FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Mereka Yang Sombong Dengan Kemudaan dan Kesehatan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Mereka Yang Sombong Dengan Kemudaan dan Kesehatan

Post by Penyaran on Sun May 05, 2013 2:27 pm

Ketika mengalami sakit yang serius, kesedihan muncul pada diri seseorang. Apakah sebab munculnya kesedihan ini ? Menurut sang Buddha itu disebabkan oleh kecintaan terhadap hal-hal duniawi :

Selanjutnya, Brahmana, ada orang yang tidak bebas dari nafsu terhadap tubuh ini, tidak bebas dari nafsu dan cinta terhadap tubuh ini, tidak bebas dari kehausan dan kerinduan terhadapnya, tidak bebas dari nafsu keinginan terhadap tubuh. Lalu ada penyakit serius yang menimpa dia. Karena terserang penyakit serius, dia berpikir, "Oh, tubuh tercinta ini akan meninggalkan aku, dan terpaksa aku meninggalkannya." Oleh karenanya dia bersedih hati….dan menjadi kacau. Orang inilah juga yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian. (Petikan Angutara Nikaya, Hal. 271)

Mungkin, ketika seseorang ditimpa penyakit serius, dia akan berpikir, "Oh Tuhan, seandainya aku masih diberi kesempatan hidup, tentu aku akan menjadi orang yang baik, yang banyak berbuat kebaikan." Tapi bisa jadi, ketika dia sembuh, dia lupa akan tekad dan keputusannya tersebut. Sebagaimana yang digambarkan di dalam alQuran :

mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur".()Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kedzaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. ….() (Q.S 10:22-23)

Demikian pula halnya orang yang terkena penyakit serius, yang membuatnya merasa seakan-akan bahaya kematian menghampirinya, ia bersedih dan sangat mengharapkan pertolongan, serta membayangkan bahwasannya bila dia sembuh, tentu dia akan sangat bersyukur dengan cara mempergunakan kesempatan hidup dan sehat untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Tapi bila bahaya penyakit itu berlalu, dia segera lupa. Dia sombong dengan kesehatannya. Karena itulah dia melakuan perbuatan yang jahat. Sebagaimana digambarkan oleh Sang Buddha :

Ketika masih sehat, para makhluk merasa sombong akan kesehatan mereka. Dan karena tergila-gila pada kesombongan kesehatan itu, mereka menjalani kehidupan yang jahat di dalam perbuatan, kata-kata dan pikiran. (Petikan Angutara Nikaya, Hal. 330)

Seharusnya mereka yang masih sehat, sering merenungkan hal ini :

"Aku pasti akan sakit, dan aku tidak dapat menghindari dari sakit. Semua yang sehat akan mengalami sakit. Semua yang hidup akan mengalami kematian. Aku pasti akan sakit, dan aku pasti akan mati. Tidak ada jalan untuk menghindarkan diri dari sakit dan kematian. Oleh karena itu, seharusnya aku saat ini, ketika aku sehat, aku berbuat baik sebanyak-banyak dan sesungguh-sungguhnya, sebab apabila tidak, pastilah kesedihan dan ketakutan akan menyerangku ketika penyakit serius menimpaku."

Pergunakan sehatmu sebelum datang sakitmu
Cukuplah mengingat kematian, menjadi penasihat bagi orang-orang shaleh.

Mereka yang sehat, seringkali tidak mengerti, betapa beratnya penderitaan yang dialami oleh orang-orang yang mengalami sakit yang serius.

Ada seorang pemuda, dia memiliki seorang ayah yang menderita sakit jantung. Si Ayah menyuruh pemuda itu untuk belanja ke pasar untuk memenuhi persediaan barang dagangan warungnya. Si pemuda pergi ke pasar, tapi dengan marah-marah. Sebelum pergi, pemuda ini membanting pintu keras-keras, mengagetkan sang ayah yang sedang menderita sakit jantung. Suara bantingan pintu itu membuat penyakit jantung si Ayah kambuh berat, sampai ia harus dilarikan ke rumah sakit. Itu adalah contoh sikap pemuda, yang sombong dengan kemudaan dan kesehatannya. Ia tidak sungguh-sungguh mengerti, betapa menyakitkannya perbuatan yang dia lakukan, bukan saja mengenai jantungnya secara fisik, tetapi juga benar-benar menyakitkan hati. Sehingga sang ayah, mengalami kesakitan lahir dan batin. Tidaklah sedikit pemuda yang sombong dengan kemudaan dan kesehatannya sehingga kurang memberi toleransi dan kasih sayang kepada mereka yang jatuh sakit.

Betapa bersedihnya, mereka yang merasa terkepung oleh "bahaya penyakit mematikan", seperti penyakit kanker, tumor dan jantung. Cahaya meredup di dalam dirinya, gairah dan semangat hidup juga melamah.

Seorang pria, ketika masa muda ia begitu gagah, giat bekerja membanting tulang, seorang pedagang yang tangguh, pandai memanjat pohon untuk memetik buah-buahan yang akan menjadi bahan dagangan, dan sering bepergian ke berbagai pelosok nusantara. Tetapi ia sering bertengkar dengan istrinya, menelantarkan anak-anaknya serta kurang berbakti kepada orang tuanya. Ketika orang tuanya sakit, dia tidak menyegerakan diri untuk menengok dan merawat orang tuanya itu. Tetapi, setiap orang pasti menjadi tua dan mati. Demikian juga dengan pria ini, di masa tuanya, dia mengalami stroke. Sulit baginya untuk dapat berjalan jauh. Dia berjalan dengan kaki yang terseret-seret. Kini dia tidak dapat lagi memenuhi keinginannya untuk berpergian ke berbagai tempat di pelosok nusantara. Dia tidak bisa pergi jauh dari rumah. Dunia seakan-akan menjadi sempit bagi dirinya. Dan lalu kesepian. Dia berkata, "Ketika sakti begini, betapa saya mengharapkan selalu ada yang menemani, betapa mengharapkan kedatangan anak-anak, tanpa mengharapkan oleh-olehnya, hanya ingin bertemu saja, untuk menghilangkan rasa sepi dan kesedihan. Mungkin seperti ini pula yang dulu dirasakan oleh orang tuaku. Menyesal diriku tidak benar-benar merawat kedua orang tuaku. Aku tidak benar-benar mengerti, apa yang mereka rasakan."

Mereka yang sedang sehat, mereka serakah terhadap makanan sehingga makan dan minum secara berlebih-lebihan. Mereka tidak ingat firman Allah : makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(Q.S 7:31). Mereka tidak berhenti mengunyah, sampai perut mereka penuh sesak dengan makanan dan minuman. Mereka tidak mengindahkan nasihat Imam Jakfar Ash-Shadiq dan nasihat Rasulullah :

Kemudian Imam Ja`far Ash-Shadiq berkata," adapun tiga hal yang berkenaan dengan riyadhah (mendidik akhlak jiwa) : (1) Janganlah kamu makan makanan yang tidak kamu sukai, sebab hal itu akan mengakibakan kepada kebodohan (haqamah) dan lemah akal (bahl) (2) Janganlah kamu makan, kecuali ketika lapar (3) apabila kamu makan, maka makanlah yang halal, sebutlah nama Allah dan ingatlah sabda Rasulullah saw," Tidak ada tempat yang paling buruk yang anak Adam isi selain perutnya. Jika perut itu mesti diisi, maka sepertiga (dari rongga perut) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertinya lagi untuk nafasnya." (Biharul Anwar 1/255) (Buletin Al-Jawad, Edisi ke-27 hal. 2)

Perut yang selalu sesak dengan makanan, merangsang enzim untuk berproduksi secara lebih banyak. Bahkan enzim ini keluar ketika seseorang tertarik dengan makanan yang dianggapnya lezat. Seperti air liur yang suka ngiler karena orangnya tertarik pada makanan lezat, seperti itu pula perut mengeluarkan enzim. Enzim yang terlalu banyak ini, akhirnya merusak usus sendiri, ketika tidak ada makanan di dalam perut. Hal itu, tentu menuntunya untuk mengunyah-mengunyah dan terus mengunyah.

Makanan yang berlebihan, menyebabkan gas yang berlebihan. Gas yang berlebihan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa, menimbulkan penyakit maag dan jantung. Inilah penyakit serius, yang dapat membawa seseorang kepada kematian. Tidak ada pihak yang dapat dipersalahkan, mengapa dia sakit, kecuali dirinya sendiri. Semua itu akibat ulahnya sendiri. Sesuai dengan firman Allah :

Dan apapun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).(Q.S 42:30)

Itu adalah hukum karma.

Kutip
menurut hukum kamma, jika Anda melakukan perbuatan baik, Anda akan mendapat akibat yang baik. Bila Anda melakukan perbuatan yang buruk, Anda akan mendapat akibat yang buruk. (Sayadaw U Silananda, Kamma, Hal. 2)

Sesuai dengan ajaran Islam :

(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (balasannya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Q.S 31:16)

Hanya saja, orang yang tertimpa bencana seringkali tidak mengerti bahwa apa yang menimpanya memang merupakan akibat dari perbuatannya sendiri, dan mereka bertanya kepada Tuhannya. "Ya Tuhan, dosa apakah yang telah kulakukan, sehingga aku harus menderita seperti ini?" Dan mereka tidak menemukan jawaban.

Tidak perlu menunggu sampai menderita penyakit jantung, kanker dan tumor untuk menjadi manusia yang "sadar". Semua orang hanya harus belajar untuk melihat bahwa jantungnya selalu berada diujung tombak "malaikat maut". Apabila jantung itu "bergoyang" sedikit saja, ia akan tertusuk tombak itu, dan matilah ia seketika. Tapi mereka yang sombong, tidak dapat dan tidak mau diajari untuk melihat hal ini.

Seharusnya orang-orang yang merasa dirinya sehat secara fisik itu belajar untuk melihat, bahwa sesungguhnya mereka tidaklah benar-benar sehat, bila secara ruhani tidak sehat. Mereka sakit, tapi mereka tidak sadar. Mereka yang tidak sombong akan belajar melihat penyakit ini di dalam dirinya, merasa sakit, lalu mencari obat. Tapi mereka yang sombong dan tidak belajar untuk melihat penyakit itu, ia akan merasa sehat, lalu tidak mencari obat. Dan baru mencari obat ketika sudah tua, terkena penyakit jantung, kanker, maag, tumor dan stroke. Mengapa mereka tidak mencari obat, jauh hari sebelum itu? Bahkan sungguh mengherankan, orang-orang menghisap rokok setelah membaca tulisan di bungkus rokok itu "merokok dapat menyebabkan penyakit jantung". Ketika ditanya, "mengapa Anda terus merokok?" dia berkata, "Kakekku adalah seorang perokok berat. Tapi seumur hidupnya, dia sehat dan tidak pernah terkena penyakit jantung." Artinya, dia tidak percaya perkataan pada dokter yang mengatakan merokok dapat menyebabkan penyakit jantung dan kanker. Tapi dia baru percaya setelah dua minggu di rawat di rumah sakit karena terkena serangan penyakit jantung. Barulah setelah itu, dia meninggalkan rokok. Mengapakah dahulu, dia itu sombong? Apakah seseorang harus dilemparkan dahulu ke dalam jurang neraka agar percaya bahwa perbuatan jahat dapat menyebabkannya terjerumus ke dalam api neraka?

Seseorang yang waspada terhadap dirinya sendiri, maka dia akan merasa selalu dalam kondisi terdesak untuk mencari obat. Kendatipun dalam pandangan manusia biasa, ia adalah orang yang sehat. Sebenarnya tubuh tidaklah benar-benar sehat, bila ada penyakit di dalam hati.

Pedoman hidup yang benar, itulah obat bagi penyakit ini. Sesuai dengan firman Allah :

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S 10:57)

Penyakit yang berada dalam dada, itulah penyakit hati. Bila hati sehat, maka sehatlah seluruh tubuh. Bila hati tidak sehat, sebenarnya tubuhpun tidak sehat, walaupun kadang-kadang tampak kelihatan sehat. Penyakit yang ada di dalam hati, itulah cikal bakal segala penyakit pada tubuh, penyakit jerawat atau bisul sekalipun. Bahkan seseorang tidak akan mengalami cedera atau patah tulang, apabila di dalam hatinya tidak terkandung suatu penyakit yang menjadi cikal bakal terjadinya patah tulang. Hal-hal seperti ini telah dapat dilihat oleh mereka yang penglihatannya telah menembus alam jiwa.

Bagi mereka yang telah dapat melihat penyakit di dalam hatinya sendiri, terdesak oleh rasa sakit dan bahaya maut, tidak ada waktu baginya untuk berdebat dengan orang lain. Dia akan berkonsentrasi, bagaimana cara agar dirinya sembuh. Al-Quran adalah Asyifa, yaitu penyembuh. Ayat-ayatnya tidak untuk digunakan sebagai "peluru" perdebatan, tapi akan dia gunakan untuk menyembuhkan dirinya sendiri serta membantu menyembuhkan orang lain yang menderita.

Mereka yang suka menggelar perdebatan, dengan mencela amalan-amalan orang lain, mengatakan ini bid`ah itu bida`h, adalah kelompok yang gemar mewaspadai "penyakit orang lain" tapi tidak mewaspadai penyakit mereka sendiri. Mereka mencoba menawarkan obat pada orang lain, sementara mereka membiarkan diri mereka sendiri sakit. Maka janganlah kita mengikuti kebiasaan seperti mereka. Dan jangan kita melayani hasrat mereka untuk menggelar perdebatan! Selama kita memposisikan diri sebagai "lawan" mereka, itu sama sekali tidak membantu mereka untuk "sembuh". Sebaliknya itu akan membuat mereka semakin lupa diri, dan selalu ingat kesalahan-kesalahan orang lain". Pikiran mereka akan selalu terfokus untuk mengorek-ngorek "apa yang salah" pada diri kita, tetapi lupa untuk introspeksi diri. Oleh karenanya, berhenti melayani debat, adalah salah satu cara untuk membantu mereka merenungkan diri mereka sendiri sehingga cahaya kebenaran akan tampak kepadanya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang berakal,(Q.S 3:190)) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(Q.S 3:191)

Pada malam idul Fitri, saya melihat ada rombongan takbir keliling. Mereka bergemuruh mengumandangkan suara takbir, "Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laaailaaha ilallah, Allahu Akbar, Walillahilhamd." Ironisnya, beberapa anggota dari rombongan itu adalah wanita yang tidak berjilbab serta mengenakan celana pendek di atas lutut. Tentu tak pantas saya untuk berkata kepadanya, "He wanita, percuma kamu teriak-teriak Allahu akbar, Allahu akbar, sementara kamu pamer paha ke mana-mana!" Tapi saya dapat melihatnya dengan cara pandang yang berbeda,"Baguslah, mereka mau masuk Islam, mencintai Islam, serta mengumandangkan takbir. Kendatipun cara yang mereka lakukan masih salah, tapi tidak ada manusia yang bersalah. Semua perlu proses, belajar dengan cara bertahap. Ilmu datang secara perlahan-lahan, tidak sekaligus. Dan hanya dengan cara yang terbaik, yang tidak menyinggung perasaan, saya akan memberi tahu mereka tentang bagaimana seharusnya menutup aurat."

Tapi mereka yang sombong, tidak merasa sakit lagi tidak menyadari dekatnya kematian, mereka tidak menyayangi sesama. Rasa sayang hanya dimulut dan sebagai alasan palsu belaka. Mereka berkata, "aku meludahi kamu, karena aku menyayangi kamu. Aku mengejek dan memperolok-olok kamu, atas dasar mencari keridhaan Allah. Aku membunuh atas dasar jihad fi sabilillah.", hanya agar orang-orang melihat bahwa apa yang dia lakukan adalah dengan alasan yang mulia. Dia tidak melihat kepada dirinya sendiri, padahal dia bisa melakukannya. Tapi dia lebih suka untuk membohongi dirinya sendiri. "Bahkan manusia itu (dapat) melihat pada dirinya sendiri,(Q.S 75:14) meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. (Q.S 75:15)"

Sedangkan mereka yang terdesak oleh rasa sakit dan bahaya kematian, mereka tidak ada waktu untuk membuat kebohongan bagi dirinya sendiri. Orang yang tau bahwa dirinya akan segera mati, dia tidak akan berbohong.

Pada diri mereka yang sombong dan gemar berdebat, rasa sakit tidak disadari, serta penyakit tidak diketahui karena mereka terbuai oleh keindahan konsep-konsep yang mereka ciptakan sendiri. Rasa sakit kepala saja bisa terlupakan, karena tenggelam di dalam asyiknya perdebatan. Seperti seorang anak remaja yang keasyikan bermain game berhari-hari, sama sekali tidak merasakan bahwa dirinya sakit dan kelelahan, sehingga anak itu meninggal setelah usai bermain game. Seperti itu pula orang-orang yang terjebak di dalam keasyikan berdebat, mereka akan lupa dengan rasa sakit dan penyakit yang ada di dalam dirinya. Itu memang menyenangkan, karena rasa bebas dari rasa sakit dan penderitaan. Tapi sangat berbahaya, karena seperti orang yang menimbun penyakit menuju kepada kondisi yang semakin parah dan sulit untuk diobati.

Masalahnya, mereka yang sombong dan suka membohongi diri mereka sendiri seringkali tidak menyadari bahwa dirinya sombong dan berbohong terhadap diri sendiri. Cara agar mereka dapat menyadarinya adalah dengan memperhatikan diri. Sesuai dengan firman Allah :

Dan di bumi itu terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang yakin,(20)dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?(21)(Q.S 51:20-21)

Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk dan pada diri kalian sendiri, …..(Q.S 41:53)

Belajar agama, cukuplah dengan mempelajari diri ini. jika seseorang mengenali dirinya, maka ia mengenal tuhannya. Jika ia mengenal tuhannya, maka ia akan kenal agamanya. (A. Rochman, Artikel Islam, No. 1480)

Di dalam agama Buddha, mengenal diri dilakukan melalui praktik meditasi vipassana. Di dalam Islam, mengenal diri dilakukan melalui praktik tarekat dan tasawuf. Sebagaimana meditasi vipassana, yang dianggap bukan ajaran resmi sang Buddha, melainkan ajaran yang diciptakan oleh bikhhu sesudah masa sang Buddha, seperti itu pula tasawuf, dianggap bukan ajaran resmi Muhammad, melainkan diciptakan oleh ulama-ulama sesudah masa Muhammad. Orang-orang yang sombong selalu meributkan, dari mana obat itu berasal. Tapi orang-orang yang sakit dan terdesak oleh kematian, ia tidak peduli dari mana obat itu berasal, apakah ia berasal dari Muhammad, sang Buddha atau Isa al-Masih, selama itu benar-benar terbukti bisa menjadi obat, ia akan menggunakannya.

Seandainya ada suatu penyakit, yang tidak ada obatnya kecuali barang yang haram. Maka barang yang haram itu dapat menjadi halal seketika itu. Itu disebut rukhsokh. Seperti orang yang kelaparan di dalam hutan, serta tidak menemukan makanan, kecuali babi yang di dalam Islam jelas dihukumi haram. Tapi untuk menyelematkan nyawa, babi itu boleh dimakannya, dan ia tidak berdosa. Itu hanya untuk kesembuhan dan kesehatan jasmani. Maka terlebih lagi untuk kesembuhan dan keselatan ruhani.

Ada ajaran tarekat dan tasawuf, yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit ruhani. Dan sebagian muslim menolaknya dengan alasan, "Oh, itu ajaran bid`ah, bukan dari Muhammad, isinya hanya khurafat, tahayul dan syirik." Ada dua alasan atas penolakannya itu, pertama mungkin karena dia sombong. Kedua, karena dia dia tidak merasa bahwa dirinya sakit dan terkepung oleh bahaya maut.

Bagi mereka yang sombong, maka biarkanlah dengan kesombongan mereka sampai mereka merasakan akibat dari kesombongannya sendiri. Dan mereka yang merasa tidak sakit serta tidak merasa terkepung bahaya maut, biarkanlah pula sampai penyakit, rasa sakit dan bahaya maut benar-benar mereka rasakan. Dan tidaklah kita perlu menolong, kecuali kepada mereka yang benar-benar merasa membutuhkan pertolongan.

Rumah-rumah sakit selalu penuh. Berjuta-juta orang menderita sakit setiap harinya. Para dokter selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Orang-orang sakit berbondong-bondong mendatangi para dokter karena mereka ingin sembuh. Tidak ada dokter yang mengejar-ngejar orang sakit serta memaksa orang-orang sakit untuk sembuh. Apalagi sampai berdebat dengan mereka. Tapi orang-orang sakit sangat berharap, para dokter dapat membantu mengobati mereka, mengeluarkan mereka dari derita sakit yang menyiksa. Demikian pula para dokter hati, mereka tidak akan bersikukuh mengobati orang yang kiranya enggan untuk sembuh, atau yang tidak pernah sadar bahwa dirinya sakit. Karena orang-orang sakit telah datang berbondong-bondong kepadanya, mencari obat, mengharap kesembuhan.

Sumber : A. Rochman, RENUNGAN, No.12090

http://medialogika.org/sentuhan-hati/mereka-yang-sombong-dengan-kemudaan-dan-kesehatan/

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik