FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Halaman 6 dari 6 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by moderator 2 on Fri May 17, 2013 6:10 pm

First topic message reminder :

Amanah dari Opa Abu Hanan:


daripada ngalor ngidul..tolong buka lapak deh buat wak sama sis emil..biar nyaman dan enjoy berbagi dimari.. sf budha..


NB: Diharapkan hanya membuat post yg terkait dengan tema. Available untuk semua member



Selamat Berbincang dan berdiskusi
avatar
moderator 2
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Posts : 304
Kepercayaan : Islam
Location : Kursi Saya
Join date : 25.04.13
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down


Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by abu hanan on Wed Jul 17, 2013 12:32 pm

@sis emil
Anda baca ga sih, permintaan saya? Sy bilang artikel yg membahas khusus 4 Kesunyataan Mulia, yg di dalamnya disangkut-pautkan dengan 31 Alam Kehidupan.
apa sayah bilang "ada"?
enggak kan?tapi sayah tunjukkan itu kalow ada hubungan..
buddha mengajarkan bahwa ada enam alam kehidupan, lokasi bagi manusia untuk terus-menerus terlahirkan kembali..dan di salah satu alam disebutkan alam neraka..lalu mengapa anda katakan sayah tenggelam?karena seperti yang sayah bilang ada bagian2 yang disebut iman (tanpa perlu bukti empiris) di tiap agama..dan dari rangkaian kehidupan di alam2 yang berbeda kan dapat ditinjau logis dan ilogisnyah..
lokasi bagi manusia=>merujuk ke keadaan setelah mati untuk dilahirkan lagi dan di situ dia HIDUP (pola imigrasi)..dan keadaan di alam tersebut (31 alam) punya hubungan dengan 4 kasunyatan atow tidak?

Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha, yaitu : Ketagihan (tanhâ) yang menyebabkan tumimbal lahir, disertai dengan hawa nafsu untuk menemukan kesenangan di sana sini, yaitu =
kamatanhâ : ketagihan akan kesenangan indria,
bhavatanhâ : ketagihan akan penjelmaan,
vibhavâtanhâ : ketagihan untuk memusnahkan diri.”
sumber dari dukkha atau penderitaan adalah tanhâ, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya.
disini ada tasawuf untuk menjelaskan..tetapi bhavanta bukan bagian dari islam (gak ada konsep penjelmaan)..kalow vibhavatanha?riwayat manusia tetap berlangsung..hidup (di dunia) - mati (barzah) - hidup lagi (akhirat)..tetapi gimana sih tepatnyah vibhavatanha?


PERATURAN DAN PANDUAN UMUM | FAQ | ADA MASALAH..?? l PENGADUAN
Like dan Follow !
facebook.com/laskarislamcom
@LaskarIslamcom
untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by abu hanan on Wed Jul 17, 2013 12:52 pm

@sis emil
http://www.laskarislam.com/t7153-buddha-bertanya-tentang-allahmuslim-menjawab#85582

sayah angkut ke sanah beberapa pertanyaan anda,dan kalow masih ada yang tersisa pertanyaan tentang islam di sini,bisa minta tolong sekalian dibantu angkut ke sanah..

yuhuii 


PERATURAN DAN PANDUAN UMUM | FAQ | ADA MASALAH..?? l PENGADUAN
Like dan Follow !
facebook.com/laskarislamcom
@LaskarIslamcom
untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by Emiliana on Wed Jul 17, 2013 2:31 pm


kan uda dari awal sayah katakan "ada kodrat yang harus dihargai"..cuman anda bertanya diantara dihilangkan dan dikendalikan..nah kalow dikendalikan itu uda bener2 bisa minimalisir berarti anda tentu uda paham ketika sayah tulis ;
yang sadar setiap saat, tanpa kekotoran batin.kekotoran batin mencakup semua pikiran yang penuh dengan keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan/kekelirutahuan.

-“dari awal” dari Hong Kong? Wong ketika sy gali terus, baru (beberapa saat/hari kemudian) dibilang “ada kodrat yg harus dihargai di Islam”................
-Anda tahu paham bahasa Indonesia yang benar? Hilang/Lenyap berbeda dgn Dibatasi/Diminimalisir...klo pada akhirnya penjelasan Anda bermuara ke yang “dibatasi/dikendalikan/diminimalisir”, bukankah penjelasan di hulu-nya klo itu bisa “lenyap” adalah salah? Di sini Anda butuh konsistensi, mw pakai yg mana...tdk bisa dua2nya dlm alam pemikiran yg logis...
-dan itu artinya tdk mungkin bs tercapai apabila berbenturan dgn “kodrat” di ajaran Anda...hint: perhatikan kata ‘tanpa’
- mengapa Anda tdk bilang dlm satu kalimat lugas, tegas, definisnya adalah minimalisir semata...bkn dlm bentuk jawaban berkeok2 kesana kemari dari pertanyaan2 saya...pdhal menghargai kodrat bukan hal yg tercela, dan usaha yg meski tampaknya ga maksimal di saya, tetep aja itu usaha yg patut diacungi jempol....sy cuman ga nerima inkonsistensinya, blg "lenyap" tp di sisi lain bilang "harus pake kodrat, jd ga mungkin lenyap saat ini juga ketika nafasa msh ada"


lha terus atas karma yang bugimanah supaya seseorang dapat dilahirkan dari ortu yang kasi ijin jadi bikkhu?
Sy tentu tdk bs kasih jwban mendetail spt meramalkan dgn tepat titik X di mana perusahaan A akan mengalami keuntungan maksimal pd thn 2013 dgn hukum demand and supply di ekonomi, kira2 situasinya spt itu..Tp dgn rumus yg ada, sy bs menakar2, maka: sy tdk dpt menjwb karma yg bagaimana, yg jelas adalah karma yg baik...
Kutipan Dhammapada: “Anak-anak ini milikku, kekayaan ini milikku,” demikianlah pikiran orang bodoh. Apabila dirinya sendiri sebenarnya bukan merupakan miliknya, bagaimana mungkin anak dan kekayaan itu menjadi miliknya?”
Apakah orang tua berhak mengunci kehidupan anaknya, berlaku sbg penguasa/pemilik yg berhak mengizinkan/menentukan segala hal u/ anaknya? Bodoh.....kalau org tua berpikiran ia memiliki anaknya...Izin orang tua dimaksudkan u/ melindungi anak2 mengenai peristiwa2 rawan di dunia...apakah masuk Sangha adlh suatu mara-bahaya? Memikirkan anaknya berkesempatan mengejar ‘kebahagiaan’ tertinggi, adalah kebahagiaan tersendiri bg ortu yg bijaksana (lawan dr yg ‘bodoh’ di atas)...
Izin masuk Sangha dr ortu di sisi lain memberikan suatu rasa ‘plong’ bagi calon bhikkhu...dan tentu ini adalah karma baik. Rasa ‘plong’ ini secara realistis akan membantu proses penjernihan pikiran dan latihan spiritual...
nah berarti perumah tangga (bila uda tua dan keinginan itu uda gak ada karena pasangan uda reot dan anak uda pada gede) bisa menjadi bikkhu?
pertanyaannya campur-sari, aneh: “klo keinginan uda ga ada, bisa jd bhikkhu?”....jawaban sy cuman 1 dan universal, siapa saja yg berniat bisa menjadi bhikkhu/su/ni..terlepas dari umur atau masa lalu-nya (perumah tangga, pembunuh, perampok,dsb)

kalow sayah katakan amal sholeh itu ibarat JMB 8,ntar dibilang skandal..sayah pake dharma ntar hindu keberatan..sedangkan muslim PASTI tau bahwa amal sholeh gak bisa lepas dari iman..setiap mukmin wajib beramal sholeh..apakah ada iman tetapi gak beramal sholeh?ada..iblis..
Siapa yg keberatan, bro? Emank ada umat Hindu yg ngintip di mari trus curhat ama sampeyan klo ga terima dipakai kata “dharma”? Sy cuma menambahkan, supaya org ga salah persepsi, dharma yg Anda blg bukkan Buddha Dharma...berarti bisa dharma ntah dari mana, KBBI, atau apapun...Sejak kpn sy bilang amalan sholeh itu skandal...? Setahu saya yg sy bilang skandal itu pernyataan sampeyan yg pake penalaran salah thd Buddhism...a.k.a sy cuman berani mencap itu skandal, itu bukan, klo masuk pembahasan Buddhism,,,bkn agama lain.
Anda perlu membedakan, antara mencap skandal dan mengajak Anda berpikir klo definisi amalan sholeh itu menyangkal possibility-nya sendiri klo ia tetap keukeuh dgn makna “lenyap”.....dan ini sekaligus tanggapan dr quote di bawah: sy menghargai keterbatasan waktu dan minat yg berbeda2 dr setiap individu, utk itu penjelasan yg runtut, efisien, dan tanpa mengular2 sana2i baru kelihatan yg dimaksud...sgt diperlukan. Sy tdk tahu dengan Anda....
walah jeng..ada kata "disini" dan "di trit ini"..dan itulah kenafa sayah gak diprotes muslim yang lain karena ada kata DISINI dan di TRIT INI..apa kamsutnyah sayah?yah cuman disini..kalow muslim malas dan gak ingin tau yah itu urusan dia..karena islam gak kasi tempat buat orang malas mikir..kalow malas baca sih oke lah..
coba deh anda perhatikan baek2..

coba deh yang anda kamsut KITA pada kalimat itu gak ada..apakah nibbhana masih ada?
nih kisahnyah manusia uda gak ada lagi..
Sy tdk dpt menjelaskan....:)


salah..justru sayah ulang2 pertanyaan sampe penjawab bosen kan untuk meyakinkan diri sayah sendiri bahwa kesimpulan awal (pemikiran sayah sebelum bincang2 dimulai) adalah butuh "legalisasi"..bahwa buddhis tidak dapat menghentikan kematian meskipun ber-ide "gak ada tuhan/pencipta"..
Emanknya org yg “ga bertuhan/pencipta” harus dpt menghentikan kematian?
Sehingga....Anda mencari2 alasan mengapa Buddhis (yg tdk bertuhan) tdk dapat menghentikan kematian? Maka kelihatan, premis pemikiran Anda semenjak awalnya sdh salah...
Oh ya udah, sy emang sukses dibikin bosen, mw diterima silakan...suka penjelasan di luar logika “magis” silakan cari dr luar....
Emiliana: Benarkah ada sesuatu yg tiba2lenyap?
Abu Hanan: benarkah ada sesuatu yang tiba2 ada?
tidak ada sesuatu yg terjadi tiba2, baik kemunculan maupun lenyapnya...everything happens for a reason...kelahiran disebabkan pembuahan...pembuahan disebabkan aktivitas seksual...dsb....kematian jg begitu...
owh..hahaha..buginih,mengafa sayah memilih gak apple to apple?
sy cuman minta apple to apple yg sederhana, peraturan yg masing2 berlaku di saat sehat walafiat dan sakit...jd perbandingan dgn 2 peraturan dgn kondisi yg berbeda adlh gak fair, dan merupakan contoh kepengecutan...
URGENT..karena sayah gak tau ; mengafa ada perbedaan aturan di tiap negara..jadi bukan urgensinyah tetapi sejauh mana keadaan tiap negara bisa membatasi masalah penyimpanan obat2an?apakah berdasarkan sutta sidharta atow gimanah?
Hoh benarkah? Justru Anda udah tahu konteks urgency itu, tp scr sengaja Anda bandingkan dgn yg tanpa urgency....Ketika Anda bilang: saya gak tahu , maka Anda HARUS beranggapan kondisi bhikkhu adalah SEHAT....dan pakailah aturan2 Vinaya bagi yg sehat...kenapa Anda mencong ke aturan2 bg yg sakit, pdhal konteksnya Anda TDK TAHU...
semisal seseorang itu gak pengen nikah..apakah itu berarti dia sukses melenyapkan "keinginan"? keinginan kan di dalam hati,sedangkan tidak menikah adalah teknis..
Pelatihan spiritual Buddhism bersifat teknis...Jalan Mulia Berunsur Delapan bersifat teknis, kitab Vinaya jg bersifat teknis...semua pelatihan2 diri yg teknis ini berpengaruh thd “kehendak” dalam batin...oleh karena terbiasa menjalankan Sila, seseorg menjadi bermoral...masa bisa sih org yg terbiasa mencuri/membunuh/memfitnah, bs jadi org bermoral? Mimpiiii....Oleh karena terbiasa mengekang hawa nafsu, tdk membiarkan nafsu indrawi mengontrol diri, seperti tdk menikah, tdk melekat dgn sex, seseorang yg dicintai, calon anak, dsb...maka bukan tdk mungkin nafsu indrawi tsb akan hilang suatu saat nanti...
Tdk pernah ada jaminan org yg gak pengen nikah, berarti sukses melenyapkan keinginan...sukses tdknya hanya bs diukur apakah sudah Nibbhana atau belum...org ga pengen nikah, byk alasannya: ada yg egois, tdk dpt memberi perhatian pd org lain....ada yg miskin, takut istri-anak dibikin sengsara....ada yg karena jodoh yg diinginkan sdh jadi milik org lain....nampak tdk semua alasan org gak pengen nikah krn pengen jadi orang suci...

tentu ada tahapan untuk menjelaskan..perbedaan di satu titik itulah perbedaan yang mendasar..karena ibarat pohon beringin..makin ke atas akan makin menganga..
kemiripan nibbhana dengan fana adalah ; tidak tergantung pada hawa nafsu,tetapi menundukkan hawa nafsu..ke-tidak melekat-an fana adalah pada hawa nafsu dan 'aku (hartaku-milikku)",melihat segala sesuatu adalah ada allah di baliknyah dan kalow nibbhana adalah melihat segala sesuatu dengan tidak ada apa2 dibalik segala sesuatu (tidak ada inti)..
klo diperhatikan baik2...itu semua tambalan sbg hasil dr pertanyaan2 saya...Maafkan klo sy arogan, ttp klo sy tdk menggali lbh lanjut, Anda atau setidaknya muslim pembaca pasif di thread ini, akan berhenti di penjelasan dangkalnya yg seolah2 itu adalah identik Nibbhana...
justru itu mengapa judul trit adalah "tentang siddharta"..bukan buddha sebagai filsafat atow agama atow sistem hukum..tetapi segala perkataan siddharta..
Ucapan Siddharta adalah ajaran Siddharta..ajaran Siddharta adalah ajaran Buddha scr universal, dr 3 aliran atau aliran Buddhis manapun...ajaran Buddha adalah filsafat Buddha...oleh sebab itu Siddharta adalah filsufnya...filsuf itu sendiri adalah filsafatnya...filsafat itu sendiri adalah filsufnya...(paham Anatta: ketika pemikiran penulis kt singkirkan, si pemikir tdk dpt dijumpai)
Sy tdk paham Anda bilang “ttg Siddharta”, “bukan Buddha sbg filsafat, atau agama, ataupun sistem2 lainnya..” pdhal isi thread ini hampir semuanya adalah filsafat yg dihasilkan Siddharta, tentunya rangkuman2 perkataan Siddharta...
Dan dalam perkataan Siddharta emank ada 31 Alam Kehidupan...yg sy mksdkan, perbandingan pilar hrs dgn pilar, aksesori dgn aksesori...sy berani mengatakan org yg ga percaya ama 31 Alam Kehidupan tp klo mampu memahami intisari Buddhism 4 Kebenaran Mulia saja yg berlaku di alam ini, maka dy dpt memuliakan diri...
Sdgkan punya Anda..? Sy bantu jwb: pake iman utk mempercayai adanya Pencipta...

mengafa sayah harus membawa anda ke surga-neraka buddhism?
ada perbedaan antara konsep setelah mati antara islam dengan buddha..31 alam kehidupan (yang didalamnya ada surga-neraka versi buddhism) juga dikenal dengan bentuk dan istilah lain dalam islam..dan alam2 itu juga ehipassiko..bedanyah,surga-neraka islam gak bakal ditemui kalow belum kiamat..
Setau sy klo 31 Alam Kehidupan sy abaikan, tidak merubah pandangan thd 4 Kesunyataan Mulia...sdgkan klo surga-neraka + Pencipta ditiadakan, maka jadi kacaulah pemahaman ajaran Anda....dan inilah mksd sy Anda tdk dpt membandingkan kepentingan ada/tdknya 31 Alam Kehidupan thd konsistensinya dgn Buddhism dengan...ada/tdknya surga-neraka thd konsistensinya dgn ajaran Anda...

iyah lah..moso ada orang mau bilang "kecap sayah nomor 11"..
Pernyataan sy “bukan kecap no.2” teruji klinis tanpa rasa mabuk cinta, dan bahkan berangkat dr keragu2an sy thd kecap tsb....serta dpt diuji klinis pula oleh siapapun
Sedangkan pernyataan sampeyan “punya sy juga bukan kecap no.3” yaaa mungkin cuman bisa diiyakan org yg mabuk cinta thd kecap sampeyan....
Ketika Anda suatu saat punya pemahaman yg cukup u/ mengobrolkan 4 Intisari Pemikiran Siddharta dgn org lain, tanpa Anda bilang itu buah pemikiran Siddharta/Buddhism, dan org itu setuju...maka catatlah di otak Anda: o ini maksud “bukan kecap no.2” si Emiliana....

avatar
Emiliana
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Female
Posts : 258
Kepercayaan : Budha
Location : apa penting
Join date : 04.05.13
Reputation : 5

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by Emiliana on Wed Jul 17, 2013 3:18 pm

Abu Hanan wrote:
Emiliana wrote:Anda baca ga sih, permintaan saya? Sy bilang artikel yg membahas khusus 4 Kesunyataan Mulia, yg di dalamnya disangkut-pautkan dengan 31 Alam Kehidupan.

apa sayah bilang "ada"?

Halah....selalu ajah begituuuuu....klo emang Anda paham maksud request saya SEJAK AWAL, tp Anda malah memberikan SESUATU yg tampaknya ga berhubungan dengan REQUEST saya, setidaknya bagi saya, maka Anda sebaiknya melengkapi dgn PENJELASAN sedari dini Anda menyuguhkan SESUATU yg TAMPAK ASING bagi saya itu...bukan setelah sy bilang: ini bukan yg saya mau, baru Anda menjelaskan....ngelesssh aja kerjaannya...

enggak kan?tapi sayah tunjukkan itu kalow ada hubungan..
Bisa ada hubungan, bs ga ada hubungan...4 Kesunyataan Mulia menganalisis kondisi kekinian, bukan berspekulasi dgn masa lalu ataupun depan...
buddha mengajarkan bahwa ada enam alam kehidupan, lokasi bagi manusia untuk terus-menerus terlahirkan kembali..dan di salah satu alam disebutkan alam neraka..
Tapi ini gak ada di 4 Kesunyataan Mulia....setidaknya sy berpikir begitu. Maka utk membuktikan saya keliru, sy minta ditunjukkan klo surga-neraka-31 Alam Kehidupan sama pentingnya dgn Intisari 4 Kesunyaan Mulia dgn bukti mereka “ada” di detail penjelasan Kesunytaan Mulia I, II, III, maupun IV.....

lalu mengapa anda katakan sayah tenggelam?karena seperti yang sayah bilang ada bagian2 yang disebut iman (tanpa perlu bukti empiris) di tiap agama..dan dari rangkaian kehidupan di alam2 yang berbeda kan dapat ditinjau logis dan ilogisnyah..
lokasi bagi manusia=>merujuk ke keadaan setelah mati untuk dilahirkan lagi dan di situ dia HIDUP (pola imigrasi)..dan keadaan di alam tersebut (31 alam) punya hubungan dengan 4 kasunyatan atow tidak?
Bisa punya hubungan ataupun tdk, ajaran Buddha bukan ajaran berbasis Keimanan...bahkan Buddha sendiri berkata: jangan terima perkataanKu bulat2, pertanyakanlah terlebih dahulu, analisislah...artinya ketika 31 Alam Kehidupan sy abaikan utk diimani, hal tsb tdk mengubah Kebenaran Sejati...Masalahnya punya Anda, bisakah surga-neraka-pencipta (yg berbasis iman) diabaikan? Klo tdk bisa, terimalah fakta itu tanpa harus Anda membuat org lain dlm kondisi yg sama dgn Anda, a.k.a di sini metaforanya “tenggelam”...tentu metafora cuman kiasan....

Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha, yaitu : Ketagihan (tanhâ) yang menyebabkan tumimbal lahir, disertai dengan hawa nafsu untuk menemukan kesenangan di sana sini, yaitu =
kamatanhâ : ketagihan akan kesenangan indria,
bhavatanhâ : ketagihan akan penjelmaan,
vibhavâtanhâ : ketagihan untuk memusnahkan diri.”

sumber dari dukkha atau penderitaan adalah tanhâ, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya.
disini ada tasawuf untuk menjelaskan..tetapi bhavanta bukan bagian dari islam (gak ada konsep penjelmaan)..kalow vibhavatanha?riwayat manusia tetap berlangsung..hidup (di dunia) - mati (barzah) - hidup lagi (akhirat)..tetapi gimana sih tepatnyah vibhavatanha?
Oh ye? Apakah dgn tasawuf bs dijelaskan? Sedangkan dr Hukum Kesunyataan yg I saja, udah beda soal dukkha/derita itu apa....klo kondisi yg dibicarakan Buddhis A, Muslim B, membahas sebab A maupun B tentunya jg sdh beda!
Kebenaran II spt dalam kutipan Anda itu sdh “hilir”nya atau kesimpulan...utk memahami setdknya tdk dimulai dgn kesimpulan...tetapi dgn “Ada sebab ada akibat”...”Tidak ada akibat tanpa ada sebab”...oleh sebab itu di dalam akibat itu sendiri, ada sebab yg dpt meniadakannya, bukan dengan sebab dari akibat yg lain...dst
Ketagihan memusnahkan diri artinya mencari kesenangan dalam derita penyiksaan tubuh...Contohnya: org puasa non-stop seperti yg pernah dilakukan Siddharta selama 6 tahun sebelum mencapai Pencerahan...dgn ‘merusak diri’ tidak ada kesenangan yg didapati...

avatar
Emiliana
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Female
Posts : 258
Kepercayaan : Budha
Location : apa penting
Join date : 04.05.13
Reputation : 5

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by abu hanan on Thu Jul 18, 2013 3:44 pm

yang sadar setiap saat, tanpa kekotoran batin.kekotoran batin mencakup semua pikiran yang penuh dengan keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan/kekelirutahuan.

perhatikan baik2..
emiliana wrote:
-“dari awal” dari Hong Kong? Wong ketika sy gali terus, baru (beberapa saat/hari kemudian) dibilang “ada kodrat yg harus dihargai di Islam”..
kronologi jawaban ;
1.batin yang kotor..hal itu uda ada..tanpa anda gali pun gak bakal merubah fakta "batin kotor" itu ada..
kalow gak salah di sonoh http://www.laskarislam.com/t6222p75-obrolan-abu-hanan-dan-emiliana-tentang-sidharta-gautama-available-untuk-semua-member#81940

2.fana dalam makna leksikalnya adalah ketiadaan dan kehancuran..fana dalam makna gramatikalnya adalah tidak memandang, memperhatikan, dan menyaksikan keberadaannya sendiri..bahwa seseorang berada di dalam kondisi yang sama sekali tidak melihat eksistensi dirinya sendiri dan dia meniadakan segala sesuatu selain-Nya di dalam hatinya..tidak memandang keinginan-keinginannya, harapan-harapannya, dan dunia sekelilingnya..
http://www.laskarislam.com/t6222p75-obrolan-abu-hanan-dan-emiliana-tentang-sidharta-gautama-available-untuk-semua-member#82231

3.sehingga,zuhud juga mempunyai pengertian  :
tidak merasa gembira dengan apa yang dapat dicapai dan tidak merasa duka cita dengan apa yang hilang,dan ketika ia mendapat celaan atau hinaan, sikapnya sama saja..datar..

http://www.laskarislam.com/t6222p100-obrolan-abu-hanan-dan-emiliana-tentang-sidharta-gautama-available-untuk-semua-member#84084

4.apakah "menikah" menyediakan ruang utk bernafsu indrawi?
tentu dan itu adalah jalan untuk tetap menghargai "kodrat"

http://www.laskarislam.com/t6222p100-obrolan-abu-hanan-dan-emiliana-tentang-sidharta-gautama-available-untuk-semua-member#84664
Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan,

@all coba deh perhatikan yang sayah garis bawah di atas..
meniadakan segala sesuatu selain DIA..itu bermakna hanya melihat hakekat ketuhanan,baik sifat maupun perbuatan,bukan pada hasil/benda hasil ciptaan..tidak memandang keinginan yang timbul dari dirinya tetapi melihat bahwa segala sesuatu adalah perintahnya..menikah,adalah perintahnya atow ketetapan atow sunnah atow hukum yang telah ditentukan..(di dalam fiqh ada tingkatan hukum untuk nikah)..

jadi disitu dikamsutkan bahwa menikah BUKANLAH semata memenuhi biologis/syahwat tetapi ada faktor lain seperti keturunan..
bila tidak ada pernikahan,apakah ada manusia di muka bumi?ajaran samawi akan menyatakan ; tidak ada kehidupan..

nah yang LENYAP adalah AKU..
penjelasan ada di http://www.laskarislam.com/t6222p100-obrolan-abu-hanan-dan-emiliana-tentang-sidharta-gautama-available-untuk-semua-member#84664..

apa kamsutnyah?
ketika muslim berdzikir/sholat kemudian pada titik tertentu muslim kehilangan kesadaran dan diliputi entah tenang,damai,tak terucap kata2 atow apalah..di hati hanya ada "DIA/allah"..dan di saat itu syahwat pun menjadi tiada..ketika orang itu bangkit/selesai dari dzikir/sholat lalu tetap merasakan "perasaan" seperti ketika berdzikir,artinyah syahwat telah musnah..lantas mengapa dia masih biologis dalam pernikahan?karena biologis akan selamanyah ada dan masalah teknis kembali ke individu..



lanjut..


PERATURAN DAN PANDUAN UMUM | FAQ | ADA MASALAH..?? l PENGADUAN
Like dan Follow !
facebook.com/laskarislamcom
@LaskarIslamcom
untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by abu hanan on Thu Jul 18, 2013 3:56 pm

@sis emil
jawaban sy cuman 1 dan universal, siapa saja yg berniat bisa menjadi bhikkhu/su/ni..terlepas dari umur atau masa lalu-nya (perumah tangga, pembunuh, perampok,dsb)
sayah gak paham dengan "universal"..karena ada aturan seperti ;
* pembunuh arahat gak bisa jadi bikkhu..
* pemerkosa bhikkhuni gak bisa jadi bikkhu..
* buddhis jadi muallaf lalu murtad dan balik jadi buddhis gak bisa jadi bikkhu..
** Orang yang memiliki anggota badan cacat..dan kita juga tau bahwa ke-cacat-an seseorang juga gak bisa lepas dari karma di masa lalu..

ketika orang berniat menjadi bikhsu dan meninggalkan anak yang masih balita,apakah hal semacam itu termasuk karma baik?


Siapa yg keberatan, bro?
Wowowo....sekarang amalan sholeh adalah dharma....?
masalah ini sederhana kalow anda tidak terburu esmosi dengan menilai terlalu awal setiap post dari sayah..

Emanknya org yg “ga bertuhan/pencipta” harus dpt menghentikan kematian?
http://www.laskarislam.com/t7153-buddha-bertanya-tentang-allahmuslim-menjawab#85700

Sehingga....Anda mencari2 alasan mengapa Buddhis (yg tdk bertuhan) tdk dapat menghentikan kematian?
sayah berpikir seperti itu..yah balik ke "kursi di dalam ruangan"..sayah gak peduli kondisi kayu,mau lapuk atow apapun,tetapi CARA kursi ada di ruangan..itu ajah..

tentang daging
mengafa sayah memilih gak apple to apple?
dari tanpa pengecualian dengan sakit..dari normal dengan urgent..mengafa sayah bertanya tentang itu?yup..sayang sekali..anda bahkan salah mengartikan dan bilang "pengecut"..tak masalah deh..

inti pertanyaan sayah adalah ;
mengafa ada perbedaan aturan di tiap negara..jadi bukan urgensinyah tetapi sejauh mana keadaan tiap negara bisa membatasi masalah penyimpanan obat2an?apakah berdasarkan sutta sidharta atow gimanah?
inget sis,di sini sayah pun menerjemahkan buddhis bagi muslim..ketika anda bilang "tanpa pengecualian" maka sayah lengkapi dengan kondisi urgent/obat2an dari bahan hewan..apa tujuan sayah?agar muslim tidak secara gegabah bahwa larangan itu berlaku mutlak tetapi juga seperti islam,ada kondisi tertentu yang diBOLEHKAN..

dan pem-boleh-an itu berbeda di setiap negara,mengapa?


Tdk pernah ada jaminan org yg gak pengen nikah, berarti sukses melenyapkan keinginan...
sepakat..berarti langkah praktis/teknis tidak dapat mengendalikan bersitan/lintasan suara dalam hati..jadi dengan demikian,apa maksud dari "melenyapkan' keinginan secara total?

dan untuk itulah (alasan islam tidak total atur teknis) sayah katakan ; islam melarang muslim MEMBUNUH/memusnahkan nafsu dan islam hanya sebatas mengendalikan karena selama manusia bernafas maka selama itu pula ada nafsu..hal itu dapat dinyatakan/dilihat dari "lintasan hati" karena hati manusia yang bolak2..


lanjut..


PERATURAN DAN PANDUAN UMUM | FAQ | ADA MASALAH..?? l PENGADUAN
Like dan Follow !
facebook.com/laskarislamcom
@LaskarIslamcom
untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by abu hanan on Thu Jul 18, 2013 4:06 pm

@sis emil
Maafkan klo sy arogan, ttp klo sy tdk menggali lbh lanjut, Anda atau setidaknya muslim pembaca pasif di thread ini, akan berhenti di penjelasan dangkalnya yg seolah2 itu adalah identik Nibbhana...
fana adalah juga buah dari zuhud (menganggap ke-benda-an dalam sifat sementara,bukan sebagai hak milik atow ke-abadi-an)..nyawaku bukanlah milikku,hartaku bukanlah milikku,anakku bukanlah milikku..

zuhud secara istilah berarti tidak mementingkan hal - hal yang bersifat keduniawian, atau meninggalkan gemerlap kehidupan yang bersifat material..tetapi bukan berarti memutuskan hubungan jasmaniah secara total tetapi ;
meninggalkan yang haram,membatasi diri pada yang halal dan tidak menjadikan diri sibuk sehingga membuyarkan konsentrasi..

diungkapkan oleh imam al junai al baghdadi,menggambarkan fana’ sebagai “sirnanya daya tangkap hati terhadap yang bersifat indrawi karena menyaksikan sesuatu, maksudnya lenyap segala yang ada dihadapan serta segala sesuatu dari serapan indrawi sehingga tidak ada sesuatu yang dapat diraba dan dirasakan”

yang bergaris bawah,bukankah identik mirip dengan nibbhana?sayah tekankan itu supaya orang juga tau bahwa bila dia menemui kondisi garis bawah maka kurang lebih seperti itulah rasanyah nibbhana..

dan bila anda gak bertanya lebih lanjut pun tentu muslim paham bahwa konsep"pengendalian diri" ada di tiap agama,dengan standar yang berbeda,dan teknis yang berbeda..


Sy tdk paham Anda bilang “ttg Siddharta”
karena ada beberapa ungkapan yang tidak berasal dari siddharta..dan sayah gak ingin ada persepsi salah dari muslim..ketika kami berpendapat sesuatu yang awalnyah diyakini dari siddharta eh ternyata bukan ketika diuji di trit ini..contoh;standar negara yang berbeda terhadap obat2an para bikksu..sayah gak tau apakah perbedaan itu berdasarkan sutta dari sidharta atow keputusan siapakah ?

Sedangkan pernyataan sampeyan “punya sy juga bukan kecap no.3” yaaa mungkin cuman bisa diiyakan org yg mabuk cinta thd kecap sampeyan....
anda bilang dan sering mengulang ehipassiko dan juga berkata buddha tidak menitikberatkan pada penciptaan alam (atow tidak diajarkan?sayah gak ingat pasti)..
untuk itu sayah bertanya ; "kursi di dalam ruangan"..kursi ibarat alam semesta karena kursi gak bisa berpikir..hukum gravitasi ada karena ada bumi/planet yang berputar pada porosnyah..lalu mengapa planet bisa berputar pada porosnyah?

mungkin anda bisa jelaskan rangkuman sutta sbb ;

“Vasetha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur ( kiamat ). Dan ketika hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di Abhassara ( alam cahaya, surga ke-12 dalam kosmologi Buddhis ); disana mereka hidup dari ciptaan batin ( mano maya ), diliputi kegiuran batin, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan.

Mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

“ Pada waktu itu ( bumi kita ini ) semuanya terdiri dari air,

= = = =>dan seterusnyah tentang penciptaan alam..lalu <===== ;


Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung Sineru tertiup angin sampai ke alam Brahma.

Bagian-bagian dari puncak gunung Sineru setinggi 1, 2, 3, 4, 5 ratus Yojana terbakar menyala ditaklukkan oleh amukan nyala berkobar-kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar-kobar bumi dengan gunung Sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Bagaikan mentega atau minyak yang terbakar hangus tanpa sisa.

Demikian pula bumi dengan gunung Sineru hangus terbakar hingga bara maupun debu tak tersisa sama sekali. “

end story.......
permasalahan ;

setelah kiamat,air jelas gak ada di bumi karena bumi sendiri musnah,lalu ketika ada proses restart,gimana penjelasan tentang air?apakah bumi yang di-kiamat-i itu BERBEDA dengan bumi yang bakal dihuni manusia?


lanjut...



PERATURAN DAN PANDUAN UMUM | FAQ | ADA MASALAH..?? l PENGADUAN
Like dan Follow !
facebook.com/laskarislamcom
@LaskarIslamcom
untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by abu hanan on Fri Jul 19, 2013 2:21 pm

#129

Halah....selalu ajah begituuuuu....klo emang Anda paham maksud request saya SEJAK AWAL, tp Anda malah memberikan SESUATU yg tampaknya ga berhubungan dengan REQUEST saya, setidaknya bagi saya, maka Anda sebaiknya melengkapi dgn PENJELASAN sedari dini Anda menyuguhkan SESUATU yg TAMPAK ASING bagi saya itu.
lha kan..selalu deh..ini ceritanyah..
buddha mengajarkan bahwa ada enam alam kehidupan bla bla..dan dari rangkaian kehidupan di alam2 yang berbeda kan dapat ditinjau logis dan ilogisnyah..bla bla..


emil wrote:Agama saya menjanjikan: semua hal yg dibilang Buddha dpt Anda buktikan sendiri, mulailah dri 4 Kesunyataan Mulia...saat ini juga..
lalu kan sayah copas tuh bagian "ngelesshh"..dan..
sis emil wrote:

tp Anda malah memberikan SESUATU yg tampaknya ga berhubungan dengan REQUEST saya,
anda pake "mulailah dari 4 kasunyatan mulia" dan karena sayah ingin tau setelah memulai 4 kasunyatan mulia lalu apa?
yah kan sayah bawa 31 alam..untuk dapat ditinjau bareng2 logis/tidaknyah..

ajaran Buddha bukan ajaran berbasis Keimanan
owh buginih jeng..
definisi iman di dalam islam adalah percaya..jadi kalow anda percaya bulat pada siddharta sbg guru anda (segala ucapan wal perkataan wal perbuatan) meskipun anda belum mengalami maka itulah iman..ajaran sidharta kan disebut buddha (anggap ajah bugituh) dan disitulah letak iman..percaya pada siddharta..nah dalam menjalani apa ajah yang diajarkan guru anda yah itu berarti di dalam islam di sebut mencontoh sunnah,dan beberapa sitilah laen..

sis emil wrote:

surga-neraka-31 Alam Kehidupan sama pentingnya dgn Intisari 4 Kesunyaan Mulia dgn bukti mereka “ada” di detail penjelasan Kesunytaan Mulia I, II, III, maupun IV.....

4 Kesunyataan Mulia menganalisis kondisi kekinian
walah jeng..
kalow ada orang bolak balik renang dan menyelam sampe tenggelam 4 kasunyatan mulia buat cari neraka yah gak bakal bersua..
karena sebenarnyah jelas kalow 4 kasunyatan adalah masa kini tetapi kekinian itu selalu mempunyai efek di masa depan..bahwa orang yang mati itu gak langsung ujug2 balik lahir..tapi ada alam mampir sebelum balik ke alam manusia..

dan serasa aneh bagi sayah,ketika alam masa depan uda ditentukan umurnya kok alam sekarang malah gak ada batasan waktunyah?
alam masa depan = uda diketahui usianyah
alam masa sekarang = belum diketahui

Apakah dgn tasawuf bs dijelaskan? Sedangkan dr Hukum Kesunyataan yg I saja, udah beda soal dukkha/derita itu apa....klo kondisi yg dibicarakan Buddhis A, Muslim B, membahas sebab A maupun B tentunya jg sdh beda!
pastilah..logika buddha gak bakal bisa diterima logika muslim dan sebaliknyah..tetapi tasawuf akan mampu menjelaskan ajaran buddha kepada logika muslim..

Ketagihan memusnahkan diri artinya mencari kesenangan dalam derita penyiksaan tubuh.
masih belum paham sayah..

silahkeun..


PERATURAN DAN PANDUAN UMUM | FAQ | ADA MASALAH..?? l PENGADUAN
Like dan Follow !
facebook.com/laskarislamcom
@LaskarIslamcom
untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by brotherOON on Sat Jul 20, 2013 11:36 am

Mohon maaf dengan kesibukan msaya akan memberikan komen2 terhadap poin2 tertentu

kita mendefinisikan damai tentu ketika "damai" itu sdg terjadi...setelah melihat ular, "damai" itu terusik dan hancur...oleh sebab itu tdk dpt disebut "damai"...sedangkan adalah benar org itu tdk terusik dgn gejolak2 SEBELUM ia melihat ular...
Karena ini hanya contoh mencicip "damai". Pertanyaannya ada ga org yg "damai sempurna"...? Ada, yaitu Buddha. Buddha pernah akan diserang gajah kelaparan, tp tetap damai (tenang).

kontradiksi,, Anda bilang kan damai tidak akan terpengaruh oleh perubahan2 apapun gmn tuh, saya cuman taro uler di situ aja udh ga ada damai lagi,, istilahnya dalam sistem equlibirium saya cmn kasih sedikit perturbation dy udh dalam keadaan non equlibirium,, jdinya teori damai Anda tidak mungkin dipraktekan dalam reality kan gitu?

saya minta source untuk cerita buddha untuk cek kevalidan.. edit: pawang gajah juga tenang kalo diserang gajah soalnya

Sy kan ga bilang, Islam memaksa org utk memeluknya...(metode, cara). Sy bicara konten ajarannya, yg harus diterima bagi siapa yg telah memeluk Islam...
“Telah jelas dan benar”-nya itu berhubungan sama ayat di bawah bukan? Klo iya, mari kita lihat ayat di bawahnya...klo bukan, berarti dogmatis ngaku2 “telah jelas dan benar” tanpa disokong bukti2 lain...

ya iyalah klo Anda memeluk ajaran agama A ya otomatis ajarannya harus diterima bagi pemeluknya,, yang jadi masalah diterimanya dogmatis alias pemaksaan kehendak atau bisa diterima dengan akal sehat alis logika,, kenapa harus terpaku sama ayat sesudahnya, ya liat kesuluruhan ajarannya lah namanya juga di ayat tersebut sudah berbicara tentang jalan yang lurus dan jalan yang sesat,,, telah jelas artinya Anda bisa pikir pke logika akal sehat

Bisa dibuktikan klo ada sesosok “Dia”...pertama2? Klo bisa, tidak akan muncul kaum atheis. Dan bisakah dibuktikan proses penundukkanNya? Apakah bisa kita lihat sendiri, apakah Anda pernah melihatnya? Apakah Anda pernah melihat sendiri rahmat diturunkanNya?
Kemungkinan besar, jawaban Anda: tidak...tp aku percaya...Memang masalah “percaya”, “ga percaya” hanya muncul kalau kita tdk pernah benar2 tahu 100%...kalau kt sudah tahu, “percaya” “ga percaya” gak akan ada lagi, dan Islam sdh masuk sains...dgn menjwb semua pertanyaan ttg alam semesta...Kenyataan ga demikian lho...
Jadi maksudnya bagaimana, klo ayat2 itu bs dianalisis?

silakan lihat cuplikan percakapan serupa dgn bung Abu di bawah...dan lihat bagaimana sesepuh Anda mengomentarinya....

yang membedakan manusia dan hewan adalah manusia punya akal, punya logika untuk berpikir,,, sekarang mari gunakan logika ,,, kalo di seblah rumah Anda adalah tanah kosong kemudian di waktu selanjutnya ada istana megah berdiri dan saya bilang sama Anda bahwa istana itu ada dengan sendirinya tanpa ada yang membuat Anda akan berpikir saya orang gila,, dan seperti itulah pandangan saya terhadap atheis,,
Ketika semua peristiwa gejala di alam semesta bisa di gambarkan dengan persamaan2 yang indah melalui apa yg disebut ilmu fisika kuantum dan kalo saya bilang itu smua cuman kebetulan di hadapan profesor fisika,, dy pasti akan menganggap saya bodoh,, dan sperti itulah pandangan saya terhadap atheis.
Saya memang tidak pernah melihat Tuhan tapi saya bisa merasakan dengan logika saya bahwa Dia ada,,

So kalau Anda bertanya demikian saya bisa asumsikan bahwa buddha ternyata dekat dengan atheis?  ini menjadi informasi penting buat saya

Ya anggap saja sy org yg ga berakal, apa tanda2nya? Setahu saya, yg terjadi itu mah fenomena alam...
Sy sungguh heran sering org bilang kpd saya: km salah, menggunakan akal manusia utk mempertanyakan Tuhan...bukankah ini berarti logika manusia tdk dpt dipakai u/ mempertanyakan Tuhan, eksistensi, kehendak, dan tindak-tandukNya? Tp di sisi lain, Islam ngaku org yg berakal yg bisa melihat...walah2 kontradiksi....

weleh2 pakai logika Anda dong kenapa org bilang sperti itu, ga mungkin yang diciptakan itu  sama dimensi dengan sang pencipta,, misal manusia bisa menciptakan smart phone. Bisakah smart phone itu memprediksi apa tujuan saya pada posisi tertentu dan waktu tertentu bisakah smart phone itu mengetahui apa yang saya pikirkan pada waktu tertentu dan tempat tertentu. Dan yang lebih lgi bisa ngga smart phone itu hidup tanpa saya kasih source? bisakah dy berfungsi tanpa saya kasih chip? dan apakah chip itu bisa sehebat otak manusia?

Apakah sekarang Anda sudah tahu kenapa org2 berkata demikian?

kalau Anda menggugat demikian Apakah buddha hampir sama dengan atheis? ini informasi yang penting

yang ini belom dijawab
Apakah ini berarti ajaran Anda itu bisa diubah2 seperti itu?

dan yang terakhir
Masih perlukah bertanya? Kan sy udah bilang ini menurut sy dan Buddhism, klo sepakat berarti congratulations...klo ga, ya gpp juga...

silakan jelaskan pada para pembaca gimana teori atau pemikiran siddharta gautama untuk  melestarikan spesies manusia tanpa sex atau pernikahan silakan kasih sourcenya juga ini akan sangat penting,, toh org2 buddha juga menikah kan

brotherOON
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 105
Kepercayaan : Islam
Location : Lost World
Join date : 07.07.12
Reputation : 6

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by Emiliana on Sun Aug 11, 2013 4:21 pm


abu hanan wrote:
perhatikan baik2..
emiliana wrote:
-“dari awal” dari Hong Kong? Wong ketika sy gali terus, baru (beberapa saat/hari kemudian) dibilang “ada kodrat yg harus dihargai di Islam”..
kronologi jawaban ;
1.batin yang kotor..hal itu uda ada..tanpa anda gali pun gak bakal merubah fakta "batin kotor" itu ada..
kalow gak salah di sonoh http://www.laskarislam.com/t6222p75-obrolan-abu-hanan-dan-emiliana-tentang-sidharta-gautama-available-untuk-semua-member#81940
Tidak ada perdebatan utk istilah “batin yg kotor”, “batin yg kotor” bahkan diakui dan masuk dalam pengetahuan yg penting dalam Buddhism yg digolongkan sbg “penyakit yg harus diobati”.....dengan demikian saya tdk bermaksud dan tdk dpt merubah fakta Kesunyataan Mulia ini.

abu hanan wrote:
2.fana dalam makna leksikalnya adalah ketiadaan dan kehancuran..fana dalam makna gramatikalnya adalah tidak memandang, memperhatikan, dan menyaksikan keberadaannya sendiri..bahwa seseorang berada di dalam kondisi yang sama sekali tidak melihat eksistensi dirinya sendiri dan dia meniadakan segala sesuatu selain-Nya di dalam hatinya..tidak memandang keinginan-keinginannya, harapan-harapannya, dan dunia sekelilingnya..
http://www.laskarislam.com/t6222p75-obrolan-abu-hanan-dan-emiliana-tentang-sidharta-gautama-available-untuk-semua-member#82231

Perhatikan kata “ketiadaan” dan “kehancuran” di atas....inilah yg menjadi inti perkataan saya...di ujungnya ada selainNya...Ok-lah, tapi ternyata bung setelah obrolan kita ke sana kemari...bukan cuman Nya lho...msh ada perintahNya....kodrat manusia yg dilimpahkanNya....walhasil= ketiadaan, kecuali diriNya, perintahNya, kodrat yg dilimpahkanNya (termasuk sex, dsb, dsb, dsb)
Maka kata saya tdk usahlah pake “ketiadaan” klo kecualinya banyak bgt...mending bilang aja ada/melekat pada hal2 tertentu, spt melekat pd Tuhan, perintah Tuhan, dsb...
Ya ini cuman saran dari segi semantik soalnya kan saya org yg tiap hari bergulat dengan kata/kalimat/linguistik...jd lucu aja klo ada penjelasan spt itu...

Dan poin no.3 dari Anda di bawah ini mendukung bahwa tdk mungkin “ketiadaan” itu bisa terjadi absolut...tp hanya ditekan/diminimalisir. Sebagai sesepuh Anda sdh pasti bs bedakan makna “kendali” dibandingkan dengan “lenyap/hilang”...konteksnya di sini saya mempersoalkan hal yg bagi Anda sederhana...tp tentu kita hrs berani mengatakan A definisinya A, B adlh B, keduanya adalah hal yg berbeda walaupun dimirip2kan dlm alam pikiran Anda.

abu hanan wrote:
3.sehingga,zuhud juga mempunyai pengertian :
tidak merasa gembira dengan apa yang dapat dicapai dan tidak merasa duka cita dengan apa yang hilang,dan ketika ia mendapat celaan atau hinaan, sikapnya sama saja..datar..

http://www.laskarislam.com/t6222p100-obrolan-abu-hanan-dan-emiliana-tentang-sidharta-gautama-available-untuk-semua-member#84084

4.apakah "menikah" menyediakan ruang utk bernafsu indrawi?
tentu dan itu adalah jalan untuk tetap menghargai "kodrat"

http://www.laskarislam.com/t6222p100-obrolan-abu-hanan-dan-emiliana-tentang-sidharta-gautama-available-untuk-semua-member#84664
Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan,

@all coba deh perhatikan yang sayah garis bawah di atas..
meniadakan segala sesuatu selain DIA..itu bermakna hanya melihat hakekat ketuhanan,baik sifat maupun perbuatan,bukan pada hasil/benda hasil ciptaan..tidak memandang keinginan yang timbul dari dirinya tetapi melihat bahwa segala sesuatu adalah perintahnya..menikah,adalah perintahnya atow ketetapan atow sunnah atow hukum yang telah ditentukan..(di dalam fiqh ada tingkatan hukum untuk nikah)..
Ya berarti balik lagi kesimpulannya—klo Anda bilang bukan hasil ciptaan—segala sesuatu yg terjadi adalah berkat hakekat ketuhanan itu sendiri (sifat atau perbuatan Tuhan)....kita menikah karena perbuatan Tuhan yg memerintahkan kita u/ menikah...sama juga klo ada org yg membunuh, berarti itu xxxxx-nya Tuhan...(ntah xxxx-nya mw disebut apa, isi sendiri deh). Oleh sebab itu, fine...tapi terimalah itu pandangan agama Anda, agar di lain kesempatan nggak ada yg kontradiksi dgn meyakini adanya “karma” atau “hukum konstitusi” sekalian...Sebab, menurut karma maupun hukum konstitusi itu yg dijerat hukuman adalah pelaku a.k.a manusia, dan tdk berspekulasi dgn keberadaan dzat/makhluk gaib...

jadi disitu dikamsutkan bahwa menikah BUKANLAH semata memenuhi biologis/syahwat tetapi ada faktor lain seperti keturunan..
bila tidak ada pernikahan,apakah ada manusia di muka bumi?ajaran samawi akan menyatakan ; tidak ada kehidupan..
Mengapa Anda melekat bgt sama “kehidupan”?

nah yang LENYAP adalah AKU..
penjelasan ada di http://www.laskarislam.com/t6222p100-obrolan-abu-hanan-dan-emiliana-tentang-sidharta-gautama-available-untuk-semua-member#84664..

apa kamsutnyah?
ketika muslim berdzikir/sholat kemudian pada titik tertentu muslim kehilangan kesadaran dan diliputi entah tenang,damai,tak terucap kata2 atow apalah..di hati hanya ada "DIA/allah"..dan di saat itu syahwat pun menjadi tiada..ketika orang itu bangkit/selesai dari dzikir/sholat lalu tetap merasakan "perasaan" seperti ketika berdzikir,artinyah syahwat telah musnah..lantas mengapa dia masih biologis dalam pernikahan?karena biologis akan selamanyah ada dan masalah teknis kembali ke individu..
Justru karena “teknis”, ia bisa dipilih utk dilakukan atau dihindari...iya gak...bukan berarti klo dia ga melakukannya dia bakal mati.
Yo weis, wak, klo kata Anda bilang: yang lenyap adalah AKU, sewaktu salat pd titik tertentu...komentar saya (dan sy berani berkata ini sesuai pandangan Sidharta Gautama sendiri) “lenyapnya aku” tsb cuman sementara (itupun klo bs dsebut sementara), ia begitu rawan berubah lagi dgn mengikuti teknis yg sbnrnya bs dilatih
Ya jelas ya, sy sdh mencatut kata “komentara saya” dan “sesuai pandangan Gautama (Buddhism)” berarti yg sepakat silakan...yg tdk, jgn dijadikan derita batin...Sy juga akhirnya bilang “yo weis” buat pemikiran Anda (stlh ga ada lg lubang yg bs ditambal)
avatar
Emiliana
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Female
Posts : 258
Kepercayaan : Budha
Location : apa penting
Join date : 04.05.13
Reputation : 5

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by abu hanan on Sun Aug 11, 2013 4:40 pm

Mengapa Anda melekat bgt sama
“kehidupan”?
lha karena sayah hidup dan berada di kehidupan..


PERATURAN DAN PANDUAN UMUM | FAQ | ADA MASALAH..?? l PENGADUAN
Like dan Follow !
facebook.com/laskarislamcom
@LaskarIslamcom
untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by abu hanan on Sun Aug 11, 2013 4:59 pm

susah emang dari hape..salah klik eh editnyah susah..

ketiadaan aku versi islam berbeda dengan ketiadaan aku versi buddha..dan selama ada perbedaan mendasar (pencipta) maka selamanyah akan susah dipahami oleh masing2 pihak kalow masih keukeuh pada prinsip masing2..

"aku" yang sirna dalam keadaan sementara adalah kesadaran tentang ego..dan ketika dzikir/sholat usai maka ego pun kembali dalam kondisi "tunduk"..
ketiadaan "aku" adalah bukan seenake dewe tetapi "aku" harus tunduk pada allah baik melalui perintah/larangan..
dan di dalam buddha pun sebenarnyah "aku" yang tiada pun gak jauh beda karena apa?masih ada tuntutan dari jasmaniah..meski sekedar makan ganjal perut..dan untuk pemenuhan kebutuhan makan pun seorang arahat masih wajib memperhatikan rambu2..arahat dilarang membunuh kelinci untuk perut dan itu contoh kecil..


PERATURAN DAN PANDUAN UMUM | FAQ | ADA MASALAH..?? l PENGADUAN
Like dan Follow !
facebook.com/laskarislamcom
@LaskarIslamcom
untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by Emiliana on Sun Aug 11, 2013 5:55 pm

abu hanan wrote:@sis emil
jawaban sy cuman 1 dan universal, siapa saja yg berniat bisa menjadi bhikkhu/su/ni..terlepas dari umur atau masa lalu-nya (perumah tangga, pembunuh, perampok,dsb)
sayah gak paham dengan "universal"..karena ada aturan seperti ;
* pembunuh arahat gak bisa jadi bikkhu..
* pemerkosa bhikkhuni gak bisa jadi bikkhu..
* buddhis jadi muallaf lalu murtad dan balik jadi buddhis gak bisa jadi bikkhu..
** Orang yang memiliki anggota badan cacat..dan kita juga tau bahwa ke-cacat-an seseorang juga gak bisa lepas dari karma di masa lalu..
Terima kasih atas tambahan Anda...
dari http://ratnakumara.wordpress.com/2009/01/23/dilema-menjadi-bhikkhu-atau-ummat-awam/ Mereka yang memiliki dua faktor berikut adalah yang berkesempatan sangat besar untuk dapat menjadi bhikkhu:
(1) “terlahir dalam masa adanya ajaran Buddha dan menjadi “Buddh’uppàda dullabha” yang sangat jarang terjadi, dan
(2) “Kehidupan sebagai manusia yang sangat jarang terjadi,” manusatta dullabha.
Saat ini sy belum ada kesempatan menanyakan pd seorang guru dhamma, atau bhikkhu/su/ni...apakah hitam di atas putih itu mutlak atau panduan...saat ini sy berkeyakinan asalkan org itu ada kemauan, dy bisa jadi bhikkhu (yg esensinya berusaha meLENYAPkan nafsu duniawi, meninggalkan dunia fana secara murni, dst)...apakah dy pernah pindah agama (tidak usah mualaf, agama apa saja bahkan kepercayaan animisme, dinamisme)...atau apakah dy cacad...


ketika orang berniat menjadi bikhsu dan meninggalkan anak yang masih balita,apakah hal semacam itu termasuk karma baik?
Karma baik...dan ini balik lagi ke mungkin ga? Karena Buddhism itu kan realistis...jd begini, apakah balita itu ber-ibu? Apakah ada anggota keluarga yg dpt menjadi sosok ayah si balita? Apakah nafkah jasmani akan terpenuhi kalau seandainya ia pergi?
Klo kondisi2 ini terpenuhi, hati seseorg akan dengan ringan meninggalkan kehidupan fana...dan ketika ia mempelajari ajaran Sang Buddha dengan tekun, ia berpotensi menyebarluaskan ajaran Kebenaran pd org yg lebih banyak, membuka jalan terang bagi yang tersesat, menyelamatkan byk makhluk...dalam pemikiran saya karma setara mukjizat yg dilakoninya melebihi hutangnya meninggalkan si anak...bahkan si anak ini bisa pula ditunjukkan jalannya oleh si bhikkhu (yg adalah bapaknya) kelak...Seorang wanita atau keluarga yg dulunya bersuami atau berayah orang yang mulia, apakah mereka bahagia atau menderita? Awal2nya mungkin tdk terima, dan ini adalah debu pd kaca dan perlahan2 akan tersingkap dan terlihat kemilaunya kaca...

sayah berpikir seperti itu..yah balik ke "kursi di dalam ruangan"..sayah gak peduli kondisi kayu,mau lapuk atow apapun,tetapi CARA kursi ada di ruangan..itu ajah..
Ya kira2 berarti org itu kurang kerjaan...dan semua org emank berangkat dr “kekurangkerjaan” ini yg dimanifestasi ke dalam hasil: bengong, melongo, mengacak2 pikiran...Terus lama2 sadar ngapain mikir itu lama bgt, ah TUJUANKU masuk ke ruangan ini kan mw xxxxxxxxx, mw ini itu-in kursi....ya kalau ga ada kondisi, berarti ga ada arah...dan Buddhism ini ada arahnya atau intinya, memuliakan diri...memuliakan diri ya ada jalannya, gak ada sangkut-paut sama dunia ini bikinan siapa...

Anda berpikir dlm quotes di atas...sila aja, tp sdh diperjelas berulang-ulang-ulang-ulang-ulang kali...kalau tujuan adalah “kekurangkerjaan” itu....berarti Anda salah masuk kamar, coy! Sampai Anda paksa2 pun kamar ini hrs atau malahan tdk mampu menjwb curiosity Anda, maka yg salah itu org yg salah masuk kamar atau si penghuni kamar? Jwb sndri saja


tentang daging
mengafa sayah memilih gak apple to apple?
dari tanpa pengecualian dengan sakit..dari normal dengan urgent..mengafa sayah bertanya tentang itu?yup..sayang sekali..anda bahkan salah mengartikan dan bilang "pengecut"..tak masalah deh..

inti pertanyaan sayah adalah ;
mengafa ada perbedaan aturan di tiap negara..jadi bukan urgensinyah tetapi sejauh mana keadaan tiap negara bisa membatasi masalah penyimpanan obat2an?apakah berdasarkan sutta sidharta atow gimanah?
Nah, kan enak klo gini dari awal ngaku: memang gak apple to apple....karena justru ada kondisi/konteks/keadaan/urgensinya...anda harus membandingkan antara yg kondisinya sehat dgn konteksnya yg jg sehat...dan yg sakit, begitu vice versa...
Sutta atau aturan atau ayat itu mencakup urgensi...urgensi2 dari pengalaman dirangkum dalam satu tulisan, agar generasi depan tdk bingung harus bagaimana menghadapi suatu situasi...oleh sebab itu, kita Anda bilang: bukan urgensi, tp aturan pembatasan “negara”...maka itu mustahil, lelucon!
Klo sy terpancing emosi, maafkanlah...siapa suruh Anda memakai gaya percakapan spt ini:
Saya: Bhikkhu utk mantap pol loh, gak boleh ini-itu, beda ama ustadz or santri
Anda: Bhikkhu aja boleh makan daging lho pas lagi sakit...kan lagi2 balik ada syarat/konteksnya
Ya jelaslah awak naik pitam dgn mengatakan nte klo berani, bandingkan yg lagi sehat ama yg sehat...
Beda halnya klo nte menjawab:
Anda: Bhikkhu aja boleh makan daging lho pas lagi sakit...kan lagi2 balik ada syarat/konteksnya...tapi menurut saya, itu bukan urgensinya sih, emank udah di Sutta-nya gitu...misalnya kapasitas negara blah blah blah....

Maksud ana, kalau nte ga mau disalahmengertikan...ngomonglah selengkap2nya sebelum ditambal terus2an kyk begitu...nah jadi maksud situ yg lengkap spt ini yaaaa...Pak Abu:
inget sis,di sini sayah pun menerjemahkan buddhis bagi muslim..ketika anda bilang "tanpa pengecualian" maka sayah lengkapi dengan kondisi urgent/obat2an dari bahan hewan..apa tujuan sayah?agar muslim tidak secara gegabah bahwa larangan itu berlaku mutlak tetapi juga seperti islam,ada kondisi tertentu yang diBOLEHKAN..
Tapi “pengecualian” di Buddhis ini berbau urgency, dalam hal ini sdg sakit....di Islam ada kondisi tertentu yg dibolehkan? Apakah yang sedang Anda bicarakan? Apakah yg Anda mksd spt tidak ada obat yg dpt menyembuhkan seorang pesakit kecuali zat2 yg haram?
Ya dalam hal ini “pengecualian” di Buddhis dan Muslim adlh identik...yg jadi persoalan, pengecualian thd sex ini, wak, bagi bhikkhu bahkan ga ada istilah pengecualian boleh berhubungan intim...yg buat saya bingung kita lagi ngomongin yg bilogis ini, trus Anda...tiba2 ‘nyolong’ ke makan daging pas lagi sakit....intinya apa? KONDISI TERTENTU yang dibolehkan di Islam itu Sex? Karena kodratnya? Kalau begitu pengecualian Buddhis berbasis Vinaya Pitaka adalah berdasarkan urgensi, sedang di Muslim adalah berdasarkan kodrat...contohnya Bikkhu boleh makan produk hewani waktu lg sakit dan Muslim dapat berhubungan intim karena emank uda kodratnya manusia...
NAH LHOOOOO...jadi bandingin apa sih ini? Gak apple to apple, boss!

abu hanan wrote:
emiliana wrote:Tdk pernah ada jaminan org yg gak pengen nikah, berarti sukses melenyapkan keinginan...
sepakat..berarti langkah praktis/teknis tidak dapat mengendalikan bersitan/lintasan suara dalam hati..jadi dengan demikian,apa maksud dari "melenyapkan' keinginan secara total?

dan untuk itulah (alasan islam tidak total atur teknis) sayah katakan ; islam melarang muslim MEMBUNUH/memusnahkan nafsu dan islam hanya sebatas mengendalikan karena selama manusia bernafas maka selama itu pula ada nafsu..hal itu dapat dinyatakan/dilihat dari "lintasan hati" karena hati manusia yang bolak2..
waduh...ini ud banyak sekali post-nya boss...Anda masih nanya yg itu2 aja....”melenyapkan keinginan secara total” itu kyknya sudah ada tersurat di obrolan2 ini, dan ada yg tersirat juga...oleh sebab itu penjelasan sudah ada bukan nihil (tidak ada), melainkan bertubrukan dengan paham ajaran Anda...dan tdk perlu Anda bawa itu kemari, karena ini bukan thread untuk menyelaraskan ajaran Buddha dgn Islam, betul? Melainkan untuk mencari tahu apa sebenarnya filsafat2 Buddha itu...yang menarik justru dan kelihatan dari org yg benar2 mw mencari tahu filsafat Buddha itu, gelas mereka itu kosong ...ketika saya mengatakan Buddha bilang ada potensi/ kemungkinan (ingat lho possibility bukan probability) maka gelas yg benar, yg kosong, akan menampung ide tsb. Org2 yg bernalar atau revolusioner, akan berangkat lbh jauh dgn menakar2, menganalisis kemungkinan tsb, TENTUNYA...dengan gelas kosong, artinya meniadakan pengetahuan2 yg ia dapatkan dari luar, utk barang sesaat. Inilah yg sy sebut org yg dpt berpikir realistis....dan tentunya sangat mudah kita menilai Anda gelasnya saat ini sedang penuh atau setengah penuh, atau kosong....Ini tentu tdk menjadi soal saat Anda sdg ada di luar thread ini, akan tetapi ktk Anda bawa gelas setengah penuh atau penuh berisi susu tadi utk menimba ‘air’ Buddhis dari sumur Buddhisme...hslnya ya gitu deh....awak ngomong ngulang2 melulu....
avatar
Emiliana
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Female
Posts : 258
Kepercayaan : Budha
Location : apa penting
Join date : 04.05.13
Reputation : 5

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by Emiliana on Sun Aug 11, 2013 6:31 pm

ketiadaan aku versi islam berbeda dengan ketiadaan aku versi buddha..dan selama ada perbedaan mendasar (pencipta) maka selamanyah akan susah dipahami oleh masing2 pihak kalow masih keukeuh pada prinsip masing2..

"aku" yang sirna dalam keadaan sementara adalah kesadaran tentang ego..dan ketika dzikir/sholat usai maka ego pun kembali dalam kondisi "tunduk"..
ketiadaan "aku" adalah bukan seenake dewe tetapi "aku" harus tunduk pada allah baik melalui perintah/larangan..
Top markotop setuju deh, klo sj Anda ngomong kyk begini dr awal2...

dan di dalam buddha pun sebenarnyah "aku" yang tiada pun gak jauh beda karena apa?masih ada tuntutan dari jasmaniah..meski sekedar makan ganjal perut..dan untuk pemenuhan kebutuhan makan pun seorang arahat masih wajib memperhatikan rambu2..arahat dilarang membunuh kelinci untuk perut dan itu contoh kecil..
Aku emang di seantero bumi sama, Pak...yg beda yg kita bicarakan saat ini adalah “ketiadaan” “kealfaan” “ketanpa” Aku-an...yg memang Anda katakan berbeda karena perbedaan mendasar ttg pencipta...klo kt berbicara mengenai Arahat, maka kita berbicara mengenai “tanpa Aku”-nya, bukan Aku-nya lagi, mengapa? Yg lbh banyak faktor justru “tanpa Aku” karena ia sudah mengalahkan belenggu “Aku”. Oleh sebab itu analisis/observasi “keAku-an” pada Arahat menjadi cukup mustahil, kalaupun iya hanya pada hal2 kebutuhan primer, sandang, dan papan secukupnya...dengan kata lain sangat terbatas...lumayan terbalik dgn keAku-an yg lbh banyak pd ulama2 muslim, yang masih berhubungan sex, kemelekatan pd istri, anak, cucu...dan keTanpaAku-an yg berupa tunduk pd khalik>>>lagi2 ini pandangan Buddhis mah...

karena ada beberapa ungkapan yang tidak berasal dari siddharta..dan sayah gak ingin ada persepsi salah dari muslim..ketika kami berpendapat sesuatu yang awalnyah diyakini dari siddharta eh ternyata bukan ketika diuji di trit ini..contoh;standar negara yang berbeda terhadap obat2an para bikksu..sayah gak tau apakah perbedaan itu berdasarkan sutta dari sidharta atow keputusan siapakah ?
Jawabannya sederhana, org yg ingin mengetahui pemikiran Buddha/Sidharta/Buddha2 lainnya dengen mencoba meletakkan kaki pd alas kaki Beliau/Mereka, ujilah suatu kondisi dengan: apakah hal itu baik, berfaedah, bermanfaat, atau membawa penyesalan, kerugian, penderitaan? Apakah suatu tindakan sudah berdasarkan peri-kemanusiaan? Dengan begitu selalu begitu mudah inti ajaran Buddha diringkas menjadi: buatlah kebajikan, hindari kejahatan, serta sucikan hati dan pikiran...
Bukan berarti melulu dari A-Z apa2 yg boleh sampai tdk boleh harus ada sumbernya dari khotbah Sang Buddha langsung, atau tertulis di kitab langsung, atau diputuskan majelis agama. Ketiga hal tsb memang membantu, tp thd hal2 yg dpt dijwb menggunakan inti ajaran Buddha dan nalar hati nurani, sesungguhnya segala persoalan dpt diselesaikan dgn simple pula. Jadi ketika Anda melihat suatu fenomena/kejadian spt aturan obat2an para bhiksu yg berbeda2 di tiap negera dan ingin bertanya: apakah ini kata Sidharta langsung atau yang manakah yg kata Siddharta scr tepat? Anda akan terjebak dlm kebingungan, sebaiknya Anda bertanya mana yg diinginkan/maksud Siddharta? Di negara A, bisa jadi itu selaras dgn maksud Siddharta, dengan negara B, C, D...X juga demikian...Parameternya cuman sederhana: aturan itu ketika diterapkan di negara bersangkutan apakah berfaedah scr holistik atau menjerumuskan?


anda bilang dan sering mengulang ehipassiko dan juga berkata buddha tidak menitikberatkan pada penciptaan alam (atow tidak diajarkan?sayah gak ingat pasti)..
untuk itu sayah bertanya ; "kursi di dalam ruangan"..kursi ibarat alam semesta karena kursi gak bisa berpikir..hukum gravitasi ada karena ada bumi/planet yang berputar pada porosnyah..lalu mengapa planet bisa berputar pada porosnyah?
Tidak diajarkan mengenai ada/tidak adakah pencipta maupun kalau ada, siapakah Ia? Itu semua tidak dibagi bagi siswa2 Sang Buddha...utk itu jawaban Anda mengenai CARA kursi masuk ruangan yang beridiom dgn asal usul benda/dunia...tdk akan pernah dpt dijawab dgn filsafat Buddha...dan telah buang2 waktu Anda bertanya pd saya kesekian kalinya utk persoalan ini....
Oleh sebab itu Pak Abu, ada baiknya Anda bergabung dengan komunitas saintis yg tertarik dgn asal usul terbentuknya bumi...di sana saya yakin pasti ada jawabannya, klo belum ada, Anda pantau terus saja..siapa tahu 5 menit dr sekarang, 1 jam dr sekarang, tengah malam dr sekarang, sebulan dari skrg, setahun, sepuluh tahun dr sekrang...pertanyaan Anda akan terjawab.

mungkin anda bisa jelaskan rangkuman sutta sbb BLAH BLAH BLAH
Dengan demikian jwban saya adalah: sy bahkan tidak ambil pusing soal isi Blah Blah Blah di atas...bagaimana mungkin saya bisa menjelaskan dgn rangkuman sutta yg saya abaikan? Spt kata saya sebelumnya, aksesoris yg tdk perlu bs disingkirkan dulu...Anda dan mungkin teman2 yg lain bersikeras menganalisis kalau pernyataan Sutta itu salah, bagaimana bisa ucapan Sidharta dpt dipercaya....Jwban pamungkas: ehipassiko dulu yaaa...step by step...dahulukan mana yg urgen, yg tdk urgen bagaikan aksesoris yg bs dibuang...
avatar
Emiliana
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Female
Posts : 258
Kepercayaan : Budha
Location : apa penting
Join date : 04.05.13
Reputation : 5

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by Emiliana on Sun Aug 11, 2013 7:30 pm


anda pake "mulailah dari 4 kasunyatan mulia" dan karena sayah ingin tau setelah memulai 4 kasunyatan mulia lalu apa?
yah kan sayah bawa 31 alam..untuk dapat ditinjau bareng2 logis/tidaknyah..
Begini ya wak...persoalan ngeles itu, ya mungkin bukan ngeles, tp Anda tulalit ama maksud saya...saya minta ditunjukin pembabaran 4 Kesunyataan Mulia (di salah satu kesunyataan, beberapa, atau semuanya) yg membahas 31 Alam Kehidupan secara mendetail...kan selama ini setahu saya gak ada yg begitu, yg ada justru senggol dikit aja spt 4 Kesunyataan Mulia ini berlaku di 31 Alam Kehidupan. Dengan demikian termasuk kehidupan manusia, dan klo kita abaikan 30 alam kehidupan selebihnya, apakah esensi 4 Kesunyataan Mulia menjadi salah? Tidak dunx, sebab 31 Alam Kehidupan itu termasuk alam manusia, oleh sebab itu dpt di-ehipassiko kebenarannya oleh kita, manusia. Sangkut pautnya jadi apa, pak? Antara 31 Alam Kehidupan yg mutlak harus dipercaya dalam tubuh 4 Kesunyataan Mulia? Tdk ada itu, pak...
owh buginih jeng..
definisi iman di dalam islam adalah percaya..jadi kalow anda percaya bulat pada siddharta sbg guru anda (segala ucapan wal perkataan wal perbuatan) meskipun anda belum mengalami maka itulah iman..ajaran sidharta kan disebut buddha (anggap ajah bugituh) dan disitulah letak iman..percaya pada siddharta..nah dalam menjalani apa ajah yang diajarkan guru anda yah itu berarti di dalam islam di sebut mencontoh sunnah,dan beberapa sitilah laen..
Beda Pak.......seorang siswa Buddha yang baik berangkat dari keragu-raguan justru Pak, bukan iman versi KBBI maupun versi Islam...perkataan (khotbah) Siddharta dan pemikirannya (yg tersurat maupun tersirat) selalu melalui proses: dipertanyakan, ditimbang2, dianalisis, diresapi benar/tidaknya....>>>bagi siswa Buddhis yg benar. Tampak kan bedanya ama ajaran Anda yg harus percaya bulat2? Ketika Buddha menyarankan supaya tdk cepat lekas marah, saya langgar, saya naik pitam...kemudian hasilnya buruk...ini bs dibuktikan diri sendiri, juga ada byk penelitian kalau emosi negatif berakibat negatif pula utk diri sendiri maupun orang di sekitar. Jd dari pengalaman ini saya tahu, saran Sang Buddha ternyata benar...dan utk hal2 yg ekstrim spt pelarangan membunuh orang, sy kira dgn pengalaman2 yg byk tadi atau cerminan pengalaman org lain yg pernah membunuh—kalau mereka hdp susah di penjara, dikucilkan stlh keluar penjara—sy tahu saran guru saya ini benar adanya, dan tdk perlu saya melakukan pembunuhan yg menyia-nyiakan potensi hidup saya, utk membuktikan saran Buddha. Sampai tahap ini bisakah ini disebut iman? Sy kira lebih tepat disebut moral, yg dipegang bukan diyakini/dipercayai scr spiritual bg orang yg bermoral. Oleh sebab itu aturan2 teknis di Buddhism namanya Sila...akarnya yaitu Pancasila Buddhis. Yg menjadi berbeda adalah yg digembar-gemborkan dpt diehipassiko di Buddhism, yaitu langsung INTI sari ajaranNya, coba saya minta dibuktikan INTI ajaran theis yaitu Tuhan, sampai mati pun tdk akan dpt dibuktikan scr empirik krn bbrp faktor (kalau Tuhan itu memang ada). INTI ajaran Buddha tdk mengawang2, tdk berspekulasi pd hal2 metafisik/gaib, dan oleh sebab itu sebagian org lebih menyukai menyebut Buddhism sebagai filsafat...ketimbang kepercayaan/agama yg secara sempit diartikan hrs berbasis iman.


4 Kesunyataan Mulia menganalisis kondisi kekinian

walah jeng..
kalow ada orang bolak balik renang dan menyelam sampe tenggelam 4 kasunyatan mulia buat cari neraka yah gak bakal bersua..
justru itu sy heran Anda bawa 31 Alam Kehidupan (termasuk neraka) ini sgt penting keberadaannya di 4 Kesunyataan Mulia...dan sy minta tunjukkan buktinya, sekrg baru nyadar ga bisa kan? Oleh sebab itu kalau ajaran Anda sdh tenggelam dengan pilar2 imannya spt Tuhan, Surga, Neraka, yg ga bisa dibuktikan scr Ehipassiko...tdk usahlah Anda ajak tenggelam pilar2 ajaran Buddha yg sama sekali ga ada hal yg mengawang2 tsb...ngerti ya skrg mksd saya...

karena sebenarnyah jelas kalow 4 kasunyatan adalah masa kini tetapi kekinian itu selalu mempunyai efek di masa depan..bahwa orang yang mati itu gak langsung ujug2 balik lahir..tapi ada alam mampir sebelum balik ke alam manusia..
Ujug2 balik lahir sbg apa? Di mana ada pernyataan alam transisi ini? Ini kita masih bahas Buddhism tak?
Dan emang benar kekinian berefek pd masa depan...demikian juga masa lalu berefek pd masa kini....yg tepat ialah mengatakan sebab menghasilkan akibat...Baiklah klo anda ingin menganalisi kekininian berefek pd masa depan...mulai dr hal yg simple dulu dunx, contoh: saya mengetik di forum LI skrg ini, nanti hasilnya tulisan saya jd terpampang di forum LI. Saya makan, 1 detik stlh saya selesai makan saya akan merasa kenyang...Saya ingin makan bakso, makanya saya pergi keluar mencari abang tukang bakso...yang simple begini: ini sudah kesunyataan mulia, oom...Nanti perlahan2 naik tingkat, klo pikiran, ucapan, perbuatan selalu membuahkan hasil, apakah baik atau buruk tergantung ketiganya. Dan Anda terus bisa bertanya2 di sini tanpa ditakut2i ada neraka sesudah kematian....cukup Anda menyadari hidup ini berubah2, oleh sebab itu tdk menyenangkan (kini, tdk ada unsur neraka sesudah kematian sama sekali di sini)...Anda akan termotivasi menjauhi sebab2 yg membuat diri merasa “tidak puas/menderita”....menderita karena keinginan tdk tercapai, maka kurangilah ambisi keinginan itu...begitu amalannya...
dan serasa aneh bagi sayah,ketika alam masa depan uda ditentukan umurnya kok alam sekarang malah gak ada batasan waktunyah?
alam masa depan = uda diketahui usianyah
alam masa sekarang = belum diketahui
Sebenarnya sy udah males nian ladenin soal alam semesta lagi, alam semesta lagi...
Btw, bro, ada umur alam bumi ini

dari http://secangkirteh.com/index.php?topic=1293.0 total umur bumi menurut Buddhisme adalah 4.38 milyar tahun klo tertarik silakan baca sendiri di sana



pastilah..logika buddha gak bakal bisa diterima logika muslim dan sebaliknyah..tetapi tasawuf akan mampu menjelaskan ajaran buddha kepada logika muslim..
Bagus deh kalao gitu jelasin dunx maksudnya ke bro OON...hehehe scr ana lihat beliau susah dan/atau ga mau dengerin penjelasan ane...

Abu Hanan wrote:
Emiliana wrote:Ketagihan memusnahkan diri artinya mencari kesenangan dalam derita penyiksaan tubuh.
masih belum paham sayah..
silahkeun..
Baca aja historinya Siddharta, kan pada zaman itu ada 2 mazhab yg berlainan...yg satu hidup cuman sekali, ayo foya2....yg kedua, badan, panca indra ini menyebabkan penderitaan, cth: karena ada mata, mata ini ingin melihat yg cantik2 saja, dgn demikian ingin memiliki pdhal tdk mampu memiliki...oleh sebab itu mata itu harus dicungkil...lidah hrs dipotong...dst...Metode Siddharta kelak ialah berada di antara keduanya, disebut Jalan Tengah...oleh sebab kedua jalan tsb sama2 menyesatkan dan tdk membawa pd kesenangan/kebahagiaan/kedamaian.



avatar
Emiliana
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Female
Posts : 258
Kepercayaan : Budha
Location : apa penting
Join date : 04.05.13
Reputation : 5

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by Emiliana on Sun Aug 11, 2013 8:26 pm

@bro OON
kontradiksi,, Anda bilang kan damai tidak akan terpengaruh oleh perubahan2 apapun gmn tuh, saya cuman taro uler di situ aja udh ga ada damai lagi,,
YA EMANG...ga damainya itu kan SESUDAH Anda menaruh ular....tp sebelumnya klo org itu mencicip damai, ya damailah dia, tdk terpengaruh oleh apapun....ketika ditaruh ular di hadapan orang yg HANYA mencicip damai, ya damainya buyar dan pecah...
jdinya teori damai Anda tidak mungkin dipraktekan dalam reality kan gitu?
TEPAT, bagi org yang SEKADAR/BARU mencicipi, tp pada org yg damainya sudah SEMPURNA, dy tdk akan terusik oleh ular tsb...

saya minta source untuk cerita buddha untuk cek kevalidan.. edit: pawang gajah juga tenang kalo diserang gajah soalnya
Apa masih perlu sy ksh sumbernya? Pawang aja tetap “tenang” pas diserang gajah...itu kata Anda...berarti ada kemungkinan org lain yg punya keahilan “pawang” ini bersikap tenang jg kan? Anggap saja Buddha itu ahlinya pawang segala makhluk, jd tdk perlu takut thd apapun...org2 suci/ berskill jg demikian kan....org yg berskill arsitektur ga takut lah dikasih persoalan konstruksi...Buddha ini ibaratnya udah berskill thd pikiran, ucapan, n perbuatanNya...kalau dikasih perkara ya santai aja....

ya iyalah klo Anda memeluk ajaran agama A ya otomatis ajarannya harus diterima bagi pemeluknya,,
Ajaran saya gak gitu tuh, baca lagi aja jawaban sy thd Bung Abu di atas...
yang jadi masalah diterimanya dogmatis alias pemaksaan kehendak atau bisa diterima dengan akal sehat alis logika,, kenapa harus terpaku sama ayat sesudahnya, ya liat kesuluruhan ajarannya lah namanya juga di ayat tersebut sudah berbicara tentang jalan yang lurus dan jalan yang sesat,,, telah jelas artinya Anda bisa pikir pke logika akal sehat
Ok, sampai sini saya berpendapat INTI ajaran guru saya bisa dinalar dgn logika + akal sehat...dan saya berpendapat INTI ajaran Anda dogmatis, hrs diimani erat2 (dan sebetulnya Anda dan kawan2 tdk perlu emosi sebab emank begitu jua kata bung abu)...alasannya apa sy bilang dogmatis? Msh perlu, biasanya kalau saya udh tanya, muslim menjwb: agama ya harus diimani, Anda bukannya juga demikian dengan ajaran Buddha? Pertanyaan spt ini mengkonfirmasi dgn sendirinya ajaran Islam= dogmatis...yg sy heran kenapa ada yg bersikeras habis2an menolak? Kurang keren ya jdnya klo ga bisa dibuktikan? Ga juga ah...psti ajaran Islam ada bagus2nya juga kan...
bro OON wrote:
emiliana wrote:Bisa dibuktikan klo ada sesosok “Dia”...pertama2? Klo bisa, tidak akan muncul kaum atheis. Dan bisakah dibuktikan proses penundukkanNya? Apakah bisa kita lihat sendiri, apakah Anda pernah melihatnya? Apakah Anda pernah melihat sendiri rahmat diturunkanNya?
Kemungkinan besar, jawaban Anda: tidak...tp aku percaya...Memang masalah “percaya”, “ga percaya” hanya muncul kalau kita tdk pernah benar2 tahu 100%...kalau kt sudah tahu, “percaya” “ga percaya” gak akan ada lagi, dan Islam sdh masuk sains...dgn menjwb semua pertanyaan ttg alam semesta...Kenyataan ga demikian lho...
Jadi maksudnya bagaimana, klo ayat2 itu bs dianalisis?
Kalau Anda berangkat bahwa ayat2 pilar agama Anda dpt dibuktikan/diEhipassiko, maka ayat2 tsb harus dpt dianalisis...maka cobalah analisis, hasil nalarnya spt kata2 sy di atas...hasilnya dengan demikian: diragukan atau paling tinggi 50-50...


yang membedakan manusia dan hewan adalah manusia punya akal, punya logika untuk berpikir,,, sekarang mari gunakan logika ,,, kalo di seblah rumah Anda adalah tanah kosong kemudian di waktu selanjutnya ada istana megah berdiri dan saya bilang sama Anda bahwa istana itu ada dengan sendirinya tanpa ada yang membuat Anda akan berpikir saya orang gila,, dan seperti itulah pandangan saya terhadap atheis,,
Ketika semua peristiwa gejala di alam semesta bisa di gambarkan dengan persamaan2 yang indah melalui apa yg disebut ilmu fisika kuantum dan kalo saya bilang itu smua cuman kebetulan di hadapan profesor fisika,, dy pasti akan menganggap saya bodoh,, dan sperti itulah pandangan atheis terhadap saya.
Saya memang tidak pernah melihat Tuhan tapi saya bisa merasakan dengan logika saya bahwa Dia ada,, nb: yg dibold adalah gubahan saya biar sesuai LOGIKA
Yang membedakan manusia yang cerdas dan yang @#$%^, ketika tdk menyimak betul2 seluruh isi percakapan dari awal sampai akhir, sebelum berkomentar secara bijak.
Di balik itu semua tahukah Anda “rasa” itu sangat subjektif? Atheis mengatakan Anda salah, Anda mengatakan Atheis salah/gila...peluang kebenaran salah satunya ya 0,5 alias 50-50. Anda tidak tahu pasti, tapi Anda percaya, percaya dgn rasa ada SESOSOK yg maha, atau pelindung...utk itu lain kali kalau misalnya kalah debat sama kaum rasionalis ya jangan marah, terima aja...wong emang ud berbasis iman kok kata bung abu...
Kenapa sy singgung perbedaan org yg cerdas dan @#$%^? Soalnya Bung Abu sudah berkali2 mengutarakan hal yg serupa, cuman idiomnya kursi di dalam ruangan....nanti klo Anda sdh sampai pd inti pemikiran saya, baru kita lanjutkan lagi...

So kalau Anda bertanya demikian saya bisa asumsikan bahwa buddha ternyata dekat dengan atheis? ini menjadi informasi penting buat saya
Lah kan emang gitu....thread ini pun dibuka berawal dari percakapan di thread Atheis...Begini bung, ada yang mencap Buddhism itu atheis...silakan, tdk mengapa. Namun istilah yg lebih tepat untuk menggolongkana Buddhism ialah non-theis...Bedanya apa ama atheis? Atheis scr terang2an menolak keberadaan Tuhan...sedangkan non-theis tdk mw ikut pusing soal keberadaan tuhan (ia tdk memvonis ada/tidak ada Tuhan). Ia tidak bergantung pada sosok Tuhan, ia adalah jalur mandiri yg tdk mengharapkan uluran tangan Tuhan (walau ternyata Tuhan itu ada). Fokusnya klo di Buddhism adalah penyucian batin, bukan mencari tahu jawaban teka-teki alam semesta, melainkan mengobati penyakit terlebih dahulu. Analoginya Islam melihat rumah yg dibangun, dan harus mendapat jawaban rumah itu dibangun siapa, kapan, dari bahan apa...dan ini klo kata saya adalah “kekurangkerjaan”. Tidak ada yg salah dengan “kekurangkerjaan” ini, toh manusia sebagian besar waktunya ya berpikir, mencari tahu, ingin tahu pd hal2 yg diobservasinya....Tapi lama kelamaan dari bengong-nya ini, dy melihat ada sudut yg sudah keropos...sbg orang rasionalis, pilihan yg diambil dlm keadaan tidak ada org di sekitar yg bs ditanyai soal asal usul rumah dibangun, atau ada org, tp org itu jg tdk tahu pasti, ialah mencoba memperbaiki keroposnya kerangka bangunan. Persoalan lain nanti dulu...yg ambil action ini adalah analoginya Buddhis...

bro OON wrote:
emiliana wrote:
Ya anggap saja sy org yg ga berakal, apa tanda2nya? Setahu saya, yg terjadi itu mah fenomena alam...
Sy sungguh heran sering org bilang kpd saya: km salah, menggunakan akal manusia utk mempertanyakan Tuhan...bukankah ini berarti logika manusia tdk dpt dipakai u/ mempertanyakan Tuhan, eksistensi, kehendak, dan tindak-tandukNya? Tp di sisi lain, Islam ngaku org yg berakal yg bisa melihat...walah2 kontradiksi....

weleh2 pakai logika Anda dong kenapa org bilang sperti itu, ga mungkin yang diciptakan itu sama dimensi dengan sang pencipta,, misal manusia bisa menciptakan smart phone. Bisakah smart phone itu memprediksi apa tujuan saya pada posisi tertentu dan waktu tertentu bisakah smart phone itu mengetahui apa yang saya pikirkan pada waktu tertentu dan tempat tertentu. Dan yang lebih lgi bisa ngga smart phone itu hidup tanpa saya kasih source? bisakah dy berfungsi tanpa saya kasih chip? dan apakah chip itu bisa sehebat otak manusia?
betul sekali pak, klo itu klaim Anda, Anda harus setuju kalau ajaran Islam= tidak dapat dicerna dengan LOGIKA MANUSIA, melainkan dengan “rasa” mencaplok kata Anda sebelumnya, dan “iman” lagi2 kata Bung hanan. Poin saya ialah Islam tdk boleh rakus bilang ajarannya tidak dogmatis dan dapat dicerna logika, kalau ternyata pada akhirnya dy bilang tdk bisa dengan logika manusia...lah klo ga dengan logika manusia apa doooong? Kita kan manusia, masa mau pake logika hewan (hewan emank ada logikanya?), logika malaikat, atau logika Tuhan sekalian yg ga tersentuh?

Apakah sekarang Anda sudah tahu kenapa org2 berkata demikian?

kalau Anda menggugat demikian Apakah buddha hampir sama dengan atheis? ini informasi yang penting
Dari dulu saya sudah tahu kenapa org2 berkata demikian....IQ saya masih di ambang batas kewajaran kok, Pak....justru Anda sendiri yg ga nyimak omongan saya: saya heran ketika orang ngomong saya tdk bs xxxxxx, tp di sisi lain mereka ngaku manusia bs xxxxx....

Oh penting ya....sy senang bs membantu nambah info tsb pd Anda di atas...dan sesungguhnya hal itu sdh jamak sekali, bagi org yg sdh kenal Buddhism....tdk menjadi keheranan lagi...

yang ini belom dijawab
Apakah ini berarti ajaran Anda itu bisa diubah2 seperti itu?
Fleksibel pd konteks kalimat yg dulu artinya= tdk dogmatis, dpt digugat, ketika hasilnya tdk memuaskan, silakan ditinggalkan...ketika hasilnya memuaskan, we welcome you...inilah maksudnya konteks flexibility-nya, JADIIIII tidak mengubah2 inti ajaran ya, Bro...sy tdk pernah mengklaim ajaran saya bisa diubah2, sedangkan ajaran sdh stagnan spt itu...tahu kan pengertian “dogmatis”?


silakan jelaskan pada para pembaca gimana teori atau pemikiran siddharta gautama untuk melestarikan spesies manusia tanpa sex atau pernikahan silakan kasih sourcenya juga ini akan sangat penting,, toh org2 buddha juga menikah kan
Perasaan kita pernah bersua di thread makan daging....betul? Di situ udah saya bilang deh ada 2 kelompok Buddhis (dibanding istilah orang2 Buddha, emangknya kyk orang2nya PKS, Demokrat, PDI-P?)...

Oh ya, untuk menilai mana yg sebaiknya dilakukan, boleh/tidak, benar/tidak, sesuai atau tdk dengan padangan Siddharta/Buddha, sudah saya jelaskan pd bung Abu...bahwasanya tdk mungkin menjwb semua2 pertanyaan yg timbul dari setiap manusia...di situ ada saya bilang parameternya....

But, sayang sekali tdk ada teori atau pemikiran Siddharta Gautama utk melestarikan homo saphiens tanpa sex...untuk pertanyaan selanjutnya ga bisa dijawab dunx mengenai source-nya segala macem, dan dihubungkan ke umat Upasaka yg menikah, malah terkesan ga nyambung....

Mungkin mksd Anda klo dipertajam, menjadi: bagaimana kelestarian/keeksisan umat manusia tanpa sex? Pertanyaannya sama kyk bung abu, jwbannya jg sama deh: kok Anda melekat bgt sama ‘kehidupan’? Karena tdk ada di inti ajaran Buddha yg menganut kemelekatan thd “kehidupan”...utk itu klo Anda bertanya dari sudut pandang Buddhis, Anda harus mengerti mengapa Buddhis tdk mau melekat thd “kehidupan”....dan jawaban ini ada di isi thread...silakan baca...


avatar
Emiliana
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Female
Posts : 258
Kepercayaan : Budha
Location : apa penting
Join date : 04.05.13
Reputation : 5

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by abu hanan on Mon Dec 02, 2013 12:16 am

parinibbhana pun berada di ujung pelangi..hal ini hanya dapat dialami setelah mati..dan ini disebut iman di agama islam-kristen..
sehingga reinkarnasi-nibbhana berkategori "diyakini" dan teknisnyah disebut ehipassiko..


PERATURAN DAN PANDUAN UMUM | FAQ | ADA MASALAH..?? l PENGADUAN
Like dan Follow !
facebook.com/laskarislamcom
@LaskarIslamcom
untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by abu hanan on Mon Jul 27, 2015 4:49 pm

penderitaan,ketidakadilan adalah inspirasi awal sidharta dalam mencari hjati diri..secara umum,sayah katakan bahwa budha mengajarkan penderitaan (seperti orang miskin yang terjangkiti kanker ato aids) cs adalah buah dari kegagalan manusia dalam memahami jati dirinyah..dan di sisi lain,kenikmatan hidup (seperti antar anak sekolah pake ferrari) tidak akan pernah menjadikan seseorang dapat mencapai nibbhana..

bila ada yang bertanya,apakah nibbhana itu?jawaban sayah (sejauh yang sayah paham dari budhis) adalah kondisi yang tak dapat dijelaskan kata2 dan diluar jangkauan indra..

sayah tidak tau bugimana mekanisme karma bekerja..misal dulu dalam upaya mencapai nibbhana, sidharta diberi makan seseorang dari hasil mencuri..bugimana mekanisme karma bekerja bagi sidharta dan si pemberi?


PERATURAN DAN PANDUAN UMUM | FAQ | ADA MASALAH..?? l PENGADUAN
Like dan Follow !
facebook.com/laskarislamcom
@LaskarIslamcom
untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 83
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 219

Kembali Ke Atas Go down

Re: Obrolan Abu Hanan dan Emiliana tentang Sidharta Gautama-Available untuk semua member

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 6 dari 6 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik