FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Meluruskan Pemahaman Wahdatul Wujud: Antara Kebenaran dan Kesesatan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Muslim-Zone Meluruskan Pemahaman Wahdatul Wujud: Antara Kebenaran dan Kesesatan

Post by hamba tuhan on Mon Jul 01, 2013 10:58 pm

Berhati-hatilah Dalam Menghukumi Sesuatu

Kepada pihak2 yg diberi tanggungjawab untuk memberi pemahaman yg benar tentang Islam kepada masyarakat, supaya berhati-hati dalam mengeluarkan kenyataan apa lagi menerbitkan kitab-kitab rujukan dalam masalah agama, karena ini sebenarnya merupakan amanah dari Allah SWT. Ilmu itu amanah. Allah SWT akan bertanya tentangnya. Kalau tidak paham atau tidak teliti dgn mendalam tentang sesuatu masalah, maka bertanyalah kepada mereka yg ahli sebelum menghukumi.

Allah SWTberfirman: Dan janganlah kamu mengikuti (membahas) apa yg kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban atasnya. (Surah Al-Isra': 36)

Imam Al-Baidhawi r.a. ketika mentafsirkan ayat ini berkata:
"Jangan kamu mengikuti (membahas, apa lagi menyalahkan) sesuatu yg kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, semata-mata karena taqlid kepada seseorang atau mengikut prasangka kamu sendiri tanpa memeriksa terlebih dahulu"

Wahai para pengkaji ilmu Islam, inilah saran Allah SWT terhadap orang yg tidak mengetahui tentang sesuatu perkara dgn pemahaman yg sebenarnya, agar menjauhi daripada sikap terlalu bernafsu dalam menyalahkan dan mengkritik, khususnya dalam masalah yg dia sendiri tidak memahaminya.

Lebih Malang lagi bagi seseorang yg konon memperjuanngkan kebenaran, dan menolak kebatilan, tetapi dalam waktu yg sama menolak kebenaran karena menyg ka itu suatu kebatilan. Hati-hatilah wahai pengkaji ilmu. Allah SWT tidak mempermasalahkan kamu jika kamu baik sangka terhadap sesama muslim, tapi Dia mempermasalahkan kamu terhadap buruk sangka kamu terhadap sesama muslim.

Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kamu berprasangka (buruk). Sesungguhnya prasangka itu seburuk-buruk perkataan…" (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Bagaimana seseorang sanggup melemparkan fitnah dan menuduh sesat para sufi dgn perkara-perkara atau istilah-istilah yg mereka sendiri tidak memahaminya sebagaimana pemahaman para sufi itu sendiri? Maka fitnah dan tuduhan tsb hanyalah berdasarkan buruk sangka mereka terhadap para sufi yg benar itu sendiri.

KIta bukan bertujugan mengkritik pihak mana pun, tetapi sekedar prihatin dgn masyarakat awam Islam itu sendiri, malah lebih penting lagi adalah masalah yg melibatkan masalah amanah ilmu itu sendiri.

Fenomena Mengkritik Kaum Sufi yg Benar adalah Natijah Kejahilan Seseorang Tentang Mereka (Kaum Sufi)
Orang-orang yg mengkritik para sufi secara umum, dari kalangan awam maupun dari kalangan ulama, sebenarnya mereka tidak mengkritik mereka melainkan hanya karena kejahilan mereka terhadap maksud-maksud yg disampaikan oleh para sufi yg benar tsb. Mereka menuduh kaum sufi dgn pelbagai tuduhan karena mereka tidak pernah berinteraksi dgn para sufi dan meminta penjelasan daripada para sufi, terhadap perkataan mereka (para sufi tsb).

Namun, terlalu banyak dalam kalangan ulama yg mana pada awalnya mengkritik para sufi, namun setelah bersahabat dgn para sufi yg benar, maka mereka kembali mengakui kebenaran yg disampaikan oleh golongan sufi.

Imam Ahmad bin Hanbal r.a., sebelum bersahabat dgn golongan sufi, melarang anaknya dari bersahabat dgn mereka. Namun, setelah beliau bersahabat dgn Abu Hamzah Al-Baghdadi r.a., seorang sufi, dan mengenal mereka, beliau berkata kepada anaknya: “Wahai anakku. Hendaklah kamu duduk bersama-sama dgn kaum tsb (sufi). Sesungguhnya ilmu mereka, muraqabah mereka, ketakutan mereka kepada Allah s.w.t., zuhud mereka dan semangat mereka, lebih banyak dari kita.” (Tanwir Al-Qulub M/S: 405).

Begitu juga dgn Sultanul-Ulama Imam Izzuddin bin Abdul Salam r.a., sebelum bertemu dgn Syaikh Abil Hasan As-Syazuli r.a., beliau termasuk di antara orang yg lantang mengkritik kaum sufi dgn berkata: "Adakah jalan lain selain daripada Al-Qur'an dan As-Sunnah?"

Namun, setelah peristiwa yg berlaku di Mansurah, Mesir, di mana Syaikh Izzuddin bin Abdul Salam r.a., Syaikh Makinuddin Al-Asmar r.a. dan Syaikh Taqiyuddin ibn Daqiq Al-'Id r.a. bertemu dgn Syaikh Abul Hasan As-Syazuli r.a., maka mereka (termasuklah Imam Izzuddin bin Abdul Salam) mengakui kebenaran kaum sufi. Peristiwa ini diceritakan sendiri oleh Syaikh Makinuddin Al-Asmar yg kemudiannya menjadi pendokong manhaj tarbiah Imam As-Syazuli r.a..

Kisahnya, di mana sewaktu mereka berkumpul di Mansurah, lalu mereka membaca kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah. Setiap daripada mereka mensyarahkan kitab tsb dalam majlis tsb. Lalu, tiba-tiba, Imam Abul Hasan As-Syazuli r.a. lewat melalui kemah mereka, lalu mereka memanggil Imam Abul Hasan As-Syazuli r.a. agar mensyarahkan kitab tsb kepada mereka.

Imam Abul Hasan As-Syazuli r.a. lalu berkata:
"Kalian semua adalah pembesar-pembesar dari kalangan ulama. Kalian semua adalah penghulu-penghulu ilmu zaman ini. Bukankah kamu semua sudah mensyarahkannya? Maka, apakah lagi yg layak untuk orang seperti saya ini mensyarahkannya kepada kalian semua setelah syarah ka semua?"

Namun, mereka membujuk Imam As-Syazuli r.a. untuk mensyarahkannya, lalu Imam As-Syazuli r.a. mensyarahkannya dgn syarah sufi yg mendalam. Akhirnya, Imam Izzuddin Abdus Salam berlari keluar kemah lalu menyeru: "Wahai sekalian manusia. Marilah bersama-sama kami. Marilah mendengar ulasan-ulasan yg memberi penawar bagi hati." (rujuk Muqaddimah kitab Anwar An-Nabi 47 oleh Syaikh Ahmad Farid Al-Mazidi)

Begitu juga hal yg berlaku dgn Imam Ibn 'Atha'illah As-Sakandari r.a., yg merupakan ulama Al-Azhar di zaman beliau, yg pada awalnya menolak kaum sufi. Namun, setelah bertemu dgn Syaikh Abul Abas Al-Mursi r.a. (murid Imam Abul Hasan As-Syazuli r.a.), beliau akhirnya menjadi orang yg paling banyak berkhidmat dalam menyebarkan ilmu kaum sufi yg benar. (rujuk kitab Lato'if Al-Minan oleh Imam As-Sakandari r.a.)

Banyak para ulama melalui hal demikian, yg mana pada awalnya mengingkari para sufi secara umum, akhirnya memperjugangkan kaum sufi yg benar, karena bertemu dgn kebenaran yg disampaikan oleh kaum sufi yg benar tsb.

Oleh sebab itu, jika seseorang tidak memahami istilah-istilah yg digunakan oleh para sufi yg benar, maka janganlah cepat latah dan terlalu bernafsu menyalahkan dan menghukum sesat sesuatu perkara. karena itu membawa kepada buruk sangka.

Sekurang-kurangnya, kembalilah kepada kaedah yg dijelaskan oleh Imam An-Nawawi r.a. dalam berhadapan dgn perkara-perkara yg melibatkan kaum sufi dan para wali Allah SWT. Imam An-Nawawi r.a. berkata tentang masalah yg sering di salahkan oleh setengah pihak terhadap para sufi: "Jika kamu berhadapan dgn perkataan-perkataan mereka (yg samar maknanya), maka ta'wilkanlah ia dgn tujuh puluh ta'wilan (untuk baik sangka kepada mereka)" (Syarh Al-Muhazzab)

Imam Al-Mujtahid Tajuddin As-Subki r.a. berkata dalam kitab Ma'id An-Ni'am:

"Ada dari kalangan fuqaha' yg walaupun bersikap menjaga dhahir syariat, mengamalkan perintah dan meninggalkan laranganNya, namun malangnya, mereka bersikap merendahkan fuqara (kaum sufi) dan ahli tasawwuf dgn menafikan kebaikan pada mereka. Mereka mencela mereka (kaum sufi) karena mendengar banyak perkara yg disebutkan tentang mereka (kaum sufi), padahal kabar dari pendengaran berbeda dalam setiap kalangan manusia. Orang yg merendahkan mereka sebenarnya tidak mengetahui tentang mereka. Wajib bagi kita untuk menyerahkan keadaan mereka kepada mereka sendiri. Kita tidak boleh menyalahkan mereka semata-mata dgn dhahir perkataan mereka. Jika bisa mentakwil perkataan mereka, maka lakukanlah. Takwilkanlah dgn takwilan yg baik, terutamanya perkataan mereka yg diakui kepercayaan mereka…Sesungguhnya, saya (Imam As-Subki r.a.) tidak menjumpai seorang faqih pun yg mengingkari kaum sufi dan mencela mereka, melainkan Allah SWT membinasakannya…Merekalah ahli Allah SWT…"

Inilah perkataan Imam As-Subki r.a., (seperti yg dinaqalkan oleh Imam As-Suyuti dalam ta'yiiad al-haqiqah al-aliyah)seorang ulama fiqh mazhab As-Syafi'e, yg mana beliau bukanlah dari kalangan ahli sufi, tetapi tetap mengakui kebenaran dan kemuliaan kaum sufi, karena adil dalam menilai kaum sufi secara menyeluruh.

pemahaman Yg Benar Tentang Wahdatul wujud Menurut Kaum Sufi
Di sini, coba kita paparkan secara khusus berkenaan dgn masalah Wahdatul wujud ini, secara adil dgn merujuk kitab-kitab ulama yg mendalam ilmu mereka, dalam membetulkan salah paham tentang masalah ini.

Pembahasan berkenaan "Wahdatul-wujud" ini ada dua golongan yg memahaminya secara berbeda yaitu:

Pertama: pemahaman yg Salah Tentang Wahdatul-Wujud:
Golongan yg memahami "Wahdatul-wujud" dgn maksud: Allah dan makhluk adalah satu. Yaitu, makhluk bersatu dgn Allah. Mereka memahami Wahdatul wujud sebagai paham hulul (Allah bergabung dalam makhluk) dan ittihad (Allah dan makhluk adalah satu pada zat).

Hasil daripada pemahaman yg salah berkenaan Wahdatul wujud ini, melahirkan dua golongan:

Golongan yg menolak Wahdatul wujud ini lalu menghukumi sesat orang-orang yg berpegang dgn Wahdatul wujud ini. Golongan ini benar dari satu sudut, tetapi salah dari satu sudut yg lain. Mereka benar dari satu sudut karena menolak Wahdatul wujud dgn makna hulul dan ittihad ini karena hulul dan ittihad adalah kesesatan yg nyata.

Namun, mereka salah dari sudut menyesatkan seluruh golongan yg berpegang dgn Wahdatul wujud ini karena majoritas para sufi dan ahli tasawwuf yg benar, yg bercakap tentang Wahdatul wujud ini, tidak memahami Wahdatul wujud ini dgn pemahaman yg salah, yaitu dgn maksud hulul dan ittihad.

Kedua: golongan yg berpegang dgn Wahdatul wujud yg bermakna hulul dan ittihad ini, lalu mereka ini memperjugangkan ketuhanan diri mereka sendiri dgn mengaku tuhan dan sebagainya. Mereka adalah golongan yg sesat lagi menyesatkan. Mereka lebih mendakwa diri mereka sebagai golongan hakikat. Namun, golongan sufi dan ahli tasawwuf yg benar, yg berasaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah, berlepas tangan daripada golongan ini.

pemahaman yang benar tentang Wahdatul Wujud
Yaitu: Seluruh makhluk yg wujud, pada asalnya tidak wujud (adam). Mereka (seluruh makhluk tsb) akhirnya bisa wujud apabila Allah SWTmewujudkan mereka. Maka, seluruh makhluk pada hakikatnya wujud dgn sebab wujudnya Allah SWT, karena kalau tanpa kewujudan Allah SWT, tanpa izin dan bantuan Allah SWT, niscaya tidak ada satu makhluk pun yg wujud atau pun berlangsung wujudnnya.

Inilah maksud sebenarnya dari Wahdatul wujud yg dihayati oleh orang-orang arif dari kalangan para sufi. Mereka menghayati dan merasai, kewujudan mereka, bahkan seluruh kewujudan makhluk Allah SWT, adalah daripada Allah SWT, yg telah menciptakan mereka daripada tiada. Jadi, mereka tidak merasakan wujud mereka sendiri (mustaqil), tetapi kewujudan mereka ada dgn Nya (dgn bantuan dan izinNya).

Dgn pemahaman ini, tiada seorang pun yg beraqidah yg murni, mampu menafikannya. Kalau ada orang yg menafikan Wahdatul wujud dgn makna ini, maka dialah pada hakikatnya seorang yg sesat, karena tiada yg wujud secara mustaqil (sendiri), kecuali Allah SWT karena hanya Allah SWT saja yg bersifat dgn qiyamuhu binafsihi (berdiri dgn diriNya sendiri) sedangkan seluruh makhluk berdiri dgn Allah SWT(dgn bantuan dan izin Allah SWT).

Orang-orang yg mengingkari bahkan menyesatkan golongan arif billah (seperti Syaikh Ibn 'Arabi, Syaikh Al-Jili dan sebagainya) dan para sufi yg mengetengahkan Wahdatul wujud ini, hanya mengingkari mereka karena jahil dgn maksud Wahdatul wujud inda para sufi itu sendiri, lalu salah paham dgn memahami Wahdatul wujud sebagai hulul dan ittihad. Maka, mereka sebenarnya mengingkari khalayan mereka sendiri tentang kaum sufi itu sendiri, padahal kaum sufi yg benar berlepas tangan daripada pengingkaran mereka dan khayalan orang-orang yg mengingkari itu sendiri.

Hakikatnya, Wahdatul wujud ialah, apabila seseorang sudah menghayati rasa kewujudan dirinya dan seluruh perbuatan dirinya serta yg berlaku dalam alam ini adalah daripada Allah SWT. Maka, seluruh pergerakan makhluk, termasuklah perbuatan manusia, sebenarnya dgn Allah SWT, yaitu, dgn kewujudan, kekuasaan, bantuan dan izin Allah SWT. Kalau ini bukan aqidah Islam, lalu bagaimanakah aqidah Islam itu? Adakah setiap makhluk punya kuasa dirinya sendiri secara mutlak? Tidak sama sekali!

Maka siapakah yg sesat wahai orang-orang yg menuduh sesat? Atau anda tidak paham apa yg anda sesatkan itu sendiri? Na'uzubillah!

Wahdatul wujud ialah suatu peringkat penyaksian dgn mata hati, dalam diri seseorang, yg merasakan diri mereka dan seluruh alam ini sebenarnya ditadbir oleh Allah SWT. Manusia terutama dirinya sendiri, bergerak dan beramal dgn izin daripada Allah SWT, yg memberikan mereka kuasa untuk memilih, tetapi bukan dgn kuasa mutlak, cuma dgn kuasa majazi, yg pada hakikatnya itu daripada keizinan Allah SWT. Kalau tanpa izin Allah SWT, bagaimana manusia itu sendiri mampu memilih dan berkehendak? Maka, kehendak dalam diri manusia juga dari kehendak Allah SWT dan dgn izin Allah SWT.

Apa yg salah dgn penyaksian ini? Inilah tauhid, demi Allah, Tuhan yg menurunkan Al-Qur'an sebagai bukti yg nyata.

Seseorang yg lalai dgn dunia, dan dgn nafsu diri mereka sendiri, pasti tidak merasakan hal perkara ini, karena merasakan dirinya sendirilah yg berkuasa dan berkehendak secara mutlak, dalam kehidupannya. Ini natijah kelalain mereka dgn diri mereka sendiri dan natijah hijab mereka daripada Allah SWT takkala sibuk dgn mengikut hawa nafsu dan dunia. Namun, dari sudut akal sendiri, Wahdatul wujud suatu perkara yg berpandukan asas aqidah Islam yg kukuh.

Wahdatul wujud Proses Penghayatan Tauhid Af’al
Jika kita singkap kitab-kitab ahlus sunnah wal jamaah, sudah pasti kita akan dapati, mereka berbincang tentang sifat-sifat yg wajib bagi Allah SWT, sifat-sifat yg mustahil bagi Allah SWT dan yg harus bagi Allah SWT. Dalam perbahasan mereka, seseorang pasti mendapati perbahasan tentang tauhid af'aal, yaitu setiap perbuatan yg berlaku, dalam makhluk itu, hakikatnya kembali kepada Allah SWT.

Seluruh alam ini bergerak di bawah kekuasaan Allah SWT.... bahkan seluruh makhluk wujud dgn penciptaan Allah SWT. Semua makhluk meneruskan keberlangsungan wujud mereka dgn penjagaan Allah SWTmelalui nikmat imdaad (bantuan Allah SWT). Inilah hakikat yg tidak dapat dinafikan oleh setiap orang Islam. Maka, seluruh makhluk adalah daripada perbuatan Allah SWTyg mana perbuatan tsb daripada sifat qudrah Allah SWT. Ia (penciptaan dan penjagaan Allah SWT) dikenal dgn sifat af'al Allah SWT(sifat perbuatan-perbuatan Allah SWT).

Tiada yg bergerak di dalam kerajaan Allah SWT tanpa kehendak daripadaNya. Inilah hakikat sifat iradah dan qudrah Allah SWT. Dari sinilah timbulnya tauhid af'al, di mana segala yg berlaku dalam alam ini daripada kehendak Allah SWTdan dgn kekuasaanNya.

Wahdatul wujud pula ialah, suatu penyaksian dalam lubuk hati terdalam manusia (sirr) terhadap tauhid af'al ini pada permulaannya (seterusnya kepada tauhid sifat dan tauhid zat), dan penghayatan kepada makna tsb dalam seluruh kehidupannya. Hal ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yg sudah meleburkan hawa nafsunya yg sentiasa mengajak kepada kejahatan, sehingga nafsu itu tenang dalam ketaatan kepadaNya, dan tenang dgn merasai kebersamaanNya dalam ketaatan tsb (mutma'innah).

Adapun secara teori, seseorang yg lalai daripada Allah SWT pun bisa menghafal sifat dua puluh yg wajib bagi Allah SWT tsb seperti qudrah (kekuasaan), iradah (kehendak) dan sifat-sifat lain bagi Allah SWT, namun tidak mampu merasakannya dalam bentuk penghayatan dalam segenap kehidupannya. Oleh karena itulah, kita dapati, betapa ramai dari kalangan orang-orang Islam itu sendiri, yg menghafal sifat-sifat bagi Allah SWT, lalu mengetahui bahwasanya Allah SWT itu wujud, Maha Berkuasa dan sebagainya, namun masih sanggup mendurhakaiNya.... Bagaimanakah seseorang yg mengetahui Allah SWT itu wujud dan Maha Berkuasa, dalam masa yg sama sanggup mendurhakai Allah SWT? Bagaimana seseorang masih sanggup mendurhakai Allah SWT sedangkan dia tahu bahwa seluruh kehidupan dan tenaganya daripada Allah SWT? Bagaimana seseorang sanggup mengunakan tenaga dan keupayaannya untuk mendurhakai Allah SWT sedangkan dia tahu bahwa semua tenaganya, nyawanya dan segalanya adalah daripada Allah SWT.

Hal ini kembali kepada penghayatan seseorang itu sendiri, terhadap sifat-sifat Allah SWT itu sendiri. Hal ini (ketaatan mutlak kepadaNya) tidak akan berlaku dgn cara menghafal sifat-sifat Allah SWT semata-mata, tetapi perlu kepada proses melawan hawa nafsu juga (mujahadah An-Nafs).

Proses menuju penghayatan terhadap kewujudan Allah SWT dalam kehidupan seseorang manusia, dimulai dgn proses mujahadah an-nafs (melawan hawa nafsu) dgn melakukan ketaatan kepadaNya dan meninggalkan maksiat terhadapNya, seterusnya diiringi dgn proses zikir yg berpanjangan sehingga nama-nama Allah SWT tsb diterjemahkan ke dalam bentuk penghayatan dalam hati hamba tsb.

Proses mengukir nama Allah SWT dalam hati seseorang melalui zikir yg diambil secara talqin daripada seseorang mursyid yg kamil, yg bersambung sanad zikir tsb sehingga kepada Rasulullah SAW, merupakan suatu proses perjalanan kerohanian ke arah menghayati kewujudan Allah SWTdi balik kehidupan hamba tsb.

Dgn zikir hati yg berpanjangan dgn izin Allah SWT, seseorang akan lebur daripada merasakan kewujudan dirinya sendiri. Hal ini dikenal sebagai fana (lebur), yaitu penyaksian hatinya tenggelam dalam menyaksikan kewujudan Allah SWT.... sehingga tidak menyadari lagi kewujudan dirinya sendiri. Ini suatu keadaan di mana seseorang sibuk dalam menyaksikan kewujudan Allah SWT sehingga tidak menyadari lagi kewujudan dirinya. Dia tenggelam dalam musyahadah Allah SWT dan tidak lagi disiliputi kotoran selain daripada Allah SWT. Hatinya sentiasa fokus kepada Allah SWT.

Ada dari kalangan mereka yg fana ini terus dikekalkan dalam keadaan fana oleh Allah SWT dan ada dari kalangan mereka yg dikembalikan kesadaran diri mereka sehingga dia menyadari kembali kewujudan dirinya dalam masa yg sama menyaksikan kewujudan Allah SWTyg Maha Esa dalam bentuk penghayatan yg berkekalan.

Namun, mereka yg dikembalikan kesadaran diri dalam masa yg sama menyaksikan kewujudan Allah SWT di balik kewujudan alam ini, lalu menghayati bahwa seluruh alam ini, termasuk kewujudan dirinya sendiri, merupakan kewujudan dgn Allah SWT. Yaitu, dia menghayati dan menyaksikan dgn mata hatinya, secara tahqiq, bahwa seluruh makhluk wujud dgn pentadbiran, kekuasaan dan izin Allah SWT. Pada ketika ini, hamba tsb baqa (kekal) dgn keabadian Allah SWT karena sentiasa menyaksikan kewujudan Allah SWTyg Maha Kekal dalam mata hatinya.

Hatinya kekal dalam penyaksian kepada Allah SWTdan jasadnya bersama dgn makhluk. Hatinya bersama dgn Allah SWT dan menyaksikan ketuhanan Allah SWT, dalam waktu yg sama, jasadnya dalam kehambaan kepadaNya, dgn melaksanakan seluruh syariatNya.

Al-Ghazali, seorang sufi besar dalam sejarah Islam dalam Ihya Ulumuddin berkata :
“Barangsiapa yang berkata sesungguhnya hakikat menyalahi syari’at atau bathin bertentangan dengan dhahir, maka dia lebih dekat kepada kufur dibandingkan kepada iman”.

Imam Malik mengatakan :
“Barangsiapa yang bertasawuf tanpa berpegang kepada fiqh, maka dia zindiq, barang siapa yang berpegang kepada fiqh tanpa bertasawuf, maka sungguh dia fasiq dan barangsiapa yang mengumpulkan keduanya, maka sungguh dia itu tahqiq (mendapatkan sesuatu yang pasti).”

Penyaksian terhadap hakikat bahwa segala makhluk wujud dgn bantuan Allah SWT dan terus wujud dalam kekuasaanNya..... inilah yg dikenal di sisi kaum sufi sebagai Wahdatul wujud (kesatuan wujud), bukan seperti prasangka orang-orang yg mengingkarinya. Hakikatnya, Wahdatul wujud dalam arti kata sebenar adalah wahdatus syuhud yaitu menyaksikan hanya Allah SWT saja yg wujud secara mustaqil (menyendiri) dan hakiki, adapun selain daripadaNya wujud dgn Allah SWT bukan dgn diri mereka sendiri!

Dalil Wahdatul wujud Dalam Al-Qur'an:
Firman Allah SWT: "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?" kepunyaan Allah yg Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (Surah Mu'min: 16)

Maksudnya, seluruh yg wujud di bawah kekuasaanNya. Segala yg wujud tidak akan wujud tanpa bantuan daripadaNya. Maka, wujud yg hakiki, yg berdiri dgn sendiri hanyalah Allah SWT.. Adapun selain daripada Allah SWT pada hakikatnya tidak wujud (adam). Mereka hanya wujud setelah Allah SWT menciptakan mereka. Maka, kewujudan mereka sebenarnya dgn Allah SWT..

Kesatuan penyaksian ini juga seperti dalam firman Allah SWT: Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajh (zat) Allah. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Surah Al-Baqarah :115)

Dalil Wahdatul wujud dalam hadits:
Rasulullah SAW bersabda:"Sesungguhnya Allah SWT itu wujud, dan tiada yg wujud bersamaNya. Allah SWT itu wujud dalam keesaan, tanpa bersama dgn selainNya" (Hadits riwayat Al-Bukhari).

Sabda Nabi SAW :"Sebenar-benar perkataan yg pernah diucapkan oleh sya'ir Arab adalah perkataan Labid yaitu: Ketahuilah sesungguhnya semua benda selain daripada Allah ialah batil" (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Maksudnya, setiap sesuatu selain daripada Allah SWT pada hakikatnya tidak ada kewujudannya. Semua makhluk wujud dgn kekuasaan dan bantuan Allah SWT.

Penjelasan Ulama-ulama Sufi tentang Wahdatul-Wujud:
Imam Abdul Ghani An-Nablusi r.a. berkata dalam kitab beliau Idhaul Maqsud, min ma'na wihdatil-wujud:
"Sesungguhnya, maksud Wahdatul wujud bukanlah sesuatu yg bertentangan dgn perkataan para ulama Islam, bahkan maksud sebenarnya Wahdatul wujud yg benar, pada hakikatnya disepakati oleh seluruh orang-orang khawas dan awam. dan sesuatu yg perlu dimaklumi oleh setiap muslim, dan tidak boleh diingkari oleh setiap orang yg beriman. Tidak dapat digambarkan bahwa, ada orang yg berakal sanggup mengingkari Wahdatul wujud dgn makna ini.

"Sesungguhnya, seluruh alam ini, walaupun berbeda jenis, sifat, bentuk dan rupanya, sebenarnya wujud daripada ketiadaannya (adam) dgn kewujudan Allah SWT, bukan dgn diri mereka sendiri. Bahkan, seluruh makhluk yg wujud, terus terpelihara wujud mereka dgn kewujudan Allah SWT, bukan dengen diri mereka."

Imam Mustafa Al-Bakri berkata dalam kitab beliau Al-Maurid Al-Azb:
"(Wahdatul wujud ialah:) dgn wujud Allah SWT itulah seluruh yg wujud terus wujud. Dgn sentiasa menyaksikanNyalah, ahli syuhud terus meningkat. Bahwasanya Dialah yg mendirikan langit dan bumi, sedangkan seluruh makhluk berdiri dgn Nya (dgn kekuasaanNya) secara realitasnya."

Jelaslah Bahwasanya, Wahdatul wujud di sisi kaum sufi dan arif biLlah, merupakan suatu penghayatan dan penyaksian terhadap kewujudan Allah SWT yg wajibul wujud (wajib wujudNya), dan seluruh makhluk yg wuju, tidak wujud melainkan dgn Nya.

Allah SWT lah yg menciptakan segala makhluk daripada tiada, yg mana kewujudan makhluk ada dgn kewujudan tsb, tidak datang daripada diri mereka sendiri, pada hakikatnya merupakan dari kewujudan Allah SWT juga. Penyaksian hati terhadap hal demikianlah yg dikenlai dgn Wahdatul wujud atau wahdatus syuhud.

Seluruh para sufi yg kamil memahami Wahdatul wujud dgn makna wahdatus syuhud ini, bukan dgn makna yg dipahami oleh orang-orang yg sesat seperti hulul dan ittihad, lalu diingkari juga oleh orang-orang yg jahil dgn makna sebenarnya dari Wahdatul wujud ini, ke atas seluruh kaum sufi.

Syaikh Ahmad Farid Al-Mazidi dalam muqoddimah Anwar An-Nabi menegaskan:
"Maknanya (makna wahdatul wujud): Bahwasanya, wujud pada hakikatnya satu saja, yaitu bagi Allah SWT semata-mata dan tiada yg bersekutu dgn Nya dalam hakikat wujud (qadim) tsb. Maka, Dialah yg wujud secara mutlak (wajibul-wujud). Adapun kewujudan sekalian makhluk adalah karena bersandarkan kepadaNya (kepada kekuasaanNya) dan kelangsungan kewujudan makhluk tsb daripada pemeliharaanNya…Maka, kewujudan makhluk itu bersandarkan kepada kewujudan yg hanya milik Allah SWT, bukan kewujudan lain, karena tiada yg wujud dgn dirinya (qiyamuhu binafsihi) melainkan Allah SWT… Sesungguhnya, wujud makhluk bukan daripada zat mereka sendiri, dan tidak dapat digambarkan bahwa seluruh makhluk berdiri dgn diri mereka sendiri…"

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali r.a. sendiri berbicara tentang maksud wahdatul wujud ini walaupun tanpa menggunakan lafaz tsb, takkala mensyarahkan perkataan Labid dalam hadits tadi dgn berkata (Al-Ihya' di bawah tajuk At-Tauhid):
"Yaitu, setiap makhluk tiada berdiri dgn dirinya sendiri. Ia berdiri dgn selainnya (yaitu berdiri dgn kekuasaan Allah SWT). Ia (makhluk) tsb dari sudut dirinya sendiri adalah batil. Ini karena, hakikatnya (hakikat makhluk) itu, dgn selainnya (yaitu dgn hakikat Allah SWT),bukan dgn dirinya sendiri. Oleh karena itu, tiada yg hak (benar) pada hakikatnya melainkan Allah SWTyg Maha Hidup lagi Maha Mentadbir, yg tiada menyerupai sesuatu. Dialah yg berdiri dgn diriNya sendiri, sedangkan selain daripadaNya, berdiri dgn kekuasaanNya. Maka, Dialah Al-Haq dan selain daripadaNya adalah batil (pada hakikatnya)."

Imam Al-Ghazali r.a. berkata lagi tentang penyaksian wahdatul wujud dalam pandangan para sufi (Al-Ihya' tajuk As-Syauq):
"Siapa yg kuat pandangan mata hatinya, maka keadaannya akan menjadi seimbang, di mana dia tidak lagi melihat selain daripada Allah SWT. Dia tidak lagi mengenal selain daripada Allah SWT (tidak fokus kepada yg lain-ini hal fana'). Maka, ketika itu dia mengetahui (bukan dgn pengetahuan akal semata-mata, tapi dgn penghayatan) bahwa tiada yg wujud kecuali Allah Allah SWT (Dia mengetahui) perbuatan dirinya merupakan kesan daripada kekuasanNya, yg wujud daripadaNya. Maka, tiada wujud bagi perbuatan-perbuatannya kalau tanpaNya. Sesungguhnya wujud itu milik Allah SWT semata-mata, yg mana dgn Nyalah, sekalian makhluk itu wujud. Siapa yg dalam keadaan ini, tidak akan melihat satupun perbuatan, melainkan dia melihat Pembuatnya yg hakiki (yaitu Allah Allah SWT)…

Inilah pemahaman para penghulu sufi dan ahli tasawwuf yg benar, berkenaan dgn wahdatul-wujud. Siapakah yg merasa dirinya lebih berilmu daripada Hujjatul-Islam Imam Al-Ghazali r.a. takkala berani menyesatkan kaum sufi hanya karena tidak memahami maknanya dgn makna yg benar?

Golongan Sufi yg Menetapkan Wahdatul wujud Juga Menolak Hulul dan Ittihad

Tidak dapat di nafikan bahwa, ada dari kalangan manusia yg memahahmi makna Wahdatul wujud ini dgn makna yg sesat, yaitu dgn makna hulul (Tuhan menempati makhluk) dan Ittihad (Tuhan bergabung dgn makhluk).

Akhirnya, mereka mendakwa sudah sampai kepada Allah SWT dan mencapai derajat makrifat, lalu mendakwa bahwa dirinya sebagai tuhan, karena tuhan wujud dalam setiap makhluk. Hasil daripada dakwaan itu, mereka mendakwa diri mereka tidak perlu melakukan syariat dan ketaatan karena mereka adalah tuhan, atau tuhan wujud dalam diri mereka. Ini suatu kesesatan yg nyata, yg diingkari sendiri oleh para sufi yg benar.

Para ulama sufi seperti Imam Ibn 'Arabi r.a., Imam Abdul Karim Al-Jili r.a., Syaikh Ibn Al-Faridhi r.a., Syaikh Ali ibn Wafa dan sebagainya, berlepas tangan daripada pemahaman sesat ini, bahkan turut membantah kesesatan ini secara keras.

Imam Ibn 'Arabi berkata dalam Al-Futuhat pada bab Al-Isra':
"Siapa yg mendakwa akan hulul, berarti dia telah sesat. karena, orang yg berkata tentang hulul itu berpenyakit yg tidak dapat diubati. Siapa yg membedakan antara di antara diri kamu dgn diriNya, maka kamu telah menetapkan dirimu dan diriNya. Tidakkah kamu mendengar sabda Nabi SAW yg berbunyi: "Maka Aku jadi pendengarannya yg Dia mendengar dgn nya". Dia menetapkan dirimu dgn menunjukkan dirimu dalam hadits tsb. Siapa yg mendakwa ittihad merupakan orang yg athies, seperti yg mendakwa hulul juga, merupakan orang yg jahil dan melampaui batas . karena dia menisbahkan hal yg mustahil. Siapa yg membedakan dirinya dgn Allah SWT, maka dialah yg benar."

Imam Ibn 'Arabi r.a. juga berkata lagi dalam kitab Aqidah Al-Wusta: "Maha Suci Allah SWT daripada menempati sesuatu yg baru(mahluk), atau sesuatu yg baru tsb menempatiNya"

Imam Al-Ghazali r.a. juga menolak keras pahaman Hulul dan Ittihad ini dgn berkata: "Hukuman bunuh seorang daripada mereka (yg mendakwa hulul dan ittihad) lebih baik daripada membunuh seratus orang kafir karena kemudaratannya lebih berbahaya kepada agama. "

Imam An-Nablusi r.a. berkata dalam kitab Idhahul Maqsud:
"Adapun orang-orang jahil, zindiq dan mulhid (athies) yg memahami wahdatul wujud dgn maksud, bahwa wujud mereka yg baru pada hakikatnya merupakan wujud Allah SWT, dan zat mereka adalah pada hakikatnya zat Allah s.w.t., sehingga mendakwa gugur hukum-hukum syariat daripada mereka, maka menyesatkan mereka adalah suatu tindakan yg benar.

"Para ulama dhahir mendapat pahala daripada Allah SWT dalam menyesatkan golongan tsb, dan para arif biLLah dan kaum sufi juga bersama mereka dalam menghukum sesat golongan tsb, tanpa perselisihan lagi."

Imam As-Suyuti r.a. sendiri menulis dua fasal dalam menolak kesesatan hulul dan ittihad dalam kitab beliau, Ta'yiid Al-Haqiqah Al-'Aliyah. Beliau berkata dalam bab fil Ittihad:
Seseorang makhluk pun tidak dapat bergabung atau bersatu dgn zat makhluk yg lain, bagaimana pula dia mampu bersatu dgn zat Allah SWT? Ini suatu kemustahilan dan kesesatan yg nyata!"

Syaikh Mustafa Al-Bakri pula berkata dalam risalah beliau Al-Maurid Al-Azb:
"Ketahuilah bahwa telah terlahir suatu golongan yg mendakwa diri mereka sebagai ahli makrifat, namun mereka adalah golongan yg sesat, takkala mereka mendakwa, wujud mereka yg baru, berkadar dan berbatas itu, merupakan hakikat wujud Allah SWT yg qadim. Mereka juga mendakwa bahwa, zat mereka yg baru pada hakikatnya adalah zat Allah SWT yg qadim. Tujugan mereka menetapkan demikian adalah untuk menggugurkan ketetapan hukum atas mereka, dan menolak taklif daripada diri mereka, maka merekalah yg wajib dihukum keluar daripada agama, ke atas mereka. Merekalah golongan athies yg durjana. Mereka sesat lagi menyesatkan, karena mengingkari penciptaan Allah SWT ke atas diri mereka yg baru, yg jelas menurut syara' dan menolak syariat Islam itu sendiri.

"Ini suatu perkataan yg tidak pernah diucapkan oleh orang jahil, apa lagi diucapkan oleh orang alim maupun orang arif….Demi Allah, hendaklah kamu jauhi mereka…"

Wahdatul wujud Tidak Menafikan Syariat
Penghayatan wahdatul wujud dgn makna sebenarnya oleh orang-orang sufi tidak membawa kepada pengakuan bahwa, syariat tidak lagi perlu dilaksanakan. Ini suatu kesesatan yg nyata.

Wahdatul wujud justeru dihayati dalam melaksanakan tanggungjawab yg murni, sebagai seorang hamba kepada Allah SWT, dgn merasakan dan mengakui kewujudan diri sebagai hamba Allah SWT, dalam waktu yg sama menyaksikan bahwa, kewujudan dirinya yg baharu daripada kekuasaan Allah s.w.t., sehingga zahir rasa kesyukuran kepada Allah SWT yg telah menciptakannya dan telah menggerakkannya ke arah ketaatan kepadaNya.

Imam An-Nablusi r.a. berkata dalam Khamratul Khan:
"Orang yg sempurna adalah orang yg menyadari dua bagian kewujudan. Dia menyaksikan secara berkekalan, akan kewujudan Allah SWT yg azali dan abadi, yg berdiri dgn diriNya sendiri, lalu mengagungkan ketuhananNya, dalam masa yg sama menyaksikan kewujudan diri yg baru, yg berdiri dgn (kekuasaan) Allah SWTlalu menunaikan tanggungjawab kehambaan kepadaNya."

Jadi, jika seseorang memahami wahdatul wujud dgn makna wahdatus syuhud, yaitu seseorang menyaksikan bahwa dirinya wujud dgn kekuasaan Allah s.w.t., past tidak akan meninggalkan syariat, sebaliknya melaksanakan syariat dalam waktu yg sama, bersyukur kepada Allah SWT karena mengizinkannya untuk mengamalkan syariatNya. Hal ini seterusnya menjauhkan rasa ujub dalam diri seseorang hamba tsb.

Seseorang yg mendakwa menghayati wahdatul wujud tetapi meninggalkan syariat, ketahuilah bahwa dia telah tersesat dalam memahami wahdatul wujud tsb dgn pemahaman yg sebenarnya dan telah berdusta dalam dakwaannya.

Wahdatul wujud Tidak Menafikan Wujud Makhluk yg Baru
Banyak orang yg menuduh sesat paham wahdatul wujud ini karena kejahilan mereka menyatakan bahwa, wahdatul wujud menafikan ithnaniyat al-wujud (dua jenis kewujudan yaitu kewujudan Allah SWT yg qadim dan kewujudan makhluk yg baru).

Sebenarnya wahdatul wujud menurut kaum sufi tidak pernah menafikan dua jenis kewujudan, yaitu: wujud qadim (kewujudan Allah Allah SWT) dan wujud baru, yaitu kewujudan makhluk. Namun, wahdatul wujud menegaskan bahwa, kewujudan makhluk yg baru tsb merupakan kesan yg muncul daripada kewujudan Allah SWTjuga karena wujud makhluk tsb bukanlah dgn diri mereka sendiri dan bukan juga dari diri mereka sendiri. Namun, wujud makhluk yg terbatas dan baru bukanlah wujud Allah SWTyg qadim, cuma kewujudan mereka daripada kewujudan dan penciptaanNya. Kewujudan makhluk tidak mutlak, tidak mustaqil (mandiri) dan makhluk tidak berdiri dgn diri mereka sendiri, sebaliknya bersandar kepada kekuasaan Allah SWT.

Hal ini sama seperti kekuasaan makhluk, di mana, kekuasaan makhluk yg terbatas daripada kekuasaan Allah SWT juga, tetapi kekuasaan makhluk bukanlah seperti kekuasaan Allah SWT.... Begitulah sifat-sifat yg lain.

Dua jenis kewujudan tidak pernah menafikan bahwa, wujud yg baru itu pada hakikatnya daripada wujud Allah SWTyg qadim, tetapi bukanlah wujud yg baru itu, adalah wujud yg qadim secara zatnya. Kalau bukan daripada Allah SWT, maka daripada siapa wujud yg baru itu? Mustahil daripada zat-zat makhluk itu sendiri karena makhluk-makhluk tidak berdiri dgn diri sendiri.

Wahdatul wujud Tidak Membawa Kepada Paham Jabbariah
Jabbariah adalah suatu paham yg menafikan secara mutlak adanya usaha bagi makhluk, sehingga akhirnya membawa kepada meninggalkan amalan ketaatan. Ada orang yg mendakwa bahwa, wahdatul wujud membawa kepada paham Jabbariah , padahal tidak demikian.

Dalam aqidah ahlus-sunnah wal-jamaah, manusia juga diberi peluang untuk berusaha, sesuai dgn izin Allah SWT, bukan seperti paham jabbariah yg menafikan usaha secara mutlak. Golongan sufi yg berkata tentang wahdatul wujud juga menetapkan usaha kepada makhluk, seperti aqidah ahlus sunnah wal jamaah.

Begitu juga dalam penghayatan wahdatul wujud, dimana seseorang hamba masih melihat dirinya ada ruang untuk berusaha, namun dalam waktu yg sama, melihat ruang untuk berusaha tsb merupakan anugerah daripada Allah SWT. Lalu mereka sibuk melihat bantuan Allah SWT dalam ketaatan mereka, tanpa menisbahkan ketaatan tsb kepada diri mereka, dalam rangka menjauhi ujub dan takabbur, dalam waktu yg sama menunaikan makna syukur kepadaNya.

Imam Al-Qunawi r.a. berkata (seperti yg dinukilkan oleh Imam As-Suyuti dalam ta'yiid al-haqiqah al-'aliyah:
"Maksud sufi dari perkataan tidak melihat amalan pada diri, yaitu, tidak memerhatikan bahwa usaha ketaatan tsb daripada diri mereka, karena fokus dalam menyaksikan bahwa ketaatan tsb merupakan anugerah daripada Allah SWT kepada mereka."

Mereka menisbahkan seluruh kebaikan kepada Allah SWT dalam ruang lingkup penghayatan wahdatus syuhud dan menisbahkan keburukan kepada diri mereka melalui penghayatan ubudiyyah dalam diri mereka. Inilah aqidah ahlus-sunnah wal jamaah.

Kesimpulan:
Maka, jelaslah bahwa, paham yg sebenarnya tentang wahdatul wujud menurut kaum sufi yg benar adalah suatu pemahaman yg murni dan bertepatan dgn aqidah Islam yaitu, melihat seluruh wujud makhluk tidak wujud dgn diri mereka sendiri[mandiri], tetapi wujud dgn Allah SWT(dgn bantuan dan kekuasaanNya).

Adapun orang-orang yg jahil yg coba menyesatkan kaum sufi dalam masalah ini, sebenarnya tidak memahami wahdatul wujud dgn maknanya yg sebenarnya menurut kaum sufi itu sendiri.

Begitu juga, golongan orang yg sesat dalam pemahaman wahdatul wujud dgn mendakwa ketuhanan diri, mendakwa hulul dan ittihad, merupakan golongan yg tertolak dari kaum sufi itu sendiri. pemahaman mereka bukanlah pemahaman kaum sufi terhadap wahdatul wujud itu karena kaum sufi memahami wahdatul wujud dgn maksud wahdatus syuhud, bukan dgn maksud hulul dan ittihad.

Wallahu A'lam
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik