengatakan bahwa Paus itu infallible dalam hidupnya, tetapi rasanya sukar terbayangkan bahwa para Paus yang hidupnya begitu brengsek bisa infallible kata-katanya.

Memang perlu diakui bahwa juga ada banyak pendeta Protestan yang melakukan hal-hal yang sangat berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa Protestan tidak pernah mengclaim bahwa pendeta itu infallible baik dalam kata-katanya maupun hidupnya!

11) Banyak Paus yang tidak injili / Alkitabiah.

Khotbah-khotbah mereka (yang jaman ini sering bisa saudara baca dalam surat kabar pada Natal maupun Paskah / Jum'at Agung dsb) hanya berbau politik, sosial, ekonomi, tetapi tidak ada Injil di dalamnya (mereka tidak mendorong orang untuk datang kepada Yesus). Ini jelas tidak sesuai dengan Mat 28:19.

12) Ada beberapa Paus yang menyatakan bahwa dirinya tidak infallible, yaitu: Vigilius, Innocent III, Clement IV, Gregory XI, Hadrian VI, Paul IV (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 252)

Bagaimana mungkin Paus, yang oleh gereja Roma Katolik dinyatakan infallible itu, bisa menyatakan bahwa dirinya tidak infallible?

13) Kalau Paus itu memang infallible, mengapa tidak ada Paus yang per-nah membuat tafsiran tentang Kitab Suci? Bahkan exposisi dari satu pasal Kitab Sucipun tidak pernah ada! Kalau memang ia bisa ber-bicara / mengajar secara infallible (= tidak bisa salah), maka seha-rusnya ia membuat buku tafsiran tentang Kitab Suci!

http://www.golgothaministry.org/katolik/katolik_02.htm

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2560
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by Penyaran on Thu May 02, 2013 10:44 am

ROMA KATOLIK III

MARIA


I) Perkembangan Mariologi:

Justin Martyr (mati pada tahun 165 M) membandingkan Maria dengan Hawa.
Ireneaus (mati pada tahun 202 M) berkata bahwa ketidaktaatan perawan Hawa ditebus oleh ketaatan perawan Maria.
Sampai abad ke 4, tidak / belum ada pemujaan terhadap Maria, tetapi pada tahun 324 M, Kaisar Constantine menjadikan kristen sebagai agama negara. Orang-orang kafir lalu terpaksa menjadi kristen dan mereka mem-bawa praktek-praktek kafir masuk ke dalam gereja, termasuk penyem-bahan berhala. Ini menyebabkan dalam gereja mulai ada patung Maria yang disembah.
Mulai abad ke 5, Maria makin populer. Ia dilukis, gereja dinamakan 'Maria', dan Maria mulai menjadi perantara dalam doa.
Pada tahun 431 M, Council of Ephesus mempertahankan istilah 'Bunda Allah'.
Pada saat itu ada suatu golongan sesat yang disebut Nestorianism, yang berpendapat bahwa Kristus itu terdiri dari 2 pribadi. Mereka menolak istilah 'Bunda Allah' (Yunani: THEOTOKOS) bagi Maria, karena mereka berpendapat bahwa Maria bukan melahirkan Allah, tetapi hanya mela-hirkan manusia biasa yang lalu menjadi 'tempat' dimana Allah diam / tinggal. Mereka lalu mengusulkan istilah 'Bunda Kristus' (Yunani: CHRISTOTOKOS) bagi Maria.

Council of Ephesus secara benar mempertahankan istilah 'Bunda Allah', karena satu pribadi yang dilahirkan oleh Maria itu bukan hanya betul-betul manusia, tetapi juga betul-betul adalah Allah. Jadi perlu dicamkan bahwa Council of Ephesus mempertahankan istilah 'Bunda Allah' untuk Maria, dengan tujuan untuk menekankan keilahian Yesus! Tetapi akhir-nya istilah 'Bunda Allah' itu lalu disalahgunakan untuk meninggikan / mempermuliakan Maria.

Mulai tahun 600 M, Maria bukan lagi sekedar menjadi pengantara dalam doa, tetapi doa mulai dinaikkan kepada Maria.
Pada tahun 1508, doa Salam Maria (Ave Maria / Hail Mary) mulai keluar.
Bunyi doanya:

"Hail Mary, full of grace, the Lord is with thee; blessed art thou amongst women, and blessed is the fruit of thy womb, Jesus. Holy Mary, mother of God, pray for us sinners, now and at the hour of our death. Amen." (= Salam Maria, penuh kasih karunia, Tuhan beserta denganmu; berbahagialah engkau di antara wanita, dan diberkatilah buah kandunganmu, Yesus. Maria yang kudus, bunda Allah, berdoalah untuk kami orang-orang berdosa, sekarang dan pada saat kematian kami. Amin).

Tahun 1854, keluar kepercayaan bahwa Maria lahir tanpa dosa dan bahkan hidup suci sepanjang hidupnya (doktrin Immaculate Conception).
Paus Benedict XV (1914-1922) & Paus Pius XI (1923) mengatakan bahwa pada waktu Tuhan Yesus menderita dan mati, Maria juga menderita, dan karena itu, bersama-sama dengan Tuhan Yesus, Maria adalah penebus dosa [Kalau Yesus adalah Redeemer (= Penebus), maka Maria adalah Co-redeemer].
Pada tahun 1950, keluar pernyataan bahwa Maria naik ke surga dengan tubuh jasmaninya.
Pada tahun 1965, Maria dinyatakan sebagai Ibu Gereja.
II) Pembahasan hal-hal yang salah tentang Maria:

A) Maria menggantikan atau menggeser tempat Allah / Yesus.

1) Maria dijadikan obyek doa.

Secara rata-rata orang Katolik berdoa kepada Allah / Yesus dan kepada Maria dengan perbandingan 1 di banding 10! Juga dalam doa Rosario, ada 10 doa yang dinaikkan kepada Maria untuk setiap 1 doa yang dinaikkan kepada Allah. Mengapa demikian? Karena orang Ka-tolik menganggap bahwa dengan berdoa kepada Maria, doa mereka lebih cepat dikabulkan, daripada kalau mereka berdoa kepada Allah / Yesus.

Bahwa orang Katolik memang berdoa kepada Maria terbukti dari ada-nya doa Salam Maria. Dan bahwa mereka berpendapat bahwa doa kepada Maria lebih cepat dikabulkan dari pada doa kepada Allah / Yesus, terbukti dari kutipan-kutipan di bawah ini, yang diambil dari buku yang berjudul 'The glories of Mary' (= kemuliaan Maria), tulisan Bishop Alphonse de Liguori (perlu saudara ketahui bahwa Bishop Liguori ini dijadikan sebagai orang suci oleh gereja Roma Katolik!):

"Many things ... are asked from God, and are not granted; they are asked from Mary and are obtained" (= banyak hal ... diminta dari Allah, dan tidak dikabulkan; hal-hal itu diminta dari Maria dan didapatkan) - 'The Glories of Mary', hal 139.
"We often more quickly obtain what we ask by calling on the name of Mary than by invoking that of Jesus" (= kita sering mendapatkan dengan lebih cepat apa yang kita minta dengan memanggil nama Maria dari pada dengan memintanya dalam nama Yesus) - 'The Glories of Mary', hal 147.
Sanggahan kristen:

a) Kitab Suci tidak pernah mengajar kita untuk berdoa kepada Maria. Rasul-rasul juga tidak pernah berdoa / meminta apapun kepada Maria. Doa hanya boleh ditujukan kepada Allah.

b) Maria harus menjadi Allah yang maha tahu untuk bisa mendengar doa-doa orang Katolik yang begitu banyak. Dan ia harus menjadi Allah yang maha kuasa untuk bisa mengabulkan doa-doa yang banyak itu.

c) Kalaupun ada doa kepada Maria yang dikabulkan, pengabulan doa itu pasti datang dari setan. Setan bisa mengabulkan doa yang salah, supaya manusia terus berdoa dengan cara yang salah itu. Jangan lupa bahwa juga ada banyak orang berdoa kepada patung berhala dan mendapatkan pengabulan doa! Jadi, hanya karena ada pengabulan doa, tidak berarti bahwa doa itu benar!

2) Maria dianggap sebagai pengantara antara Allah dan Manusia.

Loraine Boettner, dalam bukunya yang berjudul 'Roman Catholicism', mengatakan bahwa Roma (Katolik) mengajarkan:

"He (Jesus) came to us through Mary, and we must go to Him through her" [= Ia (Yesus) datang kepada kita melalui Maria, dan kita harus pergi kepada Dia melalui Maria] - 'Roman Catholicism', hal 134.
"Who would go to 'the Child', even to 'the Holy Child', for salvation when His mother seems easier of access and more responsive?" (= siapa yang mau pergi kepada 'Anak', bahkan kepada 'Anak yang Kudus' untuk keselamatan kalau ibuNya kelihatan lebih mudah untuk ditemui dan lebih tanggap?] - 'Roman Catholicism', hal 134-135.
Bahwa Roma Katolik memang mengajarkan / mempercayai hal ini, terbukti dari kutipan di bawah ini:

"And she is truly a mediatress of peace between sinners and God. Sinners receive pardon by ... Mary alone" [= Dan ia (Maria) betul-betul merupakan pengantara perdamaian an-tara orang-orang berdosa dan Allah. Orang-orang berdosa menerima pengampunan oleh ... Maria saja] - 'The Glories of Mary', hal 82-83.

Sanggahan Kristen:

a) 1Tim 2:5 dan 1Yoh 2:1-2, menunjukkan bahwa Tuhan Yesus ada-lah satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia. Karena itu jelas bahwa Maria bukanlah pengantara! Kalau Maria adalah pengantara, maka kedua ayat tersebut adalah salah!

b) Hanya Yesuslah yang bisa menjadi pengantara antara Allah dan manusia, karena Dialah satu-satunya Pribadi yang adalah sung-guh-sungguh Allah dan sungguh-sunggguh manusia.

c) Seorang pengantara / imam harus mempunyai korban (sacrifice). Yesus mengorbankan nyawaNya, sehingga Ia bisa menjadi peng-antara / Imam Besar (Ibr 9:11-15). Sebaliknya, Maria tidak punya korban / sacrifice apapun.

d) Kalau karena Yesus datang kepada kita melalui Maria, maka kita harus datang kepada Yesus melalui Maria, maka argumentasi ini bisa dilanjutkan sebagai berikut: karena Maria datang kepada kita melalui orang tuanya, kitapun harus datang kepada Maria melalui orang tua Maria. Dan karena orang tua Maria datang kepada kita melalui kakek dan nenek Maria, kitapun harus datang kepada orang tua Maria melalui kakek dan nenek Maria. Kalau ini diterus-kan maka akhirnya untuk datang kepada Yesus kita harus melalui Adam dan Hawa! Ini adalah suatu konsekwensi yang pasti tidak akan diterima oleh orang Katolik sekalipun!

3) Maria dianggap sebagai pintu gerbang ke surga / jalan keselamatan, bahkan sebagai satu-satunya pintu gerbang ke surga / jalan kese-lamatan. Bahwa ini memang merupakan ajaran Roma Katolik, terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini:

"Mary is called ... the gate of heaven because no one can enter that blessed kingdom without passing through her" (= Maria disebut ... pintu gerbang surga karena tidak seorang-pun bisa memasuki kerajaan yang mulia itu tanpa melewati dia) - 'The Glories of Mary', hal 160.
"The way of salvation is open to none otherwise than through Mary. ... Our salvation is in the hands of Mary ... He who is protected by Mary will be saved, he who is not will be lost" (= jalan keselamatan tidak terbuka bagi siapapun selain melalui Maria. ... Keselamatan kita ada dalam tangan Maria ... Ia yang dilindungi oleh Maria akan selamat, ia yang tidak dilindungi oleh Maria akan terhilang) - 'The Glories of Mary', hal 169-170.
Sanggahan Kristen:

a) Yoh 10:1,7,9 Yoh 14:6 Kis 4:12 menunjukkan bahwa Yesus ada-lah satu-satunya jalan ke surga / jalan keselamatan. Kalau Maria adalah jalan keselamatan, apalagi kalau Maria adalah satu-satu-nya jalan keselamatan, maka ketiga ayat tersebut di atas adalah salah!

b) Kalau memang Maria adalah pintu gerbang ke surga / jalan keselamatan, untuk apa Yesus harus datang ke dunia dan mati di salib? Bandingkan dengan Gal 2:21 yang menyatakan bahwa se-andainya ada jalan keselamatan melalui ketaatan pada hukum Taurat, maka kematian Kristus adalah sia-sia! Analoginya, sean-dainya melalui Maria orang berdosa bisa mendapatkan keselamat-an, maka kedatangan dan kematian Kristus juga sia- sia!

4) Maria dianggap mempunyai kuasa di bumi dan di surga.

Ajaran ini terlihat dari kutipan di bawah ini:

"All power is given to thee in heaven and on earth so that at the command of Mary all obey - even God ... and thus ... God has placed the whole Church ... under the domination of Mary" (= segala kuasa diberikan kepadamu di surga dan di bumi sehingga terhadap perintah Maria semua taat - bahkan Allah ... dan demikianlah ... Allah telah meletakkan seluruh Gereja di bawah kekuasaan Maria) - 'The Glories of Mary', hal 180-181.

Sanggahan Kristen:

a) Kuasa semacam itu hanya diberikan kepada Yesus (Mat 28:18).

Perhatikan bahwa bagian pertama dari kutipan di atas diambil dari Mat 28:18 itu, tetapi lalu dialihkan dari Yesus kepada Maria.

b) Pemberian kuasa semacam itu kepada Maria, menjadikan Maria sebagai Allah!

5) Maria dijadikan obyek penyembahan.

Secara resmi, Gereja Roma Katolik menyangkal bahwa mereka me-nyembah Maria. Untuk menyangkal penyembahan terhadap Maria, mereka membedakan adanya 3 macam penyembahan / worship:

a) LATRIA: Ini adalah penyembahan yang tertinggi, dan ini hanya ditujukan kepada Allah.

b) DULIA: Ini adalah pemujaan terhadap malaikat / orang-orang suci.

c) HYPER-DULIA: Ini adalah pemujaan yang lebih tinggi dari DULIA, dan ini ditujukan kepada Maria.

Tetapi dalam prakteknya, orang-orang awam Roma Katolik tidak tahu apa-apa tentang hal ini.

Sanggahan Kristen:

a) Kitab Suci tidak pernah mengajarkan adanya 3 macam penyem-bahan seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik itu. Jadi disini lagi-lagi terlihat adanya ajaran Roma Katolik yang sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci!

b) Sekalipun mereka tidak menamakan 'penyembahan', tetapi mereka berdoa kepada Maria, berlutut di bawah patung Maria, menyanyi memuji Maria. Semua itu jelas tidak bisa disebut sebagai peng-hormatan, tetapi harus dianggap sebagai penyembahan.

c) Kitab Suci jelas melarang penyembahan pada manusia maupun malaikat (Mat 4:10 Kis 10:25,26 Kis 12:20-23 Kis 14:14,15 Wah 19:10 Wah 22:8,9).

Perhatikan bahwa dalam Kis 10:25-26, Kornelius jelas bukan me-nyembah Petrus karena menganggapnya sebagai Allah! Ia me-nyembah Petrus sebagai penghormatan kepada Petrus sebagai rasul / hamba Tuhan. Tetapi sekalipun demikian, Petrus tetap me-nolak sembah itu, karena sebagai manusia biasa ia tidak layak menerima sembah, dan sembah hanya boleh diberikan kepada Allah!

Demikian juga dalam Wah 19:10 dan Wah 22:8-9, pada waktu ra-sul Yohanes menyembah malaikat, rasanya tidak mungkin ia menyembah malaikat itu karena menganggapnya sebagai Allah. Mungkin ia menyembahnya hanya sebagai pernghormatan, atau sekedar karena takutnya melihat malaikat, tetapi toh malaikat itu menolak sembah itu dan mengalihkannya kepada Allah!

c) Dalam Mat 2:11, orang-orang Majus menyembah Yesus saja, bu-kan 'Maria' ataupun 'Yesus dan Maria'.

Perhatikan komentar dari Charles Haddon Spurgeon tentang ba- gian ini:

The old Reformers used to say, "Here is a bone that sticks in the throat of the Romanists, and they can neither get it up nor down, for it does not say, 'They saw Mary and the young child', the young child is put first, they came to see him; and it does not say that 'they fell down and worshipped them'" If ever there was an opportunity for Mariolatry, surely this was the one, when the child was as yet newly-born, and depended so much upon his mother. Why did not the magi say "Ave Maria!" and commence at once their Mariolatry? Ay, but these were wise men; they were not priests from Rome, else might they have done it [= Tokoh-tokoh Reformasi kuno sering berkata: "Ini adalah tulang yang menyangkut di tenggorokan orang Roma (Katolik), dan mereka tidak dapat mengeluarkannya ataupun menelannya, karena ayat itu tidak berkata: 'Mereka melihat Maria dan bayi itu', bayi itu disebut lebih dulu, mereka datang untuk melihat dia; dan ayat itu tidak berkata bahwa 'mereka tersungkur dan menyembah mereka'". Kalau ada kesempatan untuk melakukan penyembahan terhadap Maria, maka sebetulnya inilah kesempatannya, dimana bayi itu baru dilahirkan, dan sangat bergantung kepada ibuNya. Mengapa orang-orang Majus itu tidak berkata "Salam Maria!" dan langsung memulai penyembahan terhadap Maria? Ah, tetapi mereka ini adalah orang-orang yang bijaksana; mereka bukan pastor-pastor dari Roma, karena kalau demikian mereka mungkin sudah melakukannya] - Spurgeon's Expository Encyclopedia , vol 3, hal 34.

Catatan:

Perlu saudara ketahui bahwa dalam terjemahan KJV kata-kata 'orang-orang majus' dalam Mat 2:1 diterjemahkan 'wise men' (= orang-orang yang bijaksana).

d) Mat 12:46-50 Kis 1:14 Yoh 2:1-4 sama sekali tidak menunjukkan bahwa Maria mempunyai posisi yang tinggi, sehingga layak untuk disembah.

Yoh 2:3-4 sering dianggap sebagai bagian yang menunjukkan bah-wa Yesuspun tunduk pada perintah Maria. Tetapi benarkah demi-kian? Mari kita perhatikan penjelasan tentang Yoh 2:3-4 di bawah ini:

Dalam Yoh 2:3 dikatakan bahwa Maria datang kepada Yesus dan berkata: 'Mereka kehabisan anggur'. Apa maksud Maria dengan kata-kata ini?
Ada bermacam-macam kemungkinan dan penafsiran:

Maksud Maria ialah: Mari kita pulang karena anggur habis.
Ini jelas merupakan penafsiran yang tidak cocok dengan kontexnya.

Maria mengharapkan Yesus melakukan mujijat untuk me-nolong mereka.
Keberatan terhadap penafsiran ini:

Calvin meragukan penafsiran ini, karena Yoh 2:11 me-nyatakan ini mujijat pertama! Kalau selama ini Yesus tidak pernah melakukan mujijat, dari mana Maria bisa mengharapkan mujijat?
Tetapi keberatan yang lebih serius adalah: penafsiran ini tidak cocok dengan kontexnya. Kalau memang Maria mempersoalkan mujijat, dan dalam Yoh 2:4 Yesus me-ngatakan belum waktunya, lalu mengapa dalam Yoh 2:6-dst Yesus lalu toh melakukan mujijat itu? Bagaimana mungkin Yesus lebih menuruti Maria dari pada ketetapan / Rencana Allah?
Maria, yang tahu siapa Yesus itu, menghendaki supaya Yesus membuat mujijat dan menyatakan diriNya sebagai Mesias. [bdk. Yoh 7:3-6 yang menunjukkan bahwa saudara- saudara Yesus mendesak Dia untuk menyatakan diri (sebagai Mesias), tetapi ditolak oleh Yesus karena belum waktunya]. Saya berpendapat inilah penafsiran yang benar!
Yoh 2:4 - Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari jawaban Yesus ini:
'Mau apakah engkau dari padaKu ibu?'
NASB/KJV: Woman, what have I to do with you / thee? (= perempuan, apa urusanKu denganmu?).

NIV: Dear woman, why do you involve me? (= perempuan, mengapa engkau melibatkan Aku?).

RSV: O woman, what have you to do with Me? (= O perempuan, apa urusanmu dengan Aku?).

NKJV: Woman, what does your concern have to do with Me? (= perempuan, apa urusannya perhatianmu itu dengan Aku?).

Lit: What to me and to thee, woman? (= apa bagiKu dan bagimu, perempuan?).

Ungkapan yang sama juga muncul dalam Hakim-hakim 11:12 2Sam 16:10 1Raja-raja 17:18 2Raja-raja 3:13 2Taw 35:21 Ezra 4:3 Mat 8:29 Mark 1:24 Luk 8:28.

Kalau kita membaca ayat-ayat ini maka kita bisa melihat bahwa ungkapan seperti itu selalu diucapkan untuk menun-jukkan ketidaksenangan!

Kata 'ibu' dalam Yoh 2:4 [Yunani: GUNAI; Inggris: woman (= perempuan)] berbeda dengan kata 'ibu' dalam Yoh 2:3,5,12 [Yunani: METER; Inggris: mother (= ibu / mama)].
Dalam Kitab Suci, Yesus tidak pernah menyebut Maria de-ngan sebutan ibu dalam arti 'mama'!

Sebutan GUNAI memang bukan sebutan yang kasar / tidak hormat (bdk. Mat 15:28 dimana Yesus menggunakan se-butan ini terhadap perempuan Kanaan yang beriman), tetapi bagaimanapun juga dengan tidak menyebut 'mama' Yesus menunjukkan bahwa mulai saat itu Maria tidak mempunyai otoritas untuk memerintah Yesus. Jangan lupa bahwa Yesus bukan sekedar manusia, tetapi juga adalah Allah! Karena itu Marialah yang seharusnya mentaati Yesus, dan bukan se-baliknya!

Yesus tidak mau menyatakan diri sebagai Mesias, karena waktunya belum tiba. Bdk. Yoh 7:6,8,30 8:20 12:23 13:1 17:1.
Kata-kata Yesus dalam Yoh 2:4 ini jelas menunjukkan peno- lakan Yesus atas permintaan Maria. Karena itu kalau orang Roma Katolik menyuruh berdoa kepada Maria supaya di-kabulkan; ini jelas adalah omong kosong! Marianya sen-diripun ditolak pada waktu meminta sesuatu kepada Yesus!
Lebih dari itu, Yesus menolak dengan kata-kata keras. Me-ngapa? Ada beberapa kemungkinan:

karena Maria melampaui batasan / haknya.
supaya orang tidak menganggap bahwa mujijat itu di-lakukan sebagai ketaatan pada Maria.
supaya orang kristen tidak meninggikan Maria lebih dari seharusnya.
e) Kitab Suci melarang kita yang masih hidup untuk mengadakan kontak dengan orang yang sudah mati (Ul 18:9-12 Im 20:6 Yes 8:19-20).

Sekalipun Maria adalah ibu Yesus, tetapi ia tetap sudah mati, sehingga kita tidak boleh berdoa ataupun mengadakan kontak de-ngan dia. Ini tidak berbeda dengan orang-orang yang mengadakan kontak dengan orang yang sudah mati dengan menggunakan jai-langkung, permainan cucing, Ouija Board dsb.

6) Maria dianggap lebih kasih daripada Allah / Yesus.

Bahwa orang Roma Katolik memang mengajarkan hal ini, bisa terlihat dari kutipan di bawah ini:

"If God is angry with a sinner, and Mary takes him under her protection, she withholds the avenging arms of her Son, and saves him" [= kalau Allah murka kepada seorang manusia berdosa, dan Maria meletakkan orang itu di bawah perlindungannya, ia (Maria) menahan lengan yang mau membalas dendam dari Anaknya, dan menyelamatkan orang itu] - 'The Glories of Mary', hal 124.
"O Immaculate Virgin, prevent thy beloved Son, who is irritated by our sins, from abandoning us to the power of the devil" (= Ya Perawan yang tak berdosa, cegahlah Anakmu yang kekasih, yang jengkel karena dosa-dosa kami, untuk tidak meninggalkan kami dalam kuasa setan) - The Glories of Mary, hal 248.
Sanggahan Kristen:

a) Dua kutipan di atas ini jelas menunjukkan Yesus sebagai Hakim yang keras, kejam, dan tidak bijaksana, sedangkan Maria sebagai pengantara yang penuh kasih, kelembutan dan kebijaksanaan!

b) Dua kutipan di atas ini menunjukkan bahwa Allah / Yesus itu tidak maha kasih. Karena kalau Allah / Yesus itu maha kasih, bagaimana Maria bisa lebih kasih dari Allah / Yesus?

c) Ini bukan sekedar merupakan suatu ajaran yang salah / sesat, tetapi bahkan merupakan suatu penghujatan dan penghinaan ter-hadap Allah / Yesus!

7) Maria dianggap sebagai Co-Redeemer (= rekan Penebus).

a) Ajaran Justin Martyr (yang membandingkan Maria dengan Hawa) dan Ireneaus (yang mengatakan bahwa ketidaktaatan perawan Hawa ditebus oleh ketaatan perawan Maria) dikembangkan lagi, sehingga mereka berkata bahwa sebagaimana dosa pertama ma-suk ke dalam dunia melalui seorang perempuan (yaitu Hawa), de-mikian juga keselamatan itu datang melalui seorang perempuan (yaitu Maria).

b) Selanjutnya, Paus Benedict XV (1914-1922) dan Paus Pius XI (1923) mengatakan bahwa pada waktu Tuhan Yesus menderita dan mati di kayu salib, Maria juga ikut menderita (karena melihat Anaknya menderita begitu hebat), dan dengan penderitaan itu Maria, bersama-sama dengan Kristus, menebus dosa manusia.

Sanggahan Kristen:

a) Kitab Suci memang membandingkan Adam dan Kristus (Adam merupakan TYPE dari Kristus). Bandingkan dengan Ro 5:15,15-19 dan 1Kor 15:21,22. Dosa masuk ke dalam dunia melalui Adam (karena Adam adalah wakil seluruh umat manusia), dan keselamatan da-tang melalui Kristus.

Tetapi Kitab Suci tidak pernah membandingkan Hawa dan Maria! Jadi disini lagi-lagi terlihat adanya ajaran yang sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci.

b) Kitab Suci berkata bahwa keselamatan hanya ada di dalam Kristus (Mat 1:21 Kis 4:12). Dialah satu-satunya Juruselamat / Penebus dosa!

c) Sekalipun Maria memang pasti menderita waktu melihat Anaknya menderita di atas kayu salib, tetapi Kitab Suci tidak pernah berkata bahwa dengan penderitaannya itu, Maria juga menjadi penebus dosa.

Bahwa Maria, yang adalah manusia biasa dan berdosa, bisa men-jadi Penebus dosa, merupakan ajaran yang bertentangan dengan Maz 49:8-9. Karena terjemahan Kitab Suci Indonesia dalam hal ini adalah salah, maka saya memberikan terjemahan dari NIV.

Maz 49:8-9 (NIV - Ps 49:6-7):

"No man can redeem the life of another, or give to God a ransom for him; the ransom for a life is costly, no pay-ment is ever enough" (= tidak seorang manusiapun bisa menebus nyawa orang lain, atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia; tebusan untuk suatu nyawa sangat mahal, tidak ada pembayaran yang bisa mencukupi).

Kalau saudara berbicara dengan orang Roma Katolik tentang penggeseran kedudukan Yesus oleh Maria, cerita di bawah ini mungkin bisa berguna bagi saudara.

Seorang ex pastor dari Montreal, Kanada, yang menjadi seorang Pendeta Presbyterian, dalam bukunya yang berjudul 'Fifty Years in the Church of Rome' [= limapuluh tahun dalam gereja Roma (Katolik)], halaman 262, menceritakan percakapannya dengan us-kupnya sebagai berikut:

"My lord, who has saved you and me upon the cross?"

He answered, "Jesus Christ."

"And who paid your debt and mine by shedding His blood; was it Mary or Jesus?"

He said, "Jesus Christ."

"Now, my lord, when Jesus and Mary were on earth, who loved the sinner more; was it Mary or Jesus?"

Again he answered that it was Jesus.

"Did any sinner come to Mary on earth to be saved?"

"No."

"Do you remember that any sinner has gone to Jesus to be saved?"

"Yes, many."

"Have they been rebuked?"

"Never."

"Do you remember that Jesus ever said to poor sinners, 'Come to Mary and she will save you'?"

"No," he said.

"Do you remember that Jesus has said to poor sinners, 'Come to me'?"

"Yes, He has said it."

"Has He ever retracted those words?"

"No."

"And who was, then, the more powerful to save sinners?" I asked.

"O, it was Jesus!"

"Now, my lord, since Jesus and Mary are in heaven, can you show me in the Scriptures that Jesus has lost anything of His desire and power to save sinners, or that He has delegated this power to Mary?"

And the bishop answered, "No."

"Then, my lord," I asked, "why do we not go to Him, and to Him alone? Why do we invite poor sinners to come to Mary, when, by your own confession she is nothing compared with Jesus, in power, in mercy, in love, and in compassion for the sinner?"

To that the bishop could give no answer.

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

"Tuanku, siapa yang telah menyelamatkan kamu dan aku di salib?"

Ia menjawab: "Yesus Kristus".

"Dan siapa yang telah membayar hutangmu dan hutangku dengan mencurahkan darahNya; Maria atau Yesus?"

Ia berkata: "Yesus Kristus".

"Sekarang, tuanku, ketika Yesus dan Maria ada di bumi, siapa yang lebih mencintai orang berdosa; Maria atau Yesus?"

Lagi-lagi ia menjawab bahwa itu adalah Yesus.

"Pernahkah ada orang berdosa yang datang kepada Maria di bumi untuk diselamatkan?"

"Tidak".

"Apakah engkau ingat bahwa ada orang berdosa yang telah pergi kepada Yesus untuk diselamatkan?"

"Ya, banyak".

"Apakah mereka dimarahi?"

"Tidak pernah".

"Apakah engkau ingat bahwa Yesus pernah berkata kepada orang- orang berdosa yang malang, 'Datanglah kepada Maria and ia akan menyelamatkanmu'?"

"Tidak", katanya.

"Apakah engkau ingat bahwa Yesus pernah berkata kepada orang- orang berdosa yang malang, 'Datanglah kepadaKu'?"

"Ya, Ia telah mengatakan itu".

"Apakah Ia pernah menarik kembali kata-kata ini?"

"Tidak".

"Dan siapa yang pada saat itu lebih berkuasa untuk menyelamatkan orang berdosa?", aku bertanya.

"O, itu adalah Yesus!".

"Sekarang, tuanku, karena Yesus dan Maria ada di surga, bisakah engkau menunjukkan kepadaku dalam Kitab Suci bahwa Yesus telah kehilangan sedikitpun dari keinginan dan kuasaNya untuk menyelamatkan orang-orang berdosa, atau bahwa Ia telah menyerahkan kuasa ini kepada Maria?"

Dan uskup itu menjawab, "Tidak".

"Kalau demikian, tuanku", aku bertanya, "mengapa kita tidak pergi kepada Dia, dan hanya kepada Dia saja? Mengapa kita mengundang orang-orang berdosa yang malang untuk datang kepada Maria, sedangkan menurut pengakuanmu sendiri ia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Yesus, dalam kuasa, dalam belas kasihan, dalam kasih, dan dalam perasaan kasihan untuk orang berdosa?"

Terhadap pertanyaan ini uskup itu tidak bisa memberi jawaban.

B) Maria dianggap sebagai perawan yang abadi:

Orang Roma Katolik bukan hanya mengakui bahwa Maria adalah seorang perawan pada waktu mengandung dan melahirkan Kristus, tetapi juga bahwa keperawanan Maria bersifat abadi. Dengan kata lain, setelah kelahiran Yesuspun Yusuf, suami Maria, tetap tidak pernah berhubungan sex dengan Maria.

Loraine Boettner berkata:

"Says one Roman Catholic writer concerning the Virgin Mary: 'It cannot with decency be imagined that the most holy vessel which was once consecrated to be a receptacle of the Deity should be afterwards desecrated and profaned by human usage'" (= Kata seorang penulis Roma Katolik tentang Perawan Maria: 'Tidak bisa dibayangkan dengan sopan bahwa tempat yang paling kudus / suci yang sekali pernah dikuduskan menjadi suatu wadah dari Allah lalu setelah itu dinajiskan / dinodai dan dicemarkan oleh penggunaan manusia) - 'Roman Catholicism', hal 158.

Sanggahan Kristen:

a) Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru berbicara tentang saudara-saudara Yesus.

Perjanjian Lama, dalam Maz 69:9 menubuatkan tentang Mesias / Yesus dengan kata-kata sebagai berikut:

"Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku".

Catatan:

Bahwa Maz 69:9 memang merupakan nubuat tentang Mesias / Yesus, terlihat dari:

Maz 69:10 (bdk. Yoh 2:17).
Maz 69:22 (bdk. Mat 27:34 Yoh 19:28-29).
Catatan: Kata 'racun' dalam Maz 69:22 versi Kitab Suci Indonesia merupakan penterjemahan yang salah. Seharusnya adalah seperti NIV: 'gall' (= empedu). Jadi nubuat ini tergenapi dalam Mat 27:34.

Perjanjian Baru juga berkata bahwa Tuhan Yesus mempunyai sauda-ra-saudara (Mat 13:54-56 Kis 1:14). Dan Luk 2:7 menyebut Tuhan Yesus sebagai anak sulung.

Kata 'saudara' dalam ayat-ayat ini tidak bisa diartikan 'saudara sepupu' seperti yang ditafsirkan oleh gereja Roma Katolik, karena:

dalam bahasa Yunani, 'saudara sepupu' mempunyai istilahnya sendiri, yaitu yang digunakan dalam Kol 4:10 [Catatan: kata 'kemenakan' dalam Kol 4:10 versi Kitab Suci Indonesia adalah penterjemahan yang salah, karena seharusnya adalah 'saudara sepupu'. Bandingkan dengan NIV yang menterjemahkan 'cousin' (= saudara sepupu)].
tidak cocok dengan nubuat tentang Mesias / Yesus dalam Maz 69:9 di atas karena disana saudara-saudara Yesus itu disamakan dengan 'anak-anak ibuku'.
b) Dalam Mat 1:24-25 dikatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai Yesus lahir. Sekarang pikirkan sendiri bagaimana sau-dara menggunakan kata 'sampai'. Kalau misalnya dikatakan bahwa kita libur sampai tanggal 1 Januari, maka bukankah itu berarti bahwa setelah itu kita tidak lagi libur? Jadi, kalau dikatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai Yesus lahir, ini berarti bahwa sesudah kelahiran Yesus mereka hidup sebagai suami istri biasa / bersetubuh.

c) Dalam 1Kor 7:5 Allah justru melarang suami istri untuk melakukan 'puasa sex' terlalu lama. Karena itu tidak mungkin Allah lalu melarang Yusuf dan Maria melakukan puasa sex abadi!

d) Tidak ada perlunya / gunanya mempertahankan keperawanan Maria setelah Yesus lahir. Kristus memang harus lahir dari seorang perawan untuk menggenapi Yes 7:14 dan supaya Yesus bisa lahir tanpa dosa. Tetapi setelah Yesus lahir, keperawanan Maria itu tidak lagi perlu di-pertahankan.

e) Doktrin tentang keperawanan abadi dari Maria lagi-lagi merupakan ajaran yang sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci! Kata-kata dari penulis Roma Katolik yang dikutip oleh Loraine Boettner di atas, hanya muncul dari logika orang yang sentimentil, dan bukan saja tidak punya dasar Kitab Suci sama sekali, tetapi bahkan bertentangan dengan Kitab Suci.

C) Immaculate Conception / Lahir dan hidup tanpa dosa (1854):

Doktrin Immaculate Conception ini artinya:

Maria dikandung dan lahir tanpa dosa asal.
Maria juga tidak berbuat dosa dalam sepanjang hidupnya.
Maria bahkan dianggap sebagai 'tidak bisa berbuat dosa' (NON POSSE PECCARE (= not possible to sin).
Doktrin ini dikeluarkan oleh Paus Pius IX (8 Des 1854).

Sanggahan Kristen:

1) Alkitab berkata bahwa sejak kejatuhan Adam ke dalam dosa semua manusia dikandung dan lahir dalam dosa dan bahkan berbuat dosa (Ayub 25:4 Maz 51:7 Maz 58:4 Pengkhotbah 7:20 Ro 3:10-12,23 Ro 5:12,19). Yang dikecualikan hanyalah Tuhan Yesus sendiri (2Kor 5:21 Ibr 4:15). Karena itu haruslah disimpulkan bahwa Maria adalah manusia berdosa seperti kita.

2) Dalam Luk 1:46-47, Maria menyebut Allah sebagai Juruselamatnya. Mengapa Maria membutuhkan Juruselamat kalau ia memang sama sekali tidak berdosa?

3) Dalam Luk 2:22-24, Maria mempersembahkan korban penghapus dosa (bdk. Im 12:1-8). Sekalipun kenajisan / ketidak-tahiran karena melahirkan anak itu bukanlah suatu dosa moral, tetapi bagaimanapun tidak tahir / najis sangat kontras dengan suci / tidak berdosa!

4) Mengapa Maria harus mati (Catatan: orang Roma Katolikpun percaya bahwa Maria mengalami kematian) kalau ia tidak berdosa? Kematian adalah upah dosa (Kej 2:16-17 Kej 3:19 Ro 5:12 Ro 6:23). Kristus memang juga mati meskipun Ia tidak berdosa, tetapi Ia mati untuk menebus dosa umat manusia. Bagaimana dengan Maria?

5) Tuhan Yesus suci karena Maria mengandung dari Roh Kudus, tetapi Maria dikandung oleh seorang perempuan yang mengandung dari laki-laki biasa. Bagaimana mungkin ia dikandung tanpa dosa dan dilahirkan tanpa dosa pula? Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

Ayub 25:4 yang berbunyi: "Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?".

Ro 3:23 yang berbunyi: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah".

Ro 5:12 yang berbunyi: "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu ju-ga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah ber(buat) dosa".

Ro 5:19a: yang berbunyi: "Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, ...".

Kalau Maria dikandung dan lahir tanpa dosa, maka semua ayat-ayat di atas ini adalah salah!

6) Orang Roma Katolik menekankan kesucian Maria karena mereka ber-pendapat bahwa kalau Yesus itu suci, maka Maria, yang melahirkan-Nya, juga harus suci. Tetapi doktrin ini mempunyai konsekwensi logis sebagai berikut: kalau karena Yesus itu suci maka Maria harus suci, maka karena Maria suci kedua orang tua Maria harus suci. Dan kalau kedua orang tua Maria suci, maka keempat kakek nenek Maria harus suci. Kalau ini diteruskan maka akan menunjukkan bahwa Adam dan Hawapun harus suci! Ini adalah konsekwensi logis yang orang Roma Katolikpun tidak akan mau menerimanya!

7) Doktrin Immaculate Conception ini baru muncul pada tanggal 8 De-sember 1854. Mengapa dibutuhkan 18 abad untuk menemukan dok-trin ini? Jelas karena memang tidak pernah ada dalam Kitab Suci!

8) Doktrin ini ditentang oleh banyak orang, seperti:

a) Bapa-bapa gereja dan ahli-ahli theologia seperti Agustinus, Chrysostom, Eusebius, Ambrose, Anselm, Thomas Aquinas, Bonaventure, Cardinal Cajetan, dll.

b) Juga ditentang oleh beberapa Paus seperti Gregory the Great dan Paus Innocent III.

Padahal Roma Katolik menganggap tulisan dari bapa-bapa gereja sebagai tradisi yang setingkat dengan Firman Allah. Juga Roma Katolik percaya bahwa kata-kata Paus itu infallible (= tidak bisa salah). Lalu mengapa dalam hal ini mereka tidak mau menggubris pandangan / kata-kata dari bapa-bapa gereja maupun Paus?

D) Assumption of Mary (1950):

Doktrin tentang The Assumption of Mary (= Kenaikan Maria ke surga secara jasmani) dikeluarkan oleh Paus Pius XII dengan embel-embel 'EX CATHEDRA' (= dari kursinya) pada tanggal 1 Nopember 1950.

Kepercayaan mereka tentang hal ini:

1) Tubuh Maria dibangkitkan sesaat setelah kematiannya, jiwa dan tubuhnya dipersatukan kembali dan ia diangkat ke surga, dan menjadi Ratu Surga.

Doktrin tentang kebangkitan Maria ini merupakan kesimpulan logis: karena Maria tidak berdosa, maka ia tidak dapat tetap ada dalam kebinasaan.

Tradisi mereka dalam hal ini berkata:

"On the third day after Mary's death, when the apostles gathered together around her tomb, they found it empty. The sacred body had been carried up to the celestial paradise. Jesus himself came to conduct her hither; the whole court of heaven came to welcome with songs of triumph the mother of the divine Lord. What a chorus of exaltation. Hark how they cry. Lift up your gates, o ye princes, and be ye lifted up, o eternal gates, and the Queen of glory shall enter in" (= Pada hari yang ketiga setelah kematian Maria, ketika rasul-rasul berkumpul di sekitar kuburannya, mereka mendapati kubur itu kosong. Tubuh yang suci itu telah diangkat ke surga. Yesus sendiri datang untuk memimpin Maria kesana; seluruh surga datang untuk menyambut dengan nyanyian kemenangan ibu dari Tuhan yang ilahi. Alangkah indahnya pujian pemuliaan itu. Dengarlah bagaimana mereka berseru. Angkatlah pintu-pintu gerbangmu, ya kamu pangeran-pangeran, dan terangkatlah, ya pintu-pintu gerbang yang kekal, dan Ratu Kemuliaan akan masuk) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 162.

Catatan:

Bandingkan kemiripan bagian terakhir dari kutipan ini dengan Maz 24:7-10! Hanya, Raja Kemuliaan, yang menunjuk kepada Tuhan, diganti dengan Ratu Kemuliaan, yang menunjuk kepada Maria!

Seorang yang bernama Gregory of Tours (Perancis) menulis buku yang berjudul 'In Gloriam Martyrum'. Dalam buku itu ada cerita sebagai berikut:

"As Mary lay dying with the apostles gathered around her bed, Jesus appeared with His angels, committed her soul to the care of Gabriel, and her body was taken away in a cloud" (= Ketika Maria terbaring dalam keadaan sekarat / hampir mati dengan rasul-rasul berkumpul di sekeliling tempat tidurnya, Yesus menampakkan diri dengan malaikat-malaikatNya, me-nyerahkan jiwanya pada pemeliharaan / penjagaan Gabriel, dan tubuhnya diangkat ke awan-awan) - Loraine Boettner, 'Ro-man Catholicism', hal 163.

Catatan:

perhatikan bahwa cerita ini tidak sama dengan tradisi di atas. Lalu yang mana yang benar?
Seorang kristen yang bernama Edwards J. Tanis berkata:
"There is no more evidence for the truth of this legend than for the ghost stories told by our grandfathers" (= tak ada lebih banyak bukti untuk kebenaran dari dongeng ini dari pada untuk dongeng-dongeng tentang hantu yang diceritakan oleh kakek-kakek kita) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 163.

2) Di surga Maria menduduki tempat yang lebih tinggi dari para orang suci atau penghulu malaikat. Ia dinobatkan sebagai Ratu Surga oleh Allah Bapa sendiri dan ia diberi tahta di sebelah kanan Anaknya.

Sanggahan Kristen:

a) Memang kalau Maria tidak berdosa ia tidak mungkin tetap ada dalam kebinasaan. Tetapi perlu dipertanyakan: mengapa ia harus / perlu mati? Mengapa tidak langsung naik ke surga tanpa mengalami kematian seperti Elia dan Henokh?

b) Doktrin ini baru muncul tanggal 1 Nopember 1950. Mengapa dibutuhkan waktu 19 abad untuk menemukan doktrin ini? Jelas karena tidak pernah ada dalam Kitab Suci!

c) Perlu dipertanyakan pertanyaan ini: dengan tubuh apa Maria bangkit dan masuk ke surga? Sampai saat ini hanya Kristus yang mempunyai tubuh kebangkitan. Semua manusia baru menggunakan tubuh ke-bangkitan pada saat Kristus datang keduakalinya (Yoh 5:28-29 1Kor 15:20-23,50-55 1Tes 4:13-17)!

Saya ingin menutup pelajaran tentang Maria ini dengan memberikan 2 hal tambahan / pesan di bawah ini:

Kalau Roma Katolik mengambil pandangan extrim kiri dengan memulia-kan Maria lebih dari seharusnya, janganlah orang kristen protestan lalu mengambil pandangan yang extrim kanan dengan menghina atau meren-dahkan Maria. Maria tetap adalah orang beriman yang saleh, yang rela dipakai Tuhan sebagai alatNya untuk melahirkan Kristus!
Kalau ada mujijat-mujijat yang berhubungan dengan Maria dan mendu-kung pandangan Roma Katolik tentang Maria (misalnya: bahwa Maria menampakkan diri dan mengaku sebagai Perawan tanpa dosa), maka sadarilah bahwa mujijat yang bertentangan dengan Kitab Suci itu pasti datang dari setan! Kitab Suci mengatakan bahwa Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang (2Kor 11:14), dan karena itu tidak terlalu meng-herankan kalau ia bisa menyamar sebagai Maria atau bahkan Yesus sendiri.

http://www.golgothaministry.org/katolik/katolik_03.htm

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2560
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by Penyaran on Thu May 02, 2013 10:45 am

ROMA KATOLIK IV

API PENCUCIAN


I) Sejarah singkat api pencucian:

Loraine Boettner, dalam bukunya 'Roman Catholicism', pp 228-229, menga-takan bahwa kepercayaan tentang adanya api pencucian ini berasalmula dari gagasan tentang penyucian setelah kematian, dan ini sudah ada di kalangan orang India dan Persia, jauh sebelum Kristus dilahirkan. Ini juga merupakan sesuatu yang umum dalam pemikiran orang Mesir, Yunani dan Roma. Ini juga diterima oleh Plato, dan lalu pengaruh Yunani menyebar-kannya ke Asia Barat, termasuk Palestina.

Dalam sejarah kekristen, ini sudah ada pada abad ke 2, yaitu dalam tulisan Marcion dan the Shepherd of Hermes. Lalu juga diajarkan oleh Origen pada abad ke 3. Bahkan muncul juga dalam tulisan Agustinus, tetapi ia juga menyatakan keraguannya tentang hal itu.

Doktrin tentang api pencucian ini untuk pertama kalinya disusun dalam bentuk formal oleh Gregory I, yang juga disebut Gregory the Great, pada tahun 593. Selanjutnya pada tahun 1439, doktrin ini diproklamirkan sebagai dogma oleh Council of Florence, dan lalu pada tahun 1548, diteguhkan lagi oleh Council of Trent.

II) Doktrin Roma Katolik tentang Api Pencucian:

Setelah kematian, manusia terpisah dalam 3 golongan:

1) Ada orang-orang yang langsung masuk ke neraka, yaitu:

Orang yang tidak dibaptis / tidak berhubungan dengan gereja.
Orang yang sudah dibaptis tetapi yang lalu melakukan mortal sin (= dosa besar / mematikan).
2) Ada orang-orang yang langsung masuk surga, yaitu orang percaya yang sempurna (orang suci, martyr) akan pergi ke surga.

Contoh: Rasul Paulus (Fil 1:21,23).

3) Ada orang-orang yang akan pergi ke purgatory (= api pencucian) yaitu orang percaya yang tidak sempurna.

a) Lamanya di api pencucian dan tingkat sakit yang harus dialami oleh orang itu tergantung pada dosanya.

Penderitaan dalam api pencucian ini sangat hebat, tidak berbeda dengan dalam neraka.

Loraine Boettner dalam bukunya 'Roman Catholicism', hal 220, mengutip Bellarmine, seorang ahli theologia Roma Katolik yang terkemuka, sebagai berikut:

"The pains of purgatory are very severe, surpassing anything endured in this life" (= Rasa sakit dari api pencucian itu sangat hebat, melabihi apapun yang dialami / dirasakan dalam hidup ini).

"According to the Holy Fathers of the Church, the fire of purgatory does not differ from the fire of hell, except in point of duration. 'It is the same fire,' says St. Thomas Aquinas, 'that torments the reprobate in hell, and the just in purgatory. The least pain in purgatory,' he says, 'surpasses the greatest suffering in this life.' Nothing but the eternal duration makes the fire of hell more terrible than that of purgatory" (= Menurut Bapa-bapa kudus dari Gereja, api dari api pencucian tidak berbeda dengan api dari neraka, kecuali dalam hal lamanya / waktunya. 'Itu adalah api yang sama', kata orang suci yang bernama Thomas Aquinas, 'yang menyiksa orang jahat / orang yang ditetapkan untuk binasa dalam neraka, dan orang benar dalam api pencucian. Rasa sakit yang paling kecil di api pencucian, 'katanya, 'melebihi penderitaan yang paling besar dalam hidup ini'. Tidak ada sesuatu apapun kecuali lamanya yang kekal yang membuat api neraka lebih mengerikan / dahsyat dari pada api dari api pencucian)

Dan dalam buku yang lain, Bellarmine berkata:

"There is absolutely no doubt that the pains in some cases endure for entire centuries" (= Sama sekali tidak ada keraguan bahwa dalam kasus-kasus tertentu rasa sakit itu berlangsung untuk berabad-abad).

b) Paus mempunyai hak untuk mengurangi 'masa penyucian' ini bahkan mengakhirinya, sedangkan pastor, sebagai wakil Paus, mempunyai hak yang terbatas.

Bagaimana Paus bisa mengurangi atau mengakhiri masa penyucian dalam api pencucian ini? Roma Katolik percaya akan adanya saints / orang-orang suci. Mereka ini adalah orang-orang yang dianggap telah melakukan perbuatan baik lebih dari yang diperlukan untuk masuk surga. Kelebihan perbuatan baik itu lalu 'ditabung', dan Paus berhak memberikan 'tabungan' itu kepada orang dalam api pencucian, sehingga mereka lalu dibebaskan dari api pencucian dan masuk ke surga. Ini disebut dengan istilah indulgence (= pengampunan dosa).

c) Hal-hal yang mengurangi 'masa penyucian':

Pemberian uang (baik oleh orang yang mati itu pada waktu ia masih hidup, maupun oleh keluarganya setelah ia mati).
Loraine Boettner berkata:

"The doctrine of purgatory has sometimes been referred to as 'the gold mine of the priesthood' since it is the source of such lucrative income" (= doktrin api pencucian kadang-kadang disebut sebagai 'tambang emas keimaman' karena itu merupakan sumber penghasilan yang menguntungkan) - 'Roman Catholicism', hal 222.

Misa.
Untuk melaksanakan misa ini ada 'ongkos' yang harus dibayar! Besar kecilnya misa dipengaruhi oleh besar kecilnya ongkos, padahal besar kecilnya misa ini mempengaruhi 'masa penyucian'.

Loraine Boettner berkata:

"The Irish have a saying: 'High money, high mass; low money, low mass; no money, no mass'" (= Orang Irlandia mempunyai pepatah: 'Uang besar, misa besar; uang kecil, misa kecil; tidak ada uang, tidak ada misa') - 'Roman Catholicism', hal 185.

Doa pastor.
Surat pengampunan dosa (letter of indulgence).
Beberapa hal yang perlu diketahui tentang surat pengampunan dosa:

Surat pengampunan dosa ini mulai ada pada tahun 1190.
Menjelang Reformasi (1517) surat pengampunan dosa ini dijual. Seorang yang bernama Tetzel, pada waktu menjual surat pengampunan dosa ini berkata:
"The moment the coin in the collection box rings, that moment the soul from purgatory springs" (= pada saat koin berdenting di kotak kolekte, saat itu jiwa meloncat dari api pencucian) - Dr. Albert Freundt, 'History of Modern Christianity', hal 28.

Tetzel ini dengan begitu tidak tahu malu berkata bahwa ia menyelamatkan lebih banyak jiwa dari api pencucian dari pada apa yang dilakukan oleh Petrus melalui khotbahnya!

Ini direstui oleh Council of Trent pada tahun 1593.
III) Dasar dari Api Pencucian:

1) Dari Apocrypha: 2Makabe 12:38-45 yang berbunyi sebagai berikut:

Kemudian Yudas mengumpulkan bala tentaranya dan pergilah ia ke kota Adulam. Mereka tiba pada hari yang ke tujuh. Maka mereka menyucikan diri menurut adat dan merayakan hari Sabat di situ. Pada hari berikutnya waktu hal itu menjadi perlu pergilah anak buah Yudas untuk membawa pulang jenazah orang-orang yang gugur dengan maksud untuk bersama dengan kaum kera-bat mereka mengebumikan jenazah-jenazah itu di pekuburan nenek moyang. Astaga, pada tiap-tiap orang yang mati itu mereka temukan di bawah jubahnya sebuah jimat dari berhala-berhala kota Yamnia. Dan ini dilarang bagi orang-orang Yahudi oleh hukum Taurat. Maka menjadi jelaslah bagi semua orang mengapa orang-orang itu gugur. Lalu semua memuliakan tindakan TUHAN, Hakim yang adil, yang menyatakan apa yang tersem-bunyi. Merekapun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu. Kemudian dikumpulkannya uang ditengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkan-nya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bang-kit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.

Bagaimana text seperti ini, yang sama sekali tidak berbicara tentang api pencucian, bisa dijadikan dasar dari doktrin tentang api pencucian? Orang Roma Katolik berkata begini: Kalau orang-orang yang mati itu ada di surga ataupun neraka, maka tentu sia-sia mendoakan mereka. Bahwa mereka didoakan, itu menunjukkan bahwa mereka tidak berada di surga maupun di neraka, tetapi di api pencucian!

2) Dari Kitab Suci: Yes 4:4 Mikha 7:8-9 Zahk 9:11 Mal 3:2-3 Mat 12:32 1Kor 3:13-15 Yudas 22.

IV) Sanggahan Kristen:

1) Tentang 2Makabe 12:38-45.

a) Ini termasuk dalam Apocrypha, dan Apocrypha bukan Kitab Suci.

Dalam 2Makabe ini terlihat dengan jelas pertentangan antara ajaran Kitab Suci dan Apocrypha.

Bagian Apocrypha ini memuji tindakan mendoakan orang mati, bahkan yang mati dalam dosa!

Kitab Suci tidak pernah menyuruh mendoakan orang yang sudah mati! Bahkan dalam 1Yoh 5:16 dikatakan sebagai berikut:

"Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberi hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan bahwa ia harus berdoa".

Memang ayat ini menimbulkan banyak penafsiran tentang apa yang dimaksud dengan 'dosa yang membawa maut'. Ada yang menganggap bahwa ini menunjuk pada dosa yang harus dijatuhi hukuman mati, ada pula yang menunjuk pada dosa menghujat Roh Kudus dalam Mat 12:31-32. Tetapi ada satu hal yang pasti yaitu: kalau mendoakan orang yang melakukan dosa yang membawa maut saja sudah dilarang (padahal orang itu masih hidup), apalagi mendoakan orang yang sudah ada di dalam maut / sudah mati! Karena itu jelas bahwa Kitab Suci melarang doa untuk orang yang sudah mati!

b) Disamping itu, 2Makabe 12:38-45 tidak berkata apa-apa tentang api pencucian. Andaikatapun doa untuk orang-orang yang telah mati itu menunjukkan bahwa mereka tidak ada di surga ataupun neraka, lalu apa dasarnya mengatakan bahwa mereka ada di 'api pencucian'?

Menurut ajaran Roma Katolik sendiri orang-orang yang mempunyai jimat seperti dalam 2Makabe itu, akan langsung masuk neraka, karena ini termasuk mortal sin.

2) Tentang dasar Kitab Suci.

Dasar-dasar Kitab Suci mereka adalah ayat-ayat yang penafsirannya dipaksakan. Bacalah sendiri semua ayat-ayat dalam point III, no 2 itu, dan saudara bisa melihat bahwa tidak ada satupun ayat-ayat itu yang ber-bicara tentang api pencucian. Jelas sekali bahwa ajaran ini keluar bukan dari Kitab Suci tetapi dari manusia. Setelah ajarannya keluar, baru dicari-carikan dasar Kitab Sucinya.

3) Apa yang dilakukan oleh Kristus sudah lengkap, dan ini ditunjukkan oleh:

Seruan Yesus di atas kayu salib yang berbunyi: 'Sudah selesai!' (Yoh 19:30).
Kristus bisa bangkit dan ini membuktikan bahwa dosa yang Dia pikul itu memang sudah beres. Kalau tidak, karena dosa itu upahnya maut (Ro 6:23), maka Kristus tidak bisa bangkit / harus terus mati.
Kristus bisa naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Ini menunjukkan bahwa misinya membereskan dosa manusia memang sudah selesai.
Karena itu, orang yang betul-betul percaya kepada Yesus tidak bisa dihukum. Ini sesuai dengan Ro 8:1 yang berbunyi:

"Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus".

Semua dosa, cacat cela dan ketidaksempurnaan kita sudah dibayar lunas oleh Kristus, sehingga tidak mungkin dihukumkan lagi kepada kita, baik di dalam dunia ini atau di api pencucian ataupun di neraka!

4) Ajaran tentang api pencucian (no II di atas) adalah ajaran yang didasar-kan pada keselamatan melalui perbuatan baik (salvation by works) dan ini merupakan ajaran sesat yang bertentangan dengan Gal 2:16,21 Ef 2:8-9.

5) Ajaran ini menyebabkan orang Roma Katolik takut pada kematian. Lebih-lebih kalau mereka tahu bahwa mortal sins mencakup hal-hal seperti:

pelanggaran terhadap 10 hukum Tuhan.
apa yang sering disebut dengan istilah '7 dosa maut' (the seven deadly sins), yaitu:
kesombongan / kecongkakan.
ketamakan / keserakahan.
nafsu berahi.
kemarahan.
kerakusan.
iri hati.
kemalasan.
semua pelanggaran sexual, baik melalui perbuatan, kata-kata maupun pikiran.
makan daging pada hari Jum'at.
membolos dari misa hari Minggu tanpa alasan yang benar.
mengikuti kebaktian Kristen Protestan.
membaca Alkitab Protestan.
Catatan: Daftar ini saya ambil dari buku Loraine Boettner 'Roman Catholicism', hal 200.

Jelas tidak ada orang yang bisa bebas dari mortal sins ini, dan ini menyebabkan orang Roma Katolik takut, karena tidak adanya keyakinan keselamatan. Paling banter mereka bisa masuk api pencucian, dan ini menyakitkan dan menakutkan!

Perlu diketahui bahwa rasa takut seperti ini bertentangan dengan Ibr 2:14-15 dan 1Yoh 4:17-18.

Ibr 2:14-15 berbunyi:

"Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia me-musnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hi-dupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepa-da maut".

1Yoh 4:17-18 berbunyi:

"Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakim-an, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih yang sempurna tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengan-dung hukuman dan barangsiapa takut ia tidak sempurna di dalam kasih".

Catatan: perlu diperhatikan bahwa rasa takut yang dimaksudkan oleh 1Yoh 4:17-18 ini bukanlah seadanya rasa takut, tetapi rasa takut pada hari penghakiman / hukuman Allah.

6) Ajaran ini menunjukkan bahwa Allah tidak adil. Yang kaya bisa bebas dengan cepat karena bisa memberikan banyak persembahan, melakukan misa yang besar dsb. Sedangkan yang miskin tidak bisa melakukan hal-hal itu.

7) Penjahat yang bertobat di kayu salib masuk Firdaus / surga (Luk 23:43), bukan neraka ataupun api pencucian. Padahal ia jelas bukan termasuk orang percaya yang sempurna! Bahkan hampir bisa dikatakan bahwa orang ini tidak pernah berbuat baik. Mungkin satu-satunya perbuatan baik yang ia lakukan adalah menegur penjahat satunya yang mengolok-olok Yesus (Luk 23:39-41). Ia bahkan belum sempat dibaptis ataupun pergi ke gereja. Menurut ajaran Roma Katolik, orang seperti ini bukan masuk api pencucian, tetapi langsung masuk neraka. Tetapi Yesus berkata kepada penjahat ini bahwa hari itu juga ia akan bersama Yesus di Firdaus / surga (Luk 23:43).

Cerita ini secara jelas menunjukkan betapa hebatnya kuasa dari penebusan dosa yang Yesus lakukan bagi kita! Bagaimanapun hebatnya dan banyaknya dosa saudara, hanya dengan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, saudara akan diampuni, dan dijamin pasti masuk surga!

Dan jelas bahwa cerita ini juga menunjukkan secara meyakinkan bahwa doktrin Katolik tentang keselamatan, api pencucian dsb, adalah ajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci / ajaran Yesus sendiri!

Catatan:

Bahwa Firdaus adalah sama dengan surga terlihat dari 2Kor 12:2,4. Dalam ay 2 Paulus berkata surga, tetapi dalam ay 4 ia berkata Firdaus. Ini menunjukkan kedua kata itu menunjuk pada tempat yang sama.

8) Seorang ahli theologia yang bernama Dr. Augustus H. Strong berkata sebagai berikut:

"But suffering has in itself no reforming power. Unless accompanied by special renewing influences of the Holy Spirit, it only hardens and embitters the soul. We have no Scriptural evidence that such influences of the Spirit are exerted, after death, upon the still impenitent; but abundant evidence, on the contrary, that the moral condition in which death finds men is their condition forever. ... To the impenitent and rebellious sinner the motive must come, not from within, but from without. Such motives God presents by His Spirit in this life; and when this life ends and God's Spirit is withdrawn, no motive to repentance will be presented. The soul's dislike for God will issue only in complaint and resistance" (= Tetapi penderitaan dalam dirinya sendiri tidak mempunyai kuasa untuk mengubah / memperbaiki. Kecuali dibarengi oleh pengaruh memperbaharui yang khusus dari Roh Kudus, penderitaan hanya mengeraskan dan memahitkan jiwa. Kami tidak mempunyai bukti Kitab Suci bahwa pengaruh Roh seperti itu digunakan setelah kematian terhadap orang-orang yang tidak / belum bertobat, tetapi sebaliknya ada banyak bukti bahwa kondisi moral pada saat seseorang itu mati merupakan kondisinya untuk selama-lamanya. ... Bagi orang berdosa yang tidak / belum bertobat dan bersifat pemberontak, motivasi / dorongan harus datang, bukan dari dalam, tetapi dari luar. Motivasi / dorongan seperti itu diberikan Allah oleh RohNya dalam hidup ini; dan pada waktu hidup ini berakhir dan Roh Allah ditarik kembali, tidak ada motivasi / dorongan untuk bertobat yang akan diberikan. Ketidaksenangan jiwa kepada Allah akan menghasilkan keluhan dan perlawanan) - A. H. Strong - 'Systematic Theology', hal 1041-1042.

Dengan demikian adalah suatu omong kosong bahwa api pencucian bisa menyucikan seseorang dengan menggunakan penderitaan yang begitu hebat setelah orang itu mati.

9) Ada 2 pertanyaan serangan:

a) Mengapa misa, yang bisa melepaskan orang dari api pencucian dan membawanya ke surga, tidak digratiskan kalau Paus / pastor-pastor itu memang adalah orang yang baik? Sebaliknya, pada waktu ada seseorang menderita karena kematian orang yang dicintainya, pastor hanya mau memberikan misa dengan biaya tertentu. Jadi, boleh dikata-kan orang yang sudah menderita karena kematian orang yang ia cintai itu, masih diperas lagi uangnya! Bukankah ini merupakan suatu tindakan yang tidak kasih, dan bahkan kejam?

b) Bagaimana kita bisa tahu roh seseorang itu sudah pindah dari api pencucian ke surga atau belum? Dengan kata lain, sampai kapan keluarga dari si mati itu harus memberi persembahan, mengadakan misa dsb?

Loraine Boettner mengutip Dr. Robert Ketcham, dalam suatu buku tipis yang berjudul 'Let Rome Speak for Herself', hal 20, yang menga-jukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada pastor sebagai berikut:

"How do you know, Mr Priest, when to stop praying and taking money from your parishioners for a given case? How do you know when John Murphy is out of purgatory? His getting out is dependent upon the saying of masses paid for by his bereaved ones. If you stop one or two masses too soon, what then? If you keep on saying masses for the fellow after he is out, that is bad. It is bad either way you come at it. I ask seriously, Sir, Mr Roman Catholic Priest, How do you know when to stop saying masses for a given individual? Do you have some kind of a connection with the unseen world?" [= Bagaimana kamu tahu, Tuan Pastor, kapan berhenti berdoa dan mene-rima uang dari jemaatmu dalam suatu kasus? Bagaimana kamu tahu kapan John Murphy keluar dari api pencucian? Keluarnya dia tergan-tung dari pengadaan misa yang dibayar oleh orang-orang yang kehi-langan orang yang dikasihinya. Jika kamu berhenti satu atau dua misa terlalu cepat, lalu bagaimana? Jika kamu terus mengadakan misa untuk seseorang setelah ia keluar (dari api pencucian) maka itu jelek. Jadi, yang pertama maupun yang kedua sama-sama jelek. Saya bertanya secara serius, Tuan, Tuan Pastor Roma Katolik, Bagaimana kamu tahu kapan harus menghentikan misa untuk seorang individu tertentu? Apakah kamu mempunyai suatu hubungan tertentu dengan dunia yang tidak kelihatan?] - 'Roman Catholicism', hal 224.

Loraine Boettner lalu menambahkan:

"The fact is that Roman Catholic priest admit that they have no way of knowing when a soul is released from purgatory" (= Faktanya adalah bahwa pastor Roma Katolik mengakui bahwa mereka tidak mempunyai jalan untuk mengetahui kapan jiwa seseorang itu dibebaskan dari api pencucian) - 'Roman Catholicism', hal 224.

10) Loraine Boettner menceritakan percakapan antara seorang yang bernama Norman Porter, dengan seorang pastor. Ternyata pastor itu yakin bahwa ia tidak cukup sempurna untuk masuk surga, dan karenanya ia harus masuk ke api pencucian bila ia mati. Ini sesuatu yang aneh, karena orang yang betul-betul percaya kepada Yesus harus yakin akan keselamatannya sesuai dengan 1Yoh 5:13 berbunyi:

"Semuanya ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal".

Lebih dari itu, pastor itu juga tidak tahu kapan ia akan keluar dariapi pencucian. Sesuatu yang aneh tetapi nyata adalah bahwa ia bahkan ia juga yakin bahwa kalau Paus mati, iapun akan pergi ke api pencucian.

Loraine Boettner menutup cerita ini dengan kata-kata:

"What a message for a perishing world!" (= betul-betul suatu berita untuk dunia yang sedang binasa!) - 'Roman Catholicism', hal 232-233.

http://www.golgothaministry.org/katolik/katolik_04.htm

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2560
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by Penyaran on Thu May 02, 2013 10:47 am

ROMA KATOLIK V

SAKRAMEN


Kristen hanya mempunyai 2 sakramen yaitu:

1) Baptisan.

2) Perjamuan Kudus.

Tetapi Roma Katolik mempunyai 7 sakramen yaitu:

1) Baptisan / permandian.

2) Confirmation / penguatan.

3) Eucharist / Komuni / Perjamuan.

4) Penance / Pengakuan Dosa.

5) Extreme Unction / Perminyakan (untuk orang yang mau mati)

6) Orders / Imamat (untuk orang yg mau menjadi hamba Tuhan).

7) Marriage / pernikahan.

Catatan: No 1-5 diharuskan, tetapi no 6 & 7 pilihan, artinya hanya bisa diterima salah satu. Yang menjadi hamba Tuhan tidak boleh menikah, dan yang menikah tidak boleh menjadi hamba Tuhan.

I) Istilah 'Sakramen':

Istilah ini tidak ada dalam Kitab Suci, tetapi ajarannya ada. Bandingkan dengan istilah 'Tritunggal' yang juga tidak ada dalam Kitab Suci, tetapi ajarannya jelas sekali ada.
Dahulu istilah ini berarti: Uang yang didepositkan oleh satu pihak dalam perkara hukum.
Istilah 'SACRAMENTUM' (bahasa Latin) menunjukkan suatu sumpah setia yang dilakukan oleh seorang tentara.
Istilah ini lalu digunakan oleh gereja untuk upacara-upacara keagamaan.
II) Syarat-syarat Sakramen:

Supaya tidak segala sesuatu dianggap sebagai sakramen, maka perlu batasan-batasan / syarat-syarat sehinggga suatu hal itu bisa disebut sebagai sakramen. Syaratnya:

1) Diperintahkan oleh Kristus / Allah sendiri.

2) Ada visible sign (= tanda yang bisa dilihat).

3) Ada invisible grace (= kasih karunia yang tidak kelihatan) yang dilam-bangkan oleh visible sign tersebut.

Berdasarkan syarat-syarat ini, maka dalam Perjanjian Lama hanya Sunat dan Perjamuan Paskah yang dianggap sebagai sakramen, dan dalam Perjanjian Baru hanya Baptisan dan Perjamuan Kudus yang dianggap sebagai sakramen.

Catatan: tidak adanya ayat-ayat Kitab Suci yang mengajarkan syarat-syarat sakramen seperti di atas, menyebabkan hal ini memang tidak bisa diterima secara mutlak. Karena itu, dalam pembahasan 7 sakramen Roma Katolik, saya tidak terlalu menekankan apakah itu sakramen atau bukan, tetapi saya lebih menekankan arti dari hal yang dianggap sebagai sakramen itu.

III) Sejarah singkat 7 Sakramen:

Sampai lebih dari 1000 tahun sesudah Kristus tidak pernah ada orang yang mengajar bahwa ada 7 sakramen.
Orang yang pertama yang mengajarkan adanya 7 sakramen adalah Peter Lombard (1100-1164).
Pada tahun 1439 Council of Florence menetapkan 7 sakramen itu.
Akhirnya Council of Trent mengutuk orang yang menambahi atau mengurangi 7 sakramen itu dengan kata-kata sebagai berikut:
"If any one saith that the sacraments of the New Law were not instituted by Jesus Christ, our Lord; or that they are more, or less, than seven, to wit, baptism, confirmation, the eucharist, penance, extreme unction, orders, and matrimony; or even that any one of these seven is not truly and properly a sacrament, let him be anathema" (= Jika seorang berkata bahwa sakramen-sakramen dari Hukum Baru tidak diadakan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita; atau bahwa sakramen-sakramen itu ada lebih, atau kurang, dari tujuh, yaitu, baptisan, penguatan, komuni, pengakuan dosa, perminyakan, imamat, dan pernikahan, atau bahkan bahwa salah satu dari tujuh sakramen ini tidak sungguh-sungguh dan benar-benar sakramen, biarlah ia terkutuk) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 189.

IV) Pembahasan 7 Sakramen Roma Katolik:

1) Baptisan:

Roma Katolik mempercayai dan mengajarkan bahwa:

a) Baptisan bukan sekedar merupakan simbol / tanda lahiriah tetapi merupakan cara untuk melahirbarukan seseorang. Ini menyebabkan orang itu lalu bisa taat kepada Allah.

b) Baptisan itu memberikan pengampunan atas dosa-dosa yang lalu, baik dosa asal maupun dosa perbuatan.

c) Baptisan ini mutlak perlu untuk keselamatan:

Orang yang tidak dibaptis (bayi sekalipun) tidak mungkin masuk surga. Ajaran bahwa bayi yang tidak dibaptis tidak bisa masuk surga, banyak ditentang sehingga Roma Katolik lalu menciptakan doktrin tentang LIMBUS INFANTUM (tempat netral antara surga dan neraka untuk bayi-bayi yang mati sebelum dibaptis).
Kemutlakan baptisan ini menyebabkan:
adanya baptisan sebelum lahir (prenatal baptism).
adanya baptisan untuk orang yang sudah koma (Saya bahkan pernah mendengar tentang adanya baptisan terhadap orang yang sudah mati).
Kalau mereka membaptis orang yang koma, maka ada wakil yang memberikan jawaban terhadap pertanyaan dari pastor / si pembaptis, dan berdasarkan jawaban si wakil itu, orang koma itu lalu dibaptis.

ini dijadikan satu-satunya sakramen yang boleh dilakukan oleh sembarang orang (perempuan sekalipun).
Pandangan / sanggahan Kristen:

a) Baptisan tidak melahirbarukan.

Baptisan memang adalah sakramen yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri (Mat 28:19), tetapi baptisan tidak melahirbarukan.

Kelahiran baru adalah sepenuhnya pekerjaan Roh Kudus di alam bawah sadar dan manusia pasif total. Ini sama seperti dalam kelahiran jasmani, dimana seorang bayi juga pasif total dan sedikitpun tidak membantu kelahiran dirinya sendiri! Karena itu kelahiran baru tidak mungkin terjadi oleh baptisan. Kalau baptisan bisa melahirbarukan, itu berarti bahwa kelahiran baru adalah pekerjaan manusia yang terjadi di alam sadar, dan ini jelas salah.

Bacalah Yoh 3:1-8 yang berbicara tentang kelahiran baru dan saudara akan melihat bahwa dalam bagian itu terus menerus digunakan kata bentuk pasif 'dilahirkan' (ay 3,4,5,6,7,8).

Dalam Kis 16:14-15 Lidia mengalami kelahiran baru ('Tuhan membuka hatinya' - ay 14b), lalu ia mendengar Injil / Firman Tuhan, lalu percaya, lalu dibaptis. Kelahiran baru memang harus terjadi lebih dulu, baru orangnya bisa mendengar dan mengerti Injil (bdk. 1Kor 2:14), dan percaya kepada Yesus. Ini menunjukkan bahwa bukan baptisan yang menyebabkan kelahiran baru.

b) Baptisan tidak menyebabkan dosa diampuni.

Kita diampuni dosanya bukan karena baptisan tetapi karena kita beriman / percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Kalau kita mendapat pengampunan dosa karena baptisan, itu berarti kita selamat karena perbuatan baik, dan itu bertentangan dengan ayat-ayat seperti:

Ef 2:8-9 yang berbunyi:

"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri".

Gal 2:16a yang berbunyi:

"Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus".

Gal 2:21b yang berbunyi:

"... sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus".

Ro 3:27-28 yang berbunyi:

"Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat".

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Ayat-ayat seperti Mark 1:4 Mark 16:16 Kis 2:38 tidak boleh diartikan berlawanan dengan Ef 2:8-9 Gal 2:16,21 Ro 4:27-28 di atas. Karena itu Mark 1:4 Mark 16:16 Kis 2:38 harus diartikan bahwa iman / pertobatan, dan bukan baptisan, yang menyebabkan kita diampuni (Bdk. Yoh 3:15-16 Kis 16:31 yang juga menekankan iman / percaya sebagai syarat selamat). Baptisan hanya mem-buktikan iman orang itu, artinya kalau ia memang betul-betul percaya kepada Yesus, ia tentu mau dibaptis.
Dalam Kis 8:13 Simon sudah dibaptis, tetapi penggambaran ten-tang Simon dalam Kis 8:20-23 jelas menunjukkan bahwa dia belum diampuni atau dilahirbarukan. Percayanya jelas adalah kepercaya-an yang palsu. Jadi jelas bahwa baptisannya tidak melahirbarukan / menyelamatkan / mengampuni dosa Simon.
Sebaliknya, dalam Luk 19:9 Yesus berkata bahwa Zakheus sudah selamat (karena ia percaya), padahal ia belum dibaptis.
Kis 10:43-48 menunjukkan bahwa urut-urutannya adalah:
Mendengar Injil percaya selamat / terima Roh Kudus dibaptis.

Jadi lagi-lagi terlihat bahwa keselamatan sudah terjadi padahal orangnya belum dibaptis.

Kalau memang baptisan menyelamatkan dan mengampuni dosa, lalu apa gunanya Pemberitaan Injil? Tetapi dalam Kitab Suci Pem-beritaan Injil sangat ditekankan, dan baptisan tidak pernah dipi-sahkan dari Pemberitaan Injil (Mat 28:19 Kis 2:41 Kis 8:4-12 Kis 8:34-38 Kis 9:4-6,17-19 Kis 10:34-38 Kis 16:14-15,31-33 Kis 18:5,8 Kis 19:5). Mengapa demikian? Jelas karena imanlah, bu-kan baptisan, yang menyebabkan kita diselamatkan.
c) Sekalipun baptisan adalah perintah Tuhan, tetapi baptisan tidak mut-lak perlu untuk keselamatan.

Memang kalau kita percaya dengan sungguh-sungguh kepada Yesus, maka kita harus mau dibaptis. Kalau seseorang berkata bahwa ia percaya kepada Yesus tetapi ia tidak mau dibaptis, saya yakin bahwa iman orang itu tidak sungguh-sungguh (bdk. Yak 2:17,26), dan ia tentu tidak selamat. Tetapi dalam hal ini ia tidak selamat bukan karena belum / tidak dibaptis, tetapi karena imannya tidak sungguh-sungguh.

Jadi, yang merupakan syarat mutlak untuk keselamatan adalah iman, bukan baptisan! Itu sebabnya kalau ada orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, tetapi tidak sempat dibaptis, maka ia tetap selamat! Contoh yang jelas dalam Kitab Suci adalah penjahat yang bertobat (Luk 23:43). Ia tidak pernah / tidak sempat dibaptis, tetapi ia percaya kepada Yesus dan Yesus berkata bahwa ia akan masuk Firdaus / surga. Ini jelas menunjukkan bahwa baptisan bukan-lah syarat mutlak untuk masuk surga.

d) Tentang:

Limbus Infantum.
baptisan untuk orang koma.
baptisan untuk orang mati.
baptisan sebelum lahir.
Semua ini tidak ada dasar Kitab Sucinya.

Tentang baptisan orang koma:

Baptisan untuk orang dewasa hanya bisa dilakukan kalau orangnya sudah mendengar Injil dan percaya kepada Yesus. Karena itu bahwa dalam baptisan orang koma ada wakil yang menjawab pertanyaan pastor, itu betul-betul merupakan sesuatu yang menggelikan dan tidak Alklitabiah.

Saya pernah mendengar ada orang koma dibaptis, tetapi ia lalu tidak jadi mati. Dan pada waktu ia menjadi orang kristen protestan, ia lalu dituntut untuk pergi ke gereja Katolik, berdasarkan janji wakilnya pada waktu dibaptis. Tetapi ia berkata: itu janjinya si wakil, bukan janjiku!

Tentang baptisan orang mati:

Kalau memang orang mati bisa diselamatkan melalui baptisan, untuk apa repot-repot memberitakan Injil / Firman Tuhan? Biarkan saja semua orang tidak percaya Yesus, tetapi nanti kalau mereka sudah mati kita baptiskan. Mungkin juga sebaiknya pastor pergi ke kuburan dan membaptis semua mayat di sana.

2) Confirmation (= Penguatan):

a) Dilakukan terhadap orang yang sudah dibaptis.

b) Dilakukan dengan penumpangan tangan dan dengan minyak dan kata-kata:

"I sign you with the sign of the cross, and confirm you in the annointing of salvation in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit" (= aku menandai engkau dengan tanda salib dan menguatkan engkau dalam pengurapan keselamatan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus) - Dr. Albert Freundt, 'History of Modern Christianity', hal 4.

c) Orang yang menerima sakramen ini menerima Roh Kudus / kasih karunia Roh Kudus dengan mana ia bisa menghindari dosa-dosa pada saat ia sudah mulai bertanggung jawab untuk tindakan-tindakannya sendiri dan pada saat percobaan-percobaan dalam hidupnya menjadi lebih berat. Karena itu umumnya dilakukan pada masa remaja.

d) Dasar Kitab Suci yang sering digunakan adalah Kis 14:22

Pandangan / sanggahan Kristen:

a) Confirmation ini bukan sakramen karena tidak memenuhi 3 persyarat-an dalam no II di atas (Syarat-syarat sakramen). Mungkin orang Katolik akan berkata bahwa tanda yang kelihatan adalah 'minyak' dan ini melambangkan kasih karunia yang tidak kelihatan yaitu 'Roh Kudus'. Tetapi, dimana dalam Kitab Suci ada perintah untuk melaku-kan hal seperti itu?

b) Orang menerima Roh Kudus pada saat ia percaya kepada Yesus (Yoh 7:38-39 Ef 1:13). Jadi tidak ada hamba Tuhan yang diperlukan untuk menumpangkan tangan sehingga Roh Kudus lalu diberikan.

Beberapa ayat Kitab Suci yang kelihatannya menunjukkan adanya penumpangan tangan yang menyebabkan penerimaan Roh Kudus:

Kis 8:14-19 kelihatannya menunjukkan gap (= selang waktu) antara saat seseorang percaya dan saat ia menerima Roh Kudus. Dan bagian ini kelihatannya juga menunjukkan adanya hamba Tuhan yang dibutuhkan untuk memberikan Roh Kudus Harus diakui ayat-ayat ini adalah bagian yang sukar yang menimbulkan banyak perdebatan tetapi ada satu hal yang pasti, yaitu bahwa ayat-ayat ini tidak berhubungan dengan confirmation karena di situ tidak digunakan minyak.
Catatan:

Kalau saudara ingin mengerti penafsiran dari Kis 8:14-19, bacalah buku saya yang berjudul KHARISMATIK.

Kis 9:17 menunjukkan bahwa Paulus ditumpangi tangan oleh Ananias, sehingga menerima Roh Kudus. Tetapi ini juga tidak bisa dijadikan dasar confirmation karena:
di situ tidak digunakan minyak.
hal ini terjadi sebelum baptisan (baptisannya baru terjadi pada ay 18).
Kis 19:5-6 juga tidak bisa dijadikan dasar confirmation karena di situ juga tidak digunakan minyak.
c) Kesucian dan pertumbuhan kekuatan iman / rohani tidak datang karena confirmation atau sakramen tetapi karena Firman Tuhan dan doa (Maz 119:9 Mat 26:41).

d) Dalam Kis 14:22 dikatakan bahwa Paulus dan Barnabas menguatkan hati murid-murid / orang kristen di Antiokhia. Tetapi bagaimana Paulus dan Barnabas menguatkan mereka? Apakah dengan sakramen, confirmation, pengurapan mengunakan minyak? Sama sekali tidak! Bacalah sendiri Kis 14:22 di bawah ini:

"Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara".

Jelas terlihat bahwa penguatan itu diberikan dengan menggunakan nasehat Firman Tuhan! Bagaimana mungkin ayat seperti ini bisa dijadikan dasar dari sakramen confirmation?

3) Eucharist (= Komuni):

Sekalipun sudah dibaptis dan dikuatkan (sakramen 1 & 2), seseorang masih bisa jatuh dalam dosa. Eucharist memberikan kasih karunia pe-lengkap untuk kebutuhan rohani sehari-hari.

a) Makna Eucharist:

Sekalipun Eucharist mirip dengan Perjamuan Kudus dalam gereja kristen, tetapi arti / maknanya sangat berbeda.

1. Gereja Roma Katolik percaya bahwa pada saat pastor mengucap-kan kata-kata bahasa Latin: "HOC EST CORPUS MEUM" (= This is my body / Inilah TubuhKu), roti dan anggur betul-betul berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Doktrin ini disebut TRANSUB-STANTIATION (= a change of substance / perubahan zat). Doktrin ini mulai diajarkan pada abad ke 9 oleh seorang yang bernama Radbertus yang mengatakan bahwa pada saat Eucharist, terjadi suatu mujijat dimana roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Transubstantiation menjadi dogma resmi pada tahun 1059 dan diproklamirkan oleh Paus Innocent III pada tahun 1215.

Catatan:

Kata-kata "HOC EST CORPUS MEUM" belakangan dipakai oleh tukang sihir / sulap dan diubah menjadi "HOCUS POCUS".

Teori Thomas Aquinas (1225-1274):

"The substance of bread and wine are changed into the body and blood of Christ during communion while the accidents (appearence, taste, smell) remain the same" [= Zat dari roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus pada saat komuni, sementara accidentsnya (pe-nampilannya / kelihatannya, rasanya, baunya) tetap sama].

2. Eucharist adalah pengulangan pengorbanan Kristus!

Bahwa Roma Katolik mempunyai pandangan bahwa Eucharist adalah suatu pengulangan pengorbanan Kristus, terlihat dengan jelas dari:

New York Cathechism:
"Jesus Christ gave us the sacrifice of the Mass to leave His Church a visible sacrifice which continues His sacrifice on the cross until the end of time. The Mass is the same sacrifice as the sacrifice of the cross. Holy communion is the receiving of the body and the blood of Jesus Christ under the appearence of bread and wine" (= Yesus Kristus memberi kepada kita pengorban-an misa untuk meninggalkan bagi GerejaNya suatu pengorbanan yang kelihatan yang meneruskan pengor-bananNya pada kayu salib sampai akhir jaman. Misa itu adalah pengorbanan yang sama seperti pengorbanan di kayu salib. Komuni kudus adalah penerimaan tubuh dan darah Kristus di bawah penampilan roti dan anggur) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 168.

Pernyataan Council of Trent yang berbunyi:
"The sacrifice (in the Mass) is identical with the sacrifice of the Cross, inasmuch as Jesus Christ is a priest and victim both. The only difference lies in the manner of offering, which is a bloody upon the cross and bloodless on our altars" [= pengorbanan (dalam Misa) adalah identik dengan pengorbanan di kayu salib, karena Yesus Kristus adalah imam maupun korban. Satu-satunya per-bedaan terletak dalam cara pengorbanannya, yang merupakan pengorbanan berdarah di kayu salib dan tanpa darah pada altar kami] - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 169.

Roman Catholic Catechism of Christian Doctrine yang memuat tanya jawab sebagai berikut:
"Is the Holy Mass one and the same sacrifice with that of the Cross?" - Question 278 (= Apakah Misa Kudus / Suci adalah korban yang satu dan sama dengan korban pada Salib? - Pertanyaan 278).

"The Holy Mass is one and the same sacrifice with that of the Cross, inasmuch as Christ, who offered Himself, a bleeding victim, on the Cross to His Heavenly Father, continues to offer Himself in an unbloody manner on the altar, through the ministry of His priests" (= Misa Kudus / Suci adalah korban yang satu dan sama dengan korban pada Salib, karena Kristus, yang mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban berdarah pada Salib kepada Bapa SurgawiNya, terus mempersembahkan diriNya sendiri dengan cara tidak berdarah pada altar, melalui pelayanan imam-imam / pastor-pastorNya) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 173-174.

Kedua point di atas (point 1. dan 2.) menyebabkan dalam gereja Roma Katolik ada pandangan yang yang sangat tinggi terhadap pastor. Ini terlihat dari 2 kutipan yang diberikan oleh Loraine Boettner di bawah ini:

Dari ketetapan Council of Trent, yang berbunyi sebagai berikut:
"The priest is the man of God, the minister of God. ... He that despiseth the priest despiseth God; he that hears him hears God. The priest remits sins as God, ... It is clear that their function is such that none greater can be conceived. Wherefore they are justly called not only angels, but also God, holding as they do among us the power and authority of the immortal God" (= Imam / pastor adalah seorang dari Allah, pelayan Allah. ... Ia yang menghina imam / pastor menghina Allah, ia yang mendengarkannya mendengarkan Allah. Imam / pastor mengampuni dosa seperti Allah, ... Jelaslah bahwa fungsi mereka adalah sedemikian rupa sehingga tidak ada yang lebih besar yang bisa dipikirkan / dibayangkan. Karena itu secara tepat mereka disebut bukan hanya malaikat, tetapi juga Allah, dan di antara kita mereka memegang kuasa dan otoritas dari Allah yang tidak bisa binasa) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 51.

Dari suatu buku Roma Katolik yang berbunyi sebagai berikut:
"Without the priest the death and passion of our Lord would be of no avail to us. See the power of the priest! By one word from his lips he changes a piece of bread into a God! A greater fact than the creation of a world. If I were to meet a priest and an angel, I would salute the priest before saluting the angel. The priest holds the place of God" [= Tanpa imam / pastor kematian dan penderitaan Tuhan kita akan tidak ada gunanya bagi kita. Lihatlah kuasa dari imam / pastor! Dengan satu kata dari bibirnya ia mengubah sepotong roti menjadi Allah! Suatu fakta yang lebih besar dari pada penciptaan suatu dunia. Jika aku bertemu dengan seorang imam / pastor dan seorang malaikat, maka aku akan memberi hormat kepada imam / pastor sebelum aku memberi hormat kepada malaikat. Imam / pastor memegang tempat / menggantikan (?) Allah] - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 51.

b) Dalam pelaksanaan Eucharist, anggur tidak dibagikan kepada jemaat.

Mulai tahun 1414-1415 Council of Constance memutuskan bahwa anggur tidak lagi dibagikan kepada jemaat, tetapi hanya untuk pastor-nya saja. Jadi yang dibagikan kepada jemaat hanyalah rotinya saja.

Keputusan ini diteguhkan oleh Council of Trent (1545-1563).

Dasar pemikiran mereka:

supaya 'darah' Kristus tidak tumpah.
dalam 'tubuh' sudah ada 'darahnya'. Jadi waktu jemaat menerima 'tubuh', mereka sebetulnya juga menerima .darah'.
c) Eucharist adalah hal yang terpenting dalam misa; lebih penting dari-pada Firman Tuhan.

d) Dahulu, orang yang mau mengikuti Eucharist / misa, harus puasa total sejak tengah malam. Sekarang, mereka hanya puasa terhadap ma-kanan padat 1 jam sebelum misa dan tidak perlu puasa air - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 170.

Sanggahan Kristen:

a) Tubuh jasmani Kristus bukanlah Allah dan tidak bersifat ilahi, sehing-ga tidak bersifat mahaada. Kitab Suci tidak pernah menggambarkan bahwa tubuh Kristus bisa ada di dua tempat yang berbeda pada saat yang sama. Sekarang, setelah kenaikan Yesus ke sorga, tubuh Kris-tus ada di surga dan Ia hadir di dunia melalui Roh Kudus. Karena itu dalam Perjamuan Kudus Kristus tidak hadir secara jasmani!

b) Pada waktu Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya dan ber-kata "Inilah tubuhKu" (Mat 26:26), maksudnya hanyalah bahwa roti merupakan simbol dari tubuhNya. Demikian juga pada waktu Ia mengambil cawan anggur dan berkata "Inilah darahKu" (Mat 26:27-28), maka maksudNya hanyalah bahwa anggur merupakan simbol dari darahNya. Jadi tidak boleh diartikan bahwa saat itu roti betul-betul berubah menjadi tubuh Kristus dan anggur betul-betul berubah men-jadi darah Kristus!

Dasar penafsiran ini:

Kalau kata-kata Yesus itu mau dihurufiahkan, bagaimana menafsir-kan Luk 22:20, yang berbunyi: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu"? Haruskah kita menafsirkan bahwa pada saat itu 'cawan / anggur' berubah menjadi 'perjanjian'?
Adam Clarke mengatakan bahwa dalam bahasa Ibrani tidak ada kata yang berarti 'menggambarkan / menunjukkan / berarti', dan karena itu kalau mereka mau berkata bahwa 'A menggambarkan B' maka mereka berkata 'A adalah B'.
Contoh:

Kej 40:12 (NASB/Lit): 'the three branches are three days' (= tiga cabang itu adalah tiga hari).
Kej 40:18 (NASB/Lit): 'the three baskets are three days' (= tiga keranjang itu adalah tiga hari).
Kej 41:26: 'Ke 7 ekor lembu yang baik itu ialah 7 tahun, dan ke 7 bulir gandum yang baik itu ialah 7 tahun juga'.
Kej 41:27 (NIV): 'The 7 lean, ugly cows that came up after they did are 7 years, and so are the 7 worthless heads of grain scorched by the east wind: They are 7 years of famine' (= ke 7 lembu yang kurus dan buruk yang keluar setelahnya adalah 7 tahun, dan demikian pula ke 7 bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu: mereka adalah 7 tahun kelaparan).
Daniel 7:23-24: '... Binatang yang ke 4 itu ialah kerajaan yang ke 4 yang akan ada di bumi, ... Ke 10 tanduk itu ialah ke 10 raja ...'.
Daniel 8:21: 'Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua ma-tanya itu ialah raja yang pertama'.
Dalam Perjanjian Baru digunakan bahasa Yunani, dan dalam bahasa Yunani memang ada kata yang berarti 'menunjukkan / menggambarkan / berarti'. Tetapi anehnya, Perjanjian Baru masih sering mengikuti jejak bahasa Ibrani seperti di atas.

Contoh:

Mat 13:37-39: 'Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu (ialah) anak-anak Kerajaan dan lalang (ialah) anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir jaman dan para penuai itu (ialah) malaikat'.
Catatan: kata 'ialah' yang ada dalam tanda kurung tidak ada dalam Kitab Suci Indonesia, tetapi seharusnya ada.

1Kor 10:4: '... batu karang itu ialah Kristus'.
Gal 4:24-31 (lihat sendiri).
Wah 1:20: '... ke 7 bintang itu ialah malaikat ke 7 jemaat dan ke 7 kaki dian itu ialah ke 7 jemaat'.
Luk 8:9 Luk 15:26 Yoh 7:36 Yoh 10:6 Kis 10:17 (lihat ayat- ayat ini dalam terjemahan NASB).
Kesimpulan:

Dari semua ini terlihat dengan jelas bahwa pada saat Yesus berkata This is my body / blood (= Ini adalah tubuh / darahKu), maksudnya ialah: roti / anggur itu menggambarkan tubuh / darahNya.

Jadi, ini sebetulnya sama dengan pada waktu Ia berkata:

Akulah pokok anggur yang benar (Yoh 15:1).
Akulah pintu (Yoh 10:9).
Akulah jalan (Yoh 14:6).
Akulah terang dunia (Yoh 8:12 9:5).
Akulah roti hidup (Yoh 6:35).
c) Perjamuan Kudus adalah peringatan pengorbanan Kristus, dan bukan merupakan pengulangan pengorbanan Kristus. Perhatikan 1Kor 11:24b,25b yang berbunyi:

"... perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku. ... perbuat-lah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku".

Pengulangan pengorbanan Kristus menunjukkan bahwa pengorbanan Kristus di kayu salib belum / tidak cukup. Ini bertentangan dengan kata-kata "sudah selesai" di kayu salib (Yoh 19:30).

Disamping itu, Kitab Suci berulang-ulang menyatakan bahwa Kristus hanya satu kali saja mempersembahkan tubuhNya / mencurahkan darahNya sebagai korban bagi kita. Lihat ayat-ayat di bawah ini:

Ibr 7:27 yang berbunyi:
"yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukanNya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diriNya sendiri se-bagai korban".

Ibr 9:12 yang berbunyi:
"dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal".

Ibr 9:22-28 (baca sendiri dalam Kitab Suci).
Ibr 10:10-14 (baca sendiri dalam Kitab Suci).
d) Adalah sesuatu yang lucu kalau 'korban yang tidak berdarah' pada altar mereka disamakan dengan 'korban yang berdarah' pada salib. Perlu diketahui bahwa Kitab Suci mengatakan bahwa "tanpa penum-pahan darah tidak ada pengampunan" (Ibr 9:22b). Ini jelas me-nunjukkan bahwa 'korban yang tidak berdarah' tidak ada gunanya!

e) Baik roti maupun anggur harus dibagikan kepada jemaat karena itulah yang diajarkan oleh Kitab Suci! (Mat 26:26-28 1Kor 11:23-26).

Dalam Mat 26:27 Yesus berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini". Ini menunjukkan bahwa Yesus mengundang semua pe-serta Perjamuan Kudus itu untuk juga ikut minum dari cawan anggur!

Dan dalam 1Kor 11:26,27,28,29, empat kali berturut-turut Paulus menggabungkan 'makan roti' dan 'minum dari cawan', atau 'makan' dan 'minum'. Ini jelas menunjukkan bahwa kita tidak boleh memisah-kan kedua hal itu!

2 pertanyaan yang perlu dipertanyakan kepada orang Roma Katolik adalah:

Mereka tidak membagikan anggur karena takut menumpahkan 'da-rah Kristus', tetapi mengapa mereka tetap membagikan roti dan tidak takut menjatuhkan 'tubuh Kristus'? Dan kalau 'tubuh Kristus' jatuh, bukankah 'darah Kristus' yang ada di dalamnya ikut jatuh?
Kalau jemaat cukup menerima 'tubuh' karena dalam 'tubuh' itu ada 'darah', mengapa imam / pastornya tetap menerima 'tubuh' dan 'darah'?
f) Yang terpenting dalam kebaktian adalah Firman Tuhan. Sakramen tak bisa berdiri sendiri tanpa Firman Tuhan, tetapi Firman Tuhan bisa berdiri sendiri tanpa sakramen.

g) Orang-orang yang mau ikut Perjamuan Kudus sama sekali tidak perlu puasa. Perjamuan Kudus dalam Mat 26:26-28 diadakan segera se-telah makan (Mat 26:20,26), sehingga itu jelas menunjukkan bahwa mereka tidak berpuasa lebih dahulu. 1Kor 11:27-29 memang meng-ajarkan bahwa kita harus mempersiapkan diri menghadapi Perjamuan Kudus, tetapi bukan dengan puasa, tetapi dengan menguji diri kita dalam hal iman dan ketaatan kita.

h) Hal lain yang ingin saya tambahkan adalah asal usul kata Eucharist.

Kata Eucharist berasal dari kata bahasa Yunani EUCHARISTESAS yang muncul dalam Mat 26:27 Mark 14:23 Luk 22:17,19 1Kor 11:24, dan artinya sebenarnya adalah 'having given thanks' (= setelah mengucap syukur). Karena itu, penggunaan istilah Eucharist untuk menunjuk pada Perjamuan Kudus sebetulnya kurang cocok.

i) Penggunaan hosti.

Dari Mat 26:26 Mark 14:22 Luk 22:19 1Kor 10:16b 1Kor 11:24 sebe-tulnya bisa terlihat dengan jelas bahwa dalam suatu Perjamuan Kudus harus ada 'pemecahan roti', dan pemecahan roti ini harus dilakukan di depan peserta Perjamuan Kudus. Ini merupakan sesuatu yang penting dan berarti, karena ini merupakan simbol dari dihancurkannya tubuh Kristus untuk kita. Kalau ada yang beranggapan bahwa simbol seperti ini tidak penting dan boleh dibuang, maka saya bertanya: mengapa tidak seluruh Perjamuan Kudusnya saja dibuang?

Perhatikan juga bunyi dari 1Kor 11:24:

"dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: 'Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku'".

Dari bagian-bagian yang saya garisbawahi dari 1Kor 11:24 ini, jelas terlihat bahwa Yesus memerintahkan pemecahan roti tersebut dalam Perjamuan Kudus! Karena itu, penggunaan hosti dalam gereja Roma Katolik maupun dalam banyak gereja Protestan, Pentakosta dan Kharismatik yang menirunya, sekalipun merupakan sesuatu yang praktis, jelas merupakan sesuatu yang salah, karena dalam peng-gunaan hosti ini, simbol penghancuran tubuh Kristus dihilangkan!

Dalam tafsirannya tentang 1Kor 10:16, Charles Hodge berkata:

"The custom, therefore, of using a wafer placed unbroken in the mouth of the communicant, leaves out an important significant element in this sacrament" [= Karena itu, tradisi menggunakan hosti (biskuit kecil dan tipis), yang diletakkan secara utuh di dalam mulut dari peserta komuni, menghapuskan suatu elemen berarti yang penting dalam sakramen ini].

Dan Pulpit Commentary mengomentari 1Kor 11:24 sebagai berikut:

"The 'broken' is nevertheless involved in the 'he brake it,' which was a part of the ceremony as originally illustrated. The breaking of the bread ought not, therefore, to be abandoned, as in the case when 'wafers' are used" (= bagaimanapun kata 'dipecahkan' sudah termasuk dalam 'Ia memecah-mecahkannya', yang merupakan sebagian dari upacara aslinya. Karena itu, pemecahan roti tidak seharusnya dibuang, seperti dalam kasus dimana digunakan hosti).

Ada hal-hal yang perlu dijelaskan sehubungan dengan komentar ini:

Komentar ini diberikan berdasarkan 1Kor 11:24 dalam KJV yang berbunyi: "And when he had given thanks, he brake it, and said, Take, eat: this is my body, which is broken for you: this do in remembrance of me" (= dan setelah Ia mengucap syukur, Ia me-mecah-mecahkannya, dan berkata: Ambillah, makanlah: ini adalah tubuhKu, yang dipecahkan bagi kamu: lakukanlah ini untuk meng-ingat Aku).
Kata-kata 'Take, eat' (= Ambillah, makanlah) dan 'broken' (= dipe-cahkan) bisa ada dalam KJV, karena KJV menterjemahkan dari manuscript yang menambahkan bagian ini. Jadi kata-kata itu sebetulnya tidak ada dalam manuscript aslinya.
Tetapi kata 'he brake it' (= Ia memecah-mecahkannya) tidak meru-pakan penambahan! Karena itu, penafsir ini berkata, kalaupun kata 'broken' itu tidak ada, tetapi kata-kata 'he brake it' sebetulnya sudah mencakup kata 'broken'.
Karena itu, gereja-gereja Protestan, Pentakosta dan Kharismatik tidak seharusnya meniru begitu saja praktek Perjamuan Kudus yang sekalipun praktis, tetapi salah ini!

4) Penance (= Pengakuan / pengampunan dosa):

Beberapa hal yang perlu diketahui berhubungan dengan Penance ini:

a) Roma Katolik membagi dosa menjadi 2 golongan: mortal sin (= dosa besar / mematikan) dan venial sin (= dosa kecil / remeh). Mereka tidak punya persetujuan yang jelas tentang dosa mana yang termasuk dosa besar dan dosa mana yang termasuk dosa kecil. Tetapi dosa-dosa di bawah ini termasuk mortal sins:

pelanggaran terhadap 10 hukum Tuhan.
apa yang sering disebut dengan istilah '7 dosa maut' (the seven deadly sins), yaitu:
kesombongan / kecongkakan.
ketamakan / keserakahan.
nafsu berahi.
kemarahan.
kerakusan.
iri hati.
kemalasan.
semua pelanggaran sexual, baik melalui perbuatan, kata-kata maupun pikiran.
makan daging pada hari Jum'at.
membolos dari misa hari Minggu tanpa alasan yang benar.
mengikuti kebaktian Kristen Protestan.
membaca Alkitab Protestan.
Catatan: Daftar ini saya ambil dari buku Loraine Boettner 'Roman Catholicism', hal 200.

Mortal sin menjatuhkan orang dari kasih karunia Allah (dengan kata lain, orang itu kehilangan keselamatannya) Tetapi dengan sakramen pengakuan dosa / Penance ini orang itu dikembalikan ke dalam kasih karunia dan diberi kasih karunia khusus untuk untuk bisa menghindari dosa pada masa yang akan datang.

b) Sakramen Penance ini meliputi 4 hal:

Pengakuan dosa kepada pastor.
Yang harus diakui adalah setiap mortal sin saja! Kalau ada yang diloncati dengan sengaja, maka seluruh pengakuan itu dianggap tidak sah. Dan kalau ada mortal sin yang tidak sempat diakui, maka orang itu akan pergi ke neraka.

Dalam dalam mengaku dosa, seseorang harus menceritakan segala-galanya secara mendetail!

Loraine Boettner mengutip kata-kata seorang yang bernama Lucien Vinet yang berkata sebagai berikut:

"A Roman Catholic, says his church, must, in order to obtain peace with God, declare all his sinful actions, omissions and his most secret thoughts and desires, specifying minutely the kinds of sins committed, the number of times and all the circumstances that might alter the gravity of a sin. A murderer is obliged to declare his crimes, a young girl her most intimate thoughts and desires" (= Seorang Roma Katolik, kata gerejanya, untuk mendapatkan damai dengan Allah, harus menyatakan semua tindakan-tindakan berdo-sanya, hal-hal yang tidak ia lakukan dari Firman Tuhan, dan pikiran dan keinginannya yang paling rahasia, menyebutkan secara terperinci / teliti jenis-jenis dosa yang dilakukan, banyaknya kali dan semua keadaan-keadaan yang bisa mengubah beratnya suatu dosa. Seorang pembunuh wajib menyatakan kejahatannya, seorang gadis muda harus me-nyatakan pikiran-pikiran dan keinginan-keinginannya yang yang paling dalam) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 211.

Pemberian pengampunan dosa oleh pastor.
Pastor bukan sekedar punya 'kuasa untuk menyatakan pengam-punan dosa' tetapi ia sendiri betul-betul punya hak untuk meng-ampuni. Kutipan dari 'Instruction for non-Catholics' (buku pelajaran untuk orang non Katolik yang mau menjadi Katolik):

"The priest doesn't have to ask God to forgive our sins. The priest himself has the power to do so in Christ's name. Your sins are forgiven by the priest the same as if you knelt before Jesus Christ and told them to Christ himself" (= Imam / pastor tidak harus meminta Allah untuk mengampuni dosa kita. Imam / pastor itu sendiri mempunyai kuasa untuk mela-kukan hal itu dalam nama Kristus. Dosa-dosamu diampuni oleh imam / pastor sama seperti kalau kamu berlutut di hadapan Yesus Kristus dan menceritakan dosa-dosa itu kepada Kristus sendiri) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 197.

Pemberian 'acts of penance' (= tindakan penebusan dosa) oleh pastor kepada orang yang mengaku dosa. Misalnya: orang itu ditugaskan untuk melakukan:
pemberian derma dalam nama Yesus.
doa Salam Maria sekian kali.
perbuatan baik.
puasa.
pantang terhadap kesenangan-kesenangan tertentu.
Pelaksanaan tindakan penebusan dosa oleh orang yang mengaku dosa itu.
c) Kata-kata yang diucapkan sebelum mengaku / menyebutkan dosa-dosanya adalah sebagai berikut:

"I confess to the Almighty God, to the blessed Virgin Mary, to the blessed Michael the archangel, to blessed John the Baptist, to the holy apostles Peter and Paul, to all the saints, and to you, father, that I have sinned exceedingly, in thought, word and deed, through my fault, through my grievous fault" (= Aku mengaku kepada Allah yang Mahakuasa, kepada Pera-wan Maria yang diberkati / terpuji, kepada Mikhael Penghulu Malaikat yang diberkati / terpuji, kepada Yohanes Pembaptis yang diberkati / terpuji, kepada rasul-rasul yang kudus Petrus dan Paulus, kepada semua orang-orang suci, dan kepadamu, bapa, bahwa aku telah sangat berdosa, dalam pemikiran, perkataan dan perbuatan, melalui kesalahanku, melalui kesa-lahanku yang menyedihkan) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 198.

d) Dasar Kitab Suci yang dipakai oleh Roma Katolik sebagai dasar Sakramen Penance ini adalah: Yak 5:16 Kis 19:18 Mat 18:18 Yoh 20:21-23.

e) Loraine Boettner berkata:

"Every loyal Roman Catholics is required under pain of mortal sin to go to confession at least once a year" (= Setiap orang Roma Katolik yang setia diharuskan dibawah ancaman mortal sin untuk melakukan pengakuan dosa sedikitnya sekali seta-hun) - 'Roman Catholicism', hal 198.

Ini diputuskan oleh the Fourth Lateran Council pada tahun 1215 dan diteguhkan oleh the Council of Trent pada tahun 1546.

Sanggahan Kristen:

a) Kitab Suci memang mengajarkan adanya tingkat dosa (Luk 12:47-48 Luk 20:47 Yoh 19:11 Kel 21:12-14). Dan karena itu memang ada dosa besar dan dosa kecil. Tetapi Kitab Suci tidak pernah mengajarkan adanya dosa yang begitu kecil sehingga bisa diremehkan seperti venial sin dalam ajaran Roma Katolik. Ro 6:23 berkata bahwa "Upah dosa ialah maut", dan karena itu dosa besar ataupun dosa kecil upahnya adalah maut. Jadi jelas bahwa sebetulnya semua dosa termasuk mortal sin.

Loraine Boettner berkata:

"But the Bible makes no such distinction between mortal and venial sins. There is in fact no such thing as venial sin. All sin is mortal. It is true that some sins are worse than others. But it is also true that all sins, if not forgiven, bring death to the soul, with greater or lesser punishment as they may deserve" (= Tetapi Alkitab tidak membuat pembedaan seperti itu antara mortal sin dan venial sin. Faktanya adalah bahwa venial sin itu tidak ada. Semua dosa adalah mortal / mematikan. Memang benar bahwa beberapa dosa lebih jelek dari yang lain. Tetapi juga benar bahwa semua dosa, jika tidak diampuni, membawa kematian pada jiwa, dengan hukuman yang lebih besar atau lebih ringan, seperti yang layak didapatkannya) - 'Roman Catholicism', hal 201

Sebaliknya, Kitab Suci juga tidak pernah mengajarkan adanya dosa yang begitu besar sehingga bisa menghancurkan kasih karunia Allah dan menyebabkan seseorang kehilangan keselamatannya. Sekali se-seorang selamat, ia pasti terus selamat (Ro 5:8-10 Yoh 10:27-30). Betapapun hebatnya dosa yang dilakukan seseorang, darah Yesus lebih dari cukup untuk menghapus / mengampuninya! Ini memang tidak berarti bahwa kita boleh sengaja berbuat dosa / hidup dalam dosa! Kita harus berusaha untuk hidup suci, tetapi kalau kita gagal dan jatuh ke dalam dosa, betapapun hebatnya dosa itu, darah Kristus tetap mampu menghapus / mengampuninya! Semua ini sesuai dengan 1Yoh 2:1-2 yang berbunyi:

"Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia".

b) Beberapa pembahasan tentang 4 hal yang termasuk dalam sakramen Penance dalam Roma Katolik:

Dalam melakukan pengakuan dosa:
dalam pengakuan dosa, kita harus mengakui semua dosa (bu-kan mortal sins saja), karena tak ada dosa yang boleh diremeh-kan.
kita mengakui dosa-dosa itu kepada Allah melalui Yesus Kris-tus sebagai Imam Besar / Pengantara kita. Kita tidak membu-tuhkan hamba Tuhan yang manapun sebagai pengantara. Da-lam Perjanjian Lama memang ada imam / imam besar sebagai pengantara, tetapi dalam jaman Perjanjian Baru, Yesuslah satu-satunya pengantara / Imam Besar! Bdk. 1Tim 2:5 1Yoh 2:1 Ibr 4:14-5:10 Ibr 6:20-9:28.
harus ada hati yang betul-betul menyesal / bertobat (Maz 51:19 Yoel 2:13 Mat 5:4).
Yang berhak mengampuni dosa hanyalah Allah / Yesus sendiri (Mark 2:7-12 1Yoh 1:9). Sedangkan hamba Tuhan hanya mem-punyai kuasa untuk menyatakan bahwa dosa seseorang sudah diampuni (berdasarkan Firman Tuhan), tetapi ia sendiri tidak bisa mengampuni dosa.
Tindakan penebusan dosa (the acts of Penance) menunjukkan bahwa penebusan yang dilakukan oleh Kristus belum cukup. Ini bertentangan dengan kata-kata 'sudah selesai' dalam Yoh 19:30 dan juga ini menunjukkan dengan jelas bahwa Roma Katolik mempercayai doktrin 'salvation by works' (= keselamatan karena perbuatan baik / ketaatan).
Council of Trent mengatakan sbb:

"If anyone saith that justifying faith is nothing else but confidence in the divine mercy which remits sin for Christ's sake alone; or, that this confidence alone is that whereby we are justified, let him be anathema" (= Jika seseorang berkata bahwa iman yang membenarkan adalah keyakin-an pada belas kasihan ilahi yang mengampuni dosa hanya demi Kristus; atau, bahwa keyakinan ini adalah jalan melalui mana kita dibenarkan, biarlah ia terkutuk) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 261.

Jadi berdasarkan pernyataan di atas, jelaslah bahwa Council of Trent mengutuk orang-orang yang percaya pada 'justification / salvation by faith' (= pembenaran / keselamatan oleh iman) yang merupakan doktrin utama dari semua gereja Kristen yang injili. Rasul Paulus jelas sekali menekankan justification / salvation by faith (Ef 2:8-9 Gal 2:16,21) dan ia mengutuk orang-orang yang mengajarkan doktrin 'salvation by works' (Gal 1:6-9).

c) Pengakuan yang ditujukan kepada Allah dan malaikat (Michael) dan orang-orang yang sudah mati (Maria, Yohanes Pembaptis, Petrus, Paulus, orang-orang suci) dan kepada pastor, jelas adalah sesuatu yang sangat tidak Alkitabiah! Lucunya, nama Yesus dan Roh Kudus bahkan tidak di-sebut-sebut!

d) Yak 5:16 dan Kis 19:18 jelas sekali bukanlah suatu pengakuan dosa secara pribadi kepada hamba Tuhan. Jadi ayat-ayat ini tidak bisa dijadikan dasar bagi sakramen Penance ini! Sedangkan Mat 16:19 Mat 18:18 Yoh 20:21-23 hanya memberikan 'declarative power' (= kuasa untuk menyatakan) kepada hamba-hamba Tuhan. Kalau di-tafsirkan bahwa mereka sendiri yang diberi hak untuk mengampuni, maka penafsiran ini akan bertentangan dengan Mark 2:7-12 dan 1Yoh 1:9 yang mengatakan bahwa hanya Allah sajalah yang berhak meng-ampuni dosa.

e) Mengenai frekwensi pengakuan dosa, perlu kita ingat bahwa dosa yang tidak dibereskan merusak persekutuan kita dengan Allah dan menyebabkan doa kita tidak didengar oleh Allah (Yes 59:1-2). Ini akan menyebabkan kita tidak akan bisa bertahan menghadapi serangan setan sehingga akan jatuh ke dalam dosa-dosa lain. Karena itu kita seharusnya mengaku dosa secepat kita sadar akan adanya dosa dalam hidup kita. Dan mengingat bahwa kita semua adalah orang berdosa, yang setiap hari berbuat dosa, maka kita seharusnya mengaku dosa beberapa / banyak kali setiap hari (bukan setahun sekali atau bahkan seminggu sekali). Tetapi, dalam kalangan Roma Katolik, karena pengakuan dosa harus diberikan kepada pastor, maka tentu saja tidak mungkin melakukan pengakuan dosa beberapa kali dalam satu hari.

f) Keberatan lain terhadap ajaran Roma Katolik tentang hal ini:

Pengakuan dosa kepada pastor ini menyebabkan jemaat takut kepada pastor yang tahu semua 'rahasia' dari dosa-dosa atau bahkan skandal-skandal dalam hidup mereka.
Loraine Boettner mengutip John Carrara dalam bukunya yang ber-judul 'Romanism Under the Searchlight', hal 70, yang berbunyi:

"The confessional is a system of espionage - a system of slavery. The priest is the spy in every home" (= Pengakuan dosa adalah suatu sistim pengintaian - suatu sistim perbudakan. Imam / pastor adalah mata-mata dalam setiap rumah) - 'Roman Catholicism', hal 214.

Pengakuan dosa kepada pastor merupakan pencobaan yang hebat bagi pastor itu sendiri! Bayangkan seorang gadis muda yang jatuh dalam perzinahan dengan pacarnya, yang harus mengaku dosa dengan mendetail bagaimana ia dirangsang oleh pacarnya, dan apa saja yang mereka lakukan, sampai akhirnya ia jatuh ke dalam perzinahan. Apakah pengakuan seperti ini tidak mencobai pastor, yang hidup membujang / tidak menikah itu, sehingga ikut terang-sang dan jatuh ke dalam dosa perzinahan dalam hati / pikirannya? Bukan tanpa alasan Ef 5:3-4 berkata:

"Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau kese-rakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagai-mana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono - karena hal-hal ini tidak pantas - sebaliknya ucapkanlah syukur".

Kalau ada yang menjawab hal ini dengan berkata bahwa pastor adalah orang yang iman dan kesalehannya sudah tinggi / kuat / hebat, dan tidak mungkin akan jatuh ke dalam dosa karena men-dengar pengakuan dosa seperti itu, maka saya ingin menjawab dengan suatu cerita yang saya dapatkan dari sebuah film sebagai berikut: Ada seorang pimpinan gangster yang mempunyai 2 orang anak, yang seorang perempuan dan perempuan ini juga termasuk dalam gang ayahnya, dan yang seorang lagi laki-laki, yang men-jadi seorang pastor. Suatu hari pastor itu lari dengan seorang perempuan, dan pada waktu anak perempuan si kepala gangster itu menceritakan hal itu kepada ayahnya, sang ayah dengan keheranan berkata: 'Tapi, ia seorang pastor'. Anak perempuannya dengan tenang menjawab: 'Ia ditahbiskan, ayah, bukan dikebiri!'.

5) Extreme Unction (= Perminyakan):

Praktek ini dimulai pada abad ke 12. Pengurapan dilakukan oleh pastor terhadap orang yang mau mati, dengan menggunakan minyak suci dan disertai doa khusus. Yang diberi minyak adalah mata, telinga, hidung, tangan, dan kaki orang tersebut. Sakramen ini tidak menjamin orang itu akan pergi ke surga, tetapi paling-paling ke api pencucian.

Ayat Kitab Suci yang sering dipakai sebagai dasar dari sakramen ini ada-lah Yak 5:14-15.

Sanggahan Kristen:

a) Tidak ada dasar Kitab Suci untuk praktek / sakramen ini! Dalam Yak 5:14-15, doa dan pengolesan minyak dilakukan dengan tujuan untuk menyembuhkan orang itu, bukan untuk mempersiapkan orang itu menghadapi kematian! Jadi jelas sekali bahwa Yak 5:14-15 tidak bisa dijadikan dasar Kitab Suci bagi sakramen ini.

b) Seseorang yang sudah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, setiap saat siap menghadapi kematian. Penebusan yang Yesus lakukan baginya, tidak memungkinkan ia di-hukum oleh Allah (Ro 8:1). Sebaliknya, kalau seseorang belum per-caya kepada Yesus, ia tidak akan bisa disiapkan menghadapi kema-tian dengan cara apapun!

Pertanyaan yang perlu saudara renungkan adalah: sudah siapkan saudara menghadapi kematian? Ingat bahwa kematian bisa datang kapan saja, dan celakalah saudara kalau kematian datang dan saudara belum siap! Tanpa Yesus sebagai Juruselamat / Penebus, saudara harus menanggung sendiri hukuman dosa-dosa saudara di neraka sampai selama-lamanya!

6) Orders (= Imamat):

Sakramen ini diberikan untuk orang-orang yang mau menjadi hamba Tuhan supaya orang-orang itu bisa melayani Sakramen. Orang yang menerima sakramen ini tidak boleh menerima sakramen yang ke 7 karena mereka harus hidup celibat (= tidak menikah).

Dasar yang sering dipakai untuk tidak kawinnya hamba Tuhan adalah Mat 19:12 1Kor 7:1,7a,32-34,38.

Sanggahan Kristen:

Tidak ada dasar Kitab Suci untuk sakramen ini.
Hamba Tuhan boleh menikah.
Hal ini ditunjukkan dengan sangat jelas oleh ayat-ayat Kitab Suci di bawah ini:

Harun, yang merupakan imam besar, menikah dengan Eliseba dan mempunyai anak-anak (Kel 6:22). Dan Tuhan menyerahkan jabat-an imam kepada keturunan Harun (Kel 28:1).
Im 21:7,13,14 memberikan peraturan tentang pernikahan seorang imam, dan Im 21:9 memberikan peraturan tentang anak perempu-an seorang imam yang bersundal. Semua ini menunjukkan bahwa dalam jaman Perjanjian Lama, seorang imam boleh menikah. Kita memang melihat banyak sekali contoh dalam Perjanjian Lama tentang imam yang menikah dan punya anak seperti imam Eli, Samuel, dsb. Demikian juga Zakharia juga menikah dan mempu-nyai anak Yohanes Pembaptis (Luk 1).
Mark 1:30 - kata-kata 'ibu mertua Simon' jelas menunjukkan bahwa Simon Petrus, yang oleh Roma Katolik dianggap sebagai Paus I, mempunyai istri.
1Kor 9:5 jelas menunjukkan bahwa rasul-rasul mempunyai istri.
Sekarang mari kita membahas Mat 19:12, tetapi sebaiknya kita mem-bahasnya mulai Mat 19:11.
Mat 19:11 berbunyi:

"Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: 'Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja'".

Ada beberapa hal yang perlu dibahas dari ayat ini:

'Akan tetapi'.
Kata 'tetapi' selalu mengkontraskan bagian yang ada di depannya dengan bagian yang ada di belakangnya. Jadi, dari kata 'tetapi' ini sudah jelas bahwa Yesus tidak setuju dengan kata-kata murid-muridNya dalam Mat 19:10 yang menyatakan bahwa tidak kawin itu lebih baik.

'Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu'.
Kata 'mengerti' itu salah terjemahan.

NIV / NASB: accept (= menerima).

KJV / RSV: receive (= menerima).

Jadi terjemahan seharusnya adalah 'menerima', dan artinya ada-lah: tidak semua orang bisa tidak kawin.

Catatan: kesalahan penterjemahan yang sama terjadi pada Mat 19:12b.

'Hanya mereka yang dikaruniai saja'.
Artinya adalah: hanya mereka yang diberi karunia untuk tidak kawin bisa / boleh hidup membujang (celibat).

Sekarang kita meninjau Mat 19:12 yang berbunyi:

"Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti".

Kelihatannya ini mengajarkan tentang orang yang tidak kawin demi Kerajaan Sorga. Apakah ini mendukung pandangan Roma Katolik tentang hamba Tuhan yang tidak menikah? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita melihat penjelasan tentang Mat 19:12 di bawah ini.

Beberapa hal yang perlu dijelaskan dari ayat ini:

'Orang yang tidak dapat kawin'.
KJV/RSV/NIV/NASB: 'eunuchs' (= sida-sida, orang yang dikebiri).

Dalam ayat ini Yesus berbicara tentang 3 golongan orang yang tidak kawin / tidak bisa kawin:
Orang yang memang tidak bisa kawin dari lahir. Ini adalah orang-orang yang lahir dalam keadaan tidak normal pada alat kelamin mereka sehingga mereka memang tidak bisa kawin.
Orang yang dijadikan demikian oleh orang lain.
Ini menunjuk kepada orang-orang semacam sida-sida / penjaga harem raja yang dikebiri oleh raja, supaya jangan terjadi 'pagar makan tanaman' (bdk. 2Raja-raja 20:18 Ester 2:14-15).

Orang yang membuat dirinya sendiri demikian (sengaja tidak kawin) karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga
Bagian ini menunjuk kepada orang yang secara sengaja tidak mau kawin (sekalipun ia bisa kawin) demi Tuhan / gereja (Bdk. 1Kor 7:32-35)!

Tetapi, bagaimanapun juga gol ke 3 ini tetap harus memperha-tikan Mat 19:11, yang sudah saya bahas di atas, yang menyata-kan bahwa hanya orang-orang tertentu, yang dikaruniai dengan karunia untuk tidak menikah, bisa tidak menikah! Jadi, tidak semua orang boleh tidak kawin demi Tuhan / gereja. Mereka hanya boleh tidak kawin demi Tuhan / gereja, kalau mereka mempunyai karunia untuk tidak kawin!

Sekarang kita membahas 1Kor 7:1,7a,8,26-27,32-34,37-38,40.
Ada beberapa hal yang perlu kita mengerti tentang bagian ini:

Dalam 1Kor 7 ini, khususnya pada ay 1,7a,8,26-27,32-34,37-38,40, kelihatannya Paulus mempunyai pandangan yang rendah tentang pernikahan, atau kelihatannya ia berpandangan bahwa tidak kawin lebih baik dari pada kawin. Tetapi benarkah itu? Tidak mungkin, karena:
Itu bertentangan dengan Kej 2:18 dimana Tuhan berkata:
"Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan seorang penolong baginya, yang sepa-dan dengan dia".

Itu bertentangan dengan Kej 1:28 dan Kej 9:1 dimana Tuhan memerintahkan manusia untuk berkembang biak.
Itu bertentangan dengan 1Tim 4:3 dimana Paulus sendiri me-nyerang orang yang melarang orang kawin, dan juga dengan 1Tim 5:14 dimana Paulus menganjurkan janda untuk kawin lagi.
Itu bertentangan dengan apa yang ia sendiri katakan dalam Ef 5:22-33 dimana ia menggambarkan hubungan suami dengan istri itu seperti hubungan Kristus dengan gereja / jemaat, yang jelas menunjukkan suatu hubungan yang indah / mulia.
Jadi, apa yang ia katakan dalam 1Kor 7 ini bukanlah rumus umum (general rule), tetapi hanya berlaku untuk keadaan saat itu, yang merupakan keadaan darurat. Bahwa saat itu adalah keadaan da-rurat, ia nyatakan secara jelas dalam 1Kor 7:26 dimana ia berkata:

"Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat se-karang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam ke-adaannya".

Keadaan darurat itu bisa juga terlihat dari 1Kor 7:29a dimana Pau-lus berkata: "Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat!".

Kita memang tidak tahu keadaan darurat apa yang ada pada saat itu, tetapi yang jelas ada banyak hal dalam 1Kor 7 ini yang hanya berlaku untuk keadaan darurat tersebut.

Dalam keadaan darurat itupun Paulus bukannya melarang orang kawin, tetapi hanya menganjurkan untuk tidak kawin bagi mereka yang mempunyai karunia untuk tidak kawin.
Ini terlihat dari:

1Kor 7:1b-2 dimana Paulus berkata:
"Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, te-tapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap la-ki-laki mempunyai istrinya sendiri dan setiap perem-puan mempunyai suaminya sendiri".

1Kor 7:7-9 dimana Paulus berkata:
"Namun alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunia-nya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain ka-runia itu. Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku. Tetapi ka-lau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mere-ka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu".

1Kor 7:28a dimana Paulus berkata:
"Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa".

baca juga 1Kor 7:36-38.
Kalau saudara membaca seluruh 1Kor 7, saudara akan melihat dengan jelas bahwa 1Kor 7 ini tidak ditujukan hanya kepada hamba Tuhan, tetapi kepada semua orang kristen biasa. Jadi kalau Roma Katolik toh mau memaksakan bagian ini sebagai dasar untuk melarang kawin, maka larangan itu harus ditujukan kepada semua orang Katolik, bukan hanya pastor / susternya!
Suatu tambahan penjelasan tentang 1Kor 7 adalah: sekalipun dalam 1Kor 7 ini Paulus itu menyatakan dirinya tidak kawin, itu tidak berarti bahwa ia tidak pernah kawin. Alasannya:
Sebelum menjadi orang kristen, Paulus adalah seorang rabi Yahudi, dan ia taat pada agama Yahudi. Dan dalam agama Yahudi, kawin adalah suatu keharusan. William Barclay berkata bahwa orang Yahudi mempunyai kepercayaan sebagai berikut:
"Seven were said to be excommunicated from heaven, and the list began, 'A Jew who has no wife; or who has a wife but no children'" (= Dikatakan bahwa ada tujuh yang dikucilkan dari surga, dan daftarnya dimulai dengan: 'Seorang Yahudi yang tidak mempunyai istri, atau yang mempunyai istri tetapi tidak mempunyai anak).

Dalam Kis 26:10 Paulus berkata bahwa ia ikut memberi suara, dan itu menunjukkan bahwa ia adalah anggota Sanhedrin / Mahkamah Agama Yahudi. Dan William Barclay berkata bahwa syarat keanggotaan Sanhedrin adalah 'sudah kawin'.
Jadi, jelas bahwa Paulus sendiri pernah kawin, tetapi mungkin istrinya mati atau menceraikan dia pada saat ia menjadi orang kristen, dan Paulus lalu tidak kawin lagi.

Saya bahkan berpendapat bahwa seorang hamba Tuhan sebaiknya menikah. Mengapa? Karena hamba Tuhan yang tidak menikah tidak pernah mengalami problem-problem dalam pernikahan, baik problem suami istri maupun problem anak dsb, dan ini akan menyebabkan ia tidak mengerti tentang problem-problem itu dalam kehidupan jemaat dan karena itu tentu saja tidak bisa menanganinya.
Bandingkan dengan Ibr 2:18 dan Ibr 4:15 yang menunjukkan bahwa Yesus pernah mengalami penderitaan / pencobaan, dan karena itu Ia bisa bersimpati dan menolong kita yang menderita / dicobai. Sebaliknya, hamba Tuhan yang tidak pernah mengalami problem keluarga (karena tidak berkeluarga), tidak bisa bersimpati apalagi menolong jemaatnya yang mempunyai problem keluarga!

7) Marriage (= Pernikahan):

a) Pernikahan dianggap sebagai sakramen berdasarkan Kitab Suci bahasa Latin terjemahan Jerome (Vulgate), yang oleh Council of Trent dijadikan versi yang diilhamkan untuk gereja Roma Katolik.

Ef 5:31-32 berbunyi: "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar ...".

Kata-kata yang digarisbawahi itu oleh Jerome diterjemahkan "This is a great sacrament" (= Ini adalah sakramen yang besar).

b) Sakramen ini menyebabkan hubungan sex tidak dianggap sebagai percabulan / perzinahan.

Sanggahan Kristen:

a) Kitab Suci memang mengajarkan bahwa pernikahan diadakan oleh Allah sendiri, tetapi Kitab Suci tidak pernah mengajarkan bahwa pernikahan adalah suatu sakramen.

Terjemahan Jerome di atas jelas salah, karena kata Yunani yang ia terjemahkan sebagai sacrament dalam Ef 5:32 itu adalah MUSTE-RION yang artinya adalah mystery (= rahasia).

Penerapan:

Orang kristen perlu mencamkan bahwa pernikahan bukanlah merupa-kan suatu sakramen, khususnya pada waktu mau menikah / menikah-kan anak. Dalam membuat undangan pernikahan, jangan asal meniru undangan pernikahan dari orang Roma Katolik, yang menyebutkan pernikahan itu sebagai sakramen (The Sacrament of Holy Matrimony / sakramen pernikahan kudus), karena dalam Kristen itu bukan sakramen! Saya mengatakan ini karena saya sudah 2 x melihat undangan pernikahan kristen yang menggunakan kata-kata Katolik seperti itu.

b) Sekalipun pernikahan itu bukan suatu sakramen, tetapi itu tetap diadakan oleh Allah sendiri, dan karenanya orang yang melakukan hubungan sex dalam suatu pernikahan resmi, jelas tidak melakukan perzinahan / percabulan.

http://www.golgothaministry.org/katolik/katolik_05.htm

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2560
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by Penyaran on Thu May 02, 2013 10:49 am

ROMA KATOLIK VI

PATUNG, SIMBOL SALIB dan RELICS


I) Patung:

A) Sejarah singkat:

Pada awal abad ke 4 banyak orang kafir masuk ke gereja karena Constantine menjadikan kristen sebagai agama seluruh kekaisaran Romawi.
Pada awal abad ke-7 'Paus' Gregory the Great (590-604) secara resmi menyetujui penggunaan patung-patung dalam gereja tetapi tidak untuk disembah.
Pada abad ke-8 doa mulai ditujukan kepada patung-patung.
Pada tahun 725 / 726 Kaisar Leo III menentang penggunaan patung- patung. Terjadi perdebatan soal patung sampai tahun 787 dimana Council of Nicea memutuskan bahwa penyembahan / pemujaan patung-patung dan gambar-gambar diijinkan.
Thomas Aquinas (1225-1274) mempertahankan penggunaan patung karena dianggap penting untuk orang-orang yang buta huruf.
Council of Trent memutuskan:
"The images of Christ and the Virgin mother of God, and of the other saints, are to be had and to be kept, especially in churches, and due honor and veneration are to be given them" (= patung-patung Kristus dan bunda perawan dari Allah dan orang-orang suci yang lain harus dimiliki dan dijaga / dipe-lihara, khususnya di gereja-gereja, dan hormat dan pemujaan yang seharusnya / selayaknya harus diberikan kepada mereka) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 279.

B) Dasar penggunaan patung:

Pada abad ke 4 itu kebanyakan orang tidak bisa membaca. Jadi dibutuhkan benda-benda yang yang bisa dilihat untuk mewakili orang-orang / tokoh-tokoh Kitab Suci. Argumentasi ini dipertahankan oleh Thomas Aquinas (1223-1274).
Tuhan juga menyuruh Musa membuat patung kerub di Ruang Maha Suci (Kel 25:10-21).
Tuhan menyuruh Musa membuat patung ular (Bil 21:4-9).
C) Teori dan praktek penggunaan patung:

1) Teori: Bukan patung yang disembah tetapi orang / roh yang diwakili oleh patung itu.

2) Praktek:

Banyak orang yang tidak mengerti perbedaan antara patung dan orang / roh yang diwakili oleh patung. Misalnya: orang yang tidak berpendidikan dan anak-anak kecil. Sehingga mereka betul-betul menyembah patung-patung itu.
Patung-patung itu ditempatkan di gereja, rumah sakit, rumah sekolah, mobil dsb. Patung-patung itu disembah, dicium, diberi menyan, didoai, dibawa dalam arak-arakan.
D) Sanggahan Kristen:

1) Kel 20:4-5 Im 26:1 1Yoh 5:21 2Kor 6:16 dengan jelas mengecam penyembahan berhala.

2) Orang-orang Katolik menghapuskan hukum ke II (tentang larangan membuat dan menyembah patung) dari 10 hukum Tuhan versi mereka. Kalau merasa bahwa penggunaan patung itu bukan untuk penyembahan berhala, mengapa mereka menghapuskan hukum ke II itu?

3) Sekalipun secara teoritis orang-orang Katolik menyembah orang / roh yang diwakili oleh patung, ini tetap salah karena:

a) Kita hanya boleh menyembah Allah (Mat 4:10). Malaikat dan rasul-rasul menolak penyembahan (Wah 19:10 Wah 22:8-9 Kis 10:25-26 Kis 14:10-18), dan Herodes dibunuh oleh Allah karena mene-rima penghormatan ilahi (Kis 12:20-23).

Memang doktrin Katolik membedakan 3 macam penyembahan:

LATRIA - penyembahan kepada Allah.
DULIA - penyembahan kepada malaikat dan orang-orang suci.
HYPER DULIA - penyembahan kepada Maria
Tetapi, dalam kenyataannya jarang orang Katolik yang mengerti hal ini dan apa yang mereka lakukan terhadap Allah, Maria, orang-orang suci dan malaikat persis sama, sehingga tidak ada alasan untuk membedakan penyembahan menjadi 3 macam seperti itu.

b) Penyembahan kepada Allah atau Yesus melalui patung tetap dilarang oleh Kitab Suci. Contoh:

Kel 20:4-5 (hukum ke II).
Hukum I (Kel 20:3) menekankan bahwa obyek / tujuan penyem-bahan haruslah benar yaitu Allah sendiri, sedangkan hukum ke II (Kel 20:4-5) menekankan bahwa caranya harus benar (tidak boleh melalui patung). Karena itu kalau orang menyembah Allah (tujuannya benar), tetapi melalui patung (caranya salah), itu tetap dosa!

Kel 32.
Israel menyembah anak lembu emas, tetapi perhatikan Kel 32:5 dimana Harun berkata: 'Besok hari raya bagi TUHAN'. Jadi mereka menyembah Tuhan, dengan perantaraan anak lembu emas itu. Tetapi ini tetap dianggap oleh Tuhan sebagai dosa.

4) Patung kerub (Kel 25:10-21) dan ular tembaga (Bil 21:4-9) tidak dibe-rikan / dibuat untuk disembah! Memang patung ular tembaga akhirnya disembah sehingga akhirnya dihancurkan oleh raja Hizkia (2Raja-raja 18:4).

5) Loraine Boettner menuliskan:

"But how very foolish is the practice of idolatery

For life man prays to that which is dead

For health he prays to that which has no health or strength

For a good journey he prays to that which can not move a foot

For skill and good succes he prays to that which can not do anything

For wisdom and guidance and blessing he commits himself to a senseless piece of wood or stone"

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

"Tetapi betapa bodohnya praktek penyembahan berhala

Untuk hidup manusia berdoa kepada sesuatu yang mati

Untuk kesehatan ia berdoa kepada sesuatu yang tidak mempunyai kesehatan atau kekuatan

Untuk perjalanan yang baik ia berdoa kepada sesuatu yang tidak bisa menggerakkan kaki

Untuk keahlian dan keberhasilan yang baik ia berdoa kepada sesuatu yang tidak dapat melakukan apapun

Untuk hikmat dan pimpinan dan berkat ia menyerahkan dirinya sendiri kepada sepotong kayu atau batu yang tidak mempunyai pikiran".

(dari buku 'Roman Catholicism', hal 282).

II) Simbol salib:

Baru mulai ada tahun 312. Pada tahun 312 itu Constantine berperang di Eropa Barat. Tradisi berkata bahwa pada waktu itu ia berdoa kepada dewa-dewa kafir tetapi tidak ada jawaban. Lalu ia melihat di langit suatu cahaya berbentuk salib dengan tulisan bahasa Latin "IN HOC SIGNO VINCES" (= In this sign conquer / dalam tanda ini kalahkanlah). Setelah itu ia menyeberang ke Italia dan menang. Lalu ia menganggap bahwa tanda itu datang dari Tuhan dan sejak saat itu ia menggunakan bendera dengan tanda salib setiap kali ia berperang.
Tidak ada bukti yang membenarkan tradisi ini.
Tidak diketahui dengan pasti apakah Constantine adalah orang kristen yang sungguh-sungguh atau tidak (ia tidak mau dibaptis sampai ia hampir mati pada tahun 337).
Memang tidak ada ayat Kitab Suci yang memerintahkan kita mengguna-kan tanda salib itu. Tetapi dalam Kitab Suci juga tidak ada larangan untuk menggunakan tanda salib ini. Jadi, tidak ada salahnya menggunakan tanda salib itu sepanjang kita tidak menyembahnya.
III) Relics:

Yang dimaksud dengan relics adalah potongan tulang orang-orang suci atau benda-benda yang pernah dipakai / disentuh orang-orang suci dalam hidupnya. Relics ini dianggap mempunyai kekuatan supranatural (bisa melakukan mujijat) dan relics ini mempunyai tempat yang penting dalam gereja Roma Katolik.

Contoh relics:

potongan kayu salib yang asli.
paku asli yang digunakan untuk memaku Yesus.
duri dari mahkota duri asli yang dipakaikan pada Yesus.
jubah / kain kafan Tuhan Yesus.
seikat rambut Maria, cincin kawin Maria, sebotol air susu Maria.
bulu sayap Gabriel yang rontok waktu ia mengunjungi Maria dan membe-ritakan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan Yesus.
darah St. Januarius, orang suci pelindung Naples, Italia, yang setiap tahun mencair tiga kali.
Rumah Maria di Loretto, Italia.
Rumah berukuran 28 kaki x 12 kaki ini dipercaya oleh orang Roma Katolik sebagai rumah yang ditempati Yesus dan Maria di Nazaret, Palestina. Setelah Kristus naik ke surga Maria terus hidup di situ sampai mati [Catatan: ini bertentangan dengan Yoh 19:26-27 yang mengatakan bahwa Maria diterima oleh Yohanes (= murid yang dikasihi Yesus) di rumahnya]. Ketika Nazaret diserang oleh tentara Romawi, rumah itu dijaga secara mujijat sehingga tidak dapat dimasuki atupun disentuh oleh tentara Romawi. Dikatakan bahwa pada tahun 1291, ketika Nazaret diserang oleh orang Saracen, rumah itu diangkat oleh malaikat dan dibawa menyeberang laut dan dipindahkan ke Dalmatia di Makedonia, dan diletakkan di sebuah bukit. Orang-orang Dalmatia memperlakukan rumah itu dengan baik dan menyembahnya. Selama 3 tahun 7 bulan rumah itu ada disana dan dikunjungi oleh banyak orang. Tiba-tiba rumah itu dipindah lagi, terbang melewati laut ke Italia Timur, dekat kota Loretto, 2 mil dari pantai. Beberapa bulan kemudian rumah itu dipindah lagi ke tempatnya yang sekarang, di suatu bukit di kota Loretto, disimpan dalam gereja yang indah - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 290-291.

Kepalsuan Relics:

Di Spanyol pernah dipertontonkan di 2 cathedral, 2 buah kepala dari Yohanes Pembaptis. Ini mengingatkan saya pada suatu lelucon dalam Reader's Digest sebagai berikut:
Seorang petani Skotlandia menemukan 2 buah tengkorak di ladangnya, yang satu besar dan yang lain kecil. Ia lalu membawa tengkorak yang besar ke lapangan terbang dimana ada banyak turis Amerika. Ia lalu menunjukkan tengkorak itu dan berkata: 'Ini adalah tengkorak dari Robert Bruce, raja yang hebat dari Skotlandia. Aku mau menjualnya dengan harga murah'. Turis Amerika itupun membeli tengkorak itu. Petani itu lalu pulang dan mengambil tengkorak yang kecil, lalu kembali ke lapangan terbang. Ia menjumpai orang Amerika yang membeli tengkoraknya, lalu berkata (sambil menunjuk pada tengkorak yang kecil): 'Ini adalah tengkorak dari Robert Bruce, raja yang hebat dari Skotlandia'. Orang Amerika itu menjawab: 'Tetapi tadi kamu sudah menjual tengkoraknya kepadaku'. Petani itu menjawab: 'Benar tuan, tetapi itu adalah tengkorak Robert Bruce pada waktu dewasa. Yang ini adalah tengkoraknya pada waktu ia masih remaja!'.

Tulang dari Neapolitan saint, setelah diselidiki, ternyata adalah 2 tulang kambing.
Bulu sayap Gabriel itu ternyata adalah bulu burung unta.
Ada banyak sekali 'paku asli' yang digunakan untuk memaku Tuhan Yesus.
Hampir setiap kota di Italia dan Perancis mempunyai 1 atau 2 duri asli dari mahkota duri Tuhan Yesus.
Hampir setiap kota di Silicia mempunyai 1 gigi atau lebih dari St. Agatha, orang suci pelindung kota itu.
Rumah Maria itu pasti rumah palsu karena 2 hal:
Bata yang digunakan dibakar dengan oven sedangkan pada jaman Tuhan Yesus di Palestina bata dikeringkan dengan sinar matahari.
Rumah itu punya cerobong asap sedangkan rumah di Palestina pada jaman itu tidak ada yang menggunakan cerobong asap.
Serpihan kayu salib yang asli tersebar di seluruh dunia dalam jumlah yang banyak sekali. Loraine Boettner mengutip Calvin yang berkata bahwa kalau semua itu dikumpulkan akan menjadi muatan 1 kapal dan membutuhkan 300 orang untuk mengangkatnya padahal dalam Kitab Suci kayu salib itu bisa diangkat oleh 1 orang saja - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 289.
Tetapi St. Paulinus, seorang ahli apologetics Roma Katolik khusus bagian relics, berkata:

"a portion of the true cross kept at Jerusalem gave off fragments of itself without diminishing" (= sebagian dari salib yang asli yang disimpan di Yerusalem mengeluarkan potongan-potongan dari dirinya sendiri tanpa mengurangi dirinya sendiri) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 289.

Mungkin ia dilhami oleh 5 roti dan 2 ikan yang dipakai oleh Yesus untuk memberi makan 5000 orang (Yoh 6:1-15), atau oleh minyak yang keluar terus tanpa berkurang dalam 2Raja-raja 4:1-7.

'kain kafan' Yesus sudah dibuktikan berasal dari abad 13 atau 14 (1260-1390). Pembuktian ini diceritakan dalam suatu artikel dalam Reader's Digest bulan Nopember 1989, hal 34-38, yang berjudul 'The Saga of the Shroud'. Artikel itu juga mengatakan bahwa pembuktian ilmiah itu akhir-nya diakui oleh gereja Roma Katolik. Padahal kain kafan itu sudah dipuja selama lebih dari 600 tahun.
Tidak perduli relics itu asli atau palsu tetapi tidak boleh dipuja / disembah!

http://www.golgothaministry.org/katolik/katolik_06.htm

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2560
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by Penyaran on Thu May 02, 2013 10:51 am

-o0o-APENDIX

MARTIN LUTHER


I) Kelahiran dan masa muda Luther:

Martin Luther dilahirkan pada tanggal 10 Nopember 1483, di Eisleben, di propinsi Saxony, Prussia / Jerman (dimana ia nantinya mati pada tanggal 18 Februari 1546), dan keesokan harinya ia dibaptiskan. Ia adalah anak pertama dan ia mempunyai 3 saudara laki-laki dan 3 saudara perempuan. 6 bulan setelah kelahirannya, keluarganya pindah dan menetap di Mansfield. Keluarganya adalah orang-orang kelas bawah yang amat miskin, tetapi jujur, rajin, dan saleh. Luther tidak pernah merasa malu terhadap asal usulnya yang rendah itu.

Luther mengalami masa kecil yang keras, tanpa kenangan manis, dan ia dibesarkan dibawah disiplin yang sangat keras. Ibunya pernah menghajarnya sehingga mengeluarkan darah hanya karena ia mencuri kacang, dan ayahnya pernah mencambuknya dengan begitu hebat sehingga menyebabkan ia lalu minggat, tetapi ia mengerti akan maksud baik mereka.

Dalam hal rohani ia diajar untuk berdoa kepada Allah dan para orang suci, menghormati gereja dan pastor, dan cerita-cerita mengerikan tentang setan dan ahli-ahli sihir, yang menghantuinya sepanjang hidupnya.

Di sekolah ia juga mengalami pendisiplinan yang sangat keras. Ia ingat bahwa pernah dicambuk 15 x dalam satu pagi. Di sekolah itu ia juga belajar Katekisasi, yang mencakup Pengakuan Iman, doa Bapa Kami dan 10 hukum Tuhan, dan juga beberapa lagu Latin dan Jerman.

II) Luther di Universitas:

Pada usia 18 tahun (tahun 1501) ia masuk Universitas di Erfurt dan mempelajari scholasticism (= sistim logika, filsafat, dan theology abad 10-15). Universitas ini adalah salah satu yang terbaik pada saat itu. Di sini, pada waktu ia berusia 20 tahun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat satu copy yang lengkap dari Alkitab (bahasa Latin)! Ia membacanya dengan sukacita dan mengalami suatu kejutan karena Alkitab itu mengajarkan banyak hal yang tidak pernah dibacakan / diajarkan dalam gereja. Tetapi dari pembacaan itu ia bukannya mendapat gambaran tentang Allah yang penuh kasih dan belas kasihan, tetapi sebaliknya tentang Allah yang benar yang murka terhadap manusia berdosa.

Pada tahun 1502, ia mendapat gelar B.A. (Bachelor of Arts), dan pada tahun 1505 ia mendapat gelar M.A. (Master of Arts).

III) Luther menjadi biarawan:

Sebetulnya, sesuai dengan keinginan ayahnya, setelah lulus ini ia mempersiapkan diri untuk bekerja dalam bidang hukum, tetapi ada peristiwa yang menyebabkan ia lalu pindah haluan.

Pada usia antara 21-22 tahun, ia lolos dari kematian akibat sambaran petir, sementara teman seperjalanannya yang ada di sebelahnya, mati tersambar (catatan: ada yang mengatakan bahwa temannya bukan mati kena petir tetapi karena suatu duel). Tidak lama setelah itu, pada tanggal 2 Juli 1505, ia mengalami hujan badai yang sangat hebat di dekat Erfurt setelah kembali dari kunjungan terhadap orang tuanya. Ia menjadi begitu takut sehingga ia menjatuhkan diri ke tanah dan berdoa dan bernazar dengan gemetar:

"Help, beloved Saint Anna! I will become a monk!" (= Tolonglah Santa Anna yang kekasih. Aku akan menjadi seorang biarawan!) - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 112.

Untuk menggenapi nazarnya ia lalu masuk the Augustinian convent pada tahun 1505.

Tentang Augustinian convent itu, yang menggunakan nama Augustine / Agustinus, Schaff memberikan komentar sebagai berikut:

"... it is an error to suppose that this order represented the anti-Pelagian or evangelical views of the North African father; on the contrary it was intensely catholic in doctrine, and given to excessive worship of the Virgin Mary, and obedience to the papal see which conferred upon it many special privileges" (= adalah sesuatu yang salah untuk mengira bahwa ordo ini mewakili pandangan-pandangan yang anti-Pelagian atau injili dari bapa Afrika Utara ini; sebaliknya ordo ini bersifat sangat katolik dalam doktrin / pengajaran, dan sangat memuja Perawan Maria, dan taat pada Paus yang memberikan kepada ordo ini banyak hak istimewa) - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 114.

Tentang masuknya Luther ke biara untuk menjadi biarawan:

"Luther himself declared in later years, that his monastic vow was forced from him by terror and the fear of death and the judgment to come; yet he never doubted that God's hand was in it" (= Dalam tahun-tahun belakangan, Luther sendiri menyatakan bahwa nazar kebiarawanannya dipaksakan dari dia oleh teror dan ketakutan pada kematian dan pada penghakiman yang akan datang; tetapi ia tidak pernah meragukan bahwa tangan Allah ada di dalamnya) - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 113.
"He was never an infidel, nor a wicked man, but a pious Catholic from early youth; but now he became overwhelmed with a sense of the vanity of this world and the absorbing importance of saving his soul, which, according to the prevailing notion of his age, he could best secure in the quiet retreat of a cloister" (= Ia tidak pernah menjadi orang kafir, atau orang jahat, tetapi ia adalah orang Katolik yang saleh sejak masa kecilnya; tetapi sekarang ia diliputi oleh suatu perasaan akan kesia-siaan dari dunia ini dan kepentingan untuk menyelamatkan jiwanya, yang, menurut pemikiran umum jaman itu, bisa ia pastikan dengan cara yang terbaik dalam pengunduran diri / pengucilan diri yang tenang dalam biara) - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 113.
Pada waktu Luther menjadi seorang biarawan ia berusaha mati-matian untuk hidup sesuai dengan ajaran gereja Katolik pada waktu itu. Ia berusaha untuk mendapatkan keselamatan melalui usahanya sendiri dalam membuang dosa, berbuat baik, dsb. Tetapi ia tidak pernah merasakan damai, sukacita atau ketenangan. Ia terus-menerus dihantui oleh perasaan berdosa yang luar biasa hebatnya, dan pemikiran tentang Allah yang suci, adil, bahkan bengis.

"If there was ever a sincere, earnest, conscientious monk, it was Martin Luther. His sole motive was concern for his salvation. To this supreme object he sacrificed the fairest prospects of life. He was dead to the world and was willing to be buried out of the sight of men that he might win eternal life. His latter opponents who knew him in convent, have no charge to bring against his moral character except in certain pride and combativeness, and he himself complained of his temptations to anger and envy" (= Jika pernah ada seorang biarawan yang tulus dan sungguh-sungguh, maka itu adalah Martin Luther. Motivasi satu-satunya adalah perhatian untuk keselamatannya. Untuk tujuan tertinggi ini ia mengorbankan harapan terbaik hidupnya. Ia mati terhadap dunia, dan rela dikubur terhadap pandangan manusia supaya ia bisa mendapatkan hidup yang kekal. Penentang-penentangnya, yang mengenalnya di biara, tidak mempunyai tuduhan terhadap karakter moralnya kecuali dalam hal kesombongan tertentu dan kesukaannya melawan, dan ia sendiri mengeluh tentang pencobaan-pencobaan yang ia alami terhadap kemarahan dan iri hati) - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, pp 113-114.
"He assumed the most menial offices to subdue his pride: he swept the floor, begged bread through the streets, and submitted without murmur to the ascetic severities" (= Ia menerima jabatan-jabatan yang paling rendah untuk menundukkan kesombongannya: ia mengepel lantai, mengemis roti di jalan-jalan, dan tunduk tanpa menggerutu pada kekerasan / kesederhanaan hidup pertapa) - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 115.
"He said twenty-five Paternosters with the Ave Maria in each of the seven appointed hours of prayer. He was devoted to the Holy Virgin ... He regularly confessed his sins to the priests at least once a week. At the same time a complete copy of the Latin Bible was put into his hands for study, ... At the end of the year of probation Luther solemnly promised to live until death in poverty and chastity according to the rules of the holy father Augustin, to render obedience to Almighty God, to the Virgin Mary, and to the prior of the monastery. ... His chief concern was to become a saint and to earn a place in heaven. 'If ever,' he said afterward, 'a monk got to heaven by monkery, I would have gotten there'. He observed with minutest details of discipline. No one surpassed him in prayer, fasting, night watches, self-mortification" [= Ia mengucapkan 25 x doa Bapa Kami dengan Salam Maria dalam setiap dari 7 jam doa yang ditetapkan. Ia berbakti kepada Perawan yang Kudus ... Ia mengaku dosa secara rutin kepada imam / pastor sedikitnya sekali seminggu. Pada saat yang sama suatu copy Alkitab Latin yang lengkap ada di tangannya untuk dipelajari, ... Pada akhir dari tahun percobaan Luther berjanji dengan khidmat / sungguh-sungguh untuk hidup sampai mati dalam kemiskinan dan kesederhanaan / kesucian menurut peraturan-peraturan bapa kudus Agustinus, taat kepada Allah yang mahakuasa, kepada Perawan Maria, dan kepada kepala biara. ... Perhatiannya yang terutama adalah untuk menjadi orang suci dan mendapatkan tempat di surga. 'Jika ada,' katanya belakangan, 'seorang biarawan mencapai surga melalui kebiarawanan, Aku sudah sampai di sana'. Ia menjalankan disiplin dengan sangat terperinci. Tidak seorangpun melampaui dia dalam doa, puasa, jaga malam (?), mematikan diri sendiri] - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, pp 115-116.
"He sought by the means set forth by the Church and the monastic tradition to make himself acceptable to God and to earn salvation of his soul. He mortified his body. He fasted, sometimes for days on end and without a morsel of food. He gave himself to prayers and vigils beyond those required by the rule of his order. He went to confession, often daily and for hours at a time. Yet assurance of God's favour and inward peace did not come and the periods of depression were acute" (= Ia mencari melalui cara-cara yang dinyatakan oleh Gereja dan tradisi biara untuk membuat dirinya sendiri diterima oleh Allah dan mendapatkan keselamatan jiwanya. Ia mematikan dirinya. Ia berpuasa, kadang-kadang selama berhari-hari tanpa makanan sedikitpun. Ia menye-rahkan dirinya untuk berdoa dan berjaga-jaga melebihi apa yang dituntut oleh peraturan ordonya. Ia menga-ku dosa, seringkali setiap hari dan untuk berjam-jam dalam satu kali pengakuan. Tetapi keyakinan akan perkenan Allah dan damai di dalam tidak datang dan ia mengalami masa depresi yang parah) - Kenneth Scott Latourette, 'A History of Christianity', vol II, p 705.
"But he was sadly disappointed in his hope to escape sin and temptation behind the walls of the cloister. He found no peace and rest in all his pious exercises. The more he seemed to advance externally, the more he felt the burden of sin within. He had to contend with temptations of anger, envy, hatred and pride. He saw sin everywhere, even in the smallest trifles. The Scriptures impressed upon him the terrors of divine justice. He could not trust in God as a reconciled Father, as a God of love and mercy, but trembled before him, as a God of wrath, as a consuming fire. He could not get over the words: 'I, the Lord thy God, am a jelous God'" (= Tetapi ia sangat kecewa dalam harapannya untuk lepas dari dosa dan pencobaan di balik tembok-tembok biara. Ia tidak mendapatkan damai dan ketenangan dalam semua hal-hal saleh yang ia lakukan. Makin ia kelihatan maju secara lahiriah, makin ia merasa beban dosa di dalam. Ia harus berjuang melawan pencobaan untuk marah, iri, kebencian, dan kesombongan. Ia melihat dosa dimana-mana, bahkan dalam hal-hal yang paling remeh. Kitab Suci memberikan kesan kepadanya tentang keadilan ilahi. Ia tidak bisa percaya kepada Allah sebagai Bapa yang diperdamaikan, sebagai Bapa yang kasih dan berbelas kasihan, tetapi gemetar di hadapanNya, sebagai Allah yang murka, sebagai api yang menghanguskan. Ia tidak bisa mengatasi kata-kata: 'Aku, Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu') - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 116.
"He entered the confessional and stayed for hours every day. On one occasion Luther spent six hours confessing the sins he had committed in the last day!" (= Ia masuk ke dalam ruang pengakuan dosa dan berada di sana berjam-jam setiap hari. Pada suatu kali Luther menghabiskan waktu 6 jam untuk mengaku dosa-dosa yang ia lakukan pada hari terakhir) - R.C. Sproul, 'The Holiness of God', p 114.
Pengakuan dosa Luther ini menyebabkan Staupitz menjadi marah dan berkata:
"'Look here,' he said, 'if you expect Christ to forgive you, come in with something to forgive - parricide, blasphemy, adultery - instead of all these peccadilloes. ... Man, God is not angry with you. You are angry with God. Don't you know that God commands you to hope?'" (= 'Lihatlah,' katanya, 'Jika kamu berharap supaya Kristus mengampuni kamu, datanglah dengan sesuatu untuk diampuni - pembunuhan orang tua, penghujatan, perzinahan - dan bukannya semua dosa-dosa remeh ini. ... Bung, Allah tidak marah kepadamu. Kamu yang marah kepada Allah. Tidak tahukah kamu bahwa Allah memerintahkan kamu untuk berharap?') - R.C. Sproul, 'The Holiness of God', p 114, dimana ia mengutip dari Roland Bainton, dalam bukunya 'Here I Stand'.

Pada tahun 1505, sebagai seorang pastor muda ia memimpin misa untuk pertama kalinya. Pada waktu ia mengangkat roti dan mengucapkan kata-kata "Ini adalah tubuhKu", ia mengalami rasa takut yang luar biasa karena ia merasakan dirinya penuh dosa di hadapan Allah yang tak terbatas dalam kekudusanNya.
IV) Pertobatan Luther:

Seorang biarawan tua menghibur Luther dalam kesedihan dan keputus-asaannya, dan mengingatkan dia tentang kata-kata Paulus bahwa orang berdosa dibenarkan oleh kasih karunia melalui iman.

Juga Johann von Staupitz, yang adalah teman baik, sekaligus penasehat dan bapa rohani Luther, mengarahkan Luther dari dosa-dosanya kepada apa yang Kristus lakukan di kayu salib, dari hukum Taurat kepada salib, dan usaha berbuat baik kepada iman. Ia juga yang mendorong Luther untuk belajar Kitab Suci.

Melalui bantuan biarawan tua dan Staupitz, dan khususnya melalui penye-lidikannya terhadap surat-surat Paulus, perlahan-lahan Luther sadar bahwa orang berdosa bisa dibenarkan bukan karena mentaati hukum, tetapi hanya karena iman.

"He pondered day and night over the meaning of 'the righteousness of God' (Rom. 1:17), and thought that it is the righteous punishment of sinners; but toward the close of his convent life he came to the conclusion that it is the righteousness which God freely gives in Christ to those who believe in him. Righteousness is not acquired by man through his own exertions and merits; it is complete and perfect in Christ, and all the sinner has to do is to accept it from Him as a free gift" [= Ia merenungkan siang dan malam tentang arti dari 'kebenaran Allah' (Ro 1:17), dan mengira bahwa itu adalah hukuman yang adil terhadap orang-orang berdosa; tetapi menjelang akhir dari kehidupan biaranya ia sampai pada kesimpulan bahwa itu adalah kebenaran yang Allah berikan dengan cuma-cuma dalam Kristus kepada mereka yang percaya kepadaNya. Kebenaran tidak didapatkan oleh manusia melalui usaha dan kebaikan / jasanya sendiri; kebenaran itu lengkap dan sempurna dalam Kristus, dan semua yang harus dilakukan oleh orang berdosa adalah menerimanya dari Dia sebagai pemberian cuma-cuma] - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 122.

Pada tahun 1510, ia melakukan perjalanan agama (pilgrimage) ke Roma. Ia berharap untuk bisa mendapatkan penghiburan untuk jiwanya dengan melakukan perjalanan ini.

"He ascended on bended knees the twenty-eight steps of the famous Scala Santa (said to have been transported from the Judgment Hall of Pontius Pilate in Jerusalem), that he might secure the indulgence attached to his ascetic performance since the days of Pope Leo IV. in 850, but at every step the word of the Scripture sounded as a significant protest in his ears: 'The just shall live by faith' (Rom. 1:17). Thus at the very height of his medieval devotion he doubted its efficacy in giving peace to the troubled conscience" [= Dengan menggunakan lututnya ia menaiki 28 anak tangga dari Scala Santa yang terkenal (dikatakan bahwa Scala Santa itu telah dipindahkan dari Ruang Pengadilan Pontius Pilatus di Yerusalem), supaya ia bisa memastikan pengampunan dosa yang dicantelkan pada pelaksanaan pertapaannya sejak jaman Paus Leo IV pada tahun 850, tetapi pada setiap langkah kata-kata Kitab Suci terngiang di telinganya sebagai suatu protes: 'Orang benar akan hidup oleh iman' (Ro 1:17). Jadi, pada puncak dari kebaktian keagamaannya ia meragukan kemujarabannya dalam memberikan damai pada hati nurani yang kacau] - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 129.

Kebejadan Roma - (p 129-130).

Cerita tentang pertobatannya agak simpang siur, dan sukar dipastikan kapan persisnya ia sungguh-sungguh bertobat dan diselamatkan. Pengertiannya dan kepercayaannya akan keselamatan / pembenaran karena iman yang diajarkan oleh Ro 1:17 itupun melalui pergumulan hebat dan cukup lama.

Tetapi, setelah ia betul-betul mengerti dan percaya, maka kegagalannya dalam mencapai 'keselamatan / pembenaran melalui perbuatan baik', dan pengalamannya dalam mendapatkan 'keselamatan / pembenaran karena iman', menyebabkan ia begitu membenci doktrin 'keselamatan karena per-buatan baik'. Ia berkata:

"The most damnable and pernicious heresy that has ever plagued the mind of men was the idea that somehow he could make himself good enough to deserve to live with an all-holy God" (= Ajaran sesat yang paling terkutuk dan jahat / merusak yang pernah menggoda pikiran manusia adalah gagasan bahwa entah bagaimana ia bisa membuat dirinya sendiri cukup baik sehingga layak untuk hidup dengan Allah yang mahasuci) - Dr. D. James Kennedy, 'Evangelism Explosion', pp 31-32.

V) Reformasi:

Gereja Roma Katolik membutuhkan uang, dan ini menyebabkan terjadinya penjualan surat pengampunan dosa / letter of indulgence.

"Luther had experienced the remission of sin as a free gift of grace to be apprehended by a living faith. This experience was diametrically opposed to a system of relief by means of payments in money" (= Luther telah mengalami pengampunan dosa sebagai suatu pemberian cuma-cuma oleh iman yang hidup. Pengalaman ini sama sekali bertentangan dengan sistim pembebasan dengan cara membayar dengan uang) - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 154.

Penjualan surat pengampunan dosa itu menyebabkan pada tanggal 31 Oktober 1517 Luther menempelkan 95 thesisnya pada pintu gereja Witten-berg, Jerman.

Tanggal 31 Oktober 1517 ini akhirnya diperingati sebagai hari Reformasi.
Tulisan Luther ini menyerang penjualan surat pengampunan dosa itu, dan tulisannya ditujukan kepada para ahli theologia jaman itu untuk diperdebatkan. Dan tulisannya ini memang menimbulkan pertentangan / perdebatan yang luar biasa.
Dalam bulan Juli 1519 Luther dan teman sejawatnya yang bernama Andreas Carlstadt bertemu dengan John Eck, yang merupakan ahli debat top pada saat itu. Mereka mengadakan debat di depan umum di Leipzig. Dalam perdebatan itu John Eck menunjukkan bahwa beberapa pandangan Luther sesuai dengan pandangan John Hus, yang saat itu dianggap sebagai ajaran sesat oleh gereja Roma Katolik. Akhirnya Luther terpaksa mengakui dengan segan, sesuai dengan keinginan John Eck, sebagai berikut:

"Among the condemned beliefs of John Hus and his disciples, there are many which are truly Christian and evangelical and which the Catholic Church cannot condemn" (= Di antara kepercayaan-kepercayaan John Hus dan murid-muridnya yang dikecam, ada banyak yang adalah benar-benar Kristen dan injili dan yang Gereja Katolik tidak bisa mengecam) - Dr. Albert Freundt, 'History of Modern Christianity', p 31.

Catatan:

John Hus (1373-1415) adalah pemimpin dari The Bohemian Brethren di Bohemia, Cekoslowakia. John Hus dipengaruhi oleh theologia dari Augustine dan Wycliffe. Dalam suatu tulisannya yang berjudul 'On the Church' ia berkata bahwa hanya Kristus sendiri yang adalah kepala gereja. Ia menyerang penjualan indulgence / surat pengampunan dosa dan juga menyerang kejahatan dari gereja dan pastor. Ini menimbulkan konflik, dan Sigismund, kaisar Romawi, mendesak supaya John Hus hadir dalam the Council of Constance dalam tahun 1415, dan kepada John Hus diberikan jaminan keamanan di sana sampai ia bisa kembali dengan selamat. Tetapi ternyata begitu sampai, ia langsung ditangkap, dipenjarakan, diadili dengan cepat, dinyatakan bersalah, dan dihukum mati dengan dibakar, karena ia menolak untuk menarik kembali tulisannya kecuali ia diyakinkan kesalahannya berdasarkan Kitab Suci.

Dengan pengakuan itu Luther sudah menyangkal Council!

Dr. Albert Freundt mengomentari dengan berkata:

"He intended no revolution; he aimed at purifying the Catholic Church and preserving its truth. But the Leipzig debate tore down the last barrier which held him to Rome" (= Ia tidak memaksudkan revolusi; ia bertujuan memurnikan Gereja Katolik dan memelihara kebenarannya. Tetapi perdebatan di Leipzig menghancurkan halangan terakhir yang menahannya pada Roma) - 'History of Modern Christianity', p 31.

Dan pada bulan Februari 1520 Luther mengakui lebih jauh dari pada peng-akuannya di Leipzig dengan berkata: "We are all Hussites without knowing it," (= Kita semua adalah pengikut Hus tanpa kita sadari) tulisnya, "St. Paul and St. Augustine are Hussites" (= Santo Paulus dan Santo Agustinus adalah pengikut-pengikut Hus / mempunyai pandangan seperti Hus) - Dr. Albert Freundt, 'History of Modern Christianity', p 31.

Pada bulan Juni 1520, Roma mengeluarkan 'the Bull' (= surat keputusan dari Paus), yang diberi nama 'Exsurge Domine', yang mengecam 41 usul Luther sebagai sesat, dan memerintahkan orang yang setia (kepada Roma Katolik) untuk membakar buku-buku Luther dimanapun bisa ditemukan. Luther diberi waktu 2 bulan untuk menarik kembali ucapan / tulisannya atau ia akan dikucilkan.

Pada tanggal 10 Desember 1520, pada pk 9 pagi, Luther membakar bull tersebut beserta buku-buku Katolik lain, di depan umum. Dan pada tanggal 3 Januari 1521, pengucilan terhadap Luther dilaksanakan.

Luther lalu berkata:

"I said (at the Leipzig disputation of 1519) that the Council of Constance condemned some propositions of Hus that were truly Christian. I retract. All his propositions were Christian, and in condemning him the Pope has condemned the Gospel" [= Aku berkata (pada perdebatan Leipzig pada tahun 1519) bahwa Council of Constance mengecam beberapa pernyataan dari Hus yang adalah benar-benar Kristen. Aku menarik kembali. Semua pernyataannya adalah Kristen, dan dalam mengecam dia Paus sudah mengecam Injil] - Dr. Albert Freundt, 'History of Modern Christianity', p 33.

24 hari setelah pengucilan Luther, Charles V (kaisar Romawi) membuka Diet of Worms (Catatan: Diet = pertemuan formil, Worms adalah nama kota) yang pertama. Ia memberi jaminan keselamatan bagi Luther. Luther datang, sekalipun ia tentu tahu bahwa John Hus dibakar hidup-hidup sekalipun ada jaminan keselamatan.

Luther berkata:

"I shall go to Worms, though there were as many devils there as tiles on the roofs" (= Aku akan pergi ke Worms, sekalipun disana ada setan-setan sebanyak gen-teng pada atap-atap) - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 298.

Dalam perjalanan ke Worms, ia menulis surat kepada Spalatin:

"'You may expect every thing from me,' he wrote Spalatin, 'except fear or recantation. I shall not flee, still less recant. May the Lord Jesus strengthen me'" (= 'Kamu boleh mengharapkan segala sesuatu dari aku,' tulisnya kepada Spalatin, 'kecuali rasa takut atau penarikan kembali / pengakuan kesalahan. Aku tidak akan lari, dan lebih-lebih aku tidak akan menarik kembali / mengaku salah. Kiranya Tuhan Yesus menguatkan aku') - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 294.

Dalam Diet of Worms itu, pada waktu ia diminta untuk menarik kembali buku-bukunya / ajarannya, ia berkata:

"Unless I am refuted and convicted by testimonies of the Scriptures or by clear arguments (since I believe neither the Pope nor the councils alone; it being evident that they have often erred and contradicted themselves), I am conquered by the Holy Scriptures quoted by me, and my conscience is bound in the word of God: I can not and will not recant any thing, since it is unsafe and dangerous to do any thing against the conscience" [= Kecuali aku disangkal / dibuktikan salah dan diyakinkan oleh kesaksian Kitab Suci atau oleh argumentasi-argumentasi yang jelas (karena aku tidak percaya kepada Paus ataupun councils saja; adalah jelas bahwa mereka sering salah dan bertentangan dengan diri mereka sendiri), aku ditaklukkan oleh Kitab Suci yang Kudus yang aku kutip, dan hati nuraniku terikat pada firman Allah: aku tidak bisa dan tidak mau menarik kembali apapun, karena adalah tidak aman dan berbahaya untuk melakukan apapun yang bertentangan dengan hati nurani] - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, pp304-305.

"Here I stand. (I can not do otherwise.) God help me! Amen" [= Disinilah aku berdiri (Aku tidak bisa berbuat yang lain.) Kiranya Allah menolong aku! Amin] - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 305.

Luther menceritakan Diet of Worms sebagai berikut:

"'I expected,' he wrote to the artist Cranach, 'that his Majesty the Emperor would have collected fifty doctors of divinity to confute the monk in argument. But all they said was: 'Are these books yours?'. 'Yes'. 'Will you recant?'. 'No'. 'Then get out!'" (= 'Aku berharap,' tulisnya kepada artis Cranach, 'bahwa Yang Mulia Kaisar telah mengumpulkan 50 doktor theologia untuk membantah / membukti-kan kesalahan biarawan ini dalam perdebatan. Tetapi semua yang mereka katakan adalah: 'Apakah buku-buku ini milikmu?'. 'Ya'. 'Maukah kamu menariknya kembali?'. 'Tidak'. 'Kalau begitu keluarlah!') - Dr. Albert Freundt, 'History of Modern Christianity', p 34.

Setelah pulang dari Worms, ia bertemu dengan Spalatin:

"To Spalatin, in the presence of others, he said, 'If I had a thousand heads, I would rather have them all cut off one by one than make one recantation'" (= Kepada Spalatin, di depan orang-orang lain, ia berkata, 'Jika aku mempunyai 1000 kepala, aku lebih suka semuanya itu dipenggal satu demi satu dari pada membuat satu penarikan kembali / pengakuan salah') - Philip Schaff, 'History of the Christian Church', vol VII, p 306.

VI) Kematian Luther:

Luther meninggal dunia pada tanggal 18 Februari 1546, dan dikuburkan pada tanggal 22 Februari 1546.

"His later years had been marked by a complication of various physical illneses, presumably aggravated by the strains and labours of a tempestuous life. This may in part account for his frequent irascibility and occasional outburst of wrath and coarse vituperation" (= Tahun-tahun terakhir hidupnya ditandai oleh komplikasi dari bermacam-macam penyakit fisik, rupanya diperparah oleh ketegangan dan pekerjaan dari hidup yang bergejolak. Ini merupakan sebagian penyebab dari sikap mudah marahnya yang sering terjadi dan kemarahannya yang kadang-kadang meledak dan makian dengan kata-kata kasar) - Kenneth Scott Latourette, 'A History of Christianity', vol II, p 729.

VII) Kesimpulan tentang Luther:

Dr. R.C. Sproul dalam bukunya 'The Holiness of God' (= Kekudusan / kesucian Allah) menuliskan sebuah bab yang berjudul 'The Insanity of Luther' (= Kegilaan Luther), dimana ia menceritakan banyak 'kegilaan' yang dilakukan Luther. Dr. R.C. Sproul akhirnya menutup bab itu dengan kata-kata sebagai berikut:

"Was Luther crazy? Perhaps. But if he was, our prayer is that God would send to this earth an epidemic of such insanity that we too may taste of the righteousness that is by faith alone" (= Apakah Luther gila? Mungkin. Tetapi kalau ia gila, doa kita adalah supaya Allah akan mengirimkan ke dunia ini suatu epidemi kegilaan seperti itu supaya kita juga boleh merasakan kebenaran yang hanya karena iman) - R.C. Sproul, 'The Holiness of God', p 126.

http://www.golgothaministry.org/katolik/katolik_06.htm

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2560
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by SEGOROWEDI on Thu May 02, 2013 10:54 am


dasar keimanannya sama:
Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat

selesai

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Total Like dan Thanks: 106
Posts: 28873
Join date: 2011-11-12

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by Penyaran on Thu May 02, 2013 11:02 am

berarti jika besok ada yang ngomongin Sunni vs Syiah, Sunni vs Salafi, Sunni vs Wahabi

maka tinggal omongin aja

yang penting..
sama-sama mengimani bahwa Muhammad adalah Nabi dan Utusan Allah

selesai

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2560
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by SEGOROWEDI on Thu May 02, 2013 11:08 am



selesai
asal tidak pada saling bunuh-bunuhan

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Total Like dan Thanks: 106
Posts: 28873
Join date: 2011-11-12

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by Penyaran on Thu May 02, 2013 11:17 am

berarti gak selesai karena kenyataannya...

http://ateisindonesia.wikidot.com/perang-kristen

Sederetan perang yang terjadi sejak reformasi abad ke 16 di Eropa. Berawal dari pertengahan Rennaissans. Perang ini juga terkait dengan masalah politik di Eropa Utara dengan semua kekuatan Paus di Roma.

Reformasi Jerman

Tahun 1517, Martin Luther mengumumkan gagasannya dengan menulis 95 tesis dan memakunya di pintu gereja Wittenburg: tindakan ini menyebabkan peringatan pada katolik jerman dan Roma sendiri, karena posisi Luther pada masa teokratis. Luther dipinta menarik serangannya pada gereja katolik, namun ini membuatnya tambah semakin vocal. Paus lalu mengirim ancaman pembuangan tertulis dari gereja (disebut bull) yang dibakar di depan umum oleh Luther tahun 1520. para pangeran Jerman kemudian mendukung Luther.

Perang Kristen pertama 1524 -1525

Pecah antara pengikut Luther dan katolik. Tahun 1526 diadakan perdamaian, namun tahun 1529, pihak katolik melanggar perjanjian. Sejak ini kaum Lutheran disebut protestan.

Perang Kristen kedua 1546-1555

Kaisar romawi suci memihak Roma dan melancarkan perang pada protestan. Tahun 1555 diadakan perjanjian damai. Protestan segera mengembang luas dan dianut oleh separuh populasi, dan diakui keberadaannya.

Reformasi Skandinavia

Tahun 1536, sebuah sidang di Copenhagen menghapuskan kekuasaan katolik di denmark, Norwegia dan Islandia. Swedia secara resmi mengadopsi protestanisme tahun 1529.

Perang Kristen ketiga 1529-1531

Reformasi di Swiss dipimpin oleh pastor Swis Huldreich Zwingli (1484-1531) di Zurich. Dalam perang ini, Zwingli terbunuh. Setelah itu penduduk Swiss dibebaskan memilih agama yang mereka yakini. John Calvin, seorang protestan, kemudian menguasai Swiss dan melarang segala bentuk katolik. Selain itu tarian, perjudian, permainan kartu dan hiburan lain di larang di Geneva, mereka yang tertangkap di hokum mati.

Perang Kristen keempat 1562-2598

1572, terjadi pembantaian hari st Bartholomew, dimana protestan dibantai oleh katolik. Lalu raja perancis Henry IV, merasa bersimpati dengan protestan, mengeluarkan Edict of Nantes yang secara resmi mengakui protestan di perancis. Edict ini dilanggar tahun 1685, dan protestan di bunuh atau di usir dari perancis, sepenuhnya.

Perang Kristen kelima 1560-1567

Reformasi di Skotlandia berpuncak pada kemunculan pengikut Calvinis, John Knox, yang ditahun 1560, meminta parlemen skotlandia memeluk protestanisme. Mary ratu Scotlandia, melancarkan perang tujuh tahun untuk menolaknya namun gagal.

Reformasi di Inggris
Gereja katolik kemudian ditekan dan property mereka dikembalikan ke kerajaan. Tindakan ini tidak berarti raja Henry yang berkuasa saat itu menerima protestanisme sendiri: sebaliknya, ia menulis Akta enam butir tahun 1539, yang menyatakan kalau penolakan doktrin katolik adalah kafir.
Henry mengangkat dirinya sebagai kepala gereja inggris. Pendeta katolik yang menentang dibakar, begitu juga para pengikut protestan. Namun penerus Henry, Edward IV kemudian membatalkan Akta enam butir.

Perang Kristen keenam – perang tiga puluh tahun 1618-1648

Protestan di Bohemia menyerang pertama kali. Tindakan ini disebut Defenestrasi Praha, dan menjadi awal kemunculan protestan kebangsaan. Protestan memperoleh banyak kemenangan di awal, dan pemberontakan ini menyebar ke bagian lain kekuasaan Habsburg. Di awal 1619, bahkan Wina, ibu kota Hapsburg terancam oleh tentara Gabungan Evangelis.
Katolik kemudian berhasil menghancurkan kekuatan protestan di Weisserberg tahun 1620. Protestan kemudian kembali menang dalam pertempuran Wiesloch, tahun 1622. Tapi, hanya sementara, mereka telah di bantai habis oleh KAtolik.

Tahun 1626, raja Christian IV dari Denmark mendukung katolik dan menyerang Katolik jerman dalam pertempuran Dessau. Mereka kalah dan kembali ke utara. Pasukan katolik membakar dan membantai penduduk seluruh kota protestan di jerman utara.
Protestan Swedia kemudian menyerang Katolik Jerman. September 1630, mereka berperang di Breitenfeld, dan 6000 tentara katolik semuanya terbunuh. Akhirnya, Swedia bertemu dengan kekuatan katolik yang lebih besar November 1632 dalam pertempuran Lutzen. Dalam pertempuran ini, raja Swedia, Gustav, terbunuh namun protestan masih tetap menang dan katolik mundur. Semua Bavaria kemudian dikuasai tentara protestan, yang hanya mendapat perlawanan berarti oleh katolik di Silesia.
September 1634, pasukan swedia kalah dalam pertempuran Nordlingen dan akhirnya mundur dari jerman.

Di masa ini, protestan swedia, katolik jerman, protestan jerman, protestan belanda, Austria dan sekuler perancis saling berperang satu sama lain. Pertempuran-pertempuran utama terus terjadi antara beragam pasukan hingga 1647, saat tentara PErancis menginvasi dan menguasai Bavaria: raja Bavaria, Maximilian I, lalu mundur dari perang, berdamai dengan Swedia dan Perancis, dikenal dengan Truce of Ulm, Maret tahun itu.
Perdamaian Westphalia, ditandatangani tahun 1648, secara mendasar mempengaruhi sejarah Eropa. Swiss dan Belanda menjadi Negara merdeka; kekaisaran romawi suci dari raja-raja jerman melemah, mencegah penyatuan jerman untuk 200 tahun kemudian, dan perancis menjadi kekuatan utama di eropa barat.

Referensi:
March of the Titans: A History of the White Race. Chapter 43 : In the Name of God - The Christian Wars. Ostara Publications, 1999.

ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak ngakak

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2560
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by SEGOROWEDI on Thu May 02, 2013 11:20 am



kesalahan masa lalu biarlah berlalu..
yang penting hari ini dan ke depan

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Total Like dan Thanks: 106
Posts: 28873
Join date: 2011-11-12

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by Penyaran on Thu May 02, 2013 11:27 am

berarti jika besok ada yang ngomongin pertikaian Sunni vs Syiah, Sunni vs Salafi, Sunni vs Wahabi

maka tinggal omongin juga

kesalahan masa lalu biarlah berlalu..
yang penting hari ini dan ke depan

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2560
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by SEGOROWEDI on Thu May 02, 2013 11:33 am



suni vs siah
masih berantem dan nampaknya akan terus berantem
itu masalah

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Total Like dan Thanks: 106
Posts: 28873
Join date: 2011-11-12

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by Penyaran on Thu May 02, 2013 11:36 am

katolik vs protestan
masih terpisah dan nampaknya akan terus terpisah
itu masalah

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Total Like dan Thanks: 114
Male
Posts: 2560
Join date: 2012-01-03

Back to top Go down

Re: Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div

Post by SEGOROWEDI on Thu May 02, 2013 11:37 am



cuman di ktp

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Total Like dan Thanks: 106
Posts: 28873
Join date: 2011-11-12

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum