FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Sekulerisme - Liberalisme biang kerok pemerkosaan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Sekulerisme - Liberalisme biang kerok pemerkosaan

Post by Penyaran on Wed Jun 19, 2013 11:58 pm

Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia sangat mencengangkan. Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, pada tahun 2012 angka kekerasan seksual terhadap perempuan mencapai 216.156 kasus. Dan sejak awal tahun 2013 hingga saat ini jumlah kasus pemerkosaan mencapai 42 kasus (okezone.com,19/04/2013). Bahkan, Polres Jaktim kewalahan menangani banyaknya kasus pemerkosaan (kompas.com, 08/04/2013).

Mengapa semua ini terjadi? Semua terjadi akibat sekulerisme dan liberalisme. Sekulerisme merupakan suatu paham yang memisahkan antara agama dan kehidupan, sedangkan liberalisme adalah paham kebebasan. Akibat kedua paham ini orang akan jauh terhadap keimanan dan ketakwaan. Paham liberalisme akan membuat orang bertingkah laku, dan berpenampilan bebas tanpa memperdulikan hukum agama. Buktinya semakin banyak perempuan yang berpenampilan mengumbar auratnya, padahal islam mengatur bagaimana perempuan berpakaian. Hal ini menjadi rangsangan bagi kaum laki-laki yang sudah dijauhkan dari paham agamanya akibat sekulerisme, sehingga marak terjadi kasus pemerkosaan.baik lelaki dan perempuan mereka sama-sama tidak tahu bagaimana agama islam mengatur kehidupan dalam pergaulan. Pemerintahan demokrasi pun berperan dalam fenomena ini, karena demokrasi menjamin hak setiap individu untuk kebebasan berprilaku, bahkan di lindungi oleh negara.

Akar masalah dari fenomena ini adalah pemisahan agama dari kehidupan yaitu sekulerisme dan paham liberal yang disokong oleh pemerintahan sistem demokrasi. Oleh karena itu untuk menuntaskan permasalahan kasus pemerkosaan ini hanya bisa di selesaikan dengan penyatuan antara agama yaitu islam dan kehidupan. Dengan kata lain menjadikan islam sebagai sistem kehidupan. Islam mengatur perempuan barpakaian untuk menutup auratnya dan berprilaku sesuai dengan hukum syara’. Hal ini mengurangi rangsangan bagi kaum laki-laki. Islam pun memupuk ke imanan dan ketakwaan perempuan dan laki-laki, memerintahkan untuk menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, anjuran untuk menikah bagi yang sudah mampu dan berpuasa bagi yang belum mampu. Jika masih ada kasus pemerkosaan maka negara akan menghukum dengan tegas, yang bisa mencegah kejahatan, memberi efek jera, dan juga sebagai penebus dosa.

Abdurrahman al-Malikiy di dalam Nizhâm al-Uqûbât menuliskan bahwa pelaku pelecehan atau pencabulan bila tidak sampai memerkosa korbannya maka akan dikenakan sanksi penjara 3 tahun, ditambah jilid dan pengusiran. Tetapi bila memerkosa, maka pelakunya dijilid 100 kali jika ghayru mukhshan -belum pernah menikah- (QS an-Nur [24]: 2); dan dirajam hingga mati jika pelakunya mukhshan (sudah pernah menikah). Jika disertai kekerasan, maka atas tindakan kekerasan itu juga dijatuhkan sanksi tersendiri sesuai hukum syara’. Semua ini hanya bisa terjadi jika islam di terap dalam sebuah sistem pemerintahan dalam naungan negara, khilafah islam.

Walllahua’lam bish shawab

________________

Penulis
Nama : Mira Chairani
Pekerjaan : Mahasiswa Pascasarjana UPI Jurusan Pendidikan Ekonomi
Alamat : Jl. Gegersuni No. 43 A, Bandung

http://www.arrahmah.com/news/2013/04/29/sekulerisme-liberalisme-biang-kerok-pemerkosaan.html#sthash.HgItd0VM.dpuf

Penyaran
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2559
Join date : 03.01.12
Reputation : 115

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sekulerisme - Liberalisme biang kerok pemerkosaan

Post by alex77 on Thu Jun 20, 2013 1:20 am

@Penyaran wrote:Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia sangat mencengangkan. Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, pada tahun 2012 angka kekerasan seksual terhadap perempuan mencapai 216.156 kasus. Dan sejak awal tahun 2013 hingga saat ini jumlah kasus pemerkosaan mencapai 42 kasus (okezone.com,19/04/2013). Bahkan, Polres Jaktim kewalahan menangani banyaknya kasus pemerkosaan (kompas.com, 08/04/2013).

Mengapa semua ini terjadi? Semua terjadi akibat sekulerisme dan liberalisme. Sekulerisme merupakan suatu paham yang memisahkan antara agama dan kehidupan, sedangkan liberalisme adalah paham kebebasan. Akibat kedua paham ini orang akan jauh terhadap keimanan dan ketakwaan. Paham liberalisme akan membuat orang bertingkah laku, dan berpenampilan bebas tanpa memperdulikan hukum agama. Buktinya semakin banyak perempuan yang berpenampilan mengumbar auratnya, padahal islam mengatur bagaimana perempuan berpakaian. Hal ini menjadi rangsangan bagi kaum laki-laki yang sudah dijauhkan dari paham agamanya akibat sekulerisme, sehingga marak terjadi kasus pemerkosaan.baik lelaki dan perempuan mereka sama-sama tidak tahu bagaimana agama islam mengatur kehidupan dalam pergaulan. Pemerintahan demokrasi pun berperan dalam fenomena ini, karena demokrasi menjamin hak setiap individu untuk kebebasan berprilaku, bahkan di lindungi oleh negara.

Akar masalah dari fenomena ini adalah pemisahan agama dari kehidupan yaitu sekulerisme dan paham liberal yang disokong oleh pemerintahan sistem demokrasi. Oleh karena itu untuk menuntaskan permasalahan kasus pemerkosaan ini hanya bisa di selesaikan dengan penyatuan antara agama yaitu islam dan kehidupan. Dengan kata lain menjadikan islam sebagai sistem kehidupan. Islam mengatur perempuan barpakaian untuk menutup auratnya dan berprilaku sesuai dengan hukum syara’. Hal ini mengurangi rangsangan bagi kaum laki-laki. Islam pun memupuk ke imanan dan ketakwaan perempuan dan laki-laki, memerintahkan untuk menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, anjuran untuk menikah bagi yang sudah mampu dan berpuasa bagi yang belum mampu. Jika masih ada kasus pemerkosaan maka negara akan menghukum dengan tegas, yang bisa mencegah kejahatan, memberi efek jera, dan juga sebagai penebus dosa.

Abdurrahman al-Malikiy di dalam Nizhâm al-Uqûbât menuliskan bahwa pelaku pelecehan atau pencabulan bila tidak sampai memerkosa korbannya maka akan dikenakan sanksi penjara 3 tahun, ditambah jilid dan pengusiran. Tetapi bila memerkosa, maka pelakunya dijilid 100 kali jika ghayru mukhshan -belum pernah menikah- (QS an-Nur [24]: 2); dan dirajam hingga mati jika pelakunya mukhshan (sudah pernah menikah). Jika disertai kekerasan, maka atas tindakan kekerasan itu juga dijatuhkan sanksi tersendiri sesuai hukum syara’. Semua ini hanya bisa terjadi jika islam di terap dalam sebuah sistem pemerintahan dalam naungan negara, khilafah islam.

Walllahua’lam bish shawab

________________

Penulis
Nama : Mira Chairani
Pekerjaan : Mahasiswa Pascasarjana UPI Jurusan Pendidikan Ekonomi
Alamat : Jl. Gegersuni No. 43 A, Bandung

http://www.arrahmah.com/news/2013/04/29/sekulerisme-liberalisme-biang-kerok-pemerkosaan.html#sthash.HgItd0VM.dpuf

anda liat sendiri bagaimana negara2 arab... berapa banyak TKW kita yang di perkosa..?
Arab adalah negara islam...

alex77
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 773
Kepercayaan : Protestan
Location : indonesia
Join date : 05.06.13
Reputation : 3

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sekulerisme - Liberalisme biang kerok pemerkosaan

Post by The.Barnabas on Thu Jun 20, 2013 8:22 am

Arab yang mana yang negara Islam??

banyakan yang jadi wanita penghibur atau pekerja para TKW kita?





avatar
The.Barnabas
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 894
Location : Jakarta
Join date : 27.07.12
Reputation : 36

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sekulerisme - Liberalisme biang kerok pemerkosaan

Post by alex77 on Fri Jun 21, 2013 5:39 pm

@The.Barnabas wrote:Arab yang mana yang negara Islam??

banyakan yang jadi wanita penghibur atau pekerja para TKW kita?




kok mana nanya arab mana yang negara islam...?

mau lebih banyak wanita penghiburnya atau TKW nya... yang jelas di negara arab, terjadi juga pemerkosaan terhadap TKW kita..



alex77
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Male
Posts : 773
Kepercayaan : Protestan
Location : indonesia
Join date : 05.06.13
Reputation : 3

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sekulerisme - Liberalisme biang kerok pemerkosaan

Post by voorman on Sat Jun 22, 2013 3:50 am

Belakangan ada upaya sistematik pemikir Muslim untuk meng-Kristen-kan Islam, dengan cara mentransformasikan pengalaman di dunia Kristen dan Barat pada Islam

Oleh: Nirwan Syafrin, MA *)

Memasuki awal abad duapuluh, para pemikir, filosof, dan teolog Kristen di Barat mulai terlibat secara intens mendiskusikan sekularisasi dan sekularisme dan impak yang ditimbulkanya terhadap agama Kriten. Para cerdik pandai tersebut mulai merangka konsep dan ide yang dapat membolehkan mereka untuk menyerap dan menerima sekularisasi sebagai bagian ajaran Kristen. Hal ini terpaksa mereka lakukan untuk dapat menjadikan Kristen tetap relevan dengan perkembangan zaman, tidak tergilas dengan waktu. Sejak saat itu mulailah bermunculan beberapa pandangan “aneh†seperti yang diusung oleh Rudolf Baltmann dengan ide “demitologisasi” Perjanjian Baru.

Melalui karyanya Systematic Tehology, Paul Tillich, seorang teolog Amerika, juga mengkempanyekan hal yang sama, yang kemudian mendapat afirmasi dari tokoh lain seperti Friedrich Gogarten. Sejak saat itu, perkataan “teologi secular” atau “Kristen Sekular” pun mulai bergulir.

Proses sekularisasi Kristen ini sepertinya mengalami titik kulminasinya ditangan Harvey Cox. Lewat karya intelektual yang diterbitkannya pada tahun 1965, yang penjualannya sampai saat ini mencecah hampir juta eksamplar, dan telah menimbulkan perdebatan sengit dikalangan para teolog dan pemikir Kristen, bahkan Paus Paul VI-pun terpaksa menyempatkan diri untuk membacanya, Cox telah mencoba melakukan sebuah “revolusi” pemikiran teologi Kristen secara besar-besaran dengan memberikan justifikasi teologis dan filosofis atas keabsahan sekularisasi. Dengan mengutip pandangan Gogarten, Cox menyatakan bahwa sekulrisasi memiliki akar teologisnya pada Kitab Suci Bibel sendiri: “Secularization... is the legitimate consequence of the impact oif biblical faith in history.” Dihalaman yang sama ini juga menuliskan, “secularization represents an authentic consequence of biblical faith.” (The Secular City, 1990, 15). Oleh karena sebab demikian, Cox lantas menyeru kaum Kristen untuk tidak melakukan perlawanan terhadap sekularisasi, tapi sebaliknya memberikan dukungan penuh menyuburkannya.

Belakangan ini ada upaya-upaya sistematik dilakukan beberapa pemikir dan cerdik cendikia Muslim untuk mengKristenkan Islam, dengan cara mentransformasikan pengalaman-pengalaman yang terjadi di dunia Kristen dan peradaban Barat kepada Islam dan juga ummatnya. Maka tidak heran bila saat ini kita melihat banyaknya istilah-istilah “aneh” yang secara mencolok terkesan sangat dipaksakan terhadap Islam. Sebut saja misalnya istilah Protestant Islam, Liberal Islam, Liberation Theology (Teologi Pembebasan), Fundamentalist Islam, dan terbaru istilah Islamic Facist yang direka oleh Gerorge Bush, yang pada keseluruhannya mengacu pada pengalaman Kristen yang terjadi di Barat.

Masih dalam kerangka yang sama, beberapa tahun terakhir ini sebagian pemikir Muslimpun, seut saja misalnya Muhammad Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Fuad Zakariyya, Hasan Hanfi, Abdullah Ahmad Na’im, dan lain-lain, secara intens mengkempanyekan “Islam sekuler.”

Seperti ingin mengikuti jejak yang pernah di rembah oleh Cox dalam Kristen, pada pemikir inipun sepertinya sedang berusaha gigih “mengotak-atik” ajaran Islam mencari-cari justifikasi teologis dan filosofis yang dapat membenarkan ide aneh ini.

Maka tampillah orang seperti Fuad Zakariyya yang menilai sekularisme sebagai keniscayaan peradaban (darurah hadariyyah) (Qadaya Fikriyyah, 1989) yang akar intelektualnya dapat ditelusuri pada peradaban Islam seperti terlihat pada al-Farabi, Ibn Ruyd dan lainnya (Al-Sahwah al-Islamiyyah fi Mizan al-qAql, 1995, hal. 73) Sesuai dengan keyakinannya tadi, diapun akhirnya menentang keras segala usaha penerapan Syaria’h Islam dan pendirian negara yang berdasarkan prinsip Syariah. Sebaliknya, dia mengecam gerakan Islam (al-harakah al-Islamiyyah) yang mengusung ide ini menuduh mereka telah mempergunakan Agama untuk kepentingan politik. Menurutnya negara sekuler sepenuhnya sejalan dengan praktek kenegaraan yang dilakukan nabi dalam sejarah dan tidak bertentang prinisp dasar Al-Quran. (al-Urubah wa al-Dawlah al-‘Almaniyyah, Al-Mustaqbal al-‘Arabi, 1979, no. 5)

Seperti Zakariyya, Nasr Hamidpun ‘mati-matian’ membela sekularisasi ini. Dalam bukunya Naqd al-Khitab al-Dini (1995) dia menolak bila sekularisme diletakkan secara berseberangan dengan Agama, karena menurutnya sekularisme bukan melawan agama tapi tafsir literal para agamawan gereja. Pernyataan ini mengingatkan kita pada kalimat yang pernah diutarakan Harvey Cox bahwa “Secularization have no interet in persecuting religion. Secularization simply bypases and undercuts religion and goes on to other things. (sekularisasi tidak punya kepentingan serius untuk menghakimi Agama. Ia sekadar melangkahi dan memintas agama.) “ (The Secular City, 2)

Nasr Hamid selanjutnya menerangkan bahwa sekulrasasi itu hanya berupa “penentangan atas hak” “pemilikan kebenaran mutlak” mempertahankan “relatifitas”, “historisitas”, “pluralitas” dan “hak berbeda” bahkan “hak untuk salah.”

Kalau begitu, kata Nasr menyimpulkan, sekularisme tidak bertentangan dengan “Aqidah Islam. Ia sebaliknya menegaskan bahwa “Islam adalah agama sekuler par-execelence, karena ia tidak mengakui adanya kerahiban (bal inna al-Islam huwa al-din ‘lmani’ bimtiyazin liannahu la ya’tarif bi sultah al-kahnut) pandangan yang hampir sama ditekankan oleh pemikir liberal lain seperti Hasan Hanafi (al-Din wa al-Thawrah fi Misr, vol.8, 105) dan Mohammed Arkoun (al-‘Almanah wa al-Din 1990, hal, 10; dan Tarikhiyyah al-Fikr al-‘ Arabi al-Islami, 1996, khususnya hal. 277-287).

*). Penulis sedang menyelesaikan disertasi doktornya di ISTAC Malaysia.
avatar
voorman
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 155
Kepercayaan : Islam
Location : voorwagens
Join date : 23.05.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sekulerisme - Liberalisme biang kerok pemerkosaan

Post by voorman on Sat Jun 22, 2013 3:50 am

Usaha untuk mensekulerkan Islam sebenarnya bukan barang baru dalam ranah pemikiran Islam. [Lajutan artikel bagian dua habis]

Oleh: Nirwan Syafrin, MA

Bila sekularisasi dan sekularisme dimaknai seperti diatas, tentu saja sekularisasi pada batas tertentu tidak bertentangan dengan Islam. Pada titik tertentu Islam mentolerir perbedaan dan pluralitas tafsir sebagaimana ia juga mengakui relativitas tafsir. Halini dengan dibuktikan oleh sejarah peradaban Islam dimana kita melihat mazhab pemikiran, terutama sekali dalam bidang fiqh, berkembang dengan subur.

Pun begitu, Islam tidak lantas menepis kemungkinan adanya absolusitas tafsir, seperti dalam kasus ayat-ayat muhkamat ataupun prkatek-praktek ibadah yang prakteknya telah diturnkan dari generasi kegenerasi yang mana akal sehat sulit menerima adanya penipuan atau pembohoingan atas hal tersebut. Cara solat, puasa, haji dan lain sebagainya. Inilah yang dikatakan oleh al-Syahid Isma’il Raji al-Faruqi bahwa “continuity of Muslim practice throughout the centuries constitutes an irrefutable testament to the meanings attributed to the Quranic verses.” (kontinuitas praktek kaum Muslim sepanjang abad merupakan bukti tak terbantahkan akan makna yang dihubungkan pada ayat-ayat Al-Qur’an.”(Meta-Religion, AJISS, 1986, 40)

Tapi apakah sekularisasi sesederhana yang dibayangkan Fuad Zakariyya ataupun Nasr diatas. Apakah sekularisasi sekadar menolak absolusitas tafsir. Apakah hanya dengan melaksanakan demokrasi sebuah negara dapat dikatakan berideologi sekular. Tentu saja tidak. Karena sekularisasi melibatkan unsur lainyang jauh lebih fundamental dari sekedar kedua unsur disebutkan Nasr dan Zakariyya diatas.

Satu dari unsur tersebut adalah pengkebirian fungsi agama pada ruang publik, sosial, dan politik. Kata Peter L. Berger, “By secularization we mean the process by which sectors of society and culture are removed from the domination of religious institutions and symbols.” (yang kami maksud dengan sekularisasi adalah sebuah proses dimana sektor masyarakat dan budaya terlepas dari dominasi institusi-institusi dan simbol-simbol agama). (The Social Reality of Religion, 107).

Artinya dalam urusuan yang menyangkut kepentingan publik, agama tidak dibenarkan melakukan interfensi. Fungsinya hanya terbatas pada individu saja. Tidak lebih dari itu. Meminjam ungkapan Cox lagi, dalam dunia sekular, “Religion has been privatizeed. It has been accepted as the peculiar prerogative and point of view of particular person or group. (Agama telah diprivatisasikan. Ia diterima sebagai hak prerogatif dan pandangan individu tertentu saja.” (The Secular City, 2)

Lebih jauh lagi, dalam ruang individupun agama sebenarnya juga tidak punya peran. Karena fungsi agama telah diambil alih oleh akal manusia. Kalalah yang dijadikan tolok ukur, yang menetukan baik-buruk, benar-salah, etikal dan nonetikal, moral dan immoral. Inilah mungkin yang dimaksud Cox dengan “Liberation of man from the religious and metaphysical tutelage,” (pembebasan manusia dari asuhan agama dan alam metafisis) (The Secular City, 17)

Oleh Abdelwahhab el-Messiri proses inilah yang disebutnya dengan comprehensive secularism (al-‘almaniyyah al-syamilah), berbeda dengan partial secularism yang hanya berkutat pada pemisahan negara dan agama, seperti yang mungkin dipahami Nasr Hamid dan Zakariyya diatas.

Comprehensive secularism bermaksud “pemisahan seluruh nilai (apakah itu, nilai agama, moral, ataupun nilai-nilai manusia) bukan hanya dari “negara”, tapi juga dari kehidupan publik dan individu, dan bahkan dari dunia keseluruhannya. “ (Secularism, Immanence and Deconstruction, Islam and Secualrism in the Middle East, 68)

Disinilah sesungguhnya letak “kesadisan” sekularisasi: meskipun Cox menolak sekularisasi “menghabisi” agama, pada prakteknya sesugguhnya ia telah mengikis habis seluruh bentuk keberagmaan. Sebaliknya, ia telah merubah manusia menjadi “Tuhan“ sementara Tuhan pula disulapnya menjadi “manusia.” (Man is deified, Deity humanized)

Mungkin inilah yang sempat disinyalir oleh Peter Berger dalam karyanya Facing Modernity. Dari dilema yang ditimbulkan modernity terhadap manusia, dia menyebutkan sekularisasi sebagai salah satu daripadanya. Katanya “for those who see trancendence as a necessary (because true) constituent of the human condition, secularization is an abberation, distortive of reality and dehumanizing. “ (bagi mereka yang berpandangan bahawa transendensi sebagai sebuah bagian keniscayaan bagi kondisi manusia, sekularisasi merupakan penyimpangan, distorsi realitas, dan dehumanisasi.” (Facing Modernity, 79)

Lebih jauh Donald Lee Berry menerangkan bahwa sekularisasi bukan hanya menimbulkan krisis kemanusian pada orang beragama. Dampak negatif yang samapun dapat dirasakan oleh yang tidak mempunyai komitmen keagamaan. Ini disebabkan, dengan meminjam ungkapan Berger ia menjelaskan bahwa:, “Sekularisasi telah menimbulkan frustasi atas aspirasi manusia yang paling dalam“ yang terpenting diataranya adalah, aspirasi untuk wujud dalam sebuah kosmos yang bermakna dan pada akhirnya memberi harapan.” (The Thought of Fazlur Rahman as an Islamic Response to Modernity, 41)

Kalaulah sekularisasi seperti yang baru saja digambarkan, bagaimanakah kita lantas dapat meletakkan sekularisasi dalam kerangka Islam yang sejak awal lagi telah meletakkan fondasinya atas otoritas wahyu, nabi, “ ulama serta keyakinan pada alam ghaib (metafisis). Bagaimanakah sekularisasi yang menolak konsep kesucian dapat berdampingan dengan Islam yang mengagungkan kesucian Al-Qur’an, serta menjunjung dan menghormati para nabi. Dimanakah lantas letak alam ghaib dalam bingkai sekularisasi yang dilegitimasi Nasr Hamid dan Zakariyya diatas. Mungkin menyadari akan hal inilah, makanya merekapun mencoba mendekonstruksi konsep kesusian Al-Qur’an dan fungsi kenabian Muuhammad (SAW) seperti yang akan dibahas dalam artikel berikutnya.

Penutup

Usaha untuk mensekulerkan Islam sebenarnya bukan barang baru dalam ranah pemikiran Islam. Usaha tersebut pernah ditempuh oleh Salamah Musa, Taha Husayn, Zaki Najib Mahmud, dan lain yang lainnya. Tapi usaha mereka ini masih belum membuahkan hasil, untuk tidak dikatakan gagal.

Turki satu-satunya negara Muslim yang secara resmi memeluk sekularisme sebagai ideologinya pun masih gagal memberangus Islam dari bumi persadanya. Mungkin inilah yang dikatakan Ernest Gellner dalam tulisannya, “To say that secularization prevails in Islam is not contentious. It is simply false. Islam is as strong now as it was a century ago. In some ways, it is probably much stonger.” (Postmodernism, Reason and Religion 1992, 5).

*) Penulis sedang menyelesaikan disertasi doktornya di ISTAC Malaysia
avatar
voorman
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 155
Kepercayaan : Islam
Location : voorwagens
Join date : 23.05.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sekulerisme - Liberalisme biang kerok pemerkosaan

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik