FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

hari akhirat

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

hari akhirat

Post by sungokong on Mon May 13, 2013 5:11 pm

Betapapun, pada akhirnya hanya ada dua tempat, surga atau
neraka. Pembahasan tentang surga dan neraka, kita tangguhkan
sampai dengan kesempatan lain. Ini disebabkan karena luasnya
jangkauan ayat-ayat Al-Quran yang membicarakannya. Bukan saja
uraian tentang aneka kenikmatan dan siksanya, tetapi sampai
kepada rincian peristiwa-peristiwa yang digambarkan Al-Quran
menyangkut perorangan atau kelompok, dan lain sebagainya.

KAPAN HARI AKHIR TIBA?

Al-Quran -demikian juga hadis-hadis Nabi Saw.- yang berbicara
panjang lebar tentang hari akhir dari bermacam-macam aspek
itu, tidak membicarakan sedikit pun tentang masa
kedatangannya. Bahkan secara tegas dalam berbagai ayat serta
hadis dinyatakan bahwa tidak seorang pun mengetahui kapan
kehadirannya.

Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu tentang
hari akhir, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (maka)
dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah
dikembalikan kesudahan (ketentuan waktunya) (QS
Al-Nazi'at [79]: 42-44).

Sekian banyak ayat Al-Quran yang mengandung makna serupa,
demikian pula hadis-hadis Nabi Saw. menginformasikannya.

Dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa malaikat Jibril pernah
bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. -dalam rangka mengajar umat
Islam- "Kapan hari kiamat?" Nabi Saw. menjawab: "Tidaklah yang
ditanya tentang hal itu lebih mengetabui dari yang bertanya."
(Diriwayatkan oleh Muslim melalui sahabat Nabi Umar bin
Khaththab).

Memang ada beberapa ayat yang menjelaskan bahwa kedatangannya
tidak lama lagi. Misalnya surat Al-Isra' ( 17): 51,

"Kapankah itu (hari kiamat)?"

Demikian tanya kaum musyrik. Lalu Nabi Saw. diperintahkan oleh
Allah untuk menjawab:

Katakanlah, "Boleh jadi ia dekat."

Surat Al-Qamar (54): 1 juga menyatakan bahwa:

Telah dekat hari kiamat dan telah terbelah bulan.

Dan surat Al-Anbiya' (21): 1, menyatakan:

Telah dekat kepada manusia hari perhitungan (kiamat)
sedangkan mereka berada dalam kelalaian, lagi
berpaling (darinya).

Nabi Saw. juga bersabda:

Aku diutus (dan perbandingan antara masa diutusku
dengan) hari kiamat adalah seperti ini (sambil
menggandengkan kedua jari-jarinya, yaitu jari telunjuk
dan tengah). (Diriwayatkan oleh Muslim melalui Jabir
bin Abdillah).

Apakah hadis dan ayat-ayat di atas menunjukkan kedekatan hari
akhirat dari segi waktu? Boleh jadi. Tetapi ketika itu tidak
dapat dipahami bahwa kedekatan itu hanya dalam arti besok,
seribu atau sepuluh ribu tahun ke depan. Kedekatannya boleh
jadi juga jika dibandingkan dengan umur dunia yang telah
berlalu sekian ratus juta tahun. Tetapi boleh jadi juga hadis
dan ayat-ayat tersebut tidak menginformasikan kedekatan dalam
arti waktu.

Bila kita cermati tentang kapan hari akhir tiba, maka jawaban
yang diperintahkan kepada Nabi Saw. untuk diucapkan adalah
"Boleh jadi ia dekat." Di sisi lain, ayat Al-Qamar dan
Al-Anbiya' di atas, yang menggunakan bentuk kata kerja masa
lampau untuk satu peristiwa kiamat yang belum lagi terjadi,
mengandung makna kepastian sehingga kedekatan dalam hal ini
dipahami dalam arti "pasti kedatangannya". Karena "segala yang
akan datang adalah dekat, dan segala yang telah berlalu dan
tidak kembali adalah jauh."

Agaknya informasi Al-Quran tentang kedekatan ini, lebih
dimaksudkan untuk menjadikan manusia selalu siap menghadapi
kehadirannya. Karena itu pula, tidak satu atau dua ayat yang
menegaskan bahwa kedatangannya sangat tiba-tiba, seperti
misalnya firman berikut:

Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah
yang meliputi mereka atau kedatangan kiamat kepada
mereka secara tiba-tiba sedangkan mereka tidak
menghindarinya? (QS Yusuf [ 12]: 107).

Di sisi lain, ditemukan bahwa yang bertanya tentang waktu
kedatangannya adalah orang-orang musyrik, bukan orang beriman.

Orang-orang yang tidak beriman menyangkut hari kiamat,
meminta supaya hari itu segera didatangkan, sedangkan
orang-orang yang beriman merasa takut akan
kedatangannya Mereka yakin bahwa kiamat adalah benar
(akan terjadi). Ketahuilah bahwa orang-orang yang
membantah tentang terjadinya kiamat benar-benar dalam
kesesatan yang jauh (QS Al-Syura [42]: 18).

Ketakutan tentang hari kiamat akan mengantarkan orang yang
percaya untuk berbuat sebanyak mungkin amal ibadah, sehingga
mereka dapat menggapai kebahagiaan abadi di sana.

BUAH KEPERCAYAAN TENTANG HARI KEBANGKITAN

Al-Quran menghendaki agar keyakinan akan adanya hari akhir
mengantar manusia untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif
dalam kehidupannya, walaupun aktivitas itu tidak menghasilkan
keuntungan materi dalam kehidupan dunianya. Salah satu surat
yang berbicara tentang hal ini adalah surat Al-Ma'un (107).

Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat tersebut turun
berkenaan dengan Abu Sufyan atau Abu Jahl, yang setiap minggu
menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim
datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih
itu, namun ia tidak diberi bahkan dihardik dan diusir.

Surat Al-Ma'un dimulai dengan satu pertanyaan:

Tahukah kamu orang yang mendustakan ad-din?

Kata ad-din dalam surat ini, secara sangat populer, diartikan
dengan agama, tetapi ad-din dapat juga berarti pembalasan.
Dengan demikian yukadzdzibu biddin dapat pula berarti
mengingkari hari pembalasan atau hari akhir. Pendapat terakhir
ini didukung oleh pengamatan yang menunjukkan bahwa Al-Quran
bila menggandengkan kata ad-din dengan yukadzdzibu, maka
konteknya adalah pengingkaran terhadap hari kiamat. Perhatikan
surat Al-Infithar (82): 9 dan juga surat Al-Tin (95): 7.

Kemudian, kalau kita kaitkan makna terakhir ini dengan sikap
mereka yang enggan membantu anak yatim atau orang miskin
karena menduga bahwa bantuannya kepada mereka tidak
menghasilkan apa-apa, maka itu berarti bahwa pada hakikatnya
sikap mereka itu adalah sikap orang-orang yang tidak percaya
akan adanya (hari) pembalasan. Bukankah yang percaya meyakini
bahwa kalaulah bantuan yang diberikannya tidak menghasilkan
sesuatu di dunia, maka pasti ganjaran atau balasan
perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak? Bukankah yang
percaya hari kemudian meyakini bahwa Allah tidak
menyia-nyiakan amal baik seseorang, betapa pun kecilnya?

Seseorang yarlg kehidupannya dikuasai oleh kekinian dan
kedisinian, tidak akan memandang ke hari kemudian yang berada
di depan sana. Sikap demikian merupakan pengingkaran atau
pendustaan ad-din, baik dalam arti "agama", lebih-lebih lagi
dalam arti hari kemudian.

Ad-din menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib. Kata gaib
di sini, bukan sekadar kepercayaan kepada Allah atau malaikat
tetapi ia berkaitan dengan banyak hal, termasuk janji-janji
Allah melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang
memberi bantuan. Kepercayaan ini mengantarkannya meyakini
janji Ilahi itu, melebihi keyakinannya menyangkut segala
sesuatu yang didasari oleh perhitungan-perhitungan akalnya
semata-mata. Sehingga ketika itu, walaupun akalnya membisikkan
bahwa "sikap yang akan diambilnya merugikan/tidak
menguntungkan", namun jiwanya yang percaya itu mengantarkannya
untuk melakukannya karena yang demikian sejalan dengan
keyakinannya itu.

"Apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan Anda
daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan
sendiri."

Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surat Al-Ma'un ini
mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama
kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang hari
akhir, yang tanpa itu, keberagamaannya dinilai sangat lemah,
kalau enggan berkata keberagamaannya nihil.

Surat Al-Ma'un yang terdiri dari tujuh ayat pendek ini,
berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, di mana
terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak
memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial, atau
membiarkannya berjalan sendiri-sendiri. Ajaran ini sebagaimana
tergambar dalam ayat di atas -menekankan bahwa ibadah dalam
pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi
sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka
pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.

Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal Al-Qur'an menulis:

Mungkin ini (jawaban Al-Quran tentang siapa yang mendustakan
agama/hari kemudian yang dikemukakan dalam surat ini)
mengagetkan jika dibandingkan dengan pengertian iman secara
tradisional. Tetapi, yang demikian itulah inti persoalan dan
hakikatnya. Hakikat pembenaran ad-din bukannya ucapan dengan
lidah, tetapi ia adalah perubahan dalam jiwa yang mendorong
kepada kebaikan dan kebajikan terhadap saudara-saudara
sekemanusiaan, terhadap mereka yang membutuhkan pelayanan dan
perlindungan. Allah tidak menghendaki dari manusia
kalimat-kalimat yang dituturkan, tetapi yang dikehendaki-Nya
adalah karya-karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang
diucapkan itu). Sebab kalau tidak, maka itu semua hampa tidak
berarti di sisi-Nya dan tidak dipandang-Nya.

Selanjutnya Sayyid Quthb menulis:

Kita tidak ingin memasuki diskusi dalam bidang hukum sekitar
batas-batas iman dan Islam, karena batasan-batasan para ahli
itu, berkaitan dengan interaksi sosial keagamaan. Sedangkan
surat ini (Al-Ma'un) menegaskan hakikat persoalan dari sudut
pandang dan penilaian Ilahi, yang tentunya berbeda dengan
kenyataan-kenyataan lahiriah yang menjadi landasan penilaian
interaksi antarmanusia.

Demikian surat ini menjelaskan hakikat dan buah kepercayaan
tentang hari akhir.

Akhirnya perlu digarisbawahi bahwa perhatian Al-Quran yang
sedemikian besar menyangkut persoalan hari akhir, membawa
berbagai dampak di kalangan ilmuwan, agamawan, dan filosof.
Antara lain berupa kegiatan diskusi yang menyita waktu dan
energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah
kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.

Dalam hal ini kita ingin menggarisbawahi bahwa seorang Muslim
dituntut oleh agamanya untuk meyakini adanya hari kebangkitan
setelah kematiannya di mana ketika itu ia menyadari eksistensi
dirinya secara sempurna. Apa pun bentuk kebangkitan tersebut
-apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja- yang pokok
adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak
kurang dari pengenalannya ketika ia hidup di dunia.

Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu
dan tempatnya, maka kesemua hal ini berada di luar tuntunan
agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan para filosof
dan ulama tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh
kepentingan kepuasan penalaran akal daripada dorongan
kehangatan iman.

Wa Allahu 'Alam. []

Catatan kaki:

1 Ada tiga kemungkinan yang dapat tergambar dalam benak bagi
sesuatu. Pertama, mustahil wujudnya, misalnya tiga lebih
banyak dari lima. Kedua, mungkin (boleh jadi), misalnya Si A
kaya atau miskin, hidup atau mati. Dan ketiga, pasti wujudnya,
itulah Allah Swt., yang mustahil tergambar dalam benak kita
tentang ketiadaan-Nya.
avatar
sungokong
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 154
Kepercayaan : Islam
Location : gunung hwa kwou
Join date : 04.05.13
Reputation : 3

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik