FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

kriteria film/sinetron religi berbasis dakwah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

kriteria film/sinetron religi berbasis dakwah

Post by paman tat on Fri Jul 12, 2013 5:27 pm

Sebuah film untuk bisa dikatakan islami dan bernilai dakwah, tentu perlu dicermati dari banyak sisi. Karena terus terang saja bahwa dunia film ini umumnya �dikuasai` oleh kalangan yang tidak terlalu akrab dengan agama. Paling tidak dalam motivasi pembuatannya. Karena film terutama sinetron di televisi tidak lain dari sebuah industri / bisnis murni.

Sehingga paling tidak di masa awal demam sinetron, para seniman sejati dalam dunia film tidak terlalu menghargai produk-produk production house itu, karena lemah unsur seni filmnya dan cenderung sekedar kejar tayang dan asal jadi. Yang penting bikin cerita sebanyak-banyaknya meski tidak bermutu, lalu meraup iklan sebesar-besarnya agar bisa menutupi biaya produksi.

Dalam kondisi idealisme fil yang parah seperti itu, sangat sulit memikirkan kualitas film, apalagi bicara fil islami. Namun bukan berarti kita harus pesimis dengan keadaan ini. Karena suatu saat orang-orang akan jenuh dan bosan sinetron yang itu itu saja dan akan datang masanya mereka memilih tayangan yang lebih bermutu.

Nah, pada saat itulah seniman muslim dan umat secara keseluruhan dituntut untuk bisa memproduksi tayangan yang punya visi Islam dan dakwah. Untuk itu sejak dini perlu dibuatkan kriteria dan idealita sebuah produk tayangan yang islami.

Cerita

Cerita sebuah film islami tidak harus melulu tentang sejarah nabi atau para shahabat. Juga tidak harus film-film berbahasa Arab dengan kostum surban dan setting padang pasir. Cerita bisa saja tentang potret masyarakat dengan kehidupan nyata mereka sehari-hari yang dituturkan dengan cara yang menarik, segar dan kreatif serta artistik.

Untuk itu dibutuhkan ide-ide segar dari para penulis naskah yang tentunya harus punya kematangan dalam memahami ajaran Islam. Sehingga meski bertutur tentang keseharian, namun tetap lekat dan kental dengan dakwah dan visi Islam. Umat Islam perlu punya semacam lembaga pendidikan khusus untuk para penulis cerita islami dan mereka harus dikenalkan dengan visi dan misi dari sebuah cerita yang bernuansa islami. Bahkan mereka perlu berlajar syariat Islam agar benar-benar paham apa yang akan mereka tulis.

Masyarakat tentu sudah bosan dengan cerita tidak masuk akal gaya sinetron Indonesia yang melulu tentang orang-orang kaya, mobil mewah, rumah megah dan mobil wah. Tapi isinya orang-orang jahat semua, karena tidak lepas dari selingkuh, pacaran, gossip, pelewengan dan terus terang saja : PERZINAAN!! . Semua itu justru tidak membumi karena tidak realistis dan cenderung ditinggalkan penonton.

Selain itu, penting juga untuk diperhatikan bahwa cerita yang islami itu seharusnya jauh dari potret percintaan manusia lain jenis seperti pacaran atau hasrat-hasrat yang muncul antara laki-laki dan wanita. Jangan sampai judulnya bicara tentang orang betawi misalnya, tapi ceritanya masalah pacaran melulu. Atau cerita tentang ustaz yang baik, tapi alur cerita tidak jauh dari para wanita-wanita cantik yang naksir dan kesengsem sama pak ustaz dan masing-masing saling berebut hatinya pak ustaz. Sehingga pokok cerita menjadi seolah cerita cintanya pak ustaz dengan para wanita cantik. Apalagi ada adegan pak ustaz harus kencan dengan para wanita, atau naik mobil berdua saja atau makan di restoran berduaan. Ini jelas tidak islami dan perlu dikritik. Karena biar bagaimana pun mereka bukan mahram sehingga tidak halal untuk berduaan walau di tempat umum.

Kostum dan Aurat Wanita

Meski sebuah cerita menuntut adegan atau peran tokoh antagonis atau yang tidak islami, bukan berarti menampilkan wanita dan auratnya menjadi boleh. Kalau pun harus muncul sosok wanta, maka seharusnya wanita yang menutup aurat dengan tidak mengekspose kecantikannya atau lemah gemulai sosoknya. Dan kalua ingin menggambarkan adanya wnita yang tidak menutup aurat seperti potret kebanyakan, maka harus diusahakan agar tidak menjadi center of interest dari sebuah adegan.

Yang lebih baik dan aman adalah film itu menampilkan sesedikit mungkin para wanita, karena khawatir fitnah yang akan muncul. Akting

Sutradara
Sutradara adalah otak dari sebuah produksi film, karena itu kriteria sutradara untuk film yang islami harus lebih diperhatikan. Sosoknya adalah mereka yang benar-benar paham dan punya visi yang islami secara shahih dan syamil. Bukan sekedar mewarisi semangat Islam dari sisi keturunan atau lingkungan.

Sosok sutradara ini harus benar-benar orang yang aktif `mengaji` dalam arti yang sesungguhnya, agar penggambaran demi penggambaran yang dilakukannya tidak lepas dari koridor syar`i.

Juga agar penggambaran itu tidak terkesan menggurui tapi membuat para pemirsa merenungi diri sendiri. Karena seni dakwah melalui film itu bukan lah indoktrinasi vulgar, tetapi melalui nilai-nilai yang disebar sepanjang film. Dakwah dan masukan Islami bisa diselipkan disana sini sesuai dengan kreatifitas dan kecerdasan sutradara.

Pemeran
Idealnya sosok para pemeran adalah mereka yang dalam kesehariannya adalah orang-orang yang shaleh. Sehingga apa yang diperankannya dalam film itu memang mencerminkan jiwa dan kepribadiannya juga.

Namun untuk mendapatkan sosok pemeran yang memenuhi kriteria itu tidak terlalu mudah. Ini akibat hedonisme dan permisifisme yang sering identik (atau malah sengaja diidentikkan) dengan sosok para arits dan selebriti.

Ketidak-sesuaian antara karakter asli pemeran dengan lakon dan peran yang dimainkan sedikit banyak akan mengganggu para penonton yang mengenal sosok aslinya. Kalau dia adalah seorang yang baik dan hanif lalu berperan sebagai tokoh antagonis, mungkin tidak terlalu masalah. Namun kalau sebaliknya, di film jadi ustaz atau orang baik, tapi ketika ketemu sosok aslinya ternyata lagi joget di diskotik sambil teler menenggak alkohol. Nah, kan berabe.

Produser

Produser pun idealnya punya fikrah dan pemahaman Islam yang baik, sehingga ketika memproduksi film itu, sejak awal niatnya ibadah dan dakwah. Sehingga pertimbangan dalam setiap keputusan yang diambilnya selalu bervisi yang baik. Bukan sekedar asal laku filmnya dan asal murah. Sementara kualitas dan visi Islamnya tidak diperhatiakan.

Crew (kru)
Sebuah produk tayangan film yang Islami, idealnya memiliki kru yang juga punya wawasan dan kecintaan pada Islam serta setia mengaplikasikan ajaran Islam dalam diri mereka. Bahkan ketika pembuatan film sedang berlangsung, maka kru yang Islami adalah mereka yang tetap memperhatikan waktu-waktu shalat. Dan bila bertepatan dengan Ramadhan, maka tetap menjalankan ibadah puasa.

Ketika saat break datang, mereka tetap menjalankan shalat lima waktu dengan berjamaah. Serta mengisi saat saat kosong dengan sesuatu yang bermanfaat, misalnya zikir, tilawah Al-Quran, diskusi yang positif dan seterusnya. Bukannya malah senang-senang di bar dan diskotik melepas lelah sambil memuaskan nafsu syahwat.

Kami kenal ada diantara teman-teman seniman film yang memiliki kru yang Islami, sehingga ketika bulan puasa pun mereka tetap aktif puasa semuanya. Malam hari mereka isi dengan tarawih berjamaah, sahur dan buka di lokasi syuting. Bahkan pagi hari mereka mengadakan kuliah subuh. Sehingga gema dan Syiar Ramadhan tidak terlewatkan begitu saja meski mereka di lokasi syuting. Bahkan mereka merasa perlu mendatangkan para ustaz yang secara bergilir memberi pelajaran dan siraman rohani ke lokasi. Bahkan hebatnya lagi, meski di luar ramadhan, mereka pun tidak ada yang merokok apalagi munim khamar.


Sponsor/Pemilik Dana
Idealnya, sebuah film Islami dispansori oleh perusahaan yang produknya baik dan tentu saja harus halal. Kita tidak bisa membayangkan kalau membuat film dakwah tapi sponsornya pabrik bir atau rokok. Sehingga terjadi kontradiksi antara isi tayangan dengan sponsornya.

Tayangan Iklan
Sebuah produk itu bisa saja halal dan baik, tapi perusahaan iklannya tidak bervisi yang baik. Maka jadilah iklan benda halal itu harus menampilkan wanita telanjang atau adegan lainnya yang bertentangan dengan syariat, etika, moral atau perasaan.

Misalnya iklan mobil, mobilnya sih baik-baik saja, tapi kenapa tampilan iklannya harus wanita yang berpakaian seadanya ? Hal ini jelas tidak sesuai dengan citra dan visi film itu sendiri.

Waktu Tayang Tentu saja sebuah film yang diniatkan menjadi fil islami akan rusak nilainya manakala ditayangkan dengan melanggar waktu-waktu shalat. Atau waktu-waktu yang utama untuk mengerjakan ibadah yang lebih khusus. Misalnya, tidak ditayangkan pada saat azan maghrib. Atau kalau bulan Ramadhan, maka harus diusahakan tidak ditayangkan pada saat shalat tarawih. Karena para penonton jadi terbelah konsentrasinya antara shalat tarawih dan nonton film islami. Tentu tidak lucu kalau sampai shalat tarawih ditunda / diakhirkan hanya karena ingin nonton.

Dan tentu masih banyak detail-detail lainnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu dalam produksi sebuah film islami. Agar jangan sampai niat yang baik itu menuai / panen kritik dari kalangan muslim sendiri.

Karena itu minimal sebuah produksi film islami itu harus memiliki konsultan syariah yang bekerja secara serius membiacarkan adegan demi adegan sehingga betul-betul mencerminkan sebuah film dakwah.
avatar
paman tat
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 369
Kepercayaan : Islam
Location : hongkong
Join date : 05.07.13
Reputation : 15

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik