FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Bahtera Nabi Nuh dan Pertapa Bharghiya

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Bahtera Nabi Nuh dan Pertapa Bharghiya

Post by Penyaran on Fri May 10, 2013 12:12 pm

terdapat penyimpangan keyakinan tentang hukum karma. penyimpangan hukum karma adalah ketika manusia menjadi tidak peduli pada manusia lainnya dan berpikir "mereka menderita karna karmanya sendiri". lalu dia tidak mau membantu sesama. inilah penyimpangan pertama dari ajaran karma. penyimpangan kedua adalah ketika manusia menjadi angkuh, bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan dirinya selain dirinya sendiri. dia melupakan jasa orang-orang bijak, dan tidak mengakui adanya campur tangan tuhan di dalam hidupnya.

Ketika umur manusia menurut, dari umur 2000 tahun menjadi 1000 tahun, masyarakat mulai melupakan kebenaran. mereka tersesat jalan. Masyarakat kala itu gemar membuat patung, dan menyembah patung buatannya sendiri. mereka menamakan patung-patung itu dengan menurut selera mereka. kadang-kadang patung-patung itu mereka namakan " Wadd " dan " Suwa " kadangkala " Yaguts " dan bila sudah bosan digantinya dengan nama " Yatuq " dan " Nasr ". Kemudian Nabi Nuh datang, untuk mengatasi kebodohan masyarakat, menginsyafkan para penjahat, serta mewaraskan orang yang gila. Tetapi usaha nabi Nuh selama 950 tahun, tidak banyak memberikan hasil. Orang yang mau mengikuti seruan nabi Nuh a.s kurang dari 100 orang.

orang-orang yang ingkar selalu mengolok-olok nabi Nuh, mereka berkata, "Bukankah engkau hanya manusia biasa seperti kami? Mana tuhan yang engkau sebut-sebut itu? kenapa kami tidak bisa melihatnya? tapi tuhan-tuhan kami, lihatlah, kau sendiri dapat melihat tuhan Wadd dan Suwa. Seandainya Tuhan itu memmang ada, dan dia maha kuasa, pasti akan mengutus seorang nabi yang ajaib, yang tubuhnya bercahaya dapat dapat terbang ke angkasa tanpa sayap. Jika ada yang seperti itu niscaya, akan kami ikuti perkataannya."

"Dan lihatlah, siapa saja orang yang menjadi pengikutmu?" kata penentang yang lain, "mereka hanya orang-orang yang bodoh dan miskin. itu pertanda, ajaranmu tak lain hanyalah ajaran yang tidak patut diikuti oleh kami, orang-orang yang cerdas lagi kaya raya."

Yang lainnya lagi berkata, "kami sebagai pemuka-pemuka masyarakat yang pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak dan pandangan yang luas dan yang dipandang masyarakat sebagai pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudak kami menerima ajakanmu dan dakwahmu.Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang soaL-soal kemasyarakatan dan pergaulan hidup.kami jauh lebih pandai dan lebih mengetahui drpmu tentang hal itu semua.nya.Anggapan kami terhadapmu, tidak lain dan tidak bukan, bahawa engkau adalh pendusta belaka."."

Nuh berkata, menjawab ejekan dan olok-olokan kaumnya:"Adakah engkau mengira bahwa aku dpt memaksa kamu mengikuti ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan kamu orang-orang yang beriman jika kamu tetap menolak ajakan ku dan tetap membuta-tuli terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku dan tetap mempertahakan pendirianmu yang tersesat yang diilhamkan oleh kesombongan dan kecongkakan karena kedudukan dan harta-benda yang kamu miliki.Aku hanya seorang manusia yang mendpt amanat dan diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika kamu tetap berkeras kepala dan tidak mahu kembali ke jalan yang benar dan menerima agama Allah yang diutuskan-Nya kepada ku maka terserahlah kepada Allah untuk menentukan hukuman-Nya dan gajaran-Nya keatas diri kamu. Aku hanya pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk menyampaikan amanat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi hidayah kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan azab dan seksaan-Nya di atas kamu sekalian jika Ia kehendaki.Dialah pula yang berkuasa menurunkan seksa danazab-nya di dunia atau menangguhkannya sampai hari kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa ,Maha Mengetahui, maha pengasih dan Maha Penyayang.".

Lalu, Allah memerintahhkan nabi Nuh untuk membuat perahu yang sangat besar. Tidak ada yang mengajarinya membuat perahu, selain dari Allah. orang-orang ingkar itupun semakin mengolok-olok nabi Nuh. Mereka mengejek dan mengolok-olk dengan mengatakan:"Wahai Nuh! Sejak bila engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat kapal?Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu, kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal.Dan kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air ini adalah maksudmu untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang ankan menarik kapalmu ke laut?"

Setelah selesai pekerjaan pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut pertama di dunia, Nabi Nuh menerima wahyu dari Allah:"Siap-siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda drp-Ku maka segeralah angkut bersamamu di dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap jenis makhluk yang ada di atas bumi dan belayarlah dengan izin-Ku."

Nabi Nuh berkata kepada pengikutnya, "Ajaklah sekali lagi, umat untuk naik ke dalam bahtera ku, agar mereka terhindar dari adzab Allah yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang ingkar. Siapa yang yang naik ke dalam bahteraku, ia akan selamat!"

Maka para pengikut nabi Nuh dengan segala usaha mengajak orang-orang untuk mengikuti seruan Nabi Nuh, naik ke atas bahteranya.

Nun jauh di dalam hutan, terdapat seorang pertapa bernama Bharghiya. Ketika Sadr, pengikut Nabi Nuh hendak mengambil kayu sebagai bahan membuat kapal di hutan itu, Sadr melihat pertapa itu sedang tekun bersemedi. Sadr menghampiri pertapa itu, lalu berkata "Assalamualaikum! wahai kisanak, apa yang sedang anda lakukan di sini?"

Pertapa yang tadi diam mematung itu, kini mulai menggerakan bola mata dan juga tubuhnya, lalu menjawab, "Namaku Bharghiya, ada keperluan apakah gerangan anda membangunkan saya?"

Sadr berkata, "saya hendak mengajak kisanak untuk masuk ke dalam bahtera nabi Nuh, sebab sebentar lagi Tuhan yang Maha Kuasa akan menurunkan adzabnya berupa banjir yang besar. Marilah kisanak untuk massuk ke dalam bahtera nabi Nuh, agar selamat dari banjir."

Pertapa itu menjawab, "Tidak, kisanak. Tidak akan terjadi banjir. di sini adalah hutan belantara, pelaran yang tinggi, seumur hidup saya tinggal di sini, tidak pernah terjadi banjir, kni langit tidak memeperlihatkan mendung, dan sungai-sungai mengalir seperti biasanya, maka dari mana akan datangnya banjir. itu tidak masuk akal. Bukan di dalam hutan ini yang akan terjadi banjir, tapi di dalam dirimu sendiri. lihatlah ke dalam dirimu sendiri, di sana ada banjir. engkau harus berrtekun diri untuk menyeberangi banjir itu, yaitu keserakahan, cinta dunia, keinginan-keinginan jahat, nafsu seksual dan benci akan kematian."

"Tapi Tuhan telah mewahyukan kepada nabi Nuh, bahwa Tuhan akan segera menurunkan adzabnya". kata Sadr.

"Atas dasar apa saya harus mempercayai Nuh. Bagaimana kalau sesungguhnya dia berbohong? Bagaimana kalau sebenarnya tuhan itu tidak ada, dan yang berbisik kepada Nuh itu tidak lain dari pada khayalannya sendiri?" tanya Bharghiya.

"aku bersaksi, bahwa Nuh a.s adalah orang yang benar. silahkan kisanak datang dan temui dia secara langsung, dia akan menjawab segala pertanyaan kisanak." Kata Sadr.

"akan saya beritahu, kawan. apa itu kebenaran. kebenaran adalah berbuat kebajikan untuk sesama makhluk hidup serta tidak menyakiti mereka. inilah yang senantiasa harus kita lakukan, yaitu bagaimana dengan kebajikan itu kita membawa diri dan orang lain ke dalam kebahagiaan dan menjauhi penderitaan hidup, berpikir, berkata dan berbuat secara suci." Demikian jawaban Bharghiya. "marilah bersemedi bersamaku untuk mensucikan hati dan pikiran, maka engkau akan dapat menyeberangi banji dan mencapai kebahagiaan sejati."

"orang orang yang baik dan bijaksana, kawan. Tapi bagaimana bila nabi Nuh benar dan banjir itu benar-benar datang?" tanya Sadr.

"Seseorang tidak akan menderita, melainkan karena Niqomnya sendiri (karmanya sendiri). Jika selama hidup, senantiasa aku berbuat kebajikan, menuscikan pikiran, perkataan dan perbuatan, maka Niqom apa yang dapat membuatku tenggelam dalam banjir?" tanya Bharghiya.

"Niqom kisanak yang bisa membuat kisanak tenggelam adalah karena ketika terjadi banjir yang besar, kisanak tidak naik ke atas bahtera, sudah pasti kisanak akan tenggelam" Kata SAdr.

"tidak ada dasar bagiku, untuk mempercayai Nuh sebagai utusan tuhan hanya atas dasar pengakuannya sendiri bahwa dia adalah utuhan Tuhan, sementara tuhan tidak memberi tau kepadaku, bahwa dia itu memang utusannya." jawab Bharghiya.

akhirnya Sadr meninggalkan Bharghiya.

Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi air yang deras dan dahsyat yang dalam sekelip mata telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa menggenangi daratan yang rendah mahupun yang tinggi sampai mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal Nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.

Ketika hujan deras melanda, nabi nuh menyeru kembali orang-orang agar masuk ke dalam kapalnya. orang-orang ingkar itu berkata, "Kami tidak akan masuk ke dalam bahteramu. Tiadalah hujan ini, kecuali sekejap saja."

Tetapi hujan tidak kunjung berhenti. Banjir mulai terjadi. dan orang-orang ingkar itu berkata kepada teman-temannya, "jangan takut, banjir ini tidak akan lebih tinggi dari ini. bila hujan mereda, air ini akan susut kembali."

Bahkan Kan`an, putera nabi Nuh sendiri enggan mengikuti ajakan ayahnya untuk masuk ke dalam bahtera. Kan`aan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang:"Biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah ini."

Tapi hujan tidak mereda, dan air semakin meninggi hingga menenggelamkan rumah-rumah mereka. Pemuka-pemuka mereka menyeru teman-temannya, "Marilah kita naik ke tempat yang lebih tinggi! bawa serta tuhan-tuhan kita, dan kita akan memohon kepadanya agar kita diselamatkan dari banjir ini" lalu mereka berbondong-bondong naik ke tempat yang lebih tinggi. Tapi air terus mengejar mereka sampai ke puncak gunung. orang-orang mulai hanyut dan terbawa banjir. Bumi kering telah menjadi lautan.

Perahu nabi Nuh telah terangkat dari tiang pancangnya. Dengan iringan"Bismillah majraha wa mursaha"belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkaman maut yang sudah sedia menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu. Sadr mencoba menebarkan pandangannya ke segenap penjuru, untuk mencari pertapa Bharghiya. Ia ingin mengetahui nasib pertapa itu, apakah ia akan selamat, ataukah akan tenggelam di dalam banjir yang besar itu. Tapi sadar tidak menemukan pertapa itu ditengah-tengah orang-orang yang sedang terhanyut.

http://www.wihara.com/forum/ngelawak/10793-bahtera-nabi-nuh-dan-pertapa-bharghiya.html

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik