FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

definisi iman

Halaman 2 dari 2 Previous  1, 2

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

mengenal rukun iman

Post by Segoroasin on Wed Dec 21, 2011 8:34 am

First topic message reminder :

[1]. Iman Kepada Allah Ta'ala
Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kuat
bahwa Allah adalah Rabb dan Raja segala sesuatu; Dialah Yang Mencipta, Yang
Memberi Rezki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak
diibadahi. Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah
tidak boleh diberikan kepada selain-Nya; Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan,
keagungan, dan kemuliaan; serta Dia bersih dari segala cacat dan
kekurangan.[1]

[2]. Iman Kepada Para Malaikat Allah
Iman kepada
malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat, yang
diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah,
adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Apapun yang diperintahkan kepada
mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa berhenti.
Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan yang diperintahkan oleh
Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mutawatir dari nash-nash
Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di langit dan bumi, berasal
dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai pelaksanaan perintah Allah
Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil, (terperinci), para malaikat
yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang belum disebutkan namanya, wajib
mengimani mereka secara ijmal (global).[2]

[3]. Iman Kepada
Kitab-kitab
Maksudnya adalah, meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa Allah
memiliki kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya; yang
benar-benar merupakan Kalam, (firman, ucapan),-Nya. la adalah cahaya dan
petunjuk. Apa yang dikandungnya adalah benar. Tidak ada yang mengetahui
jumlahnya selain Allah. Wajib beriman secara ijmal, kecuali yang telah
disebutkan namanya oleh Allah, maka wajib untuk mengimaninya secara tafshil,
yaitu: Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur'an. Selain wajib mengimani bahwa
Al-Qur'an diturunkan dari sisi Allah, wajib pula mengimani bahwa Allah telah
mengucapkannya sebagaimana Dia telah mengucapkan seluruh kitab lain yang
diturunkan. Wajib pula melaksanakan berbagai perintah dan kewajiban serta
menjauhi berbagai larangan yang terdapat di dalamnya. Al-Qur'an merupakan tolok
ukur kebenaran kitab-kitab terdahulu. Hanya Al-Qur'an saja yang dijaga oleh
Allah dari pergantian dan perubahan. Al-Qur'an adalah Kalam Allah yang
diturunkan, dan bukan makhluk, yang berasal dari-Nya dan akan kembali
kepada-Nya.[3]

[4]. Iman Kepada Para Rasul
Iman kepada rasul-rasul
adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah telah mengutus para rasul untuk
mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Kebijaksanaan-Nya telah
menetapkan bahwa Dia mengutus para rasul itu kepada manusia untuk memberi kabar
gembira dan ancaman kepada mereka. Maka, wajib beriman kepada semua rasul secara
ijmal (global) sebagaimana wajib pula beriman secara tafshil (rinci) kepada
siapa di antara mereka yang disebut namanya oleh Allah, yaitu 25 di antara
mereka yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur'an. Wajib pula beriman bahwa
Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka, yang jumlahnya
tidak diketahui oleh selain Allah, dan tidak ada yang mengetahui nama-nama
mereka selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Wajib pula beriman bahwa
Muhammad SAW. adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul,
risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi
setelahnya.[4]

[5]. Iman Kepada Kebangkitan Setelah Mati
Iman kepada
kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang adanya negeri
akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat
baik dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun
selain syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian al-ba'ts, (kebangkitan) menurut
syar'i adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke dalamnya,
sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran
dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru. Kita memohon ampunan dan
kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.[5]

[6]. Iman
Kepada Takdir Yang Baik Maupun Yang Buruk Dari Allah Ta'ala.
Iman kepada
takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan
keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah Subhanallahu wa ta'ala telah
mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum
menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan
apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah telah menulisnya pula di Lauh Mahfuzh
sebelum menciptakannya.[6]

Banyak sekali dalil mengenai keenam rukun Iman
ini, baik dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah
Ta'ala :


لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ
الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ
الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

"Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke
arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu
ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, Malaikat-malaikat, dan
Nabi-nabi..."[Al-Baqarah : 177]


إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ
بِقَدَرٍ


"Artinya : Sesungguhnya Kami
menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran)."[Al-Qamar : 49]

Juga
sabda Nabi Sallallahu 'alaihi wassalam dalam hadits Jibril :

"Artinya :
Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya,
rasul-rasul-Nya, dan hari akhir. Dan engkau beriman kepada takdir Allah, baik
maupun yang buruk."[7]





Foote Note.
[1].Ar-Raudah An-Naiyah Syarh
Al-Aqidah Al-Washithiyah‌, hal. 15; Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah‌, hal. 16; dan
At-Thahawiyah, hal. 335. Iman kepada Allah Ta'ala meliputi empat perkara : (1).
Iman kepada wujud-Nya Yang Maha Suci. (2). Iman kepada Rububiyyah-Nya.(3). Iman
kepada Uluhiyyah-Nya.(4). Iman kepada Asma dan sifat-sifat-Nya.
[2].
Ar-Raudhah An-Nadiyah‌, hal. 16 dan Al-Aqidah At-Thahawiyyah‌, hal. 350.

[3]. Al-Ajwibah Al-Ushuliyah‌, hal. 16 dan 17.
[4]. Lihat Al-Kawasyif
Al-Jaliyah An Ma'ani Al-Wasithiyah‌, hal 66.
[5]. Ibid
[6]. Syarh
Al-Aqidah Al-Wasithiyah‌, Muhammad Khalil Al-Haras, hal. 19.
[7]. Dikeluarkan
oleh Muslim, I/37 no.8
avatar
Segoroasin
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 100
Join date : 13.12.11
Reputation : 1

Kembali Ke Atas Go down


Re: definisi iman

Post by SEGOROWEDI on Tue Jul 02, 2013 8:14 am

@Segoroasin wrote:[6]. Iman
Kepada Takdir Yang Baik Maupun Yang Buruk Dari Allah Ta'ala.
Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan
keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah Subhanallahu wa ta'ala telah
mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum
menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan
apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah telah menulisnya pula di Lauh Mahfuzh
sebelum menciptakannya.[6]

korban mutilasi rencana/kehendak alloh?


SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: definisi iman

Post by gusti_bara on Mon Jul 29, 2013 10:29 pm

bagemana iman versi pagan wed???? apa cuma percaya??? kalo kayak gitu gak ada bedanya ama iblis....ngaku percaya tuhan tapi gak beribadah...

gusti_bara
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 628
Location : braling
Join date : 12.08.12
Reputation : 19

Kembali Ke Atas Go down

Re: definisi iman

Post by engkong on Mon Aug 05, 2013 7:00 pm

Mengenal lebih dalam iman dan rukun-rukunnya menjadi keharusan. Karena buah dari memahami keimanan secara benar akan berdampak langsung bagi kehidupan seseorang.

Dalam kitab-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan banyak sekali hal tentang keimanan, antara lain definisinya yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:

آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya. Demikian pula orang-orang yang beriman semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa): ‘Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (Al-Baqarah: 285)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيْدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa`: 136)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan bahwa keimanan adalah karunia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan untuk Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوْحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيْمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُوْرًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur`an) dan tidak pula mengetahui apa iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur`an itu dengan cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)
Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan balasan yang diperoleh orang-orang beriman di dunia maupun di akhirat. Adapun balasan di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan ke dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Maryam: 96)
Sedangkan balasan di akhirat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُوْنَ

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-‘Ankabut: 7)
Iman adalah agama. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membagi agama menjadi tiga tingkatan. Dalam sebuah hadits, ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketika kami duduk-duduk di samping Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam. Pada dirinya tidak nampak bekas melakukan perjalanan jauh dan tak seorangpun di antara kami mengenalnya. Ia pun duduk di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menempelkan kedua lututnya ke kedua lutut beliau sambil meletakkan dua telapak tangannya pada kedua paha beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, lantas bertanya: ‘Hai Muhammad, beritahu aku tentang Islam.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Islam adalah engkau bersaksi tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan shaum Ramadhan serta haji ke Baitullah jika engkau punya kemampuan untuk itu.’ Laki-laki itu berkata: ‘Engkau benar’.” (‘Umar berkata): “Kami merasa heran kepadanya, ia yang bertanya namun ia juga yang membenarkannya. Selanjutnya dia bertanya: ‘Beritahu aku tentang iman.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan beriman kepada hari akhir serta kepada takdir yang baik dan yang buruknya.’ Laki-laki itupun kembali membenarkannya. Kemudian dia bertanya: ‘Beritahukan kepadaku tentang ihsan.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Ihsan) adalah engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu’.” (HR. Muslim no. 93)
Hadits ini menerangkan tentang hakikat keimanan, yaitu beriman terhadap rukun-rukunnya yang enam.
Agar kita dapat mengetahui apa dampak keimanan dalam kehidupan seorang muslim atau masyarakatnya, maka kita harus mengetahui makna-makna keimanan terhadap enam rukunnya ini.

Makna Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hubungan yang kuat antara manusia dengan Sang Penciptanya. Hubungan itu tertanam di dalam hati, sementara hati adalah sesuatu yang berharga yang dimiliki oleh manusia, sedangkan yang paling berharga dalam hati manusia adalah keimanan.
Oleh sebab itulah, hidayah iman merupakan nikmat yang paling besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لاَ تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلاَمَكُمْ بَلِ اللهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإِيْمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan, jika kamu adalah orang-orang yang benar’.” (Al-Hujurat: 17)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَتِ اْلأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُوْلُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ فِي قُلُوْبِكُمْ وَإِنْ تُطِيْعُوا اللهَ وَرَسُوْلَهُ لاَ يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka): ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: ‘Kami telah tunduk.’ Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hujurat: 14)
Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi iman terhadap wujud-Nya. Secara pasti, fitrah maupun akal manusia mengakui eksistensi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pencipta dan tidak mungkin segala sesuatu yang ada terjadi dengan sendirinya. Terlebih segala sesuatu yang ada ini, yang sudah tertata sedemikian rupa, pada asalnya dalam keadaan tidak ada. Maka tidak akan mungkin tercipta begitu saja dalam keadaan sudah sempurna. Ini semua memberikan ketentuan yang jelas akan wujud Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam.
Di dalam Al-Qur`an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُوْنَ. أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَاْلأرْضَ بَل لاَ يُوْقِنُوْنَ. أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُوْنَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?” (Ath-Thur: 35-37)
Kemudian iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mencakup iman terhadap Rububiyah-Nya. Kata Rububiyyah adalah penisbatan kepada nama Allah ‘Ar-Rabb’ yang bermakna Pendidik, Penolong, Pemelihara, Yang Merajai, dan lain sebagainya.
Iman kepada Rububiyyah Allah maknanya beriman bahwa Allah Maha Pencipta, Yang Menguasai dan Mengatur segala urusan, Menghidupkan dan Mematikan serta perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala lainnya. Maka keimanan dalam Rububiyyah ini mengandung beberapa hal, antara lain iman terhadap perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala secara umum, iman terhadap qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala serta iman terhadap keesaan Dzat-Nya. (Al-Madkhal li Ad-Dirasatil 'Aqidah Al-Islamiyyah hal. 87)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ

“Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (Al-A’raf: 54)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيْزُ الْعَلِيْمُ

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.” (Az-Zukhruf: 9)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُوْنَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka’, niscaya mereka menjawab: ‘Allah’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah l)?” (Az-Zukhruf: 87)
Selanjutnya, yang termasuk bagian dari keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah iman terhadap Uluhiyyah dan Asma` wa Shifat-Nya. Iman terhadap uluhiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala maknanya ialah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan yang haq, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan kata lain, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah dan ketaatan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ

“Dan Ilah kalian adalah Ilah Yang Maha Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 163)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (sesembahan) Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah adalah yang batil, dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Hajj: 62)
Adapun iman terhadap Asma` wa Shifat-Nya adalah meyakini dan menetapkan apa yang terdapat dalam kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasulullah berupa nama-nama-Nya yang paling baik dan sifat-sifat-Nya yang paling tinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَللهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا

“Hanya milik Allah Asma`ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma`ul Husna itu.” (Al-A’raf: 180)

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Buah Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
Keimanan yang benar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menumbuhkan rasa cinta yang kuat kepada-Nya dan mengagungkan-Nya. Juga akan nampak sekali dalam diri setiap manusia rasa khasy-yah dan takut dari-Nya serta selalu berharap kepada-Nya, yang kemudian mendorongnya untuk beribadah.
Sebagian salaf berkata: “Siapa yang menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala karena rasa cinta semata, maka dia seorang zindiq. Dan siapa yang menyembah-Nya karena penuh harap (raja`) semata, maka dia seorang Murji`. Sedangkan yang menyembah-Nya karena rasa takut saja, maka dia Khariji. Adapun yang menyembah-Nya karena cinta, takut, dan penuh harap, maka dia seorang mukmin ahli tauhid.” (Al-Madkhal li Ad-Dirasatil Aqidah Al-Islamiyyah hal. 120)

Makna Beriman kepada Para Malaikat
Kata malaikat adalah bentuk jamak dari malak. Asal katanya adalah ma`lak, dari kata Al-Alukah yang bermakna delegasi. (Shahih Al-Bukhari bi syarhil Imam Al-Kirmani, 1/194)
Iman kepada malaikat meliputi keimanan terhadap seluruh malaikat, baik yang diketahui nama dan tugasnya ataupun tidak. Juga mengimani bahwasanya mereka adalah makhluk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan dari cahaya dengan tujuan agar beribadah kepada-Nya dan menjalankan perintah-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ عِنْدَهُ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَ يَسْتَحْسِرُوْن. يُسَبِّحُوْنَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَ يَفْتُرُوْنَ

“Dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al-Anbiya`: 19-20)

Buah Beriman kepada Malaikat
Ketika seorang muslim meyakini adanya makhluk yang disebut malaikat dengan keyakinan yang benar, maka akan tertanam dalam jiwanya pengetahuan terhadap keagungan Allah l, kekuatan dan kekuasaan-Nya. Sebab kebesaran yang ada pada makhluk adalah gambaran akan kebesaran sang Khaliq. Selanjutnya akan muncul pula darinya rasa syukur karena perhatian Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segenap Bani Adam, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala menugasi mereka untuk menjaganya dan mencatat amalannya serta kemaslahatan lainnya. Di samping itu, tumbuh pula kecintaan kepada para malaikat atas apa yang mereka lakukan berupa beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. (Tsalatsatul Ushul bi Syarh Asy-Syaikh Ibni ‘Utsaimin hal. 92)

Makna Iman kepada Kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala
Iman kepada kitab-kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi keimanan akan beberapa hal. Di antaranya, beriman bahwa semuanya turun dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, beriman kepada kitab-kitab-Nya yang telah diketahui namanya, seperti Al-Qur`an, Taurat, Injil, dan Zabur, maupun yang tidak diketahui namanya. Serta membenarkan berita-beritanya, seperti pemberitaan dalam Al-Qur`an dan kitab-kitab sebelumnya yang tidak diubah atau dipalingkan maknanya. Selanjutnya mengamalkan hukum-hukumnya yang tidak dihapus (mansukh), ridha, dan menerima sepenuhnya. (Tsalatsatul Ushul bi Syarh Ibni Utsaimin, hal. 94)
Kitab-kitab sebelum Al-Qur`an semuanya telah di-mansukh (dihapus) oleh Al-Qur`an. Karena itu tidak boleh beramal dengan hukum yang ada pada kitab-kitab tersebut kecuali yang shahih darinya dan diakui oleh Al-Qur`an.

Buah Iman kepada Kitab-Kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala
Seorang hamba akan semakin menyadari betapa besar perhatian Allah l, sehingga Dia menurunkan kitab yang menjadi petunjuk bagi setiap kaum. Inilah dampak terbesar dari keimanan kepada seluruh kitab-Nya, di samping hikmah yang nyata berupa syariat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk setiap kaum yang mencocoki keadaan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al-Ma`idah: 48)

Makna Beriman kepada Rasul-Rasul Allah Subhanahu wa Ta'ala
Para rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah orang-orang pilihan yang diutus kepada kita untuk menyampaikan syariat-Nya. Karena itu beriman kepada para rasul berarti mengimani bahwa risalah yang mereka bawa adalah haq dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, beriman kepada tiap-tiap dari mereka secara menyeluruh baik yang diketahui namanya maupun yang tidak, tanpa membeda-bedakannya, kemudian membenarkan seluruh berita yang shahih yang telah mereka sampaikan, serta mengamalkan syariat Rasul (Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam) yang telah diutus ke tengah-tengah kita.

Buah Beriman kepada Rasul Allah Subhanahu wa Ta'ala
Tanpa kehadiran seorang rasul, tak seorangpun di antara manusia yang mengetahui bagaimana cara menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menuju jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus. Padahal itu semua merupakan tugas yang harus dijalankan oleh segenap manusia. Keimanan kepada para rasul juga membuat seorang muslim menguatkan rasa syukurnya akan nikmat yang besar ini, karena ia mengetahui kasih sayang dan perhatian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Rasa cinta, pujian, dan sanjungan yang pantaspun akan mengalir pada para rasul karena mereka adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala, beribadah kepada-Nya, menyampaikan risalah-Nya, dan penasihat bagi umatnya.

Makna Beriman kepada Hari Akhir
Beriman kepada hari akhir maknanya adalah keyakinan yang pasti bahwa hari akhir itu haq adanya, tiada keraguan tentangnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لاَ رَيْبَ فِيْهِ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيْثًا

“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (An-Nisa`: 87)
Keimanan ini mencakup iman terhadap hari kebangkitan setelah kematian serta iman kepada semua yang akan terjadi pada hari itu.

Buah Beriman kepada Hari Akhir
Adanya hari akhir dan beriman kepadanya tentu saja menjadi motivasi tersendiri bagi seorang muslim untuk semakin senang dan bersemangat melakukan berbagai macam ketaatan, sebagai puncak harapan terhadap pahala yang disiapkan di hari itu. Adanya siksa dan ancaman pada hari itu juga membuat seorang muslim takut dan lari dari kemaksiatan di dunia. Kemudian akan muncul kebahagiaan dalam dirinya ketika mengingat hari akhir sebagai kenikmatan dan perhiasan pengganti perhiasan dunia. (Taisirul Wushul hal. 81)

Makna Beriman kepada Takdir Baik dan Buruk
Seseorang yang beriman kepada takdir, maknanya dia harus mengimani bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang global maupun yang terperinci, baik yang terkait dengan perbuatan-perbuatan-Nya atau perbuatan-perbuatan hamba-Nya, beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menuliskan itu semua di Lauhul Mahfudz, beriman bahwa seluruh yang terjadi di alam ini dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala serta beriman bahwa semua yang ada di alam ini adalah makhluk bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik dzatnya, sifatnya, dan juga gerakan-gerakannya. Dalil-dalil tentang hal ini banyak Allah Subhanahu wa Ta'ala sebutkan dalam kitab-Nya.

Buah Beriman kepada Takdir
Ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas makhluk-Nya pasti terjadi. Sehingga iman kepada takdir menuntut seorang muslim untuk bersandar diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika melakukan suatu sebab dan tidak bersandar kepada sebab itu sendiri. Seorang muslim tidak akan memiliki perasaan ujub tatkala mampu meraih apa yang diinginkan, karena pencapaiannya tersebut hanyalah semata-mata nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan hatinya akan menjadi tenang dan lega manakala takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpanya. Tidak menjadi goyah keimanannya dikarenakan lenyapnya apa-apa yang dicintai dan datangnya yang dibenci. Semuanya karena dia yakin bahwa itu terjadi dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Wallahu a’lam.

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=462
avatar
engkong
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 150
Kepercayaan : Islam
Location : betawi
Join date : 03.08.13
Reputation : 2

Kembali Ke Atas Go down

Re: definisi iman

Post by SEGOROWEDI on Mon Aug 05, 2013 10:12 pm

@gusti_bara wrote:bagemana iman versi pagan wed???? apa cuma percaya??? kalo kayak gitu gak ada bedanya ama iblis....ngaku percaya tuhan tapi gak beribadah...

tanyakan pagan!

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: definisi iman

Post by SEGOROWEDI on Mon Aug 05, 2013 10:16 pm


yang lebih penting..
yang diimaninya itu Tuhan apa setan..

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: definisi iman

Post by njlajahweb on Sun Oct 01, 2017 5:21 pm

dan aku berkata kepadamu, wahai orang-orang beriman,
percayalah bahwa Tuhan tidak pernah bersalah,
tidak pernah berdosa,
juga bahwa Tuhan tidak pernah bermaksud jahat,

sekalipun seandainya Tuhan sedang mengizinkan,
penderitaan terburuk,
dalam lahiriah maupun batiniah,
yang bukan salah kita,
yang diluar kuasa kita,
yang tidak bisa kita hindari,
padahal saat musibah terburuk itu terjadi,
saat itu kita sudah melakukan usaha terbaik dalam lahir maupun batin.

dan apakah kalian masih percaya pada Tuhan, wahai orang-orang beriman?

sesungguhnya diantara kalian ada yang percaya ada pula yang tidak.

karena yang tidak percaya adalah mereka yang menaruh imanya dalam logika mereka.
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 5961
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: definisi iman

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 2 dari 2 Previous  1, 2

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik